Ingin Nongkrong dengan Konsep Barang Bekas? Ini Tempatnya

Pengunjung saat asik berswafoto di Retrorika Cafe Bar & Resto, Kota Batu (Foto: Ayun/MVoice)

MALANGVOICE – Berkonsep recycle reuse, Retrorika Cafe Bar & Resto menyajikan nuansa berbeda dan unik di antara kafe yang ada di Kota Batu. Sembari bersantai, pengunjung bisa menikmati suasana dan pemandangan Kota Apel.

Ya, kafe ini terletak di Desa Bumiaji, Kota Batu. Hampir 90 persen bahan interior dan eksterior penghias kafe ini dari barang bekas. Tak heran jika kafe ini menjadi perhatian khusus kalangan anak muda. Lantaran kafe ini mengusung konsep green house dan eco-friendly.

Owner Retrorika Cafe Bar & Resto, Swiss Winnasis mengatakan jika awalnya hanya sekadar hobi mengoleksi barang-barang bekas. Ia tak pernah merasa gengsi untuk mengumpulkan barang bekas dari rongsokan.

“Retrorika sengaja saya konsep ramah lingkungan. Baik dari bangunan hingga pengolahan limbah sampahnya,” ungkapnya.

Menurutnya, kafe ini merupakan satu-satunya kafe yang memiliki konsep ramah lingkungan atau Eco-Friendly. Sehingga, mulai dari bahan bangunan hingga cara pengolahan limbah dapur sangat ramah lingkungan.

Selain tempat nongkrong, Retrorika Cafe Bar & Resto juga memiliki ratusan koleksi tanaman sukulen berbagai jenis. Sehingga menjadikan kafe ini menjadi satu-satunya kafe di Indonesia yang memamerkan koleksi tanaman sukulen berbagai jenis

Tak hanya itu saja, di dalam kafe juga terdapat perpustakaan mini. Buku-buku di sana tertata rapi di lesung bekas.

Buku-buku itu juga merupakan koleksi pribadi milik Swiss. Tanaman yang ada di sana tidak hanya sekadar dijadikan pajangan saja, namun juga dijual.

Lokasi kafe itu adalah rumah tinggalnya. Sampai sekarang Swiss sangat menerima jika ada yang menghibahkan barang bekas kepada dirinya.

“Untuk menu makanannya juga masih tradisional, semua makanan dimasak fresh. Tidak ada makanan yang disimpan di dalam freezer,” bebernya.

Tidak hanya ornament nya yang dari barang bekas, bahkan sampahnya juga dimanfaatkan untuk peternak. Jika ada sampah plastik, diberikan ke bank sampah. Sementra sampah dapur diberikan ke peternak bebek.

Kafe ini buka sejak pagi pukul 10.00 WB – 23.00 WIB. Diketahui, Swiss hanya membutuhkan waktu satu tahun untuk mempersiapkan semua ini.

Ella Sani (23) pengunjung asal Lumajang menyatakan suka dengan kafe ini. Dikatakannya, selama kurang lebih satu jam di sana ia menghabiskan waktu hanya untuk berswafoto.

“Awalnya penasaran, karena saya tau di Instagram teman-teman pada foto di kafe ini. Ternyata keren banget dan sangat instagramable,” tutupnya.(Hmz/Aka)

Mau Bercengkrama Asik? Yuk Wisata ke Goa Pandawa Kota Batu

Taman Puncak Goa Pandawa di Kota Batu (Foto: Ayun/MVoice)

MALANGVOICE – Destinasi wisata di Kota Batu kini semakin beragam dengan adanya desa wisata Taman Goa Pandawa. Di sana pengunjung bisa menjelajahinya sembari menikmati alam perbukitan berhawa sejuk.

Taman Puncak Goa Pandawa merupakan objek wisata baru di kawasan Gunung Banyak, Kota Batu. Tak mau kalah dengan tetangganya yakni Taman Langit objek wisata di kaki gunung ini menawarkan sensasi bercengkrama dengan patung raksasa.

Patung ini menjadi objek utama di Taman Puncak Goa Pandawa. Patung berukuran sangat besar menyerupai raksasa tersebut menjadi spot berswafoto di tempat tersebut. Meski baru, patung tersebut sudah hits menghiasi timeline media sosial berkat pengunjung yang mengunggahnya.

Aldy (27) pengunjung asal Lamongan mengaku penasaran dengan Wana Wisata Goa Pandawa. Awalnya, ia mengira jika itu merupakan spot di Taman Langit. Namun ternyata, patung raksasa tersebut merupakan spot di Taman Puncak Goa Pandawa.

“Penasaran, karena saya melihat di Instagram bagus sekali. Jadi, menyempatkan main ke sini. Awalnya saya mengira jika ini spot foto di Taman Langit,” ujar mahasiswa semester 4 itu.

Terbuat dari kayu, patung raksasa tersebut tingginya sekitar 15 meter. Bentuknya menyerupai sosok raksasa sedang duduk santai. Bagian tangannya dibentuk menyerupai tangan orang yang sedang terbuka. Di sana pengunjung bisa berfoto di atas tangan patung raksasa tersebut seakan-akan sedang berada di atas telapak tangan raksasa.

Sementara, Plt. Kepala Dinas Pariwisata Kota Batu Imam Suryono terus berupaya meningkatkan kenyamanan bagi wisatawan dengan terobosan baru yang bakal dilakukan yakni menyediakan mobil wisata. Mobil wisata ini rencananya akan disuguhkan kepada wisatawan luar daerah maupun warga Kota Batu.

“Kami berupaya untuk meningkatkan fasilitas yang ada di Kota Batu untuk wisatawan. Dan kami ingin mempermudah adanya mobil wisata,” ungkapnya.

Dikatakannya nanti mobil wisata bakal mengantarkan wisatawan ke desa-desa wisata. Seperti ke Goa Pinus dan Goa Pandawa di Desa Gunungsari. Selain itu ke Kampung Ekologi di Kelurahan Temas, Coban Rais dan Batu Flower Garden di Desa Oro-Oro Ombo, maupun beragam desa wisata lain di Kota Batu.

“Ya nanti mereka akan mengantar ke destinasi desa wisata itu. Tapi tidak dalam waktu dekat ini untuk merealisasikan program ini,” tutupnya. (Hmz/Ulm)

Sajikan Aneka Kuliner Tradisional, Pasar Barongan Ajak Warga Bernostalgia

Warga tampak asik berbelanja kuliner khas tempo dulu di Pasar Barongan Kota Batu (Foto: Ayun/MVoice)

MALANGVOICE – Nuansa tradisional dan tempo dulu begitu terasa di Pasar Barongan Desa Bumiaji, Kota Batu. Aneka kuliner dan beragam kudapan khas tradisional disajikan pada Minggu (23/6).

Semua kudapannya disajikan dalam wadah unik. Seperti tampah berbahan anyaman bambu. Ada juga yang dibungkus dengan daun pisang.

Sehingga, kesan tempo dulu di pasar yang berada dibawah kerindangan rumpun bambu atau barongan itu. Apalagi, pasar Barongan yang berlangsung selama satu hari itu juga mendukung gerakan nol plastik.

Menariknya, warga yang membeli harus dengan mata uang dari tanah liat. Meski begitu, warga yang ingin membeli tak perlu khawatir. Begitu sudah masuk, petugas pintu masuk akan memberikan tiga koin uang pecahan 2K, 5K, dan 10K

Diketahui, harga per item makanan dan minuman yang dijual pun berbeda-beda. Misalnya saja seperti gado-gado yang dipatok dengan harga 10K dan dawet harganya 5K.

Adanya pasar Barongan tersebut pun menggugah masyarakat. Baik mereka yang penasaran atau ingin mengenang masa tempo dahulu. Seperti yang dirasakan Sania Oky Samudra warga Kelurahan Temas, Kota Batu itu.

“Jadi ikut merasakan kalau mau beli makanan dan minuman itu pakai uang itu. Apalagi, wadahnya juga menggunakan besek. Serasa zaman dulu,” ungkapnya sambil tertawa.

“Terus, ditambah para penjualnya yang rata-rata mengenakan kebaya. Kesan tempo dulunya jadi sangat kental dan begitu terasa,” sambungnya.

Ketua Pelaksana, M. Luthfi Kurniawan mengatakan Desa Bumiaji memiliki objek wisata desa yang mengusung konsep budaya, alam dan edukasi.

“Dengan hadirnya Pasar Barongan Bumiaji ini, diproyeksikan dapat dijadikan sebagai alat promosi wisata dan menampilkan kekayaan alam dan budaya,” ujar mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM)

Selain memperkenalkan Pasar Barongan Bumiaji ke masyarakat dan wisatawan luar, gelaran ini bertujuan menciptakan kepedulian dalam melestarikan berbagai potensi yang ada di Desa Bumiaji. (Hmz/Ulm)

5 Destinasi Wisata Pantai Kabupaten Malang yang Romantis

Pesona Pantai Teluk Asmara. (Lisdya)

MALANGVOICE – Malang kini terkenal dengan banyak lokasi wisata yang menarik karena keindahan alamnya. Salah satunya adalah pantai.

Nah, bagi Anda yang masih bingung untuk mengisi waktu luang libur Lebaran, kali ini MVoice telah merangkum beberapa destinasi wisata pantai di Kabupaten Malang yang mempesona nan romantis.

1. Pantai Banyu Meneng

Destinasi Pantai Banyu Meneng memiliki ombak cukup tenang, sehingga aman untuk digunakan berenang. Bahkan, Anda dapat mengabadikan momen Anda dengan keluarga, teman atau kekasih tanpa perlu khawatir ombak.

Lokasi pantai ini terletak di Desa Sumberbening Kecamatan Bantur, Kabupaten Malang, Jawa Timur.

2. Pantai Sendiki

Pantai ini punya pasir putih yang menggoda dan lanskap yang mempesona. Hanya saja akses menuju lokasi ini masih sulit dilalui. Namun, saat tiba di lokasi, Anda akan disuguhkan dengan beberapa spot foto hingga rumah pohon yang akan menjadikan foto Anda instagramable banget.

3. Pantai Watu Leter

Pantai ini berada persis di sebelah Pantai Gua China. Nama pantai ini adalah Pantai Watu Leter yang berada di desa Sitiarjo, kecamatan Sumbermanjing Wetan.

Selain ombak tenang dan aman untuk berswafoto, Anda juga dapat menyaksikan penyu bertelur, namun jika Anda beruntung ya.

4. Pantai Batu Bengkung

Pantai Batu Bengkung memang tak asing bagi warga Malang. Pantai yang memiliki ombak besar ini memang tidak ramah untuk dicumbui dengan cara berenang. Namun Anda dapat menikmati keindahan lanskap visual yang mempesona di kawasan ini. Tak sedikit pula para remaja berkemping di pantai ini, dikarenakan pantai ini punya sunset yang indah.

5. Pantai Teluk Asmara

Terakhir adalah Pantai Teluk Asmara, meski akses sulit seperti Pantai Sendiki, namun pantai ini menawarkan banyak keindahan saat Anda sampai di anak tangga.

Saat akan menuruni bukit, nampak terlihat pantai ini sedikit mirip dengan Raja Ampat Papua. Nah, di bukit ini Anda bisa berswafoto untuk mengabadikan momen Anda. Ombak yang tenang pun dapat membuat Anda berjelajah ke karang-karang pinggir pantai.(Der/Aka)

Menyusuri Dunia Sihir Harry Poter di Kota Batu

Salah satu pengunjung sedang asyik berswafoto mengenakan kostum lengkap Harry Potter di wana wisata The Legend Stars Park (Foto: Ayun/MVoice)

MALANGVOICE – Hadirnya wahana wisata ‘Diagon Alley’ di Jatim Park 3 menambah varian destinasi wisata baru di Kota Batu. Wahana tersebut menyajikan visualisasi perkampungan para penyihir yang ada dalam sekuel film Harry Potter.

Operational Manager The Legend Stars Park, Tossy Kusdianto mengungkapkan hadirnya wahana ini merupakan adopsi dari film adaptasi karya novel J.K Rowling.

“Ya, karena penggemar Harry Potter dinilai cukup banyak. Sehingga Diagon Alley yang dulu hanya ada di alam khayal, kini benar-benar kami hadirkan di dunia nyata,” ujarnya.

Di lokasi itu, cukup merogoh kocek Rp 50 ribu pengunjung bisa mendapatkan kostum lengkap mulai jubah, topi hingga tongkat penyihir ala Harry Potter. Kemudian, pengunjung juga akan dibawa berpetualang ke dalam delapan zona sihir.

Tossy menambahkan, dalam waktu dekat ia juga akan menambahkan properti naga dan sensor yang dapat digunakan wisatawan untuk menyihir objek. Sensor ini akan menggerakkan properti seperti naga kala wisatawan menggerakkan tongkatnya.

“Nantinya semua yang ada di dalam itu akan bergerak. Seperti naga kemudian miniatur semuanya akan bergerak. Termasuk akan ada smoke dan api,” sambungnya.

Tak hanya itu, wahana yang berdiri di atas tanah seluas 300 meter itu juga bakal dilengkapi sebuah cermin sihir. Ketika berkaca, pengunjung akan melihat tubuh yang bukan dirinya.

Salah satu pengunjung asal Sidoarjo Novia Fitriani (24) tampak asik berswafoto di jalan fiksi Diagon Alley yang mirip dengan lingkungan tempat tinggal sekuel mengaku senang lantaran bisa merasakan dunia sihir yang ada di film.

“Saya bisa betul-betul merasakan dunia sihir mulai di dalam kereta khas sekuel Harry Potter hingga ruang makan bermeja panjang yang persis seperti di Hogwarts,” tutupnya. (Der/Ulm)

Bingung Mau Liburan? Ini Dia 3 Wisata Petik Buah Paling Asik di Kota Batu

Salah satu wisata petik Jambu Kristal yang ada di Desa Bumiaji, Kota Batu (Foto: Ayun/MVoice)

MALANGVOICE – Kota Batu memiliki banyak tempat-tempat menarik berupa objek wisata petik. Dari wisata petik apel, strawbery, jambu kristal hingga petik mawar.

Nah, bagi Anda yang tertarik untuk menikmati buah-buahan dari beragam jenis. Simak tiga wisata petik buah di bawah ini dan masukkan dalam daftar liburan lebaranmu jika berkunjung Wisake Kota Batu.

1. Petik Apel

Sesuai namanya yang berarti kebun apel. Di sini wisatawan bebas memetik buah apel yang diinginkan.

Nah, jika Anda tertarik membeli apel sekaligus memetik langsung di kebunnya, wisatawan bisa langsung datang ke Kecamatan Bumiaji, Kota Batu.

Di sana nanti ada Bebe Raos yang menyajikan khusus area petik apel. Kemudian, untuk satu kali petik pengunjung dikenakan tarif Rp 20 ribu, dan itu sudah bebas makan apel sepuasnya di lokasi.

2. Petik Jambu Kristal

Jambu kristal merupakan salah satu komoditas unggulan di Kota Batu. Lantaran, jambu tersebut memiliki ciri khas daging buah yang tebal dan biji sedikit. Tekstur dagingnya juga renyah dengan rasa manis. Sehingga kelebihan itu membuat jambu kristal diminati warga lokal hingga wisatawan domestik.

Nah, bagi wisatawan yang tertarik bisa datang ke Desa Bumiaji. Tiket masuk wisata ini cukup merogoh kocek Rp 15 ribu saja pengunjung bebas petik dan makan sepuasnya. Namun, untuk membawa pulang jambu ini harus membayar per kilogramnya Rp 15 ribu.

3. Petik Strawbery

Salah satu komoditas buah yang banyak menjadi incaran para wisatawan di Kota Batu ini adalah strawbery. Di seputaran Kota Batu selain petani apel juga terdapat wisata petik strawbery yang menawarkan wisata petik sendiri.

Salah satu kebun petik strawbery yang sering dikunjungi wisatawan adalah di Desa Pandanrejo Kota Batu.

Bagi wisatawan yang ingin menikmati wisata tersebut cukup datang dan menghubungi pengelola BUMDes Raharjo, Desa Pandanrejo.

Tarif yang dipatok untuk pengunjung yakni di kisaran Rp 25 ribu per orang dan sudah termasuk membawa stroberi pulang untuk dinikmati di rumah.(Hmz/Aka)

Segar, Nikmati Es Campur Tempo Doeloe Saat Buka Puasa

Es Campur Tempo Doeloe. (Lisdya)

MALANGVOICE – Untuk melepas dahaga setelah seharian berpuasa, berbuka dengan yang manis sangat dianjurkan. Apalagi minum es doger.

Hm pasti Anda sudah membayangkan bukan? Ya, puasa saat musim kemarau ini membuat kita merasa haus. Nah, kali ini MVoice merekomendasikan es doger legendaris dari Kota Batu.

Terletak di Jalan Gajah Mada Kota Batu, sejak berpuluh-puluh tahun es ini buka. Meski begitu, cita rasa es ini tetap bertahan loh.

“Saya berjualan sejak tahun 1954,” ujar Pemilik kedai es doger, Mohammad Said.

Dikenal dengan Es Campur Tempo Doeloe atau Es Campur Pak Said ini setiap harinya tak pernah sepi pengunjung.

“Mulai dari pertama jual ya nggak ada yang berubah. Pengunjung banyak, apalagi saat puasa seperti ini,” kata pria 81 tahun ini.

Uniknya, meski telah berjualan berpuluh tahun, Said tetap menggunakan gerobak kesayangannya. “Nggak usah pakai warung, orang-orang sudah hafal,” katanya sembari tersenyum.

Semangkuk Es Campur ini disajikan dengan berbagai potongan roti, agar-agar, mutiara, tape ketan, kolang kaling, sirup merah dan susu yang sangat memikat pembeli. Dalam satu hari, ia dapat menjual hingga 300 porsi seharga Rp 5 ribu.

“Segitu sudah murah, kalau mahal nanti nggak ada yang beli. Kalau anak sekolah yang beli, seikhlasnya mereka kasih berapa, kebanyakan dua ribu,” paparnya.

Es Campur Pak Said buka mulai pukul 10.00 hingga 23.00 WIB. (Hmz/Ulm)

3 Tempat Wisata Romantis di Surabaya Cocok untuk Bulan Madu

Danau angsa. (Istimewa)
Danau angsa. (Istimewa)

MALANGVOICE – Kota Surabaya memang kental dengan nuansa sejarah. Namun, siapa yang mengira bahwa di balik itu semua, Surabaya memiliki sejumlah destinasi wisata romantis yang cocok dikunjungi bersama pasangan.

Tak heran jika Surabaya menempati urutan lima besar kota tujuan bulan madu terfavorit di Indonesia.

Adapun sejumlah rekomendasi destinasi wisata romantis di Surabaya yang dapat Anda kunjungi bersama pasangan, antara lain sebagai berikut.

Danau Angsa Pakuwon City
Danau Angsa Pakuwon City merupakan destinasi wisata yang menawarkan keindahan alam Surabaya dan nuansa romantis. Tempat wisata yang dapat Anda temukan di Jalan Kalisari Darma Selatan III Blok H3 Nomor 1, Kalisari, Mulyorejo, Surabaya, ini sangat cocok untuk bersantai. Sejauh mata memandang, Anda akan melihat deretan pepohonan hijau yang menyejukkan mata. Udara yang bersih akan membuat tubuh dan pikiran Anda lebih segar.

Satu hal yang tak boleh Anda lewatkan selama berada di tempat ini adalah mengunjungi Danau Angsa. Meskipun berukuran kecil, danau ini sangat cantik. Tak heran jika danau ini selalu menjadi buruan pencinta fotografi. Ajak pasangan untuk menyaksikan sekumpulan angsa di tepi danau sembari berbincang menunggu datangnya sunset yang luar biasa indah.

Taman Pelangi
Tempat wisata selanjutnya yang tak kalah romantis adalah Taman Pelangi. Taman yang terletak di Jalan Ahmad Yani Nomor 138, Gayungan, Surabaya ini menawarkan pemandangan eksotis di malam hari. Di tempat ini, Anda akan menemukan taman kecil yang dihiasi pepohonan dan berbagai jenis bunga. Selain membuat tampilan taman lebih cantik, udara pun menjadi lebih segar dan sejuk.

Taman yang didesain menyerupai ruas daun ini akan sangat indah dan semarak di malam hari. Suasananya pun romantis, sangat cocok bagi Anda yang ingin menikmati keindahan Kota Surabaya bersama pasangan. Asyiknya lagi, taman ini dapat Anda kunjungi selama 24 jam penuh.

Restoran 1914
Setelah puas berjalan-jalan, ajak pasangan menikmati santap malam di Restoran 1914. Restoran yang juga dikenal sebagai The Consulate ini dapat Anda temukan di Jalan Darmokali No. 10, Surabaya, Jawa Timur.

Sesuai dengan namanya, restoran yang dibangun pada tahun 1914 ini mengusung konsep klasik nan cantik dengan desain minimalis dan nuansa yang menyenangkan. Tempat yang cocok untuk menghabiskan malam bersama kekasih hati.

Bagi pencinta kuliner Eropa dan makanan Asia, khususnya makanan Jepang, restoran ini wajib Anda kunjungi. Nikmati makan malam romantis bersama pasangan sembari menyantap makanan lezat. Tersedia beragam menu yang menggoda selera, seperti Wagyu Steak, Kimchee Soup, Chicken Gyoza, Salmon Miso, Black Angus, Lobster Edamame Soup, Gindara, dan menu andalan Tenderloin Steak.

Demikianlah informasi mengenai sejumlah tempat wisata romantis di Surabaya yang dapat Anda kunjungi bersama pasangan. Agar rencana liburan atau bulan madu Anda lancar tanpa hambatan, pastikan untuk booking hotel di Surabaya sejak jauh hari. Pesan hotel via aplikasi Airy Rooms.
yang dapat Anda unduh gratis melalui App Store atau Google Play Store. Selamat berlibur! (Der/Aka)

Berusia Dua Abad, Ini Masjid Tertua di Kota Batu

Masjid Jami Al Muchlisin yang terletak di Jalan Lahor, Desa Pesanggrahan Kota Batu, Minggu (12/5). (Foto: Ayun/MVoice)

MALANGVOICE – Masjid Jami Al Muchlisin yang terletak di Jalan Lahor, Desa Pesanggrahan Kota Batu merupakan masjid tertua di Kota Batu. Tempat ibadah umat muslim ini sudah berusia sekitar dua abad. Dan masjid ini dibangun pertama kali oleh KH. Zakaria tahun 1827.

Pengasuh Pesantren Rakyat Kota Batu, Ulul Azmi mengatakan jika masjid ini merupakan saksi bisu menyebaran agama islam di Kota Batu yang akrab dijuluki ‘De Kleine Zwitserland’.

“Masjid Jami Al Muchlisin dulunya berupa joglo dan bentuknya pun sama seperti kebanyakan masjid di Demak,” ujarnya kepada MVoice

“Ciri khas masjidnya memiliki beberapa tiang penyangga,” imbuhnya

Lebih lanjut Azmi mengatakan jika masjid itu menjadi media penyebaran Islam di kawasan Batu. Pada saat itu, Islam memang belum menjadi agama mayoritas di kawasan tersebut.

Azmi menyatakan, saat ini bangunan masjid memang sudah tidak lagi seperti saat pertama kali didirikan.

”Memang banyak perubahannya. Apalagi, masjid itu sudah direnovasi sebanyak empat kali,” beber pria yang juga kepala MI Darul Ulum itu.

Dia memaparkan, empat kali renovasi tersebut terjadi mulai 1950-an. Kemudian dilanjutkan pada 1980-an. Namun, dua kali renovasi belum mengubah bentuk masjid secara total.(Der/Aka)

Masjid Jami’ Daarul Muttaqiin, Padukan Kultur Sunan Kali Jaga-Cheng Ho

Masjid Jami’ Daarul Muttaqiin yang terletak di Jalan Sekar, Desa Pandanrejo, Kota Batu
Masjid Jami’ Daarul Muttaqiin yang terletak di Jalan Sekar, Desa Pandanrejo, Kota Batu (ayun)

MALANGVOICE – Konstruksi Masjid Jami’ Daarul Muttaqiin tergolong langka. Umumnya, model bangunan masjid terinspirasi dari satu tokoh yang berjasa kala itu. Namun, masjid di Jalan Sekar, Desa Pandanrejo, Kota Batu itu memadukan kultur dua tokoh yakni, Sunan Kalijaga dan Cheng Ho.

Masjid Jami’ Daarul Muttaqiin tidak sekadar menjadi tempat ibadah. Tapi, juga menjadi pusat berbagai kegiatan, seperti kegiatan belajar mengajar, juga ekonomi.

Ketua takmir Masjid Warnan Tarnidi menceritakan, masjid tersebut dibangun kali pertama sekitar 1957 lalu. Keberadaannya tidak seperti saat ini yang sudah beberapa kali direnovasi.

”Dulu masih kurang bagus dan kecil. Tapi, selalu dijadikan pusat kegiatan masyarakat,” ujarnya kemarin.

Masjid yang dibangun di lahan seluas 320 meter itu sudah kali ketiga direnovasi. Renovasi pertama pada 1968 silam. Kemudian renovasi kedua pada 1984.

”Renovasi yang terakhir ini pada 2014. Dan hingga sekarang tidak ada perubahan lagi,” ungkap Tarnidi yang juga komite di SMKN 2 Kota Batu itu.

Dari tiga kali renovasi itu pun tentu diakuinya mengalami perubahan total. Meski begitu, dalam setiap perubahannya tidak pernah melupakan filosofi dan sejarahnya. Tetap terilhami dari bangunan tempat ibadah masa Sunan Kalijaga dan Cheng Ho.

”Kami padukan dua unsur itu. Karena menurut kami, dua orang itu (Sunan Kalijaga dan Cheng Ho) sangat berjasa dalam perkembangan Islam di Indonesia,” ungkapnya.

Sunan Kalijaga merupakan wali yang berperan penting dalam masuknya Islam di tanah Jawa. Sedangkan adanya ornamen Tiongkok dikarenakan para Wali Sanga diyakini memiliki darah keturunan China daratan. ”Itulah yang ingin kami tularkan di bangunan ini. Agar mengalir dalam setiap sisi bangunan,” tuturnya.

Perpaduan dua tokoh dalam bangunan masjid tersebut bertujuan mengingatkan kembali sosok Sunan Kalijaga dan Cheng Ho kepada masyarakat.(Der/Aka)

Komunitas