31 January 2023
31 January 2023
26.6 C
Malang
ad space

Salam Satu Jiwa Arema itu Kekuatan Sekaligus Titik Rawan

Anwar Hudijono
Anwar Hudijono. (MVoice/ist)

Oleh Anwar Hudijono*

Aremania memiliki salam yang khas. Yaitu “Salam Satu Jiwa”. Jika subyek pertama menyampaikan “salam satu jiwa”, maka subyek kedua menjawab Arema. Galibnya disertai dengan mengangkat tangan mengepal.

Salam ini bukan kaleng-kaleng. Apalagi asal njeplak. Salam ini memiliki akar historis yang sangat kuat. Sekaligus memiliki kandungan makna atau pesan isoteris yang sangat dalam.

Akar historisnya adalah ajaran adiluhung (luhur) Jawa dalam membangun komunitas, paseduluran (persaudaraan), kolektivitas -kolegialisme. Yaitu sabaya mukti sabaya pati. Artinya bahagia bersama mati (menderita) juga bersama.

Baca Juga: Iqbal Ceritakan Perjuangannya Selamat dari Kelamnya Tragedi Kanjuruhan

Sabaya mukti sabaya pati itu jika divisualkan semacam tali ijuk yang sangat kuat. Tali ijuk itu di samping tidak mudah diputus juga memiliki nilai magis mampu mengikat orang yang memiliki ngelmu welut putih. Orang yang memililiki ngelmu welut putih akan dengan mudah melepaskan diri dari ikatan rantai kapal sekalipun.

Untungnya orang sekarang jarang sekali yang memiliki ngelmu welut putih. Yang banyak justru memiliki ngelmu welut endhas ireng alias licik, licin, lihai, liat, dan li li yang lain.

Sabaya mukti sabaya pati ini merupakan kekuatan yang sangat dahsyat ketika ditransformasikan dalam kebaikan, perjuangan, gerakan heroisme. Contohnya, ketika Wong Agung Wilis memimpin perjuangan melawan pemerintah penjajah Belanda di Blambangan (Banyuwangi). Mengobarkan perang Puputan Bayu tahun 1771.

Baca Juga: Aremania Asal Probolinggo Takut Pulang, Ini Penjelasan Psikolog RSUD Kanjuruhan

Ruh sabaya mukti sabaya pati menggerakkan seluruh rakyat Blambangan, laki-laki perempuan terlibat perang sampai titik darah penghabisan. Tercatat 70 ribu rakyat gugur.

Ruh sabaya mukti menggerakkan rakyat terlibat dalam Perang Jawa atau Perang Diponegoro. Boleh dibilang hampir seluruh Jawa terbakar oleh api peperangan. Sampai-sampai kas negara Belanda kosong karena terserap habis untuk membiayai perang. Cuma setelah perang,Belanda cari pulihan dengan memeras rakyat melalui pajak dan program tanam paksa. (Politik golek pulihan ini kemudian menginspirasi lulusan pemilu baik pileg maupun pilkada).

Perang Surabaya 10 November 1945 juga digerakkan ruh sabaya mukti sabaya mati. Nilai itu dinarasikan dengan “Merdeka atau Mati”. Artinya kalau mau bahagia bersama harus merdeka, maka harus berjuang bersama-sama kendati harus berkalang tanah dan darah tertumpah.

Baca Juga: Tersangka Pembunuhan di Villa Songgoriti Terindikasi ODGJ

Masyarakat Pinggiran
Jadi, jika divisualkan “ salam satu jiwa” itu juga tali ijuk yang mengikat Arema . Historisnya kan begini. Sebelum tahun 1990-an, masyarakat Malang, khususnya anak-anak mudanya itu terpecah-pecah dalam kelompok komunitas. Saat itu disebut geng.

Geng-geng itu berbasis utama kalangan masyarakat periferal (pinggiran). Kurang pendidikan. Miskin. Begerak di sektor informal, bahkan pengangguran. Mereka memiliki keberanian yang tinggi. Jiwa jagoan.

Mereka adalah efek (korban) dari proses pembangunan yang berorientasi trickle down effect (menetes ke bawah). Kapitalistik. Jika proses pembangunan itu ibarat arus sungai, nah kaum periferal itu buih yang terapung-apung di atasnya.

Pada dekade 1970-an eksislah komunitas atau geng seperti Argom (Armada Gombal) yang berbasis di Mergosono, Anker (Anak Keras) di Jodipan, Persatuan Residivis Malang (Prem) di Celaket. Komunitas-komunitas ini mengalami politisasi dalam arti diserap oleh partai politik menjadi aparatusnya. Misalnya Tamin, Hariadi, Ghozi ke PPP. Mariso Udin, Bhirowo ke Golkar.

Pada saat musim penembakan misterius (petrus) awal 1980-an, banyak pentolannya yang raib. Geng-geng atau komunitas tiarap dan diam seperti orong-orong terinjak kaki orang.

Tidak lama. Pertengahan dekade 1980-an mulai muncul. Bahkan layaknya jamur di musim hujan. Basisnya tetap massa periferal, kurang terdidik, miskin. Pentolannya masih berumur belasan tahun karena yang tua-tua sudah raib atau pensiun.

Komunitas itu tidak hanya berbasis geografis di Malang, melainkan meluas sampai daerah lain. Di manapun saja berada, arek-arek Malang berani menunjukkan identitasnya dengan menyebut Arema akronim dari Arek Malang. Penguasa Blok M Jakarta itu Arema.

Muncullah komunitas-komunitas seperti Van Halen alias V(F)ederasi Anak Nakal Halangan Enteng yang berbasis di Claket, Saga (Sumbersari Anak Ganas), SAS (Sarang Anak Setan). Nama-nama ini mengambil nama grup musik rock karena saat itu Malang menjadi barometer musik rock Indonesia. Musisi rock baru disebut sejati jika lolos ujian arek Malang (Arema).

Ada juga geng berbau rasisme seperti RAC (Remaja Anti Cina), Raja (Remaja Anti Jawa). Ada Arpanja (Arek Panjaitan) berbasis di Betek, Aregrek (Arek –belakang- Geereja Kayu Tangan), Geng Inggris berbasis di Sukun, Armada Nakal (Arnak). Ada juga Ermera. Nama ini mengambil sebuah daerah di Timor Leste. Di situ banyak pasukan Batalyon 512 yang menjadi korban Perang Timor Timur.

Tinju

Fenomena ini memprihatinkan para tokoh masyarakat. Mereka khawatir musim petrus berulang. Juga perkembangan komunitas atau geng-geng ini tidak sejalan dengan gerakan pembangunan masyarakat yang waktu populer dengan istilah masyarakat madani. Istilah yang diperkenalkan oleh cendekiawan muslim Nurcholish Madjid. Masyarakat madani artinya masyarakat yang berkeadaban. Di situ ada tatanan keadilan.

Adalah Walikota Malang 1973-1983 Sugiyono adalah salah satu tokoh yang paling peduli dengan Arema. Ia mendapat gelar Ebes dari Arema. Ebes adalah bahasa slank Arema yang berarti bapak. Sugiyono dinilai sebagai pengayom, panutan Arema.

Banyak solusi yang dilakukan Ebes Sugiyono. Di antara mendorong berdirinya sasana tinju. Tinju itu tempat menyalurkan dan membina potensi keberanian, kejagoanan Arema. Sugiyono sendiri mendirikan Sasana Gajayana yang dengan pelatih legendaris Abu Dhori yang menelorkan juara seperti Juhari (OPBF), Solikin, Kid Hasan, Little Holmes.

Ada sasana Arema yang didirikan Tjipto Murti dengan pelatihnya Wa Sui yang menelorkan juara seperti Monod, Little Pono. Sasana Swunggaling Malang dengan manajer Petrus Setyadi Laksono yang menelorkan juara OPBF Wongso Suseno, Wongso Indrajid, Suwarno Perico alias No Pecel, Hengky Gun.

Disusul sasana Javanoea pimpinan Eddy Rumpoko dengan pelatih Mufid yang melahirkan juara WBF Nur Huda. Sasana Satria Yuda pimpinan Luky Acub Zainal dengan pelatih Ingger Kailola. Edy Sugiarto mendirikan sasana Alamanda yang melahirkan juara Mulyanto, Hudi.

Abu Dhori kemudian melepaskan diri dari Gajayana dengan mendirikan Dhori Gymnasium. Ia melatih tidak hanya pentinju Malang ia juga melatih petinju Papua yang dikirim Sugiyono yang saat itu menjabat sebagai Wakil Gubernur Papua (Irja) seperti Yudas Mofu, John Hamadi.

Selain tinju, Ebes juga mengembangkan sepak bola yaitu Persema. Dengan pemain seperti Maryanto, Suparman, Sutrisno, Cilak, Hary Ratu, Hartoyo, Gusnul Yakin, Aji Santoso sempat masuk Divisi Utama. Setelah tidak ada Ebes di Malang, Persema kurang bisa menyerap Aremania karena ada perbedaan paradigmatik.
Manajemen Persema menggunakan paradigma birokratis, sementara Arema itu menggunakan paradigma partisipatif. Pada masa itu terjadi semacam dikhotomi state (negara) dengan society (masyarakat). Karena saat itu, mengikuti pendapat ilmuwan politik David E Apter, ideologi negara dijadikan agama politik (pilitical religion)

Ebes Sugiyono

Adalah Ebes Sugiyono bersama mantan Wagub Papua Acub Zainal dan Siwo PWI Malang seperti Abas Prabowo, Anwar Hudijono, Heroe Yogie, Agus Purbianto, Suyitno, Wiharjono, Sentot Setiyono, Mondry. Pengusaha Derek Sutrisno, penyiar Radion Senaputra Ovan Tobing. Dua tokoh muda Arema Eddy Rumpoko dan Lucky Acub Zainal.

Mereka memprakarsai pendirian klub Arema FC . Apalagi saat itu PSSI juga menggencarkan sebak bola profesional. Pelatih pertama yang direkrut gak tanggung-tanggung yaitu Sinyo Aliandoe yang pernah menukangi PSSI Pra Piala Dunia. Pemainnya seperti Mahdi Haris, Effendy Azis, Dony Latuperissa, Panus Korwa, Mecky Tata, Dominggus Nowenik, Karman Kamaludin, Aji Santoso.

Jadi Arema FC itu didirikan untuk mewadahi aspirasi berbasis paradigma partisipatif Arema (Arek Malang). Nama Arema FC dianggap lebih pas daripada nama Armada FC. Arema FC itu mempersatukan elemen-elemen komunitas Arek Malang. Menjadi buhul pengikat solidaritas Arek Malang.

Maka sejak awal, keyakyatan itu menjadi karekter Arema FC. Klub profesional tetapi karakternya bukan semata bisnis untuk mengeruk cwan tetapi untuk persatuan komunitas. Mengembangkan paradigma partisipatif. Maka jangan heran kalau Aremania selalu minta dilibatkan dalam proses keputusan manajemen Arema maupun stakeholder yang lain. Aremania terhadap Arema FC itu benar-benar melu angrungkebi lan melu andarbeni (ikut membangun dan ikut memiliki).

Aremania selalu menjaga karakter kerakyatan yang egalitarian. Independen. Pasti akan menolak ketika hendak digiring ke emosional-primordialisme sempit yang bisa memecah belah. Siapapun yang mencoba mengkooptasi Aremania untuk kepentingan politik pasti akan terpental.

Aremania tumbuh dan berkembang secara fenomenal. Luar biasa. Aremania menjadi leader dalam aksi teatrikal di stadion. Menjadi inspirasi suporter di seluruh Indonesia. Martabatnya tinggi di mata dunia dan Indonesia.

Terbakar dan musnah

Kerakyatan, independen, egalitarian ini boleh dibilang sebagai tradisi agung Aremania. Inilah tradisi yang baik. Tradisi yang baik itu kalau di Al Quran dianalogkan dengan, “Dan tanah yang baik, tanaman-tanamannya tumbuh subur dengan izin Tuhannya. (Al Araf 58).

Salah satu buah Aremania sebagai tanaman yang baik itu adalah kekompakan, paseduluran, soliditas dan solidaritas (sabaya mukti sabaya pati) yang kuat . Sebuah kelompok yang dibingkai soliditas dan solidaritas itu kira-kira seperti yang dianalogkan Al Quran surah As Shaf ayat 4: “… dalam barisan yang teratur, mereka seakan-akan seperti suatu bangunan yang terusun kokoh”.

Tapi soliditas dan solidaritas ini akan menjadi titik rawan jika dipergunakan oleh tangan yang jahat dan mungkar. Di tangan manusia jahanam. Seperti halnya bumi. Pada dasarnya bumi itu diciptakan dengan baik dan untuk kembaikan semua mahluk. Tapi bisa menjadi rusak dan malapetaka jika di tangan orang yang jahat. Maka Allah wanti-wanti:

“Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah (diciptakan) dengan baik. Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang-yang berbuat kebaikan.”(Quran Al Araf 56).

Menggunakan soliditas dan solidaritas Aremania untuk kerusakan (fasad) itu gampang. Misalnya, pancing mereka marah. Ketika ada kawannya yang tanpa salah apa-apa dianiaya, digayang, digebuki, diperlakukan seperti binatang, bahkan lebih hina-dina dari kecoa, pasti soliditas dan solidaritas (sabaya mukti sabaya pati) mereka akan bangkit dengan melakukan pembelaan bersama-sama.

Nah, saat itulah menjadi titik yang paling rawan. Pembelaan bersama itu bisa menjadikan mereka seperti kawanan belalang yang mendatangi api obor. Terbakar dan musnah dalam sekejap. Setelah itu “manusia” akan mencari-cari dalih pokoknya belalang harus jadi yang salah.

“Manusia”? Ya manusia. Tapi ingat manusia itu bisa lebih hina dari belalang.
“Dan sungguh , akan Kami isi neraka jahanam banyak kalangan jin dan manusia. Mereka memiliki hati tetapi tidak dipergunakan untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka memiliki mata (tapi) tidak dipergunakan untuk melihat, mereka mempunyai telinga Itapi) tidak dioergunakan untuk mendengar. Mereka seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi. Meeka itulah orang-orang yang lengah.” (Quran, Al Araf 179).

(Tulisan sampai di sini. Saya tidak mengatakan musibah kubro Stadion Kanjuruhan itu pararel dengan Puputan Bayu, Perang Jawa, Perang Surabaya. Wis ramesono dewe).(*)

Rabbi a’lam

*Anwar Hudijono, wartawan senior, peraih PWI Jatim Award 2022 untuk kategori Tokoh Pers Daerah.

Musibah Kubro Sepak Bola, Mengapa Mesti Terjadi?

Menko PMK Muhadjir Effendy menjenguk korban musibah kubro Stadion Kanjuruhan Malang yang dirawat di RS Kepanjen Malang, Ahad (2/10).

Oleh Anwar Hudijono*

Mata dunia saat ini dengan pandangan tajam, nanar dan menyala tertuju ke Indonesia. Tepatnya di Stadion Kanjuruhan yang terletak sekitar 17 kilometer arah selatan Kota Malang.

Pasalnya, di sinilah pada hari Sabtu, 1 Oktober 2022 terjadi musibah kubro, tragedi terbesar dalam sejarah sepak bola dunia. Hampir 200 nyawa melayang, ratusan orang menderita luka-luka, sebagian dalam kondisi kritis menyusul situasi anarkis penonton.

Musibah kubro ini melampaui tragedi terbesar sebelumnya yaitu kerusuhan Stadion Heysel Brussels, 29 Mei 1985 akibat dinding stadion roboh menyusul bentrokan suporter fanatik Liverpool, Inggris dengan Juventus, Italia. Sebanyak 39 nyawa melayang dan 600 luka-luka. Sebanyak 14 suporter dihukum karena pembunuhan.

Baca Juga: Tragedi Kanjuruhan, Manajemen Arema Buka Crisis Center

Musibah kubro Kanjuruhan terjadi dalam pertandingan tuan rumah Arema FC melawan musuh bebuyutannya, Persebaya Surabaya. Pertandingan ini tidak disaksikan suporter Persebaya untuk mengantisipasi bentrokan seperti yang sudah sering terjadi sejak Arema bermarkas di Stadion Gajayana Kota Malang.

Anarkisme pecah ketika pertandingan berakhir 2-3 untuk kemenangan Persebaya. Tiba-tiba penonton seperti banjir bandang dari jebolnya bendungan turun dari tribun membanjiri lapangan hijau. Para pemain, wasit dan kru pertandingan berhasil menyelamatkan diri masuk ke dalam ruang ganti.

Kobaran emosi akibat kekalahan berubah menjadi kepanikan penonton setelah aparat keamanan menyemprotkan gas air mata. Semprotan tidak hanya diarahkan ke arah penonton yang merangsak di lapangan hijau melainkan juga ke arah penonton di tribun.

Baca Juga: PSSI Terjunkan Tim Investigasi Soal Tragedi Kanjuruhan, Arema Terancam Sanksi Berat

Secara psikologis semprotan air mata itu membuat orang takut. Karena takut dan berusaha menjauhi otomatis melakukan dengan tergesa-gesa, bahkan berusaha berlari. Soalnya laju semprotan itu mesti lebih cepat daripada langkah kaki. Apalagi kalau nyemprotnya sambil nggeget untu (menggertakkan gigi).

Nah, semprotan gas air mata inilah yang yang menjadi “primadona” sorotan nitizen. Mengapa aparat mesti menggunakan gas air mata? Bukankah itu tidak sesuai dengan aturan otoritas sepak bola dunia (FIFA)? Kita tunggu polisi menjelaskan ke nitizen. Biasanya polisi itu selalu punya jawaban.

Sementara sistem konstruksi tribun itu memang tidak memungkinkan untuk bergerak cepat. Jalannya hanya cukup satu orang berbaris. Orang yang panik, ketakutan dan tergesa-gesa cenderung kehilangan akal sehat. Disertai sesak napas.

Baca Juga: Kronologi Tragedi Kanjuruhan yang Tewaskan Ratusan Suporter versi Kapolda Jatim

Seandainya penonton tidak melebihi kapasitas tribun pun dalam situasi demikian sulit dihindari apalagi jika sampai melebihi kapasitas. Sangat mungkin terjadi saling dorong, saling desak, saling ringsek, tak peduli orang lain jatuh atau sakit. Situasinya seperti gabah diinteri (ditampi).

Sebenarnya varian masalah Stadion Kanjuruhan itu lebih sederhana daripada Heysel. Tidak ada ada bentrokan suporter kedua tim karena Bonek, suporter Persebaya tidak diijinkan menyaksikan pertandingan. Ini mestinya membuat pengamanan jauh lebih ringan. Coba kalau suporter Persebaya diijinkan, pengamanan terbuka dan tertutup sudah harus dilakukan sejak perbatasan Malang sejauh sekitar 50 km.

Dalam kerusuhan ini tidak ada faktor infrasruktur seperti tembok stadion roboh, fasilitas terbakar. Varian utamanya kan suporter Arema merangsak masuk lapangan hijau sesaat pertandingan usai. Modus semacam itu sebenarnya sudah sangat sering terjadi. Bahkan terjadi di saat pertandingan berlangsung.

Selama ini jika terjadi hal demikian tidak terlalu sulit mengatasinya. Jika tokoh-tokoh Arema kultural seperti Ovan Tobing, Suyitno, Edy Rumpoko berteriak di pengeras suara meminta mereka tertib balik ke tribun, biasanya patuh. Eksistensi tokoh kultural itu tidak bisa digantikan pejabat, politisi. Nah, pada saat kejadian Sabtu itu apakah tokoh kultural semacam itu tidak ada?

Musibah kubro sudah terjadi. Dalam kerangka akuntabilitas publik, masalah ini harus diinvestigasi, diselidiki secara menyeluruh. Yang lebih baik, pemerintah membentuk tim independen dari pelbagai elemen masyarakat dan lembaga yang punya otoritas. Dengan begitu lebih membuat masyarakat percaya. Karena saat ini meyakinkan masyarakat itu seperti menjerang air dengan kompor di lantai sementara cereknya di bubungan rumah.

Untuk para korban musibah kubro Stadion Kanjuruhan, saya menyampaikan duka cita yang mendalam. Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun.

Rabbi a’lam (Tuhan Maha Tahu).***

*Anwar Hudijono, wartawan senior tinggal di Sidoarjo. Peraih PWI Jatim Award untuk kategori Tokoh Pers Daerah 2022.(end)

Mengenang Prof Azyumardi Azra

Prof Dr Azyumardi Azra. (Mvoice/muhammadiyah.or.id)

Catatan Hendry Ch Bangun*

Secara fisik, saya baru mengenal Prof Azyumardi Azra sekitar 4 bulan, tetapi hubungan kami serasa sudah berbelas atau puluhan tahun.

Ya persisnya saya bertemu Gurubesar UIN Jakarta ini, saya kenal secara langsung pada 18 Mei 2022 di Hotel Aryaduta Jakarta saat acara serah terima pengurus Dewan Pers 2019-2022 ke Dewan Pers 2022-2025.

Sebelum itu, setelah terpilih memang saya menjalin komunikasi, namun terbatas pada komunikasi teks WA, seperti mengucapkan selamat bekerja dan Selamat Idul Fitri. Setelah bersalaman saat menemuinya di ruang acara, saya sempat ngobrol juga dengan beliau saat makan malam, kami duduk bersebelahan.

Baca Juga: Payung Rajut Warga Temas Dinobatkan Pemenang Kategori Kreatif Fespin 2022

Kami cepat akrab karena memang sebenarnya ada titik temu. Kami sama-sama sudah aktif di pers mahasiswa semasa kuliah, saya di UI, almarhum di UIN. Malam itu, ketika menyebut nama-nama aktivis pers kampus, nyambung. Mantan Rektor UIN ini adalah penulis tetap di Harian Kompas sejak puluhan tahun, sementara saya menjadi wartawan di sana oleh karena dia mengatakan sering membaca laporan olahraga saya.

Kami seperti dalam satu keluarga pers dan almarhum memang pernah juga aktif sebagai wartawan di Panji Masyarakat yang termasuk media top di zamannya.

Nama Azyumardi Azra tidak asing di telinga karena tulisannya banyak, begitu buku-buku yang dia terbitkan, serta termasuk orang yang konsisten dalam pendirian mengenai kehidupan berbangsa dan bernegara yang harus demokratis. Dia bercerita ke saya ketika bertamu ke rumahnya pada 19 Mei 2022, bahwa dia dikontak Menteri Pendidikan di era Presiden BJ Habibie.

Baca Juga: Polres Malang Luncurkan Dua Mobil Pelayanan Publik

“Bagus tulisan Anda di Kompas, teruskan. Hanya sedikit yang sekarang berani berpandangan kritis terhadap kondisi di Tanah Air,” katanya mengutip Wardiman Djojonegoro. “Saya bilang, saya akan konsisten, saya tidak takut untuk besikap karena itu demi kebaikan negara kita,” tambah beliau.

Prof Azyumardi mengundang ke rumah untuk memberi briefing tentang Dewan Pers, agar dia faham seluk beluk, tugas pokok, anggaran, sistem pengelolaan, dan juga kedudukan lembaga ini di dalam UU Pers, agenda Raker dengan Komisi I DPR RI dll. Hampir dua jam kami bicara, dan saya sampaikan apapun yang ditanya, dari hal yang serius sampai hal remeh-temeh. Termasuk waktu itu yang aktual adalah adanya judicial review atas Pasal 15 UU Pers yang dilakukan sekelompok orang, apa yang sudah dilakukan Dewan Pers dan perkembangan mutakhirnya.

Pertemuan begitu cepat karena kami ngobrol dengan enak, dan di akhir pembicaraan dia ingin agar saya tidak bosan kalau dia bertanya lagi seandainya ada yang ingin diketahuinya.

Baca Juga: Merugi Rp25 Miliar Akibat Kebakaran, Damkar Pernah Ingatkan Pentingnya Hydrant di Pabrik Kertas

Saya menyatakan siap karena saya juga ingin perpindahan tongkat kepengurusan berlangsung mulus dan program kerja bisa segera terlaksana.

Di awal pertemuan, beliau langsung menyampaikan, bagaimana kira-kira dunia baru yang akan dia geluti ini.

“Saya nggak berhenti-henti diwawancara, sejak semalam,” katanya. Tidak hanya untuk media siber dan media cetak, Prof Azyumardi Azra pun harus melayani wawancara podcast dan stasiun televisi.

Baca Juga: Pesantren Queen Zam Zam Sukseskan Aksi Tanam 10 Juta Pohon, KH Mashudi Nawawi: Tidak Ada Bantuan Pemerintah

“Ya, itulah yang antara lain yang menghabiskan waktu Prof dan harus dilayani. Setiap hal yang menjadi berita di media, bisa langsung ditanyakan ke Dewan Pers,” kata saya.

***

Terakhir saya bertemu Prof Azyumardi Azra di Bali, saat pelatihan Ahli Pers 31 Agustus-2 September lalu. Saat bertemu dia langsung berkata, “Bagaimana Alesso?,” maksudnya anak bungsu saya Alesandro yang kuliah di UIN Jakarta. “Masih masa orientasi, Prof,” jawab saya.

Saya memang pernah bercerita, anak kami yang lulusan Pesantren di Makassar, bercita-cita kuliah di UIN, entah di Yogyakarta atau Jakarta, tapi akhirnya diterima di Jakarta, tempat almarhum aktif mengajar S2 sampai akhir hayatnya.

Baca Juga: Percepatan dan Maksimalkan Pelayanan, Perumda Tugu Tirta Siapkan SPAM 3

Kami berpisah di restoran setelah sarapan diserta diskusi ringan bersama antara lain Yosep Adi Prasetyo dan Ketua PWI Kaltim, Endro karena beda pesawat, beliau pesawat siang, saya sore. “Salam sama istri ya Pak,” katanya. Ya kebetulan memang waktu pernikahan putri dari rekan Asep Setiawan di Masjid Raya Bintaro, Prof Azyumardi dan istri, berbincang-bincang dengan saya dan istri agak lama, sehabis akad nikah. Istri beliau dan istri saya cepat akrab.

Memang aktivitas Prof Azyumardi Azra di Dewan Pers begitu dilantik tergolong tinggi, sebagai bukti dari tanggung jawab mengemban jabatan. Semua acara praktis diikuti, yang tentu melelahkan. Yang menjadi keprihatinan almarhum adalah tentang akan segera disahkannya RUU KUHP padahal masih banyak pasal atau ayat yang berpotensi mengekang bahkan menjerat pers dan wartawan kalau tidak dikoreksi.

Ketua Dewan Pers beserta anggota intensif melobi ke fraksi-fraksi di DPR, setelah sebelumny menyampaikan catatan perbaikan di Menko Polhukam Mahfud MD.

Ketika ada acara Evaluasi Survei IKP di Yogya, beliau sempat kelelahan gara-gara pesawat yang membawa kami dari Jakarta ke New Yogyakarta tertunda keberangkatannya. Saat mendarat, terpaksa menunggu belasan menit untuk dapat angkutan.

Perjalanan ke kota juga memakan waktu lama karena adanya perbaikan jalan sehingga ada buka tutup. Malangnya lagi, karena hari Minggu dan Jalan Malioboro ditutup, supir yang tidak berpengalaman menurunkan kami di ujung jalan arah Tugu. Dari situ terpaksa disambung becak. Melelahkan.

Keesokan harinya, di ruangan acara, dia bertanya ke saya.

“Pak Hendry, ini apa saya harus mengikuti semua acara ya. Capek juga kalau semua harus saya datangi,” katanya setengah mengeluh.

“Silakan diwakilkan, Pak. Saya dulu sering diberi tugas Ketua apalagi kalau sifatnya internal,” kata saya. “Bapak pilih yang dianggap perlu saja.”

Khususnya setelah pertengahan tahun, program kerja mulai dilaksanakan dengan intensif dan setiap komisi mengadakan acara yang telah ditetapkan.

Survei IKP dengan FGD-nya, Uji Kompetensi Wartawan, dilakukan di 34 provinsi, lalu ada juga Verifikasi Faktual, dan berbagai macam yang dilakukan di luar Jakarta. Maka jumlah 9 anggota Dewan Pers, karena minimal harus ada yang hadir untuk memimpin atau membuka acara tersebut, terasa kurang. Sebab umumnya juga masih bekerja di perusahaan atau lembaga masing-masing dan hanya bekerja paruh waktu di Dewan Pers.

Bagi mereka yang biasa aktif di organisasi wartawan dan organisasi perusahaan pers atau yang sudah terbiasa terlibat dalam kegiatan Dewan Pers, entah sebagai anggota Kelompok Kerja, atau Gugus Tugas, atau kepanitiaan, atau sebagai Tenaga Ahli, intensitas pekerjaan ini mungkin sudah tidak masalah, tubuh sudah dapat menyesuaikan diri. Bagi yang belum memang melelahkan, karena pekerjaan full timer sementara status hanya part timer.

***

Kesan saya, Prof Azyumardi Azra adalah orang yang sangat berdedikasi dan egaliter, selain tentu seorang intelektual yang mengagumkan dan memiliki kredibilitas tinggi. Sederhana, apa adanya, dan tidak peduli dengan statusnya. Santai saja. Cepat akrab dengan siapa saja dan integritasnya kukuh terjaga. Satu hal yang pasti tentang Dewan Pers, dia ingin koleganya mampu menjaga martabat dan kewibawan lembaga tanpa cacat, menjaga jarak dengan kekuasaan, independen, dan berfikir kritis.

Dalam pertemuan kami yang tidak banyak, mungkin hanya 10 kali selama dia menjabat Ketua Dewan Pers mulai 18 Mei lalu, banyak hal yang dia kroscek ke saya, agar dia tidak salah dalam menilai seseorang.

Saya menyampaikan apa adanya versi saya dan menyilakan beliau untuk menguji informasi agar berimbang, sebab saya juga selama di Dewan Pers ingin lembaga ini dihargai siapapun karena pengurusnya orang yang terpercaya. Dan itu hanya bisa terjadi apabila para anggota mampu berperan sesuai harapan masyarakat pers dan masyarakat umum, atau sering dikelakarkan “Dewanya Pers”.

Semangatnya yang tinggi untuk menjaga kemerdekaan pers tercermin dari bagaimana dia ikut secara personal melakukan pendekatan ke wakil-wakil partai di DPR, kepada pejabat negara terkait. Dia tidak setengah-setengah.

Begitu pula diadakan syukuran pada awal September, setelah Dewan Pers menang dalam judicial review atas Pasal 15 UU no 40/1999 tentang yang dilakukan sekelompok orang. Itu menjadi passion dia yang luar biasa, karena mungkin sejalan dengan posisinya sebagai intelektual yang selalu bersikap kritis dan ingin negara ini betul-betul berlandaskan demokrasi.

Almarhum adalah Ketua Dewan Pers tersingkat dalam sejarah, hanya menjabat 124 hari, mulai 18 Mei dan selesai 18 September 2022. Tetapi sumbangsihnya begitu besar karena Dewan Pers lalu menjadi lembaga yang “naik daun” ketika RUU KUHP menjadi pembicaraan karena waktu itu sempat ditargetkan diundangkan pada 17 Agustus 2022. Dia memberi arti dengan komitmen yang jelas atas kemerdekaan pers, dengan caranya yang khas.
Ketika mendengar Profesor Azyumardi dikabarkan sesak nafas sesaat akan mendatar di Bandara Kuala Lumpur dan langsung dilarikan ke rumah sakit, saya berdoa agar dapat sembuh dan pulih seperti sedia kala. Dewan Pers masih membutuhkan sentuhan tangan dan pikirannya.

Tetapi Allah Sang Pemilik Kehidupan, memiliki rencana lebih baik sehingga beliau berpulang pada hari Minggu pukul 12.30 waktu Semenanjung atau 11.30 WIB. Selamat jalan Prof, jasa baikmu akan selalu kami kenang. Innalilahi Wa Innailaihi Rojiun.

Ciputat, 18 September 2022

* Hendry CH Bangun,
– Wartawan senior
– Mantan Wakil Ketua Dewan Pers

Malam Diciduk, Pagi Dipulangkan, Siang Ditersangkakan

MALANGVOICE- Sungguh malang nian nasib Mohamad Agung Hidayatulloh. Rabu, 14/9 sekitar 18.30 petang Agung si penjual es diciduk aparat Polri dari rumahnya dibawa ke Mapolsek Dagangan Polres Madiun.

Setelah dua hari diperiksa, kemarin sekira 09.00 pagi dipulang, tapi pukul 14.30 siang menjelang sore dijadikan tersangka terkait Bjorka. Lucu bukan !

Karuan saja hal ini membuat pasangan suami istri, Jumanto dan Suprihatin resah dan gelisah. Menurut, Jumanto, anaknya siang itu setelah menunaikan ibadah sholat Jumat pamit ke kantor Polisi.

Baca Juga: Kebakaran Pabrik Kertas dan Plastik, Belasan Armada Damkar Dikerahkan

“Katanya mau mengambil HP. Tapi, tidak kembali pulang lagi,” ujar bapak tiga anak itu dengan lugunya.

Yang menjadi pertanyaan publik atas apa yang dialami pemuda warga Dusun Mawatsari Desa Banjarsari Kulon Kecamatan Dagangan, Kabupaten Madiun ini tak logis.

Pertanyaannya, kalau memang Agung terbukti terkait dengan peretas Bjorka apakah Polisi mempunyai dua alat bukti?

Baca Juga: Abel Camara Belum Dipastikan Tampil Penuh Lawan Persik Kediri

Jangan sampai motto yang dicanangkan Kapolri, Kepolisian bertindak Akuntabel, Profesional dan Presisi, justru terabaikan atas apa yang dialami Agung pemuda lulusan MA itu. Hanya prestise aparat terkait Bjorka.

Menurut jubir humas Mabes Polri Kombespol Ade Yaya, Agung diduga menjadi bagian dari kelompok Bjorka. Melalui kanal di _Telegram_ Agung telah mengunggah beberapa info yang bersumber dari forum _Breached._ “Tersangka (Agung) pernah melakukan _posting_ (unggahan) di channel @Bjorkanism tiga kali, ” jelas Ade dalam jumpa pers kemarin.

Terkait ditersangkakannya Agung, Andi M Rezaldi Kepala Divisi Hukum _Kontras,_ meminta Ombudsman RI dan Komnas HAM mengawasi proses hukum yang dilakukan timsus terhadap Agung. Sebab, bisa jadi timsus berkerja tidak profesional.

Baca Juga: Jokowi Perintahkan Pemda Gunakan Mobil Listrik, Ini Tanggapan Wali Kota Malang

“Karena ada desakan publik, saya khawatir timsus ini bekerja teburu-buru dan tidak hati-hati,” jelas Andi M Rezaldi.

Andi menyatakan _Kontras_ siap mendampingi Agung untuk menjalani proses hukum. Menurut Andi, pihaknya khawatir Agung menjadi korban salah tangkap atau korban rekayasa kasus seperti banyak terjadi yang sudah sudah di beberapa daerah.

“Kalau merujuk keterangan pihak keluarga Agung, rasanya mustahil Agung memiliki peranan dalam peretasan yang dilakukan Bjorka selama ini,” ujar Andi.

Baca Juga: 8 Profesi yang Cocok bagi Anda yang Hobi Membaca

Terlepas dari semua itu, publik berharap penanganan proses hukum atas pemuda Dusun Mawatsari ini, dilakukan transparan. Sesuai motto Polri bekerja Akuntabel, Profesional dan Presisi. Karena Polri adalah melindungi dan pengayom masyarakat. Bukan sebaliknya. *(fim)*

Merdeka dari Apa?

Ilustrasi Merdeka. (MVoice/ist)

Oleh: Sugeng Winarno

Saat kita merayakan HUT ke-77 Kemerdekaan RI, sederet persoalan masih membelenggu bangsa ini. Saat kita ramai-ramai meneriakkan pekik “Merdeka!”, apa benar kita sudah benar-benar merdeka? Lantas, kita merdeka dari apa?

Sejumlah keinginan agar kita benar-benar merdeka disuarakan banyak pihak. Sebuah harapan di Hari Kemerdekaan RI yang ke-77 tahun ini agar kita bisa merdeka dari beragam wabah penyakit. Merdeka dari ketakutan akan terjadi resesi. Merdeka dari keterpurukan ekonomi. Merdeka dari sulitnya mencari pekerjaan. Merdeka dari banjir dan macet. Merdeka dari perilaku politik yang mengadu domba. Merdeka dari bayang-bayang Perang Dunia Ketiga. Hingga merdeka dari harga minyak goreng yang melambung, serta merdeka dari mahalnya harga tempe dan tahu.

Merdeka sesungguhnya bermakna terbebas dari segala macam belenggu. Saat ini sang penjajah yang pernah membelenggu Indonesia memang telah pergi. Jepang dan Belanda memang telah hengkang dari Ibu Pertiwi. Mereka tak lagi menggunakan senjata dan beragam kekuatannya untuk menindas dan mengeruk kekayaan Indonesia. Indonesia telah memproklamirkan kemerdekaannya sejak 17 Agustus 1945.

Namun, saat ini sejatinya kita belum seutuhnya merdeka. Saat ini justru bermunculan penjajahan gaya baru. Penindasan itu telah berubah wujud dan bentuk. Bangsa ini masih dibelenggu dari ketergantungan dan dominasi kekuatan bangsa lain.

Coba simak kebanyakan generasi muda kita. Sudah lama generasi milenial kita dijajah budaya Korea. Popularitas Korean Pop (K-Pop) begitu kuat dan digandrungi remaja Indonesia. Munculnya komunitas penggemar BTS Army, Blackpink, dan banyak fanbase atau fandom artis Korea di Indonesia bisa menjadi bukti.

Sugeng Winarno. (Mvoice/dok pribadi)

Aneka budaya Korea juga masuk merasuk ke benak penonton drama Korea (drakor) yang ditonton masyarakat Indonesia. Mereka tak hanya menyaksikan lakon dramanya, namun juga tak sedikit yang mengagumi ketampanan dan kecantikan para aktor dan aktrisnya. Tak cukup itu, para penonton drakor juga terkena bujuk rayu aneka produk dagangan Korea yang menyelinap masuk lewat brand yang menempel dalam banyak episode drakor yang tayang di Indonesia.

Popularitas produk merek Samsung misalnya, yang sukses merambah pasar dan mendominasi produk elektronik menjadi bukti bahwa strategi Korea menjajakan aneka produk ekspornya terbilang berhasil ke Indonesia. Korea telah menjadikan budaya tak hanya sebagai sarana diplomasi, tetapi juga telah menjadi sarana dalam mendongkrak devisa dari penjualan produk barang, pariwisata, dan aneka barang serta jasa lainnya.

Alhasil, Korea berhasil menyuntikkan pesona budayanya dan menjadi daya pikat lewat beragam produk budaya massa mereka. Dan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi saat ini telah memasilitasi semua produk budaya massa agar bisa diakses oleh siapapun, kapanpun, dan dari manapun, melintas batas geografis.

Fenomena Hallyu dan gelombang Korea (Korean Wave) semakin tak terbendung melanda, terutama generasi muda tanah air. Kenyataan ini sejatinya dapat mengikis rasa nasionalisme pada budaya dan produk bangsa sendiri. Kalau situasi ini tak segera bisa diperbaiki, itu artinya bangsa ini masih belum merdeka dari penetrasi budaya dan produk asing.

Dan ingat, tak hanya dari Korea, bangsa ini juga masih dijajah oleh Jepang lewat aneka produk barang dan budaya mereka. Kebanggaan pada budaya Jepang, laris manisnya aneka makanan Jepang, dan beragam barang elektronik serta kendaraan made in Japan menjadi bukti bahwa bangsa ini masih dalam belenggu negara yang pernah menjajah NKRI secara fisik lewat perang.

Coba tengok mobil dan sepeda motor kita. Mereknya pasti kalau tidak Honda, Yamaha, atau Suzuki. Lihat layar televisi dan aneka gadget yang ada di rumah kita. Pasti merek-merek itu bukan made in Indonesia. Tapi, made in Japan.

Tak hanya Jepang yang popularitas produknya masih mendominasi aneka barang kebutuhan warga +62. Tak sulit mencari produk dengan merk made in China di Indonesia. Demikian hanya dari negara-negara lainnya.

Lewat beragam produk budaya massa itu sejumlah negara melancarkan serangannya. Dan kita pun terlena. Sang penjajah gaya baru itu berhasil melucuti segala kemampuan kita. Alhasil. Indonesia hanya menjadi pasar bagi negara-negara yang perkasa lewat produk budaya massanya. Lewat film, acara televisi, video klip musik, Tik Tok, YouTube, dan aneka platform media, sejumlah negara masih terus menjajah Indonesia.

Dan, hingga kini, tak hanya nonton drakor, banyak orang Indonesia juga menggandrungi film-film Hollywood dan Bollywood, film-film Jepang, China, dan banyak lagi. Padahal lewat aneka tayangan hiburan itu masuk juga beragam virus yang dapat melemahkan imun seluruh kekuatan bangsa ini.

Virus budaya ternyata begitu gampang cepat menyebar serupa dengan virus Covid-19 yang persebarannya mendunia. Seperti hanya virus pandemi, serangan virus budaya dan produk asing juga berbahaya bagi ketahanan bangsa.

Inilah era yang menglobal. Inilah yang dikatakan oleh Marshall McLuhan sebagai kampung global (Global Village), dimana gegara teknologi internet kita semua warga dunia tergabung menjadi sebuah kampung sehingga segala wujud identitas secara pribadi dan sebagai bangsa itu kini menjadi kabur dan ambyar.

Kita semua tentu patut bersyukur atas kemerdekaan yang sudah diperjuangkan para pahlawan bangsa. Segala perjuangan dan pengorbanan para pejuang bangsa telah berbuah Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945. Sudah 77 tahun kita merdeka, patut disyukuri dan diisi kemerdekaan ini dengan pembangunan.
Namun jangan lengah, aneka penjajahan gaya baru ternyata masih menyerang bangsa ini.

Kita harus menang. Kita harus lawan beragam penjajahan gaya baru itu. Kita semua mau bebas, tak tertindas oleh apapun dan dari siapapun. Kita tumbuhkan nasionalisme, kita bangga menjadi Indonesia. Kita cintai produk dan budaya bangsa sendiri.

Selamat HUT RI 77 Tahun, Pulih Lebih Cepat, Bangkit Lebih Kuat. Merdeka! (end)

*Dosen Ilmu Komunikasi FISIP UMM

Menumbuhkan Tunas Generasi Emas

Skuad PSSI-16. (MVoice/pssi.org)

Oleh Anwar Hudijono

Terima kasih Skuad Garuda Asia. Terima kasih Bima Sakti. Terima kasih pula PSSI. Ketiganya memegang kuci sukses Timnas U-16 yang dijuluki Garuda Asia meraih gelar juara Piala AFF U-16 2022, setelah di final yang berlangsung di Stadion Maguwoharjo Yogyakarta, Jumat (12/8/2022) membekuk Vietnam 1-0. Gol tunggal itu dicetak Kafiatur Rizky.

Sukses ini laksana seteguk air di tengah kehausan. Bukankah sudah sangat lama penggemar bola Tanah Air merindukan gelar juara.

Adalah Bima Sakti Sukiman, pelatih muda yang sukses menukangi tim ini dengan strategi yang diilhami shalat jamaah. Dalam salat jamaah itu ada pakem (aturan) wajib. Misalnya, imam (pemimpin) itu hanya satu. Imam tidak boleh dikudeta. Barisan (shaf) harus lurus rapat. Tidak boleh meninggalkan jamaah kecuali batal. Makmum tidak boleh menudului imam. Dalam shalat itu seluruh tahapan ada aturan mainnya.Tidak boleh karena terburu-buru lantas melewati tahapan.

Bima Sakti membina mental disiplin sangat ketat bahwa setiap pemain wajib ikut shalat jamaah. Kalau tidak ikut jamaah kena denda Rp100.000. Jika masbuk (telat dan ketinggalan rakaat) dendanya Rp 50.000. Disiplin adalah salah satu kunci sukses sebuah tim.

Dengan salat jamaah ini membina kekompakan. Bergerak dalam satu komando sang imam. Tidak boleh kok makmum melakukan improvisasi dengan nyanyi atau duduk-duduk dulu. Apalagi ngopi-ngopi. Pada akhirnya disiplin, kompak, membentuk satu pasukan yang kokoh.

Anwar Hudijono. (MVoice/dok)

Bisa jadi, Bima Sakti yang sejak jadi pemain terkenal saleh seperti pemain Liverpool asal Mesir, Mohamed Salah, ini sudah memahami Quran surah As Shaf 4.

“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur, mereka seakan-akan seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.”

Bima Sakti bisa jadi menerjemahkan ayat ini untuk sepak bola. Dan itu sangat tepat. Ayat itu secara tekstual memang bicara tentang pasukan perang. Tetapi secara kontekstual bisa diterjemahkan dalam aspek kehidupan lain seperti manajemen, organisasi, juga sepak bola.

Syarat mutlak
Tentu saja strategi Bima Sakti tidak akan cukup efektif jika tidak diterima pemain secara utuh lahir batin. Ini syarat mutlak. Sangat miriplah dengan pedoman proses belajar membelajarkan yang diterangkan kitab Ta’lim al Muta’allim.

Pertama-tama pemain sangat tawadlu (tunduk dan patuh) kepada Bima. Hal ini bisa terjadi jika ada kepercayaan, trust. Dan Bima Sakti harus menjaga trust itu juga dengan memberi teladan.

Tak bisa dipandang sebelah mata adalah peran PSSI yang all out dalam mendukung Garuda Asia ini. PSSI berani memberi kesempatan pelatih muda seperti Bima Sakti. Memberi dukungan all aout. Pada saat TC kekurangan ofisial, PSSI langsung menambah. Saat kekurangan tenaga kesehatan, termasuk pemijat, langsung memenuhi.

Penanganan secara all out ini termasuk kunci penting untuk menggapai sukses. Tidak bisa mengharap tim mempersembahkan gelar juara dengan penanganan yang mediokritas alias setengah-setengah. Tidak bisa lagi menggunakan visualisasi profesionalisme tetapi di dalamnya amatiran.

Dan penanganan secara all out ini harus dijadikan referensi atau bahkan credo untuk menumbuhkan tunas-tunas muda ini menjadi generasi emas Indonesia. Ke depan mereka ini didambakan dapat mempersembahkan emas untuk level Asia. Bukan lagi cuma di SEA Games. Kalau cuma emas di SEA Games itu mah tidak seksi.

Bahkan sudah harus berani pasang target lolos ke Piala Dunia. Masyarakat sudah sangat rindu melihat tim kebanggaannya tampil di Piala Dunia.Mosok setiap event final Piala Dunia, Indonesia hanya dikenal sebagai pemegang rekor dunia nobar.

Penanganan yang all out, terprogram dan konsisten ini juga untuk menepis mitos bahwa prestasi anak-anak Indonesia itu mentok di usia 16 tahun. Tapi setelah itu cenderung macet atau bahkan langsir (mundur).

Suatu contoh Indonesia pernah menjadi juara Pelajar Asia. Publik mengharap pemain-pemain seperti Frank Sinatra Huwae, Noah Marien, Theodorus Bitbit menjadi tunas untuk Indonesia emas. Tapi sayang pemain-pemain asuhan pelatih asal Jerman Bukard Pape ini gagal menjadi generasi emas.

Negara-negara raksasa sepak bola seperti Brasil, Argentina, Jerman, Portugas, Spanyol menjaga tunas dengan penanganan yang saksama. Seperti bisanya mereka akan menjadi tulang punggung timnas senior. Portugal dengan kapten Ronaldo meraih juara Piala Eropa berintikan pemain-pemain yunior yang mempersembahkan emas Piala Dunia Yunior. Skuad Brasil di Piala Dunia 2022 ini juga sekitar 40 persen pemain Golde Team belia.

Sekarang Indonesia sudah memiliki (menambah) skuad tunas untuk menjadi Indonesia emas. Jagalah mereka. Tumbuhkan dan tumbuhkan!(end)

Generasi Strawberry di Era Digitalisasi

Ganes Danastri Pratista Aura Afra bersama dr Gamal Albinsaid. (Istimewa)

Oleh: Ganes Danastri Pratista Aura Afra

“Ya ampuun, tugasnya banyak banget. Gue nggak sanggup lagi kalau kayak gini terus. Kapan gue punya waktu untuk healing coba? Apa kabar mental health gue, bestie?”

Paragraf diatas merupakan keluhan yang pernah aku baca di salah satu media sosial dan mendapat tanggapan yang cukup ramai bernada mengiyakan saat itu. Pun ada juga beberapa komentar kontra yang mengaitkan generasi muda saat ini sebagai ‘Strawberry Generation’.

Istilah strawberry generation, menurut Prof. Rhenald Kasali dalam bukunya merupakan generasi yang penuh dengan gagasan kreatif tetapi mudah menyerah dan gampang sakit hati. Istilah ini pertama kali muncul di Taiwan dan ditujukan pada generasi muda yang mudah sekali merasa rapuh dan tidak tahan tekanan. Seperti buah strawberry yang tampilannya indah, tapi mudah hancur saat ditekan.

Maraknya sharing di media sosial, menunjukkan betapa beratnya menjalani hidup dengan segala beban yang ada adalah hal yang lumrah kita temui di era digitalisasi ini.

Kemajuan teknologi yang sangat pesat membuat banyak tatanan kehidupan masyarakat sudah beralih baik fisik maupun mental, dan kebanyakan remaja memanfaatkan teknologi untuk menjadi pribadi yang up to date atau latah ingin menjadi viral. Ngomong-ngomong soal ‘latah’, fenomena tersebut juga dampak dari peer pressure di kalangan remaja.

Kamu pernah nggak, melakukan hal yang nggak kamu sukai hanya karena ingin diterima, ikutan merokok sama teman karena takut nggak ditemenin lagi atau beli sepatu sekolah branded karena kamu lihat teman-temanmu sudah banyak yang pakai merk itu? Yap, ketiga hal tersebut adalah contoh dari peer pressure.

Peer pressure adalah pengaruh dari kelompok sosialmu yang mendorongmu untuk melakukan hal-hal tertentu. Peer berarti mereka yang biasanya sebaya, seangkatan maupun sekelasmu. Pengaruhnya pun bisa langsung (bujukan) atau tidak langsung (mengikuti perilaku teman). Namun, peer pressure bisa berdampak positif maupun negatif. Agar tidak terjebak di peer pressure negatif, kita harus mengenali diri sendiri. Karena hal yang kita suka berbeda dengan teman yang lain and it’s okay to be different. Jangan takut tidak sepaham dengan teman dan berani untuk bilang ‘tidak’.

Last but not least, kita tidak bisa terus membiarkan diri kita terjebak menjadi generasi strawberry. Tak hanya cakap dalam teknologi dan luasnya pengetahuan, kita juga butuh social skill untuk membangun networking di masa depan dan mental yang lebih kuat. Tidak salah kalau kita lebih aware tentang kesehatan mental, pentingnya healing, and it’s okay not to be okay. But, ‘not okay’nya jangan kelamaan. Karena nilai diri kita akan dipengaruhi oleh hal-hal yang menjadi perhatian kita. Jangan sampai hal-hal yang destruktif mempengaruhi nilai diri kita yang sebenarnya. Tetap fokus ke tujuan, terlepas ada yang support atau belum.

Ganes Danastri Pratista Aura Afra
Ketua Direktorat Humas Malang Cerdas

Dimensi Revolusi Diri Ibadah Haji

Anwar Hudijono
Anwar Hudijono

Oleh Anwar Hudijono*

Seluruh proses ibadah haji berlangsung hanya beberapa hari. Tetapi pada waktu yang sangat singkat itu merupakan momentum proses revolusi mental yang dahsyat. Spektakuler. Muaranya untuk menghadirkan perubahan yang lebih baik. Mengaktualisasi fitrah manusia.

Revolusi diri pada ibadah haji ini merupakan bagian esensi evolusi manusia menuju Allah. Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun, sesungguhnya milik Allah dan sesungguhnya kepada Allah dikembalikan. Sangkan paraning dumadi (asal dan arah pergerakan kembali semua mahluk). Jadi haji itu menyegarkan kembali terhadap pengetahuan dan kesadaran hakikat penciptaan.

Doktrin itu tercermin dalam seluruh skenario haji. Bermula dari Kabah sebagai simbol Allah. Hidup bergerak menuju arafah (pengetahuan), masyaril haram (kesadaran), Mina (cinta) dan kembali ke Kabah. Dengan kembali kepada Allah maka Allah menjadi lebih dekat dari urat leher hamba-Nya.

Kenapa harus berubah? Sering tanpa disadari manusia menjalani kehidupan yang tidak seharusnya. Istilah Dr Ali Syariati dalam bukunya yang terkenal, Haji (Penerbit Pustaka 1995), hanya aksi pendular yang tanpa makna. Bersifat siklistis yang sia-sia. Pagi berganti sore. Malam berganti siang. Tidur diakhiri dengan bangun,bangun diakhiri dengan tidur. Begitu berulang-ulang.

Manusia sangat sibuk mencukupi kebutuhannya yang tidak pernah merasa tercukupi. Manusia asyik dengan berakting di dalam permainan dunia seperti kotak gabus di atas tarian ombak samudera tanpa arah tujuan. “Dan kehidupan dunia ini hanya senda gurau dan permainan.” (Quran, Al Ankabut 64).

Apalagi kehidupan di ujung akhir zaman ini. Mata eksternal (fisik) begitu dimanja dengan medsos, kesenangan realitas palsu. Seolah waktu berjalan sangat cepat. Nyaris tiada waktu untuk bersabar dan khusyuk. Tak ada waktu merevitalisasi nafsu mutmainnah (kejiwaan yang tenang). “Wa kanal insanu ajula, dan memang manusia itu bersifat tergesa-gesa”. (Quran Al Isra 11). Tanpa sadar bahwa tergesa-gesa itu dekat dengan setan.

Akhirnya hidup hanya untuk hidup. Hidup yang demikian pada dasarnya boleh dibilang mati. Orang Jawa menyebutnya mati sajeroning urip (mati di dalam kehidupan). Secara fisik hidup, tetapi jiwanya sudah mati. Spritualitasnya kering kerontang. Unsur kemanusiaannya punah. Secara substansi manusia berubah menjadi “jazad”, seolah hidup padahal mati. Seperti jazad buatan Samiri (Quran, Thaha 88).

Terminologi jazad (juga tertera di surah As Shad 34. Menurut eskatolog Islam, Syekh Imran Hosein adalah Dajjal. Dajjal yang akan menjadi sumber fitnah-fitnah terbesar dalam sejarah kehidupan manusia. Salah satu misi Dajjal menghancurkan fitrah manusia.

Artificial intelligence

Ahli filsafat Shandell seperti dikutip Ali Syariati mengatakan, bahaya paling besar yang dihadapi umat manusia pada zaman sekarang bukan ledakan bom atom tetapi perubahan fitrah (sifat asasi)-nya. Unsur kemanusiaan di dalam dirinya sedang mengalami kehancuran sebegitu rupa sehingga pada saat ini tercipta sebuah ras non-manusiawi.

Inilah mesin berbentu manusia yang bukan ciptaan Tuhan dan bukan pula ciptaan alam. Manusia menjadi hamba yang tidak mengenal tuannya. Pada zaman now kira-kira manusia tidak ubahnya mesin artifical intelligence.

“Mereka memiliki hati tetapi tidak dipergunakannya untuk menghayati (ayat-ayat Allah) dan mereka memiliki mata (tetapi) tidak untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka memiliki telinga (tetapi) tidak dipergunakan mendengarkan (ayat-ayat Allah). Mereka seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lengah.” (Quran, Al Araf 179).

“Sesungguhnya mahluk bergerak yang bernyawa yang paling buruk dalam pandangan Allah ialah orang-orang kafir karena mereka tidak beriman.” (Quran, Al Anfal 55).

Seperti hujan

Maka, masa ibadah haji yang sangat pendek itu hendaknya menjadi seperti hujan yang turun meski hanya beberapa bentar untuk menghidupkan bumi.

“Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa kabar gembira, mendului kedatangan rahmat-Nya (hujan) sehingga apabila angin itu membawa awan mendung, Kami halau ke suatu daerah yang tandus, lalu Kami turunkan hujan di daerah itu. Kemudian Kami tumbuhkan dengan hujan itu berbagai macam buah-buahan. Seperti itulah Kami membangkitkan orang yang telah mati, mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran.” (Quran, Al Araf 57).

Harus ada prakondisi bumi yang bisa menyerap air hujan. Maka berangkat haji harus disiapkan kondisi jiwa raga. Bekal yang memadai. Bekal pengetahuan tentang haji. Ibadah tanpa dilandasi pengetahuan seperti orang buta berjalan di belantara.

Berangkat dengan dana yang halal. Berangkat haji dengan uang hasil korupsi, riba, menggunakan uang rakyat dengan memanfaatkan jabatan adalah sia-sia. Tidak ubahnya mencuci kain mori putih dengan air polutan. Tidak ada bedanya dengan menangkap air hujan dengan batu yang licin. Basah sebentar setelah itu kering kembali. Dan bekal terbaik adalah takwa.

“Bawalah bekal, karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. Dan bertakwalah kepada-Ku wahai orang-orang yang mempunyai akal.” (Quran, Al Baqarah 197).

Rahmat haji akan mengubah jiwa yang mati hidup kembali. Yang kurang subur menjadi lebih subur. Spritualitas yang gelap pekat akan kembali terang bercahaya. Al Araf 58 membuat analog kehidupan yang mendapat rahmat Allah itu seperti tanah yang subur.

“Dan tanah yang baik, tanaman-tanamannya tumbuh subur dengan izin Tuhan. Dan tanah yang buruk, tanaman-tanamannya tumbuh merana. Demikianlah Kami menjelaskan berulang-ulang tanda-tanda (kebesaran Kami) bagi orang-orang yang bersyukur.”

Paramater apakah bumi itu menjadi subur oleh hujan itu akan dilihat dalam jangka panjang. Berlangsung secara evolusif. Apakah mampu menumbuhkan tanaman dengan baik. Lantas tanaman itu bermanfaat bagi umat manusia dan semua mahluk Allah.

Intinya tanda-tanda haji mabrur itu akan terlihat dalam kehidupan seorang haji dalam proses kehidupan jangka panjang sampai akhir hayatnya menjadi manusia yang beriman dan beramal saleh.

Allah pasti akan menunjukkan tanda-tanda itu sebagai pembeda mana haji mabrur mana haji money laundring, haji status, haji selfie, haji jabatan, haji kamuflase bahkan haji maudlu (palsu). Allah tidak menyukai perbuatan yang mencampuradukkan yang benar dan yang batil.

Kita doakan agar semua jamaah haji tahun 2022 ini menjadi haji mabrur. Amin.

Astaghfirullah. Rabbi a’lam.

*Anwar Hudijono, Wartawan Senior tinggal di Sidoarjo.

Tuhan Menyayangi, Mereka Malah Menyembah Patung Anak Sapi, Itulah Yahudi

Ilustrasi Nabi Musa AS. (Ist)

Oleh Anwar Hudijono

Pengantar Redaksi
Sejak awal bangsa Yahudi cenderung menyembah kepada berhala. Maka Samiri (jilmaan Iblis?) pun dengan sihirnya membuat “jazad” berupa patung anak sapi yang terlihat oleh bangsa Yahudi seolah-olah emas. Tentu saja itu hanya manipulasi persepsi. Sihir itu manipulasi. Sihir itu menciptakan realitas palsu dan mempedayai. Pada tulisan kedua dari tiga tulisan tetang relasi Yahudi dengan Allah, dipungkasi dengan permohonan Nabi Musa agar dipisahkan dengan bangsa jahiliyah itu.

Melalui Rasulullah Musa, Allah menyelamatkan bangsa Yahudi dari penindasan Firaun. Bahkan Firaun dan tentaranya ditenggelamkan di Laut Merah.

Apakah Yahudi bersyukur? Tidak.

Apakah berterima kasih kepada Musa? Tidak juga. Malah terus menyakiti hati sampai Musa wafat.

Dalam perjalanan setelah menyeberang Laut Merah, mereka melewati sebuah pemukiman yang penduduknya menyembah berhala. Mereka terpesona dengan penyembahan tersebut.

“Wahai Musa, buatlah untuk kami sebuah tuhan (berhala) sebagaimana mereka memiliki beberapa tuhan (berhala). Musa menjawab, sungguh kamu orang-orang yang bodoh.” (Quran, Al Araf 138).

Bisa dibayangkan betapa perihnya hati Musa seperti disayat sembilu kemudian disiram air cuka. Seorang Rasul disuruh membuat berhala untuk jadi sesembahan. Rasul itu misinya mengajarkan tauhid.

Anwar Hudijono

Yahudi cenderung ingin tuhan yang bisa dilihat. “Dan (ingatlah) ketika kamu berkata, wahai Musa, kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan jelas. Maka halilintar menyabarmu, sedang kamu menyaksikan.” (Quran, Al Baqarah 55).

Allah menjawab tantangan mereka dengan menunjukkan tanda (ayat) kebesarannya yaitu halilintar yang menyambar mereka. Peristiwa itu disaksikan semua bangsa Yahudi. Lantas Allah menghidupkan mereka yang mati kesambar halilintar itu dengan maksud agar mereka bersyukur.

Tapi, apakah mereka bersyukur? Tidak juga.

Artificial intelligence
Kecenderungan Yahudi memiliki tuhan material atau benda juga ketika mereka menyembah “jazad” berupa patung anak sapi yang bisa bersuara. Patung itu mereka buat bersama Samiri. Mereka sebenarnya dipedayai Samiri (Iblis yang menjilma jadi manusia?) dengan menggunakan sihir. Inti sihir itu manipulasi, palsu. Merusak. Mendorong ke kekafiran.

Yang terlihat patung anak sapi dari emas itu hanyalah palsu. Musa sangat tahu sehingga membakarnya dan membuang abunya ke laut. Kalau benar-benar emas tidak bisa dibakar menjadi abu.

Kira-kira jazad itu kalau sekarang mesin artificial intelligence (AI). Dan sekarang ada kecenderungan menuhankan AI. Kisah itu diabadikan di Quran surah Taha 85 – 97.

Sebagai hukuman atas perbuatan mereka, Allah menetapkan jika ingin diampuni dosanya karena menyembah jazad itu, mereka harus bunuh diri. Orang-orang Yahudi yang baik tetapi terlanjur menyembah jazad memilih bunuh diri asal selamat dalam kehidupan akhirat.

Dengan demikian bangsa Yahudi yang baik semakin sedikit. Sisa yang baik ini adalah mereka yang tidak ikut menyembah jazad, termasuk Nabi Harun.

Tetapi kebanyakan mereka yang menyembah jazad tidak melakukan bunuh diri. Kenapa? Karena mereka lebih mencintai dunia daripada kehidupan mulia di akhirat.

“Mereka itulah orang-orang yang membeli kehidupan dunia dengan (kehidupan) akhirat. Maka tidak diringankan azabnya dan mereka tidak akan ditolong.” (Quran, Al Baqarah 86).

“Dan sekiranya Kami menghendaki niscaya Kami tinggikan (derajat)-nya dengan (ayat-ayat) itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan mengikuti keinginannya (yang rendah), maka perumpamaannya seperti anjing. Jika kamu menghalaunya, dijulurkan lidahnya. Jika kamu membiarkannya ia menjulurkan lidahnya (juga). Demikianlah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah kisah-kisah itu agar mereka berpikir.” (Quran, Al Araf 176).

Yerusalem
Niscayanya, betapa Allah sangat sayang kepada keturunan Nabi Yakub bin Nabi Iskak bin Nabi Ibrahim ini. Saat mereka kesulitan air, Allah memberikan 12 mata air melalui mukjizat Musa. Saat mereka terancam kelaparan, Allah memberikan makanan dari langit yang bernama manna dan salwa.

Apakah mereka bersyukur? Tidak juga.

Mereka menuntut kepada Musa agar diberi makanan yang ditumbuhkan di bumi. Musa menanggapi mereka dengan mengatakan, “Apakah kamu meminta sesuatu yang buruk sebagai ganti dari sesuatu yang baik? Pergilah ke kota, pasti kamu akan memperoleh apa yang kamu minta.” (Quran, Al Baqarah 61).

Betapa sayangnya Allah kepada bangsa Yahudi. Meskipun sudah melakukan serangkaian kedurhakaan besar, tetap saja diberi ampunan. Allah memberi mereka negara yang sekarang wilayah Palestina. Pusatnya di Al Quds atau Yerusalem sekarang.

Allah memberi syarat, negara itu harus diperjuangkan dengan cara mengalahkan penduduknya karea durhaka kepada Allah dengan melakukan syirik. Toh selama ini Yahudi sudah diberi langsung tanpa perjuangan seperti 12 mata air, manna dan salwa, lepas dari penindasan Firaun tanpa harus perang melawannya.

Tapi apa yang mereka lakukan? Mereka menolak berperang karena lawannya adalah bangsa yang kuat. Yahudi takut.

“Wahai Musa, sampai kapanpun kami tidak akan memasukinya selama mereka masih ada di dalamnya. Karena itu pergilah kamu bersama Tuhanmu dan berperanglah kamu berdua. Biarlah kami tetap (menanti) di sini saja.”(Quran, Al Maidah 24).

Atas sikapnya itu, Allah menjatuhkan hukuman berupa melarang mereka memasuki negara itu selama 40 tahun. Selama itu pula mereka menderita, terlunta-lunta di tengah padang pasir yang sangat luas.

“Allah berfirman, (jika demikian), maka (negara) itu terlarang buat mereka selama 40 tahun. (Selama itu) mereka akan mengembara kebingungan di bumi. Maka janganlah engkau (Musa) bersedih hati (memikirkan nasib) orang-orang yang fasik itu.” (Al Maidah 26). Fasik berarti melalukan dosa besar berulang-ulang.

Musa sangat mencintai bangsanya. Tetapi kebangetan, bangsa Yahudi terus menerus menyakitinya. “Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada bangsanya, wahai bangsaku, mengapa kamu menyakitiku, padahal kamu sungguh mengetahui bahwa sesungguhnya aku ini utusan Allah kepadamu. Maka ketika mereka berpaling (dari kebenaran), Allah memalingkan hati mereka. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik.” (Quran, As Shaf 5).

Hubungan Musa dengan bangsa Yahudi berakhir “bad ending” karena kedurhakaan Yahudi. “Dia (Musa) berkata, ya Tuhanku. Aku hanya menguasai diriku sendiri dan saudaraku. Sebab itu, pisahkanlah antara kami dengan orang-orang yang fasik itu.” (Quran, Al Maidah 25).

Allah mengabulkan doanya. Allah mewafatkan Musa ketika Yahudi pada masa hukuman terlunta-lunta selama 40 tahun.

Pasca Musa, Allah mengirimkan para nabi dan rasul kepada mereka. Tetapi kedurhakaan Yahudi sudah melampaui batas. Jika nabi dan rasul jika tidak sesuai kemauannya, mereka membunuhnya atau mendustakannya.

“Mengapa setiap rasul yang datang kepadamu (membawa) suatu (risalah) yang tidak kamu inginkan, kamu menyombongkan diri, lalu sebagian kamu dustakan dan sebagian kamu bunuh?” (Quran, Al Baqarah 87). (Bersambung)

Astaghfirullah. Rabbi a’lam.

*Anwar Hudijono, wartawan senior tinggal di Sidoarjo
14 Juni 2022

“Tangan Allah Terbelenggu”

Ilustrasi kisah Nabi Yusuf. (Ist)

Oleh Anwar Hudijono*

Pengantar redaksi
Bangsa Yahudi itu darah Nabi Yakub (Israil) bin Nabi Iskak bin Nabi Ibrahim. Allah memberi banyak kelebihan. Tapi mayoritas dari mereka sejak awal hingga akhir dunia justru durhaka kepada Allah. Wartawan senior, Anwar Hudijono menuliskan bagaimana relasi Yahudi dengan Allah dalam tiga tulisan. Yang pertama tuduhan mereka bahwa tangan Allah terbelenggu.

Bangsa Yahudi menuduh tangan Allah terbelenggu. Allah mengabadikan tuduhan itu di dalam Quran surah Al Maidah 64.

“Dan orang-orang Yahudi berkata, tangan Allah terbelenggu. Sebenarnya tangan merekalah yang dibelenggu dan merekalah yang dilaknat disebabkan apa yang mereka katakan itu. Padahal tangan Allah terbuka. Dia memberi rejeki sebagaimana Dia kehendaki.”

Allah membelenggu tangan pemimpin tertinggi mereka sebagai representasi dari mereka. Lantas siapa pemimpin mereka yang dibelenggu itu?

Anwar Hudijono

Di dalam Quran As Shad 37-38 disebutkan. “Dan (Kami tundukkan pula kepadanya/Sulaiman) setan-setan, semuanya ahli bangunan dan penyelam. Dan yang lain yang terikat di dalam belenggu.”

Jawaban lebih terurai ada di Hadits riwayat Muslim tentang kisah Tamim Ad Dari. Hadits itu cukup panjang. Dijelaskan Tamim bertemu sosok Dajjal di sebuah pulau. Dajjal dibelenggu di sebuah kuil yang rusak.

“Sesungguhnya aku ini Al Masih. Aku hampir saja diizinkan keluar. Setelah keluar, aku akan berjalan di muka bumi. Tidaklah aku biarkan satu negara pun tanpa aku singgahi dalam 40 hari selain Mekah dan Medinah.” Rasulullah menjelaskan dia bukan Al Masih (Nabi Isa) melainkan Al Masih Ad-Dajjal alias Al Masih Palsu.

Saya tidak akan membahas soal Hadits itu. Kesimpulannya bahwa pemimpin bangsa Yahudi adalah Dajjal. Dajjal menjadi pemimpin, penggerak bangsa Yahudi menguasai dunia. Dan Allah memberikan banyak kelebihan luar biasa kepada Dajjal sehingga menjadi fitnah (ujian dan cobaan) manusia yang paling dahsyat dalam sejarah kehidupan manusia.

Apakah semua orang Yahudi pengikut Dajjal? Jawabnya tidak. Sebab ada juga Yahudi yang beriman meskipun jumlahnya lebih sedikit. Quran surah Al Baqarah 88 menegaskan, “Dan mereka berkata hati kami tertutup. Tidak! Allah telah melaknat mereka, tetapi sedikit sekali mereka yang beriman.”

“Di antara mereka ada sekelompok yang jujur dan taat. Dan banyak di antara mereka yang sangat buruk apa yang mereka kerjakan,” (Quran, Al Maidah 66).

Menutup
Hubungan bangsa Yahudi dengan Tuhan sejak awal memang tidak baik-baik saja. Mereka durhaka. Hal itu dijelaskan di Quran surah Yusuf. Surah ke-12 dengan jumlah 111 ayat itu hampir seluruhnya menjelaskan eksistensi kehidupan awal Yahudi.

Maka kalau mau tahu jelas subyek bangsa Yahudi, bagaimana tabiatnya, wajib memahami surah ini. Itu sudah cukup jadi sumber. Sampai-sampai Allah membuka dengan menegaskan, “Alif lam ra. Ini adalah ayat-ayat Kitab (Al Quran) yang jelas.”

Ditegaskan di ayat 3: “Kami menceritakan kepadamu (Muhammad) kisah yang paling baik dengan mewahyukan Al Quran ini kepadamu, dan sesungguhnya engkau sebelum itu termasuk orang yang tidak mengetahui.”

Sayang, terkadang kisah Yusuf – juga kisah-kisah lain dalam Quran – lebih dinarasikan seperti dongeng. Dibumbui sana-sini. Biar heboh. Penuh dramatisasi. Fatalnya yang dibumbukan justru cerita-cerita israiliyat yang kebenarannya boleh diragukan. Bahkan sampai mengaburkan substansi kisah-kisah tersebut.

Jangan menggunakan referensi israiliyat atau yang ditulis maupun diucapkan orang-orang Yahudi. Karena sangat pantas diragukan mengingat tabiat kebohongan mereka. Jangankan sejarah, kitab suci saja diubah.

“Maka apakah kamu (kaum muslimin) sangat mengharapkan mereka akan percaya kepadamu, sedangkan segolongan dari mereka mendengar firman Allah, lalu mereka mengubahnya, padahal mereka mengetahuinya.” (Quran, Al Baqarah 75).

Segolongan dari mereka juga menulis kitab lantas mengklaim bahwa yang ditulis itu dari Allah. “Maka celakalah orang-orang yang nenulis kitab dengan tangan mereka (sendiri) kemudian berkata bahwa ini dari Allah (dengan maksud) menjualnya dengan harga murah.” (Quran, Al Baqarah 79).

Ayat ini menjadi peringatan bahwa orang-orang Yahudi akan menjadi pencipta instrumen sekaligus penyebar kebohongan (hoax) di seluruh muka bumi seperti dewasa ini. Yahudilah tokoh post-truth (pasca kebenaran). Lihat siapa pencipta dan penguasa media sosial, media mainstream global? Media itu instrumen menyebar hoax, propaganda, adu domba, menyebar ujaran kebencian dan permusuhan.

Sejalan dengan makna Dajjal yaitu menutup. Menutup apa? Menutup kebenaran dengan kebohongan. Kebenaran dengan kebatilan. Cahaya dengan kegelapan. Kesalehan dengan kefasadan (merusak).

Nabi Yakub
Nabi Yakub alias Israil bin Nabi Iskak bin Nabi Ibrahim punya 12 anak yang semuanya laki-laki. Mereka disebut Bani Israil. Sepuluh di antaranya menganiaya Yusuf dengan cara memasukkan ke dalam sumur. Tujuannya dua, Yusuf mati atau ditemukan pedagang dan diperdagangkan untuk budak. Inilah sumber mengapa tabiat bangsa Yahudi senang melakukan kejahatan pembunuhan dan perbudakan.

Setelah bertemu Yusuf mereka mengakui kesalahan (Quran, Yusuf 91). Tetapi mereka tidak pernah mau meminta ampun kepada Allah. Nah, inilah kesombongan Yahudi terhadap Allah. Kesombongan mereka juga ditunjukkan dengan menuduh ayah mereka, Nabi Yakub lemah akal (Quran, Yusuf 94).

Bayangkan, rasul Allah yang juga ayah mereka disebut lemah akal. Apakah bukan kesombongan? Terlalu.

Kesombongannya ditunjukkan dengan menyuruh ayahnya yang memohonkan ampun. Mereka sendiri tidak mau meminta maaf atau ampun kepadaAllah. “Wahai ayah kami, mohonkanlah ampunan untuk kami atas dosa-dosa kami, sesungguhnya kami adalah orang yang bersalah (berdosa).” (Quran, Yusuf 97)

Dia (Yakub) berkata, “Aku akan memohonkan ampunan bagimu kepada Tuhanku. Sungguh, Dia Yang Maha Pengampun, Maka Penyayang.” (Quran, Yusuf 98).

Nabi Yusuf
Yusuf memboyong seluruh Bani Israil (Yahudi) ke Mesir. Saat itu Yusuf menjadi pejabat tinggi penting di Mesir. Dengan pindah ke Mesir berarti mereka terlepas dari deraan kekeringan, kelaparan sebagai azab Allah atas kekejamannya terhadap Yusuf.

Hidup enak di Mesir. Apakah mereka bersyukur? Tidak.

Apakah mereka berterima kasih kepada Yusuf? Tidak juga.

“Dan sungguh, sebelum itu Yusuf telah datang kepadamu dengan membawa bukti-bukti yang nyata, tetapi kamu senantiasa meragukan apa yang dibawanya, bahkan ketika dia wafat, kamu berkata, Allah tidak akan mengirim seorang rasul pun setelahnya. Demikianlah Allah membiarkan sesat orang yang melampaui batas dan ragu-ragu.” (Quran, Ghafir 34).

Allah menjatuhkan hukuman atas sikapnya itu. “Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memberi tahukan bahwa sungguh, Dia akan mengirim orang-orang yang akan menimpakan azab yang seburuk-buruknya kepada mereka sampai hari kiamat. Sesungguhnya Tuhanmu sangat cepat siksa-Nya, dan sesungguhnya Dia Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (Quran, Al Araf 167).

Dan benar. Allah mengirim Firaun untuk menindas dan menyiksa mereka. **

Astaghfirullah. Rabbi a’lam.

*Anwar Hudijono, wartawan senior tinggal di Sidoarjo
13 Juni 2022