Hutan Hujan Kritisi Perilaku Netizen Lewat Single Pancaroba Peradaban

Hutan Hujan. (Istimewa)

MALANGVOICE – Lewat single terbaru bertajuk “Pancaroba Peradaban”, Hutan Hujan sekilas menyampaikan sebuah amarah. Kuintet asal Malang ini menumpahkan segala keluh kesahnya tentang perilaku manusia media sosial atau disebut warganet (netizen)

Single anyar ini, membuat Hutan Hujan seolah melepas ‘busana’ folk mendayu-dayu yang dipakainya. Coba simak single sebelumnya yang bertajuk “Jatuh Rindu” serta album pertama mereka Hutan Hujan (2018), terasa berbeda, bukan?

Hal itu diakui Penulis Lirik Pancaroba Peradaban, Sigit Prasetyo. Bahwa single itu terinspirasi dari kekacauan hari-hari ini.

“Liriknya adalah keluh kesah perubahan perilaku manusia di era digital sekarang ini. Manusia lebih berani berekspresi dan berucap kata tanpa mempedulikan lawan bicaranya,” tuturnya.

Ia melanjutkan, fenomena tersebut bisa jadi belati bermata dua, di satu sisi mengungkapkan kejujuran. Tapi di lain sisi satu kata dapat membunuh perasaan orang lain dengan atau tanpa disadari.

“Tak heran jika belakangan timeline media sosial kita penuh dengan umpatan dan caci maki dari sesama warganet,” imbuhnya.

Hal itu diamini Gitaris Hutan Hujan, Edy Priono. Bahwa penulisan lirik, melodi, hingga aransemen dari lagu inipun tak memerlukan waktu lama untuk dimanifestasikan menjadi karya utuh.

“Mungkin karena kami juga sudah satu frekuensi,” tutur Edy.

Sedikit lebih dalam tentang sisi aransemen dan musik, “Pancaroba Peradaban” lebih kaya dengan perubahan nada, tempo dan birama. Lompatan-lompatan ketukan dari 6/8 menjadi 4/4 dengan balutan nada-nada timur tengah khas Ottoman membuat progresi dan groove lagu ini berbeda dengan kebanyakan musik yang sedang beredar di pasaran hari ini.

Video musik Pancaroba Peradaban dapat dinikmati di Channel YouTube Hutan Hujan mulai 30 September 2020. Bersamaan dengan itu, akan dirilis secara berurutan di toko digital hingga radio-radio di Indonesia. Sebelum dirilis resmi, Hutan Hujan juga telah mengunggah proses di balik layar dan produksi lagu ini, sehingga para pendengar dapat melihat bagaimana penciptaan karya itu terjadi.(der)

Lagu Jegal Sampai Gagal, Berry Minor – Tyzee Serukan Tolak RUU Omnibus Law

Berry Minor (ist)

MALANGVOICE – Gelombang penolakan terhadap Rancangan Undang-undang (RUU) Omnibus Law Cipta Kerja terus terjadi dengan berbagai cara. Salahsatunya dilakukan musisi Berry Minor melalui single terbarunya berjudul ‘Jegal Sampai Gagal’, rilis 11 Agustus 2020.

Konsisten di jalur Hip Hop Retorika, Berry Minor kali ini menggandeng Rapper Taufan aka Tyzee. Lagu Jegal Sampai Gagal mengajak semua elemen masyarakat untuk ikut mengamati dan mendampingi proses pembahasan RUU Omnibus Law Cipta Kerja oleh DPR. Sebab, kuat dugaan RUU tersebut cenderung merugikan keberadaan kaum buruh. Sedangkan paling diuntungkan hanya investor atau pemilik modal.

“Proses perancangan dengan mekanisme yang lebih baik dan berpihak pada buruh harus dikawal. Bukan malah timpang, lebih condong ke kepentingan pemilik modal dan pelaku usaha besar,” kata Fahzlurr Berry Almustapha.

Lagu ini, lanjut dia, terdapat beberapa poin seruan dan tuntutan. Diantaranya, menolak upah pekerja dengan hitungan perjam. Menolak adanya penghapusan jaminan keuangan cuti hamil, dan seterusnya. Pada intinya, RUU Omnibus Law Cipta Kerja hanya memuluskan kepentingan penguasa tanpa memperhatikan kualitas dan kesejahteraan pekerjanya.

“Kebijakan ini bisa saja menjadi momok untuk pekerja. Bahkan disinyalir dapat dimanipulasi oleh pelaku usaha dengan menggunakan regulasi tersebut untuk menghindari upah minimum,” bebernya.

Berry berharap, mengawasi dan mengontrol arah kebijakan pemerintah dalam sistem demokrasi merupakan hak dan kewajiban seluruh warga negara, tak terkecuali generasi muda dan pelaku seni pada khususnya.

“Sebagaimana dikatakan sastrawan Pramoedya Ananta Toer, seorang terpelajar harus sudah berbuat adil sejak dalam pikiran apalagi dalam perbuatan. Mengamati kebijakan pemerintah bukan tugas aktivis saja,” pungkasnya.

Lagu video lirik Jegal Sampai Gagal ini bisa disimak di kanal YouTube Kadit Rudit https://youtu.be/Do8pDNwugrY. Merupakan wadah anak muda pelaku musik hiphop di Kota Malang yang juga mendukung sistem demokrasi di Indonesia agar lebih baik dan adil.(der)

2,5 Tahun Pimpin Humas RS Saiful Anwar, Ini Sosok Dini yang Jadi Sahabat Wartawan

Rusyandini Perdana Putri (Dini). (Istimewa)
Rusyandini Perdana Putri (Dini). (Istimewa)

MALANGVOICE – Nama Rusyandini Perdana Putri tak asing di media massa. Betapa tidak, Dini, sapaan akrabnya, adalah corong utama penyebaran informasi seputar rumah sakit.

Ya, dia adalah Kasubag Humas Rumah Sakit dr Saiful Anwar (RSSA) Malang.

Bergerak di bidang kehumasan mengharuskan Dini tahu segala hal seputar rumah sakit. Kemudian, melayani kebutuhan akses informasi dari para wartawan.

Perempuan 37 tahun itu mengabdi sebagai Kasubag Humas RSSA Malang selama 2,5 tahun. Selama itu pula ia menjadi referensi wartawan mengupdate informasi di RSSA Malang.

Dini dikenal supel, ramah, dan bersahabat dengan wartawan. Di lingkungan kerjanya, tidak ada perlakuan istimewa baik bawahan ataupun pihak eksternal seperti wartawan.

Bagi Dini, semua sama. Sama-sama istimewa dan luar biasa. Setiap pekerjaan tuntas, ia senantiasa memberikan apresiasi kepada rekan kerjanya. Tak heran jika pekerjaan kehumasan diacungi jempol banyak pihak.

Bisa jadi, karena motto hidupnya adalah “Hal Baik Jangan Ditunda. Apa yang diyakini baik, harus dilakukan segera baik individu maupun kerja sama.

Dulu, sebelum Humas RSSA Malang di bawah pimpinannya, tak sedikit pihak luar para pencari informasi mengeluh. Itu lantaran kinerja kehumasan tidak optimal. Pemberian akses informasi lelet, SDM yang kaku, dan tidak terbuka atas informasi publik.

Dini yang saat itu seorang Staf BKD Jawa Timur, ditunjuk oleh Gubernur Jatim untuk menduduki jabatan Kasubag Humas RSSA Malang.

Sejak saat itu Humas RSSA Malang mulai terbuka dan banyak informasi yang mudah diakses melalui pintu kehumasan.

Perubahan itu ada ketika perempuan yang hobi menanam bunga ini hadir memimpin jalannya aktivitas kehumasan di lingkungan RSSA Malang.

Banyak perubahan yang dilakukan mulai dari penyebaran kegiatan di media sosial, portal media mainstream, bahkan kerjasama dengan beberapa media dilakukan.

“Kami sangat dekat dengan temen-temen wartawan. Sinergitas selalu kami jalin. Humas dan wartawan adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Harus bersinergi,” ujar Dini.

Hal seperti itu lah yang membuat perbedaan dengan sebelumnya. Selama 2,5 tahun, Dini menjadi ujung tombak penyebaran informasi resmi dari humas RSSA Malang.

“Alhamdulillah, senang bisa berjuang untuk RSSA Malang dan Pemprov Jatim melalui humas. Semoga pengabdian selama ini, terutama penyebaran informasi bagi masyarakat, menjadi amal ibadah kami,” tutur alumni IPDN Angakatan XIII itu.

Kini, Dini tak lagi dihubungi wartawan untuk dimintai konfirmasi. Tepat 10 April 2020, ia berulang tahun. Sebagai hadiah, ia dipercaya sebagai Kasie Penelitian RSSA Malang. Sosok perempuan ramah itu telah dilantik 4 April 2020 lalu untuk menduduki jabatan barunya.

“Terima kasih kerja sama dan dukungan semua pihak selama saya menjadi Kasubag Humas RSSA Malang, khususnya bimbingan dan arahan dari Jajaran direksi, paea dokter dan perawat serta seluruh tim karyawan RSSA Malang. Ingat, hal baik jangan ditunda. Tuntaskan,” tegasnya.(Der/Aka)

Kunci Sukses Master of Ceremony Ruwiyanto : Disiplin Jaga Kualitas Suara

Ruwiyanto, S. Kom. (istimewa)
Ruwiyanto, S. Kom. (istimewa)

MALANGVOICE – Seorang pemandu acara harus memiliki wawasan luas, serta mampu membuat rangkaian acara dengan baik. Supaya apa yang disampaikan bisa membuat suasana sesuai keinginan. Selain itu pemandu acara juga harus memiliki karakter serta mental yang baik.

Seperti halnya Ruwiyanto, S.Kom. Putra nomor tiga dari Pasangan Mujowiyono dan Sukini telah mempunyai jadwal padat memandu acara resepsi pernikahan adat Jawa di berbagai hotel dan gedung di Jawa Timur.

Bagi pria kelahiran Sukoharjo Jawa Tengah tersebut menjadi pemandu acara sudah dilakoninya sejak SMP.

“Waktu SMP saya sering memandu acara dengan menggunakan bahasa Indonesia,” ujar akrab disapa Ruwi ini.

Semasa sekolah, Ruwi juga aktif mengikuti beragam kegiatan ekstrakurikuler. Aktif di organisasi, mewajibkan Ruwi untuk selalu tampil prima dan harus pandai merangkai kosakata dengan baik sebagai bahan berbicara atau pidato di muka umum.

“Kebetulan saya aktif pada kegiatan ekstra kurikuler yang di selenggarakan sekolah, baik menari maupun Pramuka bahkan waktu SMK saya pernah juga mendapat amanah sebagai Ketua OSIS,” kata alumnus SMK Tamansiswa Sukoharjo tersebut kepada MVoice, Senin (10/2).

Ruwiyanto, S. Kom. (istimewa)
Ruwiyanto, S. Kom. (istimewa)

Kepiawaiannya memandu acara dalam bahasa Jawa bermula memandu acara grup musik campursari di Solo. Namun, diakuinya bermula dari sebuah insiden tak terduga.

“Waktu itu saya memandu acara campursari, kebetulan MC mantennya berhalangan hadir, terpaksa harus memandu acara temu manten atas permintaan yang mempunyai hajat,” kenangnya.

“Alhamdulillah, waktu itu acaranya berjalan dengan baik dan lancar,” imbuhnya.

Berdasarkan pengalaman tersebut, Ruwi memutuskan mengasah kemampuan dan memperbanyak kosakata bahasa Jawa kuno. Bahkan belajar kepada ahli bahasa Jawa serta para seniman pedalangan yang berada di Surakarta.

“Setiap akan tampil memandu acara juga memperhatikan kualitas suara supaya bagus dan enak didengar, yaitu rajin mengunyah kencur dan madu setiap pagi harinya,” beber pria yang berdomisili di Jalan Satria RT7/RW 1 Balearjosari Blimbing Malang ini.

Olah kemampuan dalam bahasa Jawa halus yang bagus membawa hoki buat Ruwi. Sebab Sarjana Komputer teknik informatika dari STT Stikma Internasional Malang ini, sekarang telah menjadi MC langganan pejabat serta para pengusaha yang punya hajat mantu di Jawa Timur untuk memandu acara resepsi pernikahan dan temu manten dengan adat Jawa.

Pada tahun ini, Ruwi juga mendapatkan kepercayaan sebagai pemateri pada Diklat MC Pengantin Jawa yang di gelar RRI Malang. Untuk informasi pendaftarannya bisa langsung datang ke LPU RRI Malang Jalan Candi Panggung 58 Malang , Telpon (0341) 476633 atau bisa juga melalui WA di nomor 0821 3967 9144.

“Ilmu harus dibagikan, supaya banyak orang yang turut peduli dan melestarikan budaya Jawa yang adi luhung,” pungkasnya.(Hmz/Aka/Adv)

Lama Vakum, Toxictoast Come Back dengan Album Baru “Changes”

Personel Toxictoast. (Istimewa)
Personel Toxictoast. (Istimewa)

MALANGVOICE – Lama tak terdengar gaungnya, band asal Malang, Toxictoast kini kembali lagi berkiprah di dunia permusikan.

Sempat vakum di beberapa tahun lalu, kali ini Toxictoast come back dengan merilis album perdananya di penghujung 2019. Album bertajuk Changes ini berisi 10 lagu yang terdiri dari delapan lagu baru dan sisanya aransemen lagu lama.

Vokalis sekaligus gitaris, Oki Doki, mengatakan, di dalam album Changes ada satu single baru berjudul Perbedaan. Di album Changes ini, di salah satu lagunya mereka juga berkolaborasi dengan Christabel Annora.

“Di album ini intinya menceritakan sebuah perubahan. Baik dalam segi musik maupun setiap personel Toxictoast,” kata Oki.

Keluarnya album baru ini dijelaskan Oki, merupakan niat Toxictoast untuk menyapa kembali penggemarnya.

“Kami ingin kembali berkiprah di dunia permusikan. Apalagi ini adalah cita-cita yang tertunda sejak 2009 lalu,” lanjutnya.

Diketahui Toxictoast terbentuk pada 1999. Kala itu band ini diberi nama Suguyama dengan genre skate punk. Selama dua tahun berselang, band ini berubah nama menjadi Toxictoast.

Di tahun 2005 mereka kembali mengalami pergantian line up lagi dengan masuknya Rizal (drum), Oki (vocal). Tidak lama kemudian mereka mengeluarkan single yang berjudul Follow Me dan mereka juga mengeluarkan demo lagu, salah satu lagunya yang berjudul Had A Secret.

Sampai dengan tahun 2010 bassis mereka meme memutuskan balik ke pulau asalnya demi sesuatu yang sangat penting. Mereka merombak lagi formasinya Oki (bass,vocal) Mamet (guitar), Yudho (guitar) dan Rizal (drum).

Mereka sempat vakum selama 2 tahun sampai dengan 2012 awal dan kembali lagi dengan format baru dan formasi baru Oki (guitar,vocal), Yudho (guitar), Mamet (bass), Rizal (drum) dan Nico (synthesizer dan backing vocal) dengan mengeluarkan EP yang berisi 5 lagu. Tidak berselang lama kemudian mereka memutuskan untuk tetap berjalan dengan 4 personel, yaitu Oki (guitar,vocal), Yudho (guitar), Mamet (bass) dan Rizal (drum) dan mengeluarkan single barunya di pertengahan tahun 2014 yang berjudul Berhenti Berharap.(Der/Aka)

One Soul Band, Grup Musik Baru Lintas Generasi

One Soul Band menggelar pre launching di Warung Sumber Gentong, Pakis, Sabtu (2/11).
One Soul Band menggelar pre launching di Warung Sumber Gentong, Pakis, Sabtu (2/11).

MALANGVOICE – Malang muncul band pendatang baru, grup musik ini bernama One Soul. Band yang beranggotakan 11 personel ini memiliki ciri khas sendiri saat tampil di atas panggung.

Baru pre launching pada 2 November lalu di Warung Sumber Gentong, Pakis, Kabupaten Malang, band ini sudah menunjukkan siap untuk tampil secara profesional meski baru dibentuk pada 29 September lalu.

Head Manager One Soul Bang, Susy Julia Wardhani, 11 personel yang terlibat antara lain Hari Koco (bassist), Rickert Lalonoh (bassist), Yoyok (keyboardist), Doddy (keyboardist), Diro (lead guitar), Recky (drum), Cipta (conga), dan empat penyanyi, Anna, Deliana, Nunung, Yuni, dan Shunti Evayana.

“Band ini terbentuk berawal dari komunitas. Jadi biar gak terpecah sendiri-sendiri, kami akhirnya sepakat bikin One Soul. Apalagi semua sudah piawai bermusik,” katanya.

Paling spesial lagi, band ini dikatakan Susy, merupakan lintas generasi. Personelnya terdiri dari bermacam umur, mulai 30-60 tahun dan latar belakang berbeda. Kendati demikian, One Soul siap menunjukkan kekompakan bahkan memberi contoh pada generasi milenial.

“Kami beri contoh bahwa musik tak mengenal usia,” lanjutnya.

Ditambahkan Pembina One Soul Band, Sandy Donosepoetro, grup musik ini memiliki genre all round music. Artinya semua bisa dimainkan dengan mengaransemen lagu popolar classic. Bisa reggae, disko klasik, blues, atau rock n roll.

“Konsepnya, kami ingin punya band yang bisa memenuhi selera konsumen. Semua bisa, makanya disebut all roud, kecuali dangdut,” jelasnya.

Setelah pre launching ini, One Soul Band akan terus menggelar show. Terdekat pada 9 November di tempat yang sama dan acara besar pada 11 Desember di Anang Cafe. Di sana, One Soul akan menampilkan disko klasik.

“Tentu kami berharap tahun depan sudah punya kalender event sendiri. Sehingga band ini bisa bertahan, jangan sampai baru tiga bulan bentuk kemudian bubar,” tandasnya.(Der/Aka)

Mencicipi Sajian Ketan ‘Legenda’ yang Tak Lekang Waktu di Kota Batu

Kedai pos ketan legenda yang berada di di Jalan Kartini, Kelurahan Sisir, Kota Batu (Ayun/MVoice)
Kedai pos ketan legenda yang berada di di Jalan Kartini, Kelurahan Sisir, Kota Batu (Ayun/MVoice)

MALANGVOICE – Kota Batu memang punya segudang pesona. Saat berkunjung ke kota ini, ada banyak tempat wisata menarik yang bisa kamu eksplor. Mulai dari wisata alam, wisata buatan hingga wisata pertanian.

Tak hanya itu saja, tempat wisata kuliner dengan cita rasa lezat yang melegenda pun juga bisa kamu coba saat berkunjung ke kota yang mendapat julukan de Kleine Swizterland.

Bicara soal kuliner legenda di Batu, tentu tak lepas dari hidangan yang satu ini. Nah, Pos Ketan yang melegenda ini berada di Jalan Kartini, Kelurahan Sisir, Kota Batu.

Berdiri sejak tahun 1967, Pos Ketan Legenda kini memiliki puluhan varian toping. Mulai dari rasa original yang terdiri dari parutan kelapa, bubuk kedelai dan gula jawa, rasa keju susu, hingga rasa duren yang disajikan bersama buah duren asli.

Khotiul Jannah, pengunjung asal Pasuruan mengungkapkan belum ke Kota Batu jika belum mencicipi legitnya sajian ketan di kota dingin ini.

“Tekstur ketannya memang begitu pulen dan terasa meleleh di dalam mulut. Ini menjadi alasan saya kuliner ke Kota Batu. Karena ketan di sini beda dengan lainnya. Meski dibiarkan seharian teksturnya tak keras,” ujarnya.

Sugeng Hadi generasi kedua penerus bisnis Pos Ketan Legenda mengatakan usaha ketan ini pertama kali dirintis oleh neneknya, Siami.

“Resep itu seperti yang dijual oleh nenek sejak 57 tahun silam, hingga ketan kini identik dengan Kota Batu,” ungkapnya saat diwawancarai MVoice.

Pos Ketan Legenda juga mampu menjaga konsistensi rasa sejak 1967. Menurut Sugeng tak ada kiat khusus untuk memasak ketan.

“Paling penting pilih ketan yang berkualitas baik. Kami pilih ketan dari Thailand yang kualitasnya paling baik. Ini lebih mudah diolah dan awet daripada ketan lokal,” imbuhnya.

Untuk penambahan legenda pada nama Pos Ketan diberikan lantaran ketan ini memang melegenda di kalangan pelanggan setia. Warung ketan telah hadir sejak 52 tahun lalu dan masih ramai hingga saat ini.

Pos Ketan Legenda juga dikenal dengan waktu operasional panjang yakni sejak pukul 16.00-03.00 WIB.

Sementara, Plt. Kepala Dinas Pariwisata (Disparta) Kota Batu, Imam Suryono mengatakan kuliner merupakan aset andalan untuk menjual dan meningkatkan perekonomian di suatu daerah.

“Banyak daerah dikenal karena kulinernya. Kuliner memberikan pula manfaat ekonomi secara langsung bagi masyarakat,” tuturnya.

Nah, untuk mencicipi kenikmatan ketan legendaris ini, kamu cukup merogoh kocek sebesar Rp 6 ribu hingga Rp 16 ribu saja tergantung dengan varian rasa dan topping yang ingin dipilih.

Legitnya ketan Kota Batu menjadi destinasi kuliner yang sayang jika dilewatkan saat berada di kota dingin ini.(Der/Aka)

Ketika Penyandang Disabilitas Semangat Mandiri Berkarya

Anika Dyah Erviani, Komunitas Shining Tuli Kota Batu (STB).
Anika Dyah Erviani, Komunitas Shining Tuli Kota Batu (STB).

MALANGVOICE – Penyandang disabilitas memang memiliki keterbatasan dalam hal fisik dan mental. Tapi semangat untuk mengarungi kehidupan bisa tidak terbatas.

Pemberdayaan bagi penyandang disabilitas pun banyak dilakukan agar mereka bisa mandiri di tengah keterbatasannya.

Anika Dyah Erviani (26) melalui Komunitas Shining Tuli Kota Batu (STB) berupaya agar belasan anggotanya punya keterampilan yang bisa menghasilkan.

Sejak lahir, gadis yang memiliki hobi membaca ini sudah tak bisa mendengar alias tuli. Oleh teman-teman sesama penyandang disabilitas tunarungu, Anika didapuk menjadi Ketua Shining Tuli Kota Batu (STB) sejak tahun 2017.

Selain tak bisa mendengar, dia juga tak bisa bicara. Oleh karena itu, bahasa isyarat merupakan sarana komunikasi utamanya. Sarana lain, ia berkomunikasi lewat tulisan.

Dia lantas bercerita tentang komunitas STB dengan bahasa isyarat dan diperkuat dengan tulisan di kertas.

”Saya bergabung dengan komunitas ini setelah diajak diskusi oleh Edi (ketua komunitas Shining Tuli Kota Batu periode 2015–2017) tentang program pengembangan komunitasnya tahun 2015,” tulisnya saat ditemui MVoice di Dau Residence, Desa Sumbersekar, Kabupaten Malang.

Ia belajar banyak hal bersama anggota lain. Dia juga sering mengajak teman-teman sesama penyandang tunarungu belajar Bahasa Isyarat Indonesia (Bisindo) di setiap kegiatan yang diadakan komunitasnya. Mereka saling menyemati satu sama lain untuk tetap percaya diri dan tidak minder.

Ia menambahkan, dalam komunitas itu tidak belajar bahasa isyarat semata. Mereka juga melakukan berbagai kegiatan positif lainnya. Mulai diskusi disabilitas, latihan menari, dan beragam keterampilan lainnya. Salah satunya adalah membuat batik.

”Sebagian kreasi batik teman-teman sudah dibeli oleh Wali Kota Batu, Dewanti Rumpoko,” tambah Alumnus IKIP PGRI Jember itu.

Tak hanya itu, kain batik anggota komunitas juga diapresiasi Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), putra mantan Presiden ke 4 RI Susilo Bambang Yudhoyono.

”Bukan hanya untuk Bapak Agus saja (batiknya), tapi malah juga Bapak SBY sendiri,” tulisnya dalam secarik kertas sambil menunjukkan foto ketika Agus Hadi Yudhoyono berkunjung ke Kota Batu.

Menurut dia, keterampilan teman-temannya membantik dilatih salah seorang anggota komunitas yang kebetulan sudah piawai dalam hal membuat. Sehingga, mereka mampu belajar dari sesama penyandang tunarungu.

”Teman-teman jadi tambah semangat belajar. Karena karyanya diapresiasi para tokoh,” tambahnya.

Dengan bahasa isyarat, dia juga mengungkapkan rasa senangnya karena Dewanti Rumpoko juga punya kepedulian lebih ke penyandang disabilitas.

Kemudian ia memperlihatkan video Dewanti di Instagram yang sedang memakai bahasa isyarat di telepon genggamnya.

Diketahui, kumunitas ini juga sering diundang dalam acara yang diadakan Pemkot Batu. Mereka juga sempat dipertemukan dengan Miss Deaf Word 2011 pada November 2017 lalu.(Hmz/Aka)

Berawal dari Tugas dan Hobi, Kini Raih Jutaan Rupiah Lewat Fotografi

Rizky Alifah Putri. (Istimewa)
Rizky Alifah Putri. (Istimewa)

MALANGVOICE – Rizky Alifah Putri, mahasiswa tingkat akhir di salah satu perguruan tinggi swasta (PTS) Kota Malang ini memiliki hobi yang keren. Bahkan, dari hobi ini ia dapat memiliki penghasilan hingga jutaan.

Ya, hobi yang ia geluti adalah fotografi. Wanita yang akrab disapa Rizky ini menjelaskan awal mula ia menggeluti hobinya, yakni berawal dari tugas kuliah pada semester pertama.

“Jadi, awalnya itu dari tugas kuliah dan ternyata hasil karya saya dipamerkan di kampus. Tapi saat itu saya belum punya kamera, tetap saya geluti dunia foto,” katanya kepada MVoice, Sabtu (20/9).

Tak berhenti sampai di situ, Rizky pun melanjutkan kecintaannya di dunia fotografi dengan mengikuti komunitas-komunitas fotografi. Namun, pada saat itu ia belum masuk di salah satu komunitas. Baginya, memotret suatu obyek memiliki kesan yang tak bisa terlupakan.

“Ya, dulu cuma ikut-ikut event dan komunitas tapi belum sampai masuk anggotanya,” imbuhnya.

Dengan keahliannya memotret model dan lain sebagianya, lantas Rizky kemudian menjadikannya hobi ini sebagai penghasilan untuk sekadar mencukupi kebutuhan atau membeli perlengkapan kamera.

Bermodalkan kamera, lighting, tripod dan lainnya, Rizky mulai memotret sepasang kekasih atau dikenal dengan foto prewedding. Satu paket foto ia mulai mematok harga sebesar Rp 1,5 juta. Harga ini tergantung permintaan konsumen.

“Kalau untuk memotret prewedding sebenarnya sudah beberapa tahun lalu, ya saya tekuni memang ini hobi saya. Dan, saya melakukannya sendirian tanpa ditemani siapapun,” ungkapnya.

Dengan bakatnya, ia kemudian diangkat menjadi pengurus di Komunitas Fotografi Indonesia (KFI) regional Malang sebagai sekretaris. Langkahnya menjadi fotografer terus ia tekuni, sampai ia benar-benar menggapai impiannya.

Pengalaman demi pengalaman pun ia lalui, ada banyak tipe model yang dapat ia pelajari di kehidupan nyata. Seperti saat ia memotret anak kecil untuk endorsement salah satu produk pakaian, yang ia dapat adalah kesabaran dalam menghadapi orang lain atau saat ia mengalami cobaan.

“Banyak pengalamannya, terlebih saya wanita sendiri di KFI. Saya banyak didukung dan dirangkul oleh teman lainnya. Harapan ke depan, saya dapat menjadi fotografer dan membuka pameran sendiri, atau nggak saya bisa keluar negeri,” pungkasnya sembari tersenyum kecil. (Der/Ulm)

Kisah Devano, Siswa Kota Batu yang Masuk Paskibraka di Istana Negara

Mochammad Devano Faris Estiawan siswa SMAN 1 Batu

MALANGVOICE – Mochammad Devano Faris Estiawan (16), Pasukan Pengibar Bendera (Paskibraka) asal Kota Batu, bakal bertugas di Istana Negara untuk ulang tahun ke-74 Republik Indonesia nanti.

Devano berhasil menyingkirkan pesaing di 36 kota/kabupaten di Jatim setelah melalui serangkaian seleksi ketat di tingkat sekolah, daerah, hingga nasional.

Ia sudah mengikuti ekstra kurikuler baris berbaris di sekolahnya. Lantaran potensi yang dimiliki Devano, akhirnya ia diikutkan bersama beberapa temannya untuk seleksi provinsi terlebih dahulu. Seleksi provinsi ia lolos, lalu ia mengikuti seleksi nasional.

“Ya, setiap kota diambil satu pasang, sampai akhirnya seleksi nasional, setiap provinsi satu pasang. Dan saya terpilih bersama perwakilan dari Tulungagung, Dhea Lukita Anggriana,” ungkap siswa SMAN 1 Batu itu.

Anak bungsu dari pasangan Prayanti Sulistyawati dan Ahmad David ini harus melewati berbagai macam tes kemampuan fisik dan tes tulis. Semua ia lalui dengan sempurna. Dan mendapatkan peringkat pertama dari peserta se-Jatim.

Menurutnya, bagian menantang ialah saat tes fisik. Dikatakannya sejak kecil ia sudah aktif di olahraga, sehingga tes fisik itu menurutnya adalah makanannya sehari-hari.

“Sejak kecil saya sudah sering olahraga. Jadi harus terbiasa. Tesnya itu mulai sit up, push up, lari, tes suara, dan masih banyak lagi,” sambung warga Kelurahan Sisir itu.

Ketika mengikuti tes sit up, ia mendapatkan poin tertingg yakni nilai 100. Nilai itu ia dapatkan lantaran ia mencapai 55 kali hitungan. Padahal nilai maksimal adalah 40 kali hitungan.

Devano menambahkan jika sejak kecil ia ingin menjadi anggota polisi. Karena itulah, ia harus maksimal menjalani prestasi karena terpilih menjadi anggota paskibraka nasional.

Sementara, Devano bersama perwakilan se-Indonesia yang terpilih harus menjalani masa karantina. Pola makan yang sebelumnya harus ia atur dengan tepat.

“Makanan kesukaan saya kan nasi goreng, jadi harus meninggalkan makanan itu. Karena tidak boleh makan nasi. Diganti dengan telur ayam kampung. Dibanyakin makanan yang banyak mengandung energi dan protein,” ungkap siswa yang memiliki tinggi badan 178,5 centimeter ini. (Hmz/ulm)