Kontainer Disulap Menjadi Hotel Bernuansa Jepang

Kontena Hotel yang dibalut dengan nuansa Jepang, (MG2).

MALANGVOICE – Kontainer secara umum diketahui oleh masyarakat sebagai kotak pengangkut barang. Uniknya kali ini bukan lagi digunakan untuk fungsi umum, tapi kontainer itu dijadikan sebagai kamar hotel.

Kontena Hotel Kota Batu dibangun sejak tahun 2019 lalu dengan tambahan tema bernuansa Jepang sanggup memanjakan mata para pengunjung.

“Kami mengubah kontainer atau box besi menjadi hunian yang estetic dengan kamar bertema Japanese,” ujar Winda Setya, Public Relation Kontena hotel.

Didukung dengan lokasi-lokasi layaknya berada di Jepang, menjadi spot foto Instagrameble.

Suasana menjadi lengkap karena lokasinya berada di daerah yang memiliki udara sejuk, didampingi suasana alam nan asri. Belum lagi ditemani warna-warni taman yang ada di depan pintu kamar hotel.

“Setiap membuka pintu kamar hotel, pengunjung akan menemui taman yang sengaja kita suguhkan. Jadi ada lorong taman juga,” tuturnya.

Untuk fasilitas yang disediakan Kontena Hotel Kota Batu juga cukup beragam, mulai dari restauran, mini market, kolam renang lengkap dengan mini waterboom hingga Playground.

“Kalau mau berwisata, disini juga dekat dengan Jatim Park 1, Jatim Park 2, Museum Angkut, BNS dan Alun alun Kota Batu,” tandasnya.(der)

Jembatan Kaca Kampung Warna-Warni Punya Daya Tarik Bagi Wisatawan

Jembatan kaca yang ada di Kampung Warna-Warni, Jodipan, Kota Malang, (MG2).

MALANGVOICE – Kampung Warna-Warni merupakan salah satu tempat unik yang bisa dimasukkan ke dalam daftar tempat kunjungan bagi wisatawan yang berada di Kota Malang.

Hal itu terlihat dari banyaknya lokasi menarik yang bisa digunakan sebagai spot foto untuk mengisi galeri di media sosial (medsos) Instagram.

Apalagi perkampungan yang terletak di Kelurahan Jodipan itu, memiliki cukup banyak daya tarik mulai dari rumah-rumah yang terhias dengan beraneka ragam warna cat, hiasan mural hingga bermacam-macam ornamen yang tersebar di setiap sudut kampung.

Ketua RW 2 Kampung Warna-Warni Jodipan, Soni Parin, mengatakan salah satu tempat yang menjadi favorit wisatawan untuk berswafoto adalah jembatan kaca.

“Di sini (kampung warna-warni) spot fotonya banyak, yang menjadi favorit pengunjung adalah jembatan kaca. Orang-orang penasaran dengan itu,” ujarnya.

Dikatakan, alasan jembatan yang kabarnya mampu menahan beban 50 orang dengan berat total 250 Kg di atasnya sangat diminati, karena banyak yang penasaran sebelumnya.

“Banyak yang penasaran. Hingga ada yang menganggap jembatan kaca itu mirip dengan jembatan kaca yang berada di Zhangjiajie, China,” tuturnya.

Kampung Warna-Warni Jodipan buka setiap hari mulai pagi hingga sore, dengan tarif retribusi sebesar Rp 5 ribu untuk segala usia.

Sebagai informasi, kampung warna warni pertama muncul dari pelaksanaan program pemerintah Kota Tanpa Kumuh (Kotaku) yang bertujuan untuk mengubah kampung yang sebelumnya kumuh menjadi lebih bagus dan memiliki daya tarik tersendiri.(der)

Disparta Kota Batu Gelar Sambang mBatu, Bukti Pariwisata dan Kesenian Bangkit

Jaran Kepang dan Bantengan di Sendra Tari Arjuna Wiweha. (Aan)

MALANGVOICE – Geliat pariwisata dan kesenian di Kota Batu kembali bangkit kembali. Hal ini ditandai dengan pagelaran yang diselenggarakan Dinas Pariwisata (Disparta) Kota Batu dengan tajuk Samgang mBatu, Sabtu (03/04).

Pagelaran itu dilaksanakan di panggung pertunjukan Sendra Tari Arjuna Wiwaha, Kelurahan Sisir Kota Batu. Beberapa pertunjukan kesenian tradisional dipertunjukan dalam pagelaran itu.

Mulai dari Jaran Kepang, Bantengan, Tari Sando asli Kota Batu, dan tari tradisional lainnya. Tak tanggung-tanggung, para pengunjung datang dengan membawa enam bus pariwisata.

Para pengunjung itu datang jauh-jauh dari Lamongan, Surabaya dan Jawa Tengah seperti Yogyakarta dan Solo. Kedatangan mereka terpuaskan dengan pertunjukan yang memukau serta tempat pertunjukan dengan background gunung Arjuna yang memesona.

“Tempat pertunjukannya bagus, masih terlihat sawah-sawah di belakangnya. Juga Gunung Arjunanya keren, cocok dibuat pertunjukan seperti ini,” jelas Ucok wisatawan asal Solo.

Tari Sando. (Aan)

Ia merasa Sendra Tari Arjuna Wiwaha merupakan tempat pertunjukan yang keren. Ia berharap semakin banyak pertunjukan yang keren ditampilkan di tempat itu.

“Semoga nanti kalau ada kesempatan kesini lagi ada pertunjukan yang lebih keren lagi. Ini sudah keren sih, tapi kalau kesini lagi pertunjukannya sama kan bosan,” jelasnya sambil terkekeh.

Sementara itu Kepala Disparta, Arief As Siddiq mengatakan pertunjukan ini memeliki beberapa tujuan. Antara lain mewujudkan eksistensi jati diri Kota Batu melalui seni budaya.

Juga sebagai daya tarik wisata yang aman sehat, bersih dan lestari. Tak hanya itu, tujuannya juga untuk membangun dan melestarikan seni budaya Kota Batu untuk generasi masa depan yang mengkilat dan berkarakter.

“Dari event ini, saya berharap kegiatan seni di Kota Batu supaya tetap bisa eksis dengan Prokes yang ketat. Pada gilirannya nanti, saya berharap  perekonomian bisa kembali normal seperti sebelum pandemi,” tandasnya.(der)

Peringati Hari Jadi ke-10 ASIDEWI Kembali Keliling Nusantara

Tim Ekspedisi ASIDEWI yang telah memberikan prasasti, (Ist).

MALANGVOICE – Memperingati Hari Jadi ke-10 Asosiasi Desa Wisata Indonesia (ASIDEWI) kembali melakukan Kegiatan Keliling Nusantara dengan tema ASIDEWI Celebrating Anniversary 10 Tahun “Desa Wisata Bangkit”.

Memulai perjalanan awal, Tim ASIDEWI memilih pulau Sumatera guna menginisiasi beberapa desa wisata baru. Meliputi Desa Pandan di Kabupaten Seluma, Desa Embong di Kabupaten Lebong, Desa Lebong Tandai, dan rencananya bakal mengunjungi beberapa desa di Pulau Enggano di Bengkulu.

Beberapa kegiatan yang dilakukan seperti Sosialisasi Konsep dan Strategi Pembangunan Desa melalui Pengembangan desa Wisata kepada seluruh masyarakat dan stakeholder desa.

Kemudian, melakukan pemetaan partisipasi potensi lokal bersama warga desa dengan tujuan untuk menemukan dan mengenali potensi utama yang dapat dikembangkan nanti tanpa menunggu pembiayaan dari DD/ADD.

Selanjutnya pembentukan struktur kelembagaan yang melibatkan seluruh unsur kelompok desa, melakukan pelatihan SDM dan Sistem tata kelola desa wisata dan terakhir pelatihan penyusunan manajemen homsetay.

Selain itu, Tim ASIDEWI juga mengunjungi dua desa wisata yang telah mendapatkan pelatihan di tahun sebelumnya yakni Desa Wisata Rindu Hati, Taba Penanjungan, Kabupaten Bengkulu Tengah dan Desa Wisata Belitar Seberang, Sindang Kelingi, Kabupaten Renjang Lebong untuk melakukan monitoring dan peningkatan SDM.

Tepatnya pada Selasa (23/3) kemarin, Ketua ASIDEWI, Andi Yuwono, memberikan cendera mata berupa prasasti Kepada Kepala Desa Rindu Hati Kabupaten Bengkulu Tengah.

“Prasasti ini sebagai bentuk kepedulian untuk kebangkitan desa-desa wisata di Indonesia, semoga dari desa wisata rindu hati akan menjadi rindu bagi siapapun yang akan pernah datang ke rindu hati,” tuturnya.

Dari penilaian dua desa Rindu Hati dan Belitar Seberang ini memiliki perkembangan yang cukup pesat. Terlihat dari kelembagaan yang solid, sistem tata kelola yang lebih profesional dan tingkat pendapatan yang sudah mencapai 100 juta per bulan.

Sebelumnya, Tim Ekspedisi ASIDEWI ini juga telah melakukan perjalanan pada bulan Oktober Tahun 2020 lalu, dengan tema Ekspedisi ASIDEWI Goes to Bumi Rafflesia 2020.

Dalam ekspedisi itu setidaknya sudah ada 7 desa dari 4 Kabupaten Provinsi Bengkulu, meliputi Rindu Hati di Kabupaten Bengkulu Utara, Belitar Seberang, Air Bening dan Sentral Baru di Kabupaten Rejang Lebong, Sebelat Ulu di Kabupaten Lebong, Napal Jungur dan Kungkai baru di Kabupaten Seluma.(end)

Potensi Produk Batik di Kelurahan Ngaglik, Dapat Jadi Pusat Oleh-Oleh Batik Khas Batu

Wali Kota Batu Dewanti Rumpoko melihat produk UMKM Kelurahan Ngaglik. (Aan)

MALANGVOICE – Pendapa Kelurahan Ngaglik terlihat ramai dengan beragam motif batik. Terdapat beberapa stand memajang berbagai macam kain batik.

Ada juga seorang perempuan yang menggambar motif batik di tempat. Tekun dan konsentrasi ia menggoreskan cairan malam pada lembaran kain putih dengan motif dedaunan.

Banyak ibu-ibu mendatangi stand-stand itu entah sekadar melihat atau beli. Semua pengunjung disambut dengan ramah oleh pemilik stand.

Stand-stand batik itu dipamerkan dalam rangka Festival Batik di Jagongan Ngaglik. Acara itu diselenggarakan dengan menerapkan protokol kesehatan Covid-19 yang ketat. Banyak Satgas Covid 19 yang mengingatkan jika orang-orang terlalu berdekatan atau tidak memakai masker.

Wali Kota Batu Dewanti Rumpoko mengatakan acara ini merupakan awal yang baik untuk penyelenggaraan acara selanjutnya. Penerapan protokol kesehatan harus dijamin dengan baik, ia menegaskan.

“Acara ini baik diselenggarakan meskipun pandemi karena patuh protokol kesehatan Covid-19. Yang harus ditingkatkan adalah kualitasnya agar bisa jadi daya tarik orang luat kota bahkan luar negeri,” jelasnya.

Dukungan dan pendampingan OPD terkait, lanjutnya, merupakan sesuatu yang harus dilakukan untuk peningkatan kualitas produk. Bagusnya kualitas dapat menggaet banyak pelanggan sehingga taraf ekonomi masyarakat Ngaglik meningkat.

“Perluasan pemasaran melalui ruang virtual menjadi keniscayaan. Tanpa harus bertemu bisa bertransaksi. Mari duduk bersama menyusun konsep yang bisa menciptakan daya tarik bagi masyarakat luar kota,” imbuh Dewanti.

Lurah Ngaglik, Edwin Yogaspatra Harahap mengatakan, event ini sebagai ruang menampilkan kreasi pelaku kreatif. Selama ini, para pelaku kreatif menantikan berbagai event yang sebelumnya sempat terhalang seiring adanya pemberlakuan PPKM.

Pelaksanaan kegiatan ini pun digelar dengan menerapkan SOP protokol kesehatan. Baru di Kelurahan Ngaglik yang memulai kegiatan di masa pandemi.

“Tentunya dengan SOP prokes. Ini bisa menjadi contoh agar perekonomian kembali pulih,” ujar dia.

Festival Batik ini menjadi titik awal untuk mengangkat potensi pengembangan wisata melalui produk ekonomi kreatif di Kelurahan Ngaglik. Bermodal antusias dan SDM masyarakatnya, Edwin optimistid dapat menunjang potensi pariwisata di Kelurahan Ngaglik.

Potensi ekonomi kreatif itu sebagai solusi alternatif karena di wilayah ini tak memiliki potensi alam yang menunjang dijadikan daya tarik wisata.

“Kami lihat SDM yang dimilikinya sangat luar biasa. Antusias masyarakat juga sangat tinggi. Makanya kami ingin mengangkat potensi lainnya, yang notabene Kelurahan Ngaglik tidak punya potensi alam,” terang Kepala Dinas Pariwisata Kota Batu, Arief As Siddiq.

Lebih lanjut ia mengungkapkan, akan menyusun rencana pada semester I dan semester II 2021 untuk mendongkrak pasar ekonomi kreatif. Khususnya produksi batik dan souvenir yang dapat dijadikan ikon wisata Kota Batu.

“Kami telah konsolidasi dengan pelaku ekonomi kreatif, tokoh-tokoh masyarakat dan pak lurah. Komitmennya luar biasa menyukseskan pengembangan wisata Kelurahan Ngaglik. Semoga Ngaglik bisa jadi ikon pusat wisata ekonomi kreatif di Kota Batu,” ujar Arief.(end)

Kelurahan Ngaglik Akan Dijadikan Disparta Kota Batu Pusat Ekonomi Kreatif

Pelaku UMKM Ngaglik tunjukan produknya kepada Wali Kota Batu Dewanti Rumpoko. (Aan)

MALANGVOICE – Kelurahan Ngaglik, Kecamatan Batu, Kota Batu merupakan kelurahan yang tak miliki potensi wisata alam. Padahal wisata alam di berbagai desa/kelurahan di Kota Batu menjadi andalan wisata.

Menanggapi hal itu Dinas Pariwisata (Disparta) Kota Batu mengambil langkah jitu menjadikan Kelurahan Ngaglik sebagai pusat ekonomi kreatif. Terutama oleh-oleh batik khas Kota Batu.

Hal itu disampaikan Kepala Disparta Kota Batu, Arief As Siddiq pada acara Jagongan Ngaglik, di Pendopo Lurah Ngaglik, Rabu (24/03). Ia mengatakan pelaku wisata ekonomi krearif di Kelurahan Ngaglik memiliki semangat yang luar biasa untuk mengangkat potensi wisatanya.

“Kami punya program secara khusus agar Kelurahan Ngaglik ini menjadi jujukan wisatawan untuk mendapatkan produk ekonomi kreatif khususnya batik. Tidak hanya itu mereka juga menyediakan layanan wisata untuk membuat batik,” jelasnya.

Ia melanjutkan, pihaknya akan mendukung fasilitas yang dibutuhkan untuk mewujudkan potensi wisata Keluragan Ngaglik. Rencananya beberapa rumah akan dijadikan gallery batik di mana wisatawan bisa berbelanja dan membuat batik.

Selain itu, Kelurahan Ngaglik juga akan membuat wisata kampung jawa. Nantinya akan ada tempat di mana wisatawan belajar aksara jawa, permainan tradisional jawa, dan budaya Jawa.

“Kami ada program fasilitasi di samping sarana dan prasarana yang diperlukan. Nanti tenaga pengajar seperti guru-guru bahasa jawa akan kami siapkan,” lanjutnya

Kemudian, pihaknya akan membantu mempromosikan dan memasarkan juga. Arief melanjutkan Disparta akan terlibat untuk mengajak masyarakat agar terlibat dan berpartisipasi dalam program ini.

Sementara itu, Lurah Ngaglik Edwin Yogaspatra Harahap mengatakan andalan wisata di Kelurahan Ngaglik adalah sumber daya manusianya. Hal ini karena Kelurahan Ngaglik tidak punya sumber daya alam.

“Kami berfokus untuk mengangkat potensi ekonomi kreatif berbasis masyarakat untuk dijadikan wisata. Semuanya sudah semangat untuk menyongsong mimpi ini, semoga bisa terwujud,” harapnya.

Wali Kota Batu, Dewanti Rumpoko mengatakan pihaknya mendukung rencana ini. Ia menegaskan pada kualitas yang harus bagus dan mempunyai daya tarik yang kuat.

“Kegiatan ini cukup bagus saya minta secara kualitas ditingkatkan agar bisa jadi daya tarik orang luar kota,” tandasnya.(end)

Banyak Dilalui Truk, Akses Jalan Menunju Pantai Selatan Rusak

Kondisi jalan di Srigonco, Bantur. (Toski D).

MALANGVOICE – Akses jalan menuju wisata pantai di sepanjang Jalur Lintas Selatan (JLS) Kabupaten Malang rusak.

Kerusakan jalan tersebut dikarenakan adanya kendaraan besar (dump truk) yang mengangkut material untuk proyek pembangunan Jalur Lintas Selatan (JLS) tahap dua.

Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Malang, Wahyu Hidayat, mengaku sudah mendapat laporan dan segera berkoordinasi dengan KemenPUPR.

“Kami sudah berkoordinasi dengan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Republik Indonesia (PUPR RI) untuk memperhatikan kondisi jalan,” ucap Wahyu, Selasa (23/3).

Menurut Wahyu, dump truk yang mengangkut material untuk proyek JLS yang melebihi tonase jalan, juga dikarenakan cuaca ekstrem saat ini.

“Sudah koordinasi dengan PUPR, nanti untuk perbaikan atau peningkatan akses jalan itu akan dilakukan oleh mereka (PUPR), Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang saat ini hanya melakukan perawatan saja,” tegasnya.

Terpisah, Kepala Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga (DPUBM) Pemkab Malang, Romdhoni menyampaikan akses jalan menuju objek wisata pantai di Malang Selatan yang kondisinya rusak berat mulai dilakukan perbaikan, sehingga lubang jalan di sejumlah titik jalan menuju beberapa wisata pantai di Malang Selatan akan segera membaik.

“Banyak jalan rusak yang diperbaiki, untuk akses jalan menuju Malang Selatan, ada beberapa yang dilakukan pelebaran,” katanya, beberapa waktu lalu.

Pelebaran beberapa akses jalan tersebut, lanjut Romdhoni, selain untuk menunjang program strategis pemerintah pusat, juga untuk mempermudah wisatawan yang akan berkunjung ke wilayah pantai Malang Selatan.

“Untuk pelebaran jalan Tumpang-Turen masih dalam proses, bahkan jalan menuju pantai selatan. Untuk akses jalan ke pantai Balekambang masuk dalam Pemeliharaan rutin. Targetnya, selesai selama periode pak Bupati HM Sanusi ini,” tukasnya.(der)

Alun-Alun Kota Batu Kembali Ramai Seiring Berjalannya PPKM Mikro

Alun-alun Kota Batu. (Aan)

MALANGVOICE – Ikon wisata Kota Batu, Alun-alun mulai kembali ramai. Wisatawan luar daerah banyak berkunjung, seiring Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) berskala mikro dijalankan.

Pengembalian lancarnya perputaran roda ekonomi tentu diharapkan semua pihak. Alun-alun yang hanya dikunjungi ratusan orang saja ketika pandemi, kini perlahan meningkat.

“Saat PPKM awal masih sepi. Namun sekarang sudah mulai ramai dari pada sebelum-sebelumnya,” terang Security Alun-alun Kota Batu.

Pada hari biasa, rata-rata pengunjung bisa mencapai seribu orang. Sedangkan pada weekend, maksimal terdapat 3 ribu pelancong. Ramainya wisatawan memang lebih banyak ditemui ketika akhir pekan saja.

Ali sapaan akrabnya mengatakan jika jumlah wisatawan yang ada bisa lebih kecil dari itu. Lantaran, tidak adanya sistem tiket bagi pelancong.

Mereka akan tetap terhitung meskipun hanya keluar untuk masuk beli minum atau makanan dan kembali lagi. Karena itu, tidak ada jumlah pasti untuk pengunjung yang ada.

“Hujan juga saya lihat tidak terlalu mempengaruhi wisatawan untuk datang. Bahkan ada yang kesini dengan menggunakan jas hujan,” tuturnya.

Sisi ikonik Alun-alun memang tak bisa terlepaskan. Tak sedikit orang yang rela datang jauh hanya untuk mengunjungi objek wisata yang telah berdiri lama ini.

Pengadaan sarana protokol kesehatan (prokes) yang memenuhi standar juga menjadi hal utama bagi pengelola. Mereka ingin menanamkan kenyamanan dan keamanan pada setiap pengunjung.

Terbukti dari segala regulasi yang diterapkan. Pelancong yang datang harus melakukan cek suhu badan di pintu masuk.

Setelah itu, mereka akan diarahkan untuk mencuci tangan di westafel yang telah disedikan. Selain itu, di area wisata juga terdapat 10 tempat cuci tangan.

Ada juga banner imbauan prokes di beberapa sudut destinasi. Petugas Alun-alun pun rutin berkeliling guna mengingatkan para pelancong yang lalai dalam pemberlakuan prokes. Seperti pemakaian masker ataupun penjagaan jarak.

Salah satu pengunjung, Muhammad Rofiq juga mengaku sangat senang bisa berkunjung ke objek wisata andalan Kota Wisata ini. ia menyebutkan, keindahan dan suasana yang ada tidak bisa didapatkan di Alun-alun Kota/Kabupaten lain.

Spot-spot yang ada, menurutnya juga sangat bagus untuk digunakan berswafoto. Bianglala di jantung Alun-alun juga menjadi daya tarik tersendiri. Bisa melihat seluruh Kota Batu dari ketinggian menjadi alasan kegemarannya.

“Rasanya kurang afdol saja kalau tidak main kesini. Saya juga menyukai makanan yang ada di area centra PKL,” tutup pria asal Surabaya tersebut.(der)

Paket Wisata Eduaksi Dadaprejo Siap Terima Wisatawan Meski Pandemi

Ketua Wisata Eduaksi Dadaprejo, Andik Wibowo. (Aan)

MALANGVOICE – Pembatasan demi pembatasan dilakukan pemerintah untuk meredam persebaran Covid-19. Saat ini Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) sudah memasuki tahap ketiga.

Kota Batu pun mengikuti aturan yang ditetapkan berdasarkan Instruksi Kemendagri No. 05 tahun 2021. Kegiatan pariwisata yang menjadi titik topang perputaran ekonomi di kota ini pun harus juga dibatasi.

Protokol kesehatan (prokes) Covid-19 harus dilakukan dengan ketat oleh pelaku wisata, seperti menyediakan tempat cuci tangan, pengecekan suhu tubuh, imbauan memakai masker, hingga menjaga jarak.

Paket Wisata Eduaksi di Kelurahan Dadaprejo, Kecamatan Junrejo, Kota Batu telah memberlakukan prokes tersebut. Pengelola menyatakan siap menerima kunjungan wisatawan dengan kapasitas 90 orang.

Hal itu disampaikan Ketua Wisata Eduaksi Dadaprejo, Andik Wibowo yang sekaligus menyatakan pihaknya telah menerapkan Prokes sesuai anjuran pemerintah.

“Kita siap saja menerima kunjungan wisatawan dengan menjamin Prokes. Bulan lalu ada rombongan dari Mojokerto yang ke sini,” jelasnya.

Setiap destinasi wisata hanya dibatasi 30 orang, padahal ketika kondisi normal bisa sampai 100 orang. Pembatasan itu jika ditotal hanya bisa menerima rombongan dengan total 90 orang per hari.

“Kami sudah mempunyai Satgas Covid-19 sendiri dari kelurahan yang terdiri dari karang taruna dan organisasi kemasyarakatan lainnya. Jadi mereka yang mengawasi penerapan protokol kesehatan di sini,” urainya.

Perlu diketahui, Kelurahan Dadaprejo menawarkan paket wisata yang di dalamnya ada tiga destinasi wisata. Destinasi wisata itu adalah Wisata Eduaksi Anggrek, Wisata Eduaksi Batik, dan Wisata Eduaksi Gerabah.

“Nanti orang-orang yang ke sini tidak hanya berwisata saja, tapi mendapat edukasi tentang anggrek, batik dan gerabah. Juga mereka berkesempatan untuk melakukan penanaman anggrek, menggambar batik dan pembuatan gerabah,” jelasnya.

Andik menambahkan wisatawan mendapat jatah membawa pulang satu anggrek, gerabah dan kain batik. Hal itu merupakan visi paket wisata di sana. Wisatawan mendapat edukasi serta langsung melakukan aksi untuk melaksanakan apa yang telah diedukasikan.

“Maka dari itu dinamakan wisata eduaksi karena wisatawan tidak hanya berwisata saja tapi juga mendapat edukasi sekaligus beraksi,” imbuhnya.

Wisata di Kelurahan Dadaprejo dibranding dengan wisata anggrek, karena anggrek di sana sudah kondang hingga mancanegara. Batik yang dikenalkan juga batik dengan motif anggrek.

Terdapat kebun anggrek seluas 3.500 meter. Kebun itu milik Dedek Setia Santoso dengan nama Dedek Orchid yang dijadikan salah satu destinasi wisata di Kelurahan Dadaprejo.

Mahasiswa dari berbagai universitas mempelajari tanaman anggrek

Sebanyak ribuan tanaman anggrek berada di kebun itu. Dedek pun memiliki varian anggrek hasil perkawinan silang yang ia inisiasi sendiri.

“Salah satunya Dendrobium Rara Anteng. Banyak di sini, kita September tahun lalu membagi 4000 bibit anggrek yang langka-langka,” jelas Dedek.

Ia mengatakan pasar penjualannya sudah sampai Benua Asia dan Eropa. Thailand, Malaysia, China, Rusia, Belanda, Prancis dan masih banyak lagi sudah menjadi tempat berlabuh anggreknya.

Ribuan bibit anggrek

Hal itu yang menjadikan anggrek Dedek kondang di kalangan pecinta anggrek. Kondangnya anggrek milik Dedek hingga menjadikan Kelurahan Dadaprejo dikenal sebagai Kampung Anggrek.

Kepala Disparta Kota Batu, Arief As Siddiq, menambahkan, adanya paket wisata eduaksi ini diharap mampu menarik wisatawan meski dalam kondisi pandemi.

“Pengelola wisata juga sudah siap dengan prokes yang ditentukan, apalagi di sini tidak hanya wisata, tapi juga edukasi,” ujarnya.

Saat ini Disparta membuat program Dewi Sandra (Desa Wisata Sehat Aman dan Ramah) di setiap wilayah. Tujuannya jelas, wisata Kota Batu tahun ini semakin berkembang.

“Kami sangat berharap tahun ini pariwisata bisa bangkit lagi dan wisatawan percaya kami mampu tetap menjaga prokes dengan baik,” tandas Arief. (end)

Wisatawan Mulai Berdatangan ke Kota Batu, Perajin Gerabah Buka Puasa Penghasilan

Alat-alat dapur dari gerabah di Dadaprejo. (Aan)

MALANGVOICE – Para perajin gerabah Kota Batu mulai dapatkan banyak pelanggan. Setelah puasa penghasilan akibat pandemi Covid-19, saat ini mulai berbuka dengan kedatangan wisatawan dan membeli gerabah sebagai oleh-oleh.

Seperti pengakuan salah satu perajin gerabah, Samsul Riyanto, memang ada peningkatan penjualan. Jika biasanya hanya ada lima orang yang berkunjung setiap hari, kini konsumennya bisa mencapai 15 orang dalam sehari.

“Biasanya hanya menunggu dan hanya duduk. Alhamdulillah sekarang sudah mulai naik, wisatawan sudah beranjak ramai,” ucapnya saat ditemui di kiosnya yang berada di Desa Dadaprejo, Kecamatan Junrejo, Jumat (12/03).

Produksi yang sempat dihentikan karena stok barang menumpuk kini sudah dilakukan lagi. Berbagai kerajinan dibuatnya, mulai dari bahan baku kayu hingga batu.

Olahannya, jelas Samsul, meliputi berbagai macam alat dapur. Seperti cobek batu, sendok kayu hingga tudung saji. .

Samsul menjelaskan sudah jarang ditemui perajin gerabah di era modern yang masih bertahan.
Padahal produk yang dihasilkan sudah pasti lebih aman, karena bahan baku yang alami.

“Patokan harga juga murah. Berkisar dari Rp8 ribu sampai Rp350 ribu per item. Tergantung dari jenis, bahan baku dan ukuran barang,” jelasnya.

Gemuruh wisata Kota Batu pasti sudah lama dinantikan, mengingat mayoritas masyarakat yang bergantung pada sektor wisata. Salah satu konsumen, Wiwik Utami asal Surabaya juga membenarkan keunikan olahan asli Batu.

“Cobek batu seperti ini sangat jarang ditemui. Tapi di Batu masih sangat banyak,” tuturnya.

Perempuan yang berlibur ke salah satu destinasi wisata buatan Batu ini, menyempatkan diri untuk belanja buah tangan. Ia mengakui sangat menyukai kerajinan tangan yang masih menggunakan bahan alam. Salah satu alasannya karena mengingatkannya pada zaman mudanya.

“Semoga bisa tetap bertahan dan tidak kalah dengan barang modern. Ini merupakan warisan leluhur, jadi harus dilestarikan,” tutupnya.(end)