Erick Thohir, Pembangunan Infrastruktur di Probolinggo Dinilai Banyak Memberi Manfaat

Erick Thohir. (istimewa)

MALANGVOICE – Probolinggo yang berbatasan dengan Selat Madura dan merupakan kota terbesar nomor empat di Jawa Timur, praktis membutuhkan
infrastruktur transportasi, baik darat dan laut untuk mengembangkan perekonomian. Oleh karenanya, peresmian jalan Tol Probolinggo-Pasuruan, serta pengembangan kawasan pelabuhan Probolinggo
sebagai pintu ekspor Jawa Timur merupakan upaya pemerintah agar denyut perekonomian di Indonesia bagian timur semakin kencang.

Hal itu dinyatakan Erick Thohir, Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Capres-Cawapres, Joko Widodo-Ma’ruf Amin, di Probolinggo, Jatim, Rabu (10/4). Pengusaha nasional yang ikut menyaksikan peresmian jalan tol sepanjang 40 km tersebut oleh Presiden Jokowi itu menambahkan, pembangunan infrastruktur seperti jalan tol atau pelabuhan akan meningkatkan aktivitas ekonomi yang merupakan fondasi bagi kemajuan
Indonesia di masa mendatang.

“Dengan adanya jalan Tol Probolinggo-Pasuruan, jarak tempuh menjadi lebih cepat, 30 menit sehingga mobilitas barang, jasa, dan penduduk
akan meningkat. Lalu kota yang berada di wilayah Tapal Kuda, Jatim ini, dengan pengembangan pelabuhan Probolinggo akan menjadi jalur utama pantai utara yang menghubungkan Pulau Jawa dengan Bali yang
masih merupakan destinasi wisata utama. Infrastruktur transportasi yang terintegrasi ini, dalam kacamata saya sebagai pengusaha, sangat
luar biasa,” jelas Erick.

Ia menambahkan, meski di awal pembangunan infrastruktur pemerintah mendanainya melalui APBN, namun dampak yang diharapkan akan menarik
dan juga memperkuat kepercayaan investor untuk menanamkan modalnya di berbagai sektor yang bisa dikembangkan di Probolinggo seperti perkebunan, pertanian, hingga pariwisata.

“Inilah kesempatan bagi wirausahawan lokal, terutama di sektor perkebunan modern dan pariwisata untuk mengambil kesempatan. Dan saya
menilai, pemerintahan Jokowi sudah mendukung kesiapan sumber daya manusia di Probolinggo dan daerah lainnya melalui penguatan Balai
Latihan Kerja (BLK) di Probolinggo, untuk pembaruan kejuruan dan materi training serta sertifikasi bagi calon pekerja. Atau Kartu Pra-Kerja yang punya tujuan sama, serta pemberian modal usaha,” tambah Erick.

Selain itu, Erick mengharapkan agar generasi muda Probolinggo ikut mengambil peran dalam membangun Indonesia yang lebih maju. Berkembangnya ekonomi kreatif di berbagai sektor harus benar dimanfaatkan untuk menjadi industri yang bermanfaat bagi banyak orang. Terlebih, dukungan untuk menuju industri 4.0 saat ini sudah semakin memadai.

“Banyak sekali peluang industri kreatif yang didomonasi anak muda. Baik itu kuliner, wisata, atau lainnya. Saya senang di Probolinggo, sejak lama sudah ada bisnis pengolahan sampah kota yang mencapai 50
ton setiap harinya. Hal seperti itu yang harus ditiru dan diperbanyak karena dukungan infrastruktur untuk memudahkan kegiatan usaha semakin
banyak,” ucapnya. (Der/Ulm)

Mengenang Rudi Satrio Lelono (Sam Idur): Pendidik, Seniman Serba Bisa Yang Bersahaja

Oleh : SUGENG WINARNO

Rudi Satrio Lelono atau biasa disapa Sam Idur telah berpulang. Kabar yang menyebar lewat WhatsApp, Twitter, Instagram, dan Facebook Jum’at sore itu bikin kaget banyak orang. Banyak yang tak percaya Sam Idur begitu cepat meninggalkan kita semua. Tak pernah terdengar keluhan sakit serius dari seniman dan dosen nyentrik asli Malang ini.

Komunitas seniman, Aremania, jurnalis, pendidik, dan beragam kelompok pegiat seni budaya Malang Raya sangat kehilangan. Saya dan sejumlah teman di kampus Universitas Muhammadiyah Malang juga begitu kehilangan sosok pendidik yang sangat bersahaja ini. Orangnya low profile, sederhana, dan suka berbagi ilmu dengan sesama. Sam Idur adalah sosok yang menyenangkan, enak diajak ngobrol, dan punya sense of humor yang tinggi.

Sam Idur dikenal sebagai sosok yang bicaranya ceplas ceplos, jujur, dan terbuka. Ide-de dan gagasannya sering di luar kewajaran (out of the box), yang bikin saya dan beberapa teman dosen kagum. Ide-ide brilliant sering muncul dari buah pikir Sam Idur. Beliau secara formal memang hanya mengenyam pendidikan S1, namun dalam banyak hal, beliau setara dengan para doktor bahkan profesor.

Pada Jum’at (22/3/2019) malam itu semua berkumpul di rumah duka. Hujan gerimis yang tak henti semalaman seakan jadi pertanda bahwa alam juga turut menangis atas kepergian Sam Idur. Sejumlah seniman, Aremania, wartawan, mahasiswa, dosen, dan semua kolega, berkumpul mendo’akan kepergian Sam Idur untuk selama-lamanya. Walikota Malang, Setiaji juga tampak diantara para pentakziah malam itu.

Tak berlebihan kalau menempatkan Sam Idur sebagai salah satu seniman Kota Malang. Beberapa even seni dan budaya besar Kota Malang tak bisa dilepaskan dari ide, gagasan, dan kerja nyata Sam Idur. Even Malang Tempoe Duloe (MTD) misalnya. Sam Idur adalah salah satu orang dibalik layar MTD Kota Malang yang digelar rutin itu.

Beberapa minggu sebelum kepergiannya, Sam Idur dan sejumlah seniman Kota Malang bertemu Walikota dan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (disbudpar) untuk urusan kebudayaan. Melalui pesan WA, Sam Idur mengabarkan pada saya bahwa dirinya dan sejumlah seniman sedang audiensi dengan Walikota untuk pengukuhan Komite Kebudayaan Kota Malang (K3M).

Sam Idur dan beberapa rekan berkeinginan mengembangkan dan melestarikan kebudayaan khas Malang dari segala aspek. Sam Idur juga sangat peduli pada perkembangan seni musik Kota Malang. Sam Idur sepertinya tidak rela kalau Malang sebagai kota lahirnya para seniman musik tanah air akan tenggelam. Sam Idur ingin kiblat musik, terutama musik bergenre rock agar tetap dipegang Kota Malang.

Beberapa media massa Kota Malang juga sangat kehilangan Sam Idur. Sam Idur sangat lama berada di balik layar Radio KDS 8, Malang TV, dan sejumlah media elektronik lokal Malang. Hingga akhir hayatnya, Sam Idur juga masih tercatat sebagai salah satu Manajer Kreatif media online, Malang Voice. Saya adalah salah satu pembaca setia “Paitun Guldul” yang biasa ditulis Sam Idur di Malang Voice.

Melalui Paitun Gundul, saya sering tersenyum dan tertawa membaca tulisan Sam Idur. Tak jarang kalau ketemu saat mau ngajar, saya membincangkan Paitun Gundul. Bahkan sering ide tulisan muncul berawal dari guyunan kami di sofa ruang dosen lantai 6 itu. Rasa humor Sam Idur sangat tinggi, itu salah satu kemampuan beliau hingga semua persoalan bisa dibawa dengan lebih santai.

Sering smartphone saya bunyi cling, setelah saya cek ternyata kiriman WA Sam Idur yang berisi tautan (link) beberapa berita yang dimuat di Malang Voice. Tak jarang pula berita itu menjadi bahan diskusi kami, mulai dari konten beritanya, teknik menuliskannya, dan beragam hal terkait praktik jurnalisme. Sam Idur sering meminta saya untuk menilai berita di Malang Voice.

Beliau ingin memastikan berita Malang Voive tidak ngawur. Seperti yang beliau sering sampaikan tagline Malang Voive itu “Asli Gak Ngawur!”. Apa yang dilakukan Sam Idur untuk Malang Voive memang luar biasa. Beliau mau terus belajar dan sharing dengan sesama dosen dan mahasiswa dengan sangat terbuka. Sifat suka memberi ilmu dan semangat belajar beliau juga sangat tinggi. Beliau adalah sosok teman belajar dan mengajar yang menyenangkan.

Bagi Arema FC, kehadiran Sam Idur berkontribusi cukup berarti. Logo Arema FC adalah salah satu bukti karya Sam Idur untuk tim berjuluk Singo Edan itu. Sam Idur telah memberi makna dan filosofis yang dalam pada logo Arema FC. Logo Arema FC dibuat Sam Idur bukan sekedar untuk identitas club, namun lebih dalam, logo itu adalah do’a untuk keberhasilan Arema dan masyarakat Malang.

Sam Idur juga menulis lirik lagu untuk Arema Voice. Lagu bertajuk “Singa Bola” adalah karya Sam Idur. Lagu itu hingga sekarang masih menjadi lagu andalan yang selalu diputar saat Arema berlaga di stadion Kanjuruhan. Lagu ciptaan Sam Idur itu telah menjadi suntikan spirit untuk para pemain Arema yang sedang bertanding dan bagi Aremania dalam bersemangat mendukung tim kebanggaan warga Malang Raya itu.

Walau nyentrik, Sam Idur sebenarnya sosok yang religius. Hampir tiap hari beliau mengungah hadist-hadist di laman Facebook-nya. Kisah-kisah bijak Dakwah yang disampaikan Sam Idur mendapat respon yang positip dari pertemanan beliau di Facebook. Sam Idur memang bukan kiai, tapi materi dan model dakwah yang dijalankan efeknya cukup kuat mengajak umat dalam kebajikan.

Sam Idur yang lahir 14 Juli 1963 di Bareng, Kota Malang itu kini telah berpulang. Sepertinya gambar profil yang saya lihat di WA beliau itu sebagai pertanda. Di profile picture WA beliau ada gambar Sam Idur saat kecil dan foto beliau sekarang, ada tulisan 201963, yang saya maknai 2019 dari 1963. Bagi saya itu seperti firasat kepergian beliau. Dalam usia 56 tahun, Sam Idur berpulang, meninggalkan satu istri dan dua anak.

Sosok pendidik dan seniman serba bisa itu mewariskan sejumlah karya untuk kita kenang, lestarikan, dan teruskan. Tulisan ini hanya secuil dari kesaksian saya tentang Sam Idur. Tentu masih banyak kiprah baik Sam Idur yang tidak saya ketahui. Saya yakin siapapun teman, sahabat, kolega yang mengenal Sam Idur mengakui beliau adalah orang yang baik.

Semoga segala kebaikan yang ditanam Sam Idur selama hidup bisa menghantarkannya memanen kemuliaan di surga. Selamat Jalan Sam Idur.

(*) SUGENG WINARNO, Dosen Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Muhammadiyah Malang

Selamat Jalan Sam Idur!

Rudy Satrio Lelono.

MALANGVOICE – “Yang Perkasa Garang Menantang
Dialah sang Juara
Singa-singa Lari menerjang
Menggapai kemenangan
Kita semua.. Arek-Arek Malang
Jantan dan ksatria
Kita semua.. Arek-Arek Malang
Singa-singa bola…”

Penggalan lirik lagu itu mungkin tak asing bagi warga Malang. Ya, lagu berjudul ‘Singa Bola’ ini bahkan jadi lagu andalan yang selalu diputar saat tim Arema bertanding di Stadion Kanjuruhan. Lagu ini bisa jadi sebagai penyemangat skuat Singo Edan sebelum bertanding menghadapi siapapun lawannya.

Lirik lagu itu ditulis Rudy Satrio Lelono yang dinyanyikan Arema Voice pada sekitar 1990 silam. Rudy biasa dipanggil Sam Idur adalah sosok penting dibalik pembuatan lagu itu serta band Arema Voice sendiri.

Lahir pada 14 Juli 1963 silam di Bareng, Kota Malang, Sam Idur menjadi dalang pendirian Arema Voice. Diceritakan vokalis Arema Voice, Wahyoe GV, Sam Idur membuat lagu itu karena kecintaannya dengan Arema, tim kebanggaan Arek Malang.

“Album pertama Arema Voice itu kebanyakan karya Sam Idur. Termasuk Tegar, dan masih banyak lagi karya beliau,” katanya.

Kecintaan pada Arema tak hanya itu saja, bapak dua anak ini juga berperan dibalik pembuatan logo Arema FC, mulai dari era Galatama dan sekarang yang dikenal dengan logo singa mengepal. Logo ini bukan sekadar logo, ada makna dan filosofis di dalamnya.

Sam Idur pernah bercerita, logo itu dibuat dengan perhitungan matang dan makna tersendiri. Ia menceritakan, warna biru tua pada logo Arema FC yang digunakan sekarang ini menggambarkan sifat jiwa yang mantap, tenang dan bijak oleh pengalaman.

Warna merah bisa diartikan sebagai pemberani, pantang menyerah, dan semangat yang tak pernah padam untuk terus berjuang dan menyalakan semangat hidup.

Warna putih diartikan sebagai niat baik, sportif, menjunjung kebenaran dan visi yang tak ternoda.

Sedangkan gambar singa berdiri dengan mulut siap menerkam dan mengepalkan kaki ke depan ini, kata Sam Idur berarti siap menghadapi segala tantangan, fight, tegas dan selalu bangkit dari keterpurukan.

Selain itu ada tiga lingkaran yang menunjukkan elemen. Lingkaran putih berarti manajemen dan tim yang solid, lingkaran merah berarti keberanian, semangat, tekad bulat dan daya juang yang kokoh. Sedangkan lingkaran digambarkan sebagai masyarakat dan Aremania yang selalu mendukung, peduli, menjaga, dan menjunjung kebersamaan sejati. Tak hanya itu, Sam Idur juga memperhitungkan angka yang ada pada logo.

Logo pertama, kata Sam Idur, dibuat sekitar tahun 1987-1989. Saat itu, ia menggambar menggunakan pensil dan spidol. Baru setelah itu diretouch menggunakan komputer. Bahkan, dikatakannya Lucky Acub Zaenal ikut membantu menggarisi bulu singa tersebut.

Selain karyanya bersama Arema, orang yang mempunyai senyum khas ini juga dikenal sebagai pria dengan segala kreativitasnya.

Pada tahun 1980-an, Sam Idur berkarya di radio KDS 8. Di sana, ia membuat cerita yang sempat melegenda dan disukai banyak orang.

Sam Idur, seperti yang diceritakan Prof Dr Djoko Saryono, sahabat yang sudah 40 tahun mengenal sosok Rudy Satrio Lelono ini memang dikenal memiliki banyak kemampuan. Segala macam seni bahkan.

Di bidang film, di akhir 1980, Sam Idur pernah terlibat pembuatan film serial di TVRI bersama Dedi Setiadi, maestro film waktu itu. Prof Djoko Saryono menceritakan, ide yang dimunculkan Sam Idur tentang anak difabel mencari sekolah. Kira-kira sudah tayang 50 episode dan kebanyakan mengambil lokasi syuting di Malang. Ya, Sam Idur waktu sebagai Asisten Sutradara Dedi Setiadi.

“Dia melakukan apapun selalu bahagia dan gembira. Dia bagi saya adalah budayawan organik, artinya selalu menjadi bagian apa yang dia perjuangkan,” kata Prof Dr Djoko Saryono.

Sam Idur kecil dahulu merupakan siswa di SD dan SMP Madiwiyata, kemudian meneruskan pendidikan di SMA 3 Malang dan kuliah S1 di Sastra Universitas Negeri Malang (UM) angkatan 1982. Waktu kecil, salah satu guru Sam Idur adalah Daldjono. Tak ayal, Sam Idur ketika dewasa paham betul bagaimana membaca not balok dan musik secara keseluruhan.

Sam Idur bersama Prof Dr Djoko Saryono dan Fajar Murwantoro, pernah bekerja bersama membuat tabloid digital di tahun 1999-2000. Tabloid itu mereka beri nama Malangvoice yang waktu itu berkantor di Jalan Banten. Meski tak bertahan lama, tabloid itu sempat jadi jujukan pembaca warga Malang. Isinya tentang perkembangan Malang Raya, isu sosial dan budaya.

Di pertengahan 2015, Sam Idur kembali muncul dan termasuk salah satu pendiri media online Malangvoice. Bisa ditebak, pemilih nama Malangvoice adalah Sam Idur sendiri sekaligus tagline Asli Gak Ngawur!. Sam Idur menjadi otak, nyawa, dan spirit Malangvoice hingga sekarang. Ia juga bisa dikatakan menjadi bapak bagi seluruh karyawan Malangvoice yang selalu membimbing dan memberi arahan.

Salah satu karyanya di Malangvoice adalah Paitun Gundul. Di rubrik itu, Sam Idur menuliskan cerita tentang Paitun Gundul dengan ciri khas menggunakan bahasa Malang, walikan. Setiap cerita, Sam Idur mengkritisi kebijakan pemerintah yang dinilai kurang tepat atau tidak pro rakyat.

Tulisan Sam Idur itu menjadi andalan dan sangat ditunggu pembaca. Ringan dan menggelitik. Tulisan itu juga jadi rujukan bagaimana menggunakan bahasa walikan dengan benar.

Selain di media online Malangvoice, Sam Idur juga aktif mengajar di UMM sebagai dosen Prodi Ilmu Komunikasi (Ilkom) Fisip. Sebelumnya ia juga pernah mengajar di Polinema.

Salah satu sahabatnya, Abel Purmono, menceritakan kisah saat keduanya ditawari melanjutkan study S2 di UMM. Namun, rencana itu belum terealisasi karena belum mencukupi kuota. Dari lima orang, hanya Sam Idur, Abel dan rekannya lagi Panjul Arfan yang sudah pasti, sehingga masih menunggu dua orang lain. “Rencananya sekolah S2 dilanjutkan Mei nanti,” kata Abel.

Perjuangan Sam Idur baru-baru ini adalah membentuk Dewan Kebudayaan Malang. Ia menjadi ketua tim formatur DKM. Hingga akhirnya Komite Kebudayaan Kota Malang (K3M) terbentuk dan akan dilantik akhir Maret ini.

Ketua Terpilih dan Pengurus K3M bersama Wali Kota Malang Sutiaji usai audiensi di Balai Kota Malang, Senin (11/3). (Dok. MVoice)

Di kehidupan pribadi, Sam Idur yang menikahi Endah Sri Sunarti ini dikaruniai dua anak. Anak pertama diberi nama Kharisma Tegar Vidiarga (25) dan anak kedua Vania vidiarista (20). Keluarga bahagia itu tinggal di Perum Pondok Sukun Indah.

Bagi Kharisma Tegar, Sam Idur adalah sosok ayah yang sempurna. Selain setia kepada istri, menyayangi keluarga, Sam Idur dinilai mempunyai pendirian teguh, prinsip yang jelas dan tegas.

“Beliau selalu mengajarkan banyak hal. Sangat kreatif dan supel kepada orang,” katanya.

Namun, pada Jumat (22/3) sekitar pukul 17.10 WIB, kabar buruk datang dari ruang ICU RS Soepraoen Malang. Sam Idur yang baru sehari dirawat di sana menghembuskan napas terakhir. Ia dinyatakan meninggal dunia karena sakit. Jenazahnya sempat disemayamkan di rumah duka dan dimakamkan pada Sabtu (23/3) pagi tadi di pemakaman Sukun.

Sejak Jumat malam, para pelayat satu persatu datang ke rumah Sam Idur. Seakan memberi doa dan perpisahan terakhir bagi sang budayawan organik. Begitu cepat kepergiannya, tapi umur siapa yang tahu kecuali Tuhan.

Malang berduka, Malang kehilangan sosok kreatif yang sangat berpengaruh. Paitun Gundul kehilangan penulisnya. Keluarga juga kehilangan sosok penuh tanggung jawab dan setia.

Selamat jalan Sam Idur, semoga tenang engkau di sana. Karyamu akan selalu kami kenang. Terima kasih, Rudy Satrio Lelono.(Der/Aka)

Harvi Benzjawa Rilis Single Baru ‘Tombo Kangen’ Beraliran Java Pop Romantic

Harvi Benzjawa. (istimewa)

MALANGVOICE – Penyanyi asal Malang, Harvi Prasetyo atau biasa dikenal Harvi Benzjawa merilis single baru tahun ini. Satu lagu itu berjudul ‘Tombo Kangen’.

Lagu beraliran jawa pop romantic ini menceritakan tentang kerinduannya tentang kekasih. Harvi mengatakan, lagu ini dibuat sesuai dengan cerita dua sejoli sehari-hari. Lirik lagu sendiri diciptakan Donny Ara pada awal 2019.

“Single pertama ini memang konsep lagunya berbeda dari yang lain. Meskipun berbahasa Jawa, unsur romantik dan melankolis, menjadi warna musiknya,” kata Harvi.

Pria yang pernah menjadi jurnalis ini mengawali karier di dunia musik sudah lama. Awalnya, ia bersama rekan-rekannya aktif di band hingga bersolo karier.

Ia memantapkan mengusung genre Jawa pop romantic ini bukan tanpa alasan. “Karena unik dan bisa diterima di Jawa khususnya,” lanjutnya.

Lagu Tombo Kangen ini sudah bisa didengarkan di platform musik digital, seperti Joox, Spotify, iTunes dan banyak lain. Ia berharap, lagunya bisa diterima masyarakat luas.

“Mudah-mudahan bisa diterima pecinta musik Jawa di Indonesia. Kami optimistis karena animo selama promosi ini luar biasa,” ujarnya.

Untuk lagu lain, Harvi mengatakan segera akan dirilis. Antara lain Rabi Karo Kowe, Sewu Siji, Opo Onone, Atiku Seneng. (Der/Ulm)

VIDEO: Sang Maestro Payung Kertas Asal Kota Malang

MALANGVOICE – Rasimun (94) atau bisa dipanggil mbah Rasimun adalah sang maestro payung kertas yang berasal dari Kota Malang.

Dari hasil karyanya, dia pernah mendapatakan penghargaan dari Sri Paduka Mangkunagoro IX Kasunanan Surakarta dan Mataya.

Rasimun beralamat di Jalan Laksamana Adi Sucipto Gang Taruna 3 Kelurahan Pandanwangi, Kecamatan Blimbing, Kota Malang ini sudah Membuat payung kertas dari tahun 1945 saat Indonesia merdeka.

Dia juga bisa membuat bermacam macam payung mulai dari ukuran yang kecil hingga besar sekalipun. Harga dari hasil karya pembuatan payung kertas kini mulai Rp 25 ribu hingga jutaan rupiah dan karyanya sekarang sudah meluncur sampai Jepang, Prancis, Thailand dan beberapa negara lainya.(Der/Aka)

VIDEO: Rock City Vacation, Ajang Silaturahmi Seniman Street Art Graffiti se-Indonesia di Kota Batu

MALANGVOICE – Seniman Street Art Graffiti Kota Batu mengadakan acara menggambar bersama di Jalan Wukir, Kelurahan Temas, Kota Batu. Acara ini diberi nama Rock City Vacation.

Acara ini diadakan setiap tahun sekali. Tidak hanya seniman street art dari Kota Batu saja, seniman dari kota lain pun ikut acara tersebut, seperti Kota Surabaya, Gresik, Solo, dan Yogyakarta.

Tujuan diadakan acara ini yakni untuk mempererat tali persaudaraan antara seniman Graffiti se Indonesia atau bisa disebut juga reuni.(Der/Aka)

VIDEO: Dari Hobi, Karya Seni Lukis Jadi Bisnis Menggiurkan

MALANGVOICE – Berawal dari hobi seni lukis, Dyah Rahmalita mengembangkan hobinya.

Setelah dari media kanvas, dia belajar melukis dengan media kaca atau bisa disebut dengan glass painting. Seni melukis dikaca ini dikenalkan oleh temannya dari Rumania dan mulai ditekuni Rita dari tahun 2007 hingga sekarang.

Lita Art, adalah workshop sekaligus toko di mana karya-karya hasil Lita dijual. Toko sekaligus rumah Lita ini beralamat di Jalan Kawi Selatan No. 1 Kota Malang. Di sana menyediakan aneka rupa hiasan ruangan mulai dari hiasan piring lukis, cermin lukis, gelas lukis, dan lain sebagainya.

Sasaran Lita saat ini untuk kalangan menengah ke atas. Hal ini dikarenakan harga jual hasil karya Lita yang cukup tinggi dan pesanan yang ditarget adalah Jakarta bahkan sampai Malaysia, Brunei, hingga Hawai.(Der/Aka)

VIDEO: Depot Es Talun yang Tetap Bertahan Sejak 1950

MALANGVOICE – Di Kota Malang terkenal dengan beraneka ragam sajian kuliner. Mulai makanan ringan hingga berat gampang ditemui di setiap sudut kota.

Namun, dari banyaknya kuliner yang ada, ternyata Malang punya sajian legendaris yang bertahan mulai 1950, ya tempat itu adalah Depot Es Talun.

Meski digempur dengan kuliner modern, Depot Es Talun tetap bertahan dengan ciri khasnya.

Pendiri Depot Es Talun pertama bernama Om Loek. Namun sejak 1998 depot es ini berpindah ke Wiwik Kholifah yang merupakan ibunda Afni, pengelola sekarang.

Meski berpindah kepemilikan, tetapi lokasi dan resep es Depot Es Talun masih sama. Lokasinya berada di Jalan Arief Rahman Hakim Nomor 2, Malang.(Der/Aka)

Mengenang Tentara Sukarela Pembela Tanah Air (P­­eta)

Prajurit Peta sedang berlatih dengan bayonet terhunus (totsu geki).

MALANGVOICE – Memperhatikan sikap para pemimpin pemerintah pendudukan militer Jepang saat itu, para pemimpin Indonesia merumuskan gagasan-gagasan tentang pembentukan tentara nasional atau pasukan sukarela. Di saat Jepang mengerakkan pasukannya ke timur di wilayah Lautan Pasifik, ditengarai akan terjadi kekosongan pasukan dalam sistem pertahanan di wilayah Pulau Jawa dan Pulau Sumatra.

Mereka pun menyampaikan surat usulan kepada pemerintah pendudukan militer Jepang di Indonesia melalui Gatot Mangkupradja setelah mendapat persetujuan dari pemimpin golongan Islam (KH Mas Mansoer dkk.), golongan priyayi (Ki Ageng Suryo Mataram), seinenden (Mr. Soepangkat dan Sadarjoen), serta R. Soedirman. Moh. Hatta pun mengemukakan dukungannya dalam pidato di lapangan Ikada (3/11/1943).

Terkondisi oleh hal tersebut, Wakil Kepala Staf Umum Markas Besar Komando Kawasan Selatan Mayor Jenderal Inada Masazumi mengusulkan agar Jepang membentuk pasukan pribumi atau boei giyugun yang kemudian dikenal dengan Tentara Sukarela Pembela Tanah Air (Peta). Ini didasarkan pada pembentukan pasukan yang sudah berhasil seperti di Birma (Myanmar) dengan nama BIA (Burma Indipendence Army) yang dipimpin Aung San, dan di Malaya dikomandani Mohan Singh dengan nama INA (Indian National Army).

Pada Agustus 1944, perwira tamatan kursus kyoikutai Angkatan Pertama di tugaskan ke daidan-daidan bagian selatan Pulau Jawa. Angkatan Kedua disebar ke bagian utara Pulau Jawa, seperti Pekalongan, Cirebon, Banten, Semarang, Pati, Surabaya, dan Bojonegoro. Dilaksanakan juga pendidikan lainnya, seperti peralatan (heiki), keuangan (keiri), dan kesehatan (eisei). Selama Desember 1943 hingga Agustus 1944, pendidikan perwira Peta telah membentuk 55 daidan di Pulau Jawa. Daidan-daidan ini dibawah komando Panglima Tentara XVI Letnan Jenderal Harada Kumakichi. Komandan Pasukan (boetaicho) di Jawa Barat Mayor Jenderal Mabuchi Hayao, di Jawa Tengah Mayor Jenderal Nakamura Junji, di Jawa Timur Mayor Jenderal Iwabe Shigeo. Selanjutnya di bawahnya, komandan-komandan batalyon tentara regular Jepang (daitaicho).

Dalam perkembangannya, urusan tentara Peta diembankan kepada staf khusus Boei Giyugun Shidobu yang beranggotakan Kapten Yamazaki Hajime, tiga orang shodancho yaitu Kemal Idris, Daan Mogot, dan Zulkifli Lubis. Dari sipil, Ichiki Tatsuo, dan 3 orang Indonesia: Haji Agoes Salim, Sutan Perang Boestami, dan Otto Iskandardinata.

Di Karesidenan Malang, untuk membantu kelancaran fungsi Peta, para anggotanya diupayakan berasal dari berbagai golongan dari warga setempat. Perwira-perwira Peta yang menjadi komandan batalyon (daidancho) dipilih dari tokoh-tokoh setempat atau orang-orang terkemuka di daerah itu. Komandan kompi (chudancho) biasanya dipilih dari kalangan guru, komandan peleton (shodancho) diambil dari kalangan pelajar (SLTP/SLTA), serta komandan regu (budancho) direkrut dari pemuda-pemuda SD. Melalui tahapan proses pendidikan/ pelatihan, di Karesidenan terbentuk 5 daidan: Dai I Daidan Malang (Gondanglegi), Dai II Daidan Lumajang Pasirian, Dai III Daidan Lumajang, Dai IV Daidan Malang Kota, Dai V Daidan Probolinggo.

Dai I Daidan Malang (Gondanglegi)

Daidancho : Iskandar Soelaiman
Fukan : Soemarto (shodancho)
Eisei : dr. Ibnoe Mahoen (chudancho)
Keiri : Hendro Soewarno (shodancho)
Heiki : Soekardi (shodancho)
Sabar Sutopo (shodancho)

Dai I Chudan : Hamid Rusdi (chudancho)
Dai I Shodan : Ibnoe Soetopo (shodancho)
Dai II Shodan : Soediri Doemadi (shodancho)
Dai III Shodan : Abdoel Moekti (shodancho)

Dai I Chudan : Hamid Rusdi (chudancho)
Dai I Shodan : Ibnoe Soetopo (shodancho)
Dai II Shodan : Soediri Doemadi (shodancho)
Dai II Shodan : Soediri Doemadi (shodancho)

Dai II Chudan : Abdoel Manan (chudancho)
Dai I Shodan : Moeljono (shodancho)
Dai II Shodan : Soemeroe (shodancho)
Dai II Shodan : Soedarsono (shodancho)

Dai III Chudan : Harsono (chudancho)
Dai I Shodan : Moetakat Hoerip (shodancho)
Dai II Shodan : Ridwan Naim (shodancho)
Dai II Shodan : Soepardji (shodancho)

Dai IV Chudan : A. Masdoeki (chudancho)
Dai I Shodan : Singgih (shodancho)
Dai II Shodan : Umar Said (shodancho)
Dai II Shodan : Soepardji (shodancho)
Hombu Chudan : A. Masdoeki (chudancho)

Budancho: Soekarmen, Sarwono, Moenadji, Asnan Gozali, Soejoto, Bedjo, Soeprapto, Soeprantio, Koeswari, Rifai, Kasirin, Koesen, Achmad, Drajat, Slamet, G. Soentoro, Koesnadi, Soelaiman.

Dai IV Daidan Malang Kota

Daidancho : Imam Soedjai
Fukan : Soekardani (shodancho)
Eisei : dr. Muhamad Imam (chudancho)
Keiri : Achmad Soegiantoro (shodancho)
Heiki : Soehardi (shodancho)
Hifuku : Soesilo (shodancho)
Renraku gakari : Widjojo Soejono (shodancho)
Darsi gakari : Pandoe Soejono (shodancho)
Shudosi : Hariman (shodancho)
Honbu : Soebroto (shodancho)

Dai I Chudan : Sochifudin (chudancho)
Dai I Shodan : A. Manab Rasmosingo (shodancho)
Dai II Shodan : D. Soekardi (shodancho)
Dai III Shodan : Moh. Hidayat (shodancho)

Dai II Chudan : M. Mochlas Rowie (chudancho)
Dai I Shodan : A. Manab Rasmosingo (shodancho)
Dai II Shodan : D. Soekardi (shodancho)
Dai III Shodan : Moh. Hidayat (shodancho)

Dai III Chudan : Sulam Samsun (chudancho)
Dai I Shodan : Soejono (shodancho)
Dai II Shodan : Soekarjadi (shodancho)
Dai III Shodan : Soeprapto (shodancho)

Dai IV Chudan : Moch. Bakri (chudancho)
Dai I Shodan : Imam Hambali (shodancho)
Dai II Shodan : Aboe Amar (shodancho)
Dai III Shodan : Soebowo (shodancho)

Berlangsungnya proses pelaksanaan penyerahan kekuasaan dari Jepang kepada pihak Sekutu, dalam rapat gun-shireikan dibahas penjaminan keamananan Jepang di daerah wewenang Tentara Keenam Belas. Kesatuan-kesatuan seperti Peta dan Heiho dianggap berpoteni besar untuk bermasalah terutama dengan meletusnya pemberontakan Peta di Blitar. Pada 18 Agustus 1945 dikeluarkan perintah untuk membubarkan daidan-daidan Peta. Esok harinya, Panglima terakhir Tentara Keenam Belas di Jawa Letnan Jenderal Nagano Yuichiro menyampaikan pidato perpisahan kepada semua anggota Peta. Mereka diberi pesangon 6 bulan gaji serta pembagian bahan makanan dan bahan pakaian. (idur/Perjuangan Total Brigade IV pada Perang Kemerdekaan di Karesidenan Malang, 1997).

VIDEO: Kain Benang dan Tas Kresek Bisa Karya Menarik dan Menguntungkan

MALANGVOICE – Berawal dari hobi membuat berbagai barang dari kain benang, kini karya Boscha Rajut mulai dijadikan bisnis.

Tak hanya menggunakan kain benang saja, bahan yang digunakan bisa tas plastik.(Der/Aka)

Komunitas