Wong Ngalam Perlu Tahu, Ini Dia Komunitas Malang Sound Community

Deklarasi MSC malam ini. (Anja)

MALANGVOICE – Masyarakat Malang Raya perlu tahu, bahwa ada komunitas bernama Malang Sound Community (MSC). Seperti namanya, komunitas ini mewadahi pelaku dan pengusaha di bidang industri sound system di seluruh Malang Raya.

Ketua MSC, Zam Zam Damayanto mengatakan, masyarakat selama ini mungkin belum tahu, pelaku industri sound system ini jumlahnya sudah ratusan. Dengan adanya MSC, mereka bisa berkumpul dan sharing informasi.

“Khusus yang bergabung di MSC kan jadi bisa connect satu sama lain. Sharing informasi,” ujarnya saat ditemui MVoice.

Anggota MSC ada ratusan. (Anja)

Selain itu, keberadaan MSC diharapkan mampu mempererat tali silaturahmi antar audio profesional se-Malang Raya. Komunitas ini memang baru dibentuk 22 Mei 2017 silam, namun baru sempat didaklarasikan sekarang, Rabu (20/12/2017) mengingat MSC ingin terlebih dahulu memantapkan program-program rutin.

“Program kami ada yang program pengembangan SDM anggotanya di bidang sound system. Lalu kegiatan sosial juga. Macam-macam kegiatan kita coba laksanakan sebulan sekali. Yang pasti ada kumpul rutin,” pungkasnya.

Zam-zam berharap, MSC dapat membawa kontribusi positif untuk Malang Raya kedepannya.

“Semoga bisa mewujudkan dunia audio profesional yang semakin berkualitas di Malang Raya,” harapnya optimis.(Der/Aka)

#PahlawanDigital​ ​Bantu UKM Malang Kenal Dunia Digital

Peserta #PahlawanDigital berfoto bersama. (Istimewa)
Peserta #PahlawanDigital berfoto bersama. (Istimewa)

MALANGVOICE – Sedikitnya 50 peserta yang berhasil terjaring dalam #PahlawanDigital akan bertugas membantu usaha kecil dan menengah (UKM). Semua peserta ini dikelompokkan menjadi buzzer, yang akan membantu pelaku UKM sebagai digital marketer; dan crafter, yang akan melakukan proses rebranding dan pengemasan.

Sebelum nantinya mereka melaksanakan tugasnya, #PahlawanDigital terlebih dahulu mengenalkan para peserta dengan para UKM di kota Malang untuk belajar banyak menjadi penguasaha dalam kegiatan bertajuk Wisata UKM. Dalam kegiatan ini, #PahlawanDigital
menggandeng Amazing Malang Raya (AMR) yang dikenal sebagai paguyuban terbesar di Kota Malang. AMR merekomendasikan beberapa UKM-nya untuk dikunjungi oleh peserta #PahlawanDigital, Minggu (15/10).

UKM yang dikunjungi seperti Omah Daster Bordir Khas Malang dan Nanda Collection. Omah Daster Bordir Khas Malang merupakan UKM yang fokus memproduksi aneka daster dengan sentuhan bordir. Tak main-main, pelanggan daster bordir Eva adalah kalangan pejabat Republik Indonesia (RI). Sedangkan Nanda Collection merupakan UKM yang bergerak di bidang kerajinan tangan dengan bahan dasar kain. Nanda Collection tercatat telah mengikuti berbagai ajang pameran bertaraf nasional dan internasional.

Berbincang soal kendala yang dihadapi pelaku UKM. (Istimewa)
Berbincang soal kendala yang dihadapi pelaku UKM. (Istimewa)

“Wisata UKM ini bertujuan untuk menumbuhkan semangat berwirausaha anak muda agar setelah lulus kuliah mereka dapat menjadi wirausaha dan membuka lapangan pekerjaan untuk orang lain. Kegiatan ini juga diharapkan dapat meningkatkan empati anak muda
terhadap pelaku UKM. Ternyata untuk terjun ke dunia UKM itu diperlukan mental, konsistensi dan persintensi yang kuat,” papar Kepala Hubungan Masyarat PT Beon
Intermedia dan #PahlawanDigital, Rizky Kurniawan Suhyar.

Selain itu, Ketua paguyuban AMR, Nanang Sugeng sangat mengapresiasi kegiatan yang baru dilaksanakan sekali oleh #PahlawanDigital ini.

“Kami sangat senang jika banyak anak muda yang tertarik belajar berwirausaha. Kami di sini memfasilitasi para peserta #PahlawanDigital agar mereka tahu semakin banyak tentang seluk beluk UKM,” tukasnya.

Salah seorang peserta, Septhian Cahya Nugraha, mengaku senang karena mendapat kesenpatan berinteraksi dengan banyak pelaku UKM. Menurutnya UKM di Malang punya potensi yang luar biasa. Akan lebih luar biasa jika pelaku UKM diakrabkan dengan dunia digital.(Der/Ak)

Mengintip Kampung Sinau di Pinggiran Kota Malang

Kampung Sinau dalam berbagai kegiatan yang dilakukan.(Ist)

MALANGVOICE – Anak-anak terlihat serius mendengarkan pelajaran bahasa Indonesia yang dipandu seorang pengajar. Suasana mendung tak menyurutkan antusias anak-anak mulai taman kanak-kanak hingga sekolah dasar.

Dengan telaten dan ulet, volunteer yang juga Ketua Kampung Sinau ini mengajari anak-anak. Dibantu beberapa mahasiswa/i dari berbagai kampus ternama di Malang. Di antaranya Universitas Brawijaya (UB), Universitas Negeri Malang (UM), Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), hingga Universitas Machung.

Dia tidak lain adalah M Syamsu rofiqi Ahsan Aka. Ia diberi tanggung jawab mengelola Kampung Sinau yang didirikan sahabatnya, Toha Mansur Al Badawi, pada 2015 silam. Kampung Sinau sendiri berada di Kelurahan Cemorokandang, Kecamatan Kedung Kandang, Kota Malang. Tepatnya di RT 04 RW 04.

Kampung Sinau dalam berbagai kegiatan yang dilakukan.(Ist)

Selain tempat belajar bagi anak-anak TK sampai SMA. Juga tersedia perpustakaan yang satu kompleks dengan musala. Untuk perpustakaan sendiri bisa diakses semua kalangan masyarakat.

“Tidak hanya anak sekolah, tapi warga juga dipersilakan. Terbuka selama 24 jam,” kara Ricky Shu sapaan akrabnya.

Jumlah buku yang tersedia pun beranekaragam. Namun, kata Ricky, warga sekitar lebih suka membaca buku-buku seputar Agronomi.

Dalam waktu dekat, Kampung Sinau akan mendirikan perpustakaan di RT 03 RW 04. Tujuannya tidak lain supaya masyarakat nantinya gemar membaca dan mendekatkan perpustakaan ke masyarakat. Perpustakaan yang didirikan Kampung Sinau tergabung dalam Forum Komunikasi Taman Baca Malang.

Komunitas Ini Lebih Suka Kalau Sepedanya Karatan

Komunitas Sepeda Onthel. (Anja Arowana)

MALANGVOICE – Jumlah penggemar sepeda onthel terus membengkak. Di Malang, penggemar sepeda onthel atau lebih dikenal sepeda kebo ini tergabung dalam Komunitas Onthel Lawas Independent (OLI) Malang.

Komunitas OLI sudah berdiri selama 3 generasi atau kurang lebih 30 tahun. Setidaknya ada 30 anggota yang aktif di komunitas. Mereka memiliki kesamaan, seperti hobi, cinta, solidaritas, kebersamaan, kepedulian, dan keinginan dalam melestarikan budaya bersepeda.

“Komunitas juga tidak memandang klasifikasi, strata, atau status sosial, termasuk latar pendidikan dan pekerjaan,” kata salah seorang anggota, Sugiandi kepada MVoice, Minggu (27/6)

Dia mengatakan onthel yang punya nama lain seperti sepeda unta, sepeda kebo, atau pit pancal, adalah sepeda standar dengan ban ukuran 28 inchi. Ukurannya sama seperti roda becak. Nama onthel sendiri konon berarti kayuh atau gowes.

Soal perawatan sepeda, Sugiandi mengaku perawatan onthel tidak murah. Onderdil sepeda terkadang sulit dicari dan harus beli dari luar negeri.

“Wah ini merawatnya susah,” kata dia.

Menurut Sugiandi, meski sepeda onthel terbuat dari besi dan selalu karatan, justru seharusnya tidak dicat. Karena karat itulah yang menjadi kesan ‘lawas’ atau jadul sepeda onthel.

OLI selalu aktif berpartisipasi dalam kegiatan karnaval di Kota Malang. Tiap minggu, OLI juga selalu bersepeda di Car Free Day Malang. Diskusi-diskusi soal sepeda lawas juga selalu digelar untuk berbagai info soal perawatan sepeda yang dulunya diproduksi di Belanda ini.(Der/Yei)

Peduli Sosial, Lawang Rescue Ajak Anak Punk Belajar Isyarat

Sejumlah anak punk mengikuti pelatihan bahasa isyarat. (Istimewa)

MALANGVOICE – Belasan anak-anak punk anggota Lawang Street Punk Minggu (13/8) berbaur dengan masyarakat lainnya mengikuti pelatihan bahasa isyarat Indonesia (Bisindo) di Agrowisata Petik Madu Lawang. Pelatihan yang diadakan Lawang Rescue ini bekerjasama dengan Gerakan untuk Kesejahteraan Tunarungu Indonesia (Gerkatin), komunitas disabilitas Lingkar Sosial (LINKSOS) dan Forum Malang Inklusi (FOMI).

Pelatihan ini bertujuan menyebar bahasa isyarat serta mengapresiasi kepedulian warga punk terhadap lingkungan dan sosial. “Anak punk yang selama ini dianggap sampah oleh sebagian masyarakat sebenarnya sama seperti warga negara lainnya yang memiliki kepedulian terhadap sosial dan lingkungan,” kata Ketua Lawang Rescue, Cussy, yang selama ini mendampingi anak-anak jalanan atau dikenal sebutan punk dengan berbagai kegiatan sosial.

Menurut Cussy, pengembangan dan peningkatan sumber daya manusia anak-anak punk merupakan keterampilan dan bekal mereka agar bisa diterima masyarakat.

“Kami memiliki tim SAR untuk penanganan bencana alam, yang kedepan kami akan fokus membantu warga disabilitas ketika bencana, oleh karena itu pelajaran bahasa isyarat ini sangat penting untuk menghapus hambatan komunikasi dengan difabel utamanya tuli,” kata Cussy.

Forum Malang Inklusi (FOMI) sebagai wadah llntas organisasi penyandang disabilitas, sosial dan kemanusiaan di Malang Raya dalam kegiatan ini berperan menfasilitasi hubungan kerjasama antar pihak untuk mengkampanyekan hak-hak disabilitas termasuk aksesibilitas warga tuli. Mendukung sepenuhnya kegiatan Lawang Rescue dan lintas organisasi lainnya yang menaruh kepedulian terhadap masalah disabilitas.

Terkait tuli ketersediaan fasilitas isyarat memang masih minim dinikmati oleh penyandang disabilitas tuna rungu, seperti ketersediaan running tex di loket, bahasa isyarat di acara televisi juga sekolah inklusi. Hal ini mengakibatkan tuli mengalami hambatan komunikasi, ketinggalan informasi dan keterbelakangan sosial.

Belum lagi stigma atau pandangan negatif masyarakat yang sebagian menganggap tuli adalah aib. Mereka malu dan mengisolasi anggota keluarganya yang mengalami tuli dari pergaulan sosial.

Pelayanan yang berbeda pada warga negara yang mengalami tuli dan perlakuan masyarakat ini mestinya tak boleh terjadi, atas dasar hak azasi manusia dan amanah UU RI no 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas. Terkait aksesibilitas atau kemudahan bagi penyandang disabilitas dalam menggunakan fasilitas umum pun telah diatur dalam Permen PU Nomor 30 Tahun 2006.

Upaya menghapus stigma dan diskriminasi pun terus menerus dilakukan terutama oleh para penggiat komunitas tuli. Di Malang Raya lintas komunitas tuli Gerakan untuk Kesejahteraan Tunarungu Indonesia (Gerkatin), Aksi Arek Tuli (Akar Tuli) dan Shining Tuli Kota Batu, memanfaatkan momen Car Free Day (CFD) untuk pelatihan bahasa isyarat gratis bagi masyarakat yang berminat.

Yang menggembirakan animo masyarakat untuk peduli terhadap warga tuli juga meningkat, hal ini ditandai dengan adanya beberapa kelas bahasa isyarat yang dikelola secara gratis di beberapa tempat. Seperti di Lawang Kabupaten Malang, Lingkar Sosial (LINKSOS) bekerjasama dengan lintas komunitas tuli membuat kelas bahasa isyarat secara rutin setiap bulannya secara gratis.

Kemudian di Sumbermanjing Kulon tepatnya di SD Muhamadiyah 10, kelas bahasa isyarat dibuka oleh Program 1000 Sepatu untuk Anak Indonesia bersama Gerkatin Malang selama satu bulan setiap hari Sabtu. Kelas ini diikuti oleh dua anak siswa tuli bersama orangtuanya, guru kelas, anggota komite dan kepala sekolah. Serta pelatihan bahasa isyarat Lawang Rescue bersama Lawang Street Punk yang kedepan berlanjut membangun kerjasama untuk pengurangan resiko bencana bagi penyandang disabilitas.


Reporter: Muhammad Choirul Anwar
Editor: Muhammad Choirul Anwar
Publisher: Yuliani Eka Indriastuti

Semula Iseng, Kini Gubuk Tulis Usung Misi Membumikan Budaya Baca dan Tulis

Tebar baca Gubuk Tulis di Taman Singha Merjosari. Kegiatan tersebut diharapkan menjadi stimulus bagi masyarakat agar gemar membaca.(Gubuk Tulis for Mvoice)

MALANGVOICE – Gubuk Tulis. Ya dua kata yang mungkin tak asing lagi dalam kurun 1,5 tahun belakangan. Komunitas Gubuk Tulis dicetuskan Februari 2016 lalu. Al Muiz Liddinillah dan Viki Maulana, sebagai pioner berdirinya komunitas ini.

Berlatar sebagai aktivis mahasiswa, keduanya prihatin atas pesatnya perkembangan media online dan media sosial. Terbesit di benak mereka untuk menggalakkan literasi media, sebagai penyeimbang derasnya informasi dan konten-konten yang dinilai kurang mendidik.

Mereka lantas membuat website sebagai wadah tulisan baik sumbangan dari kolega dan berbagai kalangan. Kegiatan berupa jagongan dari warung kopi ke warung kopi menjadi tradisi dan rutinitas Gubuk Tulis. Mulai diskusi seputar gender hingga isu-isu yang sedang hangat. Tak sedikit yang ikut nimbrung setiap acara Gubuk Tulis.

“Tema diskusi variatif. Tidak hanya soal gender saja,” kata Muiz, saat ditemui MVoice, di Warung Kopi Oase, dua pekan lalu.

Muiz dan Viki lebih dulu menghiasi website dengan tulisannya-sebagai pemantik penulis lain untuk menuangkan idenya. Menodong kolega dan kerabat agar menyumbangkan tulisan kerap dilakukan. Hingga akhir 2016, lebih 150 kontributor menyumbangkan tulisan ke Gubuk Tulis. Isu yang ditulis pun beragam, dikemas dengan sederhana dan mudah dimengerti, baik berupa opini maupun agenda literasi.

Selain jagongan, Gubuk Tulis juga melayani peminjaman buku bagi yang membutuhkan. Buku-buku yang terkumpul semula merupakan koleksi pribadi beberapa pegiat Gubuk Tulis, sebelum ada hibah dari para donatur. Koleksi buku saat ini tidak sekadar soal sosial, politik dan agama, tetapi juga ada buku bacaan buat anak sekolah.

Nama Gubuk Tulis sendiri dipilih karena lebih cocok sebagai wadah bagi penulis pemula dan tempat kumpul. Muiz mengakui apabila tidak ada kata terlambat dalam menulis. Menuangkan ide dan gagasan menjadi sebuah tulisan merupakan kegemaran sederhana yang bisa dilakukan siapapun. Orang merasa sulit dan takut menulis karena tidak terbiasa dan belum melakukan.

“Tidak ada kata menakutkan dalam belajar menulis. Buku kan identik dengan sederhana,” ungkapnya.

Gubuk Tulis aktif melakukan tebar baca atau buka lapak baca buku gratis di ruang publik, seperti di Taman Singha Merjosari. Kegiatan ini berlangsung massif hingga sekarang. Tebar baca dilakukan mulai pukul 15.00 WIB hingga pukul 17.00 WIB, satu minggu sekali. Khusus Bulan Ramadhan, tebar baca berlangsung hampir setiap hari.

Lambat laun antusiasme masyarakat meningkat drastis. Anak-anak sekolah yang biasanya sekadar bermain di taman pun mulai melirik buku-buku yang disediakan Gubuk Tulis.”Dulu buku-bukunya cocok ke mahasiswa, belum ada buku bacaan buat anak-anak. Sekarang, paling banyak anak-anak sekolah,” katanya.

Ia bersama pegiat Gubuk Tulis memiliki misi membumikan budaya membaca dan menulis di Indonesia. Berat memang, tapi, kata Muiz, harus dicoba dan dilakukan secara bersama-sama. Rendahnya minat membaca dan menulis menjadi masalah akut saat ini.

Sebagai mahasiswa akhir, Muiz dan Viki serta pegiat Gubuk Tulis lain merasa daya baca dan menulis mahasiswa masih rendah. Lantas bagaimana dengan masyarakat pada umumnya, jika mahasiswa saja enggan membaca, menulis dan melakukan riset!

Ditambah, kemajuan teknologi yang mendorong masyarakat, terutama kalangan pemuda lebih enjoy memainkan gadget, baik itu ngegame, maupun sekadar update status di media sosial. Pemandangan lazim ini bisa ditemui hampir di warung kopi. Hampir disetiap sudut warung kopi dipadati kalangan mahasiswa.

Ia mengistilahkan bahwa jagongan yang dikemas diskusi sebagai vitamin dan menulis adalah gizinya. Jagongan dengan safari dari warung kopi ke warung sengaja dilakukan untuk menebar virus literasi.

“Mimpi kami, setiap warung kopi di Malang nantinya diisi dengan hal positif, salah satunya disediakan buku bacaan. Seperti yang kami lakukan di Warung Oase. Selain tempat nongkrong, juga diisi dengan kegiatan keilmuan,”

Sambil berjalan, Gubuk Tulis terus berbenah dan merangkai kegiatan yang diharapkan bisa memikat hati mahasiswa dan masyarakat umum. Lahirlah kelas filsafat- filsafat jawa, gubuk justice dan ke depan akan ada kelas menulis.

Kegiatan yang dibuat Gubuk Tulis lebih pada penajaman wacana dan keilmuan, berbeda dengan yang diterima mahasiswa di kampus. Dengan harapan, mahasiswa kembali pada jati dirinya sebagai agen of change, agen of control dan perubahan.

“Untuk merangsang wacana mahasiswa, jangan hanya tahu berkoar-koar, tapi jarang baca dan menulis,” bebernya.

Senada dengan Muiz, Viki Maulana, mengutarakan bahwa lahirnya Gubuk Tulis tidak lepas dari kegelisahan pribadi. Pasang surut perjalanan Gubuk Tulis terekam jelas dibenaknya. Namun, berkat komitmen dan kerja keras semua pihak, Gubuk Tulis tetap eksis sampai sekarang.

Tidak sedikit yang mencibir keberadaan Gubuk Tulis. Mulai dari tudingan sekadar untuk sensasi semata, menilai keberadaan Gubuk Tulis tak akan bertahan lama sampai dipandang sebelah mata.

Awal kelahiran Gubuk Tulis, tambah Viki, butuh semangat berlipat dalam mengajak berbagai kalangan agar menyumbangkan tulisannya-tanpa sedikitpun iming-iming pamrih bagi penulis.

“Semula iseng aja. Tapi, peminatnya semakin banyak. Makanya kami niatkan untuk terus menebar virus literasi media di masyarakat melalui berbagai kegiatan yang kami sajikan,” pungkasnya.


Reporter: Miski
Editor: Deny Rahmawan
Publisher: Yunus Zakaria

Harlah ke-77 Gus Dur: Merawat Ingatan, Sebarkan Keberagaman

Tokoh lintas iman saat hadir dalam acara Harlah ke-77 Gus Dur di Desa Sukolilo, Jabung.(Gusdurian for MVoice)

MALANGVOICE – Hari lahir KH Abdurahman Wahid biasanya cukup diperingati segenap keluarga besar. Namun, pada Harlah ke-77 Gus Dur, ada yang istimewa, Gerakan Pemuda Gusdurian (Garuda) Malang terlibat merayakannya.

Uniknya, perayaan Harlah Gus Dur dilangsungkan di desa, tepatnya di Balai Desa Sukolilo, Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang, Minggu (6/8) malam kemarin.

Sejumlah penampilan seperti pembacaan puisi, Musik Karinding, Tari Sufi, Tari Egrang dari Komunitas Anak Alam dan Tari Topeng Malang.

Dengan tema “Dari Desa Kami Bersuara ke-Bhinnekaan dan ke-Indonesiaan”.
Tokoh lintas iman, beberapa komunitas dan masyarakat sekitar larut dalam kegiatan yang berakhir pukul 22.00 WIB.

Koordinator Gusdurian Malang, Ilmi Najib, mengatakan, merawat tradisi sangat penting dan harus dilakukan.

Najib mengingatkan kembali keberadaan semboyan Bhinneka Tunggal Ika, berbeda-beda tapi tetap satu.

“Dari desa, mari bersama-sama kobarkan semangat Kebhinekaan,” katanya, saat berbincang dengan MVoice.

Ia memilih desa karena menilai rasa Kebhinekaan masyarakat masih kurang. Langkah ini sebagai awal untuk mengenalkan arti keberagaman.

Bahkan, masyarakat menyambut baik kegiatan ini. Kehadiran Barongsai menjadi daya tarik dan terbilang langka.

Dikatan Najib, banyak kalangan bersuara lantang akan Pluralisme. Namun, faktanya belum ada gerakan nyata bagaimana inti kebhinekaan dan menyebarluaskan di masyarakat.

“Indonesia tidak jauh dari gerakan dan nilai-nilai yang ditinggalkan Gus Dur. Yakni menjadi Indonesia snagat beragam dan menjaga persatuan,” jelasnya.

“Saya jadi ingat Gus Dur. Adanya beliau, mematikan sekat-sekat kebencian, sekat perbedaan. Dan tiadanya beliau menghidupkan persaudaraan, menghidupkan kerukunan. Semoga apa yang menjadi cita-cita Gus Dur ada dalam diri kita masing-masing,” kata Icroel, perwakilan warga Jabung.

Tradisi dan kebudayaan di Indonesia bermacam-macam. Sehingga, Harlah Gus Dur menjadi momen penting sebagai tempat berkumpul bersama, baik suku, lintas iman dan agama.

“Semuanya untuk kemanusiaan sebagaimana cita-cita Gus Dur,” ungkapnya.

Senada dengan Icroel, salah satu tokoh Konghucu, Bunsu Andon, sebagai warga harus memiliki kesadaran bahwa Indonesia adalah bangsa yang bhinneka. Dibutuhkan kerja keras dalam memperjuangkan bangsa Indonesia. Baginya, kemerdekaan harus dipertahankan sepanjang zaman.

Ditambahkan Ketua GP Ansor Jabung, Gus Azam. Dalam orasi kebangsaannya Gus Azam, mengungkapkan konsep kata ‘Rohmah’ dalam lafadz ‘Basmalah’ yang artinya kewelasan, belas kasih atau rahmat tuhan kepada manusia. Baik pemeluk Agama Islam dan agama lain.

Menurutnya, manusia diciptakan dengan berbagai macam suku dan budaya. Tujuannya ialah saling mengenal satu sama lainnya. Manusia sendiri berasal dari kata ‘Al-Insan’ yang maknanya harmoni.

“Bagaimana manusia bisa mewujudkan Indonesia. Rukun antara yang satu dnegan lainnya. Ada banyak pilihan, namum semuanya tetap memiliki jiwa dan jalan hidup yang sama,” pungkasnya.

Selain Harlah, Gusdurian Malang juga rutin memeringati Haul Gus Dur setiap tahun.


Reporter: Miski
Editor: Deny Rahmawan
Publisher: Yuliani Eka Indriastuti

Komunitas Akar Tuli Malang: Rumah Bagi Penyandang Tuli, Akrabkan Masyarakat dengan Bahasa Isyarat

Komunitas Akar Tuli Malang menjadi rumah bagi penyandang tuli. Mereka berjuang menyebarluaskan bahasa isyarat.(istimewa)

MALANGVOICE – Beberapa orangpemuda menikmati secangkir kopi di sebuah warung kopi di Kota Malang. Sesekali gadget di tangannya dimainkan serta tak luput berswafoto bersama. Deru kendaraan di jalan seakan tak dihiraukan. Di sisi lain, barista sedang meracik kopi untuk disajikan ke pelanggannya.

Sembari menunggu pesanan datang, sekelompok orang datang menghampiri. Sebagian sibuk memarkir kendaraan di tempat parkir. Mereka tidak lain adalah pengurus Komunitas Akar Tuli Malang. Ya, mereka adalah penyandang Tuli, tapi tak pernah malu atas keterbatasannya.

Satu persatu mereka bersalaman dan memilih tempat duduk. Yoga Dirgantara, Angelius Wahyu Utomo, Nur Syamsan Fajrina, Hufani Septaviasari Irnanto, Evangelia Sukmadatu Dewantari Putri, Maulana Aditya, dan Alif Maulana Agung Pribadi. Sesekali canda tawa pecah saat wartawan Malangvoice.com mencoba belajar bahasa isyarat, tapi tak kunjung bisa karena belum terbiasa.

Humas Akar Tuli Malang, Hufani Septaviasari Irnanto, memulai pembicaraan sembari menjadi penerjemah untuk memudahkan komunikasi dengan pengurus Akar Tuli. Komunitas Akar Tuli didirikan karena belum ada komunitas bagi penyandang Tuli di Kota Malang. Fani sendiri sesekali menggunakan alat bantu dengar untuk memudahkan berinteraksi.

Komunitas Akar Tuli berdiri 13 September 2013 lalu. Lima orang menjadi pioner berdirinya komunitas ini. Yakni Nur Syamsan Fajrina, Dina Amalia Fahima, Fikri Muhandis, Muria Najhiul Ulum, dan Safitri Safira. Mereka didampingi seorang voulentir, Vida Riahta, dari Pusat Studi Layanan Disabilitas (PSLD) Universitas Brawijaya.

“Semula, karena teman-teman Tuli sedikit. Makanya dibuatlah komunitas untuk tempat kumpul. Ternyata di Kota Malang teman-teman Tuli cukup banyak,” katanya, dua pekan lalu.

Akar Tuli lantas menjadi wadah bagi penyandang Tuli. Tidak hanya kalangan mahasiswa, juga masyarakat umum. Teman-teman Tuli lebih menemukan jati diri dan merasa dihargai ketika berada di komunitas. Mereka bisa berinteraksi dan mencurahkan isi hatinya antar sesama.

“Awal, memang tidak langsung akrab. Tapi lambat laun mereka mencair. Ya, kayak saudara sendiri,” ujarnya.

Penyandang Tuli tidak hanya dari wilayah Malang. Ada pula dari Jawa Barat dan luar jawa yang menempuh studi di Malang. Bahasa isyarat yang digunakan pun tak semuanya sama, sehingga butuh waktu untuk penyesuaian. Mereka juga sering meluangkan waktu untuk berkumpul dan saling bercerita. Bisa di dalam kampus maupun di taman-taman kota. Yang ikut komunitas juga dari berbagai kalangan, baik karyawan perusahaan, pelajar, dan mahasiswa.

Istilah Tunarungu dianggap berlebihan. Mereka lebih senang dipanggil sebagai Tuli. Alasannya, Tunarungu mengindikasikan orang sakit.”Kami tidak sakit, kami senang dibilang Tuli,” ungkap dia.

Sering Diperlakukan Diskriminasi

Penyandang Tuli masih saja diperlakukan secara diskriminasi. Mereka dipandang sebelah mata di masyarakat umum. Kehadiran mereka dinilai langka dan kerap diolok-olok. Masih banyak masyarakat yang enggan berinteraksi dengan penyandang Tuli. Selain tidak bisa berbicara, mereka juga tidak paham bahasa isyarat.

Mayoritas penyandang Tuli mengalami masa lalu yang kurang bagus. Baik di sekolah maupun di lingkungannya, mereka tidak luput dari bully teman-teman sebayanya. Sebagian bahkan putus asa dan tak mau sekolah. Obrolan tersebut menjadi pembahasan setiap kali ada mahasiswa baru yang Tuli. Curhatan mereka hampir semuanya merata.

“Padahal, kami ini juga mahluk sosial, ciptaan tuhan. Kami sama dengan manusia lain,” ungkap Fani.

Penyandang Tuli mengeluhkan akses publik yang belum ramah disabilitas. Salah satunya di perguruan tinggi. Penyandang Tuli di Universitas Brawijaya terbilang beruntung, karena ada voulentir yang mendampinginya setiap kali mengikuti perkualiahan. Dengan mudah penyandang Tuli memahami materi di dalam kelas.

“Dulu, pemandangan di dalam kelas dianggap aneh. Tapi lambat laun, diterima setelah dijelaskan. Dosen dan mahasiswa lain mengerti jika ada temannya yang Tuli,” beber perempuan yang dulu pernah mendapat perlakukan diskriminasi.

Sosialisasikan Bahasa Isyarat ke Masyarakat

Bahasa isyarat belum sepenuhnya dipahami masyarakat. Sehingga penyandang Tuli dipandang sebelah mata. Namun, perlakuan tersebut tidak direspon balik. Penyandang Tuli justru berusaha keras mensosialisasikan bahasa isyarat di masyarakat agar diterima.

Tujuannya tidak lain supaya penyandang Tuli bisa berkomunikasi dengan masyarakat umum. Semakin banyak masyarakat yang fasih menggunakan bahasa isyarat, semakin baik pula dampak terhadap penyandang Tuli.

Komunitas Akar Tuli beberapa kali turun ke masyarakat, mensosialisasikan bahasa isyarat ketika Car Free Day (CFD) di Jalan Ijen, Kota Malang. Aksi sosialisasi di CFD cukup unik, salah seorang dari mereka memerankan sebagai pantomin yang identik dengan gerakan isyarat. Masuk ke komunitas-komunitas dan Unit Kegiatan Mahasiswa. Selain itu, mereka siap mengajari masyarakat yang ingin belajar bahasa isyarat.

Sistem Isyarat Bahasa Indonesia (SIBI) yang distandarkan di Indonesia dinilai terlalu ribet dan kurang praktis. Pemandangan ini bisa dilihat di TVRI, televisi milik pemerintah yang menyediakan penerjemah bagi penyandang Tuli.

Penyandang Tuli lebih nyaman menggunakan Bahasa Isyarat Indonesia (Bisindo). Selain lebih mudah, juga praktis dan cepat dipahami. Bisindo sendiri lebih menjelaskan huruf yang ingin diucapkan penyandang Tuli.

“Bahasa isyarat lebih pada intinya, menyampaikan apa yang diinginkan langsung pada intinya. Tidak suka bertele-tele, seperti sms gaul gitu,” jelas Fani melanjutkan cerita.

Adanya alat bantu dengar tidak lantas diterima semua penyandang Tuli. Selain harganya yang cukup mahal, juga tidak terbiasa. Penyandang Tuli terbiasa kesunyian sejak lahir, sehingga kaget ketika memakai alat bantu dengar. Ada pula yang menggunakan alat bantu dengar, tapi tidak berfungsi maksimal lantaran intensitas pendengarannya kategori parah.

“Bagi teman-teman, alat bantu dengar berisik. Sukanya kesunyian,” ungkapnya.

Terbatas Secara Fisik, Ukir Prestasi

Kendati dengan kondisi yang terbatas dan kerap mendapat perlakuan kurang menyenangkan dari orang lain. Penyandang Tuli juga patut diacungi jempol. Mereka mampu menorehkan prestasi cemerlang, baik skala regional, nasional hingga internasional.

Penyandang tuli punya bakat yang tak kalah dengan masyarakat umum. Meski tidak bisa berbicara dan tidak bisa mendengar, mereka bisa mengekpresikan bakatnya. Meliputi puisi bahasa isyarat, pantomin, dan teatrikal.

Anggota Komunitas Akar Tuli, Yoga Dirgantara, berhasil menembus kancah internasional. Ia menjadi wakil Indonesia dalam kontes Miss & Mister Deaf International 2014 lalu di Inggris. Meski gagal keluar sebagai yang terbaik, Yoga, merasa bangga bisa mengharumkan nama baik Indonesia. Selain Yoga, anggota Akar Tuli lainnya, Octaviany Wulansari menjadi kandidat Deaf World 2011 lalu di Ceko.

Kontes tahunan ini terbagi tiga kategori, pertama Miss & Mister Deaf International (fokus sosial), Miss & Mister Deaf World (modeling), dan Miss & Mister Deaf Star (unjuk bakat).

“Kami juga punya cita-cita sama untuk mengharumkan nama baik Indonesia,” ungkap pria yang bekerja di sebuah pabrik rokok di Kota Malang.

Yoga dipercaya atasannya untuk menjadi penerjemah bagi penyandang Tuli yang bekerja di perusahaan. Ia merasa beruntung karena di tempat kerjanya, ia bisa diterima dengan senang hati dan belum mendapat perlakuan diskriminasi. ”Selain bahasa isyarat, teman-teman di tempat kerja bisa pakai oral saat berinteraksi dengan yang lain,” akunya.

Ia berharap mendapat tempat yang sama di masyarakat. Perlakuan diskriminasi terhadap penyandang disabilitas tidak terjadi lagi dikemudian hari.


Reporter: Miski
Editor: Deny Rahmawan
Publisher: Yunus Zakaria

Prihatin Kondisi Lingkungan, Kelompok Punk Bersihkan Sungai di Lawang

Anak-anak punk membersihkan sungai di kawasan Lawang, Kabupaten Malang. (Muhammad Choirul)
Anak-anak punk membersihkan sungai di kawasan Lawang, Kabupaten Malang. (Muhammad Choirul)

MALANGVOICE – Ada pemandangan unik di beberapa desa kawasan Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang, Rabu (2/8). Sejumlah titik aliran sungai dikerubungi anak-anak punk.

Mereka tengah sibuk membersihkan sampah di sungai tersebut. Aktivitas itu mereka lakukan bukan karena menjalani hukuman, melainkan lahir dari kesadaran akan pentingnya menjaga lingkungan.

Adalah kelompok Lawang Street Crew dan Lawang Rescue yang menginisiasi kegiatan ini. Momentum kali ini bukan kali pertama, tetapi sudah menjadi kegiatan rutin untuk sambang kali di beberapa desa.

Lawang Street Crew sendiri merupakan perkumpulan anak-anak punk di kawasan Lawang. “Ini merupakan bentuk perlawanan dan pemberontakan kami terhadap budaya masyarakat yang masih belum sadar betapa sangat tidak baiknya perilaku membuang sampah sembarangan, terutama di sungai,” kata Cussy, salah seorang penggagas kegiatan ini.

Tidak hanya bersih sungai, mereka juga membuat peta aliran sungai dan pengamatan penyempitan Daerah Aliran Sungai (DAS) yang suatu saat bisa mengakibatkan banjir dan erosi. Selama ini, masyarakat menganggap punk hanya sebagai perkumpulan yang meresahkan.

“Image ini perlahan akan dijawab dengan bentuk-bentuk kegiatan positif seperti baksos (bakti sosial) dan berkesenian, terutama jaran kepang,” tandasnya.

Selain itu, mereka juga mengikuti pelatihan SAR dan belajar bahasa isyarat. Dalam hal ini, Lawang Rescue lebih banyak membantu dalam bidang teknis dan advokasi serta pengembangan pribadi.

“Ini mengingat potensi tiap personal punk begitu beragam, sehingga semua harus digali untuk dikembangkan,” pungkasnya.


Reporter: Muhammad Choirul Anwar
Editor: Muhammad Choirul Anwar
Publisher: Yunus Zakaria

Kaos Kobong Glow in The Dark, Usung Nilai Kearifan Lokal Banyuwangi

Kaos Bernuansa Kearifan Lokal (istimewa)

MALANGVOICE – Slogan ‘Utamakan Bahasa Indonesia, Lestarikan Bahasa Daerah, Kuasai Bahasa Asing’ rupanya benar-benar diterapkan sekelompok mahasiswa program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).

Pasalnya, kelompok yang terdiri dari lima mahasiswa ini menciptakan kaos bermuatan bahasa dan budaya lokal Banyuwangi sebagai karya ilmiah yang mereka ajukan pada gelaran Pekan Kreativitas Mahasiswa-Kewirausahaan (PKM-K).

Karya yang diberi nama Kaos Beranimasi Muatan Bahasa Osing (Kobong) Glow in the Dark ini menjadi salah satu dari 38 karya PKM UMM yang mengikuti monitoring dan evaluasi (monev) eksternal di Universitas Negeri Malang (UM) (12/7).

Salah satu anggota tim, Robby Cahyadi mengungkapkan karya PKM-K yang dibuatnya bersama tim mendapat apresiasi dari tim peninjau monev. Menurutnya, ini karena sejumlah keunggulan yang dimiliki, yakni bahan kaos yang digunakan berstandar distro, bahasa yang memiliki filosofi, mengangkat budaya lokal, dan tulisan di bagian belakang kaos dapat menyala dalam gelap (glow in the dark).

“Tidak ada pertanyaan yang diajukan untuk Kobong Glow in the Dark, Alhamdulillah. Kita optimis untuk bisa maju ke PIMNAS,” ujar Robby.

Karya ini terbilang unik karena menggabungkan ide desain visual dengan bahasa dan budaya lokal. Bagian depan karya ini adalah gambar-gambar budaya khas Banyuwangi, seperti blangkon atau barong. Menariknya, gambar-gambar ini dikemas dalam bentuk animasi tiga dimensi.

Tulisan Gemelaring yang berarti ‘terus berproses sampai sukses’ menghiasi bagian depan kaos di atas gambar tiga dimensi. Di bagian belakang kaos, terdapat tulisan Using Ngewod Selawase yang berarti bahasa Banyuwangi tidak akan mati selamanya.

“Sasarannya adalah semua usia, baik anak-anak maupun orang lansia, jadi kami buat desain yang bagus untuk semua usia,” imbuh mahasiswa semester empat ini.

Sejauh ini, Kobong glow in the dark sudah dipesan banyak orang. Kaos ini juga sudah bermitra dengan beberapa distro dan agen penjual pakaian di Rembang, Tuban, dan Pasuruan. Berbekal modal 10 juta dari Dikti, kini laba yang dikantongi lima mahasiswa ini mencapai enam juta. Bukan hal mudah untuk membuat karya yang dijual seperti sekarang, mereka butuh hingga lima kali penyempurnaan.

“Kami buat pertama, lalu ada masukan dari pembeli, kami perbaiki lagi, sampai lima kali,” kisah Robby.

Terkait strategi pemasaran, Robby mengaku mereka memanfaatkan semua media sosial, seperti Blackberry Messenger (BBM), whatsapp, line, dana kun Instagram Kobong Glow in the Dark dengan nama @kobong-gemelaring.

Tim ini beranggotakan lima mahasiswa prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, yakni Robby Cahyadi, Rosidi Hadi Siswanto, Rani Rahmawati, Dewi Larasetiani, dan Risnawati. Meski tak semuanya berasal dari Banyuwangi, namun mereka menyiasatinya dengan membuat kamus bahasa Osing untuk mendukung kemampuan mereka mempelajari bahasa Osing, sehingga memperkaya kosakata dalam membuat kaos.


Reporter: Anja Arowana
Editor: Deny Rahmawan
Publisher: Yuliani Eka Indriastuti

Komunitas