Kelurahan Dadaprejo, Beranda Kota Batu yang Tawarkan Paket Wisata Memukau

Wisata Dadaprejo, Kota Batu. (Istimewa)

MALANGVOICE – Kelurahan Dadaprejo, Junrejo, Kota Batu menggabungkan aktivitas pariwisata dan edukasi. Secara geografis kelurahan ini berbatasan dengan Kecamatan Dau, Kabupaten Malang.

Sebagai beranda Kota Batu, Dadaprejo menawarkan potensi unggulannya untuk dijadikan magnet menarik wisatawan.

Ada tiga daya tarik yang ditonjolkan Kelurahan Dadaprejo dalam memajukan sektor pariwisata Kota Batu berbasis desa wisata. Pertama, destinasi budidaya tanaman anggrek di DD Orchid Nursery milik Dedek Setia Santoso. Kemudian destinasi lainnya, yakni Seni Kriya Gerabah milik Ponimin dan Batik Tulis Dadap Kota Batu milik Yuni Sumarsih. Keduanya dimunculkan setelah dilakukan penggalian potensi untuk mengembangkan wisata di Dadaprejo.

“Dari ketiga destinasi wisata yang ada nantinya akan digabungkan dalam satu paket wisata,” tutur Ketua Pengelola Wisata Edukasi Kelurahan Dadaprejo, Andik Wibowo.

Semula kelurahan yang berada di area selatan Kota Batu ini memiliki julukan Kampung Anggrek. Julukan itu tak lepas dari dedikasi pendiri DD Orchid Nursery, Dedek Setia Santoso yang membudidayakan tanaman endemik Indonesia. Sehingga menjadi ikon unggulan di Kelurahan Dadaprejo.

Ikon wisata Dadaprejo, Kota Batu. (Istimewa)

Seiring berjalannya waktu, Kampung Anggrek bertranformasi menjadi Wisata Eduaksi Dadaprejo. Bergesernya predikat itu setelah dimunculkannya destinasi Seni Kriya Gerabah dan Batik Tulis.

Eduaksi ini merupakan sebuah bentuk penggabungan aktivitas wisata dibarengi nilai edukatif. Wisatawan tak hanya datang melihat namun diajak untuk berpraktik di tiga destinasi yang ada.

“Kami ajak berpraktik langsung. Misal di destinasi anggrek diajak bagaimana cara membudidayakan anggrek. Mulai menanam dan merawat. Apalagi anggrek disukai semua kalangan. Anggrek jadi ikon utama Dadaprejo,” kata Andik.

Konsep pemberdayaan masyarakat, lanjut Andik, juga diterapkan oleh Dedek Setia Santoso, pemilik DD Orchid Nursery yang telah merintisnya sejak 2004 silam. Ada sebanyak 107 petani plasma yang dibina Dedek. Para petani plasma ini dibagi dalam tiga klaster, mulai dari pembenihan, remaja dan dewasa.

Ikon wisata Dadaprejo, Kota Batu. (Istimewa)

Dengan konsep seperti itu, pengembangan wisata Kelurahan Dadaprejo bisa membawa dampak terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat setempat. Masyarakat dapat mengambil kesempatan dengan hadirnya wisatawan.

“Itu harapan besar kami. Mungkin mereka ada yang mau jualan souvenir ataupun oleh-oleh. Selama ini masyarakat Kota Batu hanya jadi penonton. Makanya dengan adanya wisata ini, masyarakat bisa ambil peran dalam meningkatkan taraf perekonomiannya,” imbuh dia.

Sama halnya ketika mengunjungi dua destinasi lainnya seperti di Seni Kriya Gerabah Ponimin maupun Batik Tulis Dadap Kota Batu. Pengunjung diajak berkreasi dan hasilnya bisa dibawa pulang.

Andik mengatakan, bunga anggrek menjadi pilihan utama motif batik tulis yang dibuat Yuni Sumarsih. Dipilihnya motif anggrek, karena tanaman ini menjadi ikon utama Kelurahan Dadaprejo.

“Dalam pembuatan batik juga memberdayakan ibu-ibu sekitar. Kalau pesanan cukup banyak mereka dilibatkan. Ada salah satu dinas yang pesan untuk dijadikan seragam kerja,” tukas pria yang sebelumnya bekerja di salah satu hotel Kota Batu ini.

Di Seni Kriya Gerabah Ponimin, pengunjung diajari teknik pembuatan keramik, mulai dari cara mengolah tanah liat hingga pada tahap pembuatan objek. Teknik itu diajarkan langsung oleh Ponimin selaku pendiri yang juga mengajar sebagai dosen seni rupa di Universitas Negeri Malang.

Andik menjelaskan, ketiga destinasi wisata itu akan dikemas dalam paket wisata yang terbagi menjadi paket reguler seharga Rp 125 ribu dan paket pintar seharga Rp 115 ribu. Paket reguler diperuntukkan bagi masyarakat umum. Sedangkan paket pintar, khusus diberikan kepada pelajar.

Selain menyediakan paket wisata, pengunjung bisa memilih per satuan destinasi sesuai keinginan pengunjung. Mulai dari Wisata Eduaksi Anggrek dibandrol Rp 30 ribu. Kemudian, Wisata Eduaksi Gerabah dibandrol Rp 50 ribu. Wisata Eduaksi Batik dibandrol Rp 60 ribu. Per destinasi diberi durasi waktu 1,5 jam.

“Pengunjung dibatasi selama pandemi. Di destinasi gerabah dan batik dibatasi 10-15 pengunjung. Untuk di destinasi anggrek bisa 20-30 karena tempatnya cukup luas. Intinya tetap menerapkan prokes,” terang Andik.

Unsur budaya yang masih kental juga melekat di Dadaprejo. Terdapat kelompok seni budaya seperti Turonggo Sekar Mulyo, Banteng Kawok Singo Lawung dan Reog Singo Pronojiwo yang meramaikan dikala diadakannya event Trilogi dengan filosofi menanam, merawat, menuai dan Festival Serabi Suro.

Lebih lanjut ia mengatakan, pihaknya akan terus berinovasi agar bisa menarik minat kunjungan wisatawan. Sehingga pengunjung tak merasa hambar ketika berwisata di Kelurahan Dadaprejo. “Jangan sampai destinasi sudah siap tapi cuma gitu-gitu aja. Harus ada inovasi,” ucap dia.

Kepala Disparta Kota Batu, Arief As Siddiq berharap wisata di wilayah tersebut bisa dikelola dengan maksimal. Sehingga terwujud visi yang digaungkan dalam RPJMD kepala daerah Kota Batu. Yakni Desa Berdaya, Kota Berjaya.

“Dengan mengembangkan potensi wisata di sana besar harapan kami nantinya wisata tersebut mampu mengangkat perekonomian dan kesejahteraan masyarakat,” terangnya.

Untuk itu, kata dia, sasaran prioritas kinerja dari Disparta adalah pengembangan destinasi desa atau kelurahan yaitu kearifan lokal. Potensi tersebut dikembangkan dan dikemas agar menjadi desa atau kelurahan wisata. Termasuk pengembangan kebudayaan yang ada.

Agar itu bisa berjalan baik, pihaknya tak mungkin bisa berjalan sendiri perlu dukungan peran dari beberapa OPD terkait secara terintegrasi di dalam melaksanakan beberapa program tersebut.

“Supaya terealisasi ada beberapa terbosan yang dilakukan yaitu pengembangan destinasi wisata desa, kedua pengembangan SDM pariwisata. Ketiga pengembangan seni budaya daerah dan yang terakhir adalah pengembangan promosi wisata,” tuturnya.(der)

Imbas Pariwisata Lesu, PT Selecta Bagikan Dividen Perlembar Saham Senilai Rp80 Ribu

Taman Rekreasi Selecta. (Istimewa)

MALANGVOICE – PT Selecta selaku manajemen Taman Rekreasi Selecta membukukan laba bersih tahun 2020 di bawah Rp1 miliar. Situasi ini menunjukkan lesunya industri pariwisata imbas pembatasan mobilitas masyarakat selama pandemi Covid-19.

Jauh berbeda ketika tahun 2019 lalu saat keadaan masih normal, PT Selecta mencatatkan pendapatan hingga Rp 80 miliar. Selisih potensi pendapatannya terpaut jauh. Dirut PT Selecta, Sujud Hariadi meyakini penurunannya cukup drastis berkisar 70 persen.

“Kunjungan di tahun 2019 tembus 1 juta lebih wisatawan. Lalu di tahun 2020 turun mencapai 486.000 wisatawan. Sedangkan tahun 2021 hingga bulan November masih berkisar 300 ribu wisatawan,” kata Sujud.

Turunnya pendapatan secara drastis ini berbuntut pula pada besaran dividen pemegang saham yang sejak 2019 lalu berstatus sebagai perusahaan terbuka. Tercatat ada 5.000 lembar saham yang diterbitkan kepada 1.110 pemegang saham PT Selecta. Sejak beralih menjadi perusahaan terbuka, per lembar sahamnya dilepas senilai Rp 800 ribu dari nilai semula Rp 400 ribu.

“Dividen per lembar sahamnya sebesar Rp 80 ribu. Sangat jauh, di tahun sebelumnya saat masa normal, per lembarnya hingga Rp 20 juta. Para pemilik saham juga memahami dan menerima. Begitu juga jajaran direksi tidak meminta tambahan modal ke pemilik saham dengan keadaan saat ini. Apalagi yang dalam RUPS pemilik yang datang hanya sekitar 76 persen,” papar Sujud usai menggelar RUPS di Hotel Arjuna (Kamis, 28/11).

Pihaknya juga sangat bersyukur, meski dalam keadaan pandemi PT Selecta tidak melakukan PHK karyawan dan masih mencatatkan keuntungan. Pihaknya berharap tahun depan keadaan pandemi ini bisa turun status menjadi endemi sehingga perekonomian kembali pulih.(der)

Expo Pariwisata Kota Batu 2021, Diharap Jadi Penggerak Ekonomi Masyarakat

MALANGVOICE – Wakil Wali Kota Batu, Punjul Santoso membuka langsung Expo Pariwisata Hybrid Event 2021, pada Jumat (19/11) malam di Hall Galery Musik Dunia, Jatim Park 3.

Dalam pembukaan itu, Punjul mengatakan sejak adanya pandemi Covid-19 sangat berdampak kepada seluruh aspek pariwisata. Apalagi di Kota Batu yang mengandalkan pariwisata sebagai penggerak ekonomi masyarakat.

Arus kunjungan wisatawan tak secemerlang tahun 2019 yang mencapai 7,6 juta wisatawan. Sejak pandemi melanda, tingkat kunjungan wisatawan hanya menyentuh pada angka 2 juta pengunjung.

“Tak bisa dipungkiri, dampaknya dirasa sangat signifikan bagi Kota Batu sebagai daerah wisata,” kata Punjul.

Wakil Wali Kota Batu, Punjul Santoso. (Istimewa)

Expo Pariwisata yang diinisiasi Dinas Pariwisata ini digelar secara hybrid untuk membatasi kerumunan. Selaras dengan standar CHSE guna menjamin keamanan dan kenyamanan aktivitas wisata di masa pandemi.

Acara ini juga sekaligus sebagai peringatan HUT ke-20 Kota Batu tahun ini.

Menurut Punjul, event Expo Pariwisata ini merupakan strategi Pemkot Batu dalam rangka pemulihan ekonomi melalui sektor industri pariwisata. Mengingat sektor ini memberikan kontribusi besar dalam menggerakkan roda perekonomian di Kota Batu.

“Kesempatan ini memberi stimulus untuk kembali menggairahkan perekonomian. Utamanya memberi aksentuasi yang memprioritaskan pada pariwisata serta UMKM yang keduanya memiliki korelasi sangat erat,” ujar Punjul.

Dalam kesempatan itu, pihaknya juga memberikan terima kasih atas donasi yang diberikan lembaga jasa keuangan, OJK maupun perbankan. Donasi berupa uang tunai disalurkan untuk penanganan banjir bandang yang menerjang enam desa di Kota Batu pada 4 November lalu.

Pembukaan Expo Pariwisata Kota Batu 2021. (Istimewa)

“Atas nama Pemkot Batu, saya ucapkan terima kasih. Bantuan ini bentuk kepedulian terhadap sesama agar segara bangkit dari keterpurukan,” ucap dia.

Bantuan mengalir dari BPJS Ketenagakerjaan Malang senilai Rp 50 juta. Kemudian, juga ada bantuan senilai Rp 50 juta dari Bank Mandiri. Serta bantuan Rp 30 juta dari Bank Syariah Indonesia (BSI). Tak ketinggalan, BRI Cabag Kota Batu juga menyalurkan bantuan korban banjir sebesar Rp 50 juta. Terakhir, Bank Jatim juga akan mengirimkan bantuan senilai Rp 66 juta yang telah dihimpun dalam rekening Batu Peduli Bencana.

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata Kota Batu, Arief As Siddiq menjelaskan, event ini akan diselenggarakan secara hybrid, baik secara luring (offline) maupun saluran virtual. Hal ini agar tidak memicu kerumunan selama pelaksanaan kegiatan.

Dalam penyelenggaraanya, sekaligus menampilkan daya tarik pariwisata dan produk ekonomi kreatif Nusantara. Serta pagelaran seni budaya dan wastra Nusantara. Hingga pameran bisnis, investasi dan produk unggulan daerah.

Ia mengatakan, perhelatan ini sebagai strategi meningkatkan arus kunjungan wisatawan ke Kota Batu dengan penerapan prokes CHSE Kemenparekraf. Tujuan lainnya, yakni wadah mempromosikan potensi wisata, pelaku UMKM dan ekonomi kreatif secara daring dan luring. Sehingga membantu peningkatan pemasaran produk-produk UMKM dan ekonomi kreatif di Kota Batu. Sasaran berikutnya untuk mewujudkan kerja sama promosi antara Pemkot Batu dan instansi daerah lainnya. Guna meningkatkan kunjungan wisatawan di tengah pandemi Covid-19.

“Ini dalam rangka membangkitkan sector riil dan pemulihan ekonomi Kota Batu yang terdampak pandemi. Maka dalam kesempatan ini, didukung oleh fasilitas wisata di Kota Batu yang sangat lengkap. Panitia mengundang peserta pameran dari Kementerian, Provinsi, Kabupaten, Kota, Dekranasda, BUMN, BUMD dan swasta,” ujar Arief.

Selain diselenggarakan secara offline bagi tamu undangan, masyarakat dapat menikmati perhelatan Expo Pariwisata secara virtual. Pameran virtual akan digelar selama setahun. Durasi waktu dapat diperpanjang sesuai masa berlaku pembuatan website www.wisatabatuvirtualexpo.com. Laman website itu sebagai medium bagi masyarakat yang ingin menikmati pameran virtual. Disamping website itu, masyarakat dapat mengunjungi kanal youtube channel Dinas Pariwisata.

Ia menambahkan, dalam rangkaian event tersebut, akan dibahas pula strategi mendorong peningkatan pemasaran dan jaringan produk ekonomi kreatif di Kota Batu. Acara itu akan dikemas dalam Welcome Dinner dan Temu Bisnis yang mengangkat tema ”Digdaya Ekonomi Kreatif Kota Batu”.

Pembukaan Expo Pariwisata Kota Batu 2021. (Istimewa)

“Diskusi menghadirkan narasumber expert memacu geliat produktifitas dan akselerasi pelaku ekonomi kreatif. Sehingga dapat bersaing secara kompetitif di pasar skala lokal hingga global. Narsum Kemenparekraf, Disparta dan Gekraf. Diskuai akan diikuti 100 peserta dari OPD, pelaku kreatif, tamu undangan berasal dari kabupaten/kota,” imbuh dia.

Kepala OJK Malang, Sugiarto Kasmuri yang hadir dalam event tersebut, juga turut mendukung Expo Pariwisata 2021 Kota Batu. Dukungan itu berkaitan dengan upaya menciptakan akselerasi pemulihan ekonomi di daerah. Menurutnya, redupnya industri pariwisata di Kota Batu membawa efek domino bagi sektor turunan lainnya, seperti UMKM.

“Merujuk pada data, sebelum pandemi bisa mencapai 6 juta kunjungan, kemudian turun hingga 1,8 juta. Maka membawa dampak pula terhadap sektor turunannya, yakni UMKM dan industri kreatif. Untuk itu kami mendorong Pemkot Batu menggugah optimisme agar bersama-sama kembali bangkit,” tutup Sugiarto.

Sebagai informasi, Expo Pariwisata ini digelar mulai 19-21 November 2021. Expo ini juga diikuti beberapa kota, seperti Pekalongan, Kabupaten Lampung Utara, Cimahi, Kabupaten Situbondo, Kabupaten Lamongan, dan Kabupaten Gresik.

Karena dilaksanakan hybrid, pengunjung bisa mengikuti acara melalui website www.batuwisatavitualexpo.com atau kanal YouTube Dinas Pariwisata Kota Batu.(der)

Desa Wisata Edelweiss Konservasi Penuh Edukasi dari Tosari

Konservasi Desa Wisata Edelweiss yang menyuguhkan panorama eksotis. (Mvoice/ig:hulun_hyang)

MALANGVOICE – Gunung Bromo memang terkenal dengan panorama yang mendunia. Ribuan pasang mata berburu matahari terbit, upacara Kesada suku Tengger, kepulan asap kawah Bromo, pasir berbisik, dan aneka spot wisata yang bertebaran. Di antara sekian banyak pesona Bromo, masih ada satu lagi destinasi wisata yang tak boleh dilewatkan.

Desa Wisata Edelweiss namanya. Tempatnya masuk wilayah Desa Wonokitri, Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan. Di desa ini, selain menyuguhkan pemandangan eksotik, kelompok tani (Poktan) Hulun Hyang siap mengedukasi pengunjung tentang edelweiss.

Mereka tidak sekadar cerita filosofis edelweiss bagi masyarakat Tengger, namun menuntun pengunjung cara menanam bibit di polybag, kemudian dipindah ke media tanah saat usia beberapa bulan, kemudian merawat tanaman dalam pertumbuhan hingga akhirnya panen bunga edelweiss.

“Seperti kita mendidik anak, rawatlah edelweiss dengan penuh kasih sayang. Ajak bicara ketika menyirami atau memberi pupuk dengan lemah lembut supaya tumbuh dengan baik seperti yang kita inginkan,” kata Ketua Poktan Hulun Hyang, Teguh Wibowo.

Bagi masyarakat Tengger, edelweiss memang menjadi sajian utama saat upacara adat penuh kesakralan karena tumbuhan yang hanya bisa tumbuh di gunung dengan ketinggian rata-rata 2.000 di atas permukaan laut ini juga menjadi lambang cinta sejati.

Di Bromo yang masuk Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), terdapat tidak jenis edelweiss, yakni anaphalis javanica, anaphalis visida, anaphalis longifolia.

Sementara di dunia masih ada dua jenis edelweiss lain yang terkenal. Leontopodium Alpinum yang hanya tumbuh di pegunungan Alpen (Eropa) dan Leucogenes Grandiceps atau dikenal dengan edelweiss New Zealand.

Edelweiss lambang cinta abadi yang digandrungi kaum muda. (Mvoice/ig:hulun_hyang)

Uniknya jenis anaphalis javanica hanya ada di Bromo. Dengan jenis daun yang berbeda dibanding dua edelweiss lain, masyarakat Tengger berani mengklaim anapahalis javanica sebagai satu-satunya di Indonesia. Dua jenis edelweiss lain, anaphalis visida dan anaphalis longivolia bertebaran di gunung-gunung yang ada di Pulau Jawa khususnya.

Meski bunga edelweiss hidup abadi, antara 5-10 tahun, tanpa perlu disiram air, jangan sekali-kali memetiknya dan dibawa pulang.

Pemerintah mengeluarkan peraturan larangan memetik edelweiss melalui Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 pasal 33 ayat 1 dan 2 tentang Konservasi Sumber daya Hayati Ekosistem. Bahkan, bagi yang memetik bunga edelweiss dapat dikenai hukuman penjara atau denda.

Jika terbukti memetik edelweiss dikenakan hukuman penjara paling lama lima tahun dan denda paling banyak Rp100 juta.

Adapun isi pasal tersebut berbunyi “Setiap orang dilarang melakukan hal yang tak sesuai sesuai dengan fungsi pemanfaatan zona dan zona lain dari taman nasional, taman hutan raya, dan taman wisata alam“.

Teguh Wibowo menyebut ada beberapa alasan yang mendasari larangan memetik edelweiss. Salah satunya karena bunga ini ada di kawasan konservasi yang intinya segala sesuatu baik hewan maupun tumbuhan di kawasan konservasi dilindungi secara undang-undang.

Hanya saja UU tentang konservasi itu tidak berlaku di Desa Wisata Edelweiss karena Poktan Hulun Hyang memiliki izin budidaya edelweiss dari Kementerian Lingkungan Hidup.

Dengan kata lain, masyarakat yang ingin memiliki edelweiss sebaiknya berhubungan dengan Poktan Hulung Hyang, karena para petani asli warga Tengger ini memiliki izin resmi dari pemerintah.

Pemandangan Desa Wisata Edelweiss dari atas dengan latar belakang pinus. (Mvoice/ig:hulun_hyang)

Bagi warga Tengger sendiri bisa mendapatkan gratis edelweiss ini karena memang untuk kepentingan upacara keagamaan, sementara untuk pengunjung yang ingin memiliki dan dibawa pulang , Poktan Hulung Hyang mematok Rp20 ribu hingga Rp50 ribu.

Berada di lahan seluas 1.196 m2, sekitar Taman Edelweiss ini memiliki spot-spot yang eksotis untuk menjadi tempat berfoto.

Lereng hutan pinus serta kabut yang silih berganti datang menyamankan suasana hati akibat kabut polusi knalpot atau pabrik di tengah kota sambil menikmati segelas kopi, wedang jahe, mie instan plus kudapan di kafe sederhana.

Selain kursi-kursi yang ditata mepet dengan lereng berkabut, pengunjung bisa bersantai di lantai dengan model tribun. Dengan empat trap memanjang, sepanjang mata memandang dimanjakan kesejukan udara Bromo.

Desa Wisata Edelweiss menyediakan banyak spot foto. (Mvoice/ig:hulun_hyang)

Hanya saja untuk bulan-bulan ini pengunjung belum sepenuhnya bisa menikmati mekarnya edelweiss karena masih dalam proses pertumbuhan. Di beberapa tempat, tiga jenis tumbuhan edelweiss baru sebagian yang menunjukkan pucuk-pucuk kembangnya.

Kata Teguh, tiket masuk ke areal ini hanya Rp10 ribu termasuk welcome drink, sedangkan bagi yang ingin mendapat pengetahuan tentang edelweiss, dikenakan tiket Rp25 ribu.

“Kami memiliki 30 petani anggota Hulun Hyang yang bisa menjelaskan secara detil tentang edelweiss kepada pengunjung. Bahkan kami siap membantu pengunjung yang ingin menitipkan tumbuhan edelweiss dan diambil saat berkembang,” jelasnya seraya menambahkan sampai Oktober 2021, tercatat 3.319 pengunjung Desa Wisata Edelweiss ini.

Untuk menuju Desa Wisata Edelweiss cukup mudah karena akses jalan beraspal mulus hingga tempat parkir. Hanya sekitar 50 meter dari tempat parkir, pengunjung naik trap dan sampailah di taman edelweiss.(end)

Wisata Pantai Kabupaten Malang Mulai Uji Coba Dibuka

Pengunjung Pantai Balekambang saat mencoba aplikasi PeduliLindungi. (Mvoice/Humas Perumda Jasa Yasa).

MALANGVOICE – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang mulai membuka tempat wisata setelah masuk level 2 dalam pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM).

Hal itu tertuang dalam surat dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Malang nomor 556/810/35.07.108/2021 tentang pembukaan tempat wisata.

Namun, dalam surat tersebut ada beberapa hal yang harus diperhatikan setiap pengelola tempat wisata, salah satunya dengan memberikan batasan jumlah pengunjung yakni 25 persen dari kapasitas maksimal.

Keputusan tersebut langsung direspon positif oleh Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Jasa Yasa Kabupaten Malang.

Perumda Jasa Yasa langsung melakukan uji coba pada sejumlah tempat wisata yang dikelolanya untuk memastikan kesiapan beroperasinya tempat wisata dengan tetap menerapkan protokol kesehatan (prokes).

“Uji coba telah kami lakukan mulai kemarin (Sabtu 6/11). Seperti di Pantai Balekambang. Tadi sudah ada sekitar 100 an pengunjung. Mungkin sampai 200 (pengunjung),” ucap, Pelaksana tugas (Plt) Direktur Utama Perumda Jasa Yasa, Husnul Hakim, saat dihubungi, Ahad (7/11).

Husnul menjelaskan, dalam uji coba tersebut, prokes tetap menjadi perhatian. Semua pengunjung yang masuk diperiksa menggunakan thermogun, dan kendaraannya juga disemprot dengan menggunakan cairan disinfektan.

“Semuanya juga harus sudah menggunakan aplikasi peduli lindungi. Semua (tempat wisata) yang kami kelola juga kami sediakan tempat cuci tangan. Tapi sebenarnya kalau sarpras prokes sudah kita lakukan sejak lama. Hanya saja kan ditutup sudah sekitar lima bulan,” jelasnya.

Sedangkan, lanjut Husnul, setiap pegawai dan pengunjung juga wajib dilakukan skrining sebelum masuk ke tempat wisata.

“Untuk anak berusia 12 tahun juga diperbolehkan masuk ke tempat wisata yang sudah menggunakan aplikasi peduli lindungi. Tapi, tetap harus didampingi orang tua,” terangnya.

Namun begitu, tambah Husnul,dalam keadaan tidak bisa digunakannya aplikasi peduli lindungi dengan kondisi tertentu, pengunjung dan pegawai tetap diperbolehkan masuk dengan menunjukan kartu vaksin Covid-19.

“Namun tetap harus waspada. Termasuk kepada pemilik warung, juga harus sudah vaksin. Kalau belum ya terpaksa tidak boleh buka dulu,” pungkasnya.(der)

Abah Anton Sukses Jadi Juragan Durian, Ternyata Ini Gurunya

Abah Anton sedang memilihkan durian di kebun duriannya untuk pelanggan. (Mvoice/Toski D).

MALANGVOICE – Mantan Wali Kota Malang, H Moch Anton diam-diam selama 10 tahun terakhir ternyata memiliki kesibukan baru. Berkebun durian yang ada di luar Kota Malang, tepatnya Desa Petungsewu Kecamatan Dau, Kabupaten Malang. Itulah kesibukan barunya, disamping tetes tebu tentunya.

Di dalam kebun seluas 10 hektar tersebut juga terdapat kafe bernama Abundancio yang buka tiga minggu dan merupakan obsesinya sejak 10 tahun lalu atau tepatnya tahun 2011 silam.

“Waktu itu saya punya lahan di sini 10 hektar. Tahun 98 waktu krismon (krisis moneter). Dulu kebun inj terkenalnya kebun jeruk dan waktu itu belum ada pikiran dibuat apa,” cerita Abah Anton, saat ditemui awak media di kebun duriannya, Ahad (31/10).

Tanpa pernah menyebut penggagasnya, Abah Anton tertarik memanfaatkan lahan untuk menanam durian. Berbekal kolega yang memiliki keahlian di bidang pertanian di Bogor, Abah Anton dia kemudian mengundang temannya ke lahan tersebut untuk mengecek kelayakan lahan itu buat durian.

“Kata teman saya cocok. Di sini ketinggiannya di atas 750 meter dari permukaan laut. Bibitnya pun dari teman saya itu,” jelasnya.

Dalam waktu 10 tahun lebih itu, Abah Anton mengaku bukan tanpa kegagalan saat menanam durian. Karena hobi berkebun dan menanam buah-buahan diapun tak segan belajar. Salah satunya belajar melalui Youtube.

“Akun youtube kan banyak. Ya saya manfaatkan di situ, misal mulai bagaimana memupuk buah durian hingga pengelolaan durian itu,” terangnya.

Akhirnya pada pertengahan tahun 2020 kebun durian yang dikelolanya membuahkan hasil. Banyak orang mencari durian di kebunnya.

“Hingga akhirnya saya tertarik untuk mengembangkan kafe di tengah kebun supaya menambah daya tarik orang,” ulasnya.

Alhasil, kebun Abah Anton pun kini telah menjadi kebun sekaligus kafe. Pengunjung bisa memilih durian di sekitar lahan sendiri atau dipilihkan.

“Bisa memilih sendiri, menarik durian langsung, kemudian melihat memetiknya bagaimana. Jadi fresh from the oven,” promonya sambil tertawa kecil.

Harganya tergolong terjangkau mulai Rp50 ribu sampai Rp100 ribu. Karena itu tak heran per hari rata-rata terjual 500 buah. Abah Anton pun mengaku puas karena usahanya selama 10 tahun membuahkan hasil.

Saat ditanya alasan menanam durian di daerah Petungsewu, dia menjelaskan untuk menambah varian buah-buahan baru di desa yang terkenal sebagai produsen jeruk tersebut.

“Saya ini selain hobi makan durian, juga ingin mengenalkan ke warga. Durian yang merupakan buah-buahan favorit semua lapisan ini bisa ditanam di sini,” pungkasnya.(end)

Sate Layah, Destinasi Sate Ayam Legit di Gang Sempit

Sate Layah by Ovan Tumpang. (Istimewa)

MALANGVOICE – Penggemar kuliner sate wajib mencicipi Sate Layah yang berada di di Jalan Anggrek no 148 Malangsuko, Tumpang, Kabupaten Malang.

Usaha sate ayam yang sudah berdiri sejak akhir 2018 ini berada di dalam kampung dengan akses jalan yang tidak begitu lebar. Lokasinya nyaris tak terlihat dari jalan besar. Bahkan berada di tengah himpitan tembok SMAN 1 Tumpang yang membatasi jalan kampung.

Kendati berada di dalam gang, Sate Layah ternyata tidak main-main dengan cita rasa. Daging ayam yang disajikan tidak hanya empuk, melainkan juga sudah gurih terasa aroma rempah meski belum dicampur dengan saus kacang.

“Sebelum dibakar memang sudah dilakukan proses marinasi dengan rempah-rempah alami. Demikian juga dengan saat proses bakar, ada dua macam bumbu yakni dicelup dan diolesi, tentunya semuanya dengan komposisi yang berbeda,” ungkap Ovan Setiawan, pemilik Sate Layah kepada Mvoice, Jumat (29/10).

Sate Layah by Ovan Tumpang. (Istimewa)

“Ketika pembeli sudah paham prosesnya, kadang mereka memilih untuk memakan satenya tanpa saus kacang dulu. Merasakan rasa originalnya dulu kalau kata mereka, baru kemudian mencampurnya dengan saus kacang,” imbuh Ovan.

Hal berbeda lainnya adalah tekstur dari saus kacangnya. Sate Layah selama ini juga dikenal sebagai warung sate yang cukup royal dalam memberikan saus kacang. Bahkan saus kacang sate ayam di Sate Layah cenderung kental.

“Secara takaran memang sedikit ada pembeda, kita sengaja saus kacang dibuat sedikit kental tujuannya agar lebih khas ketika dinikmati,” urainya.

Dalam menjalankan usahanya ini Ovan dibantu dua rekannya yang bertugas di bagian operasional warung. Di masa pandemi ini, Sate Layah banyak mengoptimalkan pengiriman. Selain memiliki tim distribusi pengiriman sendiri, Sate Layah juga memanfaatkan layanan pesan antar milik jasa transportasi online.

Lantas kenapa dinamakan Sate Layah? Padahal ketika Malang oice datang ke Sate Layah tidak mendapati layah satupun. Ovan membocorkan bahwa Layah adalah Laris sak wayah-wayah. “Artinya adalah laris sak wayah-wayah. Nama adalah doa, semoga laris sewaktu-waktu,” ungkapnya.

Secara tampilan, Sate Layah memang lebih condong ke arah sate ayam khas Ponorogo. Yakni dengan irisan sate yang memiliki bentuk memanjang.

“Sate Layah banyak dipengaruhi sate Ponorogo. Karena ada paman di Trenggalek yang juga jualan sate ayam tentunya khas Ponorogo,” ujar Ovan yang berdarah Tulungagung-Trenggalek ini.

Hidupkan Kampung Jadi Produktif
Secara tampilan, kedai Sate Layah memang sangat sederhana. Menempati teras di samping rumah tidak sampai 1,5 x 3 meter. Itu hanya cukup untuk operasional, jika ingin makan di tempat disediakan lokasi sederhana yang cukup untuk dua meja.

Namun kebanyakan pengunjung yang makan di tempat lebih memilih untuk mengambil kursi dan makan sate di lorong gang. Sehingga tidak salah jika ini merupakan destinasi wisata kuliner yang berada di tengah kampung.

“Sengaja memang kita coba untuk mengeksplorasi kawasan yang disebut orang dalam tanda kutip tidak produktif, tapi di satu sisi ternyata kawasan ini justru menjadi pembeda ketika kita menghadirkan destinasi kuliner didaerah sini,” ungkap Ovan.

“Banyak yang bilang nongkrong di dalam gang ini tidak bising. Cocok untuk santai meski dengan tempat yang sederhana. Tentunya dengan menikmati sate,” sambung Ovan lantas tertawa.

Usaha Sate Layah ini cepat dikenal luas sebagai destinasi kuliner sate ayam di wilayah Malang Timur. Hal ini tidak lepas dari promosi yang dilakukan secara masif di sosial media.

“Untuk promosi jujur memang paling banyak menguras tenaga, pertama itu adalah yang ideal kedua kami bercita-cita agar daerah ini menjadi destinasi wisata kuliner untuk meningkatkan perekonomian warga di sekitar,” pungkas Ovan.(der)

Sekjen TPO Kim Soo-il Kunjungi Wisata Kota Batu

Sekjen TPO For Asia Pasific Cities, Kim Soo-il berkunjung ke Museum Angkut Kota Batu. (Istimewa)

MALANGVOICE – Sekjen Tourism Promotion Organization (TPO) For Asia Pacific Cities, Kim Soo-il, secara langsung berkunjung ke Kota Batu. Kunjungan itu untuk mengecek potensi wisata di kota berjuluk De Klein Switzerland.

Kunjungan organisasi promosi pariwisata kota-kota di Asia Pacific yang berkantor pusat di Korea Selatan tersebut, diterima langsung Wali Kota Batu Dra Hj Dewanti Rumpoko, Sekretaris Daerah, dan kepala dinas terkait, di rumah dinas Wali Kota, Kamis (28/10).

Ditemani Wali Kota Batu, Dewanti Rumpoko, rombongan Kim Soo-Il memantau lokasi wisata Museum Angkut, Baloga, Selecta, hingga paralayang.

Wali Kota Batu, Dewanti Rumpoko menyambut Sekjen TPO For Asia Pasific, Kim Soo-il. (Istimewa)

Kim Soo-il menjelaskan potensi alam Kota Batu sangat diminati wisatawan, utamanya mancanegara. TPO juga bekerjasama dengan kota lain dengan program sister city, serta membentuk forum pariwisata.

Mr Kim juga menambahkan pentingnya promosi yang lebih banyak, untuk mengenalkan Kota Batu ke dunia.

Sementara itu, Wali Kota Batu mengungkapkan pada tahun depan Kota Batu mempunyai event internasional.

“Kami berharap TPO bisa menjadi wadah, untuk memperkenalkan Kota Batu ke kota lain diseluruh dunia,” jelas Dewanti.

Kota Batu menjadi member TPO yang ke 140, organisasi promosi wisata berkelas dunia ini berkantor pusat di Korea Selatan, dengan anggota kota-kota pariwisata.

Sekjen TPO For Asia Pacific, Kim Soo-il berkunjung ke Museum Angkut Kota Batu. (Istimewa)

Sementara itu Kepala Disparta Kota Batu, Arief As Siddiq, mengatakan, Kota Batu menjadi salah satu perwakilan di Indonesia yang tergabung di TPO dari 40 wilayah.

Arief mengatakan, banyak manfaat yang bisa didapat saat menjadi anggota TPO. Antara lain adalah promosi wisata melalui pameran dan seminar secara global.

“Selain itu kita dapatkan arahan pembinaan untuk pengembangan pariwisata sekaligus strategi promosi,” ujarnya.

Arief menambahkan, nantinya seluruh potensi wisata di Kota Batu akan diikutkan program promosi secara online atau offline termasuk hotel dan resto.

“Semua yang memiliki kapasitas dan standar yang bagus harapannya bisa ikut,” harapnya.

Ke depan, dengan program ini Kota Batu meminta menjadi tuan rumah pameran anggota TPO.

“Jadi setahun dua kali pameran, kemarin salah satu yang disampaikan Sekjen dan Wali Kota Batu dimungkinkan kita minta khusus tuan rumah di Batu. Makanya tahun depan disarankan bisa jadi tuan rumah,” tutupnya.(der)

Bangkitkan Gairah Kuliner saat Pandemi, Pasta Indonesia Hadir di Malang

Produk Pasta Indonesia yang telah dikemas dan siap disajikan, (Bagus/Mvoice).

MALANGVOICE – Berseiring dengan menurunnya kasus Covid-19, para pelaku usaha sektor kuliner mulai kembali berlomba-lomba membuat inovasi sajian masakan baru, salah satunya Pasta Indonesia.

Pasta Indonesia merupakan franchise baru yang ada di Malang Raya. Mereka menyajikan kombinasi antara masakan luar negeri dan Indonesia yang akan membuat konsumen semakin penasaran.

“Meski di sektor kuliner tengah mengalami penurunan saat pandemi, akan kita angkat dengan bentuk Pasta Indonesia, yang mana merupakan makanan kombinasi antara makanan luar negeri dan makanan khas Indonesia,” ujar Investor Pasta Indonesia, Indra Setiyadi, Ahad (24/10).

Pasta Indonesia menyajikan Pasta dan Prata yang kemudian ditambah dengan varian makanan seperti rendang sapi, rendang ayam, sambal ayam suwir serta sambal goreng tongkol.

Indra Setiyadi (Kanan) bersama dengan Konseptor Pasta Indonesia, Ferry B Tjahyono (masker kuning), (Bagus/Mvoice).

Indra mengatakan, Pasta Indonesia yang memiliki tujuh gerai di wilayah Malang Raya hadir dengan mengutamakan penggunaan sistem Take Away. Sehingga untuk kemasan pun telah dibentuk sedemikian rupa agar lebih praktis untuk dibawa dan dimakan di manapun.

Baca Juga: Take Away, Aplikasi Digital Layanan Order Dikenalkan di Malang

“Memang di masa Pandemi ini, banyak resto, depot yang hanya menerima pesanan dengan sistem Take Away. Maka dari itu, kebiasaan itu tidak akan hilang, maka dari itu kita coba juga menggunakan sistem Take Away,” ucap dia.

Senada dengan hal itu, Konseptor Pasta Indonesia, Ferry B Tjahyono menyampaikan, untuk sistem take away sendiri, digunakan karena berada pada masa pandemi Covid-19.

“Karena dengan take away ordernya bisa dari rumah, makanya dimana saja. Apalagi kemasan yang praktis dibawa dan praktis disimpan,” ucap dia.

Selain itu, Pasta Indonesia juga memberikan peluang kepada siapapun yang ingin bergabung dalam bisnis franchise tersebut.

“Siapapun yang bergabung dengan franchise Pasta Indonesia ini bisa menjadi owner langsung. Karena dia bisa berjualan dan seluruh Komisi dan Royalti jadi milik agen yang bersangkutan,” jelasnya.

Ferry berharap melalui peluang yang tersedia di Pasta Indonesia itu, bisa membantu masyarakat yang ingin berbisnis dimasa pandemi Covid-19 kali ini.

“Karena ini model bisnis baru yang temen-temen bingung mau bisnis apa ya ini menjadi solusi karena praktis dan sudah dikemas secara konsep,” tandasnya.(der)

Festival Kerontjong Nang Kajoetangan Bangkitkan Geliat Wisata Kampung Tematik

Festival Kerontjong Nang Kajoetangan. (Istimewa)

MALANGVOICE – Festival Kerontjong Nang Kajoetangan menjadi bukti geliat kebangkitan wisata kampung tematik di Kota Malang.

Digelar secara virtual pada Jumat (15/10), festival dibuka dengan tembang keroncong kemayoran, alunan nada lawas nan epik menyatu apik dengan lansekap sekitar rumah tertua di Kampung Kajoetangan yang menjadi stage utama festival kali ini. 

Wali Kota Malang, Sutiaji sangat mendukung gelaran ini.

“Aktivasi event secara kreatif di Kampung Heritage Kajoetangan inshaallaah turut membangkitkan optimisme wisata kita segera pulih”, ujar Wali Kota yang gemar menulis tersebut.

Virtual Event Festival Kerontjong nang Kajoetangan adalah bagian dari 27 event Kampung Tematik di seluruh Kota Malang sepanjang tahun 2021 yang diinisasi kolaborasi Pemerintah Kota (Pemkot) Malang melalui Dinas Pemuda, Pariwisata dan Olahraga (Disporapar) bersama Forum Komunikasi Kelompok Sadar Wisata (Forkom Pokdarwis), Pokdarwis Kajoetangan, Karang taruna, masyarakat setempat dan sejumlah komunitas.

“Jadi rangkaian kegiatan virtual ini adalah komitmen kita, insan pariwisata Kota Malang, untuk beradaptasi dan bangkit di tengah pandemi”, demikian ungkap Kepala Dinas Pemuda, Pariwisata dan Olahraga (Disporapar), Ida Ayu Made Wahyuni.

Secara terbatas, festival turut dihadiri langsung perwakilan dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) dan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), termasuk meninjau kesiapan protokol kesehatan dan spot-spot unggulan di Kampung Heritage Kajoetangan.

Gelaran event kerontjong kajoetangan memang disinergikan dengan proses assesment Kota Malang sebagai salah satu peserta program Smart City dari Kementerian Kominfo yang mengambil tema pariwisata.

Tidak hanya menampilkan tembang-tembang keroncong kenangan, festival juga diperkaya dengan dialog santai terkait perkembangan keroncong di Kota Malang dan penyerahan buku Sejarah Keroncong Indonesia oleh Ketua Museum Musik Indonesia (MMI), Hengki Herwanto.

“Konsepnya memang jadul, termasuk ada kelompok keroncong sepuh” tambah Mila Kurniawati, ketua Pokdarwis Kajoetangan Heritage.

Terkait persiapan event, diakui Mila waktu persiapan relatif singkat.  Pun demikian Pokdarwis bersyukur bahwa event yang disiarkan melalui kanal youtube Inspire Media TV dapat berjalan lancar dan mampu mewarnai penguatan salah satu dari lima pilar wisata Heritage yang ditawarkan Kampung Kajoetangan.

“Kita juga sedang proses pengajuan QR Code pedulilindungi dan SOP Prokes. Harapannya tentu pandemi segera berakhir dan wisatawan kembali bisa berkunjung,” ujarnya.(der)