Berkumpulnya Semua Pasukan Gerilya di Malang Selatan dan Semeru Selatan

Rapat Pimpinan Divisi, para Komandan Brigade dan Batalyon se-Jawa TImur di Batu (1950)
Rapat Pimpinan Divisi, para Komandan Brigade dan Batalyon se-Jawa TImur di Batu (1950)

MALANGVOICE – Diberlakukannya Garis Van Mook berakibat otomatis terkurungnya pasukan RI dalam satu kawasan. Wilayah Malang Selatan dan Semeru Selatan menjadi tujuan berbagai pasukan untuk berhijrah dari daerah-daerah kantong di wilayah Karesidenan Malang dan Besuki. Hutan yang lebat, tanah berbukit dan penuh lereng, serta ceruk-ceruk curam menjadi kawasan yang strategis untuk perjuangan bergerilya.

Pasukan Belanda pun melakukan berbagai strategi, seperti memperkuat daerah Sumber Urip, menyerang Turen dan Sedayu dari arah Bululawang, menyerang Talok dari arah Tumpang, mempertahankan Poncokusumo untuk pangkalan operasi menyerbu Dampit, serta memperkuat garis pertahanan Talok-Sedayu-Gondanglegi-Kepanjen-Wlingi sebagai garis utama untuk mengurung pasukan RI ke daerah pantai selatan. Musuh juga memperkuat garis pertahanan Poncokusumo-Wajak-Dampit-Sumber Urip dan Lumajang-Ampelgading-Dampit untuk menguasai Semeru Selatan.

Namun, semua itu jauh dari kenyataan, karena pasukan RI selalu mendahukui melakukan Wingate Action, menyerang untuk merebut kembali ke daerah-daerah itu. Koordinasi yang baik dari segenap unsur termasuk rakyat di Malang Selatan dan Semeru Selatan, secara umum mampu menggagalkan pemerintah bentukan Belanda (RECOMBA) yang tidak pernah menjadi kenyataan.

Dalam mematuhi perintah akibat penjanjian Renville itu pun, pasukan HIzbullah yang dipimpin Kyai Ilyas pun harus ditarik ke daerah kantong dan berangkat menuju Malang Selatan. Terdiri dari Seksi Anaz Zaini dan Azis Masyhuri, dari desa Pagon mereka berjalan kaki melintasi Gunung Semeru menuju Dampit, kemudian bergabung dengan pasukan TNI dan bersama-sama menuju tempat hijrah dengan naik truk-truk yang telah disediakan. Pasukan Kyai Ilyas akhirnya bermarkas di daerah Pronojiwo.

Pasukan Kyai Ilyas telah melakukan berbagai perlawanan terhadap pasukan Belanda. Dengan bantuan Kompi Soekartijo mereka menyerbu pos-pos musuh di sekitar pasar Yosowilangun. Mereka juga menyerang markas Belanda yang ada di pabrik gula dan pabrik beras di Kencong.

Pada tahun 1947 tatkala keluar Dekrit Presiden mengenai pembubaran badan kelaskaran untuk digabung menjadi satu dalam TNI, pasukan Kyai Ilyas pun dijadikan satu kompi di bawah komandan Kapten Ilyas dan masuk dalam jajaran Batalyon IV. Peresmian Hizbullah melebur dalam TNI tersebut dilakukan di lapangan Sedayu, Turen pada 11 Desember 1949. Mereka masuk dalam pelatihan pasukan selama satu bulan di Depot Batalyon Sumberpucung di bawah komandan Nailun Haman.

Di masa Perang Kemerdekaan II, atas persetujuan dari Komandan Batalyon IV Samsul Islam, pasukan Kapten Ilyas diperbolehkan kembali untuk bergerilya di daerah Lumajang. Mereka menyusuri pantai selatan, berjalan kaki beberapa hari dari Dampit menuju Lumajang. Ketika sampai di Tempursari, ternyata belum lama terjadi peetempuran hebat antara pasukan RI dan musuh. Masih banyak mayat-mayat berserakan, baik jasad pasukan RI maupun serdadu Belanda. Ini menjadikan Tempursari yang sebelumnya tertutup menjadi terbuka bagi lalu lintas gerilya dan para pengungsi dari jurusan Malang ke Lumajang, Jember dan wilayah lainnya.

Di tahun 1949, terjadi pertempuran hebat, serangan dilakukan oleh pasukan Belanda yang dipimpin langsung komandan mereka dari KST Korp Spesiale yang terkenal hebat dan kejam. Mereka menyerang dari Gladak Perak-Kali Lengkong-Merakan. Sementara posisi pasukan Soekartijo Seksi III Abd. Muchni membayangi di atas Gunung Sawur-Penanggal dan Poncosono. Lebih dari 3 jam pertempuran, banyak korban dari pasukan Cakra yang membantu Belanda, diangkut dengan truk-truk. Kuda-kuda yang mereka gunakan berhamburan.

Dalam perjuangan di wilayah Brigade IV terdapat juga sebuah kompi beranggotakan orang-orang yang berasal dari Irian (Kompi Irian). Dikomandani oleh Letda Koromath pada masa gencatan senjata dan Agresi Militer Belanda II mereka bertempat di Turen. Mereka turut berjuang membela RI. Setelah pengakuan kedaulatan, mereka ikut serta masuk ke Malang. Ketika berlangsung operasi Trikora untuk pembebasan Irian jaya, mereka memiliki peran penting dalam keberhasilan operasi tersebut. Disamping Kompi Irian, di kesatuan Brigade IV ikut juga berjuang Batalyon 524 Jokotole yang terdiri dari pemuda-pemuda Madura dari Pamekasan yang berjuang di Tuban. Dalam perjalanan perjuangan kemudian, mereka bergerilya sampai wilayah Kediri, lalu setelah pengakuan kedaulatan mereka berkedudukan di Pasuruan.

Pada Perang Kemerdekaan II kebutuhan logistik sudah teratasi oleh Kecamatan Ampelgading yang menghasilkan bahan-bahan makanan memadai, karena di masa gerilya itu para pimpinan pasukan RI dan sipil di sana telah membentuk daerah perkebunan menjadi desa-desa darurat yang lengkap dengan kepala desa, struktur pemerintahan desa, dan batas-batas wilayahnya.

Kebersamaan ini pun yang mendorong terarahnya serangan serentak terhadap tangsi-tangsi Belanda. Waktu itu, diperoleh berita bahwa operasi dahsyat akan dilakukan oleh pasukan Belanda baret merah dan baret hijau. Mereka akan menembak mati setiap orang yang melewati lereng selatan gunung Semeru sampai ke Dampit.(idur)

Eddy Wahyono Punya Pesan Khusus Dalam Semangat Sumpah Pemuda

Ketua Umum KONI Kota Malang, Eddy Wahyono. (deny rahmawan)
Ketua Umum KONI Kota Malang, Eddy Wahyono. (deny rahmawan)

MALANGVOICE – Ketua Umum KONI Kota Malang, Eddy Wahyono, punya pesan khusus dalam Hari Sumpah Pemuda yang jatuh tepat pada 28 Oktober.

Bagi Eddy, momen Sumpah Pemuda ini bisa dipakai menumbuhkan kembali rasa solidaritas dan rasa kebersamaan seperti yang digagas para pendahulu.

Semangat Sumpah Pemuda menjadi salah satu tonggak utama dalam pergerakan kemerdekaan Indonesia.

“Gunakan lagi semangat itu untuk menjaga NKRI. Jadi bangsa ini tak mudah terpecah dan terjerumus hal negatif,” katanya.

Eddy menambahkan, sebagai Ketua KONI, tentu ada misi visi mewujudkan pemuda gemar berolahraga. Dengan begitu, hal negatif akan bisa dihalau dan diganti dengan tindakan positif. “Kalau sudah begitu kan jadi berlomba-lomba meraih prestasi,” ujarnya.

Masalah yang dihadapi para pemuda, kata Eddy, paling banyak dari segi IT. Dengan kemajuan teknologi tak serta merta membawa dampak positif tapi juga negatif.

Dicontohkannya, para anak muda sekarang rata-rata memiliki gadget. Dari situ segala hal bisa didapat dengan mudah. Tapi, apabila kelewatan, hal buruk bisa terjadi. Anak sekarang bisa mencontoh kekerasan, pornografi bahkan penggunaan narkoba.

Karena itu, masih kata Eddy, untuk menciptakan pemuda generasi bangsa yang unggul, harus ada pendampingan dari orangtua dan guru.

“Semua harus ada kontrol agar tetap pada jalannya. Kalau tidak dibatasi malah berbahaya, apalagi kalau yang lebih paham gadget itu anak-anak daripada orangtua, konten negatid bisa masuk kapan saja,” ia menegaskan.(Der/Aka)

Serangan Dampit-Wonokoyo, Pertempuran Terbesar di Wilayah Semeru Selatan

Pasukan Untung Suropati 18 (PUS 18) yang tak terlupakan (1949)
Pasukan Untung Suropati 18 (PUS 18) yang tak terlupakan (1949)

MALANGVOICE – Atas pengarahan dari Komandan CMK Malang, Mayor Wiyono, pasukan PGI (Pasukan Gerilya Istimewa) dengan semangat yang kembali menyala, dikonsolidasikan dan disusun kembali dengan kekuatan seksi-seksi menjadi Pasukan Untung Suropati 18 (PUS 18) dengan Komandan Sukardi (N. Sugiyama) berpangkat Kapten. Seksi I dipimpin oleh Umar (T. Maekawa), Seksi II dipimpin Peltu Jupri, dan Seksi III dikomandani Letnan Arti Jawak. Mereka menjadi pasukan terotorial di bawah komando militer daerah Malang dengan wilayah operasi Semeru Selatan.

Sementara itu, didorong ambisinya menduduki Kota Dampit, pasukan Belanda memperkuat intensitas patroli, melakukan provokasi dan teror terhadap penduduk untuk menurunkan semangat juang rakyat. Mereka membentuk pasukan khusus IVG yang melakukan tugas spionase. Dengan aktivitas tinggi mereka memperbaiki jembatan dan jalan-jalan yang dihancurkan oleh pasukan gerilya.

PUS 18 (Pasukan Untung Suropati 18) bergerak dari Wonikitri menuju Gunung Kelop yang ditetapkan sebagai pangkalan persiapan (Februari 1949) dan dibuatlah perbentengan di sana. Stelling dilakukan dan dikirim satu regu penyelidik ke jurusan Sumber Kembar. Berdasarkan informasi yang didapat, Regu Keiki Kanjue (senapan mesin ringan) dan regu senapan dari Seksi I dan Seksi II bergerak turun menuju Sumber Kembar lalu meringsek masuk ke Kota Dampit.

Di pertigaan jalan besar dekat pasar, dilakukan penembakan terhadap musuh dan menewaskan dua serdadu Belanda. Terjadi pertempuran sengit ketika pasukan Belanda yang lain keluar dari pasar dan mereka juga segera mendapat bantuan dari Pamotan. Pasukan PUS 18 terpaksa mundur sementara musuh terus mengejar dengan persenjataan berat. Tak terduga, dua juuki dan tekidanto dari atas Gunung Kelop membantu menembaki pasukan Belanda yang kemudian bergerak mundur. Dalam pertempuran 40 menit itu, gugur dua prajurit PUS 18 dan tewas 25 serdadu Belanda.

Beberapa hari kemudian PUS 18 menguasai Sedayu dan Banjarpatoman. Didapatkan informasi bahwa pasukan Belanda sedang bergerak menuju Ngelak dan Amadanom. Pasukan gerilya segera mendaki Gunung Pandan Asri dan mengadakan stelling di saat musuh mendekati ujung kampung Banjarpatoman. Ternyata pasukan Belanda bermaksud mengurung dari balik bukit dan memancing dengan melepaskan tembakan-tembakan. PUS 18 sengaja berdiam diri untuk merahasiakan posisi dan menghemat persediaan amunisi. Menurut informasi, pasukan Belanda berkekuatan satu setengah kompi bersenjata juuki, pistol mitralyur, dan dikuti pasukan genie dan telegrafi, serta tentara Cakra yang ditarik dari Bali.

Pada pukul 08.00 pagi di saat pasukan Belanda masuk dalam jarak tembak, PUS 18 menembak dengan serentak dan pertempuran pun berlangsung hampir 3 jam. Persenjataan yang minim dan persediaan amunisi yang menipis menyebabkan PUS 18 menghentikan serangan. Pasukan Belanda menghentikan tembakan pula karena mengira pasukan gerilya bergerak mundur. Siangnya, mereka mengangkut mayat-mayat dan korban yang terluka, bergerak melalui Amadanom, melewati lembah sungai menuju Dampit.

Esok harinya, pasukan Belanda mendatangkan bala bantuan untuk menghancurkan sarang gerilya di Banjarpatoman. Dengan mendatangkan pesawat tempur, mereka segera meratakan wilayah pertempuran di seputar bukit Pandan Asri. Namun, PUS 18 menduga hal itu dan telah meninggalkan wilayah tersebut.

Pertempuran Wonokoyo boleh disebut sebagai pertempuran terbesar di wilayah Semeru Selatan. Akibat tewasnya komandan mereka di awal pertempuran menjadikan pasukan Belanda kebingungan. Belum lagi terbunuhnya tiga opsir dan 30 orang lebih terluka. Di pihak PUS 18, gugur 3 prajurit dan 3 penduduk sipil. Dari pertempuran itu, PUS 18 berhasil memperoleh rampasan pistol mitralyur, Karaben beserta 300 butir pelurunya, tempat peluru lengkap dan 3 mortier.

Untuk merebut kembali Kota Dampit, Markas Gerilya (MG) III/SMK Malang merencanakan penyerangan terhadap Kota Dampit pada 27 Juli 1949. Pukul 05.45 tembakan pertama dilakukan dengan tekidanto untuk komando dimulainya serangan. Tetapi tembakan mortier yang dilakukan tidak berhasil, pasukan senjata ringan pun bergerak hingga jarak dua ratus meter dari markas pasukan Belanda. Pukul 08.30 pagi seluruh pasukan gerilya mundur dan berkumpul di Gadung Sari lalu bergerak ke Ampel Gading.

Belanda bermaksud mengerahkan bala bantuan dari Sedayu tetapi terkendala berbagai rintangan jalan yang dilakukan oleh pasukan Macan Putih Talok. Di pihak Belanda jatuh korban 24 tewas dan luka-luka. Pasukan gerilya juga berhasil menembak Surateman yang ditengarai sebagai mata-mata musuh.(idur)

Pasukan Gerilya Istimewa (PGI) dalam Penyerbuan Pajaran, Tumpang, dan Jebakan Ranjau antara Wajak-Turen

Konvoi serdadu Belanda di Jawa (kiri). Serdadu Belanda melakukan rasia terhadap rakyat (kanan).
Konvoi serdadu Belanda di Jawa (kiri). Serdadu Belanda melakukan rasia terhadap rakyat (kanan).

MALANGVOICE – Berdasarkan perundingan dengan Abdul Rachman (Tatsuo Ichiki) penasehat TKR di Yogyakarta, Juli 1948, Kolonel Sungkono menginstruksikan kepada semua anggota kesatuan di bawah pimpinannya untuk mengumpulkan orang-orang Jepang, yang sedang berada di kesatuannya masing-masing di Jawa Timur untuk ditarik dan dijadikan satu kesatuan dengan tujuan bersama melawan Belanda. Tidak lama terkumpul 28 orang Jepang di Wlingi Blitar.

Di Wlingi, atas inisiatif Arif (T. Yoshizumi) dan Abdul Rachman (Tatsuo Ichiki) dibentuklah Pasukan Gerilya Istimewa (PGI) yang dikomandani oleh Brigade Surachmad. Di sini, pasukan berlatih militer dan strategi gerilya secara mandiri dan mengusahakan makanan sendiri. Pada Agustus 1948, persiapan telah mantap, pasukan disebar, Komandan (WK) dengan 17 pasukan PGI menuju Dampit. Harsono (T. Tanimoto) dengan anggota 11 orang bertugas menuju Kediri.

Di Dampit mereka memasuki perkebunan dan menggunakan bekas kantor perkebunan Kartodol sebagai tempat untuk antara lain: merencanakan penyerangan pos-pos Belanda, membuat barang dan bahan perang rahasia untuk kepentingan sabotase, menyusun jaringan informasi, dan membentuk gerilya rakyat. Dalam perkembangannya, PGI ini kemudian mendapatkan tambahan 2 (dua) regu dari Brigade XIII.

Pada 30 Agustus 1948, pukul 24.00, PGI bersiap menyerbu pos Belanda di Pajaran yang memilik kekuatan satu seksi dan menempati gudang padi yang dipagari kawat berduri. Waktu itu kampung Pajaran suasananya terang penuh lampu minyak di kanan-kiri jalan karena sedang memeriahkan perayaan ulang tahun Ratu Belanda. Keadaan ini sangat menguntungkan PGI untuk menyerang. Kode ledakan dua bulu granat di atas pos Belanda member isyarat dimulainya penyerangan. Begitu gencarnya serangan, tetapi dari dalam pos tidak ada perlawanan sama sekali. Ketika terdengar tembakan dari arah depan pos, penyerangan dihentikan karena diduga ada pasukan bantuan Belanda yang baru datang dari pos Wajak. Esoknya diperoleh informasi, ternyata perlawanan Belanda malam itu bukan pasukan bantuan dari Wajak, tetapi tentara Belanda sejumlah 10 orang yang kebetulan baru pulang dari undangan Kepala Desa dalam rangka selamatan perayaan hari besar Belanda. Saat PGI menyerang, mereka tidak berani kembali ke pos yang sudah hancur dan hanya berjaga-jaga di halaman rumah Kepala Desa. Mereka juga tidak mengetahui siapa yang melakukan serangan.

Menurut laporan dari pasukan Brigade XII yang ditugaskan untuk memeriksa hasil serangan, pos Belanda hancur lebur, tiga orang petugas jaga bersenjata 12.7 mm mati tertembak, dan di dalam pos/gudang padi 20 orang Belanda tewas akibat reruntuhan bagunan dan ledakan granat.

Di Tumpang, PGI kembali menyerang pos Belanda pada 3 Oktober 1948. Serangan gerilya ini dibantu rakyat dengan penyerangan intensif, menggunakan bahan peledak, dan aksi pembakaran-pembakaran. Hasilnya, terbakarnya asrama musuh dan tiga serdadu Belanda tewas. Moril rakyat pun kembali menguat.

Di pertengahan Desember 1948, Belanda mengawali penyerangan dengan menggunakan pesawat-pesawat tempur melintas Malang menuju ke selatan, menyerang Turen dan Sedayu. Ketika dipastikan Turen dan Sedayu sudah diduduki musuh, PGI pun menyusun kekuatan dipimpin oleh Subejo (Hayashi) dan Sobana (T. Sakai) dan merencanakan menghancurkan panser-panser Belanda. Mereka memasang ranjau di jalan antara Wajak dan Turen yang selalu dilewati pasukan Belanda, sedangkan pasukan senapan mesin diberangkatkan menuju lokasi pertahanan yang telah direncanakan. Didapat informasi, Belanda menambah pasukan dengan satu kompi serdadu bersenjata lengkap untuk menghancurkan PGI.

Sementara menunggu hasil ranjau yang dipasang, PGI dan pasukan bantuan lainnya bersiaga di rumah Asisten Wedono. Ketika ledakan pertama terdengar, ternyata mengenai seorang pemikul kelapa yang sedang lewat. Pukul 06.30 pagi terdengar ledakan kedua, seorang prajurit melaporkan bahwa ranjau berhasil mengenai sasaran, yakni panser Belanda dan truk pengiring di belakangnya. Sebanyak 16 orang serdadu Belanda tewas. Dari pos Turen, Belanda segera memberikan pertolongan sembari melakukan penembakan membabi buta di sekitar lokasi kejadian.­(dur)

Batu Bumi Hangus, Pertempuran di Wilayah Pujon dan Penyerangan Sebaluh

Pasukan Belanda saat Agresi Belanda I di Malang (kiri), Tank Belanda memasuki Batu (1947)
Pasukan Belanda saat Agresi Belanda I di Malang (kiri), Tank Belanda memasuki Batu (1947)

MALANGVOICE – Agresi Belanda I yang bergitu gencar menyebabkan sebagian besar pasukan RI mundur dan membuat pertahanan di Batu, yakni di Gunung Dali, Rajekwesi, Gunung Bale, Gunung Seruk dan di Pegunungan Banyak. Pada waktu itu, 1948, Pujon-Ngantang adalah bagian dari wilayah Malang Barat yang meliputi Karesidenan Batu, termasuk Kasembon dan Batu.

Konsolidasi pertahanan dipimpin oleh Mayor Abdul Manan dan memiliki kekuatan kompi seperti Kapten Soemitro dan Kapten Sumeru, serta bantuan dari pasukan Batalyon Soenandar. Malang Barat hampir seluruhnya dikuasai Belanda, seperti Sengkaling, Dinoyo, dan Karangploso. Maka, rakyat pun berbondong mengungsi ke daerah Pujon, Kasembon, dan Ngantang. Rakyat Batu sebagian besar mengungsi ke Pujon dan Jurangkuali.

Kampung Songgoriti, Tambuh, dan Songgokerto mengalami kerusakan parah dan kosong akibat beberapa pertempuran dan Kota Batu sudah dibumihanguskan. Belanda bertahan dan menguasai Batu, membuat benteng pertahanan di Nganglik, Jambedawe, Songgokerto, dan Kawedanan Batu. Oleh pasukan RI jalan besar antara Sebaluh dan Pujon dirusak dan terputus.

Arus pengungsi menuju Pujon, Kasembon, dan Ngantang menyebabkan bertambahnya jumlah penduduk di sana dan kehidupan sehari-hari semakin berat. Sebagian rakyat berdagang ke daerah pedalaman melewati jalan-jalan yang tidak diawasi oleh pasukan Belanda. Saat itu Belanda sedang melaksanakan blokade ekonomi terhadap RI. Jatah bantuan makanan didapatkan dari Kediri, Jombang, dan Mojokerto, daerah-daerah yang masih dikuasai RI. Namun, dalam kondisi demikian Wedono Suntoro yang bertempat tinggal di Pujon dapat menjaga kehidupan pertanian berjalan sebagaimana biasanya.

Sebelum terjadinya Agresi Belanda II, Batalyon Abdul Manan secara bergiliran mengadakan penyusupan untuk mengenali medan dan menyelidik situasi. Kompi Sumeru melaksanakan gerakan untuk memasuki daerah Lawang, Kompi Yusuf bergerak menyusup ke daerah Malang Barat, Kompi Benu bertugas menembus ke daerah Batu. Sementara Kepala Staf Batalyon, Soemitro, berjaga di pos komando di daerah Pasar Pujon/Ngroto.

Di awal Agresi Belanda II, pos pasukan Belanda di daerah Sebaluh diserang oleh Batalyon Abdul Manan. Pasukan Belanda terdesak mundur dan didapatkan rampasan dari mereka, antara lain 6 buah mantel, helm, telepon, dan mobil jeep yang diangkut beramai-ramai oleh penduduk.

Pada 19 Desember 1948, diperoleh informasi bahwa Belanda sedang melintas menuju ke barat, yaitu Gunung Kelet, desa Bian, Bakir, dan Bendosari Kecamatan Pujon. Terjadilah kontak senjata dengan Batalyon Abdul Manan dan Batalyon Sabaruddin. Di wilayah desa Maron, pasukan Belanda dihadang dan terjadi kontak senjata dengan Kompi Mistar.

Melanjutkan gerakan pasukan menuju Desa Kambal dan Selorejo, di desa Klangon pertempuran hebat terjadi ketika pasukan Belanda disergap oleh Kompi Soemadi yang dipimpin Letda Martawi yang kemudian mundur ke desa Gobet Mendalan. Belanda ternyata bertaktik lain, mereka menerobos hutan menuju Waduk Sekuli dan menduduki Kleppen Huis. Mereka menutup pintu air yang mengalir ke turbin dan membuang ke sungai Konto. Listrik pun padam. Nampaknya pasukan Belanda sudah mengetahui tentang taktik pasukan RI, yakni taktik bumi hangus dengan memakai bom yang dialiri arus listrik.(idur)

Mbois! lewat Uru-Uru SMKN 3 Batu Sabet Juara Film Pendek Nasional

Hanny Aulia Ningtyas dan Nadia Bunga menunjukkan piala Juara I Lomba Film Pendek, Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N). (Aziz Ramadani/MVoice)
Hanny Aulia Ningtyas dan Nadia Bunga menunjukkan piala Juara I Lomba Film Pendek, Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N). (Aziz Ramadani/MVoice)

MALANGVOICE – SMKN 3 Batu kembali menambah koleksi piala film pendek di Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) 2018 tingkat SMK. Karya berjudul Uru-Uru sukses mengantarkan prestasi membanggakan tersebut.

Tim terdiri 7 siswa kelas XII jurusan Broadcasting itu sukses menyisihkan 26 sekolah peserta lain. Adalah Hanny Aulia Ningtyas sebagai produser, Nadia Bunga sebagai sutradara, Fitra Kurniawan sebagai cameraman, Allisya Damayanti sebagai penata artistik, Kevin Dio Achmad sebagai penata suara, Rio Reza Setyawan sebagai lightman, dan Nurrohmat Adi sebagai editor. Lomba diadakan di GOR Harapan Banda Aceh, Juli lalu.

Film berdurasi 9 menit 59 detik itu angkat budaya Uru-Uru atau timang-timang. Gagasannya berangkat dari kegelisahan mereka sekaligus kerinduan terhadap budaya yang dialami semasa kecil.

“Namun saat ini budaya itu luntur. Kebanyakan anak-anak ketika merengek justru malah diberi gadget,” kata Hanny.

“Ini ide bersama kami. Kami merasa merindukan masa itu. Dan saat ini juga sudah jarang terlihat, bahkan hampir hilang di masyarakat,” imbuhnya.

Film ini menceritakan tentang tokoh utama bernama Rara berusia 7 tahun. Yang sejak kecil tinggal bersama neneknya. Saat itu pula Rara ditimang-timang disertai tembang Jawa berjudul Dandang Gulo. Namun, setelah sang nenek meninggal dunia, Rara kembali ke rumah dan tinggal bersama mamanya.

“Nah, mamanya Rara ini selalu sibuk dengan pekerjaannya dan jarang menghiraukan si Rara. Tentu Rara merasa kesepian dan teringat dengan kenangan bersama neneknya,” sambung Hanny.

Beruntunglah, Rara dititipi buku aksara Jawa oleh mediang neneknya. Rara mulai termotivasi mempelajari bahasa Jawa dan berkonsultasi dengan gurunya. Hari demi hari Rara akhirnya belajar dan bisa mengenal aksara Jawa dan tembang-tembang Jawa yang mengandung pesan moral.

Sutradara Uru-Uru, Nadia Bunga menambahkan, proses pembuatan film ini memakan enam bulan lamanya. Selama proses pembuatan film ini beberapa kendala juga dialami. Seperti mencocokkan pemeran dengan perannya hingga soal lokasi syuting.

“Tetapi secara keseluruhan kendala teknis bisa kami atasi” tutupnya.(Hmz/Aka)

Mbois, di Tangan Muchlis Arif Keramik jadi Lukisan Menawan

Muchlis Arif di Galeri Matahati Ceramic di Perumahan Batu Permai. (Aziz Ramadani/MVoice)

MALANGVOICE – Belasan lukisan terpajang rapi di dinding rumah Jalan Merak No. 39 Perum Batu Permai milik Muchlis Arif. Dosen di salah satu perguruan tinggi Surabaya ini menggelar pameran perdananya bertajuk One Thousand Degrees.

Menariknya, biasanya lukisan itu dibuat di atas kanvas, di tangan kreatif Arif lukisan itu dibuat dengan keramik. Lukisan tersebut beraliran abstrak.
Sebelumnya ia melukis diatas kanvas, tetapi ia terinspirasi untuk membuat lukisan di atas keramik.

“Selain jarang ada yang melukis di atas keramik, juga unik. Dan ini ilmu baru (yang diciptakan). Apalagi perajin keramik kini mulai banyak yang ditinggalkan, saya memilih untuk mempertahankan,” kata Arif.

Arif memulai menghasilkan karya lukisan keramik ini sejak awal Januari 2018. Ia lebih memilih bertahan dengan kesenian keramik ini karena menurutnya semakin hal itu ditinggalkan, maka akan semakin mahal. Namun, seluk beluk tentang keramik telah lama dikenalnya, terlebih saat dia mengenyam bangku perkuliahan di ISI Yogyakarta.

“Saya juga masih aktif mengajar seni rupa di kampus,” sambung dia.

Khusus tema pameran kali ini adalah tentang cinta. Terlebih tentang cintanya kepada istrinya, Capri Budijati. Terutama kisah di masa sekolah dulu, yang pintar melukis adalah istrinya. Arif pun meminta untuk diajarkan melukis.

pameran lukisan keramik

Ya, lukisan yang mayoritas dibentuk dari kepingan keramik atau gaya kolase itu juga dikomersialkan. Bahkan, beberapa lukisan sudah ada yang terjual sebelum dipamerkan.

” Ini menunjukkan kalau masih banyak yang tertarik dengan karya lukisan dari keramik,” kata bapak dari dua anak ini.

Melukis di atas keramik bukanlah perkara mudah. Begitu keramik dibuat, ia mencampurkan bahan pewarna . Lalu setelah itu dilakukan proses pembakaran. Dalam proses pembakaran itulah, terbentuk warna abstrak yang warna warni.

“Justru lukisan itu terbentuk setelah proses pembakaran. Lukisan abstrak ini juga tidak dengan melukis seperti biasanya, kadang saya menari-nari. Terinspirasi alunan musik sekitar,” imbuhnya.

Pameran serupa juga digelar di Kaliwatu Rafting selama satu bulan. Khusus

“Kami juga membuka workshop bagaimana caranya melukis di atas keramik. Siapa saja boleh ikut,” pungkasnya. (Hmz/Ulm)

Gugurnya Bunga Bangsa, Sang Pemberani Hamid Rusdi

Dari kiri: Hamid Rusdi, Wachman, Tjokro Hadi
Dari kiri: Hamid Rusdi, Wachman, Tjokro Hadi

MALANGVOICE – Mayor Hamid Rusdi adalah pemimpin yang disegani dan ditaati oleh anak buahnya. Dia ditakuti dan seorang pemberani, sering muncul di Kota Malang yang saat itu dikuasai pasukan Belanda dengan meriam-meriam yang siap ditembakkan di seluruh penjuru kota.

Mayor Hamid Rusdi melakukan perjalanan keliling untuk mengkonsolidasikan perjuangan dengan jalan mendatangi sektor-sektor seperti di Malang Barat pimpinan Kapten Abdul Manan dan Malang Selatan pimpinah Kapten Mochlas Rowie. Sebenanya, Mayor Hamid Rusdi pada saat terbentuknya sektor-sektor tersebut mendapatkan tugas sebagai Komandan MG-I (Markas GerilyaI) yang terdiri dari tujuh perwira dan enam orang pengawal, berkedudukan di Nongkojajar. Namun, keadaan memaksa beliau untuk sementara waktu tetap bertempat di Sumber Suko bersama wakilnya, Kapten Wachman. Bersama Kompi Sabar Sutopo, beliau melakukan penyusupan ke daerah pendudukan ketika Belanda menyerang dengan pesawat-pesawat tempurnya ke markas komando di Turen.

Dari desa Sumber Suko, Mayor Hamid Rusdi kemudian melanjutkan perjalanan menuju ke Nongkojajar dan menyempatkan diri untuk menuju dukuh Sekar Putih, Wonokoyo melalui desa Telogowaru, karena istrinya tinggal di salah satu rumah pondokan di desa itu. Rencananya, setelah bertemu istrinya, perjalanan akan berlanjut ke Nongkojajar. Tapi Tuhan berkehendak lain.

Beliau menjumpai istrinya sambil tetap berjaga membawa senjata kesenangannya sebuah pistol Vickers isi 12 peluru. Setelah pertemuan itu, sebelum pergi beliau berpesan agar istrinya segera meninggalkan daerah tersebut. Sudah kebiasaan, saat pamit beliau tidak pernah memberi tahu ke mana akan pergi. Lebih-lebih pada saat genting. Ini dimaksudkan agar tempat-tempat persembunyiannya sukar dilacak oleh pihak Belanda.

Sehari sebelumnya Hamid Rusdi dan pasukannya sudah berada di atas puncak Gunung Buring ketika pasukan Belanda menggencarkan patroli di wilayah Tajinan. Sebenarnya, Komandan Sektor I Tajinan dan CODM (Coordinator Operasi Daerah Militer) Serma Tjokro Hadi, juga Komandan Seksi II dan III Kusno Hadiwinoto, sudah mengingatkan bahwa keadaan di bawah sangat gawat, sebaiknya Hamid Rusdi menunda perjalanannya.

Hari itu, 7 Maret 1949, pasukan Belanda dengan kekuatan lebih dari dua peleton berjalan kaki meringsek hendak melakukan penyergapan. Penunjuk jalannya adalah mata-mata Belanda, oleh sebab itu tempat kedudukan Mayor Hamid Rusdi dapat diendus. Menurut kabar, Belanda sudah berangkat dari Tajinan sejak pukul 12 siang, mempergunakan pasukan KNIL.

Malam itu Mayor Hamid Rusdi berada di salah satu rumah penduduk. Di situ ada Pak Moesmari pemilik rumah dan Yoenoes menantunya, istri Moesmari Mbok Ngasirah, serta anaknya bernama Roekayah yang sedang hamil. Ajudan Hamid Rusdi, Letnan Ismail Etfendi dan adiknya, Abdul Razak yang mendampingi beliau masuk ke desa Wonokoyo, malam itu tidak ikut menginap di rumah tersebut.

Malam begitu pekat, sekitar pukul sebelas malam, pasukan Belanda menyergap saat semua penghuni rumah sedang tidur. Pak Moesmari membukakan pintu, tak berdaya di bawah todongan senjata, disusul pasukan yang lain dengan segera menuju kamar Mayor Hamid Rusdi. Dengan tindakan yang serba cepat, ketiga laki-laki dalam rumah tersebut diikat dan segera dibawa pergi. Kedua perempuan dibiarkan tinggal, tak ada pembicaraan yang terdengar kemana mereka bertiga akan dibawa pergi.

Keesokan harinya, Kopda Soekarman dan sebagian Kompi Sabar Soetopo melaporkan kejadian ini kepada Kapten Wachman yang kemudian memerintahkan untuk menyisir tempat kejadian. Tak lama setelah menelusuri jalanan kampung hingga sampai di dekat sungai Kali Sari, mereka mendapati jenazah Mayor Hamid Rusdi tergeletak di sekitar jembatan Sekar Putih Wonokoyo, gugur dengan tubuh penuh luka ditembaki pasukan Belanda. Tak jauh, ditemukan pula jenazah Letnan Ismail Effendi, Abdul Razak, Moesmari, dan Yoenoes. Dini hari yang sama, pasukan Belanda juga menangkap kamituwo Sumbersuko, tetapi jenazahnya tidak ditemukan.

Prajurit beserta masyarakat Wonokoyo merasa sangat sedih ditinggalkan komandannya yang gagah berani dan berjiwa kesatria. Telah gugur bunga bangsa yang tak pernah padam nyali dan semangatnya untuk merebut kembali Kota Malang. Sejak saat itu, daerah basis gerilya dan pusat Komando Batalyon I dipindahkan ke desa Madyopuro dan berkedudukan di Cemoro Kandang dengan pasukan inti satu kompi di bawah pimpinan Kapten Djoeri.

Setelah pasukan Belanda meninggalkan Malang, 15 Mei 1950 jenazah Mayor Hamid Rusdi dipindahkan ke Makam Pahlawan Suropati. (idur)­

Serangan Kepanjen dan Penembakan Membabi Buta di Jambuwer

Persiapan pasukan TNI (gerilya) masuk Kota Malang (1949)
Persiapan pasukan TNI (gerilya) masuk Kota Malang (1949)

Hari pertama, 12 Juli 1947 Brigade Infanteri Belanda KNIL berhasil menerobos Porong dan melakukan gerakan ofensif menuju selatan, yakni Gempol, Pandaan, Lawang, dan Malang. Mereka bergerak dengan hati-hati hingga 11 hari kemudian baru sampai di daerah Lawang. Sembari bergerak ke selatan, perlawanan dilakukan oleh Resimen 38 Hamid Rusdi, P3 (Pasukan Polisi Perjuangan), pasukan pelajar, dan pasukan lainnya. Rintangan-rintangan dibuat di jalan raya antara Lawang-Malang, pohon-pohon ditebang, jebakan tank, dan ranjau darat.

Seminggu lebih pasukan Belanda berada di Lawang. Mengira bahwa Kota Malang akan dipertahakan mati-matian oleh Divisi Untung Suropati dan lainnya, Belanda mendatangkan bala bantuan Brigade Marine yang sebelum itu berhasil melakukan pendaratan amphibi di pantai Pasir Putih Situbondo. Mereka juga melakukan pengintaian dengan sejumlah pesawat tempur, melayang-layang dari utara dan menjatuhkan bom-bom di stasiun-stasiun kereta api, juga mengebom kendaran-kendaran sepanjang jalan raya Malang-Surabaya. Mereka memasuki kota didahului dengan tank-tank dan lapangan terbang Bugis menjadi sasaran utama. Pasukan Belanda dipimpin oleh Jenderal Mayor Baay, dari Blimbing mereka menembakkan mortar-mortir ke pusat.

Belanda meringsek masuk Kota Malang dan mendudukinya pada 31 Juli 1947, menggunakan senjata-senjata dan kendaraan berat. Ledakan-ledakan mortir hingar bingar di sudut-sudut kota. Tanpa kesulitan mereka memasuki Kota Malang yang telah dikosongkan oleh pasukan kita dan dinyatakan sebagai kota terbuka, karena pasukan kita telah membumihanguskan beberapa obyek vital, termasuk membumihanguskan wilayah Blimbing. Pasukan lain yang masih berada di kota adalah TRIP Batalyon 5000 Malang yang dikomandani Soesanto. Pertempuran yang begitu cepat membuat para anggota TRIP berlindung di parit-parit di tepi lapangan pacuan kuda (Simpang Balapan, jalan Ijen sekarang). Soesanto dan banyak dari mereka terbunuh, jenazah mereka dikubur dalam satu lubang besar tak jauh dari markas TRIP di Jl. Salak. Mereka dikubur oleh sekelompok tawanan Belanda dan ditandai dengan empat buah batang pisang yang ditanam di pojok makam.

Ketika Kota Malang jatuh, tidak ada yang secara formal memimpin pasukan untuk melawan pendudukan Belanda, namun dengan taktis kekuatan pasukan kita dipindahkan ke Wagir. Rakyat Kota Malang panik dan mencari tempat-tempat perlindungan, serta menjauhi jalan-jalan besar. Salah satu tempat pengungsian penduduk adalah di sebuah gedung di Jalan Panderman. Kota yang patriotik telah jatuh ke tangah musuh, kota yang di dinding gedung-gedung besarnya penuh dengan semboyan perjuangan (antara lain tulisan ‘Indonesia for the Indonesians’, ‘freedom of any nation’ yang tertampang di wilayah Alun-alun kulon), telah diduduki Belanda.

Pasukan Hamid Rusdi pun menyebar ke beberapa wilayah. Resimen 38 menyusun pertahanan di wilayah Bululawang dan dari sini terus berupaya untuk merebut kembali Kota Malang.

Saat itu hari Sabtu hujan lebat, berakibat hubungan telepon ke pos-pos terputus. Di markas hanya ada Mayor Wiyono, karena yang lain sedang wingate action ke Lumajang. Pasukan Syamsuri Mertoyoso hanya tinggal satu seksi. Sekitar jam 12 malam ada informasi dari Krebet dan Pakisaji bahwa pasukan Belanda melewati garis status quo. Dari Sedayu Mayor Wiyono menuju Kepanjen dan menyaksikan sendiri pelanggaran pasukan Belanda. Lalu terdengar tembakan dari arah Pakisaji. Sisa pasukan dikirim untuk menghadapi musuh agar kembali ke garis status quo.

Daerah Peniwen juga tak luput diincar musuh, karena Depo Batalyon Brigade IV ada di sana. Belanda menyerang Kepanjen dan sebagian Lahor (Karangkates). Di masa gencatan senjata, terjadi peristiwa yang memalukan Belanda hingga terkenal di luar negeri, yakni saat penembakan membabi buta yang dilakukan pasukan Belanda yang masuk daerah Jambuwer. Mereka menembaki orang-orang yang sedang dirawat di gedung sekolah yang difungsikan sebagai tempat darurat pengobatan. Banyak yang gugur. Mereka juga menembaki siapa saja termasuk orang-orang di jalan-jalan. Kasus peristiwa penembakan yang tak bertanggung jawab ini pernah dilaporkan ke PBB. (idur)

Aksi Kompi Sumeru dan TRIP di Wingate Action Karanglo, Singosari, dan Lawang Repotkan Belanda

Sersan Ginkel (KL), Mayor Budiono, dan Mayor Abdul Manan. Kontak awal setelah gencatan senjata (Agustus1949). (Istimewa)
Sersan Ginkel (KL), Mayor Budiono, dan Mayor Abdul Manan. Kontak awal setelah gencatan senjata (Agustus1949). (Istimewa)

MALANGVOICE – Sesudah Perjanjian Renville, gencatan senjata tercapai. Namun, disadari sebagaimana di daerah-daerah lainnya, Belanda tidak jarang melakukan pelanggaran. Perjanjian Renville menjadikan wilayah RI semakin sempit dan dikurung daerah-daerah pendudukan Belanda.

Pada 19 Desember 1948, pukul 06.00 pagi Belanda melakukan Agresi Militer II. Hampir seluruh kota di Jawa berhasil dikuasai, termasuk Malang, yang semenjak Agresi Militer I sudah diduduki Belanda, dengan garis demarkasi ditentukan dari Pakisaji.

Belanda semakin meningkatkan patrolinya dengan pasukan berlapis baja di jalan raya Malang-Batu, Karanglo, dan Malang-Lawang yang menjadi jalur utama logistik dan mobilitas pasukannya.

Saat itu, penduduk semakin menyatu dengan pasukan RI. Hampir semua desa sudah menjadi daerah kekuasaan pasukan negeri, kecuali jalan raya. Pemerintahan sipil bentukan Belanda, Recomba (Regering’s Comtabiliteit Bestuur Ambtenaar) sudah nyaris lumpuh. Untuk itu pemantapan penguasaan wilayah yang telah dikuasai harus dibina dengan membentuk pemerintah darurat. Diangkatlah Soewartono sebagai Camat Karangploso, dan M. Rifai sebagai Camat SIngosari, dan Lawang masih dalam proses.

Pada Maret 1949, Belanda mengadakan patroli dan operasi besar-besaran di Karanglo dan Singosari. Pagi buta mereka mengadakan operasi pembersihan serentak dengan pasukan lapis baja dan bantuan pesawat pengintai. Pengepungan dari berbagai jurusan, tembakan membabi-buta, dan penduduk yang tertangkap dikumpulkan dan diinterogasi. Namun, karena gotong royong yang kuat antara penduduk dan pasukan gerilya RI, berita pengepungan ini sudah diketahui secara beranting, dan operasi pasukan Belanda dianggap kurang berhasil.

Untuk memperkecil nyali musuh dan mempersempit ruang gerak mereka, pasukan RI sering melakukan penyerangan ‘hit and run’ dengan kelompok-kelompok kecil. Menjelang subuh mereka menyerang pos-pos Belanda di daerah Karangploso, Pendem, dan Singosari. Juga penyerangan terhadap konvoi pasukan Belanda di sepanjang jalan Malang-Lawang dari atas bukit Mondoroko-Watugede, dan Songsong.

Dalam operasi besar yang dilakukan, gugur tiga pahlawan, yakni Komandan Regu Kopral Sumedi, Pratu Mochib yang tertembak di desa Tegalgondo Karangploso, dan Sersan I Madasih yang tertangkap dan ditembak di Ngroto, Pujon. Dari kesatuan lain, regu Heri Sugondo juga tertangkap.

Pada saat Wingate Action Kepala Staf Batalyon III memerintahkan Letnan Satu Soeyono untuk membantu Kompi Sumeru dalam memantapkan penyelenggaraan pemerintahan sipil di daerah Karangploso, Singosari, dan Lawang, serta memperkuat daya tahan perang gerilya di wilayah tersebut.

Diangkatnya Sersan Mayor Paimin, yang dikenal dengan Komandan ‘Stroot troep’ menjadi Komandan Seksi III, semakin meningkatkan serangan dan penghadangan terhadap pasukan Belanda. Seksi Suwandi yang bermarkas sementara di Dengkol, Singosari Timur, giat melaksanakan sabotase, seperti memutus kabel telepon, merusak jalan kereta api, bahkan membakar pasar Singosari. Pos-pos Belanda di Singosari pun tidak pernah tenang dari gangguan Seksi Suwandi. Nyaris setiap hari dilakukan penghadangan di jalan raya Malang-Surabaya, dan tidak jarang menewaskan beberapa dari konvoi pasukan Belanda. Pasukan “O” yang berkedudukan di desa Lang-Lang juga aktif membantu pasukan Kompi Sumeru dalam penyerangan dan penghadangan.

Anggota TRIP yang tergabung dalam Kompi Sumeru membantu penggalangan masyarakat dengan membuat dan menempelkan poster-poster di tempat strategis untuk membangkitan semangat rakyat melawan Belanda. Anggota TRIP mengusahakan cap dan stempel pemerintah darurat RI, baik untuk kecamatan maupun desa-desa, yang secara sembunyi-sembunyi dipesan dari Toko Buku ARC Salim, dalam rangka memperkuat legalitas pemerintah darurat RI dan melenyapkan pemerintah bentukan Belanda (Recomba).

Ketika penguasaan daerah telah cukup mantap, Kondan Sektor dipindahkan ke kampung Jeruk. Mendeg. Markas Seksi Suwandi bergeser ke Desa Ngepoh. Wilayah Kecamatan Karangploso, Singosari dan bagian timur Kecamatan Lawang dikuasai oleh Batalyon Abdul Manan, sementara Belanda hanya menguasai kota kecamatan dan jalan raya Malang-Surabaya.(idur)

Komunitas