Identitas Jenazah Perempuan Muda Diketahui, Diduga Kuat Pemandu Lagu

Petugas saat melakukan olah TKP. (Istimewa).

MALANGVOICE – Jenazah perempuan muda yang ditemukan dalam kondisi telanjang di dekat sebuah warung di Jalan Raya Karangpandan, Pakisaji, diduga berprofesi sebagai pemandu lagu.

Kapolsek Pakisaji, AKP Edi Purnama membenarkan jika jenazah perempuan muda yang tewas pada Selasa (23/3) kemarin, diduga berprofesi sebagai pemandu lagu di tempat karaoke.

“Korban ini diduga profesinya pemandu lagu di tempat karaoke. Mungkin ada sesuatu atau bagaimana, butuh pemeriksaan. Beberapa orang kita panggil yang diduga mengetahui mungkin salah satu temannya,” ungkap Edi, saat ditemui awak media, Selasa (23/3).

Baca Juga: Perempuan Tanpa Busana Ditemukan Tewas Ditusuk di Karangpandan Pakisaji

Menurut Edi, sebelum ditemukan tewas, anggota Polsek Pakisaji sempat melihat korban berjalan kaki di daerah sekitar TKP sekitar pukul 01.30 Selasa dini hari.

“Ada anggota kami saat patroli yang melihat terakhir dia berjalan 01.30,” jelasnya.

Terpisah, anggota keluarga korban, yang berinisial EH (30) menyampaikan, jika korban dugaan pembunuhan di Pakisaji tersebut diketahui berinisial SN (21) warga Sitirejo
Wagir.

“Korban itu anggota keluarga kami, kalau di keluarga dipanggil Ayu, korban diketahui jarang pulang,” katanya.

Menurutnya, korban tersebut selama ini tinggal di kos di daerah Pakisaji.

“Tadi ibu kos-nya juga ke rumah, kasih kabar jika Ayu telah dibunuh, makanya saya disini (KM) untuk mengurus jenazah korban,” tandasnya.

Sebagai informasi, dalam pemberitaan sebelumnya, jenazah korban ditemukan oleh seorang tukang sampah dalam kondisi telanjang.

Saat ditemukan, jenazah korban ditutupi bajunya yang berwarna merah di bagian dada. Korban kemungkinan dibunuh dengan senjata tajam karena terdapat luka tusukan di lambung sebelah kanan.(end)

Kebakaran diduga Akibat LPG Bocor, Kerugian diperkirakan Capai Ratusan Juta

Kebakaran yang terjadi diduga karena kebocoran LPG, Jalan Bandung Rejosari, Sukun, Kota Malang, (Damkar).

MALANGVOICE – Terjadi kebakaran di rumah milik Muchlisotin (43), Jalan Keben Gang II C, Bandung Rejosari, Sukun, Kota Malang. Diduga api berasal dari LPG yang bocor.

Menurut, Kepala Unit Pelaksanaan Teknis (UPT) Pemadam Kebakaran Kota Malang, Muhammad Teguh Budi Wibowo, kerugian diperkirakan mencapai ratusan juta rupiah.

“Bukan meledak ya, tapi kebocoran gas di LPG nya. Kerugian materil kurang lebih Rp100 juta. Area terbakar kurang lebih 4 x 6 meter dan termasuk rumah tinggal. Kayaknya kos-kosan itu mas,” ujarnya, Jumat (12/3).

Dalam kejadian yang berlangsung sekitar pukul 06.32 WIB tersebut, mendapatkan penanganan dari pihak pemadam kebakaran yang menuju lokasi dua menit setelah dihubungi.

“Menerima laporan kebakaran tersebut pada pukul 06.32 WIB dan berangkat menuju lokasi kebakaran pada pukul 06.34 WIB,” tuturnya.

Akhirnya api dapat dijinakkan 50 menit setelah kedatangan petugas pemadam yang mengerahkan empat unit kendaraan dengan 16 personil.

“Petugas kembali ke mako pukul 08.10 WIB dengan penyelesaian pemadaman sekitar 50 menit,” imbuhnya.

Sementara itu, Teguh menghimbau kepada masyarakat supaya lebih berhati-hati ketika menggunakan tabung LPG. Karena sangat rawan menjadi penyebab kebakaran terjadi.

“Yang jelas masyarakat ketika membeli LPG harusnya diperiksa dulu. Dalam artian ketika sampai di rumah, segel dibuka coba dikucur air. Kalau ada gelembung berarti ada kebocoran di katup LPG nya,” paparnya.

Selain itu, ia juga mengingatkan agar masyarakat lebih sering melakukan pengecekan baik kompor, selang, tabung LPG, dan sebagainya.

“Terus tungku di LPG harus sering dibersihkan juga dengan sikat baja itu bisa. LPG di taruh tempat terbuka, jangan didalam ruangan yang tertutup rapat. Karena menghindari ketika LPG bocor bisa tercium gas LPG nya,” tandasnya.(end)

9 Fakta Pembaiatan UKM Pagar Nusa UIN Malik Ibrahim yang Menewaskan Dua Peserta

Kedua korban pembaiatan anggota baru UKM Pagar Nusa UIN. (Istimewa)

MALANGVOICE – Pembaiatan anggota baru UKM Pagar Nusa Universitas Islam Negeri (UIN) Malik Ibrahim Malang menelan dua korban. Kedua korban itu meninggal pada hari Sabtu (06/03) saat dilarikan ke pihak medis dari Coban Rais, Kecamatan Junrejo, Kota Batu.

Korban itu adalah Moh Faishal Lathiful Fahri, mahasiswa Hukum Ekonomi Syariah UIN asal Lamongan. Miftah Rizki Pratama, mahasiswa Tadris Matematika asal Bandung.

Penyebab meninggalnya dua mahasiswa itu hingga kini masih dalam penyelidikan Satreskrim Polres Batu. Malangvoice.com merangkum 9 fakta sementara kegiatan pembaiatan itu sebagai berikut:

1. Pembaiatan dilakukan tiga hari

Kegiatan pembaiatan itu rencananya dilakukan tiga hari, dari hari Jumat (05/03) hingga Ahad (07/03), namun terpaksa dihentikan pada hari Sabtu (06/03) karena ada dua korban yang tumbang.

“Ketika kami mendengar laporan ada dua korban yang meninggal kami ke lokasi kejadian dan melakukan lokalisasi. Kegiatan pembaiatan itu kami hentikan pada hari Sabtu (06/03) pukul 15.00 WIB” jelas Kasat Reskrim Kota Batu, AKP Jeifson Sitorus, Senin (08/03)

2. Kegiatan fisik 10 jam per hari

Berdasarkan susunan acara yang menjadi barang bukti di Satreskrim Polres Batu ditemukan kegiatan fisik selama 10 jam per hari. Hal itu disampaikan oleh Kasat Reskrim Polres Batu, Jeifson Sitorus pada hari Senin (08/03)

3. Kegiatan itu tidak mengantongi izin ke pihak manapun

Diselenggarakan pada masa pandemi covid-19, pembaiatan itu tak kantongi izin. Pihak UIN, Polres Batu, Satgas Covid-19 Kota Batu, PCNU Pagar Nusa Kota Batu, hingga IPSI Kota Batu tak mendapat kabar diberlangsungkannya kegiatan ini.

“Kegiatan ini dilaksanakan tanpa izin. Baik kepada Polres Batu, Satgas Covid-19, dari pihak UIN hingga pihak Coban Rais,” jelas Kapolres Batu, AKP Catur C Wibowo, Senin (08/03).

Pihak UIN juga mengatakan demikian, sebagaimana diungkapkan oleh Warek III UIN, Dr Isroqunnajah. UKM Pagar Nusa UIN tak memberi kabar apapun ke pihak kampus.

“Kegiatan ini tidak hanya tak kantongi izin, tetapi memang tidak meminta izin. Pada masa pandemi ini seluruh kegiatan luring mahasiswa ditiadakan,” jelas Isroqunnajah, Senin (08/03).

4. Salah satu korban memiliki riwayat kesehatan

Sebelum melakukan kegiatan pembaiatan dilakukan screening bagi para peserta. Screening itu menggunakan metode wawancara yang salah satu tujuannya mengetahui riwayat penyakit peserta.

“Bagi yang memiliki catatan kesehatan dan membutuhkan penanganan berbeda dengan peserta lain, diberikan pita merah. Almarhum Miftah Rizki Pratama ini termasuk yang dapat pita merah,” jelas Gus Is sapaan akrab Isroqunnajah.

Gus Is tidak tahu secara detail bagaimana kondisi medis Faishal, korban satunya.

5. Peserta jalan dari Predator Fun Park ke Coban Rais

Disampaikan Gus Is tradisi longmarch dengan cara jalan kaki dari Predator Fun Park ke Coban Rais dilakukan pada hari Sabtu (06/03). Miftah berada di barisan paling belakang, sering kehabisan nafas dan beristirahat ditemani oleh panitia. Seluruh peserta tidak membawa apa-apa.

6. Korban pingsan sebelum acara dimulai dan meninggal sebelum mendapat penanganan medis

Ketika sampai di Coban Rais, menurut Gus Is, Miftah terjatuh karena kelelahan. Ia mendapat pertolongan pertama oleh panitia dengan diberikan oksigen, lalu dilarikan ke RS. Karsa Husada. Miftah meninggal di perjalanan.

“Sebelum sampai di RS Karsa Husada korban sudah meninggal dunia,” jelas Kasat Reskrim Polres Batu, AKP Jeifson Sitorus, Senin (08/03).

Kedua korban meninggal saat hendak melakukan salat asar. Ketika salah satu korban ada yang pingsan semua peserta disuruh jongkok. Ketika jongkok itu Faishal Lathiful Fahri pingsan.

“Korban dibawa empat orang, tapi ketika sudah sampai sini sudah dalam keadaan tak bernyawa sehingga kami tidak melakukan tindakan apa-apa,” jelas Kepala Puskesmas Karangploso, Izza El Naila.

Menurut Gus Is tidak ada tindakan kekerasan yang dilakukan panitia karena acara pembaiatan ini belum dimulai.

7. Korban tidak sempat divisum atau autopsi

Ketika keluarga korban datang, jenazah korban langsung dibawa ke kampung halaman masing-masing. Mereka dikebumikan begitu sampai di kampung halamannya.

“Autopsi dan visum tidak dapat dilakukan. Sejak awal penanganan perkara ini dari pihak korban sudah membuat surat pernyataan untuk menolak dilakukan autopsi,” jelas Jeifson, Rabu (10/03).

8. UKM Pagar Nusa UIN diduga lalai

Satreskrim Polres Batu menilai ada dugaan kelalaian pada pembaiatan anggota baru yang dilakukan UKM Pagar Nusa UIN. Tindak pidana bisa diberlakukan.

“Ada dugaan tindak pidana kelalaian dari pihak yang menyelenggarakan kegiatan ini,” jelas Jeifson, Rabu (10/03).

9. Pemeriksaan di tahap penyidikan

Dugaan lalai yang dilontarkan Satreskrim Polres Batu menaikkan status pemeriksaan dari penyelidikan ke penyidikan.

“Sekarang ini kita lakukan penyedikan sehubungan dengan Pasal KUHP 359,” tandas Jeifson, Rabu (10/03).(end)

Manajemen Gus Idris Sebut Suara Letusan Berasal dari Efek Suara

Tangkapan layar video evakuasi Gus Idris usai terkapar diduga tertembak. (istimewa)

MALANGVOICE – Ramainya kasus unggahan video dugaan penembakan yang terjadi pada pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Thoriqul Jannah, Idris Al Marbawy atau Gus Idris, membuat managemen Gus Idris buka suara.

Pasalnya, suara mirip tembakan yang terdengar dalam konten viral berujung protes tersebut merupakan efek suara yang telah diatur sedemikian rupa untuk konten YouTube.

“Suara (letusan) itu merupakan efek suara yang kami buat. Itu suara letusan akibat serangan,” ucap Juru Bicara Gus Idris, Ian Firdaus ketika dikonfirmasi awak media, Selasa (9/3).

Menurut Ian, dalam pembuatan konten YouTube tersebut, kenyataannya Gus Idris tidak menerima serangan nyata.

“Kala itu tidak ada serangan. Suara itu untuk kebutuhan konten. Sudah dirancang, kami telah buat klarifikasi,” jelasnya.

Dengan begitu, lanjut Ian, dirinya menduga jika unggahan video tersebut dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang punya kepentingan sehingga menyebut adanya penembakan Gus Idris.

“Ada orang-orang tertentu kemudian hal itu dimanfaatkan oleh kepentingan tertentu,” tegasnya.

Untuk itu, tambah Ian, dirinya menegaskan segala adegan yang terjadi dalam konten berjudul [LIVE] KALAHKAN KEKUATAN DAYANG NYI RONGGENG GUS IDRIS: “MAMAZ KARYO BERSAMAKU” yang diunggah di YouTube merupakan murni untuk kebutuhan konten.

“Unggahan Video itu hanya untuk kebutuhan konten belaka,” tandasnya.

Sebagai informasi, unggahan video tersebut mendapat protes dari berbagai kalangan, hingga tiga organisasi masyarakat telah mengadukan ulah Idris ke polisi. Mereka adalah LSM Lingga, LTNNU dan Fordamas telah mengadukan dan pelaporan Idris Al Marbawy ke Polres Malang.(end)

Demo, Nendang Kaca Mobil Dalmas, Jadilah Tersangka

Wakapolresta Malang Kota, AKBP Totok Mulyanto Diyono, saat melakukan conference press terkait kasus pengerusakan kendaraan polisi, (MG2).

MALANGVOICE – Salah satu demonstran dari Aliansi Mahasiswa Papua (AMP), HL (23), Senin (8/3) ditetapkan sebagai tersangka. Penetapan ini menyusul insiden perusakan satu mobil Dalmas.

Menurut penjelasan Wakapolresta Malang Kota, AKBP Totok Mulyanto Diyono, pelaku menendang kaca truk Dalmas bermula dari petugas yang akan mengangkut massa aksi ke atas truk.

Pelaku tersulut emosinya karena truk berjalan dahulu, sementara, masih ada teman-temannya yang tertinggal.

‘”Lalu pelaku emosi dan langsung menendang kaca truk yang ada di belakang supir sehingga melukai mata petugas,” jelasnya.

Ketika truk Dalmas yang mengangkut massa ini sudah berjalan, ternyata ada beberapa yang tertinggal, sehingga HL pun beralasan tersulut emosi, kemudian melakukan perusakan dengan menendang kaca belakang truk hingga pecah dan mengenai petugas yang mengemudi.

“Petugas kami dirawat inap, bernama Eko mengalami luka pada mata di sebelah kiri. Kami sangat menyayangkan,” ungkapnya saat menggelar conference pers, Selasa (9/3).

Hingga saat ini petugas Kepolisian atas nama Eko Winardi kini masih berada di Rumah Sakit (RS) Hermina, Kota Malang untuk melakukan observasi.

“Diopname di RS Hermina untuk observasi, karena serpihan kaca itu masuk ke lensa mata. Apakah lensa kornea dari mata itu menyebabkan saraf dalam mata terganggu tidaknya, jika iya nanti akan berpengaruh terhadap penglihatannya,” paparnya.

Sementara itu, barang bukti yang telah diamankan dari tersangka HL meliputi satu buah sepatu sebelah kanan, satu celana jeans panjang warna biru, dan satu buah sepatu sebelah kiri yang disita dari tersangka.

Dari kasus ini, tersangka diancam pasal 351 ayat (1) KUHP dan atau pasal 406 KUHP dengan perkara tindak pidana penganiayaan dan perusakan.

“Hukuman maksimal 2 tahun 8 bulan dan pasal 406 KUHP,” imbuhnya.(end)

UKM Pagar Nusa UIN Lalai? Berikut Penjelasan Kasat Reskrim Polres Batu

Kasat Reskrim Polres Batu, AKP Jeifson Sitorus. (Aan)

MALANGVOICE – Meninggalnya dua mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) pada saat pembaiatan anggota baru UKM Pagar Nusa UIN, Sabtu (06/03) di Coban Rais, Kecamatan Junrejo, Kota Batu masih menyisakan misteri.

Pembaiatan itu memakan dua korban bernama Moh Faishal Lathiful Fahri, mahasiswa Hukum Ekonomi Syariah UIN asal Lamongan dan Miftah Rizki Pratama, mahasiswa Tadris Matematika asal Bandung.

Pendalaman kasus ini dilakukan oleh Satreskrim Polres Batu. Sebanyak 31 saksi dari panitia pembaiatan itu diperiksa untuk dimintai keterangan lebih lanjut hari ini, Selasa (09/03)

“Benar kita sedang melakukan pemeriksaan, hari ini kita memeriksa 31 saksi dari panitia. Untuk sementara proses pemeriksaan masih dilakukan oleh penyeledik kita,” jelas Kasat Reskrim Polres Batu, AKP Jeifson Sitorus, Selasa (09/03).

Para saksi itu merupakan jumlah akumulasi dari jumlah saksi yang diperiksa kemarin, Senin (08/03) yang berjumlah 11 orang. Kemarin dari pihak kampus, Warek 3 dan Bidang Kemahasiswaan UIN juga diperiksa.

“Hasilnya masih menunggu dari keterangan-keterangan yang kita dapatkan dari saksi pada hari ini,” ungkap Jeifson.

Jeifson melanjutkan saat ini pihaknya masih melakukan penyelidikan. Ia mendalami apakah dalam peristiwa ini ada dugaan tindak pidana atau tidak. Setelah itu pihaknya akan melihat fakta-fakata yang terjadi dari proses pembaiatan anggota baru UKM Pagar Nusa UIN.

Ia menambahkan pihaknya telah mengantongi barang bukti berupa dokumen-dokumen kegiatan tersebut. Dari barang bukti itu pihaknya masih melakukan analisa untuk menemukan ada atau tidaknya kelalaian atau tindak pidana lainnya.

“Kita juga mendalami proses pembaiatan tahun-tahun sebelumnya, SOPnya bagaimana. Karena kebetulan yang tahun ini sedang dalam suasana pandemi sehingga mereka tidak diizinkan oleh kampus,” imbuh dia.

Jeifson masih belum bisa memberi keterangan bagaimana SOP yang dilaksanakan di pembaiatan kali ini, sesuai atau tidak, masih didalami pihaknya.

“Kalau dari pihak medis, masih kita lakukan koordinasi dengan pihak terkait. Yang di Puskesmas pada saat itu tidak dilakukan visum. Jadi hanya tindakan untuk memeriksa jenazah tidak dilakukan visum karena langsung dijemput oleh keluarga,” urai Jeifson.

Selain itu Jeifson mengatakan penyidiknya sedang menuju ke rumah para peserta pembaiatan ini untuk mendapatkan keterangan tambahan.

“Sebagian dari penyidik kita sudah menuju ke tempat tinggal peserta UKM Pagar Nusa ini untuk membandingkan keterangan dari peserta dan panitia ,” tandasnya.(end)

Belum Sampai Puskesmas, Seorang Mahasiswa UIN Malik Ibrahim Meninggal Ketika Ikuti Pembaiatan UKM Silat

Ilustrasi

MALANGVOICE – Penyebab kematian dua mahasiswa UIN Maliki masih menyimoan misteri. Baik Rumah Sakit Karsa Husada Batu maupun Puskesmas Karangploso tidak mengetahui yang menjadi sebab meninggalnya kedua korban.

Dua mahasiswa yang meninggal secara misterius tersebut masing-masing Moh Faishal Lathiful Fahris dan Miftah Rizki Pratama. Jika Faishal yang asal Lamongan itu merupakan mahasiswa Hukum Ekonomi Syariah UIN, maka Rizqi mahasiswa Tadris Matematika asal Bandung.

Keduanya meninggal dunia saat mengikuti pembaiatan anggota baru UKM Pagar Nusa UIN di Coban Rais, Kecamatan Junrejo, Kota Batu, Sabtu (6/3).

Baca Juga: Dua Mahasiswa UIN Meninggal Saat Pembaiatan UKM Silat, Begini Penjelasan Warek...

Sebelum meninggal, Fasihal sempat pingsan dan dilarikan ke Puskesmas Karangploso pada pukul 15.00 WIB. Jarak Coban Rais ke Puskesmas Karangploso sendiri sejauh 10 kilometer.

Kepala Puskesmas Karangploso, drg Izza El Naila menyampaikan ketika Faishal datang sudah tak bernyawa. Tindakan yang dilakukan tenaga kesehatan di Puskesmas hanya menutup jenazah Faishal.

“Karena sudah meninggal kita tidak melakukan perawatan apa-apa soalnya di sini tidak menyediakan jasa pemandian jenazah,” jelasnya.

Setelah mengetahui Faishal sudah meninggal pihaknya langsung berkoordinasi dengan kepolisian. Kemudian mereka berkoordinasi untuk mencari identitas korban dan ditemukan Faishal berasal dari Lamongan sehingga langsung mengontak keluarganya.

“Faishal datang ke sini menggunakan ambulance dari Tlekung diantar empat orang,” imbuhnya tanpa menyebut identitas pengantar Faishal.

Berdasarkan pengamatan tim Puskesmas Karangploso, Faishal meninggal tanpa luka apapun di sekujur badannya. Mereka juga tidak berani melakukan autopsi atau vasum karena tidak mendapat surat pengantar dari kepolisian.

Kegiatan itu ternyata tidak mengantongi izin ke pihak kampus, Polres Batu, Satgas Covid-19, juga penanggung jawab Coban Rais.

Wakil Rektor 3 UIN, Dr Isroqun Najah mengatakan penyelenggara kegiatan itu tidak meminta izin. Pihak kampus pun tidak sempat melarang pelaksanaan kegiatan itu.

“Semua kegiatan luring mahasiswa dinonaktifkan. Bahkan mereka ke kampus saja tidak boleh,” terangnya, Senin (08/03).

Sementara itu, Kasat Reskrim AKP Jeifson Sitorus mengatakan hal serupa dialami oleh Mifta. Sebelum sampai di RS Karsa Husada juga dalam kondisi meninggal dunia.

“Jika ada indikasi tindak pidana maka pemeriksaan lebih lanjut bisa dilakukan. Jika keluarga menghendaki, autopsi bisa dilakukan,” tandasnya.(end)

Dua Mahasiswa UIN Meninggal Saat Pembaiatan UKM Silat, Begini Penjelasan Warek 3

Kedua korban pembaiatan anggota baru UKM Pagar Nusa UIN. (Istimewa)

MALANGVOICE – Wakil Rektor (Warek) 3 Universitas Islam Negeri (UIN) Malik Ibrahim Malang, Dr Isroqun Najah menjadi salah satu saksi yang dimintai keterangan oleh Satreskrim Polres Batu, Senin (08/03).

Ia menjadi satu dari 11 saksi yang diperiksa terkait meninggalnya dua mahasiswa saat ikuti pembaiatan anggota baru UKM Pagar Nusa UIN.

Korban itu adalah Moh Faishal Lathiful Fahri, mahasiswa Hukum Ekonomi Syariah UIN asal Lamongan. Miftah Rizki Pratama, mahasiswa Tadris Matematika asal Bandung.

Mereka berdua meninggal pada hari Sabtu (06/03) sekitar pukul 15.00. Kedua korban itu diketahui pingsan saat hendak melaksanakan salat asar di kawasan wisata Coban Rais, Kecamatan Junrejo, Kota Batu.

Isroqun menjelaskan kegiatan ini tidak hanya tak kantongi izin, tetapi memang tidak meminta izin. Pada masa pandemi ini Isroqun menegaskan seluruh kegiatan luring mahasiswa ditiadakan.

“Sudah ada surat edaran rektor menyangkut kegiatan ini. Lha wong kuliah saja daring,” jelasnya.

Kegiatan yang diperbolehkan, jelas Isroqun adalah yang daring saja. Ini untuk menginisiasi agar kegiatan kampus tetap berjalan.

“Mereka masuk kampus saja tidak diperbolehkan. Bahkan karyawan pun juga dibatasi untuk masuk kampus,” imbuhnya.

Isroqun menegaskan aturan ini sudah disebarkan ke seluruh UKM yang ada di UIN. Semua mahasiswa menurut Isroqun harusnya sudah mengetahui terkait aturan ini.(end)

Sepuluh Jam Kegiatan Fisik, Dua Mahasiswa UIN Tewas saat Pembaiatan UKM Silat

Kasat Reskrim Polres Batu, AKP Jeifson Sitorus

MALANGVOICE – Fakta menunjukkan kegiatan pembaiatan anggota baru UKM Pagar Nusa Universitas Islam Negeri (UIN) Malik Ibrahim Malang menelan dua korban, Sabtu (06/03).

Ternyata kegiatan tersebut belakangan baru diketahui tidak mengantongi izin kampus, Polres Batu, Satgas Covid-19.

Bahkan pihak Coban Rais sebagai tempat kegiatan ini pun tidak tahu menahu jika ada pembaiatan. Baru ketika menelan dua korban seluruh pihak yang telah disebutkan mengetahui jika ada kegiatan pembaiatan ini.

Kasat Reskrim Polres Batu, Jeifson Sitorus mengatakan di rundown kegiatan yang masih diselidiki, setiap hari ada kegiatan fisik selama 10 jam. Berdasarkan data itu Jeifson mengaku masih belum mengetahui indikasi penyebab kematian.

Diketahui, korban itu adalah Moh Faishal Lathiful Fahri, mahasiswa Hukum Ekonomi Syariah UIN asal Lamongan. Miftah Rizki Pratama, mahasiswa Tadris Matematika asal Bandung.

“Korban meninggal ketika hendak melaksanakan salat asar. Korban yang dari Lamongan sudah pingsan terlebih dahulu sebelum melaksanakan wudu,” jelasnya.

Ketika diketahui ada peserta yang pingsan seluruh peserta dikumpulkan dan disuruh jongkok oleh panitia. Ketika seluruh peserta jongkok, Rizki juga pingsan.

“Korban yang pingsan lebih dulu dibawa ke Puskesmas Karangploso, sedangkan yang kedua dibawa ke RS. Karsa Husada,” imbuh Jeifson.

Jeifson menambahkan Faisal sempat melaksanakan wudu, namun belum sempat salat asar ia pingsan terlebih dahulu.

“Diketahui dari pihak medis, kedua korban ketika sampai di sana sudah dalam keadaan tidak bernyawa,” tambah Jeifson.

Jenazah kedua korban sudah dibawa ke kampung halaman masing-masing. Jika ada indikasi tindak pidana dan keluarga bersedia agar kedua korban diautopsi, maka pemeriksaan bisa dilanjutkan.

“Namun untuk saat ini kami masih melakukan pemeriksaan. Tindakan yang lebih jauh masih belum kami lakukan,” tandasnya.

Satreskrim Polres Batu memeriksa 11 saksi dari pihak kampus serta mengantongi bukti-bukti dokumentasi dan ponsel para panitia.(end)

Satu Kendaraan Dirusak Demonstran, Polisi Terpaksa Melakukan Ini

Gambaran Kendaraan Dalmas Polresta Malang Kota yang telah dirusak, (MG2).

MALANGVOICE – Rencana pengembalian massa aksi demo Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) menuju tempat tinggal masing – masing, rusuh.

Satu Kendaraan Dalmas yang mengangkut massa aksi demo AMP tersebut dirusak tepatnya berada di depan Hotel Kertanegara Jalan Semeru, Kota Malang.

Akibatnya kaca belakang pengemudi pecah, meninggalkan serpihan yang masuk kedalam ruangan sopir.

Perusakan yang dilakukan beberapa orang itu, dengan cara menendang kaca mobil Dalmas dari belakang.

Dengan adanya tindakan perusakan ini, akhirnya pihak kepolisian memutuskan untuk membawa pelaku menuju Mapolresta Malang Kota.

Menurut keterangan Kapolresta Malang Kota, Kombes Pol Leonardus Simarmata, dengan adanya pemecahan kaca ini, pihaknya telah melakukan pengamanan kepada pelaku.

“Saya perintahkan semua diproses. Yang terlibat sekarang sudah kami pisahkan antara pelaku, yang menyuruh, dan yang mendorong dengan yang tidak terlibat. Untuk yang tidak terlibat kami kembalikan,” ungkapnya saat diwawancarai awak media, Senin (8/3).

Selain itu, Leo juga menambahkan bahwa sudah mendapatkan satu barang bukti berupa sepatu yang digunakan dalam aksi pemecahan kaca itu.

“Pelaku dikenai Pasal 170 kekerasan orang dan barang yang dilakukan secara bersama-sama di muka umum. Anda lihat semua. Ancaman di atas lima tahun,” imbuhnya.

Dari situ, dirinya berpesan sebagai Satgas Covid-19 tidak mengizinkan lagi adanya unjuk rasa dalam bentuk apapun di Kota Malang.

“Atas nama satgas covid-19 saya dengan Dandim mewakilinya tidak mengizinkan ada lagi unjuk rasa di Kota Malang dengan alasan apapun. Kita masih dalam masa pandemi. Kita menyelamatkan rakyat karena keselamatan rakyat adalah hukum yang utama,” tandasnya.(end)