Hanya di Kota Malang, Potensi Pertarungan 4 Walikota di Pilkada 2024

Dito Arief Nurakhmadi. (istimewa)

Oleh: Dito Arief Nurakhmadi, S.AP, M.AP

Pendaftaran Calon Kepala Daerah memang masih 27 Agustus mendatang, namun melihat cairnya dinamika politik di Kota Malang dan sikap saling menunggu diantara kandidat dan Partai Politik, membuat publik pun bertanya-tanya. Dari sekian banyak gambar Calon Kepala Daerah yang terpampang di jalan dan area publik, mengapa rekomendasi Partai tidak kunjung turun ke nama-nama tersebut. Begitupula dari nama-nama yang mendaftar di sejumlah Partai Politik, mengapa kemudian banyak diantaranya hilang begitu saja tidak terdengar kelanjutannya.

Memasuki Juli 2024 hilal tampaknya mulai terlihat, seiring kepulangan Abah Anton dari tanah suci, pendukung dan partai politik yang menggadang-gadang dirinya untuk maju kembali mulai mempertegas kejelasan status hukum Abah Anton terkait jeda bagi terpidana korupsi, apakah Abah Anton bisa benar-benar maju atau tidak dalam Pilkada 2024 mendatang. Tidak hanya pendukungnya saya kira, kepastian itu juga ditunggu oleh kandidat dan Partai Politik yang bersiap menjadi penantangnya.

Kabar Pj Wali Kota Wahyu Hidayat yang akan diusung Partai Gerindra juga menjadi perkembangan menarik, bahkan Baner berwajah Pj Walikota dengan Tagline Pak Mbois nya juga sudah massif menghiasi Kota Malang di awal Juli ini. Sebagai birokrat Asli Malang, Wahyu Hidayat belakangan menjadi Rising Star dengan kepemimpinan yang energik selama 1 tahun menjabat Pj Walikota Malang. Tak heran namanya menjadi opsi menarik lain bagi beberapa Partai Politik bilamana Abah Anton gagal mendapatkan “Tafsir MK” terkait status hukumnya untuk bisa melaju di Pilkada Kota Malang 2024.

Bila melihat hasil survei, Partai Politik yang memiliki kader jagoannya realistis hanya berani memasang target N2 (Calon Wakil Walikota) untuk mendampingi Abah Anton maupun Wahyu Hidayat. Maka nama – nama seperti Kresna Dewanata Phrosakh, Ahmad Fuad Rahman, Ahmad Wanedi, Amithya, Sofyan Edi Jarwoko, hingga Ardantya Syahreza yang kemudian logis masuk dalam bursa pendamping bagi Abah Anton maupun Wahyu Hidayat.

Publik juga menanti keberanian Mantan Walikota Sutiaji untuk maju kembali di periode keduanya. Walikota Sutiaji ini memang agak lain, ketika banyak kepala daerah kebanyakan ingin melanjutkan periode keduanya, kali ini Sutiaji tampak kurang percaya diri untuk bertarung dengan Abah Anton di Pilkada 2024. Isu maju sebagai Calon Gubernur Jawa Timur tempo hari saya kira hanya Exit Door saja mengingat hasil survei dan kepuasan Masyarakat Kota Malang terhadap dirinya pun juga tidak menggembirakan. Namun tentunya potensi Sutiaji untuk maju kembali tetap terbuka, dengan dinamika politik yang masih cair dan belum ada satupun Partai Politik yang menurunkan rekom. Apalagi kalau pada akhirnya Abah Anton terganjal tidak dapat melaju, penulis meyakini Sutiaji akan menjadi salah satu orang yang bergembira mendengar kabar tersebut.

Partai pemenang Pemilu di Kota Malang, PDIP sebagai satu-satunya Partai Politik yang bisa mengusung sendiri pasangan calon di Pilkada Kota Malang saya kira bisa menjadi pembeda. Bukan tidak mungkin tiba – tiba PDIP menurunkan Mantan Walikota Batu Dewanti Rumpoko untuk bertarung di Pilkada Kota Malang. Meskipun saat ini Dewanti telah terpilih sebagai anggota DPRD Jawa Timur pada Pemilu Legislatif 2024 kemarin, penugasan Partai untuk memerintahkannya bertarung di Kota Malang yang notabene merupakan tempatnya meniti karier politik sangat terbuka. Kesediaan untuk menerima perintah Partai termasuk melepas jabatan anggota DPRD Provinsi Jatim terpilih yang sudah siap diemban tentunya merupakan pengorbanan yang luar biasa bila itu terjadi.

Kejutan lain yang mungkin terjadi adalah apabila Partai Golkar berani mengusung sendiri kader terbaiknya Sofyan Edi Jarwoko sebagai Calon Walikota Malang. Mantan Wakil Walikota Malang periode 2018-2023 ini memiliki potensi yang kuat untuk maju sebagai Walikota, apalagi sebagai Ketua Partai yang memiliki 6 kursi di DPRD Kota Malang, tinggal berkoalisi dengan salah satu Partai untuk menggenapi minimal 9 kursi untuk dapat mengusung pasangan calon di Pilkada Kota Malang 2024. Namun Langkah strategis lainnya bisa juga dengan kembali mengincar posisi N2, untuk berpasangan dengan dua kandidat terkuat Abah Anton atau Wahyu Hidayat, atau bahkan kembali CLBK dengan bergandengan kembali bersama Sutiaji di Pilkada 2024.

Membuka kembali laporan hasil survei Lembaga Survei Indonesia (LSI Lembaga) yang dirilis pada awal Juni 2024 dengan 400 responden dan margin of error +- 5 %, elektabilitas Mochamad Anton memang jauh unggul meninggalkan nama – nama lainnya dengan tingkat keterpilihan mencapai 41,2%, bahkan peringkat kedua, ketiga dan keempat dibawah Abah Anton berselisih jauh hingga 30% dibawahnya. Faktor popularitas menjadi sangat penting, elektabilitas Mohammad Anton yang tinggi dibarengi dengan tingkat popularitas yang mencapai 85,3%. Sedangkan Sutiaji yang popularitasnya juga tinggi sebesar 81,8 % tidak berbanding lurus dengan tingkat elektoralnya yang hanya dibawah 10%.

Selain Dewanti Rumpoko yang pengenalannya sudah mencapai diatas 60%, nama – nama potensial lain seperti Wahyu Hidayat dan Sofyan Edi Jarwoko masih memiliki tingkat pengenalan yang belum maksimal dibawah 40%, sehingga tiga nama tersebut masih sangat berpeluang untuk meningkatkan elektabilitasnya dengan meningkatkan pengenalannya terlebih dahulu secara maksimal. Apalagi masih ada waktu kurang lebih 2 bulan menjelang pendaftaran, dan 3 bulan masa kampanye untuk memaksimalkan kerja-kerja electoral mengejar ketertinggalan dan meraih kemenangan.

Akan menjadi Battle of Revenge sekaligus Battle of The Mayors apabila nantinya benar terjadi rekom Partai pengusung turun ke nama – nama tersebut. Mungkin hanya terjadi di Kota Malang saja Pilkada yang diikuti oleh 3 – 4 mantan Walikota, yaitu Mohammad Anton Walikota Malang 2013-2018, Sutiaji Walikota Malang 2018-2023, Dewanti Rumpoko Walikota Batu 2017-2022 dan Wahyu Hidayat Pj Walikota Malang 2023-2024, serta tidak menutup kemungkinan ditambah Sofyan Edi Jarwoko Wakil Walikota Malang 2018-2023.
Menarik untuk ditunggu.

Penulis: Founder Semart Politica & Kandidat Doktor Sekolah Pasca Sarjana UB