Tidak Golput itu Ternyata Sederhana

MALANGVOICE – Sudah terasa benar aroma perhelatan politik di sini, meski berbarengan dengan rendahnya kepercayaan terhadap pemerintah dan partai politik. Apalagi setelah hempasan badai politik yang jejaknya masih berserakan di benak masyarakat. Debunya masih menyela di sela obrolan-obrolan jalanan, kantor, bahkan di rumah jadi bagian dari lauk sarapan. Kata orang, kita senang riuhnya demokrasi, tapi kurang menyukai kenyataannya. Maka, berharap saja jadi begitu berat untuk menghitung sekian langkah orang menuju bilik untuk memilih.

Mana ada orang yang tidak suka kalau hak-haknya dipenuhi. Giliran mendapat hak pilih, jadi begitu cepat berkeputusam untuk menepis. Entah sampai seluas apa luruhnya kepercayaan, meski gambar-gambar sudah ditebar, kata dan pesona sudah diumbar. Kanal-kanal medsos pun nyaris penuh genangan-genangan informasi, ada yang asli,

tidak kurang yang manipulasi, bahkan ada juga yang informasinya ‘tak berbicara’ sama sekali. Ungkapan lama memang betul, tak kenal maka tak sayang. Kalau sekarang, tak kenal bagaimana caranya bisa sayang. Banjirnya informasi dan prejengan para calon legislatif ternyata belum signifikan menggoda sebagian besar masyarakat untuk datang memilih.Teman saja ada tiga jenis, langsung menyatakan dukungan dan memilih, mendukung tapi memilih nanti dulu, dan tidak berterus terang kalau tidak memilih.

Ketidakpercayaan publik kepada institusi-istitusi seperti partai politik juga merupakan kondisi obyektif yang hampir tidak bisa dipungkiri. Konflik internal, keterlibatan beberapa dari mereka dalam kasus-kasus korupsi dan kongkalikong lainnya menjadi salah satu dari sekian penyebab, termasuk kutu-kutu loncat yang membuat gatal-gatal hati rakyat. Tak semua memang, tapi rata-rata begitu tanggapan publik. Ekspetasi terhadap para calon-calon legistatif pun nyaris tak berarti karena publik tak pernah dengan jelas beroleh informasi perihal parameter apa yang membuat mereka terjaring mencalonkan diri. Jujur saja, sering juga kita memandang rendah para caleg.

Golput bukan persoalan sederhana, walau menjadi golput begitu sederhana caranya. Pernah terpikirkan, menjadi tidak golput ternyata begitu sederhana dan beroleh pahala. Tidak perlu gerah dengan persoalan-persoalan di atas. Tak usah terlalu risau dengan partai politik dan gerak-geriknya. Jangan termakan hati oleh mereka yang mencalonkan diri. Kampanye, sobo kampung, sobo nawak, kentrungan, dan model-model sosialisasi lainnya anggap saja tetap sebagai hiburan atau kondangan. Itu cuma persoalan duniawi saja, lagipula dari dulu demokrasi kita sudah cacat.

Menjadi tidak golput ternyata begitu sederhana, cuma perlu mengubah niat. Malang ini direbut kembali dan berdiri di atas jasad-jasad para pejuang dan rakyat sipil yang gugur dalam pertempuran-pertempuran yang dahsyat dari Arjosari hingga Sengkaling, dari Kasin hingga Blimbing, Kalisari, Klampok Kasri, Alun-alun, KIdul Dalem, serta hampir setiap sudut kota. Juga Lawang, Songsong, Singosari, Pujon, Ngantang, Pakisaji, Turen, Dampit, Kepanjen, Kebonagung, Jambuwer, Peniwen, Wajak, Tumpang, Bumiayu, Buring, Pajaran, Ngelak, Amadanom, Wonokoyo, Ampelgading dan masih banyak lagi lokasi pertempuran lainnya. Sepertinya, seluruh titik di mana kita berdiri saat ini di bawahnya terendap darah para bunga bangsa.

Niatkan langkah kita untuk melaksanakan hak pilih, semata sebagai penghormatan yang dalam dan ungkapan terima kasih yang tulus kepada mereka yang telah bertahun bertempur berdarah-darah dalam sejarah wingate action yang tersohor, merebut kembali Malang hingga masih tegak sampai saat ini. Apakah pernah ingat kita mendoakan mereka? Ke TMP saja setahun sekali, itu kalau ikut dan diundang, malam lagi. Lewat di depannya setiap hari, menoleh saja nyaris tidak pernah.

Masih ada waktu untuk mengubah niat, dari sekedar niat politik pop menjadi niat yang lebih bermakna dan bernilai. Dalam takdirNya, sepertinya tanpa pengorbanan mereka, kita tak pernah ada. Untuk para caleg, rasanya juga masih ada tempo untuk membenahi niat. Ngono ta? (idur)

Menakar Calon-Calon Wakil Rakyat: Pancaran Dirimu Jadikan Pilihan Hatiku

Rudy Satrio L, bersama mahasiswanya. (anja a)
Rudy Satrio L, bersama mahasiswanya. (anja a)

DI keseharian melintas di jalanan Kota Malang, nyaris di beberapa sudut kota sudah terpampang wajah-wajah para calon wakil rakyat dalam bingkai-bingkai komposisi grafis yang beraneka warna. Ada yang terenyum dengan lugunya, ada yang lagak berwibawa, banyak juga wajah yang tersenyum ragu, separuh percaya diri. Belum lagi yang terlambat sadar kalau dirinya sedang difoto. Ada juga yang sepertinya, sudah difoto berkali-kali dengan berbagai pose namun tak ada pilihan lain. Tidak sedikit juga yang bermuka malu-malu, agak grogi, seperti kenalan baru ketika dipanggil untuk naik panggung bukan untuk menyanyi. Lainnya, beberapa wajah begitu percaya diri, pakai jas, kopiah, jeans, kemeja, seolah tak peduli aral yang mengintai. Sisanya, wajah pasrah, setengah menanggung beban, barangkali karena sekedar apa kata nanti atau didorong oleh entah apa dan siapa.

Sudah tidak mengherankan lagi dan bisa diakui sebagai kondisi objektif, kalau hampir sebagian besar calon-calon wakil rakyat di Malang belum sepenuhnya menyadari pentignya hal-hal yang boleh jadi diaggap sepele dalam periklanan politik sebagai cara penting dalam berkomunikasi dengan publik. Kalau soal media, jangan ditanya, saluran komunikasi apa yang sekarang tidak bisa dipakai untuk ‘bicara’. Kreativitas pun akhirnya adalah kemampuan ‘membaca’ harapan publik dan mewujudkan persepsi mereka tentang sosok wakil rakyat dan pemimpin yang mereka dambakan. Harapan dan tuntutan memang kadang terlalu tinggi, tetapi bukankah bisa disepahamkan dengan cara-cara yang manis, apalagi di jumpa pertama, apalagi belum kenal betul sosoknya tapi terus disuguhi fotonya.

Ada yang disebut key visual. Unsur visual simple untuk merebut kesan pertama terhadap sosok. Minimal ada kesan kecil yang tertinggal di hati saat memandang foto calon legislatif. Senyum, pandangan mata, pancaran wajah, bahasa tubuh. Apa sih sulitnya tersenyum. Kata orang, kalau kita tersenyum, energi senyum orang lain akan ikut menggerakkan terbitnya senyum di bibirnya. Pandang mata akan membuat kita percaya, apalagi dengan raut wajah yang menyiratkan harapan, optimis. Kalau wajahnya ngalem bagaimana? Juga kemeja dan busana. Memberi tanda kesederhaan karakter yang siap bekerja ataukah birokrat berbunga citra. Kalau soal warna kan apa kata partainya. Apa masih perlu mengepalkan tangan menegak, atau memajang juga tokoh-tokoh pemimpin masyhur? Pede sajalah. Perlu rasanya pengarah penampilan dan pengarah fotografi yang tahu betul karakter dan visi calon. Agar visual impact-nya jadi berasa.

Juga yang namanya key word. Kata banyak orang, mulutmu harimaumu. Nggak juga. Tidak sedikit yang mulut saja, entah harimaunya kemana. Dalam bingkai komposisi grafis iklan politik yang ada saat ini, masih lazim digunakan jargon-jargon konvensional, bahkan malah ada yang justru bisa menghambat komunikasi dengan publik. Pemilihan kata-kata yang tidak tepat dalam konteks perkembangan perilaku berbahasa masyarakat saat ini, tidak jernih merepresentasikan visi. Kadang terlalu jadul, orang sudah lupa. Keluali kalau niatnya membuat yang membaca tertawa.

Selayaknya tidak hanya pada periklanan politik on screen (tv, web, digital flyer, dll.) dan on surface (baliho, poster, dll), namun juga pada pertemuan-pertemuan dengan komunitas, sobo kampung, dsb., kata dan kalimat yang terucap bisa mencerminkan kualitas sosok pribadi yang paham persoalan masyarakat, melahirkan statement-statement yang jauh dari over promise. Janji palsu alias pahape. Di sinilah diperkukan seorang copy writer dan penasehat perilaku dan tutur kata, agar setiap ucapan yang meluncur dari bibir dapat menjadi tanda bagi public untuk hormat dan percaya.

Jangan lupa, ketika wajah-wajah para caleg sudah terpampang di ruang benak masyarakat, maka wajah dan nama sudah menjadi merk, atau brand, atau cap. Tentu, masyarakat akan berharap dapat terpenuhinya keuntungan emosional dan kebutuhan fungsional yang diharapkan. Masyarakat akan penasaran dengan apa kelebihan dan keunikan para caleg. Boleh jadi yang paling dibutuhkan saat ini adalah wakil-wakil rakyat yang inside-out, insight-out, dan memiliki bekal seonggok paradigma baru dalam pemikiran dan tindakan politik untuk kepentingan masyarakat. Show must go on. Kalau soal niat, siapa bisa membaca hati? (Idur)

Sengkuni Penebar Hoax

Oleh : SUGENG WINARNO

Dalam pewayangan, ada tokoh bernama Sengkuni. Sengkuni termasuk dalam tokoh bertabiat jahat. Sengkuni masuk dalam tokoh antagonis dalam cerita wayang Mahabarata. Sengkuni suka memecah belah, memfitnah, dan mengubar kebencian. Saat ini julukan Sengkuni kiranya cocok disematkan kepada mereka yang suka menebar berita bohong (hoax). Sengkuni-sengkuni zaman now ini harus jadi musuh bersama dan terus diperangi semua pihak.
Menteri Dalam Negeri (Mendagri) pernah melontarkan pernyataan agar kita semua memerangi Sengkuni penebar fitnah. Seperti diberitakan beberapa media, Menteri Tjahjo Kumolo menyampaikan pesan itu saat menutup Rapat Koordinasi Nasional Dewan Pimpinan Pusat Organisasi Masyarakat Rasa Sejatining Inti Kamanungsan (Rajatikam) di Yogyakarta, Sabtu, (1/12/2018).

Ajakan untuk perang melawan hoax berupa spanduk, baliho, iklan layanan di koran, majalah, radio, televisi, dan media online sudah banyak dibuat. Gerakan masyarakat melalui kelompok anti hoax juga banyak bermunculan di beberapa daerah. Melalui ceramah-ceramah agama dari para ulama dan kiai juga sudah banyak menyerukan agar masyarakat waspada terhadap munculnya hoax.

Mengapa informasi hoax tetap saja ada dan terus di bagi-bagi (share) lewat beragam platform medsos dan media pertemanan semacam WhatsApp (WA)? Pada masa kampanye politik saat ini, hoax bahkan muncul semakin masif dan semakin sulit dibendung. Informasi bohong dan menyesatkan terus diproduksi, viral, menggelinding semakin lama semakin membesar layaknya bola salju. Mana informasi yang benar dan mana pula yang salah menjadi semakin sulit dipilah.

Era Keberlimpahan Informasi
Inilah era keberlimpahan informasi. Sebuah era dimana informasi muncul membanjiri masyarakat. Informasi dalam beragam wujud dan versi menelisik masuk ke ruang-ruang pribadi masyarakat lewat beragam gadget dan laman medsos. Informasi melaju amat deras menyerbu masyarakat. Pada situasi seperti ini banjir informasi terjadi dan tidak sedikit yang jadi korban.

Pada masa keberlimpahan informasi ini sulit dipilah mana fakta dan mana pula opini atau pendapat pribadi seseorang. Keduanya bercampur, hingga sebuah kebenaran semakin sulit ditemukan. Kebenaran bisa saja muncul dari fakta kebohongan yang dijadikan opini seseorang dan diviralkan di medsos hingga jadi opini publik (public opinion).
Jadi kebenaran bisa rancu. Karena kebenaran bisa lahir dari kebohongan yang disulap seakan-akan seperti benar. Fakta hasil sebuah rekayasa seolah-olah nyata. Apalagi yang menyampaikan atau ikut memviralkan beberapa informasi yang belum jelas tadi para tokoh publik. Karena ketokohannya tidak jarang orang akan percaya begitu saja terhadap apapun yang disampaikan.

Pada era banjir informasi saat ini juga memungkinkan masing-masing orang bisa menjadi produsen informasi. Lewat medsos setiap pemilik akun bisa menggungah beragam informasi dalam beragam wujud. Informasi yang tersebar di medsos sulit dilacak, tidak bisa diverifikasi, dan tak gampang dilihat akurasinya. Karena tidak jarang orang yang mengungah informasi dan pemilik akunnya tanpa indentitas yang jelas (anonim).

Kondisi ini semakin diperburuk dengan kemampuan melek media (literasi media) masyarakat yang sangat rendah. Tidak banyak masyarakat yang mampu berfikir kritis ketika mengonsumsi media. Tidak jarang pengguna Facebook, Twitter, Instagram, atau WhatsApp yang menerima begitu saja terhadap berbagai informasi yang masuk kepadanya. Dengan gampang pula mereka turut menyebarkan informasi yang sering berupa hoax itu ke pertemanan mereka.

Kontra Narasi Hoax
Narasi berupa informasi bohong di medsos terus bergulir. Merebaknya konten negatif yang menyebar di medsos tak mudah dibendung. Pembuat konten jahat di medsos terlampau perkasa. Mereka terus memroduksi narasi-narasi yang menyesatkan sementara pihak yang melakukan perlawanan dengan unggahan pesan-pesan positif sangat jarang.
Frekuensi kemunculan informasi buruk lewat medsos tidak sebanding dengan informasi yang baik. Kenapa bisa demikian? Salah satu sebabnya karena informasi bohong saat ini telah menjadi industri yang mendatangkan banyak keuntungan. Beberapa pihak telah menjadi sponsor agar lahir informasi hoax yang meresahkan masyarakat. Para sponsor inilah yang rela membayar mahal untuk merebaknya hoax.

Kalau kondisinya sudah seperti ini maka mengajak masyarakat hanya sekedar menyaring terhadap informasi buruk di medsos tentu tidak cukup. Informasi yang harus disaring terlampau banyak. Masyarakat juga dihadapkan pada kondisi yang sulit untuk memilah dan memilih mana informasi yang baik dan benar. Butuh keahlian yang tidak mudah agar mampu menyaring informasi palsu yang menyesatkan.

Selain kemampuan menyaring informasi, sebenarnya yang perlu dilakukan adalah kemampuan membuat kontra narasi hoax. Upaya ini bisa dilakukan dengan memroduksi konten-konten positip. Narasi-narasi berupa anti hoax idealnya harus terus diproduksi melebihi narasi hoax yang muncul. Semua yang bohong idealnya harus dilawan dengan menunjukkan yang benar. Upaya kontra narasi terhadap informasi hoax harus terus dibuat secara masif sejalan dengan masifnya hoax yang diproduksi dan disebar para Sengkuni. Mari lawan Sengkuni produsen hoax!.

(*)SUGENG WINARNO,Pegiat Literasi Media, Dosen Ilmu Komunikasi FISIP
Universitas Muhammadiyah Malang

TA’ARUF CALEG

Oleh : SUGENG WINARNO

Tak kenal maka tak sayang, begitu ungkapan yang cocok untuk menggambarkan hubungan antara Calon Legislatif (Caleg) dengan masyarakat (konstituen) yang diwakilinya. Hiruk pikuk Pemilihan Presiden (Pilpres) sepertinya lebih menyita perhatian masyarakat. Tak banyak caleg yang muncul mengenalkan diri. Pada sisa waktu kampanye politik ini, saatnya para caleg lebih semangat mengenalkan diri (ta’aruf).

Bagaimana akan dipilih kalau kenal saja tidak. Banyak masyarakat yang tidak mengenal siapa caleg yang ada di daerahnya. Kalau hal ini terus terjadi hingga akhir masa kampanye maka bisa dipastikan masyarakat akan memilih caleg seperti layaknya membeli kucing dalam karung. Masyarakat bisa jadi keliru menentukan pilihannya karena tidak cukup informasi tentang sosok caleg yang sedang ikut berkontestasi.

Merujuk pada jajak pendapat yang dilakukan Litbang Kompas pada November 2018, diperoleh hasil bahwa banyak caleg yang belum di kenal masyarakat. Dua bulan setelah penetapan caleg DPR, DPRD, dan DPD, ternyata publik belum banyak tahu. Menurut hasil jajak pendapat Kompas bahwa di level DPRD kabupaten/kota, ada 50,6 persen calon pemilih yang tidak tahu nama caleg yang ikut berkontestasi. Sementara pada level provinsi, sebanyak 55,7 persen dan untuk DPR sebanyak 63 persen, serta untuk calon DPD sebanyak 64,1 persen pemilih yang tidak tahu siapa kandidat caleg yang ikut berkompetisi.

Masih merujuk pada jajak pendapat Litbang Kompas, ternyata tingkat pengenalan masyarakat pada caleg yang sudah diketahuinya juga sangat rendah. Hanya 33,7 persen yang mengenal 1-5 caleg tingkat DPRD kabupaten/kota. Sementara pengenalan pada caleg level provinsi juga rendah, yakni 1-5 orang saja. Padahal menurut KPU, Daftar Calon Tetap (DCT) anggota DPR sejumlah 7.968 orang, dan calon DPD sebanyak 807 orang. Anggota DPD provinsi, kabupaten/kota dengan jumlah ratusan caleg di setiap daerah pemilihan (Kompas, 19/11/2018).

Popularitas Jadi Kunci

Kenapa caleg harus mengenalkan diri (ta’aruf)? Karena bagaimana masyarakat akan memilih kalau tahu dan kenal saja tidak. Minimal kenal sosok personalnya, keluarganya, terlebih masyarakat tahu rekam jejak (track record), visi misi, ide, gagasan dan program yang bakal diusungnya kelak bila terpilih jadi wakil rakyat. Popularitas sang caleg menjadi kata kunci guna menarik simpati.

Memilih caleg bukanlah seperti tebak-tebak si buang Manggis. Memilih caleg juga bukan seperti membeli kucing dalam karung. Memilih caleg pertaruhannya sangat serius. Bila masyarakat salah pilih, tentu penyesalan akan berlangsung hingga lima tahun ke depan. Agar masyarakat tidak salah dalam menentukan pilihan sosok caleg maka masyarakat perlu referensi sebanyak dan selengkap mungkin tentang sang caleg.

Bagi para caleg yang sedang berkontestasi juga jangan coba-coba mengelabui masyarakat. Jangan tampil instan lewat tebar pesona dan pencitraan. Kebohongan yang dibangun lewat beragam rekayasa sang caleg, ujung-ujungnya dapat menipu masyarakat. Janji-janji politik palsu yang digunakan merayu masyarakat hendaknya dijauhi.

Popularitas memang super penting, namun membangun dan mencapai popularitas itu hendaknya dengan cara-cara yang baik. Menunjukkan prestasi kerja nyata akan jadi cara yang ampuh untuk mengenalkan diri dan merebut simpati masyarakat pemilih. Popularitas yang dibangun lewat karya nyata dan rekam jejak yang baik akan menjadi referensi penting masyarakat dalam menentukan pilihannya.

Segala cara instan guna mendulang popularitas tidak bisa sekedar tipuan (lips) semata. Model-model kampanye tebar pesona di media sosial (medsos) dan iklan politik sering tidak menyentuh esensi persoalan masyarakat. Dramaturgi yang dimainkan para caleg di media massa saatnya diakhiri dan diganti dengan tampilan ide, gagasan, dan karya nyata yang bermanfaat bagi masyarakat.

Telisik Rekam Jejak

Pada pemilu 2019 mendatang, puluhan ribu orang akan berlomba memperebutkan 575 kursi di DPR, 19.817 kursi di DPRD provinsi/kabupaten/kota, dan 165 kursi DPD. Mereka yang ikut berkontestasi terdiri dari represensisi partai politik, artis, selebritas, dan masyarakat biasa. Semua memang berpeluang jadi caleg asal memenuhi persyarakat yang telah ditentukan KPU.

Para kandidat caleg berasal dari latarbelakang pendidikan, profesi, status sosial, partai dan beragam faktor lain. Heterogenitas yang melekat pada diri masing-masing caleg harus diketahui masyarakat. Bahkan caleg mantan napi korupsi hendaknya juga menjadi perhatian serius penyelenggara pemilu maupun masyarakat. Intinya semua rekam jejak sang kandidat harus secara terbuka diketahui masyarakat.

Di era digital saat ini, tidak sulit mengetahui rekan jejak seseorang. Siapa saja yang telah pernah membaut jejak digital di internet pasti bisa dilacak rekam jejaknya. Karena semua konten yang telah muncul secara online tidak akan bisa dihapus kecuali karena pertimbangan tertentu. Sehingga segala kebaikan dan atau keburukan yang pernah ditorehkan seseorang di jejak digital pasti dengan mudah bisa dilacak.

Menelisik rekam jejak sang caleg juga bisa dilakukan lewat penelusuran harta kekayaannya. Simak latar belakang dan harta yang dimiliki sang caleg. Jika ada sosok caleg yang super tajir, sementara pekerjaannya tidak jelas, maka ini patut dicurigai. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) telah menyediakan laman digital untuk melakukan penelisikan harta kekayaan para pejabat publik.

Ketika banyak caleg yang belum dikenal masyarakat, sementara masyarakat harus menentukan pilihan politiknya, situasi ini bisa memicu persoalan serius. Untuk itu bagi para caleg hendaknya bersegera melakukan ta’aruf kepada masyarakat dengan cara-cara yang baik. Bagi masyarakat juga harus kritis dan waspada agar tidak tertipu memilih caleg busuk. Caleg yang kelak kalau terpilih kerjanya hanya bisa duduk dan diam, sambil tertidur saat rapat penting membahas nasib rakyat.

Pemilih yang kritis dan cerdas pasti bisa menemukan caleg yang berintegritas dan mampu bekerja demi rakyat yang diwakilinya. Semoga masyarakat mampu memilih wakilnya dengan tepat, tidak lagi keliru seperti membeli kucing dalam karung karena saat akan mencoblos di bilik suara seperti tebak-tebak si buah Manggis. Mari jadi pemilih yang cerdas! (*)

*) SUGENG WINARNO, Pegiat Literasi Media, Dosen Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Muhammadiyah Malang

Jebakan Dikotomi Tradisi-Modern pada Kemajuan Pertunjukan Teater Malang Raya

Oleh:  wishnumahendra

Ketika situasi global sedang menghadapi perkembangan teknologi informasi yang begitu cepat. Sudah menjadi barang tentu Indonesia terkena dampaknya, atau sekurang-kurangnya sudah saatnya untuk bersiap untuk ikut ke dalam arus kemajuan tersebut. Gagasan terkini tentang kemajuan teknologi informasi tersebut berkembang ke tahap keempat, yang kemudian disebut dengan Revolusi Industri 4.0. Secuplik tentang Revolusi Industri 4.0 dari buku The Fourth Industrial Revolution oleh Klaus Schwab disebutkan sebagai satu kondisi revolusioner dalam bidang teknologi informasi yang tidak hanya saja pintar, melainkan juga semakin terhubung dan terintegrasi. Bahkan ruang lingkup perkembangannya semakin terpadu lintas fisik, digital dan biologis, sehingga menyebabkan perkembangan teknologi berjalan begitu cepat dari revolusi industri sebelumnya. Menarik untuk melihat bagaimana perkembangan kesenian seiring dengan momentum Revolusi Industri 4.0, baik sebagai sebuah peluang ataupun tantangan.

Tulisan ini selanjutnya akan secara khusus melihat potret kemajuan pertunjukan teater di Malang Raya. Tentu tidak serta merta mengkaitkan dengan momentum Revolusi Industri 4.0, namun justru melihat visibilitas dari kesiapan pelaku seni pertunjukan terhadap momentum tersebut. Jika ditarik pada tingkat negara, Pemerintah Indonesia (via KEMENPERIN) berupaya untuk mengejar daya saing regional dengan menerbitkan Making Indonesia 4.0 melalui lima sektor utama (makanan dan minuman, tekstil dan pakaian, otomotif, kimia dan elektronik), sayangnya tidak ada sektor seni dalam dokumen tersebut yang dijadikan daya saing negara dalam hal ini. Meskipun begitu, Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF) menetapkan target kontribusi ekonomi kreatif pada perekonomian nasional mencapai RP. 1,2 Triliun. Harapannya industri seni pertunjukan dalam kontribusi tersebut dapat tumbuh 9,54% dengan tanggung jawab BEKRAF untuk membangun ekosistem ekonomi kreatif yang kohesif, yang dapat mempertemukan ide/produk, produksi, perlindungan HKI, pemasaran dan penjualan.

Merujuk pada segi otoritas negara beserta kebijakan turunannya tentu ada tugas besar untuk melihat bagaimana kesiapan seni pertunjukan di Malang Raya menghadapi era yang begitu kompetitif. Pembangunan ekosistem yang disebutkan sebelumnya tentu membutuhkan waktu untuk dapat berjalan sebagai sistem yang hidup secara aktif dan tidak membuat pelaku seni hanya berlaku pasif. Salah satu potret yang menarik adalah melihat bagaimana lembaga pendidikan merespon hal ini. Pengalaman penulis ketika mengikuti Forum Diskusi Kajian Seni dan Budaya Teater Universitas Brawijaya “Kamisan di Teater EGO” hari Kamis, 18 Oktober 2018 justru menyajikan dialektika yang usang. Pelaksanaan diskusi tersebut bagaimanapun tetap harus diapresiasi sebagai pengayaan ide dan gagasan, namun dengan tema yang diajukan yakni “Spirit Lokalitas dalam Teater Modern” peserta diskusi sayangnya justru terjebak dalam menelaah pembeda atau karakteristik khusus antara konteks tradisi dan modern. Seakan-akan pembedaan tradisi dan modern pada era yang sangat kompetitif ini menjadi tembok tebal untuk menentukan bagaimana pelaku seni pertunjukan teater melakukan produksi atau tidak.

Tulisan Abdul Malik dalam kolom Kompasiana-nya berjudul “Didik ‘Meong’ Harmadi dan Dunia Teater di Malang” menyebutkan bahwa Sastrawan Afrizal Malna dalam sebuah diskusi pernah mengusulkan Malang menjadi laboratorium teater. Alasannya cukup logis mempertimbangkan banyaknya kelompok teater di sekolah/kampus dan juga kelompok teater yang independen. Jika memang Malang diandaikan sebagai sebuah laboratorium teater, tentu sudah menjadi suatu keharusan bagi pelakunya untuk terus melakukan eksperimen agar dapat menghasilkan karya yang baik. Eksperimen-eksperimen tersebut tentu menuntut pelakunya untuk terus aktif berkarya sembari menambah jam terbang dan kualitas diri. Arah pikiran tentang sebuah pertunjukan menempatkan sutradara sebagai tokoh sentral juga harus perlahan digeser ke arah pekerjaan tim. Mutia Husna Avezahra (Pegiat di Teater Komunitas) dalam tulisannya “Seberapa Kolektif Panggung Seni Pertunjukan Teater Kota Malang” pada kolomnya di Malang Voice juga menyadari bahwa dalam sekian waktu berkecimpung dalam teater ia mendapati bahwa panggung seni pertunjukan saat ini tidak lagi sutradara-sentris melainkan akomodasi dan kolaborasi banyak pihak, yang selanjutnya ia sebut sebagai kerja kolektif.

Poin pentingnya ialah sebagai suatu potret dari dunia teater di Malang Raya, situasi yang dihadapi saat ini setidaknya pelaku seni pertunjukan sama-sama mengamini bahwa Malang memang sebuah laboratorium teater yang sangat potensial berkembang terus. Posisi sutradara yang sangat hirarkis berangsur-angsur mulai ditempatkan sebagai pihak yang lebih setara sebagai kerja tim. Pengalaman penulis di Ruang Karakter juga melihat peran Pimpinan Produksi bukan lagi subordinat dari sutradara seperti yang dilakukan di kelompok teater di Malang Raya kebanyakan, melainkan memiliki peran yang sudah seharusnya dikembalikan sebagai ‘pemimpin’ dalam jalannya produksi. Sementara ide dari laboratorium ‘Malang’ yang begitu besar dan potensial ini sayangnya tidak diikuti dengan gagasan pengembangan seni pertunjukan ke arah yang berkemajuan. Terbukti dialektika gagasan yang terjadi masih berkutat pada tipologi tradisi dan modern, padahal dalam konteks kemajuan teknologi informasi mestinya memiliki arah yang berbeda. Harusnya pembedaan tradisi dan modern dicukupkan sebagai sebuah pilihan saja oleh pelaku seni, saat ini mestinya dialektika gagasan diarahkan pada pemanfaatan teknologi serta upaya menjaga konsistensi berkarya di panggung pertunjukan. Bagaimanapun seseorang ataupun kelompok seni dikenal karena karyanya, maka itulah satu-satunya penjembatan antara gagasan kreasi yang dimiliki dengan penikmatnya.

Pelaku seni, tidak hanya pada seni pertunjukan, perlu merubah cara pandangnya pada situasi terkini yang terjadi di dunia. Hanya ada dua pilihan, ikut maju berkembang dengan momentum yang ada atau tetap bertahan pada sekat-sekat yang sangat subjektif kemudian ditinggal kemajuan dunia. Hal sederhana yang paling mungkin dilakukan adalah membuka diri pada kemajuan tersebut dan menyadari bahwa banyak cara yang harus dikerjakan untuk ikut membangun ekosistem seni pertunjukan di Indonesia termasuk di Malang Raya. Jangan sampai pelaku seni masih terjebak pada dikotomi tradisi dan modern, tanpa menyadari tantangan ke depan yang begitu kompetitif dengan beragam sajian pilihan.

*) wishnumahendra, Manajer Produksi di Ruang Karakter – wishnu.mahendra@gmail.com

Jaran Teji

Sakjane likes sik kemeng, tapi lek ati karep, kadit osi awak dikongkon ngenem. Sik isuk ladub ae, lha janjian hare ambik De Patimah, ate diisaki sewek. Masiyo lungsuran gak popo tapi sik kinyis-kinyis, kadang nayamul sing lungsuran hare tinimbang sing anyar wkwkwkw…lambemu rek. Paitun uklam mripit embong, Koyoke ngene iki enake liwat ngarepe biskop Merdeka, kera kaceban asaib ngepos ndik kono. Apais iku tekan kadoan suarane koyok sablukan diuncalno.

Jaranan… jarane jaran teji. sing kenek ndoro bei…
Sing nderek poro mantri…
Nyenyek tun… nyenyek tun…

Osi ae. Suarane lumayan, ngono kok gak dodol dawet. Lapo nyandak-nyandak ayas. Tibake Jumain sing nggandang. Ndik kampong kene, masiyo kaceban tapi mbois.. Rapi, utapesan, kaos kakikan, alanete gak lungset, kadang yo nggawe jaket koyok jas. Rambute roto-roto disureni klemis, rambute kadit sepiro… pomed e digetno. Yo nglumpuk ngene iki, gaya, onok sing moco koran, onok sing jigang okeran, onok sing ngrungokno radio. Jian… merdeka. Lek Pi’i yo rudit ngleker ndik jok, ambik suthange ngglantong kaos kakik e ketail bolong-bolong. Tapi masiyo uripe sederhana tapi wong-wong e jujur-jujur, nyukuri urip.

“Tun, onok lecep elek-elekan enak ngene iki ya?” jare Jumain.

“Ente dino iki kok ketok sinam, Tun,” jare Jai. Liane kolem ngroyok wis, saur manuk.

Lecep gegermu iku, batine Paitun. Sewengi ayas kaliren hare. Jarno, lek rameae engkuk tak kandakno Pak Wella, cek semburat kabeh. Kepingin ndase dithuki pestol a ambek Pak Wella. Tak langgit ae wis, selak awan hare.

DICARI: PARA PENONTON YANG BERBUDAYA

“Ini perhelatan budaya, kami mempersiapkan dan bekerjakeras menyelenggarakan acara ini dengan semangat, nilai-nilai dan cara-cara yang berbudaya, jika anda ingin menontonnya, menikmati acaranya, berinteraksi, belajar, dan atau mengambil makna daripadanya, jadilah penonton yang berbudaya dan layak dihormati”

Oleh: Tatok (Kristanto Budiprabowo)

Para penonton

Kehadiran penonton adalah bagian penting dalam sebuah pertunjukan. Ada beragam model penonton, diantaranya adalah: yang pertama, penonton yang dekat, langsung, dan berinteraksi dengan suasana yang diciptakan oleh sebuah pertunjukan. Penonton ini kadang bisa nampak sangat fanatik mencintai apa yang ditontonnya, kadang mengenal para pemain pertunjukan secara personal, dan mengekspresikan diri dalam semangat yang ditampilkan oleh sebuah pertunjukan.

Yang kedua adalah penonton yang pasif, apatis, kadang sinis menjaga jarak. Penonton ini lebih memilih menikmati dirinya sendiri dan keasyikannya sendiri sembari berada di keramaian sebuah pertunjukan. Apapaun yang terjadi dalam pertunjukan itu tidak penting. Bahkan susah untuk menanyakan pada mereka apa yang disukai dalam pertunjukan tersebut.

Yang ketiga, ini biasanya sedikit saja, adalah kelompok penonton yang justru berusaha menjadi orang yang ingin ditonton, ingin menjadi pusat perhatian dalam pertunjukan. Bahkan para pemainpun berusaha mengarahkan pertunjukan bagi orang-orang ini. Penonton diarahkan sedemikian rupa bahwa pertunjukan hanyalah sarana agar para penonton menonton penonton khusus ini. Aneh memang. Tapi begitulah seringkali orang penting didudukkan dan mendudukkan diri dalam sebuah pertunjukan.

Yang keempat, sebagai akibat dari makin canggihnya teknologi, adalah penonton jarak jauh lewat media televisi atau streaming jaringan internet. Penonton seperti ini kadang yang paling keras membuat analisa baik buruknya sebuah pertunjukan berlangsung. Semacam sindrom kolonialisme pendidikan; penelitian obyektif adalah yang dilakukan dengan cara mengambil jarak. Begitulah kadang di kalangan penonton jenis inilah sebuah pertunjukan bisa menjadi isu dan perbincangan sosial yang berkepanjangan.

Belajar dari suporter Arema

Yang banyak tidak diketahui orang di dunia sepakbola adalah adanya hubungan yang saling menguntungkan antara penonton sepak bola dengan keseluruhan sistem managemen tim dan bahkan berabagai kompetisi sepakbola yang ada. Keempat jenis penonton diatas, dalam dunia suporter sepakbola adalah asset-asset penting yang dikelola dengan sangat sistematis sehingga hubungan saling memuaskan itu memberi makna pada pesan-pesan peradaban.

Arema dengan slogan “Salam Satu Jiwa” nya adalah contoh yang paling original dalam gerakan akar rumput untuk menghubungkan kecintaan masyarakat tidak hanya pada tim sepakbola kesayangannya melainkan juga pada makna nilai-nilai hidup yang berbudaya dan berperadaban. Kecantikan permaian, kemenangan dalam kompetisi, dan transparansi managemen tim selalu penting, namun dibalik itu ada gelora massa untuk menyadari jadi diri sebagai sebuah kesatuan kebersamaan bagi kejayaan.

Upaya-upaya pengorganisasian yang dibangun secara formal, kebebasan tiap-tiap orang untuk menciptakan komunitas-komunitas dengan segala kreatifitas ekspresinya, dan keleluasaan memanfaatkan segala atribut bagi kepentingan bersama, adalah realitas yang patut disyukuri yang menghadirkan arema bukan hanya sekedar sepakbola. Dia bisa juga soal bakso, soal cwimie, soal pecel dan es campur, soal dagang kaos, soal media, soal nusik dan lagu, dan bahkan soal-soal yang lebih fundamental semacam relasi interpersonal menghadapi keragaman sosial yang ada secara filosophis, sosiologis dan bahkan politis.

Arema way adalah pesan damai dalam kegembiraan bersama dan kebanggaan bersatu jiwa. Maka tidak perlu heran jika pertandingan tim arema selalu menjadi hal yang menarik dan mendapatkan apresiasi dari para penonton dengan beragam evaluasi. Karena dibalik kegembiraan kemenangan atau kekecewaan kekalahan tim kesayangannya, tiap-tiap penonton menemukan ruang refleksi mendasarnya, yaitu “salam satu jiwa”.

Penonton seni tradisi Malangan

Mengapa gelora kecintaan para penonton seperti yang terjadi pada pertandingan sepakbola tidak terjadi pada ekspresi-ekspresi seni budaya lainnya, terutama ekspresi seni tradisional yang semua orang menyadari adalah bagian dari hidup arema? Bukankah penonton tetaplah penonton apapun pertunjukan yang ditampilkannya; entah itu pertandingan sepakbola atau pertandingan bantengan, jaranan, patrol, atau kompetisi musik, tari, teater tertentu?

Menjawab hal ini jelas tidaklah mudah. Kalaupun hendak diadakan survey, dia akan menghadapi persolan-persoalan mendasar hingga pada kecenderungan memaknai hidup masyarakat yang ada di dalamnya. Jadi pertanyaan di atas sebenarnya adalah pertanyaan eksistensial yang akan memperlihatkan keaslian wajah arek-arek malang – arema dalam kesadaran budhi dan dayanya. Pendek kata, hal itu akan mempertanyakan budaya penonton dan budaya pertunjukan yang ada di Malangraya ini serta usahanya mempraktekkan nilai-nilai hidup di dalamnya.

Arema adalah bagian penting dari budaya Malangraya untuk Indonesia. Sesungguhnya tiap perhelatan yang melibatkan penonton, termasuk pertandingan sepakbola adalah perhelatan budaya yang mencerminkan kehidupan manusia-manusia yang terlibat di dalamnya.

Dalam asumsi saya pribadi, sudah waktunya bagi masyarakat Malangraya – arema – untuk membebaskan diri dari resistensi masa lalu yang memposisikan segala bentuk perhelatan – selain sepakbola – sebagi ajang propaganda dan indogtrinasi politis.

Kita sudah hidup di era pasca reformasi, era dimana segala bentuk ekspresi budaya telah terbebas dari cengkeraman dan ancaman tunduk pada kemauan kekuasaan. Jika arema sebagai suporter sepakbola telah menjadi pioner pembebasan diri dari hal itu, tentu terbuka peluang bagi gelora penonton yang sama pada segala jenis pertunjukan seni budaya yang ada di Malangraya.

Bagaimana itu bisa dimulai? Mari kita tanyakan pada semua orang yang terlibat dalam dunia seni dan budaya. Kalau perlu mengajak mereka belajar pada arema. Belajar membangun semangat “salam satu jiwa”.

Dulu bangga menjadi arek Karuman, sekarang bangga menjadi Arema

Pupuran Mbeluk

ilustrasi (Anja a)

Mambengi Paitun keturon maneh ndik pos, maleh kadit helom. Isuk-asuk karepe ditutukno rudit, lha howone adhem njejep hare. Mbuh kah, ate mlungker yoopo, uput-uput Wak Pan mlijo wis dirubung ebes-ebes kodew, kathik lambene koyok spiker kabeh. Iku durung sarapan, suorone wis koyok terminal bemo. Bah wis, mlungler ae ambek ngrungokno.

“Sampeyan maeng liwat bale erwe a mbak Tin? Tak delok kok koyok akeh wong anyar,” jare Bu Wiwik.

“Iyo buk. Aku krungu jare iku petinggi-petinggi anyar. Ngganteni sing lawas, sing kenek setrap. Pemain cadangan, adane bal-balan ae,” jare Mbak Jum sak njeplake. Iso maleh kekel kabeh.

“Mandarmugo ae gak kenek kartu merah pisan. Tak delok onok Mbak Ninil. Mangkane, mulai subuh wis bingung macak. Padahal biasane, jam sepoloh sik dasteran, ambek ngetapel nontok tipi mangku panganan. Maeng subuh pas aku nyapu latar, tak pikir wonge budal subuhan, tibake ndok-dok salone Siska wkwkwk…,” jare Bu Wiwik molai nyumet kompor.

“Aku maeng yo ketok Mak Tinik, Bu Wilujeng, terus sopo maeng, ooo… Mbak Bawon. Cumak aku rodhok heran. Mosok wong-wong iku moro-moro mbejudul dadi petinggi ndik erwe?” jare Bu Wiwik gaya mancing.

“Yow is rejekine ta buk, gak oleh njahe,” hadak Wak Pan plaurmen nyaut omongan. Mbak Jum yo sanap ta.

“Wong lanang ojok melok-melok, ini urusan perempuan! Ilingku awakmu wis gak sepiro krungu, tapi sik krungu ae.” jare Mbak Jum ambek njupuk tomat ate diuncalno nang Wak Pan. Wak Pan ancen wis rodok budheg.

“Eit…eit, tomat hadak ate digawe kasti. Sembarang larang, ate diuncal-uncalno,” jare Wak Pan ambik gaya nyaut tomate.

“Sampeyan lek rame ae, tak orat-arit blonjoan iki. Kene iki warga, lak yo berhak ero tah,” Mbak Jum macak bludrek. Wak Pan klakep, langsung ethok-ethok noto dagangan. Para kodew kembali saur manuk.

“Gak e, iso tah dadi petinggi. Awake dewe lak ero ta sopo wong-wong iku. Lek aku yo ngoco sik ta. Deloken maringono bendino lak sobo salon. Iki lak ngurusi pemerintahan se, gak poodho lho ambek ngurusi arisan erte. Lha wong sak jek jumbleg, nang PKK ae gak tau teko. Nang omahku ilo mek lek onok sing dirasani, opo njaluk trasi. Temenan iki,” Mbak Tin lek ngomong ganok potensione.

“Situke tambah mbak. Ndik ndi-ndi bendino mek nyanyi. Ben ketemu ndik ndi, mesti pas menyanyi. Lagu sembarang apal ketoke. Lak aluk dadi penyanyi tah, nyanyio ae enak. Lak sik enak ngapalno lagu ta timbang ngapalno peraturan eh… opo… undang-undang,” jare Bu Wiwik.

“Iyo yo buk, lek nyanyi lagune rodok lali, sik dikeploki. Lek peraturan gak apal, iso dikeplaki ta… disetrap barang,” jare Mbak Jum ambek nggegek. Wis tambah rame.

“Yo gak popo. Engkuk paling tugase mek dadi emsi ndik rapat-rapat. Opo nyanyi lek pas kancane ngaso rapat. Lumayan ta, karek nyeluk elektun thok, Sinyo ae wkwkwkw…,tapi bon e pancet,” jare Mbak Riani gaya nyekel mik.

Paitun tambah sumpek brebeken. Akhire tangi, ambik atame sik mrepet ketheken, tapi gak wani utem pos. Osi dietrek-etrek ambek Ebes-ebes kodew iku. Gak e, gak mari-mari lek blonjo, terus kapan masake. Lak iso sarapan abab tak keluargane, batine Paitun. Ewul pol hare, tapi kadit rayub-rayub lomba pidatone. Ngenem ae wis ndik pos, ambek tak raup terus pupuran.

“Sing blaen ketoke wanyik iko, Mbak Tin. Wong iku lak kudune lak ngukur awake dewe. Sampeyan lak ero dewe a, aku yo gak ngenyek. Uripe rumah tanggane yo rodok abot, tapi lek tuku golongane wedak, mik ap, hadohh… luarang-larang, sing laham-laham. Beha gak gelem tuku ndik pasar. Tapi lek iuran dasa wisma, mbulet mintak ampun. Arisan mesti njaluk oleh disik, ketan kolek gempo legi,” Mbak Riana nggebros wis.

“Koyoke saiki keturutan mbak. Mariki kepingin opo ae iso,” jare Bu Wiwik ngegongi.

“Opo maneh mari njabat petinggi, mesti akeh rapat, acara, undangan. Lho..lho… iso bendino nang salon. Oo iyo, mene ilingno yo, ayo totoan, mene modele rambute ganti opo gak. Gayane anyar opo gak. Biasane mlakune moro seje. Wkwkwk…” jare Mbak Tin. Osiae.

“Aku mene lek ketemu disopo opo gak yo? Soale wingenane tak ilokno pekoro pemean,” jare Mbak Jum.

“Kiro-kiro sing gelem nggak yo njaluk jangan blendrang nang omahku,” jare Mbak Tin.

“Hape ne paling langsung ganti anyar, langsung tuku telu. Rambute disemir ungu, opo nggawe wig,” jare Bu Wiwik.

“Lak koyok terong, ngawur ae sampeyan, wkwkwk.. poko ojok liwat taman,” Mbak Jum kekel hadak.

“Wak Pan, ndelok buku sampeyan., paling wong-wong iku sik ngebon yo,” jare Mbak Jum ambek nggoleki buku catetane sing blonjo ngebon. Ambek Wak Pan bukune ndang-ndang dislempitno jakete.

“Aku mbayangno yoopo yo. Lak durung paham blas wong-wong iku. Yo mandarmugo ganok masalah opo-opo. Kadung mbendino budal macak ayu-ayu, moro onok masalah pekoro durung paham. Cukup ta waktune gawe sinau. Amanah iku, gak main-main. Gak iso mbayangno, yok opo praene metu tekan bale erwe lek onok sing gak beres,” jare Mbak Riani mbengung.

Paitun wis gak kuat, ewul pol. Utem tekan pos. Kait mbukak lawang, ebes-ebes kodew iso njumbul, paling pecothot lambene.

“Lho… lho… lho… ratune sampun wungu. Enak temen oripmu, Tun,” Mbak Riani ngomong digetno ae.

“Wuikkk… pupurane rek, gak kurang mbeluk ta, iso koyok dempul,” lek iku ketok lambene Mbak Jum.

“Sik…sik. Iki ide apik iki. Petinggi-petinggi anyar iku kongkon pupuran sing mbeluk ae lek onok masalah. Kan lumayan, gak sepiro isin. Masuk…masuk…” jare Bu Wiwik koyok pengumuman.

Wak Pan sumpek, selak awan, dagangan osi kadit uyap. Sawine sampek ngletruk. Gubise ngringet.

“Wisa iki, mbayar opo bon, lak selak awan ta,” jare Wak Pan ambek ate ngaleh.

“Sing enak sampeyan lek ngomong,” jare Mbak Jum, ambik karepe nggudho. Nggoleki opo iku. Lhuk, hadak Mbak Jum njupuk kanji plastikan. Disuwek plastike, nyawuk kanji marani Wak Pan. Wak Pan kroso, brompite distater gak murup-murup, langsung mencolot iral sak kayane diuber Mbak Jum. Womg-wong kolem kaget, tapi mek ndlomong.

Kesempatan iki, batine Paitun ambek cepet-cepet ngaleh. Mumpung wong-wong emar ewed.

Ndik embong Paitun ngungib, lapo gnaro-gnaro kok tail kabeh. Kroso kadit kane, nggrayahi rai ne. Kok tambah kaku pipi iki. Ooo… jait, iki pasti kelakuane Bendot lek gak Bambing. Ayas pas rudit wedakku dicampuri koyoke. Kanji paling. Engkuk bas-bas semen putih. Dhes ancene. (idur)

Buto Kaliren

Howone kutho ketoke sik kurang merdu. Ancen adhem, tapi koyok sik onok kroso angete sekem. Paitun suwe gak dolen nang Gang Gawat. Kupinge wis keri suwe kadit denger nggedabruse gerombolan bekakas. Mlebu gang, ndik pojokan bedak e Bu Cip, Paitun ngendeg uklam, apais nggandang cik merdune. Lhuk, iki lak lagune jaman ayas sik licek.

Lepetan, lepetan angudhari
Anguculi janur kuning aningseti
Seti bali lungo dandan
Methika kembang sikatan…

Kait ate ndhodhok ngrungokno, gak sido wis. Kaceb e Pi’I liwat, Riadi Hansip sing numpak, bengak-bengok ae lambene koyok radio lawas.

“Tun, TO koen… nangdi ae. Digoleki wong akeh hadak eskip. I.. Pi’i… lhok en Paitun, dungaren pupurane mbeluk. Wkwkwk… Iko lho Tun, nango pos… lhuk listik e rek, bibirnya mirahhh… hahaha…” Riadi nggarap dilos. Listik… lipsetik… goblik Riadi.

Pi’I nyetir kaceb ambek kekel sampek kaceb s sliyat-sliyut. Kapok a, ban e sing kiwo ublem got. Rasakno…malik a wis… wkwkw… Riadi pucet. Pi’i mecethat, wong awake sak biting. Sukurr… langgit ae wis timbang dipaido.

Ndik pos tibak e emar temenan. Waduh, Bambing tail ayas koyok ndelok berkat. Wisa.

“Lhooo… lakonnyah dateng. Suweh ora jamuh, jamuh godong paitan wkwkwkw… “ jare Bambing. Paitan pathakmu iku, batine Paitun. Irunge tambah koyok klampok.

“Tak tail tekan keneh maeng tak pikir lak kesemek ta ente, Tun. Pupuraneh koyok dempul… wkwkwk…karek nyepet… bemo le’e” jare Bambing nggegek.

“Wis ta Mbing. Tun sepurane yo,” jare Jon saaken. Paitun mubeng nyalami wong-wong. Wayahe Bambing diliwati. Tambah kekel hadak brengkesan iku, ambek nggudo kucinge Paitun. Kucinge bencine setengah mati lek nang Bambing.

“Wis ero ta awakmu, Tun. Pilian erwe wis mari. Koen kesuwen gak beredar iku opo. Iki maeng arek-arek mbahas erwe sing anyar. Wis, lungguho sing anteng, iku ipok e. Rungokno ae ya. Ojok kathik kolem omong. Soale antara dehem ambek ngomong, koen gak tau jelas, tambah iso salah paham. Tertib ya? Wis Cak Mian tutugno,” jare Bendhot. Bendhot tang tinggal suwe, gak putih-putih arek iki, batine Paitun. Areke mlorok.

“Mang tekok endi. Sik. O yo. Tak terusno. Masyarakat kene sakjane kan duwe angen-angen. Pemimpin iku lek iso yo duwe ilmu kabudayan. Atau kalau tidak, ya minimal punya wawasan kebudayaan sing bener. Lek wong Jowo yo kudune ero budoyo Jowo, opo thithik-thithik yo ngertilah… Kudune lak ero sing jenenge Hastabrata. Iki kitab kepemimpinan. Kok Hastabrata, cobak engkuk takonono erwe mu sing anyar, ero ta kenek opo Gatutkoco kok kait oket pas Abimanyu wis itam. Opo pekoro patine Bhisma. Kematiane Bhisma di tangan Arjuno opo Srikandi. Takono sing gampang ae paling kadit itreng. Iki ayas kadit ngremehno lho, tapi kenyataane,” jare Samian kementhus.

“Sampek sak mono yo?” jare Endik koyok yok yok o.

“Ente ngono, Ndik. Wong Jowo potokopi. Koyok ayas ngene iki lho, podho… kok iso gak itreng blass… wkwkwk,” jare Bendhot ambik njulekno Bambing.

“Lek ayas yoh… ngertilah sak iprit. Cumak lalih,” jare Bambing nggedabrus. Genti dijungkrakno ambek Endik.

“Masalahe kan ngene. Pemimpin lek gak duwe sangu bab kebudayan, kan repot. Terus yoopo lek ate njogo opo noto seni opo budaya ndik kampung kene. Iso gak kerumat, iso diglethakno, opo lek gak mek awu-awu cek dianggep peduli seni budaya. Kancane kliru pisan wkwkwkw…,” jare Samian.

“Lek ayas krunguh sambateh wong-wong, iki wis suweh, tapi saiki jareh tambah nemen. Iku lho, jare kakean makelar seni, makelar budayah. Mbuh opo meneh arek-arek lrek ngaranih. Kanyab buto kaliren nggrumbul koyok tumo ndi bale erwe. Repote maneh, wong-wong model ngono ikuh sing dipercoyoh. Sing soroh kan yo sing seniman temenan. Trus yoopoh…’ Bambing sambat.

“Pemimpin iku sakjane kan koyok dalang. Lek paham balungan e cerito, yo mesti pinter lek noto sanggit. Njawil roso. Saiki ledome nguwawur pol lek nyanggit, lak nggarakno ngungib tah,” jare Samian.

Iki ae wis ngungib hare ayas, batine Paitun. Entek ipok agit saleg, Paitun pamitan. Grup bekakas ketoke yo ate rayub pisan.

Tekan ngarep bedak e Bu Cip, lho sing nggandang sik lanjut hare. Nongkrong ae ndik buk ngrungokno ambek ngaso. Merdu.

Nyoh sego, nyoh sego… nyoh sego nyoh cethinge
nyoh lawuh nyoh lawuh… nyoh lawuh nyoh wadhahe
nyoh sambel nyoh sambel… nyoh sambel nyoh coweke

Lho kowe kok dibanda, njupuk apa? Njupuk krikil
Ndi krikile? wis tak edol
Ndi duwite? tak nggo tuku beras
Ndi berase? wis tak liwet
Ndi segane? wis tak maem
Kower mau wis tak kek’i maem,
lha yen ngono kowe kayak buta

Paitun mesam-mesem, ambik mbatin. Oala, saiki buto-buto ewul, gak sing lawas gak sing anyar, tambah tewur sliweran umek ndik bale erwe. (idur)

Mercon Bumbung

Howone posoan wis mulai kroso. Awan rodok sore, Paitun sengojo uklam menggok Gang Gawat. Lhok en, iku Mbak Tin wis umek mbenakno mejo dasaran gorengane. Dicet, dingklik-dingklik sing peyok dibenakno. Untung ae gnakute Wak Ri, cobak Bendhot sing nggarap yo tambah menclek kabeh. Waik, mejo dasaran ditempleki sepanduk, tapi gambar senjem e osi hedeg sak blabak-blabak, yo gak jelas iku gambar weci opo sepon pupurane wedhak.

Lhuww… De Patimah gebere warunge anyar yo an. Gambare cingkire kopi tapi kegedhen, iso mblenduk ngono. Gambar kuleb e ipok osi kluwer-kluwer koyok cacing ongkep. Paling Bambing sing nggambar. Nggambar cingkir hadak dipadakno irunge. Mbak Tini cenil yo kadit meleg halak hare. Sepanduke sing nemplek rombonge sik gres ketoke. Onok potone wanyik ewed, hmmm… merdu ambik malangkerik, esem e maut. Lho, gambar lupise lha kok koyok buah karambol. Lek De Patimah gak kiro wani potone nemplek geber warunge. Lak dirikim wong lawetan kewes ambek selendang. Iki, anyar pisan iki, ujube Bambing, tante Bembi bukak toko pisan ndik cendelo ne, bek toplese najaj, camilane kera licek-licek pathing grandol werno-werno. Ketoke lawetan oskab pisan. Oskab kanji ketoke, lha lonthepe bundere gak jelas. Iki kampung ta pasar senggol, batine Paitun.

Ndik pos lapo ae grup e rengginang iko. Tak paranane ae. Wuik… Samian sibuk ngganti senare gitar. Bendhot ngumek ketipung, di tang… di obeng, ditabuhi. Bendhot sibuk nyetem cukulele, gitar cilik iku lho. Endik ambik ambek Samian nggraji pring, kethoke nggawe kenthongan. Pak Nardi ngik ngok ngik ngek, nyobak biolane ambek bolak-balik herbone diarpus. Wanyok lak termasuk buaya keroncong biyen. Engkuk bengi osi-osi cek son iki, rikime Paitun. Lek poso lak usum patrol.

“Ndhot, yoopo iki, bas cethole e odis nyeleh Jakik ta, kronconge lak prei a,” Endik takon.

“Kadit wis. Gak usah bas cethol marih. Kegedhen. Sopoh sing meleg nggotong. Kathik kene engkuk maleh kadit osi uklam ublem lompongan. Bolak-balik mandeg, ngaso thok ae isineh. Ente iling a, patrol nggowoh bas e kroncong, isuke mokel gentenan…wkwkwk. Mboten om, ayas tak mauh menyiksa dirih,” jare Bendhot.

“Ngene ae, yoopo lek bas e ente ae, Mbing. Ente ae sing muni kolem lagune. Mek, dham dhem… dham dhem… Nayamul,” jare Endik.

“Kathik mubeng kampung rong ubengan ya? Seneng lek kancaneh lambene njedir ambek hewod? Gendheng tah… Patrol oleh telung dino, awak opnameh…kak kak kak… Kamu ketoknyah sukak kalok temannya ndak bisa riyayah wkwkwk…arek sempel,” jare Bambing nggegek.

“NIki biola sing mbiyen niko a Pak Nardi? Sik kane hare munine,” jare Samian ambek nyetem kendang e.

“Iyo dik, riwayat iki. Pokok lek herbone asli rambut kuda, yo unine ulem, dik,” jawabe Pak Nardi. Hadak Bambing ngakak.

“Pakek rambutnyah Mbak Riani ndak bisah de? Kik kik kik… lak tambah sula tah..unineh, opo maneh rambute Mbak Tini… lhuwww…,” jare Bambing nggarap, dijulekno ambek Bendhot.

Wah emar iki, batine Paitun. Lapo Pak Pandi marani ambek praene mbureng. Wong-wong kroso pisan ketoke.

“Rek, tak ilingno yo. Lek patrol ojok sampek liwat lompongan sebelah omahku. Aku ero, koen-koen iki sengojo mandeg ngarepe cendelo kamarku. Terus mbok banter-banterno lek mbengok. Situk engkas! Ojok sampek ngrewangi arek-arek cilik nggawe mercon bumbung ndik barongan iko ya!? Koen terutama, Ndhot,” jare Pak Pandi terus nyengkre. Koyoke tangi turu sore, durung pepek. Bendhot lek mungsuh Pak Pandi, tambah njahe.

“Mbing, mene peseno nang Riadi, bumbunge kongkon golek sing rodok gede maneh. Deloken, jarno ae, tekan barongan mercon bumbunge tambah tak pasno madep mburi omahe Pandi, cek bolak-balik njumbul,” Bendhot getem-getem.

Diluk engkas Bu Wiwik oket marani. Ate maido opo maneh iki. Tapi rodok alus, soale kadit itreng lek onok Pak Nardi.

“Sepuntene Mas Nardi. Mbing, lek patrol iku mbok lagune sing tepak. Mosok ben taun, mulai biyen lagune lek gak Kuda Lumping, Begadang, Tul Jaenak, Hidup di Bui, Diana, terus opo maneh iko. Gak iso nyanyi liane tah. Aluk nyetelo tip, nggowo salon tumpakno becak. Sepurane lho yo, suwun,” jare Bu Wiwik pamit ambek mesam-mesem. Pak Nardi biyen ambik Bu Wiwik lak sir-siran, tapi gak odis dadi. Pak Nardi pas iku dadi guru penempatan ndik luar jawa, kathik taunan. Akhire yo tekek kecemplung laut.

Maneh, De Patimah liwat, mandeg sak nyuk ambek mentheng kelek.

“Le, koen kabeh, rungokno yo, ojok sampek penekan, nyolongi blimbing ambek pencit ndik latarku. Tak kabyuk koen, tak guyang banyu. Deloken yoh…” jare De Patimah ngancam terus ngaleh.

Datang lagi si Riadi Hansip. Ngerem apedese mbliyut, njagrag meh keblowok got.

“Rek, ayas maeng mek dikongkon nyampekno, patrol sing tertib. Lek iso arek-arek sing kolem patrol kandanono, ojok oleh nyaut ember, omplong, blek…opo tutupe resek ndik latare warga. Dithuthuki gawe kothekan, maringono diklemprakno sak paran-paran. Ayas mek nyampekno lho yo,” jare Riadi langsung gutap ngaleh soale Bendhot mencolot marani.

Coronge langgar muni adzan. Pak Nardi pamit helom. Grup rengginang hadak sek klesetan. Bu Cip ambek Tante Bembi liwat uklam budal nang langgar. Ndelok ndik pos, Bu Cip kontan gak srantan.

“Yoopo awakmu iku le…le. Nggak magriban ta… Gak sembayang? Magrib kok genjrang-genjreng ae. Wis tuwek-tuwek tambah gak karuan. Kok iso… wis durung adus, wong cap opo se awakmu iku, rek” jare Bu Cip nyeneni. Wisa, Tante Bembi maleh kolem siaran. Bambing cekekal ngadeg, liane mek ndlomong.

“Lo..lo…lo, sampeyan sik ndik kene. Emben wis poso, Mbing. Mbok sing pokro. Titenono yo, lek saur gak tak gugah. Wegiahh… Jarno bude, engkuk tak ngongkon arek-arek nyumet mercon bumbung ndik kamar!” jare Tante Bembi ambek ngejak Bu Cip ngaleh. (idur)

Komunitas