Haji Yang Tertunda Bersama Nabi (2)

Anwar Hudijono. (Istimewa)


Oleh: Anwar Hudijono

Pasukan Quraisy sudah terlihat. Kita tidak gentar. Di antara kita malah sudah ada yang menghunus pedang siap mempertahankan diri. Kita tinggal menunggu aba—aba komando dari Nabi. Kita sami’na wa atha’na, mendengar dan patuh.

Nabi tetap tenang. Takut? Tentu tidak. Tapi Nabi konsisten dengan niat menunaikan haji. Bukan niat untuk berperang. Sementara Quraisy memang ingin pecah perang. Nabi tak mau masuk perangkap mereka. Tak mau menari di bawah genderang Quraisy.

Nabi memutuskan mencari jalan lain. Kita mengikuti beliau. Medan jalannya sangat berat. Melalui tebing batu karang yang curam. Kaum muslimin tidak ada yang mengeluh. Semua rasa payah tertutup oleh semangat yang tinggi dan ikhlas.

Tiba-tiba Al Qashwa berhenti dan berlutut. Muslimin menduga unta kesayangan Nabi ini kelelahan.

“Tidak. Dia ditahan oleh yang menahan gajah dulu dari Mekah. Setiap ada ajakan dari Quraisy dengan tujuan mengadakan hubungan kekeluargaan, tentu saya sambut,” sabda Nabi.

Kita tiba di Hudaibiya, daerah sebelah bawah Mekah. Nabi memerintahkan kita turun.

Di antara jamaah ada yang bertanya, “Ya Rasulullah, kalau pun kita turun di lembah ini tidak ada air.”

Kita melihat Nabi mengeluarkan anak panah dari tabungnya (bukan panah untuk perang). Menugaskan seorang sahabatnya agar memanah ke dasar sumur-sumur yang kering. Begitu dipanahkan, memancarlah air yang berlimpah. Kita semua lega.

Quraisy bingung

Quraisy bingung menghadapi langkah Nabi. Pasukan Khalid ditarik untuk disiagakan di Mekah. Quraisy mengutus Budail bin Warqa dari suku Khuza’a menemui Nabi. Kepada Budail Nabi menjelaskan tujuannya. Hanya ingin umrah atau haji. Tidak ingin berperang.

Budail melaporkan apa adanya ke Quraisy. Tapi dia malah dicurigai. Tak puas, kemudian Quraisy mengutus Hulais, pimpinan suku Ahabisy.

Saat Hulais tiba, Nabi menyuruh kita melepaskan hewan-hewan kurban agar terlihat oleh Hulais. Begitu melihat hewan kurban itu, hati Hulais yang memiliki dasar kegamaan jadi tergetar.

Dia kembali ke Quraisy dan meyakinkan bahwa tidak ada alasan yang benar untuk melarang Nabi ke Baitullah. Lagi-lagi Quraisy malah marah ke Hulais. Dan Hulais mengingatkan bahwa persekutuannya dengan Quraisy bukan untuk merintangi orang yang mau ziarah ke Baitullah.

Selanjutnya Quraisy mengutus Urwa bin Mas’ud Ath-Thaqafi. Ya Urwa menemui Nabi. Pendapat Urwa sama dengan delegasi sebelumnya.

“Saudara-saudara, saya pernah ketemu Kaisar Persia Kisra dan Negus. Tapi baru kali ini aku melihat hubungan seorang raja dengan rakyatnya seperti Muhammad dengan sahabat-sahabatnya. Ketika dia mau wudlu, mereka segera bergegas. Jika ada rambutnya yang rontok mereka mengambil dan menyimpannya. Pikirkanlah kembali baik-baik,” kata Urwa di hadapan majelis Quraisy.

Ikrar Baitul Ridzwan

Lama sekali Quraisy tidak mengirim delegasi. Giliran Nabi yang mengutus delegasi. Tetapi di tengah jalan, unta utusan Nabi ditikam. Bahkan utusan itu mau dibunuh tapi bisa diselamatkan Ahabisy.

Quraisy terus melakukan provokasi. Pada malam hari sebanyak 40 orang dari mereka melempari kemah kaum muslimin. Mereka ditangkap. Tapi Nabi memaafkan dan melepaskan mereka.

Nabi hendak mengutus Umar bin Khattab untuk menemui para pembesar Quraisy. “Ya Rasulullah saya khawatir Quraisy akan mengadakan tindakan kepada saya mengingat sudah tidak ada Bani Khattab yang melindungi saya. Quraisy tahu bagaimana permusuhan dan tindakan tegas saya kepada mereka. Saya menyarankan orang yang lebih baik dari saya yaitu Ustman bin Affan,” kata Umar.

Nabi setuju. Maka berangkatlah Utsman bin Affan yang juga menantu Nabi ini. Di Mekah Utsman melakukan negosiasi dengan penggede Quraisy seperti Abu Sufyan. Negosiasi berjalan sangat alot. Quraisy bersumpah tidak akan mengijinkan Nabi masuk Mekah dengan kekerasan tahun ini.

Umat muslimin gelisah. Kita juga resah. Memikirkan nasib Utsman. Karena sejak berangkat tidak ada kabar. Kaum muslimin khawatir Quraisy membunuhnya meskipun semua agama di Arab melarang membunuh di bukan suci dan di daerah Mekah. Mekah adalah milik semua. Kita mafhum Quraisy itu seperti serigala. Sadis, kejam.

Nabi memanggil para sahabat. Di bawah sebuah pohon kita bersama kaum mukminin berikrar siap berkorban jiwa raga untuk membalas setiap pengkhianatan Quraisy. Ikrar itu disebut Baitul Ridzwan. Dari alam bawah sadar, setiap kita memegang gagang pedang dengan niat meraih kemenangan atau mati di medan juang sebagai syahid.

Turunlah wahyu Allah. Kita mendengar dengan seksama ketika wahyu itu dibacakan junjungan kita Rasulullah.

“Sungguh, Allah telah meridhai orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu (Muhammad) di bawah pohon. Dia mengetahui apa yang ada di dalam hati mereka, lalu Dia memberikan ketenangan atas mereka dan memberi balasan dengan kemenangan yang dekat”. (Quran: Al Fath 18).

Demi mendengar wahyu itu, tanpa terasa air kita menetes. Dada kita menjadi longgar seperti terlepas dari himpitan batu sebesar gajah abuh.

Anwar Hudijono

Referensi:
Muhammad Husain Heikal, Sejarah Hidup Muhammad, Tintamas Indonesia 1978.
Dr Ali Shariati, Haji, Penerbit Pustaka Bandung 1995.

Haji Yang Tertunda Bersama Nabi (1)

Anwar Hudijono

Oleh: Anwar Hudijono

Di tengah pelaksanaan ibadah haji “bermasalah” di tengah pandemi Covid-19 ini tahun 2021, Anwar Hudijono, penulis yang tinggal di Sidoarjo mengajak pembaca untuk “bernostalgia” pada saat mengikuti haji pertama Rasulullah SAW setelah tinggal di Madinah sekitar 6 tahun.

Kisah Nabi bukanlah dongeng. Bukan fiksi. Bukan naskah sinetron. Sejarah Nabi adalah sumber pengajaran. Sumber hikmah. Sebagai pedoman dan peringatan umatnya.

Bagian pertama

Begitu Rasulullah mengumumkan kepada kaum muslimin bahwa tahun ini akan menunaikan haji ke Baitullah di Mekah, kita benar-benar gembira. Rasa bahagia ini tak bisa dinarasikan. Selain rindu Baitullah, kita golongan Muhajirin ini juga rindu sanak kerabat. Kengen rumah dan harta yang kita tinggal begitu saja ketika hijrah.

Sejak kita hijrah dari Mekah, kita terus menghadapi tugas berat. Perang Badar, Perang Uhud, Perang Ahzab. Kita menghadapi aksi-aksi kaum Yahudi Madinah yang tak henti-hentinya mencoba menggunting dalam lipatan. Gerakan rahasia konspirasi rahasia Yahudi – kaum Musyrik Quraisy untuk menghancurkan Islam. Ditambah manuver-manuver kaum munafikin Madinah yang terus mencoba memudarkan cahaya Islam.

Hari ini di bulan Zulkaedah tahun ke 6 Hijrah kita berangkat haji di antara 1.400 jamaah. Terdiri dari kita kaum Muhajirin termasuk Abu Bakar Ash-Sidiq, Umar binn Khattab, Usman bin Affan. Juga sahabat-sahabat kaum Anshar, dan sejumlah kafilah Arab yang belum masuk Islam.

Kesertaan kafilah belum Islam ini merupakan strategi Rasulullah agar agama Islam lebih terpandang di mata orang-orang Arab yang yang belum beriman. Kesertaan mereka juga jadi bukti bahwa umat Islam benar-benar niat haji. Tidak untuk perang. Hal ini akan melemahkan posisi kaum Qurais di mata bangsa lain jika sampai melarang karena berarti sebuah pelanggaran besar terhadap adat istiadat seuruh bangsa Arab. Haji adalah milik semua umat manusia.

Haji adalah memenuhi panggilan Nabi Ibrahim yang merenovasi Ka’bah bersama putranya, Ismail. Haji adalah sebuah contoh simbolis dari filsafat penciptaan Adam. Haji adalah evolusi manusia menuju Allah.

Pakaian Ihram

Sekarang kafilah haji berangkat bersama-sama. Dipimpin Rasulullah. Manusia kekasih Allah. Suri teladan terbaik. Pembawa rahmat bagi seluruh alam. Nabi mengajak istrinya, Ummu Salama.

Kita menyakiskan, Nabi kita mengenakan pakaian ihram yang berwarna putih. Pertanda bahwa kepergiannya untuk berziarah dan mengagungkan Baitullah. Bukan untuk perang.

“Teman-teman kita patuhi Rasulullah. Kita bulatkan niat haji. Untuk itu jangan ada di antara kita yang membawa senjata.”

Semua mengikutinya. Tidak ada yang membawa senjata kecuali pedang bersarung yang biasa dibawa orang-orang Arab ketika bepergian.

Arakan-arakan jamaah diawali oleh unta Nabi, Al Qashwa. Nabi membawa 70 ekor unta untuk kurban. Setelah menempuh perjalanan sepanjang 7 mil sampailah kita di Dzul Hulaifa. Kita menyiapkan kurban. Mengucapkan talbiah. Maka bergemalah talbiah dari jamaah seolah-olah menguncang bumi, meruntuhkan bukit-bukit pasir, menyeruak di antara batu-batu padang gurun.

Labbaikallahumma labbaik
Labbaika la syarika laka labbaik
Innal hamda wan-nikmata laka
wal mulk la syarikalak

Kafir Qurais Melarang

Berita tentang Nabi dan rombongannya telah sampai di kaum kafir Quraisy. Mereka sebenarnya sangat khawatir Nabi akan melakukan tipu muslihat agar bisa masuk Mekah. Mereka sadar jika sampai melarang, akan dikecam masyarakat di seluruh Arab dan bangsa lain. Karena ini bulan Zulkaedah yang merupakan bulan Haji, bulan yang diharamkan untuk perang.

Tapi Quraisy sudah gelap hati. Mereka nekad melarang. Untuk itu dikirimlah pasukan elite kavaleri sebanyak 200 tentara yang dipimpin Khalid bin Walid dan Ikrima bin Abu Jahal. Mereka bergerak mencegat Nabi di Dhu Tuwa terus bergerak lebih ke depan sampai di Kira’l-Ghamim.

Rombongan Nabi sudah sampai di daerah Usfan. Kita melihat Nabi bertemu dengan seorang suku Banu Ka’b. Orang itu menyampaikan informasi kepada Nabi bahwa pasukan Quraisy yang berpakaian kulit macan sudah bersumpah akan melarang Nabi melewati Kira’al-Ghanim alias melarang Nabi masuk Mekah.

Kita mendengar dengan seksama tatkala Nabi bersabda, “O.. kasihan Quraisy. Mereka sudah lumpuh karena peperangan. Apa salahnya jika mereka membiarkan saya dan orang-orang Arab lain itu.

“Kalau mereka membinasakan saya, itulah yang mereka harapkan. Dan kalau Tuhan memberi kemenangan kepada saya, mereka akan masuk Islam secara beramai-ramai. Tetapi jika itupun belum mereka lakukan, mereka pasti akan berperang. Sebab mereka mempunyai kekuatan. Quraisy mengira apa.

“Saya akan terus berjuang. Demi Allah. Atas dasar yang diutuskan Allah kepada saya sampai nanti Allah memberi kemenangan atau sampai leher ini putus terpenggal,” kata Nabi.

Anwar Hudijono

Referensi:
Muhammad Husain Heikal, Sejarah Hidup Muhammad, Tintamas Indonesia 1978.
Dr Ali Shariati, Haji, Penerbit Pustaka Bandung 1995.

Jelang Laga Final Euro 2020: Laga Para Aristokrat Bola

Yunan Syaifullah. (Istimewa)

Oleh: Yunan Syaifullah

BELENGGU dan kebekuan masa lalu seolah menjadi pemicu lahirnya generasi pemberontak. Generasi baru itu memiliki pengetahuan layaknya cendekia. Namun lebih dekat menjadi aristokrat.
Italia dan Inggris memiliki masa lalu yang menyakitkan. Keduanya pernah gagal lolos dalam Piala Dunia. Meski keduanya kiblat sepak bola dunia. Baik dari sisi sejarah maupun industrinya.

Kebekuan masa lalu memberikan pelajaran berharga bagi kedua Negara itu. Kegagalan masa lalu justru mampu melahirkan aristokrat baru di dunia bola.

Roberto Bagio, Paolo Maldini atau Andrea Pirlo adalah masa lalu. Sederet aristokrat bola Italia yang bisa disebut. Ataukah, David Beckham, Paul Gascoigne, Gary Lineker adalah aristokrat bola Inggris di masa lalu.

Aristokrat bola di masa lalu bermain bola dengan kejeniusan dan kecendekiaan yang dimiliki. Namun bukan sebagai pemberontak. Kalah menang bagi mereka dinilai akibat kurang jeniusnya bermain bola dari sisi pengetahuan dan lainnya.

Belenggu masa lalu yang menyakitkan itu terbukti mampu memadamkan daya nalar bola dibutuhkan daya dobrak pemikiran, untuk menggapai masa pencerahan (Aufklarung)
Aufklarung Bola membutuhkan intelektual pemberontak. Seorang intelektual, dirinya sekaligus cendikiawan senantiasa melakukan pemberontakan kepada kekuasaan, sebab keilmuan selalu berkembang dengan melakukan falsifikasi. Tidak jarang pemberontakan dalam dunia ilmu adalah refleksi dari pemberontakan atas kekuasaan, modal dan kebudayaan.

Seringkali, modal dan kebudayaan mengatur gerak ilmu pengetahuan untuk kepentingannya sendiri. Karena itu, ilmu pengatahuan seperti ilmu sosial tidak jarang menjadi rekayasa sosial untuk kepentingan capital, modal dan kebudayaan tertentu. Karena itu, pemberontakan dalam ilmu pengetahuaqn pada pemberontak pada kekuasaan, modal dan kebudayaan.

Dalam banyak hal, kekuasaan dan modal selaku memiliki ketakutan pada ilmuwan dan termasuk sastrawan. Keduanya tidak membunuh secara langsung pemegang otoritas kekuasaan, modal dan kebudayaan tetapi melalui kata dan kalimat yang keluar dari ilmuwan dan sastrawan bisa membunuh dan menganiaya para pemegang kuasa dan otoritas kekuasaan, modal dan kebudayaan.

Pada titik inilah, mengutip Dhakidae (2006) dalam Ilmu Sosial dan Kekuasaan di Indonesia mengatakan bahwa hampir tidak ada yang lebih menakutkan modal, kekuasaan dan kebudayaan daripada kata dan kalimat yang itu keluar dari cendekia.

Intelektual, seringkali tidak menyebut dirinya sebagai cendekiawan. Hal ini memiliki alasan bahwa sebutan cendekiawan hanya diberikan oleh orang lain untuk orang lain lagi, dan bukan penamaan diri sendiri.

Seorang Hary Kane, Raheem Sterling, Luke Shaw, Giorgio Chiellini ataukah Federico Chiesa tak menyebut dirinya adalah intelektual bola. Bahkan cendekia bola. Tetapi dalam dirinya adalah aristokrat bola yang memiliki benih sebagai pemberontak.

Karena itu, lapangan hijau bagai buku cerita yang tak pernah habis untuk diceritakan kembali. Andai ditulis kembali cerita itu tak cukup satu, dua halaman.

Seperti halnya aritokrat bola lapangan hijau, tak pernah ada habisnya untuk diceritakan. Bahkan, selalu bisa berlanjut dengan berbagai episode dan sudut pandang. Mulai dari, sisi lain nama, wajah,, sikap dan lainya.

Sepak bola mampu menyebarkan benih keterbukaan, kepedulian dan rasa memiliki antar pelaku maupun penikmatnya. Kondisi hal ini, sedikit banyak mampu membentuk karakter social suatu masyarakat.

Tidak salah bila kemudian hari ada ungkapan, Italia dan Inggris adalah masa depan, dan akan selalu hidup di masa depan tentang sepak bola.
Derbi klasik memang diwarnai banyak kisah menarik. Menjadi rugi untuk tidak disimak. Tidak hanya semata soal bola yang dimainkan di lapangan. Namun juga masalah di luar lapangan yang tidak berhubungan langsung dengan bola mampu memberikan andil tentang dinamika pertandingan.

Ribuan bahkan jutaan mata yang tertuju satu titik: Stadion Wembley London. sebagai saksi sejarah untuk memastikan pemberontakan para aristokrat bola dalam perang masa depan bola di laga Final Euro 2020.

Bisa jadi perang para pemberontakan dari aristokrat bola disertai berbagai kecemasan dan ketakutan yang menghinggapi banyak kalangan berkaitan dengan masalah pinggir lapangan. Masalah friksi dan konflik antar pendukung karena faktor sejarah masa lalu.

Masa lalu menyembul dan menjadi “heroism” baru untuk menggugurkan trauma dan kebencian yang ditujukan pada dunia bola bagi bangsanya.
Parade nasionalisme dalam laga final Euro 2020 menjadi perhatian dan perbincangan menarik dari banyak kalangan. Tidak hanya pelaku dunia sepak bola namun juga banyak pihak saling terkait.
Terlebih, secara masif, pekikan nasionalisme dengan segala rentetan polemik sebelum laga final itu ditayangkan secara terus menerus melalui media sosial, seperti Instagram, Twitter dan Facebook.

Pekikan nasionalisme yang diproduksi secara terus menerus di berbagai kanal televisi dan media sosial, secara tidak langsung mempengaruhi persepsi dan memori para aristokrat bola untuk dipaksa membuktikan perang di lapangan hijau dengan penuh harga diri dan martabat. Baik itu dengan nalar kritisnya maupun skeptis.

Kendati perang di lapangan hijau itu memungkinkan lahirnya krisis di lapangan hijau. Karena itu, krisis apapun bentuknya membawa pelajaran penting dan menarik bagi pengembangan pemikiran dan keilmuan. Terlebih akibat krisis yang dibawa serta dalam hal impak maupun dampaknya.

Dalam sepak bola, gol adalah pintu juara. Gol pembuka itulah, akhirnya bisa menyingkap tabir kecemasan dan ketakutan diri pemain kedua kesebelasan.

Semua pihak berharap Final Euro 2020 benar-benar ditutup senyum dan bahagia kolektif melalui permainan para aristokrat bola secara terhormat.
Para aristokrat bola itu apakah juara secara terhormat ataukah kalah terhormat!

Ringkasnya, hasil akhir dari laga Final Euro 2020 adalah perubahan dan kemajuan yang berujung pada kesejahteraan di dunia sepak bola.
Sepak bola diakui selalu dipenuhi dengan teka-teki. Namun, siapa sebenarnya yang dapat merebut hati publik bola di seluruh wilayah dan negara? Jawabannya tidak lain adalah Negara yang memenangkan peperangan laga Final Euro 2020.
Sepak bola memang ada kalah dan menang. Ketika, mengalami kekalahan ataupun masa-masa sulit dan penuh tekanan, seperti yang terjadi akhir-akhir ini menjelang kepastian juara tidak perlu dijadikan alasan untuk tidak bergembira.

Kegembiraan itu memang membawa pikiran dan perasaan santai. Faktor ini yang menjadi bukti: prestasi.

Publik bola tentunya tidak ingin langit yang membiru ini berubah menjadi kelam. Publik bola telah berusaha sekuat mungkin menjaga langit itu tetap berwarna biru dengan caranya masing-masing. Karena, birunya harapan telah menyatu padu untuk satu keinginan dan harapan.

Yunan Syaifullah
Penikmat Bola, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Malang

Bola Kesedihan Para Hero

Yunan Syaifullah *) Penikmat Bola, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Malang

SEPAK bola adalah pesona kemanusiaan. Ragam pesona itu mementaskan berbagai hasrat dan harapan. Hasrat kemenangan. Hingga, gagalnya harapan berupa kekalahan. Kekalahan dan kesedihan adalah hasil dari harapan yang sedang dikecewakan.

Sepak bola dari dulu hingga kini, ditasbihkan dan menjadi panggung hasrat dan kemanusiaan yang mempertontonkan berbagai pesona kemanusiaan. Didalamnya, selalu memperagakan strategi dan taktik seolah perang untuk merebut kuasa dan pengaruh; krisis; bencana; dan, berbagai skandal penghianatan terhadap fair play.

Meski selalu diwarnai drama menyedihkan. Sepak bola tidak pernah usang, lapuk bahkan mati. Justru makin mengundang daya tarik dan pesona. Bahkan hiburan bagi seluruh umat manusia diberbagai belahan dunia. Tanpa mengenal perbedaan status dan kelas sosial.

Sepak bola adalah dunia para hero yang mempertontonkan sekaligus daya pamer atas segala bakat, kemampuan diatas lapangan hijau.
Para hero di lapangan hijau memamerkan segala kemampuan dan bakatnya bukan sekadar untuk permaianan namun untuk merebut kuasa dan pengaruh berupa kemenangan.

Ragam dan unjuk kebolehan yang dipamerkan para hero seolah seperti panggung opera sabun. Disinilah, wajah sepak bola yang seakan terus hidup tanpa ada keinginan untuk mati. Panggung seperti inilah, sepak bola seolah terus mampu menghibur dan menghipnotis para penonton.

Akan tetapi, sepak bola bukanlah panggung opera sabun yang dangkal. Sebab sepak bola, para hero-nya harus selalu siap terlibat dalam pergulatan yang keras, penuh intrik dan lainnya untuk tujuan akhir yang diharapkan.
Pergulatan yang dilakukan para hero tidak selalu berakhir dengan hasil akhir gemilang berupa kemenangan.

Sepak bola senantiasa memberikan pelajaran menarik bagi setiap penonton tentang arti dan makna realisme nasib.
Tradisi realis yang memiliki pengaruh kuat dan dominan dalam pikiran kelompok skeptis-deduktif. Salah seorang tokohnya adalah Oliver Wendell Holmes Jr. Dirinya pernah berujar bahwa nyawa hukum bukanlah logika melainkan pengalaman. Pernyataan Holmes ini, dalam perkembangannya, tanpa disadari ternyata menjadi semacam keyakinan (credo) bagi penganut skeptis-deduktif. Bahkan, buku The Common Law I (1881) yang ditulis Oliver Wendell Holmes Jr itu telah menjadi kitab wajib bagi penganut skeptis-deduktif di kemudian hari.

Kredo yang berasal Holmes ini sesungguhnya bermuatan pesan untuk disampaikan pada kita. Holmes mengingatkan bahwa hukum adalah aturan-aturan yang kontigen dan menyesuaikan diri dengan selera dan kebutuhan-kebutuhan yang ada di masyarakat.

Dalam konstruksi modern sekarang ini adalah bangunan sosial yang berasal dari anggota masyarakat bukan sabda yang turun dari langit.
Upaya untuk menemukan unsur-unsur yang sama pada sebuah sistem hukum (politik, ekonomi) seringkali dianggap tidak masuk akal atau sebagai upaya perampatan yang dangkal.

Kita sering menyaksikan para sarjana dari pelbagai keahlian yang tertawa kegirangan ketika mampu menunjukkan bagaimana teori-teori umum yang coba dibangun oleh para ahli (pakar) namun tidak pernah berhasil itu dan dibuat macet oleh perkembangan yang ada atau rusak sama sekali oleh hal-hal khusus tertentu yang dihasilkannya.

Aktivisme kita saat ini dan ke depan bukanlah dengan kekuatan logika dan ketakutan akan perenungan diri melainkan dengan suatu perangkat materi sosial kemasyarakatan yang alot dan melahirkan sekian banyak ragam aturan yang tersebar di berbagai tempat dan waktu
Sepak bola dengan tegas mengajak dan melibatkan para penonton pada dua pilihan tegas yang wajib dipilih, yakni untuk berada pada pihak kemenangan ataukah kekalahan.

Bukan karena kesengajaan, perhelatan Euro 2020 diselenggarakan dan tersebar di 11 negara dan 11 kota yang memiliki kesejarahan sepak bola dunia. Meski Euro 2020 diselenggarakan ditengah masih berjalannya Pandemi Covid-19, Euro 2020 mampu dan menjelma menjadi panggung hiburan menarik.

Menariknya, panggung Euro 2020 sesungguhnya menyisipkan dan bicara mengenai masa depan dan kesadaran melalui sepak bola.

Perbincangan masa depan dan kesadaran, teringat kembali Pidato Pembelaan Mohammad Hatta –akrab dengan Bung Hatta—sebagai salah seorang proklamator dalam pengadilan Den Haag Belanda, 9 Maret 1928 lampau patut untuk disimak kembali. Pidato Pembelaan Bung Hatta dikenal dengan tajuk “Indonesia Merdeka” (Indonesie Vrij) yang dibaca selama 3,5 jam mengupas habis tentang praktik eksploitasi dan sisi lain dari kolonialisme.

Para hero lapangan hijau di Euro 2020 memamerkan segala bakat dan kemampuannya tujuannya tidak lain adalah merebut kuasa dan pengaruh dalam hal kemenangan untuk negaranya. Menjadi seorang hero tidak sebatas membunyikan ikrar seorang hero dan tanpa jiwa yang utuh. Ikrarnya melibatkan nasionalisme dengan makna yang luas.

Ikrar dan jiwa yang utuh yang melebur jadi satu itulah idealisme para hero. Idealisme adalah sumber perubahan. Perubahan terjadi karena tidak adanya kepuasan terhadap kondisi terkini, perubahan terjadi karena ada “kesalahan” atas suatu hal, perubahan dapat dilakukan hanya bila ada keberanian, dan keberanian untuk melakukan perubahan merupakan implementasi nyata dari idealisme.

Idealisme tumbuh secara perlahan dalam jiwa seseorang, dan termanifestasi-kan dalam bentuk perilaku, sikap, ide ataupun cara berpikir. Pengaruh idealisme tidak hanya terbatas pada tingkat individu.

Para hero lapangan hijau yang mewakili Negara yang sedang dikecewakan karena gagal lolos ke fase 8 besar, seperti Portugal, Prancis, Jerman, Belanda, mereka memiliki pernyataan dan pesan menarik: “…kita ini mempunyai pengalaman sebagai negara sepak bola meski harus gagal dan tersungkur.”

Pesan itu menyadarkan kita semua. Kenapa harus dibuat tegang dan penasaran oleh hasil pertandingan. Karena bicara sepak bola bisa apa saja. Itu sah-sah saja.

Euro 2020 menjadi wadah dan kekuatan untuk menyatukan segala perbedaan. Semua orang dimanapun, profesi apapun tiba-tiba memiliki energi yang sama untuk berbicara sepak bola. Kali ini bintang yang ditunggu semua orang adalah 8 negara yang lolos dalam fase 8 besar sebagai kekuatan baru

Bicara sepak bola Eropa yang fenomenal tersebut berbanding terbalik dengan sepak bola negeri kita sendiri.

Di negeri ini, sepak bola bukan sepak bola-nya yang harus disepak malah memainkan kepala orang yang disepak. Begitu pun lapangan yang dipakai bukan lapangan bola melainkan di koran-koran atau di atas kertas tepatnya di bibir-bibir bergincu. Seram di mulut!

*Pojok Pustaka, 01 Juli 2021 pukul 15.03 wib

Bacaan Alquran Sebagai Kado Terindah

Anwar Hudijono

Oleh: Anwar Hudijono

Andaikan kebahagiaan itu divisualkan dengan danau, maka dia adalah danau berisi air yang jernih, sejuk, baik diminum. Tatkala sinar matahari pagi menerpanya, akan membiaskan cahaya dengan segala pesonanya. Kuning, violet, jingga muda saling merajut bertindihan.

Danau itu dipagari taman dengan selaksa bunga yang menyebarkan semerbak mewangi. Kupu-kupu dan kerabatnya bersuka ria terbang kian kemari di antara bisikan angin yang lembut penuh sensasi. Landscape di belakangnya berupa pagar bukit hijau dan gunung-gunung yang tegak perkasa.

Aku yang didera dahaga, kepanasan, bercucuran keringat, berdebu menemukan danau itu. Maka, aku langsung mencebur. Di danau itulah aku mandi. Di situ aku berenang dan menyelam. Saat itu pula aku meminum sepuasnya. Saat itu pula aku luruh bersama totalitas kenikmatannya.

Kebahagiaan itu aku dapati karena mendapat kado bacaan ayat-ayat suci Al-Quran dari istri dan anak-anakku untuk ulang tahunku ke-40 plus, kemarin (Selasa, 22 Juni).

Kado semacam ini baru pertama kali saya terima. Ini benar-benar kado terindah dan teristimewa. Harkat kado ini menyeruak masuk ke relung hatiku laksana pusaran air yang masuk memenuhi sebuah palung samudera.
Mereka bergantian membacakan kadonya di hadapanku. Jika yang satu membaca lainnya menyimak. Seusai membaca kita bahas sedikit kandungannya.

Kado itu mengandung petunjuk, peringatan, pedoman bagi perikeberadaanku di umur yang plus 21 tahun ini. Artinya umurku 40 plus 21 tahun jadi total 61 tahun. (Gitu aja muter-muter. Bilang saja kalau sudah tuwir alias manula). Jumlah ini termasuk umur kematian.

“Umur-umur umatku antara 60 hingga 70 tahun. Dan sedikit dari mereka yang melebihi itu”. (Hadits Riwayat Turmudzi).

Umur segini haruslah banyak mengingat kematian. Dalam Hadits riwayat Ibnu Majah disebutkan, orang mukmin yang paling cerdas adalah yang paling banyak mengingat mati, dan paling banyak dan baik persiapannya menghadapi kehidupan setelah mati.

Rekayasa Ilahi

Surah-surah yang dibaca mereka juga menjelaskan soal kematian. Aku yakin ini tidak kebetulan. Melainkan rekayasa Ilahi untuk menampar aku yang masih ndablek, lengah, keras hati, terlena dengan segala yang asyik-asyik. Mengingatkan aku yang lebih banyak lupa bahwa ajal pasti akan menjemputku tanpa aku tahu waktu, tempat dan prosesnya.

Antara lain di surat Al Waqiah. Allah memberi pilihan kepada kita mau mati masuk ashabul (golongan) maimanah (kanan), ashabul masy’amah (kiri) atau As-sabiqunas sabiqun (orang terdahulu masuk surga).
Yang celaka itu kalau masuk golongan kiri (ayat 41-56). Tempatnya di neraka. Neraka itu setahu saya dinarasikan secara jelas. Blak-blakan. Seperti pula yang tertulis di surah Ad- Dukhan yang dibaca istriku. Tertera di ayat 43-48.

“Sungguh pohon zaqqum itu. Makanan bagi orang yang banyak dosa. Seperti cairan tembaga yang mendidih di perut. Seperti mendidihnya air yang sangat panas. Peganglah dia kemudian seretlah sampai ke tengah-tengah neraka. Kemudian tuangkanlah di atas kepalanya azab (dari) air yang sangat panas.”

Banyak sekali kandungan surah-surah yang dikadokan itu yang intinya mengingatkan, memberi petunjuk, pedoman. Tatkala anak saya membaca Surah Ar Rahman, saya disentak dengan kalimat “fa biayyi alai rabbikuma tukaddziban” (Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang sudah kamu dustakan?).

Pasti kenikmatan yang diberikan Allah sepanjang hidup saya tak bisa dihitung. Tapi saya merasa sudah banyak mendustakan. Astaghfirullah.

Saya bertekad, insya Allah menjadikan kado itu tidak berhenti di ulang tahun. Tapi akan menjadi ilham, pengingat, dan pegangan saya menjalani sisa umur yang sudah nggawing (hampir putus ini). Sambil selalu berdoa dan berbuat agar mati dalam keadaan husnul khatimah, mati dengan baik.

Sumber ilmu

Agar berkah kado bacaan Al Quran itu memantul ke istri dan anak-anakku, mereka aku ajak ngaji/diskusi bersama. Sebenarnya membaca Quran itu saja sudah mendapat berkah. Tiap huruf Al Quran itu mengandung satu kebaikan. Tapi Al Quran harus dipelajari, dipikirkan agar bisa mendapat pelajaran darinya. Mengenali petunjuknya. Lebih banyak lagi mendapat rahmat dan cahayanya.

Karena anak-anak ini masih masa gencar-gencarnya menuntut ilmu maka topik bahasannya juga seputar sains. Misalnya ketika sedikit membahas Surah Al Waqiah 75 sd 82. Di dalam ayat itu ada kandungan tentang sains. Tentu banyak lagi kandungannya. Sebab tiap satu ayat Al Quran itu memiliki sangat banyak pelajaran dan bisa dikaji dari banyak perspektif.

Al Quran itu merupakan sumber ilmu. Tapi dengan disimbolkan tempat beredarnya bintang gemintang.

“Lalu Aku bersumpah dengan tempat beredarnya bintang-bintang.” (Waqiah ayat 75). Dan itulah sumpah terbesar Allah. Allah juga bersumpah demi matahari, langit, bumi, bintang. Tapi tidak disebut terbesar. Hal ini menjadi simbol betapa agungnya Al Quran. Al Quran adalah karunia terbesar Allah sepanjang sejarah hidup manusia sampai kiamat nanti.

Allah menyuruh manusia mencari ilmu di Al Quran. Seandainya lautan dipergunakan sebagai tinta untuk menulis kalimat-kalimat atau ilmunya Allah, kemudian ditambah satu lautan lagi tidak akan tuntas. (Quran, surah Kahfi 109).

Kita bahas juga kandungan Surah Ar Rahman. Untuk anak-anak saya ajak diskusi bahwa sejak ayat 3 sudah bicara sains. Tentang penciptaan manusia. Tentang komunikasi. Tentang matahari dan bulan beredar menurut perhitungan. Ini bisa dilihat dari perspektif ilmu fisika. Langit ditinggikan sekaligus diciptakan keseimbangan.

Tentang bumi dibentangkan. Tumbuh-tumbuhan dan biji-bijian. Dua laut yang mengalir kemudian bertemu tapi ada batasan yang tidak terlihat mata. Penciptaan jin. Semua ini sumber inspirasi dan terkait dengan sains secara multidisipliner.

Kemudian lebih fokus ke ayat 33. “Wahai golongan jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus penjuru langit dan bumi, maka tembuslah. Kamu tidak akan mampu menembusnya kecuali dengan kekuatan (dari Allah).”

Kekuatan itu bisa berupa sains. Jadi sains atau ilmu pengetahuan bersumber dari Allah. Allah pula yang memberikan. Sais menghasilkan teknologi, sistem dan sebagainya.

Allah memberikan sains sebagai bekal manusia menjadi khalifah (pengatur) di atas bumi. Menjaga dan mengembangkan kebaikan di bumi. Maka pada hakikatnya Allah mewariskan bumi ini hanya untuk orang-orang yang shaleh (baik).

Nah, iblis itu selalu menyabotase program Allah untuk kemuliaan manusia. Kalau Allah mengangkat derajat manusia, maka iblis pasti berupaya memerosotkannya. Intinya iblis akan terus bertipu daya terhadap manusia agar menjadi temannya di neraka. Manusia yang menjadi teman (lebih tepat budak) iblis disebut golongan mufsidun (pembuat kerusakan di bumi).

Ketika Allah memberikan sains kepada manusia agar dipergunakan untuk kebaikan, iblis beserta pengikutnya akan menyabotase agar manusia itu menggunakan sainsnya untuk kejahatan. Salman Al Farizi menggunakan kehebatannya dalam ilmu teknik sipil untuk peruangan Islam di Perang Khandak. Hamman menggunakan ilmu serupa untuk mengabdi kepada Firaun membangun kuil Firaun menantang Allah.

“Maka, anak-anak kalian harus menjadi manusia beriman yang berilmu dan manusia berilmu yang beriman. Kemudian ilmu untuk kebaikan. Maka iman-ilmu-amal shaleh itu satu kesatuan.

“Trend anak milineal kan obsesinya pintar, muda kaya-raya. Itu boleh. Yang penting gunakan sebagian ilmu dan kekayaanmu berbuat kebaikan. Keluarkan sebagian hartamu untuk zakat infaq sodaqoh. Gunakan untuk berjuang di jalan Allah. Jangan membuat kalian sombong. Jangan jadi orang bakhil bin tamak bin medit.”

“Kalian di sekolah Muhammadiyah mesti pernah diajar bahwa Allah akan meninggikan derajat orang beriman yang berilmu. Yang akan kita bawa setelah kehidupan dunia itu antara lain ilmin yuntawafu bih (ilmu yang bermanfaat). Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi umat manusia lain,” wejangku kepada mereka.

Pada akhirnya Allah pasti memenuhi janjinya. Pasti kelak bumi ini diwarisi dan dipimpin orang yang shaleh. Dan semoga kalian termasuk manusia yang dipilih itu. Generasi yang mencintai Allah dan dicintai Allah. (Quran surah Al Maidah 54).

“Semoga dengan kado bacaan Al Quran kalian itu, ayah menjalani sisa umur ini selalu mendapat rahmat Al Quran. Obat (syifak) Al Quran. Petunjuk Al Quran (hudan lil muttaqin). Cahaya Al Quran. Berkah Al Quran. Menjadi pencinta Al Quran. Mati secara husnul khatimah bersama Al Quran. Dan kelak di alam kubur ditemani Al Quran. Di akhirat mendapat syafaatnya Al Quran.”

Allahumarhamna bil quran. Waj’al hulana imaman wa nuuran wa huda wa rahmah. Allahumma dzakkirna minhuma nasiha wa allimna minhuma jahilna. Warzuqna tilawatahu ana al laili wa athra fan nahar. Waj’al hulana hujjatan ya Rbbal alamin. (Ya Allah mohon kasih sayangilah aku. Dengan sebab Quran ini. Dan jadikanlah Quran sebagai pemimpin, dan cahaya dan petunjuk serta rahmat bagiku. Ya Allah ingatkanlah aku apa-apa yang aku lupa. Yang telah Engkau jelaskan.) Amin

Rabbi ‘alam

Anwar Hudijono,
penulis tinggal di Sidoarjo.

Bola Rivalitas dan Imajinasi Highlander

Yunan Syaifullah. (istimewa)

Oleh: Yunan Syaifullah

Rivalitas adalah luka dan duka. Demi keunggulan dan kepentingan, rivalitas bisa terjadi. Menyembuhkan luka. Menghapus duka. Keduanya tidak harus dengan amarah.
Keduanya bisa dikurangi kadarnya. Bahkan disembuhkan melalui imajinasi untuk menutupi luka dan duka. Dalam berbagai peristiwa, imajinasi seseorang bisa muncul dan terbangun berlatar kesulitan dan derita.

Bangunan imajinasi itulah yang bisa melahirkan berbagai mimpi dan harapan. Imajinasi, mimpi dan harapan yang berjumpa itulah akan terlahir era baru yang diharapkan, yang kita kenal dengan masa depan.

Sepak bola adalah masa depan. Sepak bola juga memiliki masa lalu. Tidak semua masa lalu berwarna cerah, gemerlap dan menjadi cerita bahagia. Masa lalu juga memiliki warna yang suram, gelap dan mencemaskan. Warna masa lalu itu pula yang membentuk sejarah sepak bola dimanapun.

Skotlandia dan Inggris memiliki sejarah masa lalu yang melahirkan luka dan duka akibat rivalitas yang tak pernah selesai.
Kedua Negara itu adalah sebagai saksi dan pelaku sejarah tertua dunia dengan tim nasionalnya. Kedua Negara sudah mengawali debut dan sekaligus rivalitas sepak bola semenjak tahun 1872. Apabila tahun itu dicatat, maka sudah 149 tahun keduanya dalam pusaran rivalitas dengan 114 kali pertandingan yang dimainkan. Inggris meraih 48 kali meraih kemenangan. Skotlandia 41 kali. Hasil berimbang 25 kali. Kemenangan Skotlandia sejumlah 41 kali tidak pernah dicatat dalam sejarah dunia. Kemenangan 48 kali, Inggris yang lebih banyak ditengok oleh sejarah dunia.

Rivalitas keduanya yang tercatat sejarah, yakni pada tragedy Juni 1977. Pertandingan Inggris dengan Skotlandia yang berakhir dengan kekacauan, tiang gawang yang dirobohkan, supporter menyerbu dan memasuki lapangan. Inggris sebagai tuan rumah. Skotlandia sebagai tamu. Hasilnya kemenangan untuk tim tamu, yakni Skotlandia dengan skor tipis 1-2.

Rivalitas keduanya seolah menjadi derbi klasik yang selalu melahirkan berbagai cerita menarik. Tidak hanya hasil pertandingan. Namun, cerita di luar lapangan hijau yang tidak ada hubungannya dengan sepak bola memberikan andil bobot kedalaman derbi klasik keduanya.

Ribuan bahkan jutaan mata yang tertuju satu titik: Wembley Stadium. Baik sebagai penonton langsung maupun yang berada jauh dari titik tersebut memiliki aura yang sama. Baik itu, mereka yang duduk dan fokus di depan televisi yang menyaksikan siaran langsung. Sebagian orang, ada yang rela dan mengaktifkan layar monitor i-pad atau laptop untuk menyimak laga klasik melalui saluran streaming. Kemacetan terurai. Jalanan sepi. Kemacetan hanya terjadi pada 3 titik yang di dekat stadion, saluran frekwensi televisi, dan saluran streaming.

Meski dilatari rivalitas, prestise, dan harga diri, sesungguhnya kedua Negara mampu direkatkan. Sepak bola mampu menghipnotis saluran kehidupan. Sepak bola mampu menyatukan perbedaan atas nama fanatisme. Itulah fragmentasi bola. Meminjam istilah Franklin Foer (2004), Memahami Kehidupan Lewat Sepak Bola.

Sepak bola tidak hanya masalah di lapangan. Karena itu, tidak salah seorang Franklin Broer hingga mengatakan dibalik sepak bola ada kehidupan menarik yang bisa diamati dan dijadikan pelajaran secara serius.

Sepak Bola selalu diwarnai fragmentasi kehidupan yang terkadang tidak berhubungan langsung dengan masalah teknis di lapangan. Ahli strategi, seni berperang dalam Cina Klasik Jendral Sun-Tzu, meninggalkan pesan berarti bagi siapapun takkala memaknai berkompetisi mengatakan bahwa jangan pernah takut dengan 1000 musuh yang menghadang. Tapi takutlah dan perhatikan kekuatan dan kelemahan yang dimiliki musuh.

Rivalitas Skotlandia dan Inggris dalam sepak bola, sesungguhnya diawali dari perseteruan kedua warga di berbagai bidang kehidupan, baik politik, sosial, ekonomi, budaya, pendidikan, dan masih banyak faktor lainnya.
Rivalitas adalah kepentingan. Berimbas dan masuk kedalam lapangan hijau. Bahkan keduanya sudah menganggap sebagai musuh lama (auld enemy) bila keduanya harus bertemu, untuk saling mematikan.

Sepak bola Skotlandia harus diakui kalah gemerlap dibanding Inggris. Namun, Skotlandia bermain sepak bola dengan kekuatan mitologi Highlander. Highlander telah menjadi cerita dan imajinasi bagi Negara Skotlandia.

Imajinasi Highlander adalah salah satu kekuatan Skotlandia. Imajinasi itu sekaligus kelemahan bagi Skotlandia karena cara bermainnya sudah diketahui Inggris. Mengingat sebagian besar pemain utama Skotlandia juga bermain di liga Inggris.
Jauh sebelumnya laga klasik dipertandingkan. Laga klasik diliputi dengan berbagai kecemasan dan ketakutan yang menghinggapi banyak kalangan berkaitan dengan masalah pinggir lapangan. Masalah friksi dan konflik antar pendukung karena faktor sejarah masa lalu.

Kecemasan dan keraguan diantara para pemain, bertanding dengan seolah bukan sebagai patriot bola. Meski bertanding dengan keras dan penuh intrik. Khususnya yang ditunjukkan pemain Inggris.

Pemain, Pelatih, Official dan bahkan penonton tertunduk lemas, tidak bergairah dan kecewa. Kekuatan tersisa dari para patriot bola adalah jiwa kstaria. Jiwa inilah yang menjadi keunggulan dalam olah raga apapun, termasuk sepak bola. Patriot bola hanya memiliki dua pilihan. Siap menang dan juara. Siap kalah dan terhormat. Itulah ksatria-nya seorang Patriot Bola.
Beda halnya, dengan Skotlandia masuk lapangan dengan membawa imajinasi. Seolah melupakan memori kelam pada tragedy Juni 1977. Skotlandia ingin mengulang memori sukses 1967 takkala kali pertama dalam sejarah salah satu klubnya Celtic menjadi jawara Liga Champions.

Terbukti, laga klasik hasil akhirnya adalah seri. Hasil akhir itu bagi Skotlandia adalah kemenangan. Sedangkan, Inggris adalah kerugian.

Imajinasi bisa tumbuh dari siapapun dan dari manapun. Tidak membedakan status dan kelas. Imajinasi adalah asasi yang mestinya dihormati dan dihargai.
Sesungguhnya, lapangan hijau dimanapun, adalah locus yang selalu mampu menyemai benih-benih imajinasi kemanusiaan tentang banyak hal.

Masa lampau jangan menjadi rintangan dan membuat gelap masa depan sepak bola, ujar Raheem Sterling.

Yunan Syaifullah
Penikmat Bola, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Malang

Di Tengah Covid, Pesantren Menjaga Budaya Belajar (bagian 3 Tamat)

Anwar Hudijono. (istimewa)

Oleh: Anwar Hudijono

Warga pesantren sudah mafhum betul, setiap menghadapi ujian itu yang jadi pegangan pokok adalah Al Quran dan Hadits. Di antaranya di Quran Surah Al Baqarah 152 – 157. Ujian itu bisa berupa ketakutan, kelaparan, kekurangan harta atau miskin, jiwa (sakit, mati), dan buah-buahan atau pangan.

Dimulai dengan rasa syukur dan jangan ingkar kepada Allah. Fadzkuruni adzkurkum wasykuri wala takfurun. Maka ingatlah kepada Ku, Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku. (Ayat 152).

Bersikap sabar dan melakukan shalat. Yakin Allah bersama orang yang sabar. Ending dari sabar dan shalat itu akan mendapat ampunan dan rahmat dari Allah. Dengan begitu termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk.

Penyelenggaraan pendidikan di pesantren itu memiliki paradigma, asas atau khittah yang sangat kokoh yaitu sebagai pengamalan jihad fi sabilillah. Menjalankan perintah Allah untuk menyiapkan generasi beriman dan berilmu. Cerdas. Ulul albab. Ilmu yang dikembangkan adalah ilmu yang barokah. Hanya orang berilmu yang bisa memahami ayat-ayat Allah. Maka paketnya adalah iman-ilmu-amal sholeh.

Antitesisnya adalah setan yang suka kebodohan. Membikin manusia bodoh. Agar mudah ditipu. Dijerumuskan ke neraka jahanam.

Setan juga akan menutup orang berilmu dari iman sehingga ilmunya membawa kerusakan. Contohnya Qorun, orang cerdas. Dengan kecerdasannya menjadi kaya. Akhirnya termasuk golongan mufsidin (berbuat kerusakan di bumi).

Sistem pembelajaran pesantren sudah memiliki pedoman, khasanah sendiri dan teruji beradab-abad. Di antaranya tak bisa diganti dengan model pembelajaran virtual. Pendidikan pesantren sangat mengutamakan pembentukan sikap. Karakter. Ahlak. Sampai-sampai kitab Ta’lim al Muta’alim sebagai referensinya diajarkan sekitar dua tahun.

Pembentukan sikap tidak bisa dilakukan secara virtual. Melainkan harus dalam praktek kehidupan sehari-hari. Melalui pembiasaan. Seperti pembiasaan shalat jamaah, shalat tahajud, baca Quran, silaturahmi. Kedekatan personal santri dengan kiai. Jalinan hubungan batin yang intens. Sanftri magang kepada kiai. Santri yunior magang kepada santri senior. Dibingkai dalam jamaah. Tidak ada Islam tanpa jamaah. Tidak ada jamaah tanpa baiat (kesetiaan).

Maka proses pembelajaran di pesantren berlangsung 24 jam. Di situlah letak perannya sebagai penjaga dan pengembang budaya belajar.

Hidup normal

Praktis pesantren sudah kembali berpikiran sehat. Hidup normal. Dan ternyata thayib-thayib (baik-baik) saja. Pesantren tidak kiamat. Tidak jadi sumber bencana Covid-19.

Ingat, dulu setelah kasus Covid di Pesantren Temboro di awal Covid, disusul pesantren lain seperti Gontor, masyarakat pesantren diganyang, diharu-biru. Disalah-salahkan.

Tapi warga pesantren tetap sabar dan tenang-tenang saja. Ikhlas menerima. Dicaci maki, dipersekusi itu sudah konsekuensi ketika mencintai Allah. (Quran, Al Maidah 54).

Kalau ada yang terinfeksi Covid-19 ya diobati seperti halnya penyakit lain. Karena memang begitu petunjuk Islam. Sakit ya diobati. Diobati itu endingnya ada dua, sembuh atau mati. Gak ada yang luar biasa. Tidak ada kamus ending Covid-19 mesti mati. Tidak ada catatan ending bahwa batuk pilek encok wazir mesti berakhir sembuh.

Jika ada yang mati karena Covid-19 tetap dipandang peristiwa biasa. Diterima dengan ikhlas. Sudah takdir Allah. Pembaca Ratib Hadad pasti mafhum akan menerima takdir Allah yang baik maupun yang buruk.

Tidak kena Covid pun orang pasti mati. Orang tidur di kasur empuk di rumah saja juga bisa mati. Makan kerupuk keleleken toplesnya juga bisa mati. Ketiban paku juga bisa mati karena pakunya katutan beton cor. Orang pesantren mafhum sekali bahwa mati itu, baik waktu dan tempat, sudah menjadi takdir Allah.

Tidak peduli dengan narasi kasus Covid yang didramatisasi seperti film horor. Super mengerikan. Bahwa penderita Covid akan dikarantina di rumah sakit sendiri. Sejak berangkat dari rumah bisa tidak akan melihat keluarga lagi selamanya. Pemakamannya di tempat khusus. Dilakukan secara khusus dan penuh mistis.

Narasi atau framing seperti itu akan ditanggapi dengan santai, bahwa orang mau mati juga gak pernah mikir ada keluarga apa tidak. Merasakan sakaratul maut saja sudah luar biasa sakitnya, boro-boro mikir keluarga, apalagi mikir partai dan duit. Orang mati itu pasti sendirian. Anak istri/suami juga gak mau mengikuti.

Orang yang sudah mati juga gak ngurus apa dimakamkan di pemakaman umum atau di pemakaman khusus Covid-19. Memang kalau di pemakaman khusus pertanyaan kuburnya berbeda? Siksa kuburnya didiskon?

Kesabaran mereka itu seperti lautan. Diprovokasi, dijejali hoax, dipropaganda, didisinformasi tetap tak berubah.

Otoritas

Langkah pesantren ini, insya Allah sudah mengilhami banyak penyelenggara sekolah. Mereka semakin berakal sehat menyikapi Covid. Mempertanyakan yang disiplin prokes seperti Doni Monardo, Anies Baswedan, Khofifah juga kena Covid. Yang di pasar sehari-hari nyaris tanpa prokes tidak apa-apa. Yang sudah vaksin bisa terinfeksi. Terus apa?

Kok seperti gak pernah ada berita mall, café, sarana dugem jadi sarang Covid. Kalau ada sekolah atau pesantren yang kena, dunia maya seperti mau runtuh. Orang yang tidak percaya Covid terinfeksi jadi berita dahsyat. Orang yang percaya Covid dan terinfeksi senyap dari pemberitaan.

Diam-diam sudah banyak sekolah melakukan tatap muka. Wisuda sekolah pun dilakukan sembunyi-sembunyi. Ada yang pakai sistem drive thru. Sudah membuat festival. Dan itu bagus. Dan aman-aman saja.

Para guru sangat mafhum bahwa pendidikan tidak identik dengan sekolah. Sekolah tidak identik dengan kelas. Kelas tidak identik dengan sepetak ruang dengan papan tulis dan meja-kursi. Belajar biasa di mana saja. Jadwal bisa diatur. Di situlah mereka berkreasi untuk keluar dari ancaman matinya budaya belajar.

Penyelenggara sekolah, kepala sekolah para guru sebenarnya sudah mampu melepaskan diri dari cenkeraman Covid-19. Tapi masih ada yang mencekeram mereka yaitu pihak otoritas. Bisa itu yayasan, organisasi yang menaungi. Juga otoritas lain. Nah, siapa otoritas lain itu? Di sini saya juga bertakon-takon.

Konon sebenarnya sudah banyak yayasan dan organisasi yang sudah lepas dari cengkeraman paranoid pandemi Covid-19. Tapi mereka masih bersikap hati-hati dan bijaksana. Khususnya kalangan muslim. Sebab bisa muncul fitnah yang tak kalah dahsyat bahwa umat Islam itu melawan pemerintah. Tidak mau taat. Nah, akan menciptakan pandemi fobia Islam. Bisa menjadi pemantik dahsyat kerusakan sosial, bahkan negara.

Di banyak belahan dunia, kini dunia pendidikan banyak berharap kearifan otoritas. Sayangnya, kadang pendidikan itu justru berada di bawah orotitas subyek yang tidak paham pendidikan. Lebih peduli urusan uang dibanding sumber daya manusia. Yang paling tragis itu jika otoritas lebih percaya bahkan menghamba kepada artificial intelligent (AI) dibanding kemanusiaan.

Dan siapakah operator terbesar artificial intelligent global ini? Jangan tanya saya. Karena paling-paling akan saya jawab, “Embuuuh hahahaa.”

Teliti dulu

Di akhir tulisan ini, saya mohon pembaca tidak begitu saja setuju, like dan share tulisan ini. Hati-hati. Teliti dulu. Apalagi ini tulisan orang yang sangat awam.

Ini era disinformasi. Di ranah publik sudah tidak jelas mana hoax dan mana yang benar. Mana info palsu dan mana yang ori. Campur baur tidak keruan. Orang-orangnya pun juga tidak jelas mana yang fasik mana yang baik.

Kita harus belajar cerdas dan bijaksana menyikapi setiap informasi. Untuk itu, ikutilah petunjuk Allah dalam Quran surah Al Hujurat 6: “Wahai orang yang beriman jika orang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan) yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu”.

Astaghfirullahal adhim.

Rabbana atina min ladunka rahmah wa hayyiklana min amrina rosada. Ya Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah petunjuk yang lurus bagi kami dalam urusan kami.” (Quran, Kahfi 10).

Rabbi a’lam (Tuhan lebih tahu).

Anwar Hudijono,
penulis tinggal di Sidoarjo.

Di Tengah Covid, Pesantren Menjaga Budaya Belajar (bagian 2)

Anwar Hudijono. (Istimewa)

Oleh: Anwar Hudijono

Ketika pertama kali Covid-19 muncul, seperti masyarakat pada umumnya, ada kalangan pesantren yang sempat kaget dan panik. Itu manusiawilah. Nabi Musa saja sempat takut dan panik ketika baru melihat ular-ular tukang sihirnya Firaun.

Tapi setelah mendapat petunjuk Allah bahwa ular-ular itu hanya tipuan, halusinasi, tidak nyata, Musa tenang. Dan meneruskan jihadnya menyampaikan risalah Allah kepada Firaun. Dan Musa menang.

Malah ada seorang kiai sepuh di daerah Nganjuk yang sejak awal bersikap tenang. Seperti tenangnya gunung tatkala diterpa angin. Menyatakan Covid-19 tidak ada. Blak-blakan saja saya semula menganggap Mbah Kiai ini sekadar anti-mainstream. Kurang informasi. Gagal paham.
Tapi lama-lama saya jadi mikir, jangan-jangan maksud kalimat “Covid-19 tidak ada” ini antara Mbah Kiai dengan saya berbeda. Jangan-jangan karena instrumen yang digunakan Mbah Kiai berbeda dengan yang saya pakai. Mbah Kiai melihat Covid ini dengan mata batin (bashirah), sementara saya ini memahami dengan mata handphone.

Saya mulai mikir, jangan-jangan justru saya ini yang gagal paham bin keblinger karena terlalu banyak membaca, melihat informasi tentang Covid-19. Ini bukan era informasi tapi disinformasi. Jangan-jangan yang saya baca, lihat dengarkan melalui medsos, media mainstream itu disinformasi. Yang saya anggap benar sebenarnya palsu. Dan yang saya anggap palsu justru benar. Campuran hoax dan fakta. Tidak jelas mana yang benar dan mana yang palsu. Sudah bercampur baur yang hak dan yang batil. Dalam istilah fiqih disebut syubhat. Kira-kira artinya remang-remang.

Saya mulai mikir lagi Hadits Rasulullah: “Sungguh demi Allah. Ada sesorang mendatangi dalam keadaan mengira bahwasanya dia itu beriman. Namun, pada akhirnya malah menjadi pengikutnya disebabkan syubhat-syubhat yang dia (Dajjal) sampaikan. (HR Ahmad). (A’udzubika min syarri masihid-dajjal.)

Ingat Mbah Kiai ini saya jadi ingat Nabi Hidlir. (Bukan bermaksud menjustifikasi Mbah Kiai ini seperti Hidlir). Hidlir tinggal sendirian di pertemuan dua samudera. Tidak pernah ke kota. Tapi dia mengetahui pemilik rumah reyot yaitu dua orang anak yatim anak orang saleh. Di dalam tanag di bawah rumah itu tersimpan harta karun. Musa yang menggunakan mata eksternal tidak mengetahuinya.

Hidlir tidak pernah bergaul dengan para nelayan, tetapi paham betul ada penguasa dzalim yang hendak merampas perahu para nelayan itu. (Pelajaran dari Allah itu implisit di dalam kisah Musa-Hidlir yang tertuang di dalam Quran, Kahfi 60-82).

Mbah Kiai ini mungkin memang tidak gaul luas. Mungkin juga gak androidan. Dia ahli tarekat. Insya Allah dzikir mengalir bersama desah nafasnya. (Nyuwun pengapunten Mbah Kiai. Saya sudah keminter, sok pintar dan sok tahu. Musa dulu juga sok keminter kepada Hidlir hahaha.)

Ujian dari Allah

Ketakutan kalangan pesantren tidak berlangsung lama. Ibarat orang diterjang banjir, setelah sempat tergagap beberapa bentar mereka segera memegang akar yang kuat untuk menyelamatkan diri. Akar itu adalah Quran dan Hadits. Kesimpulannya, Covid-19 ini ujian dari Allah. Untuk menyeleksi hamba-Nya.

“Yang menciptakan mati dan hidup untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa, Maha Pengampun.” (Quran, Al Muluk 2).

Covid-19 ini bisa saja tidak bersifat natural seperti angin yang merobohkan rumah. Tapi, hasil konspirasi setan (jin dan manusia) – misalnya dengan melalukan rekayasa genetika atau semacam senjata biologi. Tetapi tetap saja bisa terjadi atas ijin Allah. Bi idznillah. Tanpa ijin Allah semuanya mustahil terjadi. Dan Allah menggunakannya untuk menguji manusia.

Referensinya adalah Nabi Ayub diuji Allah dengan mengijinkan setan menginfeksikan penyakit ke tubuh Ayub. Efeknya penyakitnya jauh lebih dahsyat dibanding Covid-19. Betapa tidak, hampir seluruh tubuh Ayub berborok yang bernanah, dirubung set.

Ada lagi. Setan membunuh anak-anak Ayub. Iblis membakar pertanian Ayub sampai kekurangan pangan. Jatuh miskin. Belum cukup? Masih ditambah istrinya ngambek. Lengkap pol ujian untuk Ayub.

“Dan ingatlah ketika hamba Kami Ayyub ketika dia menyeru Tuhannya, sesungguhnya aku diganggu setan dengan penderitaan dan bencana”. (Quran, Shad 41).

Dalam ayat itu Ayub jelas menyebut setan. Dan setan itu terdiri dari dua golongan yaitu jin dan manusia. Jin dan setan bisa saja berkonspirasi menganiaya Ayub.
Ayub lulus dari ujian yang sangat berat itu. Dan Allah menghargai dengan karunia yang sangat besar.

“Dan Kami anugerahi dia (dengan mengumpulkan kembali) keluarganya dan Kami lipatgandakan jumlah mereka, sebagai rahmat dari Kami dan pelajaran bagi orang-orang yang berpikiran sehat”. (Quran, Shad 43).

Warga pesantren sudah mafhum betul, setiap menghadapi ujian itu yang jadi pegangan pokok antara lain Quran Surah Al Baqarah 152 – 157. Ujian itu bisa berupa ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa (sakit, mati), dan buah-buahan.

Dimulai dengan rasa syukur. Bersikap sabar dan shalat. Yakin Allah bersama orang yang sabar. Jika mati ketika menghadapi ujian, maka termasuk jihad fi sabilillah. Ending dari sabar dan shalat itu akan mendapat ampunan dan rahmat dari Allah. Dengan begitu termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk.

Penyelenggaraan pendidikan di pesantren itu memiliki paradigma, asas dasar yang sangat kokoh yaitu sebagai jihad fi sabilillah. Menyiapkan generasi berilmu. Cerdas. Ulul albab. Ilmu yang dikembangkan ilmu yang barokah. Hanya orang berilmu yang bisa memahami ayat-ayat Allah. Bukan ilmu yang diperlakukan seperti komoditas.

Model virtual

Sistem pembelajaran pesantren sudah memiliki pedoman, khasanah sendiri dan teruji. Di antaranya tak bisa diganti dengan model pembelajaran virtual. Pendidikan pesantren sangat mengutamakan pembentukan sikap. Karakter. Ahlak. Sampai-sampai kitab Ta’lim al Muta’alim diajarkan sekitar dua tahun.

Pembentukan sikap tidak bisa dilakukan secara virtual. Melainkan harus dalam praktek kehidupan sehari-hari. Melalui pembiasaan. Seperti pembiasaan Shalat jamaah, shalat tahajud, baca Quran, silaturahmi. Kedekatan personal santri dengan kiai. Jalinan hubungan batin yang intens.

Maka proses pembelajaran di pesantren berlangsung 24 jam. Di situlah letak perannya sebagai penjaga dan pengembang budaya belajar.

Praktis pesantren sudah kembali berpikiran sehat. Hidup normal. Dan ternyata thayib-thayib (baik-baik) saja. Kalau ada yang terinfeksi Covid-19 ya diobati seperti halnya penyakit lain. Sakit itu protapnya kalau tidak sembuh ya mati. Gak ada yang luar biasa.

Jika ada yang mati tetap dipandandang peristiwa biasa. Sudah takdir Allah. Tidak kena Covid pun orang pasti mati. Orang tidur di kasur empuk di rumah saja juga bisa mati. Lagi makan pecel di warung juga bisa mati setelah ada truk yang nyelonong nabrak.

Soal di-branding mati tanpa ditunggui keluarga, pemakamannya secara khusus dan terkesan mengerikan, akan dijawab orang mati itu pasti sendirian. Anak istrinya juga gak mau mengikuti. Orang mau mati juga gak pernah mikir ada keluarga apa tidak. Merasakan sakaratul maut saja sudah luar biasa sakitnya, boro-boro mikir partai, keluarga.

Kesabaran mereka itu seperti lautan. Diprovokasi, dijejali hoax, dipropaganda, didisinformasi tetap tak berubah.

Langkah pesantren ini, insya Allah sudah mengilhami banyak penyelenggara sekolah. Diam-diam sudah banyak sekolah melakukan tatap muka. Wisuda sekolah pun dilakukan sembunyi-sembunyi. Ada yang pakai sistem drive thru. Sudah membuat festival. Dan itu bagus. Dan aman-aman saja.

Penyelenggara sekolah, kepala sekolah para guru sebenarnya sudah mampu melepaskan diri dari cenkeraman Covid-19. Tapi masih ada yang mencekeram mereka yaitu pihak otoritas. Bisa itu yayasan dan organisasi yang menaungi. Juga otoritas lain (sampai di sini saya lupa dan mrinding).

Kadang pendidikan itu berada di bawah orotitas subyek yang tidak paham pendidikan. Lebih peduli urusan uang dibanding sumber daya manusia. Yang paling tragis itu jika otoritas lebih percaya bahkan menghamba kepada artificial intelligent (AI) dibanding kemanusiaan. Dan kita tahu siapa operator terbesar AI global ini.
Astaghfirullahal adhim.

Rabbana atina min ladunka rahmah wa hayyiklana min amrina rosada. Ya Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah petunjuk yang lurus bagi kami dalam urusan kami.” (Quran, Kahfi 10).
Rabbi a’lam (Tuhan lebih tahu).

Anwar Hudijono,
penulis tinggal di Sidoarjo.

Di Tengah Covid, Pesantren Menjaga Budaya Belajar (bagian 1)

Anwar Hudijono. (istimewa)

Oleh: Anwar Hudijono

Belum lama ini saya ngobrol dengan seorang pakar pendidikan. Dia adalah guru besar. Sangat mumpuni teori. Juga sudah terbukti menjadi penyelenggara pendidikan yang hebat. Saya tidak bisa sebut namanya karena memang diskusinya bersifat informal.

Dan saya juga harus menjaga ketenangannya. Karena saat ini tidak mudah menjadi orang yang bersikap benar. Berkata benar. Bertindak benar. Orang yang menyampaikan kebenaran justru akan dibuli, dicaci maki, dianggap bodoh, dibilang ngawur, asal njeplak, diposisikan yang salah.

Yang menuduh demikian yang sebenarnya justru bodoh, ngawur, asal mengo. Ini jaman sawo dipangan uler, wong bodo ngaku pinter. (Nah, jangan-jangan saya termasuk sawo dipangan uler, bahkan sawo bosok maneh). Jaman kewalik.

Saripatinya, dia melihat di tengah pandemi Covid-19 ini, pondok pesantren, sekolah Islam berasrama atau Islamic Boarding School (IBS), dan lembaga-lembaga pendidikan yang tetap melakukan proses belajar secara tatap muka sangat berhak disebut sebagai pejuang penjaga budaya belajar. Orang-orang yang berjuang untuk menyelamatkan budaya belajar.

Dampak negatif Covid-19 memang luar biasa. Salah satunya adalah terancamnya budaya belajar. Para pemangku kepentingan pendidikan mulai pelajar, guru, penyelenggara dan sebagainya kemungkinan bisa kehilangan gairah dan arah pendidikan.

Mulanya takut terinfeksi Covid-19. Terus bingung mau bagaimana. Terus bersikap biasa: ya sudah mau apa toh masih ada Covid. Dan akhirnya normal tanpa kegiatan belajar membelajarkan. Atau belajar tapi sekadar memenuhi syarat wajib. Sekadar topeng kalau proses belajar membelajarkan masih ada.

Lama-lama malah menjadi enjoy. Menikmati. Para pelajar enak karena tidak repot-repot bangun pagi, berangkat sekolah. Orang tua juga tidak repot menyediakan sangu, atau antar-jemput anaknya. Para guru juga enjoy karena tidak repot menyiapkan model satuan belajar (MSP). Tidak pusing menghadapi murid yang bermacam-macam tingkahnya. Tidak repot harus di sekolah sekian jam sehingga bisa lebih mengurus anak. Penyelenggara sekolah juga enjoy karena ada dana yang bisa dihemat.

Kegiatan proses belajar tatap muka nyaris lumpuh. Jika toh dicoba dipaksakan, ada suasana kebatinan yang mengganjal seperti ketakutan ada yang OTG (orang tanpa gejala). Jika ada yang sekadar batuk meski cuma karena tersedak, atau sambat agak pusing, langsung dicurigai kena Covid-19. Lantas wajib swab antigen. Jika masih negatif harus PCR. Berapa duit harus keluar?

Dalam suasana psikologis berbau paranoid demikian, tidak mendukung sama sekali proses pembelajaran bisa efektif. Para guru sangat mafhum, proses belajar harus berlangsung dalam suasana bahagia. Gembira. Semangat. Saling percaya.

Pembodohan

Dalam sistem belajar virtual nyaris tidak dimungkinkan mencakup afektif (sikap), psikomotoris (ketrampilan). Hanya mencakup kognitif (pengetahuan). Tapi itupun sama sekali tidak efektif. Seorang kepala SMA di Sidoarjo dalam suatu wisuda mengakui dengan jujur, proses belajar secara virtual ini tidak efektif.

Banyak aspek teknis yang membuat sistem virtual tidak efektif. Tidak sedikit murid yang tidak punya laptop. Kalau punya pun belum tentu bisa untuk zoom. Kendala internet lemot. Kendala listrik mati. Waktu belajar yang sangat pendek.

Akhirnya apa? Pelajar malah larut dalam konten-konten kepalsuan medsos. Bantuan pulsa bukan untuk belajar, tapi untuk tiktokan, medsosan, ngegame.

Kendala-kendala teknis ini lantas ditolerir dengan tetap memberi nilai rapor minimal sesuai standar KKM. Murid tetap diluluskan. Intinya, proses penilaian tidak memenuhi asas validitas, jujur dan obyektif. Belum lagi nilai asal-asalan bahkan abal-abalan yang menyangkut sikap dan ketrampilan.

Lantas apa yang terjadi? Lembaga pendidikan berpotensi bisa menjadi pusat persemaian kebohongan.

Apa lagi? Lembaga pendidikan berpotensi jadi pengembang-biakan kebodohan. Ini ironis.

Lantas apa lagi? Lembaga pendidikan berpotensi jadi lahan subur kemalasan.

Astaghfirullahal adhim.
Rabbi a’lam (Tuhan lebih tahu).

Anwar Hudijono,
penulis tinggal di Sidoarjo.

Mimpi Sang Penakluk

Yunan Syaifullah

Oleh: Yunan Syaifullah

Burak Yilmaz, kapten Turki, seolah menjelma dan membayangkan dirinya adalah sosok Muhammad Al Fatih, Pangeran Muda Turki yang dikenal dengan Sang Penakluk dalam sejarah Otsmania klasik takkala memasuki Stadion Olympico Roma untuk menghadapi Italia dalam laga perdana Euro 2021.
Sang kapten, meski tak lagi muda, usianya sudah 35 tahun, laga dengan Italia dimaknai sebagai laga hidup mati. Bukan masalah kemenangan yang tertanam dalam pikirannya. Namun laga itu sudah dianggap sebagai laga harga diri sebagai bangsa Turki.

Sultan Mehmed II, nama aslinya Muhammad Al Fatih, Pangeran Muda Turki yang memimpin dan menaklukan Konstantinopel kala itu berada pada usia 25 tahun.

Takluknya Konstantinopel dan Sang Penakluk telah menjadi cerita suksses bagi bangsa Turki yang telah menjiwai seluruh rakyat Turki di kemudian hari. Termasuk bagi pesepak bola Turki dan Tim Nasional Turki.

Sang Penakluk memberikan pelajaran berarti tentang cita-cita dan kedaulatan. Keduanya bagi Sultan Mehmet II adalah harga diri. Jatuhnya Konstantimopel adalah jatuhnya hegemoni —dari sesuatu yang besar secara ekonomi dan politik. Begitu Konstantinopel jatuh, tak lama lagi terlahir negeri Otsmania, kelak kita kenal sebagai Turki, sebagai sinar baru bagi masyarakat Otsmania dalam berbangsa dan bernegara.

Praktek hegemoni bangsa Romawi — mewakili bangsa yang besar secara ekonomi politik terhadap bangsa dan Negara kecil menjadi api kebencian dan amarah Sultan Mehmet II untuk diperangi.
Turki seolah diposisikan sebagai bangsa dan Negara kecil, yang layak menjadi korban eksploitasi bangsa besar.

Sejarah Sang Penakluk, kemudian hari yang menjadi api semangat bagi bangsa Turki untuk membuat sejarah peradaban dunia.

Semangat dan cita-cita itulah yang tertanam dan ditunjukkan Tim nasional Turki.

Dalam percaturan sepak bola dunia, Turki bukan menjadi halaman sejarah dunia yang ditengok. Sepak Bola Turki dianggap negara kecil yang tidak memiliki kekuatan dan daya saing dalam soal sepak bola.

Industri sepak bola dimiliki negara-negara pewaris Konstantinopel hingga saat ini.
Realitas yang selalu tidak berpihak kepada Sepak Bola Turki. Kondisi hal itu bukan malah mematikan dan menyurutkan Sepak Bola Turki. Senantiasa diposisikan yang lemah (underdog) dalam kurun waktu lama. Dunia terkaget dan harus mengakui kehebatan Turki takkala Piala Dunia 2002 yang mampu menempati posisi ketiga.

Semenjak 2002, Turki tidak lagi diremehkan dalam perhelatan sepak bola dunia. Negara manapun ketika berjumpanya harus berpikir serius.
Bagi pesepak bola Turki, pertandingan dengan siapapun senantiasa dimaknai sebagai pertarungan harga diri sebagai bangsa. Dirinya bermain sepak bola bukan untuk kepentingan pribadinya. Namun dirinya adalah cermin bangsa. Sebuah bangsa yang terbangun karena harga diri.

Karena itu, Burak Yilmaz, sang kapten Turki meski telah berusia 35 tahun rela memberikan segalanya yang terbaik untuk negaranya. Demi harga diri bangsa.

Cita-cita, harga diri dan Semangat Sang Penakluk berkumpul menjadi satu sebagai mimpi kolektif untuk mengulangi cerita sukses Piala Dunia 2002. Kendati Pasukan Tim Nasional Turki 2021 yang diturunkan adalah sebagian besar sudah melewati usia emas.

Sepak bola sesungguhnya tidak berdiri tunggal dengan masalah dan aspek sosial lainnya. Karena itu, mimpi dan semangat Burak Yilmaz dalam laga tersebut menarik dipelajari. Sepak bola bukan masalah lapangan hijau.
Lapangan hijau ternyata bisa dan mampu melahirkan benih nasionalisme.
Parade nasionalisme di lapangan hijau menjadi perhatian dan perbincangan menarik dari banyak kalangan. Tidak hanya penonton dan penikmat bola. Terlebih, secara masif, pekikan nasionalisme itu ditayangkan secara live dan terus menerus. Tidak hanya, siaran langsung pertandingan bola di salah satu stasiun televisi. Tetapi juga masuk dalam postingan yang tertib dan teratur di media sosial, seperti Instagram dan Facebook.

Pekikan nasionalisme yang diproduksi secara terus menerus di berbagai kanal televisi dan media sosial, secara tidak langsung mempengaruhi persepsi dan memori para insan bola untuk dipaksa memperbincangkan. Baik itu dengan nalar kritisnya maupun skeptis.

Realita hal itu menjadi wajar dan logis. Apabila dikaitkan dengan data statistik pengguna Instagram dunia pada periode 2018 telah menyentuh angka 800 juta orang. Peringkat tertinggi, di Amerika Serikat yakni 110 juta pengguna. Nomor dua tertinggi adalah Brazil sebesar 57 juta pengguna. Menariknya, peringkat ketiga justru diraih dan ditempati Indonesia, yakni sebesar 55 juta pengguna. (databoks.katadata.co.id, 2019)

Media sosial adalah ruang yang bisa dan mampu untuk mendekatkan yang jauh menjadi lebih dekat. Intensitas komunikasi dan distribusi informasi makin dipermudah dan tinggi.

Tidak sedikit dari total populasi pengguna Instagram, kasus di Indonesia, bukan hanya pengguna perorangan tetapi juga korporasi. Termasuk para penonton bola, pemain bola, para insan bola dan korporasi yang berhubungan langsung dan tidak langsung dari lapangan hijau.
Pekikan nasionalisme dari lapangan hijau dalam waktu singkat dan cepat menjadi perbincangan menarik pecinta bola.

Menariknya, pekikan nasionalisme dari lapangan hijau yang kini sedang berlangsung dalam Euro 2021 itu telah mengarah dan menyembul menjadi heroisme baru untuk menggugurkan trauma dan kebencian yang diarahkan kedalam lapangan hijau.
Sepak bola, harus diakui, telah menjadi kecintaan bagi banyak kalangan. Sepak bola bahkan telah dan mampu menjelma menjadi ideologi untuk kemanusiaan.

Di sisi lain, sepak bola, juga mampu melahirkan kegilaan. Praktek kegilaan itulah yang menghasilkan konflik kepentingan yang tidak berujung. Kepentingan yang tidak mampu dipenuhi bisa jadi menimbulkan kebencian yang tidak pernah selesai.

Meski, hari ini, kegilaan dan konflik kepentingan dalam lapangan hijau jauh berkurang karena adanya globalisasi ekonomi yang telah menyentuh lapangan hijau.

Tehnologi yang dibawa serta globalisasi ekonomi kini mengubah wajah sepak bola. Seluruh pihak bisa mengkritisi dan mengamati dengan lebih rinci dan detail segala sesuatu yang berhubungan dengan sepak bola.

Migrasi pemain sepak bola dari negara kecil dan terbelakang menuju ke negara yang menjadi raksasa bola, makin mudah dan tinggi tingkatnya. Bahkan menjadi idola baru di lapangan hijau di negara tujuan. Seperti George Weah dan masih banyak lainnya.

Sepak bola membuat setiap orang mudah merasa antusias. Kompetisi sepak bola adalah tempat untuk bermimpi indahnya bagi seluruh komponen bola. Mulai dari pemain, penonton, wasit hingga korporasi.

Akan tetapi, yang perlu dipahami dalam memahami mimpi itu adalah terjadinya pertautan kultural yang tidak mudah. Meski bila berhasil menggabungkan pertautan kultural itu bisa menjadi kekuatan luar biasa.

Seorang João Ramos do Nascimento, yang dijuluki Dondinho, adalah pesepakbola Brasil yang bermain sebagai penyerang tengah. Dia adalah ayah, mentor dan pelatih dari legenda Brazil, Pelé pernah berujar pada sang Anak, mimpi pesepak bola bisa jatuh bila dalam diri pesepak bola tidak memiliki keyakinan dan semangat untuk maju dalam merebut mimpi.

Cerita ini bisa kita peroleh dalam film biopic yang berjudul Pele: Birth of a Legend (2016)

Pojok Pustaka, 12/06/2021

Yunan Syaifullah
Penikmat Bola, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Malang