VIDEO: Sang Maestro Payung Kertas Asal Kota Malang

MALANGVOICE – Rasimun (94) atau bisa dipanggil mbah Rasimun adalah sang maestro payung kertas yang berasal dari Kota Malang.

Dari hasil karyanya, dia pernah mendapatakan penghargaan dari Sri Paduka Mangkunagoro IX Kasunanan Surakarta dan Mataya.

Rasimun beralamat di Jalan Laksamana Adi Sucipto Gang Taruna 3 Kelurahan Pandanwangi, Kecamatan Blimbing, Kota Malang ini sudah Membuat payung kertas dari tahun 1945 saat Indonesia merdeka.

Dia juga bisa membuat bermacam macam payung mulai dari ukuran yang kecil hingga besar sekalipun. Harga dari hasil karya pembuatan payung kertas kini mulai Rp 25 ribu hingga jutaan rupiah dan karyanya sekarang sudah meluncur sampai Jepang, Prancis, Thailand dan beberapa negara lainya.(Der/Aka)

VIDEO: Rock City Vacation, Ajang Silaturahmi Seniman Street Art Graffiti se-Indonesia di Kota Batu

MALANGVOICE – Seniman Street Art Graffiti Kota Batu mengadakan acara menggambar bersama di Jalan Wukir, Kelurahan Temas, Kota Batu. Acara ini diberi nama Rock City Vacation.

Acara ini diadakan setiap tahun sekali. Tidak hanya seniman street art dari Kota Batu saja, seniman dari kota lain pun ikut acara tersebut, seperti Kota Surabaya, Gresik, Solo, dan Yogyakarta.

Tujuan diadakan acara ini yakni untuk mempererat tali persaudaraan antara seniman Graffiti se Indonesia atau bisa disebut juga reuni.(Der/Aka)

VIDEO: Dari Hobi, Karya Seni Lukis Jadi Bisnis Menggiurkan

MALANGVOICE – Berawal dari hobi seni lukis, Dyah Rahmalita mengembangkan hobinya.

Setelah dari media kanvas, dia belajar melukis dengan media kaca atau bisa disebut dengan glass painting. Seni melukis dikaca ini dikenalkan oleh temannya dari Rumania dan mulai ditekuni Rita dari tahun 2007 hingga sekarang.

Lita Art, adalah workshop sekaligus toko di mana karya-karya hasil Lita dijual. Toko sekaligus rumah Lita ini beralamat di Jalan Kawi Selatan No. 1 Kota Malang. Di sana menyediakan aneka rupa hiasan ruangan mulai dari hiasan piring lukis, cermin lukis, gelas lukis, dan lain sebagainya.

Sasaran Lita saat ini untuk kalangan menengah ke atas. Hal ini dikarenakan harga jual hasil karya Lita yang cukup tinggi dan pesanan yang ditarget adalah Jakarta bahkan sampai Malaysia, Brunei, hingga Hawai.(Der/Aka)

VIDEO: Depot Es Talun yang Tetap Bertahan Sejak 1950

MALANGVOICE – Di Kota Malang terkenal dengan beraneka ragam sajian kuliner. Mulai makanan ringan hingga berat gampang ditemui di setiap sudut kota.

Namun, dari banyaknya kuliner yang ada, ternyata Malang punya sajian legendaris yang bertahan mulai 1950, ya tempat itu adalah Depot Es Talun.

Meski digempur dengan kuliner modern, Depot Es Talun tetap bertahan dengan ciri khasnya.

Pendiri Depot Es Talun pertama bernama Om Loek. Namun sejak 1998 depot es ini berpindah ke Wiwik Kholifah yang merupakan ibunda Afni, pengelola sekarang.

Meski berpindah kepemilikan, tetapi lokasi dan resep es Depot Es Talun masih sama. Lokasinya berada di Jalan Arief Rahman Hakim Nomor 2, Malang.(Der/Aka)

Mengenang Tentara Sukarela Pembela Tanah Air (P­­eta)

Prajurit Peta sedang berlatih dengan bayonet terhunus (totsu geki).

MALANGVOICE – Memperhatikan sikap para pemimpin pemerintah pendudukan militer Jepang saat itu, para pemimpin Indonesia merumuskan gagasan-gagasan tentang pembentukan tentara nasional atau pasukan sukarela. Di saat Jepang mengerakkan pasukannya ke timur di wilayah Lautan Pasifik, ditengarai akan terjadi kekosongan pasukan dalam sistem pertahanan di wilayah Pulau Jawa dan Pulau Sumatra.

Mereka pun menyampaikan surat usulan kepada pemerintah pendudukan militer Jepang di Indonesia melalui Gatot Mangkupradja setelah mendapat persetujuan dari pemimpin golongan Islam (KH Mas Mansoer dkk.), golongan priyayi (Ki Ageng Suryo Mataram), seinenden (Mr. Soepangkat dan Sadarjoen), serta R. Soedirman. Moh. Hatta pun mengemukakan dukungannya dalam pidato di lapangan Ikada (3/11/1943).

Terkondisi oleh hal tersebut, Wakil Kepala Staf Umum Markas Besar Komando Kawasan Selatan Mayor Jenderal Inada Masazumi mengusulkan agar Jepang membentuk pasukan pribumi atau boei giyugun yang kemudian dikenal dengan Tentara Sukarela Pembela Tanah Air (Peta). Ini didasarkan pada pembentukan pasukan yang sudah berhasil seperti di Birma (Myanmar) dengan nama BIA (Burma Indipendence Army) yang dipimpin Aung San, dan di Malaya dikomandani Mohan Singh dengan nama INA (Indian National Army).

Pada Agustus 1944, perwira tamatan kursus kyoikutai Angkatan Pertama di tugaskan ke daidan-daidan bagian selatan Pulau Jawa. Angkatan Kedua disebar ke bagian utara Pulau Jawa, seperti Pekalongan, Cirebon, Banten, Semarang, Pati, Surabaya, dan Bojonegoro. Dilaksanakan juga pendidikan lainnya, seperti peralatan (heiki), keuangan (keiri), dan kesehatan (eisei). Selama Desember 1943 hingga Agustus 1944, pendidikan perwira Peta telah membentuk 55 daidan di Pulau Jawa. Daidan-daidan ini dibawah komando Panglima Tentara XVI Letnan Jenderal Harada Kumakichi. Komandan Pasukan (boetaicho) di Jawa Barat Mayor Jenderal Mabuchi Hayao, di Jawa Tengah Mayor Jenderal Nakamura Junji, di Jawa Timur Mayor Jenderal Iwabe Shigeo. Selanjutnya di bawahnya, komandan-komandan batalyon tentara regular Jepang (daitaicho).

Dalam perkembangannya, urusan tentara Peta diembankan kepada staf khusus Boei Giyugun Shidobu yang beranggotakan Kapten Yamazaki Hajime, tiga orang shodancho yaitu Kemal Idris, Daan Mogot, dan Zulkifli Lubis. Dari sipil, Ichiki Tatsuo, dan 3 orang Indonesia: Haji Agoes Salim, Sutan Perang Boestami, dan Otto Iskandardinata.

Di Karesidenan Malang, untuk membantu kelancaran fungsi Peta, para anggotanya diupayakan berasal dari berbagai golongan dari warga setempat. Perwira-perwira Peta yang menjadi komandan batalyon (daidancho) dipilih dari tokoh-tokoh setempat atau orang-orang terkemuka di daerah itu. Komandan kompi (chudancho) biasanya dipilih dari kalangan guru, komandan peleton (shodancho) diambil dari kalangan pelajar (SLTP/SLTA), serta komandan regu (budancho) direkrut dari pemuda-pemuda SD. Melalui tahapan proses pendidikan/ pelatihan, di Karesidenan terbentuk 5 daidan: Dai I Daidan Malang (Gondanglegi), Dai II Daidan Lumajang Pasirian, Dai III Daidan Lumajang, Dai IV Daidan Malang Kota, Dai V Daidan Probolinggo.

Dai I Daidan Malang (Gondanglegi)

Daidancho : Iskandar Soelaiman
Fukan : Soemarto (shodancho)
Eisei : dr. Ibnoe Mahoen (chudancho)
Keiri : Hendro Soewarno (shodancho)
Heiki : Soekardi (shodancho)
Sabar Sutopo (shodancho)

Dai I Chudan : Hamid Rusdi (chudancho)
Dai I Shodan : Ibnoe Soetopo (shodancho)
Dai II Shodan : Soediri Doemadi (shodancho)
Dai III Shodan : Abdoel Moekti (shodancho)

Dai I Chudan : Hamid Rusdi (chudancho)
Dai I Shodan : Ibnoe Soetopo (shodancho)
Dai II Shodan : Soediri Doemadi (shodancho)
Dai II Shodan : Soediri Doemadi (shodancho)

Dai II Chudan : Abdoel Manan (chudancho)
Dai I Shodan : Moeljono (shodancho)
Dai II Shodan : Soemeroe (shodancho)
Dai II Shodan : Soedarsono (shodancho)

Dai III Chudan : Harsono (chudancho)
Dai I Shodan : Moetakat Hoerip (shodancho)
Dai II Shodan : Ridwan Naim (shodancho)
Dai II Shodan : Soepardji (shodancho)

Dai IV Chudan : A. Masdoeki (chudancho)
Dai I Shodan : Singgih (shodancho)
Dai II Shodan : Umar Said (shodancho)
Dai II Shodan : Soepardji (shodancho)
Hombu Chudan : A. Masdoeki (chudancho)

Budancho: Soekarmen, Sarwono, Moenadji, Asnan Gozali, Soejoto, Bedjo, Soeprapto, Soeprantio, Koeswari, Rifai, Kasirin, Koesen, Achmad, Drajat, Slamet, G. Soentoro, Koesnadi, Soelaiman.

Dai IV Daidan Malang Kota

Daidancho : Imam Soedjai
Fukan : Soekardani (shodancho)
Eisei : dr. Muhamad Imam (chudancho)
Keiri : Achmad Soegiantoro (shodancho)
Heiki : Soehardi (shodancho)
Hifuku : Soesilo (shodancho)
Renraku gakari : Widjojo Soejono (shodancho)
Darsi gakari : Pandoe Soejono (shodancho)
Shudosi : Hariman (shodancho)
Honbu : Soebroto (shodancho)

Dai I Chudan : Sochifudin (chudancho)
Dai I Shodan : A. Manab Rasmosingo (shodancho)
Dai II Shodan : D. Soekardi (shodancho)
Dai III Shodan : Moh. Hidayat (shodancho)

Dai II Chudan : M. Mochlas Rowie (chudancho)
Dai I Shodan : A. Manab Rasmosingo (shodancho)
Dai II Shodan : D. Soekardi (shodancho)
Dai III Shodan : Moh. Hidayat (shodancho)

Dai III Chudan : Sulam Samsun (chudancho)
Dai I Shodan : Soejono (shodancho)
Dai II Shodan : Soekarjadi (shodancho)
Dai III Shodan : Soeprapto (shodancho)

Dai IV Chudan : Moch. Bakri (chudancho)
Dai I Shodan : Imam Hambali (shodancho)
Dai II Shodan : Aboe Amar (shodancho)
Dai III Shodan : Soebowo (shodancho)

Berlangsungnya proses pelaksanaan penyerahan kekuasaan dari Jepang kepada pihak Sekutu, dalam rapat gun-shireikan dibahas penjaminan keamananan Jepang di daerah wewenang Tentara Keenam Belas. Kesatuan-kesatuan seperti Peta dan Heiho dianggap berpoteni besar untuk bermasalah terutama dengan meletusnya pemberontakan Peta di Blitar. Pada 18 Agustus 1945 dikeluarkan perintah untuk membubarkan daidan-daidan Peta. Esok harinya, Panglima terakhir Tentara Keenam Belas di Jawa Letnan Jenderal Nagano Yuichiro menyampaikan pidato perpisahan kepada semua anggota Peta. Mereka diberi pesangon 6 bulan gaji serta pembagian bahan makanan dan bahan pakaian. (idur/Perjuangan Total Brigade IV pada Perang Kemerdekaan di Karesidenan Malang, 1997).

VIDEO: Kain Benang dan Tas Kresek Bisa Karya Menarik dan Menguntungkan

MALANGVOICE – Berawal dari hobi membuat berbagai barang dari kain benang, kini karya Boscha Rajut mulai dijadikan bisnis.

Tak hanya menggunakan kain benang saja, bahan yang digunakan bisa tas plastik.(Der/Aka)

VIDEO: Hiasan Unik Topeng Malangan

MALANGVOICE – Hiasan unik topeng Malangan dari karya Malangan.com. Hiasan itu bisa dimodel gantungan kunci, plakat, piala, pigura serta vandel.

Beralamat di Taman Borobudur Agung II No.44, Mojolangu, Lowokwaru, Kota Malang, Tujuan membuat Malangan.com untuk membangun pusat oleh-oleh ciri khas Kota Malang yang berbeda dari lainnya, seperti keripik tempe, keripik apel dan lain sebagainya.(Der/Aka)

VIDEO: Hotbottles Recycle Company Ciptakan Karya Apik dari Botol Bekas

MALANGVOICE – “Making Money From Zero” memulai bisnis tanpa modal Tagline Taufiq Saguanto. Kata itu menggambarkan bahwa untuk berbisnis tidak harus menggunakan modal, semuanya hanya perlu melihat sekitar. 

Hotbottles Recycle Company bertempat di Alam Dieng Residence Blok a no.1, Sukun, Kota Malang ini berdiri pada 18 Januari 2016.

Taufiq Saguanto juga mengadakan pembelajaran bisnis cara mengolah daur ulang botol bekas yang diikuti sebanyak 3.000 orang dari luar negeri maupun dalam negeri. Produknya bisa bermacam-macam, mulai dari mobil, hiasan dinding, pesawat dan robot.(Der/Aka)

VIDEO: Usaha Pengrajin Kayu Mantan Narapidana

MALANGVOICE – Sempat merasakan tinggal di lapas Lowokwaru karena kasus narkoba, namun Mario Bennet tak putus asa.

Berbekal keahlian bimbingan di dalam penjara, ia kemudian membuat kerajinan sendiri setelah keluar lapas.

Setelah menjalani proses hukum, usaha ini berkembang semakin luas hingga saat ini. Berbagai macam kerajinan seperti kacamata, jam tangan, lampu belajar, dan berbagai macam kerajinan lainnya yang berbahan dasar dari kayu dan bambu. Workshop yang beralamat di jalan Kemantren 1 No. 12, Bandungrejosari, Sukun, Kota Malang ini juga memanfaatkan teman temannya sebagai karyawan.(Der/Aka)

VIDEO: Sampah Menjadi Sebuah Karya Yang Menakjubkan Di Tangan Ernik Yustiana

MALANGVOICE – Bermula di tahun 2012 Ernik Yustiana sapaan akrab Yustin, memulai usaha daur ulang dari bahan sampah non logam.

Dari bahan sampah non logam, seperti plastik, botol kaca, kain perca, sisa kulit industri, CD bekas, pelepah pisang kering hingga ampas kelapa disulap menjadi barang seni yang apik.

Semua bahan itu dijadikan gantungan kunci, tas, kostum, dan lainya. Harga yang ditawarkan cukup bervarian mulai dari Rp 2 ribu sampai Rp 500 ribu tergantung tingkat kesulitanya. Untuk pengerjaannya sendiri bisa 2 hari sampai 1 minggu.

Di rumahnya Jalan Binor, Bunulrejo, Malang, Yustin menjalankan usahanya sendiri. Kostum yang dibuatnya setiap tahun mengikuti acara MFC (Malang Flower Carnival). (Der/Aka)

Komunitas