HUT ke-7 Malang Voice

Generasi Strawberry di Era Digitalisasi

Ganes Danastri Pratista Aura Afra bersama dr Gamal Albinsaid. (Istimewa)

Oleh: Ganes Danastri Pratista Aura Afra

“Ya ampuun, tugasnya banyak banget. Gue nggak sanggup lagi kalau kayak gini terus. Kapan gue punya waktu untuk healing coba? Apa kabar mental health gue, bestie?”

Paragraf diatas merupakan keluhan yang pernah aku baca di salah satu media sosial dan mendapat tanggapan yang cukup ramai bernada mengiyakan saat itu. Pun ada juga beberapa komentar kontra yang mengaitkan generasi muda saat ini sebagai ‘Strawberry Generation’.

Istilah strawberry generation, menurut Prof. Rhenald Kasali dalam bukunya merupakan generasi yang penuh dengan gagasan kreatif tetapi mudah menyerah dan gampang sakit hati. Istilah ini pertama kali muncul di Taiwan dan ditujukan pada generasi muda yang mudah sekali merasa rapuh dan tidak tahan tekanan. Seperti buah strawberry yang tampilannya indah, tapi mudah hancur saat ditekan.

Maraknya sharing di media sosial, menunjukkan betapa beratnya menjalani hidup dengan segala beban yang ada adalah hal yang lumrah kita temui di era digitalisasi ini.

Kemajuan teknologi yang sangat pesat membuat banyak tatanan kehidupan masyarakat sudah beralih baik fisik maupun mental, dan kebanyakan remaja memanfaatkan teknologi untuk menjadi pribadi yang up to date atau latah ingin menjadi viral. Ngomong-ngomong soal ‘latah’, fenomena tersebut juga dampak dari peer pressure di kalangan remaja.

Kamu pernah nggak, melakukan hal yang nggak kamu sukai hanya karena ingin diterima, ikutan merokok sama teman karena takut nggak ditemenin lagi atau beli sepatu sekolah branded karena kamu lihat teman-temanmu sudah banyak yang pakai merk itu? Yap, ketiga hal tersebut adalah contoh dari peer pressure.

Peer pressure adalah pengaruh dari kelompok sosialmu yang mendorongmu untuk melakukan hal-hal tertentu. Peer berarti mereka yang biasanya sebaya, seangkatan maupun sekelasmu. Pengaruhnya pun bisa langsung (bujukan) atau tidak langsung (mengikuti perilaku teman). Namun, peer pressure bisa berdampak positif maupun negatif. Agar tidak terjebak di peer pressure negatif, kita harus mengenali diri sendiri. Karena hal yang kita suka berbeda dengan teman yang lain and it’s okay to be different. Jangan takut tidak sepaham dengan teman dan berani untuk bilang ‘tidak’.

Last but not least, kita tidak bisa terus membiarkan diri kita terjebak menjadi generasi strawberry. Tak hanya cakap dalam teknologi dan luasnya pengetahuan, kita juga butuh social skill untuk membangun networking di masa depan dan mental yang lebih kuat. Tidak salah kalau kita lebih aware tentang kesehatan mental, pentingnya healing, and it’s okay not to be okay. But, ‘not okay’nya jangan kelamaan. Karena nilai diri kita akan dipengaruhi oleh hal-hal yang menjadi perhatian kita. Jangan sampai hal-hal yang destruktif mempengaruhi nilai diri kita yang sebenarnya. Tetap fokus ke tujuan, terlepas ada yang support atau belum.

Ganes Danastri Pratista Aura Afra
Ketua Direktorat Humas Malang Cerdas

Dimensi Revolusi Diri Ibadah Haji

Anwar Hudijono
Anwar Hudijono

Oleh Anwar Hudijono*

Seluruh proses ibadah haji berlangsung hanya beberapa hari. Tetapi pada waktu yang sangat singkat itu merupakan momentum proses revolusi mental yang dahsyat. Spektakuler. Muaranya untuk menghadirkan perubahan yang lebih baik. Mengaktualisasi fitrah manusia.

Revolusi diri pada ibadah haji ini merupakan bagian esensi evolusi manusia menuju Allah. Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun, sesungguhnya milik Allah dan sesungguhnya kepada Allah dikembalikan. Sangkan paraning dumadi (asal dan arah pergerakan kembali semua mahluk). Jadi haji itu menyegarkan kembali terhadap pengetahuan dan kesadaran hakikat penciptaan.

Doktrin itu tercermin dalam seluruh skenario haji. Bermula dari Kabah sebagai simbol Allah. Hidup bergerak menuju arafah (pengetahuan), masyaril haram (kesadaran), Mina (cinta) dan kembali ke Kabah. Dengan kembali kepada Allah maka Allah menjadi lebih dekat dari urat leher hamba-Nya.

Kenapa harus berubah? Sering tanpa disadari manusia menjalani kehidupan yang tidak seharusnya. Istilah Dr Ali Syariati dalam bukunya yang terkenal, Haji (Penerbit Pustaka 1995), hanya aksi pendular yang tanpa makna. Bersifat siklistis yang sia-sia. Pagi berganti sore. Malam berganti siang. Tidur diakhiri dengan bangun,bangun diakhiri dengan tidur. Begitu berulang-ulang.

Manusia sangat sibuk mencukupi kebutuhannya yang tidak pernah merasa tercukupi. Manusia asyik dengan berakting di dalam permainan dunia seperti kotak gabus di atas tarian ombak samudera tanpa arah tujuan. “Dan kehidupan dunia ini hanya senda gurau dan permainan.” (Quran, Al Ankabut 64).

Apalagi kehidupan di ujung akhir zaman ini. Mata eksternal (fisik) begitu dimanja dengan medsos, kesenangan realitas palsu. Seolah waktu berjalan sangat cepat. Nyaris tiada waktu untuk bersabar dan khusyuk. Tak ada waktu merevitalisasi nafsu mutmainnah (kejiwaan yang tenang). “Wa kanal insanu ajula, dan memang manusia itu bersifat tergesa-gesa”. (Quran Al Isra 11). Tanpa sadar bahwa tergesa-gesa itu dekat dengan setan.

Akhirnya hidup hanya untuk hidup. Hidup yang demikian pada dasarnya boleh dibilang mati. Orang Jawa menyebutnya mati sajeroning urip (mati di dalam kehidupan). Secara fisik hidup, tetapi jiwanya sudah mati. Spritualitasnya kering kerontang. Unsur kemanusiaannya punah. Secara substansi manusia berubah menjadi “jazad”, seolah hidup padahal mati. Seperti jazad buatan Samiri (Quran, Thaha 88).

Terminologi jazad (juga tertera di surah As Shad 34. Menurut eskatolog Islam, Syekh Imran Hosein adalah Dajjal. Dajjal yang akan menjadi sumber fitnah-fitnah terbesar dalam sejarah kehidupan manusia. Salah satu misi Dajjal menghancurkan fitrah manusia.

Artificial intelligence

Ahli filsafat Shandell seperti dikutip Ali Syariati mengatakan, bahaya paling besar yang dihadapi umat manusia pada zaman sekarang bukan ledakan bom atom tetapi perubahan fitrah (sifat asasi)-nya. Unsur kemanusiaan di dalam dirinya sedang mengalami kehancuran sebegitu rupa sehingga pada saat ini tercipta sebuah ras non-manusiawi.

Inilah mesin berbentu manusia yang bukan ciptaan Tuhan dan bukan pula ciptaan alam. Manusia menjadi hamba yang tidak mengenal tuannya. Pada zaman now kira-kira manusia tidak ubahnya mesin artifical intelligence.

“Mereka memiliki hati tetapi tidak dipergunakannya untuk menghayati (ayat-ayat Allah) dan mereka memiliki mata (tetapi) tidak untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka memiliki telinga (tetapi) tidak dipergunakan mendengarkan (ayat-ayat Allah). Mereka seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lengah.” (Quran, Al Araf 179).

“Sesungguhnya mahluk bergerak yang bernyawa yang paling buruk dalam pandangan Allah ialah orang-orang kafir karena mereka tidak beriman.” (Quran, Al Anfal 55).

Seperti hujan

Maka, masa ibadah haji yang sangat pendek itu hendaknya menjadi seperti hujan yang turun meski hanya beberapa bentar untuk menghidupkan bumi.

“Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa kabar gembira, mendului kedatangan rahmat-Nya (hujan) sehingga apabila angin itu membawa awan mendung, Kami halau ke suatu daerah yang tandus, lalu Kami turunkan hujan di daerah itu. Kemudian Kami tumbuhkan dengan hujan itu berbagai macam buah-buahan. Seperti itulah Kami membangkitkan orang yang telah mati, mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran.” (Quran, Al Araf 57).

Harus ada prakondisi bumi yang bisa menyerap air hujan. Maka berangkat haji harus disiapkan kondisi jiwa raga. Bekal yang memadai. Bekal pengetahuan tentang haji. Ibadah tanpa dilandasi pengetahuan seperti orang buta berjalan di belantara.

Berangkat dengan dana yang halal. Berangkat haji dengan uang hasil korupsi, riba, menggunakan uang rakyat dengan memanfaatkan jabatan adalah sia-sia. Tidak ubahnya mencuci kain mori putih dengan air polutan. Tidak ada bedanya dengan menangkap air hujan dengan batu yang licin. Basah sebentar setelah itu kering kembali. Dan bekal terbaik adalah takwa.

“Bawalah bekal, karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. Dan bertakwalah kepada-Ku wahai orang-orang yang mempunyai akal.” (Quran, Al Baqarah 197).

Rahmat haji akan mengubah jiwa yang mati hidup kembali. Yang kurang subur menjadi lebih subur. Spritualitas yang gelap pekat akan kembali terang bercahaya. Al Araf 58 membuat analog kehidupan yang mendapat rahmat Allah itu seperti tanah yang subur.

“Dan tanah yang baik, tanaman-tanamannya tumbuh subur dengan izin Tuhan. Dan tanah yang buruk, tanaman-tanamannya tumbuh merana. Demikianlah Kami menjelaskan berulang-ulang tanda-tanda (kebesaran Kami) bagi orang-orang yang bersyukur.”

Paramater apakah bumi itu menjadi subur oleh hujan itu akan dilihat dalam jangka panjang. Berlangsung secara evolusif. Apakah mampu menumbuhkan tanaman dengan baik. Lantas tanaman itu bermanfaat bagi umat manusia dan semua mahluk Allah.

Intinya tanda-tanda haji mabrur itu akan terlihat dalam kehidupan seorang haji dalam proses kehidupan jangka panjang sampai akhir hayatnya menjadi manusia yang beriman dan beramal saleh.

Allah pasti akan menunjukkan tanda-tanda itu sebagai pembeda mana haji mabrur mana haji money laundring, haji status, haji selfie, haji jabatan, haji kamuflase bahkan haji maudlu (palsu). Allah tidak menyukai perbuatan yang mencampuradukkan yang benar dan yang batil.

Kita doakan agar semua jamaah haji tahun 2022 ini menjadi haji mabrur. Amin.

Astaghfirullah. Rabbi a’lam.

*Anwar Hudijono, Wartawan Senior tinggal di Sidoarjo.

Tuhan Menyayangi, Mereka Malah Menyembah Patung Anak Sapi, Itulah Yahudi

Ilustrasi Nabi Musa AS. (Ist)

Oleh Anwar Hudijono

Pengantar Redaksi
Sejak awal bangsa Yahudi cenderung menyembah kepada berhala. Maka Samiri (jilmaan Iblis?) pun dengan sihirnya membuat “jazad” berupa patung anak sapi yang terlihat oleh bangsa Yahudi seolah-olah emas. Tentu saja itu hanya manipulasi persepsi. Sihir itu manipulasi. Sihir itu menciptakan realitas palsu dan mempedayai. Pada tulisan kedua dari tiga tulisan tetang relasi Yahudi dengan Allah, dipungkasi dengan permohonan Nabi Musa agar dipisahkan dengan bangsa jahiliyah itu.

Melalui Rasulullah Musa, Allah menyelamatkan bangsa Yahudi dari penindasan Firaun. Bahkan Firaun dan tentaranya ditenggelamkan di Laut Merah.

Apakah Yahudi bersyukur? Tidak.

Apakah berterima kasih kepada Musa? Tidak juga. Malah terus menyakiti hati sampai Musa wafat.

Dalam perjalanan setelah menyeberang Laut Merah, mereka melewati sebuah pemukiman yang penduduknya menyembah berhala. Mereka terpesona dengan penyembahan tersebut.

“Wahai Musa, buatlah untuk kami sebuah tuhan (berhala) sebagaimana mereka memiliki beberapa tuhan (berhala). Musa menjawab, sungguh kamu orang-orang yang bodoh.” (Quran, Al Araf 138).

Bisa dibayangkan betapa perihnya hati Musa seperti disayat sembilu kemudian disiram air cuka. Seorang Rasul disuruh membuat berhala untuk jadi sesembahan. Rasul itu misinya mengajarkan tauhid.

Anwar Hudijono

Yahudi cenderung ingin tuhan yang bisa dilihat. “Dan (ingatlah) ketika kamu berkata, wahai Musa, kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan jelas. Maka halilintar menyabarmu, sedang kamu menyaksikan.” (Quran, Al Baqarah 55).

Allah menjawab tantangan mereka dengan menunjukkan tanda (ayat) kebesarannya yaitu halilintar yang menyambar mereka. Peristiwa itu disaksikan semua bangsa Yahudi. Lantas Allah menghidupkan mereka yang mati kesambar halilintar itu dengan maksud agar mereka bersyukur.

Tapi, apakah mereka bersyukur? Tidak juga.

Artificial intelligence
Kecenderungan Yahudi memiliki tuhan material atau benda juga ketika mereka menyembah “jazad” berupa patung anak sapi yang bisa bersuara. Patung itu mereka buat bersama Samiri. Mereka sebenarnya dipedayai Samiri (Iblis yang menjilma jadi manusia?) dengan menggunakan sihir. Inti sihir itu manipulasi, palsu. Merusak. Mendorong ke kekafiran.

Yang terlihat patung anak sapi dari emas itu hanyalah palsu. Musa sangat tahu sehingga membakarnya dan membuang abunya ke laut. Kalau benar-benar emas tidak bisa dibakar menjadi abu.

Kira-kira jazad itu kalau sekarang mesin artificial intelligence (AI). Dan sekarang ada kecenderungan menuhankan AI. Kisah itu diabadikan di Quran surah Taha 85 – 97.

Sebagai hukuman atas perbuatan mereka, Allah menetapkan jika ingin diampuni dosanya karena menyembah jazad itu, mereka harus bunuh diri. Orang-orang Yahudi yang baik tetapi terlanjur menyembah jazad memilih bunuh diri asal selamat dalam kehidupan akhirat.

Dengan demikian bangsa Yahudi yang baik semakin sedikit. Sisa yang baik ini adalah mereka yang tidak ikut menyembah jazad, termasuk Nabi Harun.

Tetapi kebanyakan mereka yang menyembah jazad tidak melakukan bunuh diri. Kenapa? Karena mereka lebih mencintai dunia daripada kehidupan mulia di akhirat.

“Mereka itulah orang-orang yang membeli kehidupan dunia dengan (kehidupan) akhirat. Maka tidak diringankan azabnya dan mereka tidak akan ditolong.” (Quran, Al Baqarah 86).

“Dan sekiranya Kami menghendaki niscaya Kami tinggikan (derajat)-nya dengan (ayat-ayat) itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan mengikuti keinginannya (yang rendah), maka perumpamaannya seperti anjing. Jika kamu menghalaunya, dijulurkan lidahnya. Jika kamu membiarkannya ia menjulurkan lidahnya (juga). Demikianlah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah kisah-kisah itu agar mereka berpikir.” (Quran, Al Araf 176).

Yerusalem
Niscayanya, betapa Allah sangat sayang kepada keturunan Nabi Yakub bin Nabi Iskak bin Nabi Ibrahim ini. Saat mereka kesulitan air, Allah memberikan 12 mata air melalui mukjizat Musa. Saat mereka terancam kelaparan, Allah memberikan makanan dari langit yang bernama manna dan salwa.

Apakah mereka bersyukur? Tidak juga.

Mereka menuntut kepada Musa agar diberi makanan yang ditumbuhkan di bumi. Musa menanggapi mereka dengan mengatakan, “Apakah kamu meminta sesuatu yang buruk sebagai ganti dari sesuatu yang baik? Pergilah ke kota, pasti kamu akan memperoleh apa yang kamu minta.” (Quran, Al Baqarah 61).

Betapa sayangnya Allah kepada bangsa Yahudi. Meskipun sudah melakukan serangkaian kedurhakaan besar, tetap saja diberi ampunan. Allah memberi mereka negara yang sekarang wilayah Palestina. Pusatnya di Al Quds atau Yerusalem sekarang.

Allah memberi syarat, negara itu harus diperjuangkan dengan cara mengalahkan penduduknya karea durhaka kepada Allah dengan melakukan syirik. Toh selama ini Yahudi sudah diberi langsung tanpa perjuangan seperti 12 mata air, manna dan salwa, lepas dari penindasan Firaun tanpa harus perang melawannya.

Tapi apa yang mereka lakukan? Mereka menolak berperang karena lawannya adalah bangsa yang kuat. Yahudi takut.

“Wahai Musa, sampai kapanpun kami tidak akan memasukinya selama mereka masih ada di dalamnya. Karena itu pergilah kamu bersama Tuhanmu dan berperanglah kamu berdua. Biarlah kami tetap (menanti) di sini saja.”(Quran, Al Maidah 24).

Atas sikapnya itu, Allah menjatuhkan hukuman berupa melarang mereka memasuki negara itu selama 40 tahun. Selama itu pula mereka menderita, terlunta-lunta di tengah padang pasir yang sangat luas.

“Allah berfirman, (jika demikian), maka (negara) itu terlarang buat mereka selama 40 tahun. (Selama itu) mereka akan mengembara kebingungan di bumi. Maka janganlah engkau (Musa) bersedih hati (memikirkan nasib) orang-orang yang fasik itu.” (Al Maidah 26). Fasik berarti melalukan dosa besar berulang-ulang.

Musa sangat mencintai bangsanya. Tetapi kebangetan, bangsa Yahudi terus menerus menyakitinya. “Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada bangsanya, wahai bangsaku, mengapa kamu menyakitiku, padahal kamu sungguh mengetahui bahwa sesungguhnya aku ini utusan Allah kepadamu. Maka ketika mereka berpaling (dari kebenaran), Allah memalingkan hati mereka. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik.” (Quran, As Shaf 5).

Hubungan Musa dengan bangsa Yahudi berakhir “bad ending” karena kedurhakaan Yahudi. “Dia (Musa) berkata, ya Tuhanku. Aku hanya menguasai diriku sendiri dan saudaraku. Sebab itu, pisahkanlah antara kami dengan orang-orang yang fasik itu.” (Quran, Al Maidah 25).

Allah mengabulkan doanya. Allah mewafatkan Musa ketika Yahudi pada masa hukuman terlunta-lunta selama 40 tahun.

Pasca Musa, Allah mengirimkan para nabi dan rasul kepada mereka. Tetapi kedurhakaan Yahudi sudah melampaui batas. Jika nabi dan rasul jika tidak sesuai kemauannya, mereka membunuhnya atau mendustakannya.

“Mengapa setiap rasul yang datang kepadamu (membawa) suatu (risalah) yang tidak kamu inginkan, kamu menyombongkan diri, lalu sebagian kamu dustakan dan sebagian kamu bunuh?” (Quran, Al Baqarah 87). (Bersambung)

Astaghfirullah. Rabbi a’lam.

*Anwar Hudijono, wartawan senior tinggal di Sidoarjo
14 Juni 2022

“Tangan Allah Terbelenggu”

Ilustrasi kisah Nabi Yusuf. (Ist)

Oleh Anwar Hudijono*

Pengantar redaksi
Bangsa Yahudi itu darah Nabi Yakub (Israil) bin Nabi Iskak bin Nabi Ibrahim. Allah memberi banyak kelebihan. Tapi mayoritas dari mereka sejak awal hingga akhir dunia justru durhaka kepada Allah. Wartawan senior, Anwar Hudijono menuliskan bagaimana relasi Yahudi dengan Allah dalam tiga tulisan. Yang pertama tuduhan mereka bahwa tangan Allah terbelenggu.

Bangsa Yahudi menuduh tangan Allah terbelenggu. Allah mengabadikan tuduhan itu di dalam Quran surah Al Maidah 64.

“Dan orang-orang Yahudi berkata, tangan Allah terbelenggu. Sebenarnya tangan merekalah yang dibelenggu dan merekalah yang dilaknat disebabkan apa yang mereka katakan itu. Padahal tangan Allah terbuka. Dia memberi rejeki sebagaimana Dia kehendaki.”

Allah membelenggu tangan pemimpin tertinggi mereka sebagai representasi dari mereka. Lantas siapa pemimpin mereka yang dibelenggu itu?

Anwar Hudijono

Di dalam Quran As Shad 37-38 disebutkan. “Dan (Kami tundukkan pula kepadanya/Sulaiman) setan-setan, semuanya ahli bangunan dan penyelam. Dan yang lain yang terikat di dalam belenggu.”

Jawaban lebih terurai ada di Hadits riwayat Muslim tentang kisah Tamim Ad Dari. Hadits itu cukup panjang. Dijelaskan Tamim bertemu sosok Dajjal di sebuah pulau. Dajjal dibelenggu di sebuah kuil yang rusak.

“Sesungguhnya aku ini Al Masih. Aku hampir saja diizinkan keluar. Setelah keluar, aku akan berjalan di muka bumi. Tidaklah aku biarkan satu negara pun tanpa aku singgahi dalam 40 hari selain Mekah dan Medinah.” Rasulullah menjelaskan dia bukan Al Masih (Nabi Isa) melainkan Al Masih Ad-Dajjal alias Al Masih Palsu.

Saya tidak akan membahas soal Hadits itu. Kesimpulannya bahwa pemimpin bangsa Yahudi adalah Dajjal. Dajjal menjadi pemimpin, penggerak bangsa Yahudi menguasai dunia. Dan Allah memberikan banyak kelebihan luar biasa kepada Dajjal sehingga menjadi fitnah (ujian dan cobaan) manusia yang paling dahsyat dalam sejarah kehidupan manusia.

Apakah semua orang Yahudi pengikut Dajjal? Jawabnya tidak. Sebab ada juga Yahudi yang beriman meskipun jumlahnya lebih sedikit. Quran surah Al Baqarah 88 menegaskan, “Dan mereka berkata hati kami tertutup. Tidak! Allah telah melaknat mereka, tetapi sedikit sekali mereka yang beriman.”

“Di antara mereka ada sekelompok yang jujur dan taat. Dan banyak di antara mereka yang sangat buruk apa yang mereka kerjakan,” (Quran, Al Maidah 66).

Menutup
Hubungan bangsa Yahudi dengan Tuhan sejak awal memang tidak baik-baik saja. Mereka durhaka. Hal itu dijelaskan di Quran surah Yusuf. Surah ke-12 dengan jumlah 111 ayat itu hampir seluruhnya menjelaskan eksistensi kehidupan awal Yahudi.

Maka kalau mau tahu jelas subyek bangsa Yahudi, bagaimana tabiatnya, wajib memahami surah ini. Itu sudah cukup jadi sumber. Sampai-sampai Allah membuka dengan menegaskan, “Alif lam ra. Ini adalah ayat-ayat Kitab (Al Quran) yang jelas.”

Ditegaskan di ayat 3: “Kami menceritakan kepadamu (Muhammad) kisah yang paling baik dengan mewahyukan Al Quran ini kepadamu, dan sesungguhnya engkau sebelum itu termasuk orang yang tidak mengetahui.”

Sayang, terkadang kisah Yusuf – juga kisah-kisah lain dalam Quran – lebih dinarasikan seperti dongeng. Dibumbui sana-sini. Biar heboh. Penuh dramatisasi. Fatalnya yang dibumbukan justru cerita-cerita israiliyat yang kebenarannya boleh diragukan. Bahkan sampai mengaburkan substansi kisah-kisah tersebut.

Jangan menggunakan referensi israiliyat atau yang ditulis maupun diucapkan orang-orang Yahudi. Karena sangat pantas diragukan mengingat tabiat kebohongan mereka. Jangankan sejarah, kitab suci saja diubah.

“Maka apakah kamu (kaum muslimin) sangat mengharapkan mereka akan percaya kepadamu, sedangkan segolongan dari mereka mendengar firman Allah, lalu mereka mengubahnya, padahal mereka mengetahuinya.” (Quran, Al Baqarah 75).

Segolongan dari mereka juga menulis kitab lantas mengklaim bahwa yang ditulis itu dari Allah. “Maka celakalah orang-orang yang nenulis kitab dengan tangan mereka (sendiri) kemudian berkata bahwa ini dari Allah (dengan maksud) menjualnya dengan harga murah.” (Quran, Al Baqarah 79).

Ayat ini menjadi peringatan bahwa orang-orang Yahudi akan menjadi pencipta instrumen sekaligus penyebar kebohongan (hoax) di seluruh muka bumi seperti dewasa ini. Yahudilah tokoh post-truth (pasca kebenaran). Lihat siapa pencipta dan penguasa media sosial, media mainstream global? Media itu instrumen menyebar hoax, propaganda, adu domba, menyebar ujaran kebencian dan permusuhan.

Sejalan dengan makna Dajjal yaitu menutup. Menutup apa? Menutup kebenaran dengan kebohongan. Kebenaran dengan kebatilan. Cahaya dengan kegelapan. Kesalehan dengan kefasadan (merusak).

Nabi Yakub
Nabi Yakub alias Israil bin Nabi Iskak bin Nabi Ibrahim punya 12 anak yang semuanya laki-laki. Mereka disebut Bani Israil. Sepuluh di antaranya menganiaya Yusuf dengan cara memasukkan ke dalam sumur. Tujuannya dua, Yusuf mati atau ditemukan pedagang dan diperdagangkan untuk budak. Inilah sumber mengapa tabiat bangsa Yahudi senang melakukan kejahatan pembunuhan dan perbudakan.

Setelah bertemu Yusuf mereka mengakui kesalahan (Quran, Yusuf 91). Tetapi mereka tidak pernah mau meminta ampun kepada Allah. Nah, inilah kesombongan Yahudi terhadap Allah. Kesombongan mereka juga ditunjukkan dengan menuduh ayah mereka, Nabi Yakub lemah akal (Quran, Yusuf 94).

Bayangkan, rasul Allah yang juga ayah mereka disebut lemah akal. Apakah bukan kesombongan? Terlalu.

Kesombongannya ditunjukkan dengan menyuruh ayahnya yang memohonkan ampun. Mereka sendiri tidak mau meminta maaf atau ampun kepadaAllah. “Wahai ayah kami, mohonkanlah ampunan untuk kami atas dosa-dosa kami, sesungguhnya kami adalah orang yang bersalah (berdosa).” (Quran, Yusuf 97)

Dia (Yakub) berkata, “Aku akan memohonkan ampunan bagimu kepada Tuhanku. Sungguh, Dia Yang Maha Pengampun, Maka Penyayang.” (Quran, Yusuf 98).

Nabi Yusuf
Yusuf memboyong seluruh Bani Israil (Yahudi) ke Mesir. Saat itu Yusuf menjadi pejabat tinggi penting di Mesir. Dengan pindah ke Mesir berarti mereka terlepas dari deraan kekeringan, kelaparan sebagai azab Allah atas kekejamannya terhadap Yusuf.

Hidup enak di Mesir. Apakah mereka bersyukur? Tidak.

Apakah mereka berterima kasih kepada Yusuf? Tidak juga.

“Dan sungguh, sebelum itu Yusuf telah datang kepadamu dengan membawa bukti-bukti yang nyata, tetapi kamu senantiasa meragukan apa yang dibawanya, bahkan ketika dia wafat, kamu berkata, Allah tidak akan mengirim seorang rasul pun setelahnya. Demikianlah Allah membiarkan sesat orang yang melampaui batas dan ragu-ragu.” (Quran, Ghafir 34).

Allah menjatuhkan hukuman atas sikapnya itu. “Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memberi tahukan bahwa sungguh, Dia akan mengirim orang-orang yang akan menimpakan azab yang seburuk-buruknya kepada mereka sampai hari kiamat. Sesungguhnya Tuhanmu sangat cepat siksa-Nya, dan sesungguhnya Dia Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (Quran, Al Araf 167).

Dan benar. Allah mengirim Firaun untuk menindas dan menyiksa mereka. **

Astaghfirullah. Rabbi a’lam.

*Anwar Hudijono, wartawan senior tinggal di Sidoarjo
13 Juni 2022

Siklus 80 Tahunan, Israel di Ambang Kebinasaan, Begini Kata Al Quran

Anwar Hudijono
Anwar Hudijono

Oleh Anwar Hudijono*

Gawat! Perdana Menteri Israel Naftali Bennett memperingatkan kepada rakyatnya terhadap siklus 80 tahunan Israel berupa perpecahan, konflik. Kesimpulan besarnya, Israel berada di ambang kehancuran. “Kita bertanya-tanya, apakah kita akan mampu melestarikan Israel?” ujar Bennet masygul.

Menurut Bennet, saat ini mendekati siklus 80 tahunan ketiga. Perpecahan pertama terjadi saat 80 tahun Israel dibentuk. Perpecahan kedua pas 77 tahun setelahnya. “Sekarang hidup di era ketiga, dan mendekati 80 tahun.”

Peringatan Bennet ini boleh dibilang merupakan akumulasi serangkaian peringatan yang disampaikan tokoh-tokoh Yahudi, termasuk kalangan rabbi (pemimpin agama Yudaisme). Salah satunya ditayangkan di YouTube oleh channel Rian Hamzah dengan judul Ibadah di Sinagog Ricuh. Konten ini mulai tayang 1 tahun lalu, dilihat 1,7 juta, 11 ribu like.

Dalam tayangan itu divisualkan, seseorang (kemungkinan rabbi) berteriak-teriak di dalam sinagog sambil mendorong dan menampar orang lain. “Mari keluar dari Palestina. Karena waktunya turun laknat kepada kaum Yahudi itu telah tiba. Tiada lagi tempat berlindung dan tempat berlari darinya.”

“Keluarlah dari tanah Palestina dan berpencarlah ke berbagai belahan bumi, sebelum kalian dibinasakan. Bangunlah kalian. Sadarlah kalian. Sebelum kalian semua dibinasakan. Sebab waktu terjadinya hal ini benar-benar sudah dekat,” tegasnya.

Pandangan orang di video itu merupakan representasi dari kelompok tertentu di komunitas Yahudi dunia. Termasuk pemikir Yahudi di Amerika Serikat, Noam Chomsky. Mereka berpandangan bahwa mereka tidak punya hak atas tanah Palestina (Israel sekarang). Karena Tuhan melarang mereka kembali sebagai hukuman di dunia atau dosa-dosa mereka.

Adolf Hitler
Sebenarnya Bangsa Yahudi bukan lagi akan terpecah-pecah tetapi memang sudah terserpih-serpih dan saling bermusuhan. Sampai-sampai Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov belum lama ini mengatakan, sejarah mencatat yang menghacurkan Yahudi itu sesama Yahudi. Lantas dia menunjuk Adolf Hitler itu berdarah Yahudi. Hitler membantai jutaan orang Yahudi di Jerman yang terkenal dengan peristiwa Holocaust.

Anehnya, setelah itu masyarakat Yahudi diam atau kalaulah ada reaksi kecil-kecil saja. Tidak melalukan protes besar-besaran. Bahkan sebelum Presiden Putin meralat anak buahnya. Karena sebenarnya kaum Yahudi takut untuk dilakukan penelitian terhadap genetika Hitler. Sekaligus takut rahasia holocaust terbongkar. Diduga Holocaust itu rekayasa eliter Yahudi dunia agar orang-orang Yahudi diaspora mau pindah ke Israel.

Bangsa Yahudi terpecah-pecah dan saling bermusuhan sesuai pengasan Al Quran surah Al Maidah 64. “Dan Kami timbulkan permusuhan dan kebencian di antara mereka sampai hari kiamat.”

Peringatan bahwa bangsa Yahudi akan dibinasakan jika tidak keluar dari tanah Palestina, sejalan dengan Al Quran Al Isra 5-8. Setelah mengalami penghancuran dan pengusiran dua kali sebagai hukuman dari Allah, mereka dilarang kembali ke Yerusalem atau Palestina.

“Mudah-mudahan Tuhan kamu melimpahkan rahmat kepada kamu, tetapi jika kamu kembali, niscaya Kami kembali (mengazabmu). Dan Kami jadikan neraka jahanam penjara bagi orang kafir.” (Al Isra 8).

Hukuman itu sebagai realisasi dari kutukan Rasulullah Daud dan Isa Al Masih (Quran, Al Maidah 72). “Orang-orang kafir dari Bani Israel telah dilaknat melalui lisan Daud dan Isa putra Maryam. Yang demikian itu karena mereka durhaka dan selalu melampaui batas.”

Sejarah mencatat, bangsa Yahudi dihancurkan Kaisar Nebukadnezar dari Babilonia (Irak). Rakyat Yahudi dibantai atau dijadikan budak. Lantas Allah menolong mereka (ayat 6). Sejarah mencatat yang mengembalikan bangsa Yahudi di Yerusalem atau Al Quds adalah Kaisar Cyrus Yang Agung dari Persia (Iran).

Penghacuran kedua, sesuai catatan sejarah, dilakukan oleh imperium Romawi. Pengusiran besar-besaran membuat Yahudi mengalami diaspora ke seluruh dunia. Tiada sejengkal tanah pun di dunia yang tidak ada orang Yahudi, termasuk di Indonesia.

Zionisme
Setelah lebih kurang 2.000 tahun mereka diaspora di seluruh dunia, ada persekutuan elite Yahudi yang disebut Zionisme yang merekayasa untuk mengembalikan Yahudi ke tanah Palestina melalui tangan imperium kolonial Inggris tahun 1917 yang terkenal dengan Deklarasi Balfour. Kemudian dilanjutkan menjadi negara Israel tahun 1948 yang didirikan di atas tanah bangsa Palestina.

Pakar eskatologi Islam Syekh Imran Hosein mengatakan, yang merekayasa kembali bangsa Yahudi ke Palestina adalah Yakjuj dan Makjuj. Ia merujuk pada Quran surah Al Anbiya 96-97. “Dan tidak mungkin bagi (penduduk) suatu negara yang telah Kami binasakan bahwa mereka tidak akan kembali. Hingga apabila (tembok) Yakjuj dan Makjuj dibukakan dan mereka turun dengan cepat dari seluruh tempat yang tinggi.”

Jadi sebenarnya Zionisme itu adalah baju lain dari Yakjuj dan Makjuj. Ibarat serigala, berganti mantal sehari sratus kalipun tetap serigala. Ciri utama Yakjuj dan Makjuj adalam melakukan penindasan atau perusakan di atas bumi. “Mereka berkata, “Wahai Zulkarnain, sungguh Yakuj dan Makjuj berbuat kerusakan di bumi.” (Quran, Kahfi 94).

Dan rejim Zionisme Israel sekarang menunjukkan ciri-ciri Yakjuj dan Makjuj. Mereka melakukan penindasan terhadap bangsa Palestina. Mereka mendhalimi Majid Al Aqsha (Quran, Al Baqarah 114: “Dan siapakah yang lebih dhalim daripada orang yang melarang di dalam masjid-masjid Allah untuk menyebut nama-Nya dan berusaha merobohkannya?”).

Mereka menantang Allah dengan mendukung LGBT sehingga Tel Aviv, ibukota lama Israel menjadi kota LGBT terbesar di dunia.

Allah pasti memenuhi janji-Nya. Allah pasti akan menghancurkan bangsa Israel yang mufsidun. Menurut Hadits, dimulai dengan perang besar pasukan Muslimin yang dipimpin Imam Mahdi melawan pasukan Israel yang dipimpin Dajjal. Nabi Isa diturunkan Allah bergabung dengan Imam Mahdi. Isa mengemban misi khusus membinasakan Dajjal. Begitu lihat Nabi Isa, Dajjal meleleh.

Babak terakhir, inilah saat Allah menunjukkan sosok Yakjuj dan Makjuj yang selama ini misterius, rahasia. Yakjuj dan Makjuj membela matinya Dajjal. Mereka ngamuk. Allah memerintahkan Imam Mahadi dan Isa menyingkir ke bukit karena Allah sendiri yang membinasakan mereka.

Allah mengirim ulat (virus) yang akan menyerang mereka besar-besaran sehingga bumi dipenuhi bangkai mereka. Istilah Syekh Imran Hosein, virus yang dikirim Allah ibu sebagai balasan atas virus Covid-19 yang mereka terorkan ke seluruh dunia.

Kapan itu terjadi? Rabbi a’lam, hanya Tuhan yang tahu. Yang pasti sebelum kiamat tiba. Quran surah Al Isra 58 menegaskan, “Dan tidak ada satu negeri pun (yang penduduknya durhaka), melainkan Kami membinasakannya sebelum hari kiamat atau Kami siksa (penduduknya) dengan siksa yang sangat keras. Yang demikian itu telah tertulis di Kitab (lauh Mahfudz).”

Astaghfirullah. Allahu a’lam bis-shawab

*Anwar Hudijono, wartawan senior tinggal di Sidoarjo.

7 Juni 2022

Buya Syafii itu Seperti Nabi Khidir

Tak segan Menko PMK Muhadjir Effendy mencium tangan Buya Syafii Maarif. (Dok Keluarga/Mvoice)

Oleh Anwar Hudijono*

“Rasul-rasul itu Kami lebihkan sebagian mereka dari sebagian yang lain”. Begitu pembukaan juz tiga Quran surah Al Baqarah ayat 253, posisi kiri paling atas.

Allah memilihkan jenis kelebihan pada rasul-Nya untuk menjawab persoalan umat mereka. Sesuai tuntutan jamannya. Sesuai momentumnya.

Rasulullah Yusuf diberi kelebihan soal ekonomi dan bisnis karena pada jamannya terjadi krisis ekonomi. Nabi Ayub diberi kelebihan kesabaran yang tiada batas untuk menghadapi krisis di atas krisis.

Rasulullah Musa diberi mukjizat yang dahsyat karena jamannya dikuasai oligarki atau persekutuan Firaun (despotisme politik dan militer), Qarun (kapitalisme) dan Hamam (teknologi dan sihir). Mirip-miriplah dengan Amerika sekarang.

Rasulullah Sulaiman diberi kelebihan bidang sains dan teknologi karena menghadapi persekutuan rahasia umat Yahudi dengan setan ahli sihir dan teknologi. (Quran Al Baqarah 102). Persekutuan ini yang kemudian disebut Yakjuj dan Makjuj. Mereka memiliki tuhan yang dibelenggu (Quran Al Maidah 64). Siapa yang dibelenggu? Jawabnya ada di Hadits Tamin Ad-Dhari. Yaitu Dajjal.

Demikian pula cara Allah memilihkan pemimpin Muhammadiyah disesuaikan dengan permasalahan persyarikatan, umat dan bangsa. Pas dengan mementumnya. Tuntutan dan kebutuhan. Semua itu indikator betapa sayang dan ridha-Nya kepada Muhammadiyah.

Pak AR dihadirkan saat Muhammadiyah harus menghadapi kepemimpinan nasional gaya “Raja Jawa”. Figur Pak AR itu seperti pohon kelapa. Sangat kuat tetapi luwes. Arah angin diikuti sedikit tapi tidak sampai mentelung. Malah sebaliknya jadi kelihatan indah karena blaraknya melambai-lambai seperti tangan penari remo. Dia bisa nyurteni (memahami) dan ngemong Pak Harto.

Karena rezim tidak mempan oleh amar ma’ruf nahi mungkar gaya Pak AR, bahkan semakin mbegudul karepe dewe (menjadi-jadi) lantas Allah mengganti pemimpin Muhammadiyah dengan Amien Rais. Suaranya lantang, jago mengramesi kata-kata, saraf takutnya sudah putus sehingga berani melengserkan Pak Harto.

Bagaimana dengan Prof Haedar Nashir? Saya sangat yakin Allah memilihkan dia juga karena pada momentum terbaiknya. Sesuai masalah yang dihadapi persyarikatan, umat dan bangsa. Sepadan dengan tuntutan zaman.

Jelasnya bagaimana? Nah, insyaallah saya jelentrehkan di lain waktu. Kali ini saya fokus ke Buya Syafi’I Maarif dulu.

Selamatkan Muhammadiyah!

Allah mengizinkan (memilih) Buya Syafii Maarif untuk menjadi Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah pada tahun 1998 menggantikan Amien Rais yang harus meletakkan jabatan sebagai konsekuensi menjadi Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN).

Saat itu bangsa Indonesia, termasuk warga Muhammadiyah sedang dilanda badai euforia reformasi. Manusia seperti asyik menari-nari di atas pasir sehingga tidak sadar kalau sedang diseret ombak. Semua terlihat menyenangkan. Indah. Mempesona. Tidak sadar bahwa sedang menonton realitas palsu.

Buya Syafii tidak ikut menari atau sekadar duduk di hamparan pasir tersebut. Dia memilih duduk sidikara (istirah) di atas batu yang berada di pertemuan dua samudera.

Dari “keterasingannya” dia melihat euforia reformasi bukan dengan mata eksternal (fisik) tetapi dengan mata batin (bashirah).

Buya seolah seperti Rasulullah Sulaiman yang dengan bashirahnya melihat ada “jazad” yang tergeletak di singgasananya. (Quran, As-Shad 34). Jazad ini berambisi menguasai dunia dari Yerusalem atau Al Quds. Ini sangat bahaya. Maka Sulaiman pun berdoa, “Ya Tuhanku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh siapapun sesudahku. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Pemberi.”

Buya melihat (dengan basyirah tentunya) bahaya yang sangat dahsyat. Ada kekuatan tidak kasat mata yang punya obsesi hendak menguasai Indonesia dan menindas bangsanya. Kekuatan ini memanfaatkan momentum reformasi ini untuk menggolkan agendanya sendiri. Atau bahkan sangat mungkin memegang skenarionya. Bukankah dalang selalu di belakang layar?

Agar bisa menguasai dan menerkam Indonesia maka pilar-pilar penyangganya harus dihancurkan. Umat Islam, dan khususnya Muhammadiyah adalah salah satu pilar penyangga sangat vital.

Muhammadiyah adalah salah satu elemen yang mendirikan negara ini. Tiga tokohnya menjadi perumus dasar negara ini. Tokohnya lagi, Jenderal Besar Soedirman adalah bapak TNI.

Buya pun mendapat inspirasi untuk segera mengambil langkah: selamatkan Muhammadiyah!

Caranya, meneguhkan Muhammadiyah agar tidak terseret euforia reformasi. Di antara langkah strategisnya adalah Muhammadiyah tidak menjadi fasilitator atau pemrakarsa pendirian partai politik. Muhammadiyah tetap konsisten sebagai organisasi dakwah dengan menekuni bidang pendidikan, kesehatan, sosial, dan keagamaan.

Tembok Zulkarnain
Buya pun seolah menjadi tembok Zulkarnain untuk melindungi umat manusia dari aksi fasad (perusakan) Yakjuj dan Makjuj (Quran, Kahfi 94). Maka bagi saya, eksistensi kepemimpinan Buya 1998 – 2005 itu adalah rahmat Allah untuk Muhammadiyah.

Sikap tegas, kokoh Buya ini mendapat dukungan dari tokoh-tokoh puritan Muhammadiyah seperti Prof Abdul Malik Fadjar. Tapi juga tidak sedikit yang kecewa, menentang. Terutama dari kalangan warga dan simpatisan Muhammadiyah yang sedang dilanda euforia politik.

Mengapa mereka kecewa? Karena kalau parpol didirikan atau setidaknya difasilitasi Muhammadiyah, dan pengurusnya boleh rangkap jabatan, maka akan menjadi parpol yang besar. Kalkulasinya sekitar 30 juta warga Muhammadiyah akan tumplek blek memilih parpol itu. Tentu saja ini kalkulasi awur-awuran. Tapi biasa politisi itu kalau ngobral optimisme kayak yak-yak’o.

Dari situlah badai fitnah mulai menghantam Muhammadiyah. Badai fitnah itu direbakkan kekuatan yang ingin Muhammadiyah lembek atau hancur layaknya menyiramkan bensin di bara api jerami. Buya pun mendapat hujatan habis-habisan.

Merebak isu bahwa Buya Syafii dengan Amien Rais pecah. Terlibat konflik hebat. Tentu saja spekulasi pepesan kosong. Buya itu seperti ikan tanpa tulang dan duri, mustahil mau konflik apalagi dengan kawan seiring dalam membesarkan Muhammadiyah.

Pada Muktamar Muhammadiyah tahun 2005, Buya menyerahkan kepemimpinan kepada generasi muda yaitu Prof Dien Syamsuddin. Buya mengikuti kaderisasi dalam regenerasi sebagai sunah Rasul. Rasulullah Muhammad menyiapkan kaderisasi Ali bin Abi Thalib. Ali kepada Hasan dan Husein dan seterusnya sampai nanti pada khalifah akhir zaman Muhammad bin Abdullah Al Mahdi.

Seusai purna tugas di Muhammadiyah, Buya memilih madek (menjadi) begawan atau resi. Ngamandita. Seperti seorang pertapa yang duduk sidikara di atas batu yang berada di tengah pertemuan dua samudra. Madek sepuh. Apa itu sepuh? Sepi hawa awas loro ning atunggil.

Sidikara Buya bukanlah seperti rahib yang sendirian bak embun di dedaunan yang segera kering manakala matahari merebaknya sinarnya. Melainkan proses lelaku untuk membina sepi hawa atau mengendalikan hawa nafsu. Sebab hawa nafsu akan mendorong kepada kesesatan.

“Janganlah engkau mengikuti hawa nafsu karena akan menyesatkan engkau dari jalan Allah”. (Quran, As Shad 26).

Hawa nafsu tidak pudar bersamaan dengan umur yang menua. Sampai ada istilah tua-tua keladi, tambah tua tambah kayak keledai eh .. semakin menjadi. Hawa nafsu hanya bisa dikekang, dikendalikan dengan lelaku.

Sidikiranya Buya adalah seperti duduknya matahari. Tetap memberikan cahayanya bagi kehidupan. Buya tetap memberikan nasihat kepada bangsa, umat sebagai pengamalan wa tawa shaubil haqqi wa tawa shaubis shabr. Wa tawa shabil marhamah (saling menasehati dalam kebaikan, kesabaran dan kasih sayang).

Hanya jiwa yang sudah sepi hawa nafsulah yang akan kembali kepada Allah dengan jiwa yang tenang (nafsul mthmainnah). Jiwa yang ridha, ikhlas bahwa segalanya berasal dari Allah dan akan dikembalikan kepada-Nya (sangkan paraning dumadi).
“Wahai jiwa yang tenang
Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai-Nya
Maka masuklah ke golongan hamba-hamba-Ku
Dan masuklah ke dalam surga-Ku”

(Quran, Al Fajr 27-30).

Semoga Buya termasuk golongan yang diridha dan diridhai Allah. Sugeng kundur, Buya.

Astaghfirullah. Rabbi a’lam.(end)

Anwar Hudijono, wartawan senior tinggal di Sidoarjo

Wartawan Senior Max Margono Tutup Usia

Max Margono semasa hidup dengan Monica Pontiar, istri trrcintanya. (Dok. Keluarga/ Mvoice)

Oleh: Anwar Hudijono*

Wartawan senior harian Kompas Max Margono (79) tutup usia di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto Jakarta, Rabu (18/5/2022) sekitar pukul 07.25.

Almarhum menjalani rawat inap di RSPAD sejak 12 Mei setelah sempat dirawat di RS Gading Pluit Jakarta sejak 5 Mei karena mengalami stroke hemoragik post kraniotomi dekompresi. Dia meninggalkan seorang istri, Monica Pontiar dan 7 orang anak.

Menurut rencana jenazah Max Margono akan dimakamkan di TPU Pondok Rangon Jakarta. Adapun waktunya masih belum definitif. Saat ini jenazah disemayamkan di ruang VVIP.G Dasar RSPAD.

Ucapan duka cita mengalir dari pelbagai kalangan. Termasuk Menteri Koordinator Pemberdayaan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy yang memiliki hubungan dekat.

Max Margono meniti karier jurnalistik hanya di surat kabar harian Kompas sejak pertengahan tahun 1968 sampai pensiun tahun 2008.

Masa dinasnya banyak dihabiskan di Jatim sampai menjadi Kepala Biro Kompas Jatim. Pada pertengahan dekade 1990-an dia dipindah ke kantor pusat Jakarta menjabat sebagai Redaktur Daerah.

Dia pernah mendapat tugas dari Kompas bersama Valens Goa Doy untuk mendirikan Pers Daerah (Persda), sebuah perusahaan anak Kompas yang menangani koran-koran di daerah. Di antaranya mendirikan Sriwijaya Post Palembang, Serambi Indonesia Banda Aceh.

Pada tahun 1989 ia bersama antara lain Valens, Anwar Hudijono, Basuki Subianto, AR Suyatna merevitalisasi tabloid mingguan Surya menjadi koran harian. Ia dipercaya menjadi redaktur pelaksana.

Di antara ciri kepribadian almarhum yang paling terkesan baik di kalangan insan pers maupun masyarakat adalah santun, lemah lembut, sabar, rendah hati dan akrab dengan siapapun. Ibarat ikan yang tanpa tulang dan duri (wong tanpo balung eri).

Spektrum pergaulannya sangat luas. Max adalah mantan frater Katolik Sarekat Jesuit yang dekat dengan kalangan kiai. Dia termasuk yang menunggui ketika Rais Aam PBNU KH Bisri Syansuri wafat.

Sangat dekat dengan KH R Asad Syamsul Arifin, pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah Situbondo maupun Rais Aam PBNU KH Achmad Sidiq. Dia juga dekat dengan tokoh Muhammadiyah seperti A Malik Fadjar, Prof dr Sam Soeharto.

Di kalangan jurnalis seangkatannya seperti almarhum Anshary Thayib, Peter A Rohi, Hadiaman Santoso, Ali Salim, Erol Jonathan, Dahlan Iskan, Max dikenal sebagai wartawan yang memiliki lobi kuat di kalangan militer. Jenderal Widjojo Suyono (alm) adalah salah satu teman dekatnya.

Berkat lobinya inilah nyawa Valens Doy berhasil diselamatkan semasa Operasi Seroja Timor Timur. Saat itu tulisan-tulisan Valens dinilai kritis terhadap ABRI (sekarang TNI). Max antara lain melobi Benny Moerdani (kemudian menjadi Panglima TNI).

Ia sangat kokoh menjaga integritas kewartawanannya. Pernah suatu saat Gubernur Jatim Moh. Noer hendak memberi dia rumah. Mungkin tahu saat itu Max tinggal di rumah kontrakan di kampung Kalibutuh yang langganan banjir.

Kendati demikian Max tidak bersedia menerima. Demikian pula tawaran materi apapun ditolaknya. Sikapnya yang steril terhadap “amplop” membuat dia dihormati narasumber.

Tetapi ketika membela eksistensi dan kehormatan wartawan, Max sangat gigih dan tak kenal takut. Seperti kasus “lemak babi” Dr Tri Susanto, dosen Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya di tahun 1980-an.

Intinya Tri Susanto melakukan penelitian biskuit, termasuk produksi perusahaan besar di Surabaya. Ia menemukan ada kandungan lemak babi di dalam bahan biskuit itu. Kasus ini dibuka oleh J Widodo, wartawan sebuah harian terbitan Surabaya.

Kodam V/Brawijaya yang menangani kasus itu. Widodo dan Tri Susanto diperiksa “habis-habisan” oleh pihak Kodam V (era itu ABRI sangat berkuasa karena memiliki Dwifungsi). Hal ini membuat dunia pers tiarap.

Max melihat tindakan Kodam V sudah melampaui batas. Bisa mematikan kebebasan dan wibawa akademik perguruan tinggi, maupun independensi pers.

Ketika yang lain tiarap, Max justru membuat liputan besar-besaran. Sampai akhirnya dia sendiri berurusan dengan ABRI. Tapi dia berhasil meyakinkan kalangan pimpinan ABRI bahwa tindakannya harus dikoreksi.

Integritasnya yang sangat kuat inilah membuat pimpinan Kompas Jakob Oetama mempercayai bahwa semua aset Kompas dan Gramedia di Jawa Timur yang bernilai miliaran atas namanya. Padahal kalau saja mau “nakal” bisa saja dia ambil alih aset tersebut.

Di masa pensiun almarhum banyak tinggal di Jakarta karena ingin dekat dengan anak perempuannya, Maria Eva yang merupakan satu-satunya anak perempuan dari 7 bersaudara.(***)

*wartawan senior tinggal di Sidoarjo

Mekanik Moral Semakin Berat

Oleh: Naim M.Pd

Kita sebagai insan pendidik memiliki tanggung jawab yang sangat besar, tanggung jawab selain mentransfer pengetahuan (knowledge), moral (ahlak) juga sikap (attitude) kepada peserta didik agar kelak mereka menjadi generasi penerus bangsa yang unggul dan berkarakter baik, sehingga dengan generasi yang unggul dan memiliki karakter yang baik “generasi old” merasa tidak khawatir tentang masa depan bangsa ini, faktanya memang cukup miris, membuat pemerharti dan pegiat pendidikan menangis, karena merasa gagal dalam mendidik moral yang selama ini telah ditanamkan pada peserta didiknya.

Kekhawatiran para pendidik mengenai moral generasi penerus dan masa depan bangsa ini sangat mendasar, betapa tidak beberapa tahun terakhir banyak anggota legislatif, yudikatif bahkan eksekutif yang melakukan tindakan melawan hukum, beberapa diantaranya ialah (1) kasus korupsi Jiwasraya, (2) kasus korupsi Asabri, (3) kasus korupsi pembelian gas bumi Sumsel, (4) kasus korupsi Djoko Tjandra dan jaksa Pinangki, (5) kasus korupsi berjamaah yang dilakukan angota DPR Kota Malang, (6) kasus korupsi Bupati Penajam Paser Utara, dan yang terbaru dan sangat mengejutkan masyarakat Indonesia adalah (7) korupsi minyak goreng dan masih banyak lagi.

Dalam situasi begini, bisa-bisanya pejabat negara tega melakukan tindakan korupsi dan implikasinya jelas sangat dirasakan oleh masyarakat Indonesia, bahkan ada beberapa warga yang meninggal gara-gara mengantri untuk mendapatkan minyak goreng.

Dengan kasus korupsi di atas, jelas menambah cerita panjang tentang kebobrokan moral pejabat di Negara Indonesia, kalau kita flashback ke belakang seakan-akan tindakan pidana korupsi ini tidak akan pernah ada habisnya dari negeri Indonesia ini, mereka tidak pernah jera dan parahnya lagi mereka tidak merasa malu ketika ditetapkan tersangka, mereka masih bisa tersenyum seolah mereka bangga dengan perbuatannya.

Fenomena di atas menyadarkan para pendidik, betapa beratnya menjadi mekanik moral di Indonesia, sejujurnya nilai-nilai moral, memiliki budaya rasa malu, sifat jujur yang telah ditanamkan sejak anak-anak atau bahkan sejak berada dalam kandungan juga telah dilakukan oleh para orangtua, namun semua itu terasa sirna dan sia-sia saja ketika melihat tingkah laku para pejabat negara mengeyampingkan moral dan budaya malunya demi memperkaya diri dengan merampas dan mengorbankan rakyat kecil sebagai tumbal keserakahan mereka.

Dari sini para pendidik akhirnya juga sadar, bahwa untuk memperbaiki moral demi masa depan yang gemilang itu tidak hanya cukup dengan mendepankan moral generasi bangsa, namun harus diimbangi dengan seperangkat hukum yang mengikat kepada semua rakyat Indonesia dan tentu saja aplikasi dari seperangkat hukum itu tidak tebang pilih, tidak memandang si kaya dengan si miskin, rakyat kecil dengan pejabat, rakyat yang buta huruf dengan pejabat yang pakar hukum maupun yang lainnya. siapa dan apapun jabatannya maka harus diperlakukan sama, karena jika ada perbedaan perlakuan sedikit saja bagi pelaku tindak kejahatan maka bisa dipastikan kejahatan di atas muka bumi ini tidak akan pernah tuntas.

Penulis tidak berlebihan jika mengatakan hukum di Indonesia itu tumpul ke atas dan tajam ke bawah, semua orang pasti tahu jika orang yan beruang hukumannya pasti lebih ringan dibandingkan denan masyarakat kecil, dari segi fasilitas yang diberikan oleh lembaga permasyarakatan pun juga berbeda antara pelaku korupsi dengan pelaku pencurian kayu yang dilakukan oleh masyarakat kecil. Para koruptor bebas menikmati berbagai fasilitas mewah dalam penjara, bahkan ada yang mengatakan wajar saja pelaku korupsi di Indonesia tidak pernah tuntas, karena saat masuk penjara pun mereka seolah-olah hanya pindah kamar tidur, secara hukum mereka memang status tahanan namun para koruptor tetap bebas tertawa dengan segala fasilitas yang mewah.
kalau saja ketegasan para penegak hukum di Indonesia tidak dapat dibeli tentu saja ada efek jera pada mereka, sehingga mereka akan takut untuk melakukan kejahatan yang serupa dan bagi pejabat yang lain akan berfikir banyak kali jika akan melakukan kejahatan seperti yang dilakukan para pendahulunya. Jika itu benar-benar terjadi maka tugas para pendidik moral kepada generasi bangsa ini tentu lebih ringan karena mendapat dukungan penuh khususnya dari penegak hukum.

Namun demikian, perjuangan pendidik moral akan terus berusaha dan berjuang untuk membumikan “moral dan budaya malu” agar moral tidak punah dari peradaban manusia, karena jika moral telah punah maka negara itu sudah berada diambang kehancuran, karena jika moral tidak ada maka yang berlaku ialah hukum rimba, siapa yang kuat maka dia yang berkuasa, dan saat ini sudah ada tanda-tanda menuju kearah itu. Untuk itu para mekanik moral jangan pernah menyerah untuk terus belajar dan berjuang agar kelak orang-orang yang bermoral ini bisa menggantikan pejabat yang saat ini tidak memiliki moral.

Profil penulis
Naim, M.Pd (dosen Pendidikan Ekonomi Universitas PGRI Kanjuruhan Malang)
Dewan Pertimbangan HMPS Pend. Ekonomi Universitas PGRI Kanjuruhan Malang.
Sekjen Yayasan Putra Khatulistiwa Malang (YPKM).
Sekretaris IARMI Dewan Pimpinan Kota Malang.
Owner Konveksi Wira@lhamd Malang.

Stimulan Digitalisasi bagi Pelaku UMKM

Naim Mpd

Oleh: Naim, M.Pd

Di era 4.o saat ini, Siapa yang belum mengenal digitalisasi? Jika boleh jujur pasti sudah banyak masyarakat yang mengenal istilah tersebut, mulai dari kalangan siswa sekolah dasar hingga insan perguruan tingi, profesi petani hingga pada tataran profesional, tidak ketinggalan pula para pelaku UMKM tentu juga telah ambil bagian untuk mendukung aktivitas dagangnya guna memperoleh omzet yang optimal.

Berbicara mengenai omzet yang optimal, maka hadirnya perangkat digital tersebut perlu diapresiasi dan dimanfaatkan secara bijak oleh para pelaku UMKM, dengan segala kelebihan dan kemudahan yang diberikan, maka banyak masyarakat yang terstimulasi untuk memilih, memilah dan memulai usaha apa yang cocok dijalankan, tentu jenis usahanya sangat bervariasi karena menyesuaikan budget, sarana dan kesiapan lain-lainnya.

Era digitalisasi memungkinkan pelaku UMKM menjual produk tanpa memiliki produk, cara ini dikenal dengan istilah metode dropship, metode dropship merupakan kegiatan seseorang dengan mempromosikan sebuah barang tertentu tanpa harus memikirkan stok barang yang kemudian dijual kembali, cara ini sangat ampuh, lebih hemat biaya, hemat tempat dan juga hemat tenaga dan pikiran, cukup memanfaatkan handphone yang kita punya maka kita sudah bisa memulai usaha dengan profit yang sangat menarik.

Di Negara Indonesia, berdasarkan data BPS tahun 2020, para pelaku UMKM yang mengambil peran dalam memanfaatkan digitalisasi untuk menjual produknya melalui marketplace baru mencapai angka 17,1% dari total 64,2 juta pelaku UMKM, itu artinya baru 10,98 juta pelaku UMKM yang benar-benar memanfaatkan keberadaan digitalisasi untuk meningkatkan omzet usahanya.

Banyaknya pelaku UMKM di Indonesia, tentu berbanding lurus dengan lapangan kerja yang tersedia, berdasarkan data BPS tahun 2020 UMKM mampu menghadirkan 99% lapangan kerja disemua sektor, baik itu sektor produksi, jasa maupun yang lainnya.

Manfaat digitalisasi bagi pelaku usaha
Pertama; (Meningkatkan pendapatan), Seluruh upaya digitalisasi UMKM akan berakhir manis dengan meningkatnya pendapatan bagi pelaku usaha. Ini terjadi karena pelaku UMKM menyediakan akses pembayaran digital yang memudahkan konsumen untuk bertransaksi sekaligus memaksimalkan sistem pengelolaan keuangan secara digital.

Hasilnya, proses bisnis UMKM pun menjadi lebih optimal dan mendatangkan lebih banyak keuntungan.

Kedua; (Merespon pergeseran gaya hidup), Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki mengatakan bahwa tren belanja masyarakat ke depan adalah belanja online. Ia turut menekankan bahwa Indonesia memiliki potensi market digital terbesar di Asia Tenggara. Salah satu infrastruktur pendukungnya adalah UMKM.

Oleh karenanya, dengan melakukan digitalisasi, maka UMKM akan mampu beradaptasi menuju tren belanja online. Apabila UMKM gagal melakukan adaptasi terhadap perubahan gaya hidup masyarakat, maka peluangnya untuk bertahan tentunya semakin mengecil.

Ketiga; (Memperluas market/pasar), Sebelum melakukan digitalisasi, UMKM mempunyai ruang lingkup pemasaran yang terbatas. Umumnya, konsumen mereka hanyalah orang-orang yang tinggal di sekitar tempat usaha.

Pemasaran produk pun hanya melalui testimoni mulut ke mulut. Maka, apabila UMKM melakukan digitalisasi, jaringan konsumen turut bertambah luas. Bukan hanya orang-orang di sekitar tempat usaha yang mengetahui adanya bisnis tersebut. Komunitas yang ada di berbagai platform digital akhirnya juga mengetahui keberadaan UMKM tersebut beserta produk-produknya.

Keempat; (Mempermudah transaksi), Tren belanja online diiringi dengan perubahan cara transaksi konsumen. Dari yang sebelumnya menggunakan alat pembayaran non-tunai, konsumen mulai beralih menuju transaksi digital.

Berbagai merchant pun mendukung sistem pembayaran digital dengan mengintegrasikan BRIAPI, layanan open banking dari BRI. BRIAPI menyediakan berbagai produk untuk kebutuhan transaksional maupun informasional. Dengan BRIAPI, merchant memperoleh kelengkapan sistem pembayaran digital yang dibutuhkan bisnis digital.

Kendala digitalisasi bagi pelaku usaha
Ketika kita berbicara mengenai kelebihan, maka tentu akan menemukan kekurangannya pula terkait dengan digitalisasi bagi pelaku UMKM, diantaranya ialah;
Pertama; (keterbatasan pengetahuan digitalisasi), dengan adanya keterbatasan pengetahuan digitalisasi yang dimiliki oleh pelaku UMKM maka akan menghambat dalam praktiknya, sehingga solusinya adalah perlu adanya pendampingan terhadap pelaku UMKM yang masih gagap teknologi.

Kedua; (terbatasnya jumlah produksi), dengan jumlah produksi yang tidak terlalu besar karena terbentur dana dan lain sebagainya juga menjadi bagian kendala dalam penerapan digitalisasi, sehingga pelaku UMKM hanya melayani pembeli dengan jumlah yang kecil.

Ketiga; (tidak percaya diri) kepercayaan diri pelaku UMKM dalam menawarkan produknya kepada konsumen juga menjadi bagaian yang sangat penting, sehingga jika rasa percaya diri itu ada maka komunikasi akan mudah dilakukan dan konsumen pun menjadi tertarik terhadap produk yang ditawarkannya.

Keempat; (belum memiliki pembukuan keuangan yang tertata). Sehingga akuntabilitasnya menjadi rendah saat berhadapan dengan pihak perbankan untuk mendapatkan pinjaman modal. Dengan demikian, diperlukan ekosistem digital dari hulu hingga hilir dan berkelanjutan agar UMKM menjadi lebih berdaya saing dan lebih maju.

Profil Penulis
Naim, M.Pd (dosen Pendidikan Ekonomi Universitas PGRI Kanjuruhan Malang)
Dewan Pertimbangan HMPS Pend. Ekonomi Universitas PGRI Kanjuruhan Malang.
Sekjen Yayasan Putra Khatulistiwa Malang (YPKM).
Sekretaris IARMI Dewan Pimpinan Kota Malang.
Owner Konveksi Wira@lhamd Malang.

Cerita Angpao di Hari Raya yang Fitri

Naim M.Pd

*) Oleh: Naim, M.Pd

Nuansa idul fitri masih sangat kental terasa, mulai dari deretan jajanan khas dan lezat yang masih terpajang di ruang tamu, tidak ketinggalan pula minuman pelengkap khas hari raya seperti minuman tradisional maupun minuman segar lainnya, bahkan hari ini pun menu opor juga ikut tersaji sebagai hidangan pelengkap pada hari raya idul fitri hari ke 7.

Selain cerita tentang makanan dan minuman khas hari raya Idul fitri, ada cerita lain yang tidak kalah seru yang dialami oleh anak-anak yaitu cerita tentang angpau idul fitri, masing-masing anak tentu memperoleh pendapatan angpau yang sangat bervariatif, ada yang memperoleh sedikit, sedang ada juga yang memperoleh dengan jumlah yang cukup besar di usia mereka.

Setiap akhir kunjungan, mereka berkumpul disuatu tempat untuk melepaskan rasa penat setelah seharian mereka berkeliling menyusuri rumah sanak keluarga, sahabat dan teman untuk berlebaran. Tidak ketinggalan pula hal yang paling penting untuk mereka lakukan yaitu menghitung pendapatan angpao hari raya yang telah berhasil mereka kumpulkan, Raut bahagia tersirat jelas pada wajah mereka saat menghitung hasil angpao yang telah mereka peroleh setelah seharian bersilaturahmi.

Berhitung pun telah mereka lakukan, selanjutnya mereka menyusun rencana untuk apa uang itu digunakan, dengan gaya polos mereka, ada yang mengatakan untuk membeli mainan, perlengkapan sekolah, sepatu, di tabung, bahkan ada pula yang bercita-cita untuk membelikan orang tuanya sebuah mobil, karena sepeda motor yang dimiliki sudah tidak muat lagi untuk berboncengan, mereka seru banget ya. Heheh.

Sejarah Angpao
Setelah melakukan literasi, tradisi berbagi angpao/uang di saat idul fitri ternyata pernah ada pada abad pertengahan, kekhalifaan Fatimiyah di Afrika Utara mulai membagikan uang, pakaian atau permen kepada anak-anak muda dan masyarakat pada umumnya saat hari pertama Idul Fitri.

Kemudian, pada akhir pemerintahan Ottoman (sekitar lima abad kemudian, kegiatan bagi-bagi angpao di hari lebaran itu mengalami perubahan, hanya dilakukan dalam bentuk uang tunai saja dan dibagikan hanya kepada anggota keluarga, dan tradisi ini mampu bertahan hingga hari ini.

Di era modern seperti saat ini pemberian angpao semakin bervariasi, tidak hanya melulu uang, melainkan ada yang memberikan berupa barang seperti mainan, pakaian, gedjet dan masih banyak lagi, tentu tujuannya yaitu agar si penerima menjadi sangat senang dan bisa dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya.

Tujuan pemberian angpao
Selain tradisi, ternyata kegiatan bagi-bagi angpao uang tunai saat hari raya Idul Fitri mengandung value atau makna tersendiri, diantaranya ialah;
Pertama, mengajarkan kepada seseorang (si pemberi maupun penerima) untuk menabung dan mengelola keuangannya sendiri untuk digunakan dalam hal yang lebih bermanfaat. Setelah uang terkumpul dengan jumlah tertentu maka bisa digunakan untuk membeli barang yang dibutuhkan tentu dengan perasaan bangga.

Kedua, mengajarkan kepada masyarakat (pemberi) untuk memiliki sifat dermawan, peduli, dan suka berbagi rejeki kepada orang lain, khususnya kepada mereka yang membutuhkan. Sehingga dengan pelatihan yang dilakukan pada bulan Ramadhan selama bulan penuh dapat diaplikasikan dalam bulan-bulan berikutnya.

Ketiga, sebagai hadiah, uang angpao hari Raya Idul Fitri juga banyak yang mengartikan sebagai bentuk penghargaan atau hadiah dari orang tua kepada anak-anaknya, karena telah mampu menjalankan ibadah di bulan Ramadhan seperti berpuasa, mengaji. Pemberian hadiah ini diharapkan mampu membuat anak merasa usahanya diapresiasi sehingga termotivasi untuk melaksanakan ibadah serupa di masa mendatang.

Keempat; menebar kebaikan, memberi angpao juga bagian dari menebar kebaikan kepada sesama, kita tahu bahwa memberi dan menerima angpao adalah sesuatu yang menyenangkan bagi keduanya dan tentu saja juga dapat menyebarkan kasih sayang.

Kelima, pengajaran tentang beramal, ketika keluarga anak mendapat angpao, ini artinya pemberi perlu menyediakan dana dan daftar orang yang akan diberikan angpao, ini cara yang bagus untuk melatih anak-anak bagaimana cara beramal kepada orang lain.

Keenam. Anak merasa memperoleh perhatian, merima angpao membuat anak merasa diperhatikan, karena kebaikan ini membuat anak merasa dicintai dan secara otomatis mengikat anak menjadi lebih dekat dengan si pemberi hadiah.

Cara mengelola uang angpao
Pertama, menunjukkan pada anak nilai memberi, alasan utama mengapa penting bagi orang tua untuk mengajarkan pembelajaran keuangan kepada anak-anak adalah agar anak-anak menjadi paham mengenai pemanfaatan uang dengan baik.

Kedua, bantu anak belajar membuat keputusan pengelolaan uang, berikan pemahaman kepada anak mengenai keinginan dan kebutuhan sebuah barang, jika tidak penting dan tidak butuh maka sebaiknya ditunda atau bahkan tidak perlu dibeli sehingga penggunaan uang menjadi lebih tepat guna.

Ketiga, bantu anak membiasakan menabung, dengan memberikan pemahaman kepada anak mengenai menabung, maka anak akan berusaha menabung dan menghargai setiap uang yang diperolehnya, untuk mendukung hal tersebut maka orang tua menyediakan media tabungan seperti celengan atau benda lainnya yang bisa digunakan untuk menyimpan uang koin maupun uang kertas.

Profil penulis
Naim, M.Pd (dosen Pendidikan Ekonomi Universitas PGRI Kanjuruhan Malang)
Sekjen Yayasan Putra Khatulistiwa Malang (YPKM)
Sekretaris IARMI Dewan Pimpinan Kota Malang
Owner Konveksi Wira@lhamd Malang