Peringati Harkopnas, Warkop Klodjen Djaja 1956 Bagi-bagi Kopi Gratis

Para pengunjung dari komunitas sepeda ontel yang mendapatkan kopi gratis, di Warung Kopi Klodjen Djaja 1956, Kota Malang, (MG2).

MALANGVOICE – Memperingati Hari Kopi Nasional (Harkopnas) yang ditetapkan pada 11 Maret kali ini, Warung Kopi (Warkop) Klodjen Djaja 1956, menggelar kegiatan bagi – bagi Kopi Pagi Gratis.

Didukung dengan proses pembuatan kopi yang menggunakan bahan dasar kopi murni Indonesia, semakin mengentalkan momentum Harkopnas kali ini, Kamis (11/3).

Menurut Pemilik Warkop Klodjen Djaja 1956, Ahmad Iswahyudi, selain pembagian kopi gratis sekaligus memperkenalkan cita rasa kopi lokal kepada pengunjung.

“Sebetulnya ada satu peluang di sini. Memanfaatkan dari Harkopnas untuk memperkenalkan kopi yang benar-benar kopi murni Indonesia, khususnya kopi Malangan. Sembari kita juga membagikan kopi itu secara gratis,” ujarnya.

Pria yang akrab disapa Didik ini mengatakan, jumlah yang diberikan dalam kegiatan Kopi Gratis ini tidak diberikan batasan. Namun waktu pembagiannya hanya berlangsung sejak pukul 06.00 WIB hingga 09.00 WIB.

“Kita tak membatasi berapa gelas. Meski yang datang kesini ada 200 sampai 300 lebih, ya gak papa. Semua gratis, khusus kopi tubruk robusta yang kita gratiskan,” paparnya.

Dan menariknya lagi, pada saat kegiatan berlangsung ada komunitas sepeda ontel yang turut hadir meramaikan sekaligus memberikan kesan tempo dulu semakin terasa.

“Inginnya kita memang untuk mengentalkan cagar budaya yang identik dengan jadul. Makanya kita mengundang komunitas sepeda Onthel untuk bisa berkumpul di sini dan minum kopi gratis sama-sama,” imbuhnya.

Terlebih dengan konsep Warkop Klodjen Djaja 1956, mengusung tema tempo dulu, salah satunya pemasangan tiga banner yang menggambarkan film-film di bioskop jaman dahulu. Semakin mengentalkan suasana khas yang ditonjolkan.

“Coba difoto dari jauh, antara sepeda dan Klodjen Djaja dapat seperti kita kembali ke masa lampau lah,” tandasnya.

Selama tiga jam kegiatan bagi kopi gratis berlangsung, sebanyak 200 cup/gelas telah dibagikan kepada para pengunjung.

Warung Kopi dengan Nuansa Bioskop Jadoel

Gambaran Warung Kopi Klodjen Djaja 1956, Kota Malang, (MG2).

MALANGVOICE – Kalau anda sedang jalan-jalan di daerah Klojen tepatnya Jalan Cokroaminoto No 2 dan melihat poster bioskop terpampang, jangan buru-buru memastikan itu tempat menonton film.

Itulah trik Ahmad Iswahyudi agar orang yang lewat atau melihat poster bioskop menjadi tertarik dan kemudian mampir.

Tentu saja bukan untuk menonton film, namun untuk ngopi. Ya, tempat yang dikenal sebagai Warung Kopi itu bernama Klodjen Djaja 1956 memang tempat kongkow sambil ngopi.

Ide Iswahyudi memang unik. Poster film yang terpampang di atas warung tersebut bergambar film-film zaman dulu seperti Warkop DKI, Si Buta Lawan Jaka Sembung, dan Saur Sepuh. Bahkan tak jarang masyarakat yang tertarik dengan poster namun tidak ingin ngopi, memilih berswafoto di depan warung kopi.

Pria yang akrab disapa Didik ini mengaku alasan dirinya menemukan ide pemasangan banner ini setelah dirinya kekurangan dana untuk konsep warungnya.

“Kan ini bangunan lama sejak tahun 1950 sudah ada. Nah saya paskan agar bernuansa retro. Tapi saya kekurangan dana dan waktu untuk buka itu tinggal sebentar. Akhirnya saya putuskan untuk pasang baliho film jadul itu. Butuh cuma Rp 200 ribu saja dan gak perlu pernak-pernik barang antik mahal lainnya” kata Didik,” ungkapnya.

Selain itu, untuk kopi yang disajikan di Warung Klodjen Djaja 1956 ini dari segi harga terbilang cukup mengiurkan.

Dengan membawa uang Rp2 ribu sudah bisa menikmati secangkir kopi yang didukung hiruk-pikuk pasar di pagi hari pastinya membuat nuansa Jadoel lebih terasa.

Didik menjelaskan alasannya membandrol kopi yang dibuat melalui proses manual mulai dari biji kopi hingga diproses menjadi bubuk kopi adalah untuk sosialisasi.

“Sekarang gini bro kalau orang pasar sini itu ngopi pasti kopi instant harganya saja itu Rp 3000 sampai Rp 5000 bro. Sudah gak sehat, mahal. Nah saya ingin mengenalkan mereka yang sehat sekaligus murah itu saja. Saya hargai Rp 2000 per gelas soalnya biasanya bapak-bapak di sakunya pasti ada yang nylempit uang segitu,” paparnya.

Dirinya berharap dengan sosialisasi yang dilakukan ini, masyarakat menengah kebawah tidak hanya mengkonsumsi kopi secara instan.

Untuk bisa menikmati harga kopi di Warung Klodjen Djaja 1956 ini menyesuaikan jam buka yang telah dibagi Didik menjadi dua.

Bagi pengunjung yang datang pada pukul 06.00 hingga 09.00 secangkir kopi dibandrol Rp2 ribu, sedangkan pada sore hingga malam hari harga kopi berbeda.

“Jadi waktu buka pagi saja (harga Rp2 ribu). Kalau pas buka sore hari jam 16.00 sampai jam 00.00 kami hargai Rp 3 ribu untuk kopi itu sampai Rp 10 ribu untuk es kopi susu,” tandasnya.

Anda tertarik? Ladubken saja bro.(end)

Lontong Cap Go Meh Kuliner Penutup Imlek

Gambar hidangan khas Cap Go Meh, (end).

MALANGVOICE – Hari Penutupan dari rangkaian perayaan Tahun Baru Imlek biasanya mengadakan acara yang dinamakan Cap Go Meh.

Peringatan Cap Go Meh ini biasa dilakukan masyarakat Tionghoa berlangsung selama 15 hari.

Menurut penjelasan Marketing Communication Hotel Tugu Malang Reimanda Azka, pihaknya telah menyediakan beberapa fitur untuk perayaan Cap Go Meh salah satunya kuliner khas perpaduan hidangan Tionghoa-Indonesia.

Lebih jelasnya, kata Manda, kuliner khas Lontong Cap Go Meh ini terdiri dari lontong yang disajikan dengan opor ayam, sayur lodeh, sambal goreng hati, acar, telur, pindang, abon sapi, bubuk koya, sambal, dan kerupuk.

“Melati Restauran Hotel Tugu Malang menyajikan hidangan Spesial Lontong Tjap Go Meh. Biasanya anggota keluarga selalu berkumpul dan menikmati hidangan khas ini,” ungkapnya.

Namun lontong Cap Go Meh yang disediakan Hotel Tugu ini memiliki sedikit sentuhan yang berbeda.

Terdiri dari Loempia Oedang khas resep Madame Nancy Kwan, lontong yang dibuat dengan beras berkualitas tinggi lalu ditusuk dengan bambu, Ajam Boemboe Koening resep si Mpok, Oedang Goreng Kering, Sambel Goreng Laboe Siem, Telor Petis, Sate Ayam, acar kuning, sagon kelapa dengan ebi, bubuk kedelai, emping mlinjo, dan lain-lain.

Kemudian Manda menambahkan, untuk hidangan penutup yang telah disediakan Melati Restaurant Hotel Tugu Malang yaitu Ronde Tiga Warna untuk menghangatkan tubuh.

“Setelah menyantap Lontong Tjap Go Meh, akhiri dengan Ronde Tiga Warna yang menghangatkan tubuh,” ujarnya.

Untuk sajian yang disediakan sejak (25/2/2021) hingga (25/3/2021) dengan paketan dengan harga yang dibandrol Rp 118 ribu per paketnya.

Selain itu, hantaran Tjap Go Meh ini nantinya akan dihias apik dengan pilihan porsi mulai dari 3 orang, dan tersedia melalui layanan pesan antar.(end)

Kota Batu Terima Suntikan dana Rp15 Miliar untuk Bangkitkan Ekonomi Pariwisata

Kepala Disparta Kota Batu Arief As Siddiq (Achmad Sulchan An Nauri)

MALANGVOICE – Dana hibah sebesar Rp15 miliar digelontorkan pemerintah pusat melalu Kemenparekraf untuk menstimulus kebangkitan ekonomi akibat pandemi covid-19 melalui pariwisata. Dana hibah ini dibagikan untuk 101 Kabupaten/kota yang salah satunya adalah Kota Batu.

Bantuan itu diserahkan kepada Dinas Pariwisata (Disparta) Kota Batu untuk didistribusikan kepada pelaku industri pariwisata. Antara lain perhotelan, restoran dan desa wisata. Ditambah lagi UMKM juga termasuk sasaran dan hibah ini.

Kepala Disparta Kota Batu, Arief As Siddiq mengatakan untuk mendapat dana ini pelaku industri pariwisata perlu mengajukan proposal. “Proposal itu masih dalam proses verivikasi, kalau sudah selesai langsung disalurkan,” ujarnya, Senin (14/12).

Ia melanjutkan bahwa Pemkot Batu melalui Disparta Kota Batu hanyalah pelaksana penyaluran dana tersebut. Sedangkan juknis penyaluran sudah dibuat oleh dari pusat yakni Kemenparekraf.

“Jadi peran kita di sini hanya sebagai pengkaji apakah dana ini pantas untuk disalurkan pada pelaku-pelaku yang sudah mengajukan proposal,” lanjutnya. Secara rinciannya ada sekitar 100 lebih hotel yang akan mendapat dana hibah ini dan sekitar 30 restoran.

Hotel dan restoran mendapat 70% dari dana hibah itu. Sisanya difokuskan untuk perbaikan sarana prasarana desa wisata yang ada di Kota Batu. “Besaran nilai rupiahnya tergantung ketertiban membayar pajak dan besarannya,” imbuh Arief.

Ia mengatakan bahwa semakin pelaku industri pariwisata mebayar pajak dengan nominal yang besar maka semakin banyak pula bantuan yang akan diterima. “Dana yang kita berikan berkisar pada 10 juta sampai ratusan juta rupiah,” urainya.

Arief menjelaskan bahwa penyaluran dana ini harus selesai di akhir tahun ini. Sedangkan dana ini murni dari APBN yang di mana Disparta hayalah pelaksana.

Dalam penyaluran ini, Disparta Kota Batu juga meminta pendampingan hukum kepada pihak Kejari Kota Batu dan Polres Batu. Sehingga bantuan tepat sasaran dan tepat dalam aspek legal formal.

Kajari Kota Batu, Supriyanto mengatakan, kejaksaan turut membantu terlaksananya program pemerintah tersebut melalui pendampingan hukum yang diberikan Seksi Datun Kejari Kota Batu.

“Agar program tersebut bisa berjalan dengan baik, lancar. Tepat dari segi sasaran, waktu, mutu dan tertib administrasi,” urai Supriyanto.

Supriyanto memberikan rekomendasi agar dilakukan verifikasi secara komprehensif terhadap pihak-pihak penerima bantuan hibah sesuai ketentuan yang telah ditetapkan. Untuk mengantisipasi penyimpangan ketentuan hukum yang berlaku, baik peraturan perundangan maupun juklak-juknis dari kementerian.

Serta perlu koordinasi lintas lembaga, yakni Disparta, Inspektorat, Kejari dan Polres Batu. Serta melibatkan pihak PHRI selaku wadah organisasi industri perhotelan dan restoran. Sehingga bisa tepat sasaran.

“Jangan ada manipulasi data maupun fakta. Bagi penerima hibah harus dipergunakan sesuai peruntukkan. Selanjutnya agar segera membuat bukti pertanggungjawaban penggunaan bantuan hibah tersebut,” papar mantan Kajari Gorontalo itu.(der)

Makan-makan, Memancing dan Berkuda dalam Satu Restoran

Pring Pethuk. (istimewa)

MALANGVOICE – Restoran dengan makanan yang enak dan view memanjakan sudah biasa ditemui. Tapi, bagaimana jika ada restoran yang menyuguhkan pengalaman berkuda dan memancing? Fasilitas itulah yang bisa ditemui di Pring Pethuk, Bumiaji, Kota Batu.

“Di sini kita juga ada kolam besar berisi ikan koi. Pengunjung bisa memberi makan sembari menyantap hidangan,” kata Manager Pring Pethuk, Nanang Yudistiro saat ditemui Sabtu (14/11).

Pengunjung bisa memancing sebagai penghilang rasa penat dan refreshing.
Sebelum selanjutnya ditimbang untuk diolah sesuai menu yang ada. Harga ikan dipatok Rp 50 ribu per kilo.

Bagi yang tidak ingin memancing, tentu restoran ini mengadakan ikan siap olah. Ada berbagai ikan seperti gurame sampai kakap merah. Dengan menu unggulan ikan bakar.

Selain memancing pengunjung juga bisa berkuda. Namun, hiburan ini hanya dibuka pada Sabtu dan Minggu.

Pada masa pandemi ini, jumlah wisatawan cendrung menurun. Penurunan itu bisa mencapai 40 – 50%. Di hari normal dulu, mereka bisa menerima tamu 20 sampai 30 meja perharinya. Sedangkan kini, setiap harinya hanya 10 hingga 15 meja.

“Semoga pandemi ini tidak berlarut – larut. Kasian karyawan yang terkena imbasnya,” harapnya.(der)

Kampung Sanan Kembangkan Branding Visual Kampung Wisata Tempe

Ketua RW 15 Kampung Sanan, Ivan Kuncoro saat menerima buku panduan grafis wisata (tourism map) bikinan anak mahasiswa DKV UM, Sabtu (8/11) malam. (Istimewa)

MALANGVOICE – Dikenal sebagai sentra penghasil tempe dan kripik tempe, eksistensi Kampung Sanan, Blimbing, Kota Malang mulai meredup. Pasalnya sudah banyak kampung-kampung tematik serupa yang keberadaanya lebih mentereng daripada Kampung Sanan.

Tidak mau ketinggalan, warga Kampung Sanan berinisiatif untuk mengembalikan eksistensi desanya sebagai desa wisata. Langkah pertama yang dilakukan adalah dengan memperkuat aspek branding kampung dari segi visual.

Jurusan Desain Komunikasi Visual Universitas Negeri Malang (DKV UM) mendampingi penuh langkah tersebut. Mereka menyusun segala aspek yang dibutuhkan dari aspek branding visual. Mulai dari logo, buku panduan wisata (tourism map) hingga pembuatan website kampung wisata www.kampungsanan.id. Dengan begitu, diharapkan Kampung Sanan bisa dikenal publik lebih luas.

Ketua RW 15 Kampung Sanan, Kelurahan Purwantoro, Ivan Kuncoro, mengatakan bahwa dalam upaya membangun citra kampung di zaman serba digital ini memang disadari perlu penguatan dari segi branding visual. Dengan adanya pendampingan ini, dinilai bermanfaat untuk ekosistem kampung kedepannya.

Dengan keterbatasan pengetahuan soal branding visual Ivan merasa banyak terbantu dan mulai paham. “Animonya perlahan pengunjung sudah mulai meningkat sejak di-branding ini. Sebelumnya, ya agak sepi, orang hanya beli kemudian pulang,” akunya.

Padahal, potensi Kampung Sanan sebagai wisata edukasi sangatlah potensial. Selain pengrajin usaha tempe, Sanan juga memiliki sistem pemanfaatan limbah tempe, penggemukan sapi, pemanfaatan limbah ternak untuk biogas hingga Urban Farming.

“Semua ada, segala aspek kita semua teratasi. Limbah tempe jadi pakan ternak, limbah ternak jadi biogas, juga jadi pupuk. Jadi di sini saya ingin gak hanya dikenal sebagai wisata tempe tok, ternyata juga lengkap,” ungkapnya.

Ivan merasa bahwa ia dan warganya sudah melangkah di jalan yang tepat. Dengan memperkenalkan potensi wisata Kampung Sanan menggunakan branding yang tepat bisa menambah daya tarik wisatawan dan juga penghasilan baru warga . “Jadi gak hanya beli kripik tempe terus pulang, tapi juga dapet ilmu,” kata Ivan.

Hal senada dikatakan Koordinator Tim KKN Sedesa UM, Dicky Hanafi, meski memang Sanan sudah lekat dengan identitas tempe yang melegenda. Namun dirasa masih perlu penguatan karakter lebih kompleks dari aspek visual.

“Dengan branding visual, informasi dan pemetaan tentang kampung ini bisa dikenal publik dengan segmen yang lebih luas. Selain sudah kuat secara potensi lokalnya, bisa lebih kuat lagi secara estetis (visual),” jelas Dicky.

Dicky menambahkan, kini pihaknya hanya tinggal membenahi sistem infrastruktur pariwisatanya saja. Selebihnya, masyarakatlah yang menjadi pelakunya sendiri. Bukan tidak mungkin, kata Dicky, jika nanti branding juga lebih meluas.

“Jadi gak hanya di digital tok, harus bisa menyentuh seluruh potensi yang ada disini secara kompleks. Kayak bikin marketplace pasar tempe sendiri misalnya,” tandasnya.(der)

Nasi Tempong Mak Siti Bikin Lidah Bergoyang

(istimewa)

MALANGVOICE – Bagi pecinta kuliner super pedas di kawasan Malang Raya dan sekitarnya kini bisa mencoba alternatif baru tempat makan serba pedas. Yakni, Nasi Tempong Mak Siti yang berlokasi di Jalan Esberg T2-2 Tidar, Sukun, Kota Malang.

Makanan pedas di warung ini dijamin membuat lidah pengunjung tersengat dan keringat bercucuran. Sebab, racikan sambal yang ditawarkan benar-benar berbeda dari kebanyakan warung nasi tempong lainnya.

“Sambal di warung ini yang menjadi khas karena bener-bener nempong disini sambalnya,” kata Yogi Purbaya, Owner Nasi Tempong Mak Siti, Kamis (1/10).

Nasi tempong sendiri merupakan kuliner khas sebuah kota yang terletak di ujung timur dari Jawa Timur, yaitu Banyuwangi. Namun, nasi tempong sendiri justru menjadi kuliner favorit di Bali.

Sebelumnya, Nasi Tempong Mak Siti telah buka di Bali selama kurang lebih tiga tahun. Di sana, rata-rata pengunjung per harinya sebanyak 50-100 orang. Kini, Nasi Tempong Mak Siti resmi pindah ke Malang.

Soal harga, sangat bersahabat. Pengunjung hanya perlu merogoh kocek sebesar Rp 7.000 saja untuk membeli satu porsi Nasi Tempong.

Tak hanya itu, pengunjung pun bisa merasakan varian lainnya dengan harga yang juga bersahabat. Mulai dari Nasi Tempong Ayam, Nasi Tempong Lele, Nasi Tempong Empal dan Nasi Tempong Udang.

“Kami sudah buka sekitar semingguan. Alhamdulillah mulai ramai. Bahkan ada customer yang sudah empat kali balik kesini,” imbuh Yogi.

Yuk, cicipi kuliner pedas ini di Nasi Tempong Mak Siti. Tempat makan ini buka mulai dari jam sebelas siang hingga jam sebelas malam. Bagi kalian yang ogah keluar, Nasi Tempong Mak Siti juga bisa diorder lewat GoFood.(der)

Pia Tape Singkong, Oleh-oleh Baru di Malang

Pia tape singkong Mister Pia. (Aziz Ramadani MVoice)

MALANGVOICE – Ini bisa jadi pilihan baru wisatawan saat bingung bawa oleh-oleh dari Malang, khususnya kuliner. Kekinian, Mister Pia hadir di Bumi Arema tawarkan kenikmatan pia varian baru berisi tape singkong.

Jika di Yogyakarta, pia atau bakpia terkenal dengan isi kacang hijaunya. Mister Pia ini kenalkan varian baru dalam menikmati jajanan khas tersebut. Seperti pia umumnya, bagian luar kering. Namun saat digigit, bagian dalam terasa lembut. Lidah langsung dimanjakan dengan kenikmatan baru.

Ya, Mister Pia ini resmi memperkenalkan diri, Rabu lalu (9/9). Gerai utamanya bisa dikunjungi di Tirtasani Royal Resort Blok Hilton Head 1 nomor 15 Karangploso, Kabupaten Malang. Mister Pia tersedia dalam empat pilihan rasa, yakni original, tape cokelat, blueberry dan keju.

Harganya pun terjangkau, mulai dari Rp20 ribu hingga Rp28 ribu.

Owner Mister Pia Danny Waskita mengatakan, pihaknya menawarkan varian baru dalam khazanah kuliner di Malang. Terlebih wilayah ini dikenal sebagai destinasi wisata nasional bahkan mancanegara.

“Targetnya agar jadi pilihan oleh-oleh wisatawan yang datang ke Malang,” kata Danny, Kamis (10/9).

Terciptanya pia isi tape singkong, lanjut dia, terinspirasi dari oleh-oleh khas Yogyakarta, pia. Maka tercetuslah varian baru tersebut untuk dikembangkan sebagai jajanan yang layak jadi buah tangan. Tape dipilihnya juga karena merupakan makanan khas Jawa Timur.

Khusus untuk Mister Pia ini, pihaknya memilih bahan baku tape singkong Bondowoso. Sebab telah dikenal kualitasnya. Juga ada tape Purwodadi, Kabupaten Pasuruan.

“Makanya (Mister Pia) kami sebut bukan oleh-oleh khas Malang. Karena tape sendiri aslinya bukan dari Malang,” ujarnya.

Ia menambahkan, bahwa pia tape singkong mampu bertahan tujuh sampai sembilan hari. Kemasan tape dibuat memanjang 46 cm kemudian dipotong menjadi 12 bagian. Desain tersebut sengaja dipilih, agar tidak senada dengan tampilan pia yang telah ada sebelumnya.(der)

Dewanti Launching Destinasi Wisata Baru Kota Batu, Kebun Kopi Ceret Ireng

Wali Kota Batu, Dewanti Rumpoko bersama wakil wali kota, Kadisparta dan Lurah Songgokerto.(istimewa)

MALANGVOICE – Wali Kota Batu melaunching Kebun Kopi Ceret Ireng yang terletak di Songgoriti, Keluruhan Songgokerto Kota Batu, Sabtu (29/8).

Hadir juga dalam pelaunchingan tersebut, Wawali Punjul Santoso. Selain itu, Kepala Disparta Kota Batu, Arief As Siddiq, para kepala SKPD terkait, Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) dan para petani kopi di lingkungan Kelurahan Songgokerto.

“Ini adalah acara yang sebetulnya hanya mau dibuat untuk selamatan supaya panen kopinya itu bisa banyak dan barokah,” ujar Wali Kota Batu, Dewanti Rumpoko
dalam sambutannya, Sabtu (29/8).

Lebih lanjut, Dewanti menceritakan bahwa sebulan yang lalu telah menyambangi beberapa kepala desa dan lurah, diantaranya yang terjadwal adalah kelurahan Songgokerto. Ia melihat ada potensi di sana yang bisa dikembangkan.

“Ternyata potensi kopi sini luar biasa, saya melihat selain jarak antara jalan dengan kebun kopinya tidak jauh, kemudian view bagus sekali. Mungkin yang paling elok adalah potensinya yang luar biasa bahkan seperti katanya bu lurah tadi (lurah Songgokerto) pernah mendapat juara 2 soal cita rasa, kan itu sesuatu yang luar biasa,” imbuh Bude panggilan akrab Dewanti.

Pada kesempatan yang sama, Bude mengungkap ternyata petani Songgoriti masih sangat sulit untuk penjualan kopi mereka. Karenanya harus menjualnya keluar Kota Batu. Padahal kata Bude, kopi di Kota Batu punya potensi yang luar biasa. Maka dari itu, Bude berkeinginan kopi di Kota Batu dibuat merek Batu untuk jual dalam bentuk jadi.

Bude pun berharap dengan ada acara selamatan, berkeinginan untuk membantu petani bisa menjual hasil pertanian dengan harga yang sesuai. Kemudian bisa memberdayakan petani lainnya juga untuk juga kemudian menjadi petani kopi.

“Dengan mengucapkan bismillah, hari ini secara resmi saya nyatakan panen kopi, yang nanti akan menjadi ikon dari Kota Batu dimulai,” disambut tepuk tangan oleh hadirin yang ada.

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata Kota Batu, Arief As Siddiq mengatakan bahwa kebun kopi Cerek Ireng sangat mempunyai potensi untuk dikembangkan lagi.

“Ini suatu destinasi yang menarik, yang mana petani yang membudidayakan kopi yamg sangat luar biasa dari hasil panen yang melimpah dan ternyata cita rasanya juga sangat berkualitas,” ungkap Arief.

Ia bercerita bahwa kopi dari Kota Batu menjadi yang terbaik tingkat nasional.

“Cita rasa kopi Songgoriti ini sangat berpotensi untuk kita kembangkan kita tingkatkan menjadi destinasi baru wisata kebun kopi nanti sekaligus kita akan dukung dengan fasilitas kuliner, minum kopi asli Songgoriti ya akan kita branding menjadi potensi wisata yang menarik di Kota Batu,” sambungnya.

Dinas pariwisata, menurut Arief, akan serius mengimbangkan daya tarik dari produk pertanian kopi menjadi kuliner yang bernuansa wisata, dengan alasan pemilihan lokasi sangat strategis. Disamping itu katanya, ketinggian tempatnya bisa memanjakan wisatawan dengan langsung melihat landing paralayang.

“Jadi lokasi area kebun kopi cerek Ireng ini ternyata berdekatan dengan landingnya paralayang. Dan melihat pemandangan Kota Batu dari ketinggian yang sangat luar biasa,” tandasnya.

Pihaknya secepatnya akan menjadikan areal kebun kopi tersebut, menjadi destinasi yang menarik dan tentu diminati oleh wisatawan. Dengan konsep ungkap Arief, wisatawan akan dimanjakan bukan saja merasakan enaknya kopi tetapi juga mengajarkan para wisatawan bagaimana cara budidaya kopi itu sendiri, mulai proses produk yang siap untuk diminum.

“Tadinya kita sajikan, disamping nanti tempat untuk kafenya ni kita akan bikin bernuansa alam, kemudian nanti akses-aksesnya nanti kita bantu, penerangan, fasilitas pendukung yang lain nanti kita akan bantu,” jelas Arief.

Kemudian, kata Arief, pada intinya masyarakat nyaman dan berharap pada malam hari juga bisa buka dengan alasan view sangat luar biasa di pada malam hari. Sementara luas kebun kopi ceret Ireng sendiri mencapai 40 hektare.

“Kalau total sekitar 40 hektare, kebetulan diatas ada tempat take off dan di bawah ada tempat landing paralayang,” ungkapnya.

Arief berkeinginan nantinya akan menampilkan sajian musik sebagai cara untuk menarik minat wisatawan.

“Ini sangat cocok, nanti salah satunya bagaimana menampilkan sajian musik di kebun kopi, memang (sekarang) kita akustik, nanti yang kita akan dengan nuansa alam country kita sudah siapkan. Ini salah satunya akustik dulu,” ungkapnya.

Secara terpisah, Ketua Lembaga Masyarakat Desa Hutan, Sugianto mengatakan harapannya agar kedepannya kopi yang ada di Songgoriti bisa semakin dikenal. Karena katanya sudah lombakan di Jogja dengan mendapat peringkat 2 nasional.

“Soalnya disini itu (Songgoriti) sudah juara 2 nasional saat dilombakan di Jogja,” ujarnya.

Sugianto menambahkan ada 2 jenis kopi yang dikembangkan di Songgoriti yakni arabika dan robusta, dengan yang membedakan kopi lain tidak membuat perut menjadi kembung meskipun minum lebih dari satu gelas. Sementara itu, Ia menerangkan bahkan daun kopi pun bisa dijadikan teh.(der)

Grand Opening Se’i Sapiku Malang Bagi 100 Porsi Menu Andalan ke Mahasiswa

Se'i Sapiku Indonesia cabang Malang. (Deny Rahmawan)

MALANGVOICE – Se’i Sapiku Indonesia cabang Malang membagi 100 porsi makanan ke mahasiswa yang tak bisa pulang kampung karena pandemi Covid-19.

Pembagian ini merupakan rangkaian acara grand launching Se’i Sapiku di ruko Jalan Terusan Borobudur, Sabtu (11/7). Pembagian dilakukan dengan mematuhi protokol kesehatan.

“Kami juga ada diskon 30 persen selama grand launching ini. Memang kami menyasar mahasiswa sebagai bentuk support dan dukungan,” kata Owner Se’i Sapiku Indonesia cabang Malang, Gilang Widya Pramana.

Pembagian seporsi Se’i Sapiku Indonesia ke mahasiswa. (deny rahmawan)

Gilang mengatakan, pembukaan restoran baru ini berawal dari kegemarannya mencoba beragam kuliner bersama istrinya. Sampai dia mencoba Se’i Sapiku di Surabaya.

“Saya coba ini kok enak. Jadi daging asap, gurih, empuk dan enak. Sudah itu langsung saya putuskan join buka di Malang,” ujarnya.

Meski buka di tengah pandemi Covid-19, Gilang yang juga pengusaha produk kesehatan kulit MS Glow dan transportasi Juragan 99 ini tetap optimistis bisa meraih pasar dengan baik. Apalagi, harga termurah satu porsi berkisar Rp15 ribu dengan varian daging ayam.

“Kami akan andalkan penjualan online, di situ yang kami genjot. Yah, mudah-mudahan jadi kuliner favorite di Malang,” ia menambahkan.

Se’i Sapiku Indonesia memiliki 10 cabang. Malang selain Surabaya, Sidoarjo, Banyuwangi. Selain itu juga ada di Solo, Semarang, Makassar, Jakarta, dan Bekasi.

Dalam waktu dekat, Gilang menyatakan bakal membuka cabang baru di tempat lain seperti Kota Batu atau Kabupaten Malang.(der)