Ketua DPRD Kabupaten Malang: Saatnya Dispora dan KONI Duduk Bareng Dukung Prestasi Atlet

Para atlet gulat saat berlatih (Ilustrasi/Mvoice).

MALANGVOICE – Ketua DPRD Kabupaten Malang, Darmadi, ikut angkat bicara tentang minimnya anggaran pembinaan atlet dan pelatih di Kabupaten Malang.

Darmadi seakan ‘tidak terima’ dengan KONI Kabupaten Malang yang memiliki 53 Cabang Olahraga (Cabor) pada tahun 2021 ini mendapat anggaran dari Daftar Pelaksanaan Anggaran (DPA) Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) hanya Rp1,9 miliar.

Meski demikian DPRD Kabupaten Malang siap mendukung atlet-atlet Kabupaten Malang untuk bisa meningkatkan prestasinya.

Salah satu bentuk dukungan tersebut, dengan menyarankan agar pihak-pihak yang berperan langsung dalam pembinaan dan penjaringan atlet bisa menyelaraskan rencana dan tujuannya.

“Kami berharap Dispora dan KONI ini bisa duduk bareng untuk merencanakan kegiatan yang akan dilakukan. Selama itu tidak ada permintaan pengajuan, ya kita tidak bisa,” kata Darmadi.

Artinya, lanjutnya, kami sebagai anggota dewan akan menyetujui pengajuan sesuai dengan kemampuan anggaran.

“Sebelum ke kami (DPRD,Red) mereka (Dispora dan KONI harus clear dulu, baru ke kami,” ucap Darmadi saat ditemui di Gedung DPRD Kabupaten Malang, Jalan Panji, Kecamatan Kepanjen, Senin (25/10).

Untuk itu, lanjut Darmadi, dia berharap Dispora dan KONI bisa memanfaatkan sisa waktu yang ada di tahun 2021 ini untuk merencanakan kegiatan dengan kebutuhan anggarannya, sebelum diajukan ke Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang.

“Ini mumpung belum ada pembahasan Rancangan APBD 2022, sehingga bisa dibahas oleh Dispora dan KONI. Setelah itu diajukan ke Pemda, baru ke kami,” jelasnya.

Darmadi menyarankan kepada Dispora dan KONI agar bisa mengidentifikasi setiap cabang olahraga (cabor). Bukan hanya dari kebutuhan, melainkan kegiatan dan juga target-target yang ditentukan setiap cabor.

Termasuk di dalamnya, untuk bisa lebih mematangkan persiapan semua cabor dalam ajang atau event olahraga yang akan digelar, baik berskala nasional, maupun internasional.

“Jadi kalau kami melihat agar bukan prestasi saja yang ditampilkan, namun juga harus tahu bahwa sebuah prestasi olahraga juga ada pembinaan,” pungkasnya.(end)

Satgas Covid-19 Kabupaten Malang Putar Balikkan Kendaraan yang ke Tempat Wisata

Petugas saat melakukan operasi Yustisi di JLS. (Mvoice/Istimewa).

MALANGVOICE – Satuan Tugas (Satgas) Covid-19 Kabupaten Malang memerintahkan beberapa pengendara memutar balik kendaraan yang akan masuk ke tempat wisata.

Sikap tegas tersebut, menurut Sekretaris Satpol PP Kabupaten Malang, Firmando Hasiholan Matondang bentuk operasi yustisi untuk menekan penyebaran Covid-19 di Kabupaten Malang. Operasi ini dipusatkan di Simpang Empat JLS menuju Pantai Balekambang.

“Kemarin itu (Ahad 24/10) kendaraan yang melintas kita berhentikan. Kami beritahu kalau mau ke tempat wisata masih ditutup, dan kami minta untuk balik, Intinya seperti itu,” ucap Firmando, Senin (25/10).

Firmando menjelaskan, dalam operasi tersebut tercatat ada sekitar 80 kendaraan yang diarahkan untuk putar balik. Namun, dari penyisiran di sepanjang JLS, masih dijumpai beberapa kendaraan yang berhenti, untuk menikmati panorama pantai dari pinggir jalan.

“Karena tidak masuk kawasan wisata, tidak kami tindak. Hanya saja, kami datangi untuk kami sosialisasikan prokesnya. Kami tanyai vaksinasi, pedulilindungi dan kami pesan agar tetap menggunakan masker,” jelasnya.

Selain itu, lanjut Firmando, Satpol PP Kabupaten Malang yang tergabung dalam Satgas Covid-19, juga melakukan operasi yustisi, atau operasi penegakan hukum dan pendisiplinan protokol kesehatan di sejumlah tempat wisata.

“Kemarin itu ada empat lokasi, yakni wisata Lembah Indah Kecamatan Wonosari, Waduk Karangkates Kecamatan Sumberpucung dan wisata Sumbersira Kecamatan Gondanglegi,” terangnya.

Menurut Firmando, pemilihan sejumlah tempat wisata sebagai sasaran operasi tersebut disebabkan kekhawatiran adanya oknum pengunjung yang nakal dan nekat masuk ke tempat wisata. Meskipun tempat wisata yang diperiksa petugas, sejauh ini masih taat untuk tidak beroperasi.

“Tidak ada yang ditindak karena mereka (pengelola tempat wisata) masih patuh untuk tutup,” pungkasnya.(end)

Atlet Kabupaten Malang Berprestasi Giliran Harap Anggaran Tinggi

Suasana camp latihan gulat di Desa Tulusbesar, Kecamatan Tumpang. (Mvoice/Toski D).

MALANGVOICE – Anggaran minim pembinaan atlet dan pelatih Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kabupaten Malang tidak menyurutkan semangat para atlet untuk berprestasi.

Hal itu terbukti, keberhasilan mereka membawa Provinsi Jawa Timur menduduki peringkat 3 nasional dalam Pekan Olahraga Nasional (PON) XX Papua 2021.

Di ajang PON tersebut, atlet Kabupaten Malang menyumbangkan 38 medali, baik itu emas, perak maupun perunggu.

Memiliki 53 cabang olahraga (Cabor), KONI hanya mendapat anggaran Rp1,9 miliar sehingga kurang maksimal memberikan sarana dan prasarana untuk atlet.

Dengan keterbatasan anggaran ini membuat masing-masing ketua cabor harus mempunyai jurus tersendiri agar tidak menyurutkan semangat para atlet untuk berlatih.

“Kalau di Camp (Tempat latihan) ini, berhasil mencatat atlet yang meraih dua medali emas dan satu perunggu, yakni Shinta Eka Arfenda dan Varadisa Septi Putri masing-masing memperoleh medali emas, dan Mutiara Ayuningtyas memperoleh medali perunggu,” ucap Ketua Cabor Gulat dan Sambo KONI Kabupaten Malang, Sulastiman, Senin (25/10).

Ketiga atlet tersebut, lanjut Sulastiman, berasal dari Kecamatan Tumpang dan Poncokusumo. Ini prestasi yang sangat luar biasa, dan mereka telah mengukir sejarah dalam keoalahragaan di Kabupaten Malang.

“Meski anggaran untuk berlatih terbatas, mereka bisa memperoleh medali di PON Papua,” jelas pria yang juga sebagai guru olahraga di SMPN 1 Tumpang ini.
       
Sulastiman menjelaskan, saat ini dirinya memiliki 19 orang atlet yang terdiri dari pelajar SMP, SMA hingga mahasiswa. Sebagian dari beberapa atlet tersebut merupakan anak yatim kurang beruntung yang dalam sisi ekonomi.

“Meski dari kalangan ekonomi menengah kebawah, mereka memiliki semangat besar dalam berlatih, dan ingin menjadi yang terbaik agar bisa mengharumkan nama Kabupaten Malang, baik dalam laga nasional maupun internasional,” jelasnya.

Sulastiman berharap kepada Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang agar lebih meningkatkan perhatian prestasi olahraga yang sudah diraih atlet Kabupaten Malang. Terlebih lagi, di tahun 2022 mendatang, atlet Kabupaten Malang juga akan bertanding di Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jatim VII.

“Dalam Porprov itu, KONI Kabupaten Malang menargetkan masuk tiga besar. Kami sangat optimistis bisa masuk tiga besar. Sudah ada buktinya, di PON Papua, atlet Kabupaten Malang membawa pulang 38 medali,” terangnya.
       
Perlu diketahui, untuk menampung para atlet gulat dan Sambo di Kabupaten Malang, Sulastiman telah merogok sakunya untuk membangun Camp Gulat secara mandiri tanpa ada bantuan dari Pemerintah Daerah.

Camp tersebut dibangun di Desa Tulusbesar, Kecamatan Tumpang. Untuk menuju Camp Gulat harus melalui jalan setapak sepanjang 300 meter, karena lokasinya curam dan tanpa ada fasilitas yang memadai, termasuk fasilitas air.(end)

Bangkitkan Gairah Kuliner saat Pandemi, Pasta Indonesia Hadir di Malang

Produk Pasta Indonesia yang telah dikemas dan siap disajikan, (Bagus/Mvoice).

MALANGVOICE – Berseiring dengan menurunnya kasus Covid-19, para pelaku usaha sektor kuliner mulai kembali berlomba-lomba membuat inovasi sajian masakan baru, salah satunya Pasta Indonesia.

Pasta Indonesia merupakan franchise baru yang ada di Malang Raya. Mereka menyajikan kombinasi antara masakan luar negeri dan Indonesia yang akan membuat konsumen semakin penasaran.

“Meski di sektor kuliner tengah mengalami penurunan saat pandemi, akan kita angkat dengan bentuk Pasta Indonesia, yang mana merupakan makanan kombinasi antara makanan luar negeri dan makanan khas Indonesia,” ujar Investor Pasta Indonesia, Indra Setiyadi, Ahad (24/10).

Pasta Indonesia menyajikan Pasta dan Prata yang kemudian ditambah dengan varian makanan seperti rendang sapi, rendang ayam, sambal ayam suwir serta sambal goreng tongkol.

Indra Setiyadi (Kanan) bersama dengan Konseptor Pasta Indonesia, Ferry B Tjahyono (masker kuning), (Bagus/Mvoice).

Indra mengatakan, Pasta Indonesia yang memiliki tujuh gerai di wilayah Malang Raya hadir dengan mengutamakan penggunaan sistem Take Away. Sehingga untuk kemasan pun telah dibentuk sedemikian rupa agar lebih praktis untuk dibawa dan dimakan di manapun.

Baca Juga: Take Away, Aplikasi Digital Layanan Order Dikenalkan di Malang

“Memang di masa Pandemi ini, banyak resto, depot yang hanya menerima pesanan dengan sistem Take Away. Maka dari itu, kebiasaan itu tidak akan hilang, maka dari itu kita coba juga menggunakan sistem Take Away,” ucap dia.

Senada dengan hal itu, Konseptor Pasta Indonesia, Ferry B Tjahyono menyampaikan, untuk sistem take away sendiri, digunakan karena berada pada masa pandemi Covid-19.

“Karena dengan take away ordernya bisa dari rumah, makanya dimana saja. Apalagi kemasan yang praktis dibawa dan praktis disimpan,” ucap dia.

Selain itu, Pasta Indonesia juga memberikan peluang kepada siapapun yang ingin bergabung dalam bisnis franchise tersebut.

“Siapapun yang bergabung dengan franchise Pasta Indonesia ini bisa menjadi owner langsung. Karena dia bisa berjualan dan seluruh Komisi dan Royalti jadi milik agen yang bersangkutan,” jelasnya.

Ferry berharap melalui peluang yang tersedia di Pasta Indonesia itu, bisa membantu masyarakat yang ingin berbisnis dimasa pandemi Covid-19 kali ini.

“Karena ini model bisnis baru yang temen-temen bingung mau bisnis apa ya ini menjadi solusi karena praktis dan sudah dikemas secara konsep,” tandasnya.(der)

Putri Penjual Kue Keliling Sumbang Medali Emas Cabor Gulat

Shintia Eka Arfenda (baju biru) saat berlatih. (Mvoice/Humas KONI Kabupaten Malang).

MALANGVOICE – Memiliki orang tua sebagai penjual kue keliling tidak membuat
Shintia Eka Arfenda minder. Justru dengan kerja kerasnya, Shintia menyumbang medali emas di PON XX Papua.

Pegulat putri berhijab asal Desa Jeru Kecamatan Tumpang Kabupaten Malang ini berlaga di kelas 50 Kg dalam ajang Pekan Olahraga Nasional (PON) XX Papua 2021 lalu.

Ketua Harian Persatuan Gulat Seluruh Indonesia (PGSI) Kabupaten Malang Sulistiman mengatakan, Shintia tertarik gulat sejak SMP. Dia merupakan atlet berbakat, dan memiliki semangat yang luar bisa.

“Awalnya Shintia ini sempat gak boleh ikut gulat oleh orang tuanya. Orang tua mana yang tega melihat tubuh anaknya dibanting-banting,” kenangnya saat Shintia awal ikut olahraga gulat..

“Tapi dia anak yang gigih dan terus berlatih, saat itu tempat latihan (Camp) masih meminjam di SMPN 1 Tumpang,” lanjut Timan, sapaan akrab Sulastiman, saat ditemui Mvoice, di Camp Karisma, di Desa Tulusbesar, Kecamatan Tumpang, Ahad (24/10).

Pria yang juga sebagai guru olahraga di SMPN 1 Tumpang ini menjelaskan, kegigihan Shinta tersebut akhirnya berbuah manis, dengan meraih medali di pertandingan pertamanya pada event Porprov Jatim 2011 di Surabaya.

“Kalau gak salah pertama ikut tahun 2011 lalu, di ekskul, sebulan berikutnya ikut event Porprov Jatim dan berhasil dapat juara, kalau gak dapat medali perak,” jelasnya.

Shintia Eka Arfenda. (Mvoice/Istimewa).

Terpisah, Shintia Eka Arfenda mengakui pilihan olahraga gulat memang sempat dilarang orang tuanya, karena identik dengan aksi kekerasan, menyeramkan dan tidak banyak wanita melakukan gulat.

“Orang tua saya, terutama ibu, dulu tidak setuju. Mereka berpikiran gulat itu menyeramkan, ditambah lagi saya perempuan. Tapi, sekarang orang tua saya mendukung, terlebih saya mampu menjadi atlet gulat,” katanya.

Pegulat yang berusia 25 tahun ini mengaku, pengalaman paling berkesan selama menjadi atlet gulat, saat tergabung dalam kontingen Jawa Timur dalam PON XX Papua 2021, karena dapat mendulang medali emas untuk Jawa Timur.

“Saya merasa senang, bangga sekaligus terharu karena perjuangan saya saat latihan dan tetap fokus tidak sia-sia. Setelah PON Papua, saya akan mempersiapkan diri untuk mengikuti SEA Games,” pungkas Shintia yang saat ini menyelesaikan S2 di Universitas Negeri Malang, jurusan Pendidikan Jasmani dan Kesehatan Fakultas Ilmu Keolahragaan.

Berikut 10 prestasi Shintia Eka Arfenda Sebagai Atlet Gulat:

1. Juara 1 PON XX PAPUA kelas 50kg.
2. Juara 2 Pra Kualifikasi Pon kelas 63kg.
3. Juara 2 PON XIX Jabar kelas 48kg.
4. Juara 2 Pra Kualifikasi Pon kelas 48kg.
5. Juara 1 southeast asean championship thailand kelas 55kg.
6. Juara 2 southeast asean championship vietnam kelas 53kg.
7. Juara 3 southeast asean championship philiphine kela 53kg.
8. Juara 1 Kejurnas senior U23 kelas 53kg.
9. Juara 1 Kejurnas senior jakarta kelas 48kg.
10. Juara 1 kejurnas junior jember kelas 48kg.

Raih Tiga Medali Emas di PON Papua 2021, Gadis Asal Wagir Borong Bonus

MALANGVOICE – Gadis berusia 23 tahun asal Kecamatan Wagir, bernama Bunga Arbella memborong bonus Rp45 juta dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang.

Bonus itu didapat karena ia berhasil menyabet tiga medali emas mewakili Jatim dalam ajang Pekan Olahraga Nasional (PON) XX di Papua 2021.

Ia terjun di cabang olahraga memanah dan berhasil menyabet medali dalam nomor aduan individu putri, aduan beregu putri, dan aduan beregu mix team.

“Alhamdulillah, seneng banget bisa membawa nama baik Jawa Timur khususnya Kabupaten Malang, gak nyangka bisa dapat 3 emas,” ucap Bella sapaan akrab Bunga Arbella, Sabtu (23/10).

Bella mengaku sangat menginginkan untuk bisa melangkah lebih jauh menuju kejuaraan internasional.

“Dengan capaian ini saya ingin terus berprestasi, sudah ada pembicaraan dengan pelatih timnas, kami sudah ancang-ancang ke situ (kejuaraan internasional),” jelas Mahasiswi Universitas Negeri Malang (UM) ini.

Bella menceritakan, dirinya diinstruksi dari tim pelatih timnas untuk mengganti busur dulu, baru bisa dipanggil pemusatan latihan nasional.

“Jadi saya harus ganti busur dulu. Karena untuk kelas nasional atau standard bow ini hanya di Indonesia aja. Jadi, kalau pingin ke internasional harus pindah ke kelas compound,” terangnya.

Bella menyadari langkahnya menuju kancah internasional masih panjang. Selanjutnya ia akan fokus menatap perhelatan PON XXI Aceh pada 2024 mendatang.

“Insyaallah habis Pon Aceh baru ke Asian Games. Kesempatannya masih panjang, harus latihan dulu, lalu penyesuaian dengan alat baru. Jadi kita harus penyesuaian dulu,” pungkasnya.(der)

Gus Idris Ditahan Kejari Kabupaten Malang

Idris Al-Marbawy atau Gus Idris. (Mvoice/Istimewa)

MALANGVOICE – Kejaksaan Negeri (Kejari) Kabupaten Malang resmi menahan Idris Al-Marbawy atau biasa dikenal Gus Idris.

Penahan Gus Idris lantaran kasus dugaan video hoaks penembakan yang sempat viral di YouTube beberapa waktu lalu. Gus Idris saat ini ditahan di Lapas Lowokwaru, sejak Kamis (21/10) kemarin.

“Iya, dia (Gus Idris) digelandang petugas menuju lapas Lowokwaru pada Kamis (21/10) kemarin,” ucap Kepala Kejari Kabupaten Malang, Edi Handojo, saat dihubungi awak media, Sabtu (23/10).

Baca juga: Polres Malang Tunggu Keputusan Kejari Tentang Kasus Gus Idris Penyebaran Video Hoaks

Edi menjelaskan, penahanan Idris tersebut dilakukan setelah asistennya berinisial YF yang merupakan sosok paling berpengaruh dalam pembuatan konten-konten YouTube Gus Idris Official tersebut ditahan terlebih dahulu.

“Idris ditahan selama 20 hari hingga berkasnya dilimpahkan ke pengadilan. Penahanan itu sejak Kamis kemarin. Penahanan ini merupakan rasa keadilan,” tegasnya.

Sebagai informasi, dalam pemberitaan sebelumnya, Gus Idris menayangkan adegan dugaan tertembak saat berada di Markas Nyi Ronggeng.

Adegan penembakan tersebut direkam di video live youtube di kanal pribadinya Gus Idris Official, yang diunggah pada 28 Februari 2021 lalu, di daerah Pacet, Kabupaten Mojokerto.

Dalam video berdurasi 4 menit 14 detik, itu terlihat Gus Idris yang sedang berjalan menuju mobilnya, diduga terkena tembakan oleh orang tidak dikenal.

Setelah videonya viral, polisi kemudian melakukan pemeriksaan terhadap Gus Idris dan beberapa orang yang terlibat.(der)

Gara-gara Pinjol, Pemuda di Pakis Nekad Gantung Diri

Petugas saat olah TKP. (Mvoice/Istimewa).

MALANGVOICE – Warga Desa Ampeldento, Kecamatan Pakis dihebohkan ulah nekad pemuda berinisial MEM (20), yang gantung diri hingga tewas, pada Jumat (22/10) kemarin sekitar pukul 17.00.

Kapolsek Pakis AKP M. Lutfi mengatakan, korban diduga nekat mengakhiri hidupnya lantaran tidak tahan diteror penagih utang dari pinjaman online (pinjol).

“Korban gantung diri dengan aeutas tali di rumahnya kemarin (Jumat 22/10) sekira jam 17.00. Korban ditemukan pertama kali oleh tetangganya,” ucap Lutfi, saat dihubungi Mvoice, Sabtu (23/10).

Lutfi menjelaskan, korban sebelumnya sempat mengeluh kepada teman yang juga tetangga, Yoga, sedang membutuhkan uang untuk membayar tagihan pinjaman online.

“Sebelumnya (Kamis 21/10) korban mengeluh butuh uang mebayar tagihan pinjaman online ke Yoga,” jelasnya.

Pria yang pernah menjabat Kapolsek Poncokusumo ini menegaskan, korban di mata keluarga terkenal pendiam dan jarang berkomunikasi dengan keluarga.

“Korban ini tidak pernah bercerita kepada keluarganya masalah tanggungannya terhadap pinjol ini kepada keluarganya,” terangnya.

Setelah ditemukan, lanjut Lutfi, jenazah korban langsung dievakuasi dan dilakukan pemeriksaan oleh petugas medis. Hasilnya tidak ditemukan tanda-tanda penganiayaan dan menyimpulkan MEM meninggal karena bunuh diri.

“Jenazah sudah diserahkan kepada pihak keluarga, dan keluarga menolak untuk dilakukan outopsi. Keluarga menerima kenyataan bahwa ini sebagai takdir,” jelasnya.

Lebih lanjut, Lutfi menambahkan, saat ini pihaknya mengamankan beberapa barang bukti antara lain, tali yang dipakai korban untuk mengakhiri hidupnya, serta dua buah kursi yang digunakan untuk pijakan korban.

“Kami memberikan edukasi kepada masyarakat, jangan mudah tergiur bujuk rayu pinjol apalagi pinjol ilegal, karena kalau nggak bisa bayar akan diteror dan bunga akan membengkak beberapa kali lipat,” pungkasnya.(end)

Ratusan Juta Bagi Atlet Kabupaten Malang Peraih Medali di PON XX Papua 2021

MALANGVOICE – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang kucurkan ratusan juta rupiah bagi para atlet peraih medali yang berlaga di ajang Pekan Olahraga Nasional (PON) XX Papua 2021.

Dari 45 atlet binaan Komite Olahraga National Indonesia (KONI) kabupaten Malang, 27 atlet di antaranya berhasil menyumbang 16 medali emas, 14 medali perak, dan 9 medali perunggu.

Bupati Malang, HM Sanusi mengatakan, untuk meningkatkan motivasi para atlet, Pemkab Malang memberikan bonus atau reward total sebesar Rp425 juta kepada atlet yang menyumbangkan medali.

“Untuk peraih medali emas mendapat hadiah Rp15 juta, medali perak sebesar Rp10 juta, dan medali perunggu Rp5 juta,” ucap Sanusi, saat ditemui awak media usai pemberian reward para atlet, di Pendopo Agung, Kabupaten Malang, Jalan Agus Salim no.7, Kota Malang, Jumat (22/10).

Sanusi menjelaskan, prestasi yang telah diraih atlet Kabupaten Malang tersebut merupakan hasil yang luar biasa, lantaran kegigihan mereka untuk berprestasi, meski tidak ditunjang dengan anggaran.

“Akan kami lakukan evaluasi, karena anggaran minim sekarang, justru prestasinya semakin bagus. Jadi, anggaran tidak menentukan prestasi. Tapi, kegigihan dan ketekunan atlet yang menentukan. Makanya kami akan tingkatkan reward untuk para atlet,” jelasnya.

Lebih lanjut, Sanusi merasa bangga atas capaian prestasi atlet Kabupaten Malang, yang berhasil menduduki peringkat kedua setelah Kota Surabaya dalam perolehan medali di PON XX Papua 2021 untuk Provinsi Jawa Timur

“Target dalam olahraga adalah menjadi juara. Sekarang Kabupaten Malang peringkat kedua di bawah Surabaya, terus giat berlatih agar terpilih ke tingkat lebih atas,” pungkasnya.(end)

Paino Akhirnya Ditemukan di Bawah Jembatan Kanigoro

MALANGVOICE – Paino (47), warga Desa Kedungpedaringan, Kecamatan Kepanjen yang hanyut terbawa arus Sungai Brantas pada Selasa (19/10) akhirnya ditemukan Jumat (22/10) pagi.

Korban ditemukan dalam kondisi meninggal sekitar pukul 06.56 di bawah jembatan Kanigoro yang menghubungkan Desa Kanigoro, Kecamatan Pagelaran dengan Desa Kemiri, Kecamatan Kepanjen.

Kepala Bidang (Kabid) Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Malang, Sadono Irawan mengatakan hal itu kepada awak media.

“Alhamdulilah jenazah pak Paino yang hanyut Selasa sore berhasil ditemukan dekat jembatan Kanigoro pagi ini,” ucap, Sadono, saat dihubungi melalui telepon selulernya, Jumat (22/10).

Penemuan jenazah Paino tersebut, lanjut Sadono, dalam kondisi badan tengkurap dan masih mengenakan baju kaos.

“Oleh rekan-rekan Tim SAR Gabungan langsung dievakuasi dan dibawah kamar jenasah RS Kanjuruan Kepanjen untuk dimintakan visum,” pungkasnya.(end)