Minum Air Kloset agar Lekas Sehat

Ilustrasi. (Anja Arowana)

Oleh Surya Gemilang*

“Sebaiknya Anda minum air kloset agar lekas sehat,” balas dokter itu setelah kuucapkan keluhanku. Sinting bukan main, kan?!

Barangkali Sijit, teman baikku, tidak kalah sintingnya karena telah merekomendasikanku untuk pergi ke dokter sinting itu.

“Kau sialan, Jit!” hardikku melalui ponsel sepulangnya aku dari tempat praktik si Dokter Sinting. “Kau bilang dokter itu dapat diandalkan! Rupa-rupanya dokter itu sinting!”

“Lho? Sinting bagaimana?” tanya Sijit.

“Masa aku disuruh minum air kloset agar lekas sehat?!”

“Kalau memang begitu suruhannya, ikuti saja.”

“Ikuti saja?! Kau sinting sebagaimana dokter itu, ya?!

“Dengarkan aku baik-baik, Babah.” Sijit berhenti sebentar. “Waktu salah seorang saudaraku sakit gede, tak ada seorang dokter pun yang bisa menangani penyakitnya, kecuali dokter yang kau anggap sinting itu. Kau tahu dia menyuruh saudaraku minum apa? Dia menyuruhnya untuk minum kopi campur telur mentah! Dan, saudaraku langsung sembuh begitu menuruti suruhan dokter itu!”

“Itu, kan, hanya kopi campur telur mentah, Jit! Bukan a-i-r k-l-o-s-e-t!”

***

Rasa sakit yang ganjil itu hinggap di perutku sejak sebulan yang lalu. Semula, kupikir aku maag. Maka, kuminumlah obat maag, tapi rasa sakit di perutku tak kunjung membaik. Hari demi hari, sejak rasa sakit itu muncul, perutku terus membesar—sedikit demi sedikit saja, sehingga tak langsung kusadari hal itu. Kala rasa sakit di perutku semakin mengganggu, aku memutuskan untuk tidak ngantor sampai rasa sakit itu lenyap—entah kapan. (Toh, meski tak bekerja, uang tetap menghujani rekeningku.)

Sebelum mendatangi si Dokter Sinting, tak kurang dari sepuluh orang Dokter Normal yang telah kudatangi, dan mereka semua tidak tahu penyakit macam apa yang hinggap di perutku. Sempat aku berpikir bahwa aku disantet. Tapi, bukankah tukang santet dan semacamnya sudah pada punah di tahun 2040 ini?

***

Pagi ini—sehari setelah kudatangi si Dokter Sinting—begitu membuka mata, kudapati perutku sudah sebesar perut seorang wanita yang kandungannya berusia delapan bulan! Padahal, kemarin, ukuran perutku masih sekitar setengah dari ukuran perutku yang sekarang. Otomatis, baju-bajuku jadi pada tidak muat, sehingga aku mesti telanjang dari pinggang ke atas. Langkahku pun terasa berat. Perutku semakin sakit.

Masa, sih, aku mesti minum air kloset?! pikirku.

***

Entah kenapa kekasihku, Babah, tak bisa dihubungi pagi ini. Oleh karena itulah aku memutuskan untuk pergi ke rumahnya. Di depan gerbang rumah mewah tempatnya tinggal, aku bertemu dengan Sijit. “Kekasihmu tak bisa kuhubungi, dan itu membuatku khawatir,” jawab Sijit ketika kutanyai maksud kehadirannya kemari.

Kami pun masuk ke rumah Babah—pembantunya yang sudah pantas disebut “nenek” itu yang membukakan pintu—dan terbelalak begitu sampai di kamarnya.

“Ya ampun, Babah!” pekikku dan Sijit bersamaan.

Kekasihku tergeletak lemas di kasur, tanpa memakai baju. Wajahnya pucat, sepucat mayat—tapi ia masih hidup—dan perutnya … Ya ampun!

“Kenapa kau tidak berinisiatif untuk mencarikan dokter buat majikanmu?” ucapku pada si Pembantu yang sudah tua, setengah membentak.

Si Pembantu tertunduk. “Maunya, sih, begitu, Nona. Tapi Tuan Babah melarang saya.”

“Aku sudah bosan bertemu dengan dokter!” sambung Babah, suaranya parau. “Mereka semua tidak berguna!”

Sijit berdeham. “Apa kau sudah minum air kloset?”

(Aku sudah dengar soal “minum air kloset” itu dari Babah kemarin, via video call.)

“Bah! Kau jangan sinting, Jit! Pasti ada solusi yang lebih baik untuk menyembuhkan penyakitku ini!”

Heninglah beberapa jenak.

Si Pembantu memberi isyarat minta diri, dan Babah mengangguk, lantas pergi dari kamar ini.

Sijit tiba-tiba tampak menahan tawa. “Barangkali, perutmu itu terus membesar secara ganjil karena rekeningmu terus menggendut secara sama ganjilnya!” Tawa Sijit lantas pecah. “Makanya, jangan kaucurangi bosmu sendiri!”

Babah mengerang sebelum berkata, “Sialan betul kau! Mentang-mentang kini aku kesakitan, dan rasanya hampir mati, kau malah mengingatkanku akan dosa-dosaku sendiri!”

Sijit tergelak lagi, kemudian berkata kepadaku, “Nah! Benar, kan, apa kataku? Kekasihmu ini kotor!”

“Aku tidak peduli pada kotor-bersih dirinya,” balasku, dengan wajah memerah.

Sijit mendecak-decakkan lidah. “Wah … wah … Cinta dan uang sama-sama bisa bikin bodoh.”

“Mending kau pergi saja, Jit!” hardikku.

Wajah teman baik kekasihku itu sontak masam. Ia lalu berlalu dari kamar ini, tanpa kata-kata, sehingga tersisalah aku dan Babah.

“Biarlah dia pergi,” kata Babah lirih. “Kita tak memerlukannya.”

Tak terlalu lama kemudian, Sijit kembali ke kamar ini dengan segelas air di tangannya. Aku langsung tahu air apa itu sebab aromanya yang rada-rada tengik tercium jelas di hidungku.

“Kau mau meminumkan air kloset kepadanya?!” kataku.

“Jangan gila, Sijit!” Babah memekik parau. “Kau tidak boleh meminumkanku air kloset!”

Dengan gerakan cepat, aku pun merebut gelas itu dari tangan Sijit. Dan Sijit merebut gelas itu dari tanganku. Dan aku merebut gelas itu dari tangan Sijit. Dan Sijit … Selagi kami saling memperebutkan gelas tersebut, kulihat Babah bangkit perlahan-lahan, dengan susah sungguh, lantas meninju rahang Sijit dari samping dengan teramat keras hingga teman baiknya itu pingsan.

***

Mattali

Oleh: Zainul Muttaqin*

Belum genap satu tahun ketika Mattali angkat kaki setelah ribut besar dan istrinya berkata lantang sampai gendang telinga laki-laki paruh baya itu hampir pecah, “Tak Lake Ongghu Bekna Kak[1]. Ceraikan saja aku!” Bagai dirobek harga diri Mattali mendengar istrinya berkata, tinggi suaranya, tepat di depan wajahnya.
Bulan sepenuhnya tenggelam ke dalam pelukan awan. Wajah Mattali menegang. Kerut-kerut di dahinya membentuk garis meliuk-liuk, seperti terombang-ambing. Laki-laki itu mengambil napas dalam-dalam. Tirai jendela disibak oleh tiupan angin. Mattali menelan ludah berkali-kali.

“Apa tidak ada cara lain selain bercerai?” Mattali menekan suaranya.

“Tidak!” Istrinya memandang wajah Mattali. Laki-laki itu mengatur laju napasnya. Dipandanginya wajah istrinya, tampak berharap cepat-cepat Mattali menghilang dari pandangannya.

Belum sempat Mattali mengucap cerai, istrinya berujar, mendahului Mattali, “Kita bisa rujuk setelah kau benar-benar lake[2].” Binar-binar di mata Mattali terpancar selepas istrinya berkata seperti itu. Pelan-pelan ia mulai mengulas senyum.

Jarum jam berhenti tepat di angka dua belas dini hari. Dengan gemetar, terbata-bata, Mattali berujar, “Aku ceraikan kau,” berderai air mata laki-laki paruh baya itu. Markoya menggeleng kepala. Markoya menutup pintu kamar dan membiarkan Mattali berdiri di ruang tamu dengan perasaan tercabik-cabik. Mattali mencangkuli dirinya sendiri.

Duduk di kursi berwarna biru tua, dengan cat yang mulai mengelupas karena usia. Mattali berpikir sesaat. Dia mencari jalan keluar atas persoalan rumit yang tengah menimpanya. Sudah tidak tahu berapa batang rokok yang ia isap. Dengkur Markoya dari dalam kamar mengusik pikirannya, ingin ia seranjang lagi, tapi buru-buru Mattali mengucap istighfar .

Detak jarum jam bergeser begitu lambat dirasakan Mattali. Laki-laki itu mengelus dada. Saat asap rokoknya lenyap, Mattali menampari pipi dan kaki. Nyamuk hutan dari belakang rumah ternyata berusaha menghisap darah laki-laki kekar itu sejak tadi. Puntung rokok di dalam asbak bergelimpangan.

Bangun pagi-pagi sekali Markoya sudah tidak melihat Mattali di ruang tamu, di kursi lapuk itu. Bau keringat Mattali juga tak tercium. Markoya berjalan ke halaman depan rumahnya, menarik napas dalam-dalam, melegakan dada ringkihnya yang semakin menyempit. Kicau burung di atas pohon tarebung[3] mengingatkannya pada Mattali.

Sampai perceraian itu terjadi belum sanggup Mattali memetik bunga indah yang tumbuh di pangkal paha Markoya. Laki-laki itu menjadi tak lake menghadapi istrinya yang bersedia bunga mekar di selangkangannya dipetik oleh Mattali. Berkali-kali Mattali berusaha, berkali-kali pula kesia-siaan itu terjadi pada dirinya. Itulah yang mendasari Markoya minta dicerai kepada Mattali.

Sekalipun Mattali tidak menceritakan perihal rumah tangganya yang tercerai-berai, tapi warga Tang-Batang sudah bisa mengendusnya. Orang-orang memang berusaha mengetahui, maksud Mattali berada di rumah ibunya, sepanjang waktu, sejak satu minggu lalu. Melintas pikiran curiga, tepatnya bertanya-tanya, apa penyebab Mattali menceraikan Markoya, kembang desa yang dulu diperebutkan semua laki-laki?

Berderet ikan-ikan dijemur di halaman. Amis menyeruak. Perempuan-perempuan itu duduk memanjang dengan rambut terlepas digerai sebahu, mereka bergunjing sembari menisik kutu. Diam-diam mereka mencuri pandang pada Mattali. Laki-laki itu duduk di beranda rumah, menghisap batang rokoknya, dengan secangkir kopi di atas meja.

“Karena Mattali tak lake ” kata perempuan gempal setelah sebelumnya melirik ke arah Mattali.

“Jadi gara-gara itu Mattali cerai dengan Markoya.”

“Gara-gara apa lagi kalau bukan itu.”

“Mestinya Mattali sudah siap jamu sebelum menikah. Kalau seperti ini kan malu.”

“Malu sama siapa?”

“Malu sama semua orang.”

“Untung suamiku lake.”

“Ya jelas suamimu lake lah, anakmu sudah tiga. Apalagi aku.” Kelakar tawa meledak di halaman. Mattali menoleh, melihat pada perempuan-perempun itu.

Mendadak degup jantung Mattali melaju lebih cepat. Ia merasa perempuan-perempuan itu tengah mengunjingkan dirinya. Sempat ia bersitatap dengan salah satu perempuan itu, tersenyum mengejek, merendahkan. Gegas Mattali masuk ke dalam. Terlampau sakit hati Mattali. Laki-laki paruh baya itu mengambil napas dalam-dalam, kemudian bersama napas yang ia lepas, tangannya memukul meja hingga cangkir kopi di atasnya bergelinding ke lantai, pecah.

Ingin dimakinya perempuan-perempuan di taneyan lanjang[4] itu. Mendidih darah Mattali. Laki-laki itu meludah, membuang rasa kesal terhadap perempuan-perempuan itu. Ia berdiri di ambang pintu, berpikir ulang, menimbang-nimbang, apa melabrak perempuan-perempuan itu akan menyelesaikan persoalan? Lagi pula, ia tahu, perempuan-perempuan di Tang-Batang gemar berguncing, atau memang demikian perempuan kebanyakan.

Khawatir malah akan dipermalukan di taneyan lanjang itu oleh perempuan-perempuan yang duduk memanjang, menisik rambut, disertai berbagai ragam gunjingan. Mattali mengurungkan niat. Menutup pintu rumahnya kembali. Ia mengatur alur laju napasnya. Asap rokok menyumbat tenggorokannya.

Mattali baru ingat, ternyata Markoya pernah bilang, “kita akan rujuk kalau kamu sudah lake´ ingatan itu mampir dalam tempurung kepalanya tepat ketika laki-laki paruh baya itu berusaha meredam amarah. Dan perempuan-perempuan itu sudah lenyap di taneyan lanjang. Mattali memandang penuh selidik, takut mendadak muncul perempuan-perempuan itu di hadapannya. Bergegas ia melewati taneyan lanjang, tempat perempuan-perempuan itu semula menisik kutu.

Dalam remang sore hari, lepas maghrib Mattali melangkah begitu lekas, melewati gang-gang rumah yang sempit. Ia terus melangkah untuk segera sampai di rumah Matrah, tukang pijat di desa sebelah, juga seorang dukun yang sering dimintai tolong bila berususan dengan kelelakian. Keringat membasuh tubuhnya.

Mattali kian mempercepat langkahnya. Tak menjawab apalagi sekadar menoleh ketika seseorang menyapanya dari teras rumah. “Tak biasanya Mattali acuh seperti itu,” bisik lelaki di teras rumah itu. “Paling-paling karena orang-orang bilang tak lake ia jadi begitu Kak,” sambung istrinya. Pasangan suami-istri itu saling tatap, kemudian secara bersamaan mengangkat kedua bahunya.

Setelah susah payah berjalan kaki, Mattali tiba di halaman rumah Matrah, lelaki yang dikenal bisa mengatasi segala persoalan kelelakian. Seorang lelaki tua, rambutnya hampir putih seluruhnya, memegang tongkat di tangan sebelah kanan berdiri di depan kobhung[5] tempat Matrah biasa menerima tamu-tamunya. Lampu teplok meliuk-liuk, bertahan dari tiupan angin.

“Kamu mau pijat?” Matrah mengajukan pertanyaan. Ia mengambil minyak urut yang diselipkan di tiang kobhung.

“Tidak Ke[6]” Mattali mengulas senyum, disertai gelengan kepala.

“Lalu?” Laki-laki tua itu memburu jawaban dari Mattali.

“Saya tak lake. Beri saya jalan keluar. Karena ini, saya sampai cerai dengan Markoya.” Mendengar penjelasan itu, Matrah mengangguk-anggukan kepala. Matrah keluar sebentar dari dalam kobhung dan kembali dengan membawa beberapa butir telur dalam genggaman tangannya. Mattali mengernyitkan kening, seolah ingin bertanya, apa maksudnya?

“Saya yakin kamu belum jamu telur ini sebelum menikah,” Matrah menunjukkan tiga butir telur kampung ke hadapan Mattali. Laki-laki setengah baya itu menggeleng.

“Dengan telur kampung ini. Insya Allah kamu akan lake.”

“Kenapa tiga butir Ke?” Mattali mengambil telur itu dari genggaman Matrah.

“Saya tidak tahu pasti soal itu. Yang jelas harus berjumlah ganjil. Barangkali karena Tuhan suka yang ganjil-ganjil.”

“Apa ada campuran lain selain telur ini Ke?” Mattali tidak sabar ingin membuktikan khasiat telur ayam kampung. Laki-laki itu menyesal, kenapa dulu, sebelum menikah ia tak bertanya perihal ini. Mana mungkin Mattali sempat bertanya tentang apa-apa yang perlu dipersiapkan sebelum menikah. Pernikahannya dengan Markoya terjadi secara mendadak, berlangsung cepat begitu saja, tanpa persiapan.

“Nanti saya beri tahu,” Mattali mengangguk. Beberapa menit kemudian, Matrah berbisik di telinga Mattali, mengatakan telur ayam yang digunakan untuk jamu adalah telur ayam kampung dan dengan jumlah ganjil juga dicampur bahan-bahan lain. Mattali membayangkan wajah Markoya, ia yakin Markoya akan terpuaskan di atas ranjang.
“Karena telur kampung itu, anak saya dua belas. Sekarang ini, saya juga punya cucu belasan.” Tawa Matrah meledak disusul derai tawa Mattali.

Tiga minggu setelah Mattali minum jamu dicampur telur tiga butir, sebagaimana anjuran Ke Matrah, birahi laki-laki itu meronta-ronta, minta digesek batang kemaluannya. “Saya sudah lake.” Gumam Mattali dengan binar-binar kebanggaan di matanya. Tanpa pikir panjang, ia berkunjung ke rumah Markoyah, berniat rujuk, siap membuktikan khasiat tiga butir telur pada perempuan cantik, rebutan lelaki kampung itu.

Mattali berdiri dengan mulut ternganga, wajahnya berubah seperti selembar kain kafan, begitu melihat Markoya digandeng laki-laki keluar dari dalam rumah. Matanya terpaku pada laki-laki yang mengalungkan tangan pada bahu Markoya. Berusaha meredam golak di dadanya, Mattali menelan ludah.

“Saya sudah menikah, kita tak bisa rujuk. Dia benar-benar lake tidak sepertimu!” kata Markoya sembari tersenyum memandang laki-laki di sampingnya, suaminya itu.

“Siapa dia?” Mattali menekan suaranya.

“Dia anak Ke Matrah. Dua hari lalu kami menikah.” Jantung Mattali terasa akan lepas dari tangkainya begitu Markoya menyebut nama Matrah. Huh! Gigi Mattali bergemerutuk. Ia melenggang pulang membawa kesedihan. Terus bergegas lekas langkah Mattali, dan ia seolah begitu berhasrat mencincang tubuh Matrah, lelaki tua yang baru saja mengajarinya cara meramu butir telur ganjil agar menjadi lake.

Pulau Garam, 2017

Catatan:
[1] Tak Lake Ongghu Bekna Kak : sungguh tidak jantan kamu Mas (ucapan ini dimaksudkan kepada lelaki yang tidak dapat memuaskan istrinya di ranjang).
[2] Lake: jantan, merujuk pada kelelakian, juga bisa dimaknai laki-laki.
[3] Tarebung: pohon siwalan
[4] Taneyan lanjang : halaman panjang
[5] Kobhung : berbentuk bangunan berkolong dengan kontruksi kayu jati, atap emperan di depannya terdapat lantai kolong yang lebih rendah dari lantai utamanya, dindingnya terbuat dari anyaman bambu. Hampir semua bangunan di Madura memiliki kobhung. Letaknya rata-rata di sebelah barat. Kobhung berfungsi sebagai tempat peristirahatan, berkumpulnya kerluarga dan kerabat, juga sebagai tempat menerima tamu dan beribadah keluarga. Kobhung ini juga sebagai tempat pewaris nilai-nilai tradisi luhur masyarakat Madura.
[6] Ke: kakek

*)Zainul Muttaqin Lahir di Garincang, Batang-batang Laok. Batang-Batang, Sumenep Madura 18 November 1991. Menyelesaikan studi Tadris Bahasa Inggris di STAIN Pamekasan. Cerpen dan Puisinya dimuat pelbagai media nasional dan lokal.

Perempuan – perempuan

Ilustrasi. (Anja Arowana)

Oleh: Kartika Demia

Ketika Alene van Nijenroode berdiri di pucuk jendela dengan cucuran air mata, Gritje mencoba meraih tangannya, mengajaknya kembali. Gadis bergaun silk duchess sewarna gading itu putus asa, jemari kakinya gemetar berdiri melawan angin dari lantai tiga. Bagai menginjak pucuk duri yang bisa runtuh kapan saja.

“Kumohon, jangan melompat. Kau harus memikirkan anakmu,” Gritje memandang perut Alene yang membulat sempurna. Dari balik bahu-bahu yang mengerumuni ruangan itu, di barisan belakang tampak seorang perempuan mengelus perut yang sama besarnya, matanya buram oleh selaput air mata yang membayang.

“Karena anak inilah aku ingin mati!” Teriakan Alene itu mampu membuat Gritje mundur selangkah, membuat wanita paruh baya itu diam. Para perempuan yang mengerumuninya, memanggil-manggil namanya untuk segera kembali kepada mereka. Bibir Alene bergetar, “Lebih baik aku mati daripada melahirkan anak dari keparat itu!”

Sedetik setelah gadis itu berteriak, sebuah letusan terdengar. Para perempuan itu sadar bahwa sebuah peluru tiba-tiba menembus kepala Alene. Serta merta tubuhnya jatuh dan terhempas ke tanah. Dari bawah sana, berdiri angkuh Mayor Sabarudin dengan senapannya, “Siapa lagi yang mau mati?”

***

Sebelumnya gedung itu adalah villa bupati Belanda, terletak di dataran tinggi Tretes dengan pemandangan seluruh penjuru Kota Mojokerto yang dapat terlihat dari sana. Saat Sabarudin menjabat sebagai Kompol Tentara Keamanan Rakyat tentu punya wewenang untuk menghabisi keluarga si bupati. Lelaki keturunan Aceh itu menyulapnya menjadi wisma bagi harem-haremnya. Pada ruangan berkorden kain brokat, cat putih menyaput seluruh dinding, dengan beberapa jongos pribumi dan tentu saja pasukan Sabarudin selalu siaga menjaga tempat itu agar tak ada yang dapat keluar barang sejengkal pun.

Malam itu tentu saja lebih kelam dari sebelum-sebelumnya. Para none Belanda masih berkabung. Gritje menyulam mantel dari benang wol warna merah, di sisinya gadis cilik berumur dua belas tahun duduk khusyuk memandangnya bekerja. “Apakah kau masih takut?” sang ibu bertanya.

Gadis itu tak menjawab, lekas Gritje meraihnya. “Lihat, Ibu membuatkan mantel untukmu.” Senyum wanita itu mengembang meyakinkan anaknya bahwa semua akan baik-baik saja.

Saat itu seorang perempuan dengan rambut sewarna tembaga langsung berdiri, “Kalian masih bisa tersenyum?” mata perempuan itu menyala-nyala. “Setelah kematian Alene, dan kau bilang semua akan baik-baik saja?!”

“Marien, aku mohon …”

“Cukup Gritje! Aku sudah muak.”

Ada emosi yang meluap-luap dari wajah Marien, kulit pucatnya seketika memerah marah. Bayangan suaminya ditembak mati oleh Sabarudin masih terngiang di kepala. Apa yang dimilikinya semua dirampas. Kariernya sebagai dokter yang bermukim di sudut Kota Yogyakarta kini berupa kenang. Setiap kali Sabarudin selesai menidurinya, perempuan itu selalu menggosok semua tubuhnya hingga merah. Tubuhnya seolah-olah berubah sangat kotor dan hina. Ia ingin mati saja. “Ada benarnya apa yang dilakukan Alene,” ucapnya lirih lalu duduk menyembunyikan matanya yang berkaca.

Ucapan itu membuat Gritje menatapnya nanar, ibu itu lantas memeluk sang anak. Dalam benaknya ia membenarkan semua ucapan Marien. Takdir mereka sebagai budak nafsu bagi mantan Shodancho itu tak dapat terelakkan. Gritje mengantarkan anaknya ke ranjang, menyadari wajah si anak yang semakin tirus – tak ada kebahagiaan. “Ibu, kapan kita pulang?”

Dengan kecupan di kening yang seketika menghangatkan rona si kecil, sang ibu berkata seperti setiap malam-malam sebelumnya, “Tidurlah. Besok kita pulang.”

***

Esoknya sebuah keributan terjadi di wisma harem. Perempuan dengan perut besar berumur sembilan bulan tampak mengaduh kesakitan. Air ketuban telah pecah, membuat panik siapapun yang melihatnya. Wajah Gritje tegang dan segera mencari Marien. “Ibu, aku melihat Marien di dekat dapur.” Si gadis menyadari ibunya yang kelimpungan.

Sekonyong-konyong Gritje berlari menyongsong dokter itu. Dilihatnya Marien minum teh di antara meja dapur, saat itu ada seorang perempuan Jawa sedang mencuci piring. Gritje tak melihat mereka bercakap atau apa, tak menggubris pula apa yang sebenarnya dilakukan Marien di sana. Dengan napas satu-satu, Gritje berkata bahwa seseorang akan segera melahirkan. Namun dokter itu bergeming, tak kuasa menambah satu nyawa lagi di rumah ini. Dalam pikirnya, semua itu hanya akan menambah kesedihan, kehampaan saat semua kebebasan terampas. “Dokter Marien van Aelst?” Gritje menekankan suaranya.

Sejenak Marien menutup mata, lalu iris abunya berkilat memandang Gritje, “Baiklah.”

Para perempuan itu seolah mewujud satu keluarga, memaksa menjadi harem yang setia bagi Mayor Sabarudin. Beberapa masih mengharap kebebasan, seperti perempuan yang berjuang melahirkan anaknya kini. Dalam kesakitan yang ia rasakan, ia mengingat ayah dan ibunya di tanah kelahiran. Sebagai pengajar di Hollandsche Indische, wajahnya sangat rupawan hingga bisa mengalahkan paras ayu putri bupati Sidoarjo yang gagal dinikahi Sabarudin. Benar saja lelaki itu bangga bisa menghamilinya. Serupa memperoleh kemenangan karena kekalahannya mendapatkan putri bupati. Raut congkak Sabarudin ia turunkan pada wajah bayi yang dilahirkan si none Belanda. Seorang bayi perempuan bermata biru lahir ke dunia. Mewarisi alis dan rahang keras milik Sabarudin. Gritje bernapas lega dan segera memandikan bayi berlumur darah dalam gendongan.

Nyatanya, sebagai seorang dokter, Marien tak bisa membiarkan itu terjadi. Tak bisa benar-benar membiarkan seorang perempuan hampir meregang nyawa karena sakit oleh sembilan bulan. Lalu mendadak anak buah Sabarudin datang memanggil namanya dan membuyarkan lamunan. Marien yang belum sempat membasuh tangan dipaksa keluar. Perempuan itu dibawa menuju kamar utama, kamar di mana Sabarudin menunggunya. Di saat-saat tertentu sang mayor biasa mengunjungi tempat ini.

Sebuah ruangan paling besar dari yang lainnya. Paling kokoh jika dipandang. Dengan aroma bunga dari rangkaian mawar dan kembang sepatu di setiap sudut ruang. Gorden putih berenda yang merumbai-rumbai. Dan lampu kristal yang sama klasiknya dengan lukisan-lukisan yang terpajang di dinding. Marien berdiri diam di tengah ruang setelah anak buah Sabarudin menutup pintu. Dari situ Marien tahu apa yang setelahnya akan terjadi.

“Aku rindu padamu.” Ada bau alkohol yang menguar dari mulut pria itu. Matanya jalang menatap lekuk dada Marien yang seolah menantangnya.

Tanpa berkata apa, Marien menatapnya nyalang.

Sabarudin menangkap bercak darah di tangan Marien. “Bersihkan dirimu dulu.” Dengan satu jentikan jari saja, dua orang perempuan pribumi segera membawa Marien ke jeding. Membersihkannya dari darah dan kotoran. Lalu Marien sadar, sampai kapan pun tubuhnya tidak akan benar-benar bisa bersih sekarang. Kotor. Sekotor pikiran si mayor saat itu. Sehina apa yang Sabarudin lakukan padanya setiap waktu. Marien semakin mengamini untuk membenci dirinya sendiri. Lalu angan-angan itu semakin menajam di kepalanya. Sesuatu yang telah ia pikirkan sedari siang saat di dapur. Saat ia mengamati pembantu pribumi yang sibuk di sana. Marien melihat setiap detilnya. Lalu ia kembali ke kamar dengan aroma Sabarudin yang membekas pada tubuhnya. Bau yang membuatnya mual. Ia membayangkan akan mencebur ke lautan alkohol agar tubuhnya steril kembali. Lantas ia meratapi tubuhnya yang ia gosok berulang kali sampai merah di kamar mandi. Dengan keran mengucur deras menyamarkan air matanya.

Esoknya saat matahari menyala nyalang di atas kepala, para perempuan itu melihat asap yang membumbung di halaman. Sebuah jeritan terdengar, dua tubuh menggelepar. Sabarudin menemukan penyusup di daerah kekuasaannya. Dua pemuda Ambon ia tangkap. Lalu tanpa bertanya babibu langsung dibakarnya.

Gritje menutup mata anaknya, melarang melihat kekejaman yang dibuat Sabarudin. Masih mencium samar bau bensin, ketika pintu ruangan harem mendadak terbuka, berdirilah sang mayor di sana. “Aku ingin sesuatu yang lain.” Wajahnya serupa setan yang bisa menggilas nyawa mereka kapan saja. Ia lalu berjalan mengitari perempuan-perempuan itu. Tak ada yang berani memandang matanya kecuali Marien yang menatapnya lurus. Sorot kebencian menyala-nyala.

Langkah Sabarudin berhenti di depan bocah perempuan yang dipeluk Gritje. Lelaki itu meraih tangan gadis kecil yang langsung ditepis oleh ibunya. “Jangan sentuh dia!”

Segera senapan dikeluarkan, membidik tepat pada kening si ibu dan DOR! Tak sempat berkata, sosok yang melindungi anaknya itu terjerembab. Si anak menangis dan berubah menjadi jeritan ketika Sabarudin membawanya pergi. Begitulah Sabarudin dengan kemauannya. Mereka tidak bisa melakukan apapun, perempuan-perempuan itu. Dan tak satu pun menyadari mata Marien yang semakin berkilat.

Ketika matahari telah lenyap, dan berganti malam. Marien mengendap-endap ke dapur. Tempo hari dengan alasan sakit kepala dan secangkir teh hangat yang dipinta ia mengamati tempat itu. Wanita pribumi yang melayaninya tak menaruh curiga saat ia sibuk mengisi kompor dengan minyak tanah. Marien kini dengan jelas dapat mencium bau itu. Dua jeriken besar ia bawa keluar.

Di sisi lain, Sabarudin meninggalkan kerajan haremnya. Menuju Gondomanan bersama sepuluh anak buah kepercayaan. Ketika melewati pepohonan randu pada jalanan menurun melewati bukit-bukit kecil di sekitar Tretes, ia berpapasan dengan salah satu tangan kanannya yang mendadak menghentikan laju truknya. Pada sang mayor ia bicara, pemimpin Laskar Minyak akan segera memenggal kepala Sabarudin jika tidak membebaskan perempuan-perempuan itu.

Sabarudin sekonyong-konyong mengumpat, menggelontorkan satu pelurunya ke angkasa karena kesal, “Tak ada yang bisa merampas harem-haremku, sekalipun Tuhan.” Bersama sepasukan setianya ia meneruskan perjalanan. Meninggalkan bukit, mengabaikan ancaman yang dibawa kaki tangannya. Ia tak tahu pemandangan ganjil di ujung bukit yang ia tinggalkan. Penampakan nyala api di sebuah wisma. Asap membumbung tinggi dari kerajaan haremnya.

*Kartika Demia, kelahiran Malang kini menetap di Madura. Beberapa karyanya dimuat di; Malang Pos, Flores Sastra, Panchake magazine dan Harian Rakyat Sultra. Saat ini aktif di komunitas sastra Dimensi Kata.

“KETIKA SI BISU MEMBACA PUISI”

Oleh: Dee Hwang

Cukup lama aku memandangi perempuan itu. Ia membolak-balik lembar kertas pada buku macam mencari kalimat yang terlewat namun belum lagi ditemukannya sedari lima belas menit lalu. Keningnya mengkerut bak purut, mengenali diksi satu demi satu. Tak lama, lelah mencuat dari sorot matanya yang layu. Dicopotnya headphone yang setia memeluk telinganya, lalu ditutupnya buku sambil mengurut kening perlahan.

ilustrasi gambar

Aku mencoba menyimaknya lebih dekat, agar lebih baik.

Kupasati bagian depan bukunya. Aku mencoba mengingat sampul karena judulnya tak terbaca. Mungkin aku dapat membantunya dengan membaca buku yang sama di deretan rak lain. Di perpustakaan ini, paling tidak masih ada dua tiga buku sejenis yang tersisa bila tak ada pinjam. Bergegas kulangkahkan kaki menuju rak buku paling ujung dari ruangan ini. Seingatku, tinggal itu saja yang belum ketelusuri.

Biar Hilang Ditelan Bumi

Oleh: Ken Hanggara

Aku berharap di sekitar sini, suatu hari nanti, terjadi gempa bumi, sehingga kerak bumi retak dan menelan Jeni ke dalamnya. Aku benar-benar berharap kejadian buruk itu terjadi, meski mencintainya.

Sebenarnya sejak lama aku mencintai Jeni, tapi kurasa dia tak terlalu suka padaku. Dia selalu mengabaikanku di depan orang-orang dan memaksaku merahasiakan seluruh hubungan kami. Tentu saja, ‘seluruh’ seharusnya kurang tepat, tetapi karena Jeni punya penyakit, kadangkala aku harus berperan menjadi sosok yang lain.

Jadi, dalam hubungan kami, bukan hanya ada sosok diriku saja dalam tubuh yang kini kutumpangi nyawa. Jeni menganggapku sebagai benda seperti boneka yang mampu memikul berbagai jenis jiwa di dalamnya.

Suatu hari, Jeni berkata, “Jiwamu ganti jadi jiwanya anjing!”

Maka, kuturuti permintaan itu. Aku tidak akan heran atau ragu, sebab tidak jarang juga Jeni memintaku berperan sebagai setan jahat, dan semua ini kukira berkenaan oleh sensasi yang bakal dia dapat dalam persetubuhan kami.

Amplop Tebal

Ilustrasi. (Anja Aronawa)

Oleh: Sulistiyo Suparno

Partinah sudah memasak daging ayam serundeng, sambal tomat, dan lalapan mentimun. Ini hari istimewa. Tak lama lagi Dalimin, suaminya akan pulang membawa amplop tebal, lebih tebal dari bulan-bulan yang lalu.

Partinah mengerti, suaminya telah berjuang agar bisa mendapatkan amplop tebal itu. Suami dan teman-temannya sudah menempuh berbagai cara, termasuk turun ke jalan dan mengepung Istana Negara.

Partinah dan anak-anak, Sari dan Hanif, selalu mengikuti perkembangan perjuangan Dalimin melalui berita-berita di televisi. Setiap usai salat mereka senantiasa berdoa agar perjuangan suami dan ayah mereka menuai hasil yang gemilang.

Maka ketika pemerintah mengumumkan akan menaikkan upah buruh, Partinah dan anak-anak segera sujud syukur. Ketika Dalimin pulang, Partinah dan anak-anak bergegas menyambutnya dengan pelukan hangat.

“Bapak hebat,” kata Hanif.

“Bapak pahlawan,” sahut Sari.

***

Partinah sudah selesai menata hidangan di meja makan, setelah itu ia duduk menanti di ruang tamu. Pukul 16.45. Sebentar lagi Dalimin pulang. Tak lama kemudian, Partinah melihat Dalimin membuka pintu pagar.

“Assalamu’alaikum,” Dalimin menyampaikan salam, ketika tiba di ambang pintu.

“Wa’alaikumsalam,” sahut Partinah tersenyum ceria. “Bagaimana, Pak?”

Dalimin mengerti maksud pertanyaan Partinah. Dalimin duduk, lalu mengeluarkan amplop coklat yang terlipat dari saku baju seragam pabriknya.

“Wah, tebal sekali ya, Pak?” kata Partinah sambil senyum-senyum.

“Alhamdulillah, Bu. Rezeki untuk keluarga kita,” sahut Dalimin.

“Kok tebal sekali ya, Pak?”

Dalimin gugup sesaat, lalu tersenyum dan berkata: “Itu sudah termasuk bonus. Kata mandor, kerjaku bagus.”

“Oh. Aku kira kamu korupsi, Pak,” kata Partinah terkekeh.

“Anak-anak mana, Bu?” tanya Dalimin.

“Masih di TPQ. Mungkin sebentar lagi pulang.”

Tak lama kemudian, tampak Sari dan Hanif memasuki halaman. Ketika melihat Dalimin di ruang tamu, Sari dan Hanif berseru gembira.

“Gimana, Pak? Jadi beli sepatu baru untuk Hanif, kan?” tanya Hanif.

“Dan kerudung baru untuk Sari,” sahut Sari ikut menagih janji.

“Pasti, dong. Nanti bakda isya, ya?” jawab Dalimin.

“Asyik!” seru Hanif melonjak-lonjak.

Di tengah suasana bahagia itu, Partinah lalu berkata: “Nah, sekarang kita ke meja makan. Ayam serundengnya sudah siap.”

Di meja makan, Sari dan Hanif makan seperti orang kelaparan. Sudah lama mereka tak makan daging ayam serundeng. Setiap hari mereka hanya makan seadanya. Makan daging ayam apalagi daging sapi, belum tentu sebulan sekali. Tetapi, ini hari istimewa, patut dirayakan dengan menu istimewa.

***

Tengah malam Partinah terjaga ketika mendengar suara sesengukkan di kamar. Dalam remang lampu 5 Watt, Partinah melihat Dalimin duduk di tepi ranjang.
Partinah duduk di sisi suaminya dan bertanya dengan suara lembut: “Ada apa, Pak. Mengapa kamu menangis?”

“Aku minta maaf, Bu. Aku sudah berbohong sama kamu,” jawab Dalimin, lalu menghela napas panjang.

“Bohong soal apa, Pak?”

“Amplop tebal yang tadi itu bukan upah dan bonus. Itu pesangon.”

“Pesangon?”

Dalimin mengangguk, lantas bercerita tentang keadaan di pabrik.

“Tadi siang Mr. Tanaka menemui para buruh. Mr. Tanaka meminta maaf karena pabriknya akan dipindah ke Vietnam. Mulai besok pabrik berhenti produksi. Mr. Tanaka tidak sanggup bila harus membayar buruh dengan aturan upah yang baru.”
Gemetar tubuh Partinah mendengar pengakuan suaminya.

“Terus bagaimana, Pak?”

“Entahlah, Bu. Aku bingung.”

Partinah menghela napas dan memejamkan mata. Keadaan ini memang bisa membuat bingung dan sedih buat Partinah dan Dalimin yang punya dua anak.

Bila Dalimin tidak bekerja lagi, lantas bagaimana untuk membiayai sekolah anak-anak? Sebentar lagi Hanif akan masuk SMA, Sari akan kuliah. Uang dari mana bila Dalimin tidak bekerja?

Tetapi Partinah juga mengerti, semua ini sudah diatur oleh Yang Maha Kuasa. Anggap saja ini ujian, nanti pasti ada jalan keluar. Berpikir begitu, Partinah lantas membuka mata dan tersenyum.

Partinah menggenggam tangan Dalimin dan berkata lembut: “Sabar, ya, Pak? Gusti Allah pasti punya rencana yang lebih baik untuk kita.”

Dalimin tampak lega mendengar ucapan Partinah.

“Anak-anak jangan sampai tahu, ya, Bu? Aku akan coba cari kerjaan lagi. Semoga aku cepat mendapatkan pekerjaan baru,” kata Dalimin.

“Ya, Pak. Ini rahasia kita,” sahut Partinah tersenyum.

Partinah dan Dalimin lantas kembali membaringkan tubuh di ranjang. Sebelum memejamkan mata, Dalimin berkata: “Terima kasih, istriku. Kamu sudah memasak ayam serundeng. Ini hari istimewa untukku.”

Partinah memiringkan tubuh, menatap Dalimin, tersenyum dan menjawab: “Ya, Pak. Ini hari istimewa. Sudah larut malam, Pak. Tidurlah.”

*Sulistiyo Suparno, kelahiran Batang, 9 Mei 1974. Cerpen-cerpennya tersiar di Suara Merdeka, Radar Surabaya, Kedaulatan Rakyat, Nova, Minggu Pagi, Solopos, dan media lainnya. Bermukim di Batang, Jawa Tengah.

Para Lelaki yang Menawarkan Sangsi

Oleh: Mutia Husna Avezahra

Mataku menerima seberkas cahaya yang tersorot dari sebuah sudut, sambil perlahan menegakkan badan, kucoba buka satu sisi mataku, kemudian yang satunya lagi. Rupanya matahari sudah tinggi.

Petualangan yang menyenangkan. Mendadak aku sadar bahwa aku sedang sendirian. Tunggu, aku mencari seseorang yang membuatku terbenam pada petualangan tadi malam. Oh, Dia rupanya yang sedang membikin sedikit kegaduhan di dapur sana. Denting-denting cangkir yang bergema segera mendekat bersama isyarat langkah kaki bersepatu, dan ternyata juga telah berpakaian lengkap. Seorang pria berkuncir kecil membawakanku secangkir minuman dengan menopang tas ransel di pundak. Aku tersenyum heran.

Dua cangkir itu diletakkannya di atas meja lingkar, tasnya ia sematkan bersandar di balik sofa, dan duduklah kami di sofa beludru yang begitu lembut. Bersama mata sayu dan penampilan yang masih berantakan, aku menyeruput secangkir teh aroma melati itu dengan sedikit kepanasan. Dia hanya melirik dan mengangkat cangkirnya sembari menghirup aromanya dalam-dalam. Kemudian sebatang rokok ia keluarkan tapi tak lekas dibakar, hanya diketuk-ketukkan di atas meja sebagai alat untuk memecah keheningan sementara.

Aku tak hendak mengucapkan apa pun. Dia, sebut saja Mur, juga tak segera mengatakan sesuatu. Mur hanya menunjukkan gelagat resah dengan memandangi jam tangan yang melingkar di pergelangan kirinya.

Aku menghirup aroma perpisahan, ini begitu berbeda dengan apa yang terjadi tadi malam, dan dengan demikian aku merasa begitu kikuk, dengan sikapnya yang terlalu tiba-tiba berbeda.

“Beberapa pria pernah melakukan hal serupa, Mur.” Akhirnya aku mulai bersuara, “Pertama bernama Pythagoras. Dia menawarkan petualangan yang begitu menggairahkan, seolah kita akan hidup sampai usia hendak membawa pada peradaban seribu tahun lagi. Dia adalah anak muda yang berani menantang dunia sendirian, dia luruhkan segala angan dan semua resah hanya pada satu gandengan rembulan”

“Pythagoraslah yang mengantarkanku pada sisi kehidupan yang lain, yang tak hanya seputar norma dan etika, tetapi ada juga yang disebut pesta dan perayaan. Itulah hasrat,” Mur melirik sebentar, “… tetapi esok paginya adalah sebuah bencana. Saat aku sedang hidup pada sebuah hasrat yang sedang menggeliat, tetiba ia pergi meninggalkan segala kerumitan di atas meja makan kita; di samping roti tawar dan secangkir teh sebagai sarapan pertamaku bersama rasa kehilangan,” Aku menyeringai lalu meneguk sedikit teh buatannya.

Mur tetap tak bersuara dan masih memainkan batang rokoknya. “Yang kedua bernama Borneo. Perjumpaanku dengan Borneo adalah ketidaksengajaan, saat Ia sedang berada pada sebuah pengembaraan panjang yang jauh dari rumah. Borneo adalah pria yang sangat berapi-api, dia ceritakan kisah dan petualangannya dari satu pulau ke pulau yang lain. Betapa mudah baginya untuk berbagi memori tentang pengembaraan di pesisir pantai, bercanda dengan ikan-ikan kecil sambil mendengarkan keluh kesah soal kehidupan nelayan yang kian menyengsarakan. Hingga akhirnya, ia menjanjikan sebuah perjalanan ke kota Aceh nun jauh di sana.” Mur mengerlingkan pandangannya pada hujan yang mulai turun di luar jendela.

“Diam-diam aku semakin berharap menanti datangnya petualangan ke Aceh yang ia janjikan. Tetapi semakin lama waktu meranggas, semakin pudar pula keberadaannya yang hanya menyisakan angan dan kenangan yang tak seberapa. Kamu tahu itu, Mur? Aku kembali harus menyelami samudera kesendirian yang menyesakkan.”

Dua cangkir teh kami masih sama-sama berisi tiga perempat. Mur masih tak hendak mengucapkan sesuatu tatkala aku sudah habis energi untuk menahan serpihan tangis yang mengambang di sudut mata. “Beberapa kali aku harus menyelesaikan petualangan demi petualangan sendirian. Bermacam, ada yang sanggup kuselesaikan, ada pula yang tak sanggup kuselesaikan hingga aku harus berurusan dengan bayangan”.

“Kemudian Kau datang, Mur. Kau ajak aku menyelami duniamu di balik sebuah benda perekam suasana. Kau ajak aku pada sebuah ruang untuk berbagi ide tentang masa depan. Hingga mungkin hari demi hari aku membingkai sebuah harapan, yang tak tahu akhirnya akan bermuara ke mana”.

“Hanya saja, kini aku sudah terlanjur tenggelam…”

Sembari bisu, dikeluarkannya sebuah foto dari balik saku kemeja flanelnya. Foto seorang gadis berkacamata itu mengantarkanku pada pada derai kehancuran yang kesekian kalinya.

“Ya, Kau hanya tak pernah bilang” kataku tenang sambil bernapas panjang.

Sedetik kemudian aku tumpah seperti sudah lama tak menangis “Tapi itu masalahnya. Kenapa? Kau biarkan aku hidup dalam khayalan tentang kisah perjumpaan kita yang begitu manis seorang diri. Kenapa Kau tak pernah bilang kalau ruang yang kita bangun hanya sebatas ilusi belaka? Kenapa Kau tak pernah bilang, Mur? Betapa kuceritakan istana cita dan masa depan kita pada banyak orang dan kini Kau begitu mudah membiarkanku menjadi seorang pecundang? Baiklah..,” kuserang Mur begitu banyak pertanyaan.

Aku terengah masih lunglai tak berdaya, “Tentu itu bukan salahmu, mungkin persepsikulah yang keliru,” kataku sambil merasa padam. Bersama habisnya tenaga yang sedang menuju pusara, Mur bangkit dan menyahut tas ranselnya di balik sofa. Mur melangkahkan kaki menuju pintu, ia menoleh sebentar sebelum memutar gagang pintu meninggalkan seorang perempuan di sudut kegetiran.

Mungkin aku yang terlalu serius tentang piknik kita tempo hari. Kubiarkan rimbun kelabu naik ke atap ruang membawa aroma teh yang tersisa begitu pekat. Hujan telah mereda, kemudian hari menjadi tak begitu jelas; antara pagi, siang, sore yang saling bertukar bentuk cahaya. Hingga hilang cahaya di luar, aku masih terpendam pada liang kesepian dan terpenjara pada perjalanan kesendirian yang tak kunjung terselesaikan.

***

Musim hujan kembali menyadur harapan saat aku mengaduk teh panas di sebuah cangkir bening. Lelaki berjaket parka itu baru saja tiba, Ia melemparkan lengkungan senyum yang tersemai diantara rerimbunan kumisnya, segera tulang pipinya menonjol menampakkan betapa kerasnya rahang dan sorot tajam matanya. Aku membalas senyumnya dari kejauhan hingga punggungnya hilang di balik kaca ruangan.

Sesaat kemudian Dia melangkah ke arah mejaku sembari mengemasi beberapa cangkir kopi yang telah ditinggalkan peneguknya. “Sendirian?” Dia menyapa sambil berlalu. Aku hanya melirik sambil senyum tersipu.

Kubuka sebuah buku catatan, kemudian kutuliskan beberapa bait tentang kenapa bumi berotasi. Sebagaimana pertanyaan tentang kenapa manusia selalu mudah terbelenggu oleh patah hati tetapi sesaat ketika menemukan cinta, seolah merasa begitu abadi. Pertanyaan terakhir kemudian adalah kemana lagi hati ini akan berkenala menuju muaranya?

***


*Mutia Husna Avezahra, bergiat di Teater Komunitas (Malang) dan gemar menulis di halaman pribadi avezahra.blogspot.com.

Geger Genjik Ibukota…

Oleh: Cokro Wibowo Sumarsono*

Hingar bingar pemilihan Adipati baru Kotapraja Indraprasta terdengar di seantero jagad pewayangan. Suaranya membahana masuk ke desa-desa dan kota-kota di wilayah negeri Amarta. Menerabas rimba raya kediaman para raksasa, ditya dan bhuta. Bahkan beritanya telah menjadi perbincangan serius para punakawan di desa Karang Kadhempel, nun jauh dari pusat Ibukota negeri Amarta, Indraprasta.

Perbincangan tersebut mengarah pada perpecahan tiga kubu pendukung, kubu Cepot, kubu Mbilung dan kubu Cenguris. Cepot mendukung Raden Antareja, perwira muda Angkatan Darat Amarta. Dengan argumentasi bahwa Antareja adalah sosok kuat masa depan Amarta. Ibukota akan aman jika perwira Angkatan Darat yang memimpin. Antareja merupakan simbol ‘kekuatan’.

Mbilung berpendapat lain, ibukota harus dipimpin sosok pemberani yang menerabas standar birokrasi, agar pelayanan masyarakat tidak berbelit. Pilihan itu jatuh pada Raden Wisanggeni, satriya muda yang tak bisa berbahasa halus. Selalu pakai bahasa ngoko ke siapapun, bahkan kepada para Dewa sekalipun. Wisanggeni merupakan simbol ‘keberanian’.

Lain Cepot, lain Mbilung, lain pula dengan Cenguris. Dia menginginkan figur pendidik guna mencerdaskan warga ibukota. Pilihan itu jatuh pada Raden Abimanyu, intelektual muda yang menguasai ilmu sastra. Abimanyu merupakan simbol ‘kecerdasan’.

Diskusi kecil di warung Mbok Cangik tersebut makin lama makin seru, makin lama makin panas dan sensitif. Menyinggung asal usul masing-masing kandidat Adipati, tak terkecuali program berbusa-busa para kandidat. Menyita perhatian warga desa di sekitarnya yang menyebabkan warung kopi di pinggir Pasar Wage itu makin ramai dan semakin meluber pengunjungnya.

Pak Tani melemparkan doran gagang paculnya, memilih mengikuti diskusi yang makin memanas. Bakul-bakul di pasar memilih menutup dagangannya, guna ikut menyimak diskusi yang makin mengarah ke debat kusir tersebut. Bocah-bocah angon bahkan rela meninggalkan kambing, domba, kerbau dan sapinya merumput sendiri. Agar tak ketinggalan info terkini percaturan politik Ibukota negeri.

Hari itu denyut nadi ekonomi desa Karang Kadhempel benar-benar terhenti, berlanjut hingga hari-hari berikutnya. Sawah ladang tak terurus, pasar ilang kumandhange, kebo sapi mulih nyang kandange dewe-dewe. Karena semua warga memilih mengikuti diskusi di warung Mbok Cangik demi belajar menjadi politisi, meskipun ‘politisi kampung’.

Hingga suatu saat datanglah si Bagong dari perjalan panjangnya ke Ibukota.
Bagong: “Dulur-dulur, saya kemarin baru saja ngopi bareng dengan Raden Antareja, Raden Wisanggeni dan Raden Abimanyu. Ternyata mereka semua itu lucu-lucu lho, jauh lebih lucu dari Cepot, Mbilung ataupun Cenguris”.

Mbilung: “Ah…masak sih Gong, jangan mbanyol kamu. Kita ini sudah beberapa minggu gontok-gontokan untuk mendukung jago kita masing-masing. Bicaralah yang lebih jelas lagi Gong, biar kita tahu perkembangan aktual di ibukota”.

Bagong: “Serius, saya kemarin baru nonton kethoprak dengan mereka bertiga, mereka santai-santai aja kok. Kenapa kalian yang malah ribut ?
Memangnya sosok yang terpilih jadi Adipati di Indraprasta akan berdampak pada desa kita?
Kita ini wong ndeso, orang kampung. Kita urus sawah ladang kita biar jagung pohungnya ledhung-ledhung, lombok terongnya robyong-robyong dan uwi gembilinya sakkendhi-kendhi. Urusan ibukota biar dirampungkan orang-orang sana. Kalau semua orang desa ngurusi ibukota, desa akan terbengkalai, gak bisa panen nanti. Kalau panen gagal orang kota akan kelaparan, wong beras dan dagingnya dari sampean semua”.

Cenguris: “Lha terus kita harus bagaimana Gong ?”

Bagong: “Ya harus kita balik. Jangan seantero negeri Amarta heboh gara-gara pencalonan tiga orang penggemar kethoprak itu. Jangan sampai persatuan kita koyak gara-gara demokrasi yang kebablasan. Sudah mengarah ke pasar bebas ini, semua sebebas-bebasnya menghasut, mencerca, mengolok dan menjegal. Harus kita lawan. Kita ini satu bangsa lho, satu sejarah perjuangan. Desa harus mandiri, tak tergantung pada ibukota. Kedaulatan pangan harus jadi panglima, jangan isu pasar bebas yang jadi panglima. Pergunakan waktu sebaik mungkin untuk bekerja dan berdoa, didiklah anakmu, jangan ngerumpi saja.

Mbilung: “Iya Gong. Gara-gara dukung mendukung yang berlebihan, saya kemarin gak diundang saat Cenguris hajatan selametan. Kohesi sosial kita jadi renggang.

Bagong: “Di sinilah kontradiksi pokoknya, di sinilah perbedaan mendasar antara demokrasi perwakilan yang menjadikan musyawarah sebagai jalan keluar dengan demokrasi pasar bebas yang super bebas. Semua tidak diselesaikan dengan musyawarah guna mencapai mufakat, namun sebebas-bebasnya menyerang orang, mencokot kawan lawan, menghinakan tokoh panutan dan lain-lain. Jauh dari kata ‘beradab’, jauh dari sesanti memayu hayuning bawana.
Wis bubar…bubaarrr…ayo macul…ayo nandur…!

Akhirnya kesadaran menyeruak di pikiran warga desa Karang Kadhempel. Semua kembali ke sawah dan pategalan, kembali mengurus ternak di kandang dan ikan di blumbang.

Cokro Wibowo Sumarsono
Cokro Wibowo Sumarsono

*) Mantan Sekretaris Jenedral Presidium GMNI dan Ketua DPP Gerakan Pemuda Desa Mandiri (Garda Sandi)

Komunitas