UB Kembali Kukuhkan Dua Guru Besar, Ini Penelitiannya

Konferensi pers pengukuhan guru besar UB dari Fakultas Pertanian. (Lisdya)
Konferensi pers pengukuhan guru besar UB dari Fakultas Pertanian. (Lisdya)

MALANGVOICE – Universitas Brawijaya (UB) kembali mengukuhkan dua profesor baru dari Fakultas Pertanian (FP), yakni Prof. Dr. Ir. Yayuk Yuliati, M.S., dari bidang Ilmu Sosiologi Pertanian dan Prof. Dr. Ir. Bambang Tri Rahardjo, S.U., dari bidang Ilmu Hama Tanaman.

Dalam konferensi pers pada Selasa (19/11), Yayuk Yuliati kemudian memaparkan hasil penelitiannya yang mengangkat tema “Peningkatan Kapasitas Perempuan Tani dalam Menguatkan Feminisasi Pertanian”.

Semakin berkembangnya teknologi, nyatanya pekerjaan di pertanian pun mengalami penurunan. Hal ini dibuktikan dari data Badan Pusat Statistik (BPS) pada Tahun 2010, terdapat 42,8 juta jiwa rakyat Indonesia yang menggeluti bidang pertanian, sedangkan pada tahun 2017, angkanya turun menjadi 39,7 juta jiwa. Hal ini menunjukkan persentase petani terus mengalami penurunan sebesar 1,1 persen per tahun.

Secara khusus, jumlah petani perempuan pada tahun 2016 sebesar 52,71 persen meningkat menjadi 55,04 persen pada Februari 2017. Sebaliknya, jumlah petani laki-laki yang justru menurun dari 83,46 persen menjadi 83,05 persen. Kondisi ini menunjukkan keterlibatan perempuan dalam kegiatan pertanian semakin meningkat dibandingkan laki-laki.

“Fenomena meningkatkan jumlah tenaga kerja perempuan di sektor pertanian disebut dengan feminisasi pertanian. Dan fenomena ini disebut dengan feminisasi pertanian,” ujarnya.

Feminisasi pertanian mengacu pada peningkatan partisipasi perempuan dalam pertanian, baik sebagai produsen independen, sebagai pekerja keluarga yang tidak dibayar, atau sebagai pekerja upahan pertanian.

Di hampir seluruh belahan dunia telah terjadi feminisasi, termasuk di Indonesia. Di Indonesia, berkembangnya sektor industri menyebabkan banyaknya lahan pertanian yang dialih fungsikan menjadi pemukiman penduduk, bangunan publik, perkantoran, dan taman hiburan yang menyebabkan keluarga petani harus mencari tambahan pendapatan, sehingga petani laki-laki meninggalkan desanya untuk mencari penghidupan yang lebih baik di kota atau di luar negeri, sementara perempuan tinggal di desa mengurusi rumahtangga dan pertaniannya.

“Fenomena feminisasi pertanian ini sebenarnya tidak masalah jika perempuan yang melanjutkan kegiatan pertanian sudah siap, artinya perempuan sudah mempunyai pengetahuan dan ketrampilan formal yang cukup seperti laki-laki, serta ikut memutuskan segala sesuatu yang berkaitan dengan proses produksi pertanian,” paparnya.

Mengenai hal ini, guna meningkatkan kapasitas perempuan tani, maka ada beberapa strategi yang bisa dilakukan, yakni pemberian akses sumber daya kepada perempuan, pengurangan beban kerja perempuan, koordinasi yang kuat antara pemerintah dan masyarakat dalam merumuskan pembangunan yang berperspektif gender, serta perlu adanya diskusi dan sosialisasi gender bagi seluruh elemen masyarakat, agar tercipta kesetaraan gender khususnya dalam pembangunan pertanian.

Sementara untuk penelitian Bambang Tri Rahardjo, yakni mengambil tema “Era Baru Pengelolaan Hama Tanaman dengan Manipulasi Habitat”.

Pengertian hama tanaman seringkali rancu dengan pengertian penyakit tanaman. Karena rusaknya tanaman oleh suatu binatang, tetapi jika tidak menimbulkan kerugian ekonomi, berarti binatang tersebut bukan disebut sebagai hama.

Seperti misalnya, serangan ulat Cricula trifenestrata pada tanaman alpukat yang sampai menghabiskan seluruh daun tanaman, tetapi justru tanaman berbuah lebat, karena kotoran (fras) yang dihasilkan memberikan tambahan nutrisi bagi tanaman alpukat itu sendiri.

Salah pengertian terhadap definisi hama, menyebabkan masyarakat begitu khawatir jika setiap binatang pasti akan menjadi masalah (entomophobia). Untuk menghilangkan hama pun, masyarakat lebih memilih menggunakan pestisida.

Dalam penelitiannya, Bambang menjelaskan mengenai pentingnya manipulasi habitat dalam perspektif pengelolaan hama tanaman.
Hingga saat ini, pada umumnya petani masih menggunakan pestisida secara intensif dalam sistem budidaya tanaman, sehingga berdampak buruk karena matinya berbagai jenis binatang bermanfaat.

“Di alam telah tersedia faktor pengendali alami (natural control) tetapi terabaikan akibat sistem budidaya tanaman yang tidak ramah lingkungan. Perlu upaya untuk menumbuh kembangkan faktor pengendali alami melalui manipulasi habitat (Ecological engineering), sehingga keseimbangan alam akan kembali normal,” paparnya.

Manipulasi habitat sendiri merupakan salah satu upaya untuk mempertahankan keseimbangan alam dalam agroekosistem. Berbagai contoh pengendalian hama melalui manipulasi habitat antara lain budidaya tanaman sehat atau pertanian organik, pertanian ramah lingkungan, penanaman tumbuhan untuk menarik serangga bermanfaat, seperti tanaman sejenis sawi, bunga matahari, wortel, marigold, jagung, dan tanaman buncis.

“Kajian tentang manipulasi habitat pada tanaman pertanian masih terus dilakukan sampai diperoleh model yang konsisten berdasarkan kondisi agroekologi setempat. Perlu diusulkan masuk dalam Undang-undang Sistem Budidaya Tanaman, yang mungkin salah satu klausulnya adalah mengatur tentang pentingnya melakukan manipulasi habitat dalam suatu kawasan atau landskap,” tandasnya.(Der/Aka)

Jadi Guru Besar UB, Pitojo Tri Juwono Teliti Pengelolaan Sumber Daya Air di Ibu Kota Baru

Konferensi pers pengukuhan guru besar UB. (Lisdya)
Konferensi pers pengukuhan guru besar UB. (Lisdya)

MALANGVOICE – Pemindahan ibu kota baru Indonesia di Kalimantan Timur mengalami pro dan kontra. Bahkan banyak guru besar hingga profesor telah meneliti persoalan ini.

Seperti Pitojo Tri Juwono yang baru saja dikukuhkan menjadi guru besar Universitas Brawijaya (UB). Menurutnya, pemindahan ibu kota baru bukan perkara mudah. Perlu persiapan dan perencanaan matang.

Sebab pemindahan tersebut juga melibatkan perpindahan delapan ribu ASN, penyiapan area lokasi induk seluas 40 ribu ha dengan luas lahan pengembangan 180 ribu ha, serta pembangunan sarana dan prasarana dengan kebutuhan biaya yang cukup besar.

Tidak hanya kesiapan infrastruktur yang harus diperhatikan, dikatakannya pemerintah pun harus memiliki perencanaan yang tepat untuk pengelolaan sumber daya air di ibu kota baru nanti.

“Persiapan sumber air itu lama, nggak hanya tahun ini. Sebab pemenuhan kebutuhan air untuk calon ibu kota baru itu sangat krusial. Tidak hanya untuk konsumen masyarakat yang tinggal di sana namun juga kelestarian sumber daya air,” ujarnya saat konferensi pers, Selasa (12/11).

Dosen Fakultas Teknik (FT UB) ini pun memaparkan ada beberapa dampak negatif yang dikarenakan perluasan pembangunan sarana dan prasarana. Dampak negatif tersebut di antaranya, pertama, proses keberlanjutan siklus hirologi dapat terganggu dengan adanya kegiatan manusia yang berlebihan.

“Kemudian dampak selanjutnya yakni meningkatnya nilai koefisien limpasan permukaan akibat berubahnya lahan terbuka hijau menjadi lahan terbangun,” terangnyanya.

Dampak negatif selanjutnya yakni perubahan tata guna lahan berdampak pula pada adanya potensi erosi lahan yang makin meningkat. Keempat, aktivitas kegiatan ibu kota akan menyebabkan timbulnya zat sisa yaitu sampah dan limbah.

Sementara, upaya untuk mengantisipasi dampak negatif yang timbul dapat dilakukan dengan menyiapkan kota yang ramah terhadap tata kelola sumber daya airnya. Seperti menyiapkan kota berkonsep forest city, yang diyakini mampu menekan perubahan tata guna lahan dari hutan menjadi lahan terbangun sebagai sumber dampak negatif yang timbul.

Perlu diketahui, forest city merupakan upaya untuk mempertahankan 50 persen luas hutan. Pemanfaatan lahan untuk area terbangun dengan mengadopsi elemen kota hijau di lokasi rencana ibu kota negara baru di Kalimantan Timur diprediksi mampu menjawab tantangan dalam menjaga kelangsungan dan ketersediaan kebutuhan air baku, antara lain yakni green planning and green design, green community, green open space, green building dan green water.

“Kalau nggak begitu ketersediaan air hanya bertahan hingga tahun 2070-2075, untuk itu kita perlu adanya konsep forest city. Kalau tidak, hilang hutan kita dan nggak ada lagi peresapan air karena hutan dijadikan kota,” tegasnya.

Guna mengatasi defisit sumber air baku di lokasi rencana ibu kota baru, dijelaskannya dapat dilakukan dengan upaya optimasi peran bendungan yang ada serta membangun bendungan dan infrastruktur air yang baru. Analisis kelayakan teknik dan ekonomi menjadi dasar pertimbangan dengan dukungan data topografi, geologi dan hidrologi serta data demografi yang ada di Kalimantan Timur.

“Penerapan pengembangan ilmu manajemen dan rekayasa sumber daya air mutlak dilakukan untuk mendapatkan hasil pengelolaan yang optimal dan sesuai dengan kondisi data yang sesuai di lapangan,” tandasnya.

Penerapan pengembangan ilmu manajemen dan rekayasa sumber daya air tersebut meliputi, pendekatan model deterministik dan stokastik, pendekatan model optimasi linier programming dan dinamic programming, simulasi operasi waduk serta model statistik dan matematik peramalan hujan-debit atau debit-debit.(Der/Aka)

Pengabdian Masyarakat Mampu Membawa Polinema Peringkat Pertama dari Kemenristek Dikti

Polinema
Polinema (Anja)

MALANGVOICE – Politeknik Negeri Malang (Polinema) kembali meraih peringkat pertama oleh Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristek Dikti) dari hasil penilaian Ristekdikti di bidang pengabdian masyarakat.

Kampus vokasi ini berhasil menggeser beberapa politeknik di Indonesia. Peraihan ini berdasarkan surat Kemnristekdikti nomor B/990/E3.3/RA.03/2019. Dalam surat tertanggal 5 November 2019 lalu tersebut, Polinema berada di posisi ke 44 dari 127 kampus.

Atas perolehan ini, Pembantu Direktur IV Polinema, Luchis Rubianto mengatakan ke depan akan terus mengukuhkan kampusnya.

“Sebelumnya kemarin kami berhasil meraih peringkat pertama dalam hal prestasi dan kegiatan mahasiswa. Atas perolehan ini, kami akan terus mengukuhkan kampus,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia mengatakan jika perolehan ini dirasa sangat positif terutama bagi kampus untuk semangat mengajar mahasiswa dan dapat memacu semangat bersaing oleh seluruh politeknik di Indonesia.

“Untuk kampus terbaik termasuk Polinema akan sharing knowledge, sehingga akan bisa memberikan yang terbaik kepada para mahasiswanya untuk menghasilkan lulusan yang terbaik pula,” paparnya.

Perlu diketahui, anggaran pengabdian masyarakat baik yang dilakukan oleh mahasiswa ataupun oleh dosen Polinema setiap tahunnya selalu bertambah besar jumlah anggarannya, dan untuk tahun 2019 ini telah dikucurkan dana sebesar Rp 15 miliar. Sedangkan untuk prosentasenya 15 persen dari jumlah anggaran tahunan Polinema, dan untuk tahun 2020 pasti lebih besar dari Rp 15 miliar.

Dengan pemeringkatan tersebut, Luchis berharap mampu merubah pandangan masyarakat terkait kampus vokasi. “Polinema terus berbenah dan mulai mendapatkan pengakuan dari berbagai pihak termasuk Kemenristekdikti,” tandasnya. (Hmz/Ulm)

Daya Tarik Profesi Dosen Muda, UMM Kerja Sama dengan 15 PT Taiwan

Pameran 15 perguruan tinggi Taiwan di UMM. (Lisdya)
Pameran 15 perguruan tinggi Taiwan di UMM. (Lisdya)

MALANGVOICE – Pendidikan tinggi di luar negeri masih menjadi idaman bagi semua orang. Hal ini menjadi acuan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) untuk bekerjasama dengan beberapa perguruan tinggi (PT) di luar negeri, salah satunya di Taiwan.

“Ini sudah dua kali kerjasama kami dengan Taiwan terutama yang dimotori oleh Asian the University Taiwan,” ujar Wakil Rektor 1, Syamsul Arifin.

Dalam kerjasama ini, Taiwan memperkenalkan 15 perguruan tinggi baik negeri maupun swasta dalam pameran yanh dilaksanakan di GKB IV, Jumat (8/11). Hal ini dinilai penting bagi pelajar, mahasiswa tingkat akhir maupun dosen yang ingin melanjutkan study di luar negeri.

“Saya kira ini penting karena memberi banyak informasi kepada calon mahasiswa, masyarakat Indonesia tentang pendidikan tinggi di Taiwan. Seperti kurikulumnya, sistemnya, kemudian juga Scholarship pembiayaan,” imbuhnya.

Bahkan, mahasiswa UMM yang akan melanjutkan study di salah satu perguruan tinggi Taiwan, setelah lulus dapat mengajar di UMM. Hal ini diungkapkan oleh Sekretaris HER 2019, Listya Rehaningsih.

“Jadi, misal ada mahasiswa UMM yang melanjutkan S2-nya di Taiwan, terus nanti bisa menjadi dosen muda di UMM. Karena untuk menjadi dosen harus lulus S2. Harapan kami tahun depan bisa bekerjasama lagi, karena saat ini kami sudah memorandum of agreement dengan 15 perguruan tinggi Taiwan,” tandas Listya.(Der/Aka)

PKM Akuntansi Polinema Ingatkan Pentingnya Pemahamam Literasi Keuangan Pada SMK NU Pakis

Polinema
Polinema (Anja)

MALANGVOICE – Hingga saat ini, masih banyak masyarakat yang mengalami kesulitan keuangan bukan hanya disebabkan karena pendapatan yang kecil tetapi karena kesalahan dalam mengalokasikan pendapatan. Tingkat literasi keuangan yang rendah menyebabkan kurang bijak dalam mengalokasikan pendapatan.

Karena itu kecerdasan literasi keuangan akan membantu dalam membuat keputusan yang tepat, dengan literasi keuangan yang baik akan mampu untuk membuat skala prioritas yang baik demi terciptanya masa depan yang lebih baik lagi.

Dikutip dari Polinema.ac.id, pentingnya pemahaman literasi keuangan sebaiknya diberikan sedini mungkin, sehingga ketika dewasa sudah paham mengelola keuangan secara efisien dan sesuai dengan kebutuhan.

Untuk itu, Politeknik Negeri Malang (Polinema) melalui prodi Akuntansi mengadakan kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) tentang
‘’Sosialisasi Literasi Keuangan pada Siswa-Siswi SMK NU Pakis Kabupaten Malang’’.

“Tim PKM dari prodi Akutansi mensosialisasikan tentang produk dan jasa yang ditawarkan oleh pasar yang semakin beragam, sehingga pola konsumsi masyarakat cenderung untuk melakukan pembelian tanpa memperhatikan prinsip keuangan,” ujar Basuki Rachmat.

Tujuan diadakannya kegiatan ini tak lain adalah untuk memberikan wawasan mengenai kesadaran pengelolaan keuangan siswa SMK NU Pakis serta memberikan bekal bagaimana memperoleh penghasilan sejak dini dan mengelola penghasilan tersebut sehingga dapat menjadi tabungan hingga masa tua.

Ia melanjutkan, prinsip keuangan adalah membeli barang dan jasa yang dibutuhkan (need) bukan yang diinginkan (want). Era konsumsi saat ini semakin membuat konsumen tidak rasional dalam membeli kebutuhannya, termasuk generasi milenial.

“Bahkan mereka merupakan segmen pasar yang sangat potensial karena sifatnya yang multidimensi, yaitu sebagai pasar primer karena mereka memiliki kebutuhan yang beragam, pasar sangatlah berpengaruh karena mereka memiliki kekuatan untuk mempengaruhi keputusan orang tuanya dan pasar masa depan karena mereka menjadi segmentasi pasar yang potensial dengan bertambahnya usia,” imbuhnya seperti yang dikutip daro (Suprapti, 2010).

“Sasaran siswa SMK yang nantinya setelah lulus siap bekerja dan memperoleh penghasilan dirasa tepat. Diharapkan siswa SMK NU Pakis dapat menerapkan pengetahuan tersebut dalam kehidupan sehari-hari,” tandasnya.

Perlu diketahui, tim PKM yang beranggotakan lima orang, yakni Novi Nugrahani, Rita Damayanti, Kuni Utami, Yusuf Suprapto dan Basuki Rachmat ini merupakan dosen Akuntansi yang tergabung dalam kegiatan Pegabdian Kepada Masyarakat dari Politeknik Negeri Malang. (Hmz/Ulm)

70 Persen Pamong Praja Bakal Pensiun, Kemendikbud Siapkan Slot Dua Ribu

Seminar Nasional
Seminar Nasional "Pengembangan Karir Jabatan Fungsional Pamong Belajar dan Penilik" di FP UM, Kamis (7/11). (Lisdya)

MALANGVOICE – Dalam beberapa tahun ke depan, profesi pamong belajar di Indonesia akan mengalami penurunan akibat pensiun.

Pamong belajar merupakan Aparatur Sipil Negara (ASN) yang diberi tugas, tanggung jawab, wewenang, dan hak secara penuh oleh pejabat yang berwewenang untuk melaksanakan kegiatan belajar-mengajar, pengkajian program, dan pengembangan model pendidikan nonformal.

Ketua tim peneliti kinerja pamong belajar Jurusan Pendidikan Luar Sekolah (PLS) Universitas Negeri Malang (UM), Achmad Rasyad mengatakan, diperkirakan stok pamong belajar akan pensiun sekitar 70 persen dari enam ribu pamong belajar se-Indonesia.

“Pamong belajar disebut sebagai pendidik pendidikan nonformal. Ini merupakan problem terbesar kita,” ungkapnya saat ditemui di UM, Kamis (7/11).

Sementara itu, Kasubdit Penilaian Kinerja dan Pengembangan Karir GTK PAUD dan DIKMAS Kemendikbud, Nasrudin mengaku pihaknya telah menyiapkan guru pamong sebanyak dua ribu.

“Kami berikan sekitar dua ribu untuk slot pendidikan nonformal,” ungkapnya.

Sedangkan, rekrutmen untuk PNS dan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (P3K) untuk pamong belajar direncanakan akan dibuka tahun ini. Bahkan pihaknya juga sudah menyiapkan soal-soalnya untuk rekrutmen pamong belajar, baik yang CPNS maupun yang P3K.

“Hanya saja per daerah harus mengajukan formasi jabatan kebutuhan,” imbuhnya.

Hingga kini, dikatakan Nasrudin, tidak ada daerah yang belum mengajukan formasi ke Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Menpan).

“Kami sudah berjuang dan ada kuota sekitar dua ribu untuk pamong belajar tahun ini yang nanti akan dilaksanakan di awal tahun 2020 tapi untuk formasi 2019,” tandasnya.(Hmz/Aka)

Menuju 5.0 Melek Teknologi, Kemendikbud Siapkan Rumah Belajar bagi Guru Paud

Kasubdit Penilaian Kinerja dan Pengembangan Karir GTK PAUD dan DIKMAS Kemendikbud, Nasrudin. (Lisdya)
Kasubdit Penilaian Kinerja dan Pengembangan Karir GTK PAUD dan DIKMAS Kemendikbud, Nasrudin. (Lisdya)

MALANGVOICE – Meski masih berada pada revolusi industri 4.0, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim menyatakan jika Imdonesia harus segera mempersiapkan pada era selanjutnya yakni 5.0.

Dalam era digital saat ini, Indonesia terbilang tertinggal dalam SDM-nya. Sedangkan pada era 5.0, bahkan semuanya bakal tergantikan oleh robot.

Untuk itu, pembangunan SDM sangat diperlukan agar Indonesia mampu bertahan dan bersaing dengan negara lain. Termasuk mempersiapkan generasi muda untuk melek teknologi.

Selain generasi muda, guru juga dituntut untuk melek teknologi, tak terkecuali guru pendidikan anak usia dini (PAUD).

“Ke depan guru PAUD akan lebih banyak peningkatan kompetensinya menggunakan IT dan memanfaatkan Rumah Belajar yang ada di Pustekkom,” ujar Kasubdit Penilaian Kinerja dan Pengembangan Karir GTK PAUD dan DIKMAS Kemendikbud, Nasrudin saat ditemui di UM, Kamis (7/11).

Perlu diketahui, Rumah Belajar merupakan portal pembelajaran (one stop science) bagi pengajar, peserta didik, dan pihak terkait yang dibuat oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) melalui Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi (Pustekkom).

“Semua yang konvedional sudah mulai berkurang, diganti dengan IT,” terangnya.

Lebih lanjut, Nasrudin menyampaikan, pihaknya sudah menyiapkan modul-modul terkait PAUD dalam sistem Rumah Belajar tersebut. “Kami sudah menyiapkan. Ada modul-modul yang sudah dimasukkan di sistem. Kami bina gurunya,” paparnya.

Saat ini, portal belajar inilah yang akan dimaksimalkan penggunaannya oleh guru PAUD. “Sementara kami gunakan Rumah Belajar karena itu milik pemerintah yang harus kita manfaatkan,” tandasnya. (Hmz/Ulm)

Arak-arakan Mahasiswa Akuntansi Polinema Usai Prosesi Wisuda

Arak-arakan mahasiswa kepada lulusan Polinema Jurusan Akuntansi. (Istimewa)
Arak-arakan mahasiswa kepada lulusan Polinema Jurusan Akuntansi. (Istimewa)

MALANGVOICE – Hal unik tersaji saat wisuda gelombang III Politeknik Negeri Malang (Polinema) pada Minggu (3/11) kemarin. Lulusan mahasiswa Jurusan Akuntansi diberi surprise usai mengikuti prosesi wisuda di kampus.

Para wisudawan ini diarak menuju gedung perkuliahan Jurusan Akuntansi. Selama di perjalanan, wisudawan ini diarak seperti pawai lengkap dengan mobil pick up dan flare.

Mahasiswa juga tak lupa meneriakkan yel-yel serta bernyanyi. Tak lupa bendera besar pun dikibarkan sehingga membuat suasana meriah dan berbeda.

Agenda arak-arakan ini sebenarnya sudah dilakukan sejak tahun lalu. Hal ini memungkinkan menjadi tradisi saat wisuda setiap tahunnya.

“Kami ingin memberikan kenang-kenangan kepada wisudawan serta menambah solodaritas antar mahasiswa Akuntansi,” kata Ramaditya Rizky Effendi, Ketua Bidang Internal Himpunan Mahasiswa Akuntansi (HMA) Polinema, belum lama ini.

Aksi kreatif mahasiswa Jurusan Akuntansi ini otomatis menarik perhatian banyak pihak. Apresiasi kemudian muncul dari Ketua Jurusan Akuntansi Polinema, Dr Dra Kurnia Ekasari. Namun, ia mengimbau mahasiswa agar tetap tertib dan tidak anarkis.

“Kedepannya bisa dilaksanakan hal serupa, namun harus tertib dan aman,” singkatnya.(Der/Aka)

Wisuda Tahap 3, 50 Persen dari PDD Polinema

Wisuda Polinema tahap 3. (Istimewa)
Wisuda Polinema tahap 3. (Istimewa)

MALANGVOICE – Politeknik Negeri Malang (Polinema) akhirnya melepas 1026 mahasiswa dari berbagai jurusan mulai diploma II hingga sarjana terapan atau diploma IV pada wisuda tahap 3, Minggu (3/11).

Direktur Polinema, Awan Setiawan mengatakan, pada wisuda tahap ini, 50 persen merupakan Program Studi Diluar Domisili (PDD Polinema) dari Bojonegoro, Lumajang, Pamekasan dan Jepara.

“Iya untuk wisudawan tahap ke 2 dan 3 ini 50 persen dari PDD Polinema,” ujarnya.

Sedangkan PDD Lumajang, dikatakan Awan yakni yang paling komitmen dibanding dengan tiga kota lainnya. Bahkan, ke depan PDD Lumajang bakal berubah seperti Program Studi Di Luar Kampus Utama (PSDKU) Kediri.

“Rencananya, tetapi tergantung dari kepala daerah masing-masing. Memang saat ini Lumajang yang paling komitmen,” terangnya.

Sedangkan PDD Jepara, nantinya bakal digabung dengan Universitas Diponegoro (Undip). Sementara Bojonegoro masih akan didiskusikan oleh kepala daerahnya.

“Kalau Jepara karena di Jawa Tengah, maka kami serahkan ke Undip. Untuk Pamekasan masih belum tahu ya, karena SDM-nya yang kurang. Ya semua harus dirundingkan dengan kepala daerah dulu, kemudian dengan politeknik. Semacam BUMN begitu,” ungkapnya.

Ia pun berharap agar para wisudawan yang telah selesai menempuh pendidikannya dapat segera mendapat pekerjaan, ataupun dapat mengikuti Job Placement Center (JPC) Polinema.(Adv)

Jadi Wisudawan Terbaik PDD Polinema, Siti Mutmainnah Berharap dapat Kuliah Lagi

Wisudawan terbaik Polinema tahap 3. (Istimewa)
Wisudawan terbaik Polinema tahap 3. (Istimewa)

MALANGVOICE – Siti Mutmainnah, menjadi wisudawan terbaik pada wisuda tahap 3 Politeknik Negeri Malang (Polinema). Ia berhasil meraih IPK 3,98 dengan menyelesaikan Diploma 2 Akuntansi di Program Studi Diluar Domisili (PDD Polinema) Pamekasan.

Dengan predikat cumloude, ternyata Siti mendapat beasiswa dari Pemerintah Pamekasan. Selain fokus pada pendidikannya, Siti ternyata juga bekerja sebagai kasir di salah satu supermarket Pamekasan.

“Saya bekerja sebagai admin. Untuk kuliah, saya masuk mulai pukul 14.00 hingga 20.00 WIB,” katanya belum lama ini.

E-filling menjadi tugas akhir Siti dalam menyelesaikan pendidikannya. Ia memilih e-filling lantaran kurangnya kesadaran masyarakat terkait wajib pajak pribadi.

“Kurang, padahal masyarakat kalau datang ke KPP Pamekasan juga harus e-filling meski dibantu petugas,” katanya.

Padahal, dengan adanya e-filling mampu membantu masyarakat dalam mengurus wajib pajak pribadi. Dikarenakan prosesnya yang mudah dilakukan di mana saja dan kapab saha.

“Sebenarnya ini sudah ada, terlebih di era seperti ini. Sepertinya e-filling harus disosialisasikan lagi agar masyarakat bisa memanfaatkannya,” ungkapnya.

Dengan mendapat IPK tertinggi, ia berharap dapat menempuh pendidikan tinggi lagi. “Semoga saya bisa kuliah lagi, dan bisa mendapat beasiswa lagi,” tandasnya.(Adv)

Komunitas