Peduli Sesama, CHPM Berbagi Kebahagian Bersama Anak Yatim Piatu dan Dhuafa

Kegiatan CHPM (Istimewa)

MALANGVOICE, Community Helper’s Project Malang (CHPM) berbagi kegembiraan dengan puluhan anak yatim piatu dan anak dari keluarga kurang mampu. Komunitae ini membantu kebutuhan sebanyak 20 anak yatim dan dhuafa dengan membeli perlengkapan seperti pakaian hingga tas di salah satu pusat perbelanjaan kawasan Alun-alun Kota Malang pada Jumat (17/5) lalu.

Inisiator sekaligus Leader dari CHPM, yaitu Lie Fermita Prayitno mengatakan bahwa agenda yang dilakukan tersebut murni gerakan sosial untuk berbagi kebaikan di Bulan Ramadan dengan mengumpulkan donasi dari berbagai kalangan. Hasil donasi disalurkan untuk memenuhi bagi anak-anak kurang mampu “Untuk Ramadhan tahun ini kami mengangkat tema : Happy Kids Sharing Happiness,” kata Fermita

Selain memberikan perlengkapan bagi anak yatim piatu dan dhuafa, CHPM juga menggelar buka puasa bersama. Tujuannya agar pada bulan Ramadan tahun ini bisa mendapat berkah dan berbagi dengan kalangan tidak mampu.

“Kedepan Comunity Helper Project ini akan menggagas dan mengagendakan program-program sosial lainnya, termasuk yang berkaitan dengan pendidikan, dengan harapan akan semakin banyak masyarakat yang peduli dan peka terhadap lingkungan masyarakat sekitar,” imbuhnya

Fermita juga berharap, agar kebaikan ini terus digaungkan, sehingga dengan peka terhadap permasalahan sosial, maka akan bisa membantu mereka yang membutuhkan.

“Kami berharap banyak masyarakat yang mau berbagi dan mendonasikan sebagian rejekinya untuk saling tolong menolong melalui tindakan kecil namun nyata kepada orang-orang yang membutuhkan,” Pungkasnya.

Salah satu anak yang mendapat bantuan, menyampaikan kegembiraannya dan ucapan terimakasih kepada CPHM. Pasalnya, baru kali ini ia bisa membeli kebutuhan lebaran sendiri bersama-sama dengan teman-temannya yang lain. Hal itu diakui tidak pernah dirasakan pada bulan Ramadan sebelumnya.(Hmz/Aka)

Ribuan Bikers Meriahkan HUT ke-10 SBC

Ribuan bikers hadir dalam HUT ke-10 SBC. (Istimewa)
Ribuan bikers hadir dalam HUT ke-10 SBC. (Istimewa)

MALANGVOICE – Dalam rangka HUT ke-10 Surabaya Beat Club (SBC) dimeriahkan dua ribu bikers, Sabtu (19/1).

Ajang itu sekaligus jadi silaturahmi bagi pecinta sepeda motor skutik yang diselenggarakan di lapangan Universitas Bung Tomo Surabaya.

SBC merupakan wadah silahturahmi bagi pecinta sepeda motor skutik Honda Beat yang didirikan pada 2008. Di Surabaya sendiri beranggotakan lebih dari 65 anggota.

Pada HUT ke-10 ini SBC mengambil tema Transformatic Story of Brotherhood. Kegiatan ini dihadiri oleh pecinta sepeda motor honda matic dari berbagai daerah di Indonesia seperti klub BeAT Pengda OrBeAT Jawa Tengah, Pengda Jawa Barat, bahkan klub BeAT luar pulau Jawa, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi dan Bali.

Rangkaian kegiatan ini dimulai dengan Transformatic Rally heritage dengan keliling Kota Surabaya dengan mengambil start dari patung surabaya depan Kebun Binatang Surabaya – Tugu Pahlawan – Balai Kota – Monkasel – Bambu Runcing – Hotel Majapahit dan finish. Di setiap spot tempat heritage Kota Surabaya, peserta berhenti sejenak untuk foto bersama. Selain itu juga dilakukan kampanye safety riding.

Gelaran ini mendapat dukungan dari PT. Astra Honda Motor (AHM) dan PT. Mitra Pinasthika Mulia ( MPM) sebagai main dealer Honda wilayah Jawa Timur dan NTT.

“Kami support kegiatan positif yang dilakukan oleh komunitas Honda di wilayah Jawa Timur maupun di NTT. Semoga dengan adanya kegiatan ini menjadi ajang silaturahmi antar sesame bikers tidak hanya diwilayah Jawa Timur tetapi di Indonesia,” kata Marcomm and Development division head MPM, Suhari.

Melengkapi malam puncak kebersamaan tersebut, beragam hiburan seperti band lokal, games dan beragam hiburan lainnya juga disuguhkan pada acara ini untuk memeriahkan dan semakin mempererat kebersamaan para bikers peserta satu dekade SBC.(Der/Aka)

12 Komunitas Ramaikan Kopi Darat di Together Forever

Kumpul komunitas di Together Forever. (Anja a)
Kumpul komunitas di Together Forever. (Anja a)

MALANGVOICE – Total 12 komunitas dari Kota Malang berkumpul dalam kegiatan Together Forever di The 1O1 Hotel Malang OJ, Rabu (25/4). Berbagai kegiatan dari komunitas seperti talkshow, demo pembuatan kopi, games, dan live music.

Ke-12 komunitas ini merupakan komunitas terpilih dari program prime time Kosmonita Malang, Coffee Morning. Coffee Morning juga merupakan program kerja sama antara Kosmonita Malang dan The 1O1 Hotel Malang OJ. 12 Komunitas ini meliputi Lukis Bareng Malang, Hijab Moms Community, Freeletics, Malang Jazz Community, Asosiasi Ibu Menyusui, Malang Foodies, Komunitas Pecinta Kopi, Pajero Club dan sebagainya.

Kumpul komunitas di Together Forever. (Anja a)
Kumpul komunitas di Together Forever. (Anja a)

“Dengan berkumpulnya komunitas ini diharapkan menjadi wadah untuk mereka berkolaborasi memajukan Malang. Diambil manfaatnya, silahlan berkenalan satu sama lain,” tutur General Manager The 1O1 Hotel Malang OJ, Anjar Maulana, saat ditemui MVoice, Selasa (25/4).

Anjar berharap, acara seperti ini bisa diadakan lagi tahun depan. Menurutnya, iklim komunitas di Kota Malang sudah sangat baik, sehingga perlu diperbanyak acara kolaborasi yang positif.(Der/Ak)

Mr Mo, Komunitas Motor yang Dijuluki Bikers Syariah

Komunitas Mr Mo. (istimewa)
Komunitas Mr Mo. (istimewa)

MALANGVOICE – Malang dikenal sebagai kota yang banyak memiliki komunitas, salah satunya komunitas motor yang memiliki ciri khas tersendiri, termasuk Malang Raya Max Owner (Mr MO).

Berdiri sejak 2015, kini jumlah anggota Mr Mo sekitar 90 orang. Sesuai namanya, anggota pasti punya kendaraan jenis Yahama Max series, entah itu NMax atau XMax.

Diketuai Yuyud Erawanto, Mr Mo bisa dibilang berkembang menjadi komunitas yang disegani di Malang. Bukan karena tampang anggotanya yang sangar, tapi karena kesantunannya dan persaudaraan yang erat. Karena itu Mr Mo sangat mencari kualitas daripada kuantitas saat merekrut anggota baru.

“Masuknya itu ketat sekali. Calon anggota harus paling tidak ikut kopi darat (kopdar) sebanyak tiga kali. Tujuannya agar akrab sama anggota lain. Dengan begitu persaudaraan bisa terjalin antar anggota,” kata Yuyud kepada MVoice.

Selain itu, menunjukkan kesantunannya, komunitas yang setiap Jumat berkumpul di depan Gereja Ijen ini menerapkan tertib berlalu lintas. Yuyud menekankan pada setiap anggota agar tidak mencoreng nama Mr Mo dengan tindakan yang melanggar aturan. Termasuk menggunakan narkoba, mabuk-mabukan di jalan dan hal lain. Sampai-sampai, Mr Mo dijuluki komunitas syariah atas peraturan tersebut.

Hal itu juga tampak dari sepeda motor anggota Mr Mo yang lengkap dengan spion, kenalpot standar, ban besar serta tidak menggunakan sirine atau rotator.

“Ada yang juluki kami bikers syariah. Memang di sini begitu aturannya. Dilarang menyalahi hukum, saling menghormati dan terpenting tidak bicara politik di sini,” lanjut pria yang punya hobi motor sejak kecil.

Di beberapa kesempatan, Mr Mo menggalang dana untuk membantu masyarakat yang sedang kesusahan. Diingat Yuyud, terakhir memberikan sumbangan ke Pacitan berupa barang dan uang. “Selain itu kami rutin ke panti asuhan atau fakir miskin lain. Pasalnya kami bentuk divisi sosial untuk menggalang dana. Semua murni dari kami,” lanjutnya.

Selain itu, paling unik dari komunitas ini adalah saling mendukung untuk terjun ke dunia wirausaha. Banyak anggota Mr Mo yang menggrluti dunia usaha bahkan setelah masuk ke komunitas itu. Yuyud sendiri mengaku sampai berhenti dari tempatnya bekerja hanya untuk menjadi wirausahawan. Padahal, waktu itu, kata Yuyud, posisinya sangat mapan.

“Teman-teman banyak yang heran. Padahal kerja saya sudah enak. Untung keluarga saya support. Akhirnya sempat saya jualan nasi. Karena kalau di kerjaan nanti gak bisa touring dan lain-lain,” jelasnya sambil terkekeh-kekeh.

Namanya komunitas motor, rasanya kurang afdol ketika tidak melakukan touring. Sama dengan Mr Mo, setiap tahun selalu mengadakan touring. Yuyud mengaku sudah pernah ke Aceh, Sumbawa dan Kalimantan.

Terdekat, agenda touring dilakukan pada Juni 2018 ke Banda Aceh. “Dulu pertengahan 2016 ke Aceh, nanti lagi touring nasional ke sana lagi. Terus ada lagi ke Magelang dan Balikpapan,” sambungnya.

Salah satu anggota lain, Lukman Hakim, mengaku baru pertama kali senang mengikuti komunitas motor. Padahal ia 26 tahun tidak pernah menaiki sepeda motor.

“Awalnya pinjam temen. Sekali naik NMax kok enak, akhirnya saya beli sendiri terus gabung ke sini. Di sini ya saya cari seneng, gak mikir apa-apa. Karena rasa persaudaraan itu, kalau gak kopdar itu rasanya kangen,” tuturnya.

Opa, sapaan akrabnya berharap Mr Mo ke depan bisa terus berkembang dan touring hingga keliling Indonesia. “Tidak hanya touring. Tapi menyebarkan kebaikan dan pendidikan juga ke anak-anak. Karena saya punya sekolah dan kelas inspirasi,” tandasnya.(Der/Aka)

Wong Ngalam Perlu Tahu, Ini Dia Komunitas Malang Sound Community

Deklarasi MSC malam ini. (Anja)

MALANGVOICE – Masyarakat Malang Raya perlu tahu, bahwa ada komunitas bernama Malang Sound Community (MSC). Seperti namanya, komunitas ini mewadahi pelaku dan pengusaha di bidang industri sound system di seluruh Malang Raya.

Ketua MSC, Zam Zam Damayanto mengatakan, masyarakat selama ini mungkin belum tahu, pelaku industri sound system ini jumlahnya sudah ratusan. Dengan adanya MSC, mereka bisa berkumpul dan sharing informasi.

“Khusus yang bergabung di MSC kan jadi bisa connect satu sama lain. Sharing informasi,” ujarnya saat ditemui MVoice.

Anggota MSC ada ratusan. (Anja)

Selain itu, keberadaan MSC diharapkan mampu mempererat tali silaturahmi antar audio profesional se-Malang Raya. Komunitas ini memang baru dibentuk 22 Mei 2017 silam, namun baru sempat didaklarasikan sekarang, Rabu (20/12/2017) mengingat MSC ingin terlebih dahulu memantapkan program-program rutin.

“Program kami ada yang program pengembangan SDM anggotanya di bidang sound system. Lalu kegiatan sosial juga. Macam-macam kegiatan kita coba laksanakan sebulan sekali. Yang pasti ada kumpul rutin,” pungkasnya.

Zam-zam berharap, MSC dapat membawa kontribusi positif untuk Malang Raya kedepannya.

“Semoga bisa mewujudkan dunia audio profesional yang semakin berkualitas di Malang Raya,” harapnya optimis.(Der/Aka)

#PahlawanDigital​ ​Bantu UKM Malang Kenal Dunia Digital

Peserta #PahlawanDigital berfoto bersama. (Istimewa)
Peserta #PahlawanDigital berfoto bersama. (Istimewa)

MALANGVOICE – Sedikitnya 50 peserta yang berhasil terjaring dalam #PahlawanDigital akan bertugas membantu usaha kecil dan menengah (UKM). Semua peserta ini dikelompokkan menjadi buzzer, yang akan membantu pelaku UKM sebagai digital marketer; dan crafter, yang akan melakukan proses rebranding dan pengemasan.

Sebelum nantinya mereka melaksanakan tugasnya, #PahlawanDigital terlebih dahulu mengenalkan para peserta dengan para UKM di kota Malang untuk belajar banyak menjadi penguasaha dalam kegiatan bertajuk Wisata UKM. Dalam kegiatan ini, #PahlawanDigital
menggandeng Amazing Malang Raya (AMR) yang dikenal sebagai paguyuban terbesar di Kota Malang. AMR merekomendasikan beberapa UKM-nya untuk dikunjungi oleh peserta #PahlawanDigital, Minggu (15/10).

UKM yang dikunjungi seperti Omah Daster Bordir Khas Malang dan Nanda Collection. Omah Daster Bordir Khas Malang merupakan UKM yang fokus memproduksi aneka daster dengan sentuhan bordir. Tak main-main, pelanggan daster bordir Eva adalah kalangan pejabat Republik Indonesia (RI). Sedangkan Nanda Collection merupakan UKM yang bergerak di bidang kerajinan tangan dengan bahan dasar kain. Nanda Collection tercatat telah mengikuti berbagai ajang pameran bertaraf nasional dan internasional.

Berbincang soal kendala yang dihadapi pelaku UKM. (Istimewa)
Berbincang soal kendala yang dihadapi pelaku UKM. (Istimewa)

“Wisata UKM ini bertujuan untuk menumbuhkan semangat berwirausaha anak muda agar setelah lulus kuliah mereka dapat menjadi wirausaha dan membuka lapangan pekerjaan untuk orang lain. Kegiatan ini juga diharapkan dapat meningkatkan empati anak muda
terhadap pelaku UKM. Ternyata untuk terjun ke dunia UKM itu diperlukan mental, konsistensi dan persintensi yang kuat,” papar Kepala Hubungan Masyarat PT Beon
Intermedia dan #PahlawanDigital, Rizky Kurniawan Suhyar.

Selain itu, Ketua paguyuban AMR, Nanang Sugeng sangat mengapresiasi kegiatan yang baru dilaksanakan sekali oleh #PahlawanDigital ini.

“Kami sangat senang jika banyak anak muda yang tertarik belajar berwirausaha. Kami di sini memfasilitasi para peserta #PahlawanDigital agar mereka tahu semakin banyak tentang seluk beluk UKM,” tukasnya.

Salah seorang peserta, Septhian Cahya Nugraha, mengaku senang karena mendapat kesenpatan berinteraksi dengan banyak pelaku UKM. Menurutnya UKM di Malang punya potensi yang luar biasa. Akan lebih luar biasa jika pelaku UKM diakrabkan dengan dunia digital.(Der/Ak)

Mengintip Kampung Sinau di Pinggiran Kota Malang

Kampung Sinau dalam berbagai kegiatan yang dilakukan.(Ist)

MALANGVOICE – Anak-anak terlihat serius mendengarkan pelajaran bahasa Indonesia yang dipandu seorang pengajar. Suasana mendung tak menyurutkan antusias anak-anak mulai taman kanak-kanak hingga sekolah dasar.

Dengan telaten dan ulet, volunteer yang juga Ketua Kampung Sinau ini mengajari anak-anak. Dibantu beberapa mahasiswa/i dari berbagai kampus ternama di Malang. Di antaranya Universitas Brawijaya (UB), Universitas Negeri Malang (UM), Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), hingga Universitas Machung.

Dia tidak lain adalah M Syamsu rofiqi Ahsan Aka. Ia diberi tanggung jawab mengelola Kampung Sinau yang didirikan sahabatnya, Toha Mansur Al Badawi, pada 2015 silam. Kampung Sinau sendiri berada di Kelurahan Cemorokandang, Kecamatan Kedung Kandang, Kota Malang. Tepatnya di RT 04 RW 04.

Kampung Sinau dalam berbagai kegiatan yang dilakukan.(Ist)

Selain tempat belajar bagi anak-anak TK sampai SMA. Juga tersedia perpustakaan yang satu kompleks dengan musala. Untuk perpustakaan sendiri bisa diakses semua kalangan masyarakat.

“Tidak hanya anak sekolah, tapi warga juga dipersilakan. Terbuka selama 24 jam,” kara Ricky Shu sapaan akrabnya.

Jumlah buku yang tersedia pun beranekaragam. Namun, kata Ricky, warga sekitar lebih suka membaca buku-buku seputar Agronomi.

Dalam waktu dekat, Kampung Sinau akan mendirikan perpustakaan di RT 03 RW 04. Tujuannya tidak lain supaya masyarakat nantinya gemar membaca dan mendekatkan perpustakaan ke masyarakat. Perpustakaan yang didirikan Kampung Sinau tergabung dalam Forum Komunikasi Taman Baca Malang.

Komunitas Ini Lebih Suka Kalau Sepedanya Karatan

Komunitas Sepeda Onthel. (Anja Arowana)

MALANGVOICE – Jumlah penggemar sepeda onthel terus membengkak. Di Malang, penggemar sepeda onthel atau lebih dikenal sepeda kebo ini tergabung dalam Komunitas Onthel Lawas Independent (OLI) Malang.

Komunitas OLI sudah berdiri selama 3 generasi atau kurang lebih 30 tahun. Setidaknya ada 30 anggota yang aktif di komunitas. Mereka memiliki kesamaan, seperti hobi, cinta, solidaritas, kebersamaan, kepedulian, dan keinginan dalam melestarikan budaya bersepeda.

“Komunitas juga tidak memandang klasifikasi, strata, atau status sosial, termasuk latar pendidikan dan pekerjaan,” kata salah seorang anggota, Sugiandi kepada MVoice, Minggu (27/6)

Dia mengatakan onthel yang punya nama lain seperti sepeda unta, sepeda kebo, atau pit pancal, adalah sepeda standar dengan ban ukuran 28 inchi. Ukurannya sama seperti roda becak. Nama onthel sendiri konon berarti kayuh atau gowes.

Soal perawatan sepeda, Sugiandi mengaku perawatan onthel tidak murah. Onderdil sepeda terkadang sulit dicari dan harus beli dari luar negeri.

“Wah ini merawatnya susah,” kata dia.

Menurut Sugiandi, meski sepeda onthel terbuat dari besi dan selalu karatan, justru seharusnya tidak dicat. Karena karat itulah yang menjadi kesan ‘lawas’ atau jadul sepeda onthel.

OLI selalu aktif berpartisipasi dalam kegiatan karnaval di Kota Malang. Tiap minggu, OLI juga selalu bersepeda di Car Free Day Malang. Diskusi-diskusi soal sepeda lawas juga selalu digelar untuk berbagai info soal perawatan sepeda yang dulunya diproduksi di Belanda ini.(Der/Yei)

Peduli Sosial, Lawang Rescue Ajak Anak Punk Belajar Isyarat

Sejumlah anak punk mengikuti pelatihan bahasa isyarat. (Istimewa)

MALANGVOICE – Belasan anak-anak punk anggota Lawang Street Punk Minggu (13/8) berbaur dengan masyarakat lainnya mengikuti pelatihan bahasa isyarat Indonesia (Bisindo) di Agrowisata Petik Madu Lawang. Pelatihan yang diadakan Lawang Rescue ini bekerjasama dengan Gerakan untuk Kesejahteraan Tunarungu Indonesia (Gerkatin), komunitas disabilitas Lingkar Sosial (LINKSOS) dan Forum Malang Inklusi (FOMI).

Pelatihan ini bertujuan menyebar bahasa isyarat serta mengapresiasi kepedulian warga punk terhadap lingkungan dan sosial. “Anak punk yang selama ini dianggap sampah oleh sebagian masyarakat sebenarnya sama seperti warga negara lainnya yang memiliki kepedulian terhadap sosial dan lingkungan,” kata Ketua Lawang Rescue, Cussy, yang selama ini mendampingi anak-anak jalanan atau dikenal sebutan punk dengan berbagai kegiatan sosial.

Menurut Cussy, pengembangan dan peningkatan sumber daya manusia anak-anak punk merupakan keterampilan dan bekal mereka agar bisa diterima masyarakat.

“Kami memiliki tim SAR untuk penanganan bencana alam, yang kedepan kami akan fokus membantu warga disabilitas ketika bencana, oleh karena itu pelajaran bahasa isyarat ini sangat penting untuk menghapus hambatan komunikasi dengan difabel utamanya tuli,” kata Cussy.

Forum Malang Inklusi (FOMI) sebagai wadah llntas organisasi penyandang disabilitas, sosial dan kemanusiaan di Malang Raya dalam kegiatan ini berperan menfasilitasi hubungan kerjasama antar pihak untuk mengkampanyekan hak-hak disabilitas termasuk aksesibilitas warga tuli. Mendukung sepenuhnya kegiatan Lawang Rescue dan lintas organisasi lainnya yang menaruh kepedulian terhadap masalah disabilitas.

Terkait tuli ketersediaan fasilitas isyarat memang masih minim dinikmati oleh penyandang disabilitas tuna rungu, seperti ketersediaan running tex di loket, bahasa isyarat di acara televisi juga sekolah inklusi. Hal ini mengakibatkan tuli mengalami hambatan komunikasi, ketinggalan informasi dan keterbelakangan sosial.

Belum lagi stigma atau pandangan negatif masyarakat yang sebagian menganggap tuli adalah aib. Mereka malu dan mengisolasi anggota keluarganya yang mengalami tuli dari pergaulan sosial.

Pelayanan yang berbeda pada warga negara yang mengalami tuli dan perlakuan masyarakat ini mestinya tak boleh terjadi, atas dasar hak azasi manusia dan amanah UU RI no 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas. Terkait aksesibilitas atau kemudahan bagi penyandang disabilitas dalam menggunakan fasilitas umum pun telah diatur dalam Permen PU Nomor 30 Tahun 2006.

Upaya menghapus stigma dan diskriminasi pun terus menerus dilakukan terutama oleh para penggiat komunitas tuli. Di Malang Raya lintas komunitas tuli Gerakan untuk Kesejahteraan Tunarungu Indonesia (Gerkatin), Aksi Arek Tuli (Akar Tuli) dan Shining Tuli Kota Batu, memanfaatkan momen Car Free Day (CFD) untuk pelatihan bahasa isyarat gratis bagi masyarakat yang berminat.

Yang menggembirakan animo masyarakat untuk peduli terhadap warga tuli juga meningkat, hal ini ditandai dengan adanya beberapa kelas bahasa isyarat yang dikelola secara gratis di beberapa tempat. Seperti di Lawang Kabupaten Malang, Lingkar Sosial (LINKSOS) bekerjasama dengan lintas komunitas tuli membuat kelas bahasa isyarat secara rutin setiap bulannya secara gratis.

Kemudian di Sumbermanjing Kulon tepatnya di SD Muhamadiyah 10, kelas bahasa isyarat dibuka oleh Program 1000 Sepatu untuk Anak Indonesia bersama Gerkatin Malang selama satu bulan setiap hari Sabtu. Kelas ini diikuti oleh dua anak siswa tuli bersama orangtuanya, guru kelas, anggota komite dan kepala sekolah. Serta pelatihan bahasa isyarat Lawang Rescue bersama Lawang Street Punk yang kedepan berlanjut membangun kerjasama untuk pengurangan resiko bencana bagi penyandang disabilitas.


Reporter: Muhammad Choirul Anwar
Editor: Muhammad Choirul Anwar
Publisher: Yuliani Eka Indriastuti

Semula Iseng, Kini Gubuk Tulis Usung Misi Membumikan Budaya Baca dan Tulis

Tebar baca Gubuk Tulis di Taman Singha Merjosari. Kegiatan tersebut diharapkan menjadi stimulus bagi masyarakat agar gemar membaca.(Gubuk Tulis for Mvoice)

MALANGVOICE – Gubuk Tulis. Ya dua kata yang mungkin tak asing lagi dalam kurun 1,5 tahun belakangan. Komunitas Gubuk Tulis dicetuskan Februari 2016 lalu. Al Muiz Liddinillah dan Viki Maulana, sebagai pioner berdirinya komunitas ini.

Berlatar sebagai aktivis mahasiswa, keduanya prihatin atas pesatnya perkembangan media online dan media sosial. Terbesit di benak mereka untuk menggalakkan literasi media, sebagai penyeimbang derasnya informasi dan konten-konten yang dinilai kurang mendidik.

Mereka lantas membuat website sebagai wadah tulisan baik sumbangan dari kolega dan berbagai kalangan. Kegiatan berupa jagongan dari warung kopi ke warung kopi menjadi tradisi dan rutinitas Gubuk Tulis. Mulai diskusi seputar gender hingga isu-isu yang sedang hangat. Tak sedikit yang ikut nimbrung setiap acara Gubuk Tulis.

“Tema diskusi variatif. Tidak hanya soal gender saja,” kata Muiz, saat ditemui MVoice, di Warung Kopi Oase, dua pekan lalu.

Muiz dan Viki lebih dulu menghiasi website dengan tulisannya-sebagai pemantik penulis lain untuk menuangkan idenya. Menodong kolega dan kerabat agar menyumbangkan tulisan kerap dilakukan. Hingga akhir 2016, lebih 150 kontributor menyumbangkan tulisan ke Gubuk Tulis. Isu yang ditulis pun beragam, dikemas dengan sederhana dan mudah dimengerti, baik berupa opini maupun agenda literasi.

Selain jagongan, Gubuk Tulis juga melayani peminjaman buku bagi yang membutuhkan. Buku-buku yang terkumpul semula merupakan koleksi pribadi beberapa pegiat Gubuk Tulis, sebelum ada hibah dari para donatur. Koleksi buku saat ini tidak sekadar soal sosial, politik dan agama, tetapi juga ada buku bacaan buat anak sekolah.

Nama Gubuk Tulis sendiri dipilih karena lebih cocok sebagai wadah bagi penulis pemula dan tempat kumpul. Muiz mengakui apabila tidak ada kata terlambat dalam menulis. Menuangkan ide dan gagasan menjadi sebuah tulisan merupakan kegemaran sederhana yang bisa dilakukan siapapun. Orang merasa sulit dan takut menulis karena tidak terbiasa dan belum melakukan.

“Tidak ada kata menakutkan dalam belajar menulis. Buku kan identik dengan sederhana,” ungkapnya.

Gubuk Tulis aktif melakukan tebar baca atau buka lapak baca buku gratis di ruang publik, seperti di Taman Singha Merjosari. Kegiatan ini berlangsung massif hingga sekarang. Tebar baca dilakukan mulai pukul 15.00 WIB hingga pukul 17.00 WIB, satu minggu sekali. Khusus Bulan Ramadhan, tebar baca berlangsung hampir setiap hari.

Lambat laun antusiasme masyarakat meningkat drastis. Anak-anak sekolah yang biasanya sekadar bermain di taman pun mulai melirik buku-buku yang disediakan Gubuk Tulis.”Dulu buku-bukunya cocok ke mahasiswa, belum ada buku bacaan buat anak-anak. Sekarang, paling banyak anak-anak sekolah,” katanya.

Ia bersama pegiat Gubuk Tulis memiliki misi membumikan budaya membaca dan menulis di Indonesia. Berat memang, tapi, kata Muiz, harus dicoba dan dilakukan secara bersama-sama. Rendahnya minat membaca dan menulis menjadi masalah akut saat ini.

Sebagai mahasiswa akhir, Muiz dan Viki serta pegiat Gubuk Tulis lain merasa daya baca dan menulis mahasiswa masih rendah. Lantas bagaimana dengan masyarakat pada umumnya, jika mahasiswa saja enggan membaca, menulis dan melakukan riset!

Ditambah, kemajuan teknologi yang mendorong masyarakat, terutama kalangan pemuda lebih enjoy memainkan gadget, baik itu ngegame, maupun sekadar update status di media sosial. Pemandangan lazim ini bisa ditemui hampir di warung kopi. Hampir disetiap sudut warung kopi dipadati kalangan mahasiswa.

Ia mengistilahkan bahwa jagongan yang dikemas diskusi sebagai vitamin dan menulis adalah gizinya. Jagongan dengan safari dari warung kopi ke warung sengaja dilakukan untuk menebar virus literasi.

“Mimpi kami, setiap warung kopi di Malang nantinya diisi dengan hal positif, salah satunya disediakan buku bacaan. Seperti yang kami lakukan di Warung Oase. Selain tempat nongkrong, juga diisi dengan kegiatan keilmuan,”

Sambil berjalan, Gubuk Tulis terus berbenah dan merangkai kegiatan yang diharapkan bisa memikat hati mahasiswa dan masyarakat umum. Lahirlah kelas filsafat- filsafat jawa, gubuk justice dan ke depan akan ada kelas menulis.

Kegiatan yang dibuat Gubuk Tulis lebih pada penajaman wacana dan keilmuan, berbeda dengan yang diterima mahasiswa di kampus. Dengan harapan, mahasiswa kembali pada jati dirinya sebagai agen of change, agen of control dan perubahan.

“Untuk merangsang wacana mahasiswa, jangan hanya tahu berkoar-koar, tapi jarang baca dan menulis,” bebernya.

Senada dengan Muiz, Viki Maulana, mengutarakan bahwa lahirnya Gubuk Tulis tidak lepas dari kegelisahan pribadi. Pasang surut perjalanan Gubuk Tulis terekam jelas dibenaknya. Namun, berkat komitmen dan kerja keras semua pihak, Gubuk Tulis tetap eksis sampai sekarang.

Tidak sedikit yang mencibir keberadaan Gubuk Tulis. Mulai dari tudingan sekadar untuk sensasi semata, menilai keberadaan Gubuk Tulis tak akan bertahan lama sampai dipandang sebelah mata.

Awal kelahiran Gubuk Tulis, tambah Viki, butuh semangat berlipat dalam mengajak berbagai kalangan agar menyumbangkan tulisannya-tanpa sedikitpun iming-iming pamrih bagi penulis.

“Semula iseng aja. Tapi, peminatnya semakin banyak. Makanya kami niatkan untuk terus menebar virus literasi media di masyarakat melalui berbagai kegiatan yang kami sajikan,” pungkasnya.


Reporter: Miski
Editor: Deny Rahmawan
Publisher: Yunus Zakaria

Komunitas