04 December 2022
04 December 2022
26.8 C
Malang
ad space

Secercah Cahaya Joe Biden dalam Perspektif Nubuat Akhir Zaman

Anwar Hudijono. (Istimewa)

Oleh: Anwar Hudijono

Ada dua langkah sangat penting dan bermakna Presiden Amerika Serikat Joe Biden. Pertama, mengakhiri 20 tahun penjajahan Amerika atas Afghanistan. Kedua, menyerukan kemerdekaan bagi rakyat Palestina dari penjajahan Israel.

Langkah Biden ini ibarat ia membuat lobang agar cahaya bisa masuk ke dalam goa (kahfi) yang sangat luas dan gelap pekat. Biarpun besarnya lobang itu ibarat masih sebesar sebutir kacang ijo tapi bisa menjadi entry point untuk terus memperlebarnya.

Artinya Biden sudah membuka dirinya dari cahaya (nur) rahmat Allah. Implikasinya, jika dia mendapat rahmat akan bisa menyelamatkan Amerika dari azab Allah. Mendorong perubahan tata dunia baru yang benar dan adil.

Menurut kalkulasi berdasar nubuwat akhir zaman, insya Allah, Amerika ini termasuk waiting list (daftar tunggu) azab Allah karena perbuatannya yang fasad (merusak) kehidupan global. Bukankah Amerika adalah biang utama kerusakan dunia sehingga penuh ketidak-benaran, kedzaliman, penindasan, kerusakan alam lingkungan, hancurnya nilai-nilai manusia, LGBT, mengguritanya riba. Amerika justru menjadi penghela utama kehidupan global dari cahaya menuju kegelapan.

Bahkan boleh dibilang menjadi pemimpin golongan mufsidun (orang-orang yang membuat kerusakan di atas bumi). Dipersepsi bahwa Amerika adalah Yakjuj dan Makjuj modern. Bapak revolusi Islam Iran Imam Khomeini menyebut Amerika adalah setan besar.

Noam Chomsky

Kefasadan Amerika sudah banyak sekali dibuka secara jujur dan terbuka. Misalnya oleh filosuf Amerika Noam Chomsky, veteran wartawan Chris Hedges dan banyak lagi. Mereka mulat salira hangroso wani (berani melakukan instropeksi). Seperti nasib orang-orang yang berani menyampaikan sikap kritis di belahan dunia, mereka dibenci, dicela, dimusuhi oleh rejim beserta para cecunguknya.

Perbuatan fasad Amerika di antaranya melakukan penjajahan atas Afghanistan selama 20 tahun. Menyisakan kerusakan, kehancuran seperti kemiskinan absolut, tradisi korupsi, LGBT, bisnis opium yang menggurita, bangsa yang terpecah-pecah. Amerika ibarat ulat yang meninggalkan daun yang dimangsanya hingga compang-camping.

Jauh sebelum itu Amerika membunuh ratusan ribu manusia tidak berdosa dengan nuklir di Hiroshima dan Nagasaki. Amerika-lah bangsa pertama yang menggunakan bom nuklir. Melakukan perusakan, pembantaian jutaan manusia di Vietnam, Irak, Suriah, Pelestina, Laos dan belahan dunia lain.

Amerika menjadi biang kerok pecah belah umat manusia. Konsisten bersikap mendua. Hiprokrit. Pada satu sisi menyerukan pluraitas, pada sisi lain mau menyeragamkan kehidupan seluruh dunia menurut falsafahnya (helenisme). Menyerukan demokrasi tapi juga menjadi pelindung tirani. Katanya menjadi pendekar penegakan HAM, tapi nyatanya justru jadi perudakpaksa HAM.

Amerika pula yang menjadi pemantik permusuhan, badai kebencian terhadap Islam di seluruh dunia. Merekayasa fobia Islam di seluruh jagat. Islam diidentikkan dengan terorisme. Terminologi jihad, radikalisme, ekstrimisme dikemas diolah sebegitu rupa untuk menghancurkan jatidiri Islam. Rahmatan lil alamin Islam dibalik sebegitu rupa seolah Islam itu bencana dunia. Bahkan kaum muslimin pun sampai-sampai dibuat harus memegang agamanya seperti menggenggam bara api.

Palestina

Amerika selama ini selalu bersekutu dengan Israel. Menjadi pelindung Israel yang menindas rakyat Palestina. Yang melakukan kolonisasi di Dataran Tinggi Golan, Suriah. Melakukan terorisme di seluruh dunia. Amerika selalu menveto setiap keputusan PBB berkaitan dengan kejahatan Israel. Sampai-sampai Noam Chomnsky menyebut sejatinya Amerika adalah teroris nomor satu dunia.

Mudah-mudahan seruan Biden tentang kemerdekaan rakyat Palestina yang disampaikan di Sidang Umum PBB 2021 itu didasari pengakuan dosa bahwa tindakan Amerika salah besar. Jika tidak bertobat dan diperbaiki akan merugikan Amerika sendiri. Berdampak turunnya azab yang super dahsyat dari Tuhan.

Tentu persoalannya tidak sesederhana itu. Bukan hanya rakyat Pelestina harus merdeka, tetapi juga harus mengevaluasi eksistensi negara Israel. Pada dasarnya tanah itu adalah hak milik rakyat Palestina. Tanpa kerelaan rakyat Palestina, maka keberadaan Israel itu haram.

Allah sudah membatalkan hak Yahudi atas tanah itu setelah menimpakan kepada mereka azab kedua. Allah menjatuhkan azab yang besar dua kali kepada bangsa Yahudi sebagai hukuman mereka sudah melakukan kerusakan di atas bumi. Quran menjelaskan hal itu di Surah Al Isra ayat 4 – 8.

“Dan Kami tetapkan terhadap Bani Israil (Yahudi) dalam kitab itu, “Kamu pasti akan berbuat kerusakan di bumi ini dua kali dan pasti kamu akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang besar.” (Quran: Al Isra 4).

Pada azab pertama, negara Yahudi dihancurkan Kaisar Nebukadnezar dari Babilonia. Padahal Babilonia adalah sekutu kelompok Yahudi fasad pada waktu melawan Nabi Sulaiman. Negaranya dibakar, dihancurkan, penduduknya dijadikan budak.

Azab yang kedua lebih parah lagi. Negara Yahudi diluluh-lantakkan oleh Romawi. Baitul Maqdis dijadikan rata dengan tanah. Penduduknya diusir hingga bercerai berai, nista dan tersebar di seluruh dunia.

Setelah itu secara tegas Allah melarang mereka kembali. “Mudah-mudahan Tuhan kamu melimpahkan rahmat kepadamu. Tetapi jika kamu kembali, niscaya Kami pasti kembali (mengazabmu). Dan Kami jadikan neraka jahanam penjara bagi orang kafir.” (Quran: Al Isra 8).

Aset Rakyat Afghanistan

Demikian pula langkah Biden mengakhiri penjahan di Afghanistan semoga bukan semata-mata karena 20 tahun tidak bisa menang. Babak belur. Remuk redam. Melainkan ada niat baik untuk mengakhiri penjajahan. Untuk membuktikannya, Amerika harus segera mengemballikan aset rakyat Afghanistan yang dibekukannya.

Bahkan seharusnya bertanggung jawab membantu rakyat Afghanistan bangkit. Bagaimanapun Amerika yang telah membuat Afghanistan compang-camping, dedel duel bagaikan daun dimangsa ulat. Jangan malah terus memusuhi Afghanistan. Mengggalang dunia untuk tidak mengakui rejim baru Afghanistan.

Sebagai pemimpin golongan mufsidun global, insya Allah, Amerika termasuk dalam waiting list (daftar tunggu) azab Allah. Begitulah hukum Allah. Dan hukum Allah itu tetap di sepanjang zaman. Di Quran surah Hud, Al Haqah, sudah dijelaskan kehancuran bangsa-bangsa mufsidun seperti bangsanya Nabi Nuh, Luth, Hud, Syuaib, Shaleh, Firaun. Kisah di Quran itu bukan dongeng. Melainkan peringatan, pengajaran sepanjang jaman.

“Dan tidak ada suatu negeri pun (yang durhaka penduduknya) melainkan Kami membinasakannya sebelum hari kiamat atau Kami siksa (penduduknya) dengan siksa yang sangat keras. Yang demikian itu telah tertulis di dalam Kitab (Lauh Mahfudz). (Quran: Al Isra 58).

Sebagai warga dunia, saya berharap Biden mengambil tindakan didasarkan niat yang tulus. Menggunakan powernya untuk merealisasi apa yang diucapkan. Tapi jika ternyata hanya lipt service, abang-abang lambe, PHP, nggedabrus, ya sama saja dengan presiden-presiden Amerika sebelumnya. Minimal presiden yang oleh Noam Chomsky disebut pelaku kriminal alias penjahat. Jika begitu ya tunggu saja akhir sejarah imperium Amerika.

“Dan tunggulah, sesungguhnya kami pun termasuk yang menunggu.” (Quran: Hud 122).

Semoga Allah memberikan rahmat dari sisi-Nya kepada Biden.

Astaghfirullah. Rabbi a’lam.

Mohon dengan hormat telitilah tulisan ini. Jangan langsung like and share. Ini era disinformasi di mana informasi dapat menggelapkan hati manusia. Bahkan dapat menghancurkan suatu bangsa. Begitulah amanat Quran surah Al Hujurat 6.

Anwar Hudijono, veteran wartawan dan penulis tinggal di Sidoarjo.
12 Oktober 2021

Pandora Papers, Apa Kata Al Quran?

Anwar Hudijono

Oleh: Anwar Hudijono

Pandora Papers mengguncang dunia. Termasuk Indonesia yang pas kebetulan ada dua menteri yang berlatar belakang pebisnis disebut termasuk pelakunya.

Sebagaimana dilansir sejumlah media seperti Kontan.Co.Id, Al Jazeera, CNBC dan lain-lain, Pandora Papers adalah 12 juta dokumen yang mengungkapkan aset tersembunyi, penghindaran pajak, dan pencucian uang oleh sejumlah orang kaya dan berkuasa di dunia. Juga melibatkan selibriti, bandar narkoba.

Pandora Papers merupakan hasil investigasi International Consortium of Investigative Journalist (ICIJ) di Washington DC. Melibatkan lebih 600 jurnalis dan 140 media massa dari 117 negara. Kerjanya bersifat global. Menjadi investigasi terbesar. Dilakukan berbulan-bulan.

Kerjanya all out. Mencakup 6,4 juta dokumen. Sekitar 3 juta gambar. Lebih sejuta email. Sekitar 500 ribu spreadsheet. Pihak ICIJ sangat mafhum yang dihadapi bukan orang sembarang. Ibaratnya jika mereka digabung akan mampu membeli beberapa negara. Maka laporannya pun sangat presisi agar tidak ada celah sebesar lobang hidung pun untuk dibantah atau dimentahkan.

Banyaknya yang terlibat dalam penyusunan dokumen ini juga untuk mempersulit para pelaku yang disebut dalam dokumen untuk melakukan langkah hukum, politis bahkan kriminal. Hal ini mengaca pada nasib Julian Assange, pendiri situs WikiLeaks yang dikriminalisasi. Dinistakan secara politis oleh pihak yang merasa tersudut saat rahasianya dibongkar. Di banyak negara sering ada kasus wartawan dikriminalisasi. Media dibungkam dengan suap maupun kekerasan.

Kini sebagian pihak yang disebutkan Pandora Papers mulai bingung layaknya tikus tersudut. Adajuga yang lintang pukang seperti monyet kebakaran ekor. Reaksi yang diperlihatkan sebatas membantah melalui media. Meskipun bukan mustahil akan mengambil perhitungan dengan tindakan hukum, politis maupun kriminal.

The Da Vincy Code

Pandora Papers menjadi salah satu bukti aktual apa yang disampaikan Dan Brown dalam bukunya, The Da Vinci Code. Dalam buku kaliber internasional yang ditulis tahun 2003 itu dijelaskan bahwa banyak peristiwa besar di dunia yang dikendalikan oleh persekutuan rahasia.

Peristiwa-peristiwa besar dunia penuh konspirasi. Melibatkan tokoh-tokoh rahasia dalam proses yang juga rahasia di dunia. Sehingga , tulis Jonathan Black dalam bukunya, Sejarah Dunia Yang Disembunyikan, bermuara pada korupsi dan manipulasi penulisan sejarah. Bahkan penyesatan.

Lebih 1.400 tahun yang lalu Al Quran sudah menjelaskan tentang konspirasi atau persekutuan rahasia jahat. Misalnya, konspirasi 10 anak Nabi Ya’kub dalam upaya pembunuhan terhadap saudara satu ayah beda ibu, Yusuf. Tidak ada orang lain yang tahu ketika mereka menyusun rencana tipu daya karena dilakukan secara rahasia. Demikian pula ketika mengeksekusi Yusuf dengan dimasukkan ke dalam sumur.
Tapi Allah memberi tahu Ya’kub. Untuk itulah dia berusaha melarang ke-10 anaknya membawa Yusuf main-main sambil menyindir mereka sebagai serigala. (Quran” Yusuf 13). Serigala melambangkan terorisme, kejam dan menindas. Serigala adalah penguasa kegelapan.

“Itulah sebagian berita gaib yang Kami wahyukan kepadamu (Muhammad), padahal engkau tidak berada di samping mereka, ketika mereka bersepakat mengatur tipu muslihat (untuk memasukkan Yusuf ke dalam sumur).” (Quran: Yusuf 102).

Kutukan Daud

Pada saat Nabi Daud berkuasa, ada kelompok Yahudi atau Bani Israil yang melakukan perlawanan dan kejahatan terhadap dirinya. Mereka itu Yahudi Fasad (merusak). Fasad itu mencakup kafir, musyrik, dhalim, fasik, melampaui batas, kejam, menindas, pro LGBT. Mereka disebut golongan mufsidun atau yang membuat kerusakan di atas bumi.

Allah mengetahui semua perbuatan mereka mulai niat, rencana, strategi sampai implementasinya. Allah itu alimul ghaibi was-syahadah (Mengetahui yang gaib maupun yang nyata). Allah itu tahu yang lahir dan yang batin.

Allah lantas memberi tahu Rasulullah Sulaiman yang hendak menjadi pewaris ayahnya, Daud. Peristiwa itu dijelaskan dalam Quran surah Shad ayat 34. Di Quran digital diterjemahkan, “Dan sungguh, Kami telah menguji Sulaiman dan Kami jadikan (dia) tergeletak di atas kursinya sebagai tubuh (yang lemah karena sakit), kemudian dia bertobat.” Kata di dalam kurung adalah persepsi penerjemah.
Adapun Syekh Imran Hossein, pakar eskatologi Islam, berpandangan bahwa yang digeletakkan adalad jazad. Siapa jazad? Jawabnya ada di Quran surah Thaha ayat 88.

“Kemudian (dari lubang api itu) dia (Samiri) mengeluarkan jazad (berupa patung) anak sapi yang bertubuh dan bersuara untuk mereka, maka mereka berkata, “Inilah tuhanmu dan tuhannya Musa, tetapi dia (Musa) telah lupa.”

Intinya “jazad” adalah benda mati tapi bisa bersuara yang dijadikan tuhan oleh umat Yahudi. Kalau mempersepsi Quran surah Al Anbiya ayat 8 bahwa jazad itu antitesis para Rasul. Jika Rasul memiliki mukjizat, sedang lawan mukjizat adalah sihir. Maka jazad ini memiliki kekuatan sihir. Syekh Imran Hossein secara tegas berpendapat bahwa jazad yang dimasud dalam Quran surah Shad 34 itu adalah Dajjal. Dan akhir jaman Dajjal akan muncul menjadi tuhannya umat Yahudi. Dajjal akan memamerkan sihirnya.

Tentu saja Nabi Daud juga diberi tahu oleh Allah tentang gerakan konspirasi atau persekutuan rahasia jahat tersebut. Untuk itulah Daud mengutuk mereka.

“Orang-orang kafir dari Bani Israil telah dilaknat melalui lisan (ucapan) Daud dan Isa putra Maryam. Yang demikian itu karena mereka durhaka dan selalu melampaui batas.” (Quran: Al Maidah 78).

Yakjuj dan Makjuj

Kutukan kedua Nabi itu sudah direalisasi oleh Allah. Mereka dihukum sebanyak dua kali. Negaranya dihancurkan musuh. Mereka diusir dari negaranya hingga terlunta-lunta dan tersebar di seluruh dunia selama sekitar 2.000 tahun. Peristiwa ini dijelaskan di dalam Quran Surah Al Isra 4-8.

Persekutuan rahasia Yahudi fasad yang melawan Daud dan Sulaiman, menurut pendapat saya adalah Yakjuj dan Makjuj. Dua nama yang satu (Yakjuj dan Makjuj) ini menunjukkan persekutuan. Setelah diusir dari negaranya mereka tetap melanjutkan fasad terhadap bangsa lain. Sampai akhirnya mereka dihukum di dalam tembok oleh Zulkarnain. (Quran: Kahfi 96).

Tembok isolasinya berupa gabungan besi dan tembaga. Hal ini bisa menjadi indikator mereka adalah musuhnya Daud dan Sulaiman. Besi adalah simbolisasi Daud, sedang tembaga adalah Sulaiman.

Quran juga menjelaskan tentang perkutuan rahasia jahat antarakaum kafir Mekah, Yahudi dan kaum munafik di dalam Perang Ahzab atau Perang Khandak. Allah juga memberi tahu Rasulullah tentang konspirasi kaum kafir Mekah yang hendak membunuhnya sehingga Rasulullah hijrah ke Madinah.

Masih banyak lagi Al Quran menjelaskan tentang persekutuan jahat rahasia.

Apa yang diungkap Pandora Papers ini baru secuil dari persekutuan-persekutuan jahat rahasia yang ada di dunia. Bahkan belum menyentuh persekutuan rahasia yang melibatkan setan. Sejak jaman Sulaiman, sebagian umat Yahudi bersekutu dengan setan. (Quran: Al Baqarah 102).

Untuk itulah Allah memperingatkan kaum beriman agar memohon perlindungan kepada-Nya. Termasuk dari konspirasi jahat. Peringatan dan petunjuk itu diletakkan pada dua surah terakhir Al Quran yaitu surah Al Falaq dan An Nas.

Astaghfirullah. Rabbi a’lam (Tuhan Maha Tahu).

Anwar Hudijono, veteran wartawan dan penulis tinggal di Sidoarjo.
7 Oktober 2021

Antara Nabi Daud dan Taliban dalam Kekuasaan

Anwar Hudijono. (Istimewa)

Oleh: Anwar Hudijono

Ada sejumlah persamaan antara Nabi Daud dan Taliban dalam konteks proses mengemban kekuasaan. Antara lain, sama-sama muncul sebagai pahlawan dari krisis internal ketika menghadapi peperangan. Tidak pernah diperhitungkan sebelumnya. Kemenangannya nyaris tak mungkin karena menurut kalkulasi logika musuh jauh kebih kuat. Dan begitu berkuasa dihadapkan ujian yang sangat berat.

Nabi Daud muncul sebagai pahlawan ketika bangsanya, Yahudi atau Bani Israil sedang berperang melawan bangsa Filistin. Kisahnya bisa ditelurusi sejak Nabi Musa membawa etnis Yahudi keluar dari Mesir. Kisah itu diabadikan di dalam Quran surah Al Maidah 20-27.

Musa mengajak kaumnya masuk ke Baitulmakdis atau Palestina.Tetapi mereka menolak karena takut sebab di dalam negara itu terdapat orang-orang kuat. Malah mereka menyuruh Musa agar berperang sendiri.

“Mereka berkata, wahai Musa! Sampai kapan pun kami tidak akan memasuki selama mereka masih ada di dalamnya. Oleh karena itu pergilah kamu bersama Tuhanmu dan berperanglah kamu berdua. Biarlah kami tetap (menanti) di sini saja.”(Quran: Al Maidah 24).

Akibat menolak itu, Allah menjatuhkan hukuman bagi kaum Yahudi tidak bisa memasuki Palestina selama 40 tahun. Mereka telantar terlunta-lunta di padang gurun.

Kutukan Nabi Daud

Musa wafat. Setelah remuk menggelandang selama 40 tahun mereka berniat masuk Baitulmakdis. Mereka meminta petunjuk seorang Nabi untuk mengangkat seorang raja yang akan memimpin mereka berperang melawan bangsa Falestin. Segmen ini diabadikan di Quran surah Al Baqarah 246- 251.

Nabi itu menyatakan bahwa Allah sudah mengangkat Talut menjadi raja kaum Yahudi. Talut memiliki kelebihan ilmu dan fisik.

“Bagaimana Talut memperoleh kerajaan atas kami, sedangkan kami lebih berhak atas kerajaan itu darinya, dan dia tidak diberi kekayaan yang banyak.” (Quran: Al Baqarah 247.

Yahudi memang dikenal menjadikan harta adalah segala-galanya. Sampai Allah berfirman, tidak ada yang lebih rakus di dunia ini melebihi Yahudi. Bahkan kaum musyrik pun kalah rakusnya.

Talut akhirnya memimpin pasukan Yahudi. Talut menegaskan kepada pasukannya bahwa Allah menguji dengan sebuah sungai. Siapa yang meminum airnya kecuali sekadar seciduk dengan tangan, maka tidak termasuk pengikutnya. Yahudi mengkhianati Talut. Mereka meminum.
Drama meminum air sungai ini bisa menjadi petunjuk siapa subyek Yakjud dan Makjud. Mereka saat kembali ke Baitulmakdis akan memimum air Danau Tiberias sampai kering.

Hanya sedikit saja yang mematuhi Talut sehingga pasukannya kecil. Tapi Allah menegaskan bahwa banyak kelompok kecil mengalahkan kelompok besar atas ijin Allah.

Dalam perang itu muncullah Daud, seorang penggembala belia, menjadi pahlawan. Dia berhasil membunuh Jalud, seorang panglima pasukan yang sangat kuat dan ditakuti musuh. Kemudian Allah mengangkat Daud sebagai penguasa (khalifah) di Baitulmakdis atau Yerusalem.

Pada saat Daud berkuasa, ada kelompok atau persekutuan rahasia kaum Yahudi yang mengkhianatinya. Di antaranya berusaha mengkudetanya. Kelompok inilah yang kemudian disebut Yakjuk dan Makjuj. Sampai Daud marah dan mengutuk kaum kafir Yahudi.

“Orang-orang kafir dari Bani Israil telah dilaknat melalui lisan Daud dan Isa putra Maryam. Yang demikian itu karena mereka durhaka dan selalu melampaui batas.” (Quran: Al Maidah 78).

Melawan imperialisme

Jamiyah Mujahidin Taliban lahir dari kelompok kecil santri di pondok pesantren. Miriplah dengan Tentara Hisbullah dan Sabilillah di Indonesia ketika melawan imperialisme Belanda sekitar tahun 1945. Taliban berjihad melawan imperialisme Uni Soviet tahun 1979-1989.

Di tengah konflik faksi-faksi perjuangan Afghanistan setelah tentara Uni Soviet tumbang, Taliban mendapat kepercayaan rakyat Afghanistan berkuasa atas negara itu tahun 1996 -2001. Namun kemudian dijatuhkan oleh imperialisme Amerika, Oktober tahun 2001. Taliban tetap melawan penjajah Amerika beserta pemerintahan bonekanya selama 20 tahun. Akhirnya Taliban berhasil memenangi peperangan medio Agustus 2021 dengan serangan superkilat dan spektakuler.

Seperti halnya Daud, Taliban diberi khilafah (kekuasaan) untuk menjalankan kebenaran Ilahi.

“Wahai Daud! Sesungguhnya engkau Kami jadikan khalifah (penguasa) di bumi, maka berilah keputusan di antara manusia dengan adil, dan janganlah engkau mengikuti hawa nafsu karena akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Sungguh, orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat karena melupakan Hari Perhitungan.” (Quran: Sad 26).

Kekuasaan adalah ujian dari Allah juga. Kini Taliban menghadapi ujian internal maupun eksternal yang sangat berat sehingga posisinya benar-benar laksana telor di ujung tanduk.

Faktor internal antara lain warisan penjajah Amerika berupa kemiskinan absolut bahkan ancaman kelaparan. Korupsi merajelela. Perdagangan obat bius. Kriminalitas yang sangat tinggi. Kerusakan moral sepert LGBT. Rusaknya infrastruktur dan sebagainya.

Di Afghanitan, Amerika itu layaknya serigala yang masuk kadang domba, kemudian menerkam dan mencabik-cabik domba itu. Pada saat domba di antara hidup dan mati, penuh luka arang keranjang, ditinggal begitu saja untuk melarikan diri karena takut saat singa datang.

Faktor eksternal berupa perang dalam bentuk non militer yang terus dilakukan oleh Amerika. Amerika memang sudah pergi dengan menyeret kaki sambil mbrebes mili. Tetapi tidak mau menyerah. Karena memang tidak ada kata “kalah” dalam kamus Amerika.

Amerika adalah First Nation. Imperium dunia tunggal. Sosok penganut eksepsionalisme yaitu negara superpower yang tidak perlu mengikuti aturan atau prinsip umum. Amerika itu teroris nomor satu, kata filosuf Yahudi baik, Noam Chomsky.

Maka, Amerika akan terus melakukan perang multidimensi sampai musuh benar-benar tunduk bersujud di bawah duli kakinya seperti yang selama ini dilakukan terhadap Iran, Cuba, Venezuela. Amerika, kata Imam Khomeini, tidak mencari sahabat tetapi mencari jongos untuk melayani kepentingan Amerika.

Intinya, Amerika ingin Taliban harus mengikuti sistem nilai dan budaya Amerika. Sangat menolak penerapan syariat Islam. Secara substansial, sistem negara khilafah yang hendak dibangun Taliban itu merupakan lawan sistem “khilafah sekuler” Amerika. Isu pemerintahan inklusif, hak-hak perempuan untuk menyerang Taiban itu hanya asapnya saja.

Pimpinan Taliban sudah menegaskan tidak akan menyerah untuk mengikuti sistem nilai dan budaya Amerika. Rupanya Taliban sangat mafhum dihadapkan dua pilihan. Sungai berisi air, dan sungai berisi api.

Jika memilih sungai berisi air berarti harus tunduk kepada kemauan Amerika dan sekutunya. Berarti harus berkhianat terhadap Allah. Air itu adalah tipuan duniawi. Berlindung di bawah duli Amerika itu juga peruma. Ibarat rumah, Amerika itu rumah laba-laba.

Maka Taliban sepertinya sudah memutuskan memilih sungai api. Berarti mereka yakin akan pertolongan Allah. “Sesungguhnya penolongmu hanyalah Allah dan Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang melaksanakan shalat dan menunaikan zakat, seraya tunduk (kepada Allah). Dan barang siapa menjadikan Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman sebagai penolongnya, maka sungguh, pengikut (agama) Allah itulah yang menang.” (Quran: Al Maidah 55-56).

Dan Taliban rupanya sudah sangat yakin dengan janji Allah. “Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yangtertindas di bumi itu, dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi (bumi). (Quran: Al Qashas 5).

Astaghfirullah. Rabbi a’lam (Tuhan Maha Tahu).

Anwar Hudijono, veteran wartawan dan penulis tinggal di Sidoarjo.

30 September2021

Persekutuan Islam-Kristen Pasti Terjadi ( Bagian 2-Tamat)

Anwar Hudijono. (Istimewa)

Oleh: Anwar Hudijono

Terlepas apakah Afghanistan benar-benar menjadi pintu gerbang persekutuan (aliansi) Islam dengan Kristen di akhir zaman atau tidak, yang jelas persekutuan itu pasti terjadi. Hal itu bersifat alamiah. Natarul. Sudah menjadi kodrat Ilahi, ketentuan Tuhan. Seperti bulan dan bintang yang memiliki masa edarnya bareng. Tidak ada kok bintang nyelonong keluar di siang hari. Tentu saja persekutuan itu antara golongan tertentu di Islam maupun Kristen. Tidak semuanya.

Yang memastikan itu bukan saya. Tetapi Quran surah Al Maidah ayat 82.
“Pasti akan kamu dapati orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. Dan pasti akan kamu dapati orang yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman, ialah orang-orang yang berkata, ‘Sesungguhnya kami adalah Nasrani.’ Yang demikian itu karena di antara mereka terdapat para pendeta dan para rahib (juga) karena mereka tidak menyombongkan diri.”

Cermati kata yang dipilih Allah untuk menegaskan ketentuan-Nya yaitu kata “pasti”. Berarti Allah menjamin pasti terwujud. Cermati pula kata “mawaddah” yang artinya cinta kasih. Hal ini menunjukkan kedekatannya lahir dari lubuk hati yang dalam. Dalam bingkai kemanusiaan. Bukan kedekatan atau aliansi dalam konteks bisnis, politik, vested of interest, apalagi konspirasi jahat.

Nah, masalahnya apakah kelompok di Kristen yang menjadi sekutu alamiah Islam itu mesti Kristen Ortodoks? Apakah hanya satu golongan atau banyak golongan. Mengingat di Kristen itu banyak sekali golongan?
Yang jelas, persekutuan Islam-Kristen pasti terjadi. Yang jelas pula pernah terjadi pada zaman Rasulullah. Alkisah, umat Islam mengalami penindasan yang sangat berat oleh kaum kafir Mekah. Ada yang disiksa, bahkan dibunuh.

Nabi menyarankan agar pergi ke Abisinia yang rakyatnya menganut Kristen. Pada saat itu di dalam Kristen sudah terjadi perselisihan. Ada golongan yang menuhankan Ibu Maria. Ada yang menuhankan Yesus. Ada juga yang tetap mengesakan Allah.

“Tempat itu diperintah seorang raja dan tak ada orang dianiaya di situ. Itu bumi jujur, sampai nanti Allah membukakan jalan buat kita semua,” kata Nabi seperti ditulis Dr Haekal dalam buku, Sejarah Hidup Muhammad.

Isa Al Masih

Berangkatlah rombongan muslimin sebanyak 15 orang, terdiri dari 11 pria dan 4 wanita. Inilah gelombang hijrah pertama.

Penguasa kafir Mekah tidak membiarkan umat Islam hijrah ke Abisinia. Maka diutuslah Amr bin Ash dan Abdullah bin Abi Rabi’ah untuk melobi Raja Abisinia, Najasyi atau Negus agar mengembalikan kaum muslimin ke Mekah. Duta penguasa Mekah itu membawa hadiah untuk raja maupun pejabat-pejabat lain. Maksudnya menyuap begitulah.

Proses negosiasi berlangsung sangat alot. Dramatis. Hampir saja Najasyi memulangkan kaum muslimin. Babak berikutnya yang menjadi instrumen dalam negosiasi bukan aspek politik atau ekonomi melainkan aspek teologis.

Raja menanyakan tentang Islam. Sampai akhirnya Jakfar bin Abi Thalib, anak muda yang menjadi pemimpin rombongan, membacakan Quran surah Maryam (19). Di dalam surah itu antara lain dijelaskan tentang eksistensi Isa Al Masih.

Setelah mendengar dengan seksama yang dibacakan Jakfar, Najasyi mengambil sebatang tongkat dan menggoreskannya di tanah. Dan dengan sikap sangat gembira dan ceria, Najasyi berkata, “Antara agama tuan-tuan dan agama saya tidak lebih dari garis ini,” tegas Najasyi.

Najasyi mengijinkan kaum muslimin tinggal di negaranya sampai waktu tak terbatas. Memberikan perlindungan. Mereka sempat tinggal di Abisinia beberapa lama. Setelah mendengar bahwa gangguan kaum kafir di Mekah mereda, mereka kembali ke Mekah. Tapi ternyata penindasan justru semakin seru. Untuk itulah hijrah kedua ke Abisinia kembali dilakukan dengan jumlah 80 orang.

Kaum muslimin tinggal di Abisinia sampai masa setelah Rasulullah hijrah ke Medinah. Mereka hidup di negara itu dengan aman dan damai.

Pilihan Rasulullah ke Abisinia pasti bukan sekadar untuk menghindari penindasan kafir Mekah. Rasulullah terbukti memiliki pemikiran yang visioner, strategis. Menurut pendapat saya, Rasulullah memelihara potensi persekutuan natural yang pasti terjadi antara Islam dengan Kristen.

Berbohong
Memang ada juga golongan Kristen yang memusuhi Nabi. Tapi Nabi tidak bersikap sekeras ketika menghadapi kaum kafir Mekah dan kaum Yahudi. Terutama kepada Yahudi. Rasul sampai mengusir mereka keluar dari Medinah setelah benteng mereka, Khaibar, dihancurkan pasukan muslim.

Kenapa? Karena Yahudi paling keras memusuhi Islam sampai akhir zaman. Yahudi memang sudah memutuskan mengambil posisi sebagai musuhnya Allah, malaikat, rasul, jibril dan Mikail. (Quran: Al Baqarah 98).

Golongan Kristen ada yang menipu Nabi. Mereka meminta Nabi mengirim pendakwah untuknya. Ternyata mereka membunuh para pendakwah itu. Tetapi Nabi tidak mengirim pasukan untuk menghukum mereka. Padahal saat itu kaum muslimin sudah sangat kuat. Nabi melakukan doa qunut nazilah.

Demikian pula ketika menghadapi golongan Kristen Najran yang menganggap penjelasan Quran tentang Isa Al Masih adalah bohong. Nabi mengajaknya bermuhabalah. Minta keadilan Allah. Siapa yang berbohong akan mendapat laknat Allah dunia akhirat.

Nabi mengucapkan muhabalah lebih dulu. Kaum Kristen melihat ada tanda-tanda alam berupa mendung merah berarak-arak seolah hendak menggulung bumi. Mereka tahu bahwa Nabi di pihak yang benar, sementara Kristen Najran yang bohong tentang Isa. Akhirnya golongan Kristen itu memilih tidak meneruskan muhabalah dan sebagai gantinya membayar denda.

Peristiwa muhabalah yang diabadikan Quran itu adalah tonggak monumental kemenangan Nabi atas kaum Kristen tanpa pertumpuhan darah.

Pasukan Islam juga perang melawan pasukan Romawi Timur, yang dikenal sebagai Perang Mu’tah tahun ke-8 hijriyah. Romawi Timur adalah pusat Kristen Ortodoks. Tentara Islam berjumlah 3.000 orang. Melawan 200.000 tentara musuh yang terdiri dari 100.000 tentara Romawi Timur, 100.000 tantara Arab Kristen digabung kaum musyrik.
Penyebab perang karena penguasa lokal di Syam (sekarang meliputi Suriah, Palestina, Yordania dan Lebanon) membunuh utusan Nabi menyampaikan surat dakwah ke Gubernur Syam. Perang berakhir sama-sama mundur.

Ada golongan Kristen yang sangat dekat dan dihormati Nabi. Pada saat mereka bertemu Nabi di Medinah, Nabi mengijinkan mereka melakukan ibadah di dalam Masjid Nabawi. Sikap Nabi itu bisa dipersepsi bahwa terhadap golongan Kristen tertentu, Nabi bersikap mawaddah.

Mungkin itulah cara Nabi menjaga potensi kodrati ini. Karena umat Kristen akan menjadi Islam itu cuma tinggal selangkah lagi.

Al Maidah 83

Sungguh apa yang dikehendaki Allah itu pasti terjadi. Hal itu ditegaskan di Quran surah Al Maidah 83.
“Dan apabila mereka mendengarkan apa (Al Quran) yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad), kamu lihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran yang telah mereka ketahui (dari kitab-kitab mereka sendiri) seraya berkata, “Ya Tuhan, kami telah beriman, maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas kebenaran Al Quran dan kenabian Muhammad).”

Perwujudan kepastian Allah saat ini semakin jelas. Jumlah umat Kristen yang menjadi mualaf semakin banyak. Contohnya di Amerika dan Eropa jumlah umat Isam terus meningkat sangat pesat. Di Moskow saja pada saat Uni Soviet bubar tahun 1991, jumlah umat Islam hanya 60.000. Kini jumlah totalnya lebih 3 juta orang.

Bukan itu saja. Jumlah mesjid bertambah pesat. Yang elok, justru banyak mesjid itu bekas gereja yang dijual kemudian dibeli umat Islam.

Saya pikir yang dipersepsi Syekh Imran Hossein itu hanya salah satu opsi saja bahwa yang akan jadi sekutu Islam adalah Kristen Ortodoks. Menurut saya, dari golongan apapun, umat Kristen yang berjiwa Hawariyun (pengikut yang taat kepada Nabi Isa), akan masuk Islam. Mereka akan patuh terhadap Isa yang menjadi saksi kebenaran Nabi Muhammad.

Dasarnya Quran surah As Shaf ayat 6.
“Dan (ingatlah) ketika Isa putra Maryam berkata, ‘Wahai Bani Israil, sesungguhnya aku utusan Allah kepadamu, yang membenarkan kitab (yang turun) sebelumku yaitu Taurat dan memberi kabar gembira dengan seorang rasul yang akan datang setelahku, yang namanya Ahmad (Muhammad). Namun ketika Rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata bahwa itu adalah sihir yang nyata.”

Masalahnya hanya persoalan waktu. Kita tunggu. Tapi kebanyakan manusia suka tergesa-gesa. “Maka tunggulah, sesungguhnya kami menunggu (pula) bersamamu.” (Quran: At Taubah 52).

Astaghfirullah. Rabbi a’lam (Tuhan lebih tahu)

Mohon jangan langsung like and share tulisan ini. Jangan langsung membenarkan. Monggo dipahami secara kritis. Di era pandemi ini yang kian gelap ini merupakan keharusan berpikir kritis, cerdas, untuk menjaga akal sehat dan mengembangkan bashirah.

Anwar Hudijono, penulis tinggal di Sidoarjo
31 Agustus 2021

Afghanistan Gerbang Persekutuan Islam-Kristen? (Bagian 1 dari 2 Tulisan)

Anwar Hudijono. (istimewa)

Oleh: Anwar Hudijono

Apakah benar Rusia membantu Taliban dalam memenangi secara telak dan spektakuler atas Amerika plus NATO?

Untuk mendapat jawaban yang sahih tidak mudah. Sejauh ini tidak ada sikap resmi kedua belah pihak. Bahwa Rusia membantu Mujahidin Taliban masih sebatas dugaan. Tentu tidak asal duga menduga. Ada dukungan argumentasi politis dan fakta-fakta yang bisa ditafsirkan ke arah itu.

Misalnya, memang saat ini terjadi permusuhan antara Rusia dengan Amerika. Dalam politik berlaku kaidah “lawan musuhku adalah temanku”. Selama ini Rusia membantu musuh Amerika seperti Suriah, Venezuela, Cuba, Iran.

Indikator lain, terjadinya kontak-kontak intensif Taliban dengan Rusia menjelang kemenangan Taliban. Dukungan moral Rusia begitu Taliban kembali berkuasa. Seperti tidak melakukan evakuasi staf kedutaannya.

Tulisan ini berdasar asumsi bahwa Rusia memang membantu Taliban. Sekali lagi asumsi. Bukan kebenaran faktual yang sudah teruji.

Atas dasar asumsi itu saya melihat dukungan Rusia ke Taliban ini, insya Allah, sebagai awal persekutuan Islam-Kristen dalam perspektif nubuwat akhir zaman atau eskatologi Islam. Alasannya, pertama, peristiwa ini terjadi di Afghanistan. Yang merupakan jantung kawasan Khurosan. Dalam peta geografi kuno yang begitu penting dalam geopolitik akhir zaman, di kawasan ini akan keluar Dajjal, dan keluar pula Pasukan Imam Mahdi. Semacam garis start yang penyelesaian finalnya di Yerusalem.

Kedua, merujuk Hadits bahwa di akhir zaman akan terjadi persekutuan Islam dengan Kristen melawan musuh secara bersama. Pakar eskatologi Islam Syekh Imran Hossein melihat bahwa golongan yang akan bersekutu dengan Islam itu adalah Kristen Ortodoks. Nah, representasi Kristen Ortodoks saat ini adalah Rusia.

Ketiga, sejak awal perang di Afghanistan ini ada nuansa apostle atau nubuwat keagamaan. Ingat, sesaat WTC dibom tanggal 11 September 2001, Presiden Amerika George W Bush langsung mendeklarasikan perang melawan terorisme yang akan menjadi perang salib kedua.

Perang salib adalah perang berjargon keagamaan Kristen Katolik melawan kelompok Islam. Merujuk pandangan Jonathan Black dalam bukunya yang termasyhur, The Secret History of The World, perang salib juga menyasar dari Katolik kepada kelompok Kristen Ortodoks. Sementara jantung Kristen Ortodoks yang dulu di Konstantinopel (sekarang Istanbul, Turki) kini berada di Rusia. Dalam konteks ini bisa memperkuat tesis Syekh Imran Hossein tersebut.

Saling melindungi

Maka, perang di Afghanistan, saya kira tidak berlebihan, jika menggunakan perspektif Quran Surah Al Maidah.

Kita mulai dengan Al Maidah 51.
“Wahai orang-orang beriman. Janganlah kamu menjadikan orang Yahudi dan Nasrani sebagai pemimpin (mu). Mereka satu sama lain saling melindungi. Barang siapa di antara kamu yang menjadikan mereka sebagai pemimpin, maka sesungguhnya dia termasuk golongan mereka. Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang dzalim.”

Dilanjutkan dengan ayat 52:
“Maka, kamu akan melihat orang-orang yang hatinya berpenyakit segera mendekati mereka, seraya berkata, “Kami takut akan mendapat bencana. Mudah-mudahan Allah akan mendatangkan kemenangan, atau sesuatu keputusan dari sisi-Nya, sehingga mereka menjadi menyesal terhadap apa yang mereka rahasiakan dalam diri mereka.”

Ayat di atas menegaskan tentang kelompok atau golongan tertentu, baik di Yahudi, Kristen maupun Islam. Tidak dialamatkan untuk semua umat dalam ketiga agama. Nah, dalam kasus Afghanistan, mengikuti alur pemikiran Syekh Imran Hossein bahwa NATO dan Amerika adalah representasi zionisme yang merupakan koalisi atau persekutuan kelompok tertentu di Yahudi dan Kristen.

Produk persekutuan ketiga kelompok ini bisa dibaca dengan perspektif ayat 57.
“Wahai orang-orang beriman. Janganlah kamu menjadikan pemimpinmu orang-orang yang membuat agamamu jadi bahan ejekan dan permainan, (yaitu) di antara orang-orang yang telah diberi kitab sebelummu dan orang-orang kafir (orang musyrik). Dan bertakwalah kepada Allah jika kamu orang-orang beriman.”

Memang yang menjadi penguasa adalah kelompok orang Islam. Tapi sebenarnya hanya sebatas “seolah berkuasa”. Sekadar wayang “mati” yang digerakkan. Penggeraknya tetap “invisible hand” atau dalang. Maka tidak perlu heran, ketika dalangnya kabur, wayangnya masuk kotak. Layaknya kacang panjang dipisah dari lanjarannya.

Di dalam persekutuan semacam itu, kalau dicermati ayat di atas sebenarnya unsur kelompok Islam hanya sebatas pelengkap penyerta. Bahkan pelengkap penderita. Dalam istilah pewayangan sebatas bolo dupak. Dalam film disebut figuran. Tidak masuk dalam elite strategis.

Karena status hanya bolo dupak, seandainya ada endum-enduman (bagi hasil), hanya sebatas mendapat recehan. Kalau yang dibagi tumpeng, hanya mendapat gogrokan. Tapi jika ada sakitnya, kelompok bolo dupak inilah yang justru paling remuk. Kalau di film action, mereka ini berperan sebagai figuran yang digebuki, diinjak-injak, dan mati. (Bersambung)

Astaghfirullah. Rabbi a’lam (Tuhan lebih tahu)

Anwar Hudijono,
penulis tinggal di Sidoarjo.
30 Agustus 2021

Ada Cinta Hajar di Balik Ibadah Kurban (2-Tamat)

Anwar Hudijono. (Istimewa)

Oleh: Anwar Hudijono

Waktu mengurbankan Ismail sudah ditetapkan yaitu tanggal 10 Dzulhijah. Tempatnya di Mina. Sebuah samudera padang pasir yang diombaki bukit-bukit karang.

Setan tidak rela terhadap orang yang bergerak mendekat kepada Allah. Rajanya setan langsung turun memimpin penghadangan, sabotase, perang terhadap Ibrahim-Hajar-Ismail.

Rajanya setan itu satu tubuh berkepala (cabang) tiga. Setiap cabang saling berhubungan. Saling melengkapi. Saling menunjang. Saling melindungi.

“Pergilah kamu mendapatkan naungan (asap api neraka) yang mempunyai tiba cabang.” (Quran: Al Mursalat 30).

Hajar – Ibrahim – Ismail sudah dalam barisan cinta mutlak kepada Allah.

“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur, mereka seakan-akan seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.” (Quran: As-Shaf 4).

“Dan berperanglah kamu di jalan Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Mendengar Maha Mengetahui”. (Quran: Al Baqarah 244).

Walhasil, setan sama sekali tidak berdaya melawan mereka. Akhirnya setan tahu mereka tidak akan pernah bisa dikalahkan sampai Hari Kiamat. Karena ketiganya adalah orang-orang yang terpilih/ikhlas.

“Dia (Iblis) berkata, “Tuhanku, oleh karena Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, aku pasti akan jadikan (kejahatan) terasa indah bagi mereka (manusia) di bumi, dan aku akan menyesatkan semuanya. Kecuali hamba-hamba-Mu yang terpilih (mukhlisin) di antara mereka”. (Quran: Al Hijr 39-40).

Di masyarakat

Perang itu sangat dahsyat. Tidak bisa divisualisasikan. Hanya sekadar untuk menapak tilas, setiap musim haji diwajibkan melempar tiga jumrah. Jumrah Ula, Jumrah Tsani dan Jumrah Aqabah.

Para jamaah haji mengikuti strategi Ibrahim-Hajar-Ismail membentuk barisan yang sangat panjang. Sepanjang mamandang hanya orang berbaris menyerupai bangunan yang super kokoh. Mereka adalah umat yang satu. Ummatan wahidah. Tidak ada perbedaan warna kulit, status sosial, jabatan, aliran politik, mazhab dsb. Setiap menembakkan satu peluru, mereka pun memekik “bismillahi Allahu akbar”.

Wahai kaum muslimin, Mina itu hanya simulasi. Tempat latihan. Medan perangmu sesungguhnya di masyarakat. Di kehidupan nyata sehari-hari. Maka galanglah barisan sesama muslim. Ukhuwah Islamiyah. Seperti di Mina, tidak memandang ras, suku, mazhab, status sosial, organisasi, aliran politik dan sebagainya.

“Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara.” (Quran: Al Hujurat 10).

Di jaman now, ukhuwah Islamiyah benar-benar terancam. Seperti tembok yang setiap saat berusaha dipecah-pecah dan dirobohkan. Di samping dengan perang senjata yang nyata seperti di Afghanistan, Yaman, Suriah, juga dengan perang maya. Cyber-terror.

Dan Allah sudah mengingatkan faktor-faktor yang bisa merobohkan ukhuwah itu. Hal itu tertulis di Quran Al Hujurat ayat 11-12. (Monggo ngaji).

Tidak ada Islam tanpa jamaah. Binalah jamaah. Partikel jamaah paling kecil adalah keluarga. Aktulisasikan pasukan Ibrahim-Hajar-Ismail di dalam keluarga kita. Bukankah setiap tasahut akhir kita sampaikan salam untuk Ibrahim dan keluarganya?

“Wahai orang-orang beriman. Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.” (Quran: At Tahrim 6).

Hajar-Hajar Baru

Fenomena aktual di jaman now ini adalah tumbuhnya Hajar-Hajar baru. Dimulai dengan perlawanan terhadap revolusi feminisme. Revolusi feminisme adalah gerakan massif dan global yang diklaim untuk mengangkat harkat dan martabat wanita.

Tapi yang sejatinya terjadi justru sebeliknya. Sangat mengarah kepada terkoyak-koyaknya harkat dan martabat wanita.

Pendukung revolusi feminisme kini sudah terkena efek baliknya. Mulai dari merebaknya LGBT, mandul, tersingkirnya pernikahan secara agama, menurunya fertilitas penduduk, tercabik-cabiknya nilai keluarga.

Tiba-tiba para wanita muslimah melakukan revolusi pakaian dengan mengenakan pakaian yang menutup aurat. Ini antitesis terhadap revolusi feminisme yang menghendaki wanita “telanjang” di ranah publik.

Tiba-tiba gegap gempita membentuk majelis taklim. Melakukan pelbagai gerakan sosial dan sedekah. Seperti Hajar, mereka harus bergerak. Dinamis. Tapi pergerakannya tetap pada porosnya yaitu kodrat sebagai wanita. Mencari ridha Allah.

Wanita muslimah tiba-tiba melakukan kontra revolusi feminisme dengan memberdayakan fungsi seorang ibu sebagai pendidik anak-anaknya. Menjaga kehormatan rumahnya. Mengundang rahmat Allah di rumahnya. Semua dibingkai dalam benang merah cintanya kepada Allah.

Ada gelombang dahsyat kesadaran emak-emak muslimah untuk menyiapkan generasi penerus yang mencintai Allah dan dicintai Allah. Generasi saleh yang akan menjadi pewaris sah bumi.

“Wahai orang-orang beriman, barang siapa di antara kamu yang murtad (keluar) dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum. Dia (Allah) mencintai mereka dan mereka mencintai-Nya. Dan bersikap lemah lembut terhadap orang-orang beriman, tetapi bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan tidak takut terhadap celaan (persekusi, bully) orang-orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah yang diberikan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), Maha Mengetahui.” (Quran: Al Maidah 54).

“Dan sungguh, telah Kami tulis di dalam Zabur setelah (tertulis) di dalam Az-Zikr (Lauh Mahfudz) bahwa bumi ini akan diwarisi oleh hamba-hamba-Ku yang saleh.” (Quran: Al Anbiya 105).

Astaghfirullah. Rabbi a’lam (Tuhan lebih dan paling mengetahui)

Catatan penting: Jangan langsung like and share tulisan ini. Telitilah. Harus kita biasakan meneliti setiap informasi. Ini jaman disinformasi. Tidak jelas mana hoax mana info benar. Mana asli mana palsu. Monggo ngaji Quran surah Al Hujurat ayat 6. Peringatan Allah di situ sudah sangat jelas.

Anwar Hudijono, penulis tinggal di Sidoarjo. Dari berbagai sumber.

Sidoarjo, 27 Juli 2021

Ada Cinta Hajar di Balik Ibadah Kurban (1)

Anwar Hudijono

Oleh: Anwar Hudijono

Dan sungguh sulit dinalar, bagaimana seorang anak tidak takut sama sekali ketika hendak disembelih. Meski oleh ayahnya sendiri. Malah meminta ayahnya tidak ragu-ragu untuk melakukan.

Bisa jadi yang kita bayangkan, anak itu akan menangis histeris. Lari lintang pukang. Bisa-bisa malah menganggap ayahnya sudah kerasukan setan atau miring.

Anak itu adalah Ismail. Leluhur Nabi Muhammad SAW. Sikap Ismail itu diabadikan di dalam Quran surah As Shaffat 102.

“Maka ketika anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersamanya (Ibrahim) berkata, “Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu.” Dia (Ismail) menjawab, “Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu, insya Allah engkau mendapatiku termasuk orang yang sabar.”

Ismail sangat sadar bahwa perintah Allah itu ujian. Mati adalah salah satu bentuk ujian. Ujian harus disikapi dengan ihlas dan sabar. Ismail sama sekali tidak ada rasa ragu, takut sebesar biji wijen sekalipun. Semua itu karena cintanya kepada Allah. Dan cinta itu butuh pengorbanan.
Bagaimana anak seusia itu sudah memiliki samudera cinta kepada Allah? Tak pelak lagi semua itu karena ibunya, Hajar yang menyemaikan benih cinta itu. Membiakkannya. Ya, Hajar-lah orangnya. Dan Hajar-lah Sang Cinta itu sendiri.

Karena harus menjadi simbol cinta, maka Hajar tidak divisualisasikan dalam “drama” ibadah kurban.

Ceruk padang gurun

Hajar adalah simbol pemilik cinta yang kaffah (total) kepada Allah. Hanya karena cintanya kepada Allah sehingga dia rela ketika suaminya, Ibrahim meninggalkannya di ceruk padang gurun yang panas dan gersang. Dikelilingi bukit-bukit batu karang yang keras dan garang. Sendirian bersama bayinya, Ismail yang masih digendong.

Padahal bisa saja dia menolak. Ibrahim sebagai suami yang arif bijaksana tidak mungkin memaksanya. Menganiaya dia. Berbuat semena-mena. Ibrahim adalah termasuk golongan orang-orang yang saleh.

Karena cintanya Hajar kepada Allah, Ibrahim tidak ragu-ragu meninggal istrinya itu. Hajar akan berada di dekat kekasih sejati dan abadi yaitu Allah. Yang selalu menjaganya. Mengasihinya. Dan Dia sangat dekat.

“Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya”. (Quran: Qaf 16).

Ketika Ismail kehausan, sementara air tidak ada. Hajar meletakkan Ismail di samping Baitullah. Dipasrahkan kepada Allah agar mendapatkan cinta-Nya, sekaligus menyemaikan cinta kepada Allah. Dia tidak menggendong Ismail mencari air menjelajahi kawasan antara Bukit Shafa dan Marwah.

Dan Allah pun memeliharanya. Merengkuhnya dengan penuh kasih. Praktis Hajar membesarkan Ismail sepenuhnya dalam bingkai cintanya kepada Allah. Dan pasti Allah besar balasan cinta-Nya.

Ibrahim mencintai Allah.
Maka rela menyerahkan Hajar dan anaknya kepada Allah.
Bukan kejam dan tak berperikemanusiaan.
Hajar mencintai Allah.
Maka rela ditinggal bersama anaknya oleh Ibrahim.
Bukan terpaksa dan tak berdaya.
Hajar mencintai Allah
Maka rela memasrahkan bayi Ismail kepada Allah
Allah mencintai mereka
Maka menjadikan mereka termasuk golongan shalihin

Cinta Hajar kepada Allah diabadikan dalam bangunan berbentuk cekungan di samping Ka’bah. Disebut Hajar Ismail. Cekungan itu melambangkan relung samudera hati yang paling dalam tanpa tepi.

Bangunan itu tidak menyatu dengan Ka’bah karena kemanunggalan cinta itu bukan arti fisik. Allah mustahil menyatu secara fisik dengan manusia karena Allah bukan mahluk dan Allah berbeda dengan mahluk untuk semua hal (muhalalfatu lil hawadis). Wahdatul wujud itu manunggalnya cinta.

Di antara Hajar Ismail dengan Ka’bah itu ada ruangan . Di situlah gelombang ekektronagnetik yang menyatukan. Yang tidak kelihatan itu sebenarnya ada. Cahaya Allah menyinari hari orang-orang yang beriman. Cahaya itu mesti tidak kelihatan tapi wujud.

Bacalah Quran Surah Kahfi pada hari Jumat, maka Allah akan bentangkan cahaya dari ujung kakimu sampai ke Ka’bah kemudian naik ke langit. Cahaya itu hanya bagi mereka yang meyakini.

Siapa yang mencintai Allah secara kaffah? Hajar
Apa saksi kecintaannya? Rela berkorban segalanya, termasuk nyawa sendiri.
Siapa yang dibalas cintanya oleh Allah? Hajar
Hajar siapa? Hajarnya Ismail. Ibundanya Ismail.
(Bukan Hajar anak Firaun atau Hajar budak kulit hitam yang jadi bahan polemik kalangan ahli sejarah. Polemik itu tidak relevan. Tapi memang manusia suka berbantah-bantah, dan suka sensasi. Allah tidak menentukan derajat manusia dari keturunan, ras, status sosial, suku, kebangsaan dsb. Tapi berdasar takwanya).

“Sungguh yang paling mulia di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh Allah Maha Mengetahui lagi Maha Teliti.” (Quran: Al Hujurat 13).

Dan Allah sudah menentukan Hajar adalah manusia mulia. Dr Ali Shariati mengatakan, hanya Hajar yang jazadnya boleh dimakamkan di samping Ka’bah.

Demi cintanya kepada Allah, maka Ibrahim – Hajar – Ismail sepakat menyerahkan nyawa Ismalil sebagai syahid (saksi) kepada Allah.
Kapan? 10 Dzulhijah
Di mana? Mina

“Rabbi habli minas-shalihin (Ya Tuhan anugrahkan kepadaku (anak) yang termasuk orang yang saleh). (Quran: As-shaffat 100).

Rabbi a’lam (Tuhan lebih dan paling mengetahui)

Catatan penting: Jangan langsung like and share tulisan ini. Telitilah. Ini jaman disinformasi. Tidak jelas mana hoax mana info benar. Mana asli mana palsu. Monggo ngaji Quran surah Al Hujurat ayat 6. Peringatan Allah sangat jelas.

Anwar Hudijono, penulis tinggal di Sidoarjo. Dari berbagai sumber.

Sidoarjo, 26 Juli 2021

Haji Yang Tertunda Bersama Nabi (5 Tamat)

Anwar Hudijono

Oleh: Anwar Hudijono

Bersama 2.000 muslimin yang langsung dipimpin Nabi Muhammad SAW, kita menunaikan umrah qadla (umrah pengganti). Sebagai pengganti umrah/haji yang gagal tahun lalu. Berarti ini terjadi pada tahun 7 Hijrah.

Kita memasuki Mekah dengan leluasa. Quraisy hanya mengawasi kita dari Jabal Abu Qubais, gunung di samping Baitullah.

Labbaika .. labbaika.. .

Begitu suara kaum muslimin menggema seolah menggetarkan Baitullah. Bukit-bukit batu karang di sekelilingnya seolah mau runtuh. Bahkan langit pun seolah terguncang.

Kita mengikuti semua apa yang dilakukan Nabi. Manusia kekasih Allah ini menyelubungkan dan menyandangkan kain jubahnya di badan dengan membiarkan lengan kanan terbuka.

Kita mengikuti Nabi mengucap, “Allahumma irham imra’an arahum al-yauma min nafsihi quwwatan.” (Ya Allah berikanlah rahmat kepada orang yang hari ini telah memperlihatkan kemampuan dirinya).

Kita tetap mengikuti apapun tindakan Rasulullah. Menyentuh Hajar Aswad terus berlari-lari kecil keliling Ka’bah. Sesampai di rukun yamani (sudut selatan Ka’bah) Rasulullah menyentuhnya. Setelah tiga kali dengan lari-lari kecil selanjutnya dilakukan dengan jalan kaki biasa.

Semua dilakukan dengan khusyuk. Fokus. Penuh semangat. Air mata yang membanjir adalah air mata bahagia. Air mata syukur atas nikmat yang tiada tara.

Rumah syirik

Setelah selesai, kita baru menyadari bahwa Baitullah telah ternodai oleh kekafiran. Rumah Allah ini dijubeli berhala-berhala berupa patung-patung beraneka bentuk. Ada Latta, Uzza, Manat, Hubal, Na’ila, Isaf, dan sebagainya.

Kita semua menangis. Semua marah. Larut dalam ombak lautan emosi yang bergulung-gulung. Mengapa rumah tauhid jadi rumah syirik. Mengapa berhala-berhala Namrudz yang dulu dihancurkan Ibrahim kini malah memenuhi Masjidilharam. Pengikut Namrudz kini menjadikan Baitullah seperti kuil Babilon. Mereka bukan mengangungkan asmaul husna (nama-nama baik Allah) tetapi mereka mendendangkan nyanyian setan. Melolongkan mantra-mantra sihir.

Al Quran menjelaskan: “Apakah (orang-orang) yang memberi minuman kepada orang-orang yang mengerjakan haji dan mengurus Masjidilharam kamu samakan dengan orang yang beriman kepada Allah dan Hari Kemudian serta berjihad di jalan Allah? Mereka tidak sama di sisi Allah. Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang dzalim”. (Quran: At Taubah 19).

Allah juga menegaskan di Quran: Al Anfal 34-35.
“Dan mengapa Allah tidak menghukum mereka padahal mereka menghalang-halangi (orang) untuk (mendatangi) Masjidilharam dan mereka bukankah orang-orang yang berhak menguasainya? Orang yang berhak menguasai (nya) hanyalah orang-orang yang bertakwa, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.

“Dan shalat mereka di sekitar Baitullah itu, tidak lain hanyalah siulan dan tepuk tangan. Maka rasakan azab disebabkan kekafiranmu itu.”

Saking emosinya, Abdullah bin Ruwahah, seorang sahabat sejati Nabi, sampai mengucapkan kata yang emosional. Bisa memancing perang dengan Quraisy. Tapi secepatnya Umar meredam.

Kita melihat Rasul dengan sangat bijaksana dan penuh kasih mendekatinya Ibnu Ruwahah.

“Sabarlah, Ibnu Ruwahah. Atau ucapkan sajalah kalimat: La ilaha illa Allah wahdad, wanashara abdah, wa’a’azza jundah, wakhazhalal’-ah-zaba wahdah.” (Tiada tuhan selain Allah Yang Esa, yang telah menolong hamba-Nya, memperkuat tentara-Nya dan menghancurkan sendiri musuh yang bersekutu).

Kita semua bertekad akan mensucikan kembali Baitullah. Membersihkannya dari syirik. Hanya menjadikan sebagai tempat menyembah Allah. Yang mengelola Baitullah pun orang yang bertaqwa.

Fathul Mekah

Doa kita dikabulkan. Janji Allah adalah haq (benar). Allah tidak pernah menyalahi janji. Setahun kemudian kita datang dengan 10.000 orang yang siap perang. Jumlah pasukan yang tidak pernah dimiliki orang Arab sebelumnya. Mekah kita bebaskan. Baitullah kita sucikan. Dalam sejarah Islam disebut Fathul Mekah (Terbukanya Mekah).

Fathul Mekah sudah usai. Hati kita bergetar ketika mengingat dan merenungi ayat-ayat Quran surah At Taubah 19, An Anfal 34-35 di atas. Mungkin dulu Ibrahim, Ismail dan beberapa generasi setelahnya tidak pernah memperkirakan Baitullah akan jadi tempat menyembah berhala-berhala. Jatuh ke tangan pengelola kafir. Menjadi tempat tujuan bisnis semata sedang haji dan umrah hanya untuk sambilan.

Tapi entah sejak kapan Baituillah tertutup oleh kekafiran laksana matahari yang tertutup oleh malam yang gelap pekat. Entah siapa yang memulai pujian-pujian kalimah thayyibah berganti dengan nyanyian setan dan dengungan mantra-mantra sihir.

Setelah Fathul Mekah apakah mungkin kasus Baitullah tercemar terulang? Ka’bah tertutup kepalsuan? Tauhid dicampuri syirik, khurafat dan tahayul? Kembali dijubeli dengan berhala-berhala neo Latta, Uzza, Manat, Hubal, Isaf, Na’ila?

Miris. Kita bayangkan kelak jumlah umat Islam di dunia meningkat pesat. Kemampuan umrah dan haji semakin tinggi. Maka umrah dan haji akan menjadi pusat perputaran uang dalam jumlah yang sangat besar. Hal ini bisa mengundang Qorun-Qorun untuk menjadikan bisnis yang potensial, obyek untuk membesarkan gunung rotinya.
Umrah dan haji digeser menjadi wisata. Aktivitas menyalurkan hedonisme. Alat pencitraan. Mengejar gelar kehormatan dunia. Mereka membawa “tuhan uang” ke dalam Baitullah. Mereka mengilahikan hawa nafsu menggantikan lillahi ta’ala (untuk Allah semata).

Tiga cabang

Pasti Qorun tidak akan sendiri. Pasti akan disertai Firaun dan Haman. Mereka pada dasarnya satu tubuh tiga cabang. Mereka persekutuan abadi. Satu yang tiga, tiga yang satu.Bisa disimbolkan segitiga sama sisi. Meski dibolak-balik sehingga menyerupai bintang segi enam tetapi tetap substansinya.

“Pergilah kamu mendapatkan naungan yang mempunyai tiga cabang.” (Quran: Al Mursalat 30).

Siapa yang punya tiga cabang itu? Itulah setan besar. Big-bos penghuni neraka. Yang kita lempari di Mina sertiap musim haji dalam wujud simbolik Jumrah Ula, Jumrah Tsani dan Jumrah Aqaba.

Bisa saja setan besar ini akan menjilma dalam alam virtual. Alam maya. Sebagai sistem ideologi. Firaun akan muncul sebagai despotisme. Qorun sebagai kapitalisme. Dan Haman sebagai liberalisme.

Despostisme menjadikan umrah dan haji alat kekuasaan yang menindas. Memecah belah umat dengan membentuk klaster-klaster haji. Ada haji vvip, vip, ekonomi, haji jalan kaki, umrah/haji plus, plus-plus. Menjadi alat politik kekuasaan yang dhalim.

Liberalisme Haman yang sangat cerdas akan menciptakan piranti sihir yang dipadukan dengan sains. Jika jaman Musa hanya menggunakan seutas buhul (tali), yang itu pun sudah menggetarkan Musa. Di Jaman Rasulullah ada istri Abu Lahab yang menggunakan seutas buhul di kalung yang mampu membakar kedengkian Quraisy terhadap Nabi.

Bisa saja Neo Haman menciptakan jutaan buhul berbahan besi dan tembaga. Sejak jaman Daud mereka berusaha menguasai besi tapi dikalahkan Daud. Nabi Sulaiman menguasai tembaga yang mengalir sehingga setan tak mampu merebutnya. (Quran: As-Saba’ 12).

Buhul Haman ini menghubungkan kekuatan sihir yang bergerak sangat cepat turun dari langit ke bumi dan dari bumi naik ke langit. Mungkin kelak disebut internet yang bergerak antara server di perut bumi atau bawah laut dan yang di atas disebut satelit. Mungkin lo. Selebihnya Rabbi a’lam. Tapi yang jelas namanya bukan kentongan, simbukan atau bagong.

Bisa saja akan muncul dengan alat yang menjadikan setiap jamaah umrah dan haji tanpa sadar membawa konten maksiat dan mungkarat, materi najis, pesan kekafiran ke dalam Baitullah. Piranti yang bisa menyanyikan lagu setan di dalam Baitullah sehingga merusak ibadah orang lain. Dari piranti itu di Baitullah bisa menyebar hoax, fitnah, memecah belah ukhuwah.

(Mungkin di awal abad ke-21 disebut gadget, android, telepon pintar dsb. Adapun sistem pengaturnya disebut artificial intelligent). Mungkin lo. Sekali lagi mungkin. Yang pasti namanya bukan bakiak atau cilok.

“Wa min syarrin naffastati fil uqod (Dan dari kejahatan penyihir yang meniup pada buhul-buhul (talinya).” (Quran: Al Falaq 4).

Haman akan bekerja sama dengan setan-setan ahli bangunan yang dulu ditaklukkan Sulaiman. Mereka akan membangun kuil-kuil Namrud dan Firaun yang megah menjulang tinggi untuk menutup Masjidilharam. Akan menciptakan matahari dunia yang kemilau cahaya bisa dilihat dari jarak 25 kilometer untuk menyuramkan cahaya Allah.

Tobat akbar

Oh.. betapa sedihnya. Padahal haji adalah persaksian bahwa manusia itu sama. Hanya takwa yang membedakan di hadapan Allah. Haji adalah bentuk syiar Islam internasional. Diikuti umat Islam di seluruh dunia. Bukan ibadah lokal atau regional.

Haji adalah wujud persaudaran umat Islam tanpa sekat-sekat jabatan, ras, kebangsaan, kekayaan. Umrah dan haji adalah refleksi kesahajaan, ketawakalan Ibrahim, Hajar, Ismail. Umrah dan haji adalah simbol penciptaan manusia. Dari Allah dan pasti akan dikembalikan kepada Allah. Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun.

Kita segera tersadar dari lamunan. Kontan ingat Surah An Nasr yang mengabadikan Fathul Mekah.
“Fasabbih bi hamdi rabbika wastaghfirhu innahu kana tawwaba.”(Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan memohonlah ampunan kepada-Nya. Sungguh, Dia Maha Penerima Tobat).

Sudah saatnya kaum muslimin melakukan tobat akbar secara global sejalan dengan eksistensi haji sebagai ibadah akbar dan global.Tobat, istighfar itulah kunci memperoleh pertolongan dan rahmat Allah.

“Rabbi adhilni mudkhala sidqi wa akhrijni mukhraja sidqi waj-alli min ladunka sulthanan-nashira. Wa qul jaal haqqu wa hazaqal bathil innal bathila kana zahuqan (Ya Tuhanku, masukkan aku ke tempat masuk yang benar dan keluarkan (pula) aku ke tempat yang benar dan berikankah kepadaku dari sisi-Mu kekuasaan yang dapat menolong (ku). Dan katakanlah, kebenaran telah datang dan yang batil telah lenyap. Sungguh yang batil itu pasti lenyap. (Quran: Al Isra 80-81).

Rabbi a’lam (Tuhan lebih dan paling tahu).

Astaghfirullah. Barokallahu li walakum.(*)

Referensi:
• Muhammad Husain Heikal, Sejarah Hidup Muhammad, Tintamas Indonesia 1978.
• Dr Ali Shariati, Haji, Penerbit Pustaka Bandung 1995.

• Sumber-sumber lain.

Anwar Hudijono
Sidoarjo, 15 Juli 2021

Haji Yang Tertunda Bersama Nabi (4)

Anwar Hudijono. (istimewa)

Oleh: Anwar Hudijono

Gagal melaksanakan haji adalah ujian terbesar. Kita merasa amat sangat berat sekali. Langkah kita dari Hudaibiya kembali ke Medinah tersendat-sendat seolah menyeret gunung. Nafas tersengal-sengal menanggung beban psikis yang sangat berat. Selaksa perasaan tak menentu beraduk-aduk dan mencengkeram.

Belum begitu jauh meninggalkan Hudaibiya, Allah menurunkan wahyu kepada Rasulullah.

“Sungguh, Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata. Agar Allah memberikan ampunan kepadamu (Muhammad) atas dosa yang lalu dan yang akan datang, serta menyempurnakan nikmat-Nya atasmu dan menunjukimu ke jalan yang lurus. Dan agar Allah menolongmu dengan pertolongan yang kuat (banyak).” (Quran: Al Fath 1-3).

Kita menjadi sangat bahagia. Hati berbunga-bunga. Sekarang kita yakin bahwa Perjanjian Hudaibiya adalah langkah benar Rasulullah. Strategi yang tidak tertandingi. Ini adalah tahap yang sangat penting dalam sejarah Islam.

Di antara kemenangan itu adalah Islam sudah diperhitungkan sebagai agama. Nabi berdiri sama tinggi dengan pemimpin Quraisy, tidak lagi dipandang sebagai pemberontak Quraisy. Islam leluasa berdakwah tanpa perlu khawatir diganggu Quraisy.

Kini sudah tidak ada lagi ancaman dari kawasan selatan Medinah. Selama ini Quraisy adalah ancaman terbesar di kawasan itu. Kini kaum muslimin bisa konsentrasi menghadapi musuh di sisi utara yaitu kaum Yahudi.

Permusuhan paling keras

Ya, Yahudi. Inilah musuh Islam terbesar sampai mereka kelak pasti dibinasakan oleh Allah di akhir jaman. Pasti.

“Pasti akan kamu dapati orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang beriman, ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik.” (Quran: Al Maidah 82).

Mereka dikalahkan Islam di Perang Ahzab (Sekutu) atau Perang Khandak tahun 4 Hijrah. Ditambah diusirnya dari Medinah beberapa kelompok Yahudi yaitu Banu Quraidza, Banu Nadzidr dan Banu Qainuga. Mereka diusir karena berkhianat hendak menusuk Islam dari dalam Medinah (peristiwa ini diabadikan di Quran surah Al Hasr). Yahudi kini menghimpun totalitas kekuatan di benteng Khaibar. Benteng termodern dan kuat.

Hanya sekitar dua pekan sepulang dari Hudaibiya, Nabi mengomando menyerbu Khaibar. Hanya mereka yang ikut ke Hudaibiya saja yang maju ke perang ditambah pasukan kavaleri. Tidak akan mendapat ghanimah atau pembagian pampasan perang. Ini benar-benar ujian, suka rela, sekaligus untuk menyalurkan semangat jihad yang masih berkobar di Hudaibiya.

Nabi memprioritaskan Yahudi karena mereka ini lebih kuat dari Quraisy karena mereka memiliki landasan agama. Mereka lebih cerdas. Mereka sangat mungkin akan membentuk konspirasi atau persekutuan jahat dengan penguasa Kristen Romawi, Kisra dari Persia dan kelompok-kelompok anti Islam yang lain.

Sebelumnya Yahudi bersekutu dengan Quraisy di perang Ahzab. Yahudi memang memiliki tabiat konspirasi dalam memusuhi Islam. (Monggo pelajari/ngaji Quran surah Al Maidah 51-83).

Memang tidak semua kaum Yahudi jahat, fasik, dhalim, kafir. Tetapi jumlah yang orang yang baik sangat sedikit sekali. “Dan mereka berkata bahwa hati kami telah tertutup. Tidak! Allah telah melaknat mereka itu karena keingkaran mereka. Tetapi sedikit sekali mereka yang beriman.” (Quran: Al Baqarah 88).

Sindiran Nabi Ya’kub

Sebenarnya bukan hanya Nabi Muhammad dan Islam yang dimusuhi. Semua Nabi dimusuhi, bahkan ada yang dibunuh. Mereka membohongi ayahnya yaitu Nabi Ya’kub. Mereka menganggap Nabi Ya’kub lemah akal. Menyumpahi ayahnya yang meski sudah tahu seorang Nabi.

“Mereka berkata, “Demi Allah, engkau tidak henti-hentinya mengingat Yusuf, sehingga engkau (mengidap penyakit) berat atau engkau termasuk orang-orang yang akan binasa.”

Bayangkan betapa keji dan durhakanya mereka bicara begitu ke ayahnya.

Mereka berusaha membunuh Yusuf. Itu pun masih ditambah menuduh Yusuf itu pencuri. Mereka diselamatkan Nabi Musa dari penindasan Firaun, tapi sebentar saja Musa dikhianati dengan menyembah patung anak sapi. Mereka inilah yang dikutuk Nabi Daud dan Nabi Isa sehingga mengalami pengusiran dan penghancuran dua kali dari negeri mereka.

Mereka menyembah iblis (setan). Mereka itu raja sihir tingkat global. Tapi biasa mereka ini pandai bersilat lidah. Memutar balik kata. Mereka yang tukang sihir tapi mesti menuduh Nabi tukang sihir. Mereka sudah biasa membunuh lantas bersumpah tidak melakukan.

Ya’kub menyindir mereka sebagai serigala. (Quran” Yusuf 13). Artinya bertabiat seperti serigala. Kejam dan menindas. Teror dan horor. Mereka adalah penguasa kegelapan. Mereka beroperasi secara rahasia. Tabiat serigala tidak akan bisa berubah sekalipun bisa saja mengalami evolusi. Sampai ada pepatah, biarpun serigala ganti mantel 100 kali sehari tapi tabiatnya tak berubah.

Allah menegaskan tabiat mereka yang tidak berubah itu dengan stigmasisasi anjing.
“…tetapi dia cenderung kepada dunia dan mengikuti keinginannya (yang rendah}, maka perumpamannya seperti anjing, jika kamu menghalaunya dijulurkan lidahnya, dan jika kamu membiarkannya ia menjulurkan lidahnya (juga). (Quran: Al Araf 176).

Mereka mencoba membunuh saudara seayah yaitu Nabi Yusuf. (Awal sejarah kesesatan Yahudi bisa disimak di Quran Surah Yusuf. Surah sebanyak 111 ayat khusus menjelaskan soal itu).

Mereka berkonspirasi dengan penjajah Romawi hendak membunuh Isa bin Maryam. “Katakanlah (Muhammad), “Mengapa kamu dulu membunuh nabi-nabi Allah jika kamu orang-orang beriman?” (Quran: Al Baqarah 91).

Allah menegaskan, “Sangatlah buruk (perbuatan) mereka menjual dirinya dengan mengingkari apa yang diturunkan Allah karena dengki. Bahwa Alllah menurunkan karunia-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya. Karena itu mereka menanggung kemurkaan demi kemurkaan. Dan kepada orang-orang kafir (ditimpakan) azab yang menghinakan.” (Quran: Al Baqarah 90).

(Gambaran umum tentang sejarah, tabiat, dosa, perbuatan Yahudi sudah dijelaskan lengkap di Quran surah Al Baqarah 40 – 104. Monggo dikaji secara seksama. Insya Allah barokah).

Meracun Nabi

Alhamdulillah kaum mulimin menang dalam peperangan itu. Khaibar hancur. Kaum Yahudi diusir kecuali sejumlah orang yang mendapat ampunan dari Nabi.

Tapi dasar Yahudi, sudah diampuni pun masih berkhianat. Zainab binti Harist meracun Nabi dengan racun yang sangat keras lewat makanan yang disuguhkan. Nabi sempat memasukkan ke mulut kemudian memuntahkannya. Tapi dampaknya luar biasa. Sampai menjelang wafat, sakit akibat racun itu masih dirasakan Nabi.

Khaibar sudah dihancurkan. Mereka diusir secara besar-besaran seperti ketika mereka diusir Raja Nebukadnezar, dan Gubernur Titus dari Baitulmakdis. Yahudi yang di Kerajaan Samaria dibantai dan diusir sampai habis oleh Raja Assyur. Mereka juga ada yang dihukum dengan cara diisolasi oleh Zulkarnaen.

Sekalipun mereka sudah dikalahkan sampai remuk redam tapi mereka tidak akan pernah berhenti memerangi Islam. Tak akan surut tipu dayanya untuk menutup cahaya Islam.

“Mereka hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, tetapi Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir membencinya”. (Quran: As-Shaf 8).

Rabbi a’lam

“Rabbihkum bil haq, wa rabbunar-rohmanul musta’anu ala ma tashifun”.( Ya Tuhanku, berilah keputusan dengan adil. Dan Tuhan kami Maha Pengasih, tempat memohon segala pertolongan atas semua yang kamu katakan.”). Doa Nabi Muhammad yang diabadikan sebagai penutup Quran Surah Al Anbiya.

Referensi:
Muhammad Husain Heikal, Sejarah Hidup Muhammad, Tintamas Indonesia 1978.
Dr Ali Shariati, Haji, Penerbit Pustaka Bandung 1995.
ID Times
Dan sumber-sumber lain.

Haji Yang Tertunda Bersama Nabi (3)

Anwar Hudijono

Oleh: Anwar Hudijono

Sekembalinya Utsman bin Affan ke Hudaibiya, dilakukanlah perundingan antara Nabi dengan Quraisy. Dalam proses perundingan itu menunjukkan bahwa Nabi seorang diplomat, negosiator ulung. Beliau sabar, ulet, sangat cermat, visioner. Tidak hanya mengkalkulasi jangka pendek tetapi juga jangka panjang. Ibarat main catur, Nabi tidak hanya menyiapkan opsi delapan langkah ke depan seperti juara dunia, tapi menyiapkan opsi 700 langkah ke depan atau lebih.

Tim perunding Quraisy dipimpin Suhail bin Amr, seorang negosiator pilih tanding, bukan kaleng-kaleng. Quraisy menggunakan strategi pressing dengan target meraih keuntungan mutlak. Quraisy tetap menyiapkan opsi perang jika tidak menang mutlak pada perundingan.

Nabi menggunakan strategi longgar tapi semua terkalkulasi dengan detail. Kira-kira kalau dalam perang klasik itu disebut strategi perang Cakrabyuha. Dibiarkan lawan melakukan pfressing masuk ke lingkarannya. Begitu sudah di dalam diputar dan digilas. Tentu saja strategi demikian harus dilandasi kesabaran dan kecerdasan.

Sebagian kaum muslimin mulai ada yang tidak sabar. Maunya pilih opsi tunggal, tetap lanjut ziarah sekalipun dengan konsekuensi perang jika Quraisy tetap bersikeras menolak mereka ziarah ke Baitullah.

Abu Bakar As Shidiq merupakan prototipe yang mendukung perundingan untuk mencapai perdamaian. Menyerahkan sepenuhnya kepada Nabi. Sedang Umar bin Khattab merupakan prototipe pihak yang ingin jalan terus dengan konsekuensi hidup mulia atau mati syahid. Di kubu prototipe Umar ini juga ada yang lebih keras lagi yaitu yang sugih kendel bondho wani (kaya keberanian modal berani) tapi kurang perhitungan.

Umar menemui Abu Bakar membahas soal perundingan.
“Wahai Abu Bakar, bukankah kita ini muslimin,” kata Umar.
“Ya benar,” jawab Abu Bakar.
“Mengapa kita mau direndahkan dalam soal agama kita,” kata Umar.
“Umar, duduklah di tempatmu. Bukankah dia Rasululullah,” jawab Abu Bakar.

Umar tidak puas atas jabawan Abu Bakar. Maka dia pun menemui Nabi mengutarakan hal yang sama.

“Saya hamba Allah dan Rasul-Nya. Saya tidak akan melanggar perintah-Nya, dan Dia tidak akan menyesatkan saya,” jawab Nabi.

Nabi benar-benar menjunjukkan kesabaran tingkat langit, baik menghadapi Quraisy maupun umat muslimin. Sampai pada penulisan nakah perjanjian pun Nabi tetap sabar.

Suhail menolak kata bismillahir-rahmanir-rahim, dan kata Muhammad Rasulullah di dalam draft naskah perjanjian. Nabi dengan kalkulasinya sendiri bersedia mengganti dengan kata bismikallahumma (atas nama-Mu ya Allah). Muhammad Rasulullah diganti Muhammad bin Abdullah.

Perundingan itu berakhir dengan disahkannya dokumen Perjanjian Hudaibiya. Nabi dan Quraisy sepakat damai.

Terpecah-pecah

Sikap kaum muslimin terpecah-pecah. Banyak yang manut apa keputusan Nabi. Tapi juga ada yang merasa tidak puas dengan argumen masing-masing. Ya begitulah manusia. Pepatah Minang mengatakan lain lubuk lain pula ikannya. Artinya lain orang lain pula pikirannya. Petitih Jawa menyebut (maaf ini untuk 17 tahun plus): seje silit seje anggit.

Jadi di jaman Nabi pun sudah banyak orang yang keminter. Betapa tidak seolah merasa lebih pintar dari Nabi. Maka tidak perlu heran jika sekarang tambah nemen. Sampai disebut jaman sawo dipangan uler alias wong bodo rumangso pinter. Bahkan ditambah uler mangan sawo: wong pinter pilih dadi bodo.

Contohnya menyandang gelar akademis tertinggi malah pilih dadi buzzer. Wis ta angel .. angel ..

Contoh lagi, orang akademis tapi model berdebatnya model debat kusir. Adu kencang-kencangan urat leher. Banter-banteran ngomong. Kencang-kencangan nyemburkan ludah. Tajam-tajaman mendelik. Konyolnya lagi mau ditanggap untuk eyel-eyelan. Bukan mencari kebenaran ilmiah tapi mencari tepuk sorak.

Di jaman sawo dipangan uler dan uler mangan sawo, umat Islam sudah diingatkan di Al Quran surah Al Hujurat ayat 1-2 . Yang intinya jangan mendului Allah dan Rasul-Nya. Jangan bersuara lebih keras – merasa lebih pintar – dari Nabi.

(Monggo dipelajari secara seksama. Bahkan keseluruan surah itu mengandung pengajaran tentang komunikasi publik di akhir jaman seperti ayat 6 dan 7, 10-12. Daripada sibuk ngemedsos melulu, coba sisihkan waktu untuk mempelajari Quran. Sikik-sikik gak apa-apa. Insya Allah barokah).

Pertanda Umrah

Kita masih Hudaibiya. Ada kegelisahan yang menyeruak di kalangan kaum muslimin. Kita juga sedikit gelisah.

Kita melihat Nabi shalat dua rakaat. Beliau mulai menyembelih hewan kurbannya. Nabi mencukur rambutnya sebagai pertanda umrah sudah dimulai. Kaum muslimin mengikuti. Tapi banyak yang hanya menggunting rambutnya (sedikit).

Lantas Nabi berdoa, “Semoga Allah melimpahkan rahmat kepada mereka yang mencukur rambut.”

Yang hanya menggunting sedikit rambutnya gelisah. Mengapa yang disebut hanya yang mencukur rambut.

“Ya Rasulullah mengapa yang disebut dalam doa hanya yang mencukur rambut.”

“Semoga Allah melimpahkan rahmat kepada mereka yang mencukur rambut,” kata Nabi lagi.

Yang menggunting rambut semakin gelisah. Akhirnya Rasulullah juga menyebut “Juga yang menggunting rambut.”

“Mengapa yang doa yang diucapkan hanya untuk yang mencukur rambut?” tanya kaum muslimin.

“Karena mereka sudah tidak ragu-ragu,” jawab Nabi.

Kita bersama seluruh kafilah Nabi akhirnya meninggalkan Hudaibiya. Sebagian kaum muslimin masih diliput tanda tanya tentang Perjanjian Hudaibiya. Apa untungnya bagi kaum muslimin? Mengapa kita menyerahkan harga diri dinistakan kaum Quraisy? (Bersambung)

Referensi:
Muhammad Husain Heikal, Sejarah Hidup Muhammad, Tintamas Indonesia 1978.
Dr Ali Shariati, Haji, Penerbit Pustaka Bandung 1995.