Mahfud MD: Perguruan Tinggi Wajib Cetak Sarjana Sujana

Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Mahfud MD saat memberi orasi ilmiah di UB. (Lisdya)
Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Mahfud MD saat memberi orasi ilmiah di UB. (Lisdya)

MALANGVOICE – Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Mahfud MD mengatakan, perguruan tinggi seharusnya mencetak sarjana baik S1, S2, S3 dan seterusnya yang sujana, yakni dalam artian cendikiawan, bijaksana maupun pandai.

Sebab, dalam orasi ilmihanya yang bertajuk “Tanggung Jawab Konstitusional Perguruan Tinggi dalam Pembangunan Bangsa dan Negara” pada Dies Natalis Ke-57 Universitas Brawijaya di Kota Malang, Jawa Timur, Minggu (5/1), ia menyebut banyak para sarjana di Indonesia yang masih terbilang belum sujana.

“Sulit memang perguruan tinggi dalam hal ini untuk membentuk sarjana menjadi sujana. Banyak lulusan yang pengangguran, bahkan ada pula yang menjadi narapidana,” katanya.

Seperti di Lapas Sukamiskin, ia menyebut banyak narapidana di sana yang justru malah para sarjana. “Ini sangat disayangkan sekali,” tegasnya.

Untuk itu, peran perguruan tinggi harus mencetak kader bangsa yang intelek atau cendekia yang bisa menjaga ideologi negara dengan segala konstitusinya agar eksistensi bangsa dan negara terjaga dengan baik.

“Kesadaran kolektif itu sangat penting, apabila kita gagal untuk mengatasi masalah-masalah dekadensi moral melalui perguruan tinggi, maka yang terancam adalah eksistensi bangsa dan negara. Oleh sebab sebab itu perguruan tinggi harus menjadi kawah candradimuka pencetak kader bangsa yang menjadi penjaga dan penyebar nasionalisme,” bebernya.

Lebih lanjut, ia mengatakan upaya mencetak kader bangsa yang berbasis nasionalisme harus diarahkan untuk menjaga geopolitik Indonesia atau wawasan nusantara. Dari geopolitik itu ada dua dimensi: fisik dan non fisik.

“Yang fisik adalah geografi dan demografi, yang nonfisik adalah ideologi dan konstitusi,” ternagnya.

Sementara itu, Rektor Universitas Brawijaya, Nuhfil Hanani mengatakan, guna mencetak sarjana sujana, salah satu upaya kampusnya, yakni telah menyisipkan materi-materi anti korupsi di MKU (Mata Kuliah Umum).

“Jadi, nggak masuk kurikulum tapi disisipkan di MKU, seperti mata kuliah Pancasila dan Agama,” pungkas Nuhfil.(Der/Aka)

Minimalisir Kebakaran, Mahasiswa Teknik Informatika UMM Ciptakan Integrated Forest Fire Management Sistem

istimewa.
istimewa.

MALANGVOICE – Pada tahun kemarin, hutan di Indonesia mengalami kebakaran dan kabut asap menyebabkan dampak ekonomi negatif yang signifikan. Padahal, Indonesia menjadi penyumbang terbesar kadar oksigen dunia yang kemudian sering disebut menjadi paru-paru dunia.

Dengan demikian mahasiswa Program Studi Teknik Informatika UMM membuat sistem pintar atau teknologi yang bernama Integrated Forest Fire Management Sistem, alat yang memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) untuk mendeteksi kebakaran hutan.

“Jadi, alat ini memanfaatkan sensor LM35 dan sensor Flame menggunakan Artificial Intelligence sebagai pemroses data,” ujar Ketua Kelompok, Billy Aprilio.

Inovasi yang dibimbing dosen Fakultas Teknik, Nur Hayatin ini digadang mampu mengurangi perluasan dampak kebakaran.

Ia menjelaskan, jika terjadi kebakaran, maka sensor akan mendeteksi secara otomatis. Selanjutnya, sistem akan memberikan perintah untuk memompa air untuk disemprotkan ke titik terjadinya kebakaran.

“Air didapatkan dari pembuatan penampungan air embun alami dengan menggunakan pemanen embun menggunakan jaring atau fog harvesting,” bebernya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan alat ini menyemprotkan air pada periode waktu tertentu yang kemudian akan dilakukan pengecekan ulang terhadap suhu sekitar. Jika dinilai masih terdeteksi suhu tinggi, maka penyemprot akan diaktifkan kembali.

Hanya saja, apabila sensor mendeteksi kebakaran hutan tingkat tinggi, maka sistem secara otomatis akan mengirimkan sinyal tempat kebakaran pada komputer pusat.

“Nah, dengan ini tidak akan terjadi kebakaran yang jauh lebih besar,” singkatnya.

Langkah selanjutnya, hasil dari Fog Harvesting tersebut akan disalurkan ke tangki air (water tank) sebagai tempat penampungan. Kemudian untuk power supplay, mahasiswa ini menggunakan panel surya untuk memanfaatkan sinar matahari sebagai sumber daya utama yang diaplikasikan pada pompa penyemprot air.

“Alat ini diharapkan akan meminimalisirkan terjadinya kebakaran hutan besar di Indonesia,” tandasnya. (Der/Ulm)

”Blue Bridge Polinema” Bentuk Kepedulian pada Masyarakat

Pembantu Direktur III, Anggit Murdani saat mengecek peresmian ”Blue Bridge Polinema”. (Lisdya)
Pembantu Direktur III, Anggit Murdani saat mengecek peresmian ”Blue Bridge Polinema”. (Lisdya)

MALANGVOICE – Dalam bentuk kepedulian Politeknik Negeri Malang (Polinema) kepada masyarakat, kampus vokasi ini merenovasi jembatan penghubung di Jalan Terusan Kembang Turi yang sebelumnya kondisinya sudah rapuh.

“Karena jembatan sudah rapuh dan goyang-goyang, akhirnya kami renovasi, karena ini juga bentuk kepedulian kami dalam kontribusi yang baik untuk masyarakat sekitar,” ujar Pembantu Direktur III, Anggit Murdani.

Pengerjaan jembatan ”Blue Bridge Polinema” ini dimulai dari 10 November 2019 hingga 29 Desember 2019.

“Kami memaksimalkan apa yang kami miliki SDM (Sumber Daya Manusia), kemudian kami punya pakar-pakar jembatan. Kami maksimalkan sehingga jembatan bisa difungsikan kembali,” ujar Anggit.

Sementara itu, koordinator kegiatan renovasi jembatan, Burhamtoro mengatakan jika jembatan dengan panjang 20 meter dan lebar 2,4 meter ini direnovasi pakar-pakar jembatan Polinema bersama mahasiswa hingga sangat kuat untuk dilalui pejalan kaki dan pengendara sepeda motor.

Ia juga menyebut jika jembatan yang telah direnovasi ini bakal memiliki kekuatan lebih dari 25 tahun.

“Untuk renovasi kami tidak merubah sepenuhnya. Karena jembatan ini dibuat saat AMD (ABRI Masuk Desa) sekitar 30 tahun lalu. Saat ini kami lakukan perbaikan dengan membongkar semua. Kontruksinyan kita buat komposit. Jadi geragar kami hubungkan dengan plat baja. Kemudian di atasnya dipasang sel konektor, kemudian dipasang tulangan wiremesh. Bagian atas dan bawah ada tulangan, baru dicor setebal 25 cm, kemudian dilakukan pengaspalan,” bebernya.

Lebih lanjut, ia menyatakan jika renovasi yang menghabiskan dana sekitar Rp 100 juta ini juga harus dilakukan perawatan.

Saat peresmian yang dilaksanakan Minggu (29/12) kemarin, Ketua RW 04 Jatimulyo, Hadi Santoso mengatakan pihaknya sangat berterimakasih dan mengapresiasi kepada Polinema.

“Saya sebagai ketua RW mengucapkan terimakasih sebanyak-banyaknya kepada Polinema. Karena jembatan ini sangat dibutuhkan masyarakat untuk jalan trobosan, khusunya pengendara motor roda dua. Karena kalau jembatan Ini ditutup maka memutarnya akan jauh sekali. Jadi dengan adanya pembangunan ini semoga kedepannya akan memperlancar lingkungan RW 04 dan Polinema,” tandas Hadi. (Hmz/Ulm)

Meneliti UU Yayasan, Advokat Ini Raih Predikat Sangat Memuaskan

Kasiani SH MH meraih gelar doktor usai disertasi meneliti UU Yayasan di UB. (istimewa)
Kasiani SH MH meraih gelar doktor usai disertasi meneliti UU Yayasan di UB. (istimewa)

MALANGVOICE – Penggabungan merupakan perbuatan hukum bergabungnya yayasan penggabung kepada yayasan penerima penggabungan dan berakibat hukum pada bubarnya yayasan penggabung. Hal itu dikatakan Kasiani SH MH dalam ujian terbuka program doktor di Gedung A lantai 6 Fakultas Hukum Universitas Brawijaya Malang, Rabu (18/12).

Dalam disertasi ini, kata dia, ada tiga pembahasan atau pertanyaan penting yang perlu diteliti dalam permasalahan penggabungan yayasan perguruan tinggi.

Pembahasan pertama, dijelaskan makna penggabungan bagi yayasan yang bergerak di bidang Perguruan Tinggi. Kedua, apa ratio legis pasal 60 ayat (1) UU RI No. 28 Tahun 2004 Tentang Perubahan Atas UU RI Nomor 16 Tahun 2001 Tentang Yayasan yang mengatur penggabungan dan korelasinya dengan yayasan yang menyelenggarakan perguruan tinggi.

Terakhir soal bagaimanakah rekonsepsi pengaturan penggabungan yayasan pasal 60 ayat (1) UU Yayasan dan kaitannya dengan Perguruan Tinggi dimana penelitian tersebut dianalisis dengan teori badan hukum, teori keadilan, teori perlindungan hukum dan teori perundang – undangan.

Penelitian ini, menurutnya, merupakan jenis penelitian ilmu hukum, dengan metode penelitian yang digunakan preskriptif analitis, dengan pendekatan perundang – undangan, konsep dan historis. “Bahan hukum penelitian terdiri dari bahan hukum primer dan sekunder dan tersier,” katanya.

Hasilnya, kata Kasiani yang juga seorang advokat ini mengatakan, pertama, penggabungan yayasan memiliki makna terserapnya yayasan kurang penting, yakni yayasan penggabung kedalam yayasan yang lebih penting yaitu, yayasan penerima.

“Hal itu ditandai bubarnya yayasan penggabung dan beralihnya aset kepada yayasan penerima penggabungan untuk diurus dengan lebih baik sehingga assetnya dapat terus memberi manfaat mensejahterakan masyarakat,” jelasnya.

Dalam Penggabungan Yayasan Perguruan Tinggi, akan tumbuh sinergi baru, yakni mewujudkan pendidikan tinggi bermutu bagi penggabung, serta kedepannya memberi manfaat bagi masyarakat luas.

Kedua, ratio legis Pasal 60 (1) untuk memberi kepastian hukum yang berkeadilan bagi masyarakat yang terkait dengan badan usaha yayasan, bahwa penggabungan dengan ditandai peralihan aset yayasan tersebut dapat dipastikan diurus dan dikelola yayasan penerima penggabungan memiliki kredibilitas yang dapat dipercaya untuk menjadi lebih produktif, sehingga aset yayasan terus memberikan kemanfaatan dan tidak merugikan masyarakat.

Masih kata Kasiani, bahwa dalam penggabungan paling prinsip adalah peralihan aset, dengan demikian penggabungan yayasan selalu diikuti.

Korelasinya bagi yayasan yang bergerak di bidang pendidikan tinggi, memberikan kepastian hukum bahwa penggabungan yayasan pendidikan tinggi bertujuan memberikan penyelenggaraan pendidikan tinggi yang lebih bermutu bagi penggabung.

Ketiga, rekonsepsi pengaturan penggabungan yang bergerak di bidang pendidikan tinggi didasarkan pada nilai-nilai filantropi, prinsip akuntabilitas dan keterbukaan kepada masyarakat. Nilai filantropi untuk menyelamatkan mahasiswa, prinsip akuntabilitas penggabungan dilakukan dengan cara yang benar yaitu kredibilitas yayasan penerima penggabungan dapat dipercaya mengatasi permasalahan yayasan penggabung.

“Prinsip keterbukaan bahwa penggabungan dilaksanakan secara terbuka kepada sivitas akademika dan masyarakat luas dengan mengumumkan terlebih dahulu (pra penggabungan),” pungkasnya.

Atas disertasi ini, Kasiani pun dinyatakan lulus dengan kategori cumlaude.(Der/Aka)

Komisi D DPRD Kota Malang Pastikan PPDB Tahun Ajaran 2020/2021 Tak Ada Kendala

Ketua Komisi D DPRD Kota Malang, Achmad Wanedi beserta Kepala Dinas Pendidikan Kota Malang, Zubaidah. (Lisdya)
Ketua Komisi D DPRD Kota Malang, Achmad Wanedi beserta Kepala Dinas Pendidikan Kota Malang, Zubaidah. (Lisdya)

MALANGVOICE – Ketua Komisi D DPRD Kota Malang, Achmad Wanedi menyatakan jika sistem zonasi dalam Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) pada tahun ajaran baru mendatang dipastikan tidak ada lagi kendala.

Hal ini dikarenakan pada tahun ajaran 2019/2020, Kota Malang yang notabene kota pendidikan mengalami beberapa kendala. Seperti persoalan warga yang menuntut agar putra-putrinya dapat menempuh pendidikan di sekolah negeri. Sebab, mereka menilai kebijakan zonasi tahun ini tidak akurat.

“Kami sudah hearing dengan Dinas Pendidikan, bahwa sebenarnya lulusan SD Insya Allah semua tertampung di SMP yang ada di Kota Malang. Kami pastikan tahun depan tidak ada lagi kendala,” ujarnya saat ditemui di sela acara HUT ke-74 PGRI di Graha Cakrawala Universitas Negeri Malang (UM), Senin (16/12).

Selain jalur zonasi, kuota jalur prestasi pada PPDB 2020, dikatakannya bakal ditambah. Ia pun memastikan, dengan demikian persoalan PPDB tidak akan ada kendala.

“Kami akan mengawal. Dan ada informasi bahwa zonasi akan ditambah, terutama untuk yang berprestasi. Insya Allah kami clear-kan ke depan, tidak ada masalah seperti tahun 2019. Untuk 2020 Insya Allah lebih baik lagi,” beber Wanedi.

Senada dengan Wanedi, anggota Komisi D DPRD Kota Malang H Rokhmad menyampaikan jika kendala pada penerapan zonasi tahun lalu adalah hal yang wajar.

“Kota Malang ini menjadi percontohan PPDB. Sehingga kalau pas pertama kali ada kekurangan wajar. Tapi PPDB nanti akan kami atur dengan baik,” tandasnya. (Hmz/Ulm)

MURI Nobatkan Risa Santoso Sebagai Rektor Termuda di Indonesia

Pemberian MURI kepada Rektor Institute Teknologi dan Bisnis (ITB) Asia. (Lisdya)
Pemberian MURI kepada Rektor Institute Teknologi dan Bisnis (ITB) Asia. (Lisdya)

MALANGVOICE – Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) menobatkan Rektor Institute Teknologi dan Bisnis (ITB) Asia, Risa Santoso sebagai rektor termuda dengan usia 27 tahun.

Wakil Direktur MURI, Osmar Semesta Soesilo mengatakan jika sebelumnya, rektor termhda jatuh pada Arya Wedakarna dari Universitas Mahendradatta Bali, dengan usianya 28 tahun.

“Itu pada tahun 2014 lalu. Untuk pencapaian MURI, ada empat kriterian untuk mencapai penghargaan. Nah, Risa mampu mencapainya,” ujarnya pada awak media, Senin (9/12).

Dengan diraihnya rektor termuda, ia berhrap ke depan pendidikan di Indonesia jauh lebih maju dan beradaptasi pada perkembangan digital atau era 4.0.

“Rektor termuda pasti beda sama dulu, lebih beradaptasi dengan dunia digital. Semoga nanti ada gebrakan di dunia pendidikan,” ungkapnya.

Sementara itu, Risa mengaku jika pihak MURI menghubungi ketika berita tentangnya viral di media sosial beberapa waktu lalu.

“Kemarin aku nggak ada pikiran sampai ke sana. Dan menurutku itu keren banget, masa sih aku bisa jadi penerima penghargaan ini, eh ternyata dapat,” bebernya.

Ke depan ia bakal terus menggenjot kualitas kampusnya, tak sekadar menjadi bahan viral saja. Ia optimis menerapkan sistem belajar proaktif di dalam maupun di luar kelas, untuk mencetak lulusan yang lebih kreatif.

“Alumnus harus bisa menginspirasi nantinya. Biar nggak cuma keep pushing untuk dirinya sendiri, tapi juga bisa untuk orang lain,” tandasnya. (Hmz/Ulm)

UB Kembali Kukuhkan Guru Besar FMIPA

istimewa.
istimewa.

MALANGVOICE – Universitas Brawijaya (UB) kembali menambah daftar profesornya, dengan mengukuhkan dua guru besar dari Fakultas Matematika IPA (FMIPA), Rabu (4/11).

Dua profesor tersebut yakni, Luchman Hakim dari bidang Manajemen Lingkungan dan Pariwisata, serta Warsito dari bidang Ilmu Kimia Organik.

Dalam pengukuhan ini, Luchman Hakim meneliti penguatan aspek lingkungan dalam industri wisata alam di Indonesia yang berdaya saing dan berkelanjutan.

Dalam konferensi pers kemarin, Selasa (3/11), ia menjelaskan sumberdaya alam (SDA) dalam pembangunan pariwisata nasional memiliki posisi yang sangat strategis. Semakin meningkatnya kebutuhan wisata minat khusus untuk mengunjungi area alamiah, pemerintah Indonesia selayaknya mendorong pengelolaan sumberdaya hayati dan ekosistem, untuk mewujudkan destinasi wisata alam yang berdaya saing serta berkelanjutan.

Dengan semakin baiknya dukungan pendanaan, penguasaan sains dan teknologi bidang hayati, diperkirakan bahwa pada tahun-tahun selanjutnya penemuan baru spesies akan terus berlanjut dan menambah jumlah keanekaragaman hayati Indonesia. Dengan tersedianya transportasi untuk menj angkau pulau-pulau terpencil, temuan-temuan ilmiah terkait penemuan spesies dan catatan baru spesies terus dilaporkan.

Semakin berkembangnya wisata berbasi ekossitem alami, maka menjadi potensi keuntungan yang dapat diambil dari kondisi tersebut. Beragam kegiatan wisata berbasis sumberdaya alam muncul dan banyak diantaranya tumbuh sebagai special interest tourism yang mampu menggerakkan perekonomian lokal. Berbagai perubahan dan perbaikan dari sisi ekonomi, sosial dan pendidikan memberikan peran besar sebagai faktor pendorong orang melakukan kegiatan rekreasi ke tempat-temat alami.

“Destinasi wisata alam adalah sebuah entitas ekosistem. Orientasi pendapatan ekonomi saja tidak cukup untuk menjamin daya saing dan keberlanjutan destinasi,” ujarnya.

Sebagai sebuah entitas ekosistem, keindahan dan keberlangsungan sistem-sistem kehidupan dalam destinasi wisata berdiri atas pondasi kokoh interaksi berbagai system kehidupan dan faktor-faktor lingkungan yang mempengaruhinya. Perbaikan sudut pandang perencanaan dan pengelolaan destinasi wisata dengan meletakkan dasar-dasar keilmuan ekologi dan biologi konservasi sangat penting untuk meningkatkan daya saing dan keberlanjutan destinasi wisata.

Setiap bentuk Hora-fauna dan ekosistemnya mempunyai respon dan kapasitas yang beragam dalam menerima kunjungan wisatawan. Daya dukung ekologis perlu diketengahkan dalam setiap upaya perencanaandan pengembangan destinasi wisata.

Ia menilai jika perlu sinergitas seluruh stakeholder wisata alam dalam mendorong aspek konservasi sumberdaya hayati dan ekosistemnya sebagai salah satu pilar menuju industri wisata alam yang berdaya saing dan berkelanj utan.

Begitu pula pembangunan sektor wisata alam harus dapat memberikan kontribusi nyata bagi pelestarian sumberdaya hayati dan lingkungannya. Penguatan area konservasi (taman nasional) sebagai tempat pelestarian keanekaragaman hayat sekaligus area di mana kegiatan wisata alam perlu terus dilakukan, terutama untuk memastikan kelestarian flora-fauna setempat.

“Berdaya saing berani kualitas lingkungan wisata sangat baik hingga mampu menunjukkan objek wisata dan ekosistemnya dengan unggul. Ekologi wisata dapat dibangun dengan menggabungkan instrumen sains, teknologi dan sudut pandang wisata alam untuk pengelolaan sumber daya lingkungan secara berkesinambungan,” paparnya.

Sementara Wirasto dengan penelitian potensi minyak atsiri sebagai bahan baku obat dan sintesis obat untuk mendukung program kemandirian obat oasional.

Seringnya mengkonsumsi makanan tinggi lemak dibanding sayur dan buah berakibat pada meningkatnya jumlah penderita penyakit degeneratif seperti hipertensi, jantung, stroke, dan gagal ginjal.

Berdasarkan data WHO, prevalensi di dunia pada usia lebih dari 25 tahun mencapai 38,40 persen. Prevalensi hipertensi di Indonesia pada usia lebih dari 18 tahun mencapai 25,8 persen dan nilai prevalensi ini lebih besar jika dibandingkan dengan Banglandesh, Korea, Nepal, dan Thailand.

Meningkatnya jumlah penderita penyakit degeneratif ini nyatanya belum bisa sepenuhnya diakomodir oleh pemerintah dikarenakan beberapa hal, seperti belum mampunya industri kimia untuk menyediakan bahan baku obat, pemanfaatan sumber daya alam yang terbatas serta belum mendukungnya teknologi sintesis dan pemurnian obat.

Untuk itu, ia mengambil minyak atsiri sebagai zat alami yang diekstrak dari tanaman aromatik memiliki efek biologis, seperti aktivitas anti-oksidan dan anti inflamasi.

“Minyak ini telah lama digunakan dalam pengobatan tradisional. Minyak atsiri juga mampu meningkatan keseimbangan fungsi hati, fungsi endotel (penurunan tekanan darah, stres oksidatif, trombosis), meningkatkan relaksasi vaskular dan menghambat perkembangan diabetes,” terangnya.

Selain itu minyak atsiri juga mengandung senyawa mayor dengan struktur kimia unik, yaitu memiliki lebih dari satu pusat reaksi (gugus fungsional) yang dapat direkayasa menjadi berbagai senyawa turunannya yang berkasiat obat.

Komponen mayor minyak atsiri memiliki potensi besar sebagai bahan dasar obat. Seperti misalnya metil salisilat (dari minyak gandapura) sebagai bahan dasar sintesis obat anti inflamasi dan analgesik. Eugenol (dari minyak cengkeh) untuk bahan dasar sintesis obat anti lesmanial. Sitronelal (dari minyak sereh/minyak jeruk purut) sebagai bahan dasar obat anti virus, anti depresan, anti bakteri dan anti oksidan. Limonen (dari minyak kulit jeruk manis) untuk bahan dasar sintesis obat anti kanker dan anti tumor.

Perlu diketahui, minyak atsiri merupakan salah satu jenis metabolit sekunder yang secara konvesional dapat diperoleh dengan cara hidrodistilasi atau distilasi uap, atau disebut dengan essential oil. Minyak ini banyak ditemukan pada produk sehari-hari, seperti pasta gigi, sabun mandi, sabun cuci, pembersih lantai, pengharum baju, bumbu masakan hingga es krim. Minyak ini juga digunakan untuk obat tradsional dan berkhasiat seperti antiseptik, anti mikroba, anti inflamasi hingga antipiretik. (Hmz/Ulm)

Hemat Waktu, Mahasiswa Magister FILKOM UB Buat Teknologi AR Batik

istimewa
istimewa

MALANGVOICE – Guna meringkas waktu untuk membatik, salah satu mahasiswa program Magister Ilmu Komputer (S2) Fakultas Ilmu Komputer Universitas Brawijaya (FILKOM UB) membuat teknologi yang bernama Augmented Reality Batik (AR Batik).

Teknologi berbasis marker ini mampu menampilkan motif batik digital jika dihadapkan pada kain yang telah diberi penanda titik khusus. Ia menyebut, pembuat batik tidak perlu lagi menggambar motif dengan pensil terlebih dulu pada kain.

Otomatis dengan teknologi ini dapat mengurangi waktu pada tahap pembuatan pola, sehingga proses produksi batik secara keseluruhan dapat lebih efektif dan efisien.

“Kebanyakan tujuannya AR adalah bisa leluasa secara natural berinteraksi dengan obyek digital. AR itu teknologi yang mampu memasukkan konten digital ke dunia nyata. Jadi pengguna itu bisa merasakan konten digital dan dunia nyata sekaligus bersamaan dalam satu waktu dengan panca inderanya,” ujarnya.

Teknologi temuannya ini telah diujicobakan Teja pada produsen batik, Anjani Batik Galery yang berlokasi di Kota Batu.

Produsen ini dipilih karena sudah banyak memperoleh penghargaan di bidang batik tulis dan setiap bulannya mampu memproduksi lebih dari 200 potong kain batik, dengan peminat dari dalam dan luar negeri.

Dari ujicoba tersebut diperoleh hasil, penggunaan AR Batik terbukti mampu mempercepat proses produksi batik tulis.

“Jika menggunakan metode tradisional bahkan memakan waktu untuk selembar kain batik mencapai 45,21 menit,” ungkapnya.

Sedangkan jika menggunakan teknologi AR Batik waktu yang dibutuhkan hanya 8,93 menit. Dengan kata lain AR Batik mampu menghemat 80,24 persen waktu dalam proses pembuatan batik jika dibanding menggunakan cara tradisional.(Der/Aka)

Gandeng Fisip UB, AMAN Bincangkan Perdamaian Gender Soal Aksi Terorisme

Wakil Dekan 1 FISIP UB, Siti Kholifah. (Lisdya)
Wakil Dekan 1 FISIP UB, Siti Kholifah. (Lisdya)

MALANGVOICE – Semakin maraknya perlibatan perempuan dalam aksi-aksi terorisme membuat banyak pihak turut memperbincangkan perihal isu ini.

Seperti halnya Indonesia Peacebuilder Forum (IPBF) 2019 yang diinisiasi oleh Asian Muslim Action Network (AMAN) Indonesia bersama dengan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Brawijaya (UB), telah berbicara perdamaian dengan menggunakan gender mainstreaming.

14 negara yakni Autralia, Kanada, Jerman, Korea Selatan, Srilangka hingga Thailand turut serta andil dalam pembicaraan ini, pada Selasa (26/11).

Direktur AMAN Indonesia, Ruby Kholifah mengatakan, di Jawa Timur sendiri, keterlibatan perempuan dalam aksi bom bunuh diri semakin tahun semakin bertambah jumlahnya.

“Belum lagi mereka mengajak anak mereka. Untuk itu harus ada penanganan dengan menggunakan perspektif gender agar kejadian violence ekstremisme tidak terulang kepada perempuan dan anak,” ujarnya.

Dalam aksi bom bunuh diri atau terorisme sendiri, menurutnya untuk perekrutan anggota dinulai cukup variatif. Bahkan sampai menyediakan kos-kosan bagi mahasiswa.

Sementara itu, Wakil Dekan 1 FISIP UB, Siti Kholifah mengagakan terkait dengan kerjasama dengan AMAN, pihaknya mengaku sudah sejak 2017 lalu. Kerjasama ini dirasa mampu menjadi strategi nasional untuk perdamaian gender.

“Di Indonesia, konteks ekstrimisme itu juga mengikutkan perempuan. Kasus di Surabaya salah satunya, bagaimana perempuan ikut dalam aksi bombers. Sementara kasus di Malang agak berbeda. Perempuan itu harus berjuang pasca suaminya ditangkap menjadi terduga teroris. Dia harus melindungi keluarganya baik secara ekonomi, psikologi, sosial, maupun culture,” bebernya.

Contoh seperti itulah yang kemudian menjadi PR ke depan agar bagaimana membuat sebuah forum bahwasanya Indonesia penuh dengan perdamaian dan bagaimana institusi pendidikan dan pesantren juga mengenalkan nilai yang mengandung peace building. (Der/Ulm)

HUT Ke-7 Warung Perancis Polinema, Turut Dimeriahkan Band Rock Carambolage

istimewa.
istimewa.

MALANGVOICE – Dalam menyambut HUT ke-7 Warung Perancis Politeknik Negeri Malang (Polinema), Institut Francais Indonesia (IFI) turut menghadirkan band rock asal Perancis, yakni Carambolage.

“Untuk perayaan yang ke tujuh ini, kami mendapat kejutan dari kedutaan yakni dihadirkan Carambolage dan band asal Bali. Ini sebuah momen yang sangat spesial,” ujar penanggung jawab Warung Perancis Polinema, Doddy Maulana pada malam puncak perayaan, pada 21 November kemarin.

Bertemakan “Cinta yang Spontanitas” program ini, dijelaskan Doddy menjadi ajang perkenalan sebuah tempat lembaga institusi atau pusat informasi pendidikan budaya bahasa dan beasiswa pendidikan sekolah Perancis.

“Ini merupakan ajang pengenalan, makanya yang hadir yakni dari mahasiswa dan siswa,” terangnya.

Kendati demikian, hingga kini belum ada mahasiswa Polinema yang lolos beasiswa dan kuliah di Perancis. Hal ini dikarenakan persaingan individu yang cukup ketat untuk memperebutkan kuota beasiswa tersebut se-Indonesia.

Sementara itu, Pembantu Direktur 3 Polinema, Anggit Murdani menjelaskan awal mula berdirinya Warung Perancis adalah sebagai wadah mahasiswa yang berminat belajar tentang kebudayaan Perancis.

“Awalnga hanya beberapa orang dan lama-lama semakin banyak dan berkembang,” terangnya.

Tak berhenti sampai di situ, pihaknya pun kemudian melibatkan institusi terkait untuk kerjasama. Ke depan, ia pun berharap, dengan kerjasama seperti ini mampu membuka kelas internasional hingga pertukaran pelajar dengan perguruan tinggi Perancis.

“Nanti InsyaAllah bisa kami kembangkan ke arah sana. Tentunya harus dibatasi oleh pihak kedutaan ya,” tandasnya.

Perlu diketahui, IFI merupakan lembaga yang membawahi kegiatan kebudayaan, pendidikan, beasiswa serta kerjasama antara Perancis dan Indonesia. Sedangkan Warung Perancis merupakan pusat pendidikan beasiswa, budaya, dan bahasa Perancis yang ditempatkan di beberapa Perguruan Tinggi di Indonesia. Salah satunya di Polinema.

Sementara pusat informasi pendidikan dan beasiswa Perancis di Indonesia, terbagi 5 IFI dan 2 Warung Perancis. (Hmz/Ulm)

Komunitas