ADN Tekad Berantas Paham Radikal, Khususnya Bagi Mahasiswa Baru

Ketua Umum ADN, Imam Hambali. (Lisdya)
Ketua Umum ADN, Imam Hambali. (Lisdya)

MALANGVOICE – Untuk memberantas radikalisme di perguruan tinggi, Aliansi Dosen Nahada (ADN) bakal terus mendeteksi paham-paham radikal terutama bagi mahasiswa baru.

“Kami sudah ajukan kepara rektor dan para pejabat di perguruan tinggi pada umumnya untuk melakukan deteksi dini paham radikalis kepada mahasiswa baru,” ujar Ketua Umum ADN, Imam Hambali.

Kendati ADN baru saja didirikan pada Rabu (9/10), Imam menegaskan jika pihaknya terus bertekad dalam pemberantasan ini. Bahkan, cara pendeteksiannya pun ada alat asesmennya tersendiri.

“Sebebarnya kami mengembangkan alat asesmen itu. Untuk pendeteksiannya tidak bisa dilakukan secara frontal. Kami melaksanakannya dengan tata cara yang halus, agar mahasiswa merasa senang,” ungkapnya.

Lebih lanjut, ia mengatakan jika pendeteksian ini lebih mengarah ke psikologis. Sedangkan untuk mahasiswa akhir, pendeteksian dilakukan melalui dosen pengajar.

Selain itu, juga dapat dilakukan melalui kegiatan-kegiatan yang positif yang melibatkan seluruh komponen mahasiswa. Terutama kegiatan-kegiatan yang implementatif, baik itu dari sisi akademik maupun non akademik. Nantinya, pembimbingan untuk mahasiswa tingkat akhir juga dilakukan melalui diskusi-diskusi. Baik diskusi kecil maupun diskusi besar.

“Kalau ngobrol ringan kan enak, karena mahasiswa itu dekat dengan dosen. Kalau diskusi besar ya melalui kampus. Dengan demikan, kami berharap 100 persen mahasiswa tidak terpengaruh paham radikal,” pungkasnya. (Hmz/Ulm)

Empat Mahasiswa Malang Raih Juara 3 Ajang Perencanaan Tata Ruang 2019

istimewa.
istimewa.

MALANGVOICE – Empat mahasiswa Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang berhasil meraih juara 3 dalam lomba karya terbaik studio perencanaan tata ruang 2019 yang digelar Asosiasi Sekolah Perencanaan Indonesia (ASPI) di Pontianak, Kalimantan Barat pada 2-3 Oktober 2019 kemarin.

Mahasiswa jurusan Perencana Wilayah dan Kota (PWK) di antaranya yakni Ivana Della Samosir, Muhammad Rizal Firdaus, Muhammad Nukhliz Fauzi, dan Siti Nurhamdi.

Ketua Kelompok, Ivana Della Samosir menjelaskan jika kelompoknya mengangkat konsep pengembangan pasar tradisional (Pepatran) Gianyar, Bali . Konsep ini menempatkan pasar tradisional dalam mengembangkan perencanaan wilayah berbasis sektor perdagangan dan jasa.

“Saat mengangkat konsep ini, kami berhasil meraih juara ketiga dalam kategori 1 yakni rencana umum (RTRW/RDTR kota, kabupaten, provinsi),” ujarnya kepada awak media, Selasa (8/10).

Diangkatnya pasar tradisional ini, karena mereka ingin pasar tradisional tidak tersingkir dengan keberadaan pasar modern dan perkembangan tehnologi.

Sedangkan untuk persiapannya, Della mengaku memakan waktu 10 hari dan penyusunan dokumennya memakan waktu dua hingga tiga bulan.

“Nggak ada yang susah, hanya saja saat presentasi kami diberi masukan. Kami kan perencanaannya 100 tahun, kemudian dari juri diberi masukan jika kami harus belajar bahwa setiap tahun perubahan khususnya tata kelola ruang umum itu pasti berubah,” jelas mahasiswa semester tujuh itu.

Diketahui, dalam ajang ini dibagi menjadi dua kategori, yakni rencana umum dan urban desain. Untuk kategori pertama diikuti oleh 36 perguruan tinggi, dan kategori kedua diikuti 34 perguruan tinggi.

“Ini tantangan awal kami, karena setiap perguruan tinggi mengeluarkan anggota lebih dari empat orang. Harapannya ke depan adik tingkat kami bisa meneruskan kembali,” pungkasnya. (Der/ulm)

Minimalisir Pengaruh Negatif, Polinema Dongkrak Pendidikan Karakter Mahasiswa

Politeknik Negeri Malang (istimewa)

MALANGVOICE – Politeknik Negeri Malang (Polinema) terus menyoroti persoalan di kalangan milenial, salah satunya yakni hilangnya sopan santun atau yang kerap disebut pengikisan karakter.

“Karakter itu soft skill, kalau hilang ya bagaimana. Karakter itu sangat penting loh dibanding dengan kecerdasan mahasiswa itu sendiri,” ujar Wakil Direktur Polinema, Luchis Rubianto beberapa waktu lalu.

Bahkan, menurut Luchis, karakter mahasiswa akan dinilai saat rekrutmen kerja. Otomatis, pihaknya saat ini tengah mendongkrak pendidikan karakter khususnya bagi mahasiswa baru.

“Kami coba pendidikan karakter terutama untuk para mahasiswa baru,” ungkapnya.

Lebih lanjut, dijelaskannya bahwa Polinema kali ini berupaya untuk memperkuat soft skill mahasiswa sebagai elemen generasi milenial melalui pendidikan karakter. Bahkan Polinema juga menghadirkan sejumlah pakar di bidang terkait pendidikan karakter, salah satunya yakni Staff Ahli Menteri Pertahanan Bidang Sosial Marsda TNI, Bambang Eko Suhariyanto.

Dikatakan Bambang, generasi milenial saat ini bisa dibilang rentan akan berbagai ancaman. Termasuk di dalamnya ialah kejahatan siber, narkoba hingga radikalisme. Apabila karakter mahasiswa sedikit melenceng, jelas berbagai ancaman akan sangat berisiko.

“Untuk itu, para mahasiswa harus dibekali dengan wawasan yang cukup dalam menghadapi berbagai ancaman tersebut. Misalnya kita lalai mengahadapi itu risikonya besar sekali terhadap negara. Tapi saya pikir generasi muda terutama mahasiswa sudah dibekali dengan kecerdasan yang luar biasa dan mampu menyikapinya,” paparnya.

Sementara itu, Kepala Mata Kuliah Umum (MKU) Polinema, Hairus Sandy, menyebut jika pendidikan karakter merupakan salah satu upaya untuk meminimalisir berbagai pengaruh negatif terhadap mahasiswa sebagai generasi milenial. Salah satunya memberikan pemahaman terkait sikap anti penyebaran berita hoaks.

“Sebenarnya pendidikan karakter itu banyak, seperti juga penyebaran berita hoaks. Nah, dengan pembelajaran pendidikan karakter diharapkan mahasiswa mampu menerapkan soft skillnya untuk persiapan dunia kerja,” tandasnya.(Der/Ulm)

Tak Perlu Khawatir, PTS Bisa Input Data Akreditasi Lewat Misheqa

Ketua LLDIKTI Wilayah VII Jatim, Soeprapto (kiri) didampingi Rektor ITN Malang, Kustamar. (Lisdya)
Ketua LLDIKTI Wilayah VII Jatim, Soeprapto (kiri) didampingi Rektor ITN Malang, Kustamar. (Lisdya)

MALANGVOICE – Di era revolusi industri 4.0 semua kebutuhan tak terlepas dari teknologi, seperti akreditasi perguruan tinggi saat ini sudah melalui sistem online. Dengan menginput data melalui aplikasi Management Information System for Higher Education Quality Assurance (Misheqa).

“Guna meningkatkan mutu perguruan tinggi, khususnya yang swasta, Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) harus mengenalkan Misheqa untuk menginput data akreditasi,” ujar Ketua LLDIKTI Wilayah VII Jatim, Soeprapto saat memaparkan Misheqa di ITN Malang belum lama ini.

Hingga saat ini, disebutnya masih sangat minim perguruan tinggi yang mau menginput data akreditas. Seperti rencana investasi hingga rencana kerja di prodi tiap universitas. Hal inilah yang menurutnya menghambat kemajuan perguruan tinggi swasta (PTS).

“Kalau malas menginput kan otomatis banyak yang akreditasinya jadi jelek. Kalau misal PTS sudah menginput data, kami jadi tahu oh PTS ini kurang apa. Jadi waktu proses akteditasi kami tinggal meninjau wilayah,” ungkapnya.

Sementara itu Rektor ITN Malang, Kustamar berharap seluruh PTS khususnya di Malang Raya mampu saling bertukar informasi mengenai kelebihan dan kekurangannya.

“Kami wadahi mereka untuk sharing. Sehingga ke depan PTS salah satunya ITN bisa saling berbagi pengetahuan. Terutama dalam hal kontrol kualitas perguruan tingginya,” pungkasnya. (Der/ulm)

Pakai Modul Khusus, Ibu-Ibu Diberi Tips Pola Parenting dan Siapkan Anak Bersekolah

Proses pemberian pengetahuan dan modul bagi ibu. (Istimewa)
Proses pemberian pengetahuan dan modul bagi ibu. (Istimewa)

MALANGVOICE – Tunjang proses perkembangan anak, Nestlé Dancow FortiGro menyusun modul “Semangat Meraih Prestasi” dan menyelenggarakan rangkaian kegiatan Dancow Siap Sekolah.00

Rencananya ada 3 800 ibu di beberapa wilayah di Malang dan Pasuruan diberikan pengetahuan secara langsung kepada ibu mengenai nutrisi dan pola parenting saat ini.

Kegiatan ini terbagi menjadi dua kegiatan: Mom Class, di mana para ibu mengikuti seminar mengenai pentingnya asupan gizi yang seimbang, serta mendapat tips agar anak selalu semangat untuk bersekolah. Selain itu, ada Kids Class yang merupakan kegiatan belajar dan bermain untuk mengasah stimulasi anak dalam hal eksplorasi dan menumbuhkan jiwa semangat sekolah.

Business Executive Officer Dairy Nestlé Indonesia, Windy Cahyaning Wulan, mengatakan, event ini adalah salah satu wujud komitmennya untuk mendukung anak Indonesia untuk menjadi sehat dan cerdas. “Kami mengedukasi orang tua agar dapat memberikan dukungan penuh untuk si Buah Hati siap sekolah dan meraih prestasi,” katanya.

Tahun ini, Nestlé Dancow FortiGro bekerja sama dengan pakar parenting dan pakar gizi untuk menghadirkan modul berjudul “Semangat Meraih Prestasi”, guna membantu orang tua dalam mendukung anak yang memasuki tahap sekolah agar siap secara fisik dan semangat.

Mempersiapkan fisik anak artinya memberikan asupan gizi yang seimbang sesuai kebutuhan anak.

Selain mempersiapkan nutrisi untuk kesiapan fisik sang anak, orang tua juga harus menyiapkan semangat si Buah Hati untuk siap sekolah. Semangat pada anak berarti sang anak terlibat penuh dalam segala aktivitasnya baik secara fisik, mental, dan psikis. Anak yang bersemangat adalah anak yang terlibat sepenuhnya di aktivitas yang ia lakukan, baik secara fisik dan mental.

Ada beberapa hal yang dapat dilakukan orang tua untuk mendorong semangat anak, seperti mengajak anak berbagi cerita, memberikan kesempatan pada anak untuk memilih kegiatan yang disukainya, mengajak belajar sambil bermain, dan merayakan setiap keberhasilan. Masing-masing anak memiliki keunikan sendiri, karena itu penting bagi orang tua untuk mengetahui berbagai pendekatan yang dapat meningkatkan semangat anak.

Dancow Siap Sekolah telah diselenggarakan sejak tahun 2016, dan telah mengedukasi 380.000 ibu di 3.300 sekolah dan pemukiman, serta menjangkau hingga 100 kota dan kabupaten di Indonesia. Rangkaian acara ini dimulai dari mengunjungi sekolah-sekolah dan lingkungan pemukiman di seluruh Indonesia. Kali ini, DANCOW Siap Sekolah hadir di wilayah Malang dan Pasuruan mulai 2 Oktober hingga 1 November mendatang.(Der/Aka)

UB Kembali Kukuhkan Dua Profesor, Ini Penelitiannya

Dua profesor UB yang akan dikukuhkan besok Rabu (2/10). (Lisdya)
Dua profesor UB yang akan dikukuhkan besok Rabu (2/10). (Lisdya)

MALANGVOICE – Universitas Brawijaya (UB) kembali mengukuhkan dua profesor, yakni Imam Santoso dalam bidang Ilmu Sistem dan Manajemen Agroindustri pada Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) dan Adi Susilo dalam bidang Ilmu Geofisika Kebencanaan dan Eksplorasi Sumber Daya Alam Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), pada besok Rabu (2/10) di Widyaloka UB.

Pada penelitian Imam Santoso, ia meneliti perspektif kesisteman dan manajemen risiko strategi pengembangan agroindustri 4.0.

Perlu diketahui, Agroindustri sendiri merupakan bagian terpenting dari pembangunan nasional, dengan mengedepankan strategi. Bahkan perannya sangat strategis dalam meningkatkan nilai tambah produk primer hasil pertanian dan mampu menyelesaikan persoalan-persoalan yang terjadi di hulu (on farm).

“Dalam posisi berperan strategis ini, agroindustri menghadapi sejumlah persoalan dan risiko dalam setiap mata rantai nilai pengelolaannya mulai dari hulu ke hilir,” ujarnya kepada awak media, Selasa (1/10).

Persoalan-persoalan yang terjadi dalam agroindustri sendiri tak lain, di antaranya yakni menurunnya jumlah lahan pertanian produktif yang belum diimbangi oleh program ekstensifikasi berupa penambahan lahan baru. Kemudian sistem produksi pertanian yang umumnya masih tradisional dengan sejumlah persoalan sosiokultural yang melingkupinya, hingga masalah sistem distribusi hasil pertanian dan produk agroindustri yang belum mendukung ketepatan dan kecepatan pemenuhan kebutuhan konsumen.

“Dalam kurun waktu 20 tahun terakhir, banyak lahan pertanian yang kemudian berubah menjadi lahan baru seperti perumahan atau ruko-ruko. Nah, dari sini lah perspektif kemudian muncul,” paparnya.

Dijelaskan Imam, dengan adanya agroindustri 4,0 dapat memberikan peluang bagi petani dan pelaku usaha dalam rantai pasok agroindustri untuk memperoleh insentif yang memadai. Selain itu, juga terjadi peningkatan nilai tambah dan nilai ekonomi dengan forward linkage yang sangat memadai untuk memberikan multiplier effect bagi seluruh pelaku terkait dalam sistem agroindustri.

“Ke depan, era agroindustri 4.0 akan terus berkembang sangat cepat dengan segenap tantangan, risiko dan peluangnya, maka tidak ada pilihan lain kecuali menguatkan elemen dasar atau pilar utama pengembangan agrondustri. Untuk itu, ada beberapa strategi yang diharapkan secara integratif untuk menghasilkan kondisi agroindustri yang sangat akurat,” jelasnya.

Slah satu contoh strategi argoindustri yang diteliti Imam adalah penguatan sektor produksi pertanian dengan penerapan pertanian presisi. Penerapan sistem ini akan mampu mengatasi berbagai keterbatasan di sektor hulu. Dalam konteks ini, maka diperlukan sejumlah riset yang dapat merumuskan dan mendesain berbagai peralatan dan mesin pertanian yang mendukung penerapan pertanian presisi dan atau mesin dengan otomatisasi digital.

Sedangkan penelitian Adi Susilo adalah Pemodelan Konduit Lumpur Sidoarjo, Kebencanaan dan Eksplorasi Sumber Daya Alam.

Kemunculan Lumpur Sidoarjo yang sudah berlangsung mulai Mei 2006 silam hingga saat ini menimbulkan berbagai permasalahan sosial dan scientific.

“Ada tiga pendapat terkait semburan lumpur lapindo. Pendapat pertama menyatakan terjadinya semburan LUSI dipicu oleh gempa bumi tanggal 27 Mei 2006 di Yogyakarta,” ujar Dekan Fakultas MIPA UB tersebut.

Pendapat kedua yakni kegiatan pengeboran dalam rangka eksplorasi migas di Sumur Banjarpanji 1 oleh PT. Lapindo Brantas Inc. Lokasi pengeboran yang berjarak kurang lebih 150 meter dari pusat semburan LUSI. Sedangkan pendapat ketiga menyebutkan pemicu terjadinya semburan lumpur tersebut adalah kombinasi keduanya.

“Saya membahas model conduit (saluran) yang digunakan keluarnya lumpur dari bawah permukaan di area semburan. Dari penelitian Geomagnetik dan Magnetotelluric, didapatkan bahwa conduit keluarnya lumpur panas ternyata tidaklah lurus,” paparnya.

Dijelaskannya, ada pembelokan pada kedalaman di bawah seribu meter hingga 2500 meter, terdapat pembelokan ke arah timur dari yang tampak di permukaan.

“Sedangkan dari permukaan sampai 1000 meter, saluran masih lurus,” tegasnya.

Berkaitan dengan gempa bumi, dari hasil analisis menggunakan Analisis Probabilistik Seismik Hazard, ada tiga kota di Jawa Timur yang rentan terhadap gempa bumi, yakni Malang, Tulungagung, dan Pacitan. Periodisasi gempa diperkirakan mencapai 20-30 tahun ke depan.

Dalam penelitiannya ia juga mengungkapkan ada salah satu keuntungan pada daerah karst, yaitu adanya sungai bawah permukaan yang cukup besar debitnya. Daerah karst atau kapur sendiri merupakan suatu daerah yang sering terjadi kekeringan, yang disebabkan hujan sulit untuk bisa di tampung, sementara musim kemarau air sulit ada di permukaan.

“Ada suatu sumur penduduk, yang di bawahnya dilalui oleh sungai bawah tanah ini, sehingga sumur ini tidak pernah kering. Kemudian saya menggunakan metode geofisika self potensial dan resistivitas untuk melacak sungai bawah permukaan ini. Apabila penduduk menggali sumur sesuai dengan alur sungai ini, maka sumur tidak akan pernah kering walaupun musim kemarau,” paparnya.

Sementara itu, terkait longsor, untuk mencari bidang gelincir di daerah yang sudah longsor ataupun potensi terjadinya longsor, metode geofisika resistivitas dan data bor digunakan untuk memetakan kemungkinan arah dan volume longsor. Longsor sendiri merupakan salah satu akibat dari bencana hidrometeorologi.

Bahkan metode geofisika juga digunakan untuk eksplorasi sumber daya alam, mulai dari mencari air tanah dan mencari sulfide logam. “Ini juga untuk mitigasi bencana kekeringan, bisa juga untuk mencari mineral-mineral logam yang prospek secara ekonomi,” pungkasnya. (Der/Ulm)

Prasetya Mulya Siap Cetak Mahasiswa Hadapi Era Industri 4.0

Faculty Member Eko Ariawan (Sebelah kiri, Jas Hitam) dan Faculty Member Fredy Utama (Baju Batik) saat ditemui awak media. (Toski D).
Faculty Member Eko Ariawan (Sebelah kiri, Jas Hitam) dan Faculty Member Fredy Utama (Baju Batik) saat ditemui awak media. (Toski D).

MALANGVOICE – Universitas Prasetya Mulya (Pramul) siap mencetak generasi Z untuk menghadapi tantangan era industri 4.0.

Susana seminar. (Toski D).
Susana seminar. (Toski D).

Faculty Member (Dosen) Universitas Prasetiya Mulya, Fredy Utama mengatakan, untuk menghadapi era Industri 4.0 ini tidak cukup hanya memiliki ilmu saja, namun harus tahu bagaimana cara mengembangkan ilmunya.

“Cara itulah yang diajarkan di Pramul pada para mahasiswa, untuk menguasai kolaborasi ilmu sains, teknologi, dan bisnis supaya dapat menjadi pelaku industri di masa depan,” ungkapnya, saat ditemui awak media disela-sela kegiatan Seminar yang digelar di salah satu Hotel di Kota Malang, Sabtu (28/9)

Untuk itu, lanjut Fredy, dengan dominannya penggunaan teknologi di era industri 4.0. Pramul akan diajarkan untuk multitasking, yang mampu mencari solusi permasalahan dan memiliki semangat entrepreneurship. Karena pada beberapa tahun mendatang, akan banyak pekerjaan yang hilang karena sudah beralih ke otomatisasi.

“Berdasarkan data yang ada, pada tahun 2025 mendatang akan ada 17 juta pekerjaan baru di berbagai industri di Indonesia. Kami (Pramul) yang merupakan satu-satunya di Indonesia mendedikasikan pelayanannya untuk pemajuan dunia usaha Indonesia dengan memfokuskan pada penguatan warna kolaborasi pada setiap proses perkuliahan supaya dapat menciptakan lulusan yang unggul sebagai entrepreneur maupun profesional muda dan berkontribusi di industri skala nasional hingga internasional,” jelasnya.

Susana seminar. (Toski D).
Susana seminar. (Toski D).

Sementara itu, Faculty Member Eko Ariawan menyampaikan, pihak Pramul terus berupaya meningkatkan kemajuan dunia usaha Indonesia.

“Kami (Pramul, red) merupakan kampus yang tanggap terhadap perubahan industri. Untuk itu, kami terus melakukan inovasi terhadap proses pembelajarannya dan kurikulum dirancang berdasar pada kebutuhan di dunia teknologi dan bisnis,” tandasnya.

Untuk itulah, Universitas Prasetya Mulya melakukan roadshow yang dikemas dengan acara seminar ke beberapa kota guna mencari calon mahasiswa yang berpotensi untuk dididik menjadi seorang profesional dan wirausaha yang handal.

Saat roadshow di Malang, Universitas Prasetya Mulya menghadirkan, Fredy Utama, M.M. dan Eko Ariawan, M.M. selaku Faculty Member Universitas Prasetiya Mulya, Ha Kwon Chung (Zone Manager – International Market, Traveloka) sebagai alumnus S1 dan Filivi D. Wanwol (Peraih Beasiswa Bakti Indonesia) sebagai mahasiswa aktif untuk mengenalkan Universitas Prasetiya Mulya lebih dekat kepada para calon mahasiswa beserta orang tua.(Der/Aka)

UMM Pastikan Tidak Ada Mahasiswanya jadi Korban Demo Jilid II

Demonstrasi mahasiswa Jilid II di depan gedung DPRD Kota Malang, Selasa (24/9). (Aziz Ramadani MVoice)
Demonstrasi mahasiswa Jilid II di depan gedung DPRD Kota Malang, Selasa (24/9). (Aziz Ramadani MVoice)

MALANGVOICE – Pihak Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) telah memastikan tidak ada mahasiswanya yang jadi korban kericuhan demonstrasi Jilid II, Selasa 24 September lalu. Bahkan teridentifikasi ada orang luar yang sengaja meminjam jas almamater UMM.

“Sudah kami identifikasi. Ini mahasiswa kampus lain tapi pakai jaket (almamater) UMM,” beber Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan Universitas Muhammadiyah Malang Sidiq Sunaryo, ditemui, belum lama ini.

Ia melanjutkan, saat demo mahasiswa Jilid II di depan gedung DPRD Kota Malang, pihaknya memantau langsung di lokasi. Seluruh elemen mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi Malang bercampur. Namun diakuinya memang paling banyak mahasiswa UMM.

Sedangkan kabar jatuh korban luka sekitar 10 mahasiswa didominasi UMM dibantahnya.

“Memang ditemukan ada anak bukan UMM yang pakai jaket (almamater) UMM, ada yang dipinjemin, kami minta tunjukkan KTM tidak bisa tunjukkan, hanya bisa tunjukkan KTP, ” sambung dia.

“Waktu kami cek ke rumah sakit, memang bukan mahasiswa UMM, ” imbuhnya. (Der/Ulm)

Sanski Demo bagi Rektor hingga Mahasiswa, Pengamat Politik UB: Nggak Tepat di Era Ini!

Pengamat Politik dari Universitas Brawijaya (UB) Malang, Wawan Sobari. (Lisdya)
Pengamat Politik dari Universitas Brawijaya (UB) Malang, Wawan Sobari. (Lisdya)

MALANGVOICE – Larangan demokrasi bagi mahasiswa di berbagai daerah Indonesia yang menolak revisi UU KPK dan KUHP, telah dikeluarkan oleh Presiden Joko Widodo melalui Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Mohammad Nasir.

Seperti yang diketahui, Nasir bakal memanggil rektor hingga dosen yang mengizinkan mahasiswanya mengikuti unjuk rasa. Bahkan, ia pun memastikan bakal ada sanksi bagi rektor yang tak bisa meredam gerakan mahasiswanya

Menanggapi hal ini, Pengamat Politik dari Universitas Brawijaya (UB) Malang, Wawan Sobari mengatakan jika larangan ini lebih mengacu agar mahasiswa tidak anarkis saat mengutarakan aspirasi masyarakat.

“Sebenarnya kalau saya pahami, agar menghindari tindakan anarkis,” ungkapnya kepada awak media saat ditemui di kantornya, Jumat (27/9).

Kendati demikian, menurutnya, di era saat ini, kebebasan berpendapat tidak lagi dibatasi dibandingkan dengan era Presiden Soeharto. Apalagi mahasiswa saat ini jauh lebih kritis. Bahkan apabila mahasiswa lebih memilih turun aksi ketimbang masuk kelas, konsekuensinya hanya absensi tidak bisa disanksi negara. Jadi, sangat tidak tepat jika mahasiswa dapat sanksi ketika berdemo.

“Saya sebagai dosen, kalau mahasiswa ikut demo ya dia nggak ada absennya. Mahasiswa itu bisa menjamin bahwa demonstrasi mereka itu tidak ditunggangi kalau menurut saya sih itu tidak ada masalah. Tapi kalau mengancam rektor hingga mahasiswa, nggak tepat untuk saat ini,” paparnya.

Selain itu, ia menilai jika para pejabat ingin mahasiswa berdialog di kampus ketimbang turun aksi di jalan. Hanya saja, menurutnya mahasiswa sudah sangat kecewa dengan tindakan pejabat yang merevisi UU KPK dan KUHP.

“Pernyataan saya sederhana sebenarnya, niat Menteri sebenarnya adalah selesailah turun ke jalan. Kedepankan dialog di kampus. Tetapi sepertinya mahasiswa susah kalau dialog di kampus. Mungkin mereka menganggap ini undang-undangnya sudah jadi kok. Kalau hanya sekadar dialog ya bagaimana,” katanya.

Belajar dari aksi demonstran ini, lebih lanjut ia mengatakan jika pejabat atau rektor lebih baik untuk memperbaiki manajemen demo. “Karena politik nggak bisa dilarang. Manajemen aksinya yang diperbaiki,” tegasnya.

Sedangkan untuk menghindari penyusup pada aksi demo, ia menyarankan agar para mahasiswa memakai identitas sama. Seperti misalnya, jaket sama atau memakai almamater kampus.

“Pakai identitas, itu menunjukkan dari massa mana. Kalau yang melakukan kerusuhan di luar massa mahasiswa ya berarti Jangan disalahkan mahasiswa atau kampus. Jadi, menurut saya daripada melarang mahasiswa berdemo lebih baik meminta rektor ataupun dosen bekerjasama dengan aparat keamanan, untuk memastikan manajemen aksinya baik,” tandasnya. (Der/Ulm)

STIE Asia dan STMIK Asia Resmi Digabung Menjadi Institut Teknologi & Bisnis Asia

LL Dikti Jatim memberikan SK penggabungan STIE Asia dan STMIK Asia kepada Sementara itu, Ketua Yayasan Wahana Edukasi Cendikia Malang. (Lisdya)
LL Dikti Jatim memberikan SK penggabungan STIE Asia dan STMIK Asia kepada Sementara itu, Ketua Yayasan Wahana Edukasi Cendikia Malang. (Lisdya)

MALANGVOICE – Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristek Dikti) terus lakukan penggabungan Perguruan Tinggi Swasta (PTS) yang memiliki banyak persoalan, seperti tidak memiliki mahasiswa, terjadi jual beli ijazah hingga akreditasi kampus rendah.

Oleh karenanya, Kemenristek Dikti mengambil kebijakan sejak empat tahun lalu untuk mengurangi PT yang ada di Indonesia. Menurut Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LL Dikti) Wilayah VII, Suprapto, cara pengurangannya yakni dengan merger, entah dimerger dengan kampus yang masih dalam satu yayasan atau beda yayasan.

“Ada dua pilihan, izin dicabut atau diperbaiki. Kalau diperbaiki ya minimal dua tahun sudah kelihatan bagusnya,” ujarnya saat memberi sambutan dalam peresmian STIE Asia dan STMIK Asia, Rabu (25/9).

Setelah mendapatkan dan sesuai dengan SK Menristekdikti No.744/KPT/I/2019 pada 23 Agustus 2019, Sekolah Tinggi Manajemen Informatika dan Komputer (STMIK) dan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) di bawah naungan Yayasan Wahana Edukasi Cendikia Malang akhirnya telah resmi dimerger menjadi Institut Teknologi dan Bisnis (ITB) Asia Malang.

“Ini merger pertama untuk institut teknik di Malang,” tambahnya.

Sementara itu, Ketua Yayasan Wahana Edukasi Cendikia Malang, Yoyok Hari Subagiono mengatakan jika pihaknya mengajukan penggabungan kampus ke Kemenristek Dikti, yakni pada Oktober tahun lalu.

“Alhamdulillah, setelah melalui proses penilaian dokumen dan telah divisitasi oleh tim Kemenristek Dikti pada 30 Juni kemarin. Akhirnya SK pendirian Institut Teknologi & Bisnis Asia sudah turun ke LL Dikti,” ujar Yoyok.

Sedangkan untuk kepengurusan, ia menegaskan bahwa pihaknya masih berdiskusi untuk mengisi struktur organisasi. “Misal seperti rektor, wakil rektor, dekan dan lainnya. Kalau rektor ada beberapa kandidat, karena waktu yang mepet, kami pilih mana yang terbaik,” paparnya.

Untuk mahasiswa baru tahun akademik 2019/2020 resmi menjadi mahasiswa Institut Teknologi & Bisnis Asia. Bahkan, para wisudawan yang lulus tahun ini juga mendapat ijazah Institut Teknologi & Bisnis Asia.

“Iya langsung, kan wisudawan baru ini ijazahnya sudah memakai yang ITB. Ini kalau menurut peraturan pemerintah yang baru,” pungkasnya.

Perlu diketahui, jumlah mahasiswa STIE Asia berjumlah 1400 mahasiswa, sedangkan STMIK Asia berjumlah 1200 mahasiswa. Untuk dosen, STIE Asia memiliki 40 dosen dan STMIK Asia memiliki 65 dosen.(Der/Aka)

Komunitas