30 November 2022
30 November 2022
21.2 C
Malang
ad space

Kane Lop! Disparta Kota Batu Kembali Hadirkan Batu Street Food Festival 2021

Batu Street Food Festival 2021.

MALANGVOICE – Dinas Pariwisata Kota Batu kembali menggelar Batu Street Food Festival 2021. Event ini akan digelar mulai 7-8 Desember di Balai Kota Among Tani, Kota Batu.

Pada tahun 2020 lalu, event ini sempat ditiadakan seiring tingginya kasus penularan Covid-19. Sehingga diberlakukan pembatasan mobilitas masyarakat yang diikuti pula pelarangan pelaksanaan event yang memicu kerumunan.

Kepala Dinas Pariwisata Kota Batu, Arief As Siddiq mengatakan, kuliner merupakan bagian dari sub sektor ekonomi kreatif. Sehingga inheren dengan sektor industri pariwisata karena akan menjadi pemikat belanja wisatawan dan memberi nilai tambah kawasan itu.

“Kuliner menjadi pendongkrak tingkat pertumbuhan ekonomi dan pemikat tingkat belanja wisatawan serta pelengkap kebutuhan wisatawan dalam menikmati perjalanannya,” kata Arief.

Lebih lanjut, Arief mengatakan, Batu Street Food Festival 2021 ini bekerjasama dengan PHRI Kota Batu. Makanan yang disajikan kepada pengunjung berkualitas hotel namun harganya ekonomis.

“Harga PKL tapi kualitas masakannya setara hotel. Dalam strategi pemasarannya kami membantu melalui sistem pemasaran online. Sehingga tidak berkerumun,” ujar dia.

Acara yang bakal dihelat di halaman parkir Balai Kota Among Tani tersebut bakal semakin meriah. Dinas Pariwisata (Disparta) Kota Batu bakal mendatangkan guest star yaitu Chef Olivia Tommy peserta Master Chef Indonesia sesion 8.

Nanti pengunjung cukup merogoh kocek Rp 5 – 25 ribu dan bisa memilih aneka makanan maupun minuman. Khususnya Tempo Doeloe, sesuai tema yang diselenggarakan. Tidak hanya itu saja, pengunjung juga bisa membuat vlog saat mendatangi acara, karena panitia juga menggelar lomba vlog dengan hadiah jutaan rupiah.

“Selain kuliner pengunjung juga bisa menyaksikan cooking competition, live DJ performance, juggling and mixology performance, acoustic/band, zumba dance, dan live fruit carving. Jadi rugi sekali bila tidak datang ke Kota Batu,” lanjut Arief.(der/adv)

Sate Layah, Destinasi Sate Ayam Legit di Gang Sempit

Sate Layah by Ovan Tumpang. (Istimewa)

MALANGVOICE – Penggemar kuliner sate wajib mencicipi Sate Layah yang berada di di Jalan Anggrek no 148 Malangsuko, Tumpang, Kabupaten Malang.

Usaha sate ayam yang sudah berdiri sejak akhir 2018 ini berada di dalam kampung dengan akses jalan yang tidak begitu lebar. Lokasinya nyaris tak terlihat dari jalan besar. Bahkan berada di tengah himpitan tembok SMAN 1 Tumpang yang membatasi jalan kampung.

Kendati berada di dalam gang, Sate Layah ternyata tidak main-main dengan cita rasa. Daging ayam yang disajikan tidak hanya empuk, melainkan juga sudah gurih terasa aroma rempah meski belum dicampur dengan saus kacang.

“Sebelum dibakar memang sudah dilakukan proses marinasi dengan rempah-rempah alami. Demikian juga dengan saat proses bakar, ada dua macam bumbu yakni dicelup dan diolesi, tentunya semuanya dengan komposisi yang berbeda,” ungkap Ovan Setiawan, pemilik Sate Layah kepada Mvoice, Jumat (29/10).

Sate Layah by Ovan Tumpang. (Istimewa)

“Ketika pembeli sudah paham prosesnya, kadang mereka memilih untuk memakan satenya tanpa saus kacang dulu. Merasakan rasa originalnya dulu kalau kata mereka, baru kemudian mencampurnya dengan saus kacang,” imbuh Ovan.

Hal berbeda lainnya adalah tekstur dari saus kacangnya. Sate Layah selama ini juga dikenal sebagai warung sate yang cukup royal dalam memberikan saus kacang. Bahkan saus kacang sate ayam di Sate Layah cenderung kental.

“Secara takaran memang sedikit ada pembeda, kita sengaja saus kacang dibuat sedikit kental tujuannya agar lebih khas ketika dinikmati,” urainya.

Dalam menjalankan usahanya ini Ovan dibantu dua rekannya yang bertugas di bagian operasional warung. Di masa pandemi ini, Sate Layah banyak mengoptimalkan pengiriman. Selain memiliki tim distribusi pengiriman sendiri, Sate Layah juga memanfaatkan layanan pesan antar milik jasa transportasi online.

Lantas kenapa dinamakan Sate Layah? Padahal ketika Malang oice datang ke Sate Layah tidak mendapati layah satupun. Ovan membocorkan bahwa Layah adalah Laris sak wayah-wayah. “Artinya adalah laris sak wayah-wayah. Nama adalah doa, semoga laris sewaktu-waktu,” ungkapnya.

Secara tampilan, Sate Layah memang lebih condong ke arah sate ayam khas Ponorogo. Yakni dengan irisan sate yang memiliki bentuk memanjang.

“Sate Layah banyak dipengaruhi sate Ponorogo. Karena ada paman di Trenggalek yang juga jualan sate ayam tentunya khas Ponorogo,” ujar Ovan yang berdarah Tulungagung-Trenggalek ini.

Hidupkan Kampung Jadi Produktif
Secara tampilan, kedai Sate Layah memang sangat sederhana. Menempati teras di samping rumah tidak sampai 1,5 x 3 meter. Itu hanya cukup untuk operasional, jika ingin makan di tempat disediakan lokasi sederhana yang cukup untuk dua meja.

Namun kebanyakan pengunjung yang makan di tempat lebih memilih untuk mengambil kursi dan makan sate di lorong gang. Sehingga tidak salah jika ini merupakan destinasi wisata kuliner yang berada di tengah kampung.

“Sengaja memang kita coba untuk mengeksplorasi kawasan yang disebut orang dalam tanda kutip tidak produktif, tapi di satu sisi ternyata kawasan ini justru menjadi pembeda ketika kita menghadirkan destinasi kuliner didaerah sini,” ungkap Ovan.

“Banyak yang bilang nongkrong di dalam gang ini tidak bising. Cocok untuk santai meski dengan tempat yang sederhana. Tentunya dengan menikmati sate,” sambung Ovan lantas tertawa.

Usaha Sate Layah ini cepat dikenal luas sebagai destinasi kuliner sate ayam di wilayah Malang Timur. Hal ini tidak lepas dari promosi yang dilakukan secara masif di sosial media.

“Untuk promosi jujur memang paling banyak menguras tenaga, pertama itu adalah yang ideal kedua kami bercita-cita agar daerah ini menjadi destinasi wisata kuliner untuk meningkatkan perekonomian warga di sekitar,” pungkas Ovan.(der)

Bangkitkan Gairah Kuliner saat Pandemi, Pasta Indonesia Hadir di Malang

Produk Pasta Indonesia yang telah dikemas dan siap disajikan, (Bagus/Mvoice).

MALANGVOICE – Berseiring dengan menurunnya kasus Covid-19, para pelaku usaha sektor kuliner mulai kembali berlomba-lomba membuat inovasi sajian masakan baru, salah satunya Pasta Indonesia.

Pasta Indonesia merupakan franchise baru yang ada di Malang Raya. Mereka menyajikan kombinasi antara masakan luar negeri dan Indonesia yang akan membuat konsumen semakin penasaran.

“Meski di sektor kuliner tengah mengalami penurunan saat pandemi, akan kita angkat dengan bentuk Pasta Indonesia, yang mana merupakan makanan kombinasi antara makanan luar negeri dan makanan khas Indonesia,” ujar Investor Pasta Indonesia, Indra Setiyadi, Ahad (24/10).

Pasta Indonesia menyajikan Pasta dan Prata yang kemudian ditambah dengan varian makanan seperti rendang sapi, rendang ayam, sambal ayam suwir serta sambal goreng tongkol.

Indra Setiyadi (Kanan) bersama dengan Konseptor Pasta Indonesia, Ferry B Tjahyono (masker kuning), (Bagus/Mvoice).

Indra mengatakan, Pasta Indonesia yang memiliki tujuh gerai di wilayah Malang Raya hadir dengan mengutamakan penggunaan sistem Take Away. Sehingga untuk kemasan pun telah dibentuk sedemikian rupa agar lebih praktis untuk dibawa dan dimakan di manapun.

Baca Juga: Take Away, Aplikasi Digital Layanan Order Dikenalkan di Malang

“Memang di masa Pandemi ini, banyak resto, depot yang hanya menerima pesanan dengan sistem Take Away. Maka dari itu, kebiasaan itu tidak akan hilang, maka dari itu kita coba juga menggunakan sistem Take Away,” ucap dia.

Senada dengan hal itu, Konseptor Pasta Indonesia, Ferry B Tjahyono menyampaikan, untuk sistem take away sendiri, digunakan karena berada pada masa pandemi Covid-19.

“Karena dengan take away ordernya bisa dari rumah, makanya dimana saja. Apalagi kemasan yang praktis dibawa dan praktis disimpan,” ucap dia.

Selain itu, Pasta Indonesia juga memberikan peluang kepada siapapun yang ingin bergabung dalam bisnis franchise tersebut.

“Siapapun yang bergabung dengan franchise Pasta Indonesia ini bisa menjadi owner langsung. Karena dia bisa berjualan dan seluruh Komisi dan Royalti jadi milik agen yang bersangkutan,” jelasnya.

Ferry berharap melalui peluang yang tersedia di Pasta Indonesia itu, bisa membantu masyarakat yang ingin berbisnis dimasa pandemi Covid-19 kali ini.

“Karena ini model bisnis baru yang temen-temen bingung mau bisnis apa ya ini menjadi solusi karena praktis dan sudah dikemas secara konsep,” tandasnya.(der)

Mahasiswa Polinema Olah Limbah Kulit Jeruk Jadi Teh, Bantu Tangkal Covid-19

Orentea, produk mahasiswa Polinema. (Istimewa)

MALANGVOICE – Mahasiswa Politeknik Negeri Malang (Polinema) berhasil membuat inovasi mengolah limbah kulit jeruk peras menjadi produk bermanfaat. Produk itu diberi nama Orentea.

Berawal dari banyaknya limbah kulit jeruk dari para pedagang es yang berjualan di kawasan Pasar Besar Kota Malang dan Alun-Alun Kota Batu, mahasiswa itu melakukan riset dan mengolah limbah dengan baik.

Dibimbing Dra. Anik Kusmintarti, M.M., lima mahasiswa yang terdiri dari Prasasti Valentina Gustama (D-III Teknik Kimia), Rizki Bagus Maulana (D-III Teknik Kimia), Nanda Ristina Putri (D-III Teknik Kimia), Fadilah Aurelia Arifin (D-IV Akuntansi Manajemen), dan Alvindha Wahyu (D-III Teknik Telekomunikasi) melakukan inovasi melalui Program Kreativitas Mahasiswa Bidang Kewirausahaan.

Tim Orentea. (Istimewa)

Prasasti Valentina Gustama, mengatakan, timnya melakukan studi literatur dan menemukan hasil riset dari UI dan IPB yang menyatakan kandungan senyawa hesperidin, yaitu flavonoid pada kulit jeruk ternyata mampu meningkatkan imunitas dan menangkal pertumbuhan betacoronavirus termasuk Sars-CoV-2 penyebab Covid-19.

“Selain itu, banyak senyawa lain pada kulit jeruk yang sangat bermanfaat bagi tubuh seperti polifenol, bioflavonoid, dan juga vitamin C yang tiga kali lipat lebih banyak dibandingkan buahnya. Hal ini mendorong kami untuk memanfaatkan limbah kulit jeruk untuk menjadi produk olahan yang bermanfaat bagi masyarakat dan mengatasi permasalahan lingkungan,” ungkap Ketua Tim, Prasasti Valentina Gustama.

“Untuk menjaga kandungan nutrisinya, kami menggunakan alat food dehydrator. Kami juga menambahkan daun mint lokal kering untuk menambah cita rasa dan memperkaya manfaat serta memunculkan efek relaksasi,” kata mahasiswa yang akrab dipanggil Valent ini.

Orentea sangat bermanfaat di masa pandemi karena dapat meningkatkan imunitas tubuh dan meredakan stress.

Anik Kusmintarti, mengatakan kegiatan ini menjadi media pembelajaran bagi mahasiswa untuk meningkatkan kompetensi wirausaha mahasiswa, meliputi keterampilan kewirausahaan, keterampilan teknikal, dan keterampilan manajemen dengan merealisasikan ide menjadi bisnis riil.

Selain produksi, tim ini juga fokus pada pemasaran produk melalui e-commerce dan media sosial. Saat ini orentea dalam tahap survey izin PIRT Dinas Kesehatan, halal MUI, dan hak merek pada Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI).

“Orentea dijual dengan harga 20 ribu rupiah per kotak. Pada bulan Juli penjualan orentea sudah lebih dari 400 kemasan untuk wilayah Jawa Timur, Kalimantan Nusa Tenggara, Sumatera dan sudah dikirim keluar negeri,” tutup Valent.(der)

Manfaatkan Ekosistem Digital Bantu Kembangkan Kuliner Indonesia Timur, Se’i Sapi Kana

Head Marketing Se'i Sapi Kana Yogyakarta. (Istimewa)

MALANGVOICE – Kuliner Se’i merupakan makanan khas asal Kupang, NTT. Karena kepopulerannya, se’i banyak dijumpai di beberapa tempat termasuk di Jawa.

Olahan se’i yang menggunakan daging babi, kini juga banyak diubah menggunakan daging sapi. Salah satu pionir menggunakan daging sapi adalah Se’i Sapi Kana.

Saat pertama kali diluncurkan di Yogyakarta tahun 2019 lalu, Se’i Sapi Kana terus mempopulerkan masakan khas Indonesia Timur ini dengan menyediakan berbagai macam variasi menu.

Dari menu sambal, mereka mempertahankan sambal asli dari Indonesia Timur, Sambal Lu’at sebagai menu andalannya dan juga menyediakan varian lain seperti rica-rica, lada hitam, sambal hijau dan sambal matah. Variasi menu ini tidak disangka sangat digemari dan diterima oleh masyarakat yang lebih luas dan berkontribusi atas popularitas Se’i Sapi Kana secara umum.

Lebih lanjut, perjalanan membawa Se’i ke industri kuliner Indonesia juga didukung dengan kehadiran bisnis dan peluang di ranah digital.

Andra Lesmana, selaku founder dari Sei Sapi Kana menyatakan, misi untuk mempopulerkan hidangan Se’i di seluruh nusantara telah berhasil dengan dukungan dari ekosistem digital yang mumpuni.

“Kita sebagai pelaku usaha diharapkan untuk bisa fokus dengan menganalisis tren secara akurat dan menerapkan pembaruan untuk pasar, yaitu bagaimana kami menerapkan strategi baru untuk melayani masyarakat yang harus berkegiatan di rumah misalnya. Selain itu pelaku usaha juga harus mempunyai mental yang luar biasa karena selain fokus yang membedakan kita dengan pengusaha yang lain adalah mental,” katanya dalam rilis yang diterima MVoice.

Banyubiru, selaku Head of Marketing dan RnD dari Se’i Sapi Kana menyatakan, pengembangan bisnis banyak menggunakan media sosial sebagai alat promosi.

“Kami menjalankan strategi tersebut untuk tujuan pemasaran dan periklanan. Selain media sosial, Se’i Sapi Kana juga terus memanfaatkan peluang yang diberikan oleh platform digital yang menawarkan layanan pesan-antar online seperti GrabFood untuk menjangkau khalayak yang lebih luas. Alhasil sekarang konsumen kami dapat menikmati kelezatan Se’i Sapi Kana hanya dengan beberapa kali klik saja di aplikasi GrabFood,” imbuhnya.

Terbukti dari kehadiran Se’i Sapi Kana di platform digital menghasilkan awareness atau kesadaran pasar yang lebih baik, dan juga mendorong penjualan dine-in.

Dari segi awareness pasar, dua atau tiga tahun lalu, Se’i Sapi adalah menu yang cukup sulit ditemukan di kalangan masyarakat Indonesia. Eksposur dari GrabFood telah membantu Se’i Sapi Kana dalam mempopulerkan makanan ini di kalangan pengguna Grab. Kini masyarakat bisa menikmati hidangan ini di 100 gerai di kota-kota seperti Yogyakarta, Jakarta, Semarang, Malang, Bali dan kota lainnya di seluruh Indonesia.

Ketika Se’i Sapi Kana mencapai puncak popularitasnya, sulit untuk mengelola permintaan yang masuk untuk layanan dine-in. GrabFood berperan dalam menyokong operasional Se’i Sapi Kana. Kini, proporsi pesanan dine-in dan GrabFood di Se’i Sapi Kana seimbang, bahkan kadang-kadang lebih mengarah ke GrabFood dengan perbandingan 60:40.

Dalam perjalanannya, Se’i Sapi Kana juga bekerja sama dengan Account Manager GrabFood untuk mengembangkan menu dan paket yang sesuai dengan permintaan konsumen dan promosi menarik.

Banyu juga menjelaskan bagaimana dukungan dari GrabFood juga telah mempengaruhi strategi bisnis dan meningkatkan layanan dine-in Se’i Sapi Kana,

“Bagi kami, hal yang perlu diperhatikan adalah menciptakan keseimbangan antara promosi yang tersedia di platform pengantaran online seperti GrabFood dan yang tersedia di gerai offline. Kami menemukan bahwa kehadiran kami di platform online memang mendorong konsumen untuk ke toko offline kami,” jelasnya.

Meskipun telah mencapai titik kesuksesan perkembangan bisnisnya, Se’i Sapi Kana tidak mudah puas dengan pencapaian tersebut dan terus menunjukan kegigihannya dalam mempelajari wawasan bisnis baru.

Melalui webinar GrabAcademy dari GrabFood, Se’i Sapi Kana mendapatkan kesempatan untuk bisa berbagi tentang perjalanan bisnisnya dengan sesama pelaku UMKM lainnya.

Hadi Koe, Head of Marketing GrabFood juga menekankan bagaimana Grab menciptakan ekosistem digital yang kondusif untuk membantu pelaku UMKM mengembangkan bisnisnya di ranah digital.

“Hrapannya, program ini dapat membantu mitra merchant mengembangkan menu baru untuk memanjakan konsumen. Lewat inisiatif dan dukungan ini, GrabFood selalu berusaha untuk memberdayakan para mitra merchant dan menjadi platform terbaik bagi pelaku UMKM. Se’i Sapi Kana adalah salah satu mitra merchant kami yang mampu memanfaatkan inovasi berbasis teknologi yang telah kami rancang dan kami harap untuk terus bisa membawa semangat ini ke lebih banyak pelaku UMKM di platform kami,” tandasnya.(der)

Ini Cara Mudah Membuat Gule Iga Kambing yang Lezat

Gule Iga Kambing yang siap disajikan, (Ist)

MALANGVOICE – Hari Raya Iduladha 1442 Hijriah akan segera datang. Biasanya, di hari raya kurban ini identik dengan beragam olahan masakan berbahan dasar daging kurban.

Sebut saja sate, gule, rendang, tongseng, krengsengan, rawon, soto, bakso dan berbagai macam olahan daging sapi dan kambing lainnya.

Tapi pernahkah anda mengonsumsi gule iga kambing yang pasti tak kalah sedapnya dibanding kuliner hasil olahan daging lainnya? Bahkan gule iga kambing iji bisa menjadi salah satu pilihan utama untuk bersantap saat Idhul Adha nanti.

Kalau ingin tahu caranya, berikut Mvoice punya resep jitu untuk mengolah daging kambing menjadi Gule Iga Kambing favorit keluarga anda:

Pertama-tama, siapkan bahan dasar 1 Kg iga kambing, 1 liter santan encer dan 300 ml santan kental.

Untuk bumbu rendaman, rebuslah dua batang serai, tiga lembar daun salam, 3 Cm jahe memarkan dan 3 Cm lengkuas memarkan juga.

Kemudian, untuk bumbu halus, siapkan 10 bawang merah, 5 bawang putih, 4 kemiri, 4 sendok makan (sdm) ketumbar sangrai, 2 Cm kunyit bakar, 2 Cm jahe, 2 Cm kencur, 2 sendok teh (sdt) merica bubuk, seperempat sdt jinten.

Mulai memarkan 2 batang serai, 2cm lengkuas, 2 lembar daun salam, 2 lembar daun jeruk, 4 butir cengkeh, 3 Cm kayu manis, 3 butir kapulaga, 1 bunga lawang, 1 sdm gula merah, dan garam.

Jika sudah, didihkan air. Lalu, rebus daging iga kambing selama 15 menit. Setelah itu matikan api dan buang airnya.

Tumis bumbu halus sampai wangi dan masukkan bumbu cemplung yang sudah Anda siapkan tadi. Tuang santan sampai empuk, Gule iga kambing siap disajikan.(end)

36 Tahun Bertahan Sego Penjara Jadi Kuliner Legendaris, di Sini Tempatnya

Sego Penjara yang siap disantap, (MG2).

MALANGVOICE – Namanya sepintas memang menyeramkan. Jangan salah, meski terkesan seram, Sego Penjara di Kota Malang sangat ramah di perut serta kantong.

Mungkin karena inilah Sego Penjara bisa bertahan selama tiga dasa warsa lebih atau tepatnya 36 tahun. Kini, ada dua warung untuk bisa menikmati Sego Penjara.

Sebenarnya Sego Penjara yang buka awal pada 1985 ini tidak berbeda jauh dengan kuliner nasi campur khas Jawa Lainnya. Dengan kombinasi nasi putih, mie, tahu, sayur kacang panjang, sambal plus siraman kuah, menggoda hasrat untuk segera mencicipinya.

Tidak hanya itu. Ketika datang ke warung Mami Cukam yang memasak Sego Penjara ini tersedia beraneka macam lauk tambahan mulai jeroan, ikan, ayam dan masih banyak lagi.

Soal harga jangan khawatir, karena pasti terjangkau kantong. Satu porsi Sego Penjara hanya Rp3 ribu dan harganya akan meningkat bergantung pada pemilihan lauk.

Beragam menu yang tersedia di Mami Cukam, Kota Malang

Sumarmi (62) atau yang akrab disapa Mami Cukam menceritakan, sebutan Sego Penjara berasal penamaan yang diberikan pelanggannya pada awal-awal dia berjualan.

“Jadi tahun 1985 itu banyak yang nyebut Sego Penjara karena hidangan yang sederhana berisi nasi dan sayur tanpa lauk. Kalau di penjara kan biasanya masakannya ya sederhana-sederhana gitu. Jadi muncullah nama Sego Penjara,” ceritanya Ahad (11/7).

Sejak awal berjualan hingga saat ini harga yang dibandrol Mami memang tergolong murah. Mulai awal tahun 1985 harga masih Rp100, hingga kini satu porsi Sego Penjara dihargai Rp3.000.

“Harganya awal jualan itu Rp100, terus naik jadi Rp1.000, naik lagi Rp2.000 hingga tahun 2003 sampai sekarang harganya Rp3.000,” tuturnya.

Menurut perempuan tiga anak dan tujuh cucu itu, selain harga yang murah, salah satu keistimewaan Sego Padang ini adalah cita rasa yang tetap dijaga agar tidak berubah.

“Yang diutamakan itu bukan untung, tapi cita rasa dan kualitas bahan harus baik. Jadi meski disebut masakan kampung yang sederhana tetap disuka banyak pelanggan,” kata dia.

Tiap harinya pelanggan tak berhenti berdatangan mengantre untuk mendapatkan kuliner Sego Penjara itu. Saking banyaknya pelanggan, dalam satu hari Mami menghabiskan lima sak beras atau setara empat kwintal dalam sehari.”Rata-rata melayani dalam sehari sampai 800 bungkus,” imbuhnya.

Warung Mami saat ini ada di dua tempat. Pertama di perempatan Cukam, Pasar Kebalen, sedang warung kedua di Jalan Puntodewo 1A, Polehan. Warung buka setiap hari mulai pukul 17.00 hingga 04.00 pagi.(end)

Gratis Biaya Antar Area Kota Malang untuk Nikmati Rawon, Nasi Buk, atau Tom Yam Thailand

Rawon Malang spesial yang dagingnya empuk cocok dinikmati segala usia di rumah.(Mvoice/istimewa

MALANGVOICE – Hotel Tugu Malang mensupport Kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat yang berlangsung 3-20 Juli. Salah satunya dengan pelayanan antar pesan atau delivery order.

Media Relation Hotel Tugu Malang, Budi Sesario, mengatakan dua restoran masing-masing Melati Restaurant dan SaigonSan Restaurant melayani pesan antar makanan-makanan yang diolah dengan prosedur kebersihan dan sanitasi sesuai dengan standar WHO.

Di Melati Restaurant, kata pria yang akrab disapa Rio ini, terdapat banyak menu andalan khas lokal maupun masakan Cina dan Eropa.

“Misalnya rawon Malang spesial, kemudian masakan Madura yang terkenal, Nasi Buk, serta Nasi Goreng Bang Samin. Juga kami tawarkan Tugu Steak yang terdiri dari daging sapi tenderloin, udang, dan juga daging ayam,” ujarnya seraya menambahkan beragam menu ini bisa dipesan sejak 06.00.

Tomyam di SaigonSan Restaurant dikenal penikmat kuliner paling nikmat dibanding tempat lain.(Mvoice/istimewa)

Tempat makan lainnya, SaigonSan Restaurant, lanjut Rio, spesialisasi masakan Thailand dan Vietnam memulai jam pesan antar pukul 12.00.

“Variasi masakan khas mulai dari lumpia segar Vietnam dengan yaitu Goi Cuon, sup North Bangkok Tom Yam Goong yang sangat terkenal di Thailand, mie kuah sedap dengan irisan daging asal negeri Vietnam yaitu Pho, hingga hidangan penutup yaitu Khao Niao durian dapat dipesan untuk disantap di rumah bersama dengan keluarga,” terangnya.
 
Ditambahkan Rio, beberapa pilihan makanan khas di Melati Restaurant dan juga SaigonSan Restaurant dapat dibeli dalam bentuk fresh siap makan maupun frozen untuk dijadikan stok makanan di rumah.

“Tak ada biaya pengantaran alias gratis biaya Delivery untuk area Malang kota,” kata Rio seperti dalam keterangan tertulis yang diterima Mvoice sambil menambahkan untuk pemesanan Melati Restoran di +62 822-3126-3723, sementara SaigonSan Restaurant di +62 812-5997-7618.(end)

Rasa Konsisten Sejak 1959, Es Tanimbar Andalkan Resep Turun-Temurun

Joni (kiri) menyajikan es Santan yang legendaris, (MG2).

MALANGVOICE – Salah Satu minuman yang cukup dikenal warga Kota Malang adalah Es Santan. Meski hanya berada di pinggir jalan Tanimbar tepatnya di samping SMKN 4 Kota Malang, tapi es ini selalu laris diburu pembeli.

Minuman yang ada dan dijalankan secara turun temurun sejak Tahun 1959 ini memiliki berbagai macam julukan mulai dari mengadopsi nama Jalan, menjadi Es Tanimbar, hingga disebut juga dengan Es Blackpink serta Es Grafika.

Menurut penjual es santan ketan hitam, Joni Purnomo, awal mula orang tuanya berjualan masih berkeliling menggunakan gerobak, lalu pada tahun 1998 menetap di Jalan Tanimbar hingga saat ini.

“Berjualan es sudah sejak awalnya tahun 1959, kemudian berada di sini (Jalan Tanimbar) sejak tahun 1998,” ujarnya.

Es santan ketan hitam ini memiliki komposisi tape, cendol, roti yang ditutup dengan siraman sirup merah di atasnya.

Uniknya, es tersebut tidak menggunakan es batu, melainkan air santan yang telah beku.

Joni, mengatakan, untuk beberapa bahan baku yang digunakan untuk es itu dibuat sendiri. Hal itu dikatakannya guna mempertahankan cita rasa yang telah dimiliki.

“Kami pakai santan sama es serut aja. Tapi di sini yang bikin spesial itu santan, cendol, tape, dan sirup itu kami bikin sendiri semuanya,” tuturnya.

Dalam satu hari Joni mampu menjual antara 400 hingga 600 gelas es santan ketan hitam. Dengan membanderol satu gelasnya seharga Rp 5 ribu.

Dirinya menambahkan, salah satu alasan bisa tetap ramai pembeli adalah memberikan pelayanan terbaik dan konsisten pada cita rasa yang dimiliki.

“Konsisten untuk rasa dan pelayanan yang membedakan itu dari segi tanggap dan kecepatan dalam melayani,” tandasnya.(der)

Solusi Makan Praktis, Enak, dan Sehat, Frozen Box Malang Semakin Diminati

Olahan makanan produk Frozen Box Malang. (deny rahmawan)

MALANGVOICE – Malang dikenal dengan banyak sekali produk kuliner. Mulai jajanan pasar hingga makanan restoran atau siap saji. Di masa pandemi Covid-19 saat ini, banyak usaha kuliner menciptakan inovasi agar bisa tetap survive, salah satunya makanan frozen food.

Ya, salah satu olahan makanan beku milik Frozen Box contohnya. Berawal dari ide membuat makanan agar bisa bertahan lama, ternyata digemari banyak orang.

Gurame bumbu kuning Frozen Box Malang. (deny rahmawan)

Tim marketing Frozen Box, Riza Alfianto, mengatakan, produknya ini bisa tahan selama enam bulan di dalam freezer dan praktis langsung dimasak.

“Selama pandemi kami mencoba mengolah bahan sendiri dan memasarkan ke teman-teman, alhamdulillah ternyata diterima dengan baik. Kemudian kami coba terjunkan ke pasar dan hasilnya bagus,” kata Riza di kantor ruko Jalan Wilis Kavling 4, Kelurahan Gadingkasri, Kecamatan Klojen, Kota Malang,

Riza mengatakan, selama Ramadan ini penjualannya meningkat drastis. Disebutkan seperti olahan gurame selama April bisa terjual 300 bugkus, lele bumbu kuning 150 bungkus, dan lele fillet bisa mencapai 200 bungkus.

“Yang paling banyak permintaan ini ada lele fillet dengan harga 35 ribu rupiah per 250 gram. Pesananya mencapai 200 bungkus di awal bulan ini, karena kami ada bonus tepung bumbu biar pembeli lebih mudah untuk mengolah,” jelasnya. Hal itu belum ditambah olahan lain seperti ayam fillet dan sayap.

Selain tahan lama, produk Frozen Food ini dibuat menggunakan bahan pilihan. Semua merupakan budidaya sendiri hasil kerja sama petani dengan sistim pakan organik. Kerja sama ini sekaligus membawa keuntungan bagi petani yang kehilangan pasokan selama pandemi.

“Jadi kami bisa klaim makanan ini sangat sehat tanpa bahan pengawet,” ujarnya.

Frozen Box mendatang akan melakukan ekspansi penjualan ke kota-kota besar. Penambahan menu juga akan dilakukan, seperti ikan dori, kakap, dan kerapu.

“Penjualan selama ini melalui reseller dan langsung melalui akun @feozenboxmalang serta banyak mitra yang tersebar di Malang. Selanjutnya semoga bisa merambah ke kota-kota besar karena tidak ada masalah soal pengiriman jarak jauh,” tandasnya.(der)