Balai Arkeologi Yogyakarta Akan Meneruskan Ekskavasi Situs Sekaran

Arkeolog BPCB Jatim Wicaksono Dwi Nugroho. (Toski D).

MALANGVOICE – Ekskavasi atau penggalian situs Sekaran akan dilanjutkan Balai Arkeolog Yogyakarta. Sebelumnya, penemuan situs itu ditangani Badan Peninggalan Cagar Budaya (BPCB) Trowulan Jawa Timur.

Hal ini disampaikan langsung oleh Arkeolog BPCB Jatim, Wicaksono Dwi Nugroho, saat ditemui di lokasi Ekskavasi situs Sekaran, Kamis (21/3).

“Kemungkinan akan dilanjutkan Balai Arkeologi Jogja. Kemarin, Kepala Balai Arkeologi Jogja, Pak Sugeng Riyanto juga sudah kesini dan menyanggupi untuk meneruskan penggalian,” ungkapnya.

Proses Ekskavasi situs Sekaran yang masih berjalan. (Toski D)

Selama sepuluh hari ini, lanjut Wicaksono, pihaknya telah melakukan ekskavasi area penemuan situs Sekaran hingga 25 meter persegi.

“Sampai saat ini kita temukan bentangan struktur yang cukup luas. Dan kita sudah temukan pola-pola tertentu dari sini. Tapi tetap saja butuh penelitian lanjutan untuk kejelasannya,” ulasnya.

Sebelumnya, tambah Wicaksono, pihaknya telah menemukan tiga struktur awal yang sudah tersingkap di situs Sekaran. Salah satunya adalah gerbang yang diyakini sebagai gapura yang bergaya arsitektur paduraksa.

“Sementara ini ada tiga. Temuan awal sudah kita singkap, kita yakini sementara ini adalah bagian dari gapura atau pintu masuk, gerbang tipe paduraksa. Selain itu, di sebelah selatan gapura kami temukan struktur bangunan baru yang sampai sekarang belum kita ketahui,” pungkasnya. (Der/Ulm)

Kades Sekarpuro Berencana Bangun Museum Sekaran

Benda-benda yang ditemukan di sekitar area situs Sekaran. (Toski D)

MALANGVOICE – Barang-barang yang ditemukan warga di area situs Sekaran bakal ditampung di kantor Desa Sekarpuro. Hal ini dilakukan setelah ada niatan pihak pemerintah desa untuk membuat Museum Desa.

Kepala Desa Sekarpuro, Kecamatan Pakis, Sulirmanto mengatakan, pihaknya berencana akan membuat Musium Desa setelah ada penemuan situs Sekaran yang ada di dusun Sekaran akibat adanya pembangunan jalan tol Malang-Pandaan (Mapan) di Seksi 5 atau kilometer 37.

“Nantinya kami ingin membuat Musium Desa. Untuk sementara saya akan gunakan ruangan di sebelah aula untuk menyimpan barang-barang yang ditemukan warga ini. Tapi jika tidak muat bisa menggunakan aula Desa,” ungkapnya.

Sulirmanto menjelaskan, dengan adanya Musium Desa ini diharapkan dapat menyelamatkan peninggalan serta cagar budaya akan terlaksana secara berkelanjutan.

“Dengan adanya tempat tersebut nantinya dapat digunakan untuk penelitian maupun obyek wisata edukasi bagi masyarakat, khususnya pelajar. Yang jelas dapat mendongkrak perekonomian warga juga,” ujarnya.

Apalagi, tambah Sulirmanto, daerah tempat ditemukannya situs Sekaran ini termasuk daerah yang tertinggal di Desa Sekarpuro. Untuk itu, dirinya berharap kepada pemerintah agar melindungi dan melestarikan pengembangan Desa Sekarpuro yang mempunyai potensi wisata sebagai cagar budaya.

“Berdasarkan data dari tim Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jatim yang melakukan ekskavasi di situs Sekaran ini. Barang-barang purbakala itu merupakan peninggalan Kerajaan Singasari. Seperti koin yang bertuliskan Dinasti Song yang memimpin Tiongkok pada abad X sampai XI Masehi. Maka, kami ingin mengajak seluruh warga untuk ikut menjaga kelestarian budaya kita,” pungkasnya.

Perlu diketahui, Dinasti Song merupakan dinasti yang memerintah Tiongkok pada tahun 960 sampai tahun 1279 atau sebelum Tiongkok diinvasi oleh Bangsa Mongol. (Hmz/Ulm)

Ekskavasi Situs Sekaran Alami Perluasan

Arkeolog BPCB, Wicaksono Dwi Nugroho. (Toski D).

MALANGVOICE – Penemuan Situs Sekaran di Tol Malang-Pandaan, tepatnya kilometer 37 atau seksi 5, di Dusun Sekaran, Desa Sekarpuro, Pakis, saat ini semakin meluas. Awalnya diprediksi 13 meter persegi kini menjadi kurang lebih 30 meter persegi.

Arkeolog Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB), Wicaksono Dwi Nugroho mengatakan, saat ini lokasi situs Sekaran semakin meluas. Situs Sekaran ini memiliki struktur bangunan kuno dengan menggunakan gapura Paduraksa.

“Saat ini sampai sudah sampai kurang lebih 30×30 meter radiusnya. Jika dilihat struktur susunan batu batanya, struktur bangunan kuno ini diduga berupa gapura yang memiliki atap penutup,” ungkapnya saat ditemui di lokasi ekskavasi situs Sekaran, Rabu (20/3).

Menurut Wicaksono, struktur bangunan kuno ini diduga situs peninggalan diera kerajaan Singosari. Sebelumnya diduga dari peninggalan pra-Majapahit. Karena diduga terdapat gapura jenis Paduraksa yang digunakan sebagai pembatas sekaligus gerbang akses penghubung antarkawasan dalam kompleks bangunan khusus.

“Di area penemuan pertama situs ini merupakan gapura, yang tangganya rusak terkena ekskavator saat pengerjaan proyek jalan tol. Kemudian ke arah barat, kita temukan struktur, kita sebut semacam altar begitu ya. Kemudian di Selatan struktur altar itu ada bangunan lain yang kita sampai sekarang belum tahu itu apa,” jelasnya.

Akan tetapi, lanjut Wicaksono, pihaknya menduga, situs itu merupakan kompleks yang terdapat bangunan suci di dalamnya. Hal ini jika dilihat dari orientasi bangunan menghadap ke arah barat laut tepatnya searah dengan Gunung Semeru dan membelakangi Gunung Kawi.

“Sementara ini, jadi saya menduga ini suatu kompleks yang terdiri dari bangunan suci yang dikelilingi kompleks-kompleks lain,” pungkasnya.

Pemkab Malang Gelar Musrenbang Penyusunan RKPD Tahun 2020

Suasana pelaksanaan Musrenbang Kabupaten Malang, di Pendopo Agung Jalan Agus Salim Kota Malang. (Toski D).

MALANGVOICE – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang menggelar Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) dalam rangka Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Kabupaten Malang 2020 Tahun Anggaran 2019 di Pendopo Agung Kabupaten Malang, Rabu (20/3). Acara itu dibuka langsung Plt Bupati Malang HM Sanusi.

Dalam sambutannya, Sanusi mengatakan, Musrenbang ini untuk Penyusunan RKPD hingga Tahun 2020. Untuk itu, Musrenbang ini sangat penting bagi stakeholder dalam pembangunan yang berbasis kemasyarakatan di wilayah Kabupaten Malang.

“Dalam Musrenbang ini secara substansial merupakan penjabaran dari visi, misi dan program yang telah ditetapkan dalam RPJMD Tahun 2016-2021 sehingga Pemkab Malang beserta seluruh aparaturnya wajib melaksanakan program/kegiatan pemerintahan yang ditetapkan dalam RKPD ini,” jelasnya

Sementara itu, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bapeda) Kabupaten Malang, Tomie Herawanto mengatakan, Musrenbang ini merupakan tahun terakhir dari implementasi dari Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Tahun 2016-2021.

“Kegiatan ini untuk memantapkan mana-mana indikator kinerja yang membutuhkan peran dan keterlibatan lintas sektor atau dari perangkat daerah lain, agar integrasi pembangunan dapat berjalan secara lebih optimal,” ungkapnya.

Sebab, lanjut Tomie, secara formal menjadi landasan penyusunan Kebijakan Umum APBD (KUA) yang akan diusulkan oleh Bupati Malang untuk disepakati bersama dengan DPRD Kabupaten Malang dalam menyusun Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (R-APBD) Tahun 2020.

Kegiatan Musrenbang ini dihadiri oleh Direktur Pengembangan Wilayah dan Kawasan Bappenas, Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekda Provinsi Jawa Timur, Kepala Bappeda Provinsi Jawa Timur, Bakorwil 3 Malang, Wakil Ketua DPRD Kabupaten Malang, Sekretaris Daerah, Forkopimda, Ketua MUI, Pimpinan Bank Jatim Cabang Malang dan Kepanjen, serta jajaran Kepala OPD dan para Camat. (Der/Ulm)

Rusunawa ASN Bakal Dimanfaatkan Guest House

Rusunawa ASN yang berlokasi di kawasan Block Office Kepanjen. (Istimewa).

MALANGVOICE – Pembangunan Rumah Susun Sewa (Rusunawa) Aparatur Sipil Negara (ASN) yang berbeda di area Block Office Kepanjen, juga bakal dimanfaatkan untuk tamu atau wisatawan.

Proyek yang menelan anggaran sebesar Rp 16,1 miliar ini, kata Kepala Dinas Perumahan Kawasan Permukiman dan Cipta Karya (DPKPCK) Kabupaten Malang, Wahyu Hidayat, pemanfaatkan rusunawa itu sudah dipertimbangkan dengan banyak pihak.

“Pemanfaatan ini berdasarkan pertimbangan yang telah kami telaah, karena di kawasan block office yang lokasinya sangat strategis bagi para tamu daerah, dekat dengan Stadion Kanjuruhan, RSUD, dan juga Kantor Bupati, karena selama ini belum ada hotel yang representatif,” ungkapnya.

Akan tetapi, tambah Wahyu, yang akan dikelola sebagai guest house nantinya hanya beberapa unit saja yang berbeda di lantai 1.

“Diharapkan, dengan adanya guest house ini bisa meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD) untuk Pemerintah Kabupaten Malang. Selain dari hasil sewa rusun oleh ASN,” jelasnya.

Untuk itu, tambah Wahyu, pihaknya saat ini masih menunggu hasil berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait dalam skema pengelolaannya.

“Harus dibahas dulu, termasuk mengenai besaran harga serta tenggang waktu bagi ASN untuk tinggal di rusunawa tersebut, untuk menunjang PAD pasti, tapi berapa besar dan kapannya harus dibahas dulu,” pungkasnya.(Der/Aka)

Ekskavasi Situs Sekaran Bakal Dilanjutkan Disparbud Kabupaten Malang

Suasana Pelaksanaan rapat koordinasi di Kantor Disparbud Kabupaten Malang. (Toski D)

MALANGVOICE – Proses ekskavasi situs Sekaran bakal dilanjutkan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Malang.

Hal ini berdasarkan hasil rapat koordinasi yang digelar oleh Disparbud Kabupaten Malang dengan menghadirkan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur, PT Jasamarga Pandaan Malang, serta komunitas dan pemerhati cagar budaya.

Sekretaris Disparbud Kabupaten Malang, Ainur Rofiq, mengatakan, pihaknya siap melanjutkan proses ekskavasi situs sekaran, setelah jadwal ekskavasi dari BPCB berakhir pada Kamis (21/3) mendatang.

“Rapat koordinasi ini digelar untuk mengetahui kelanjutan terkait dengan temuan situs Sekaran, di Dusun Sekaran, Desa Sekarpuro, Pakis,” ungkapnya.

Dalam rapat koordinasi masing-masing pihak mendapatkan kesempatan mengeluarkan pendapatnya. terutama pihak BPCB, dalam rapat koordinasi mereka memaparkan tentang proses ekskavasi.

Sementara, Arkeolog BPCB Jatim, Wicaksono Dwi Nugroho mengatakan, selama delapan hari ini pihaknya telah melakukan ekskavasi, beragam temuan-temuan telah dihasilkan.

“Dari temuan-temuan itu bisa memastikan jika situs Sekaran ini merupakan peninggalan zaman pra Majapahit,” jelasnya.

Dalam kesempatan ini, Direktur PT Jasamarga Pandaan Malang, Agus Purnomo mengatakan, saat ini pihaknya masih menunggu laporan dari BPCB.

“Sampai saat ini kami belum menentukan sikap, apakah tol ini bergeser, atau bagaimana. Karena kami juga menunggu hasil ekskavasi yang dibuat BPCB dan hasil itu juga akan kami laporkan kepada Kementrian PUPR,” ujarnya.

Untuk itu, lanjut Agus, dirinya sangat setuju jika situs Sekaran ini dirawat, dijaga dan dilestarikan. Untuk proses pembangunan seksi 5 tol Malang-Pandaan memang telah dihentikan. Namun pihaknya masih dapat mengerjakan di tempat lain.

“Proses ekskavasi ini tidak menggangu kinerja kami secara signifikan. Walau saat ini pembangunan di area situs dihentikan,” ulasnya.

Perlu diketahui, rapat koordinasi ini menghasilkan lima point kesimpulan, yaitu :

1. Pelestarian dan pemekaran situs Sekaran menjadi tanggung jawab bersama masyarakat dan stke holder lainnya.

2. Keberadaan dan pelestarian situs ini memberikan manfaat yang besar bagi masyarakat luas.

3. Kajian lengkap tentang situs ini harus dibuat secara cepat oleh BPCB, untuk kemudian disampaikan kepada pelaksana pembangunan tol Pandaan Malang. Sehingga oleh pihak pelaksana tol dapat dilanjutkan hasilnya ke Kementrian PUPR.

4. Diupayakan area situs terlindungi dari panas dan hujan, lantaran kondisi batu bata pada situs sangat rapuh dan mudah hancur.

5. Untuk pengamanan dan pelestarian situs harus dilakukan secara berkelanjutan, dengan membentuk konsorsium.(Der/Aka)

Masyarakat Diimbau Mengembalikan Benda dari Situs Sekaran

Anggota DPR RI Komisi X, Lathifah Sohib. (Toski D).

MALANGVOICE – Penemuan Situs Sekaran di area tol Malang-Pandaan (Mapan) persisnya di seksi 5 kilometer 37, Desa Sekarpuro, Pakis mendapat perhatian khusus dari anggota Komisi X DPR RI, Lathifah Sohib, Selasa (19/3).

Dikatakan Lathifah, jika sudah dimiliki perorangan (masyarakat), maka masyarakat diimbau supaya mengembalikan, karena benda itu milik negara. Tapi, tentunya pemerintah akan memberikan kompensasi.

“Masyarakat yang telah menemukan diimbau supaya dikembalikan, dan pemerintah akan memberikan reward kepada mereka. Agar benda-benda tersebut kan milik negara harus dikembalikan kepada negara,” katanya.

Meski begitu, penemuan situs purbakala (situs Sekaran, red) ini sebenarnya pihak Komisi X DPR RI belum menerima laporan resmi secara tertulis dari Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur.

“Secara resmi, kami Komisi X belum menerima laporan tertulis. Tapi, saya sudah mendapatkan informasi dari beberapa teman yang tinggal diberdekatan dengan lokasi jika BPCB Jawa Timur sudah turun ke lapangan untuk melakukan ekskavasi penemuan itu,” ungkapnya.

Lathifah mengatakan, BPCB Jawa Timur diminta segera melaporkan ke pusat tentang penemuan ini, semoga secepatnya ada tindak lanjutnya.

“Mudah-mudahan nanti segera ada tindak lanjut karena ini kan kekayaan hasanah bangsa kita yang harus diamankan. Meskipun mungkin kita sudah kecolongan dalam artian beberapa barang sudah menjadi milik masyarakat,” jelasnya. (Der/Ulm)

Tingkatkan Minat Baca, Komisi X DPR RI Apresiasi Kegiatan Perpustakaan Nasional SGNPKM

Pelaksanaan SGNPK di Pendopo Agung Jalan Agus Salim Kota Malang. (Toski D)

MALANGVOICE – Perpustakaan Nasional menggelar safari gerakan nasional Pembudayaan Kegemaran Membaca di Provinsi dan Kabupaten/Kota tahun 2019 di Pendopo Agung, Jalan Agus Salim Kota Malang, Selasa (19/3).

Dalam kesempatan ini Anggota DPR RI Komisi X, Lathifah Shohib mengatakan, pihaknya mengapresiasi kegiatan yang dilakukan oleh Perpustakaan Nasional RI yang telah memprogramkan kegiatan Safari Gerakan Nasional Pembudayaan Kegemaran Membaca (SGNPKM). Berdasarkan survei beberapa badan Dunia, minat baca masyarakat Indonesia sangat rendah dibandingkan dengan negara-negara lainnya.

“Berdasarkan hasil survei, minat baca masyarakat Indonesia menduduki peringkat kedua dari bawah, artinya dari 32 negara, Indonesia menempati urutan ke 31 terkait dengan minat baca,” ungkapnya, saat ditemui usai mengikuti kegiatan GSGNPKM.

Melihat peringkat tersebut, lanjut Lathifah, pihaknya sangat prihatin, untuk itu, Komisi X terus berupaya dengan menambahkan anggaran dari APBN untuk Perpustakaan Nasional.

“Mulai tahun 2016, komisi X anggaran untuk Perpustakaan Nasional ada kenaikan. Kami berharap dapat mencapai 1 triliun, dan Alhamdulillah di tahun 2019 ini anggaran untuk Perpustakaan Nasional bisa mencapai Rp 700 juta lebih,” jelasnya.

Dengan adanya penambahan anggaran tersebut, tambah Lathifah, berdasarkan hasil survei tersebut, minat baca masyarakat Indonesia melonjak ke peringkat 17. Untuk itu, kami berharap dengan adanya peningkatan ini, menstimulasi perpustakaan perpustakaan daerah baik yang ada di provinsi maupun yang ada di kabupaten kota

“Saat ini berdasarkan survei lompatan minat baca kita dari 30 negara yang disurvei kita sudah menduduki peringkat ke-17. Untuk itu, dengan kegiatan SGNPKM dari Perpustakaan Nasional ini sangat membantu meningkatkan minat membaca masyarakat,” pungkasnya. (Hmz/Ulm)

Pemkab Malang Beri Lampu Hijau, Satu Investor Siap Kelola Wisata Pemandian Wendit

Plt Bupati Malang, HM Sanusi, usai ikut dalam rapat koordinasi dengan PT Inti Composite Figlasindo Utama, di Ruang Rapat Anusapati, Pendopo Kabupaten Malang, (istimewa).

MALANGVOICE – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang memberikan lampu hijau pada investor yang akan berinvestasi untuk mengelola tempat wisata Pemandian Wendit di Desa Mangliawan, Kecamatan Pakis.

Plt Bupati Malang, HM Sanusi mengatakan, pihaknya terus melakukan komunikasi secara intens dengan investor. Satu dari lima investor telah siap dan telah melakukan rapat koordinasi dengan Pemkab, di Ruang Rapat Anusapati, Pendopo Agung, Jalan Agus Salim Kota Malang, Senin (18/3).

“Kami telah berbicara dengan investor dimana dalam hal ini PT Inti Composite Figlasindo Utama, dalam pembicaraan ini salah satunya soal rencana jangka waktu kontrak kepengelolaan dengan investor selama 20 tahun kedepan. Tentunya nanti ada beberapa klausul dalam kontrak yang harus dipenuhi investor,” ungkapnya.

Salah satu klausul yang dimaksudnya, lanjut Sanusi, yaitu tentang kontribusi melalui Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari pengelolaan obyek wisata Wendit. Kemudian, kontribusi PAD yang diberikan melalui sektor pajak. Seperti tiket masuk wisata diporporasi dan pajaknya masuk ke Pemkab Malang. Dimana, pada tahun pertama Pemkab Malang menargetkan pada investor pendapatan sebesar Rp 6 miliar.

“Dari target pendapatan Rp 6 miliar itu, Pemkab akan mendapatkan PAD dari pajak sebesar Rp 600 juta. Harapanya dengan pembicaraan dengan investor ini disetiap tahunnya, PADnya terus bertambah,” jelasnya.

Akan tetapi, tambah Sanusi, pihaknya juga mewanti-wanti pihak investor supaya melakukan penambahan wahana dan meningkatkan fasilitas obyek wisata tersebut, namun, ada syarat juga yang harus dipenuhi.

“Tidak boleh merusak lingkungan dan ekosistem yang ada. Jadi tidak tidak boleh merubah bentuk asli dari obyek wisata tersebut. Penambahan dan pengembangan yang masih mempertahankan keaslian wisata Wendit. Nah, jika semua tahapan terpenuhi, maka akan dilanjutkan penandatangan kontrak kerjasama antara Pemkab dengan investor,” tegasnya.

Sementara itu, perwakilan PT Inti Composite Figlasindo Utama Daru Pambudi mengatakan, pihaknya akan menggelontorkan dana investasi untuk pengelolaan wisata pemandian Wendit sebesar Rp 15 miliar, dengan menggunakan nama PT yang baru.

“Nilainya investasinya kurang lebih sebesar Rp 15 miliar. Tapi, untuk nama PT nya kami memakai yang baru, agar pengelolaanya lebih fokus dan profesional,” ungkapnya.

Namun, tambah Daru, dari investasi tersebut, pihaknya masih melakukan pengkajian lebih lanjut untuk menentukan besaran tarif tiket masuk ke wisata pemandian Wendit. Namun, pihaknya juga akan melibatkan masyarakat sekitar untuk pengelolaan tempat wisata tersebut, jika sudah ada kesepakatan pengelolaan wisata pemandian Wendit dengan Pemkab Malang.

“Untuk besaran nominal tarifnya kami akan melakukan pengkajian terlebih dahulu. Kami juga akan mengajak masyarakat sekitar yang berkompeten untuk mengembangkan wisata ini,” pungkasnya. (Der/Ulm)

Masyarakat Pakis Protes Jalan Rusak Tak Diperbaiki

Kondisi jalan di Dusun Patoklengki, Desa Bunut Wetan Kecamatan Pakis. (Toski D).

MALANGVOICE – Akibat tingginya curah hujan, dan proyek pembangunan jalan Tol Malang-Pandaan (Mapan) menyebabkan ruas jalan di Kecamatan Pakis menuju Kecamatan Tumpang berlubang membuat masyarakat banyak yang mengeluh.

Mereka menuntut pihak pemerintah supaya memperhatikan kondisi jalan, seperti jalan di Dusun Patoklengki, Desa Bunut Wetan, Pakis yang dalam setiap harinya selalu terjadi kecelakaan lalulintas akibat jalan berlubang tersebut.

“Warga akan menanam pohon pisang di jalan ini, karena di ruas jalan Dusun Patoklengki ini setiap hari ada yang jatuh akibat lubang ini,” ucap Sablah (35), warga sekitar lokasi jalan yang berlubang.

Menurut Sablah, jalan rusak yang tak kunjung diperbaiki ini membuat warga setempat kecewa kepada Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang. Apalagi dipicu dengan seringnya pengendara motor yang jatuh atau kecelakaan.

“Jalan ini sudah lama dalam kondisi rusak. Pemkab Malang seharusnya memperhatikan ini,” tegasnya.

Sementara itu, Camat Pakis, Firmando Hasiholan Matondang menyampaikan, sebenarnya pihaknya telah melakukan koordinasi dengan pihak Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga (DPUBM) Kabupaten Malang tentang kondisi jalan rusak di wilayah Kecamatan Pakis.

“Kami pernah berkoordinasi dengan DPUBM, dan di pertengahan tahun 2018 lalu pemgaspalan hanya sampai depan balai Desa Bunut Wetan. Tapi, DPUBM berjanji, ditahun ini (2019, red) akan diteruskan ketimur. Namun hingga saat ini masih belum ada kegiatan perbaikan,” pungkasnya.

Sampai berita ini ditulis, pihak DPUBM masih belum bisa di konfirmasi. Dari pantauan di lokasi, sepanjang jalan mulai dari Desa Mangliawan (perbatasan dengan Kota Malang) sampai menuju Kecamatan Tumpang, banyak terdapat jalan yang berlubang dan rusak. (Der/Ulm)

Komunitas