Jalan-jalan Incipi Sederet Kuliner Legenda di Solo

Surabi Notosuman. (Istimewa)
Surabi Notosuman. (Istimewa)

MALANGVOICE – Berkunjung ke Solo pasti merasakan suasana berbeda dan menyenangkan. Selain pusat budaya dan keindahan alamnya, Anda akan terpikat dengan keramahan warga dan kuliner lezat menggoda selera.

Di Solo banyak sekali makanan yang sudah ada sejak puluhan tahun lalu. Nah, seperti apa wisata kuliner yang wajib dikunjungi saat berlibur ke Solo, ini dia tempat rekomendasinya.

Serabi Notosuman
Serabi Notosuman merupakan satu kuliner yang wajib Anda coba selama berada di Solo. Kuliner melegenda ini dapat Anda temukan di Jalan Mohammad Yamin Nomor 28, Surakarta, Jawa Tengah. Didirikan sejak 1923, Serabi Notosuman telah memiliki banyak cabang yang tersebar di beberapa kota, termasuk Yogyakarta. Serabi Notosuman menawarkan dua variasi rasa, yakni original dan cokelat.

Tengkleng Klewer Bu Edi
Dulu, tengkleng identik dengan makanan kelas menengah ke bawah. Maklum saja tengkleng dibuat dari tulang dan sedikit daging. Namun di masa kini, tengkleng justru menjadi makanan favorit dari berbagai macam kalangan. Sajian ini biasa ditemukan di Pasar Klewer.

Sate Kere Yu Rebi
Warung sate yang telah berdiri sejak tahun 1986 ini terletak di belakang Stadion Sriwedari Solo. Sate Kere Yu Rebi merupakan makanan yang terbuat dari campuran jeroan sapi dan tempe gambus. Serupa dengan sate pada umumnya, sate kere menggunakan bumbu kacang yang ditambahkan sedikit kecap. Rasanya legit, enak, dan nikmat.

Nasi Pecel dan Sambal Tumpang Bu Kis
Nasi pecel legendaris yang telah berdiri sejak tahun 1951 terletak di belakang kantor Pengadilan Negeri Solo di Jalan Gleges, Priyobadan, Surakarta, Jawa Tengah. Meskipun tampak sama dengan pecel lainnya, bumbu pecel Bu Kris memiliki cita rasa yang legit dan gurih. Sangat lezat ketika dipadukan dengan nasi dan sayuran.

Soto Gading
Soto Gading merupakan soto ayam paling terkenal di Solo. Warung soto yang berada di Jalan Brigjen Sudiarto nomor 75 ini telah berdiri sejak 1974. Selama puluhan tahun berdiri, sudah banyak pejabat negara yang pernah menikmati solo di warung sederhana ini.

Berbeda dari soto ayam lainnya, soto gading ini memiliki kuah bening yang agak kental. Rasanya gurih kerena terbuat dari kaldu. Untuk menambah cira rasa, tersedia makanan pelengkap, seperti jeroan, tempe, tahu empal, dan lain-lain.

Itulah sejumlah tempat wisata kuliner di Solo yang tak boleh Anda lewatkan selama berlibur di Solo. Agar liburan Anda lebih istimewa, jangan ragu untuk memesan tiket pesawat ke Solo dan dapatkan tiket pesawat Batik Air termurah dengan fasilitas penuh.

Nikmati kemudahan booking tiket pesawat di seluruh Indonesia, kartu kredit, dan transfer bank. Ayo, rancang liburan bersama Airy!(Der/Aka)

BNN Kota Malang

Kembangkan Potensi Wisata, Perkebunan Teh Lawang Berbenah

Ilustrasi Wisata Agro Wonosari. (Istimewa)
Ilustrasi Wisata Agro Wonosari. (Istimewa)

MALANGVOICE – Menjawab tantangan zaman, Wisata Agro Wonosari atau Kebun Teh Lawang, Kabupaten Malang berbenah. Rencananya, kebun berlokasi di lereng Gunung Arjuno itu dikonsep kekinian.

Manager PTPN XII Kebun Wonosari Nelson Limbong mengatakan, kebun teh ini belum begitu populer meskipun telah lama berdiri. Ia meyakini bahwa belum adanya inovasi menjadi penyebabnya. Sementara ini, hanya ada kolam renang dan hamparan kebun teh.

“Kami siapkan kemasan baru dengan banyaknya fasilitas baru yang akan dibangun di Wisata Agro Wonosari. Nantinya, tidak perlu jauh-jauh ke Kota Batu,” kata Limbong, Senin (4/11).

Ia melanjutkan, potensi Kebun Teh Wonosari sebenarnya sangat banyak. Bisa dimanfaatkan untuk family gathering, konser musik, olahraga, baik skala lokal maupun internasional. Area kebun teh juga cukup luas, sekitar 1.100 hektare. Sedangkan Khusus untuk agro wisata seluas 5 hektare.

Merespon potensi itu, pihaknya telah mengagendakan WAW Festival pada 7-8 Desember mendatang.

“Sebagai bentuk re-branding Wisata Agro Wonosari dengan kemasan baru. Kami menggelar festival teh. Memberikan informasi tentang teh, pembuatan teh, edukasi teh, serta seluruh produk teh yang diproduksi oleh PTPN XII Kebun Wonosari,” pungkasnya.(Der/Aka)

BNN Kota Malang

Coba Kuliner Nusantara di Pondok Kopi Sambel Teri

Pengunjung saat asik bercengkrama di Pondok Kopi Sambel Teri (Foto: Ayun/MVoice)
Pengunjung saat asik bercengkrama di Pondok Kopi Sambel Teri (Foto: Ayun/MVoice)

MALANGVOICE – Akhir pekan identik dengan hari libur. Masyarakat umumnya memanfaatkan waktu ini untuk istirahat atau jalan-jalan dengan keluarga.

Nah, bagi Anda yang ingin menikmati kuliner dengan nuansa pedesaan? ‘Pondok Kopi Sambel Teri’ dapat menjadi rekomendasi tepat menikmati akhir pekan dengan keluarga.

Restoran yang berlokasi di Desa Tulungrejo, Kota Batu ini sembari bersantai, pengunjung pun dapat menikmati suasana dan pemandangan kota berjuluk de Kleine Swizterland.

Pondok Kopi Sambel Teri yang dilaunching pada 3 November 2018 lalu, memiliki bangunan utama berupa Joglo.

Konsep joglonya tradisional dengan pilar dan dindingnya berbahan kayu. Selain itu perabotnya pun mayoritas berbahan kayu.

Owner ‘Pondok Kopi Sambel Teri’, Agung Panji Kurnia mengungkapkan awalnya hanya sebuah gazebo tempat istirahat. Kemudian seiring berjalannya waktu menjadi sebuah restoran

“Jadi, awalnya kami dengan pesantren depan ini sering makan bareng. Ya, sudah seperti keluarga. Kemudian, karena makan tak lengkap rasanya jika tanpa sambel,” ungkapnya.

“Begitu kami membuat Sambel Teri ternyata rasanya enak. Obrolan, tersebut suatu saat terkabulkan menjadi sebuah restoran,” imbuh Pria enam bersaudara ini.

Lebih lanjut ia mengatakan bila menu yang menjadi andalan yakni Ayam Geprek Sambel Teri. Sementara untuk minuman ada olahan buah, susu, serta kopi.

Harga yang ditawarkan pun relatif terjangkau, dibanderol mulai harga Rp 8 ribu – Rp 20 ribu pengunjung sudah dapat menikmati serbagai makanan dan minuman di sana.

Selain itu, restora tersebut sering dijadikan tempat pemotretan prewedding dan pembuatan film.

“Kami juga tidak pernah menarik biaya untuk prewedding dan pengambilan film. Semuanya bebas,” terang pria kelahiran Banyuwangi ini.

Sejumlah artis nasional pun pernah berkunjung ke Pondok Kopi Sambel Teri. Salah satunya Asmirandah dan sang suami, Jonas Rivanno.

Perlu diketahui, restoran tersebut buka sejak pukul 11.00 WIB – 23.00 WIB. Dan libur setiap hari Kamis.

Kemudian, untuk akses terbilang cukup mudah. Dari Alun-Alun Kota Batu, wisatawan hanya butuh waktu sekitar 12 menit ke lokasi. Untuk menuju lokasi, memang saat ini belum ada papan penunjuk arah.

Namun wisatawan dapat menggunakan Google Map agar lebih mudah menuju Pondok Kopi Sambel Teri.

Sementara, Plt. Kepala Dinas Pariwisata (Disparta) Kota Batu, Imam Suryono mengatakan kuliner merupakan aset andalan untuk menjual dan meningkatkan perekonomian di suatu daerah.

“Banyak daerah dikenal karena kulinernya. Kuliner memberikan pula manfaat ekonomi secara langsung bagi masyarakat,” tuturnya. (Adv)

BNN Kota Malang

Mencicipi Sajian Ketan ‘Legenda’ yang Tak Lekang Waktu di Kota Batu

Kedai pos ketan legenda yang berada di di Jalan Kartini, Kelurahan Sisir, Kota Batu (Ayun/MVoice)
Kedai pos ketan legenda yang berada di di Jalan Kartini, Kelurahan Sisir, Kota Batu (Ayun/MVoice)

MALANGVOICE – Kota Batu memang punya segudang pesona. Saat berkunjung ke kota ini, ada banyak tempat wisata menarik yang bisa kamu eksplor. Mulai dari wisata alam, wisata buatan hingga wisata pertanian.

Tak hanya itu saja, tempat wisata kuliner dengan cita rasa lezat yang melegenda pun juga bisa kamu coba saat berkunjung ke kota yang mendapat julukan de Kleine Swizterland.

Bicara soal kuliner legenda di Batu, tentu tak lepas dari hidangan yang satu ini. Nah, Pos Ketan yang melegenda ini berada di Jalan Kartini, Kelurahan Sisir, Kota Batu.

Berdiri sejak tahun 1967, Pos Ketan Legenda kini memiliki puluhan varian toping. Mulai dari rasa original yang terdiri dari parutan kelapa, bubuk kedelai dan gula jawa, rasa keju susu, hingga rasa duren yang disajikan bersama buah duren asli.

Khotiul Jannah, pengunjung asal Pasuruan mengungkapkan belum ke Kota Batu jika belum mencicipi legitnya sajian ketan di kota dingin ini.

“Tekstur ketannya memang begitu pulen dan terasa meleleh di dalam mulut. Ini menjadi alasan saya kuliner ke Kota Batu. Karena ketan di sini beda dengan lainnya. Meski dibiarkan seharian teksturnya tak keras,” ujarnya.

Sugeng Hadi generasi kedua penerus bisnis Pos Ketan Legenda mengatakan usaha ketan ini pertama kali dirintis oleh neneknya, Siami.

“Resep itu seperti yang dijual oleh nenek sejak 57 tahun silam, hingga ketan kini identik dengan Kota Batu,” ungkapnya saat diwawancarai MVoice.

Pos Ketan Legenda juga mampu menjaga konsistensi rasa sejak 1967. Menurut Sugeng tak ada kiat khusus untuk memasak ketan.

“Paling penting pilih ketan yang berkualitas baik. Kami pilih ketan dari Thailand yang kualitasnya paling baik. Ini lebih mudah diolah dan awet daripada ketan lokal,” imbuhnya.

Untuk penambahan legenda pada nama Pos Ketan diberikan lantaran ketan ini memang melegenda di kalangan pelanggan setia. Warung ketan telah hadir sejak 52 tahun lalu dan masih ramai hingga saat ini.

Pos Ketan Legenda juga dikenal dengan waktu operasional panjang yakni sejak pukul 16.00-03.00 WIB.

Sementara, Plt. Kepala Dinas Pariwisata (Disparta) Kota Batu, Imam Suryono mengatakan kuliner merupakan aset andalan untuk menjual dan meningkatkan perekonomian di suatu daerah.

“Banyak daerah dikenal karena kulinernya. Kuliner memberikan pula manfaat ekonomi secara langsung bagi masyarakat,” tuturnya.

Nah, untuk mencicipi kenikmatan ketan legendaris ini, kamu cukup merogoh kocek sebesar Rp 6 ribu hingga Rp 16 ribu saja tergantung dengan varian rasa dan topping yang ingin dipilih.

Legitnya ketan Kota Batu menjadi destinasi kuliner yang sayang jika dilewatkan saat berada di kota dingin ini.(Der/Aka)

BNN Kota Malang

Serunya Liburan ke Desa Wisata Tulungrejo Kota Batu

Wisatawan asik berswafoto di spot taman bunga Coban Talun di desa Tulungrejo, Kota Batu (Foto: Ayun/MVoice)
Wisatawan asik berswafoto di spot taman bunga Coban Talun di desa Tulungrejo, Kota Batu (Foto: Ayun/MVoice)

MALANGVOICE – Kota Batu memang memiliki banyak tempat wisata yang unik dan menarik untuk dikunjungi. Salah satu wisata desa yang patut Anda kunjungi yakni di Desa Tulungrejo.

Di sana wisatawan akan disuguhkan beberapa wisata alam unggulan dengan hawa sejuk berkisar antara 15 -19 derajat celcius.

Kepala Desa Tulungrejo, Suliyono, mengatakan maskot utama Desa Tulungrejo adalah Taman Rekreasi Selecta yang legendaris. Wana wisata tersebut sudah ada sejak zaman Belanda.

“Ya, kalau yang menjadi maskot di sini itu tentunya Selecta. Karena sudah dikenal di mana-mana,” ujar Suliyono saat ditemui MVoice.

Tak hanya itu saja, ia menambahkan selain Selecta produk unggulan lainnya adalah petik Apel. Bagi kalian yang ingin merasakan sensasi memetik apel langsung di kebunnya bisa langsung datang ke desa ini.

Suliyono menyebutkan di Desa Tulungrejo ini khusus untuk tanaman Apel ada sekitar 900 hektare. Dan memang di desa inilah yang banyak kebun apelnya, meskipun sudah mulai terkikis

Selanjutnya ada Coban Talun, di sana pengunjung tidak hanya menjumpai air tetjun saja. Tapi juga beragam spot swafoto yang unik seperti penginapan Pagupon, Apache, taman bunga, juga ada beragam fasilitas untuk memanjakan wisata.

“Nah, di area yang sama kami juga mempunyai wisata edukasi yakni peternakan sapi,” bebernya.

Kemudian, di sana juga ada adventure jeep off road yang menawarkan pemandangan alam yang indah. Seperti di coban talun, petik bunga dan kaki langit.

Selain yang disebutkan di atas juga ada Pura Luhur Giri Arjuno. Tempat ini berada di area hamparan perkebunan Apel. Bonusnya pengunjung akan menyaksikan keindahan pemandangan Kota Batu beserta Gunung Panderman dan Arjuna. Pura ini banyak menjadi jujukan wisatawan Bali dan berbagai daerah.

Sementara itu, Plt. Kepala Dinas Pariwisata Kota Batu Imam Suryono mengatakan beragam potensi mampu disuguhkan oleh masyarakat Desa Tulungrjeo. Karena itulah Desa Wisata Tulungrejo merupakan salah satu daya tarik wisata di Kota Batu yang diikutsertakan dalam ajang Anugerah Wisata Jawa Timur 2019.

“Ya, memang karena pemberdayaan masyarakatnya di sana kuat. Lalu potensi wisatanya betul-betul diangkat. Sehingga mampu menjadi daya saing tempat wisata di daerah lainnya,” tuturnya.

Imam menambahkan apalagi di sana juga terdapat paket wisata. Sehingga membuat wisatawan bisa melakukan perjalanan wisata lebih dari satu hari.

“Adanya paket wisata ini yang bisa membuat wisatawan di sana lebih dari satu hari. Dengan demikian perekonomian yang ada di sana bisa terangkat,” tutupnya.(Der/Aka)

BNN Kota Malang

Menikmati Sensasi Berkuda Berlatar Gunung Panderman di Megastar Kota Batu

Salah satu pengunjung saat asik berswafoto dengan kuda di Peternakan Kuda Megastar Indonesia, Kota Batu (Foto: Ayun/MVoice)
Salah satu pengunjung saat asik berswafoto dengan kuda di Peternakan Kuda Megastar Indonesia, Kota Batu (Foto: Ayun/MVoice)

MALANGVOICE – Wisata Peternakan Kuda Megastar Indonesia selalu menjadi destinasi menarik untuk menunggangi kuda. Tak hanya itu saja, pengunjung juga mendapatkan bonus berswafoto dengan latar belakang Gunung Panderman.

Wana wisata yang berada di jalur lingkar barat (jalibar) Desa Oro-Oro Ombo, Kota Batu awalnya merupakan tempat penangkaran kuda yang dikonsepkan dengan program silvopastur dari Perhutani(Perusahaan Hutan Negara Indonesia). Silvopastur yaitu kombinasi antara komponen atau kegiatan kehutanan dengan peternakan.

Namun, seiring berjalannya waktu, kuda dengan taraf internasional juga menjadi koleksi serta penghuni tempat tersebut. Sehingga Peternakan Kuda Megastar menjadi salah satu objek wisata favorit yang ada di Kota Batu.

Petugas dan Perawat di Peternakan Kuda Mega Star Indonesia, Usman mengatakan pengunjung masih stabil. Tapi, pada hari-hari biasa terbilang sepi.

”Kalau ramainya pas Sabtu-Minggu itu. Kalau hari-hari seperti sekarang ini sepi. Cuma dua sampai lima orang saja,” ujarnya saat ditemui MVoice.

Wana wisata ini mempunyai dua sirkuit yang menjadi lapangan pacuan kuda. Pertama yang mempunyai luas 60 x 50 meter persegi seperti lapangan kecil. Sementara sirkuit yang kedua yakni mempunyai luas 100 x 100 meter persegi.

Ia menjelaskan, kedua sirkuit tersebut sama-sama bisa digunakan untuk menunggang kuda bagi wisatawan yang ingin mencoba sensasi berkuda

Sementara itu, terkait adanya kebakaran di Gunung Panderman sendiri menurutnya tidak begitu berdampak. Meski informasi awalnya kebakaran itu sampai di lereng gunung.

”Nggak begitu dampaknya. Pengunjung masih bisa menikmati wisata di sini,” tuturnya

Selain bisa mencoba sensasi berkuda, wana wisata ini juga menyediakan hamparan perkebunan bunga matahari yang bermekaran. Pengunjung bisa sepuasnya berswafoto dengan latar belakang bunga matahari seluas satu hektare.

Salah satu pengunjung asal Lombok, Nusa Tenggara Barat, Intan Cahya Ningrum mengatakan menyukai pemandangan yang disajikan tempat wisata tersebut. Meski awalnya sempat takut dengan kuda-kudanya. Setelah ditunggangi ternyata jinak dan enak.

”Awalnya kuda-kuda itu yang bikin takut. Tapi, ternyata jinak dan enak,” ujarnya.

”Seketika itu langsung tak bawa jalan-jalan layaknya si petugas. Ternyata seru,” ungkap perempuan yang masih Semester III Fakultas Pertanian IPB University itu.

Sementara itu, Plt Kepala Dinas Pariwisata Kota Batu Imam Suryono memberikan apresiasi ke peternakan yang letaknya sangat strategis itu. Dengan demikian akan menambah daya tarik wisatawan luar daerah untuk berkunjung ke Kota Batu.

“Tentunya kami Pemkot Batu memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada warga Kota Batu yang kreatif menciptakan destinasi wisata baru,” ujarnya

“Tentunya di Kota Batu ini letak peternakan punya kelebihan. Mulai dari pemandangan dekat dengan Gunung Panderman, dan pemandangan hutan,” tutupnya.
(Der/Aka)

BNN Kota Malang

Serunya Berlibur di “Lumbung Stroberi” Kota Batu

Wisatawan saat asik memetik stroberi di Lumbung Stroberi, Desa Pandanrejo, Kota Batu (Ayun/MVoice)
Wisatawan saat asik memetik stroberi di Lumbung Stroberi, Desa Pandanrejo, Kota Batu (Ayun/MVoice)

MALANGVOICE – Memetik Stroberi di hamparan kebun adalah salah satu kegiatan berkebun sekaligus bertamasya yang mengasyikan.

Kota Batu memang tak pernah habis menawarkan beragam tempat wisata alam yang menarik. Satu di antaranya yakni Wisata Petik Stroberi di Lumbung Stroberi Desa Pandanrejo, Kota Batu.

Di sentra perkebunan stroberi terbesar di wilayah Kota Batu ini, pengunjung layaknya pemilik kebun sebab mereka bisa menikmati sensasi petik buah stroberi sepuasnya. Disuguhkan juga keindahan serta kesejukkan gunung Welirang dan Arjuna.

Penanggung Jawab Lumbung Stroberi, Edy Purwanto mengatakan selain dipergunakan sebagai wisata petik stroberi di sana juga banyak makanan olahan stroberi seperti sari stroberi, stick stroberi hingga selai stroberi.

“Tidak melulu di sini untuk petik Stroberi saja. Tapi bisa untuk workshop, reuni, dan acara ulang tahun. Sudah di sediakan gazebo untuk acara tersebut,” ujarya saat ditemui MVoice, Selasa (23/7)

“Dan dalam waktu dekat ini bakal ada penambahan fasilitas yakni homestay,” sambungnya.

Hal menarik wisata petik buah stroberi di Desa Pandanrejo dapat di lakukan setiap hari termasuk malam hari. Ini karena pada bulan Juli dan Agustus Stroberi pada masa panen raya buah musiman.

“Tetapi kami warga masyarakat Pandanrejo ingin membuat buah musiman ini menjadi buah sepanjang masa yang dapat selalu dinikmati kesegaran setiap saat,” ungkapnya.

Sementara, Ninil Rima warga asal Wagir Kabupaten Malang mengatakan sengaja kesini untuk berlibur menikmati sejuknya Kota Batu. Dan mengajak buah hatinya untuk memetik langsung ke kebunnya.

“Sekalian liburan. Karena anak saya suka dengan buah ini. Di rumah juga menanamnya, ya cuma satu hingga tiga pohon saja” ungkapnya.

Perlu diketahui, selain bisa membawa stroberi pengunjung juga bisa membeli bibit buah stroberi dalam polibag yang banyak dijual oleh masyarakat setempat.

Bagi wisatawan yang ingin menyantap stroberi segar langsung dari kebunnya dapat berkunjung langsung ke Desa Pandanrejo dan bisa menghubungi Pokdarwis yang ada.

Jika bingung, langsung saja datang ke kantor Kecamatan Bumiaji, pegawai kecamatan sudah terlatih untuk memberikan informasi terkait wisata di Pandanrejo. Dan pengunjung hanya perlu merogoh kocek Rp 15 ribu untuk menikmatinya

Plt Kepala Dinas Pariwisata Kota Batu, Imam Suryono, menjelaskan, beberapa destinasi tersebut akan terus dikembangkan untuk diikutkan sebagai wakil Kota Batu di ajang Anugerah Wisata Jawa Timur 2019.

Apalagi, pada tahun sebelumnya Kecamatan Bumiaji telah meraih juara ketiga kategori daya tarik wisata budaya dalam Anugerah Wisata Jawa Timur 2018.

“Khusus untuk Lumbung Stroberi atau petik stroberi wisatawan bisa menikmati wisata edukasi. Mulai dari proses penanaman, panen, dan juga pengolahan produk,” ujarnya.
.(Hmz/Aka)

BNN Kota Malang

Menikmati Keindahan Alam dan Wahana di Taman Wisata Selecta

Keseruan bermain di Taman Wisata Selecta. (Toski)
Keseruan bermain di Taman Wisata Selecta. (Toski)

MALANGVOICE – Kota Batu memiliki bermacam-macam tempat wisata, baik tempat wisata alam maupun buatan. Hal ini menunjukkan jika Kota Batu cocok disebut kota wisata.

Jadi untuk masyarakat yang ingin berkunjung untuk tamasya di wilayah Kota Batu dapat memilih dan menikmati keindahan yang jarang ditemukan di tempat lain. Seperti Taman Wisata Selecta.

Wahana di Taman Wisata Selecta. (Toski)
Wahana di Taman Wisata Selecta. (Toski)

Di Taman Wisata Selecta ini memang sudah terkenal sejak zaman dahulu, namun hingga saat ini mampu bersaing untuk memberikan kepuasan pada keluarga yang ingin berekreasi ketempat tersebut.

Karena di tempat Wisata Selecta yang terletak sekitar sekitar dua puluh kilometer dari pusat Kota Batu ini memiliki sebuah taman bunga yang sangat luas dan menjadi salah satu tempat favorit untuk bersama keluarga.

Selain itu, pengunjung juga akan dimanjakan dengan adanya fasilitas-fasilitas yang bisa digunakan untuk bersantai atau berfoto. Seperti kolam renang, pengunjung dapat menikmati dinginnya air pegunungan yang terkenal dengan kesejukan alamnya.

Bahkan, di tempat wisata Selecta ini memiliki dua buah kolam renang yang dapat digunakan untuk mengetes seberapa tahannya tubuh anda dari dinginnya air pegunungan.

Apalagi, di kedua kolam renang tersebut juga diberi tempat untuk berseluncur bagi para pengunjung yang ingin memacu adrenalin. Hal ini juga diungkapkan salah satu pengunjung asli Kota Malang, Galuh Ayu.

Menurut Galuh, di tempat wisata Selecta ini ada dua wahana yang memacu adrenalin, yaitu selain seluncuran yang memiliki panjang kurang lebih dua puluh meter dengan ketinggian kurang lebih sepuluh meter, juga ada wahana flying fox, dan Dragon yang dapat digunakan untuk menantang adrenalin Anda.

“Seluncuran tersebut dapat dinikmati secara bebas. Tapi, untuk anak-anak juga ada kok, pokoknya seru,” ungkapnya.

Di tempat wisata Selecta ini, selain tiga wahana di atas, juga terdapat fasilitas lainnya, seperti taman air yang terletak di belakang kolam renang utama yang khusus dibuat untuk seluruh anggota keluarga.

Akan tetapi, jika pengunjung yang enggan bermain air, Taman Wisata Selecta juga menyediakan banyak tempat yang bisa anda gunakan untuk menenangkan pikiran.

Seperti, taman yang dipenuhi dengan berbagai macam bunga, dan sepeda udara di mana anda bisa mengelilingi Taman Wisata Selecta dari atas sehingga Anda bisa melihat seluruh taman.

Plt Kepala Dinas Pariwisata Kota Batu, Imam Suryono, menjelaskan, beberapa destinasi tersebut akan terus dikembangkan untuk diikutkan sebagai wakil Kota Batu di ajang Anugerah Wisata Jawa Timur 2019.

Apalagi, Taman Rekreasi Selecta tak hanya menawarkan taman bunga, pemandian dan beberapa wahana permainannya saja. Tapi di sana juga ada bangunan yang memiliki nilai sejarah.

“Satu di antara contohnya yakni peninggalan sejarah Hotel Bima Shakti di Selecta yang menjadi tempat Presiden Soekarno mengambil keputusan penting dalam perjuangan bangsa Indonesia,” tandasnya.

Perlu diketahui, pada tahun sebelumnya Kecamatan Bumiaji telah meraih juara ketiga kategori daya tarik wisata budaya dalam Anugerah Wisata Jawa Timur 2018.

Menurutnya, selain potensi alam yang mampu digali. Faktor sumber daya manusia (SDM) yang kreatif dan inovatif juga jadi pertimbangan. Karena dengan begitu akan mampu menarik wisatawan untuk datang dan secara otomatis meningkatkan perekonomian masyarakatnya.
(Der/Aka)

BNN Kota Malang

Kafe Ubi Kota Batu, Suguhkan Nuansa Tempo Dulu

Pemilik Kafe Ubi, Suhartini saat berada di dapur kafe (Foto: Ayun/MVoice)

0MALANGVOICE – Sejarah menyebutkan ubi pernah menjadi makanan sehari-hari masyarakat Indonesia saat mengalami masa sulit di zaman penjajahan dahulu. Di beberapa daerah ubi sempat menjadi bahan makanan pokok pengganti nasi. Meski demikian saat diolah oleh tangan trampil, ubi bisa berubah menjadi camilan enak dan sehat.

Pemilik Kafe Ubi, Suhartini saat berada di dapur kafe (Foto: Ayun/MVoice)

Kreativitas terbukti menjadi hal penting dalam pengembangan wisata kuliner. Itulah yang ditempuh oleh warga Desa Pandanrejo, Kota Batu.

Ya, di Kafe Ubi yang berada di tengah sawah jalan satu arah menuju Coban Lanang, Kota Batu. Ubi disajikan begitu menggoda selera ketika mata menelusuri buku daftar menunya.

Kafe ini dikenal dengan suguhan makanan ala petani. Salah satunya ketela rambat yang direbus dan disuguhkan hangat-hangat. Karena itu, nama kafe ini bernama ‘Kafe Ubi’.

Menariknya di Kafe Ubi ini semua makanan dimasak tidak menggunakan kompor gas, melainkan tungku. Selain itu, pengunjung juga bisa mengambil makanan sendiri di dapur kafe ini layaknya rumah sendiri.

Pemilik Kafe Ubi, Suhartini (43) mengatakan kafe ini baru buka sekitar dua minggu. Dan ini untuk melestarikan makanan ketela yang ditanam petani di Desa Pandanrejo.

“Ya, karena sekarang keadaan ubi ini sudah berkurang. Karena itu, kami utamakan makanan itu jadi khas di kafe ini,” bebernya saat ditemui MVoice

“Selain itu juga mengenalkan ke anak-anak yang sudah jarang mengetahui makanan yang termasuk ke dalam Polo Pendem ini,” sambungnya.

Selain ubi, juga ada makanan rumahan seperti lauk ikan pindang, sayur pedas, sayur tewel, tempe tahu, telor, dan lainnya.

Harganya pun sangat terjangkau, untuk makanan berat paket menu sawah hanya Rp 7000 rupiah. Dengan tambahan menu masing-masing antara Rp 1500 – Rp 5000 rupiah. Sementara, kafe ini buka sejak pukul 10.00 WIB – 17.00 WIB.

Sementara itu, Lidsya Rizky pengunjung asal Pujon merasa kembali nuansa tempo dulu. Lantaran suasana yang begitu asri dan jauh dari suara kendaraan membuat tempat ini dipilihnya.

“Awalnya saya mau ke Coban Lanang. Tapi, begitu melihat kafe ini jadi mampir. Cuma ya maklum sih baru buka jadi kalau mau parkir rada sulit,” ungkapnya.(Hmz/Aka)

BNN Kota Malang

Ingin Nongkrong dengan Konsep Barang Bekas? Ini Tempatnya

Pengunjung saat asik berswafoto di Retrorika Cafe Bar & Resto, Kota Batu (Foto: Ayun/MVoice)

MALANGVOICE – Berkonsep recycle reuse, Retrorika Cafe Bar & Resto menyajikan nuansa berbeda dan unik di antara kafe yang ada di Kota Batu. Sembari bersantai, pengunjung bisa menikmati suasana dan pemandangan Kota Apel.

Ya, kafe ini terletak di Desa Bumiaji, Kota Batu. Hampir 90 persen bahan interior dan eksterior penghias kafe ini dari barang bekas. Tak heran jika kafe ini menjadi perhatian khusus kalangan anak muda. Lantaran kafe ini mengusung konsep green house dan eco-friendly.

Owner Retrorika Cafe Bar & Resto, Swiss Winnasis mengatakan jika awalnya hanya sekadar hobi mengoleksi barang-barang bekas. Ia tak pernah merasa gengsi untuk mengumpulkan barang bekas dari rongsokan.

“Retrorika sengaja saya konsep ramah lingkungan. Baik dari bangunan hingga pengolahan limbah sampahnya,” ungkapnya.

Menurutnya, kafe ini merupakan satu-satunya kafe yang memiliki konsep ramah lingkungan atau Eco-Friendly. Sehingga, mulai dari bahan bangunan hingga cara pengolahan limbah dapur sangat ramah lingkungan.

Selain tempat nongkrong, Retrorika Cafe Bar & Resto juga memiliki ratusan koleksi tanaman sukulen berbagai jenis. Sehingga menjadikan kafe ini menjadi satu-satunya kafe di Indonesia yang memamerkan koleksi tanaman sukulen berbagai jenis

Tak hanya itu saja, di dalam kafe juga terdapat perpustakaan mini. Buku-buku di sana tertata rapi di lesung bekas.

Buku-buku itu juga merupakan koleksi pribadi milik Swiss. Tanaman yang ada di sana tidak hanya sekadar dijadikan pajangan saja, namun juga dijual.

Lokasi kafe itu adalah rumah tinggalnya. Sampai sekarang Swiss sangat menerima jika ada yang menghibahkan barang bekas kepada dirinya.

“Untuk menu makanannya juga masih tradisional, semua makanan dimasak fresh. Tidak ada makanan yang disimpan di dalam freezer,” bebernya.

Tidak hanya ornament nya yang dari barang bekas, bahkan sampahnya juga dimanfaatkan untuk peternak. Jika ada sampah plastik, diberikan ke bank sampah. Sementra sampah dapur diberikan ke peternak bebek.

Kafe ini buka sejak pagi pukul 10.00 WB – 23.00 WIB. Diketahui, Swiss hanya membutuhkan waktu satu tahun untuk mempersiapkan semua ini.

Ella Sani (23) pengunjung asal Lumajang menyatakan suka dengan kafe ini. Dikatakannya, selama kurang lebih satu jam di sana ia menghabiskan waktu hanya untuk berswafoto.

“Awalnya penasaran, karena saya tau di Instagram teman-teman pada foto di kafe ini. Ternyata keren banget dan sangat instagramable,” tutupnya.(Hmz/Aka)

BNN Kota Malang

Komunitas