Makan-makan, Memancing dan Berkuda dalam Satu Restoran

Pring Pethuk. (istimewa)

MALANGVOICE – Restoran dengan makanan yang enak dan view memanjakan sudah biasa ditemui. Tapi, bagaimana jika ada restoran yang menyuguhkan pengalaman berkuda dan memancing? Fasilitas itulah yang bisa ditemui di Pring Pethuk, Bumiaji, Kota Batu.

“Di sini kita juga ada kolam besar berisi ikan koi. Pengunjung bisa memberi makan sembari menyantap hidangan,” kata Manager Pring Pethuk, Nanang Yudistiro saat ditemui Sabtu (14/11).

Pengunjung bisa memancing sebagai penghilang rasa penat dan refreshing.
Sebelum selanjutnya ditimbang untuk diolah sesuai menu yang ada. Harga ikan dipatok Rp 50 ribu per kilo.

Bagi yang tidak ingin memancing, tentu restoran ini mengadakan ikan siap olah. Ada berbagai ikan seperti gurame sampai kakap merah. Dengan menu unggulan ikan bakar.

Selain memancing pengunjung juga bisa berkuda. Namun, hiburan ini hanya dibuka pada Sabtu dan Minggu.

Pada masa pandemi ini, jumlah wisatawan cendrung menurun. Penurunan itu bisa mencapai 40 – 50%. Di hari normal dulu, mereka bisa menerima tamu 20 sampai 30 meja perharinya. Sedangkan kini, setiap harinya hanya 10 hingga 15 meja.

“Semoga pandemi ini tidak berlarut – larut. Kasian karyawan yang terkena imbasnya,” harapnya.(der)

Kampung Sanan Kembangkan Branding Visual Kampung Wisata Tempe

Ketua RW 15 Kampung Sanan, Ivan Kuncoro saat menerima buku panduan grafis wisata (tourism map) bikinan anak mahasiswa DKV UM, Sabtu (8/11) malam. (Istimewa)

MALANGVOICE – Dikenal sebagai sentra penghasil tempe dan kripik tempe, eksistensi Kampung Sanan, Blimbing, Kota Malang mulai meredup. Pasalnya sudah banyak kampung-kampung tematik serupa yang keberadaanya lebih mentereng daripada Kampung Sanan.

Tidak mau ketinggalan, warga Kampung Sanan berinisiatif untuk mengembalikan eksistensi desanya sebagai desa wisata. Langkah pertama yang dilakukan adalah dengan memperkuat aspek branding kampung dari segi visual.

Jurusan Desain Komunikasi Visual Universitas Negeri Malang (DKV UM) mendampingi penuh langkah tersebut. Mereka menyusun segala aspek yang dibutuhkan dari aspek branding visual. Mulai dari logo, buku panduan wisata (tourism map) hingga pembuatan website kampung wisata www.kampungsanan.id. Dengan begitu, diharapkan Kampung Sanan bisa dikenal publik lebih luas.

Ketua RW 15 Kampung Sanan, Kelurahan Purwantoro, Ivan Kuncoro, mengatakan bahwa dalam upaya membangun citra kampung di zaman serba digital ini memang disadari perlu penguatan dari segi branding visual. Dengan adanya pendampingan ini, dinilai bermanfaat untuk ekosistem kampung kedepannya.

Dengan keterbatasan pengetahuan soal branding visual Ivan merasa banyak terbantu dan mulai paham. “Animonya perlahan pengunjung sudah mulai meningkat sejak di-branding ini. Sebelumnya, ya agak sepi, orang hanya beli kemudian pulang,” akunya.

Padahal, potensi Kampung Sanan sebagai wisata edukasi sangatlah potensial. Selain pengrajin usaha tempe, Sanan juga memiliki sistem pemanfaatan limbah tempe, penggemukan sapi, pemanfaatan limbah ternak untuk biogas hingga Urban Farming.

“Semua ada, segala aspek kita semua teratasi. Limbah tempe jadi pakan ternak, limbah ternak jadi biogas, juga jadi pupuk. Jadi di sini saya ingin gak hanya dikenal sebagai wisata tempe tok, ternyata juga lengkap,” ungkapnya.

Ivan merasa bahwa ia dan warganya sudah melangkah di jalan yang tepat. Dengan memperkenalkan potensi wisata Kampung Sanan menggunakan branding yang tepat bisa menambah daya tarik wisatawan dan juga penghasilan baru warga . “Jadi gak hanya beli kripik tempe terus pulang, tapi juga dapet ilmu,” kata Ivan.

Hal senada dikatakan Koordinator Tim KKN Sedesa UM, Dicky Hanafi, meski memang Sanan sudah lekat dengan identitas tempe yang melegenda. Namun dirasa masih perlu penguatan karakter lebih kompleks dari aspek visual.

“Dengan branding visual, informasi dan pemetaan tentang kampung ini bisa dikenal publik dengan segmen yang lebih luas. Selain sudah kuat secara potensi lokalnya, bisa lebih kuat lagi secara estetis (visual),” jelas Dicky.

Dicky menambahkan, kini pihaknya hanya tinggal membenahi sistem infrastruktur pariwisatanya saja. Selebihnya, masyarakatlah yang menjadi pelakunya sendiri. Bukan tidak mungkin, kata Dicky, jika nanti branding juga lebih meluas.

“Jadi gak hanya di digital tok, harus bisa menyentuh seluruh potensi yang ada disini secara kompleks. Kayak bikin marketplace pasar tempe sendiri misalnya,” tandasnya.(der)

Nasi Tempong Mak Siti Bikin Lidah Bergoyang

(istimewa)

MALANGVOICE – Bagi pecinta kuliner super pedas di kawasan Malang Raya dan sekitarnya kini bisa mencoba alternatif baru tempat makan serba pedas. Yakni, Nasi Tempong Mak Siti yang berlokasi di Jalan Esberg T2-2 Tidar, Sukun, Kota Malang.

Makanan pedas di warung ini dijamin membuat lidah pengunjung tersengat dan keringat bercucuran. Sebab, racikan sambal yang ditawarkan benar-benar berbeda dari kebanyakan warung nasi tempong lainnya.

“Sambal di warung ini yang menjadi khas karena bener-bener nempong disini sambalnya,” kata Yogi Purbaya, Owner Nasi Tempong Mak Siti, Kamis (1/10).

Nasi tempong sendiri merupakan kuliner khas sebuah kota yang terletak di ujung timur dari Jawa Timur, yaitu Banyuwangi. Namun, nasi tempong sendiri justru menjadi kuliner favorit di Bali.

Sebelumnya, Nasi Tempong Mak Siti telah buka di Bali selama kurang lebih tiga tahun. Di sana, rata-rata pengunjung per harinya sebanyak 50-100 orang. Kini, Nasi Tempong Mak Siti resmi pindah ke Malang.

Soal harga, sangat bersahabat. Pengunjung hanya perlu merogoh kocek sebesar Rp 7.000 saja untuk membeli satu porsi Nasi Tempong.

Tak hanya itu, pengunjung pun bisa merasakan varian lainnya dengan harga yang juga bersahabat. Mulai dari Nasi Tempong Ayam, Nasi Tempong Lele, Nasi Tempong Empal dan Nasi Tempong Udang.

“Kami sudah buka sekitar semingguan. Alhamdulillah mulai ramai. Bahkan ada customer yang sudah empat kali balik kesini,” imbuh Yogi.

Yuk, cicipi kuliner pedas ini di Nasi Tempong Mak Siti. Tempat makan ini buka mulai dari jam sebelas siang hingga jam sebelas malam. Bagi kalian yang ogah keluar, Nasi Tempong Mak Siti juga bisa diorder lewat GoFood.(der)

Pia Tape Singkong, Oleh-oleh Baru di Malang

Pia tape singkong Mister Pia. (Aziz Ramadani MVoice)

MALANGVOICE – Ini bisa jadi pilihan baru wisatawan saat bingung bawa oleh-oleh dari Malang, khususnya kuliner. Kekinian, Mister Pia hadir di Bumi Arema tawarkan kenikmatan pia varian baru berisi tape singkong.

Jika di Yogyakarta, pia atau bakpia terkenal dengan isi kacang hijaunya. Mister Pia ini kenalkan varian baru dalam menikmati jajanan khas tersebut. Seperti pia umumnya, bagian luar kering. Namun saat digigit, bagian dalam terasa lembut. Lidah langsung dimanjakan dengan kenikmatan baru.

Ya, Mister Pia ini resmi memperkenalkan diri, Rabu lalu (9/9). Gerai utamanya bisa dikunjungi di Tirtasani Royal Resort Blok Hilton Head 1 nomor 15 Karangploso, Kabupaten Malang. Mister Pia tersedia dalam empat pilihan rasa, yakni original, tape cokelat, blueberry dan keju.

Harganya pun terjangkau, mulai dari Rp20 ribu hingga Rp28 ribu.

Owner Mister Pia Danny Waskita mengatakan, pihaknya menawarkan varian baru dalam khazanah kuliner di Malang. Terlebih wilayah ini dikenal sebagai destinasi wisata nasional bahkan mancanegara.

“Targetnya agar jadi pilihan oleh-oleh wisatawan yang datang ke Malang,” kata Danny, Kamis (10/9).

Terciptanya pia isi tape singkong, lanjut dia, terinspirasi dari oleh-oleh khas Yogyakarta, pia. Maka tercetuslah varian baru tersebut untuk dikembangkan sebagai jajanan yang layak jadi buah tangan. Tape dipilihnya juga karena merupakan makanan khas Jawa Timur.

Khusus untuk Mister Pia ini, pihaknya memilih bahan baku tape singkong Bondowoso. Sebab telah dikenal kualitasnya. Juga ada tape Purwodadi, Kabupaten Pasuruan.

“Makanya (Mister Pia) kami sebut bukan oleh-oleh khas Malang. Karena tape sendiri aslinya bukan dari Malang,” ujarnya.

Ia menambahkan, bahwa pia tape singkong mampu bertahan tujuh sampai sembilan hari. Kemasan tape dibuat memanjang 46 cm kemudian dipotong menjadi 12 bagian. Desain tersebut sengaja dipilih, agar tidak senada dengan tampilan pia yang telah ada sebelumnya.(der)

Dewanti Launching Destinasi Wisata Baru Kota Batu, Kebun Kopi Ceret Ireng

Wali Kota Batu, Dewanti Rumpoko bersama wakil wali kota, Kadisparta dan Lurah Songgokerto.(istimewa)

MALANGVOICE – Wali Kota Batu melaunching Kebun Kopi Ceret Ireng yang terletak di Songgoriti, Keluruhan Songgokerto Kota Batu, Sabtu (29/8).

Hadir juga dalam pelaunchingan tersebut, Wawali Punjul Santoso. Selain itu, Kepala Disparta Kota Batu, Arief As Siddiq, para kepala SKPD terkait, Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) dan para petani kopi di lingkungan Kelurahan Songgokerto.

“Ini adalah acara yang sebetulnya hanya mau dibuat untuk selamatan supaya panen kopinya itu bisa banyak dan barokah,” ujar Wali Kota Batu, Dewanti Rumpoko
dalam sambutannya, Sabtu (29/8).

Lebih lanjut, Dewanti menceritakan bahwa sebulan yang lalu telah menyambangi beberapa kepala desa dan lurah, diantaranya yang terjadwal adalah kelurahan Songgokerto. Ia melihat ada potensi di sana yang bisa dikembangkan.

“Ternyata potensi kopi sini luar biasa, saya melihat selain jarak antara jalan dengan kebun kopinya tidak jauh, kemudian view bagus sekali. Mungkin yang paling elok adalah potensinya yang luar biasa bahkan seperti katanya bu lurah tadi (lurah Songgokerto) pernah mendapat juara 2 soal cita rasa, kan itu sesuatu yang luar biasa,” imbuh Bude panggilan akrab Dewanti.

Pada kesempatan yang sama, Bude mengungkap ternyata petani Songgoriti masih sangat sulit untuk penjualan kopi mereka. Karenanya harus menjualnya keluar Kota Batu. Padahal kata Bude, kopi di Kota Batu punya potensi yang luar biasa. Maka dari itu, Bude berkeinginan kopi di Kota Batu dibuat merek Batu untuk jual dalam bentuk jadi.

Bude pun berharap dengan ada acara selamatan, berkeinginan untuk membantu petani bisa menjual hasil pertanian dengan harga yang sesuai. Kemudian bisa memberdayakan petani lainnya juga untuk juga kemudian menjadi petani kopi.

“Dengan mengucapkan bismillah, hari ini secara resmi saya nyatakan panen kopi, yang nanti akan menjadi ikon dari Kota Batu dimulai,” disambut tepuk tangan oleh hadirin yang ada.

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata Kota Batu, Arief As Siddiq mengatakan bahwa kebun kopi Cerek Ireng sangat mempunyai potensi untuk dikembangkan lagi.

“Ini suatu destinasi yang menarik, yang mana petani yang membudidayakan kopi yamg sangat luar biasa dari hasil panen yang melimpah dan ternyata cita rasanya juga sangat berkualitas,” ungkap Arief.

Ia bercerita bahwa kopi dari Kota Batu menjadi yang terbaik tingkat nasional.

“Cita rasa kopi Songgoriti ini sangat berpotensi untuk kita kembangkan kita tingkatkan menjadi destinasi baru wisata kebun kopi nanti sekaligus kita akan dukung dengan fasilitas kuliner, minum kopi asli Songgoriti ya akan kita branding menjadi potensi wisata yang menarik di Kota Batu,” sambungnya.

Dinas pariwisata, menurut Arief, akan serius mengimbangkan daya tarik dari produk pertanian kopi menjadi kuliner yang bernuansa wisata, dengan alasan pemilihan lokasi sangat strategis. Disamping itu katanya, ketinggian tempatnya bisa memanjakan wisatawan dengan langsung melihat landing paralayang.

“Jadi lokasi area kebun kopi cerek Ireng ini ternyata berdekatan dengan landingnya paralayang. Dan melihat pemandangan Kota Batu dari ketinggian yang sangat luar biasa,” tandasnya.

Pihaknya secepatnya akan menjadikan areal kebun kopi tersebut, menjadi destinasi yang menarik dan tentu diminati oleh wisatawan. Dengan konsep ungkap Arief, wisatawan akan dimanjakan bukan saja merasakan enaknya kopi tetapi juga mengajarkan para wisatawan bagaimana cara budidaya kopi itu sendiri, mulai proses produk yang siap untuk diminum.

“Tadinya kita sajikan, disamping nanti tempat untuk kafenya ni kita akan bikin bernuansa alam, kemudian nanti akses-aksesnya nanti kita bantu, penerangan, fasilitas pendukung yang lain nanti kita akan bantu,” jelas Arief.

Kemudian, kata Arief, pada intinya masyarakat nyaman dan berharap pada malam hari juga bisa buka dengan alasan view sangat luar biasa di pada malam hari. Sementara luas kebun kopi ceret Ireng sendiri mencapai 40 hektare.

“Kalau total sekitar 40 hektare, kebetulan diatas ada tempat take off dan di bawah ada tempat landing paralayang,” ungkapnya.

Arief berkeinginan nantinya akan menampilkan sajian musik sebagai cara untuk menarik minat wisatawan.

“Ini sangat cocok, nanti salah satunya bagaimana menampilkan sajian musik di kebun kopi, memang (sekarang) kita akustik, nanti yang kita akan dengan nuansa alam country kita sudah siapkan. Ini salah satunya akustik dulu,” ungkapnya.

Secara terpisah, Ketua Lembaga Masyarakat Desa Hutan, Sugianto mengatakan harapannya agar kedepannya kopi yang ada di Songgoriti bisa semakin dikenal. Karena katanya sudah lombakan di Jogja dengan mendapat peringkat 2 nasional.

“Soalnya disini itu (Songgoriti) sudah juara 2 nasional saat dilombakan di Jogja,” ujarnya.

Sugianto menambahkan ada 2 jenis kopi yang dikembangkan di Songgoriti yakni arabika dan robusta, dengan yang membedakan kopi lain tidak membuat perut menjadi kembung meskipun minum lebih dari satu gelas. Sementara itu, Ia menerangkan bahkan daun kopi pun bisa dijadikan teh.(der)

Grand Opening Se’i Sapiku Malang Bagi 100 Porsi Menu Andalan ke Mahasiswa

Se'i Sapiku Indonesia cabang Malang. (Deny Rahmawan)

MALANGVOICE – Se’i Sapiku Indonesia cabang Malang membagi 100 porsi makanan ke mahasiswa yang tak bisa pulang kampung karena pandemi Covid-19.

Pembagian ini merupakan rangkaian acara grand launching Se’i Sapiku di ruko Jalan Terusan Borobudur, Sabtu (11/7). Pembagian dilakukan dengan mematuhi protokol kesehatan.

“Kami juga ada diskon 30 persen selama grand launching ini. Memang kami menyasar mahasiswa sebagai bentuk support dan dukungan,” kata Owner Se’i Sapiku Indonesia cabang Malang, Gilang Widya Pramana.

Pembagian seporsi Se’i Sapiku Indonesia ke mahasiswa. (deny rahmawan)

Gilang mengatakan, pembukaan restoran baru ini berawal dari kegemarannya mencoba beragam kuliner bersama istrinya. Sampai dia mencoba Se’i Sapiku di Surabaya.

“Saya coba ini kok enak. Jadi daging asap, gurih, empuk dan enak. Sudah itu langsung saya putuskan join buka di Malang,” ujarnya.

Meski buka di tengah pandemi Covid-19, Gilang yang juga pengusaha produk kesehatan kulit MS Glow dan transportasi Juragan 99 ini tetap optimistis bisa meraih pasar dengan baik. Apalagi, harga termurah satu porsi berkisar Rp15 ribu dengan varian daging ayam.

“Kami akan andalkan penjualan online, di situ yang kami genjot. Yah, mudah-mudahan jadi kuliner favorite di Malang,” ia menambahkan.

Se’i Sapiku Indonesia memiliki 10 cabang. Malang selain Surabaya, Sidoarjo, Banyuwangi. Selain itu juga ada di Solo, Semarang, Makassar, Jakarta, dan Bekasi.

Dalam waktu dekat, Gilang menyatakan bakal membuka cabang baru di tempat lain seperti Kota Batu atau Kabupaten Malang.(der)

Pan Java, Sajikan Kuliner Bernuansa Jawa

Suasana Pan Java, Menu makan. (Istimewa)
Suasana Pan Java, Menu makan. (Istimewa)

MALANGVOICE – Panorama Alam Nusantara Java/Jawa (Pan Java, red) merupakan salah satu tempat yang siap menyajikan masakan bernuansa Jawa yang menjadi salah satu destinasi wisata kuliner yang yang terletak di Desa Mulyoagung, Dau.

Pan Java yang mengusung konsep budaya dipadukan dengan alam yang asri tersebut dikelola oleh Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Kampung Budaya Mulyoagung.

Destinasi wisata kuliner yang baru dibuka pada awal tahun 2019 ini memang mengusung konsep budaya dipadukan dengan alam yang asri. Begitu datang kesini, pengunjung bakal disuguhi gaya arsitektur ala Jawa kuno yang sangat kental.

“Ini ala-ala kampung rakyat era kerajaan Majapahit. Kita ada 83 jenis makanan disini, lokal khas Malang. Kalau ingin merasakan makan makanan desa, petani, ya wajib datang kesini. Soal rasa itu, kita natural, seperti misalnya kalau Malang kan itu identik sedap dan gurih, beda sama Jogja yang manis,” ujar Ketua Pokdarwis Kampung Budaya Mulyoagung, Miftakhul Adhim, Rabu (25/12).

Di area seluas 6 ribu meter persegi tersebut, Pan Java terbagi dalam tiga zona, diantaranya Warung Tani, Kasemo dan Cafe Kopi Tani. Masing-masing zona pun memiliki konsep berbeda.

Pertama adalah Warung Tani. Warung Tani ini mengandalkan sajian kuliner khas Jawa, termasuk penyajiannya dan gaya bangunan, serta menu ala prasmanan.

Zona kedua ada Kasemo atau akronim dari Khas Mulyoagung. Di Kasemo ini menu kulinernya cenderung modern dan lebih variatif.

Terakhir ada Cafe Kopi Tani. Di zona ini, pengunjung bisa menikmati seduhan kopi, makanan ringan seperti kafe pada umumnya.

“Kita ada 50 karyawan. Kita juga layani untuk wedding. Sementara ini sudah tiga kali wedding disini. Kalau hari-hari biasa gini bisa sampai 700 orang pengunjung, sampai malam itu. Ya yang banyak mahasiswa, dari luar kota juga ada. Sasaran sebenarnya kan semua kalangan, pejabat, mahasiswa, orang biasa, yang penting ini konsepnya untuk menengah kebawah,” jelasnya.

Selain menawarkan ragam wisata kuliner, lanjut Adhim, pihaknya juga menyediakan edukasi serta wisata pemancingan. Semua itu coba dikemas di satu tempat tersebut.

“Ada edukasi bahasa Inggris, dan kolam ikan, yang dikelola oleh karangtaruna. Kolam ikan tersebut, biasanya digunakan perlombaan memancing,” pungkasnya. (Der/ulm)

Coba Kuliner Nusantara di Pondok Kopi Sambel Teri

Pengunjung saat asik bercengkrama di Pondok Kopi Sambel Teri (Foto: Ayun/MVoice)
Pengunjung saat asik bercengkrama di Pondok Kopi Sambel Teri (Foto: Ayun/MVoice)

MALANGVOICE – Akhir pekan identik dengan hari libur. Masyarakat umumnya memanfaatkan waktu ini untuk istirahat atau jalan-jalan dengan keluarga.

Nah, bagi Anda yang ingin menikmati kuliner dengan nuansa pedesaan? ‘Pondok Kopi Sambel Teri’ dapat menjadi rekomendasi tepat menikmati akhir pekan dengan keluarga.

Restoran yang berlokasi di Desa Tulungrejo, Kota Batu ini sembari bersantai, pengunjung pun dapat menikmati suasana dan pemandangan kota berjuluk de Kleine Swizterland.

Pondok Kopi Sambel Teri yang dilaunching pada 3 November 2018 lalu, memiliki bangunan utama berupa Joglo.

Konsep joglonya tradisional dengan pilar dan dindingnya berbahan kayu. Selain itu perabotnya pun mayoritas berbahan kayu.

Owner ‘Pondok Kopi Sambel Teri’, Agung Panji Kurnia mengungkapkan awalnya hanya sebuah gazebo tempat istirahat. Kemudian seiring berjalannya waktu menjadi sebuah restoran

“Jadi, awalnya kami dengan pesantren depan ini sering makan bareng. Ya, sudah seperti keluarga. Kemudian, karena makan tak lengkap rasanya jika tanpa sambel,” ungkapnya.

“Begitu kami membuat Sambel Teri ternyata rasanya enak. Obrolan, tersebut suatu saat terkabulkan menjadi sebuah restoran,” imbuh Pria enam bersaudara ini.

Lebih lanjut ia mengatakan bila menu yang menjadi andalan yakni Ayam Geprek Sambel Teri. Sementara untuk minuman ada olahan buah, susu, serta kopi.

Harga yang ditawarkan pun relatif terjangkau, dibanderol mulai harga Rp 8 ribu – Rp 20 ribu pengunjung sudah dapat menikmati serbagai makanan dan minuman di sana.

Selain itu, restora tersebut sering dijadikan tempat pemotretan prewedding dan pembuatan film.

“Kami juga tidak pernah menarik biaya untuk prewedding dan pengambilan film. Semuanya bebas,” terang pria kelahiran Banyuwangi ini.

Sejumlah artis nasional pun pernah berkunjung ke Pondok Kopi Sambel Teri. Salah satunya Asmirandah dan sang suami, Jonas Rivanno.

Perlu diketahui, restoran tersebut buka sejak pukul 11.00 WIB – 23.00 WIB. Dan libur setiap hari Kamis.

Kemudian, untuk akses terbilang cukup mudah. Dari Alun-Alun Kota Batu, wisatawan hanya butuh waktu sekitar 12 menit ke lokasi. Untuk menuju lokasi, memang saat ini belum ada papan penunjuk arah.

Namun wisatawan dapat menggunakan Google Map agar lebih mudah menuju Pondok Kopi Sambel Teri.

Sementara, Plt. Kepala Dinas Pariwisata (Disparta) Kota Batu, Imam Suryono mengatakan kuliner merupakan aset andalan untuk menjual dan meningkatkan perekonomian di suatu daerah.

“Banyak daerah dikenal karena kulinernya. Kuliner memberikan pula manfaat ekonomi secara langsung bagi masyarakat,” tuturnya. (Adv)

Mencicipi Sajian Ketan ‘Legenda’ yang Tak Lekang Waktu di Kota Batu

Kedai pos ketan legenda yang berada di di Jalan Kartini, Kelurahan Sisir, Kota Batu (Ayun/MVoice)
Kedai pos ketan legenda yang berada di di Jalan Kartini, Kelurahan Sisir, Kota Batu (Ayun/MVoice)

MALANGVOICE – Kota Batu memang punya segudang pesona. Saat berkunjung ke kota ini, ada banyak tempat wisata menarik yang bisa kamu eksplor. Mulai dari wisata alam, wisata buatan hingga wisata pertanian.

Tak hanya itu saja, tempat wisata kuliner dengan cita rasa lezat yang melegenda pun juga bisa kamu coba saat berkunjung ke kota yang mendapat julukan de Kleine Swizterland.

Bicara soal kuliner legenda di Batu, tentu tak lepas dari hidangan yang satu ini. Nah, Pos Ketan yang melegenda ini berada di Jalan Kartini, Kelurahan Sisir, Kota Batu.

Berdiri sejak tahun 1967, Pos Ketan Legenda kini memiliki puluhan varian toping. Mulai dari rasa original yang terdiri dari parutan kelapa, bubuk kedelai dan gula jawa, rasa keju susu, hingga rasa duren yang disajikan bersama buah duren asli.

Khotiul Jannah, pengunjung asal Pasuruan mengungkapkan belum ke Kota Batu jika belum mencicipi legitnya sajian ketan di kota dingin ini.

“Tekstur ketannya memang begitu pulen dan terasa meleleh di dalam mulut. Ini menjadi alasan saya kuliner ke Kota Batu. Karena ketan di sini beda dengan lainnya. Meski dibiarkan seharian teksturnya tak keras,” ujarnya.

Sugeng Hadi generasi kedua penerus bisnis Pos Ketan Legenda mengatakan usaha ketan ini pertama kali dirintis oleh neneknya, Siami.

“Resep itu seperti yang dijual oleh nenek sejak 57 tahun silam, hingga ketan kini identik dengan Kota Batu,” ungkapnya saat diwawancarai MVoice.

Pos Ketan Legenda juga mampu menjaga konsistensi rasa sejak 1967. Menurut Sugeng tak ada kiat khusus untuk memasak ketan.

“Paling penting pilih ketan yang berkualitas baik. Kami pilih ketan dari Thailand yang kualitasnya paling baik. Ini lebih mudah diolah dan awet daripada ketan lokal,” imbuhnya.

Untuk penambahan legenda pada nama Pos Ketan diberikan lantaran ketan ini memang melegenda di kalangan pelanggan setia. Warung ketan telah hadir sejak 52 tahun lalu dan masih ramai hingga saat ini.

Pos Ketan Legenda juga dikenal dengan waktu operasional panjang yakni sejak pukul 16.00-03.00 WIB.

Sementara, Plt. Kepala Dinas Pariwisata (Disparta) Kota Batu, Imam Suryono mengatakan kuliner merupakan aset andalan untuk menjual dan meningkatkan perekonomian di suatu daerah.

“Banyak daerah dikenal karena kulinernya. Kuliner memberikan pula manfaat ekonomi secara langsung bagi masyarakat,” tuturnya.

Nah, untuk mencicipi kenikmatan ketan legendaris ini, kamu cukup merogoh kocek sebesar Rp 6 ribu hingga Rp 16 ribu saja tergantung dengan varian rasa dan topping yang ingin dipilih.

Legitnya ketan Kota Batu menjadi destinasi kuliner yang sayang jika dilewatkan saat berada di kota dingin ini.(Der/Aka)

Kafe Ubi Kota Batu, Suguhkan Nuansa Tempo Dulu

Pemilik Kafe Ubi, Suhartini saat berada di dapur kafe (Foto: Ayun/MVoice)

0MALANGVOICE – Sejarah menyebutkan ubi pernah menjadi makanan sehari-hari masyarakat Indonesia saat mengalami masa sulit di zaman penjajahan dahulu. Di beberapa daerah ubi sempat menjadi bahan makanan pokok pengganti nasi. Meski demikian saat diolah oleh tangan trampil, ubi bisa berubah menjadi camilan enak dan sehat.

Pemilik Kafe Ubi, Suhartini saat berada di dapur kafe (Foto: Ayun/MVoice)

Kreativitas terbukti menjadi hal penting dalam pengembangan wisata kuliner. Itulah yang ditempuh oleh warga Desa Pandanrejo, Kota Batu.

Ya, di Kafe Ubi yang berada di tengah sawah jalan satu arah menuju Coban Lanang, Kota Batu. Ubi disajikan begitu menggoda selera ketika mata menelusuri buku daftar menunya.

Kafe ini dikenal dengan suguhan makanan ala petani. Salah satunya ketela rambat yang direbus dan disuguhkan hangat-hangat. Karena itu, nama kafe ini bernama ‘Kafe Ubi’.

Menariknya di Kafe Ubi ini semua makanan dimasak tidak menggunakan kompor gas, melainkan tungku. Selain itu, pengunjung juga bisa mengambil makanan sendiri di dapur kafe ini layaknya rumah sendiri.

Pemilik Kafe Ubi, Suhartini (43) mengatakan kafe ini baru buka sekitar dua minggu. Dan ini untuk melestarikan makanan ketela yang ditanam petani di Desa Pandanrejo.

“Ya, karena sekarang keadaan ubi ini sudah berkurang. Karena itu, kami utamakan makanan itu jadi khas di kafe ini,” bebernya saat ditemui MVoice

“Selain itu juga mengenalkan ke anak-anak yang sudah jarang mengetahui makanan yang termasuk ke dalam Polo Pendem ini,” sambungnya.

Selain ubi, juga ada makanan rumahan seperti lauk ikan pindang, sayur pedas, sayur tewel, tempe tahu, telor, dan lainnya.

Harganya pun sangat terjangkau, untuk makanan berat paket menu sawah hanya Rp 7000 rupiah. Dengan tambahan menu masing-masing antara Rp 1500 – Rp 5000 rupiah. Sementara, kafe ini buka sejak pukul 10.00 WIB – 17.00 WIB.

Sementara itu, Lidsya Rizky pengunjung asal Pujon merasa kembali nuansa tempo dulu. Lantaran suasana yang begitu asri dan jauh dari suara kendaraan membuat tempat ini dipilihnya.

“Awalnya saya mau ke Coban Lanang. Tapi, begitu melihat kafe ini jadi mampir. Cuma ya maklum sih baru buka jadi kalau mau parkir rada sulit,” ungkapnya.(Hmz/Aka)