Makan-makan, Memancing dan Berkuda dalam Satu Restoran

Pring Pethuk. (istimewa)

MALANGVOICE – Restoran dengan makanan yang enak dan view memanjakan sudah biasa ditemui. Tapi, bagaimana jika ada restoran yang menyuguhkan pengalaman berkuda dan memancing? Fasilitas itulah yang bisa ditemui di Pring Pethuk, Bumiaji, Kota Batu.

“Di sini kita juga ada kolam besar berisi ikan koi. Pengunjung bisa memberi makan sembari menyantap hidangan,” kata Manager Pring Pethuk, Nanang Yudistiro saat ditemui Sabtu (14/11).

Pengunjung bisa memancing sebagai penghilang rasa penat dan refreshing.
Sebelum selanjutnya ditimbang untuk diolah sesuai menu yang ada. Harga ikan dipatok Rp 50 ribu per kilo.

Bagi yang tidak ingin memancing, tentu restoran ini mengadakan ikan siap olah. Ada berbagai ikan seperti gurame sampai kakap merah. Dengan menu unggulan ikan bakar.

Selain memancing pengunjung juga bisa berkuda. Namun, hiburan ini hanya dibuka pada Sabtu dan Minggu.

Pada masa pandemi ini, jumlah wisatawan cendrung menurun. Penurunan itu bisa mencapai 40 – 50%. Di hari normal dulu, mereka bisa menerima tamu 20 sampai 30 meja perharinya. Sedangkan kini, setiap harinya hanya 10 hingga 15 meja.

“Semoga pandemi ini tidak berlarut – larut. Kasian karyawan yang terkena imbasnya,” harapnya.(der)

Sawah Rojo Art, Konsep Bertani Mengusung Teknologi 4.0

Walikota Batu, Dewanti Rumpoko Meresmikan Sawah Rojo Art. (ist)

MALANGVOICE – Sawah Rojo Art Farming tawarkan lahan pertanian berkonsep 4.0 dengan pemandangan yang memesona. Konsep bertani tersebut diinisiasi arek milenial asli Kota Batu.

Diresmikan oleh Wali Kota Batu, Dewanti Rumpoko, Minggu (8/11), Sawah Rojo Art yang bertempat di Pesanggrahan didukung menjadi Ikon Agrowisata. Dalam peresmian itu Dewanti menanam beberapa bibit sayur.

Konsep yang ditawarkan ialah sewa lahan petani yang dikelola petani hingga panen. Hasil panen akan langsung menjadi milik penyewa lahan. Sehingga petani tidak perlu berurusan dengan tengkulak.

“Regenerasi petani perlu digiatkan di kalangan kaum milenial,” jelas Dewanti.

Pasalnya regenerasi petani dari kalangan milenial dapat menjadi peluang bagi Sawah Rojo untuk menyasar CSR dari perusahaan BUMN.

“CSR dari BUMN mencari pertanian yang digerakkan kaum milenial. Paling tidak ada keterbilatan 30 persen generasi milenial,” kata Dewanti.

“Manajemen lahan pertanian yang dikembangkan di Sawah Rojo yakni menawarkan paket edukasi dan pengalaman bercocok tanam kepada masyarakat maupun wisatawan.” jelas Founder Sawah Rojo Art, Herman Aga.

“Seperti menanam bibit, merawat lahan hingga memanen hasil pertanian pada lahan hamparan seluas 4000 meter,” imbuh Herman.

Sawah Rojo Art menawarkan harga sewa yang bervariasi sesuai dengan luas lahan. Mulai dari 50 meter persegi dengan harga sewa Rp 3.000.000. Luas 100 meter persegi dengan harga sewa Rp 5.000.000.

Herman mengatakan bahwa dengan masa sewa selama tiga bulan di Sawah Rojo Art, penyewa sudah bisa merasakan hasilnya. Karena dalam tiga bulan itu sudah banyak sayuran yang dapat dipanen.

Selama masa sewa itu, penyewa mendapatkan fasilitas perawatan lahan selama tiga bulan. Ada 27 lebih varian tanaman seperti varian tomat, varian cabe, varian wortel, varian jagung, paprika, kacang panjang, terong ungu, okra, padi merah, kubis, pacoi, kailan, andewi, slada krop dan masih banyak lagi.

“Tentunya sangat menyehatkan tubuh bila dikonsumsi, dan khusus para member berhak mendapatkan free lunch ala desa setiap bulannya,” ujar Herman. Konsep sewa lahan sekaligus untuk membantu petani yang terjerembab dalam permainan tengkulak yang memasang harga miring.

Namun melalui Sawah Rojo Art Farming, para member akan membawa jejaring baru bagi petani. Dan membuka peluang besar terjalinnya kerjasama seperti terbukanya akses pasar langsung hingga kerjasama strategis lainnya yang bersifat Business To Business (B2).

“Transfer knowledge juga akan terjadi secara alamiah, antara para member dengan petani, baik dalam dalam hal alih teknologi pertanian hingga kisah – kisah kehidupan lainnya,” ujar dia.

Herman juga mengajak anak-anak muda generasi millenial agar menjadi petani muda. Semangat regenerasi petani ini didukung oleh berbabai pihak seperti Walikota Batu yang menginginkan generasi milenial menjadi punggawa petani tangguh Kota Batu.

Mereka akan dibekali mindset industri 4.0 seperti Internet Of Things (IoT), big data, artificial intelligent, robotic hingga cloud computing. Tentunya dipersiapkan program inkubasi binis teknologi kreatif yang didukung oleh para mentor berpengalaman untuk meningkatkan kemampuan para petani milenial demi mewujudkan visi pertanian desa yang berdaulat.

“Tidak zamannya lagi membajak sawah di bawah terik matahari, tidak perlu lagi susah payah buka lapak di pasar pagi, tidak perlu risau lagi dengan tengkulak jahat. Kini petani milenial tetap keren bertani dengan teknologi digital,” tandasnya.(der)

Buka Lomba, Wali Kota Batu Terbangkan Layang-Layang Hias

Wali Kota Batu Dewanti Rumpoko Terbangkan Layang-layang Hias. (Achmad Sulchan An Nauri)

MALANGVOICE – Perdana, Dinas Pariwisata (Disparta) Kota Batu gelar Lomba Layang-Layang Hias di Lapangan Sendratari, Sisir, Kota Batu.

Lomba tersebut diadakan guna mengangkat citra pariwisata Kota Batu yang selama pandemi ini vakum. Juga untuk mendukung kreativitas pengerajin layang-layang sekaligus penerbangnya yang berada di Kota Batu.

Acara itu dibuka oleh Wali Kota Batu, Dewanti Rumpoko dengan menerbangkan layang-layang hias bermotif pelangi.
“Saya baru pertama kali menerbangkan layang-layanh hias semacam ini, seru sekali,” ujar Dewanti dengan sumringah.

Dewanti tunjukkan skill terbangkan layang-layang.

Dewanti mengaku bahwa ketika masih kanak-kanak ia suka bermain layang-layang. “Terutama kalau ada layangan yang putus saya biasanya lari-lari mengejar layangan yang putus itu,” kata Dewanti mengenang masa kecilnya.

Ia teringat masa kecilnya ketika ia mencampur benang dengan pecahan gelas kaca. “Namun layang-layang seperti ini beda cara penerbangannya dengan layangan yang biasa saya terbangkan waktu kecil,” tambahnya.

Dewanti menambahkan bahwa layangan hias seperti ini berat dan haris berhati-hati menerbangkannya. Karena beratnya layang-layang dan tipisnya benang bisa melukai tangan. Dewanti berharap penerbang layang-layang hias di lomba itu berhati.

“Angin di Kota Batu ternyata bagus untuk digunakan menerbangkan layang-layang hias,” jelas Dewanti. Ia berharap acara ini bisa menjadi festival dan digelar setiap tahun.

Ia berharap Disparta Kota Batu mengembangkan wisata layang-layang di Kota Batu. Karena ia melihat ada potensi di Kota Batu untuk melakukan hal tersebut.

Di lain sisi, Kepala Dinas Pariwisata Kota Batu, Arief As Siddiq mengatakan bahwa acara lomba perdana ini disambut dengan antusias. “Luar biasa ya ini, pesertanya ada yang dari Pasuruhan, Tuban, Mojokerto, Yogyakarta bahkan dari Bali,” terangnya.

Ada 33 peserta yang masuk dalam kategori lomba. Namun seluruh peserta terdapat 100 peserta.

“Ini akan menjadi event tahunan untuk mengakomodir kreatifitas Kota Batu dan menjadi ikon baru Kota Batu,” terangnya. Arief mengatakan bahwa layang-layang banyak penggemarnya sehingga ia berharap Kota Batu bisa jadi jujukan wisata terkait layang-layang ini.(der)

Jembatan Lanang, Entry Gate Menuju Keindahan Kota Batu Dipercantik DPUPR

Jembatan Kali Lanang yang Sedang Dalam Proses Percantikan. (Achmad Sulchan An Nauri)

MALANGVOICE – Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kota Batu meninjau jembatan terpanjang di Kota Batu, Jembatan Kali Lanang. Disamping tu DPUPR juga mempercantik jembatan tersebut.

Jembatan ini terletak di Desa Pandanrejo, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu. Jembatan yang menjadi akses wisatawan yang berasal dari arah Surabaya melalui Karangploso yang terletak di Kabupaten Malang merupakan entry gate menuju keindahan Kota Batu.

Kepala DPUPR Kota Batu, Alfi Nurhidayat mengatakan di tahun ini pihaknya melakukan pemeliharaan 3 jembatan, salah satu jembatan yang mendapatkan pemeliharaan adalah jembatan Kali Lanang. “Pemeliharaan yang kita lakukan dengan melakukan pengecekan diseluruh joinnya atau sambungannya, mur, baut dan elastomernya (bantalan karetnya) sekaligus dengan melakukan pengecatan di rangka besi yang ada dijembatan,” jelasnya saat di wawancarai Malangvoice.com (7/11).

Ia juga menjelaskan tidak hanya melakukan pengecatan dan perawatan saja, melainkan pihaknya akan memasang beberapa lighting, dengan tujuan ketika malam hari jembatan tersebut dapat menjadi obyek wisata dan agar dapat dimanfaatkan warga sekitar untuk kawasan kuliner yang produktif.

“Dengan demikian kawasan tersebut perekonomian akan bergerak 24 jam, sehingga ini juga dapat sekaligus menjadi implementasi visi misi Walikota dan Wakil Walikota ‘Desa Berdaya Kota Berjaya’,”terangnya.

Ia juga menambahkan diharapkan jembatan tersebut juga dapat menjadi penanda bagi wisatawan yang akan berkunjung di Kota Batu, dan dengan hal tersebut jembatan akan terlihat lebih instagramable.

Hal ini diapresiasi oleh Kepala Desa Pandanrejo, Manan, pasalnya jembatan tersebut merupakan jembatan penunjang akses Desa Wisata Pandanrejo. Perbaikan ini dapat meneguhkan Desa Wisata Pandanrejo.

“Semoga dengan hal ini dapat meneguhkan Desa Wisata, khususnya Pandanrejo dan juga warung-warung makan tradisional yang ada disebelah jembatan tersebut,” tutupnya.

Sumber Torokan Park, Wisata Alam dan Sejarah Kota Batu

Salah Satu Pengunjung Memberi Makan Ikan.(Achmad Sulchan An Nauri)

MALANGVOICE – Berbagai macam wisata ada di Kota Batu. Salah satunya adalah Sumber Torong Park, Kelurahan Sisir. Terdapat banyak pohon-pohon beringin dan artefak buatan di sana.

Suasana sejuk dipadu dengan keteduhan rindang pohon beringin juga artefak buatan merupakan daya tarik tersendiri di tempat itu. Selain itu juga terdapat sumber, kolam ikan, dan warung di sana.

“Dulu di sini dibuat penyucian diri bagi orang-orang yang mau tapa brata atau mau melakulan persembahan,” terang Ketua Sumber Torong Park, Hari Agung. Untuk membertahankan atmosfer bersejarah terdapat arca-arca buatan.

Seperti relief Buddha, tatanan artistik dari lumpang, hingga patung penari wanita anggun di sana. “Baru Desember 2018 kita serius merawat Sumber Torong untuk dijadikan tempat wisata,” imbuh Hari.

Pada awalnya, wisata di sana hanya ada kolam pemancingan saja. Namun kolam tersebut tidak banyak mendatangkan wisatawan.

Dikarenakan kolamnya yang terlalu jernih sehingga ikan-ikan terlihat jelas. Sehingga wisata pemancingan itu hanya bertahan 6-8 bulan saja. “Kata orang-orang yang mancing jadi tidak seru,” kata Hari.

Agar kolam tersebut tetap bisa difungsikan, Hari tercetus sebuah inovasi lain. Yaitu menyediakan perahu karet untuk mengelilingi kolam ikan tersebut.

Banyak anak-anak kecil yang antusias naik perahu tersebut. Padahal hanya terdapat tiga perahu karet saja. Sehingga anak-anak harus mengantri panjang.

“Anak-anak yang bosan mengantri banyak yang tidak sabar sampai akhirnya pada berenang di kolam ikan,” tambahnya sambil tertawa. Akhirnya Hari berinisiasi untuk membuat kolam renang agar anak-anak tidak berenang di kolam ikan.

Hari mengaku bahwa seluruh pembangunan wista Sumber Torong Park penuh dari swadaya masyarakat. “Wakil Walikota sudah pernah kesini dan diberi usul untuk perbaikan jalan,” jelasnya.

Hari mengatakan bahwa pengunjung Sumber Torong Park sudah ramai, namun ketika pandemi terpaksa ditutup. Baru dibuka pada tanggal 24 Juli lalu.

Pemasukan pada wisata itu bisa mencapai 1,5 juta setiap harinya. “Ya saya berharap wisata Sumber Torong Park semakin ramai,” pungkasnya.(der)

Cuaca Buruk, Pendakian Gunung Arjuno Ditutup

Gunung Arjuno-Welirang dilihat dari Kota Batu. (Aziz Ramadani MVoice)

MALANGVOICE – Akses pendakian Gunung Arjuno Welirang kembali ditutup. Langkah ini diambil lantaran kondisi cuaca buruk.

Kepala Unit Pengelola Teknis (UPT) Taman Hutan Raya (Tahura) Raden Soerjo Ahmad Wahyudi mengatakan, penutupan sementara telah dilakukan sepekan lalu. Cuaca buruk jadi pertimbangan utama yang berpotensi membahayakan pendaki.

“Kami tutup karena di puncak hujan deras, berkabut, dan angin cukup kencang,” kata Wahyudi.

Ia menambahkan, kondisi cuaca yang cukup ekstrem itu menyebabkan jalur pendakian licin. Pihaknya belum memutuskan sampai kapan penutupan jalur pendakian gunung berketinggian 3.339 mdpl diberlakukan. Jika dirasa telah aman, maka akses pendakian bakal dibuka kembali.

“Penutupan dilakukan hingga cuaca kondusif,” ujarnya.

Ia mengimbau bagi para pendaki yang telah terlanjur melakukan pendaftaran online pendakian Gunung Arjuno Welirang, agar melakukan penjadwalan ulang (reschedule).

Seperti diberitakan, pengelolan telah membuka kembali pendakian Arjuno-Welirang, pada 5 September 2020, pasca penutupan akibat pandemi Covid-19. Jalur pendakian dibuka bertahap, yakni dibuka jalur pendakian pada dua titik yakni jalur Lawang, dan Sumber Brantas.

Pos pendakian jalur Lawang terletak di Desa Wonorejo, Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang. Sementara untuk pos pendakian Sumber Brantas, terletak di Desa Sumberbrantas, Kecamatan Bumaji, Kota Batu.

Kemudian, pembukaan tahap dua dilakukan pada 12 Oktober 2020, yakni jalur Tambaksari, yang merupakan jalur pendakian religi, karena ada beberapa petilasan atau peninggalan bersejarah seperti pekuburan, dan peninggalan kuno yang dapat ditemukan pada jalur pendakian.

Selain itu juga jalur pendakian melalui pintu masuk Tretes. Jalur Tretes terkenal cukup berat karena jalur pendakian yang menanjak dan berbatu. Jalur Tretes merupakan jalur pendakian Gunung Arjuno dari sisi utara gunung, dan lebih berat dibandingkan dari jalur lainnya.

Gunung Arjuno, terletak bersebelahan dengan Gunung Welirang, termasuk Gunung Kembar I, dan Gunung Kembar II. Puncak Gunung Arjuno terletak dalam satu punggungan yang sama dengan puncak Gunung Welirang, dan lebih dikenal sebagai kompleks Arjuno-Welirang.(der)

Hanya 11 Dari 24 Desa Miliki Kelembagaan Desa Wisata di Kota Batu

Kondisi Sumber Torong Park Yang Tidak Memiliki Kelembagaan (Ist)

MALANGVOICE – Kelembagaan merupakan kunci awal dari perwujudan Desa Wisata di Kota Batu. Namun, hal ini tidak dibarengi oleh partisipasi pemerintah desa atau kelurahan di Kota Batu.

Hanya 11 desa/kelurahan dari 24 desa/kelurahan yang sudah membentuk kelembagaan desa wisata. Pembentukan ini harus dibarengi Surat Keputusan (SK) agar potensi wisata dari desa bisa dimaksimalkan pengembangannya.

SK kelembagaan pengelola Desa Wisata dari Pemerintah Desa (PADes) bisa berdampak bagi sektor wisata di desa tersebut. Mengingat selama ini hampir semua desa/kelurahan masih belum memiliki PADes dari sektor pariwisata.

“Kelembagaan adalah kunci awal pengembangan desa wisata. Tetapi belum semua dari 24 desa/kelurahan di Kota Batu yang sudah memiliki SK kelembagaan. Sehingga berdampak dalam pengelolaan potensi wisata yang ada di wilayahnya,” ujar Kepala Dinas Pariwisata (Disparta) Kota Batu, Arief As Siddiq di kantornya saat diwawancarai awak media (6/11).

Fungsi dari kelembagaan itu sebagai mitra pemerintah dalam upaya perwujudan dan pengembangan sadar wisata di daerahnya. Karena dengan memiliki kelembagaan yang disahkan melalui SK Kepala Desa, Desa Wisata akan bisa berkembang seperti destinasi wisata yang dikelola oleh swasta.

Sampai saat ini tidak sampai setengah dari total desa di Kota Batu yang sudah membentuk SK kelembagaan. Yakni, Kelurahan Ngaglik, Songgokerto, Desa Pandanrejo, Bumiaji, Sumber Gondo, Punten, Sidomulyo, Torongrejo, Tlekung, Oro-oro Ombo, Giripurno, dan Beji. Sisanya ada yang berproses dan belum sama sekali.

“Dengan adanya kelembagaan pengelola Desa Wisata nanti akan lebih muda pengembangannya.” jelasnya. Artinya Desa Wisata bisa lebih muda mendapat hibah dari pemerintah daerah, provinsi, hingga pusat atau kementerian.

Dengan mempunyai SK Kelembagaan, desa wisaya dapat potensi untuk mendapat hiba dana dari swasta melalui Corporate Social Responsibility (CSR).
Karena industri pariwisata adalah manajemen usaha dan aset pariwisata yang saling terkait berupa pengelolaan objek wisata, usaha terkait wisata, kelembagaan, kemitraan, dan pembiayaan.

“Kalau dari desa tidak segera membuat SK lembaga, maka akses kerja sama atau penerimaan bantuan akan sulit,” tambah Arief. Ia mencontohkan di Sumber Torong Park, Kelurahan Sisir yang belum ada kelembagaanya jadi pengurusannya susah.

Dengan adanya SK kelembagaan, nanti akan menjadi kunci untuk peningkatan fasilitas, sarpras, SDM, hingga membuat program paket wisata. Apalagi menurutnya, selama ini belum ada PADes dari sektor wisata yang masuk di Pemdes/Kelurahan.(der)

Korea Selatan Mengembangkan Destinasi Wisata Kebiasaan Sehat

Skylake. (Ist)

MALANGVOICE – Pandemi Covid-19 menginspirasi para pelaku wisata untuk berinovasi, seperti di Korea Selatan. Terbaru, negeri K-Pop itu gencar mengembangkan destinasi wellness atau wisata kebiasaan sehat.

Korea Selatan sebagai salah satu destinasi wisata favorit dunia, juga turut mengembangkan berbagai pilihan kegiatan wellness yang dapat dinikmati para pelancong. Mereka bisa memilih destinasi wellness sesuai dengan minatnya. Secara garis besar, wisata wellnes terbagi menjadi 4 kategori yaitu, spa dan kecantikan, pemulihan dan meditasi, wisata alam, serta pengobatan tradisional. Adapun destinasi-destinasi ini sudah tersebar di seluruh Korea dan informasi pendukungnya juga sudah cukup lengkap seperti yang bisa dilihat pada situs Korea Tourism Organization (KTO) Jakarta.

“Istilah wellness sendiri dipahami sebagai upaya aktif menjalankan kebiasaan sehat dan positif untuk mencapai keadaan fisik dan mental yang lebih baik. Istilah ini belakanhan semakin familiar terutama saat pandemik berlangsung dan diperkirakan akan menjadi tren pariwisata selanjutnya,” kata Medical Tourism Marketing Staff KTO, Seini I. Z, melalui keterangan tertulisnya, Kamis (5/11).

Ia melanjutkan, ada lima tempat rekomendasi populer bagi para wisatawan yang datang ke Korea Selatan. Antara lain Sulwhasoo Flagship Store, Tea Theraphy, Spaland Centum City, Skylake, dan Seogwipo Healing Forest. Jenis yang beragam, fasilitas yang memadukan teknologi mutakhir dan tradisional, serta pengalaman baru yang tidak ditemui di tempat lain menjadi keunggulan dari wellness Korea.

“Melalui destinasi-destinasi ini, kami berharap para pengunjung mendapatkan healing (penyembuhan) yang mereka butuhkan baik fisik dan mental sehingga siap menghadapi rutinitas dengan semangat baru,” sambung dia.

Agar memikat minat wisatawan, masih kata dia, KTO memberikan beberapa program menarik selama November ini. Dicontohkannya, “Explore Korea Medical Wellness Game” dan “Wellness Challenge” yang dapat diikuti khalayak umum, tentunya dengan beragam hadiah menarik.

“Acara yang kami siapkan ini semata hanya untuk menarik wisatawan,” sambung dia.

Sebagai tambahan, destinasi wellnes memprioritaskan tujuan relaksasi. Sebab, situasi pandemic Covid-19 membuat masyarakat cenderung mengalami stres. Maka, relaksasi diyakini menjadi pilihan paling tepat untuk mengurangi atau bahkan menghilangkan stres sekaligus membuat kondisi fisik dan mental lebih baik.(der)

Kongres Kebudayaan 2020, Upaya Pengembangan Seni Budaya Kota Batu

Kesenian tari-tarian saat tampil dalam Kongres Kebudayaan Kota Batu 2020 di Graha Pancasila, Rabu, (28/10/2020). (Foto: MalangVoice)

MALANGVOICE – Pemerintah Kota Batu melalui Dinas Pariwisata dan Dewan Kesenian menutup rangkaian kegiatan seni dan budaya dengan menggelar Kongres Kebudayaan Kota Batu 2020 di Graha Pancasila, Rabu, (28/10).

Beragam kesenian dan kebudayaan hingga lukisan abstrak pemegang rekor dunia itu ditampilkan dalam kegiatan bertemakan ‘Ragam Budaya Desa Berdaya Kota Berjaya’ ini. Hal itu untuk menunjukkan bahwa kota apel ini memiliki potensi-potensi besar dalam kesenian dan serta kebudayaan.

Wakil Wali Kota Batu, Punjul Santoso memberikan apresiasi sebesar-besarnya kepada Dinas Pariwisata Kota Batu dalam menggelar kegiatan Kongres Kebudayaan. Melalui kegiatan tersebut, dia berharap akan kolaborasi dengan masyarakat pelaku seni dan budaya dalam melaksanakan visi misi pemerintah daerah yaitu Desa Berdaya, Kota Berjaya.

Wakil Wali Kota Batu Punjul Santoso menyerahkan cinderamata berupa lukisan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa kepada Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Timur Sinarto Kongres Kebudayaan Kota Batu 2020 di Graha Pancasila, Rabu, (28/10/2020). (Foto: MalangVoice)

”Dengan adanya Kongres Kebudayaan ini, kita bisa berkolaborasi. Sehingga, visi misi Pemda desa Berdaya kota Berjaya itu akan bisa terlaksana,” kata dia dalam keterangannya kepada wartawan.

Dia menyampaikan manakala pemerintah daerah bisa berkolaborasi dengan seniman, budayawan dan pemangku kepentingan di daerahnya. Beragam potensi-potensi seni dan budaya bisa di eksplore untuk dikembangkan dan dilestarikan demi anak cucu mendatang.

Sehingga, kata Punjul, ketika ada wisatawan lokal maupun mancanegara ke Kota Batu tidak hanya mengenal wisata buatannya. Melainkan, kegiatan-kegiatan seni dan budaya bisa menjadi daya tarik lain untuk mengunjungi kota berjuluk little switzerland ini.

”Kita kalahnya dengan Bali kan disana (seni dan budayanya). Karena, kalau wisatawan mancanegara datang ke Kota Batu bukan ke tempat wisata buatan. Mereka tidak mau. Mereka lebih suka ke tempat kegiatan seni dan budaya,” terangnya.

Oleh sebab itulah, Punjul mengungkapkan melalui kegiatan Kongres Kebudayaan inilah. Dia mengupayakan bisa mengeksplorasi kembali ragam kesenian dan kebudayaan di Kota Batu untuk dikembangkan dan dilestarikan.

”Ini juga sekaligus untuk merefresh kepada anak-anak kita bahwa Kota Batu dulu bagian dari kerajaan-kerajaan. Dan itu yang menjadi cikal bakal kita. Salah satunya yang coba dikembangkan ya Situs Pendem itu,” tuturnya.

Sementara, Kepala Dinas Pariwisata Kota Batu Arief As Siddiq mengungkapkan potensi seni dan budaya di Kota Batu sangat luar biasa dan layak dikembangkan. Karena itu, dia sudah mencoba untuk mendorongnya dengan menggelar kegiatan-kegiatan seni dan budaya.

”Misalnya seperti ada Kongres Kebudayaan ini. Ini rutin setiap dua tahun sekali. Kita juga dorong dengan pendukung lain seperti digelar pekan kebudayaan,” ungkapnya.

Selain itu, dia menjelaskan juga akan melakukan pemberdayaan-pemberdayaan kepada seniman, pelaku budaya dan lain sebagainya. Disebutkan seperti pengembangan SDM, memfasilitasi sarana dan prasarana pendukung untuk pemajuan Seni Budaya.

”Termasuk atraksi-atraksinya. Begitu halnya kegiatan-kegiatan mereka dalam melakukan berbagai event. Kita akan bentuk dengan beragam event kesenian dan kebudayaan seperti dalam waktu dekat ini ada peringatan Wayang Nasional,” ungkapnya.

Sedangkan terkait pengembadang SDM. Arief menjelaskan pihaknya akan menggelar pelatihan-pelatihan seperti pengelolaan sanggar, pengembangan seni kreatif tarian, lukis hingga patung.

”Sarpras kita dukung. Termasuk fasilitasi daripada atraksi event-event dari mereka. Harapannya, pelaku seni budaya Kota Batu ini berkiprah dan berkarya lebih bagus lagi. Tentunya agar mereka terus kompak dan solid untuk kemajuan Kota Batu,” jelasnya.

Dalam kegiatan dengan tetap menerapkan protokol kesehatan pandemi Covid-19 atau virus corona ini. Hadir pula Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Timur Sinarto sebagai wakil daripada Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa dalam kegiatan tersebut.(der)

Libur Panjang, Satgas Imbau Wisatawan Disiplin Protokol Kesehatan

Kampung Warna-warni Jodipan Malang (Foto Gilatripgoodnewsfromindonesia.id)
Kampung Warna-warni Jodipan Malang (Foto Gilatripgoodnewsfromindonesia.id)

MALANGVOICE – Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Kota Malang mengimbau seluruh wisatawan disiplin menerapkan protokol kesehatan. Ini merespon libur panjang pada pekan ini, 28 – 31 Oktober 2020.

Juru Bicara Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Kota Malang dr. Husnul Muarif mengatakan, wisatawan agar mengutamakan protokol kesehatan saat beraktivitas di luar rumah, khususnya saat berkunjung ke objek wisata. Penting agar selalu membawa masker cadangan dan cairan pembersih tangan.

Selain itu, lanjut dia, Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Kota Malang bakal terus bersiaga, dan memberikan edukasi kepada masyarakat.

“Tetap jaga kesehatan, apabila kondisi kurang sehat, sebaiknya tidak bepergian,” ujarnya, belum lama ini.

Berdasarkan laporan Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Kota Malang, total ada 2.012 kasus konfirmasi positif, per 28 Oktober. Dari total tersebut, sebanyak 1.791 orang dinyatakan sembuh, lalu 202 orang meninggal dunia, dan sisanya masih berada dalam perawatan.(der)