VIDEO: Sampah Menjadi Sebuah Karya Yang Menakjubkan Di Tangan Ernik Yustiana

MALANGVOICE – Bermula di tahun 2012 Ernik Yustiana sapaan akrab Yustin, memulai usaha daur ulang dari bahan sampah non logam.

Dari bahan sampah non logam, seperti plastik, botol kaca, kain perca, sisa kulit industri, CD bekas, pelepah pisang kering hingga ampas kelapa disulap menjadi barang seni yang apik.

Semua bahan itu dijadikan gantungan kunci, tas, kostum, dan lainya. Harga yang ditawarkan cukup bervarian mulai dari Rp 2 ribu sampai Rp 500 ribu tergantung tingkat kesulitanya. Untuk pengerjaannya sendiri bisa 2 hari sampai 1 minggu.

Di rumahnya Jalan Binor, Bunulrejo, Malang, Yustin menjalankan usahanya sendiri. Kostum yang dibuatnya setiap tahun mengikuti acara MFC (Malang Flower Carnival). (Der/Aka)

Catatan Februari 1949: Perang Kemerdekaan di Karesidenan Malang

Situasi pertempuran di Wonokoyo, Dampit 1949

Pertengahan Januari 1949, besarnya kekuatan patroli pasukan Belanda dengan intensitas gerak yang tinggi disertai provokasi, perampokan, dan berbagai upaya untuk menurunkan semangat juang rakyat, menunjukkan ambisi Belanda yang kuat untuk menduduki Kota Dampit. Sejak awal Februari 1949 mereka bergegas memperbaiki jembatan dan jalan-jalan yang dirusak oleh pasukan gerilya RI dengan tujuan menguasai jalur perhubungan.

3 Februari 1949. Pasukan Untung Suropati 18 (PUS 18) bergerak dari Wonokitri menuju Gunung Kelop untuk membuat pangkalan pesiapan sekaligus perbentengan. Bagian dari pekerjaan awal PUS 18 pada waktu itu adalah menyusun kembali pemuda desa (Pagar Desa) yang kokoh dan membentuk pelopor-pelopor dari golongan rakyat yang bersenjata. Pekerjaan lainnya adalah mencari berita dan membentuk perhubungan lewat pos-pos rahasia.

4 Februari 1949. Pagi hari, diperoleh kabar bahwa pasukan Belanda dari Pamotan sudah sampai di Kota Dampit. Dikirimlah satu regu penyelidik ke wilayah Sumber Kembar untuk membaca situasi dan mereka kembali dengan informasi bahwa Belanda dengan kekuatan satu regu berada di gardu. PUS 18 pun mengadakan stelling di benteng untuk bersiaga. Seksi I Dan Seksi II dengan Keiki Kanjue (senjata mesin ringan) dan regu senapan mulai bergerak dari Gunung Kelop menuju Sumber Kembar. Serangan urung dilakukan karena pasukan masuh sudah kembali ke Dampit.

Regu Keiki Kanjue dan regu senapan selanjutnya memasuki Kota Dampit dan ketika melihat ada sepasukan musuh berada di pertigaan jalan besar dekat pasar, mereka pun melepaskan tembakan. Terjadi pertempuran sampai saat musuh mendapat bantuan dari Pamotan dan bermaksud mengepung. Pasukan RI melakukan pengunduran karena mendapat serangan balasan dari dua jurusan dengan persenjataan yang lebih kuat dan senjata berat. Musuh melakukan pengejaran, namun mereka pun kemudian mundur ketika tiba-tiba mereka ditembaki oleh juuki dan tekidanto pasukan RI dari atas Gunung Kelop.

21 Februari 1949. PUS 18 dengan bantuan dari pasukan Sabar Soetopo telah selesai mempersiapkan rencana dan gerakan untuk melalukan serangan-serangan terhadap pasukan Belanda. Perlu dilakukan pengacauan-pengacauan terhadap pangkalan-pangkalan musuh di Turen dan Sedayu, serta menghambat pergerakan musuh ke selatan dan timur. Bantuan tenaga dari rakyat daerah otonom Purwantoro sangat penting sebagai upaya untuk mengobarkan semangat dan kesetiaan rakyat pada RI meskipun meraka ada di daerah pendudukan Belanda. Musuh yang waktu itu juga berpangkalan di Sedayu bermaksud memudahkan kepentingan gerakan dan perbekalannya di wilayah selatan dengan bantuan dari Krebet dan Malang.

22 Februari 1949. Tengah malam, PUS 18 bersama rakyat bergerak menyerang sasaran di Talok, merusak jembatan Lesti, dan menyerbu pos di Turen. Serangan berhasil, musuh menarik mundur pasukannya. Meskipun jembatan Kali Lesti gagal diledakkan, paginya, 23 Februari 1949, pukul 05.00 WIB Kota Sedayu dapat dikuasai.

24 Februari 1949. Banjarpatoman dan sekitarnya telah dikuasai oleh pasukan RI.

27 Februari 1949. Didapatkan berita bahwa sebagian pasukan Belanda bergerak menuju Ngelak dan Amadanom. Pasukan RI segera menaiki Gunung Pandan Asri untuk stelling di perbentengan, sementara pasukan musuh sudah sampai di ujung kampung Banjarpatoman. Menunggu kedatangan musuh, serangan tidak dilakukan, karena untuk merahasiakan posisi dan menghemat amunisi. Ditengarai musuh berkekuatan satu setengah kompi, bersenjata juki, PM (pistol mitralyur), diikuti pasukan Genie dan Telegrafi, dan sebagian besar terdiri dari tentara Cakra yang ditarik dari Bali (Pasukan Gajah Merah).

Pukul 08.00 terjadilah tembak menembak selama hampir 3 jam. Pasukan RI menghentikan tembakan karena persediaan amunisi hampir habis. Pertempuran Wonokoyo bisa dikatakan sebagai pertempuran terbesar selama ini di wilayah Semeru Selatan. Di pihak musuh, banyak berjatuhan korban tewas dan luka, termasuk tewasnya komandan mereka. Di pihak pasukan RI, gugur 3 orang pasukan dan 3 orang penduduk sekitar.

Siangnya, pasukan musuh menangani mayat para serdadu dan mereka yang terluka, lewat Amadanom menyusuri lembah sungai dan jalanan kembali ke Dampit. Pasukan RI berhasil merampas PM, 300 butir peluru Karaben, sebuah Karaben, 3 mortier dan tempat peluru lengkap.

Sementara itu di wilayah lainnya, pada 3 Februari 1949, pihak Belanda mengadakan serangan ke sarang gerilya di Trawas. Pasukan gerilya termasuk pasukan Mansur Solichin terpaksa melakukan pengunduran.

17 Februari 1949. Pasukan gerilya menyerang markas Belanda di Wonokerto, melakukan pengrusakan di jalan-jalan, merusak kawat-kawat telepon dan listrik, serta memasang ranjau darat (Myn). Pertempuran terjadi, delapan pasukan Belanda tewas, sebuah truk hancur terkena Myn.

Esok harinya, pasukan gerilya kembali beraksi di jalan kereta api dan jalan raya, dan pemasangan Myn di Candirubuh Kenduruan. Sorenya, Myn berhasil melumatkan 2 truk bermuatan serdadu Belanda. Tidak lama, bantuan musuh datang menggunakan kereta api yang kemudian terhenti dihantam pasukan gerilya. Terjadilah kontak senjata. Tiga belas serdadu Belanda tewas, dari pasukan gerilya gugur satu bunga bangsa, Much. Nasir.

25 Februari 1949. Kota Pandaan menjadi sasaran gerakan pasukan gerilya. Dengan tujuan melucuti senjata polisi Belanda, mereka melakukan penghadangan di jalan raya Pandaan-Sukorejo, memasang Myn dan merusak kantor-kantor Belanda. Dapat dirampas 4 pucuk senjata, pakaian, sepeda, dan peralatan lainnya.

26 Februari 1949. Malam hari. Pasukan gerilya berhasil menghancurkan sebuah panserwagon yang sedang berpatroli menuju Pandaan. (idur/Perjuangan Total Brigade IV pada Perang Kemerdekaan di Karesidenan Malang, 1997).

VIDEO: Di Tangan Khilmi Ardiansyah, Batang Korek Api Jadi Karya Seni

MALANGVOICE – Dengan ketekunan dan kreativitasnya, Khilmi Ardiansyah (37) mampu menyusun batang korek api menjadi karya seni.

Pria asal Desa Pandanlandung, Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang ini aneka miniatur, hiasan dinding, bahkan publik figur. Yang membuat dia dikenal adalah karyanya membuat sketsa wajah Prabowo Subianto dan Joko Widodo. Dua calon pemimpin negeri yang sedang bertarung di Pilpres 2019.(Der/Aka)

VIDEO: Blessed Merch, Wadahi Seniman Street Art Kota Batu

MALANGVOICE – Berawal dari jualan cat semprot, kini usaha yang menyediakan peralatan seniman street art di Kota Batu semakin berkembang.

Blessed Merch yang berlokasi di Jalan Bukit Berbunga 211 Sidomulyo Kota Batu ini tidak hanya menyediakan perlengkapan menggambar saja, melainkan juga menyediakan merchandise seperti topi, baju, jaket, tas dan aksesoris lainnnya.(Der/Aka)

“Kawi Pact” Ambisi Tan Malaka di atas Gunung Kawi (1)

Mayor Mochlas Rowie

Kondisi seusai Perundingan Renville, 1947, hampir tiga perempat daerah RI dikuasai oleh Belanda. Situasi saangat memprihatinkan karena adanya penghijrahan dan pengosongan daerah-daerah kantong sesduah RERA (Reorganisasi-Rasionalisasi), serta tekanan akibat blokade ekonomi Belanda. Keadaan seperti ini kemudian dimanfaatkan oleh kepentingan-kepentingan politik dengan munculnya gerakan politik dan konsolidasi di daerah Gunung Kawi, bersamaan dengan keluarnya Tan Malaka dari penjara. Ia menggiatkan kembali gerakan politiknya dan mengadakan pertemuan-pertemuan, memformulasikan dan membentuk GPP (Gerakan Pembela Proklamasi).

Saat itu di Malang, Mayor Mochlas Rowie menjabat Komandan Daerah Gerilya III yang kemudian menjadi SWK III di Malang Selatan, satu-satunya daerah yang masih dikuasai RI di Karesidenan Malang dan meliputi Kawedanan Kepanjen, Kawedanan Turen, dan Kawedanan Pagak. Saat bergerilya, SWK III membawahi 2 sektor di wilayah perbatasan Kediri-Wlingi-Malang. Sektor I berkedudukan di Sumber Pucung dipimpin Kapten Nailun Hamam dan Sektor 2 bermarkas di Pagak dipimpin Lettu Abd. Munir.

Ketika Belanda masuk Yogyakarta, 19 Desember 1948 dan diumumkan bahwa Soekarno-Hatta ditangkap. Dengan alasan Presiden RI dan Wakil Presiden tidak ada, Tan Malaka menggunakan kesempatan ini untuk mendeklarasikan berdirinya GPP (Gerakan Pembela Proklamasi) di atas Gunung Kawi.

Pada Januari 1949, bertempat di Kalitapak, Kawi Selatan, diadakan pertemuan yang dihadiri oleh sebagian besar kaum politisi, beberapa kesatuan, dan utusan corps mahasiswa. Namun, beberapa dari mereka meninggalkan pertemuan dan mengundurkan diri, karena arah pertemuan telah dibelokkan pada kepentingan politik tertentu, banyak kalangan tidak setuju dengan langkah-langkah yang ditempuh Tan Malaka cs dengan pendirian Negara Demokrasi Indonesia-nya. “Kawi Pact” bertujuan mewujudkan cita-cita demokrasi ala Tan Malaka.

Dengan dalih tidak adanya Presiden RI dan wakilnya, ia memproklamasikan berdirinya Negara Demokrasi Indonesia sekalgus menunjuk dirinya sendiri sebagai presiden, mengangkat Kolonel Warrow sebagai Menteri Pertahanan dan Mayor Sabaruddin sebagai Panglima Besar GPP. Pembentukan “Kawi Pact” dimaksudkan untuk mengikat unsur-unsur dalam kesatuan GPP.

Beberapa kesatuan sempat terseret karena pengaruh yang intens dari Tan Malaka cs. Warrow sebenarnya adalah komandan brigade mobil yang ditugasi sebagai pasukan cadangan, tidak memiliki wilayah khusus tapi diperbantukan di wilayah Jawa Timur dan berkedudukan di tapal batas Malang-Kediri, Wlingi Utara di lereng Gunung Kawi. Seharusnya sebagai komandan, dia melapor keberadaannya kepada KMD Malang Letkol. dr. Soedjono, tapi tidak dilakukannya.

Sabaruddin ternyata mantan nara pidana dan petualang, pernah mendapat pendidikan dari Peta dan mengaku sebagai PM (Polisi Militer). Dia menangkap dan membunuh orang-orang yang tidak disukainya, seperti Shodancho Sidoarjo Budiarjo (Mantri Kabupaten dan mantan komandannya). Sebenarnya, sebelum itu banyak kegiatan kriminal dilakukannya sehingga dia ditangkap dan dipenjara di Kediri oleh Panglima Divisi Soengkono. Setelah direhabilitasi, Sabaruddin mempunyai pasukan mantan para narapidana yang juga telah direhabilitasi oleh Panglima Divisi Soengkono, tapi ternyata lebih banyak mengacau keamanan daripada ikut berjuang melawan Belanda. Ditunjuk menjadi panglima besar GPP oleh Tan Malaka, telah melunasi ambisinya akan kedudukan dan kekuasaan

Tuntutan Tan Malaka cs. antara lain adalah kekuasaan terhadap seluruh wilayah landai Gunung Kawi, wilayah Kediri, dan Malang. Letkol dr. Soedjono sebagai Komandan Brigade IV menolak keras tuntutan itu karena wilayah komando militer di Malang berada dalam tugas pengamanannya. Mochlas Rowie pun selaku Komandan SWK juga memperingatkan pasukan yang terseret Tan Malaka cs. untuk tetap tunduk kepada pimpinan KMD Malang dan tidak ada pemerintah lain selain Pemerintah RI. Sebagai pegangan, pemerintah militer RI tetaplah dibawah pimpinan Jendral Soedirman. (Bersambung) (Idur)

Catatan Peristiwa Desember, Perang Kemerdekaan di Karesidenan Malang (1)

Peta gerakan Kompi Gagak Lodra.

Pada 19 Desember 1948, Belanda mulai mengadakan Agresi Militer II dengan lebih rapi. Dini hari, pasukan Belanda sudah menempati posisi di belakang garis pertahanan pasukan RI di sekitar Ngantang. Mereka bertujuan untuk menguasai pusat pembangkit listrik Mendalan (sentral listrik terbesar di Jawa Timur, terletak di pinggir Sungai Konto di perbatasan Karesidenan Kediri dan Malang). Rakyat berbergerak melaporkan hal ini kepada Kapten Sumeru yang kemudian diteruskan kepada Komandan Batalyon di Pujon. Pukul 10.00 pagi serdadu Belanda sudah melintas menuju ke Gunung Kelet, Desa Bian, Bendosari , dan Bakir. Mereka berhasil menutup aliran air yang mengalir ke turbin hingga listrik pun padam.

Sementara itu, di sepanjang Bululawang-Wajak, seksi-seksi yang mengadakan pertahanan diserang dengan hebat oleh Belanda. Komandan kompi dan pasukan cadangan RI yang berposisi di Garotan pun segera bersiap untuk bergerilya. Mereka segera bergerak cepat dan harus segera menduduki daerah dekat perbatasan (status quo) sebelum pasukan Belanda istirahat dan berkonsolidasi. Sejak pagi, pertempuran terjadi di mana-mana. DI sepanjang garis pertahanan Wajak dan Turen, pasukan kita terus bertempur menghambat musuh, agar ada kesempatan untuk memindahkan amunisi dan perbekalan masuk ke daerah gerilya dan hutan. Ketika daerah Wajak sulit dipertahankan, semua pasukan RI diperintahkan bergerak memasuki daerah perbatasan, garis status quo di hutan Wonosari. Pukul 7 pagi, pasukan patrol Belanda berkekuatan 2 regu bersenjata lengkap yang berasal dari pos Poncokusumo, dijadikan bulan-bulanan dan dihabisi oleh Seksi Sarim di jalanan Pandansari.

Di Tempursari pun terjadi pertempuran hebat untuk menghadang masuknya pasukan Belanda ke daerah itu. Musuh pun gagal memasuki Tempursari, karena jembatan kali Tempursari dirusak oleh pasukan RI dan menghambat gerakan mereka.

Pada 19 Desember 1948 pula, di pagi hari sekitar pukul 4.30 pagi, di Lodoyo Blitar terjadi pertempuran antara pasukan TRIP menghadapi serbuan Belanda. Ada beberapa korban dari kedua belah pihak.

Bersamaan dengan dimulainya Agresi Militer II, seluruh pasukan Divisi VII Untung Suropati pun, termasuk pasukan dari wilayah Karesidenan Malang mengadakan berbagai penyusupan ke daerah-daerah kantong.

Pada hari yang sama, Belanda dengan pasukan lintas udara menyerang ibukota RI, Yogyakarta. Lapangan terbang Maguwo dikuasai dan tidak lama seluruh Kota Yogyakarta jatuh. Para pemimpin ditangkap, yakni Presiden Soekarno, Wakil Presiden Moh. Hatta, Sutan Syahrir,. H, Agus Salim, Mr. A.K. Pringgodigdo. Mr. Assat dan Komodor Suryadarma. Mereka diasingkan ke Prapat dan Bangka. Sidang Kabinet yang sempat diadakan hari itu memberikan mandat melalui radio gram kepada Mr. Sjafrudin Prawiranegara yang kebetulan sedang berada di Sumatra, untuk membentuk Pemerintah Darurat Republik Indonesia.

Pada 20 Desember 1948, Kompi Gagak Lodra dipimpin Sabar Sutopo bergerak melakukan gerilya ke wilayah Bambang Kecamatan Wajak dan Garotan. Sementara Seksi Soetomo ditugaskan bertahan di Wajak Utara untuk menghadang pasukan Belanda yang ditengarai akan memasuki Garotan dan sekitarnya.

Brigade IV dengan semua kesatuan di bawahnya diperintahkan untuk menitikberatkan pertahanan pada Kota Malang, Bangil, Pasuruan, Turen, dan Lumajang. Namun, kondisi pertahanan pasukan Mayor Hamid Rusdi di Turen sudah tidak memungkinkan karena kurangnya lengkapnya persenjataan, maka dilakukan penyusupan ke daerah pendudukan Belanda di daerah Malang Timur dengan berbagai pertempuran gerilya malam hari, dilakukan pada saat yang tepat dan mempergunakan pasukan infantri. (Bersambung/Idur)

Di Balik Dahsyatnya Pertempuran Surabaya 10 November 1945

Mobil Brigadir Mallaby yang hancur di Surabaya (kiri). Bung Tomo menggelorakan semangat perjuangan (kanan).

MALANGVOICE – Awal September 1945, situasi di Jawa Timur cukup bergelora. Berbagai insiden terjadi dan seluruh rakyat siap siaga menunggu segala kemungkinan yang terjadi. Pasukan Sekutu mulai merambah Jawa Timur, terutama melalui Tanjung Perak untuk menyerbu Surabaya. Kondisi semakin memanas ketika rakyat dan BKR setempat bereaksi karena ternyata pasukan Sekutu bersekongkol dengan interniran Belanda.

Di wilayah lain di Jawa Timur, beberapa BKR seperti BKR Malang dan Madiun sudah menguasai beberara perbentengan (yinci-yinci) di daerah pegunungan Malang dan Madiun. Residen-residen (syucookang) yang ada terdiri dari pensiunan perwira tinggi Jepang, kecuali Bojonegoro dengan Residen Suryo dan Karesidenan Malang dengan Residen Mr. Singgih. Namun beberapa hari setelah kemerdekaan Mr. Singgih hilang secara misterius. Situasi pengambilalihan pemerintahan daerah menjadi terganggu karena yang menggantikan beliau adalah wakil orang Jepang.

Pertempuran hebat 10 November 1945 sebenarnya adalah rangkain dari peristiwa yang berawal di hari kedua kedatangan Brigade 49 Divisi India Ke-23 Tentara Sekutu (AFNEI) yang mendarat di Surabaya 25 Oktober 1945 dan dipimpin Brigadir Jenderal A.W.S. Mallaby. Pemerintah dan rakyat Indonesia menyambut dengan tangan terbuka. Namun, 27 Oktober 1945 mereka menyerbu penjara untuk membebaskan para perwira Sekutu dan pegawai RAPWI (Relief of Allied Prisoners of War and Interness) yang ditawan oleh pasukan RI. Akibatnya pos-pos Sekutu di Surabaya diserang oleh rakyat prabaya. Pemimpin-pemimpin Indonesia memerintahkan gencatan senjata, tapi pihak Sekutu ternyata tidak menghormati gencatan senjata, hingga Brigadir Jenderal Mallaby tewas dalam insiden yang belum terungkap jelas.

Sehari sebelumnya, 9 November 1945, tanpa berunding dulu dengan pemimpin Indonesia, pimpinan tentara Sekutu di Surabaya mengeluarkan ultimatum, padahal sudah terjadi kesepakatan yang membuahkan Contact Comitte Panitia Penghubung antara Sekutu dan Pemerintah RI. Pihak Sekutu mengultimatum dengan perintah agar pimpinan dan rakyat yang bersenjata harus melapor, menyerahkan senjata dan mengangkat tangan di atas kepala, dengan batas waktu sampai pukul 06.00 WIB tanggal 10 November 1945.

Rakyat melawan, pecahlah pertempuran Kota Surabaya. Paasukan sekutu berkekuatan hampir sepuluh hingga lima belas ribu orang, lebih dari satu divisi invantri, Divisi India ke-5 dan sisa Brigade Mallaby. Mereka didukung oleh meriam-meriam kapal penjelajah Sussex, kapal perusak, dan pesawat-pesawat Mosquito dan Thunderbold. RAF (Angkatan Udara Inggris). Pertempuran tidak seimbang ini ternyata berlangsung hingga awal Desember 1945.

Dalam pertempuran dahsyat ini, telibat pula bantuan pasukan dari semua penjuru tanah air, khususnya pasukan-pasukan dari Jawa Timur. Dari wilayah Karesidenan Malang, Probolinggo, Bondowoso, Pasuruan, Lumajang dan Malang bergantian diberangkatakan secara bergelombang. Pasukan yang telah cukup lama di garis depan kembali ke markas-markas komando untuk digantikan yang lain. Mereka kembali dan berbagi pengalaman untuk membangkitkan semangat perjuangan.

Resimen 38 Malang Kompi Sochifudin adalah kompi pertama yang diberangkatkan ke front pertempuran Surabaya dan Kompi Untung dari Resimen Bondowoso. Dari Probolinggo Kompi Oesadi yang merupakan pasukan inti mantan Heiho dan Peta. Dalam pertempuran Surabaya kompi ini kehilangan komandannya. Gelombang selanjutnya, arek-arek Probolinggo diberangkatkan ke front Surabaya, yang terdiri dari BKR dan lascar-laskar yang berasak dari BPRI, Pesindo, Hisbullah, Sabilillah, dan lain-lain serta kumpulan pemuda yang tergabung dalam satuan bersenjata. Pasukan Lumajang yang ikut bertempur di front Surabaya tidak hanya dari BKR_TKR saja tetapi juga melibatkan badan-badan perjuangan dan kelaskaran yang ada.

Selanjutnya dari Malang, pasukan Kompi III Batalyon III dipimpin Mayor drh. Soewondho dan komandan kompi Kapten Mohamad Bakri. Telah gugur dan hilang beberapa prajuritnya di daerah Ngagel termasuk komandan peleton Letnan Juari yang kemudian digantikan Letda Imam Soepardi dan berkonsolidasi di Kecamatan Porong dan bertugas di daerah pertahanan pantai di Bangil.

Di Malang pun, secara spontan dibentuk pasukan-pasukan Polri untuk ikut bertempur di Surabaya dan banyak pelajar-pelajar SMTP dan SMTA ikut menggabungkan diri. Mereka ikut bertempur mati-matian, kemudian bernaung di bawah Kompol II Moh. Yasin, serta mundur dan membuat benteng pertahanan di daerah Buduran dan Krian.

Panglima Divisi Untung Suropati, Mayjen Imam Soedjai menghimpun dan membawa serta Alim Ulama Karesidenan Malang ke front Surabaya dan membuahkan dampak psikologis yang memperkuat semangat perjuangan.

Di front pertempuran dahsyat Surabaya, gugur beribu-ribu pejuang RI sebagai pahlawan bangsa, di antaranya tidak dikenal jati dirinya dan dikebumikan sebagai pahlawan tak dikenal. (idur)

Berkumpulnya Semua Pasukan Gerilya di Malang Selatan dan Semeru Selatan

Rapat Pimpinan Divisi, para Komandan Brigade dan Batalyon se-Jawa TImur di Batu (1950)
Rapat Pimpinan Divisi, para Komandan Brigade dan Batalyon se-Jawa TImur di Batu (1950)

MALANGVOICE – Diberlakukannya Garis Van Mook berakibat otomatis terkurungnya pasukan RI dalam satu kawasan. Wilayah Malang Selatan dan Semeru Selatan menjadi tujuan berbagai pasukan untuk berhijrah dari daerah-daerah kantong di wilayah Karesidenan Malang dan Besuki. Hutan yang lebat, tanah berbukit dan penuh lereng, serta ceruk-ceruk curam menjadi kawasan yang strategis untuk perjuangan bergerilya.

Pasukan Belanda pun melakukan berbagai strategi, seperti memperkuat daerah Sumber Urip, menyerang Turen dan Sedayu dari arah Bululawang, menyerang Talok dari arah Tumpang, mempertahankan Poncokusumo untuk pangkalan operasi menyerbu Dampit, serta memperkuat garis pertahanan Talok-Sedayu-Gondanglegi-Kepanjen-Wlingi sebagai garis utama untuk mengurung pasukan RI ke daerah pantai selatan. Musuh juga memperkuat garis pertahanan Poncokusumo-Wajak-Dampit-Sumber Urip dan Lumajang-Ampelgading-Dampit untuk menguasai Semeru Selatan.

Namun, semua itu jauh dari kenyataan, karena pasukan RI selalu mendahukui melakukan Wingate Action, menyerang untuk merebut kembali ke daerah-daerah itu. Koordinasi yang baik dari segenap unsur termasuk rakyat di Malang Selatan dan Semeru Selatan, secara umum mampu menggagalkan pemerintah bentukan Belanda (RECOMBA) yang tidak pernah menjadi kenyataan.

Dalam mematuhi perintah akibat penjanjian Renville itu pun, pasukan HIzbullah yang dipimpin Kyai Ilyas pun harus ditarik ke daerah kantong dan berangkat menuju Malang Selatan. Terdiri dari Seksi Anaz Zaini dan Azis Masyhuri, dari desa Pagon mereka berjalan kaki melintasi Gunung Semeru menuju Dampit, kemudian bergabung dengan pasukan TNI dan bersama-sama menuju tempat hijrah dengan naik truk-truk yang telah disediakan. Pasukan Kyai Ilyas akhirnya bermarkas di daerah Pronojiwo.

Pasukan Kyai Ilyas telah melakukan berbagai perlawanan terhadap pasukan Belanda. Dengan bantuan Kompi Soekartijo mereka menyerbu pos-pos musuh di sekitar pasar Yosowilangun. Mereka juga menyerang markas Belanda yang ada di pabrik gula dan pabrik beras di Kencong.

Pada tahun 1947 tatkala keluar Dekrit Presiden mengenai pembubaran badan kelaskaran untuk digabung menjadi satu dalam TNI, pasukan Kyai Ilyas pun dijadikan satu kompi di bawah komandan Kapten Ilyas dan masuk dalam jajaran Batalyon IV. Peresmian Hizbullah melebur dalam TNI tersebut dilakukan di lapangan Sedayu, Turen pada 11 Desember 1949. Mereka masuk dalam pelatihan pasukan selama satu bulan di Depot Batalyon Sumberpucung di bawah komandan Nailun Haman.

Di masa Perang Kemerdekaan II, atas persetujuan dari Komandan Batalyon IV Samsul Islam, pasukan Kapten Ilyas diperbolehkan kembali untuk bergerilya di daerah Lumajang. Mereka menyusuri pantai selatan, berjalan kaki beberapa hari dari Dampit menuju Lumajang. Ketika sampai di Tempursari, ternyata belum lama terjadi peetempuran hebat antara pasukan RI dan musuh. Masih banyak mayat-mayat berserakan, baik jasad pasukan RI maupun serdadu Belanda. Ini menjadikan Tempursari yang sebelumnya tertutup menjadi terbuka bagi lalu lintas gerilya dan para pengungsi dari jurusan Malang ke Lumajang, Jember dan wilayah lainnya.

Di tahun 1949, terjadi pertempuran hebat, serangan dilakukan oleh pasukan Belanda yang dipimpin langsung komandan mereka dari KST Korp Spesiale yang terkenal hebat dan kejam. Mereka menyerang dari Gladak Perak-Kali Lengkong-Merakan. Sementara posisi pasukan Soekartijo Seksi III Abd. Muchni membayangi di atas Gunung Sawur-Penanggal dan Poncosono. Lebih dari 3 jam pertempuran, banyak korban dari pasukan Cakra yang membantu Belanda, diangkut dengan truk-truk. Kuda-kuda yang mereka gunakan berhamburan.

Dalam perjuangan di wilayah Brigade IV terdapat juga sebuah kompi beranggotakan orang-orang yang berasal dari Irian (Kompi Irian). Dikomandani oleh Letda Koromath pada masa gencatan senjata dan Agresi Militer Belanda II mereka bertempat di Turen. Mereka turut berjuang membela RI. Setelah pengakuan kedaulatan, mereka ikut serta masuk ke Malang. Ketika berlangsung operasi Trikora untuk pembebasan Irian jaya, mereka memiliki peran penting dalam keberhasilan operasi tersebut. Disamping Kompi Irian, di kesatuan Brigade IV ikut juga berjuang Batalyon 524 Jokotole yang terdiri dari pemuda-pemuda Madura dari Pamekasan yang berjuang di Tuban. Dalam perjalanan perjuangan kemudian, mereka bergerilya sampai wilayah Kediri, lalu setelah pengakuan kedaulatan mereka berkedudukan di Pasuruan.

Pada Perang Kemerdekaan II kebutuhan logistik sudah teratasi oleh Kecamatan Ampelgading yang menghasilkan bahan-bahan makanan memadai, karena di masa gerilya itu para pimpinan pasukan RI dan sipil di sana telah membentuk daerah perkebunan menjadi desa-desa darurat yang lengkap dengan kepala desa, struktur pemerintahan desa, dan batas-batas wilayahnya.

Kebersamaan ini pun yang mendorong terarahnya serangan serentak terhadap tangsi-tangsi Belanda. Waktu itu, diperoleh berita bahwa operasi dahsyat akan dilakukan oleh pasukan Belanda baret merah dan baret hijau. Mereka akan menembak mati setiap orang yang melewati lereng selatan gunung Semeru sampai ke Dampit.(idur)

Eddy Wahyono Punya Pesan Khusus Dalam Semangat Sumpah Pemuda

Ketua Umum KONI Kota Malang, Eddy Wahyono. (deny rahmawan)
Ketua Umum KONI Kota Malang, Eddy Wahyono. (deny rahmawan)

MALANGVOICE – Ketua Umum KONI Kota Malang, Eddy Wahyono, punya pesan khusus dalam Hari Sumpah Pemuda yang jatuh tepat pada 28 Oktober.

Bagi Eddy, momen Sumpah Pemuda ini bisa dipakai menumbuhkan kembali rasa solidaritas dan rasa kebersamaan seperti yang digagas para pendahulu.

Semangat Sumpah Pemuda menjadi salah satu tonggak utama dalam pergerakan kemerdekaan Indonesia.

“Gunakan lagi semangat itu untuk menjaga NKRI. Jadi bangsa ini tak mudah terpecah dan terjerumus hal negatif,” katanya.

Eddy menambahkan, sebagai Ketua KONI, tentu ada misi visi mewujudkan pemuda gemar berolahraga. Dengan begitu, hal negatif akan bisa dihalau dan diganti dengan tindakan positif. “Kalau sudah begitu kan jadi berlomba-lomba meraih prestasi,” ujarnya.

Masalah yang dihadapi para pemuda, kata Eddy, paling banyak dari segi IT. Dengan kemajuan teknologi tak serta merta membawa dampak positif tapi juga negatif.

Dicontohkannya, para anak muda sekarang rata-rata memiliki gadget. Dari situ segala hal bisa didapat dengan mudah. Tapi, apabila kelewatan, hal buruk bisa terjadi. Anak sekarang bisa mencontoh kekerasan, pornografi bahkan penggunaan narkoba.

Karena itu, masih kata Eddy, untuk menciptakan pemuda generasi bangsa yang unggul, harus ada pendampingan dari orangtua dan guru.

“Semua harus ada kontrol agar tetap pada jalannya. Kalau tidak dibatasi malah berbahaya, apalagi kalau yang lebih paham gadget itu anak-anak daripada orangtua, konten negatid bisa masuk kapan saja,” ia menegaskan.(Der/Aka)

Serangan Dampit-Wonokoyo, Pertempuran Terbesar di Wilayah Semeru Selatan

Pasukan Untung Suropati 18 (PUS 18) yang tak terlupakan (1949)
Pasukan Untung Suropati 18 (PUS 18) yang tak terlupakan (1949)

MALANGVOICE – Atas pengarahan dari Komandan CMK Malang, Mayor Wiyono, pasukan PGI (Pasukan Gerilya Istimewa) dengan semangat yang kembali menyala, dikonsolidasikan dan disusun kembali dengan kekuatan seksi-seksi menjadi Pasukan Untung Suropati 18 (PUS 18) dengan Komandan Sukardi (N. Sugiyama) berpangkat Kapten. Seksi I dipimpin oleh Umar (T. Maekawa), Seksi II dipimpin Peltu Jupri, dan Seksi III dikomandani Letnan Arti Jawak. Mereka menjadi pasukan terotorial di bawah komando militer daerah Malang dengan wilayah operasi Semeru Selatan.

Sementara itu, didorong ambisinya menduduki Kota Dampit, pasukan Belanda memperkuat intensitas patroli, melakukan provokasi dan teror terhadap penduduk untuk menurunkan semangat juang rakyat. Mereka membentuk pasukan khusus IVG yang melakukan tugas spionase. Dengan aktivitas tinggi mereka memperbaiki jembatan dan jalan-jalan yang dihancurkan oleh pasukan gerilya.

PUS 18 (Pasukan Untung Suropati 18) bergerak dari Wonikitri menuju Gunung Kelop yang ditetapkan sebagai pangkalan persiapan (Februari 1949) dan dibuatlah perbentengan di sana. Stelling dilakukan dan dikirim satu regu penyelidik ke jurusan Sumber Kembar. Berdasarkan informasi yang didapat, Regu Keiki Kanjue (senapan mesin ringan) dan regu senapan dari Seksi I dan Seksi II bergerak turun menuju Sumber Kembar lalu meringsek masuk ke Kota Dampit.

Di pertigaan jalan besar dekat pasar, dilakukan penembakan terhadap musuh dan menewaskan dua serdadu Belanda. Terjadi pertempuran sengit ketika pasukan Belanda yang lain keluar dari pasar dan mereka juga segera mendapat bantuan dari Pamotan. Pasukan PUS 18 terpaksa mundur sementara musuh terus mengejar dengan persenjataan berat. Tak terduga, dua juuki dan tekidanto dari atas Gunung Kelop membantu menembaki pasukan Belanda yang kemudian bergerak mundur. Dalam pertempuran 40 menit itu, gugur dua prajurit PUS 18 dan tewas 25 serdadu Belanda.

Beberapa hari kemudian PUS 18 menguasai Sedayu dan Banjarpatoman. Didapatkan informasi bahwa pasukan Belanda sedang bergerak menuju Ngelak dan Amadanom. Pasukan gerilya segera mendaki Gunung Pandan Asri dan mengadakan stelling di saat musuh mendekati ujung kampung Banjarpatoman. Ternyata pasukan Belanda bermaksud mengurung dari balik bukit dan memancing dengan melepaskan tembakan-tembakan. PUS 18 sengaja berdiam diri untuk merahasiakan posisi dan menghemat persediaan amunisi. Menurut informasi, pasukan Belanda berkekuatan satu setengah kompi bersenjata juuki, pistol mitralyur, dan dikuti pasukan genie dan telegrafi, serta tentara Cakra yang ditarik dari Bali.

Pada pukul 08.00 pagi di saat pasukan Belanda masuk dalam jarak tembak, PUS 18 menembak dengan serentak dan pertempuran pun berlangsung hampir 3 jam. Persenjataan yang minim dan persediaan amunisi yang menipis menyebabkan PUS 18 menghentikan serangan. Pasukan Belanda menghentikan tembakan pula karena mengira pasukan gerilya bergerak mundur. Siangnya, mereka mengangkut mayat-mayat dan korban yang terluka, bergerak melalui Amadanom, melewati lembah sungai menuju Dampit.

Esok harinya, pasukan Belanda mendatangkan bala bantuan untuk menghancurkan sarang gerilya di Banjarpatoman. Dengan mendatangkan pesawat tempur, mereka segera meratakan wilayah pertempuran di seputar bukit Pandan Asri. Namun, PUS 18 menduga hal itu dan telah meninggalkan wilayah tersebut.

Pertempuran Wonokoyo boleh disebut sebagai pertempuran terbesar di wilayah Semeru Selatan. Akibat tewasnya komandan mereka di awal pertempuran menjadikan pasukan Belanda kebingungan. Belum lagi terbunuhnya tiga opsir dan 30 orang lebih terluka. Di pihak PUS 18, gugur 3 prajurit dan 3 penduduk sipil. Dari pertempuran itu, PUS 18 berhasil memperoleh rampasan pistol mitralyur, Karaben beserta 300 butir pelurunya, tempat peluru lengkap dan 3 mortier.

Untuk merebut kembali Kota Dampit, Markas Gerilya (MG) III/SMK Malang merencanakan penyerangan terhadap Kota Dampit pada 27 Juli 1949. Pukul 05.45 tembakan pertama dilakukan dengan tekidanto untuk komando dimulainya serangan. Tetapi tembakan mortier yang dilakukan tidak berhasil, pasukan senjata ringan pun bergerak hingga jarak dua ratus meter dari markas pasukan Belanda. Pukul 08.30 pagi seluruh pasukan gerilya mundur dan berkumpul di Gadung Sari lalu bergerak ke Ampel Gading.

Belanda bermaksud mengerahkan bala bantuan dari Sedayu tetapi terkendala berbagai rintangan jalan yang dilakukan oleh pasukan Macan Putih Talok. Di pihak Belanda jatuh korban 24 tewas dan luka-luka. Pasukan gerilya juga berhasil menembak Surateman yang ditengarai sebagai mata-mata musuh.(idur)

Komunitas