Mudik dalam Spiritualisme Masyarakat Jawa (bagian ke-2 dari 3 tulisan)

Anwar Hudijono. (istimewa)

Oleh Anwar Hudijono

Spiritualisme mudik itu berada pada pertemuan dua arus yang sangat kuat seperti bertemunya arus dua lautan (majma’al bahrain). Arus penarik berasal dari subyek yang berada di tempat asal atau yang dimudiki, dengan arus pendorong berasal dari subyek perantau atau yang mau mudik.

Pertemuan dua arus itu berada pada simpul hakikat silaturahmi. Istilah yang diciptakan leluhur masyarakat Jawa adalah nglumpukne balung pisah (mengumpulkan tulang-tulang yang terpisah). Tentu saja ini simbolis.

Semua berasal dari satu konstruksi tulang-tulang yang disebut keluarga, kerabat, batih. Kemudian bagian konstruksi itu terpisah-pisah secara fisikal untuk mengaktualisasi ketermasing-masingannya.

Konstruksi ini harus dipelihara. Keterpisahan fisikal atau jasmaniah jangan sampai menjadikan keterpisahan batiniah. Jangan dibiarkan terserak sendirian. Konstruksi keluarga ini merupakan bagian terkecil dari konstruksi universal yang disebut ukhuwah basyariyah (ikatan sesama manusia). Karena hakikatnya manusia itu satu konstruksi dengan segala keanekaragamannya.

“Wahai manusia. Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan. Kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan beretnis-etnis agar kamu mengenal.” (Quran: 49:13).

Leluhur Jawa menjadikan Idul Fitri sebagai momentum emas untuk melakukan rekonstruksi keluarga. Pilihan ini tidak asal-asalan seperti belok ke warung saat lapar. Tapi, pilihan ini memiliki landasan kearifan yang kuat. Yaitu selaras dan berintegrasi dengan nilai-nilai dasar Idul Fitri.

Nilai dasar Idul Fitri itu adalah setiap individu bisa kembali ke fitrah (kembali kepada kesucian – kullu maulidin yuladu alal fitrah/ Setiap kelahiran itu dalam keadaan suci tanpa membawa dosa). Setelah dosa-dosanya dilebur selama Ramadhan. Setelah mereguk segala rahmat Allah selama Ramadhan. Setelah dengan puasanya mampu membuat setan terbelenggu (tak mampu mempedayai). Setelah puasanya memiliki kekuatan membuka pintu-pintu surga dan menutup pintu neraka.

Pintu surga itu banyak. Menunjukkan bahwa masuk ke surga itu memang berat. Butuh perjuangan yang berliku-liku. Banyak godaan. Banyak jebakan penyesatan. Maka ke surga disebut naik. Sedang pintu neraka cukup satu. Lebar lagi. Ke neraka itu mudah. Tak butuh perjuangan dan kerja keras. Maka proses masuk ke neraka disebut kecemplung. Artinya begitu mudahnya. (Membaca gini jadi mrinding).

Fitrah sosial

Fitrah manusia itu juga mahluk sosial. Bangunan sosial terkecil itu adalah batih, keluarga inti. Yaitu ayah, ibu dan anak. Kemudian diperluas lagi dengan lingkaran keluarga kakek, nenek, paman, tante, sepupu, saudara. Diperluas lagi tunggal buyut, tunggal canggah dan seterusnya.

Jika bangunan sosial itu dengan ikatan agama Islam disebut jamaah, ikhwah. Innamal mukminuna ihwatun, sesungguhnya kaum mukmin itu bersaudara (Quran: 48:10).

Iblis, setan, Dajjal tidak merasa hepi jika manusia berada dalam bingkai keluarga, kerabat, jamaah, ihwah. Maka mereka membuat strategi individualisme untuk menghacurkannya. Agar manusia menjadi individu-individu yang terserak bagaikan titik-titik embun di dedaunan yang akan segera kering manakala matahari menyala. Sedang keluarga, jamaah itu seperti sungai besar yang isinya kumpulan titik-titik embun.

Orang yang sudah terperangkap pada invidualisme akan merasakan betapa sesatnya ideologi itu manakala di ujung ajal. Mari kita coba renungkan pengakuan Steve Jobs, orang pernah menjadi orang terkaya dunia. Menjadi sosok idola publik global. Inspirator kehidupan.

Hidupnya dihabiskan untuk menumpuk uang. Menggunungkan materi. Mengejar populritas dan pujian. Ternyata individualisme, materialisme telah membuat dirinya sebagai orang yang sangat menderita. Penderitaanya justru berpusat pada keluarga yang berantakan.

“Kabahagiaan batiniah sejati tidak datang dari hal-hal materi dunia ini. Pada saat saya berbaring di atas ranjang rumah sakit dan mengingat seluruh hidup saya, saya menyadari bahwa semua kekayaan dan pengakuan telah memudar dan tidak berarti dalam menghadapi kematian yang segera akan datang. Tidak ada yang lebih berharga lebih dari keluarga,” katanya.

Pengakuan ini menjadi contoh peringatan Al Quran di Surah An Nur (24) ayat 39: “Dan orang-orang kafir, perbuatan mereka seperti fatamorgana di tanah datar. Yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi apabila didatangi ternyata tidak ada apa-apa.”

Harta yang paling berharga

Adalah keluarga

Istana yang paling indah

Adalah keluarga

Puisi yang paling bermakna

Adalah keluarga

Mutiara tiada tara

Adalah keluarga

(Sound Track Film Keluarga Cemara).

Betapa tinggi nilai keluarga. Di dalam keluarga itu tersimpan potensi ganjaran yang sangat besar. Maka tanggung jawab terhadap mereka juga besar. Sampai-sampai Allah secara khusus memerintahkan: “Wahai orang-orang beriman. Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka, yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.” (Quran: 66: 6).

Dan inti konstruksi keluarga sakinah mawaddah wa rahmah adalah tenteram, damai, bahagia di dunia dan tetap bersama di dalam surga. Jika anak kumpul orang tuanya. Lantas orang itu sebagai anak juga kumpul dengan orang tuanya dan seterusnya maka keluarga itu menjadi keluarga besar ahlul jannah, penghuni surga.
Rabbi a’lam (Tuhan lebih tahu).

Anwar Hudijono
Kolumnis tinggal di Sidoarjo.

Mudik dalam Spiritualisme Masyarakat Jawa (1)

Anwar Hudijono

Oleh: Anwar Hudijono

Dipermaklumkan jika ada di antara warga masyarakat Jawa yang didera rasa sedih yang sangat mendalam tidak bisa mudik Idul Fitri karena adanya larangan pemerintah. Saking sedihnya sampai stres. Tidak doyan makan. Tidak bisa tidur. Akhirnya daya tahan tubuhnya turun.

Saat daya tahan tubuh merosot itulah justru rentan terhadap Covid-19. Karena Covid-19 itu aslinya dungu. Dia tidak melakukan seleksi orang mudik apa bukan. Tidak bisa membedakan orang stress apa orang gembira.

Bagi masyarakat Jawa mudik itu buka kepulangan biasa. Bukan layaknya perjalanan piknik. Bukan sejenis perjalanan dinas. Beda dengan tuoring.

Episode mudik itu memiliki landasan spiritualisme yang sangat kuat dan menggenerasi. Artinya tertanam dari generasi ke generasi. Sejak dulu ya begitulah adanya. Layaknya memakai sarung ya begitu adanya. Tidak ada sarungan dengan suwelan di belakang. Seperti cara minum kopi. Sejak nenek moyang ya disruput. Tidak ada minum kopi digelogok seperti minum air putih di kendi.

Maka, mohon dipermaklumkan jika ada yang sampai nekad mudik jauh sebelum larangan berlaku 6-17 Mei 2021. Ada yang nekad kucing-kucingan dengan petugas negara. Kucing-kucingan tapi melewati jalur tikus. Ada yang nekad bersembunyi di balik terpal truk sehingga mirip dengan gelondongan jerami.

Kalau saja ada yang menyewakan genderuwo yang bisa membawa mudik tanpa kepergok petugas, kemungkinan laris manis. Kecuali jika ada genderuwo petugas juga. Hal ini menjadi tidak mudah. Kecuali mengikuti aturan main tak tertulis bahwa sesama genderuwo harus salam temple alias cincai. Podo ngertine.

Beginilah penjelasannya. Mudik itu merupakan momentum mengingatkan dan membangkitkan kembali kesadaran hakikat penciptaan. Sangkan paraning dumadi (asal muasal mahluk). Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun, sesungguhnya milik Allah dan akan dikembalikan kepada-Nya.

Jadi orang-orang di perantauan ini ibarat orang yang hidup di dunia. Kalau dibalik, hidup di dunia ini sebenarnya hanya perantauan. Asalnya dari surga. Karena mengikuti jejak leluhur kita Nabi Adam lantas diturunkan ke bumi. Tapi di bumi ini hanya sementara. Pasti akan dikembalikan ke surga jika catatan hasil perjuangan di perantauan ini baik. Pulang membawa iman dan amal shaleh.

Kalau catatannya buruk ya dibakar neraka. Diberi minum nanah yang mendidih. Diberi makan buah zakum yang membakar isi perut.

Berjuanglah di perantauan. Siapkan bekal yang memadai untuk mudik. Kalau mudik Idul Fitri tentu saja bekalnya uang, pakaian, kue kaleng, dan sebagainya.

Sedang mudik kepada Allah bekal terbaik yaitu taqwa. “Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. Dan bertakwalah kepada-Ku, wahai orang-orang yang berakal.” (QS 2: 197).

Agar mudik Idul Fitri bisa mudah, lancar selamat sampai tujuan patuhilah peraturan, rambu-rambu sepanjang perjalanan. Agar mudik kepada Allah selamat dan penuh suka cita maka patuhilah peraturan dan rambu-rambu Allah.

Hanya sementara

Mengapa leluhur Jawa menggunakan momentum Idul Fitri ini untuk mengingatkan falsafah sangkan paraning dumadi? Karena ada kecenderungan, manusia itu lupa bahwa dunia itu hanya sementara, koyo wong mampir ngombe (seperti orang yang singgah minum).

Lupa bahwa semua akan dikembalikan ke asalnya. Saking cintanya dunia sampai lupa akhirat, meski sudah diberi tahu bahwa kehidupan akhirat itu lebih baik dan kekal, wa lal akhiratu khairu wa abqa. (QS 87:17).

Saking asyiknya dengan kesibukan urusan dunia sampai lengah bahwa kesenangan dunia ini hanya mainan dan lelucon. “Wa ma hadhihil hayatut dunya illa lahwun wa laibun. Dan kehidupan dunia ini hanya senda gurau dan permainan.” (QS 29:64).

Lupa bahwa jika ajal menjemput, itu bisa terjadi kapan saja, di mana saja, dengan cara apa saja. Saat tidur enak-enak mati karena tertimpa paku yang menancap di belandar. Lagi asyik medsosan mati. Sialnya saking asyiknya medsosan sambil ketawa-ketiwi sendiri lupa sembahyang.

Maka para sesepuh Jawa selalu mengingatkan bahwa semua manusia bakal mulih mring mula mulanira (kembali ke asal muasalnya). Yaitu Allah.

Jaman dulu, orang Jawa menyebut orang yang mati dengan istilah “mulih”. Artinya orang yang mati itu justru sedang menempuh perjalanan kepada kehidupan abadi kembali kepada Allah.

Kalau sekarang macam-macamlah sebutan untuk orang mati. Ada yang disebut sedo artinya tugase wis bakdo (tugasnya sebagai khalifah/pengatur di bumi sudah selesai). Istilah ini oleh masyarakat ditujukan kepada orang-orang yang dianggap baik semasa hidupnya seperti ulama, guru, kolumnis, wartawan dsb.

Ada juga yang disebut matek. Artinya nikmate wis entek (nikmatnya sudah habis). Sebutan itu ditujukan kepada jenazah yang semasa hidupnya hanya untuk mendapat kenikmatan dunia. Pokoknya apapun dilakukan yang penting dirinya hepi. Tidak peduli orang lain. Tidak peduli menerjang hukum dan moral. Nah, sejak berstatus jenazah, tidak bisa lagi dugem, mabuk, korupsi, nilep pajak dsb.

Yang paling seram itu jika disebut bongko. Artinya diobong neng neroko (dibakar di neraka). Sebutan ini karena saking jengkelnya masyarakat terhadap jenazah tersebut. Bisa jadi dia semasa hidupnya jadi ulat masyarakat seperti koruptor, politisi busuk, bromocorah, pemerkosa, rentenir dan sejenisnya.

Rabbi a’lam (Tuhan lebih tahu).

Anwar Hudijono
Kolumnis tinggal di Sidoarjo.

I’tikaf di Jaman Now itu Mengurangi Medsos (2-Habis)

Anwar Hudijono. (istimewa)

Oleh: Anwar Hudijono

Jika I’tikaf itu secara substantif sebagai proses mengurangi dan mencegah rangsangan-rangsangan dari luar karena dapat menaikkan intensitas hawa nafsu, yang dapat merusak dan membatalkan puasa, maka di jaman now adalah mengurangi media sosial (medsos).

Blak-balakan saja saya tidak berani seperti Jaron Zepel Lanier, yang dengan gagah berani berkata lantang, “Stop medsosan. Hapus akun medsosmu.” Dia menulis buku Ten Arguments For Deleting Your Social Media Account (Sepuluh Argumen untuk Menghapus Akun Media Sosial Anda Saat Ini).

Jaron jelas bukan tokoh kaleng-kaleng. Dia punya kompetensi untuk bicara itu. Dia ahli filsafat komputer Amerika. Dia seniman visual dan musisi. Dia menulis buku berdasar riset.
Dan dia konsekuen dengan sikapnya. Dia tutup seluruh akun medsosnya. Dia konsisten melakukan kampanye tutup medsos, termasuk di film /Social Dilemma yang disiarkan Netflix.

Sikap dia itu kalau di Al Quran ditegaskan di Surah Shaff (61) ayat 2-3: “Wahai orang-orang beriman, mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? (Itu) sangatlah dibenci oleh Allah jika kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.”

Ada 10 alasan Jaron. 1. Anda (pengguna medsos) kehilangan keinginan bebas Anda. 2. Berhenti dari medsos adalah cara paling tepat sasaran untuk melawan kegilaan jaman kita (jaman edan dalam istilah pujangga agung Jawa Ronggowarsito). 3. Medsos membuat Anda menjadi bangsat. 4. Medsos merongrong kebenaran.

Selanjutnya dikatakan, 5. Medsos membuat apa yang Anda katakan menjadi tidak berarti. (Betapa tidak, posting konten bagus cuma diberi emoji). 6. Medsos menghancurkan kapasitas empati Anda. (Postingan berita kematian hanya dipasang emojicon atau kopi paste dari atasnya). 7. Medsos membuat Anda tidak bahagia. 8.Medsos tidak ingin Anda memiliki martabat ekonomi. 9. Medsos membuat politik menjadi hal yang mustahil (tidak mungkin). Dan 10. Medsos membenci jiwa Anda.

Medsos telah mengubah kehidupan global dari era informasi ke era disinformasi. Tristan Harris, mantan Disainer Estetika Google dengan tegas mengatakan, medsos begitu mudah menghilangkan fakta. Ada banyak keluhan, skandal, polarisasi, pencurian data, hoaks, fakenews (berita palsu).

Radikalisme
Jaron tidak sendirian. Semakin hari semakin banyak pendukungnya. Apalagi setelah Pemilu Presiden Amerika tahun 2020 di mana medsos menjadi pihak yang sangat menentukan hasil Pilpres. Medsos menjadi pembakar pemilu yang dinilai paling brutal dan kelam dalam sejarah Amerika. Mencabik-cabik demokrasi yang palingg dibanggakan AS.

Medsos juga menjadi tertuduh sebagai pemicu radikalisme supremasi kulit putih. Polarisasi sosial yang kian tajam. Entah polarisasi atas dasar ras, agama, etnik, sosial-ekonomi. Merenbaknya dismorfis snapchat.

Medsos dianggap sebagai biang kerok anjloknya kualitas kesehatan jiwa rakyat Amerika. Jutaan generasi Z (lahir setelah tahun 1996) menjadi generasi yang rapuh, tertekan dan cemas. Jutaan di antara mereka ada yang menyayat nadinya. Ada yang bunuh diri. ABG-ABG kehilangan identitasnya. Rumah sakit semakin dipenuhi pasien yang menderita akibat dampak medsos.
“Amerika kini sedang di ambang kehancuran oleh medsos,” kata seorang inteljen senior Rusia dalam film Red Sparrow.

“Rasisme, diskriminasi, intoleransi kini sedang menggerogoti Amerika dari dalam,” kata tokoh dalam film American History X.

Tesis demikian sekarang bukan hanya di film. Sebagian masyarakat Amerika mulai gamang akan masa depan negaranya. Masa depan bangsanya. Amerika sedang berproses seperti pohon besar yang digerogoti rayap dari dalam. Semakin hari rayapnya semakin beranak-pinak.

Narkoba

Saya tidak berani segarang Jaron yang menyatakan tutup akun medsosmu sekarang juga. Saya hanya berani bilang mari kurangi bermedsos. Karena saya sikik-sikik juga masih menggunakan medsos. Alasan yang saya pakai ya seperti para pedoyan medsos umumnya. Misalnya, untuk sayhello saudara dan temanlah, guyon-guyonlah, selinganlah, hiburanlah.

Saya masih menggunakan medsos dengan kesadaran penuh bahwa saya ini sebenarnya sedang dijual oleh developer medsos. Bisnis medsos itu menjual penggunanya. Yang menjadi pelanggan adalah pengiklan. Dengan begitu semakin lama saya menggunakan medsos semakin besar keuntungan yang dikantongi developer. Para developer medsos itu ibaratnya sedang membangun gunung roti.

Maka developer akan berbuat segala cara agar saya berlama-lama di medsos. Ketagihan. Tidak percaya? Coba buka YouTube. Misalnya cari pertarungan tinju Muhammad Ali vs George Foreman. Konten itu akan muncul. Di bawahnya sudah muncul tawaran Ali vs Sonny Liston. Ada lagi Foreman vs Joe Friezer. Tidak itu saja, akan muncul pula tawaran konten lain seperti music, UFC, degelan, komik, kluliner. Jika diterus-teruskan bisa sampai mati tidak akan kehabisan konten.

Itu artinya pengguna sedang masuk jeratan mesin algoritme medsos.

“Orang mengira algoritme itu dirancang untuk memberikan yang mereka inginkan. Tidak. Algoritme itu sebenarnya mencari beberapa perangkap yang sangat kuat. Mencari perangkap mana yang sesuai dengan minat kita,” kata Guillaume Chaslot, pakar teknologi medsos.

Saya sadar penuh, ketika saya main medsos itu saya sedang memasuki dunia manipulasi. Yang like itu juga bukan keluar dari hati nurani. Video yang cantik-cantik itu adalah editan. Di video kayak Gisel, tapi begitu kopidarat seperti Gimin. Yang nyebar konten seolah untuk kebaikan dan kemaslahatan masyarakat, padahal ternyata yang dicari subscribe, like dan viewer.

Manipulasi

Saya sadar saat bermedsosan itu saya seperti menonton aksi pesulap. Yang mampu mengubah sapu tangan menjadi kelinci. Yang mengikat gadis dengan rantai tapi di dalam kotak gadis bisa melepas dan berganti baju. Yang bisa menghilangkan Tugu Monas. Tentu saja semua itu manipulasi. Tipuan. Hipnotisme. Cuma konyolnya, kita ini senang dimanipulasi. Bahkan menikmatinya. Ajuuur…

Saya sadar begitu main medsos itu saya seperti incip-incip narkoba. Semakin banyak semakin asyik dan nikmat. Lama-lama kecanduan. Di dunia ini hanya dua produsen yang menyebut konsumennya dengan istilah “pengguna” yaitu medsos dan narkoba.

“Medsos adalah narkoba,” kata Dr Anna Lembke dari Stanford University, AS. Maksudnya, kita punya perintah biologis dasar untuk berhubungan dengan orang lain. Hal itu secara langsung mempengaruhi pelepasan dapomin dalam “jalur kenikmatan”.

Jiwa yang sudah bermukim di “jalur kenikmatan” medsos adalah menjadikan medsos itu bagian integral lahir-batinnya. Medsos lebih dekat dan penting daripada ayah-ibunya, saudaranya, suami atau istrinya, tuhannya, urat lehernya.

Mau tidur buka medsos. Ngelilir buka medsos. Bangun tidur langsung klik medsos. Bahkan medsos itu pun sampai menjilma di mimpi, ngelindur. Tiba-tiba ketawa. Tiba-tiba jungkir balik, nggigit bantal.

Masak sambil medsosan. Rapat medsosan. Di toilet medsosan. Makan medsosan. Kumpul keluarga semuanya asyik dengan medsosan sendiri-sendiri. Fisiknya saja yang berdekatan tapi jiwanya berjauhan. Ayahnya yang nyetir mobil, anak dan ibunya asyik medosan sendiri-sendiri. Ayahnya jadi seperti driver online.

Mengajar sambil medsosan. Akhirnya dibalas muridnya, saat gurunya nerocos di depan kelas sampai mulut berbusa-busa dan mata mendelik-delik, muridnya medsosan. Nyuntik sambil medsosan. Akhirnya bukan jarum yang dicubleskan tapi pulpen. Niatnya I’tikaf di masjid, kelihatan nggetu, ternyata medsosan. Wis angel… angel…

Setiap saat buka-tutup Hp. Melakukannya sudah tanpa sadar. Tidak ada tanda apapun hp dibuka. Sudah seperti orang bekedip. Otomatis bergerak. Apa ada orang berkedip didisain dulu, dijadwal. (Sing ngguyu mesti tau ketoro pengalaman hahahaha).

Ramadhan ini hendaknya bisa menjadi momentum memulai mengurangi buka tutup Hp. Pergi ke masjid, tinggal Hp di rumah. Rapat tanpa bawa Hp. Kurangi medsosan dengan niat mencari kegiatan yang lebih baik. Yang lebih produktif. Jika medsos menggelapkan hati dan melumpuhkan spiritualitas, ganti dengan kegiatan yang membuat hati terang, jiwa yang bersih. Niat mepek babahan hawa sanga. Niatkan sebagai I’tikaf untuk menjaga kemurinan puasa kita.

Pembaca oh pembaca.. Terus terang saya mulai berpikir jangan-jangan medsos ini merupakan strategi Dajjal. Mudah-mudahan ada petunjuk mendalaminya. Rabbi a’lam.

Ya Allah dengan rahmat-Mu, lindungilah kami dari fitnah (ujian) medsos.

Rabbana atina min ladunka rahmah wa hayyiklana min amrina rasada. (Ya Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah petunjuk yang lurus bagi kami dalam urusan kami. (Quran surah Kahfi ayat 10).* * *

Anwar Hudijono
kolumnis tinggal di Sidoarjo
23 April 2021.

I’tikaf di Jaman Now itu Mengurangi Medsos (1)

Anwar Hudijono. (istimewa)

Oleh: Anwar Hudijono

Kalau puasa Ramadhan itu diibaratkan rumah, maka keberadaan I’tikaf itu pasaknya. Fungsinya untuk memperkuat konstruksi rumah. Kalau rumah tanpa pasak akan mudah goyah, bahkan roboh.

Para ahli fiqih klasik mendefinisikan I’tikaf itu kira-kira begini: suatu aktivitas berdiam di masjid dengan niat hanya untuk melakukan ibadah. Tujuannya untuk menjaga agar ibadah puasa Ramadhan yang dijalani tidak sampai ternoda oleh maksiat dan mungkarat. Agar puasanya tidak hanya mendapatkan haus dan lapar alias sia-sia. Tapi menjadi puasa yang imanan wa ihtisaban (dinafasi iman dan kesadaran).

Mengapa masjid menjadi pilihan I’tikaf? Biasanya pra ahli fiqih klasik menjawab begitulah Rasulullah melakukan. Tapi apakah Rasulullah hanya melakukan I’tikaf di masjid? Bukankah Rasulullah mengisi malam-malamnya dengan beribadah di rumah degan qiyamul Ramadhan, tadarus bersama Jibril, berdzikir. Apa itu bukan I’tikaf?

Demikian pula ketika Rasulullah menyendiri beribadah hampir sepanjang malam di padang Badar menjelang Perang Badar di bulan Ramadhan tidak termasuk I’tikaf?

Pertanyaan apakah I’tikaf harus di masjid ini relevan dengan kondisi saat kehidupan global dilanda ujian Covid-19. Banyak masjid tutup. Membatasi jam buka. Mengurangi kapasitas jamaah. Bahkan pemerintah membatasi jamaah masjid dari tingkat umat ke tingkat komunitas. Artinya masjid hanya boleh menerima warga muslim di sekitarnya atau jamaah tetap belaka. Lama-lama tata jamaah masjid jadi mirip tempat ibadah lain.

Di musim Covid-19 ini dianjurkan stay at home. Bahkan shalat pun dianjurkan di rumah. Menghindari kerumunan, dan jaga jarak sosial.

Padahal biasanya di malam-malam ganjil sepuluh hari terakhir Ramadhan, umat ramai-ramai I’tikaf di masjid untuk meraih lailatul qadr. Sampai masjid penuh sesak. Artinya sulit jaga jarak dan kerumunan.

Seyogyanya ara ahli fiqih kontemporer segera melakukan ijtihad atau apapun istilahnya tentang ini. Hal ini perlu agar umat selamat dari tuduhan sebagai biang kerok penyebaran Covid-19. Bahkan ramai-ramai dipidana karena melanggar prokes.

Sekali lagi monggo para fuqaha kontemporer menjelaskannya. Semoga jawabannya bukan: adharuratu tubihul mahdlurat (keadaan darurat itu membolehkan tindakan yang bersifat darurat). Kalau jawabannya begitu mah biasa saja. Harus jawaban yang keren banget gitu lo.

Sebab ada trend menjadikan istilah darurat Covid-19 sebagai alasan yang tidak benar dan rasional. Boleh berbuat tidak adil karena alasan Covid-19. Boleh nyolong uang rakyat karena Covid-19. Boleh semena-mena demi Covid-19. Wis .. angel .. angel.

Saya tidak memiliki kapasitas dan kredibilitas menjawabnya. Kalau cuma bertanya kan tidak apa-apa. Kerjaan orang awam itu ya bertanya, atau sami’na wa atha’na kepada para ulama ahlinya. Tidak usah kemenyek berijtihad sendiri. Nanti malah melenceng jadi ruwaibidhah, orang bodoh yang mau sok pintar lantas mencampuri yang bukan ranah intelektualitasnya.

Memang di jaman now ini ada yang terbalik. Orang bodoh merasa pintar. Orang pintar pindah jadi bodoh. Contohnya orang bergelar akademik tinggi, memilih nggedabrus di medsos daripada membuat kajian analisis di media massa. Apalagi menulis buku. Guru besar turun derajat jadi buzzer. Tapi itu tidak di Indonesia lo. Adanya di negara Ngastina sana.

Hawa Nafsu

Jika merunut pandangan para ahli fiqih klasik, misi utama I’tikaf itu di samping mengumpulkan ganjaran sebanyak-banyaknya, mendekatkan diri kepada Allah, juga sebagai tindakan melindungi puasa agar tidak ternoda, apalagi rusak, bahkan batal. I’tikaf itu memperkuat batin.

Intinya, I’tikaf itu kan proses mengurangi dan mencegah rangsangan-rangsangan dari luar yang dapat menaikkan intensitas hawa nafsu individual seperti marah, iri dan dengki, rasan-rasan alias ghibah, mencela, keinginan liar, ujub (mengagumi diri sendiri), pamer alias riak, seksual dan sebagainya. Juga hawa nafsu dalam konteks sosial seperti serakah kekuasaan (melik nggendhong lali), korupsi, menindas, merusak lingkungan, memproduksi maupun mengkonsumsi riba, tidak adil dan sebagainya.

Mirip-miriplah dengan tirakat dalam tradisi Jawa yaitu mepek babahan hawa sanga. Artinya, mengendalikan sembilan lobang pada tubuh manuia. Sembilan lobang itu menjadi jalan liar hawa nafsu. Yaitu, mulut satu, mata dua, hidung dua, telinga dua. Selebihnya saya lupa.

Dan substansi puasa Ramadhan sendiri adalah mengendalikan hawa nafsu. Haus dan lapar serta seksual itu hanya bagian kecil hawa nafsu. Itu unsur hawa nafsu hewaniah. Yan berat itu hawa nafsu asli manusia yaitu fasad (berbuat kerusakan): despotisme politik, materialisme ekonomi, dan liberalisme sosial. Ketiganya disebut trilogy fasad.

Ditambah hawa nafsu syaithaniyah yaitu pengingkaran terhadap hukum-hukum dan ketentuan Tuhan. Jika jalan Tuhan itu minal dhulumat ila an-nur (dari gelap menuju terang), hawa nafsu syaithainiyah ini min an-nur ilal dhulumat (dari terang menuju gelap).

Mengapa hawa nafsu harus dikendalikan? Jawabnya ada di Quran surah Sad (38): 26. “…. Dan janganlah engkau mengikuti hawa nafsu, karena akan menyesatkan engkau dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan Hari Perhitungan.”

Rabbi a’lam (Tuhan lebih tahu).

Anwar Hudijono,
Kolumnis tinggal di Sidoarjo.

Ustadz Nadjib Telah Mudik Selamanya

Anwar Hudijono

Oleh: Anwar Hudijono

Kepala rasanya seperti disambar petir begitu membaca pesan WA bahwa Ust. H. Nadjib Hamid, M.Si, Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur wafat di RS Khadidjah, Sepanjang, Sidoarjo, Jumat (9/4/2021) sekitar pukul 08.00.

Saya masih setengah percaya setengah tidak. Saya coba telepon pengirim pesan, rekan M. Roissudin. Tapi tidak konek. Lantas saya hubungi Pemimpin Redaksi PWMU.co M Nurfatoni. Sambil terisak-isak dia menjawab, “Injih, Ustadz Nadjib kapundhut Allah.”

Menurut info dari PWM, jenazah akan dishalatkan di Masjid Al Badar, depan kantor PWM Jatim bakda Shalat Jumat. Kemudian dibawa ke rumah duka di Jalan Ubi IV no.27 Surabaya. Untuk selanjutnya dimakamkan di tanah kelahirannya, Paciran, Lamongan.

Soal mati, semua juga akan mati. Tapi kematian Ust Nadjib ini benar-benar membuat saya kaget setengah mati. Betapa tidak, sudah agak lama saya tidak saling kontak. Tidak dengar sakitnya tiba-tiba dengar sudah meninggal.

Jelas saya kehilangan seorang sahabat terbaik. Saya kenal Mas Nadjib sejak sama-sama menjadi pengurus PWM Jatim jaman ketuanya KH Abdurrahim Nur. Kemudian dilanjut jaman Pak Fasich. Sekalipun posisi saya cuma sebagai pengurus baladupak, peramai, sedang Mas Nadjib posisi pengurus harian tetapi tidak membuat ada jarak. Muhammadiyah memang egalitarian.

Mas Nadjib terus menjadi wakil sekretaris kemudian sekretaris PWM. Pada periode Ust Sa’ad Ibrahim ini almarhum menjadi wakil ketua. Prediksi saya, selangkah lagi dia menjadi Ketua PWM. Dia sudah mengantongi semua persyaratan untuk mengemban amanat itu.

Bagi saya, Mas Nadjib itu perpustakaan hidup Muhammadiyah. Pengetahuannya tentang Muhammadiyah seperti cakrawala tanpa batas. Nah, beruntunglah saya biasa memanfaatkan perpustakaan hidup ini. Kalau menyangkut soal Muhammadiyah, dialah rujukan seperti saya minum air sumur tidak pernah kering.

Total

Mas Nadjib itu tipe orang yang secara total mewakafkan dirinya untuk Muhammadiyah. Manhaj perjuangannya ya Muhammadiyah. Kalau sudah dawuh Muhammadiyah, dia itu sepertinya sami’na wa atha’na (mendengar dan patuh).

Termasuk ketika ditugaskan menjadi calon DPD dari Jawa Timur pada Pemilu 2019. Dia tidak kuasa menolak meskipun dia sangat mafhum politik bukan maqamnya. Platformnya begini, jika sudah niat mewakafkan diri ke Muhammadiyah itu harus diteguhkan dengan ikhlas. Direnda dengan pengorbanan. Disulam dengan istiqamah.

Dia pernah menjadi anggota KPUD Jatim. Pilihan itu bukan karena di enjoy main politik. Tapi terpanggil untuk menyelenggarakan event politik yang jujur dan bermartabat dalam rangka membangun demokrasi.

Itu bagian dari strategi dakwah amar ma’ruf nahi mungkar. Jika terjadi atau berpotensi terjadi kemungkaran ubahlah dengan tanganmu. Jika tidak mampu dengan lisanmu. Jika tidak mampu pula dengan doa. Nah, menjadi anggota KPUD itu strategi dengan tanganmu (kekuasaan).

Mas Nadjib sudah mudik untuk selama-lamanya. Insya Allah bekal mudiknya sudah cukup. Tidak akan kena cegatan. Apalagi sampai “dikarantina” di pinggiran jahanam.

Saya melihat rupanya sebelum mudik, dia sudah menyiapkan Nadjib-Nadjib muda yang akan meneruskan perjuangan dan pengabdiannya di Muhammadiyah. Karena kaderisasi yang berkesinambungan itulah salah satu pilar kokohnya Muhammadiyah. Rabbi a’lam.

“Wahai jiwa yang tenang
Kembalilah kepada Tuhanmu
Dengan hati yang ridha dan diridhai-Nya.
Maka masuklah ke dalam golongan
Hamba-hamba-Ku
Dan masuklah ke dalam surga-Ku”.
(Quran 89:27-30).
Sugeng kundur, Mas Ustadz Nadjib.

Anwar Hudijono,
Kolumnis tinggal di Sidoarjo.

Ade d’Kross, dari Malang Sampai ke Bulan

Frontman d'Kross Ade Herawanto membentangkan syal Arema. (istimewa)

Oleh: Damarhuda

Kota Malang kehilangan satu magnitnya, Ir Ade Herawanto, atau dikenal Ade D’kross, yang Kamis (25/3) lalu tertangkap Polresta Malang, kasus narkoba.

Mestinya, 1 April ini, kota Malang merayakan ke-107 Hari Jadinya yang bertema “Peduli dan Berbagi”, tapi bagi Ade D’kross yang juga Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Pemkot Malang ini, ia sedang menunggu kepedulian Kota Malang.

Bahkan seandainya Arema atau Aremania mengirim tim pengacara untuk membantu advokasi Ade Kross agar bisa direhabilitasi saja atau diringankan kelak hukumannya, itu pun masih tak sebanding bagi pengorbanan Ade D’kross untuk Arema, Aremania dan Malang.

Ade lah yang jadi pelopor lahirnya band suporter di tanah air, D’kross Band, yang didedikasikan bagi Arema dan Aremania.

Ade dan D’kross ini yang kemudian menginspirasi saya dan temen-temen musisi di Surabaya, Royke, Reky, Mugix Power Metal dan Hendrix Sanada Andromedha, lantas mendirikan Arek Band, untuk bonek.

Sebagai ASN Pemkot Malang, kemampuan merangkul Aremania, membuat ia “begitu penting” bagi dua Walikota Malang sebelumnya, Peni Suparto dan Abah Anton. Untuk Walikota Malang sekarang, Drs.H. Sutiaji, ia sedang dipinang atau ia yang sedang meminangnya.

Beberapa tahun lagi, Ade D’kross akan pensiun dari ASN dan santer terdengar, ia bakal nyalon Cawali atau Cawawali 2024, sebelum kasus narkoba menghentikan mimpinya.

Datanglah ke kota Malang, siapa yang tak kenal Ade D’kross? Ia kawan bagi ASN, insan pers dan pengusaha, ia publik figur bagi Aremania, ia pun dermawan bagi sahabat-sahabatnya yang kesulitan ekonomi.

Sosoknya yang energik, penuh spirit, humoris, cerdik dan cerdas membaca peta kariernya, membuat ia melejit bagai sebuah meteor di kota Malang.

Tapi meteor kecil itu sedang jatuh dan ia sekarang digelandang ke Polda Jatim.

Kahlil Gibran berkata, “Orang kuat bukan ia yang selalu menang, tapi ia tetap tegar ketika jatuh.”

Saya mengenal Ade, saat sama-sama menghabiskan masa SMA di lingkungan “SMA Tugu” kota Malang, ia di SMA 3 dan saya di SMA 4 , beda satu tingkat, tapi kami sering bersama.

Saat ia masih jadi Kasi di Dinas Kimpraswil Pemkot Malang, ia sudah cerdik menilai, misalnya ia bilang akan ada anggota DPR RI di Jakarta yang akan pulang ke Malang dan nyalon Walikota.

Ade ngajak saya membuatkan buku biografi sosok tadi, kelak orang pun tahu, tokoh itu adalah Peni Suparto dan kita pun tahu, 10 tahun atau dua periode kepemimpinan Walikota Peni Suparto, Ade menjadi orang dekatnya dan kariernya terus melejit seperti meteor di langit.

Saat Ade ingin mendirikan band Dkross, kami bertemu lagi di rumah saya, Istana Bedali Agung, Lawang, Kab Malang.

Ada sebuah lagu yang saya ciptakan sama Robi, anak Malang, yang tahun 1996 ketemu di Gank Potlot Jakarta, markas Slank. Waktu malam hari di Potlot bersama Robi, saya ingat masa SMA di Tugu Malang dulu, bila sampai malam hari menikmati “Alimi” atau “Drum”, kami melihat bulan di langit seperti bertengger di pucuk Tugu Malang atau bulan mengintip di rerimbunan Splendid Iin. Malang begitu dekat ke bulan!

Kami lantas ingat band Rolling Stone “You Gotta Move”, atau The Police yang bikin “Walking On the Moon”. Lagu ini bicara bulan, dan kalau lagi kubam rasanya kita seperti sedang berjalan di bulan.

Nah, Robi sambil genjrengan, saya tulis lirik “Dari Malang sampai ke Bulan.” Sama-sama bercerita tentang bulan di langit, dari pandangan sang pemimpi yang sempoyongan, mulut bau minuman yang merindukan pulang.

Lagu itu kemudian saya kasihkan Ade. Dan album perdana D’kross, kita tahu, lagu “Malang ke Bulan” meledak dan masih dinyanyikan hingga sekarang.

Tapi meteor itu sedang jatuh. Banyak yang meramalkan karier Ade bakal hancur. Tapi saya bilang tidak, usai menjalani hukumannya kelak, Ade selalu punya jalan kebenarannya sendiri, walaupun juga ia banyak musuhnya, termasuk spekulasi dugaan ia dijebak dalam kasus narkoba yang menjeratnya, tapi tak ada yang bisa merampas kecemerlangan sang meteor kecil ini, yang cerdas dan lincah, cerdik dan cendikia, yang agamis sekaligus juga “srontong” khas arek Malang, “damai oke ribut oke.”

Ade mungkin lagi jatuh, tapi InshaAllah, kelak ia akan mengorbit lagi, dari Malang akan kembali mencapai bulan, dari cara yang lain.

Tahes selalu ya Sam Ade, ndang utem Jes !

*) Damarhuda wa alias Catur,
alumni SMA 4 Malang’88/Kepala Biro Jatim JPNN.com

Radikalisme HAM di Demo Mahasiswa 2021

Ardi Paul S Wenehen

Oleh: Ardi Paul S Wenehen

Hak merupakan unsur normatif yang melekat pada diri setiap manusia yang dalam penerapannya berada pada ruang lingkup hak persamaan dan hak kebebasan yang terkait dengan interaksinya antara individu atau dengan instansi.Hak juga merupakan sesuatu yang harus diperoleh.Masalah HAM adalah sesuatu hal yang sering kali dibicarakan dan dibahas terutama dalam era reformasi ini.

HAM lebih dijunjung tinggi dan lebih diperhatikan dalam era reformasi dari pada era sebelum reformasi. Perlu diingat bahwa dalam hal pemenuhan hak, kita hidup tidak sendiri dan kita hidup bersosialisasi dengan orang lain. Jangan sampai kita melakukan pelanggaran HAM terhadap orang lain dalam usaha perolehan atau pemenuhan HAM pada diri kita sendiri. Hak asasi manusia adalah hak dasar yang dimiliki manusia sejak manusia itu dilahirkan.Hak asasi dapat dirumuskan sebagai hak yang melekat dengan kodrat kita sebagai manusia yang bila tidak ada hak tersebut, mustahil kita dapat hidup sebagai manusia.

Hak ini dimiliki oleh manusia semata – mata karena ia manusia, bukan karena pemberian masyarakat atau pemberian negara. Maka hak asasi manusia itu tidak tergantung dari pengakuan manusia lain, masyarakat lain, atau Negara lain. Hak asasi diperoleh manusia dari Penciptanya, yaitu Tuhan Yang Maha Esa dan merupakan hak yang tidak dapat diabaikan. Sebagai manusia, ia makhluk Tuhan yang mempunyai martabat yang tinggi. Hak asasi manusia ada dan melekat pada setiap manusia. Oleh karena itu, bersifat universal, artinya berlaku di mana saja dan untuk siapa saja dan tidak dapat diambil oleh siapapun. Hak ini dibutuhkan manusia selain untuk melindungi diri dan martabat kemanusiaanya juga digunakan sebagai landasan moral dalam bergaul atau berhubungan dengan sesama manusia.

Dalam HAM mengatur bahwa setiap manusia memiliki hak kebebasan mengeluarkan pendapatnya dan didengar pendapatnya. Bahkan Indonesia mengatur di dalam UUD NKRI 1945, bahwa setiap warga negara memiliki hak untuk bebas berpendapat. Akan tetapi, kebanyakan orang yang mengetahui bahwa setiap individu warga negara memiliki hak bebas berpendapat sering disalahgunakan, dalam arti setiap orang selalu berfikiran bahwa mereka dapat mengeluarkan pendapatnya sebebas bebasnya. Padahal kita perlu mengingat bahwa ketika kita memiliki hak tentu ada kewajiban yang harus kita penuhi. Hak dan kewajiban bukanlah pilihan yang dapat berat sebelah, akan tetapi hak dan kewajiban setara dalam pelaksaannya, artinya ketika kita memiliki hak yang diberikan sejak lahir dan diatur di dalam Undang-undang di Indonesia, kita perlu mengetahui kewajiban kita sebagai warga negara. Hal kecil yang perlu kita ketahui, jika kita memiliki hak, tentu kewajiban kita sebagai bermasyarakat adalah tidak melanggar hak orang lain/individu lain.

Dalam kasus ini, kita sebagai individu dan kita memiliki hak asasi manusia dalam menyampaikan pendapat, akan tetapi kita memiliki kewajiban untuk tidak menganggu/merugikan hak asasi manusia lainnya. Demo mahasiswa 2021 yang baru terjadi karena tidak setujunya masyarakat adanya UU Otonomi khusus yang “katanya” isinya merugikan masyarakat papua dan papua barat. Mahasiswa sebagai jembatan antara masyarakat dengan pemerintah turun lapangan dan berdemo karena mahasiswa memiliki hak untuk berpendapat.

Apakah masyarakat senang dengan adanya demo mahasiswa yang memblok jalan? Kebanyakan dari mereka meyayangkan hal ini, karena mahasiswa turun kejalan yang bertujuan menyampaikan pendapat justru kesempatan besar bagi “oknum-oknum” yang antipemerintah dan mengingini Indonesia kacau yang memboncengi mahasiswa berorasi di jalan. Kebanyakan mahasiswa mengatakan ini hak mereka dalam kebebasan berpendapat, akan tetapi apakah mahasiswa tau bahwa akibat dari demonya, banyak jalan ditutup dan mengakibatkan macet yang dimana mereka tidak mementingkan hak orang lain untuk bekerja? Hak untuk keamanan pribadi? Kebanyakan akibat demo mahasiswa 2021 yang turun kejalan, menghambat orang lain yang bekerja karena terkena macet, banyak orang yang terluka bahkan meninggal akibat kejadian ini.

Kadang kita selalu menyalahkan pemerintah, aparat pemerintah yang selalu melakukan kekerasan kepada mahasiswa, padahal jika kita lihat dari sudut pandang aparat, mereka juga memiliki hak seperti kita, hak untuk kehidupan, kemerdekaan, dan keamanan. Mereka juga memiliki keluarga, tapi karena pekerjaan mereka, mereka harus terpisah dari keluarga mereka untuk mengamankan negara.

Bagi saya, HAM harus dilandasi moral, dimana hak dan kewajiban harus kita ketahui sesuai dengan nilai moral, karena HAM merupakan dasar dan mutlak, maka dalam pelaksaan HAM haruslah ditanamkan nilai moral. Dari sini, bukan berarti saya tidak setuju dan menolak adanya kebebasan berpendapat. Saya sangat setuju adanya kebebasan berpendapat, seperti saya memiliki hak untuk mengeluarkan pendapat saya, akan tetapi yang saya tidak setuju CARA penyampaian kebebasan berpendapat itu janganlah kita salahgunakan.

SARAN
Kita sebagai mahasiswa seharusnya lebih beradab dalam penyampaian pendapat kita, kita buat forum diskusi perwakilan universitas dan dihadiri pihak pemerintah, kita buat petisi yang ditandatangani dan kita sampaikan lewat pertemuan kita dengan pihak pemerintah, dengan cara cara yang menujukkan bahwa kita mahasiswa yang berbudi, bermoral, dan beradab. Mahasiswa jangan mau diprovokasi oleh oknum oknum yang ingin mempecahbelahkan kita, akan tetapi kita mahasiswa harus mempererat persatuan Indonesia, dan menujukkan demokrasi yang beradab dengan hak kita dalam kebebasan berpendapat.

Ardi Paul S Wenehen
Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Merdeka Malang

Kongres HMI Ricuh itu Seksi

Anwar Hudijono. (Istimewa)

Oleh: Anwar Hudijono

Yang mau bilang itu aib silakan. Yang mau menyatakan prihatin boleh-boleh saja. Yang mau kesal dan malu tak masalah. Saya sendiri melihat kericuhan Kongres Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) ke-31 di Surabaya itu seksi gitu low.

Kenapa? Pertama, Kongres ricuh ini bukan yang pertama. Kongres di Depok obrak-abrikan. Kongres di Ambon awut-awutan. Kericuhan Kongres Surabaya ini kabarnya juga bukan yang terparah. Dengan demikian anggap saja kericuhan ini bagian dari dinamika organisasi.

Sekaligus sebagai pembelajaran bagi kader yang mau terjun ke politik. Bahwa proses politik itu seringkali dibumbui kekerasan. Politik sekarang ini politik hibrida. Proses politik tidak cukup dengan lobi, negosiasi, tetapi juga propaganda, kekerasan, intimidasi. Ke depan politik hibrida ini akan semakin menggigit. Nah, di sinilah salah satu seksinya kericuhan Kongres.

Kedua, HMI itu organisasi anak muda. Tingkat emosinya masih tinggi. Sementara intelektualitasnya ya masih datarlah. Cuma mereka saja kadang-kadang kemenyek merasa sudah hebat. Tapi itu pun tidak apa-apa. Karena anak muda itu ibarat padi yang masih hijau, gabahnya belum berisi sehingga berdiri mendongak.

Apalagi ini jaman digital. Jaman medsos. Medsos itu konsumsi emosional. Di situ emosi berubah-ubah secara cepat. Dari ketawa tiba-tiba ngamuk. Dari grup persaudaraan berubah jadi grup gegeran. Medsos itu menaikkan daya emosionalitas. Saat bersamaan menurunkan daya intelektualitas. Maka para ”ahlul medsos” lazimnya baperan.

Kebalikan dengan buku. Buku itu konsumsi intelektualitas. Membaca buku itu ada waktu dan energi merenung. Menelaah. Menimbang-nimbang. Buku membahas persoalan secara lebih menyeluruh. Kenapa generasi awwalun HMI pintar-pintar, intelektualitasnya mumpuni karena mereka pedoyan buku. Betapa mereka bangga jika kamar kostnya penuh dengan buku.

Saya menduga mayoritas peserta Kongres ini ahlul medsos. Hanya masalahnya, apakah kader-kader HMI sudah merasa puas menjadi ahlul medsos?

“Politik transaksional”

Ketiga, kericuhan itu pertanda tidak ada operasi senyap dengan uang. Di jaman now, alat efektif yang bisa membikin diam itu uang. Kalau uang justru malah bikin ricuh itu berarti pembangian tidak merata atau ada entit-entitan.

Saya sangat prihatin ketika berembus kabar Kongres di Jogja ada isu cukong membawa karungan uang di arena Kongres. Ada kandidat bagi-bagi uang pulsa. Uang tiket. Entah apapun namanya. Yang jelas itu bagian dari politik transaksional. Benar tidaknya saya tidak tahu.

Kok bisa cukong terlibat? Sangat mungkin. Pimpinan HMI itu berpotensi menjadi pemimpin Indonesia. Terbukti banyak pemimpin Indonesia berlatar belakang HMI. Di Kabinet Jokowi-Ma’ruf saja ada sejumlah kader HMI. Sekian persen anggota DPR dan MPR kader HMI. Bagi cukong, membangun oligarki itu dimulai sejak dini.

Berdasar ilmu titenologi, saat ini ada kader-kader HMI yang sudah jadi alumni masuk dalam jaringan oligarki. Konon Indonesia saat ini dikendalikan oleh kekuatan oligarki. Dan bisa jadi justru mereka itu kini jadi patron para kader yang ikut Kongres.

“Tarekat intelektual”

Anggap saja, sekali lagi, ricuh ini dinamika organisasi sesaat. Jangan diperpanjang. Jangan sampai HMI tersempal seperti jaman HMI MPO.

Sebagi orang tua, saya tidak bisa mengatakan kalian harus begini kalian harus begitu. Bernostalgia jaman saya muda. Kader-kader sekarang hidup dengan masalah dan tantangan tersendiri. Punya jaman sendiri.

Hanya karena di akhir jaman, saya mengingatkan bahwa HMI harus menjadi generasi yang didatangkan oleh Allah. Generasi yang dicintai Allah dan mereka mencintai-Nya. Yang bersikap lemah lembut terhadap orang-orang yang beriman, tetapi bersikap tegas/keras terhadap orang-orang pagan. Yang berjihad di jalan Allah. Tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. (Quran 5:54).

Kader-kader HMI sebaiknya melakukan “tarekat intelektual” dalam arti berani prihatin. Tidak larut dalam kemegahan dunia. Tidak hanyut dalam materialisme, liberalisme, hedonisme. Seperti yang disimbolkan dengan anak muda yang ikut Nabi Musa berguru kepada Hidlir. Seperti generasi Ashabul Kahfi yang dirahmati Allah.Salah satu isi “tarekat intelektual” itu adalah berani menunda kesenangan.

Berani menunda kesenangan inilah yang dinasehatkan Cak Nur kepada seorang mantan ketua umum HMI. Dia ini karier politik sangat cemerlang. Banyak yang memprediksi, selangkah lagi dia menjadi pemimpin RI. Sayang, dia melupakan nasehat Cak Nur. Akhirnya, bukan hanya pupus karier politiknya, malah masuk penjara.

Coba pasca ricuh ini, melakukan “tarekat intelektual” sehingga menjadi danau yang tenang, bening setelah bergelombang diterjang badai. Rabbi a’lam.

Anwar Hudijono,
kolumnis tinggal di Sidoarjo

Kisruh Demokrat, Kemana Mahkamah Partai Politik?

Ferry Anggriawan, S.H., M.H.

+) Oleh: Ferry Anggriawan, S.H., M.H.

Beberapa judul berita di media sosial terkait kisruh Partai Demokrat seperti; “Sambil Menangis, Ketua Demokrat Jakarta Gelar Cap Jempol Darah Dukung AHY”, kemudian tangis-menangis tidak berhenti disitu; “Sambil Menangis, Darmizal Ngaku Nyesal Pernah Menangkan SBY Jadi Ketua Umum Partai Demokrat”. Dari dua judul berita di atas, opini politik lebih mendominasi perasaan pembaca, agar larut dalam tangisan mereka, berharap agar sependapat dengan kubu KLB versi Moeldoko atau sependapat dengan kubu Agus Harimurti Yudhoyono.

Opini hukum sengaja dijauhkan dari judul-judul setiap pemberitaan permasalahan ini. Padahal jika kita melihat hulu permasalahan setiap partai politik, tidak hanya bermuara dari ambisi setiap kadernya dalam berebut pos-pos penting kemudian melegalkan segala cara. Tetapi ada pembiaran aturan hukum internal partai seperti AD/ART yang sengaja diabaikan oleh beberapa oknum kader, serta Undang-Undang Partai Politik yang tidak memiliki daya, ditengah dahaga kekuasaan yang dipaksakan ketika ada kesempatan.

Kongres Luar Biasa Partai Demokrat yang menetapkan Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Moeldoko sebagai ketua umum, tidak bisa dilepaskan dari kecacatan hukum, yang menjadi fakta hukum dalam kongres tersebut. Salah satu fakta hukum yang sangat fatal adalah tidak adanya persetujuan dari Majelis Tinggi Partai, yang dimensi kedudukannya tidak hanya dilindungi dan diakui oleh AD/ART Partai Demokrat saja. Kedudukan Majelis Tinggi Partai juga diakui kedudukannya melalui Pasal 32 ayat 2 Undang-Undang tentang Partai Politik.

Majelis Tinggi Partai adalah pengejewantahan dari maksud teks “Mahkamah Partai Poilitik” yang dimaksudkan dalam Undang-Undang Partai Politik. Kedudukannya sangat sentral, terutama ketika terjadi konflik internal dalam Partai. Dimensi kekuatannya tidak hanya menjangkau seluruh permasalahan yang ada di Partai melalui AD/ARTnya, tetapi negara juga memberikan porsi power, jika suatu saat konflik internal partai tersebut dibawa ke Pengadilan Negeri hingga ke Mahkamah Agung.

Apa power negara yang diberikan kepada Majelis Tinggi Partai? Bahwa setiap sengeketa hukum internal partai yang akan dibawa ke Pengadilan Negeri, harus menunjukkan bukti hukum, bahwa sengketa hukum internal partai tersebut sudah diselesaikan secara internal terlebih dahulu, melalui Majelis Tinggi Partai. Jika hasil dari keputusan Majelis Tinggi Partai tersebut tidak sesuai dengan yang diharapkan penggugat, maka sengketa tersebut bisa dibawa ke Pengadilan Negeri.

Permasalahan yang terjadi adalah kisruh internal Partai Demokrat tidak diselesaikan melalui Majelis Tinggi Partai sebagai Mahkamah Partai Politik, dan juga tidak diselesaikan melalui Pengadilan Negeri. Langkah penyelesaian kisruhnya adalah melakukan KLB, keluar dari rule of law dengan melangkahi kedua sistem tersebut dan mengupayakan adanya pengesahan oleh Kementerian Hukum dan HAM. Ini adalah perilaku yang oleh penulis sebut “mengakali sistem hukum”.

Mekanisme penyelesaian sengketa internal partai politik melalui “Mahkamah Partai Politik”, seharusnya diterapkan terlebih dahulu, agar setiap perkara internal Partai Politik bisa diselesaikan melalui akar dengan satu pohon yang sama, bukannya keluar dari akar permasalahan satu pohon tersebut, kemudian menanam bibit baru, ditanam disebelahnya dengan jenis pohon yang sama. Ini sama saja dengan membiarkan pohon yang asli dan memiliki nilai historis mati karena penyakit yang dibiarkannya, kemudian mencari pembenaran dengan pohon barunya yang lebih fresh tampilannya, yang sebenarnya ditanam melalui bibit-bibit eskapisme.

Hukum adalah celah, bagi orang-orang yang ingin mencari pembenaran atas dahaga politiknya. Dahaga politik itu akan terlihat legal jika ada celah hukum yang bisa dimanfaatkan sebagai peluang untuk sampai pada oase kekuasaan yang diidamkannya. Terhitung 30 hari sejak hasil kongres itu diumumkan, Kementerian Hukum dan HAM harus mengambil tindakan hukum terhadap KLB tersebut dan juga harus memberikan respon berupa keputusan hukum kepada kubu Agus Harumurti Yudhoyono terkait KLB tersebut. Kita tunggu keputusan Kementrian Hukum dan HAM 24 hari mendatang!

Ferry Anggriawan, S.H., M.H.
Dosen Fakultas Hukum Universitas Merdeka Malang

Moeldoko di Antara Pandemi Politik

Anwar Hudijono

*)Oleh Anwar Hudijono

Moeldoko bungkam seribu bahasa. Sejak dinobatkan sebagai Ketua Umum Partai Demokrat oleh M Nazaruddin, Jhoni Allen Marbun, Marzuki Ali dan komunitasnya, dia belum mereaksi serangan terhadap dirinya. Sekalipun sudah dibilang begal politik. Tidak bermoral. Tidak kesatria. Tidak punya rasa balas budi. Rakus. Ugly. Dan banyak lagi.

Saya tidak percaya bungkamnya Moeldoko karena ngelu. Meriang. Sakit gigi. Bingung layaknya tikus tersudut. Diamnya itu pasti diam yang punya arti. Harap mafhum, dia ini bukan tokoh kaleng-kaleng. Dalam istilah Jawanya, dia ini jalma limpat seprapat kliwat (orang yang memiliki kelebihan di atas orang lain). Dia bukan manusia loro saudon telu sauruban. (Manusia biasanya umumnya).

Betapa tidak. Dia mantan Panglima TNI. Bergelar doktor. Kini dia menjabat Kepala Staf Kepresidenan (KSP). Jabatan ini setaraf menteri. Hanya kurang popular saja sehingga kadang ada yang salah mengartikan. KSP diartikan Koperasi Simpan Pinjam. La masak ada jenderal bintang 4 ngurusi bank titil.

Dengan sosok Moeldoko KSP itu menjadi begitu digdaya. Seolah menjadi bintang kembar dengan Mensesneg. Bahkan saking digdayanya seolah KSP itu semacam perdana menteri. Pamornya melebihi wakil presiden.

Hanya masalahnya, kehebatannya di bidang militer dan di KSP belum sepenuhnya dikonversi ke dunia politik. Jika boleh membuat analog, dia itu seperti ikan koi. Indah memang. Mahal. Tapi ikan koi terbiasa di kolam khusus. Belum terbiasa berada di sungai.

Sementara politik itu seperti sungai. Terkadang arusnya kecil terkadang besar bahkan bergelombang. Terkadang airnya bening, terkadang keruh. Penghuninya lebih heterogen. Ada ikan wader, mujaer, sili, sepat, yuyu, belut, ular, lele, nyambik dan lain-lain.

Begitu terlibat di dalam pusaran konflik Partai Demokrat, Moeldoko sekarang ibarat ikan koi yang berada di sungai. Saat ini sungai itu terlalu banyak lelenya. Dan watak lele itu memang suka di air yang keruh agar bisa mendapatkan makanan. Maka kalau airnya bening akan diubek-ubek biar keruh. Lele itu cenderung rakus dan makannya banyak. Ada juga ular. Repotnya ular air itu sering kali menyerupai akar sehingga susah dibedakan. Ada juga belut. Khususnya welut endhas ireng (belut berkepala hitam).

Percaturan politik

Moeldoko belum optimal mengkonversi kehebatannya di bidang militer dan pemerintahan ke dalam bidang percaturan politik kepartaian. Bagaimanapun pengalaman itu sangat penting bahkan menentukan. Dia termasuk jenderal yang tidak dibesarkan dalam iklim Dwifungsi ABRI. Para jenderal dulu sangat hebat dalam percaturan politik karena sejak kuliah di AMN sudah belajar politik. Mereka terlibat dalam pergulatan politik sehari-hari.

Terlihat dari langkahnya yang grusa-grusu dalam merebut kursi Ketua Umum Partai Demokrat. Mungkin terlalu percaya diri. Mungkin ada kekuatan bayangan, invisible hand yang menyangganya sehingga dia sangat yakin. Padahal, yang namanya di Indonesia ini ada tradisi politik rog-rog asem. Orang lain dimainkan untuk menggoyang pohonnya, sementara dirinya yang memunguti asamnya yang jatuh.

Kalau saja yang dihadapi hanya AHY, mungkin tidak terlalu sulit. AHY memang anak muda potensial. Tapi di kancah politik dia itu masih ingusan. Ibarat nginang (makan sirih) belum merah. Ibarat hujan-hujan belum basah. Kalau dalam tradisi politik ABRI dulu, purnawirawan mayor itu jabatan teritorialnya Kasdim. Jika di fungsi politik, jabatanya staf Kakansospol. Karena jabatan Kakansospol biasanya mantan Dandim.

Masalahnya di belakang AHY itu SBY. Partai Demokrat itu ya SBY. SBY ya Demokrat. Keduanya tidak bisa dipisahkan layaknya garam dengan asinnya. Jika asin bukan garam, itu bisa saja upil.

SBY itu jenderal politik terhebat setelah Pak Harto. Enam tahun lengser dari kursi presiden tidak membuat dirinya pikun. Kelihatanya memang melo, apalagi ketika Bu Ani wafat, tapi melonya dia itu seperti pohon cemara. Lentur dan kokoh. Hubungan dengan patron lamanya masih kuat. Apalagi namanya juga baik di mata rakyat.

Langkah Moeldoko dianggap oleh SBY sudah nyolok mata ngilani dada (menculek mata dan memegang dada). Amat sangat berhaya sekali. Maka SBY bergerak sangat cepat. Dia ibarat macan yang harus melindungi nyawanya, anak-anaknya, sarangnya dan habitatnya.

Dia tidak mau bernasib seperti Gus Dur yang disingkirkan secara kejam dari rumahnya sendiri. Tidak mau seperti Ical yang dilengserkan secara menyakitkan. Tidak mau seperti Tommy Soeharto yang dikudeta dari partai yang didirikannya. Tidak mau seperti Amien Rais yang dilepas dari jantungnya sendiri.

Politik dinasti

Menurut “ilmu titenologi”, jika SBY sudah cancut taliwondo (berjibaku) sendiri memang masalahnya sebanding dengan kapasitasnya. Sebagai tentara dia sangat mafhum, tidak akan membunuh garangan dengan granat.

Bisa jadi SBY melihat ada kekuatan dahsyat yang tidak terlihat mata di belakang Moeldoko. Sasarannya bukan sekadar AHY lengser, tapi ada motif yang jauh lebih besar. Misalnya penghancuran martabat dirinya. Politik balas dendam. Bisa juga ada drama besar bagian dari pandemi politik Indonesia yang puncaknya diperkirkan terjadi tahun 2024.

Mengapa 2024? Itu momentum lahirnya era baru. Para politisi tua ingin melanggengkan dinastinya. Saat ini tanda-tanda merebaknya politik dinasti semakin kuat. Untuk itu sibuk mencarikan kendaraan dan gizi anak-anaknya. Mungkin juga ada orang tua yang masih ingin berkuasa karena memang kekuasaan itu manis layaknya mengulum permen. Generasi baru juga akan merebut panggung sejarah.

Sekadar urun rembuk kepada Moeldoko – yang saya pernah shalat di masjid yang dia bangun di Mojokerto – jika mau ikut berkompetisi di panggung sejarah 2024, harus berani mereview langkah-langkahnya. Eman-eman jika layu sebelum berkembang.

Rabbi a’lam (Tuhan lebih tahu)

Anwar Hudijono, Kolumnis tinggal di Sidoarjo.
8 Maret 2021