Mimpi Besar Ibu Rumah Tangga Ubah Pola Hidup Kota Batu Untuk Mencintai Lingkungan

Gung Endah dengan EE di tangannya dan jurigen berisi fermentasi EE dibelakangnya. (Aan)

MALANGVOICE – Langkah Malangvoice.com disambut ramah di kediaman Gung Endah. Rumah yang asri dengan hiasan banyak tanaman serta bau wangi dari semerbak bunga itu bertempat di Perumahan Puri Safira, Desa Mojorejo, Kecamatan Junrejo Kota Batu.

Gung Endah (56) adalah Mentor Eco Enzym (EE) di berbagai kota dan provinsi di Indonesia. Ia juga melayani permintaan beberapa kelompok pecinta lingkungan untuk sosialisasi EE secara virtual dengan gratis.

EE adalah larutan serba guna, hasil penelitan selama 30 tahun seorang akademisi dari Thailand Dr. Rosukon Poompanvong. Larutan ini merupakan campuran bahan sampah organik yang difermentasi selama tiga bulan.

Gung dengan antusiaa menjelaskan manfaat EE antara lain menurunkan bau tak sedap pada sampah organik, pembersih air, dan handsanitizer alami. Biaa juga untuk penyembuh luka bakar dan gores, bahan mencuci lantai, pengganti sabun dan sampo, dan masih banyak lagi.

Saat ini ia fokus menggunakan EE untuk membenahi pengolahan sampah di Kota Batu. Ia menggerakkan 500 lebih orang di Kota Batu untuk mengelola sampah sejak dari rumah.

“Kalau semua orang di Kota Batu tergerak untuk mengolah sampah organik dari rumah, di TPST 3R atau TPA Tlekung bisa tidak ada sampah organik sama sekali. Jadi mereka bisa fokus untuk daur ulang sampah anorganik saja,” jelas Nenek bercucu dua yang mempunyai semangat remaja itu.

Ia berhasil menggerakkan 500 lebih orang itu sejak September tahun 2020. Jumlah orang yang ia gerakkan terus bertambah di Kota Batu. Perlahan tapi pasti mimpi Gung untuk mengolah sampah di Kota Batu sejak dari rumah menggunakan EE bisa menjadi pergerakan masif.

Gung melakukan perjuangannya semata-mata karena rasa cintanya terhadap lingkungan. Ia sering mendanai sendiri pergerakannya untuk kelestarian lingkungan.

Perjuangannya ini terwarisi dari ayahnya yang seorang veteran 1945 dari Lumajang. Perjuangan ayahnya untuk kebaikan bersama hingga berani mengorbanakan segalanya tertanam dalam lubuk hatinya.

Bahkan, perempuan kelahiran 10 Oktober 1964 itu telah bekerja sama dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Batu untuk menyemprot EE di TPA Tlekung dua kali. Penyemprotan itu terbukti menurunkan kadar amonia dan metana dari sampah.

“Metana ini merupakan zat yang sangat berbahaya bagi ozon di Bumi. Jika kadarnya tidak dikelola akan menjadi polusi udara yang menyebabkan pemanasan global,” tegas perempuan beranak dua kelahiran Desa Ampelgading, Kabupaten Malang itu.

Kabid Kebersihan dan Pertamanan DLH Kota Batu, Imron Suyudi melontarkan secara lisan untuk menjalin kerja sama dengan Gung. Hal inilah yang diinginkan Gung supaya Pemkot Batu lebih serius untuk menggunakan EE.

Perjuangan Gung pun telah menular kepada binaannya. Kelompok relawan binaannya secara mandiri menyemprot TPS dan TPST di desanya masing-masing. Tepatnya di Desa Sumberejo, Kecamatan Batu, Kota Batu dan Desa Dadaprejo, Kecamatan Junrejo Kota Batu.

Tidak hanya di Kota Batu, berkat kegigihannya mengajarkan pembuatan EE dan pemaparan kebermanfaatannya RS Husada Utama, Kota Surabaya memanfaatkan EE untuk berbagai hal. Misalnya, mendaur ulang sampah organik rumas sakir untuk dijadikan EE, lalu hasil EEnya dibuat membersihkan lantai, piring, dan berbagai macam kegunaan lainnya.

Perempuan yang berprofesi sebagai ibu rumah tangga itu bermimpi dapat mempengaruhi petinggi-petinggi Kota Batu untuk menggunakam EE di berbagai sektor. Seperti di sektor Perhotelan, Restoran, Wisata, Rumah Sakit hingga Perkantoran.

“Jadi nanti Kota Batu bisa mempunyai branding baru, yaitu Kota Eco Enzym, yaitu seluruh pengolahan sampah dan kebersihannya menggunakan Eco Enzym. Jadi bisa dinilai sebagai kota yang ramah lingkungan,” paparnya dengan mata berbinar-binar.

Ia memiliki tujuan utama yang sederhana, yakni masyarakat Kota Batu memiliki kesadaran untuk mencintai lingkungan. Usahanya ini bukan sekedar mimpi di siang bolong, namun ia terus gigih berjuang memperkenalkan EE ke setiap kalangan.

Sempat ia bertemu Wali Kota Batu Dewanti Rumpoko untuk menarik minatnya menggunakan EE. Pada Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN), Dewanti pun melihat langsung penyemprotan EE di TPA Tlekung yang terbukti berhasil mengurangi bau tak sedap yang selama bertahun-tahun menjadi problematika tak berkesudahan di tempat itu.

Akhirnya Dewanti pun mengakuai kemutakhiran EE ini. Ia menyebut EE ini sebagai salah satu solusi untuk mengurangi volume sampah, mengurangi gas metana hingga mengurangi bau tak sedap.

Pengakuan Dewanti ini bagi Gung adalah peletakan batu pertama di istana perjuangannya memperkenalkan EE untuk memperbaiki lingkungan. Karena yang ia sasar adalah pola hidup masyarakat Kota Batu terhadap lingkungan.

Ia telah melakukan gerakan dengan Roadshow ke delapan desa di Kota Batu dalam satu hari pada waktu HPSN. Roadshow itu ia lakukan untuk mengenalkan EE dan manfaatnya juga memupuk kesadaran untuk mencintai lingkungan.

“Masyarakat Kota Batu jika tahu manfaat EE bisa mengubah pola hidupnya. Manfaatnya banyak sekali, kalau sudah mau bikin, bisa ketagihan sehingga mengubah pola hidupnya,” imbuh S1 Sosiologi UGM itu.

Maksud Gung adalah jika masyarakat ketagihan untuk membuat EE, mereka jadi lebih banyak memakan buah dan sayur karena limbah dari buah dan sayur merupakan bahan baku dari EE.

Perlu diketahui, pemanasan global akibat gas metana paling banyak dihasilkan dari peternakan. Jika pola hidup masyarakat Kota Batu lebih menyukai sayur dan buah-buahan, mereka tidak terlalu bergantung pada daging hasil peternakan.

Secara tidak sadar kepedulian terhadap lingkungan terbentuk karena kegemaran masyarakat Kota Batu membuat EE. Itulah mimpi dari Gung yang perlahan namun pasti akan ia capai dengan kegigihannya.

“Ya itu sudah terbukti mas, orang-orang yang suka bikin EE melihat sampah bukan sebagai bahan yang nggak berguna lagi namun jadi seperti melihat harta karun yang sayang jika tidak dimanfaatkan. Mereka bahkan mau keliling ke penjual buah dan toko-toko buah untuk meminta kulitnya” tandasnya.(end)

Besok, Gubernur Lantik Bupati-Wakil Bupati Malang Terpilih

Bupati dan Wakil Bupati Malang terpilih periode 2021-2024, saat mendaftar di KPU Kabupaten Malang beberapa waktu lalu. (Toski D).

MALANGVOICE – Gubernur Jawa Timur (Jatim) Khofifah Indar Parawansa dijadwalkan akan melantik Bupati dan Wakil Bupati Malang terpilih periode 2021-2024, H.M Sanusi dan Didik Gatot Subroto, Jumat (26/2/2021). Pelantikan bakal berlangsung di Gedung Grahadi, Pemerintah Provinsi Jawa Timur (Pemprov Jatim).

“Gubernur Khofifah yang akan mengambil sumpah jabatan dan melantik H.M. Sanusi, dan Didik Gatot Subroto sebagai Bupati dan Wakil Bupati Malang, bersama bupati-wakil bupati serta wali kota-wakil wali kota terpilih di Provinsi Jawa Timur lainnya. Mereka in merupakan hasil Pilkada serentak tahun 2020,” ungkap Kepala Bagian (Kabag) Humas dan Protokol Sekretariat Daerah (Sekda) Kabupaten Malang, M. Nur Fuad Fauzi, dalam rilisnya, Kamis (25/2/2021).

Usai melakukan pelantikan, lanjut Fuad, Gubernur Khofifah juga akan melantik Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) dan Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Tingkat Kabupaten/Kota oleh Ketua TP PKK yang sekaligus merupakan Ketua Dekranasda Provinsi Jawa Timur, Arumi Bachsin Emil Elistianto Dardak.

Setelah itu, tambah Fuad, Bupati dan Wakil Bupati Malang periode 2021-2024, H.M Sanusi dan Didik Gatot Subroto langsung bertolak ke Malang untuk melakukan serangkaian kegiatan yang bakal digelar di Pendopo Kabupaten Malang, jalan Panji Kepanjen.

”Di Pendopo Kabupaten Malang, Kepanjen Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang akan menggelar acara penyambutan kedatangan bapak Bupati dan Wakil Bupati Malang, dengan tetap menekankan disiplin protokol kesehatan,” pungkasnya.(end)

Bawa Khas Tersendiri, Kenatha Rilis Single Kedua “One Step At a Time”

Personel Kenatha. (deny rahmawan)

MALANGVOICE – Band indie asal Malang, Kenatha merilis single baru berjudul One Step At a Time. Lagu kedua itu dirilis pada Minggu (20/12) di Roewang Tamoe Coffee.

Band yang digawangi personel suami istri, Indra Ferianto (keyboardis) dan Artfani Gemelli (vocalis) ini menciptakan lagu dengan gaya khasnya tersendiri bergenre pop romantic. Lagu ini diciptakan Kenatha bersama dua remaja bernama Diego dan Jesse.

Kenatha

Artfani Gemelli menjelaskan, lagu kedua ini bercerita tentang keyakinan atas sebuah cinta yang positif.

“Memang menceritakan tentang keyakinan cinta, tapi lama-lama kok kisahnya hampir mirip dengan perjalanan cinta kami berdua,” kata Fani, sapaan akrabnya.

Kenatha melengkapi rilis lagunya ini dibarengi dengan pembuatan video klip di akun YouTube Kenatha Official. Fani mengaku pembuatan video klip dan recording sangat singkat. Hal itu dikatakannya tak lepas dari bantuan banyak pihak.

“Mulai proses recording singkat banget dua pekan saja. Kemudian pembuatan video klip juga langsung diselesaikan di Pantai Modangan. Beruntung kami banyak dibantu Anton Jade buat bikin video klip dengan baik,” jelasnya.

Sementara itu, Indra berharap lagu keduanya ini bisa diterima baik para penikmat musik, khsusunya di Malang. Mantan personel Taxi Band ini juga berencana roadshow kecil ke beberapa lokasi.

“Insyaallah tahun depan mau roadshow. Sekarang hanya putar lagu serentak di radio karena masih pandemi. Ini lagu baru yang kami coba, semoga bisa diterima baik sampai dengan karya selanjutnya,” harapnya.

Sekadar diketahui, Kenatha Band ini terbentuk pada Mei 2020. Nama Kenatha mengambil dari anak kedua Indra dan Fani. Lagu pertama yang dirilis berjudul Beautiful Moment.(der)

Izabelle Kiara, Bocah SD Bersuara Emas Asal Malang

Izabelle Kiara, saat menunjukkan medali beberapa waktu lalu. (Toski D)

MALANGVOICE – Kota Malang dikenal sebagai kota pendidikan, ternyata meliki segudang potensi dalam bidang olah vokal. Pasalnya, usai aksi Agnes Cefira asal Malang yang menghebohkan blantika musik dalam ajang Pop Academy Indosiar Top 6, ternyata juga ada bocah yang memiliki suara emas.

Bocah tersebut memiliki nama Izabelle Kiara. Bocah yang masih duduk di bangku kelas 5 di SDK Santa Maria 2 Kota Malang ini dengan lihai membawakan lagu Feeling Good yang dipopulerkan Michael Buble itu.

Hal itu terlihat di akun YouTube , yang sudah ditonton oleh 2.227 orang, dan memiliki Subscribe sebanyak 294 ribu dalam 3 hari terakhir ini, ternyata seorang bocah yang usianya belum genap 10 tahun.

Dalam Youtube tersebut, terlihat Izabelle Kiara menggunakan busana retro, dengan background di sebuah rumah yang memiliki ornamen klasik.

Izabelle Kiara meski masih bocah, ternyata seorang penyanyi cilik asal Kota Malang, yang pernah mengikuti ajang World Championships of Performing Arts 2019 (WCOP) di California, dan berhasil menggondol tiga medali perak juara 2 untuk kategori Pop, RnB/Soul/Jazz, dan Original Work.

Mendengar lantunan suara emas Izabelle Kiara tersebut, membuat pelatih vokal Michael Jackson dan Lady Gaga, Romeo Johnson seolah terbius dan tertarik, serta memanggilnya ke negeri Paman Sam, Amerika Serikat.

Ibunda Izabelle Kiara, Intan Kurniawan sangat bersyukur memiliki anak yang bisa mengaktualisasikan kemampuannya di bidang menyanyi.

“Izabelle Kiara itu anak semata wayang. Menyanyi itu atas kemauan dia sendiri. Kami sebagai orang tua berusaha untuk mendampinginya,” tegasnya, saat dihubungi awak media, Rabu (16/12).

Sebagai informasi, lagu Feeling Good tersebut banyak yang bilang seperti memiliki magic tersendiri, dan instrumen lagunya memukau dan enak didengar.

Lagu Feeling Good sendiri ditulis oleh penyanyi dan penulis lagu Inggris, Anthony Newley dan Leslie Bricusse untuk musikal tahun 1965 ‘The Roar of the Greasepaint-The Snell of the Crowd’.

Lagu ini kemudian dirilis pertama kali pada tahun 2005 dan pertama kali bagi Michael Buble. Lagu ini kemudian menjadi soundtrack film ‘Memories of Marsuko’ yang masuk sebagai nominasi Producer of The Year.

Lagu Feeling Good telah direkam banyak seniman kelas dunia, diantaranya Nina Simone, Muse, Adam Lambert, Sammy Davis, Bobby Darin, Traffic, Michael Buble, The Pussycat Dolls, George Michael, John Coltrane, Tose Proeski, Joe Bonamassa, Frank Sinatra Jr.

Selain itu, juga Jennifer Hudson, Stephen Williams, Sharon Jones and the Dap Kings, Ed Sheeran dan Alice Russel dengan The Quantic Soul, Orchestra, Prince Poppycock, Rebecca Ferguson, Roman Veremeychil dan Rela.(der)

Terbitkan Buku Perdana, Istri Perwira Mabes Polri Bahas Efektivitas Pergantian Kepemimpinan

Dr Hj Rita Kartina, SH., MH., M.AP . (Istimewa)

MALANGVOICE – Dr Hj Rita Kartina, menyinggung kualitas penyelenggara pelayanan publik lewat bukunya yang berjudul “Efektivitas Pergantian Kepemimpinan Dalam Rangka Peningkatan Pelayanan Publik”.

Buku itu ia buat berawal dari tesis S2 Magister Administrasi Publik di Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya (UNTAG) tahun 2018.

“Hadirnya buku ini bukan hal yang kebetulan, tapi melalui riset di beberapa KUPT UPT PPD Bapenda Provinsi Jatim untuk melakukan pengkajian seberapa efektifnya pergantian kepemimpinan dalam meningkatkan pelayanan publik ,” kata dia, Kamis (3/12).

Secara singkat anggota Bhayangkari Mabes Polri ini menjelaskan, inti yang terkandung dalam buku yang ia tulis ini adalah bagaimana menjadikan seseorang sebagai leader memiliki kekuatan dalam memimpin.

Substansi isi buku yang ditulisnya ini pada dasarnya berlandaskan pada teori kepemimpinan, efektivitas organisasi dan pelayanan publik agar menambah wawasan di bidang kepemimpinan dan penyelenggara pelayanan publik di lingkungan Organisasi Perangkat Daerah Provinsi Jawa Timur.

Dalam wawancaranya Dr Hj Rita Kartina, SH., MH., M.AP menuturkan, awalnya ia tidak tertarik dengan dunia penulisan. Namun setelah melihat dan mencermati apa yang terjadi di lingkup kerja sehari-hari, ia jadi terinspirasi untuk menuangkan apa yang dicermati ke dalam sebuah buku.

Harapannya, bisa menjadi inspirasi banyak orang khususnya yang berkecimpung di instansi pelayanan publik. Jadi lahirnya buku perdana ini yang berjudul terinspirasi dari ruang lingkup tempat ia kerja.

Secara singkat inti yang terkandung dalam buku yang ia tulis ini, bagaimana menjadikan seseorang sebagai leader yang memiliki kekuatan dalam memimpin.

“Saya berharap buku ini bisa dijadikan referensi bagi para pemimpin. Terutama dalam memberikan pelayanan yang terbaik bagi masyarakat,” harapnya.

Sosok Rita yang sekarang menjabat sebagai Kepala Sub Bagian Tata Usaha UPT PPD Malang Utara & Batu Kota Bapenda Provinsi Jawa Timur bisa dikatakan haus ilmu.

Ia senang membaca dan terus belajar tentang banyak hal. Gelar Doktor Ilmu Hukum yang diraihnya di Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya (UNTAG) tahun 2019, sama sekali tidak membuat dirinya berhenti untuk memberikan sesuatu yang berguna bagi banyak orang, salah satunya hadirnya buku tentang kepemimpinan.

Terbitnya buku ini tidak terlepas dari arahan serta bimbingan yang diberikan Prof.Dr. Rudi Handoko,MS yang merupakan Guru Besar FISIP UNTAG Surabaya yang juga dosen dimana dirinya mangambil gelar S2 Magister Administrasi Publik tahun 2018.(der)

Anjani, Pencetus Batik Banteng Khas Batu yang Menembus Pasar Internasional

Owner Sanggar Batik Anjani yang Produknya Mendunia, Anjani Sekar Arum. (Anjani Sekar Arum for MVoice)

MALANGVOICE – Batik cap Banteng khas Kota Batu selayaknya patut dibanggakan. Betapa tidak? Motif batik yang dicetuskan warga Desa Bumiaji, Kota Batu ini dikenal hingga internasional.

“Banteng merupakan kesenian rakyat asli dari Kota Batu. Maka dari itu saya bikinkan motifnya untuk batik,” kata Owner Sanggar Batik Banteng saat ditemui di sanggarnya (4/11).

Putri dari Pendekar Bantengan, Agus Tubrun, itu mengatakan, batik buatannya sudah melanglang buana hingga Jerman, Taiwan, dan Hongkong.

Dalam kancah nasional Anjani juga mengatakan bahwa batik bantengnya laris. Pasar terbesarnya adalah pada DKI Jakarta.

Kecintaan pada kesenian bantengan yang diturunkan oleh ayahnya dialirkan pada dunia fashion. Anjani mengaku bahwa dirinya sudah lama menyukai dunia fashion.

“Batik yang kami produksi adalah batik tulis dan cap,” ujarnya. Satu kain batik memakan pengerjaan dari satu minggu hingga tiga bulan tergantung kerumitan motifnya.

Batik dengan motif banteng garapan Anjani ini merupakan inisiasi pertama kali dalam dunia fashion. Kota Batu sudah memproduksi dua batik khas daerahnya, yaitu batik motif apel dan banteng.

Namun, pada musim pandemi ini Anjani mengaku bahwa terjadi penurunan omzet besar-besaran.

“Ada pemasukan tapi untuk kebutuhan masih belum cukup. Kami siasati dengan cara pengurangan produksi, kalau ada pesanan baru semua dikerahkan,” paparnya.

Perempuan kelahiran Batu ini menyebutkan sebelum pandemi omset yang diterima mencapai Rp40 – 50 juta per bulan. Kini pemasukan itu turun hingga 80%. Harga kerajinan dengan ciri khas motif bantengnya itu, berkisar dari Rp. 400 ribu sampai Rp12 juta untuk batik tulis dan batik cap dengan harga Rp150 – 300 ribu.(der)

14 Tahun Kiprah d’Kross, Jadikan Refleksi untuk Terus Berprestasi

Frontman d'Kross Ade Herawanto membentangkan syal Arema. (istimewa)

MALANGVOICE – Genap 14 tahun sudah usia d’Kross Community tahun ini. Tak terhitung sudah prestasi yang ditorehkan d’Kross Community sejak kali pertama berkiprah, tepat 17 Oktober 2006 silam.

Namun, hal itu tak membuat komunitas itu mendongak dengan panji kebesaran yang makin berkibar. Sang frontman, Ade Herawanto, berharap pencapaian selama 14 tahun ini bisa menjadi refleksi untuk terus berkontribusi.

“Bukan lantas menjadi tinggi, tapi justru harus menjadi refleksi. 14 tahun yang sudah dilalui, semoga tidak terhenti. Semoga makin berprestasi dan terus bisa bermanfaat,” seru Sam Ade d’Kross, sapaan akrab sang frontman.

Menginjak usia remaja jika diibaratkan seorang insan, komunitas yang berangkat sebagai wadah elemen suporter ini bertekad untuk tetap lantang menyuarakan perdamaian baik antar suporter maupun elemen-elemen lain.

Sam Ade juga bertekad d’Kross bisa konsisten dan menjaga reputasi Aremania yang selama ini identik sebagai suporter teladan yang penuh dengan berbagai kreasi, inovasi dan contoh bagi suporter lain se-Tanah Air.

“Selalu kita gaungkan kabar damai ke seantero negeri bahkan ke seluruh penjuru dunia,” tukas tokoh Aremania yang juga dikenal sebagai musisi dan tokoh olahraga tersebut.

Aremania Dewata. (Istimewa)

Di bidang olahraga, ada d’Kross Boxing Camp yang sukses melahirkan banyak petinju mentereng. Salah satunya adalah Hero Tito, binaan Sasana d’Kross yang berhasil menggapai mimpi jadi juara dunia tinju internasional berbagai kelas. Keseriusan Sam Ade di cabor adu bogem ini juga terlihat dengan mengantongi lisensi promotor nasional dan internasional dari berbagai badan tinju dunia.

Pria yang sehari-hari menjabat Kepala Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kota Malang itu juga dikenal sebagai pembina tinju amatir Jawa Timur, bahkan juga aktif di asosiasi nasional.

Tak cukup di situ, Sam Ade dan komunitas d’Kross juga aktif mengayomi cabor lain, seperti misalnya Perguruan Silat Cimande hingga bergelut di cabang otomotif seperti motocross.

Setali tiga uang, band d’Kross pun terus berkarya dan telah merilis belasan album kontemporer, mulai dari album berisi lagu dan chant suporter, rock, punk-ska hingga campursari. Band d’Kross juga sudah manggung keliling Indonesia, untuk menghibur fans dan tentunya arek-arek Malang Perantauan, seperti di Batam, Kalimantan, Bali serta Lombok.

Tak terbatas di cabang olahraga dan musik, d’Kross Community juga aktif dalam kegiatan seni, budaya, pam swakarsa dan berbagai kegiatan sosial.

Masa pandemi covid-19 tak menghalangi segenap awak d’Kross Community untuk terlibat dalam bermacam kegiatan bakti sosial. Seperti dalam rangkaian HUT ke-33 Arema, bulan Agustus lalu, d’Kross bersama Aremania Medis dan lintas komunitas lain menggelar pemeriksaan dan pengobatan gratis di sejumlah titik Malang Raya.

Untuk menggalang donasi bagi kemanusiaan, Sam Ade dkk juga menggelar konser virtual untuk memeriahkan hari jadi klub kebanggaan arek-arek Malang. Hasil yang terkumpul disalurkan ke panti asuhan, pondok anak yatim piatu, serta para lansia dan kaum dhuafa.

“Dari kegiatan ini, kami berharap bisa menginisiasi dan menginspirasi berbagai komunitas lain di Bhumi Arema maupun suporter-suporter lain se-Indonesia,” ujar Sam Ade yang memang gemar turun langsung ke masyarakat.

Menurut pria yang dalam setiap kesempatan selalu menekankan pentingnya sikap egaliter ini, paling tidak dari kegiatan tersebut bisa mensupport dan mendampingi masyarakat yang sedang kesusahan, apalagi di masa pandemi seperti sekarang.

“Meski hanya sekadarnya, namun sangat besar artinya bagi nilai-nilai gotong royong dan semangat satu jiwa melawan pandemic covid-19 ini. Tentu saja dengan background serta kemampuan dan keahlian masing-masing komunitas serta elemen masyarakat yang terlibat,” tuturnya.

Kebiasaan ini sudah dilakukan Sam Ade bersama para founding father d’Kross, bahkan sejak tahun 2005 silam dan diteruskan sampai sekarang bersama segenap awak komunitas dengan menggandeng berbagai pihak.

Komunitas yang bermarkas di Jalan Sekayan, Bunul ini juga terlibat aktif dalam berbagai upaya konservasi lingkungan hidup di sekitar.

Dalam sebuah kesempatan ke Nusa Tenggara Timur medio 2016, awak d’Kross bersama petinggi marinir TNI Angkatan Laut; Brigjen Siswoyo ikut berperan dalam menamai salah satu pulau terluar NKRI yang berbatasan dengan Australia. Pulai itu dinamai Pulau Singo Edan dan didaftarkan secara resmi di badan dunia.

Dengan refleksi dan apa yang sudah dijalani 14 tahun ini, Sam Ade berharap komunitas ini bisa terus berkontribusi positif dalam dinamika kehidupan bermasyarakat, bersinergi dengan lintas elemen, mulai dari kelompok suporter, seniman, budayawan, insan musik, teknokrat, akademisi, pemuka agama, tokoh publik, buruh, ormas, sipil, birokrat, wakil rakyat, jajaran TNI-Polri dan para penegak hukum, serta seluruh lapisan masyarakat pada umumnya.(der)

Hutan Hujan Kritisi Perilaku Netizen Lewat Single Pancaroba Peradaban

Hutan Hujan. (Istimewa)

MALANGVOICE – Lewat single terbaru bertajuk “Pancaroba Peradaban”, Hutan Hujan sekilas menyampaikan sebuah amarah. Kuintet asal Malang ini menumpahkan segala keluh kesahnya tentang perilaku manusia media sosial atau disebut warganet (netizen)

Single anyar ini, membuat Hutan Hujan seolah melepas ‘busana’ folk mendayu-dayu yang dipakainya. Coba simak single sebelumnya yang bertajuk “Jatuh Rindu” serta album pertama mereka Hutan Hujan (2018), terasa berbeda, bukan?

Hal itu diakui Penulis Lirik Pancaroba Peradaban, Sigit Prasetyo. Bahwa single itu terinspirasi dari kekacauan hari-hari ini.

“Liriknya adalah keluh kesah perubahan perilaku manusia di era digital sekarang ini. Manusia lebih berani berekspresi dan berucap kata tanpa mempedulikan lawan bicaranya,” tuturnya.

Ia melanjutkan, fenomena tersebut bisa jadi belati bermata dua, di satu sisi mengungkapkan kejujuran. Tapi di lain sisi satu kata dapat membunuh perasaan orang lain dengan atau tanpa disadari.

“Tak heran jika belakangan timeline media sosial kita penuh dengan umpatan dan caci maki dari sesama warganet,” imbuhnya.

Hal itu diamini Gitaris Hutan Hujan, Edy Priono. Bahwa penulisan lirik, melodi, hingga aransemen dari lagu inipun tak memerlukan waktu lama untuk dimanifestasikan menjadi karya utuh.

“Mungkin karena kami juga sudah satu frekuensi,” tutur Edy.

Sedikit lebih dalam tentang sisi aransemen dan musik, “Pancaroba Peradaban” lebih kaya dengan perubahan nada, tempo dan birama. Lompatan-lompatan ketukan dari 6/8 menjadi 4/4 dengan balutan nada-nada timur tengah khas Ottoman membuat progresi dan groove lagu ini berbeda dengan kebanyakan musik yang sedang beredar di pasaran hari ini.

Video musik Pancaroba Peradaban dapat dinikmati di Channel YouTube Hutan Hujan mulai 30 September 2020. Bersamaan dengan itu, akan dirilis secara berurutan di toko digital hingga radio-radio di Indonesia. Sebelum dirilis resmi, Hutan Hujan juga telah mengunggah proses di balik layar dan produksi lagu ini, sehingga para pendengar dapat melihat bagaimana penciptaan karya itu terjadi.(der)

Lagu Jegal Sampai Gagal, Berry Minor – Tyzee Serukan Tolak RUU Omnibus Law

Berry Minor (ist)

MALANGVOICE – Gelombang penolakan terhadap Rancangan Undang-undang (RUU) Omnibus Law Cipta Kerja terus terjadi dengan berbagai cara. Salahsatunya dilakukan musisi Berry Minor melalui single terbarunya berjudul ‘Jegal Sampai Gagal’, rilis 11 Agustus 2020.

Konsisten di jalur Hip Hop Retorika, Berry Minor kali ini menggandeng Rapper Taufan aka Tyzee. Lagu Jegal Sampai Gagal mengajak semua elemen masyarakat untuk ikut mengamati dan mendampingi proses pembahasan RUU Omnibus Law Cipta Kerja oleh DPR. Sebab, kuat dugaan RUU tersebut cenderung merugikan keberadaan kaum buruh. Sedangkan paling diuntungkan hanya investor atau pemilik modal.

“Proses perancangan dengan mekanisme yang lebih baik dan berpihak pada buruh harus dikawal. Bukan malah timpang, lebih condong ke kepentingan pemilik modal dan pelaku usaha besar,” kata Fahzlurr Berry Almustapha.

Lagu ini, lanjut dia, terdapat beberapa poin seruan dan tuntutan. Diantaranya, menolak upah pekerja dengan hitungan perjam. Menolak adanya penghapusan jaminan keuangan cuti hamil, dan seterusnya. Pada intinya, RUU Omnibus Law Cipta Kerja hanya memuluskan kepentingan penguasa tanpa memperhatikan kualitas dan kesejahteraan pekerjanya.

“Kebijakan ini bisa saja menjadi momok untuk pekerja. Bahkan disinyalir dapat dimanipulasi oleh pelaku usaha dengan menggunakan regulasi tersebut untuk menghindari upah minimum,” bebernya.

Berry berharap, mengawasi dan mengontrol arah kebijakan pemerintah dalam sistem demokrasi merupakan hak dan kewajiban seluruh warga negara, tak terkecuali generasi muda dan pelaku seni pada khususnya.

“Sebagaimana dikatakan sastrawan Pramoedya Ananta Toer, seorang terpelajar harus sudah berbuat adil sejak dalam pikiran apalagi dalam perbuatan. Mengamati kebijakan pemerintah bukan tugas aktivis saja,” pungkasnya.

Lagu video lirik Jegal Sampai Gagal ini bisa disimak di kanal YouTube Kadit Rudit https://youtu.be/Do8pDNwugrY. Merupakan wadah anak muda pelaku musik hiphop di Kota Malang yang juga mendukung sistem demokrasi di Indonesia agar lebih baik dan adil.(der)

2,5 Tahun Pimpin Humas RS Saiful Anwar, Ini Sosok Dini yang Jadi Sahabat Wartawan

Rusyandini Perdana Putri (Dini). (Istimewa)
Rusyandini Perdana Putri (Dini). (Istimewa)

MALANGVOICE – Nama Rusyandini Perdana Putri tak asing di media massa. Betapa tidak, Dini, sapaan akrabnya, adalah corong utama penyebaran informasi seputar rumah sakit.

Ya, dia adalah Kasubag Humas Rumah Sakit dr Saiful Anwar (RSSA) Malang.

Bergerak di bidang kehumasan mengharuskan Dini tahu segala hal seputar rumah sakit. Kemudian, melayani kebutuhan akses informasi dari para wartawan.

Perempuan 37 tahun itu mengabdi sebagai Kasubag Humas RSSA Malang selama 2,5 tahun. Selama itu pula ia menjadi referensi wartawan mengupdate informasi di RSSA Malang.

Dini dikenal supel, ramah, dan bersahabat dengan wartawan. Di lingkungan kerjanya, tidak ada perlakuan istimewa baik bawahan ataupun pihak eksternal seperti wartawan.

Bagi Dini, semua sama. Sama-sama istimewa dan luar biasa. Setiap pekerjaan tuntas, ia senantiasa memberikan apresiasi kepada rekan kerjanya. Tak heran jika pekerjaan kehumasan diacungi jempol banyak pihak.

Bisa jadi, karena motto hidupnya adalah “Hal Baik Jangan Ditunda. Apa yang diyakini baik, harus dilakukan segera baik individu maupun kerja sama.

Dulu, sebelum Humas RSSA Malang di bawah pimpinannya, tak sedikit pihak luar para pencari informasi mengeluh. Itu lantaran kinerja kehumasan tidak optimal. Pemberian akses informasi lelet, SDM yang kaku, dan tidak terbuka atas informasi publik.

Dini yang saat itu seorang Staf BKD Jawa Timur, ditunjuk oleh Gubernur Jatim untuk menduduki jabatan Kasubag Humas RSSA Malang.

Sejak saat itu Humas RSSA Malang mulai terbuka dan banyak informasi yang mudah diakses melalui pintu kehumasan.

Perubahan itu ada ketika perempuan yang hobi menanam bunga ini hadir memimpin jalannya aktivitas kehumasan di lingkungan RSSA Malang.

Banyak perubahan yang dilakukan mulai dari penyebaran kegiatan di media sosial, portal media mainstream, bahkan kerjasama dengan beberapa media dilakukan.

“Kami sangat dekat dengan temen-temen wartawan. Sinergitas selalu kami jalin. Humas dan wartawan adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Harus bersinergi,” ujar Dini.

Hal seperti itu lah yang membuat perbedaan dengan sebelumnya. Selama 2,5 tahun, Dini menjadi ujung tombak penyebaran informasi resmi dari humas RSSA Malang.

“Alhamdulillah, senang bisa berjuang untuk RSSA Malang dan Pemprov Jatim melalui humas. Semoga pengabdian selama ini, terutama penyebaran informasi bagi masyarakat, menjadi amal ibadah kami,” tutur alumni IPDN Angakatan XIII itu.

Kini, Dini tak lagi dihubungi wartawan untuk dimintai konfirmasi. Tepat 10 April 2020, ia berulang tahun. Sebagai hadiah, ia dipercaya sebagai Kasie Penelitian RSSA Malang. Sosok perempuan ramah itu telah dilantik 4 April 2020 lalu untuk menduduki jabatan barunya.

“Terima kasih kerja sama dan dukungan semua pihak selama saya menjadi Kasubag Humas RSSA Malang, khususnya bimbingan dan arahan dari Jajaran direksi, paea dokter dan perawat serta seluruh tim karyawan RSSA Malang. Ingat, hal baik jangan ditunda. Tuntaskan,” tegasnya.(Der/Aka)