Membangun Konsistensi Pertunjukkan Teater

Oleh: Wishnu Mahendra Wiswayana

    Tidak banyak dan tidak mudah. Dua ‘tidak’ tersebut bisa jadi menggambarkan geliat pertunjukkan teater di Malang Raya. Tentu pengamatan ini bisa jadi akan terkoreksi di kemudian hari. Namun sejauh yang penulis lihat, saat ini tidak banyak kelompok teater di Malang Raya yang secara konsisten menyapa penikmatnya dari waktu ke waktu. Kelompok teater yang dimaksud dalam tulisan ini adalah kelompok teater non kampus atau non sekolah, yang biasa disebut komunitas teater saja. Akan banyak aspek dan alasan mengapa konsistensi tersebut seakan tidak terlihat; mulai dari proses dalam kelompok teater, permasalahan sarana dan prasarana atau secara klasik sampai dengan adanya permasalahan dana.

Pemerintah Indonesia melalui Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) mengenalkan konsep quad-helix sebagai penggerak seni pertunjukkan. Quad-helix diajukan sebagai sebuah kolaborasi antara pemerintah-bisnis-intelektual-komunitas sebagai target utama pengembangan seni pertunjukkan di Indonesia. Tentu konsep di atas harus didukung dan perlu dilakukan akselerasi untuk membawa seni pertunjukkan, termasuk di dalamnya teater; dapat berkontribusi untuk kemajuan bangsa dan negara melalui karya-karya kreatif yang berkualitas. Jika pemerintah pusat telah memiliki konsep yang baik, tentu konsep tersebut perlu dibumikan ke tingkatan lokal. Masalahnya bagaimana membumikan konsep quad-helix tersebut tanpa dibarengi konsistensi tiap kelompok teater dalam berkarya.

    Pertama , terkait konsistensi, tidak banyak. Bisa dihitung dengan jari kelompok teater di Malang Raya yang berani menyapa publik dengan karya-karyanya dalam panggung pertunjukkan. Pelaku teater kadang memanfaatkan akses untuk membuka kesempatan-kesempatan tampil dalam suatu acara kesenian sebagai salah satu pengisi acara. Tentu tidak menempatkan teater sebagai sajian utama, bahkan bisa jadi hanya diletakkan sebagai acara pembuka yang bisa jadi tidak terlalu dihiraukan oleh penonton. Tapi apa boleh buat, ruang-ruang tersebut harus dimanfaatkan betul untuk tetap menggelorakan konsistensi dalam berteater. Sembari di saat bersamaan terus menjaga idealisme untuk membangun sebuah pertunjukkan yang berkelas sesuai dengan misi masing-masing kelompok.

Kelompok teater akan dikenal setelah berhasil menampilkan sebuah pertunjukkan di atas panggung. Maka satu-satunya jalan untuk menjaga konsistensi berkarya adalah terus mengupayakan untuk menampilkan pertunjukkan. Apa artinya jika sebuah kelompok teater hanya dikenal namanya saja tanpa mengupayakan sebuah pertunjukkan, seperti melihat kulit buah tanpa ada daging buahnya. Mengupayakan untuk menampilkan pertunjukkan dalam segi praktisnya bisa dimulai dengan menetapkan target tampil sebanyak dua kali dalam setahun. Apabila dirasa masih kurang, tinggikan target menjadi tiga-empat kali dalam setahun. Tidak mungkin? William Shakespeare punya jawabnya All the world is a stage, semua yang di dunia ini adalah sebuah panggung maka banyak sekali kesempatan untuk tampil, dimanapun dan kapanpun. Jika dirasa target itu pun memberatkan, berarti ada yang belum tuntas dalam mengkompromikan idealisme dan realita. Muara dari pertunjukkan teater adalah penonton, jika tidak sampai ke penonton bisa jadi idealisme yang diangan-angan itu hanyalah omong kosong belaka.

    Kedua , terkait konsistensi, tidak mudah. Tulisan ini tidak membahas tentang permasalahan dana, selain itu bahasan yang klasik bagi pelaku teater, sesungguhnya banyak cara yang bisa ditempuh untuk mengatasi masalah tersebut. Konsistensi menjadi tidak mudah karena perhatian pemerintah pada komunitas teater yang tidak adaptif terhadap keadaan komunitas. Salah satunya dalam urusan gedung pertunjukkan sebagai aspek utama berlangsungnya sebuah pertunjukkan teater. Malang Raya bisa jadi akan mengklaim telah memiliki beberapa gedung yang bisa dipakai untuk pertunjukkan teater. Namun biaya sewanya terlampau mahal bagi kelompok teater (tanpa diiring fasilitas penunjang yang memadai) sehingga hanya mampu untuk dijual ke acara pernikahan saja. Jadi jangan salahkan bila ada sentimen negatif yang beredar di pelaku kesenian tentang Gedung Kesenian yang seharusnya untuk kesenian, tapi justru lebih sering digunakan untuk acara pernikahan.

Berkembangnya zaman menuntut tiap orang untuk ikut dan mengikuti arus perkembangan tersebut. Bisa jadi situasi ini menjadi jalan keluar untuk mengatasi ketidakmudahan dalam menjaga konsistensi komunitas-komunitas teater. Komunitas teater perlu untuk mulai memanfaatkan platform digital sebagai sarana untuk aktualisasi identitas dan gerakan. Banyak sumber yang bisa diupayakan untuk hal-hal yang berkaitan dengan teater, mulai dari mengupayakan pendanaan, kolaborasi ide pertunjukkan, promosi, pelatihan sampai dengan ruang-ruang pertunjukkan baru. Memang platform digital ini membutuhkan kecermatan luar biasa dari pelaku teater, sehingga komunitas teater juga harus berbenah secara organisasi dengan pola-pola yang lebih modern. Pola modern yang dimaksud ini adalah menuntut komunitas teater untuk menata urusan manajerial ke arah yang lebih profesional, dengan menempatkan sutradara untuk berkonsentrasi saja terhadap panggung dan ide pertunjukkan. Sementara di saat bersamaan urusan manajerial diserahkan pada tim manajemen yang menata jalannya organisasi dan gerak dari sistem komunitas tersebut.

Butuh pengorbanan yang besar dalam upaya untuk memastikan konsistensi pertunjukkan teater di Malang Raya tetap terjaga. Tulisan ini tidak bermaksud untuk memberikan arahan-arahan khusus kepada kelompok teater di Malang Raya. Justru tulisan ini sebagai sarana untuk mengabarkan pengalaman, peluang dan sekaligus pembenahan yang harapannya dapat dilakukan bersama-sama sehingga teater dapat dikenal dengan baik di Malang Raya. Sambil perlahan-lahan kolaborasi quad-helix yang ditargetkan oleh Bekraf yang disebutkan di atas bisa diimplementasikan dengan baik. Pemerintah bisa jadi memang belum tahu ada geliat teater yang semakin meningkat di Malang Raya. Bisa jadi sektor bisnis memang belum tergarap dengan baik karena tiap komunitas teater sibuk dengan idealismenya masing-masing. Sementara akademisi di Malang Raya juga tidak kurang-kurang jumlahnya yang bisa dijadikan sumber pemikiran.

Lebih baik dalam konteks konsistensi ini, anggap saja triple-helix (pemerintah-bisnis-akademisi) yang ada saat ini dalam posisi menunggu komunitas-komunitas pelakunya untuk lebih berperan aktif. Tidak ada habisnya jika menyalahkan ini dan itu, bahkan menyalahkan kelompok ini dan itu; selama upayanya adalah meramaikan dunia teater di Malang Raya tidak ada salahnya untuk terus saling mendukung agar konsistensi tersebut dapat terjaga. Sambil bersama-sama mengembangkan komunitas masing-masing ke arah yang lebih modern dan profesional.

*) Wishnu Mahendra Wiswayana , Manajer Produksi di Ruang Karakter

Sendang Syi’ir

Senja sudah menghilang, gunung ‘pegat’ telah berkabut meskipun tipis. Orang-orang pulang ke rumah masing-masing dan ada yang berbondong-bondong menuju masjid. Hari hampir gelap, rumah-rumah sudah menyala dengan lampu bohlam 5 watt-nya dan jalan sempit ini sudah mulai sepi. Jalan yang berujung pada persimpangan menuju ke sendang, ke puncak gunung pegat.

Setiap malam, setelah orang-orang telah menyelesaikan ibadahnya di masjid akan selalu terdengar alunan syi’ir yang merdu dari arah sendang. Suara-suara yang datang tiba-tiba, setelah beberapa bulan lalu ada anak kecil yang hilang tenggelam dan belum diketemukan hingga saat ini.

“Kata Ustadz Mansur itu suara Nabi Khidir,” jelas Ilul sembari memperhatikan langkah kakinya.

“Hush… yang benar saja kau ini, aku menduga ada hal aneh disana.”

“Ah… kau ini, itu kata ustadz.”

Namun percakapan kedua pemuda itu terpotong sebab Makruf  terlebih dulu sampai ke rumahnya. Sedangkan Ilul masih harus berjalan 50 meter lagi sampai di rumah, lebih dekat dengan sendang ketimbang rumah kawannya itu. Jalan itu akan selalu sepi setelah kejadian hilangnya anak kecil beberapa bulan lalu itu

Hanya ada beberapa rumah sepanjang jalan sempit itu dan rumah Ilul berada di ujung persimpangan. Jalan yang biasanya ramai kini sudah menjadi sepi dan sepanjang malam hanya akan terdengar suara syi’ir itu, tak pernah selesai. Setiap malam dan tak pernah tak ada, seharipun itu.

Saat siang sendang itu pun tetap ramai dengan pengunjung dan warga kampung, namun ketika sudah menginjak senja orang-orang akan segera bergegas meninggalkan sendang, begitu pula bagi mereka yang tengah berada di puncak gunung, akan segera turun. Ilul hanya akan menikmati suasana malam yang sepi di ujung persimpangan itu.

Saat malam, Ilul tak pernah sekalipun mencoba memastikan keberadaan suara itu, hanya ada satu orang yang pernah mencoba mendekat ke sumber suara, namun belum sempat memastikan, ia sudah terlebih dulu kembali dengan alasan takut. Dan Ustadz Mansur pun hanya dapat percaya bahwa itu memang benar-benar Nabi Khidir yang abadi.

***

Semenjak hilangnya anak kecil yang tengah berenang di sendang itu, kini orang-orang akan lebih dulu melempar beberapa uang koin sebagai bentuk amit kepada penguasa alam. Dan itu sudah menjadi kepercayaan orang-orang sekitar, sebab menurut orang-orang tua dahulu hal tersebut perlu dilakukan sebagai bentuk penghormatan agar segala bentuk kegiatan yang sedang dilakukan akan tetap terjaga. Entah, sebenarnya Ilul sendiri sempat tak pernah percaya jika ada yang akan mengganggu. Namun ia kini mulai ikut-ikutan dengan yang dilakukan warga kampung.

Anak kecil yang hilang itu pun telah diikhlaskan keluarganya namun masih terasa ada yang ganjal ketika syi’ir itu masih terdengar, apalagi Ilul yang akan selalu mendengar suara itu. Setelah kejadian itu sendang sempatsepi, namun kini sudah kembali ramai sebab desas-desus mistis sudah hilang dari telinga orang-orang.

Namun jalan sempit ini akan tetap kembali sepi saat malam, selalu sepi dan hanya syi’ir itu saja yang akan selalu terngiang di telinga Ilul dan tetangga sederet rumah sepanjang jalan itu.

Saking seringnya Ilul mendengar syi’ir itu ia mulai hafal bait perbait, hingga setiap hari ia selalu bergeming sendiri menirukannya. Tak hanya Ilul, hampir sederetan rumahnya pun sudah mulai hafal dan terbiasa.

***

Warga kampung pun mulai menggunakan syi’ir yang mereka hafal untuk menghibur banyak pengunjung dan mereka percaya dapat membawa banyak sekali keuntungan. Begitu pula Ilul dan Makruf yang menikmati sendang ramai kembali.

Senja sudah menghilang, gunung pegat telah berkabut meskipun masih tipis. Orang-orang pulang ke rumah masing-masing dan ada yang berbondong-bondong menuju masjid. Hari hampir gelap, rumah-rumah sudah menyala dengan lampu bohlam 5 watt-nya dan jalan sempit ini sudah mulai sepi lagi. Jalan yang berujung pada persimpangan menuju ke sendang, ke puncak gunung pegat.

Namun anehnya syi’ir itu tak lagi terdengar, warga kampung tak sadar mengenai itu. Namun ketika mulai bergeming dengan syi’ir itu mereka lekas tersadar bahwa tak lagi terdengar suara yang mereka yakini Sang Abadi itu.

Lekas warga kampung keluar dari dalam rumah untuk memastikan apakah benar suara itu hilang, tak terdengar lagi. Serentak mereka keluar bersamaan termasuk Makruf, lalu mereka mendekat ke persimpangan. Dalam perjalanan menuju persimpangan Makruf pun masih bergeming dengan syi’ir itu, sampailah warga kampung di persimpangan dan melihat Ilul yang terlebih dahulu tertegun menatap ke arah sendang yang memancarkan cahaya cerah.

“Di mana suara itu?” dengan mulut Makruf yang masih bergeming syi’ir itu ia menanyakan di mana keberadaan suara syi’ir itu.

“Mungkin sudah pergi, tapi lihatlah.”

“Apa maksudmu,” tertegun Makruf melihat dengan mata melotot ke arah sendang dengan mulut yang masih belum diam dengan syi’ir itu.

Warga kampung pun ikut memandang ke arah sendang yang tengah memancarkan cahaya terang.

“Kenapa kau ini? Cukup sudahi syi’irmu itu.”

“Entahlah, mulutku dengan sendirinya bergeming,” dengan syi’ir yang terpotong-potong .

Ilul menatap mata Makruf yang perlahan mulai kosong, ia mencoba menoleh kepada warga yang lain dan ternyata mulut mereka pun bergeming syi’ir tersebut, tak henti-henti.

“Sudah, hentikan!” teriak Ilul.

Namun tak ada yang mendengar sama sekali, mata Makruf telah kosong dan semua warga pun begitu. Ilul lekas mencoba menyadarkan Makruf namun ia tak berhasil. Seketika makruf melangkah dengan sendirinya menuju arah sendang, warga lainnya pun mengikuti langkah kaki Makruf yang telah lebih dulu berjalan.

Daun-daun kering berserakan Makruf lewati begitu saja meskipun ranting dan cabang pohon kering yang mati tengah menghadang, namun tetap ia terjang begitu saja. Langkah kaki mereka menuju sendang dekat dengan sumbernya. Ilul yang panik pun ikut membuntuti dari jauh.

Makruf seketika terhenti di dekat sumber, pancaran sinar cahayanya pula bersumber di sana, Ilul lekas mendekati Makruf. Dan seketika Ilul sampai ia mendapati cahaya terang itu memudar. Makruf  tersadarkan diri, namun matanya lekas tertuju pada bekas sumber cahaya tersebut. Ia tertegun menatap tubuh seseorang tergeletak di atas ratusan uang koin. Tubuh yang tergeletak itu adalah adik Makruf yang dinyatakan hilang tenggelam saat berenang di sendang beberapa bulan lalu. Ilul pun hanya terdiam, ia merasa memang ada Sang Abadi itu. Ilul merasa suara yang datang setiap malam itu datang untuk menuntun warga terutama Makruf yang tengah bersedih kehilangan adiknya tanpa diketemukan jasadnya.

*) Achmad Fathoni , berdomisili di Malang dan aktif berkegiatan bersama Pelangi Sastra Malang.

Perempuan Itu; Puisi-puisi Ana Widiawati

Puisi-Puisimu

Aku adalah puisimu-puisimu

yang patah

dan kau

penyair yang lelah

pasrah

Demi Tanah Terpijak

Demi tanah terpijak

semoga kami tidak tergagap menatap sajak-sajak

yang direnggut dari pucuk gunung itu dengan congkak

semoga kami tetap berdiri pada segaris kalimat perlawanan yang tegak

bersama kecemasan-kecamasan nurani

yang menggigil

melihat tuan menghamba pada gumpalan materi

sementara kami terus menghidupi meja makan dengan padi

yang tertanam di pangkuan bumi

membasuh lelah dengan air yang seharusnya aman dalam dekapan ibu pertiwi

O, tuan, tanah kami

mau sedalam apa tuan mengoyaknya?

demi emas-emas yang menumbuhkan cemas

Tuan, maukah meruang bersama suara-suara kami?

yang berserakan kehilangan naungan

terpinggirkan

tuan, sebelum semua tenggelam dan kelam

sebelum senja menandakan peniadaan

sebelum esok adalah pungkasnya harapan

sebelum tanah kami kehilangan napas-napas kehidupan

mau sampai kapan tuan membungkam?

mau sampai kapan menyumpal telinga dengan kemewahan-kemewahan?

semoga tuan sadar

selama ini tuan hanya memuja bokong dunia yang fana

mengejar uang dan segala keriuhannya

ah, gila!

*Menjaga ingatan tentang Gunung Tumpang Pitu beserta pertambangan emasnya dan tanah kelahiranku yang dikoyak-koyak tuan berkuasa. Semoga perlawanan tidak mati dan tetap abadi.

Malang, 16 November 2017

Surat-Surat

Surat-surat yang membusuk di bawah bantal

meneteskan kata-kata

aku menyaksikannya dengan sesak

sementara di luar jendela

purnama mengabarkan waktu tetap bergulir apa adanya

ada ingatan yang merindukan kawan

sengatan-sengatan rasa ketika sepasang dekapan

menggenggam kerut-kerut lelahku

sebelum aku terbenam

surat-surat itu membusuk bersama malam-malam lengang

dan aku membisik pelan

aku ingin pulang

Kita dan Hujan

Telah diamini dan direstui oleh semesta dan kita

kenangan akan selalu dikabarkan ulang oleh hujan

yang datang di bulan Juni seperti sabda Sapardi,

seperti hujan bulan Juli ketika pertama kali aku menamatkan sebait puisi,

seperti anomali ketika hujan datang di bulan-bulan kering dan gersang,

atau seperti hujan di bulan ini,

yang tiba-tiba, deras, dan keras

Hujan akan menyeduh ingatan

dan kita terjebak dalam nostalgia berkepanjangan

dikoyak-dikoyak rindu atau sesal

dan kita tidak pernah mendebat mengapa kehadirannya bersanding dengan kemuraman

kita hanya merasa terbebaskan

menyesap habis-habisan kenangan tanpa adanya penggugat

dan kita merasa aman

sebab hujan tidak akan mengabarkan kenangan ini pada cuping-cuping telinga

dari balik jendela

dari rumah-rumah

atau pada orang-orang berlarian mencari peneduh dan kehangatan

kenangan ini seutuhnya adalah kita

dan hujan tidak akan mengkhianati

ia tahu pada siapa harus membagi

ketika ia jatuh dan membumi

Malang, 5 November 2017

Perempuan Itu

Perempuan itu,

kutemukan sedang menepi dalam semangkuk sup di meja makan malamku

sebelum akhirnya beku

menyisakan remah-remah waktu

dan aku

meruang bersama kegaduhan dan detak-detak yang berantakan

kala perempuan itu melompat dan menyusup ke lembaran koran

berserakan

lalu meneduh di bawah pigura lama dengan foto tanpa gurat rasa

mengembalikan sebagian masa yang sempat tenggelam dan kelam

aku terkapar

kemudian dengan sederhana

dan cara paling terduga

perempuan itu jatuh dalam sebaris kata

yang kupungut dengan lelah dan putus asa

Perempuan itu,

adalah rindu dan sendu

semu

suka berlalu

mengguratku dengan sembilu

biru

Malang, 26 November 2017

* Ana Widiawati lahir di Banyuwangi 21 tahun silam. Bermukim di Malang dan sedang menempuh pendidikan di jurusan Hubungan Internasional Universitas Brawijaya. Masih aktif di Lembaga Pers Mahasiswa Perspektif (LPM Perspektif). Karya-karya cerpen dan puisinya pernah nangkring di Solo Pos, Radar Banyuwangi, dan buku-buku antologi.

Seberapa Kolektif Panggung Seni Pertunjukan Teater Kota Malang?

Oleh: Mutia Husna Avezahra*

Beberapa waktu yang lalu, sekitar bulan Oktober 2017, saya dan rekan-rekan Teater Komunitas (Teko) meluncurkan sebuah buku pertunjukan yang berjudul Logbook Performance Eliminasi, buku tentang pentas Eliminasi Teater Komunitas yang disutradarai oleh Habiburrokhman a.k.a Bedjo Supangat. Peran saya dalam pembuatan buku itu adalah sebagai creative director dengan kapasitas dan porsi yang cukup dominan, sebesar peran seorang bidan pada suatu proses persalinan, saya bertanggung jawab mulai dari konsep, konten hingga eksekusi perwujudan Logbook Performance tersebut.

Saat kegiatan peluncuran dan bedah karya Logbook Performance Eliminasi , rupanya penerimaan terhadap buku tersebut cukup bervariasi. Beberapa kawan dari kelompok fotografi cukup mengapresiasi upaya kami dalam menghadirkan hasil jepretan para kontributor foto dalam medium visual dan desain grafis yang (menurut mereka) cukup ideal untuk mentransfer ide atau gagasan karya visual fotografi. Sementara itu, beberapa dari pegiat seni pertunjukan yang lain, cukup aktif mengkritisi tentang esensi dan konten gagasan dari pertunjukan Eliminasi yang belum cukup representatif dari buku tersebut.

Sengaja memang saya tidak menyebut kapasitas saya sebagai seorang penulis (meski 90 persen konten buku tersebut adalah saya yang menuliskannya), yakni dengan alasan bahwa saya pribadi menghindari klaim karya tunggal yang melekat pada proses pertunjukan dan pembuatan buku Eliminasi tersebut. Saya merasa kapasitas saya sebagai seorang Creative Director lebih representatif untuk menunjukkan bahwa karya dalam seni pertunjukan tidak melulu terbatas berbicara tentang siapa yang melahirkan gagasan, melainkan soal pembahasan mengenai bagaimana peran banyak orang di suatu proses berkesenian menciptakan dinamika gagasan yang mengantarkan pembaca pertunjukan pada pemahaman yang koheren terhadap apa yang mereka saksikan.

Begitulah sebenarnya saya dan Teater Komunitas coba tawarkan, melalui Logbook Performance Eliminasi , kami berusaha menciptakan panggung setara yang menempatkan semua keterlibatan dalam etalase yang sejajar. Selain itu juga, melalui medium literasi tersebut, kami berusaha menyediakan ruang apresiasi kolektif bagi para pelaku yang terlibat pada pertunjukan Eliminasi yang dipentaskan pada bulan Maret 2017 yang lalu,  sekecil apapun peran yang mereka kontribusikan.

Cara Pandang Kerja Kolektif dan Pergerakan Kesenian

Sejauh pengamatan saya terhadap bagaimana dinamika pergerakan seni pertunjukan di Kota Malang, saya melihat ada semacam pola tentang bagaimana pelaku seni pertunjukan itu memandang proporsi kerja kolektif dalam suatu proses kreatif.

Sebelum bicara lebih lanjut soal sutradara dan gagasan pertunjukannya, saya lebih ingin berdiskusi tentang bagaimana penciptaan proposi dalam suatu proses pertunjukan dapat menjabarkan betapa perlunya kita menyorot sisi kerja kolektif, yang pada akhirnya ruang seni pertunjukan tidak hanya dapat menjadi ruang tumbuh kembang yang sangat esensial bagi diri sendiri, tetapi juga sebagai ruang yang sangat kongkrit bagi banyak orang untuk mendukung pengembangan kapasitas personal yang bersinergi dengan pergerakan kolektif.

Mari kita uraikan bagaimana dinamika interaksi dan hierarki gagasan pada suatu proses kreatif yang pada umumnya terjadi. Kemudian, melalui uraian tersebut, coba kita proyeksikan konstruksi hierarki gagasan pada suatu skema pergerakan komunal di bidang kesenian dan kebudayaan.

Gagasan sutradara memang berada di top level hierarki dalam proses berkesenian bidang seni pertunjukan. Itu sebabnya, sutradara-lah yang juga menjadi ikon representasi sebuah pementasan. Tapi, apa benar panggung seni pertunjukan itu hanyalah panggung milik sang sutradara? Sementara unsur pertunjukan lainnya hanyalah sebagai pelengkap yang melayani ego sang sutradara? Seberapa kolektif suatu panggung seni pertunjukkan teater itu sebenarnya?

Sedikitnya, saya punya sebuah perabaan perihal cara pandang kolektivitas dalam seni pertunjukan teater. Jika diskursus tentang seni pertunjukan tidak bisa move on dari pembahasan yang terperangkap oleh kesan sutradara-sentris , maka hal tersebut sebenarnya menghasilkan perspektif yang sempit dalam pergerakan seni pertunjukan itu sendiri. Saya mengakui memang penting gagasan sutradara sebagai pangkal topik diskursus suatu pembicaraan mengenai pertunjukan. Tetapi, dalam rangka menumbuhkembangkan suatu pergerakan kesenian yang masif, rupanya lebih dibutuhkan gagasan sutradara yang dapat mempersilahkan elemen pertunjukan lainnya untuk tampil dalam ruang kesetaraan. Sehingga dapat dikatakan gagasan sutradara yang demikian adalah gagasan yang evokatif, yakni gagasan yang dapat membangkitkan gairah saling silang ide antar unsur pelaku pertunjukan.

Dengan demikian, panggung seni pertunjukan dapat mengakomodir gagasan banyak orang sekaligus sebagai ruang ramah untuk menggencarkan kolaborasi, mewacanakan isu, sehingga punya pertanggungjawaban yang terukur oleh berbagai aspek peningkatan kesadaran, baik di lingkaran dalam kelompok seni pertunjukan maupun reseptivitas di lingkaran luar dari kelompok itu sendiri.

Gagasan Seni Pertunjukan yang Representatif

Maka, selain panggung pertunjukan teater sebagai produk dari proses kreatif berkesenian, seyogyanya dibutuhkan format lain yang barangkali sifatnya lebih definitif untuk menjabarkan proporsi kerja kolektif pelaku pertunjukan. Sebagaimana, yang Teater Komunitas coba upayakan dalam feature pertunjukan bertajuk Lobgook Performance Eliminasi , yang mana kehadiran makna, maksud dan tujuannya belum ditangkap seutuhnya oleh publik yang masih terjebak dalam cara pandang sutradara-sentris .

Melalui tulisan ini, saya mencoba untuk memetakan kebersinambungan antara proses kreatif dan pergerakan kesenian itu sendiri, sebagaimana yang saya yakini, bahwa ruang seni pertunjukan, dalam hal ini adalah teater, cukup punya potensi yang menawarkan sebuah pengamatan lebih .dalam tentang manusia. Saya melihat bahwa panggung seni pertunjukan teater adalah sebuah alat produksi pengetahuan dan informasi yang genuine tentang manusia yang bergiat di dalamnya. Jadi, betapa unsur kolektivitas adalah sebuah kontekstualitas pertunjukan yang juga butuh dipertimbangkan ketika ingin mengakses ide atau esensi dari pertunjukan secara representatif.

Terakhir, saya harus minta maaf, bahwa saya tak menampilkan referensi mengenai bagaimaan penciptaan peran dan proporsi seni pertunjukan konvesional lainnya seperti ludruk atau wayang. Tulisan ini adalah hasil olah refleksi dari aktivitas berproses kreatif ruang laboratorium Teater Komunitas, serta sebuah perabaan terhadap iklim dan pola interaksi kelompok seni pertunjukan atau teater di Kota Malang melalui forum-forum diskusi formal maupun informal.

*) Mutia Husna Avezahra, Gemar menulis di www.mutiaavezahra.com

KLOPO PARUTANE

Slametan ndik hamure Lik Jum tas rayub. Kabeh wis nyangking kresek berkat. Ayas helom kari, mesti diisaki dobel ambek Lek Jum. Tapi ndik dalan berkatku tak lungno Jon, soale ndik panti kanyab sing luwih butuh. Biasane, buyaran slametan, mari ngampirno berkat nang hamure dewe-dewe, terus nglumpuk ndik pos. Yo akeh sing nggowo duse najaj. Jarene ndik hamur sopo sing nakam, wong kanae jare podo kadit ngenes nang jajane berkat.

Temenan, kanyab sing nggowo duse najaj. Gak kaop Bambing, cik ngenese nang sing jenenge bikang. Lek Bendhot masio ledome sangar yo sik tetep kemaruk nang apem. Endik lek nemu wajik iso koyok ketemu araduse. Lek awak yo nogosari ae, dew. Londo ae sing genarone lites lek ero roti kukus osi koyok tail kodew sinam. Mangkane lek onok berkat gak tau rebutan. Mbuh lek ojir, wkwkwk…

“Ndik hamur, jajan koyok ngene yo kadit uyap. Kerduse diungak thok ambek anakku, ambek ngomong, ganok sing rodok lawas meneha jajane? Jait…” jare Bendhot ngroweng.

“Podho… Isuk tak ungak, sik wutuh hare, ganok sing nguthik babar blas. Kadang dikrikiti cecek. Saiki lek berkat onok najaj e cangking mrene ae, cek diselesekno Ngimbab, ” Samian nggarai. Bambing ngono yo mek mrenges ambik lambene mowol-mowol nyamblek bikang. Repot cithakane apem iku.

“Kiro-kiro lek mbesuk wis ganok jajan-jajan model ngene iki, ente-ente kabeh paling iso bolak-balik step paling. Kejer, wkwkwk… lha ate nggolek nangdi,” Endik molai nggarap.

“Iyo yo, kudune masiyo jajan lak kudu dilestarikno yo,” Londo nyaut. Bendhot keselek.

“Yoopoh mbesok lek awak-awakan kepingin nakam horog-horog, bogis, kucur, opoh wastapel… ” jare Bambing ambik clemat-clemut ae.

“Wafel a… wastafel hadak… turuo jeding pisan, krakotono cebuk iku,” jare Bendhot ambik ndudul pundake Bambing.

“Koen Ndhot… deloken po’oh saiki. Ikuh… ayas maeng liwat ngarepeh bedake Pendik. Wong-wong sing terkenal ikuh, biduan… bingtang pilem, sing ndik tipi ikuh, kabeh bukak bedak panganan ndik kampung keneh. Tak inceng ndik kocoh… ayas ganok sing eroh najaj e…,” jare Ngimbab. Koyoke mancing pekoro, omongane pan-panan iki.

Paitun maleh molai melok rikim. Wis molai ketoke, wong-wong sing terkenal ndik tipi podo gembruduk bukan toko jajan ndik kampung kene. Tulisan reklame ne macem-macem, oleh-oleh khas Malang, sing iki sing iko… Tapi pas kapan liwat, tak ungak tokone, koyoke gak tau tumon ayas najaj sing jare khas iku, modele ae anyar, bas-bas wong-wong iku mek ngarang dewe. Iling aku, ayas tau diisaki ambek Bu Cip, najaj sing jare khas iku. Dapako kane, opo ilatku sing gak cocok. Bu Cip ngelungno ambek ngroweng, Tun, iki panganan opo, tilik ono talah, Ngono kok ngaku-ngaku panganan khas kene, lak ngawut tah, jare Bu Cip.

“Heh, Tun. Lapoh ndomblong aeh, iku lho nogosari senenganmuh… wajik e karek utas. Cepet… selak dibadhog jrangkong ikih…wkwkwk…” jare Bambing ambik nuding Bendhot. Ngono Bendhot yo sengojo nyaut wajik langsung diemplok. Wong-wong nggegek. Jarno ae, arek ireng iku ancen lambunge sampek kentol, batine Paitun ambek gregeten.

Jon telap-telep nyuwili dadar gulung. Endik rame ae, mbukak lemper isine mek separo. Kait ero ta. Onok sing isine mek seprapat hare, kathik disolasi. Mbukak e cik angele. Lemper disolasi, suwe-suwe gedang dilakban. Bikang ae wis diganjel ngokobe, cek mledhing.

“Lha iyo, lek terus artis-artis bukak toko jajan kabeh ndik kampung kene, kathik ngomonge jajan khas kampung kene, terus yoopo nasibe nakaman, jajan sing asli. Jelas halak sak sembarange ta. Kalah nggen, kalah ojir modale, kalah promosine. Ndik kene iki gak kurang macem-maceme najaj sing asli, produksine warga dewe. Tapi, wong sembarang ndek kene diijini erwe, kadit ditail sik yoopo iki engkuk pengaruhe mbesuk,” jare Jon mari ngelek godir. Cepete wis ganti godir. Samian ngegongi pisan, pancet ae gayae kementing.

“Koyoke ganok masalah ya? Yo iku jengene bisnis. Bisnis kadang lak mek ndelok kesempatan. Liane urusan mburi. Ngeneh. Panganan, jajan, iku yo tetenger kabudayan, gak mek tarian, lukisan, musik, kerajinan. Kuliner iku mek guduk urusan cangkem thok. Sembarang digawe iku onok asal-usule, onok hubungane ambek adate masyarakat. Lak ngoten nggeh, Pak Nardi?” jare Samian golek bala.

“Yo pancen jamane yo terus maju. Tapi yo kudu tetep duwe tanggung jawab. Opo maneh lek nyangkut kabudayan. Cumak, ngerti opo gak wong-wong iku. Jangan mereka datang ke sini, terus sak karepe dewe cuma cari untung sendiri. Iso kok sakjane, misale ngene ya, erwe membuat peraturan misalnya, setiap toko-toko jajan moderen iku diharuskan juga melok ngedol kue-kue atau jajanan asli sing khas gawenane warga kampung iki. Gak ketang telu opo limang macem jajan tradisionil melok didasar ndik tokone. Artine, sethithik akeh kan wis melok ngrumat, kontribusine jelas. Tapi yo ojo awu-awu, ethok-ethok… mek gawe gugur wajib thok, ganok niat apik, yo repot…” jare Pak Nardi. Wanyok masiyo pansiunan tapi sik padang pikirane, gak tau mandeg mikirno warga, batine Paitun. Ngono Pak RW cik bencine. Kayal. Lek jarene warga, onok sing ngedu.

Ola opo Bambing mukok, ngungib nyaponi lambene,

“Sing ikih kloponeh umbam… lho ya, rodok penguk,” jarene ambik ngambu-ngambu najaj sing dileket. Kabeh kontan ngakak.

“Goblik… ndesit ancen ente, Mbing. Iku keju diparut nduwure rotine,” jare Bendhot ambek njulekno Bambing.

“Yo iku lek kakean andok ndik warung isore barongan…wkwkwk…” Endik nggarap. Ngono yo nggegek pisan bledhus iku.

“Kadit, Ndik. Asline wanyok kegeleken ndekem ndik warung klepone Mbak Tini,” jare Jon.

“Lhuww… yoopoh ente. Mosok eroh ente klopo parutaneh MbakTini… sulaaa. Sedino lek kadit ketemu lupis… osi nggliyeng ente om,” jare Bambing ambek gaya ludruk.

Plokkk… apem disawatno tepak pas pipine Ngimbab. Bendhot kaget, apem sing dicekel, dieman-eman ate dinakam kari-kari hadak disaut Tante Bembi ujube Bambing, ambek mencak-mencak. Bambing gutap.

“Rasakno… nggliyeng a wis! Bojo bendino dikongkon ngengat-ngenget jangan, sampek mbuak-mbuak… hadak mbadhog sak paran-paran! Ayo moleh, tak parut sampeyan mariki…” buantere sak kampung vokale Tante Bembi ambek nyeret Bambing sing nginthik helom.

Tail tekan warunge, De Patimah kekel sampek ilue bolak-balik dilapi pucuke seweke. Radione rek lagune…

Aku suka jaipong kau suka disko

Oh … oh…

Aku suka singkong kau suka keju

Oh …oh… (dur)

SEPUR-SEPURAN

Ndik pertelon Kauman Paitun ngaso ndik emperan markase Bik Samini. Klesetan, anyep lemeke, grimis kepyur pisan. Tapi gakpo po, udan iku lak barokah. Lho, lapo Bambing riwa-riwi koyok setriko ambik ndase ditutupi koran, nggoleki opo kumbahan mamel iku. Kringete sampek gobyos, imblake ngeplek karo ambekane ngongsloh. Umbam kringete koyok trasek.

“Arek-arek sempel, Tun. Awak dipesi. Uklam mulai stasiun sampek mrene, gak onok hadak. Deloken ae, osi ta owik arek-arek iku,” jare Bambing ambek terus ngeprat. Lhuk, yo ditutno ae wanyok, mesti emar kampung.

Ndik pos sepi. Ngimbab ambik abang-ireng ngungib nggoleki gerombolane. Paling ndik warunge De Patimah, filinge Paitun. Rikim sediluk, Bambing gak lidok marani warunge De Patimah. Temenan, geng londem tibake nglumpuk. Ketoke podo ngempet ngguyu pas Ngimbab oket. De Patimah sampek nutupi raine ambek sewek. Bendhot gutap singitan ndik isor mejo kompor.

“Klentheng endi? Des iku! Ndhot… metuo koen, lapo singitan. Ireng… elek… singitan isor kompor. Langus thok lambemu!” jare Bambing ngamuk. Bendhot terpaksa utem, ambek sik ngempet ngguyu.

“Opo Mbing. Sing jelas ente. Lapo murang-muring,” jare Bendhot gaya ngeles.

“Gara-gara koen mos… termos. Senengange mulosoroh kancaneh,” Bambing sing menggos-menggos. Endik karepe mernahno ate nglungguhno Bambing, tapi kenek pisan.

“Ate lapoh koen? Podo aeh… ente Ndik, nggedabrus.. radioh rusak. Lak ente se sing wingi critoh jaremu saiki onok sepur cilik sing riwa-riwi ndik ndhuwur. Isuk uput-uput ladub ayas. Lha awak lak yo kepingin tah numpakih. Ayas mubeng nggoleki, ndih iki… Liane ketemu kacebe Pi’i ae, mulek. Ngaceb laris tibake, juwet ikuh…,” jarene. Kabeh osi nggenggek kemekel gak osi ngrasakno. Bambing tambah mbureng, tapi suwe-suwe trus mesem, kroso lek dibikin. ambik nggablog geger e Endik.

“Ayas wingi lak sik crito se Mbing, lha laopo ente terus ladub ewed. Lak salahmu dewe ta. Mangkane ta ojok biasa ninggal konco. Ente mambu sembarang, ladub ae. Terus… karepmu opo lek onok sepur mini iku? Iku ril e ndik ndhuwur lho Mbing, Kadit osi ente mudun sak enak e,” jare Endik model ngudang.

“Mubengo ambek kacebe Pi’i lak iso ta Mbing, onok opo-opo paling mek beset opo kecekluk… wkwkwk…,” Bendhot njarak.

“Mari rong ubengan, Pi’i malik, awak soroh… gara-gara juwet iku awak isoh urusan silup. Maksudku ngeneh lho… sopo jenengmu? Wkwkwkw… Karepkuh, awak tak numpak mubeng ngonoh. Lek onok halteneh gak mudun sik. Lak wuasik tah… tail tekan nduwur. Ndelok kutho tekan ndhuwur… Engkuk liwat alun-alun, ketok Paitun koyok pemean riwa-riwi. Awak mbayangnoh lek pas liwat ndhuwure kampunge dewe. Lhuuuw, Mbak Tini klepon pas korah-korah, merduuuhh… Bendhot pas leyeh-leyeh ndik pos, paling koyok getas sing ketan ireng… wwkwkw. Koen Ndik, isoh koyok gombal gak kanggoh. Lek sampeyan De, paling tekan ndhuwur koyok kinangan… ha ha ha,” jare Bambing nggegek. Durung mingkem Bambing disawat serbet ambek De Patimah, ditekek tekan mburi ambek Bendhot, wetenge dicewel ambik Endik, ambek mlungker sik kekel ae luwak iku, dingklik sampek njombat-njombat. Et… Jon molai serius.

“Ngene lho yo. Ndik kene nggawe sembarang koyoke grusa-grusu. Lek aku yo gak setuju. Goleh masalah anyar iku jenenge. Kudune lak didelok sik, kuthone awake dewe iki pemandangane apik, langite resik, yo kudu dijogo iku. Ojok karepe moderen, tapi ngrusak lingkungan. Prasane gampang ta. Opo wis diitung yoan, engkuk bas-bas mateni rejekine wong liyo. Manfaat ambek mudhorote kudu dipikir temenan. Saiki bayangno, yoopo nasibe Pi’i kaceb, Mul ojek, ambek angkutan liane. Macete dalan kudu dipikirno bareng, guduk ngarang proyek anyar gawe nyirik, om,,” jare Jon gayae nuturi.

“Kuthone awake dewe iki ate diapakno se, gak jelas blas. Kuthone awake dewe iki terkenal kutho enak, kutho mbois. Tapi mboise asli, kane, gak mbois mekso, Mangkane ta rek, lek milih pemimpin sing juelasss…” jare Bendhot ambek joget sula.

Pak Nardi sing ket maeng mek ngguyu sampek mbrebes mili, akhire yo komentar.

“Kuthone awake dewe iki kutho bersejarah. Kutho pusaka arane. Yoopo yo, iki gak muluk-muluk aku lek ngomong. Awakmu kabeh lak ero sing jenenge peradaban. Lek gak ngerti rungokno ae wis. Nah, masalahe, lek pemimpine awake dewe iku tepak, berarti ero, dia akan menyumbang sesuatu yang baik untuk kemajuan peradaban kuthone awake dewe. Tapi lek sing mimpin gak ero, apes awake dewe, peradaban iso diorat-arit. Looo… gak main-main. Mangkane kudune pemimpin iku kudu duwe ilmu, yo tanggung jawab ate diapakno kuthone dewe iki. Lek ngawut yo ajur peradaban kutho iki, “jare Pak Nardi. Kabeh iso mek ndlomong. De Patimah ketoke susah, sewek maneh dilapno mripate. Kewut hobine mbrebes mili. Wonge ngwasno aku.

Durung mari Pak Nardi ngomong, dhuerr… bledheg murup. Osi njumbul kabeh. Wisa, gutap pamitan helom kabeh. Lapo Bendhot bisik-bisik nang gerombolane.

Tibake wong papat iku, cekel-cekelan pundak, hadak sepur-sepuran ambek nyanyi, liwat ngarepe Mbak Tini klepon.

naik kereta api… Tin… Tin… Tin…

Pyorrr…. Kapok a ambek Mbak Tini disiram banyu koraan. Wong papat klumus, ngaleh ambek regeg dewe.(dur)

DI RADIO…

Embong nggilap, bulan seser koyok apem. Howone merdu, angin semriwing kolem Paitun uklam sak ndlujure dalan. Ndik rombong oker pojokan gang, Mat nyepit leyeh-leyeh nyetel radio. Masio gemrosok suarane yo kane ae wanyok ngrungokno, padahal suoro biduane sampek gak jelas, nyanyi opo tukaran ambek pegawai ben e. Ndik halabese, Lik Paeni lawetan sate laler. Satene sak opil, beluke sak kecamatan. Nangdi maneh yo, nang pos ae enake, be’e umbul lawas nglumpuk.

Ladalah, temenan, lengkap pasukane, Bendhot en his geng, gico kabeh iki. Kok dungaren tertib lambene. Oala… tibae ngrungokno radio pisan. Kolem ae ayas, batine Paitun. Onok ipok, nakaman, pepek dew… Dumane howone kane, Bambing iso mek kaos kutangan thok hare.

“Sinih kamu, iki laguneh mbois-mbois, Tun. Lagu lawas tapih wuenak-enak. Lek denger lagu saikih ayas gak paham,” jare Bambing.

“Suwe ayas kadit nyetel radio, oyi hare, ingeb maeng gak sengojo onok lagu-lagu blues, lhuk… iki mbois thesss…” jare Endik koyok nemu emas, ambek gaya gitaran. Mekitik, le.

“Le ayas yoopo-yoopo yo sek ngenes lagu indonesah tah. Kathik sing aslih, lek musikeh anyar awak-awakan kadit osi niroknoh,” praene Bambing osi koyok sueneng ngrungokno radio, gayae terharu.

Lek radio sing dicekel Bendhot iki rodok lumayan unine, masio onok ngembrete thithik. Batreine ndik njobo jejer-jejer dikareti, rodok nayeng. Wayahe batreine lak papat, iki iso nem hare. Paling gak tau ganti, mek dipepe lek isuk.. Potensione wis krowak. Antene iso seyek, sing pucuk nggambleh. Gak e, arek iku lek nyetel radio ambek diuncal-uncalno ta. Tutupe mburine ae wis diganti kethokan triplek ditaleni kawat. Radio ta bekupon iku. Tulisan gelombange wis ilang, karek garis-garise.

Ambek Bendhot ketoke diumek ae, gelombange ditepakno karepe.

“Ojok diumek aeh ta pren, pas kane hare lagune,” Bambing ngablak wis.

“Iki tak pasno kok. Antene mari tak benakno sik ngewes ae. Radio mu ndik hamur jupuken po’o, iki ketoke batreine ate sibun, ” Bendhot njawab.

“Sayang radiokuh wis kadit osi diserpis. Lha tak serpis nangdi ae, jare wonge mesti kongkon mbuak, jiait anceneh,” jare Bambing ambek mecucu. Iso koyok klepon.

“Opo’o radiomu?” Samian takon.

“Critane ojob lak mbiyodo. Mumpung ipes, radio tak get noh ae, lha pas laguneh diparpel hare. Hadak ayas keturon. Gak eroh ojob helom. Ayas gak sempat wis, radio ambek ojob hadak dicemplungnoh got. Awak mencolot, padahal pas tak goleki ndik got sik munih, laguneh pas semuk on de woter. Bareng ketemu hadak wis mbleluk, kobong… koslet paling,” jare Bambing ambek kekel campur getun.

Wong-wong nggegek kabeh. Pancet ae Mbing. Liane kok dadi pelengkap penderita ae. Kok radio, entek taplak ambek sewek piro Bambing lek pekoro setriko.

“Ente sik iling ta, awake dewe biyen. Direwangi numpak bemo, kadang uklam, opo apedesan, mek pekoro tuku kupon lagu. Ambek kepingin lanek penyiare. Opo maneh lek onok artis penyanyi terkenal oket.” Endik crito.

“Artis-artis biduan biyen lek gak sobo radio yo kadit osi ngetop,” jare Bendhot.

“Biyen kanyab radio amatir ndik kene. Lha iku saksine… Tun, Paitun apal iku. Wong kabeh tau diparani. Sakjane pas iku wanyik osi dadi penyiar, cumak isinan. Tau dijak siaran ndik radam ndi iko, lali aku… gak muni-muni… hadak ngompol,” jare Samian. Wis kekel kabeh.

Awas koen le, Samian, rambute koyok sapu duk. Lek surian, sedino entek suri agit. Lek pekoro radio amatir, ancene apal ayas. Ente ecek-ecek.

Ente ero a. biyen radio amatir ndik kene sak arat-arat. Onok Radam Tris ndik Mbareng Kartini, iki nggene lagu langgam ambek keroncong, penyiare sing beken yo Cak Ruslan, tapi terus handip nang Pioner Jalan Bromo. Onok KDS 8 ndik kudusan terus pindah Jalan Kawi. Radio Dendys ndik daerah perusahaan, Radio Lamda ndik Oro-oro Dowo. Lek SOBC sak durunge ndik Jalan Wilis, we’e Om Yoe. Ndik Taman Slamet radione jenenge Telstar 7, cideke onok Radio Tenes-X, ndik cidek stadion iku. Opo maneh. Andalus ndik Jalan Kelengkeng.

Ndik taman Senaputra yo onok we’e Pas Rustam, penyiare Opan sing gondrong sangar iku, gawene bengok-bengok ndik stadion lek onok bal-balan. Radio Omega wek e Hendrik ndik Talun. Radio Imanuel ndik Jalan Cipto. Ndik ngarepe pabrik es Ngaglik biyen onok, tapi ayas lali jenenge. Ndik Glintung onok Radio GL e Pak Jono, Cakrabuwana ndik jalan Ngantang. Ilinga ente, TT 77 ndik Celaket, Gema Surya ndik Sukun. Ndik Kidul Dalem yo onok Radam KD33. Ilingku yo onok Kutilang, terus Fancy ndik Jalan Wilis. Liane sik kanyab, tapi ayas lali. Jaman sakmono penyiar osi beken koyok bintang pilem. Gelek, pendengar-pendengare sing seneng ater-ater nakaman opo najaj. Ayas biasane diumani ambek wong-wong ndik radam.

Zaman iko ganok ilok-ilokan, kabeh rukun. Njaluk lagu, kirim-kiriman salam, salam manis…salam kompersa… kompak persahabatan, salam sayang… wkwkwkw…. Tapi yo onok penyiare nganal sing pleboi, lek sing wedok jenenge opo yo… plekodew le’e. Yo jaman saiki iki, wong kok hobine ilok-ilokan, maido, mesoh… ndik umum pisan. Biyen kabeh lambene tertib. Yang yangan thok wis.

Lho, kok dipateni radione ambek Bendhot.

“Sori.. sori.. batreinya wafat sodara-sodara. Besok pagi mepe lagi yah?” jare Bendhot ambik ngringkese radione. Atase radio transistor ae lek ngringkese koyok sewan sone nentam. Kabele batrei ambek anten iso gak kompak, diringkes mowol-mowol. Bambing iso mbureng hare.

“Lek lagu pas kane ngene iki, batreimu ojok sampek sibun, Ndhot. Bambing helom iso sumer engkuk,” jare Samian nyemoni Bambing.

Tak inggati pisan ae, batine Paitun ambek ngadeg. Mboh, dino iki dituruti ae likis ate nglayap nang di. Tekan prapatan Kayutangan, Paitun mandeg ndik ngarepe serpis radio nggene Pak Edi. Radio opo ae sing ganok ndik kene, mulai radio kuno sampek sing transistor. Pak Edi ketoke nggethu dirubung radio rusak. Sodere mbeluk arpus. Tak rikim lek rusak kabeh. tibae wanyok ngetes nyetel radio, muni ndik corong nduwure toko. Lhuk lagune rek.

Di radio… aku dengar lagu kesayanganmu
Kutelepon… di rumahmu, sedang apa sayangku…

Iku lak lagune Gombloh. Nawak iku, ayas tau ingeb jagongan ambek arek gondrong iku ndik Alun-alun. Malah ayas diukutno tahu petise Boimin. Oala…tahu petis rasa coklat. (idur)

GETHUK

GETHUK

kae-kae rembulane… yen disawang kok ngawe-awe

koyo-koyo ngiling ake, konco kabeh ojok turu sore-sore…

Hmmm… sopo nyetel lagune Waljinah iku, batine Paitun. Merdu hare. Diurut ambek Paitun, tekan endi suarane radio iku. O, lha iku opo, golongane omplong nglumpuk ndik warunge De Patimah. Lhuk… ngipok sanap, loooo… yo kolem ae. Asaib, Bendhot congore pancet ae.

“Lhaa iki opo rembulane… rembulan grimpis rawuh. Lho… kok tambah krowak wkwkwk…,” jare Bendhot ambek gaya Arafiq, setengah ndhodhok, komprange suwek, sepatune jenggel tapi lerekane dhedhel, tungkake rodhok njepat. Oala, repot mungsuh boipung iku, lawas pisan. Babah, aco ae, batine paitun ambek langsung ublem lungguh dingklik cidek pawon.

“Kopi a, Tun. Sik cek umep. Koen wis ero a, mariki onok pilian erwe. Arek-arek elek iki maeng rasan-rasan, Tun. Gak trimo jare, mosok wedok nyalon ketua erwe. Masiyo aku wedhok ngene, lek nandangi koen ae le… le… sik kuat. Tak gibeng munyer koen, Ndhot… ” jare De Patimah ambik gaya ngejeb.

“Lheee, sik ta de. Lek jaman sampeyan tak akoni. Kodew saiki… sepurane, kulite sulum-sulum, tangane alus-alus. Lha engkuk gelem ta kolem kerja bakti, onok uler opo cacing ae iso gutap menek genteng barang. Osi-osi akeh macake timbang idreke. Durung biaya klambine, nang salon osi isuk sore.

Mosok iso alise menclek thithik ae… Durung giwange, mas-mas ane. Kene lak durung ero, asline yoopo, judes opo kadit, iso masak opo kadit. Lak ngono a, Mbing, ya?” jare Bendhot setengah nggudo De Patimah. Wonge mek plethat-plethot, ambek nggoreng tahu. Jarno ae, batine Paitun. Suwe-suwe Bendhot iso ditapuk sothil. Hadak Mbak Riana ublem ate golek nakaman ketoke, tibake kadit, nempil endhog. Lhuk, emar iki mariki.

“Yohh…. tibakeh moroh mek isone nyeplok, ndadar, opoh nggodog enhog. Teter edhog ae lak iso bonongen ta rakyat koyok awake deweh iki… wkwkwk… kuk…” jare Bambing keselek. Lho… ooo tibake genthong iku mojok nendes selonjor ambik nggiling jemblem. Kapok a keselek.

“Sampeyan nyemoni tah? Ojok ngremehno wong wedok sampeyan. Paling ditinggal telung dino ae sampeyan iso seser koyok kekean,” jare Mbak Riana. Mbak Riana ancen ngono iku, lek ngomong los kathik lincip. Kabeh iso kemekel.

“Iku lho masiyo wedok yo sekolae yo dhuwur. Sampeyan, opo? Esde ae paling biyen mbayar lengo gas,” jare Mbak Riana ambek kudu ngguyu.

“Gak Na, arek iku biyen mbayar bothok. Biyen sekolae ngodok iku, mangkane deloken sampek saiki sikile bubulen,” jare De Patimah kontan nyemes nemu stan. Bambing iso nggegek hare.

“Ndhot… mulai pisik guyoneh Ndhot, pisik… Yoopoh om… om,” jare Bendhot prengesan. Mbak Riana sik gak trimo. Jon ate nyaut malih kadit odis.

“Jagomu sopo se? Wong lanang-lanang sing lawas-lawas iku a? Podho dene iku. Aluk wong iki sik sekolah. Dalan jenglong gak karu-karuan, wis pokoke sembarang koyoke gak jelas karepe. Sak mono suwene mbangun opo… deloken kampung iki. Tapi lek dikandani wong-wong jare pengkuh, njaean. Ngomongo taman age? Tak akoni apik ancene. Tapi, putune Bu Cip sing ndik luar negeri iku, pas teko mrene tau crito. Gak iso lek mek niru thok. Iyo, ndik luar negeri kono, srengege diluk, udan ganok, lalu lintase gak was wes. Ndik kene dingklik jejer turut embong, sopo ate panasan ambek udan-udan, ate mepe karak le’e. Wayahe lak dikei yup-yupan. Seneng lek onok warga disrempet montor pekoro ate mepe karak? Lek Paitun ngono menter…” jare Mbak Riana ambek kekel. Lhee… malih awak-awakan kenek. Repot pensiunan penyanyi iki. Mbak Riana iki biyen penyanyi, tapi akeh diurake timbang dikeplokine. Lek nyanyi enak, cumak kene sing gak osi ngrungokno. Lapo nyandak-nyandak ayas barang.

“Maringonoh… lek ingeb gaweh pangku-pangkuan, ibuk-ibukan hadak wkwkwk… ” jare Ngimbab ambek terus ngeles soale disawat serbet ambik Mbak Riana. Ngono serbete yo langsung dikalungno koyok anduk. De Patimah kekel sampek lali, ndlandapan mateni kompor, ngenget jangan sampek meh sat duduhe. Mblendrang wis, merdu, batine Paitun. Wonge ngwasno ayas, kroso paling.

“Kudune, ancen lek golek pemimpin iku sing watek e jelas. Kudu mikirno yoopo warga kampung iki cek nyaman urip ndik kampung iki. Dalane korengen, lhok en, banjir gak mari-mari. Maksude, mbok mikir sing penting-penting sik ngono lho. Bingung ngetop ae… Kudune lak ero. Mikir… om. Ojok warga dijejeli dorpres ae. Bendino macet iku lak yo kudu dipikirno. Diceluk kabeh, dijak rundingan yoopo carane ngatasi masalah-masalah sing penting dhisik. Kadit bendino wong lungguh taman, yo gak kabeh, tapi sobo embong lak sak wayah-wayah. Trus… slender sing tuku laham iku, em em an, dilkuk lak memet ta gawe nyaponi dalan sing udune njebrot kabeh, ” jare Jon metuwek. Kabeh meneng, et… golek bahan paling.

“Lek aku kok sir sing iko se. Rasan-rasane onggot, rodok iso dijagakno. Jarene… tembung jare…” jare Bendhot ambek umek saleg ipoke. Paitun ngguyu mbatin, mangkane wanyok kok ireng, lha kopi karek lethek ae sik dietet diombe. Wisa, lethek e numplek nang irunge. Gak enthos. De Patimah langsung mlorok.

“Jare sopo, selama ndik erwe, ayas gak tau ero lapo. Podo ae, selama iki ketoke busung. Situke pencolat-pencolot, gak jelas. Gandengane yo ngono, pirang periode dadi petinggi yo … koyoke gak lapo-lapo. Gak mletik blas. Kanyab sing gak ero. Masiyo ketail kalem ngono jare kera-kera, mekitik, gayae jare yoopo ngono, meksoan,” jare Endik.
Paitun kaget, lhuk wajan mbeluk. Gosong wis. De Patimah spaneng, warunge mbuleng.

“Wisss… buyaro rek, nggedabrus ngrasani wong gak mari-mari. Kemeruh kabeh. Buyar…buyar! Kene… kene… prei bon… ojok kakean alasan, ayo!” jare De Patimah ambek malangkerik narget.

Hadak Bambing moro gutap mencolot utem. Dingklik e osi malik hare.
“Jiait, lali aku mapak ojob. Ajurrr… De, aku melok Jon. Rayab en sik, pren,” jare Bambing merat eskip. Jon mek getem-getem.

Lho, ngono ndik ngarepe Mbak Tini klepon, halabese warung De Patimah sik kober ae Bambing nggudho Mbak Tini.
“Gethuk asale soko teloh… lek wis gathuk ojok nggolek pekoroh…” jare Bambing dimanis-manisno.

Sak ketoke, Mbak Tini nyaut klepon disawatno, plek… osi pas pipine Bambing. Ngono yo terus diemplok ambik iral. Repot mungsuh rantang iku. (dur)

RANGEN

Srengege durung sanap, kait nendes ngeluk boyok, ndhodhok ndik ngarepe bedake Wak Adenan, hadak ketok Bambing iral ngetepeng ublem gang. Lapo ae bekenyek iku. Wong-wong kaceban sampek kekel tail Ngimbab, praene abang ireng, sandalan mek sese. Parani ae nang pos. Sakjane wegah, embonge blethok thok, tapi eman lek kadit ero critane arek sempel iku.

Ketoke kerja bakti tas rayub, yo pancet ae ndik pos kari golongane prithilane gorengan. Balapan nyruput ipok ambek kademen njebeber. Wong-wong mek dlomong tail Ngimbab langsung nyaut ipok disruput, untung wis adem ipoke, jathuko lak tambah ndomble ta lambene.

“Oker… oker, ndi okere, pren…” jare ambek sik menggos-menggos.

“Lapo ae ente, Mbing. Wayahe wong soro hadak ngilang. Koen digoleki ojobmu. Murang-muring, nggowo berang maeng. Hamure makmu kebanjiran iko lho, goblik…” jare Bendhot ambek sik kudu ngguyu. Bambing gayae kaget, ate mencolot ngaleh.

“Telattt… wis mari. Ate lapo koen? Nyaponi ledhok? Ate nglangi? Gak enthos… Gayamu koyok petinggi ae, oket lek banjir wis menep. Nandi ae ente? Lhok en, ndlahom ae…,” jare Jon gregeten.

“Sik tah. Mosok ero tah ayas. Wong ndik konoh gak udan blas. Padang thag-thang. Tak critanih koen yoh… Aku maeng ndik embong, uklam helom, hadak kok onok suarane opoh iku. Tak toleh, hadak ndik mburiku onok slender, tapi ngarepeh onok koyok sapune… guedhe-guedhe myuner ngonoh. Lho, lapo lha kok ngetutno ayas aeh… Ayas iral, kono yo tambah nguber. Jait. Ambek mbengung ngonoh…” Ngimbab crito ambek sik pucet. Wis kabeh langsung kekel. Onok sing pas nyruput ipok sampek muncrat.

“Dobol anceneh… Akhireh ayas mlebuh nrabas gang e tokone Cik San. Slender e kadit osi kusam, ndik ngarep gang ngenteni ambek wherr… wherrr, munyer aeh sapuneh. Kapokmu kapan. Tak ece-ece ambik ayas, terus tak langgit. Wedus ikuh… ” jare Bambing ambik kekel pisan. Emar wis kabeh, wetenge senep.

“Paling ente dikiro karunge resek ngglundung, Mbing wkwkwk… keterak angin. Ndesittt… Iku ngono mesin gawe nyapu dalan. Cobak ente maeng kenek ciduk mlebu mesin iku, lho utem osi dadi kerduse berkat… wkwkwk…” jare Endik ambek tangane munyer.

“Osi dhedhes awak-awakan. Ngawut aeh ente… Tun, ente kok gak disedot ambek slender ikuh?” jare Babing nuding ayas ambik telap-telep ngemplok rondo royal. Ewul paling, lek gak ndik lambunge onok terwelu agit.

“Gak wani nyaponi Paitun, kepingin diwalik ta slendere. Yo, Tun?” jare Bendhot. Lambene kebal-kebul koyok anglo.

“Yoopo lek terus banjir ngene iki. Ente ilinga pren, rapat-rapat mulai jaman RW biyen sampek saiki koyoke ganok sing mikir temenanan pekoro banjir. Ndek kampunge awake dewe iki, kayal sakjane lek banjir. Kayal. Iku opo nggarai, mbangun sembarang diijini, gak didelok sik. Nguber setoran thok. Lek wis onok kejadian, ngglendhem ae…” jare Jon. Pantes lek Jon njahe, batine Paitun. Soale Jon mesti ngresiki panti lek mari kembeng unyab. Mepe kasure arek-arek panti. Kasur wis gembos kabeh, gebleh dipepe tambah memet. Ngosek kamar-kamar. Gak mari sedino. Idrekan maleh prei, padahal bendinane Jon kudu nguripi panti. Arek-arek panti kudu tetap nakam.

“Mangkane ta rek, pilian erwe engkuk, milih sing jelas wonge. Deloken opo’o saiki, calon-calone mek mikir yoopo carane menang pilian. Cek dadi erwe. Mosok tau mikir, ngoco, trus niate jelas. Ojok mikir menange thok, marine menang iku sing penting. Atine ditoto, niate disonggo. Lek dadi mbesuk kudu lapo, osi nggak ngatasi masalah-masalah sing nyengsarakno wargane. Isoa? Kepikir ta? Saiki kadit, sowan mrono-mrene, bingung carane menang dadi erwe. Lek wis menang, tiba’e asline gak enthos, ndlahom jaya. Lah oyi se?” jare Endik. Lek pas ngene teges sablukan iki. Molai, Bendot oleh stan mancing Bambing.

“Lek nurut ente yoopo, Mbing. Misale ente nyalon yoopo, heh ya?” jare Bendhot ambek ngelus-elus pundake Ngimbab.

“Lambemu, Ndhot. Tapi ngeneh ya… ” Bambing molai eksen, ambik nglingkis clonone cek dikiro wong kolem kerja bakti. Lho lapo sikil kiwo lingkisane didukno thithik maneh, ooo.. tibake ketok sikil kiwo bubulen. Bambing langsung mlorok nak ayas.

“Lek ayas dadi erweh, engkuk enteh tak peseno slender timboh. Dadi lek banjir ngene ikih slendere iso nimbo. Mosok wayahe banyu teko ngene ayas pesen slendere bledug. Lek pekoroh resek, akeh pasukane, wargah yo wis mulai sadar perkoro resek. Tapi lek pekoro banyu lak dowoh urusane. Jadi beginih Ndot, Endhot Supi’i… Slender timbo iku engkuk onok embere hedeg-hedeg, munyer nimboh, nguras banyu ngembeng, terus ledhoke digrojokno gegermu… wkwkwk, laham ancene, tapi awak lak ithab kik..kik..kik…,” jare Bambing ambek nggegek terus dijungkrakno Bendhot. Wong-wong kekel pol, tapi terus klakep.

Lhuk, Bambing gak ero lek ujube, Tante Bembi wis ngadeg ndik kono, cincing-cincing ambek nggowo sapu korek sak cirak e.

“Pancet ae kelakuane. Omahe mak sik ngembeng, hadak jagongan. Benakno kono. Lapo njegidheg ae, wedi rangen ta?” jare Tante Bembi buanter, nggiring Bambing ambek sapu korek. Kapokmu kapan, batine Paitun. Oala, gak popo rangen sikile, Mbing, pokok gak rangen atine. (idur)

Pada Satu Tamasya Akhir Tahun; Puisi-puisi Beni Setia

HUMANIZEPOEM

bagai hentakan bola baja pada dinding
beton: aku bergetar

debum bangunan diruntuhkan. gempa
bumi lokal pada skala 7 richer

letupan nuklir terpusat. setara 6,5 kali
ledakan bom nagasaki-hiroshima

ini bukan peperangan. bukan soal apa aku
apa kamu. ini penyatuan dari pemisahan

kerigat. pertautan. zigot

2016

GERBANG SPIRITUALISTIK

terjaga lewat tengah malam. kepla sakit

jumbai syaraf dijerat. dikencangkan
dengan tarikan tali tambang. perih

“mungkin kurang oksigen,” katamu,
“mungkin terlampau banyak vodka,”

terlalu banyak ingin serta melulu
terhadang. debu di bingkai pintu

dan terjaga setiap masjid mulai
memutar kaset ayat al-quran

sakit–kurang berdzkir

2016

MANUSIA SIBERNASI

saya menciptakan diri sendiri, dari bau mulut
yang berdebat, dari tabrakan omong kosong
yang berbelit serta meneteteskan liur–materi
tidak terpakai yang berseliweran di angkasa.

berabad-abad

menjelma seorang: aku. serta seperti semua si
omong kosong, aku sosok yang berkepala bo-
long dan berotak kopong. bergaung dan berdesing

2016

PADA SATU TAMASYA AKHIR TAHUN

jangan percaya pada omongan mereka

katanya, katanya bos besar, saya tak boleh
ikut. bohong itu–akan saya cek langsung

: saya akan cek langsung. interlokal

mungkin mereka ingin saya tak ikut piknik,
dan ingin kerabatnya yang ikut–gratisan

mereka bilang bos besar melarang saya ikut
piknik. bohong itu–konyol

mungkin mereka tahu saya akan membawa
dagangan dan menjajakannya dalam bus

itu

kelicikan bsnis terselubung. mereka iri!
tak tahu cari kesempatan di kesempitan

kalian jagan mau ditipu, kalian jangan
dengar omogan mereka

2016

VARIASI ATAS TEMA-TEMA
ARWAH DI MASA DEPAN

1.
usia pelan menggiring ruh
memasuki masa lalu,serta
dinobati dan diberi kostum,
dikekalkan di dalam peran
yang dilakoni selama hidup

seratus tahu kemudian
anak cucu memutuskan lagi
tanpa bisa membela diri
mutlak dianggap cuma dorna bukan kresna
tecatat. tak bisa menggelak lagi

2.
: di masa depan arwah menjawab
semua pertanyaan-Nya jawaban jujur, dengan kesaksian si anggota tubuh

3.
banyak keinginan tetap tinggal
sebagai keinginan. melulu jadi
hanya luka hanya perih
(hanya yang terus dikenangkan
hanya keinginan yang kekal arwah keingin penasaran)

4.
kulit dan daging yang melapuk.
belatung yang tumbuh pada yang membusukpada yang kosong. klongsong

Beni setia

*Beni Setia, pengarang yang karyanya sudah tersebar di berbagai media massa.

Komunitas