Perihal Lelaki dan Sehelai Tisu

Ilustrasi. (Anja Arowana)
Article top ad

Oleh: Fitri Manalu*

Gerimis. Senja baru saja beranjak minggat setelah menunduk kalah pada cengkeraman malam. Lembap. Aku sedang berada di dalam tong sampah−di sudut taman kota−berdesakan dengan sekumpulan sampah daun, plastik, dan botol-botol minuman. Ketika tong sampah bergoyang-goyang−mungkin tersenggol anjing kurap yang sedang melintas atau pejalan kaki yang berlari mencari tempat berteduh−aku merasa sedang mengalami mimpi buruk yang tak terbayangkan sebelumnya.

“Sialan! Di mana aku tadi menjatuhkannya?” Seorang lelaki berjaket hitam mengacak-acak rambut ikalnya yang basah. Gelisah, seperti kehilangan miliknya yang paling berharga. Ia membuka sepatunya dan masuk ke dalam rumah setelah membanting pintu. Ia melepaskan jaketnya dan melemparkannya asal saja ke sofa. Beberapa saat kemudian, ia berjalan mondar-mandir di ruang tamu dan berhenti tiba-tiba di depan cermin. Saat melihat pantulan dirinya di cermin itu, ia memaki, “Tolol!”

Rumah yang disesaki buku dan debu ternyata lebih hangat dari sekumpulan sampah yang menguarkan bau. Di sini aku benar-benar asing, tak dikenali juga tak mengenali. Untunglah, tong sampah yang nyaris tertutup melindungiku dari gerimis yang masih saja turun. Aku berharap lelaki itu akan kembali dan memungutku dari tong sampah pengap ini. Tapi, di mana lelaki itu sekarang? Lelaki itu pasti sudah pergi dan melupakanku.

Ia yang tadinya berjaket hitam, meraih jaket di sofa dan merogoh semua saku. Saat tak menemukan apa yang dicarinya, ia lalu mencari-cari dalam saku celana. Bibirnya tak henti-hentinya menggerutu. “Bodohnya aku! Di mana aku meletakkannya?” Seakan merasa tak puas, ia mulai memeriksa seisi rumah. Meja kerja, kursi-kursi, lantai, laci-laci, lemari, hingga menyibakkan seprai dan selimut biru di atas ranjang. Rumahnya seperti diamuk badai. Hasilnya nihil. Ia lalu berlari ke dapur, memeriksa setiap sudut, lalu melongok ke dalam kamar mandi, “Ya, Tuhan… Ke mana lagi aku harus mencarinya?”

Gerimis sepertinya akan reda. Aku terus berdoa semoga lelaki itu mengingatku dan segera membawaku pergi dari sini. Ada kemungkinan ia sedang mencariku, tetapi mungkin juga tidak. Aku sempat khawatir kemarin, ketika lelaki itu menatapku dengan sorot mata penuh kepedihan. Aku sempat mengira, lelaki itu akan menyeka matanya yang berkaca-kaca. Namun, aku keliru. Lelaki itu merogoh sebuah pena dari sakunya lalu menuliskan beberapa kata. Setelah itu, lelaki itu terlihat murung hingga waktu mengantarkan kami tiba di awal malam.

Ia sudah berada di ambang batas keputusasaan dan kini bersandar lunglai di sofa. Lalu ia melihat sebuah pena tercecer di lantai. Ia memungutnya dan menggumam, “Ah… kata-kata itu. Aku telah menuliskannya di sana.” Ia terlihat gundah, sarat penyesalan. Ia sangat merindukan sesuatu yang hilang itu. Ia berjuang menggali ingatannya. Barangkali ia dapat menemukan kembali sesuatu itu.

Aku sekarang yakin, di sinilah tempatku akan berakhir. Lelaki itu tidak akan pernah kembali karena sudah melupakanku. Sekarang, aku mendengar sekumpulan orang berjalan mendekati tong sampah tempatku berada. Mereka bicara sambil tertawa-tawa tak tentu arah. Kuterka mereka adalah sekumpulan pemabuk. Lalu terdengar suara tendangan. Tong sampah bergoyang keras seperti dihantam gelombang. Salah satu pemabuk itu pasti pelakunya. Aku merasa ketakutan membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya.

“Tidak, aku tidak bisa hanya berdiam diri. Aku harus mencarinya sekarang.” Ia meraih jaketnya lalu bergegas keluar. Setibanya di beranda, halilintar seakan sedang berpesta. Sebenarnya ingin mengurungkan langkah, namun sesuatu yang hilang itu seakan memanggil-manggil hatinya. Ia menaikkan tudung jaketnya ke atas kepala dan berlari menyibak tirai gerimis. Ia akan menelusuri jejaknya sepanjang sore tadi.

Tong sampah berguncang-guncang semakin keras. Sekumpulan pemabuk kini bergantian menendang tong sampah layaknya sebuah bola. Seisi tong sampah mulai gaduh. Botol-botol menjerit saat beradu, daun-daun meratap, dan plastik-plastik saling berbisik resah. Di antara semua itu, aku berjuang melawan kecemasan.

Langkah-langkah kakinya menyusuri trotoar basah. Ia menelusuri setiap jengkal yang dilaluinya. Ia menimbun harapan dalam hatinya: semoga tak ada ingatan yang terlewatkan. Saat tiba di ujung jalan, ia nyaris kehilangan akal karena tak kunjung menemukan sesuatu yang hilang itu. Kemudian ia terkenang lamunannya di taman kota tadi sore. Ia menuju taman itu seperti panah yang melesat dari busurnya.

Sekumpulan pemabuk itu seharusnya dikirim ke neraka. Mereka cuma bisa mengganggu ketenangan setumpuk sampah! Sebuah botol melontarkan kegeramannya. Sampah-sampah lain riuh menanggapi perkataan itu. Seisi tong sampah lalu beramai-ramai mengutuk sekumpulan pemabuk yang nampaknya belum akan berhenti. Namun, sekumpulan pemabuk semakin menikmati aksinya.

Hei, kalian! Hentikan! Jangan rusak tong sampah itu!” Ia tiba di taman kota dan terkejut saat melihat sebuah tong sampah sedang digilir sekumpulan lelaki di tengah gerimis. Sekarang ia sudah menemukan ingatannya. Sesuatu yang hilang itu ia lemparkan ke dalam tong sampah itu tadi sore. Kemarahan sesaat sudah membutakannya. Ia sangat menyesalinya.

Suara itu. Lelaki itu akhirnya kembali untukku. Aku senang sekali. Lelaki itu akhirnya mengingatku. Aku harus memberitahunya, bahwa aku berada dalam tong sampah ini. Hei, aku di sini! Aku berteriak sekencang-kencangnya. Sungguh tolol. Lelaki itu takkan bisa mendengarku. Aku berharap, semoga lelaki itu bisa menghentikan ulah sekumpulan pemabuk itu dan membawaku pulang.

Sekumpulan pemabuk tertawa mengejek, menyindir keberaniannya. Ia bersikap siaga. Ia harus menyelamatkan sesuatu yang hilang itu. Bagaimanapun caranya. Salah seorang pemabuk meludah ke arahnya. Ia tetap tenang, meski gelombang kemarahan mulai pasang dalam dadanya. “Majulah satu-satu. Aku akan melayani kalian.” Ia ingin menunjukkan sikap ksatria, meski ia tahu sikap itu tidak akan berguna untuk sekumpulan pemabuk. Sekumpulan pemabuk tertawa keras. Mereka mengepungnya dan bersiap-siap untuk menghabisinya.

Tidak, lelaki itu tidak akan mampu menghadapi sekumpulan pemabuk itu. Suara mereka begitu riuh, mereka pasti berjumlah banyak. Sementara lelaki itu sendirian. Ini pembantaian. Aku berharap ia mengubah niatnya dan berbalik pulang. Ia tidak perlu membahayakan dirinya untuk menyelamatkanku. Lelaki itu hanya perlu…

Buk! Tinju menghantam ulu hatinya. Ia terkesiap. Kuda-kudanya goyah. Ia membulatkan niat, tak boleh mundur walau sejengkal. Ia menatap wajah-wajah beringas yang mengepungnya dengan berani. Ia harus menyelamatkan sesuatu yang hilang dalam tong sampah itu. Jika tidak, ia akan menyesalinya. Ia mengepalkan tangan, bersiap menyambut kedatangan para penyerangnya.

Suara pukulan bertubi-tubi itu membuatku menangis. Lelaki itu pasti sudah babak belur dan takkan bertahan melawan sekumpulan pemabuk yang kehilangan setengah kesadaran. Suara lelaki itu terdengar meringis kesakitan. Suara para pemabuk semakin ramai. Mereka mengolok-olok lelaki itu.

“Sudah, cukup…” Ia memohon dengan suara parau. Warna merah segar di wajahnya mengalir seiring tetes-tetes gerimis. Ia tersungkur di tanah becek, tepat di samping tong sampah. Ia berusaha menggapai-gapai tong sampah itu, namun lengannya terkulai. Sekumpulan pemabuk mencemoohnya karena rela terkapar demi sebuah tong sampah. Salah seorang pemabuk menendang kuat-kuat tong sampah itu. Tong sampah oleng sejenak dan jatuh. Separuh isinya tumpah, mengotori wajah dan tubuhnya.

Akhirnya, aku bisa keluar dari tong sampah pengap ini. Aku sekarang berada tepat di bibir lelaki itu seperti keajaiban. Lelaki itu sepertinya menyadari keberadaanku. Tangannya bergetar saat menyentuhku di bibirnya. Lelaki itu menatapku haru, lalu mengeja perlahan kata-kata yang ditulisnya tadi sore.

“Kau pecandu bising, sedangkan aku pencinta sunyi. Selain saling memunggungi lalu pergi, apalagi yang bisa kita lakukan?” Setelah membaca kalimat itu, ia menatap sehelai tisu dalam genggamannya dan berbisik, “Maaf… karena aku telah membuangmu.” Sepasang matanya perlahan terkatup.

Jangan tinggalkan aku! Aku berteriak pada lelaki itu meski tahu akan sia-sia. Sesaat kemudian, tetes-tetes gerimis berubah menjadi hujan yang mengguyur kepedihan.

***
Tepian DanauMu, 6 Oktober 2017

 

*)Fitri Manalu, Penulis Kumcer Sebut Aku Iblis (Sibuku Media, Desember 2015) dan Novel Minaudiere (Kobarsa Media, Februari 2017). Peraih “Best in Fiction” pada ajang Kompasiana Award 2016. Bergiat di komunitas Rumah Pena Inspirasi Sahabat. Kini tinggal di Medan.