Wisuda Tahap 3, 50 Persen dari PDD Polinema

Wisuda Polinema tahap 3. (Istimewa)
Wisuda Polinema tahap 3. (Istimewa)

MALANGVOICE – Politeknik Negeri Malang (Polinema) akhirnya melepas 1026 mahasiswa dari berbagai jurusan mulai diploma II hingga sarjana terapan atau diploma IV pada wisuda tahap 3, Minggu (3/11).

Direktur Polinema, Awan Setiawan mengatakan, pada wisuda tahap ini, 50 persen merupakan Program Studi Diluar Domisili (PDD Polinema) dari Bojonegoro, Lumajang, Pamekasan dan Jepara.

“Iya untuk wisudawan tahap ke 2 dan 3 ini 50 persen dari PDD Polinema,” ujarnya.

Sedangkan PDD Lumajang, dikatakan Awan yakni yang paling komitmen dibanding dengan tiga kota lainnya. Bahkan, ke depan PDD Lumajang bakal berubah seperti Program Studi Di Luar Kampus Utama (PSDKU) Kediri.

“Rencananya, tetapi tergantung dari kepala daerah masing-masing. Memang saat ini Lumajang yang paling komitmen,” terangnya.

Sedangkan PDD Jepara, nantinya bakal digabung dengan Universitas Diponegoro (Undip). Sementara Bojonegoro masih akan didiskusikan oleh kepala daerahnya.

“Kalau Jepara karena di Jawa Tengah, maka kami serahkan ke Undip. Untuk Pamekasan masih belum tahu ya, karena SDM-nya yang kurang. Ya semua harus dirundingkan dengan kepala daerah dulu, kemudian dengan politeknik. Semacam BUMN begitu,” ungkapnya.

Ia pun berharap agar para wisudawan yang telah selesai menempuh pendidikannya dapat segera mendapat pekerjaan, ataupun dapat mengikuti Job Placement Center (JPC) Polinema.(Adv)

Jadi Wisudawan Terbaik PDD Polinema, Siti Mutmainnah Berharap dapat Kuliah Lagi

Wisudawan terbaik Polinema tahap 3. (Istimewa)
Wisudawan terbaik Polinema tahap 3. (Istimewa)

MALANGVOICE – Siti Mutmainnah, menjadi wisudawan terbaik pada wisuda tahap 3 Politeknik Negeri Malang (Polinema). Ia berhasil meraih IPK 3,98 dengan menyelesaikan Diploma 2 Akuntansi di Program Studi Diluar Domisili (PDD Polinema) Pamekasan.

Dengan predikat cumloude, ternyata Siti mendapat beasiswa dari Pemerintah Pamekasan. Selain fokus pada pendidikannya, Siti ternyata juga bekerja sebagai kasir di salah satu supermarket Pamekasan.

“Saya bekerja sebagai admin. Untuk kuliah, saya masuk mulai pukul 14.00 hingga 20.00 WIB,” katanya belum lama ini.

E-filling menjadi tugas akhir Siti dalam menyelesaikan pendidikannya. Ia memilih e-filling lantaran kurangnya kesadaran masyarakat terkait wajib pajak pribadi.

“Kurang, padahal masyarakat kalau datang ke KPP Pamekasan juga harus e-filling meski dibantu petugas,” katanya.

Padahal, dengan adanya e-filling mampu membantu masyarakat dalam mengurus wajib pajak pribadi. Dikarenakan prosesnya yang mudah dilakukan di mana saja dan kapab saha.

“Sebenarnya ini sudah ada, terlebih di era seperti ini. Sepertinya e-filling harus disosialisasikan lagi agar masyarakat bisa memanfaatkannya,” ungkapnya.

Dengan mendapat IPK tertinggi, ia berharap dapat menempuh pendidikan tinggi lagi. “Semoga saya bisa kuliah lagi, dan bisa mendapat beasiswa lagi,” tandasnya.(Adv)

Rektor Cantik 27 Tahun Pimpin Institut ASIA Malang

Pemilihan Rektor Institut ASIA Malang dari ketua yayasan, Yoyok Hari Subagiono. (deny rahmawan)
Pemilihan Rektor Institut ASIA Malang dari ketua yayasan, Yoyok Hari Subagiono. (deny rahmawan)

MALANGVOICE – STMIK ASIA Malang dengan STIE ASIA Malang kini bergabung menjadi satu. Di bawah Yayasan Wahana Edukasi Cendekia Malang, sekarang bernama Institut ASIA Malang.

Berubahnya menjadi Institut ASIA Malang otomatis mengubah jajaran pempimpin dan organisasi. Sesuai keputusan yayasan, akhirnya dipilih Risa Santoso menjadi Rektor Institut ASIA periode 2019-2023.

“Saya yakin dengan rektor baru ini bisa mewujudkan asia menjadi the real institute teknologi dan bisnis,” kata Ketua Yayasan Wahana Edukasi Cedekia Malang, Yoyok Hari Subagiono, Sabtu (2/11).

Risa Santoso dipilih menjadi rektor atas berbagai pertimbangan, antara lain dengan latar belakang pendidikan di University of California, Berkeley dan melanjutkan studi S2 di Havard University. Risa yang masih berusia 27 tahun ini juga pernah berkarier menjadi tenaga ahli muda di kantor staf Presiden RI.

Sebelum menjadi rektor, Risa menjabat sebagai Direktur Pengembangan Bisnis di Kampus ASIA.

Yoyok menambahkan, meski masih muda, Risa diharap mampu membawa Institut ASIA Malang bisa lebih maju dan berkembang.

Rektor Institut ASIA Malang, Risa Santoso. (deny rahmawan)
Rektor Institut ASIA Malang, Risa Santoso. (deny rahmawan)

“Maju dalam segi pelayanan dan kualitas. Sekarang muncul banyak generasi muda yang tentunya harus bisa tampil memegang estafet kepemimpinan,” ujarnya. Ia juga berpesan agar Risa tetap berkomunikasi dengan para senior agar ada perpaduan dengan generasi muda.

Sementara itu, Risa Santoso merasa terhormat dipilih menjadi rektor. Wanita kelahiran Surabaya pada Oktober 1992 ini mengatakan siap mengemban amanah memajukan Institut ASIA.

“Rasa terhormat juga sekarang memiliki tanggung jawab besar untuk merepresentasikan milenial,” katanya.

Dalam waktu dekat, Risa menyatakan akan segera melakukan langkah strategis membuat perubahan di Institut ASIA.

“Kami ingin up to date terus, jangan sampai kalah soal teknologi. Kemudian kerja sama dengan internasional dan dunia industri,” ia menandaskan.

Institut ASIA kini memiliki lima program studi S1, antara lain Manajemen, Akuntansi, Teknik Informatika, Sistem Komputer, Desain Komunikasi Visual, dan program studi S2 Manajemen. (Der/Ulm)

Lewat ETU Polinema, Siswa SDN Karang Besuki 3 Diajari Praktik Penerapan Entrepreneurship

Penerapan praktik entrepreneurship oleh ETU Polinema kepada siswa SDN Karang Besuki 3. (Istimewa)
Penerapan praktik entrepreneurship oleh ETU Polinema kepada siswa SDN Karang Besuki 3. (Istimewa)

MALANGVOICE – Enterpreneurship Training Unit (ETU) Politeknik Negeri Malang melaksanakan Penerapan Enterpreneurship
Sejak Dini Berbasis Praktik pada siswa-siswi kelas 4 SDN Karang Besuki 3 Kota Malang yang berjumlah 47 siswa.

Acara ini dilaksanakan pada hari Rabu (30/10) 2019 di Politeknik Negeri Malang. Acara ini dibuka dan dipandu Ayu Sulasari, SE., MM, dan juga sambutan singkat oleh Dr. Dra. Anik Kusmintarti, MM., selaku Ketua ETU Polinema dan Suselo Utoyo, ST., MMT yang merupakan Ketua Bakery Politeknik Negeri Malang.

ETU melaksanakan acara ini dengan tujuan utama untuk menanamkan karakter wirausaha sejak dini, menanamkan kreativitas dan perubahan karakter dari hal-hal baru yang diajarkan serta sikap menghargai pada hal-hal kecil, terutama kepada siswa-siswi kelas 4 SDN Karang Besuki 3 Kota Malang.

Pada revolusi industri 4.0 perkembangan kewirausahaan tumbuh begitu pesat, sehingga sangat dibutuhkan minat besar di bidang wirausaha, tetapi mahasiswa perguruan tinggi memiliki permasalahan yaitu kurangnya minat pada enterpreneur. Sehingga ETU Polinema bermaksud untuk mulai membentuk karakter enterpreneur yang dimulai sejak dini.

Pendidikan kewirausahaan dimulai dengan pendidikan karakter, yaitu karakter enterpreneur yang kreatif, berani dan jujur, yang tidak hanya dilakukan di sekolah, tetapi juga membutuhkan dukungan anggota keluarga di rumah sehingga memiliki peran yang sinergi.

Pendidikan kepada anak-anak zaman sekarang akan lebih baik dan mudah dipahami jika dilakukan dengan praktik dan melihat langsung proses atau benda yang menjadi tujuan pembelajaran. Harapan setelah dilakukannya kegiatan ini adalah tumbuh motivasi dan kreativitas pada anak-anak dan akan tertanam karakter wirausaha sejak dini, agar saat dewasa sudah memiliki pondasi yang lebih kuat dalam enterpreneur.

Kegiatan ini dimulai dengan melakukan permainan, yaitu gerakan-gerakan mudah yang sudah sangat dikenali oleh adik-adik yang bertujuan untuk menambah semangat dan keceriaan. Kemudian dibagi menjadi 4 kelompok yang terdiri dari 10-11 anak dengan cara berhitung, dan memilih ketua kelompok.

Pada sesi ini sangat terlihat antusias yang luar biasa dari adik-adik SDN Karang Besuki 3, dan sudah mulai terbentuk jiwa kepemimpinannya, semua dengan semangat mengacungkan jari ingin menjadi ketua kelompok. Kemudian adik-adik diarahkan untuk mulai membuat kue yang diawali dengan mencuci tangan terlebih dahulu. Dengan didampingi oleh mahasiswa dari Politeknik Negeri Malang yang juga akan mengajarkan cara membuat kue tersebut, adik-adik SDN Karang Besuki 3 mulai memilih kue jenis apa yang akan dibuat, dan untuk menambah semangat dari setiap kelompok, maka pembuatan kue ini dilombakan dengan syarat kue terbanyak dan bentuk yang paling rapi akan menang.

Muchammad Yuli Achiriansyah selaku Guru Kelas 4A menjelaskan bahwa sekolah sangat mendukung jika ada kegiatan yang bekerja sama dengan instansi yang sudah ahli dalam bidangnya, karena dengan adanya kegiatan ini juga akan membantu pembentukan karakter yang tidak bisa hanya dilakukan di sekolah saja. Hal ini juga merupakan CSR dari SDN Karang Besuki 3.

Siti Nurul Fita selaku Ketua Komite berharap dengan adanya kegiatan ini akan terlatih sikap untuk lebih berani berpendapat, berani bicara di depan umum dan akan memiliki wawasan yang luas untuk cita-cita siswa-siswi SDN Karang Besuki 3 Kota Malang.(Der/Aka)

Sutiaji Imbau Kepala Sekolah dapat Menyaring Informasi dengan Bijak

Wali Kota Malang, Sutiaji saat memberi pengarahan kepada kepala sekolah di SMPN 3 Malang. (Lisdya)
Wali Kota Malang, Sutiaji saat memberi pengarahan kepada kepala sekolah di SMPN 3 Malang. (Lisdya)

MALANGVOICE – Wali Kota Malang, Sutiaji mengimbau kepada para kepala sekolah baik negeri maupun swasta untuk menyaring informasi secara bijak. Hal ini dikarenakan seiring berkembangnya teknologi yang mempercepat penyebar luasan informasi.

Dikatakan Sutiaji, hal ini diperlukan agar informasi yang beredar, khususnya di media massa adalah informasi maupun berita memang benar-benar terjadi dan akurat.

“Harus hati-hati dalam mengambil kebijakan, tak terkecuali di lingkungan sekolah. Apalagi jika hal tersebut sampai terpublish di media massa,” ujarnya kepada seluruh Kepala SMP negeri dan swasta di SMPN 3 Malang, Rabu (30/10).

Selain bijak dalam memilah inforamsi, kepala sekolah juga dituntut ikhlas dalam membimbing dan mengarahkan peserta didik di sekolah. Hal ini dikatakan oleh Kepala Dinas Pendidikan Kota Malang, Zubaidah.

“Semua itu harus dilandasi dengan keikhlasan. Saya mohon kepada panjenengan (kepala sekolah) untuk ikhlas dalam membimbing anak-anak,” kata Zubaidah.

Dengan dikumpulkannya seluruh kepala sekolah, Zubaidah berharap hal ini dapat menjadi ajang silaturahmi sekaligus pemantapan dalam rangka pengelolaan institusi/lembaga pendidikan.

“Dengan pengarahan wali kota, diharapkan agar para kepala sekolah memiliki pandangan dan kesamaan visi dan misi untuk terus memajukan dunia pendidikan kita,” tandasnya.(Der/Aka)

Sutiaji Resmikan Listrik Surya Atap SMPN 3 Malang

Wali Kota Malang, Sutiaji beserta Kepala Dinas Pendidikan, Zubaidah resmikan Listrik Surya Atap di SMPN 3. (Lisdya)
Wali Kota Malang, Sutiaji beserta Kepala Dinas Pendidikan, Zubaidah resmikan Listrik Surya Atap di SMPN 3. (Lisdya)

MALANGVOICE – Usai mengajukan kepada alumni pada tahun lalu, SMPN 3 Malang akhirnya resmi memiliki Listrik Surya Atap. Peresmian pun dibuka oleh Wali Kota Malang, Sutiaji beserta Kepala Dinas Pendidikan Kota Malang, Zubaidah, Rabu (30/10).

Dalam sambutannya, Sutiaji mengatakan, jika sebenarnya keberadaan listrik bertenaga surya memang sudah umum apalagi di perguruan tinggi, namun hal ini menjadi menarik berkat bantuan dari para alumni SMPN 3 Malang.

“Hal ini menunjukkan bahwa komponen anak bangsa di dunia pendidikan sangat berperan,” ujarnya.

Ia menyebut jika serta alumni memang menjadi salah satu poin penting untuk mengembangkan sekolah serta memajukan dunia pendidikan di Kota Malang.

Sementara itu, Kepala SMPN 3 Malang, Mutmainah Amini menjelaskan bahwa listrik bertenaga surya ini mulai beroperasi pada bulan Juli kemarin. “Iya mulai tahun kemarin dan mulai dipasan pada Ramadan kemarin,” ujarnya.

Listrik bertenaga surya, lanjutnya, memiliki panel sekitar 56 dan menghasilkan 19,6 kw dalam sagu bulan. Jika dikonfersikan setara dengan Rp 3 juta. Sedangkan pembuatan listrik surya atap mencapai sekitar Rp 330 juta.

“SMPN 3 Malang itu dalam satu bulan untuk membayar listrik mencapai Rp 6 juta, tapi dengan adanya ini kami bisa menghemat setengahnya,” imbuh Mutmainah.

Tak hanya itu, dengan adanya listrik bertenaga surya dapat menjadi media pembelajaran bagi para pendidik dan siswa. Ia pun mengatakan, jika sebelumnya panel surya telah digunakan oleh guru IPA untuk perhitungan.

“Bisa dijadikan media pembelajaran, karena ada hitung-hitungannya, mulai dari mata pelajaran IPA, IPS, Matematika, Agama, semua bisa. Terpenting kami mengambil dari sisi edukasinya,” tandasnya.(Der/Aka)

Sandiaga Uno Nilai Mantan CEO Go-Jek Mampu Tingkatkan Teknologi di Sektor Pendidikan

Mantan calon wakil presiden, Sandiaga Uno saat berkunjung ke Malang beberapa waktu lalu. (Lisdya)
Mantan calon wakil presiden, Sandiaga Uno saat berkunjung ke Malang beberapa waktu lalu. (Lisdya)

MALANGVOICE – Mantan calon wakil presiden, Sandiaga Uno menilai jika terpilihnya Nadiem Makarim sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) menjadi tren baru untuk tingkatkan teknologi pada sistem pendidikan di Indonesia.

“Lifestyle kita berubah secara total karena hadirnya teknologi, termasuk pendidikan. Oleh karena itu, kita mencermati bahwa perubahan ini juga perlu diikuti di setiap sektor. Seperti di sektor kesehatan, pendidikan, bisnis dan lain sebagainya,” ujarnya belum lama ini.

Pria yang juga merupakan pengusaha dan mantan wakil gubernur DKI Jakarta ini menyampaikan, jika terpilahnya mantan CEO Go-Jek sebagai Mendikbud itu nantinya ke depan bisa membawa perubahan besar pada sistem pendidikan.

“Nadiem dipilih Jokowi tentunya diharapkan mampu membawa peran teknologi dan inovasi di sektor pendidikan. Dan dapat membawa pendidikan tuntas dan lebih berkualitas,” imbuhnya.

Dengan pendidikan yang berkualitas otomatis mampu link and match dengan kebutuhan dunia industri. “Apalagi, nanti pendidikan tinggi masuk ke kementerian yang dipimpin Pak Nadiem. Tentunya harapan besar dari kita semua,” paparnya.

“Ia sebagai menteri milenial dan saya Insya Allah siap mengawal ide-ide inovatif yang dikeluarkan Nadiem,” pungkasnya. (Hmz/Ulm)

MIN 1 Malang Terjangkit Difteri, Sekolah Diliburkan Sementara

Kepala MIN 1 Malang, Suyanto. (Lisdya)
Kepala MIN 1 Malang, Suyanto. (Lisdya)

MALANGVOICE – Sebanyak 197 siswa dan 15 pengajar MIN 1 Malang terjangkit carrier difteri. penyakit menular ini. Akibat penyakit menular ini, sistem pembelajaran diliburkan sementara sejak Rabu (23/10) hingga Minggu (27/10).

“Jadi, seluruh siswa MIN 1 Malang diinstruksikan untuk belajar dilakukan dengan pendampingan orang tua masing-masing,” ujar Kepala MIN 1 Malang, Suyanto saat dihubungi via telepon.

Ia mengaku jika pihaknya juga telah berkoordinasi dengan Kementerian Agama (Kemenag) dalam hal ini untuk siswa belajar di rumah.

Selama belajar di rumah, MIN 1 Malang juga akan melakukan pembersihan dan pembenahan sistem ventilasi udara. Bagi siswa yang ingin menjalani swab kedua pun dipersilakan dengan biaya ditanggung sekolah.

“Bagi yang telah meminum obat sesuai dosis diwajibkan melakukan swab kultur. Untuk memastikan tidak ada siswa, guru, maupun karyawan yang terjangkit,” imbuhnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kota Malang, Soepranoto mengatakan jika pihaknya sudah melakukan swab ulang. Serta telah memberikan obat propilaksis agar kuman tak menyebar.

“Kami sudah melakukan swab, dan sudah nggak ada masalah dan nggak ada lagi kasus seperti itu,” pungkasnya.(Der/Aka)

‘Entrepreneur Festival’ Siapkan Mahasiswa Polinema dalam Berwirausaha

istimewa
istimewa

MALANGVOICE – Sebagai kampus vokasi dan telah meraih peringkat pertama dalam kegiatan dan prestasi mahasiswa dari Kemenristek Dikti, Politeknik Negeri Malang (Polinema) terus mendorong mahasiswanya untuk berkarya.

“Kemarin kami meraih peringkat satu berkat kegiatan dan prestasi mahasiswa. Jadi, kami terus mendukung kegiatan para mahasiswa,” ujar Direktur Polinema, Awan Setiawan.

Kegiatan yang dimaksud adalah Entrepreneur Festival bertemakan ‘’Sociopreneur dan Technopreneur dalam menyongsong Revolusi Industri 4.0, yang diselenggarakan oleh Program Mahasiswa Wirausaha (PMW).

Perlu diketahui, kegiatan Entrepreneur Festival 2019 ini merupakan sebuah event dan seminar kewirausahaan yang diikuti oleh 25 peserta stand yakni dari Perguruan Tinggi di antaranya yakni, Politeknik Banjarmasin, Politeknik Pangkep, Universitas Negeri Malang dan Universitas Brawijaya dan SMK Telkom Malang, serta Forum Bisnis IKA Polinema.

“25 stand yang menampilkan hasil karya itu, nantinya ditawarkan kepada para pengunjung kegiatan yang dilaksanakan oleh Inkubator Bisnis (INBIS) Enterpreneurship Training Unit (ETU) Polinema,” imbuhnya saat membuka acara ini.

Sementara itu, Ketua INBIS ETU Polinema, Anik Kusmintarti mengatakan jika kegiatan ini tak lain adalah untuk melatih mahasiswa Polinema dalam berwirausaha dan sebagai wadah untuk menampilkan produk hasil karyanya.

Menurut Anik, pembinaan mahasiswa Polinema untuk berwirausaha sudah dilakukan sejak tahun 2009, dan diharapkan akan mampu memberikan bekal kepada para lulusan Polinema jika mereka bakal menggeluti entrepreneur.

“Bisa saja, mahasiswa atau lulusan Polinema bisa menjadi entrepreneur sembari mereka juga bekerja yang sesuai dengan bidang mereka,” pungkasnya.(Adv)

Polinema Rampungkan PKM Pelatihan Budidaya Tanaman dengan Teknik Hidroponik di Merjosari

Pelatihan program PKM Polinema di Merjosari, Kota Malang. (Istimewa)
Pelatihan program PKM Polinema di Merjosari, Kota Malang. (Istimewa)

MALANGVOICE – Politeknik Negeri Malang (Polinema) rampungkan program Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) di RT 3/RW 5, Merjosari, Lowokwaru, Kota Malang.

Program yang berfokus pada pelatihan budidaya tanaman dengan teknik hidroponik ini digelar pada September 2019 lalu.

Program PKM ini diberikan pada warga setempat karena memiliki keinginan untuk membuat rumah dan lingkungan mereka menjadi lebih hijau dan asri walau dengan lahan mereka yang sempit karena adanya perkembangan kota.

Program PKM ini beranggotakan lima orang yang diketuai oleh Dr, Dra. Anik Kusmintarti, MM., dan keempat anggotanya yaitu Dr. Drs. Sidik Ismanu, M.Si., Edi Winarto, Drs., M.Si., Ayu Sulasari, SE., MM., dan Suselo Utoyo, ST., MMT.

Metode yang digunakan yaitu terlebih dulu memberikan penjelasan terkait tanaman hidroponik kepada ibu-ibu di Kelurahan Merjosari, praktik langsung dalam pembuatan tanaman hidroponik serta tanya jawab terkait cara perawatan tanaman hidroponik.

Hidroponik adalah cara membudidayakan tanaman dengan memanfaatkan air tanpa menggunakan tanah sebagai media tanamnya, sehingga pada hidroponik sangat mementingkan pemenuhan nutrisi tanaman. Tanaman akan selalu tumbuh dengan baik jika nutrisinya terpenuhi.

Hidroponik merupakan solusi bagi rumah yang memiliki lahan sempit untuk menanam berbagai macam sayuran. Tanaman hidroponik bukan saja akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat desanya, tapi juga membuat suasana kampung lebih teduh dan asri. Selain memberi nilai ekonomi masyarakat, hidroponik juga bisa untuk penghijauan.

Sayuran yang bisa dijadikan sebagai tanaman hidroponik, yaitu seperti sawi, bawang, selada, tomat, terong, cabai dan sayuran lainnya. Sehingga tanaman hidroponik ini nanti juga akan bisa dikonsumsi sebagai sayuran ataupun dapat dikembangkan sebagai sebuah usaha dan kemudian untuk dijual sehingga membantu perekonomian masyarakat dan menambah pendapatan keluarga.

Tujuan diakukannya PKM ini adalah memberdayakan masyarakat Kelurahan Merjosari agar dapat memanfaatkan lahan yang sempit. Hasil dari kegiatan ini nanti diharapkan akan terus berkembang agar mampu menjadi solusi permasalahan dengan terbentuknya lingkungan yang hijau, bersih, asri, teduh dan aman serta dapat meningkatkan pendapatan keluarga dan akhirnya meningkatkan kesejahteraan masyarakat. (Der/Ulm)

Komunitas