Generasi Milenial dan Peristiwa 1965

Penulis Eki Robbi Kusuma

*Pemerhati Sejarah dan Mahasiswa Sejarah Pascasarjana Universitas Negeri Malang*

Peristiwa 1965 merupakan sebuah pembicaraan yang masih sangat sensitif, baik diruang publik maupun akademik. Hegemoni tafsir dan wacana yang begitu kuat menjadi masalah untuk generasi sekarang menemukan perspektif yang komprehensif memandang peristiwa paling berdarah di negeri ini. Tulisan ini tidak akan membahas detail dan masuk dalam perdebatan siapa benar dan siapa salah yang sampai saat ini belum menemukan penyelesaian yang memuaskan, karena akan mengurangi esensi dalam belajar sejarah yakni agar kita bijaksana.

Setiap generasi akan menafsirkan sejarah sesuai jamannya, kata Hegel. Setidaknya pernyataan tersebut dapat dijadikan bahan merenung terkait bagaimana generasi milenial melihat peristiwa 1965. Di tengah gelombang tsunami informasi saat ini, tidak sulit untuk menemukan sumber-sumber baik buku maupun jurnal serta tulisan yang dapat dipertanggungjawabkan isinya yang membahas mengenai peristiwa tersebut.

Persoalannya, apakah generasi milenial yang melek teknologi dan gadget-able setiap hari ini ter-literasi dengan baik? Atau malah iliterasi. Selanjutnya, bagaimana mereka memandang peristiwa 1965 yang notabene merupakan masalah yang multidimensional sehingga untuk menguraikannya membutuhkan energi yang tidak sedikit. Namun, apa urgensinya mempelajari peristiwa tersebut? Lebih umum belajar sejarah.

Budaya Literasi

Hal pertama menyoal literasi, Ane Permatasari menjelaskan perihal literasi dapat diartikan melekteknologi, melek informasi, berpikir kritis, peka terhadap lingkungan, bahkan juga peka terhadap politik. Seorang dikatakan literat jika ia sudah bisa memahami sesuatu karena membaca informasi yang tepat dan melakukan sesuatu berdasarkan pemahamannya terhadap isi bacaan tersebut. Walaupun Literasi memiliki banyak dimensi, dan di tahun 2015 pemerintah sudah mulai mencanangkan Gerakan Literasi Nasional tetapi dalam hal ini berakar pada literasi baca tulis.

Persoalannya kemudian, dipaparkan Surangga sensus Badan Pusat Statistik (BPS) di 2006 menunjukkan 85,9 persen masyarakat memilih menonton televisi daripada mendengarkan radio (40,3 persen) dan membaca koran (23,5 persen). Masyarakat Indonesia belum terbiasa melakukan sesuatu berdasarkan pemahaman dari membaca. Masyarakat Indonesia belum dapat mengaktualisasikan diri melalui tulisan. Membaca dan menulis belum menjadi budaya dan tradisi bangsa Indonesia. Masyarakat lebih familiar dengan media visual (menonton), verbal (lisan) atau mendengar dibandingkan membaca, apalagi menulis.

Permatasari menambahkan UNESCO mencatat indeks minat baca di Indonesia baru mencapai 0,001. Artinya, pada setiap 1.000 orang, hanya ada satu orang yang punya minat membaca. Masyarakat di Indonesia rata-rata membaca nol sampai satu buku per tahun. Kondisi ini lebih rendah dibandingkan penduduk di negara-negara anggota ASEAN, selain Indonesia, yang membaca dua sampai tiga buku dalam setahun. Angka tersebut kian timpang saat disandingkan dengan warga Amerika Serikat yang terbiasa membaca 10-20 buku per tahun. Saat bersamaan, warga Jepang membaca 10-15 buku setahun.

Dengan data tersebut, seharusnya cukup menggambarkan bagaimana budaya literasi pada umumnya masyarakat Indonesia. Minimnya dan mirisnya budaya ini akan menjadi masalah pelik ketika dikaitkan dengan pembelajaran sejarah yang pondasinya adalah membaca. Dengan tingkat budaya literasi yang rendah, tidak dipungkiri jika milenial dalam melihat peristiwa 1965 amat bergantung pada prasangka-prasangka yang berkembang dan pewarisan ingatan generasi sebelumnya.

Milenial dan Peristiwa 1965

Siapa Generasi Millenial ? Ali menjelaskan Setelah perang dunia ke 2, kelompok demografis (cohort) dibedakan menjadi 4 generasi yaitu generasi baby boomer, generasi X (Gen-Xer), generasi millennials dan generasi Z. Generasi baby boomer adalah generasi yang lahir setelah perang dunia kedua (saat ini berusia 51 hingga 70 tahun). Disebut generasi baby boomer karena di era tersebut kelahiran bayi sangat tinggi. Generasi X adalah generasi yang lahir pada tahun 1965 hingga 1980 (saat ini berusia 35 hingga 50 tahun). Generasi millennials adalah generasi yang lahir antara tahun 1981-2000, atau yang saat ini berusia 15 tahun hingga 34 tahun. Generasi Millennials (juga dikenal sebagai Generasi Millenial atau Generasi Y) adalah kelompok demografis setelah Generasi X, sedangkan generasi Z merupakan generasi yang lahir setelah tahun 2000 hingga saat ini.

Jika mengacu pada teori-teori konflik maka millenials sebenarnya masih begitu dekat dengan ingatan peristiwa tersebut karena milenialls dapat dikatakan generasi pertama dari generasi yang mengalami peristiwa 1965. Konflik yang dialami oleh generasi sebelum milenial akan dipersepsikan pada generasi milenial ditambah dengan internalisasi wacana-wacana yang kuat dari rezim yang berkuasa untuk mempertahankan legitimasi. Hanya saja, kedekatan itu tidak seolah-olah membuat milenials benar-benar merasakan, atau menganggap konflik itu benar-benar nyata dan mewariskan konflik tersebut.

Generasi milenial sendiri, jika kita cermati pun dapat dikelompokkan lagi berdasarkan rentang generasi 80-an, 90-an dan mungkin 2000-an. Kategori tersebut hanya untuk memudahkan bagaimana memahami cara pandang milenial terhadap peristiwa 1965. Menurut Ali Generasi Millennial merupakan generasi yang unik, dan berbeda dengan dengan generasi lain. Hal ini banyak dipengaruhi oleh munculnya smartphone, meluasnya internet dan munculnya jejaring sosial media (social media). Ketiga hal tersebut banyak mempengaruhi pola pikir, nilai-nilai dan perilaku yang dianut. Generasi Millenial adalah generasi yang “melek teknologi”. Munculnya teknologi (gadget dan internet), perubahan geografis dan perubahan daya beli secara berlahan tapi pasti telah mengubah perilaku dan nilai nilai yang dianut oleh manusia. Urban middle-class millennials adalah masyarakat yang memiliki perilaku dan nilai-nilai yang unik yang disebabkan oleh melekatnya tiga entitas tersebut. Masyarakat urban middle-class millennials merupakan masyarakat muda terbuka (open minded), individualis, dan masyarakat multikultur sehingga memunculkan budaya-budaya baru

Kata kuncinya ada pada masyarakat muda yang terbuka. Keterbukaan ini adalah pintu masuk untuk melihat peristiwa 1965 secara lebih objektif. Tujuannya tidak lain agar bangsa ini memahami dirinya sendiri dengan mempelajari sejarah bangsanya. Terkhusus peristiwa 1965 yang menjadi genosida politik dan tragedi kemanusiaan paling besar sepanjang sejarah bangsa ini yang masih tertutup kabut.

Iqra Anugrah berpendapat bahwa perlu melihat tragedi 1965 dalam rangkaian kekerasan massal yang lain: genosida di Rwanda, pendudukan dan kelaparan paksa di Timor Leste, pembantaian di Kamboja, dan bahkan holocaust Nazi di Jerman. Dari perspektif tersebut, terang sudah bahwa tragedi 1965 juga merupakan bagian dari sejarah kelam pembantaian di berbagai tempat di dunia – kecuali jikalau orang Kiri dianggap sebagai setengah manusia, binatang, atau seorang jalang.

Walaupun ada upaya-upaya politisisasi kembali terhadap peristiwa tersebut tetapi hal itu malah membawa milenials mencari kebenaran peristiwa-peristiwa tersebut. Jika tidak diarahkan dengan baik maka yang terjadi bisa saja seperti adopsi simbol-simbol nazisme oleh generasi muda. Hitler dan Nazi-isme yang diadopsi sebagai symbol perlawanan terhadap Yahudi saat ini dan kegagahan Jerman sehingga muncul keinginan menirunya tanpa pengetahuan yang mumpuni dalam melihat sejarah.

Tidak terkecuali peristiwa 1965, maukah kita menelusuri kompleksitas sebuah tragedi kemanusiaan yang dilakukakan oleh komponen-komponen masyarakat dan disponsori oleh negara yang skalanya cukup besar dan luas ke berbagai bidang kehidupan. Asvi Warman Adam dalam pidato pengukuhannya sebagai profesor riset di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Kamis pagi 26 Juli 2018 menjelaskan Tiga periode perdebatan historiografi G30S/1965. Periode pertama menurut Asvi meliputi periode perdebatan di seputar siapa dalang peristiwa G30S 1965 yang terjadi pada kurun 1965-1968, periode kedua terjadi penulisan sejarah resmi oleh pemerintah Soeharto yang dimulai sejak 1968 sampai 1998. Pada periode ini pula upaya menghilangkan peran Sukarno dalam sejarah terjadi. Periode ketiga terjadi semenjak berhentinya Soeharto sebagai presiden pada 21 Mei 1998. Asvi menyebut periode ketiga ini sebagai periode pelurusan sejarah.

Awal tahun 2000 ketika Gus Dur menjabat sebagai Presiden pernah mengajukan ide pencabutan Tap MPRS yang melarang Partai Komunis Indoneia (PKI) dan penyebaran Komunisme/ Marxisme/ Leninisme, yakni Tap MPRS No. XXV/MPRS/1966 yang akhirnya menuai protes keras saat itu. Dua alasan pokok atas ide pencabutan Tap MPRS tersebut. Pertama, tidak ada lembaga yang bisa melarang ideologi, karena ideologi berada di dalam pikiran manusia. Kedua, kebenaran sejarah tentang keterlibatan PKI dalam pembunuhan terhadap enam perwira tinggi Angkatan Darat pada tanggal 30 September 1965, sebagaimana diklaim oleh rezim Soeharto (dan sebagaimana secara sosial diyakini sebagai satu-satunya kebenaran), perlu diperiksa ulang. Namun, dari kedua alasan itu, tidak satu pun yang dijadikan sasaran kecaman dalam aksi-aksi protes tersebut. Argumen utama penolakan ide pencabutan Tap MPRS yang melarang PKI dan ajaran komunisme di Indonesia adalah bahwa komunisme bertentangan dengan Pancasila, di mana sila pertama berbunyi “Ketuhanan yang Maha Esa”

Milenial mungkin memiliki budaya literasi yang kurang tetapi keterbukaannya terhadap infomasi akan membawa generasi ini lebih objektif melihat peristiwa 1965. Tidak dapat dipungkiri bahwa perdebatan siapa dalang dibalik peristiwa tersebut masih menjadi perbincangan hangat, tetapi jika dicermati secara holistik tidak ada aktor tunggal dalam peristiwa tersebut. Disamping itu sejarah tidaklah hitam dan putih, setiap kelompok memiliki kecacatannya masing-masing dan sudah seyogyanya tidak memengaruhi keseluruhan sumbangsihnya terhadap bangsa dan negara. Mari membaca, jangan hanya berprasangka.

Wartawan Bermutu atau Tidak, Itu Pilihan

Yunanto

Oleh : Yunanto

Kewartawanan adalah suatu cara terbaik menyampaikan cita-cita. Suatu cara membawa kebenaran pada dunia. Itulah sebabnya saya ingin menjadi wartawan besar. Suatu cara mulia melayani kemanusiaan,” tulis Harold Robin dalam bukunya berjudul 79 Park Avenue.

Buku tersebut ditulis 40-an tahun silam dan laris dipasaran. Harold Robin memang penulis novel dengan banyak penggemar di dunia. Penuturannya sederhana. Struktur tata bahasanya mudah dicerna, enak dibaca. Memikat minat baca khalayak.

Jauh sebelum buku ’79 Park Avenue’ terbit, Thomas Jefferson telah menggemakan peran khas media massa. Pers, menurut Thomas Jefferson, adalah suatu alat memerangi pikiran dari pemikiran dan memperbaikinya secara masuk akal.

Bila dua pandangan tersebut diringkas, ada empat hal ideal bagi seorang wartawan. Rincinya, (1) tiada henti mencari kebenaran, (2) menghadapi zaman yang berubah tak sampai kewalahan, (3) memberikan pelayanan kepada sesama manusia, dan (4) memelihara independen diri secara utuh.

Wejangan Rosihan

Tokoh pers nasional, H. Rosihan Anwar juga menghadirkan wejangan penting, sekitar 60 tahun silam (1959). Nasihat almarhum Eyang Haji Rosihan Anwar saya baca di buku “Lima Tahun Hadiah Adinegoro” (1979).

“Wartawan yang benar dengan sendirinya mempunyai jiwa pencari, akal pemeriksa. Ia (wartawan) ingin mengetahui cukup tentang ilmu pengetahuan untuk memahami Sang Sarjana. Ia ingin tahu cukup tetang ekonomi. Ia juga ingin mengetahui tentang kesenian dan aneka ragam pekerjaan,” tulis Eyang Rosihan.

“Hal yang penting bagi wartawan, gemar membaca buku-buku kesusasteraan besar. Maksudnya, agar ia tahu apa yang telah dipikirkan oleh manusia. Gemar membaca juga membantu untuk memperbaiki gaya bahasa. Ia patut mempelajari bahasa secara baik. Tentulah ia harus juga belajar sejarah guna memahami bangsanya sendiri dan berbagai peristiwa di dunia,” urai sesepuh pers nasional itu.

Eyang Rosihan juga menuliskan pesan, seorang wartawan harus membaca banyak hal dan luas. Ia perlu cepat memilih apa yang harus disaringnya dari apa yang telah dibacanya. Ia harus mempunyai minat dan perhatian yang tiada padam, sebab hanya itulah pedoman paling pasti dari studi yang menguntungkan.

“Adalah vital bagi wartawan untuk mengetahui sesuatu secara baik. Menggali ke dalam suatu masalah untuk menemukan rangkaian hubungan dengan bidang-bidang lain. Hubungan-hubungan itulah mungkin yang paling penting bagi wartawan untuk dimengerti,” demikian nasihat sesepuh pers nasional itu.

Nasihat Eyang Haji Rosihan Anwar jika diringkas, membuahkan syarat wartawan yang baik. Detilnya, (1) penguasaan bahasa, (2) pengetahuan tentang jiwa kemanusiaan, (3) mempunyai pengetahuan yang cukup luas karena gemar membaca, (4) kematangan pikiran, dan (5) ketajaman pikiran atau cerdas.

Pilihan Kita

“We are our choices (Kita adalah pilihan-pilihan kita),” kata Jean-Paul Sartre. Maknanya, kita menjadi seperti yang kita pilih.

Menjadi pemarah atau penyabar adalah pilihan kita. Menjadi terlalu sensitif atau berlapang dada, itu pun karena pilihan kita. Kita mudah tersinggung jika kita memilih untuk mudah tersinggung. Kita bisa selalu penuh maklum jika kita sungguh memilih untuk selalu penuh maklum.

Demikian pula halnya sosok wartawan, andai kita wartawan. Menjadi wartawan bermutu baik adalah pilihan kita. Menjadi wartawan yang cepat berpuas diri pun pilihan kita. Enggan membiasakan diri gemar membaca agar wawasan kian luas juga pilihan kita. Hadir sebagai wartawan “apa adanya” tanpa perduli pada mutu karya jurnalistik, itu pun pilihan kita.

Saya meyakini, tidak harus berpendidikan formal tinggi untuk menjadi wartawan berkualitas prima. Galibnya, tidak harus sarjana. Semua berpulang pada pilihan kita sendiri. Memilih mau terus-menerus belajar tiada henti, atau berhenti belajar. Hanya itu kunci suksesnya jika berkehendak lahir menjadi wartawan kompeten.

Banyak contoh ihwal faktual pendidikan formal dan kompetensi wartawan. Sebut saja Parada Harahap (almarhum). Tamat SD pun tidak, namun ia sukses menjadi wartawan besar dalam tiga zaman. Zaman penjajahan Belanda, zaman penjajahan Jepang, dan zaman Indonesia merdeka.

Luar biasa. Parada Harahap menerbitkan surat kabar sendiri. Memegang manajemen bidang redaksi dan bidang perusahaan, sekaligus. Namun ingat, Pak Parada bukannya tidak belajar. Hanya tidak di dalam ruang kelas, memang.

Sungguh, Pak Parada belajar sendiri (otodidak). Belajar dari buku-buku. Belajar pada para senior. Belajar pula pada masyarakat di eranya. Siang-malam tekun belajar. Diterapkan, dipraktikkan, jatuh-bangun, terus belajar.

Orang heran saat Akademi Wartawan berdiri di Jakarta, 1950. Bermodel kuliah tertulis. Setahun kemudian baru kuliah di dalam ruang kelas. Itulah pendidikan tinggi pertama di Indonesia tentang kewartawanan.

Tambah heran lagi publik, setelah tahu pendiri dan pemimpin Akademi Wartawan itu adalah seorang wartawan yang “dilahirkan”, yaitu Parada Harahap. Ia memberikan kuliah umum perdana saat pembukaan akademi tersebut.

Dua tahun kemudian, tepatnya 5 Desember 1953, akademi yang didirikan Parada Harahap tersebut naik status menjadi Perguruan Tinggi Jurnalistik. Diperkuat sederet tokoh pers nasional era itu sebagai dosen. Mereka, antara lain, Djamaludin Adinegoro dan M. Tabrani, dua tokoh pers alumni publisistik di Jerman.

Perguruan tinggi kewartawanan di Jakarta yang didirikan seorang jebolan SD, Parada Harahap, itu terus berkembang. Berubah nama menjadi Perguruan Tinggi Publisistik, 1960. Enambelas tahun kemudian, 1976, menjadi Sekolah Tinggi Publisistik.

Kisah sukses Parada Harahap saya tulis di ekor artikel ini dengan maksud memotivasi kalangan wartawan muda, jurnalis yunior. Intinya, tidak layak minder, tidak patut malas belajar. Menjadi jurnalis bermutu, wartawan kompeten, sesungguhnya adalah pilihan.

*) Yunanto, alumni Sekolah Tinggi Publisistik – Jakarta; wartawan Harian Sore “Surabaya Post” 1982-2002

‘IMPOR’ GURU SEBAGAI BENTUK PENJAJAH(AN) BARU?

Guru membuat soal USBN. (Anja a)
ilustrasi Guru. (Anja a)

Oleh : Romadhon AS

Pendidikan sebelum dan sesudah Pemilihan Umum (pemilu) selalu menarik perhatian bagi setiap calon baik legislatif maupun eksekutif. Ketertarikan pada dunia pendidikan bukan hanya karena kondisi carut marut pendidikan. Melainkan massa pendidikan ini yang sangat signifikan untuk meraup suara. Berbagai organisasi kependidikan telah menjamur di Republik ini. Tak hanya Persatuan Guru Republik Indonesia (PGR) yang merupakan satu-satunya organisasi profesi guru, namun berbagai ormas keagamaan yang memiliki lembaga pendidikan pun ikut andil menghimpun kekuatan massanya untuk mendirikan organisasi profesi yang sejenis.

Lalu, apakah guru terpecah belah? Hingga kualitas pendidikan kita rendah. Hal ini yang terus menjadi perdebatan dimuka publik baik sebelum pemilu maupun pasca pemilu. Padahal esensi dari keberlangsungan pendidikan tak lain butuh keadilan dan kesejahteraan. Jika keadilan terhadap guru bisa terealisasi dengan regulasi yang tepat, tidak deskriminasi, maka seyogyanya pendidikan berjalan sesuai khittahnya. Menyiapkan generasi cerdas, pembelajaran berkualitas menjadi ekspektasi seluruh stakoholders pendidikan kita. Apakah guru kita tak berkualitas?

Persoalan ini akan terus ‘gurih’ digoreng kapan saja dan dimana saja. Tak seperti ‘gorengan’ atas bencana nasional pasca 17 April 2019 yang telah memakan korban meninggal sekitar 554 orang petugas KPPS (semoga tidak bertambah), belum yang sedang dalam perawatan medis. Tak ada maksud untuk mempolitisasi bencana nasional ini. Dalam pandangan penulis, ini bukan semata pahlawan demokrasi yang kemudian diberikan penghargaan. Namun, dibalik itu mestinya harus diungkap musabab tragedi ini. Karena korban bukan 1, 2 orang saja, melainkan jumlah yang cukup besar dan serentak korbannya adalah petugas KPPS. Sehingga menjadi bahan pertimbangan pelaksanaan pemilu serentak 5 tahun yang akan datang. Pertimbangan itu bisa dari sisi sistem kepemiluan, psikologis petugas, dan sosiologis masyarakat Indonesia dalam menyelenggarakan pemilu.

Fenomena diatas, apa relevansinya dengan kondisi pendidikan kita? Setidaknya, aspek pendidikan akan menjadi pertimbangan dalam seleksi petugas KPPS. Karena petugas yang berkulitas akan menghasilkan kualitas penyelenggaraan yang berintegritas. Bukan berarti penyelenggaraan pemilu kemarin (17/4) tak berhasil. Lagi-lagi semua kegiatan termasuk penyelenggaraan pemilu akan terus dievaluasi agar mendapatkan feedback, rekomendasi atas kegiatan yang akan datang, begitu dan seterusnya.

Pendidikan akan terus dimonitoring dan dievaluasi sejauh mana perjalanan pendidikan di Indonesia. Sehingga akan menghasilkan kualitas yang diharapkan semua pihak. Konon, Tahun 80 – 90 an Indonesia mengirim guru ke Negara tetangga, seperti; Malaysia, Korea, Australia untuk membantu menyiapkan pendidikan yang baik pasca kemerdekaannya. Bahkan pendidikan Indonesia pernah menjadi kiblat bagi pendidikan di beberapa Negara. Karena nilai kearifan lokal yang masih terjaga ditengah arus globalisasi. Ada beberapa tantangan masyarakat globalisasi kedepan. Tak terkecuali dalam dunia pendidikan.

Menurut Ulrich Beck (2000) ada lima yang menimpa masyarakat resiko (risk society) di masa yang akan datang, antara lain; 1) Globalisasi, 2) Individualisme, 3) Revolusi Gender, 4) Pengangguran, 5) Resiko Global karena krisis lingkungan dan moneter. Dari kelima hal tersebut yang telah nampak pada kehidupan kita adalah globalisasi. Dimana pengaruh global telah menimpa diberbagai lini kehidupan. Pendidikan yang juga dipengaruhi globalisasi memberikan pengaruh yang cukup besar. Pengaruh itu dimulai dari aspek pembelajaran. Salah satunya guru dituntut menguasai teknologi. Disamping itu, sekolah tak banyak yang memiliki piranti teknologi yang memadai terutama sekolah pinggiran. Pemerintah terus berharap kualitas pendidikan semakin membaik. Guru menjadi garda terdepan dalam peningkatan kualitas pendidikan. Lalu, untuk meningkatkan kualitas, apakah Indonesia akan ‘mengimpor’ guru dari luar? Seberapa gentingkah kondisi pendidikan kita sehingga mendatangkan guru dari luar? Ataukah guru-guru kita sudah tak mampu menyiapkan pembelajaran berkualitas untuk menghasilkan generasi emas di tahun 2045? Ini pertanyaan yang mesti kita renungkan banyak pihak termasuk para pengambil kebijakan di Negeri ini.

Pertanyaan diatas sering munculnya wacana yang dilontarkan Menteri Pembangunan Manusia dan Kebudayaan RI, Puan Maharani. Puan, sapaan akrab dalam sambutan di Musrenbangnas (10/5) di Jakarta mengatakan “kita ajak guru dari luar negeri untuk mengajarkan ilmu-ilmu yang dibutuhkan di Indonesia” yang dilansir oleh beberapa media online. Pada pernyataan ini, secara eksplisit sudah mulai muncul ketidakpercayaan pemerintah terhadap guru dalam negeri untuk mengajarkan ilmu yang relevan di era kontemporer ini. Padahal apa yang menjadi kebutuhan dalam negeri, tentu yang lebih tahu dan paham adalah Sumber Daya Manusia (SDM) dalam negeri termasuk pemerintah harus bijak dalam melihat persoalan ini (tanpa deskriminatif). Perkembangan ilmu dan teknologi sudah menjadi keniscayaan dalam mengahdapi era Revolusi Industri 4.0 agar bangsa ini terus siap bersaing. Dalam hal bersaing, penulis berpendapat tak harus mendatangkan dari luar apalagi hanya sekedar mengajarkan ilmu-ilmu yang dibutuhkan di Indonesia. Kita perlu optimalisasi guru dalam negeri yang memiliki track record yang baik terutama berbagai bidang prestasi dalam negeri atau luar negeri. Guru yang memiliki prestasi diajak untuk menggembleng guru lainnya (tutor sebaya) dengan anggaran yang telah disiapkan oleh Negara. Ini lebih bijak dari pada harus mendatangkan guru luar negeri dengan biaya yang tinggi. Sementara nasib guru honorer masih belum jelas dan terombang ambing oleh kebijakan politis di Republik ini.

Apa yang menjadi persoalan pendidikan kita, harus dilihat dari hilir hingga hulu. Kebijakan pemerintah harus memperhatikan suara guru tanpa pandang bulu. Karena kebijakan memberikan efek domino pada keberlangsungan pendidikan dan kekuatan guru. Jika yang diharapakan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, adalah melatih guru lokal, adakalanya dilakukan pemetaan terhadap hal apa yang perlu dilatih. Sementara program sertifikasi yang tujuan mulianya meningkatkan kualitas dan profesionalisme telah lama dijalankan. Bahkan sebagai bentuk pengembangan dari sertifikasi muncullah apa yang disebut Pendidikan Profesi Guru (PPG) yang telah banyak dilakukan oleh kampus eks. IKIP.

PPG merupakan kebijakan yang tak lama ini sudah dimulai sebagai pengejawantahan dari pengembangan profesi. Jika PPG diaggap kurang optimal dalam menyiapkan guru yang profesional dan berintegritas. Maka pemerintah perlu merekonstruksi pola penyelenggaraan termasuk Lembaga Pendidik dan Tenaga Kependidikan (LPTK). LPTK yang menjadi kawah candradimuka dalam menyiapkan calon guru yang sesuai kebutuhan zaman harus bebenah diri mulai manajemen hingga pengajar (dosen). Setidaknya dalam hal dosen, harus memiliki kualifikasi tertentu. Misal, minimal doktor kependidikan dan memiliki pengalaman jadi guru yang berprestasi atau sejenisnya. Hal ini sebagai pemicu agar calon guru bisa lebih terpatri memahami seluk beluk profesi keguruan.

Jika dalam hal pendidikan vokasi, sebagaimana yang disampaikan Mendikbud dalam mengafirmasi pernyataan Menteri Puan. Pemerintah bisa menyiapkan sekolah yang minim akses kerjasama dengan Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI). Mengingat, tak semua sekolah di Indonesia memiliki akses itu, terutama sekolah swasta. Untuk itulah pemerintah ambil kebijakan untuk mempercepat pendidikan vokasi menjadi pendidikan pilihan utama dalam menyiapkan generasi siap kerja dengan memfasilitasi dengan berbagai pihak.

Guru sebagai profesi telah banyak mengalami perubahan dalam diri mulai diklat hingga studi banding ke beberapa sekolah baik dalam negeri maupun luar negeri. Ini sebagai wujud keseriusan seorang guru dalam mengembangkan diri. Persoalan yang sering muncul adalah setumpuk administratif yang harus disiapkan guru. Sementara itu, administrasi yang selalu menghantui pekerjaan utama yakni mengajar dan mendidik jauh kalah saing dengan urusan adminitrasi. Apalagi administrasi sebagai syarat dalam penentuan berbagai tunjangan profesi. Ini yang mestinya harus dipangkas oleh pemerintah agar guru lebih mengoptimalkan pengembangan diri baik dalam pembelajaran maupun pengembangan peserta didik.

Sementara memasuki era Bonus Demografi, Romadhon dalam bukunya Hitam Putih Pendidikan (2015: 33-34) mengungkapkan setidaknya ada 4 langkah strategis dalam meningkatkan kualitas pendidikan, antara lain; Pertama, optimalisasi anggaran pendidikan 20% APBN untuk peningkatan kuliatas SDM. Utamanya yang masuk dalam bursa kerja dengan memperbanyak cakupan pendidkan kejuruan dan keterampilan. Kedua, revitalisasi kebijakan pendidikan dunia kerja, guna memenuhi tantangan revolusi industri 4.0 termasuk siap menghadapi pasar bebas asia pasifik yang digagas oleh APEC. Ketiga, pemerataan pendidikan seluruh wilayah Indonesia. Hal ini guna melakukan pemetaan kualitas dan fasilitas yang memadai sebagai penunjang pembelajaran di era revolusi industri 4.0. keempat, penguasaan teknologi bagi seluruh stakeholder. Ini menjadi keniscayaan dalam era yang serba digital. Mau tidak mau, teknologi akan menjadi hal penting dalam pendidikan. ‘Jika ingin menguasai dunia, maka kuasai teknologi’, demikian ungkapan kata bijak.

Lalu, apakah ‘impor’ guru adalah keputusan yang tepat bagi tantangan pendidikan kita. Penulis berpendapat, yang menjadi persoalan bukan pada ‘impor’ guru. Melainkan revitalisasi seluruh komponen adalah hal yang menjadi strategi mendasar dalam peningkatan kualitas. Karena tak semua yang berbau luar negeri adalah hal baik. Indonesia punya nilai kearifan lokal yang sangat mungkin nilai ini akan menjadi keunggulan pendidikan kita. Mengingat, generasi saat ini sedang dijajah dalam tiga hal, yaitu dalam hal pakaian (fashion). Hal ini telah kita ketahui bersama, model pakian kerap kali tak sesuai dengan nilai-nilai ke-Indonesia-an. Hal lainnya seperti makanan (food) dan Hiburan telah menjadi konsumsi generasi saat ini. Padahal rusaknya moral generasi bukan serangan bom bunuh diri atau terorisme melainkan bobroknya moral bangsa yang dimulai dari generasinya.

Untuk itu, sebaiknya pemerintah fokus dalam pembenahan ekosistem pendidikan kita. Mulai dari regulasi, manajemen, SDM, fasilitas, hingga menjamin peserta didik layak mendapatkan layanan pendidikan yang sebagaimana amanah dalam UUD 1945 dengan mengedepankan nilai-nilai kearifan lokal sebagai wujud dari nilai ke-Indonesia-an. Dengan demikian kita telah menjaga marwah pendidikan yang telah diwariskan oleh Ki Hajar Dewantara sebagai Bapak Pendidikan Indonesia. Salam Pendidikan Kita..!

*)Romadhon AS,Staf Pengajar Prodi PGSD Universitas Kanjuruhan Malang dan
Penulis Buku ‘Hitam Putih Pendidikan Kita

Pemilu Dalam Ancaman Hoax

Oleh :
SUGENG WINARNO

Semakin mendekati hari pencoblosan pada 17 April, ancaman hoax semakin menjadi-jadi. Produksi dan distribusi hoax semakin masif menyebar ke masyarakat. Pada masa tenang pun hoax yang berkait pemilu masih saja terjadi. Hoax merasuk lewat beragam platform media sosial. Facebook, Twitter, Instagram, personal blog, portal berita online, dan Youtube menjadi media beredarnya hoax. Aplikasi pertemanan berbasis Android seperti WhatsApp (WA) juga tak steril dari konten hoax. Hoax telah menjadi ancaman yang membahayakan pelaksanaan pilpres 2019.
Hoax adalah informasi atau berita bohong. Karena informasi tak benar, maka kehadiran hoax banyak memicu persoalan serius. Melalui penciptaan hoax, orang atau pihak tertentu bisa mendapat keuntungan. Keutungan menebar hoax bisa bernilai finansial, karena saat ini hoax telah menjadi industri. Di samping itu, kemunculan hoax telah digunakan pihak tertentu sebagai amunisi menyerang dan menjatuhkan lawan.
Sejak munculnya media baru (new media) yang berwujud internet, hoax muncul meracuni semua pengguna internet. Efeknya sangat ampuh. Hoax yang awalnya beredar lewat dunia maya pengaruhnya bisa sampai dunia nyata. Bahkan muncul hoax yang disebarkan langsung ke masyarakat secara door to door. Kini hoax telah menjadi semacam makanan sehari-hari masyarakat. Penetrasi hoax sangat kuat hingga tak jarang orang kesulitan memilah yang hoax dan yang bukan.

Kejamnya Hoax Politik
Menurut data dari Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo), telah terjadi peningkatan kemunculan hoax sejak bulan Agustus 2018. Awalnya pada Agustus 2018 ditemukan 25 hoax dan sepanjang bulan Februari 2019 saja ada sejumlah 353 hoax. Jumlah total hoax periode Agustus 2018 hingga Februari 2019 sebanyak 771 hoax. Dari jumlah total itu sebanyak 181 adalah hoax politik. Hoax yang sengaja dibuat untuk menyerang pasangan calon, partai politik, KPU, Bawaslu, dan beberapa pihak terkait pemilu 2019.
Hoax politik muncul disinyalir digunakan oleh pihak dan pendukung fanatik calon yang sedang ikut berkontestasi. Hoax telah digunakan sebagai salah satu strategi menyerang dan melemahkan kekuatan lawan. Hoax muncul dengan sangat kejam melalui penciptaan pesan-pesan kebohongan tentang keburukan atau kelemahan kandidat tertentu. Upaya pembunuhan karakter melalui hoax sering muncul terutama saat masa kampanye politik berlangsung.
Hoax juga menyerang penyelenggara pemilu. Beberapa kali KPU mendapat serangan hoax. Hoax tentang hasil penghitungan suara pemilu 2019 di luar negeri misalnya. Hoax yang muncul sejak Rabu, (10/4/2019) ini terus menggelinding hingga sekarang. Sebelumnya, KPU juga telah diterpa hoax tentang tujuh kontainer yang telah tercoblos. Setelah dilakukan pembuktian, ternyata berita itu hanya isapan jempol belaka.
Hoax yang menyerang KPU sungguh sangat kejam. Hoax ini bisa berpengaruh serius terhadap kepercayaan masyarakat terhadap pelaksanaan pemilu 2019. Munculnya hoax dengan sasaran KPU berpotensi mendelegitimasi pemilu dan dapat memicu kekacauan. Bisa jadi hoax yang menyerang KPU akan terus terjadi hingga pasca pemungutan suara. Segala hal terkait pelaksanaan pemilu mulai dari proses pencoblosan hingga penghitungan suara bisa saja menjadi materi yang dapat dijadikan hoax.
Kejamnya ibu tiri tak sekejam hoax politik, demikian kiranya untuk menggambarkan dampak dari munculnya hoax. Hoax sengaja dibuat untuk memporakporandakan tatanan pemilu yang demokratis. Hoax juga telah mampu mengusik rasa persatuan dan kesatuan bangsa. Hoax telah muncul sebagai medium adu domba diantara anak bangsa. Hoax telah menjadikan kontestasi politik tak bermartabat, hilang etika, dan musnahnya kesantunan politik.

Melek Media, Melek Politik
Salah satu yang menyebabkan tumbuh suburnya hoax adalah rendahnya tingkat literasi media (media literacy) dan literasi politik (political literacy). Kemampuan melek media dan melek politik ini menjadi satu paket pengetahuan yang urgen dimiliki masyarakat. Hal ini penting mengingat relasi antara media, terutama media sosial dan dunia politik memang sangat erat. Simbiosis antara politik dan media perlu dipahami masyarakat.
Kemampuan mengerti bagaimana politik dan bagaimana praktik media akan sangat membantu masyarakat dalam melawan hoax. Karena tak jarang masyarakat menelak mentah-mentah beragam hoax politik karena pengetahuan mereka tentang politik sangat terbatas. Minimnya pengetahuan masyarakat tentang politik berimbas pada gampangnya masyarakat percaya pada hoax politik.
Senada dengan pentingnya melek politik, pengetahuan tentang melek media juga menjadi keharusan. Masyarakat perlu disadarkan bahwa tak semua yang disajikan media, terutama media sosial itu sebuah kebenaran. Beragam informasi yang beredar di media sosial itu mayoritas tanpa proses verifikasi. Tak jarang informasi di media sosial tak bersumber fakta, hanya sebuah rekaan dan rekayasa sang pencipta hoax.
Disinilah peran media arus utama (mainstream media) sebagai filter atas beragam informasi di masyarakat yang tak jelas kebenarannya. Media massa harus mampu hadir sebagai penjernih informasi (the clearance of information). Munculnya rublik cek fakta (fact check) di beberapa media misalnya, sangat penting sebagai sarana bagi masyarakat untuk mengecek kebenaran informasi yang didapat.
Semua pihak yang terkait pemilu 2019, media massa, media sosial, dan semua masyarakat punya tanggungjawab yang besar untuk menyukseskan pemilu ini. Segala rupa hoax politik harus bisa ditepis dengan kecerdasan dan sikap kritis masyarakat. Kemampuan melek media dan melek politik masyarakat harus terus ditingkatkan. Perlu peran pemerintah, aparat, penyelenggara pemilu, partai politik, akademisi, tokoh masyarakat, para figur publik, dan segenap influencer untuk mengedukasi masyarakat agar menjadi media and political literate.
Badai hoax yang mengiringi proses pemilu 2019 ini semoga segera berlalu. Ancaman dasyatnya badai hoax semoga bisa ditepis oleh semua lapisan masyarakat. Pemilu yang menelan biaya tak kurang dari 25 triliun ini harus sukses menemukan para pemimpin bangsa yang terbaik. Terlampau mahal ongkos yang harus ditanggung bangsa ini kalau pemilu sampai gagal. Semoga semua yang ikut berkontestasi dalam pilpres dan pileg, para simpatisan dan pendukung fanatik mampu menyuguhkan cara-cara yang fair play dalam berkompetisi.
Pesta demokrasi lewat pemilu kali ini semoga mampu membawa kegembiraan bagi semua. Bagi sang kandidat, pendukung setia, maupun masyarakat. Pilihan politik bisa saja berbeda, tetapi yang terpenting, siapapun yang menang sejatinya itu kemenangan seluruh masyarakat Indonesia. Yang menang jangan Jumawa, yang kalah harus legowo.

*) Sugeng Winarno, Pegiat Literasi Media, Dosen Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Muhammadiyah Malang.

Nobar Debat Pamungkas

Oleh : SUGENG WINARNO

Ada fenomena menarik saat debat capres dan cawapres berlangsung. Salah satunya adalah acara nonton bareng (nobar) yang digelar di berbagai tempat. Nobar banyak dilakukan oleh tim sukses dan para relawan masing-masing pasangan. Nobar debat dilakukan di café-café, lapangan, atau beberapa tempat ngumpul, nongkrong, dan ngopi. Ada yang meramu acara nobar dengan analisis para pakar dan dikemas dengan sajian hiburan yang memikat.
Debat putaran terakhir yang berlangsung pada Sabtu, 13 April 2019 merupakan debat terakhir. Masing-masing kandidat mengeluarkan jurus pemungkasnya. Debat yang sekaligus mengakhiri masa kampanye pemilu 2019 mengangkat tema ekonomi, kesejahteraan sosial, keuangan, investasi dan industri. Debat pilpres pamungkas akan dipandu oleh moderator Balques Manisang dan Tomy Ristanto dan disiarkan oleh sejumlah televisi nasional dan beberapa portal online.
Masyarakat penasaran ingin melihat bagaimana para kandidat capres-cawapres menyampaikan gagasanya atas sejumlah isu panas. Persoalan seputar pencapaian bidang ekonomi, gencarnya pembangunan infrastruktur, angka kemiskinan dan kesejahteraan, daya beli masyarakat, lapangan kerja, strategi revolusi industri 4.0, dan sejumlah persoalan bangsa serius lainnya. Adu visi misi, konsep, dan gagasan capres-cawapres menjadi tontonan menarik bagi masyarakat sebelum datang mencoblos pada 17 April mendatang.

Bentuk Partisipasi Politik
Fenomena munculnya nobar ini bisa diartikan sebagai salah satu bentuk partisipasi masyarakat calon pemilih untuk mencari informasi sebagai referensi mereka dalam menentukan pilihan. Acara debat memang ditujukan untuk memberi referensi kepada para calon pemilih yang masih mengambang (swing voters). Sementara bagi mereka yang sudah punya pilihan (strong voters) tentu acara debat tak akan banyak punya efek.
Hasil jajak pendapat Kompas yang dilakukan pada 13-14 Maret 2019 menunjukkan bahwa tiga perempat responden berminat menonton debat. Beberapa alasan orang menyaksikan debat adalah untuk memahami visi misi cawapres dan kualitas cawapres dalam berdebat. Antusias masyarakat menonton debat bisa juga sebagai indikator mereka tak cuek pada politik. Ketertarikan masyarakat menyaksikan debat semoga berimplikasi pada partisipasi nyata mereka untuk datang saat pencoblosan berlangsung.
Acara debat capres-cawapres baik yang disaksikan masyarakat lewat televisi di rumah masing-masing maupun dalam acara nobar menjadi bagian dari proses demokrasi yang perlu diapresiasi. Geliat dan antusias masyarakat dalam proses pencarian pemimpin bangsa ini semoga menemukan sosok yang benar-benar menjadi harapan rakyat. Semua pihak tentu berharap melalui debat bukan sekedar tebar pesona dan janji-janji palsu.
Merubah persepsi seseorang tentang kedua sosok capres-cawapres yang berkontestasi dalam pilpres 2019 memang tak gampang. Debat esensinya bisa menjadi referensi mereka yang masih galau dan belum menentukan pilihannya dalam pilpres mendatang. Namun hanya lewat debat berkualitas yang mampu membangun persepsi calon pemilih. Kalau debat yang tersaji hanya serupa debat kusir, maka ajang debat hanya akan jadi arena saling serang.
Semua masyarakat yang menyaksikan acara debat dan rangkaian kampanye politik yang lain tentu bisa menilai. Ajang kampanye dan acara debat memang tak mampu menyajikan secara utuh sosok sang kontestan. Tentu masih banyak sisi-sisi dari sang kandidat, terutama sisi buruk yang tak mampu terungkap lewat acara debat. Apalagi tak jarang dalam debat kebanyakan masing-masing akan bertahan dengan argumen bahwa hanya ide atau gagasannya yang paling benar, yang lain keliru.

Bukan Pepesan Kosong
Politik itu adalah urusan harapan (hope). Bisa kita simak saat kampanye politik lalu. Hampir semua kandidat menjual harapan, mimpi-mimpi dan ilusi. Sang kandidat membangun narasi-narasi yang sangat menjanjikan. Sebuah perbaikan, sebuah penyempurnaan atas segala kekurangan, dan sejumlah prestasi atau rencana baik ke depan. Semua dilakukan sang kandidat demi meraih persepsi baik dan simpati masyarakat.
Demikian halnya dalam debat. Tak ada yang bisa menjamin atas semua harapan yang dijanjikan sang calon akan berbuah manis. Bisa saja kondisi berbeda saat sang kandidat sudah menjabat. Jangan-jangan janji-janji itu tinggal janji, harapan-harapan yang disampaikan saat debat itu hanya pepesan kosong. Saat debat bisa saja menggunakan logika berfikir yang penting saat ini, urusan nanti bisa dipikir kemudian.
Memberi harapan palsu tak ubahnya seperti orang dengan sengaja menipu. Sudah tahu kalau harapan yang disampaikan itu susah atau tak mungkin terwujud namun tetap saja dikemukakan sebagai janji. Sementara disisi lain, saat sang kandidat kelak sudah menjabat masyarakat juga melupakan janji-janji politik mereka. Tak ada kontrak politik saat kampanye atau debat yang bisa dituntut kelak.
Situasi ini menuntut masyarakat dapat berfikir jernih. Masyarakat harus sadar bahwa aneka narasi yang disampaikan saat debat itu bisa sangat tendensius. Ada udang di balik batu, alias ada maksud yang tersembunyi. Masyarakat dituntut jeli melihat gelagat kurang baik dalam perang opini saat debat. Kalau kita berkaca pada pemilu-pemilu sebelumnya, tak sedikit janji-janji politik yang pada akhirnya juga tak ditepati sang politisi terpilih. Ada saja sejumlah alibi yang digunakan untuk mendapat pemakluman atas gagalnya merealisasi janji-janji itu.
Masyarakat dituntut tak gampang terlena. Semua orang yang lagi ada maunya pasti akan bermanis mulut. Untuk itu semua harus kritis dan cerdas menilai. Melalui debat pamungkas mungkin bisa menjadi referensi bagi sejumlah calon pemilih untuk menentukan pilihan politiknya. Kalau ternyata debat tak membawa dampak apa-apa maka cobalah tetap memilih dengan menggunakan hati nurani. Yakinlah, hati nurani tak akan pernah keliru. Selamat mencoblos pilpres dan pileg.

(*) SUGENG WINARNO, Dosen Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Muhammadiyah Malang

Mengenang Rudi Satrio Lelono (Sam Idur): Pendidik, Seniman Serba Bisa Yang Bersahaja

Oleh : SUGENG WINARNO

Rudi Satrio Lelono atau biasa disapa Sam Idur telah berpulang. Kabar yang menyebar lewat WhatsApp, Twitter, Instagram, dan Facebook Jum’at sore itu bikin kaget banyak orang. Banyak yang tak percaya Sam Idur begitu cepat meninggalkan kita semua. Tak pernah terdengar keluhan sakit serius dari seniman dan dosen nyentrik asli Malang ini.

Komunitas seniman, Aremania, jurnalis, pendidik, dan beragam kelompok pegiat seni budaya Malang Raya sangat kehilangan. Saya dan sejumlah teman di kampus Universitas Muhammadiyah Malang juga begitu kehilangan sosok pendidik yang sangat bersahaja ini. Orangnya low profile, sederhana, dan suka berbagi ilmu dengan sesama. Sam Idur adalah sosok yang menyenangkan, enak diajak ngobrol, dan punya sense of humor yang tinggi.

Sam Idur dikenal sebagai sosok yang bicaranya ceplas ceplos, jujur, dan terbuka. Ide-de dan gagasannya sering di luar kewajaran (out of the box), yang bikin saya dan beberapa teman dosen kagum. Ide-ide brilliant sering muncul dari buah pikir Sam Idur. Beliau secara formal memang hanya mengenyam pendidikan S1, namun dalam banyak hal, beliau setara dengan para doktor bahkan profesor.

Pada Jum’at (22/3/2019) malam itu semua berkumpul di rumah duka. Hujan gerimis yang tak henti semalaman seakan jadi pertanda bahwa alam juga turut menangis atas kepergian Sam Idur. Sejumlah seniman, Aremania, wartawan, mahasiswa, dosen, dan semua kolega, berkumpul mendo’akan kepergian Sam Idur untuk selama-lamanya. Walikota Malang, Setiaji juga tampak diantara para pentakziah malam itu.

Tak berlebihan kalau menempatkan Sam Idur sebagai salah satu seniman Kota Malang. Beberapa even seni dan budaya besar Kota Malang tak bisa dilepaskan dari ide, gagasan, dan kerja nyata Sam Idur. Even Malang Tempoe Duloe (MTD) misalnya. Sam Idur adalah salah satu orang dibalik layar MTD Kota Malang yang digelar rutin itu.

Beberapa minggu sebelum kepergiannya, Sam Idur dan sejumlah seniman Kota Malang bertemu Walikota dan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (disbudpar) untuk urusan kebudayaan. Melalui pesan WA, Sam Idur mengabarkan pada saya bahwa dirinya dan sejumlah seniman sedang audiensi dengan Walikota untuk pengukuhan Komite Kebudayaan Kota Malang (K3M).

Sam Idur dan beberapa rekan berkeinginan mengembangkan dan melestarikan kebudayaan khas Malang dari segala aspek. Sam Idur juga sangat peduli pada perkembangan seni musik Kota Malang. Sam Idur sepertinya tidak rela kalau Malang sebagai kota lahirnya para seniman musik tanah air akan tenggelam. Sam Idur ingin kiblat musik, terutama musik bergenre rock agar tetap dipegang Kota Malang.

Beberapa media massa Kota Malang juga sangat kehilangan Sam Idur. Sam Idur sangat lama berada di balik layar Radio KDS 8, Malang TV, dan sejumlah media elektronik lokal Malang. Hingga akhir hayatnya, Sam Idur juga masih tercatat sebagai salah satu Manajer Kreatif media online, Malang Voice. Saya adalah salah satu pembaca setia “Paitun Guldul” yang biasa ditulis Sam Idur di Malang Voice.

Melalui Paitun Gundul, saya sering tersenyum dan tertawa membaca tulisan Sam Idur. Tak jarang kalau ketemu saat mau ngajar, saya membincangkan Paitun Gundul. Bahkan sering ide tulisan muncul berawal dari guyunan kami di sofa ruang dosen lantai 6 itu. Rasa humor Sam Idur sangat tinggi, itu salah satu kemampuan beliau hingga semua persoalan bisa dibawa dengan lebih santai.

Sering smartphone saya bunyi cling, setelah saya cek ternyata kiriman WA Sam Idur yang berisi tautan (link) beberapa berita yang dimuat di Malang Voice. Tak jarang pula berita itu menjadi bahan diskusi kami, mulai dari konten beritanya, teknik menuliskannya, dan beragam hal terkait praktik jurnalisme. Sam Idur sering meminta saya untuk menilai berita di Malang Voice.

Beliau ingin memastikan berita Malang Voive tidak ngawur. Seperti yang beliau sering sampaikan tagline Malang Voive itu “Asli Gak Ngawur!”. Apa yang dilakukan Sam Idur untuk Malang Voive memang luar biasa. Beliau mau terus belajar dan sharing dengan sesama dosen dan mahasiswa dengan sangat terbuka. Sifat suka memberi ilmu dan semangat belajar beliau juga sangat tinggi. Beliau adalah sosok teman belajar dan mengajar yang menyenangkan.

Bagi Arema FC, kehadiran Sam Idur berkontribusi cukup berarti. Logo Arema FC adalah salah satu bukti karya Sam Idur untuk tim berjuluk Singo Edan itu. Sam Idur telah memberi makna dan filosofis yang dalam pada logo Arema FC. Logo Arema FC dibuat Sam Idur bukan sekedar untuk identitas club, namun lebih dalam, logo itu adalah do’a untuk keberhasilan Arema dan masyarakat Malang.

Sam Idur juga menulis lirik lagu untuk Arema Voice. Lagu bertajuk “Singa Bola” adalah karya Sam Idur. Lagu itu hingga sekarang masih menjadi lagu andalan yang selalu diputar saat Arema berlaga di stadion Kanjuruhan. Lagu ciptaan Sam Idur itu telah menjadi suntikan spirit untuk para pemain Arema yang sedang bertanding dan bagi Aremania dalam bersemangat mendukung tim kebanggaan warga Malang Raya itu.

Walau nyentrik, Sam Idur sebenarnya sosok yang religius. Hampir tiap hari beliau mengungah hadist-hadist di laman Facebook-nya. Kisah-kisah bijak Dakwah yang disampaikan Sam Idur mendapat respon yang positip dari pertemanan beliau di Facebook. Sam Idur memang bukan kiai, tapi materi dan model dakwah yang dijalankan efeknya cukup kuat mengajak umat dalam kebajikan.

Sam Idur yang lahir 14 Juli 1963 di Bareng, Kota Malang itu kini telah berpulang. Sepertinya gambar profil yang saya lihat di WA beliau itu sebagai pertanda. Di profile picture WA beliau ada gambar Sam Idur saat kecil dan foto beliau sekarang, ada tulisan 201963, yang saya maknai 2019 dari 1963. Bagi saya itu seperti firasat kepergian beliau. Dalam usia 56 tahun, Sam Idur berpulang, meninggalkan satu istri dan dua anak.

Sosok pendidik dan seniman serba bisa itu mewariskan sejumlah karya untuk kita kenang, lestarikan, dan teruskan. Tulisan ini hanya secuil dari kesaksian saya tentang Sam Idur. Tentu masih banyak kiprah baik Sam Idur yang tidak saya ketahui. Saya yakin siapapun teman, sahabat, kolega yang mengenal Sam Idur mengakui beliau adalah orang yang baik.

Semoga segala kebaikan yang ditanam Sam Idur selama hidup bisa menghantarkannya memanen kemuliaan di surga. Selamat Jalan Sam Idur.

(*) SUGENG WINARNO, Dosen Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Muhammadiyah Malang

LAJUR-LAJUR KESEPIAN, Puisi-puisi FAJRUS SHIDDIQ

Ilustrasi (Anja A)

LAJUR-LAJUR KESEPIAN

Diantara lajur-lajur sepi aku laju sendiri
Berteman angin sangu cemas
Langkah demi langkah napak teka-teki
Sementara wajah zaman terus berhias

Bahasa ambigu meluap-luap dinding kamar
Ratapi hari esok di awang samar
Saban hari sebagai apa aku pura-pura nyamar
Jadi pemain sandiwara setiap lembar

Hidup itu apa?
Hanya sekedar ingin tahu, bukan!
Dari zat dan nous disebut tuhan
Dari atom dan ruang hampa;
Kekal atau tidak, sufi tak pernah mengerti apa
Sebab selama kita ada
Kematian tak bersama
Ketika ia datang
Kita sudah tak lagi ada

Hidup itu apa, bukan?
Setiap dada lahir dari sepi
kembali pada sepi

2016

MANTAN VIII

Kau dan aku
Sebut saja itu berpura-pura
Akupun benar-benar merebutmu
Setelah kau dahulu merayu

Sebut saja itu tak sengaja
Akupun benar-benar larut
Setelah kau dahulu mencumbu

Kuanggap itu mimpi
Dimalam yang tak terlalu lama heningnya
Dan kaupun pergi
Menghilang dibalik duri-duri

HARAP MAKLUM

Tayangan virtual dua insan belia/ katanya sepasang kekasih, mendarat di grup message. Itu undangan mantenan.

”Ini undangan online,” kata seorang pelukis. buwuh online
”Santapan juga online?,” tanya profesor

/Selamat memasuki musim pengantin digital/

Anggota grup message terkekeh
Hahahahahaha…
Si calon manten itu hanya tersenyum – mengintip semua pesan dari balik layar ponselnya

Undangan macam ini lumrah hari ini
Jasa perancang uleman jadi laku. laris manis.
Ada yang bilang hemat kertas. biar pohonan rindang.
papyrus rimbun. tusam rampak.
/katak naong. burung teduh

Sambung kasih cukup ketik saja
Ini juga jadi di teluk lahirnya silah
Yang katanya benci bisa musnah oleh tasofah
Rukun bertetangga, tak perlu lagi berkuda. salam di udara

Tapi kawan kita sudah kebelet nikah!
Lagi pula repot pilih jas dan kebaya
Doakan saja sakinah mawaddah wa rahmah

Harap maklum.

Desember 2018

FAJRUS SHIDDIQ, Aktif berpuisi sejak nyantri di Ponpes Al-Amien Prenduan. Alumnus Pendidikan Bahasa Arab Universitas Negeri Malang (UM). Sekarang tinggal di Malang. Puisinya terbit di berbagai antologi bersama, koran dan media online. Kumpulan puisinya “COPET SIAL” akan segera diterbitkan. Saat ini menggeluti seni teater bersama Sanggar Seni & Budaya Al-Karomi UM (Teater Bahasa Arab).

Waktu Silam, Puisi-puisi Efa Nofiana

WAKTU SILAM

Jalan Basah.
Jalan dipersimpangan sana masih sama, seperti pertama kali kau jejakkan kakimu. Kita
beriringan langkah menyusuri jalanan basah selepas hujan reda. Selekas adzan maghrib
berkumandang dari surau-surau disekitarnya.

Gang sempit.
Gang diujung sana masih seperti yang kau tau. Sempit.. sepi.. dengan deretan rumah yang
layaknya kota-kota padat penghuni. Ku yakin dimemorimu masih tersisa.

Rumah berlantai ganda.
Rumah yang paling ujung di gang itu juga masih sama. Rumah berlantai ganda menghadap
arah terbenamnya surya. Dengan cat putih dan pintu coklat. Untuk melepasnya aku masih
belum rela. Yahh, aku masih tinggal disana.

Ruangan dasar.
Ruangan didalamnya pun masih sama. Dengan meja kaca dan sofa hijau tua motif bunga-
bunga. Sebuah televisi lama disebelah tangga. Diantaranya ada lorong menuju dapur minimalis yang apa adanya.

Ingatan.
Aku masih suka duduk sendiri disana. Meratapi banyak hal yang masih belum bisa ku sudahi.
Aku pernah menyuguhkan secangkir teh dan bukan kopi. Segenap setia dan sepenuh hati. Kita bercakap ringan ditemani sisa tetesan hujan diluar tadi. Ah, diruang kepalaku semua itu abadi.

Sejak bertahun-tahun lamanya segalanya masih sama. Jalan dipersimpangan sana selalu basah jika hujan. Gang diujung itu masih sepi dan sempit. Rumah yang paling ujung pun tak berubah sama sekali. Dan ruangan didalamnya pun masih seperti saat kau duduk disampingku kali pertama. Disana aku masih setia mengarsipkan segalanya.

Mungkin itu salah satu sebabnya aku masih belum rela meninggalkannya. Sebab disetiap sudut kota kau selalu menggoreskan cerita.
.
Purwokerto, 2019

MENGGARIS CAKRAWALA

Tertawa saja jika kau senang
Semua orang pasti akan tahu
Aku sudah tak peduli dengan itu
Biarkan aku bahagia dengan duniaku
Dunia yang kulihat
Dengan mata, hati dan nurani
Hari ini dan esok sama saja,
Pasti berjalan apa adanya
Pagi nanti pasti terang,
Teriak saja biar senang
Berlarilah semaumu,
Kejar saja semua itu
Tepislah jika kau tak suka,
Buang saja semuanya
Enyaahh kau payahh,
Biarkan aku tetap bernyanyi
Tanyakan saja pada hatimu
Mengapa lembayung jingga menggaris cakrawala
Sakit hanya pahit sementara,
Meski luka selalu ada
Lenyap saja kau dalam pengap
Biarkan bintang-bintang tertidur dalam hatimu

Sumpiuh, 2019

MIMPI

Aku terluka dalam hatimu
Mengapa aku harus menyelam, bila akhirnya aku tenggelam??
Aku terlupa ketika waktu menarik ulur ingatanku
Mengapa aku harus mengenal, bila akhirnya aku pun tak bisa melupakanmu??

Aku memeluk malam dengan hati yang tentram
Damai duniaku,
Meskipun masih saja bayang-bayangmu datang kepadaku
Aku melupakan sesuatu
Jikalau kau tau, apa mungkin memberitahuku??

Aku terjebak hujan risik, setelah siang yang begitu terik
Sore senja berganti gelap
Mimpi kecilku turut lenyap
Ketika maha cahaya tertelan senyap
Semuanya turut larut dalam pengap

Aku melupakan sesuatu
Jikalau kau ingat tolong beritahu aku
Aku lupa waktu
Aku masih bernyanyi saat sandiwara matahari mulai berhenti
Bahkan aku pun lupa
Jikalau aku tengah terlelap saat ini

Sumpiuh, 2019

*Efa Nofiana. Tinggal di RT 04/02 Nusadadi. Sebuah desa terpencil di Kecamatan Sumpiuh. Anak pertama dari 5 bersaudara ini lahir di Banyumas, 26 Februari 1999. Ia adalah penyuka senja dan pecandu aksara yang sering kali kehabisan kata-kata. Merangkaikan huruf demi huruf adalah caranya bercerita. Itulah alasan
mengapa ia suka menulis. Bahwa dengan menulis ia dapat bercerita tanpa berbicara. Baginya, jika kata hati adalah layar yang ceritakan perasaan. Maka aksara adalah suara jiwa yang diucap dengan pena. Dan saat ini masih ingin terus bercerita lewat jalinan konsonan vokal yang terus diolah dalam pikiran hingga dituangkan untuk menghasilkan untaian-untaian yang mampu dinikmati di lembar-lembar buku suatu hari nanti.

MATTALI

Cerpen oleh Zainul Muttaqin

Belum genap satu tahun ketika Mattali angkat kaki setelah ribut besar dan istrinya berkata lantang sampai gendang telinga laki-laki paruh baya itu hampir pecah, “Tak Lake’ Ongghu Bekna Kak[1]. Ceraikan saja aku!” Bagai dirobek harga diri Mattali mendengar istrinya berkata, tinggi suaranya, tepat di depan wajahnya.
Bulan sepenuhnya tenggelam ke dalam pelukan awan. Wajah Mattali menegang. Kerut-kerut di dahinya membentuk garis meliuk-liuk, seperti terombang-ambing. Laki-laki itu mengambil napas dalam-dalam. Tirai jendela disibak oleh tiupan angin. Mattali menelan ludah berkali-kali.
“Apa tidak ada cara lain selain bercerai?” Mattali menekan suaranya.
“Tidak!” Istrinya memandang wajah Mattali. Laki-laki itu mengatur laju napasnya. Dipandanginya wajah istrinya, tampak berharap cepat-cepat Mattali menghilang dari pandangannya.
Belum sempat Mattali mengucap cerai, istrinya berujar, mendahului Mattali, “Kita bisa rujuk setelah kau benar-benar lake’[2].” Binar-binar di mata Mattali terpancar selepas istrinya berkata seperti itu. Pelan-pelan ia mulai mengulas senyum.
Jarum jam berhenti tepat di angka dua belas dini hari. Dengan gemetar, terbata-bata, Mattali berujar, “Aku ceraikan kau,” berderai air mata laki-laki paruh baya itu. Markoya menggeleng kepala. Markoya menutup pintu kamar dan membiarkan Mattali berdiri di ruang tamu dengan perasaan tercabik-cabik. Mattali mencangkuli dirinya sendiri.
Duduk di kursi berwarna biru tua, dengan cat yang mulai mengelupas karena usia. Mattali berpikir sesaat. Dia mencari jalan keluar atas persoalan rumit yang tengah menimpanya. Sudah tidak tahu berapa batang rokok yang ia isap. Dengkur Markoya dari dalam kamar mengusik pikirannya, ingin ia seranjang lagi, tapi buru-buru Mattali mengucap istighfar .
Detak jarum jam bergeser begitu lambat dirasakan Mattali. Laki-laki itu mengelus dada. Saat asap rokoknya lenyap, Mattali menampari pipi dan kaki. Nyamuk hutan dari belakang rumah ternyata berusaha menghisap darah laki-laki kekar itu sejak tadi. Puntung rokok di dalam asbak bergelimpangan.
Bangun pagi-pagi sekali Markoya sudah tidak melihat Mattali di ruang tamu, di kursi lapuk itu. Bau keringat Mattali juga tak tercium. Markoya berjalan ke halaman depan rumahnya, menarik napas dalam-dalam, melegakan dada ringkihnya yang semakin menyempit. Kicau burung di atas pohon tarebung[3] mengingatkannya pada Mattali.
Sampai perceraian itu terjadi belum sanggup Mattali memetik bunga indah yang tumbuh di pangkal paha Markoya. Laki-laki itu menjadi tak lake’ menghadapi istrinya yang bersedia bunga mekar di selangkangannya dipetik oleh Mattali. Berkali-kali Mattali berusaha, berkali-kali pula kesia-siaan itu terjadi pada dirinya. Itulah yang mendasari Markoya minta dicerai kepada Mattali.
Sekalipun Mattali tidak menceritakan perihal rumah tangganya yang tercerai-berai, tapi warga Tang-Batang sudah bisa mengendusnya. Orang-orang memang berusaha mengetahui, maksud Mattali berada di rumah ibunya, sepanjang waktu, sejak satu minggu lalu. Melintas pikiran curiga, tepatnya bertanya-tanya, apa penyebab Mattali menceraikan Markoya, kembang desa yang dulu diperebutkan semua laki-laki?
Berderet ikan-ikan dijemur di halaman. Amis menyeruak. Perempuan-perempuan itu duduk memanjang dengan rambut terlepas digerai sebahu, mereka bergunjing sembari menisik kutu. Diam-diam mereka mencuri pandang pada Mattali. Laki-laki itu duduk di beranda rumah, menghisap batang rokoknya, dengan secangkir kopi di atas meja.
“Karena Mattali tak lake’ ” kata perempuan gempal setelah sebelumnya melirik ke arah Mattali.
“Jadi gara-gara itu Mattali cerai dengan Markoya.”
“Gara-gara apa lagi kalau bukan itu.”
“Mestinya Mattali sudah siap jamu sebelum menikah. Kalau seperti ini kan malu.”
“Malu sama siapa?”
“Malu sama semua orang.”
“Untung suamiku lake’.”
“Ya jelas suamimu lake’ lah, anakmu sudah tiga. Apalagi aku.” Kelakar tawa meledak di halaman. Mattali menoleh, melihat pada perempuan-perempun itu.
Mendadak degup jantung Mattali melaju lebih cepat. Ia merasa perempuan-perempuan itu tengah mengunjingkan dirinya. Sempat ia bersitatap dengan salah satu perempuan itu, tersenyum mengejek, merendahkan. Gegas Mattali masuk ke dalam. Terlampau sakit hati Mattali. Laki-laki paruh baya itu mengambil napas dalam-dalam, kemudian bersama napas yang ia lepas, tangannya memukul meja hingga cangkir kopi di atasnya bergelinding ke lantai, pecah.
Ingin dimakinya perempuan-perempuan di taneyan lanjang[4] itu. Mendidih darah Mattali. Laki-laki itu meludah, membuang rasa kesal terhadap perempuan-perempuan itu. Ia berdiri di ambang pintu, berpikir ulang, menimbang-nimbang, apa melabrak perempuan-perempuan itu akan menyelesaikan persoalan? Lagi pula, ia tahu, perempuan-perempuan di Tang-Batang gemar berguncing, atau memang demikian perempuan kebanyakan.
Khawatir malah akan dipermalukan di taneyan lanjang itu oleh perempuan-perempuan yang duduk memanjang, menisik rambut, disertai berbagai ragam gunjingan. Mattali mengurungkan niat. Menutup pintu rumahnya kembali. Ia mengatur alur laju napasnya. Asap rokok menyumbat tenggorokannya.
Mattali baru ingat, ternyata Markoya pernah bilang, “kita akan rujuk kalau kamu sudah lake’’´ ingatan itu mampir dalam tempurung kepalanya tepat ketika laki-laki paruh baya itu berusaha meredam amarah. Dan perempuan-perempuan itu sudah lenyap di taneyan lanjang. Mattali memandang penuh selidik, takut mendadak muncul perempuan-perempuan itu di hadapannya. Bergegas ia melewati taneyan lanjang, tempat perempuan-perempuan itu semula menisik kutu.
Dalam remang sore hari, lepas maghrib Mattali melangkah begitu lekas, melewati gang-gang rumah yang sempit. Ia terus melangkah untuk segera sampai di rumah Matrah, tukang pijat di desa sebelah, juga seorang dukun yang sering dimintai tolong bila berususan dengan kelelakian. Keringat membasuh tubuhnya.
Mattali kian mempercepat langkahnya. Tak menjawab apalagi sekadar menoleh ketika seseorang menyapanya dari teras rumah. “Tak biasanya Mattali acuh seperti itu,” bisik lelaki di teras rumah itu. “Paling-paling karena orang-orang bilang tak lake’ ia jadi begitu Kak,” sambung istrinya. Pasangan suami-istri itu saling tatap, kemudian secara bersamaan mengangkat kedua bahunya.
Setelah susah payah berjalan kaki, Mattali tiba di halaman rumah Matrah, lelaki yang dikenal bisa mengatasi segala persoalan kelelakian. Seorang lelaki tua, rambutnya hampir putih seluruhnya, memegang tongkat di tangan sebelah kanan berdiri di depan kobhung[5] tempat Matrah biasa menerima tamu-tamunya. Lampu teplok meliuk-liuk, bertahan dari tiupan angin.
“Kamu mau pijat?” Matrah mengajukan pertanyaan. Ia mengambil minyak urut yang diselipkan di tiang kobhung.
“Tidak Ke[6]” Mattali mengulas senyum, disertai gelengan kepala.
“Lalu?” Laki-laki tua itu memburu jawaban dari Mattali.
“Saya tak lake’. Beri saya jalan keluar. Karena ini, saya sampai cerai dengan Markoya.” Mendengar penjelasan itu, Matrah mengangguk-anggukan kepala. Matrah keluar sebentar dari dalam kobhung dan kembali dengan membawa beberapa butir telur dalam genggaman tangannya. Mattali mengernyitkan kening, seolah ingin bertanya, apa maksudnya?
“Saya yakin kamu belum jamu telur ini sebelum menikah,” Matrah menunjukkan tiga butir telur kampung ke hadapan Mattali. Laki-laki setengah baya itu menggeleng.
“Dengan telur kampung ini. Insya Allah kamu akan lake’.”
“Kenapa tiga butir Ke?” Mattali mengambil telur itu dari genggaman Matrah.
“Saya tidak tahu pasti soal itu. Yang jelas harus berjumlah ganjil. Barangkali karean Tuhan suka yang ganjil-ganjil.”
“Apa ada campuran lain selain telur ini Ke?” Mattali tidak sabar ingin membuktikan khasiat telur ayam kampung. Laki-laki itu menyesal, kenapa dulu, sebelum menikah ia tak bertanya perihal ini. Mana mungkin Mattali sempat bertanya tentang apa-apa yang perlu dipersiapkan sebelum menikah. Pernikahannya dengan Markoya terjadi secara mendadak, berlangsung cepat begitu saja, tanpa persiapan.
“Nanti saya beri tahu,” Mattali mengangguk. Beberapa menit kemudian, Matrah berbisik di telinga Mattali, mengatakan telur ayam yang digunakan untuk jamu adalah telur ayam kampung dan dengan jumlah ganjil juga dicampur bahan-bahan lain. Mattali membayangkan wajah Markoya, ia yakin Markoya akan terpuaskan di atas ranjang.
“Karena telur kampung itu, anak saya dua belas. Sekarang ini, saya juga punya cucu belasan.” Tawa Matrah meledak disusul derai tawa Mattali.
Tiga minggu setelah Mattali minun jamu dicampur telur tiga butir, sebagaimana anjuran Ke Matrah, birahi laki-laki itu meronta-ronta, minta digesek batang kemaluannya. “Saya sudah lake’.’” Gumam Mattali dengan binar-binar kebanggaan di matanya. Tanpa pikir panjang, ia berkunjung ke rumah Markoyah, berniat rujuk, siap membuktikan khasiat tiga butir telur pada perempuan cantik, rebutan lelaki kampung itu.
Mattali berdiri dengan mulut ternganga, wajahnya berubah seperti selembar kain kafan, begitu melihat Markoya digandeng laki-laki keluar dari dalam rumah. Matanya terpaku pada laki-laki yang mengalungkan tangan pada bahu Markoya. Berusaha meredam golak di dadanya, Mattali menelan ludah.
“Saya sudah menikah, kita tak bisa rujuk. Dia benar-benar lake’ tidak sepertimu!’” kata Markoya sembari tersenyum memandang laki-laki di sampingnya, suaminya itu.
“Siapa dia?” Mattali menekan suaranya.
“Dia anak Ke Matrah. Dua hari lalu kami menikah.” Jantung Mattali terasa akan lepas dari tangkainya begitu Markoya menyebut nama Matrah. Huh! Gigi Mattali bergemerutuk. Ia melenggang pulang membawa kesedihan. Terus bergegas lekas langkah Mattali, dan ia seolah begitu berhasrat mencincang tubuh Matrah, lelaki tua yang baru saja mengajarinya cara meramu butir telur ganjil agar menjadi lake’.
Pulau Garam, 2017

Catatan:
[1] Tak Lake’ Ongghu Bekna Kak : sungguh tidak jantan kamu Mas (ucapan ini dimaksudkan kepada lelaki yang tidak dapat memuaskan istrinya di ranjang).
[2] Lake’: jantan, merujuk pada kelelakian, juga bisa dimaknai laki-laki.
[3] Tarebung: pohon siwalan
[4] Taneyan lanjang : halaman panjang
[5] Kobhung : berbentuk bangunan berkolong dengan kontruksi kayu jati, atap emperan di depannya terdapat lantai kolong yang lebih rendah dari lantai utamanya, dindingnya terbuat dari anyaman bambu. Hampir semua bangunan di Madura memiliki kobhung. Letaknya rata-rata di sebelah barat. Kobhung berfungsi sebagai tempat peristirahatan, berkumpulnya kerluarga dan kerabat, juga sebagai tempat menerima tamu dan beribadah keluarga. Kobhung ini juga sebagai tempat pewaris nilai-nilai tradisi luhur masyarakat Madura.
[6] Ke: kakek

*)Zainul Muttaqin Lahir di Garincang, Batang-batang Laok. Batang-Batang, Sumenep Madura 18 November 1991. Menyelesaikan studi Tadris Bahasa Inggris di STAIN Pamekasan. Cerpen dan Puisinya dimuat pelbagai media nasional dan lokal, seperti; Jurnal Nasional. Femina. Nova. Republika. Suara Merdeka. Padang Ekspres. Kuntum. Almadina. Joglo Semar. Banjarmasin Post. Merapi. Radar Surabaya. Kabar Madura. Suara Madura Koran Madura. Salah satu penulis dalam antologi cerpen; Dari Jendela yang Terbuka (2013) Cinta dan Sungai-sungai Kecil Sepanjang Usia (2013) Perempuan dan Bunga-bunga (2014).Gisaeng (2015). Tinggal di Madura. Email; lelakipulaugaram@gmail.com

Ra, Berkunjunglah Ke Gondanglegi Sore Hari. Puisi-puisi Mochammad S.

Ra, Berkunjunglah Ke Gondanglegi Sore Hari
Aku percaya Gondanglegi tak akan habis begitu saja sebagaimana yang kau sangka

Sejak hari masih dini, Pasar di pertigaan besar sudah meriuhkan dialek-dialek Madura

Kegaduhan orang-orang berlalu lalang tetap terpekak abai pada kelurusan jalan hidup mereka

Meski sebentar lagi mikrolet oren akan semakin ditinggalkan dan hanya sepi yang tersisa untuk diantar kemana-mana

Walau romantisme kondektur dan bocah-bocah sekolah sudah tak bisa dinikmati cuma-cuma

Tetap saja aku yakin jika kehangatan tanah air kecil ini tak akan dingin begitu saja

Ra, berkunjunglah kemari sore hari

Ku dengar kota sudah membesarkan segala mu dan sebagai orang desa aku tak akan merayu-rayu bolos mengaji lagi

Aku juga kelewat sungkan mengulangi balapan lari kearah bantalan lori

Atau beradu cepat membariskan paku dudur dan logam kuning kerapan sapi

Toh, lindasan kereta-kereta tebu sudah tak pernah kembali

Truk pemakan aspal kini lebih disayangi Pabrik Rajawali

Namun tetap saja kau perlu menyambangi masa kecil yang enggan dewasa -yang belum dilindungi rusuk sesiapa- ini

Maka kunjungilah Gondanglegi kala sore hari, Ra

Akan ku lagukan syair harian ditempat ku berlindung dari rindu yang bertambah
purna, sepi yang nyata fana, dan cinta yang tergesa-gesa

Semoga suara ini membasahkan kenangan kita, membahasakan nada-nada yang asing di telinga kota, doa-doa penghangat Gondanglegi saat senja

kalamun qodimun la yu mallu samauhu, tanazzaha an qouli wa fi’li waniyati. bihi asytafi minkulli dain wa nuruhu, dalilun li qolbi ‘inda jahli wa khairoti. fa ya robbi matti’ni bisirri khurufihi. wanawwir bihi qolbi wasam’i wa muqlati. wa sahhil alayya khifdohu tsumma darsahu. bijahin nabi wal ali tsumma shokhabati
Albar,3/9/18

Menyaksikan Cinta Sekeras Batu Dilapuk Rindu
Dalam waktu dekat langit akan jatuh

Kota dan kata-kata yang mengangkuh adalah pilar yang rapuh

Ia pamit beli kaporit sekalipun sadar hanya aroma kalianlah satu-satunya pembening dadanya yang keruh

Sudah simpan saja sesal mu yang saling susul itu

Ia cuma memeperagakan gaya bercanda ala tuhan

Malang, 27 januari 2018

Di Watu Kelir
Di watu kelir

Sementara Gamelan dimainkan, Jiwa yang nihil merasa terpanggil

Kidung menuntun dimana seharusnya jejak ditapak
. Di tepian tali arus kali muncar atau di rentang cairan api bantal

Di watu kelir

Pagelaran terus berjalan

Kisah pasrah sebongkah waktu atas sentuhan dalang peradaban

Lakon bergantian di hadirkan

Ditancap berjajar diantara renik radiolaria dan rijang

Di sisi lain watu kelir

Ku lihat bayangan mu menari syahdu di muka air, mengikuti tembang mencari hilir

Bagaimana jadinya ujung cerita bila peran mu urung jadi nyata?

Oo rahasia, makna yang menolak disingkap masa

Yugjo, 4 april 2018

Mengantar Puisi Untuk Kekasih
Kau memuji langit dan ia selalu tahu apa yang kau perlu

Kemarin ia adalah dermaga yang sepi untuk gundah yang kau tambatkan

Lalu riak tenang kasihnya mengantarkan doa dan dosa mu berlayar mencari kedamaian

Sekarang ia embun jatuh dipucuksujudmu

Ubun-ubun mu yang kosong jadi penuh

Lapar yang melingkar tak membuat beningnya keruh.

Ada kesederhanaan yang ia rangkai dari kerumitan-kerumitan surga

Kelak langit akan kau angkat saudara

Itu terjadi setelah sunyi menyulap hal-hal kecil jadi kebesaran untuk apa saja

Itu akan terjadi saat puisi ini sampai di pemberhentian terakhirnya, ufuk kalbumu

Warung I, 26 februari 2018
Jika Kita Adalah Jarum Merah, Ra

Jika kita adalah jarum merah, Ra

Seumpama bocah TK berkejaran mengambili angka

Mengitari waktu yang melulu jatuh di dinding beranda

Hanya pada jarak utuh kita beradu sua

Karena poros yang membagi, maka berputarlah rindu disana

Bukan

Aku tak hendak mengeluhi tuhan

Ku rasa ini bukan ujian

Yang jadi persoalan bukan mengejar detik-detik mu, Ra

Itu kemustahilan belaka

Anugrah yang tak ingin ku cegah adalah kita berdetak untuk setiap nafas yang sama

Albar, 8/10/18

Mochammad S.
Penjaga Warung Kopi Albar Kota Malang.
Jl.Mertojoyo Selatan 22b Merjosari Lowokwaru Kota Malang

Komunitas