Giliran Guru PAUD Dilatih Materi K-13

Guru PAUD saat workshop. (deny)

MALANGVOICE – Dinas Pendidikan (Dindik) Kota Malang, mempersiapkan pembelajaran berbasis Kurikulum 2013 atau K-13 dengan melakukan pelatihan. Kali ini, ratusan guru bidang PAUD, KB, dan TK, mengikuti workshop.

Kepala Bidang PNFI Dindik Kota Malang Drs. Didi Hidayat, mengatakan, pelatihan untuk meningkatkan kualitas PAUD, KB, dan TK dan mewujudkan masyarakat cerdas, ceria dan sehat menuju Kota Malang bermartabat.

Didi mengharapkan agar peserta bisa membiaskan ataupun menularkan materi pelajaran yang didapatkan kepada pendidik lainnya.

“Ini untuk memudahkan serta menjamin mutu dan standar minimal proses pembelajaran yang ada pada jenjang PAUD, KB dan TK karena dalam waktu dekat akan dilaksanakan akreditasi,” katanya.

Pelatihan dilaksanakan seminggu mengacu pada Permendiknas No. 137 tahun 2014 tentang standar nasional PAUD. Jenjang pendidikan tingkat PAUD dan TK pun diharuskan menjalankan Kurikulum 2013 (Kurtilas) dalam proses pembelajarannya.

Nara sumber yang dihadirkan dalam workshop dari lembaga PAUD, KB atau TK antara lain, Sadia Mawar dari PAUD Al Ghoniya, Mike Supraptiwi PAUD terpadu Anak Saleh, Sri Agustin Mulyani TKNP V dan Henny Sosesian dari pengawas TK.-

UM Rancang Strategi Pengembangan Keprofesian Guru

Wakil Rektor IV UM, I Wayan Dasna. (deny)

MALANGVOICE – Dalam rangka Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB) guru yang diprakarsai USAID Prioritas, Universitas Negeri Malang (UM), memaparkan rencana strategis program itu ke depan.

Pemaparan perencanaan disampaikan Wakil Rektor IV UM, I Wayan Dasna dan mengatakan UM selaku Lembaga Pendidik dan Tenaga Kependidikan (LPTK) beberapa sekolah mitra kota/kabupaten di Jatim, memiliki sumber daya kompeten menyelenggarakan dan mendukung PKB.

“Anggaran keprofesian guru itu butuh dana besar dan sumber daya mumpuni,” kata Wayan, saat workshop di Malang, sore tadi.

Dijelaskan Wayan, berdasarkan data Uji Kompetensi Guru (UKG) sebagian besar guru belum dapat mencapai skor memuaskan, karena itu masih banyak guru yang perlu dilatih agar lebih kompeten.

Sementara itu, spesialis Pemerintahan dan Manajemen USAID Prioritas Jatim, M Adri Budi, menyatakan, keterlibatan UM dalam kegiatan PKB yang dikembangkan bertujuan untuk menjembatani kerja sama perguruan tinggi dengan masyarakat melalui dinas pendidikan setempat.

Dengan begitu pengembangan keprofesian guru lebih terarah dan sesuai dengan kebutuhan kabupaten/kota. “Saat ini mereka masih menghitung berapa guru yang dilatih kemudian merancang dana yang dianggarkan di APBD lewat Dinas Pendidikan setempat,” katanya.-

Ratusan Guru Dilatih Lestarikan Bahasa Jawa

Ratusan guru Mapel Bahasa Daerah mengikuti program pelatihan. (deny)

MALANGVOICE – Sedikitnya 100 guru Bahasa Daerah SMA/SMK dilatih melestarikan bahasa, sebagai implementasi Kurikulum 13, di Hotel Kartika Graha, hari ini.

Pelatihan digelar Dinas Pendidikan (Dindik) Kota Malang. Salah satu nara sumber, Supriyono, mengatakan, Bahasa Jawa saat ini memiliki tantangan luar biasa baik dari internal maupun eksternal. Terlebih, saat ini Bahasa Jawa mulai langka di perkotaan.

“Jarang sekali orang tua, remaja terutama anak-anak yang berkomunikasi menggunakan bahasa Jawa sesuai dengan kaidah, aturan serta tingkatan bahasa yang ada,” kata Kepsek SMAN 7 Malang itu.

Kepala Dindik, Zubaidah, menyebut Kota Malang dikenal sebagai pelestari sejarah dan ingin menguatkan segi bahasa. Ia mencontohkan, di negara lain sangat mencintai budaya mereka sendiri. Sedangkan, di sini budaya semakin degradasi karena perubahan pola pikir dan perilaku.

“Karena itu saya setuju adanya program ini. Guru bisa bersemangat dan memotivasi anak didik belajar Bahasa Daerah,” jelasnya.

Bahasa Jawa, dikatakan Zubaidah, bisa mempengaruhi tindakan anak karena sopan dan santun. Selama ini ia menilai ucapan anak, terutama remaja terdengar kasar apalagi kepada orang tua.

Karena itu, Dindik sangat serius membahas pelatihan Bahasa Jawa dengan mendatangkan nara sumber berkompeten. “Saya akan anggarkan di APBD untuk program ini untuk membekali guru Bahasa Jawa. Kementerian Pendidikan juga diminta memberi bea siswa pada guru,” tutupnya.

Program pelatihan digelar selama tiga hari hingga 24 Oktober menghadirkan beberapa nara sumber, seperti Gunawan Dwiyono dari SMKN 11, Tri Suharsono dari SMAN 10, dan Suwardono guru SMAN 7.

Kuliah Pakai Sarung, Unisma Target Pecahkan Rekor MURI

Mahasiswa Unisma mengikuti perkuliahan memakai sarung. (deny)

MALANGVOICE – Memakai kain sarung dalam kegiatan perkuliahan di Universitas Islam Malang (Unisma) ternyata mendapat perhatian dari Museum Rekor Indonesia (MURI). Sejak pagi, tim juri mengelilingi kampus melihat penampilan mahasiswa dan dosen memakai sarung.

Penilaian tim juri nantinya akan memutuskan Unisma apakah layak mendapat rekor pemakaian sarung terbanyak saat mengikuti kuliah. Rektor Unisma, Maskuri, berharap penilaian bisa terwujud karena peran aktif seluruh civitas kampus memakai sarung.

“Tidak hanya mahasiswa dan dosen saja, para OB dan petugas keamanan juga pakai sarung,” katanya.

Maskuri menambahkan, memakai seragam kain sarung di Hari Santri Nasional akan diagendakan setiap tahun. “Meski hanya simbol, tapi menggunakan sarung sekaligus melestarikan budaya santri dan mengikis stigma negatif di kalangan santri,” lanjutnya.

Hari Santri Nasional, Mahasiswa Unisma Kuliah Pakai Sarung

Mahasiswa Unisma saat upacara Hari Santri Nasional, hari ini. (deny)

MALANGVOICE – Universitas Islam Malang (Unisma) punya cara sendiri memperingati Hari Santri Nasional, hari ini. Para mahasiswa, rektor, dosen dan seluruh civitas akademi, mengikuti upacara dengan memakai seragam kain sarung dan berkopiah di halaman kampus.

Memakai kain sarung tidak hanya pada saat upacara saja, mahasiswa dan dosen yang mengikuti perkuliahan juga diwajibkan berseragam santri sampai selesai kuliah pukul 21.00 WIB.

Rektor Unisma, Maskuri, berharap pemakaian pakaian santri bisa meningkatkan etos kerja dan identitas santri semakin kuat dan terjaga. “Pengembangan kultur NU yang kuat dan mampu menciptakan identitas Unisma secara global,” katanya.

Selain memperingati Hari Santri Nasional, Unisma juga membuka lustrum ke 35. Maskuri menambahkan, ke depan Unisma mampu mewujudkan lembaga pendidikan yang unggul dengan tema ‘Perkuat Kelembagaan Guna Mewujudkan Unisma Sebagai Perguruan Tinggi Unggul dan Berkarakter’.

Siswa SMKN 11 Cekatan Rakit Laptop

Kepala Dinas Pendidikan Kota Malang, Zubaidah (deny)

MALANGVOICE – Siswa Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ) SMKN 11 Malang mampu merakit laptop dalam waktu singkat. Hal itu dibuktikan saat peresmian Axioo Class, siang ini.

Salah satu siswa kelas X, Lila, mengaku tidak kesulitan merakit laptop dengan cepat. Ia dengan tangkas meletakkan bahan laptop secara presisi. Di kelas itu pula, perlengkapan sangat mendukung dan dilatih guru extra dari Axioo.

“Ini kami diberi perlengkapan yang cukup, hanya tinggal menyusun saja. Gak sampai sehari jadi,” katanya.

Laptop yang sudah dirakit nantinya bakal menjadi miliknya untuk dipakai sehari-hari.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Kota Malang, Zubaidah, terkesan dengan keterampilan Lila. Menurutnya siswa SMKN 11 harus tetap berupaya memenuhi standar yang dibutuhkan dalam dunia kerja.

“Kalau dengan ini pasti siap bersaing dengan SMK lain untuk memenuhi standar kerja,” ujarnya.

Zubaidah sempat mencoba merakit laptop salah satu siswa dan beberapa teknologi lain, setelah mendapatkan materi dari pembimbing. Namun ia menyerah. “Saya aja kalah lho ini,” celetuknya. –

Axioo Class SMKN 11 Diresmikan

Peresmian Axioo Class. (deny)

MALANGVOICE – Perusahaan elektronik Axioo, melaunching Axioo Class di SMKN 11 Kota Malang, siang ini. Kelas ini dimulai sejak awal tahun ajaran baru dan sudah menarik minat 23 siswa.

Mereka diajari ilmu merakit laptop dan notebook mulai seri lama hingga terbaru. Kepala Sekolah, Gunawan Dwiyono, mengatakan, siswa yang mengikuti kelas itu diharap bisa mengetahui teknologi terbaru yang bisa diimplementasikan pada dunia luar.

“Sekarang perkembangan teknologi kan dahsyat. Anak didik kita harus mengikuti perkembangan itu,” katanya.

Mantan Kepsek SMKN 12 itu, menambahkan, lulusan kelas Axioo itu mendapatkan tujuh sertifikat standar internasional untuk memantapkan persaingan di dunia kerja.

“Nah, kalau ada sertifikat itu, siswa saya bisa bersaing dengan lulusan SMK lain yang sangat ketat,” tandasnya.

Peresmian kelas Axioo dihadiri Kepala Dinas Pendidikan Kota Malang, Zubaidah dan Education Program Director Axioo, Timmy Theopelus serta para wali murid.-

UB Pamerkan Produk Penelitian kepada Stakeholder

Sesi konferensi pers bersama Rektor UB, M Bisri (deny)

MALANGVOICE – Universitas Brawijaya (UB) siap menggelar Riset Inovation Teknologi atau RiTech yang memamerkan hasil karya penelitian civitas akademika mulai 21-22 Oktober.

Rektor UB, M Bisri, menjelaskan, hasil penelitian diharap bisa memberikan manfaat dan sumbangsih untuk masyarakat luas. Nantinya, kata dia, beberapa perusahaan industri bakal digandeng untuk melihat apakah produk penelitian itu bisa diimplementasikan.

“Selama ini karya peneliti masih riset berupa buku dan belum bisa dipasarkan. Harapannya besok bisa diproduksi massal karya nyatanya,” kata Bisri dalam konferensi pers, siang tadi.

Tak hanya itu, RiTech menghadirkan beberapa stakeholder dari pemerintahan setempat untuk mengikuit Academic Business Government (ABG) Forum tujuannya untuk membahas hilirisasi produk penelitian apakah bermanfaat bagi mereka.

Konferensi pers juga dihadiri Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) UB, Woro Busono dan Ketua Pelaksana Ahmad Sabaruddin. RiTech yang digelar di Gedung Sport Club House Pertamina terdapat 65 stan produk penelitian.

Tunjangan Profesi Guru Tunggu Verifikasi

Kasi Kepegawaian Dinas Pendidikan (Dindik) Kota Malang, Jianto (deny)

MALANGVOICE – Tunjangan Profesi Guru (TPG) yang bulan ini dijadwalkan cair, menurut Kasi Kepegawaian Dinas Pendidikan (Dindik) Kota Malang, Jianto, masih dalam proses verifikasi.

Verifikasi itu, lanjut dia, ada beberapa macam, dilakukan pada 3.500 guru TK hingga SMK. “Nanti dihitung kinerjanya, prestasi dan sebagainya,” katanya, saat dihubungi Mvoice, beberapa menit lalu.

Besaran TPG atau sertifikasi itu, kata dia, disesuaikan dengan gaji pokok. Apabila sudah diverifikasi hanya tinggal menunggu surat keputusan (SK) dari pusat.

“Kalau sudah beres tinggal nunggu SK saja, setelah itu tinggal minta di bagian keuangan. Diusahakan secepatnya,” singkatnya.

Terkait Poltekom, Anton Cari Solusi Terbaik

Wali Kota Malang, HM Anton. (Muhammad Choirul)

MALANGVOICE – Pemkot Malang tidak ingin gegabah mengambil keputusan terkait nasib Politeknik Kota Malang (Poltekom). Wali Kota Malang, HM Anton, mengatakan Pemkot memang sudah tidak boleh membiayai operasional Poltekom.

Dalam waktu dekat, ia ingin duduk bersama pihak terkait membicarakan kelanjutan Poltekom. Sebab, sesuai aturan, aset milik Pemkot juga tidak boleh lagi digunakan Poltekom secara cuma-cuma.

“Terkait aset tidak bisa langsung serta-merta kami ambil setelah Perda dicabut. Kami juga tidak ingin mengorbankan mahasiswa, jadi kami cari solusi terbaik,” kata Anton.

Anton menegaskan, jika operasional berlanjut, ke depan Poltekom harus mampu mandiri dalam penggunaan fasilitas dan pembiayaan. Dikatakannya, Pemkot tidak memiliki wewenang memberi anggaran untuk perguruan tinggi.

“Yang boleh dibiayai Pemda hanya jenjang SD sampai SMA. Tapi, mulai 2017 pengelolaan SMA sederajat juga sudah diambil alih Provinsi,” tandasnya.

Awal mula pembentukan Poltekom hasil kerja sama antara Dirjen Pendidikan Tinggi dan Pemkot Malang, 2009 silam. Saat itu, disepakati dana operasional Poltekom 30 persen dari APBD Kota Malang dan 70 persen dari APBN melalui Dikti.

Akan tetapi, perjanjian kerja sama itu berakhir 2012. Pemkot sudah menghentikan dana bantuan operasional untuk Poltekom pada 2015, mengacu pada Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI 2014.

Hasil LHP BPK menyebut, Dinas Pendidikan Kota Malang tidak boleh membiayai perguruan tinggi. Sebelumnya, Pemkot mengalokasikan anggaran Rp 1,8 miliar per tahun untuk operasional Poltekom.-

Komunitas