HUT ke-7 Malang Voice

Komnas HAM Fokus Investigasi Tragedi Kanjuruhan, Mulai Kekerasan Sampai Penyebab Korban Meninggal

Tim investigasi Komnas HAM. (Deny/MVoice)

MALANGVOICE – Komisioner Komnas HAM, M Choirul Anam membeberkan temuan awal investigasi Tragedi Kanjuruhan yang memakan ratusan korban jiwa pada Sabtu (1/10).

Tim investigasi yang datang ke Malang ini langsung mengunjungi keluarga korban, koordinasi dengan tim Arema FC dan bertemu dengan pemain untuk mengetahui apa yang terjadi.

Choirul Anam mengatakan, temuan awal adalah bukti video yang didapat dari media sosial maupun dari saksi mata di Stadion Kanjuruhan saat peristiwa maut itu terjadi.

Baca Juga: Tragedi Kanjuruhan Berbuntut Kapolres Malang Dicopot

“Beberapa informasi yang miliki kedekatan satu fakta, kekerasan memang terjadi. Ada yang ditendang, kena kungfu fu di lapangan. Semua bisa melihat itu,” katanya.

“Kemudian penggunaan gas air mata, kami telusuri dan lihat agak dalam. Lalu mempelajari anatomi stadion, pasca-laga seperti apa. Kalau lihat kasat mata dari video itu, seandainya tidak ada gas air mata tidak ada hiruk pikuk penonton,” lanjutnya.

Terkait gas air mata, tim investigasi dari Komnas HAM juga menelusuri zat apa yang terkandung dalam gas itu termasuk tanggal kedaluwarsanya.

“Semua zat yang terbuat memiliki logika kedaluwarsa. Itu jadi konsen kami, salah satu kunci yang akan ditanya ke rekan medis,” jelas Choirul.

Selain itu tim investigasi akan mengecek luka para korban. Sehingga bisa diketahui apa penyebab korban bisa meninggal dunia. “Sekian korban sesak napas atau karena yang lain. Kalau sesak napas kadar oksigen bagaimana dan seberapa,” tuturnya.

“Apalagi penggunaan kewenangan yang berlebihan, kami cek sampai level mana. Pengerahan pasukan, sampai kenapa diselenggarakan malam hari tidak sore hari,” tandasnya.(der)

Tragedi Kanjuruhan Berbuntut Kapolres Malang Dicopot

Kapolres Malang AKBP Ferli Hidayat yang dicopot buntut tragedi Kanjuruhan. (MVoice/Toski)

MALANGVOICE – Buntut Tragedi Kanjuruhan, Kapolri Jenderal Listyo Sigit mencopot AKBP Ferli Hidayat dari jabatannya sebagai Kapolres Malang.

Dalam tragedi Kanjuruhan yang terjadi usai pertandingan Arema FC vs Persebaya tersebut tercatat 125 jiwa melayang

Hal ini disampaikan langsung oleh Kadiv Humas Polri lrien Pol Dedi Prasetyo dalam rilis di Polres Malang, Senin (3/10/2022) malam.

“Malam ini juga Bapak Kapolri memutuskan berdasarkan surat Telegram nomor ST/20/98/IX/2022 menonaktifkan sekaligus mengganti Kapolres Malang AKBP Ferli Hidayat dimutasikan sebagai Pamen SSDM Polri,” ucapnya.

“Posisi Kapolres Malang akan dijabat oleh AKBP Putu Cholis Arya yang sebelumnya menjabat sebagai Kapolres Pelabuhan Tanjung Priok Polda Metro Jaya,” tambahnya.

Beberapa menit sebelumnya Menkopolhukam Mahfud MD mengumumkan pembentukan Tim Gabungan Independen Pencari Fakta (TGIPF) sekaligus memberi pernyataan.

“Polri harus mengumumkan tindakan penertiban dan penindakan hukum. Penegakan-penegakan disiplin kepada struktural pejabat Polri di daerah terjadinya peristiwa. Penetapan status tersangka kepada pelaku-pelaku yang memicu kerusuhan,” katanya.

Sementara itu selain Kapolres Malang, beberapa pejabat kepolisian juga ikut dinonaktifkan.

“Selain Kapolres Malang, Surat Telegram itu juga meng-nonaktifkan jabatan Danyon, Danki dan Danton Brimob sebanyak 9 orang,” tegasnya.

Mereka yang dinonaktifkan yakni, Danyon AKBP Agus Waluyo, Danki AKP Hasdarma, Danton Aiptu Solikin, Danton Aiptu M Samsul, Danton Ari Dwiyanto, Danki AKP Untung, Danton AKP Danang, Danton AKP Nanang serta Danton Aiptu Budi.

“Saat ini semuanya masih dalam pemeriksaan tim. Ini sesuai perintah Presiden supaya tim bekerja cepat. Meski demikian, unsur ketelitian dan kehati-hatian serta proses pembuktian secara ilmiah menjadi standar tim dalam bekerja,” tukasnya.(end)

TGIPF Diisi Mantan Pemain Timnas, Mahfud: Kalau Ada Penyalahgunaan Jabatan Akan Diserahkan ke KPK

Menko Polhukam, Mahfud MD memimpin TGIPF untuk mengusut tragedi Kanjuruhan pada 1 Oktober lalu. (MVoice/tangkapan layar kanal Youtube Kemenko Polhukam)

MALANGVOICE – Nama legenda sepak bola, Kurniawan Dwi Julianto dan akademisi UI, Rhenald Kasali masuk sebagai anggota Tim Gabungan Independen Pencari Fakta (TGIPF) yang diketahui Menko Polhukam, Mahfud MD. Ada 13 daftar nama anggota yang tergabung dalam tim ini untuk mengusut tragedi Kanjuruhan pada 1 Oktober lalu.

Menko Polhukam, Mahfud MD mengatakan, 13 daftar nama itu disampaikan kepada Presiden, Joko Widodo. Tim bekerja paling lama 1 bulan untuk menemukan fakta-fakta di balik bencana kemanusiaan di Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang yang menewaskan 125 suporter.

“Hasil investigasi dan rekomendasinya disampaikan ke Presiden untuk kebijakan menata penyelenggaraan olah raga nasional, khususnya persepakbolaan,” kata mantan Ketua Mahkamah Konstitusi itu.

Baca juga : Mahfud MD Pimpin TGIPF Usut Tragedi Kanjuruhan

Ia mengatakan, TGIPF melakukan penyelidikan secara komprehensif untuk menguak fakta secara utuh dibalik prahara itu. Tak menutup kemungkinan, dari hasil penyelidikan secara menyeluruh ditemukan otak-otak intelektual di balik peristiwa itu.

“Mungkin saja bisa ditemukan pelaku lebih besar dibandingkan eksekutor di lapangan. Kalau memang ada pelanggaran atau kesalahan disengaja maka akan diserahkan lagi ke Polri. Atau ada gratifikasi, penyalahgunaan jabatan bisa saja diserahkan ke KPK,” tukas Mahfud.

Di sisi lain, Mahfud menyampaikan penanganan langkah-langkah jangka pendek dalam 2-3 hari pada beberapa instansi negara sesuai arahan Presiden. Mulai dari Polri agar segera mengungkap dan mengumumkan pelaku yang memenuhi syarat untuk ditindak. Selain itu Polri diminta melakukan evaluasi penyelenggaraan pengamanan di daerah setempat.

Baca juga Kadiv Humas Polri: 18 Polisi Diperiksa atas Tragedi Kanjuruhan

“Polri harus mengumumkan tindakan penertiban dan penindakan hukum. Penegakan-penegakan disiplin kepada struktural pejabat Polri di daerah terjadinya peristiwa. Penetapan status tersangka kepada pelaku-pelaku yang memicu kerusuhan,” urai dia.

Hal yang sama juga ditekankan kepada Panglima TNI, Jenderal Andika Perkasa agar cepat mengambil tindakan.

“Kemudian, Panglima TNI menjatuhkan sanksi dan memproses hukum anggotanya yang bertindak berlebihan dan di luar kewenangan,” imbuhnya.

Lebih lanjut, Kemenpora juga diminta mengundang pengurus PSSI, manajemen klub, panpel daerah dan pihak terkait lainnya. Guna memastikan tegaknya aturan pelaksanaan pertandingan, baik aturan FIFA ataupun yang diatur dalam perundang-undangan.

“PSSI juga, sesegera mungkin melakukan tindakan ke dalam agar bisa berjalan lebih baik lagi. Pimpinan PSSI diminta menindak tegas kelalaian panitia pelaksanan yang berujung tragedi Kanjuruhan,” tegas Mahfud.

Struktur TGIPF Tragedi Kanjuruhan:
Ketua: Menko Polhukam, Mahfud Md
Wakil Ketua: Menpora, Zainuddin Amali
Sekretaris: Mantan Jampidum, Nur Rochmad

Anggota:
1. Prof Rhenald Kasali (akademisi UI)
2. Prof Sumaryanto (Rektor UNY)
3. Akmal Marhali (Save Our Soccer/pengamat olah raga)
4. Anton Sanjoyo (Jurnalis Harian Kompas)
5. Nugroho Setiawan (mantan Pengurus PSSI/pemegang lisensi FIFA Security Officer)
6. Letjen TNI (Purn) Doni Monardo (mantan BNPB)
7. Mayjen TNI (Purn) Suwarno (Wakil Ketum I KONI)
8. Irjen Pol (Purn) Sri Handayani (mantan Waka Polda Jabar)
9. Laode M Syarif (kemitraan)
10. Kurniawan Dwi Yulianto (mantan pemain Timnas Indonesia).(end)

Traumatik Siswa Kelas 3 SD Saksi Mata Tragedi Kanjuruhan, “Ayah Aku Takut”

Tragedi Kanjuruhan. (istimewa)

MALANGVOICE – Tragedi Kanjuruhan yang menelan korban 125 jiwa tidak hanya menyisakan kepiluan namun juga trauma yang mendalam.

Salah satu yang mengalami trauma adalah Agung Priyo yang kala itu menyaksikan langsung pertandingan Arema FC vs Persebaya bersama anak dan istrinya di Stadion Kanjuruhan.

Traumatik mendalam dialami anak perempuannya yang berkali-kali mengatakan, “Ayah aku takut”. Tiga kata itu selalu terngiang di telinga Agung Priyo sampai sekarang.

Mendol sapaan Agung Priyo bersama istri dan kedua anaknya memang mengalami langsung ketika tragedi itu terjadi.

Trauma itu sangat dirasakan oleh anak kedua Mendol yang masih kelas 3 SD. Tragedi Kanjuruhan itu terekam jelas dalam memorinya. Rasa takutnya terlihat jelas sampai kami tiba di rumah, Ahad (2/10) dini hari (menjelang Subuh).

Memejamkan mata untuk tidur pun sulit. Sampai-sampai minta dipeluk karena masih ketakutan. “Ayah a:ku takut,” cerita Mendol sembari memeluk erat.

Keesokan harinya, lanjut Mendol, setelah bangun tidur, rasa trauma dan takutnya masih terlihat di wajah putrinya, hanya tidak disampaikan, dan memilih berdiam saja.

“Ya, mungkin hanya berselang 1 menit waktu bisa menyelamatkan mereka (istri dan anak-anak). Terlambat sedikit saja, sudah tidak bisa terbayangkan apa yang terjadi. Mungkin sudah lain ceritanya,” aku pria yang juga sebagai wartawan di Kliktimes.com.

Sabtu malam itu, Mendol bersama istri dan anaknya nonton langsung di tribun VIP bergabung dengan teman media dan penonton lain.

Istri dan anak kedua memang cinta dengan Arema FC. Setiap kali ada pertandingan kandang, selalu minta untuk menonton langsung.

Rasa cemas bakal terjadi keributan sempat muncul ketika Arema FC tertinggal 3-2 dari lawannya Persebaya Surabaya.

“Di menit ke-80, saya sempat sampaikan pada istri dan salah satu teman media. Kalau ini sampai kalah bahaya,” katanya.

Namun, Mendol dan anak istrinya tetap menyaksikan sampai akhir pertandingan. Saat penonton masuk lapangan mendatangi pemain Arema FC, dirinya masih tetap di tribun. Termasuk ketika mulai kericuhan di tengah lapangan antara penonton dan aparat keamanan.

“Ketegangan dan kepanikan baru mulai kami rasakan ketika aparat keamanan secara tiba-tiba menembakkan gas air mata. Bukan ke penonton yang di lapangan, tetapi langsung mengarah ke tribun penonton ekonomi,” ceritanya.

“Loh kok ditembakkan ke tribun, padahal masih penuh dengan penonton. Tidak hanya Aremania, banyak juga Aremanita. Bahkan anak-anak yang turut menonton,” herannya.

Tanpa berpikir panjang, tambah Mendol, dirinya langsung menggendong anak ketiga yang masih balita dari semula digendong istri. Anak kedua saya tuntun dan mengajak istri untuk segera turun dan keluar.

“Ayo lari keluar stadion, ajak saya istri dan satu teman media yang kebetulan juga mengajak istrinya,” jelasnya.

Desakan antarpenonton tak terelakan. Semua ingin selamat dan dapat segera meninggalkan stadion. Setelah dapat keluar, langsung menuju toko milik Sam Awang, Korwil Aremania Kanjuruhan,

“Tiba di toko Sam Awang, istri dan anak-anak langsung saya suruh duduk. Sekitar satu menit berselang, kericuhan di luar pecah. Tembakan gas air mata menghujam Aremania yang ada di luar,” ulasnya.

Akibatnya penonton yang membawa anak kecil langsung berdesak masuk ke dalam toko, dan pintu rolling dor langsung dengan cepat ditutup.

Meski begitu asap gas air mata sebagian masuk ke dalam toko dan membuat semua yang di dalam merasakan mata pedih dan sesak nafas. Bahkan sampai ada anak kecil yang muntah-muntah.

“Hampir dua jam kami di dalam toko, menunggu situasi mereda. Udara pengap kami rasakan. Rasa cemas dan takut dirasakan semua, termasuk anak-anak dan ibu-ibu,” jelasnya.

Setelah kondisi di luar sedikit mereda, sebagian lantas keluar, tetapi Mendol tetap meminta istri dan anak-anak diam di tempat.

“Saya ikut keluar untuk melihat situasi. Kondisi halaman luar stadion sudah tak beraturan. Ketika masuk ke stadion, banyak korban yang tergeletak di tengah lapangan,” terangnya.

Selain korban yang mengalami sesak nafas karena gas air mata, juga banyak mayat teman-teman Aremania yang ditutupi rompi warna orange.

“Trauma ya. Berduka ya, karena saya, istri dan anak-anak pecinta Arema. Semoga ini menjadi evaluasi semua pihak. Tragedi ini harus diusut tuntas,” tukasnya.(end)

Merinding, Orangtua Korban Memeluk Muhadjir Langsung Pingsan

Menko PMK Muhadjir Effendy menyerahkan bantuan pemerintah untuk keluarga korban meninggal musibah kubro Stadion Kanjuruhan di kantor Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang, Senin (3/10/2022). (Ist)

MALANGVOICE – Benar-benar menyentuh hati. Wiyono jatuh pingsan pada saat memeluk Menteri Koordinator bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy saat acara penyerahan bantuan pemerintah terhadap korban musibah kubro (besar) Stadion Kanjuruhan Malang di kantor Camatan Lowokwaru, Kota Malang, Senin (3/10/2022).

Wiyono (52) adalah ayah Vera Puspita Ayu yang menjadi korban meninggal pada musibah kubro tersebut. Dia bertempat tinggal di Kelurahan Jatimulyo, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang.

Menurut liputan JatimTIMES.com, Wiyono duduk di kursi merah di lobi kantor kecamatan bersama keluarga korban yang lain. Muhadjir mendatanginya untuk menyerahkan bantuan dari pemerintah. Wiyono bangkit dari duduk untuk menyambut Muhadjir. Lantas dia memeluk Muhadjir sambil menangis sesenggukan. Adegan itu benar-benar mengharukan. Pada saat memeluk Muhadjir itu Wiyono jatuh pingsan.

Baca Juga: Kadiv Humas Polri: 18 Polisi Diperiksa atas Tragedi Kanjuruhan

Baca Juga: Mahfud MD Pimpin TGIPF Usut Tragedi Kanjuruhan

Muhadjir berusaha menahannya sambil meletakkan di lantai. Melihat peristiwa demikian beberapa orang segera membantu.

Menteri Sosial Tri Rismaharini terlihat panik. Dia segera memanggil petugas medis. “Mana medis… mana medis,” kata Risma. Akhirnya Wiyono berhasil dievakuasi ke sofa.

Wiyono segera mendapat pertolongan dari petugas kesehatan dari Rumah Sehat Baznas Kota Malang serta Public Safety Center (PSC) 119 Dinas Kesehatan Kota Malang. Setelah ditangani beberapa menit Wiyono sadar.

Baca Juga: Komnas HAM Kantongi Data Awal dan Video Tragedi Kanjuruhan, Dalami Penggunaan Gas Air Mata

Muhadjir didampingi Tris Rismaharini menyerahkan bantuan dari Kementerian Sosial berupa bantuan tunai Rp 15 juta dan satu buah paket sembako. Bantuan diserahkan secara simbolis kepada 12 perwakilan keluarga korban. Pemkot Malang menyerahkan bantuan Rp10 juta, dan dari Bank Jatim Cabang Malang sebesar Rp5 juta.

Hadir dalam acara itu Wakil Ketua MPR Saleh Basarah, Wali Kota Malang Sutiaji, Ketua DPRD Kota Malang I Made Riandiana Kartika, Wakil Bupati Malang Didik Gatot Subroto.

Muhadjir juga membezuk tiga orang korban luka-luka yang dirawat di Rumah Sakit Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Sedang Ibu Wida Muhadjir melakukan takziyah terhadap keluarga Angger Aditya Permana, mahasiswa Jurusan Kehutanan UMM yang menjadi korban meninggal musibah kubro itu.(*)

Dikirim Anwar Hudijono, wartawan senior
(Disclaimer: Isi di luar tanggung jawab redaksi malangvoice.com)

Kadiv Humas Polri: 18 Polisi Diperiksa atas Tragedi Kanjuruhan

MALANGVOICE – Setelah dibentuk tim investigasi oleh Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, Polisi akhirnya menyelidiki tragedi Kanjuruhan untuk mencari siapa yang paling bertanggungjawab, dan mulai memintai beberapa orang saksi.

Kadiv Humas Polri Irjen Dedi Prasetyo mengatakan, saat ini tim investigasi sedang melakukan penyelidikan, dan kinerja tim diawasi eksternal dari Kompolnas.

“Tim saat ini masih terus bekerja mendalami kasus ini. Tim Inafis dan Labfor juga sudah melakukan olah TKP,” ucapnya, saat menyampaikan hasil update tim Investigasi di di Loby Mapolres Malang, Senin (3/10).

Baca Juga: Mahfud MD Pimpin TGIPF Usut Tragedi Kanjuruhan

Dedi menjelaskan, saat ini Direktur PT LIB, Ketua PSSI Jatim, Ketua Panpel Arema FC serta Kadispora Jawa Timur sedangkan diperiksa, dan tim Bareskrim yang terdiri dari Timsus dan Propam sedang melakukan pemeriksaan terhadap anggota yang terlibat langsung pengamanan, sedikitnya sudah 18 orang yang diperiksa, mulai dari perwira dan Pamen (perwira menengah).

“Pemeriksaan ini untuk mengetahui siapa yang bertanggungjawab sebagai operator pemegang senjata pelontar. Ini yang sedang kami dalami terkait manager pengamanannya,” jelasnya.

Selain itu, lanjut Dedi, tim Labfor saat ini masih bekerja untuk mendalami dan menganalisa 32 titik CCTV di sekitar stadion, dan memeriksa, menganalisa 6 buah HP.

Baca Juga: Komnas HAM Kantongi Data Awal dan Video Tragedi Kanjuruhan, Dalami Penggunaan Gas Air Mata

“Tiga buah HP teridentifikasi milik korban dan 3 masih proses karena HP tersebut dipassword. Selain itu, tim Inafis dan Labfor nantinya setelah menganalisa CCTV, Tim DVI juga akan mengidentifikasi terkait terduga pelaku pengerukan di dalam dan luar stadion,” terangnya.

Menurut Dedi, Inafis Polri bersama DVI juga berhasil mengidentifikasi 125 korban yang meninggal dunia. Semuanya sudah diambil oleh keluarganya.

“Untuk data korban meninggal dunia sampai siang ini sebanyak 125 orang. Luka berat sebanyak 21 orang dan luka ringan sebanyak 304 orang,” bebernya.

Baca Juga: Pemprov Jatim Beri Santunan Korban Tragedi Kanjuruhan

Disinggung soal SOP pengamanan di dalam stadion apa selalu menggunakan gas air mata?. Dedi menegaskan bahwa itu menjadi bagian materi yang didalami.

“Tentunya eskalasi yang terjadi di lapangan dengan SOP di lapangan itu masih didalami. Kalau dalam kondisi normal bagaimana, kontigensi bagaimana dan emergency bagaimana. Semua akan diaudit dan diperiksa oleh tim,” terangnya.

Begitu juga terkait pemandu suatu keputusan penembakan gas air mata pada tribun penonton. Dedi mengatakan itu masih dalam agenda pemeriksaan di level manager.

Ditanya sikap Polri terkait peraturan FIFA di dalam Stadion? Ditegaskan Dedi bahwa semua SOP dan statuta yang ada merupakan bagian dari materi yang sedang diaudit.

“Jadi kami minta sabar dulu. Biarkan tim bekerja. Nanti setiap perkembangan akan kami update kepada teman-teman media supaya diketahui oleh publik,” tukasnya.

Mahfud MD Pimpin TGIPF Usut Tragedi Kanjuruhan

Menko Polhukam Mahfud MD memimpin konferensi pers hasil rakorsus langkah-langkah cepat mitigasi dan tindak lanjut atas tragedi Kanjuruhan. (MVoice/tangkapan layar kanal Youtube Kemenko Polhukam)

MALANGVOICE – Menko Polhukam, Mahfud MD memimpin Tim Gabungan Independen Pencari Fakta (TGIPF) mengusut Tragedi Kanjuruhan. Hal itu disampaikan Mahfud saat konferensi pers hasil rakorsus langkah-langkah cepat mitigasi dan tindak lanjut atas peristiwa kelam itu.

Unsur keanggotaan akan ditetapkan paling lama 24 jam mendatang. Mereka terdiri dari pejabat/perwakilan kementerian, organisasi profesi olahraga, pengamat, akademisi dan media massa.

“Diupayakan hasilnya bisa diketahui 2-3 pekan mendatang. Pemerintah terpukul atas kejadian yang mengakibatkan 125 korban berjatuhan. Mudah-mudahan tidak bertambah,” tutur Mahfud.

Baca juga : Kapolri: Jumlah Korban Tragedi Kanjuruhan Terverifikasi 125 Orang

Selain itu, pihaknya menyampaikan penanganan langkah-langkah jangka pendek pada beberapa instansi negara sesuai arahan Presiden. Mulai dari Polri agar segera mengungkap dan mengumumkan pelaku yang memenuhi syarat untuk ditindak.

Selain itu Polri diminta melakukan evaluasi penyelenggaraan pengamanan di daerah setempat. Hal yang sama juga ditekankan kepada Panglima TNI, Jenderal Andika Perkasa agar cepat mengambil tindakan.

Baca juga : Aparat Keamanan Bertindak Eksesif saat Tragedi Kanjuruhan, DPC IKADIN Malang Buka Posko Pengaduan

“Karena dalam video yang beredar, tindakan aparat TNI berlebihan dan di luar kewenangannya. Apakah video itu benar atau tidak, Panglima TNI akan meneliti dan kemudian menyampaikannya,” timpal Mahfud.

Lebih lanjut, Kemenpora juga diminta mengundang pengurus PSSI, manajemen klub, panpel daerah dan pihak terkait lainnya. Guna memastikan tegaknya aturan pelaksanaan pertandingan, baik aturan FIFA ataupun yang diatur dalam perundang-undangan.

Baca juga : Pemprov Jatim Beri Santunan Korban Tragedi Kanjuruhan

“PSSI juga, sesegera mungkin melakukan tindakan ke dalam agar bisa berjalan lebih baik lagi,” ujar dia.

Berikutnya, Kementerian Kesehatan diinstruksikan memberikan layanan kesehatan terbaik bagi korban yang kini menjalani perawatan. Segala biaya pengobatan dan perawatan maupun pemulihan trauma akan ditanggung sepenuhnya oleh negara.

“Biar negara yang urus. Pemerintah juga mengusulkan penyaluran bantuan kepada keluarga korban,” ujar dia.(end)

Komnas HAM Kantongi Data Awal dan Video Tragedi Kanjuruhan, Dalami Penggunaan Gas Air Mata

Komisioner Komnas HAM, Choirul Anam bersama timnya di Malang. (Deny/MVoice)

MALANGVOICE – Komnas HAM membentuk tim Investigasi untuk mengusut tuntas Tragedi Kanjuruhan yang terjadi pada Sabtu (1/10).

Tim ini langsung menuju ke Malang pada Senin (3/10). Komisioner Komas HAM, Choirul Anam, mengatakan, ada beberapa agenda investigasi yang dilakukan.

“Agenda Komnas HAM ke Malang ini mengunjungi keluarga korban, rumah sakit. Kami koordinasi dengan Arema dan bertemu dengan pemain untuk tahu apa yang terjadi kemarin,” kata dia saat konferensi pers di Kandang Singa, Senin (3/10).

Baca Juga: Pemprov Jatim Beri Santunan Korban Tragedi Kanjuruhan

Selain itu, tim yang dipimpin langsung Choirul Anam ini juga sudah mengantongi beberapa data awal dari Aremania, mulai video, voice note, dan beberapa dokumen terkait insiden yang menewaskan ratusan suporter.

“Termasuk mendalami penggunaan gas air mata. Kami lihat peristiwa ini objektif. Kenapa bisa terjadi. Dari video ada tindak kekerasan dan sebagaimana tidak hanya gas air mata. Itu kami dalami. Untuk beberapa hari ke depan kami minta semua pihak terbuka, termasuk polisi dan TNI,” imbuhnya.

Ia berharap dari investigasi ini peristiwa mematikan di Stadion Kanjuruhan bisa terang benderang dan tidak terjadi lagi di Indonesia.

Diketahui Tragedi Kanjuruhan ini memakan 125 korban jiwa dari versi polisi.

“Saya bawa tim cukup besar ke Malang dengan peristiwa ini. Semoga tidak terulang kembali di seluruh suporter di Indonesia,” tandasnya.(der)

Pemprov Jatim Beri Santunan Korban Tragedi Kanjuruhan

Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa mengunjungi korban Tragedi Kanjuruhan. (Istimewa)

MALANGVOICE – Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa mengatakan siap menanggung biaya pengobatan korban Tragedi Kanjuruhan.

“Seluruh layanan rumah sakit milik Pemprov Jatim untuk korban semua tanggungan pemerintah,” kata Khofifah.

Khofifah mengatakan, Pemprov Jatim akan memberikan santunan kepada seluruh korban meninggal dunia hingga luka-luka. Jumlahnya sebesar Rp10 juta.

Baca Juga: Tragedi Kanjuruhan, Aremania Korwil Bantur: Salah Apa Ditembak Gas Air Mata?

Tak hanya itu, ia juga meminta Pemda di Malang ikut memberikan santunan sesuai wilayah.

“Pemprov mulai mencicil beri santunan Rp10 juta untuk ahli waris meninggal dunia. Wilayah Pemkot Malang Rp10 juta, Kabupaten Malang Rp10 juta dan dari Bank Jatim Rp5 juta,” ujarnya.

Sedangkan untuk korban luka, Pemprov Jatim menyiapkan tambahan santunan Rp5 juta kepada keluarga.

Diketahui Tragedi Kanjuruhan ini menelan 125 korban meninggal dunia versi polisi.

Insiden ini terjadi setelah Arema FC menelan kekalahan saat menjamu Persebaya Surabaya pada Sabtu (1/10) malam.(der)

Muhadjir Beri Ketenangan Aremania, Sudarmaji: Beliau Paham Kultur Arema

Menko PMK, Muhadjir Effendy melihat dari dekat dampak tragedi Kanjuruhan. (Mvoice/Ist)

MALANGVOICE – Kehadiran Menteri Koordinator bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy ke Malang hanya kurang 10 jam dari terjadinya musibah kubro (besar) Stadion Kanjuruhan Malang, memberi ketenangan kepada kalangan Aremania (julukan suporter klub Arema FC).

“Kalangan Aremania, khususnya para korban merasakan betul mendapat empati dari Pak Muhadjir. Karena Aremania itu sangat gelisah dan merasa terpukul. Betapa tidak, sudah menjadi korban tapi masih dituduh yang bukan-bukan seperti brutal, menjadi pemantik kerusuhan,” kata Sudarmaji, Media Officer Arema FC, Senin (3/10/2022).

Muhadjir membezuk korban yang dirawat di rumah sakit, meninjau stadion Kanjuruhan pasca-kerusuhan, dan memimpin rapat bersama Kapolri, Gubernur Jatim, Menpora, bupati dan Ketua Umum PSSI di pendopo kabupaten Malang, Minggu (2/10/2022) malam. Praktis Muhadjir sejak pagi sampai malam hari mengurusi soal musibah kubro Stadion Kanjuruhan.

Baca Juga: Tragedi Kanjuruhan, Aremania Korwil Bantur: Salah Apa Ditembak Gas Air Mata?

Sebagaimana diberitakan, musibah kubro yang terjadi Sabtu (1/10/2022) malam telah menelan korban 125 nyawa melayang, ratusan luka-luka, belasan mobil rusak. Musibah terjadi dalam pertandingan tuan rumah Arema melawan musuh bebuyutannya Persebaya Surabaya yang berakhir dengan kemenangan tim tamu 2-3.
Pihak berwajib masih melakukan investigasi penyebab musibah. Tapi nitizen cenderung menganggap tembakan gas air mata aparat yang menyebabkan penonton di tribun utara, timur dan selatan panik berebut keluar sehingga chaos. Saat itulah penonton berjatuhan dan terinjak-injak.

Menurut Sudarmaji, Presiden Jokowi telah mengutus orang yang sangat tepat untuk menangani musibah kubro Stadion Kanjuruhan. “Dengan hadirnya Pak Muhadjir, kehadiran negara pada saat rakyat tertimpa musiba benar-benar bisa dirasakan. Pak Muhadjir itu sangat paham kultur Arema. Bukan hanya paham secara akademis tetapi paham secara realitas,” katanya.
Muhadjir memang dekat dengan Arema. Dia tinggal di Malang sejak pertengahan dekade 1970. Pada saat dia menjadi Pembantu Rektor III Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), memiliki tim sepak bola yang berintikan pemain-pemain Arema. Timnya itu mengangkat nama UMM karena sukses menjadi juara nasional kompetisi antarperguruan tinggi.

Dia dekat dengan salah satu pendiri klub Arema, Ebes Soegiyono. Ketika Soegiyono menjadi Wali Kota Malang, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Malang yang dipimpin Muhadjir mendapat kepercayaan menyusun konsep pembangunan Kota Malang yang terkenal dengan tagline “Tribina Cita Kota Malang” yaitu Malang kota pendidikan, industri dan pariwisata. Ia juga dekat dengan sahabat Arema, mantan Walikota Batu Edy Rumpoko. Walikota Malang saat ini, Setijadi juga mahasiswanya di UMM.

Baca Juga: Kapolri: Jumlah Korban Tragedi Kanjuruhan Terverifikasi 125 Orang

Lebih lanjut Darmaji mencontohkan, Muhadjir langsung menegaskan bahwa biaya perawatan korban ditanggung pemerintah. Yang meninggal mendapat santunan. Hal itu sangat menenangkan korban dan keluarganya. Mereka sangat bingung bagaimana pembiayaannya. Maklum banyak korban dari keluarga sederhana.

“Penegasan Pak Muhadjir bahwa musibah ini akan diusut tuntas itu juga memberi harapan masalahnya jelas sehingga Aremania tidak disudutkan dengan tuduhan-tuduhan yang tanpa dasar,” tambah Sudarmaji.(*)

Kiriman Anwar Hudijono, wartawan senior

(Disclaimer: Isi di luar tanggung jawab redaksi malangvoice.com)