Diduga Korban Bullying, Siswa SMPN 16 Alami Kekerasan

Kepala SMPN 16 Malang, Syamsul Arifin. (Lisdya)
Kepala SMPN 16 Malang, Syamsul Arifin. (Lisdya)

MALANGVOICE – Dunia pendidikan di Kota Malang kembali tercoreng. Kali ini, MS (13) siswa kelas 7 ini diduga menjadi korban perundungan atau bullying oleh teman-temannya.

Kepala SMPN 16 Malang, Syamsul Arifin mengatakan jika kekerasan itu terjadi bukan karena unsur kesengajaan, melainkan hanya bergurau.

“Kami masih proses menyelesaikan ini. Saya yakin ini bukan kesengajaan, hanya gurauan anak sebaya,” ujarnya saat ditemui di Dinas Pendidikan Kota Malang, Jumat (31/1).

Lebih lanjut ia menjelaskan, kejadian ini bermula sekitar sepekan lalu saat berada di masjid sekolah. Diketahui, korban dan terduga pelaku yang berjumlah tujuh anak ini merupakan teman ekskul Badan Dakwah Islam (BDI).

“Kejadian sekitar dzuhur, dan Senin itu baru ada laporan baru kami kroscek. Nah, antara korban dan pelaku ini merupakan anak BDI dan Pramuka, dua di antaranya kelas 8,” bebernya.

“Kenapa kami bisa meyakinkan ini hanya gurauan? Karena track record mereka semua baik-baik. Nggak ada catatan mereka ini pelajar nakal,” ungkapnya.

Dari keterangan, atas perundungan ini MS mengalami memar di beberapa bagian tubuh. Seperti sebelah kiri jari tengah.

“Ada kaki lebam. Tapi ada yang ngomong itu diangkat dan dilempar, ada juga di kaki dan dugaan juga ada di punggung. Makanya ini dalam proses observasi,” tandasnya.(Der/Aka)

BNN Kota Malang

Kemenristek/BRIN Beri Dana Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Rp 6,5 Miliar untuk ITN Malang

Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) ITN Malang, Awan Uji Krismanto (kiri) dan Rektor ITN Malang, Kustamar (kanan). (Lisdya)
Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) ITN Malang, Awan Uji Krismanto (kiri) dan Rektor ITN Malang, Kustamar (kanan). (Lisdya)

MALANGVOICE – Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek)/Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) telah menyiapkan dana untuk penelitian dan pengabdian masyarakat kepada perguruan tinggi baik negeri maupun swasta.

Dari beberapa perguruan tinggi, Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang menduduki cluster utama, dengan menempati urutan kedua. Diketahui, dana yang diperoleh ITN untuk penelitian sebesar Rp 6,5 miliar.

“Kami merupakan kampus swasta nomor satu dalam cluster tersebut,” ujar Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) ITN Malang, Awan Uji Krismanto.

Dibanding tahun 2019, ITN Malang hanya memperoleh dana penelitian dan pengabdian masyarakat sekitar Rp 5,4 miliar.

Ia menyebut, jika LPPM ITN Malang sebenarnya sudah masuk ke cluster utama semenjak 2016.

“Untuk mendapatkan pendanaan sebesar tahun ini, kami harus bersaing dengan perguruan tinggi seluruh Indonesia. Ini capaian yang luar biasa,” ungkapnya.

Capaian ini, dijelaskan Awan merupakan hasil kinerja tim LPPM dengan proses yang terbilang lama. Meski tidak diperoleh secara instan, terdapat sistem online untuk memantau kinerja penelitian dari setiap dosen yang sangat membantu. Dengan sistem online itu, maka pembinaan terhadap dosen dan mahasiswa di bidang penelitian dan pengabdian masyarakat jauh lebih efektif.

“Tahun 2015 sudah dibangun sistem online. Kemudian kami sempurnakan, semua kinerja bagus mulai dari publikasi jurnal internasional, konferensi internasional, maupun di sisi prototype yaitu Teknologi Tepat Guna (TTG) yang nantinya akan diimplementasikan kepada masyarakat itu juga terus meningkat,” terangnya.

Sementara itu, Rektor ITN Malang, Kustamar membeberkan empat jurus yang dianggap berhasil dalam menduduki cluster utama.

Jurus pertama adanya pejuang-pejuang baru (dosen-dosen untuk meningkatkan kepangkatan). Kedua, kualitas proposal yang lebih baik. Ketiga, membuka wawasan dosen-dosen ke industri. Keempat, menggandengkan penelitian dosen dengan mahasiswa.

“Kami dari tahun ke tahun selalu meningkat, ini menjadi luar biasa, dilihat dari rangking kami dapat nomor dua di strata utama tingkat nasional,” tandasnya.(Der/Aka)

BNN Kota Malang

Enam Mahasiswa UM Terperangkap di China Akibat Coronavirus

Direktur Kantor Hubungan Internasional UM Evi Eliyanah. (Istimewa)
Direktur Kantor Hubungan Internasional UM Evi Eliyanah. (Istimewa)

MALANGVOICE – Enam mahasiswa Universitas Negeri Malang (UM) terpaksa harus berada di dalam asrama di China, hingga wabah Coronavirus berakhir.

“Mereka saat ini hanya berada di dalam asrama, nggak boleh keluar,” ujar Direktur Kantor Hubungan Internasional UM Evi Eliyanah.

Kendati kota Guilin jauh dari kota Wuhan yang diduga menjadi tuan rumah virus ncov ini, Evi menyatakan asrama para mahasiswa dijaga ketat.

“Sudah ada yang berkoordinasi dengan teman-teman yang ada di Guangxi Normal University, bahwa tiga kali sehari ada inspeksi. Siapapun yang masuk ke asrama harus dicek temperatur badannya untuk mengetahui apakah terinfeksi atau tidak,” terangnya.

Lebih lanjut, ia mengungkapkan jika enam mahasiswanya tersebut dalam kondisi aman dan sehat. Sedangkan untuk perguruan tingginya sementara akan di-lockdown atau ditutup.

“Perguruan tingginya sama seperti kampus-kampus di China, semuanya ditutup, nggak ada perkuliahan. Untuk makanan sudah disediakan oleh kampus, dan cateringnya pun dinyatakan aman bebas virus,” ungkapnya.

Pihaknya pun terus berkoordinasi dengan Atase Pendidikan dan Kebudayaan (Atdikbud).

Diketahui, enam mahasiswa tersebut sedang menempuh program 3+1 di Guangxi Normal University di Guilin, Republik Rakyat Tiongkok. Mereka berasal dari prodi Pendidikan Bahasa Mandarin, dan sudah berada di China sejak September 2019 kemarin.

Sebelumnya, rencana studi berakhir sampai bulan Juli 2020 nanti. Mereka menjalani program pertukaran pelajar dimana dijadwalkan selama satu tahun lamanya di Guangxi Normal University.

“Tinggal satu semester lagi,” imbuhnya.

Hanya saja masih belum ada kejelasan sampai kapan mahasiswa-mahasiswa tersebut tinggal di China. Berdasarkan informasi dari Atdikbud, sampai saat ini belum ada kebijakan untuk memulangkan mereka.

“Jadi risiko kalau sudah di China lalu bawa ke Indonesia. Kami harus koordinasi dulu dengan pihak KBRI. Karena kalau kami memaksa memulangkan, bisa jadi outbreaknya malah melebar ke sini. Sementara Malaysia sudah terjangkit. Singapore juga sudah ada,” tandasnya.(Der/Aka)

BNN Kota Malang

Siswa Tak Perlu Bingung, Kemendikbud Sediakan Portal Rumah Belajar Gratis

Pengembang Teknologi Pembelajaran (PTP) Ahli Utama Pusat Data dan Teknologi Informasi (Pusdatin) Kemendikbud, Mansur Fauzi. (Lisdya)
Pengembang Teknologi Pembelajaran (PTP) Ahli Utama Pusat Data dan Teknologi Informasi (Pusdatin) Kemendikbud, Mansur Fauzi. (Lisdya)

MALANGVOICE – Sebagai inovasi pembelajaran di era industri 4.0 ini, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI melalui Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi Pendidikan dan Kebudayaan (Pustekkom) telah menyediakan portal Rumah Belajar.

Seperti yang diketahui, portal ini memiliki fitur-fitur yang berisikan konten-konten pembelajaran yang sangat berguna bagi siswa, guru, orang tua, maupun masyarakat.

Pengembang Teknologi Pembelajaran (PTP) Ahli Utama Pusat Data dan Teknologi Informasi (Pusdatin) Kemendikbud, Mansur Fauzi saat berkunjung ke Malang menyatakan, jika portal ini bisa dimanfaatkan oleh siswa dan guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas/Kejuruan (SMA/SMK) sederajat.

Bahkan ia menyinggung jika portal Rumah Belajar ini gratis dibanding milik swasta. Serta mampu membantu siswa dengan ekonomi kurang mampu untuk terus giat belajar.

“Portal ini disediakan gratis, meski penggunaanya masih terbilang sedikit, yakni 50 persen,” katanya belum lama ini.

Sementara itu, di Jawa Timur sendiri respon akan penggunaan Rumah Belajar terbilang berkembang.

“Saya menilai di Jawa Timur ini paling luar biasa, dan positif terhadap Rumah Belajar,” ungkapnya.

Dengan adanya Rumah Belajar, para pendidik maupun peserta didik secara tidak langsung juga mempelajari IT, dengan demikian mereka mampu bersaing di dunia pendidikan pada era revolusi ini.

“Semua, baik guru maupun siswa harus mampu menguasai IT. Kalau enggak ya ketinggalan zaman,” tandasnya.(Der/Aka/MG1).

BNN Kota Malang

Rektor Unikama : Mahasiswa NTT Mendapat Perlakuan Sama

Rektor Unikama Pieter Sahertian (baju coklat, berkacamata) saat ditemui awak media. (Toski D).
Rektor Unikama Pieter Sahertian (baju coklat, berkacamata) saat ditemui awak media. (Toski D).

MALANGVOICE – Rektor Universitas Kanjuruhan Malang (Unikama) Pieter Sahertian bantah tudingan adanya tebang pilih dalam memberlakukan para mahasiswa Nusa Tenggara Timur (NTT). Pasalnya, pihak Unikama tidak membeda-bedakan semua Mahasiswanya.

“Semua mahasiswa kami anggap sama, baik itu dari NTT maupun lainnya,” ucap Pieter, saat ditemui awak media beberapa waktu lalu.

Bahkan, lanjut Pieter, mahasiswa NTT di Unikama ini banyak yang menjadi Ketua dalam Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM).

“Mereka (Mahasiswa NTT, red) mayoritas menjadi ketua di UKM kampus, hanya Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) yang ketuanya dari Jawa,” jelasnya.

Menurut Pieter, pihaknya memberikan kebebasan untuk belajar dalam berpolitik yang wajar, dan diharapkan tidak memasukan politik sektarian maupun politik primordial dalam lingkungan kampus, yang itu bukan hal bagus, karena Kampus Unikama ini merupakan kampus yang multikultur.

“Kalau memang tidak bisa mewarnai multikultur, maka silahkan angkat kaki dari sini. Kampus itu seperti kawah candradimuka untuk mereka ditempa,” tegasnya.

Selain itu, tambah Pieter, dirinya juga membantah jika pihaknya telah melakukan intervensi terhadap KPU Kampus dan keberpihakan pada salah satu kontestan Pasangan calon Presma.

“Tidak ada lah seperti itu. Saya malah tidak mendengar tudingan seperti itu. Saya beri kesempatan yang sama. Kalaupun ada yang datang untuk konsultasi, saya selalu terima, saya dukung semua. Siapapun yang menang adalah mitra kami, mereka bisa menjadi kontrol bagi kampus. Kalau ada pelayanan kampus yang tak benar dan tak baik mereka yang akan jadi pengontrol,” pungkasnya.

Dalam kesempatan tersebut, pihak Unikama juga mengungkapkan permohonan maaf kepada masyarakat sekitar akan adanya situasi yang sempat mengganggu kenyamanan masyarakat.

Ke depan, pihak kampus berjanji akan membuat suasana kampus menjadi lebih kondusif dengan pembinaan yang akan terus dilakukan. (Hmz/Ulm)

BNN Kota Malang

Ini Kronologis Bentrokan Mahasiswa Unikama

Suasana di Kampus Unikama, Malang. (Toski D)
Suasana di Kampus Unikama, Malang. (Toski D)

MALANGVOICE – Puluhan Mahasiswa Universitas Kanjuruhan Malang (Unikama) terlibat tawuran. Bentrok diduga dipicu perselisihan pemilihan Presiden Mahasiswa (Presma), Sabtu (11/1).

Para mahasiswa yang terlibat dalam bentrokan ini diketahui ada dua kelompok pendukung calon terpilih nomor urut 1, pasangan Iyan dan Geran, dan pendukung calon nomor urut 3 pasangan Kenny dan Revi.

Bentrokan terjadi sekitar pukul 15.30 WIB ketika dua kubu mahasiswa yang berada di halaman kampus bersitegang dengan mahasiswa yang berada di dalam kampus. Mereka sempat saling lempar batu di depan halaman kampus.

“Kejadian ini sudah tadi siang. Pertama di dalam kampus kemudian lanjut di halaman kampus,” ucap seorang mahasiswa yang tidak mau disebutkan namanya itu.

Bentrokan ini terjadi diduga karena adanya ketidakpuasan pendukung pasangan calon nomor urut 3 atas kemenangan pasangan calon nomor urut 1 dalam pemilihan Presiden Mahasiswa (Presma) di kampus.

“Kayaknya mereka pendukung pasangan nomor urut 3 ada yang tidak terima. Karena nomor urut 1 yang memiliki suara terbanyak,” tegasnya.

Pihak kampus pun akhirnya memberikan ultimatum agar wilayah kampus sudah harus seteril pada pukul 16.00 WIB. Baik mahasiswa pendukung calon nomor urut 1 dan mahasiswa pendukung calon nomor 3.

Dari bentrokan ini, ada dua mahasiswa yang berasal dari pendukung pasangan nomor urut 1 mengalami luka ringan.

Tampak, belasan aparat keamanan polisi bersama TNI terus melakukan melakukan penjagaan di sekitaran area kampus. (Der/ulm)

BNN Kota Malang

Pemilihan Presma Unikama Berujung Bentrok Antar Mahasiswa

Suasana di Kampus Unikama, Malang. (Toski D)
Suasana di Kampus Unikama, Malang. (Toski D)

MALANGVOICE – Bentrokan mahasiswa terjadi di kampus Universitas Kanjuruhan Malang (Unikama). Penyebab tawuran ini diduga akibat pemilihan Presiden Mahasiswa (Presma), Sabtu (11/1)

“Tawuran ini karena pendukung calon yang kalah tidak mau menerima hasil pemilihan Presma yang dilakukan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kampus,” ungkap salah satu mahasiswa dari fakultas PGSD Unikama, Radi.

Menurut Radi, sebenarnya, pemilihan Presma yang di gelar pada Kamis (9/1) kemarin, dimenangkan calon no urut 1 dengan jumlah perolehan suara 678, calon nomor 2 pasangan Robby dan gofur memperoleh suara 535, sedangkan nomor urut 3 pasangan Kenny dan Revi mendapat suara 617.

“Dari jumlah tersebut sebenarnya nomor urut 1 menang telak. Mengapa calon yang kalah dalam hal ini pendukung nomor urut 3 kok tidak terima,” tegasnya.

Akibatnya, lanjut Radi, timbul kerusuhan dan tawuran antar pendukung. Apalagi, pendukung nomor urut 3 telah melakukan pemukulan ada dua mahasiswa yang merupakan pendukung presma terpilih yakni nomor urut 1.

“Kami sama pendukung dan calon nomor urut dua tidak ada masalah. Tapi pendukung nomor urut 3 ini yang telah melakukan pemukulan pada dua orang teman kami,” jelasnya.

Sebenarnya, tambah Radi, kejadian ini tidak akan terjadi jika pihak kampus tidak mengulur-ulur waktu penetapan calon terpilih tersebut. Diduga, pihak kampus melakukan intervensi terhadap KPU Kampus.

“Pihak kampus diduga telah mengulur-ulur penetapan calon terpilih tersebut. Ada apa dengan pihak yayasan? Kok seolah-olah mendukung nomor urut 3,” keluhnya.

Sementara itu, Camat Sukun Widi Eka Wirawan mengatakan, pihaknya mengimbau kepada mahasiswa, agar tidak terprovokasi dengan pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.

“Kampus merupakan sarana pendidikan, mohon di jaga, jangan terprovokasi. Dikhawatirkan dapat berdampak pada masyarakat, karena berdekatan dengan permukiman warga. Jangan sampai ada persebsi yang berbeda dari warga,” pungkasnya. (Der/ulm)

BNN Kota Malang

Gelar Kejuaraan Rektor Cup, IBU Ingin Ubah Stigma Perkuliahan

Rektor IBU, Nurcholis Sunuyeko, saat menendang bola sebagai tanda dibukanya Kejuaraan Rektor Cup. (Istimewa)
Rektor IBU, Nurcholis Sunuyeko, saat menendang bola sebagai tanda dibukanya Kejuaraan Rektor Cup. (Istimewa)

MALANGVOICE – IKIP Budi Utomo (IBU) menggelar kejuaraan yang bertajuk Rektor Cup, Sabtu (11/1).

Dalam kejuaraan tersebut akan diramaikan dengan pertandingan dari dua cabang olahraga (Cabor), yakni bola volly putri dan futsal untuk putra.

Kejuaraan yang diikuti sebanyak 14 tim, yang terdiri dari tujuh tim futsal putri dan tujuh tim futsal ini digelar di kampus C IBU Jalan Citandui, Kota Malang dan dibuka langsung oleh Rektor IBU, Nurcholis Sunuyeko.

“Dengan Kejuaraan ini, diharapkan bisa mengubah stigma dari model konvensional, ke perkuliahan milenial. Jadi tidak hanya mengisi domain intelektual semata. Tapi juga kebahagiaan. Kuliah dengan bahagia. Tidak ada tekanan,” ungkap Rektor IBU, Nurcholis Sunuyeko, saat membuka kejuaraan rutin tahunan itu.

Kejuaraan ini, lanjut Nurcholis, digelar sebelum masuk jadwal ujian, agar mahasiswa berada dalam suasana bahagia ketika menghadapi ujian.

“Kejuaraan ini kami gelar sebelum ujian semester. Dalam kejuaraan ini, melibatkan seluruh program studi yang ada di IBU,” jelas pria yang akrab disapa Yai ini.

Selain itu, tambah Yai, sesuai dengan tema Rektor Cup, yaitu ‘Menggali Potensi, Meraih Prestasi dan Merajut Solidaritas’, diharapkan mahasiswa bisa menjalin kebersamaan, karena mahasiswa di IBU ini berasal dari berbagai daerah di Indonesia.

“Dengan menjunjung sportivitas diharapkan bisa menjalin kebersamaan. Dalam pertandingan kalah menang, wajar,” pungkasnya.

Sekedar informasi, Kejuaraan Rektor Cup tersebut, akan dilaksanakan hari ini (Sabtu 11/1) hingga Minggu (12/1).

Secara simbolis, Pembukaan Rektor Cup tersebut diwarnai dengan penandatanganan bola dan penendangan bola yang dilanjutkan dengan pertandingan eksebisi antara Prodi Matematika melawan PJKR, yang dimenangkan oleh PJKR dengan skor 2-0. (Der/ulm)

BNN Kota Malang

Rektor UB: Sistem Rangking Peserta SNMPTN Diserahkan Sekolah

Rektor Universitas Brawijaya (UB), Nuhfil Hanani. (Lisdya)
Rektor Universitas Brawijaya (UB), Nuhfil Hanani. (Lisdya)

MALANGVOICE – Saat ini sekolah sedang menyiapkan diri untuk mendaftar di akun LTMPT (Lembaga Tes Masuk Perguruan Tinggi), guna Pendaftaran Mahasiswa Baru (PMB) 2020.

Namun, ada yang berbeda pada sistem PMB jalur Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN).

Rektor Universitas Brawijaya (UB), Nuhfil Hanani mengatakan jika sistem pendaftaran SNMPTN, pemeringkatan kuota siswa diserahkan langsung kepada sekolah.

“Perubahan sedikit sistem. Perankingannya di sekolah, tidak di pusat,” katanya belum lama ini.

Perlu diketahui, sistem perangkingan pada dasarnya tetap berdasarkan akreditasi sekolah dengan rincian Akreditasi A : 40 persen terbaik di sekolahnya; Akreditasi B : 25 persen terbaik di sekolahnya; Akreditasi C dan lainnya 5 persen terbaik di sekolahnya.

“Jadi misalnya dulu jatahnya 40, yang nilainya 90 ada beberapa orang, dan itu semua ikut SNMPTN dan melebihi kuota. Sehingga sekarang diminta maksimal 40, ya diranking sendiri 40 supaya tidak semuanya ikut, bisa membludak,” terangnya.

Selama ini memang perangkingan siswa menjadi kapasitas LTMPT. Sddangkang PMB 2020 sepenuhnya diberikan kepada sekolah.

“Ini dilakukan untuk menghindari rangking dobel yang sering terjadi dan menjadi celah kecurangan,” tandasnya.

Dari informasi yang dihimpun MVoice, pelaksanaan SNMPTN dilakukan satu pintu melalui LTMPT. Lembaga tersebut diberi mandat oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) untuk menyelenggarakan SNMPTN pada 11-25 Februari 2020, pendaftaran Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) pada 30 Maret-11 April 2020, dan pendaftaran Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi (SBMPTN) pada 2-13 Juni 2020. (Der/ulm)

BNN Kota Malang

Mahfud MD: Perguruan Tinggi Wajib Cetak Sarjana Sujana

Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Mahfud MD saat memberi orasi ilmiah di UB. (Lisdya)
Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Mahfud MD saat memberi orasi ilmiah di UB. (Lisdya)

MALANGVOICE – Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Mahfud MD mengatakan, perguruan tinggi seharusnya mencetak sarjana baik S1, S2, S3 dan seterusnya yang sujana, yakni dalam artian cendikiawan, bijaksana maupun pandai.

Sebab, dalam orasi ilmihanya yang bertajuk “Tanggung Jawab Konstitusional Perguruan Tinggi dalam Pembangunan Bangsa dan Negara” pada Dies Natalis Ke-57 Universitas Brawijaya di Kota Malang, Jawa Timur, Minggu (5/1), ia menyebut banyak para sarjana di Indonesia yang masih terbilang belum sujana.

“Sulit memang perguruan tinggi dalam hal ini untuk membentuk sarjana menjadi sujana. Banyak lulusan yang pengangguran, bahkan ada pula yang menjadi narapidana,” katanya.

Seperti di Lapas Sukamiskin, ia menyebut banyak narapidana di sana yang justru malah para sarjana. “Ini sangat disayangkan sekali,” tegasnya.

Untuk itu, peran perguruan tinggi harus mencetak kader bangsa yang intelek atau cendekia yang bisa menjaga ideologi negara dengan segala konstitusinya agar eksistensi bangsa dan negara terjaga dengan baik.

“Kesadaran kolektif itu sangat penting, apabila kita gagal untuk mengatasi masalah-masalah dekadensi moral melalui perguruan tinggi, maka yang terancam adalah eksistensi bangsa dan negara. Oleh sebab sebab itu perguruan tinggi harus menjadi kawah candradimuka pencetak kader bangsa yang menjadi penjaga dan penyebar nasionalisme,” bebernya.

Lebih lanjut, ia mengatakan upaya mencetak kader bangsa yang berbasis nasionalisme harus diarahkan untuk menjaga geopolitik Indonesia atau wawasan nusantara. Dari geopolitik itu ada dua dimensi: fisik dan non fisik.

“Yang fisik adalah geografi dan demografi, yang nonfisik adalah ideologi dan konstitusi,” ternagnya.

Sementara itu, Rektor Universitas Brawijaya, Nuhfil Hanani mengatakan, guna mencetak sarjana sujana, salah satu upaya kampusnya, yakni telah menyisipkan materi-materi anti korupsi di MKU (Mata Kuliah Umum).

“Jadi, nggak masuk kurikulum tapi disisipkan di MKU, seperti mata kuliah Pancasila dan Agama,” pungkas Nuhfil.(Der/Aka)

BNN Kota Malang

Komunitas