VIDEO: Usaha Pengrajin Kayu Mantan Narapidana

MALANGVOICE – Sempat merasakan tinggal di lapas Lowokwaru karena kasus narkoba, namun Mario Bennet tak putus asa.

Berbekal keahlian bimbingan di dalam penjara, ia kemudian membuat kerajinan sendiri setelah keluar lapas.

Setelah menjalani proses hukum, usaha ini berkembang semakin luas hingga saat ini. Berbagai macam kerajinan seperti kacamata, jam tangan, lampu belajar, dan berbagai macam kerajinan lainnya yang berbahan dasar dari kayu dan bambu. Workshop yang beralamat di jalan Kemantren 1 No. 12, Bandungrejosari, Sukun, Kota Malang ini juga memanfaatkan teman temannya sebagai karyawan.(Der/Aka)

VIDEO: Sampah Menjadi Sebuah Karya Yang Menakjubkan Di Tangan Ernik Yustiana

MALANGVOICE – Bermula di tahun 2012 Ernik Yustiana sapaan akrab Yustin, memulai usaha daur ulang dari bahan sampah non logam.

Dari bahan sampah non logam, seperti plastik, botol kaca, kain perca, sisa kulit industri, CD bekas, pelepah pisang kering hingga ampas kelapa disulap menjadi barang seni yang apik.

Semua bahan itu dijadikan gantungan kunci, tas, kostum, dan lainya. Harga yang ditawarkan cukup bervarian mulai dari Rp 2 ribu sampai Rp 500 ribu tergantung tingkat kesulitanya. Untuk pengerjaannya sendiri bisa 2 hari sampai 1 minggu.

Di rumahnya Jalan Binor, Bunulrejo, Malang, Yustin menjalankan usahanya sendiri. Kostum yang dibuatnya setiap tahun mengikuti acara MFC (Malang Flower Carnival). (Der/Aka)

Catatan Februari 1949: Perang Kemerdekaan di Karesidenan Malang

Situasi pertempuran di Wonokoyo, Dampit 1949

Pertengahan Januari 1949, besarnya kekuatan patroli pasukan Belanda dengan intensitas gerak yang tinggi disertai provokasi, perampokan, dan berbagai upaya untuk menurunkan semangat juang rakyat, menunjukkan ambisi Belanda yang kuat untuk menduduki Kota Dampit. Sejak awal Februari 1949 mereka bergegas memperbaiki jembatan dan jalan-jalan yang dirusak oleh pasukan gerilya RI dengan tujuan menguasai jalur perhubungan.

3 Februari 1949. Pasukan Untung Suropati 18 (PUS 18) bergerak dari Wonokitri menuju Gunung Kelop untuk membuat pangkalan pesiapan sekaligus perbentengan. Bagian dari pekerjaan awal PUS 18 pada waktu itu adalah menyusun kembali pemuda desa (Pagar Desa) yang kokoh dan membentuk pelopor-pelopor dari golongan rakyat yang bersenjata. Pekerjaan lainnya adalah mencari berita dan membentuk perhubungan lewat pos-pos rahasia.

4 Februari 1949. Pagi hari, diperoleh kabar bahwa pasukan Belanda dari Pamotan sudah sampai di Kota Dampit. Dikirimlah satu regu penyelidik ke wilayah Sumber Kembar untuk membaca situasi dan mereka kembali dengan informasi bahwa Belanda dengan kekuatan satu regu berada di gardu. PUS 18 pun mengadakan stelling di benteng untuk bersiaga. Seksi I Dan Seksi II dengan Keiki Kanjue (senjata mesin ringan) dan regu senapan mulai bergerak dari Gunung Kelop menuju Sumber Kembar. Serangan urung dilakukan karena pasukan masuh sudah kembali ke Dampit.

Regu Keiki Kanjue dan regu senapan selanjutnya memasuki Kota Dampit dan ketika melihat ada sepasukan musuh berada di pertigaan jalan besar dekat pasar, mereka pun melepaskan tembakan. Terjadi pertempuran sampai saat musuh mendapat bantuan dari Pamotan dan bermaksud mengepung. Pasukan RI melakukan pengunduran karena mendapat serangan balasan dari dua jurusan dengan persenjataan yang lebih kuat dan senjata berat. Musuh melakukan pengejaran, namun mereka pun kemudian mundur ketika tiba-tiba mereka ditembaki oleh juuki dan tekidanto pasukan RI dari atas Gunung Kelop.

21 Februari 1949. PUS 18 dengan bantuan dari pasukan Sabar Soetopo telah selesai mempersiapkan rencana dan gerakan untuk melalukan serangan-serangan terhadap pasukan Belanda. Perlu dilakukan pengacauan-pengacauan terhadap pangkalan-pangkalan musuh di Turen dan Sedayu, serta menghambat pergerakan musuh ke selatan dan timur. Bantuan tenaga dari rakyat daerah otonom Purwantoro sangat penting sebagai upaya untuk mengobarkan semangat dan kesetiaan rakyat pada RI meskipun meraka ada di daerah pendudukan Belanda. Musuh yang waktu itu juga berpangkalan di Sedayu bermaksud memudahkan kepentingan gerakan dan perbekalannya di wilayah selatan dengan bantuan dari Krebet dan Malang.

22 Februari 1949. Tengah malam, PUS 18 bersama rakyat bergerak menyerang sasaran di Talok, merusak jembatan Lesti, dan menyerbu pos di Turen. Serangan berhasil, musuh menarik mundur pasukannya. Meskipun jembatan Kali Lesti gagal diledakkan, paginya, 23 Februari 1949, pukul 05.00 WIB Kota Sedayu dapat dikuasai.

24 Februari 1949. Banjarpatoman dan sekitarnya telah dikuasai oleh pasukan RI.

27 Februari 1949. Didapatkan berita bahwa sebagian pasukan Belanda bergerak menuju Ngelak dan Amadanom. Pasukan RI segera menaiki Gunung Pandan Asri untuk stelling di perbentengan, sementara pasukan musuh sudah sampai di ujung kampung Banjarpatoman. Menunggu kedatangan musuh, serangan tidak dilakukan, karena untuk merahasiakan posisi dan menghemat amunisi. Ditengarai musuh berkekuatan satu setengah kompi, bersenjata juki, PM (pistol mitralyur), diikuti pasukan Genie dan Telegrafi, dan sebagian besar terdiri dari tentara Cakra yang ditarik dari Bali (Pasukan Gajah Merah).

Pukul 08.00 terjadilah tembak menembak selama hampir 3 jam. Pasukan RI menghentikan tembakan karena persediaan amunisi hampir habis. Pertempuran Wonokoyo bisa dikatakan sebagai pertempuran terbesar selama ini di wilayah Semeru Selatan. Di pihak musuh, banyak berjatuhan korban tewas dan luka, termasuk tewasnya komandan mereka. Di pihak pasukan RI, gugur 3 orang pasukan dan 3 orang penduduk sekitar.

Siangnya, pasukan musuh menangani mayat para serdadu dan mereka yang terluka, lewat Amadanom menyusuri lembah sungai dan jalanan kembali ke Dampit. Pasukan RI berhasil merampas PM, 300 butir peluru Karaben, sebuah Karaben, 3 mortier dan tempat peluru lengkap.

Sementara itu di wilayah lainnya, pada 3 Februari 1949, pihak Belanda mengadakan serangan ke sarang gerilya di Trawas. Pasukan gerilya termasuk pasukan Mansur Solichin terpaksa melakukan pengunduran.

17 Februari 1949. Pasukan gerilya menyerang markas Belanda di Wonokerto, melakukan pengrusakan di jalan-jalan, merusak kawat-kawat telepon dan listrik, serta memasang ranjau darat (Myn). Pertempuran terjadi, delapan pasukan Belanda tewas, sebuah truk hancur terkena Myn.

Esok harinya, pasukan gerilya kembali beraksi di jalan kereta api dan jalan raya, dan pemasangan Myn di Candirubuh Kenduruan. Sorenya, Myn berhasil melumatkan 2 truk bermuatan serdadu Belanda. Tidak lama, bantuan musuh datang menggunakan kereta api yang kemudian terhenti dihantam pasukan gerilya. Terjadilah kontak senjata. Tiga belas serdadu Belanda tewas, dari pasukan gerilya gugur satu bunga bangsa, Much. Nasir.

25 Februari 1949. Kota Pandaan menjadi sasaran gerakan pasukan gerilya. Dengan tujuan melucuti senjata polisi Belanda, mereka melakukan penghadangan di jalan raya Pandaan-Sukorejo, memasang Myn dan merusak kantor-kantor Belanda. Dapat dirampas 4 pucuk senjata, pakaian, sepeda, dan peralatan lainnya.

26 Februari 1949. Malam hari. Pasukan gerilya berhasil menghancurkan sebuah panserwagon yang sedang berpatroli menuju Pandaan. (idur/Perjuangan Total Brigade IV pada Perang Kemerdekaan di Karesidenan Malang, 1997).

VIDEO: Di Tangan Khilmi Ardiansyah, Batang Korek Api Jadi Karya Seni

MALANGVOICE – Dengan ketekunan dan kreativitasnya, Khilmi Ardiansyah (37) mampu menyusun batang korek api menjadi karya seni.

Pria asal Desa Pandanlandung, Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang ini aneka miniatur, hiasan dinding, bahkan publik figur. Yang membuat dia dikenal adalah karyanya membuat sketsa wajah Prabowo Subianto dan Joko Widodo. Dua calon pemimpin negeri yang sedang bertarung di Pilpres 2019.(Der/Aka)

VIDEO: Blessed Merch, Wadahi Seniman Street Art Kota Batu

MALANGVOICE – Berawal dari jualan cat semprot, kini usaha yang menyediakan peralatan seniman street art di Kota Batu semakin berkembang.

Blessed Merch yang berlokasi di Jalan Bukit Berbunga 211 Sidomulyo Kota Batu ini tidak hanya menyediakan perlengkapan menggambar saja, melainkan juga menyediakan merchandise seperti topi, baju, jaket, tas dan aksesoris lainnnya.(Der/Aka)

Ribuan Bikers Meriahkan HUT ke-10 SBC

Ribuan bikers hadir dalam HUT ke-10 SBC. (Istimewa)
Ribuan bikers hadir dalam HUT ke-10 SBC. (Istimewa)

MALANGVOICE – Dalam rangka HUT ke-10 Surabaya Beat Club (SBC) dimeriahkan dua ribu bikers, Sabtu (19/1).

Ajang itu sekaligus jadi silaturahmi bagi pecinta sepeda motor skutik yang diselenggarakan di lapangan Universitas Bung Tomo Surabaya.

SBC merupakan wadah silahturahmi bagi pecinta sepeda motor skutik Honda Beat yang didirikan pada 2008. Di Surabaya sendiri beranggotakan lebih dari 65 anggota.

Pada HUT ke-10 ini SBC mengambil tema Transformatic Story of Brotherhood. Kegiatan ini dihadiri oleh pecinta sepeda motor honda matic dari berbagai daerah di Indonesia seperti klub BeAT Pengda OrBeAT Jawa Tengah, Pengda Jawa Barat, bahkan klub BeAT luar pulau Jawa, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi dan Bali.

Rangkaian kegiatan ini dimulai dengan Transformatic Rally heritage dengan keliling Kota Surabaya dengan mengambil start dari patung surabaya depan Kebun Binatang Surabaya – Tugu Pahlawan – Balai Kota – Monkasel – Bambu Runcing – Hotel Majapahit dan finish. Di setiap spot tempat heritage Kota Surabaya, peserta berhenti sejenak untuk foto bersama. Selain itu juga dilakukan kampanye safety riding.

Gelaran ini mendapat dukungan dari PT. Astra Honda Motor (AHM) dan PT. Mitra Pinasthika Mulia ( MPM) sebagai main dealer Honda wilayah Jawa Timur dan NTT.

“Kami support kegiatan positif yang dilakukan oleh komunitas Honda di wilayah Jawa Timur maupun di NTT. Semoga dengan adanya kegiatan ini menjadi ajang silaturahmi antar sesame bikers tidak hanya diwilayah Jawa Timur tetapi di Indonesia,” kata Marcomm and Development division head MPM, Suhari.

Melengkapi malam puncak kebersamaan tersebut, beragam hiburan seperti band lokal, games dan beragam hiburan lainnya juga disuguhkan pada acara ini untuk memeriahkan dan semakin mempererat kebersamaan para bikers peserta satu dekade SBC.(Der/Aka)

“Kawi Pact” Ambisi Tan Malaka di atas Gunung Kawi (1)

Mayor Mochlas Rowie

Kondisi seusai Perundingan Renville, 1947, hampir tiga perempat daerah RI dikuasai oleh Belanda. Situasi saangat memprihatinkan karena adanya penghijrahan dan pengosongan daerah-daerah kantong sesduah RERA (Reorganisasi-Rasionalisasi), serta tekanan akibat blokade ekonomi Belanda. Keadaan seperti ini kemudian dimanfaatkan oleh kepentingan-kepentingan politik dengan munculnya gerakan politik dan konsolidasi di daerah Gunung Kawi, bersamaan dengan keluarnya Tan Malaka dari penjara. Ia menggiatkan kembali gerakan politiknya dan mengadakan pertemuan-pertemuan, memformulasikan dan membentuk GPP (Gerakan Pembela Proklamasi).

Saat itu di Malang, Mayor Mochlas Rowie menjabat Komandan Daerah Gerilya III yang kemudian menjadi SWK III di Malang Selatan, satu-satunya daerah yang masih dikuasai RI di Karesidenan Malang dan meliputi Kawedanan Kepanjen, Kawedanan Turen, dan Kawedanan Pagak. Saat bergerilya, SWK III membawahi 2 sektor di wilayah perbatasan Kediri-Wlingi-Malang. Sektor I berkedudukan di Sumber Pucung dipimpin Kapten Nailun Hamam dan Sektor 2 bermarkas di Pagak dipimpin Lettu Abd. Munir.

Ketika Belanda masuk Yogyakarta, 19 Desember 1948 dan diumumkan bahwa Soekarno-Hatta ditangkap. Dengan alasan Presiden RI dan Wakil Presiden tidak ada, Tan Malaka menggunakan kesempatan ini untuk mendeklarasikan berdirinya GPP (Gerakan Pembela Proklamasi) di atas Gunung Kawi.

Pada Januari 1949, bertempat di Kalitapak, Kawi Selatan, diadakan pertemuan yang dihadiri oleh sebagian besar kaum politisi, beberapa kesatuan, dan utusan corps mahasiswa. Namun, beberapa dari mereka meninggalkan pertemuan dan mengundurkan diri, karena arah pertemuan telah dibelokkan pada kepentingan politik tertentu, banyak kalangan tidak setuju dengan langkah-langkah yang ditempuh Tan Malaka cs dengan pendirian Negara Demokrasi Indonesia-nya. “Kawi Pact” bertujuan mewujudkan cita-cita demokrasi ala Tan Malaka.

Dengan dalih tidak adanya Presiden RI dan wakilnya, ia memproklamasikan berdirinya Negara Demokrasi Indonesia sekalgus menunjuk dirinya sendiri sebagai presiden, mengangkat Kolonel Warrow sebagai Menteri Pertahanan dan Mayor Sabaruddin sebagai Panglima Besar GPP. Pembentukan “Kawi Pact” dimaksudkan untuk mengikat unsur-unsur dalam kesatuan GPP.

Beberapa kesatuan sempat terseret karena pengaruh yang intens dari Tan Malaka cs. Warrow sebenarnya adalah komandan brigade mobil yang ditugasi sebagai pasukan cadangan, tidak memiliki wilayah khusus tapi diperbantukan di wilayah Jawa Timur dan berkedudukan di tapal batas Malang-Kediri, Wlingi Utara di lereng Gunung Kawi. Seharusnya sebagai komandan, dia melapor keberadaannya kepada KMD Malang Letkol. dr. Soedjono, tapi tidak dilakukannya.

Sabaruddin ternyata mantan nara pidana dan petualang, pernah mendapat pendidikan dari Peta dan mengaku sebagai PM (Polisi Militer). Dia menangkap dan membunuh orang-orang yang tidak disukainya, seperti Shodancho Sidoarjo Budiarjo (Mantri Kabupaten dan mantan komandannya). Sebenarnya, sebelum itu banyak kegiatan kriminal dilakukannya sehingga dia ditangkap dan dipenjara di Kediri oleh Panglima Divisi Soengkono. Setelah direhabilitasi, Sabaruddin mempunyai pasukan mantan para narapidana yang juga telah direhabilitasi oleh Panglima Divisi Soengkono, tapi ternyata lebih banyak mengacau keamanan daripada ikut berjuang melawan Belanda. Ditunjuk menjadi panglima besar GPP oleh Tan Malaka, telah melunasi ambisinya akan kedudukan dan kekuasaan

Tuntutan Tan Malaka cs. antara lain adalah kekuasaan terhadap seluruh wilayah landai Gunung Kawi, wilayah Kediri, dan Malang. Letkol dr. Soedjono sebagai Komandan Brigade IV menolak keras tuntutan itu karena wilayah komando militer di Malang berada dalam tugas pengamanannya. Mochlas Rowie pun selaku Komandan SWK juga memperingatkan pasukan yang terseret Tan Malaka cs. untuk tetap tunduk kepada pimpinan KMD Malang dan tidak ada pemerintah lain selain Pemerintah RI. Sebagai pegangan, pemerintah militer RI tetaplah dibawah pimpinan Jendral Soedirman. (Bersambung) (Idur)

Pengacauan Gerombolan Malik Cs Manfaatkan Kondisi Buruk Seusai Perang Kemerdekaan (3)

Kehidupan di Malang tahun 1950-an

MALANGVOICE – Pada masa itu, gerakan para gerombolan mencapai puncaknya. Pembunuhan, pengacauan, perampokan, pencegatan, dan aksi kekejian lainnya telah diperbuat oleh Malik cs. Komandan Brigade IV Divisi I Letkol Abimanjoe mengeluarlkan surat perintah pada 17 Januari 1951 untuk mengambil tindakan tegas terhadap gerombolan-gerombolan yang mengganggu keamanan dan ketertiban masyarakat.

Pada 31 Januari 1951 Kompi IV Batalyon 3 di daerah Wonorejo berhasil menangkap Raup beserta 2 orang Kepala Desa, seorang Carik, dan seorang penghubung. Gerakan pembersihan pun dimulai meliputi seluruh wilayah Territorium V dan disebut sebagai Operasi Merdeka Territorium V. Kekuatan militer dikerahkan untuk menumpas gerombolan Malik cs. dan gerombolan bersenjata lainnya.

Keadaan ini dibarengi dengan berawalnya perpecahan yang terjadi antara Malik dan Klowor di bulan Maret 1951. Penyebabnya dipicu oleh tidak diakuinya lagi gerombolan Klowor sebagai bagian dari jaringan Malik cs, karena Klowor cs. dianggap terlalu sering melakukan perampokan untuk kepentingannya sendiri. Kala itu, Klowor adalah pemimpin gerombolan Sukorejo dengan daerah kekuasaan meliputi Purwosari, Sengon, Lawang, Purwodadi, dan Sukorejo.

Adanya operasi pembersihan membuat aktivitas para gerombolan mulai menurun, tetapi tidak jarang masih terjadi kejadian-kejadian yang mengamcam keamanan dan ketertiban umum, seperti: golongan perampok-perampok biasa yang ditampung oleh Malik, golongan bekas mata-mata Belanda yang hidupnya terlantar, juga kaki tangan Belanda yang belum rela meninggalkan Indonesia.

Upaya-upaya pembersihan yang dilakukan antara lain dengan berpatroli menggunanakan uniform, menyamar, penggerebegan kepala desa-kepala desa dan rumah-rumah yang diperguakan gerombolan untuk rapat atau bersembunyi, pengawasan terhadap lalu lintas kendaraan dan kereta api, menghidupkan lagi pertahanan rakyat berupa Pager Desa, melakukan operasi simpati dengan dengan memberikan obat-obat, dan alat-alat bercocok tanam dsb., juga menangkap orang-orang yang sebenarnya memimpin di belakang layar.

Dalam Operasi Merdeka Territorial V, inti dari pasukan pemukul adalah Batalyon 512 yang dikomandani Kapten Soemitro dengan jajaran Komandan Kompi I Lettu Sudarto, Komandan Kompi II Letda Sunyoto, Komandan Kompi IV Letda Sukarman, dan Kompi Bantuan/Pengawal Lettu Pamoedji. Kompi Bantuan saat itu bertugas mengamankan lali lintas mulai dari jembatan Porong hingga ke daerah Lawang-Bangil.

Pada 12 Mei 1951, pukul setengah enam pagi, dalam sebuah operasi di daerah Bangil, pasukan Kompi I Lettu Sudarto berhasil menangkap pemimpin-pemimpin gerombolan, yakni Malik dan Paenu alias Sirad Dulkamid di desa Kaliputih. Tangan kanan Malik, Bakri Arifin alias Tahar terbunuh ketika berusaha melarikan diri. Malik sendiri ternyata adalah mantan IVG, mata-mata dan kaki tangan Belanda.

Sewaktu operasi lebih digencarkan, beberapa anggota gerombolan mulai menyerahkan diri beserta persenjataannya seperti LE dan Landsister. Gerakan Untung cs. juga terdesak sampai sekitar gunung Bromo. Kompi IV berbaku tembak dengan gerombolan di desa Mojotengah, Sukorejo, seorang anggota geromnolan tewas dan satu lagi tertangkap. Di daerah Purwosari rakyat berhasil menangkap seorang anggota Klowor dan menyita senjata pistol. Namun, masih saja ada anggota gerombolan Klowor dan Kamaruddin yang masih berkeliaran di daerah Kejayan, penculikan modin, gerakan gerombolan Hargo, serta gangguan gerombolan Hamid di daerah Pasuruan meski Hamid sudah ditangkap.

Keamanan wilayah berangsur pulih, kekuatan gerombolan makin melemah. Kehidupan masyarakat di daerah Malang dan sekitarnya kembali berjalan lancar dengan meredanya gangguan pengacauan dan perampokan bersenjata. (idur)

Pengacauan Gerombolan Malik cs.Memanfaatkan Kondisi Buruk Seusai Perang Kemerdekaan (2)

Terminal Sawahan (1940)

Gerakan Malik cs. makin hari makin meresahkan masyarakat. Dalam bulan Februari 1951 saja, mereka telah melakukan pengacauan-pengacauan seperti telah disebutkan, Malik cs. berlanjut melakukan penyerbuan kedua kalinya ke pabrik tenun Kasri, pembunuhan seorang anggota Polisi Pandaan, belum lagi perampokan rumah gadai di Warungdowo, penyerbuan pos Polisi MBK Kasri Pandaan, penyerangan kembali markas Batalyon 34, menghasut buruh pabrik di Bromo untuk melakukan pemogokan, perampokan bus di Ngerong, serta di wilayah Pasuruan tercatat peristiwa delapan kali perampokan.

Dalam menjalankan aksinya, mereka juga melakukan cegatan-cegatan terhadap transportasi masyarakat. Di bulan April 1951 mereka melakukan pencegatan dan perampokan bus-bus antarkota, seperti:

1. mencegat bus Arjuno pada di daerah Mlaten, Gempol dan menculik anak seorang penumpang;

2. merampok bus HT jurusan Pasuruan-Surabaya di Cangkring Malang Bangil, setelah dirampok bus dibiarkan pergi tapi ditembaki dari belakang, kondektur bus terluka parah saat dibawa ke rumah sakit Pasuruan;

3. tiga orang anggota mereka bersenjata merampok sebuah bus Surabaya-Malang;

4. bersenjatan sten dan karaben, di desa Jetak mereka menghentikan bus Arjuno yang berangkat dari Malang menuju Surabaya.

Saat itu tindakan tegas belum dilakukan, mengingat di masa awal 1950-an segala sesuatu harus dicermati dalam melihat gejala-gejala dan peristiwa yang terjadi. Laporan-laporan yang masuk secara intensif diselidiki dan diobservasi, termasuk salah satunya gerakan Malik cs, tersebut.

Namun, berdasarkan pengolahan infomasi, kekejaman dan tindakan keji lainnya dapat diduga berasal dari pelaku yang sama, yakni Malik dan jaringannya. Masih di bulan April 1951 tercatat ulah Malik cs. antara lain

1. perampokan terhadap Rumah Sakit JIwa Porong, Lawang;

2. penembakan gudang Geni Pionir di Sumberwaras, Lawang;

3. seratus orang bersenjata bren, sten, karaben menyerbu pos Polisi di daerah Pasrepan, Pasuruan. Mereka menjarah senjata, sejumlah sepatu dinas, beberapa stel pakaian dinas dan topi dinas, serta meninggalkan surat ancaman;

4. menembaki panser-wagen yang sedang berpatroli di daerah Sumberwaras;

5. menyerang markas di daerah Karangsono, Lawang dan terjadi tembak menembak tapi tidak jatuh korban;

Dalam rapat gelap yang diadakan Malik cs. diketahui mereka sedang membentuk susunan komando, pimpinan, dan staf serta melakukan pembagian daerah operasi. Di setiap kecamatan dibentuk Komando Daerah dan disebut CD (Comando Daerah).

Selain itu terdapat regu Gangster yang bersenjata 3 pucuk pistol, terdiri dari 3 orang personel tetap dan 5 orang personel bantuan. Persenjataan mereka diperoleh dari hasil serangan terhadap pos-pos Polisi, sebagian lagi hasil curian dari markas Belanda. Perlengkapan lainnya didapat dari hasil perampokan dan bantuan dari CD-CD.

Gerakan mereka pada awalnya selalu mengarah pada tokoh-tokoh yang kurang disukai masyakakat. Menculik dan membunuh tokoh tersebut untuk tebar pesona seolah-olah dilakukan untuk membela kepentingan orang banyak. Di sinilah kesempatan untuk menarik dan menambah jumlah pengikut-pengikut.. Di desa Baujeng dan Bangil gerakan Polisi menemukan pamflet-pamflet mereka yang ditempelkan di tempat-tempat tertentu.

Sebelum ada perintah penumpasan terhadap gerombolan-gerombolan pengacau, pada 14 November 1950 sebenarnya telah dikeluarkan pengumuman oleh Menteri Pertahanan, yang intinya berisi pesan persuasif untuk memberi kesempatan kepada anggota-anggota gerombolan bersenjata yang masih memiliki cinta kepada tanah air dan bangsa untuk menyerahkan diri dan kembali ke masyarakat, serta hidup rukun dan damai. Hasilnya, tidak ada respon sebagaimana diharapkan. (Bersambung/Idur)

Pengacauan Gerombolan Malik cs. Memanfaatkan Kondisi Buruk Seusai Perang Kemerdekaan (1)

Mereka yang ikut andil dalam penumpasan Gerombolan Malik cs. Dari kiri:Letda Soekarmen. Komandan Batalyon 512/30 Brigade IV Kapten Soemitro, dan Lettu Pamoedji.

Setelah tercapainya persetujuan gencatan senjata dan pengakuan kedaulatan Republik Indonesia Serikat pada 27 Desember 1949, situasi belumlah tenang, Perang Kemerdekaan telah usai, namun tugas selanjutnya adalah mengatasi persoalan dan membina ketenteraman masyarakat.

Bermunculan gerombolan-gerombolan yang mulai meresahkan masyarakat. Mereka memiliki banyak pengikut di kalangan masyarakat. Tidak terbatas pada pancurian, perampokan, penodongan, penculikan, pembunuhan, dan pengacauan masyarakat, perlawanan terhadap aparat penegak hukum di daerah juga digencarkan.

Gerakan tersebut kenyataannya terkoordinasi dengan baik dan tersebarlah kekacauan di beberapa wilayah seperti Malang, Sidoarjo, Mojokerto dan sekitarnya termasuk Bangil, Pasuruan, Porong, Purwosari, dan Pandaan. Selanjutnya diketahui gerakan gerombolan itu dipimpin oleh Abdul Malik yang populer dengan sebutan Malik dan ditengarai mantan anggota Batalyon 17 Kompi Ichdar,

KDM Malang menerima berbagai laporan dan oleh karenanya dikelarkan perintah bahwa segala potensi yang ada dikerahkan untuk menenteramkan keadaan dan mencegah berbagai aktivitas gerombolan pengacau. Begitu besar pengaruh Malik sehingga banyak aparatur pemerintah terlibat, seperti personel tentara, anggota polisi bahkan beberapa kepala desa yang memberikan bantuan langsung maupun tidak langsung.

Mereka tidak jarang melakukan rapat-rapat rahasia, salah satunya di kediamaan seorang Kamituwo, dipimpin sendiri oleh Malik dan Tajib (mantan anak buah malik sewaktu masih dalam kesatuan peleton Malik) sebagai langkah menambah pengikut.

Kondisi Negara dalam keadaan menderita secara fisik maupun moril seusai perang kemerdekaan, kondisi ekonomi dan sosial politik dalam kondisi carut marut, ternyata dimanfaatkan untuk mengail di air keruh oleh Malik cs.

Pengacauan dan kejahatan yang dilakukan Malik cs. Antara lain:

1. serangan beberapa kali terhadap markas Geni Pionir di Sumbersuko;

2. perampokan dan pembunuhan Kepala Desa Ampelsari;

3. penyerangan markas Batalyon 34 Kompi I pada akhir Desember 1950;

4. perampokan terhadap Camat Pandaan, akhir Januari 1951;

5. perampokan pabrik tenun Kasri, awak Februari 1951;

6. pembunuhan Asisten Wedono Djoko Mudji, Banyuayar, Gending Probolinggo;

7. penyerangan pos polisi Sukorejo;

8. perampasan dan perampokan mobil, antata lain milik pabrik gula Kebonagung;

9. menembaki Bengkel PD markas Batalyon 34 Lawang;

10. kembali menembaki Batalyon 34 Lawang pada Februari 1951, gugur Pratu Tjongklet dari Seksi III Kompi III

11. penyerangan pos polisi Pasuruan

12. perampokan rumah gadai di Bangil, awal Februari 1951

13. penyerbuan pos Polisi MBK KAsri Pandaan, Februari 1951, gugur tiga orang anggota MBK;

14. menyerang Kompi IV dari Batalyon 34, Februari 1951, gugur Sersan Ismail;

15. dan sederet daftar kejahatan lainnya di berbagai wilayah

Informasi tentang gerakan pengacauan Malik cs. Diperoleh dari anggota-anggota gerombolan yang tertangkap oleh pasukan Kompi I Batalyon 34 di Lawang dan Kompi VI kesatuan Mobile BrigadeJawa Timur di daerah Pandaan. Diketahui pula bahwa pada Januari 1951 Malik cs. telah mengadakan rapat di desa Kedungrejo untuk membentuk susunan komando beserta staf dan bagian-bagian dari gerakan pengacaun mereka.

Sementara di daerah Pasuruan juga telah diadakan rapat-rapat rahasia seperti di desa Tamansari Wonorejo yang dipimpin oleh Raup (asal CGI) bersama 25 anggota pasukan dari Seksi Klowor. Rapat tersebut juga dihadiri oleh 8 orang kepala desa. Hasil keputusan rapat antara lain, kepala desa yang diundang tetapi tidak hadir dianggap pro pemerintah dan wajib diberantas. (Bersambung/Idur)

Komunitas