Rektor Unikama : Mahasiswa NTT Mendapat Perlakuan Sama

Rektor Unikama Pieter Sahertian (baju coklat, berkacamata) saat ditemui awak media. (Toski D).
Rektor Unikama Pieter Sahertian (baju coklat, berkacamata) saat ditemui awak media. (Toski D).

MALANGVOICE – Rektor Universitas Kanjuruhan Malang (Unikama) Pieter Sahertian bantah tudingan adanya tebang pilih dalam memberlakukan para mahasiswa Nusa Tenggara Timur (NTT). Pasalnya, pihak Unikama tidak membeda-bedakan semua Mahasiswanya.

“Semua mahasiswa kami anggap sama, baik itu dari NTT maupun lainnya,” ucap Pieter, saat ditemui awak media beberapa waktu lalu.

Bahkan, lanjut Pieter, mahasiswa NTT di Unikama ini banyak yang menjadi Ketua dalam Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM).

“Mereka (Mahasiswa NTT, red) mayoritas menjadi ketua di UKM kampus, hanya Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) yang ketuanya dari Jawa,” jelasnya.

Menurut Pieter, pihaknya memberikan kebebasan untuk belajar dalam berpolitik yang wajar, dan diharapkan tidak memasukan politik sektarian maupun politik primordial dalam lingkungan kampus, yang itu bukan hal bagus, karena Kampus Unikama ini merupakan kampus yang multikultur.

“Kalau memang tidak bisa mewarnai multikultur, maka silahkan angkat kaki dari sini. Kampus itu seperti kawah candradimuka untuk mereka ditempa,” tegasnya.

Selain itu, tambah Pieter, dirinya juga membantah jika pihaknya telah melakukan intervensi terhadap KPU Kampus dan keberpihakan pada salah satu kontestan Pasangan calon Presma.

“Tidak ada lah seperti itu. Saya malah tidak mendengar tudingan seperti itu. Saya beri kesempatan yang sama. Kalaupun ada yang datang untuk konsultasi, saya selalu terima, saya dukung semua. Siapapun yang menang adalah mitra kami, mereka bisa menjadi kontrol bagi kampus. Kalau ada pelayanan kampus yang tak benar dan tak baik mereka yang akan jadi pengontrol,” pungkasnya.

Dalam kesempatan tersebut, pihak Unikama juga mengungkapkan permohonan maaf kepada masyarakat sekitar akan adanya situasi yang sempat mengganggu kenyamanan masyarakat.

Ke depan, pihak kampus berjanji akan membuat suasana kampus menjadi lebih kondusif dengan pembinaan yang akan terus dilakukan. (Hmz/Ulm)

BNN Kota Malang

Ini Kronologis Bentrokan Mahasiswa Unikama

Suasana di Kampus Unikama, Malang. (Toski D)
Suasana di Kampus Unikama, Malang. (Toski D)

MALANGVOICE – Puluhan Mahasiswa Universitas Kanjuruhan Malang (Unikama) terlibat tawuran. Bentrok diduga dipicu perselisihan pemilihan Presiden Mahasiswa (Presma), Sabtu (11/1).

Para mahasiswa yang terlibat dalam bentrokan ini diketahui ada dua kelompok pendukung calon terpilih nomor urut 1, pasangan Iyan dan Geran, dan pendukung calon nomor urut 3 pasangan Kenny dan Revi.

Bentrokan terjadi sekitar pukul 15.30 WIB ketika dua kubu mahasiswa yang berada di halaman kampus bersitegang dengan mahasiswa yang berada di dalam kampus. Mereka sempat saling lempar batu di depan halaman kampus.

“Kejadian ini sudah tadi siang. Pertama di dalam kampus kemudian lanjut di halaman kampus,” ucap seorang mahasiswa yang tidak mau disebutkan namanya itu.

Bentrokan ini terjadi diduga karena adanya ketidakpuasan pendukung pasangan calon nomor urut 3 atas kemenangan pasangan calon nomor urut 1 dalam pemilihan Presiden Mahasiswa (Presma) di kampus.

“Kayaknya mereka pendukung pasangan nomor urut 3 ada yang tidak terima. Karena nomor urut 1 yang memiliki suara terbanyak,” tegasnya.

Pihak kampus pun akhirnya memberikan ultimatum agar wilayah kampus sudah harus seteril pada pukul 16.00 WIB. Baik mahasiswa pendukung calon nomor urut 1 dan mahasiswa pendukung calon nomor 3.

Dari bentrokan ini, ada dua mahasiswa yang berasal dari pendukung pasangan nomor urut 1 mengalami luka ringan.

Tampak, belasan aparat keamanan polisi bersama TNI terus melakukan melakukan penjagaan di sekitaran area kampus. (Der/ulm)

BNN Kota Malang

Pemilihan Presma Unikama Berujung Bentrok Antar Mahasiswa

Suasana di Kampus Unikama, Malang. (Toski D)
Suasana di Kampus Unikama, Malang. (Toski D)

MALANGVOICE – Bentrokan mahasiswa terjadi di kampus Universitas Kanjuruhan Malang (Unikama). Penyebab tawuran ini diduga akibat pemilihan Presiden Mahasiswa (Presma), Sabtu (11/1)

“Tawuran ini karena pendukung calon yang kalah tidak mau menerima hasil pemilihan Presma yang dilakukan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kampus,” ungkap salah satu mahasiswa dari fakultas PGSD Unikama, Radi.

Menurut Radi, sebenarnya, pemilihan Presma yang di gelar pada Kamis (9/1) kemarin, dimenangkan calon no urut 1 dengan jumlah perolehan suara 678, calon nomor 2 pasangan Robby dan gofur memperoleh suara 535, sedangkan nomor urut 3 pasangan Kenny dan Revi mendapat suara 617.

“Dari jumlah tersebut sebenarnya nomor urut 1 menang telak. Mengapa calon yang kalah dalam hal ini pendukung nomor urut 3 kok tidak terima,” tegasnya.

Akibatnya, lanjut Radi, timbul kerusuhan dan tawuran antar pendukung. Apalagi, pendukung nomor urut 3 telah melakukan pemukulan ada dua mahasiswa yang merupakan pendukung presma terpilih yakni nomor urut 1.

“Kami sama pendukung dan calon nomor urut dua tidak ada masalah. Tapi pendukung nomor urut 3 ini yang telah melakukan pemukulan pada dua orang teman kami,” jelasnya.

Sebenarnya, tambah Radi, kejadian ini tidak akan terjadi jika pihak kampus tidak mengulur-ulur waktu penetapan calon terpilih tersebut. Diduga, pihak kampus melakukan intervensi terhadap KPU Kampus.

“Pihak kampus diduga telah mengulur-ulur penetapan calon terpilih tersebut. Ada apa dengan pihak yayasan? Kok seolah-olah mendukung nomor urut 3,” keluhnya.

Sementara itu, Camat Sukun Widi Eka Wirawan mengatakan, pihaknya mengimbau kepada mahasiswa, agar tidak terprovokasi dengan pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.

“Kampus merupakan sarana pendidikan, mohon di jaga, jangan terprovokasi. Dikhawatirkan dapat berdampak pada masyarakat, karena berdekatan dengan permukiman warga. Jangan sampai ada persebsi yang berbeda dari warga,” pungkasnya. (Der/ulm)

BNN Kota Malang

Gelar Kejuaraan Rektor Cup, IBU Ingin Ubah Stigma Perkuliahan

Rektor IBU, Nurcholis Sunuyeko, saat menendang bola sebagai tanda dibukanya Kejuaraan Rektor Cup. (Istimewa)
Rektor IBU, Nurcholis Sunuyeko, saat menendang bola sebagai tanda dibukanya Kejuaraan Rektor Cup. (Istimewa)

MALANGVOICE – IKIP Budi Utomo (IBU) menggelar kejuaraan yang bertajuk Rektor Cup, Sabtu (11/1).

Dalam kejuaraan tersebut akan diramaikan dengan pertandingan dari dua cabang olahraga (Cabor), yakni bola volly putri dan futsal untuk putra.

Kejuaraan yang diikuti sebanyak 14 tim, yang terdiri dari tujuh tim futsal putri dan tujuh tim futsal ini digelar di kampus C IBU Jalan Citandui, Kota Malang dan dibuka langsung oleh Rektor IBU, Nurcholis Sunuyeko.

“Dengan Kejuaraan ini, diharapkan bisa mengubah stigma dari model konvensional, ke perkuliahan milenial. Jadi tidak hanya mengisi domain intelektual semata. Tapi juga kebahagiaan. Kuliah dengan bahagia. Tidak ada tekanan,” ungkap Rektor IBU, Nurcholis Sunuyeko, saat membuka kejuaraan rutin tahunan itu.

Kejuaraan ini, lanjut Nurcholis, digelar sebelum masuk jadwal ujian, agar mahasiswa berada dalam suasana bahagia ketika menghadapi ujian.

“Kejuaraan ini kami gelar sebelum ujian semester. Dalam kejuaraan ini, melibatkan seluruh program studi yang ada di IBU,” jelas pria yang akrab disapa Yai ini.

Selain itu, tambah Yai, sesuai dengan tema Rektor Cup, yaitu ‘Menggali Potensi, Meraih Prestasi dan Merajut Solidaritas’, diharapkan mahasiswa bisa menjalin kebersamaan, karena mahasiswa di IBU ini berasal dari berbagai daerah di Indonesia.

“Dengan menjunjung sportivitas diharapkan bisa menjalin kebersamaan. Dalam pertandingan kalah menang, wajar,” pungkasnya.

Sekedar informasi, Kejuaraan Rektor Cup tersebut, akan dilaksanakan hari ini (Sabtu 11/1) hingga Minggu (12/1).

Secara simbolis, Pembukaan Rektor Cup tersebut diwarnai dengan penandatanganan bola dan penendangan bola yang dilanjutkan dengan pertandingan eksebisi antara Prodi Matematika melawan PJKR, yang dimenangkan oleh PJKR dengan skor 2-0. (Der/ulm)

BNN Kota Malang

Rektor UB: Sistem Rangking Peserta SNMPTN Diserahkan Sekolah

Rektor Universitas Brawijaya (UB), Nuhfil Hanani. (Lisdya)
Rektor Universitas Brawijaya (UB), Nuhfil Hanani. (Lisdya)

MALANGVOICE – Saat ini sekolah sedang menyiapkan diri untuk mendaftar di akun LTMPT (Lembaga Tes Masuk Perguruan Tinggi), guna Pendaftaran Mahasiswa Baru (PMB) 2020.

Namun, ada yang berbeda pada sistem PMB jalur Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN).

Rektor Universitas Brawijaya (UB), Nuhfil Hanani mengatakan jika sistem pendaftaran SNMPTN, pemeringkatan kuota siswa diserahkan langsung kepada sekolah.

“Perubahan sedikit sistem. Perankingannya di sekolah, tidak di pusat,” katanya belum lama ini.

Perlu diketahui, sistem perangkingan pada dasarnya tetap berdasarkan akreditasi sekolah dengan rincian Akreditasi A : 40 persen terbaik di sekolahnya; Akreditasi B : 25 persen terbaik di sekolahnya; Akreditasi C dan lainnya 5 persen terbaik di sekolahnya.

“Jadi misalnya dulu jatahnya 40, yang nilainya 90 ada beberapa orang, dan itu semua ikut SNMPTN dan melebihi kuota. Sehingga sekarang diminta maksimal 40, ya diranking sendiri 40 supaya tidak semuanya ikut, bisa membludak,” terangnya.

Selama ini memang perangkingan siswa menjadi kapasitas LTMPT. Sddangkang PMB 2020 sepenuhnya diberikan kepada sekolah.

“Ini dilakukan untuk menghindari rangking dobel yang sering terjadi dan menjadi celah kecurangan,” tandasnya.

Dari informasi yang dihimpun MVoice, pelaksanaan SNMPTN dilakukan satu pintu melalui LTMPT. Lembaga tersebut diberi mandat oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) untuk menyelenggarakan SNMPTN pada 11-25 Februari 2020, pendaftaran Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) pada 30 Maret-11 April 2020, dan pendaftaran Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi (SBMPTN) pada 2-13 Juni 2020. (Der/ulm)

BNN Kota Malang

Mahfud MD: Perguruan Tinggi Wajib Cetak Sarjana Sujana

Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Mahfud MD saat memberi orasi ilmiah di UB. (Lisdya)
Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Mahfud MD saat memberi orasi ilmiah di UB. (Lisdya)

MALANGVOICE – Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Mahfud MD mengatakan, perguruan tinggi seharusnya mencetak sarjana baik S1, S2, S3 dan seterusnya yang sujana, yakni dalam artian cendikiawan, bijaksana maupun pandai.

Sebab, dalam orasi ilmihanya yang bertajuk “Tanggung Jawab Konstitusional Perguruan Tinggi dalam Pembangunan Bangsa dan Negara” pada Dies Natalis Ke-57 Universitas Brawijaya di Kota Malang, Jawa Timur, Minggu (5/1), ia menyebut banyak para sarjana di Indonesia yang masih terbilang belum sujana.

“Sulit memang perguruan tinggi dalam hal ini untuk membentuk sarjana menjadi sujana. Banyak lulusan yang pengangguran, bahkan ada pula yang menjadi narapidana,” katanya.

Seperti di Lapas Sukamiskin, ia menyebut banyak narapidana di sana yang justru malah para sarjana. “Ini sangat disayangkan sekali,” tegasnya.

Untuk itu, peran perguruan tinggi harus mencetak kader bangsa yang intelek atau cendekia yang bisa menjaga ideologi negara dengan segala konstitusinya agar eksistensi bangsa dan negara terjaga dengan baik.

“Kesadaran kolektif itu sangat penting, apabila kita gagal untuk mengatasi masalah-masalah dekadensi moral melalui perguruan tinggi, maka yang terancam adalah eksistensi bangsa dan negara. Oleh sebab sebab itu perguruan tinggi harus menjadi kawah candradimuka pencetak kader bangsa yang menjadi penjaga dan penyebar nasionalisme,” bebernya.

Lebih lanjut, ia mengatakan upaya mencetak kader bangsa yang berbasis nasionalisme harus diarahkan untuk menjaga geopolitik Indonesia atau wawasan nusantara. Dari geopolitik itu ada dua dimensi: fisik dan non fisik.

“Yang fisik adalah geografi dan demografi, yang nonfisik adalah ideologi dan konstitusi,” ternagnya.

Sementara itu, Rektor Universitas Brawijaya, Nuhfil Hanani mengatakan, guna mencetak sarjana sujana, salah satu upaya kampusnya, yakni telah menyisipkan materi-materi anti korupsi di MKU (Mata Kuliah Umum).

“Jadi, nggak masuk kurikulum tapi disisipkan di MKU, seperti mata kuliah Pancasila dan Agama,” pungkas Nuhfil.(Der/Aka)

BNN Kota Malang

Minimalisir Kebakaran, Mahasiswa Teknik Informatika UMM Ciptakan Integrated Forest Fire Management Sistem

istimewa.
istimewa.

MALANGVOICE – Pada tahun kemarin, hutan di Indonesia mengalami kebakaran dan kabut asap menyebabkan dampak ekonomi negatif yang signifikan. Padahal, Indonesia menjadi penyumbang terbesar kadar oksigen dunia yang kemudian sering disebut menjadi paru-paru dunia.

Dengan demikian mahasiswa Program Studi Teknik Informatika UMM membuat sistem pintar atau teknologi yang bernama Integrated Forest Fire Management Sistem, alat yang memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) untuk mendeteksi kebakaran hutan.

“Jadi, alat ini memanfaatkan sensor LM35 dan sensor Flame menggunakan Artificial Intelligence sebagai pemroses data,” ujar Ketua Kelompok, Billy Aprilio.

Inovasi yang dibimbing dosen Fakultas Teknik, Nur Hayatin ini digadang mampu mengurangi perluasan dampak kebakaran.

Ia menjelaskan, jika terjadi kebakaran, maka sensor akan mendeteksi secara otomatis. Selanjutnya, sistem akan memberikan perintah untuk memompa air untuk disemprotkan ke titik terjadinya kebakaran.

“Air didapatkan dari pembuatan penampungan air embun alami dengan menggunakan pemanen embun menggunakan jaring atau fog harvesting,” bebernya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan alat ini menyemprotkan air pada periode waktu tertentu yang kemudian akan dilakukan pengecekan ulang terhadap suhu sekitar. Jika dinilai masih terdeteksi suhu tinggi, maka penyemprot akan diaktifkan kembali.

Hanya saja, apabila sensor mendeteksi kebakaran hutan tingkat tinggi, maka sistem secara otomatis akan mengirimkan sinyal tempat kebakaran pada komputer pusat.

“Nah, dengan ini tidak akan terjadi kebakaran yang jauh lebih besar,” singkatnya.

Langkah selanjutnya, hasil dari Fog Harvesting tersebut akan disalurkan ke tangki air (water tank) sebagai tempat penampungan. Kemudian untuk power supplay, mahasiswa ini menggunakan panel surya untuk memanfaatkan sinar matahari sebagai sumber daya utama yang diaplikasikan pada pompa penyemprot air.

“Alat ini diharapkan akan meminimalisirkan terjadinya kebakaran hutan besar di Indonesia,” tandasnya. (Der/Ulm)

BNN Kota Malang

”Blue Bridge Polinema” Bentuk Kepedulian pada Masyarakat

Pembantu Direktur III, Anggit Murdani saat mengecek peresmian ”Blue Bridge Polinema”. (Lisdya)
Pembantu Direktur III, Anggit Murdani saat mengecek peresmian ”Blue Bridge Polinema”. (Lisdya)

MALANGVOICE – Dalam bentuk kepedulian Politeknik Negeri Malang (Polinema) kepada masyarakat, kampus vokasi ini merenovasi jembatan penghubung di Jalan Terusan Kembang Turi yang sebelumnya kondisinya sudah rapuh.

“Karena jembatan sudah rapuh dan goyang-goyang, akhirnya kami renovasi, karena ini juga bentuk kepedulian kami dalam kontribusi yang baik untuk masyarakat sekitar,” ujar Pembantu Direktur III, Anggit Murdani.

Pengerjaan jembatan ”Blue Bridge Polinema” ini dimulai dari 10 November 2019 hingga 29 Desember 2019.

“Kami memaksimalkan apa yang kami miliki SDM (Sumber Daya Manusia), kemudian kami punya pakar-pakar jembatan. Kami maksimalkan sehingga jembatan bisa difungsikan kembali,” ujar Anggit.

Sementara itu, koordinator kegiatan renovasi jembatan, Burhamtoro mengatakan jika jembatan dengan panjang 20 meter dan lebar 2,4 meter ini direnovasi pakar-pakar jembatan Polinema bersama mahasiswa hingga sangat kuat untuk dilalui pejalan kaki dan pengendara sepeda motor.

Ia juga menyebut jika jembatan yang telah direnovasi ini bakal memiliki kekuatan lebih dari 25 tahun.

“Untuk renovasi kami tidak merubah sepenuhnya. Karena jembatan ini dibuat saat AMD (ABRI Masuk Desa) sekitar 30 tahun lalu. Saat ini kami lakukan perbaikan dengan membongkar semua. Kontruksinyan kita buat komposit. Jadi geragar kami hubungkan dengan plat baja. Kemudian di atasnya dipasang sel konektor, kemudian dipasang tulangan wiremesh. Bagian atas dan bawah ada tulangan, baru dicor setebal 25 cm, kemudian dilakukan pengaspalan,” bebernya.

Lebih lanjut, ia menyatakan jika renovasi yang menghabiskan dana sekitar Rp 100 juta ini juga harus dilakukan perawatan.

Saat peresmian yang dilaksanakan Minggu (29/12) kemarin, Ketua RW 04 Jatimulyo, Hadi Santoso mengatakan pihaknya sangat berterimakasih dan mengapresiasi kepada Polinema.

“Saya sebagai ketua RW mengucapkan terimakasih sebanyak-banyaknya kepada Polinema. Karena jembatan ini sangat dibutuhkan masyarakat untuk jalan trobosan, khusunya pengendara motor roda dua. Karena kalau jembatan Ini ditutup maka memutarnya akan jauh sekali. Jadi dengan adanya pembangunan ini semoga kedepannya akan memperlancar lingkungan RW 04 dan Polinema,” tandas Hadi. (Hmz/Ulm)

BNN Kota Malang

Meneliti UU Yayasan, Advokat Ini Raih Predikat Sangat Memuaskan

Kasiani SH MH meraih gelar doktor usai disertasi meneliti UU Yayasan di UB. (istimewa)
Kasiani SH MH meraih gelar doktor usai disertasi meneliti UU Yayasan di UB. (istimewa)

MALANGVOICE – Penggabungan merupakan perbuatan hukum bergabungnya yayasan penggabung kepada yayasan penerima penggabungan dan berakibat hukum pada bubarnya yayasan penggabung. Hal itu dikatakan Kasiani SH MH dalam ujian terbuka program doktor di Gedung A lantai 6 Fakultas Hukum Universitas Brawijaya Malang, Rabu (18/12).

Dalam disertasi ini, kata dia, ada tiga pembahasan atau pertanyaan penting yang perlu diteliti dalam permasalahan penggabungan yayasan perguruan tinggi.

Pembahasan pertama, dijelaskan makna penggabungan bagi yayasan yang bergerak di bidang Perguruan Tinggi. Kedua, apa ratio legis pasal 60 ayat (1) UU RI No. 28 Tahun 2004 Tentang Perubahan Atas UU RI Nomor 16 Tahun 2001 Tentang Yayasan yang mengatur penggabungan dan korelasinya dengan yayasan yang menyelenggarakan perguruan tinggi.

Terakhir soal bagaimanakah rekonsepsi pengaturan penggabungan yayasan pasal 60 ayat (1) UU Yayasan dan kaitannya dengan Perguruan Tinggi dimana penelitian tersebut dianalisis dengan teori badan hukum, teori keadilan, teori perlindungan hukum dan teori perundang – undangan.

Penelitian ini, menurutnya, merupakan jenis penelitian ilmu hukum, dengan metode penelitian yang digunakan preskriptif analitis, dengan pendekatan perundang – undangan, konsep dan historis. “Bahan hukum penelitian terdiri dari bahan hukum primer dan sekunder dan tersier,” katanya.

Hasilnya, kata Kasiani yang juga seorang advokat ini mengatakan, pertama, penggabungan yayasan memiliki makna terserapnya yayasan kurang penting, yakni yayasan penggabung kedalam yayasan yang lebih penting yaitu, yayasan penerima.

“Hal itu ditandai bubarnya yayasan penggabung dan beralihnya aset kepada yayasan penerima penggabungan untuk diurus dengan lebih baik sehingga assetnya dapat terus memberi manfaat mensejahterakan masyarakat,” jelasnya.

Dalam Penggabungan Yayasan Perguruan Tinggi, akan tumbuh sinergi baru, yakni mewujudkan pendidikan tinggi bermutu bagi penggabung, serta kedepannya memberi manfaat bagi masyarakat luas.

Kedua, ratio legis Pasal 60 (1) untuk memberi kepastian hukum yang berkeadilan bagi masyarakat yang terkait dengan badan usaha yayasan, bahwa penggabungan dengan ditandai peralihan aset yayasan tersebut dapat dipastikan diurus dan dikelola yayasan penerima penggabungan memiliki kredibilitas yang dapat dipercaya untuk menjadi lebih produktif, sehingga aset yayasan terus memberikan kemanfaatan dan tidak merugikan masyarakat.

Masih kata Kasiani, bahwa dalam penggabungan paling prinsip adalah peralihan aset, dengan demikian penggabungan yayasan selalu diikuti.

Korelasinya bagi yayasan yang bergerak di bidang pendidikan tinggi, memberikan kepastian hukum bahwa penggabungan yayasan pendidikan tinggi bertujuan memberikan penyelenggaraan pendidikan tinggi yang lebih bermutu bagi penggabung.

Ketiga, rekonsepsi pengaturan penggabungan yang bergerak di bidang pendidikan tinggi didasarkan pada nilai-nilai filantropi, prinsip akuntabilitas dan keterbukaan kepada masyarakat. Nilai filantropi untuk menyelamatkan mahasiswa, prinsip akuntabilitas penggabungan dilakukan dengan cara yang benar yaitu kredibilitas yayasan penerima penggabungan dapat dipercaya mengatasi permasalahan yayasan penggabung.

“Prinsip keterbukaan bahwa penggabungan dilaksanakan secara terbuka kepada sivitas akademika dan masyarakat luas dengan mengumumkan terlebih dahulu (pra penggabungan),” pungkasnya.

Atas disertasi ini, Kasiani pun dinyatakan lulus dengan kategori cumlaude.(Der/Aka)

BNN Kota Malang

Komisi D DPRD Kota Malang Pastikan PPDB Tahun Ajaran 2020/2021 Tak Ada Kendala

Ketua Komisi D DPRD Kota Malang, Achmad Wanedi beserta Kepala Dinas Pendidikan Kota Malang, Zubaidah. (Lisdya)
Ketua Komisi D DPRD Kota Malang, Achmad Wanedi beserta Kepala Dinas Pendidikan Kota Malang, Zubaidah. (Lisdya)

MALANGVOICE – Ketua Komisi D DPRD Kota Malang, Achmad Wanedi menyatakan jika sistem zonasi dalam Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) pada tahun ajaran baru mendatang dipastikan tidak ada lagi kendala.

Hal ini dikarenakan pada tahun ajaran 2019/2020, Kota Malang yang notabene kota pendidikan mengalami beberapa kendala. Seperti persoalan warga yang menuntut agar putra-putrinya dapat menempuh pendidikan di sekolah negeri. Sebab, mereka menilai kebijakan zonasi tahun ini tidak akurat.

“Kami sudah hearing dengan Dinas Pendidikan, bahwa sebenarnya lulusan SD Insya Allah semua tertampung di SMP yang ada di Kota Malang. Kami pastikan tahun depan tidak ada lagi kendala,” ujarnya saat ditemui di sela acara HUT ke-74 PGRI di Graha Cakrawala Universitas Negeri Malang (UM), Senin (16/12).

Selain jalur zonasi, kuota jalur prestasi pada PPDB 2020, dikatakannya bakal ditambah. Ia pun memastikan, dengan demikian persoalan PPDB tidak akan ada kendala.

“Kami akan mengawal. Dan ada informasi bahwa zonasi akan ditambah, terutama untuk yang berprestasi. Insya Allah kami clear-kan ke depan, tidak ada masalah seperti tahun 2019. Untuk 2020 Insya Allah lebih baik lagi,” beber Wanedi.

Senada dengan Wanedi, anggota Komisi D DPRD Kota Malang H Rokhmad menyampaikan jika kendala pada penerapan zonasi tahun lalu adalah hal yang wajar.

“Kota Malang ini menjadi percontohan PPDB. Sehingga kalau pas pertama kali ada kekurangan wajar. Tapi PPDB nanti akan kami atur dengan baik,” tandasnya. (Hmz/Ulm)

BNN Kota Malang