Mbois! Pemuda Lulusan SMP di Malang Ubah Sedan Biasa Jadi Lamborghini

Replika Lamborgini yang dibuat Bayu (kiri), (dok Bayu to MALANGVOICE.com).

MALANGVOICE – Mahandika Bayu Aji (22) pemuda asal Kota Malang, menarik perhatian masyarakat. Pasalnya dia berhasil membuat replika Lamborghini.

Kepada MVoice, pemuda yang tiggal di Jalan Raya Candi 3 no 358, Karangbesuki, Kota Malang ini mengatakan pembuatan replika Lamborghini tersebut berawal dari keinginnanya memiliki mobil berjenis sports buatan Italia itu, namun terkendala harganya yang cukup mahal.

Lalu, dirinya memutuskan nekat membuat replika Lamborghini itu dari dasar hingga kini prosesnya sudah mencapai 85 persen.

“Awal mula itu dari keinginan sendiri, lihat pembuatan replika Lamborghini dari Bandung sama Jogja. Terus cari inspirasi sembari ngumpulin modal dan akhirnya nekat,” ujarnya saat ditemui Malangvoice.com.

Lamborghini replika buatan Bayu. (Istimewa)

Proses pembuatan replika Lamborghini dilakukan pemuda lulusan SMP itu seorang diri. Ia merombak sedan Mazda 323 mulai mesin, sasis hingga body mobil. Semua dilakukan dengan berbekal kemampuan yang dimiliki dari pengalaman kerja sebelumnya.

“Basic saya dulu ngelas, pernah juga di karoeseri morodadi, terus bikin-bikin pagar, body juga pernah di mebel hingga saat ini,” tuturnya.

Meski begitu, dalam pembuatan replika Lamborghini Bayu sempat mengalami beberapa kendala, salah satunya pada minimnya modal yang dimiliki, sehingga pengerjaanya dilakukan secara bertahap.

Lamborghini replika buatan Bayu. (Istimewa)

“Proses pengerjaan sampai saat ini kurang lebih sudah berjalan 10 bulan mulai 2020 dan mengerjakan itu jeda-jeda, jadi ngerjakan 1 bulan lalu 1,5 bulan libur dulu buat ngumpulin modal lagi,” kata dia.

Karena dalam pengerjaan replika Lamborghini itu dilakukan oleh Bayu tanpa dibantu siapapun, ketika ada pekerjaan yang perlu tenaga dua orang atau lebih juga menjadi kendala.

“Ngerjakan sendiri, jadi bingung kalau lagi angkat-angkat. Misalnya mau bayar temen juga kan meminimalisir modal. Jadi dikerjakan sendiri saja,” imbuhnya.

Sementara itu, Bayu menyampaikan untuk penyelesaian replika Lamborghini buatannya masih ada beberapa tahap, mulai dari pembuatan interior hingga kelistrikan.

“Total dari dasar hingga saat ini sudah keluar modal sampai Rp120 Juta. Tinggal interior sama kabel-kabel,” jelasnya.

Setelah keinginannya tercapai, Bayu merasa sangat puas, sebab dengan jerih payah yang sudah dicurahkan selama beberapa waktu ini, telah membuahkan hasil baik.

Ke depan, apabila proyek ini berhasil ia akan membuat workshop dan menerima pesanan modifikasi total mobil sport.

“Allhamdulilah Kerja keras yang sudah saya keluarkan telah berbuah baik, saya merasa sangat puas,” tandasnya.(der)

Ki Tulus, Bertahan Puluhan Tahun Lestarikan Kuda Lumping

Ki Tulus sedang menunjukkan tata cara membuat kerajinan Kuda Lumping, (MG2).

MALANGVOICE – Kuda Lumping merupakan budaya tradisi daerah yang saat ini sudah mulai jarang ditemui kembali, memahami hal itu tidak membuat Tulus Indrawan, yang kesehariannya sebagai perajin kuda lumping menyerah pada kesenian yang dicintainya ini.

Terbukti dari umurnya yang sudah menginjak 60 tahun, ia terus bergelut dengan kesenian Kuda Lumping atau akrab diketahui dengan nama jaranan.

“Saya ingin bisa terus meneruskan ini, melestarikan sampai anak cucu saya. Mewariskan budaya tradisi ini, jangan sampai meninggalkan budaya ini. Kalaupun ada orang lain yang mau belajar, pintu saya juga selalu terbuka,” ujar Ki Tulus sapaan akrabnya.

Awal mula muncul kecintaanya terhadap budaya kuda lumping itu sejak dia duduk di bangku Sekolah Dasar (SD). Saat dirinya mendapatkan pembelajaran dari orangtuanya yang memahami tentang seni kuda lumping itu sendiri. Dari situ muncul semangat tinggi untuk menggeluti seni kuda lumping.

Dia meyebutkan, dalam kuda lumping itu memiliki sentuhan rohani yang mampu menenangkan dan menyenangkan perasaan.

“Saya mulai tahun 1976 menggeluti ini, dulu saya diajari orang tua saya, warisan lah. Kuda lumping itu sebuah kesenian dan budaya Jawa yang sudah ada sejak jaman kerajaan. Sebelum kakek saya lahir pun sudah ada, makanya kita tinggal melestarikan saja,” tuturnya.

Untuk kuda lumping sendiri dikatakan sudah dikenal sejak zaman penjajahan Belanda, pada kala itu sering digunakan sebagai penghibur tamu agung.

Sementara itu, untuk produk kuda lumping yang di buat Ki Tulus sendiri sudah pernah dikirim ke beberapa daerah hingga luar negeri. Ia pun juga aktif melakukan pemasaran kuda lumping melalui online.

Sedangkan untuk pemesanan offline sendiri bisa datang ke ruko terdekat di Jalan Janti, Kelurahan Bandungrejosari, Kecamatan Sukun, Kota Malang.

“saya ada yang sampai Kalimantan, Sumatra, Sulawesi. Ini kan juga dipasarkan secara online. Saudara saya juga ada yang membawa ke Australia dan Suriname. Disana kan juga banyak orang Jawa, saya pernah ke sana, disana juga ada kuda lumping,” terangnya.

Selain itu, Ki Tulus menyampaikan jika dalam proses pembuatan kuda lumping dari anyaman bambu ini juga tidak mudah. Perlu adanya pemilihan secara teliti untuk bahan dasar dan proses pembuatannya.

“Mengirat atau memotong bambu menjadi titip titis itu sulit. Membelah bambu ini kalau tidak biasa ya susah, gak gampang dan gak semua orang bisa. Ini bambu apus yang saya pakai untuk bahannya, kalau yang lain gak bisa karena keras. Saya beli dikampung kampung, memotong sendiri, memilih sendiri. Motongnya juga tidak bisa sembarangan, ada hitungan harinya juga,” tandasnya.(der)

Lanjutkan Tradisi, BPC Gapensi Kota Malang Bagi Sembako ke Masyarakat

Ketua BPC Gapensi Kota Malang, Iqbal Ifrizal membagikan sembako ke masyarakat. (istimewa)

MALANGVOICE – BPC Gabungan Pelaksana Konstruksi Seluruh Indonesia (Gapensi) Kota Malang membagikan puluhan paket sembako kepada warga, Rabu (5/5).

Tradisi ini dilakukan setiap tahun, apalagi saat ini memanfaatkan momen bulan suci Ramadan.

Ketua BPC Gapensi Kota Malang, Iqbal Ifrizal, mengatakan, penerima bantuan sembako ini adalah warga sekitar kantor BPC Gapensi di Jalan Halim Perdana Kusuma, Kedungkandang, Kota Malang.

Meski pembagian melibatkan banyak orang, namun tetap menerapkan protokol kesehatan ketat dengan menjaga jarak dan menggunakan masker.

Pembagian sembako. (Istimewa)

“Total ada 80 paket sembako yang kami bagikan ke masyarakat sekitar kantor. Isinya merupakan kebutuhan pokok seperti beras, gula, kopi, dan banyak lainnya,” kata Iqbal, Kamis (6/5).

Tradisi membagikan sembako ini, kata Iqbal, selain menunjukkan kepedulian terhadap sesama, juga menjalin silaturahmi dengan warga.

Pembagian sembako ke masyarakat. (Istimewa)

“Kami berkantor di sini kan tidak sendiri. Ada masyarakat lain juga, jadi kami berusaha memperhatikan mereka sekaligus silaturahmi agar hubungan kita semakin baik dengan warga,” jelasnya.

Iqbal berharap, agenda sosial lainnya terus dilakukan setiap tahun dengan melibatkan lebih banyak lagi masyarakat yang membutuhkan.

“Semoga tahun selanjutnya bisa terus dilakukan dengan memberi bantuan ke masyarakat lain lebih banyak lagi,” tandasnya.(der)

Mudik dalam Spiritualisme Masyarakat Jawa (1)

Anwar Hudijono

Oleh: Anwar Hudijono

Dipermaklumkan jika ada di antara warga masyarakat Jawa yang didera rasa sedih yang sangat mendalam tidak bisa mudik Idul Fitri karena adanya larangan pemerintah. Saking sedihnya sampai stres. Tidak doyan makan. Tidak bisa tidur. Akhirnya daya tahan tubuhnya turun.

Saat daya tahan tubuh merosot itulah justru rentan terhadap Covid-19. Karena Covid-19 itu aslinya dungu. Dia tidak melakukan seleksi orang mudik apa bukan. Tidak bisa membedakan orang stress apa orang gembira.

Bagi masyarakat Jawa mudik itu buka kepulangan biasa. Bukan layaknya perjalanan piknik. Bukan sejenis perjalanan dinas. Beda dengan tuoring.

Episode mudik itu memiliki landasan spiritualisme yang sangat kuat dan menggenerasi. Artinya tertanam dari generasi ke generasi. Sejak dulu ya begitulah adanya. Layaknya memakai sarung ya begitu adanya. Tidak ada sarungan dengan suwelan di belakang. Seperti cara minum kopi. Sejak nenek moyang ya disruput. Tidak ada minum kopi digelogok seperti minum air putih di kendi.

Maka, mohon dipermaklumkan jika ada yang sampai nekad mudik jauh sebelum larangan berlaku 6-17 Mei 2021. Ada yang nekad kucing-kucingan dengan petugas negara. Kucing-kucingan tapi melewati jalur tikus. Ada yang nekad bersembunyi di balik terpal truk sehingga mirip dengan gelondongan jerami.

Kalau saja ada yang menyewakan genderuwo yang bisa membawa mudik tanpa kepergok petugas, kemungkinan laris manis. Kecuali jika ada genderuwo petugas juga. Hal ini menjadi tidak mudah. Kecuali mengikuti aturan main tak tertulis bahwa sesama genderuwo harus salam temple alias cincai. Podo ngertine.

Beginilah penjelasannya. Mudik itu merupakan momentum mengingatkan dan membangkitkan kembali kesadaran hakikat penciptaan. Sangkan paraning dumadi (asal muasal mahluk). Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun, sesungguhnya milik Allah dan akan dikembalikan kepada-Nya.

Jadi orang-orang di perantauan ini ibarat orang yang hidup di dunia. Kalau dibalik, hidup di dunia ini sebenarnya hanya perantauan. Asalnya dari surga. Karena mengikuti jejak leluhur kita Nabi Adam lantas diturunkan ke bumi. Tapi di bumi ini hanya sementara. Pasti akan dikembalikan ke surga jika catatan hasil perjuangan di perantauan ini baik. Pulang membawa iman dan amal shaleh.

Kalau catatannya buruk ya dibakar neraka. Diberi minum nanah yang mendidih. Diberi makan buah zakum yang membakar isi perut.

Berjuanglah di perantauan. Siapkan bekal yang memadai untuk mudik. Kalau mudik Idul Fitri tentu saja bekalnya uang, pakaian, kue kaleng, dan sebagainya.

Sedang mudik kepada Allah bekal terbaik yaitu taqwa. “Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. Dan bertakwalah kepada-Ku, wahai orang-orang yang berakal.” (QS 2: 197).

Agar mudik Idul Fitri bisa mudah, lancar selamat sampai tujuan patuhilah peraturan, rambu-rambu sepanjang perjalanan. Agar mudik kepada Allah selamat dan penuh suka cita maka patuhilah peraturan dan rambu-rambu Allah.

Hanya sementara

Mengapa leluhur Jawa menggunakan momentum Idul Fitri ini untuk mengingatkan falsafah sangkan paraning dumadi? Karena ada kecenderungan, manusia itu lupa bahwa dunia itu hanya sementara, koyo wong mampir ngombe (seperti orang yang singgah minum).

Lupa bahwa semua akan dikembalikan ke asalnya. Saking cintanya dunia sampai lupa akhirat, meski sudah diberi tahu bahwa kehidupan akhirat itu lebih baik dan kekal, wa lal akhiratu khairu wa abqa. (QS 87:17).

Saking asyiknya dengan kesibukan urusan dunia sampai lengah bahwa kesenangan dunia ini hanya mainan dan lelucon. “Wa ma hadhihil hayatut dunya illa lahwun wa laibun. Dan kehidupan dunia ini hanya senda gurau dan permainan.” (QS 29:64).

Lupa bahwa jika ajal menjemput, itu bisa terjadi kapan saja, di mana saja, dengan cara apa saja. Saat tidur enak-enak mati karena tertimpa paku yang menancap di belandar. Lagi asyik medsosan mati. Sialnya saking asyiknya medsosan sambil ketawa-ketiwi sendiri lupa sembahyang.

Maka para sesepuh Jawa selalu mengingatkan bahwa semua manusia bakal mulih mring mula mulanira (kembali ke asal muasalnya). Yaitu Allah.

Jaman dulu, orang Jawa menyebut orang yang mati dengan istilah “mulih”. Artinya orang yang mati itu justru sedang menempuh perjalanan kepada kehidupan abadi kembali kepada Allah.

Kalau sekarang macam-macamlah sebutan untuk orang mati. Ada yang disebut sedo artinya tugase wis bakdo (tugasnya sebagai khalifah/pengatur di bumi sudah selesai). Istilah ini oleh masyarakat ditujukan kepada orang-orang yang dianggap baik semasa hidupnya seperti ulama, guru, kolumnis, wartawan dsb.

Ada juga yang disebut matek. Artinya nikmate wis entek (nikmatnya sudah habis). Sebutan itu ditujukan kepada jenazah yang semasa hidupnya hanya untuk mendapat kenikmatan dunia. Pokoknya apapun dilakukan yang penting dirinya hepi. Tidak peduli orang lain. Tidak peduli menerjang hukum dan moral. Nah, sejak berstatus jenazah, tidak bisa lagi dugem, mabuk, korupsi, nilep pajak dsb.

Yang paling seram itu jika disebut bongko. Artinya diobong neng neroko (dibakar di neraka). Sebutan ini karena saking jengkelnya masyarakat terhadap jenazah tersebut. Bisa jadi dia semasa hidupnya jadi ulat masyarakat seperti koruptor, politisi busuk, bromocorah, pemerkosa, rentenir dan sejenisnya.

Rabbi a’lam (Tuhan lebih tahu).

Anwar Hudijono
Kolumnis tinggal di Sidoarjo.

Berkreasi Selama Pandemi, “Downpour” Jadi Sajian Pembuka dari Diseased

Personel Diseased. (Istimewa)

MALANGVOICE – Kota Malang selalu punya kejutan dalam ranah permusikan duniawi. Kabar terbaru datang dari Diseased, side project baru bernuansa lama yang awali debut baru baru ini.

Diseased resmi meluncurkan karya pertamanya “Downpour” pada 14 April 2021 lalu. Grup yang digawangi personel yang tak asing di ranah musik Kota Malang macam Alfin (Noose Bound), Oki (Toxictoast), Hanip (Today Alive), Icang (Noose Bound), serta Odi (Goldleaf) ini sajikan Emo Revival dalam karya terbarunya.

Diseased. (Istimewa)

“Penulisan “Downpour” sendiri bermakna sulitnya manusia untuk meninggalkan masa lalu yang cukup menyesakkan,” tutur sang vokalis, Odi.

Bicara menegenai Diseased dan lahirnya “Downpour” ini, lagu tersebut merupakan sebuah achivement dari kegabutan selama pandemi, mereka ingin berusaha untuk tetap produktif meski pandemi belum jelas kapan akan selesai.

“Downpour” diproduksi secara mandiri oleh Alvin untuk urusan mixing serta mastering. Sementara untuk urusan liriknya, ditulis langsung oleh Odi. Serta dirilis oleh Spires Record.

“Downpour” dapat dinikmati secara resmi melalui beberapa platform digital.(der)

Peduli Bencana Gempa, Komunitas Honda Malang Kompak Serahkan Bantuan ke Dampit

Penyerahan bantuan kepada korban gempa. (Istimewa)

MALANGVOICE – Gempa yang terjadi di Malang dan sekitarnya mengakibatkan sejumlah bangunan roboh bahkan sampai ada korban jiwa, hal ini mengetuk hati komunitas Honda melakukan kegiatan bakti sosial, Sabtu (24/04).

Dalam program Honda Community Social Responsibility (HCSR) bertajuk ‘Dari Kami Untuk Malang Peduli Gempa Bumi Malang’ ini PT Astra Honda Motor (AHM) dan PT Mitra Pinasthika Mulia (MPM) distributor sepeda motor Honda wilayah Jatim dan NTT bersama komunitas Honda Malang yang tergabung dalam Paguyuban Honda Malang (PAHAM) menyerahkan bantuan kepada warga yang terdampak di Dusun Dandang, Desa Pamotan, Dampit, Kabupaten Malang.

Bantuan senilai Rp 10juta, didistribusikan dalam bentuk sembako dan masker. Penyerahan bantuan dilakukan langsung perwakilan komunitas Honda, yakni Malang Supra Club, Honda Genio Riders Indonesia Chapter Malang, Honda Beat Club, Verza Malang Club dan diterima oleh perwakilan warga Dusun Dandang, Desa Pamotan.

Baca Juga: Paguyuban Honda Malang Bahas Rencana Donasi untuk Bencana Gempa Malang

Baca Juga: MPM Honda Jatim Beri Tips Berkendara Aman di Bulan Ramadan

Penyerahan bantuan kepada korban gempa. (Adv)

“Kegiatan sosial ini merupakan wujud kepedulian dan kebersamaan komunitas Honda dalam membantu warga khususnya di kabupaten Malang untuk bangkit kembali,” ujar Dionizius Mizidianto Selaku Community Development MPM Honda Jatim.

Dionizius berharap, bantuan inu meringankan beban korban terdampak gempa sehingga bisa melewati masa recovery dengan baik.

“Semoga dapat membantu serta memberikan semangat dan kekuatan untuk kembali menjalani aktivitas sehari-hari,” harapnya.(der)

Paguyuban Honda Malang Bahas Rencana Donasi untuk Bencana Gempa Malang

Rakorgab komunitas Honda. (Istimewa)

MALANGVOICE – PT Mitra Pinasthika Mulia (MPM Honda Jatim) distributor sepeda motor Honda wilayah Jatim dan NTT bersama Paguyuban Honda Malang (PAHAM) menggelar Sunday Gathering & Ride (Sugar Ride) diikuti oleh 15 orang di MPM Riders Cafe Malang dengan tetap mematuhi protokol kesehatan, Ahad (18/04).

Kegiatan ini bertujuan sebagai ajang lepas rindu antar komunitas, dalam kegiatan ini juga dibahas agenda kegiatan komunitas diantaranya agenda kegiatan sosial HCSR (Honda Corporate Social responsibility) untuk korban terdampak bencana gempa beberapa saat yang lalu.

Pada Sugar ini diawali dengan riding bareng menuju spot- spot Kota Malang. Sebelum riding diberikan edukasi safety riding berkendara, bagaimana #Cari_Aman di jalan serta kelengkapan berkendara.

Setelah finish peserta disampaikan secara detail fitur dan teknologi Honda All New Scoopy

“Kami mendukung dan memfasilitasi kegiatan komunitas Honda di Malang dan sekitarnya untuk bersilaturahmi dan berkumpul membahas hal – hal positif mengenai agenda kegiatan komunitas dengan memanfaatkan MPM Riders Cafe Malang,” Kata Mizidianto selaku Community Development MPM Honda.(der)

SHINDOKA Malang Gelar Gashuku dan UKT Penjaringan Bibit Atlet

Peserta yang hadir dalam UKT mengikuti arahan pembina, (MG2).

MALANGVOICE – Sekitar 150 siswa perguruan Shitoryu Indonesia Karatedo (SHINDOKA) Cabang Malang mengikuti latihan bersama (Gashuku) dan Ujian Kenaikan Tingkat (UKT), Ahad (11/4).

Dewan Penasehat SHINDOKA Jawa Timur (Jatim) H.M Jauhari Salam mengatakan, para siswa ini nantinya akan mengikuti berbagai tahapan seleksi yang masing-masing tahap tersebut dilakukan selama 30 menit.

Mereka akan memulai dari tahap pertama (senam dan jurus), tahap kedua (senam dasar dan senam massal), tahap ketiga (jurus/Kata), dan tahap keempat (mental dan fisik).

“Kegiatan ini, selain untuk penyelarasan jurus/kata, juga untuk peningkatan sabuk dalam upaya mencetak atlet muda yang berbakat dan berprestasi,” ucapnya.

Pria yang juga menjabat sebagai pembina LiRa Malang ini berharap, para siswa SHINDOKA Malang dapat menjadi atlet dan bisa menjuarai kompetisi-kompetisi olahraga beladiri yang dipertandingkan oleh berbagai unsur, serta mampu mengabdikan diri bagi bangsa dan negara.

“Dalam Gashuku dan UKT didominasi sabuk kuning, hijau dan Biru. Saya yakin, para siswa yang ikut ujian ini suatu saat nanti dapat menjadi atlet yang berprestasi baik di tingkat kota, provinsi, nasional maupun internasional,” jelas pria yang akrab di sapa Sensei Jo.

Selain itu, turut hadir kurang lebih 25 orang majelis sabuk hitam Pemprov Jatim, dan Ketua Harian Pemprov Jatim Iptu Sudirman, sebagai pengawas, motivasi dan membantu dalam ujian kenaikan tersebut.

“Penguji resmi dalam ujian ini ada tiga, dan tiap penguji ini memiliki pendamping untuk membantu proses penilaian yang berlangsung,” ujarnya.

Sensei Jo juga menambahkan jika di era modern saat ini perlu adanya kegiatan semacam ini, untuk mempersatukan anak bangsa sekaligus membina mental dan fisik supaya bisa lebih siap dalam menjalani kehidupan.

“Kami ingin mereka ini tidak hanya mampu disegi fisik, mental dan bela diri, tapi yang utama adalah prestasi yang mana mereka nanti akan dicatat menjadi atlet” mulai dari regional sampai nasional bahkan Internasional,” tandasnya.(end)

Jelang Ramadan, KBP Gelar Tradisi Megengan dan Nyadran

Ditengah-tengah prosesi Megengan, (MG2).

MALANGVOICE – Menjelang Bulan Ramadhan 1442 Hijriah, Kampung Budaya Polowijen (KBP) menggelar tradisi Megengan yang diikuti dengan Nyadran Mapag Wulan Siam.

Puluhan orang dari Komunitas Perempuan Bersangul Nusantara Turut hadir mengentalkan suasana tradisional dengan busana khas daerah.

Sebelum masuk dalam kegiatan inti, disambut empat orang yang membawakan tarian Putri Jawi. Empat penari memiliki filosofi perlambangan Jawa mempunyai empat kiblat dalam memandang kehidupan.

Usai acara pembuka dilanjutkan dengan acara inti Megengan Mapag Wulan Siam. Terdengar lantunan doa-doa Jawa yang dilengkapi berbagai macam makanan khas untuk sesaji.

Mulai dari Cok bakal, bubur putih merah, bubur palang, segi golongan dan salah satu hidangan inti yang menjadi simbol dalam pelaksanaan Megengan yaitu apem curcum dan pisang.

“Terdapat makna simbolis dari sesajian Kue Apem dan Pisang yang di hidangkan dalam megengan yang tidak lain adalah saling maaf-memaafkan antar sesama dalam rangka pensucian diri,” ujar Isa Wahyudi selaku penggagas KBP, Sabtu (10/4).

Tarian yang dilakukan seusai prosesi Megengan berlangsung, (MG2).

Setelah prosesi Megengan yang berjalan khidmat itu usai, dilanjutkan dengan Nyadran ke Makam mbah Reni (Ki Tjondro Suwono) empu Topeng Malang yang berasal dari Polowijen.

“Untuk nyekar dan berdoa bersama mendoakan para perintis seniman Malang,” imbuhnya.

Sementara itu, salah satu Inisiator Perempuan Bersangul Nusantara, Ries Handono, mengatakan jika tradisi Megengan dan Sadran ini perlu sekali tetap dilestarikan terutama perlu adanya pengenalan generasi-generasi muda saat ini, supaya tidak luntur dan hilang.

“Kami berterima kasih kepada KBP sudah diterima berkunjung disini yang ternyata kampung ini penuh dengan nuansa budaya lokal banyak keseniannya dan kedepan akan bekerjasama untuk peningkatan pelestarian budaya,” tandasnya.(der)

Ngoprek Bareng HPCI Chapter Malang, Kupas Tuntas Matic Besar PCX160

Komunitas Honda PCX. (Istimewa)

MALANGVOICE – PT Mitra Pinasthika Mulia (MPM Honda Jatim) distributor sepeda motor Honda wilayah Jatim dan NTT melakukan Live di Instagram @mpmhondajatim dengan program NGOPREK (Ngobrol Online Seputar Komunitas) bersama Komunitas Honda PCX Chapter Indonesia (HPCI) Chapter Malang, Ahad (28/03).

Ngobrol Online yang bertemakan Kupas Tuntas All New PCX160 ini, MPM Honda Jatim mengundang salah satu anggota komunitas HPCI chapter Malang, Wendry Pradana yang berbagi pengalaman bagaimana rasanya mengendarai All New PCX160 dan juga Imron Rosyadi, Technical MPM Malang yang menyampaikan fitur terbaru Honda PCX.

Ngoprek Honda. (Adv)

Bertempat di MPM Riders Cafe Malang, sebelumnya 10 anggota komunitas HPCI chapter Malang yang hadir diberikan kesempatan untuk Riding Experience Honda PCX 160 dengan menerapkan protokol kesehatan yang berlaku.

Dalam sesi bincang Ngoprek, Wendry Pradana membagikan pengalamannya saat riding menggunakan Honda PCX160 untuk kegiatan sehari hari.

“Honda PCX160 bodinya mewah, nyaman cocok buat aktivitas sehari – hari atau suka touring. Honda PCX160 lebih bertenaga, akselerasi terasa lembut,” katanya.

Program NGOPREK (Ngobrol Online Seputar Komunitas) ini bertujuan untuk memberikan informasi lebih terkait All New Honda PCX kepada masyarakat dari sisi Komunitas HPCI chapter Malang yang sudah mencoba All New Honda PCX.(der)