Banyak Dilalui Truk, Akses Jalan Menunju Pantai Selatan Rusak

Kondisi jalan di Srigonco, Bantur. (Toski D).

MALANGVOICE – Akses jalan menuju wisata pantai di sepanjang Jalur Lintas Selatan (JLS) Kabupaten Malang rusak.

Kerusakan jalan tersebut dikarenakan adanya kendaraan besar (dump truk) yang mengangkut material untuk proyek pembangunan Jalur Lintas Selatan (JLS) tahap dua.

Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Malang, Wahyu Hidayat, mengaku sudah mendapat laporan dan segera berkoordinasi dengan KemenPUPR.

“Kami sudah berkoordinasi dengan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Republik Indonesia (PUPR RI) untuk memperhatikan kondisi jalan,” ucap Wahyu, Selasa (23/3).

Menurut Wahyu, dump truk yang mengangkut material untuk proyek JLS yang melebihi tonase jalan, juga dikarenakan cuaca ekstrem saat ini.

“Sudah koordinasi dengan PUPR, nanti untuk perbaikan atau peningkatan akses jalan itu akan dilakukan oleh mereka (PUPR), Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang saat ini hanya melakukan perawatan saja,” tegasnya.

Terpisah, Kepala Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga (DPUBM) Pemkab Malang, Romdhoni menyampaikan akses jalan menuju objek wisata pantai di Malang Selatan yang kondisinya rusak berat mulai dilakukan perbaikan, sehingga lubang jalan di sejumlah titik jalan menuju beberapa wisata pantai di Malang Selatan akan segera membaik.

“Banyak jalan rusak yang diperbaiki, untuk akses jalan menuju Malang Selatan, ada beberapa yang dilakukan pelebaran,” katanya, beberapa waktu lalu.

Pelebaran beberapa akses jalan tersebut, lanjut Romdhoni, selain untuk menunjang program strategis pemerintah pusat, juga untuk mempermudah wisatawan yang akan berkunjung ke wilayah pantai Malang Selatan.

“Untuk pelebaran jalan Tumpang-Turen masih dalam proses, bahkan jalan menuju pantai selatan. Untuk akses jalan ke pantai Balekambang masuk dalam Pemeliharaan rutin. Targetnya, selesai selama periode pak Bupati HM Sanusi ini,” tukasnya.(der)

Alun-Alun Kota Batu Kembali Ramai Seiring Berjalannya PPKM Mikro

Alun-alun Kota Batu. (Aan)

MALANGVOICE – Ikon wisata Kota Batu, Alun-alun mulai kembali ramai. Wisatawan luar daerah banyak berkunjung, seiring Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) berskala mikro dijalankan.

Pengembalian lancarnya perputaran roda ekonomi tentu diharapkan semua pihak. Alun-alun yang hanya dikunjungi ratusan orang saja ketika pandemi, kini perlahan meningkat.

“Saat PPKM awal masih sepi. Namun sekarang sudah mulai ramai dari pada sebelum-sebelumnya,” terang Security Alun-alun Kota Batu.

Pada hari biasa, rata-rata pengunjung bisa mencapai seribu orang. Sedangkan pada weekend, maksimal terdapat 3 ribu pelancong. Ramainya wisatawan memang lebih banyak ditemui ketika akhir pekan saja.

Ali sapaan akrabnya mengatakan jika jumlah wisatawan yang ada bisa lebih kecil dari itu. Lantaran, tidak adanya sistem tiket bagi pelancong.

Mereka akan tetap terhitung meskipun hanya keluar untuk masuk beli minum atau makanan dan kembali lagi. Karena itu, tidak ada jumlah pasti untuk pengunjung yang ada.

“Hujan juga saya lihat tidak terlalu mempengaruhi wisatawan untuk datang. Bahkan ada yang kesini dengan menggunakan jas hujan,” tuturnya.

Sisi ikonik Alun-alun memang tak bisa terlepaskan. Tak sedikit orang yang rela datang jauh hanya untuk mengunjungi objek wisata yang telah berdiri lama ini.

Pengadaan sarana protokol kesehatan (prokes) yang memenuhi standar juga menjadi hal utama bagi pengelola. Mereka ingin menanamkan kenyamanan dan keamanan pada setiap pengunjung.

Terbukti dari segala regulasi yang diterapkan. Pelancong yang datang harus melakukan cek suhu badan di pintu masuk.

Setelah itu, mereka akan diarahkan untuk mencuci tangan di westafel yang telah disedikan. Selain itu, di area wisata juga terdapat 10 tempat cuci tangan.

Ada juga banner imbauan prokes di beberapa sudut destinasi. Petugas Alun-alun pun rutin berkeliling guna mengingatkan para pelancong yang lalai dalam pemberlakuan prokes. Seperti pemakaian masker ataupun penjagaan jarak.

Salah satu pengunjung, Muhammad Rofiq juga mengaku sangat senang bisa berkunjung ke objek wisata andalan Kota Wisata ini. ia menyebutkan, keindahan dan suasana yang ada tidak bisa didapatkan di Alun-alun Kota/Kabupaten lain.

Spot-spot yang ada, menurutnya juga sangat bagus untuk digunakan berswafoto. Bianglala di jantung Alun-alun juga menjadi daya tarik tersendiri. Bisa melihat seluruh Kota Batu dari ketinggian menjadi alasan kegemarannya.

“Rasanya kurang afdol saja kalau tidak main kesini. Saya juga menyukai makanan yang ada di area centra PKL,” tutup pria asal Surabaya tersebut.(der)

Paket Wisata Eduaksi Dadaprejo Siap Terima Wisatawan Meski Pandemi

Ketua Wisata Eduaksi Dadaprejo, Andik Wibowo. (Aan)

MALANGVOICE – Pembatasan demi pembatasan dilakukan pemerintah untuk meredam persebaran Covid-19. Saat ini Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) sudah memasuki tahap ketiga.

Kota Batu pun mengikuti aturan yang ditetapkan berdasarkan Instruksi Kemendagri No. 05 tahun 2021. Kegiatan pariwisata yang menjadi titik topang perputaran ekonomi di kota ini pun harus juga dibatasi.

Protokol kesehatan (prokes) Covid-19 harus dilakukan dengan ketat oleh pelaku wisata, seperti menyediakan tempat cuci tangan, pengecekan suhu tubuh, imbauan memakai masker, hingga menjaga jarak.

Paket Wisata Eduaksi di Kelurahan Dadaprejo, Kecamatan Junrejo, Kota Batu telah memberlakukan prokes tersebut. Pengelola menyatakan siap menerima kunjungan wisatawan dengan kapasitas 90 orang.

Hal itu disampaikan Ketua Wisata Eduaksi Dadaprejo, Andik Wibowo yang sekaligus menyatakan pihaknya telah menerapkan Prokes sesuai anjuran pemerintah.

“Kita siap saja menerima kunjungan wisatawan dengan menjamin Prokes. Bulan lalu ada rombongan dari Mojokerto yang ke sini,” jelasnya.

Setiap destinasi wisata hanya dibatasi 30 orang, padahal ketika kondisi normal bisa sampai 100 orang. Pembatasan itu jika ditotal hanya bisa menerima rombongan dengan total 90 orang per hari.

“Kami sudah mempunyai Satgas Covid-19 sendiri dari kelurahan yang terdiri dari karang taruna dan organisasi kemasyarakatan lainnya. Jadi mereka yang mengawasi penerapan protokol kesehatan di sini,” urainya.

Perlu diketahui, Kelurahan Dadaprejo menawarkan paket wisata yang di dalamnya ada tiga destinasi wisata. Destinasi wisata itu adalah Wisata Eduaksi Anggrek, Wisata Eduaksi Batik, dan Wisata Eduaksi Gerabah.

“Nanti orang-orang yang ke sini tidak hanya berwisata saja, tapi mendapat edukasi tentang anggrek, batik dan gerabah. Juga mereka berkesempatan untuk melakukan penanaman anggrek, menggambar batik dan pembuatan gerabah,” jelasnya.

Andik menambahkan wisatawan mendapat jatah membawa pulang satu anggrek, gerabah dan kain batik. Hal itu merupakan visi paket wisata di sana. Wisatawan mendapat edukasi serta langsung melakukan aksi untuk melaksanakan apa yang telah diedukasikan.

“Maka dari itu dinamakan wisata eduaksi karena wisatawan tidak hanya berwisata saja tapi juga mendapat edukasi sekaligus beraksi,” imbuhnya.

Wisata di Kelurahan Dadaprejo dibranding dengan wisata anggrek, karena anggrek di sana sudah kondang hingga mancanegara. Batik yang dikenalkan juga batik dengan motif anggrek.

Terdapat kebun anggrek seluas 3.500 meter. Kebun itu milik Dedek Setia Santoso dengan nama Dedek Orchid yang dijadikan salah satu destinasi wisata di Kelurahan Dadaprejo.

Mahasiswa dari berbagai universitas mempelajari tanaman anggrek

Sebanyak ribuan tanaman anggrek berada di kebun itu. Dedek pun memiliki varian anggrek hasil perkawinan silang yang ia inisiasi sendiri.

“Salah satunya Dendrobium Rara Anteng. Banyak di sini, kita September tahun lalu membagi 4000 bibit anggrek yang langka-langka,” jelas Dedek.

Ia mengatakan pasar penjualannya sudah sampai Benua Asia dan Eropa. Thailand, Malaysia, China, Rusia, Belanda, Prancis dan masih banyak lagi sudah menjadi tempat berlabuh anggreknya.

Ribuan bibit anggrek

Hal itu yang menjadikan anggrek Dedek kondang di kalangan pecinta anggrek. Kondangnya anggrek milik Dedek hingga menjadikan Kelurahan Dadaprejo dikenal sebagai Kampung Anggrek.

Kepala Disparta Kota Batu, Arief As Siddiq, menambahkan, adanya paket wisata eduaksi ini diharap mampu menarik wisatawan meski dalam kondisi pandemi.

“Pengelola wisata juga sudah siap dengan prokes yang ditentukan, apalagi di sini tidak hanya wisata, tapi juga edukasi,” ujarnya.

Saat ini Disparta membuat program Dewi Sandra (Desa Wisata Sehat Aman dan Ramah) di setiap wilayah. Tujuannya jelas, wisata Kota Batu tahun ini semakin berkembang.

“Kami sangat berharap tahun ini pariwisata bisa bangkit lagi dan wisatawan percaya kami mampu tetap menjaga prokes dengan baik,” tandas Arief. (end)

Wisatawan Mulai Berdatangan ke Kota Batu, Perajin Gerabah Buka Puasa Penghasilan

Alat-alat dapur dari gerabah di Dadaprejo. (Aan)

MALANGVOICE – Para perajin gerabah Kota Batu mulai dapatkan banyak pelanggan. Setelah puasa penghasilan akibat pandemi Covid-19, saat ini mulai berbuka dengan kedatangan wisatawan dan membeli gerabah sebagai oleh-oleh.

Seperti pengakuan salah satu perajin gerabah, Samsul Riyanto, memang ada peningkatan penjualan. Jika biasanya hanya ada lima orang yang berkunjung setiap hari, kini konsumennya bisa mencapai 15 orang dalam sehari.

“Biasanya hanya menunggu dan hanya duduk. Alhamdulillah sekarang sudah mulai naik, wisatawan sudah beranjak ramai,” ucapnya saat ditemui di kiosnya yang berada di Desa Dadaprejo, Kecamatan Junrejo, Jumat (12/03).

Produksi yang sempat dihentikan karena stok barang menumpuk kini sudah dilakukan lagi. Berbagai kerajinan dibuatnya, mulai dari bahan baku kayu hingga batu.

Olahannya, jelas Samsul, meliputi berbagai macam alat dapur. Seperti cobek batu, sendok kayu hingga tudung saji. .

Samsul menjelaskan sudah jarang ditemui perajin gerabah di era modern yang masih bertahan.
Padahal produk yang dihasilkan sudah pasti lebih aman, karena bahan baku yang alami.

“Patokan harga juga murah. Berkisar dari Rp8 ribu sampai Rp350 ribu per item. Tergantung dari jenis, bahan baku dan ukuran barang,” jelasnya.

Gemuruh wisata Kota Batu pasti sudah lama dinantikan, mengingat mayoritas masyarakat yang bergantung pada sektor wisata. Salah satu konsumen, Wiwik Utami asal Surabaya juga membenarkan keunikan olahan asli Batu.

“Cobek batu seperti ini sangat jarang ditemui. Tapi di Batu masih sangat banyak,” tuturnya.

Perempuan yang berlibur ke salah satu destinasi wisata buatan Batu ini, menyempatkan diri untuk belanja buah tangan. Ia mengakui sangat menyukai kerajinan tangan yang masih menggunakan bahan alam. Salah satu alasannya karena mengingatkannya pada zaman mudanya.

“Semoga bisa tetap bertahan dan tidak kalah dengan barang modern. Ini merupakan warisan leluhur, jadi harus dilestarikan,” tutupnya.(end)

Peringati Harkopnas, Warkop Klodjen Djaja 1956 Bagi-bagi Kopi Gratis

Para pengunjung dari komunitas sepeda ontel yang mendapatkan kopi gratis, di Warung Kopi Klodjen Djaja 1956, Kota Malang, (MG2).

MALANGVOICE – Memperingati Hari Kopi Nasional (Harkopnas) yang ditetapkan pada 11 Maret kali ini, Warung Kopi (Warkop) Klodjen Djaja 1956, menggelar kegiatan bagi – bagi Kopi Pagi Gratis.

Didukung dengan proses pembuatan kopi yang menggunakan bahan dasar kopi murni Indonesia, semakin mengentalkan momentum Harkopnas kali ini, Kamis (11/3).

Menurut Pemilik Warkop Klodjen Djaja 1956, Ahmad Iswahyudi, selain pembagian kopi gratis sekaligus memperkenalkan cita rasa kopi lokal kepada pengunjung.

“Sebetulnya ada satu peluang di sini. Memanfaatkan dari Harkopnas untuk memperkenalkan kopi yang benar-benar kopi murni Indonesia, khususnya kopi Malangan. Sembari kita juga membagikan kopi itu secara gratis,” ujarnya.

Pria yang akrab disapa Didik ini mengatakan, jumlah yang diberikan dalam kegiatan Kopi Gratis ini tidak diberikan batasan. Namun waktu pembagiannya hanya berlangsung sejak pukul 06.00 WIB hingga 09.00 WIB.

“Kita tak membatasi berapa gelas. Meski yang datang kesini ada 200 sampai 300 lebih, ya gak papa. Semua gratis, khusus kopi tubruk robusta yang kita gratiskan,” paparnya.

Dan menariknya lagi, pada saat kegiatan berlangsung ada komunitas sepeda ontel yang turut hadir meramaikan sekaligus memberikan kesan tempo dulu semakin terasa.

“Inginnya kita memang untuk mengentalkan cagar budaya yang identik dengan jadul. Makanya kita mengundang komunitas sepeda Onthel untuk bisa berkumpul di sini dan minum kopi gratis sama-sama,” imbuhnya.

Terlebih dengan konsep Warkop Klodjen Djaja 1956, mengusung tema tempo dulu, salah satunya pemasangan tiga banner yang menggambarkan film-film di bioskop jaman dahulu. Semakin mengentalkan suasana khas yang ditonjolkan.

“Coba difoto dari jauh, antara sepeda dan Klodjen Djaja dapat seperti kita kembali ke masa lampau lah,” tandasnya.

Selama tiga jam kegiatan bagi kopi gratis berlangsung, sebanyak 200 cup/gelas telah dibagikan kepada para pengunjung.

Macito Direncanakan Kembali Beroperasi Tahun Ini

Bus Malang City Tour (Macito) yang terparkir di Stadion Gajayana, Kota Malang, (MG2).

MALANGVOICE – Bus Malang City Tour (Macito) rencananya bakal kembali beroperasi tahun ini. Sebelumnya bus khusus pariwisata itu berhenti beroperasi sejak 1 Agustus 2019.

Kepala Dinas Perhubungan (Kadishub) Kota Malang, Heru Mulyono, mengatakan kini sudah mulai melakukan penyusunan rencana kerja termasuk Detail Engineering Design (DED) soal Macito.

“Ya, Pak Wali sudah dikehendaki Macito tahun ini sudah bisa disesuaikan dengan ketentuan yang ada,” ungkapnya, Ahad (7/3).

Sebelumnya penghentian operasi Macito ini disebabkan karena tidak memiliki izin resmi dari Dirjen Perhubungan Darat RI.

Selain itu, desain Macito juga tidak memenuhi standar yang ditentukan sehingga dianggap bisa membahayakan penumpang.

“Kelayakannya di Malang seperti apa, kan dengan adanya pohon – pohon juga perlu dilihat (penumpang) terganggu atau tidak. Insyallah tahun ini kita clear untuk Macito,” ujarnya.

Terkait nanti ketika sudah bisa beroperasi, Heru menginginkan Macito bisa terkoneksi dengan Kayutangan Heritage yang masih dalam tahap pembangunan saat ini.

Dirinya juga bakal melakukan koordinasi nantinya untuk rute dan teknis dari Macito mendatang.

“Keinginan saya tetap harus bernuansa Heritage. Nanti tak matur pimpinan seperti apa. Jadi harus menyatu dengan Kayutangan, karena kemarin saya juga ngurusin di Kayutangan. Nah ini nanti harus disinergikan,” tuturnya.(der)

Warung Kopi dengan Nuansa Bioskop Jadoel

Gambaran Warung Kopi Klodjen Djaja 1956, Kota Malang, (MG2).

MALANGVOICE – Kalau anda sedang jalan-jalan di daerah Klojen tepatnya Jalan Cokroaminoto No 2 dan melihat poster bioskop terpampang, jangan buru-buru memastikan itu tempat menonton film.

Itulah trik Ahmad Iswahyudi agar orang yang lewat atau melihat poster bioskop menjadi tertarik dan kemudian mampir.

Tentu saja bukan untuk menonton film, namun untuk ngopi. Ya, tempat yang dikenal sebagai Warung Kopi itu bernama Klodjen Djaja 1956 memang tempat kongkow sambil ngopi.

Ide Iswahyudi memang unik. Poster film yang terpampang di atas warung tersebut bergambar film-film zaman dulu seperti Warkop DKI, Si Buta Lawan Jaka Sembung, dan Saur Sepuh. Bahkan tak jarang masyarakat yang tertarik dengan poster namun tidak ingin ngopi, memilih berswafoto di depan warung kopi.

Pria yang akrab disapa Didik ini mengaku alasan dirinya menemukan ide pemasangan banner ini setelah dirinya kekurangan dana untuk konsep warungnya.

“Kan ini bangunan lama sejak tahun 1950 sudah ada. Nah saya paskan agar bernuansa retro. Tapi saya kekurangan dana dan waktu untuk buka itu tinggal sebentar. Akhirnya saya putuskan untuk pasang baliho film jadul itu. Butuh cuma Rp 200 ribu saja dan gak perlu pernak-pernik barang antik mahal lainnya” kata Didik,” ungkapnya.

Selain itu, untuk kopi yang disajikan di Warung Klodjen Djaja 1956 ini dari segi harga terbilang cukup mengiurkan.

Dengan membawa uang Rp2 ribu sudah bisa menikmati secangkir kopi yang didukung hiruk-pikuk pasar di pagi hari pastinya membuat nuansa Jadoel lebih terasa.

Didik menjelaskan alasannya membandrol kopi yang dibuat melalui proses manual mulai dari biji kopi hingga diproses menjadi bubuk kopi adalah untuk sosialisasi.

“Sekarang gini bro kalau orang pasar sini itu ngopi pasti kopi instant harganya saja itu Rp 3000 sampai Rp 5000 bro. Sudah gak sehat, mahal. Nah saya ingin mengenalkan mereka yang sehat sekaligus murah itu saja. Saya hargai Rp 2000 per gelas soalnya biasanya bapak-bapak di sakunya pasti ada yang nylempit uang segitu,” paparnya.

Dirinya berharap dengan sosialisasi yang dilakukan ini, masyarakat menengah kebawah tidak hanya mengkonsumsi kopi secara instan.

Untuk bisa menikmati harga kopi di Warung Klodjen Djaja 1956 ini menyesuaikan jam buka yang telah dibagi Didik menjadi dua.

Bagi pengunjung yang datang pada pukul 06.00 hingga 09.00 secangkir kopi dibandrol Rp2 ribu, sedangkan pada sore hingga malam hari harga kopi berbeda.

“Jadi waktu buka pagi saja (harga Rp2 ribu). Kalau pas buka sore hari jam 16.00 sampai jam 00.00 kami hargai Rp 3 ribu untuk kopi itu sampai Rp 10 ribu untuk es kopi susu,” tandasnya.

Anda tertarik? Ladubken saja bro.(end)

Pembangunan Pos Polisi di Kayutangan Heritage Diperpanjang

Pembangunan Pos Polisi di perempatan Rajabali, Jalan Basuki Rahmat, Kota Malang, (MG2).

MALANGVOICE – Pembangunan Pos Polisi di Perempatan RajaBali Jalan Basuki Rahmat, Kota Malang, yang sebelumnya ditargetkan bakal rampung bulan Februari 2021 diperpanjang.

Menurut penjelasan Technical Management Consultan PT. Prospera Consulting Engineers, Alif Riwidya, perpanjangan pembangunan selama 40 hari kedepan.

“Sudah ada perpanjangan dari PPK 40 hari sampai 1 April. Ya sebelum tanggal 1 April pos polisi harus sudah selesai,” ungkapnya, Senin (1/3).

Selain itu, Alif menambahkan untuk pembangunan pos polisi itu dilakukan sedikit perubahan di bagian atap supaya sesuai dengan bangunan cagar budaya di sekelilingnya.

“Sebelumnya atapnya itu semi -semi kayak gedung Bukopin itu. Sekarang seperti puncaknya gedung kembar di Rajabali itu,” ujarnya.

Sedangkan untuk progres pengerjaan Proyek Kayutangan Heritage sendiri sudah mencapai sekitar 96 persen.

“Pengerjaanya sebenarnya cuma kurang furnising, finishing, welding, dan sebagainya. Karena cuaca hujan sehingga kita nggak bisa mengerjakan hal-hal itu,” tandasnya.(end)

Lontong Cap Go Meh Kuliner Penutup Imlek

Gambar hidangan khas Cap Go Meh, (end).

MALANGVOICE – Hari Penutupan dari rangkaian perayaan Tahun Baru Imlek biasanya mengadakan acara yang dinamakan Cap Go Meh.

Peringatan Cap Go Meh ini biasa dilakukan masyarakat Tionghoa berlangsung selama 15 hari.

Menurut penjelasan Marketing Communication Hotel Tugu Malang Reimanda Azka, pihaknya telah menyediakan beberapa fitur untuk perayaan Cap Go Meh salah satunya kuliner khas perpaduan hidangan Tionghoa-Indonesia.

Lebih jelasnya, kata Manda, kuliner khas Lontong Cap Go Meh ini terdiri dari lontong yang disajikan dengan opor ayam, sayur lodeh, sambal goreng hati, acar, telur, pindang, abon sapi, bubuk koya, sambal, dan kerupuk.

“Melati Restauran Hotel Tugu Malang menyajikan hidangan Spesial Lontong Tjap Go Meh. Biasanya anggota keluarga selalu berkumpul dan menikmati hidangan khas ini,” ungkapnya.

Namun lontong Cap Go Meh yang disediakan Hotel Tugu ini memiliki sedikit sentuhan yang berbeda.

Terdiri dari Loempia Oedang khas resep Madame Nancy Kwan, lontong yang dibuat dengan beras berkualitas tinggi lalu ditusuk dengan bambu, Ajam Boemboe Koening resep si Mpok, Oedang Goreng Kering, Sambel Goreng Laboe Siem, Telor Petis, Sate Ayam, acar kuning, sagon kelapa dengan ebi, bubuk kedelai, emping mlinjo, dan lain-lain.

Kemudian Manda menambahkan, untuk hidangan penutup yang telah disediakan Melati Restaurant Hotel Tugu Malang yaitu Ronde Tiga Warna untuk menghangatkan tubuh.

“Setelah menyantap Lontong Tjap Go Meh, akhiri dengan Ronde Tiga Warna yang menghangatkan tubuh,” ujarnya.

Untuk sajian yang disediakan sejak (25/2/2021) hingga (25/3/2021) dengan paketan dengan harga yang dibandrol Rp 118 ribu per paketnya.

Selain itu, hantaran Tjap Go Meh ini nantinya akan dihias apik dengan pilihan porsi mulai dari 3 orang, dan tersedia melalui layanan pesan antar.(end)

Disporapar Siapkan 50 Event Dalam Kalender Wisata 2021

Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata Kota Malang, Ida Ayu Made Wahyuni, (MG2).

MALANGVOICE – Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) Kota Malang, bakal mengadakan 50 event yang masuk dalam kalender wisata di tahun 2021.

Dalam 50 event yang nantinya bakal dilaksanakan pada bulan April, terbagi di antaranya 40 event diselenggarakan di Kampung Tematik, kemudian satu event besar Malang Flower Carnival, dan sembilan event lainnya berada di bawah naungan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dispendikbud).

Menurut penjelasan Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata Kota Malang, Ida Ayu Made Wahyuni, alasan event lebih banyak dilakukan di kampung tematik guna meningkatkan potensi dari seniman di tiap-tiap daerah nantinya.

“Terutama yang dilakukan kampung tematik. Memang yang tampil di situ potensi lokal.
Sehingga bukan dari luar mereka berupaya, karena ini rintisan ini untuk meningkatkan seniman masing-masing kampung,” ungkapnya.

Dari situ, Ida juga menambahkan pelaksanaan kalender wisata ini dilakukan pada bulan April disebabkan adanya Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) di awal bulan.

“Kita mulai bulan April, karena Januari Februari Maret masih PPKM ya, perkiraan kita itu sehingga kalau pun mengadakan event di bulan April kita menerapkan protokol kesehatan ketat,” ungkapnya.

Selain itu, untuk pertimbangan dilakukannya event di masa Pandemi covid-19 saat ini berdasarkan ketentuan yang ditetapkan di Surat Edaran (SE) Walikota Malang, terkait pengadaan kegiatan kerumunan di masa pandemi.

“Sepanjang itu dilakukan Protokol Kesehatan, tidak berkerumun, dan mereka mengkondisikan betul seperti yang telah tertuang dalam SE Wali Kota boleh,” ujarnya.

Sedangkan sebagai langkah antisipasi terjadinya keramaian di saat event berlangsung, pihak Disporapar Kota Malang melakukan sosialisasi terkait batas kapasitas pengunjung yang harus dipenuhi dalam kegiatan tersebut.

“Jadi 50 % dari kapasitas harus dipenuhi, ya mereka tidak boleh menerima kunjungan. Karena kondisinya begini. Tapi walaupun kondisi begini kita promosi berekspresi, tidak boleh berhenti tapi dengan batasan-batasan,” tuturnya.

Sementara itu, kalender wisata yang sebelumnya di gelar di tahun 2020 sekitar 70 event namun hanya 15 yang terlaksana. Ida menuturkan untuk tahun 2021 kali ini bakal lebih baik karena sudah tertata dan terencana.

“Tahun 2020 kita sekitar 70 berapa, tetapi yg terlaksana kampung tematik sekitar 15. Dari segi kuantitas pelaksanaan kampung tematik lebih bagus, lebih banyak,” pungkasnya.(der)