Babak Akhir yang Menentukan (1)

Anwar Hudijono. (Istimewa)

Oleh: Anwar Hudijono

Hari-hari terakhir menjalani ibadah puasa Ramadhan itu layaknya mengikuti lomba memasukkan benang ke dalam lobang jarum. Waktunya sangat terbatas. Suasananya gerah dan gemuruh. Riuh-rendah. Membuat tidak mudah untuk fokus.

Jika jarumnya jarum karung yang lobangnya besar sementara benangnya benang jahit, akan lebih mudah. Tapi jika jarumnya jarum jahit tapi yang dimasukkan benang bol, ini jelas sangat sulit karena sangat pas ukuran benang dengan lobang jarum.

Saat-saat ujung benang hendak dimasukkan lobang jarum harus benar-benar fokus, tenang. Terlalu tegang juga bisa gagal. Terlalu lemah juga tidak bisa masuk. Apalagi emosi. Marah-marah. Ngamuk. Bahkan saat ujung benang sudah menyentuh lobang jarum, bisa ambyar oleh hembusan nafas kita sendiri.

Rasulullah Muhammad SAW sudah memberi contoh kepada umatnya, pada sepuluh hari terakhir puasa lebih banyak itikaf di dalam masjid. Di antara tujuannya adalah agar bisa fokus beribadah. Mencegah naiknya dorongan hawa nafsu. Mencegah tarikan-tarikan eksternal yang bisa merusak puasa.

Itikafnya Rasulullah itu bukan semata memberi contoh mengejar Lailatul Qadar. Buktinya pada siang hari pun beliau banyak di masjid. Padahal Lailatul Qadr itu diturunkan malam hari.

Jika semata untuk mendapat Lailatul Qadar tidak harus di masjid. Sebab Lailatul Qadar itu bukan soal tempat turun, melainkan soal ibadah. Jadi di manapun beribadah pada malam Lailatul Qadar akan mendapatkannya.

Lailatul Qadar yang diturunkan pada 10 hari terakhir Ramadhan itu semacam iming-iming bonus super besar. (Dinilai sepadan dengan beribadah 1.000 bulan atau 83,4 tahun). Agar umat Islam lebih semangat fokus menjaga puasanya hingga puasanya berakhir husnul khatimah.

Masjid pasti lebih kondusif untuk melakukan aktivitas batin di banding tempat lain seperti rumah, apalagi tempat-tempat publik dan bisnis seperti mal, pusat hiburan. Batin akan lebih fokus untuk beribadah karena memang itu fungsi utama masjid. Di masjid mendorong kesibukan batin berupa dzikrullah, mengingat Allah. Baik dengan shalat, menelaah Al Quran, bertasbih.

Nah, di jaman now, eksistensi masjid sebagai tempat paling kondusif untuk fokus ibadah mulai terancam. Apalagi jika menyediakan internet gratis. Tarikan yang bisa merusak puasa justru saat ini sangat mudah melalui jagat virtual. Salah satu contoh, mau baca Quran melalui aplikasi di HP. Sebelum baca, nyelononglah iklan snack video dengan konten cewek goyang-goyang. Mumet gak jadi ngaji. Ambyar.

Di masjid tapi lebih banyak medsosan daripada shalat. Lebih banyak baca status dan komen daripada baca Quran. Jari jemari lebih sibuk memencet tombol HP daripada memutar tasbih. (Yang baca ini kok ketawa, pertanda pernah pengalaman).

Menuju Allah

Mengapa harus fokus? Karena hakikat puasa itu perjalanan menuju Allah. Perjalan hakiki dalam garis lurus sangkan paraning dumadi (asal muasal dan tempat kembali semua mahluk). Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun (Sesungguhnya milik Allah dan kepada Allah pula dikembalikan).

Bergerak menuju Allah hingga sampai manunggal dengan Allah, wahdatul wujud (manungaling kawula-Gusti). Menyatunya hamba dengan Tuhan. Bukan manunggal secara fisikal karena itu mustahil. Sebab Allah bukan mahluk. Dan Allah itu muhalalfatu lil hawadis (berbeda dengan mahluk). Kemanunggalannya bersifat esensial. Jika dibuat analog itu kira-kita mirip kemanunggalan api dengan panas.

“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.” (Quran:50:16).

Fokus dalam berpuasa ini sekaligus latihan agar tetap fokus saat menghadapi sakaratul maut. Saat sakaratul maut itu akan datang godaan setan dari seluruh penjuru bumi agar kandidat jenazah berpaling dari Allah justru pada saat-saat terakhir. Sehingga tidak ada waktu lagi untuk bertobat.

Sampai-sampai orang di sekitarhya dianjurkan untuk melakukan talkin atau tuntunan membaca kalimah tauhid La ilaha illallah. Karena babak itulah yang menentukan seseorang masuk surga atau masuk neraka.

Rabbi a’lam (Tuhan Maha Tahu)

Anwar Hudijono,
Kolumnis tinggal di Sidoarjo

Mudik dalam Spiritualisme Masyarakat Jawa (3-Tamat)

Anwar Hudijono. (Istimewa)

Oleh: Anwar Hudijono

Siapapun yang mendisain konsep mudik yang menjadi tradisi masyarakat Jawa ini, pastilah manusia jenius. Memiliki tingkat kearifan yang tinggi. Bukan hanya ketajamannya melihat fenomena sosial pada masa konsep itu disusun, tetapi juga memiliki pemikiran yang visioner.
Lebih dari itu, dia atau mereka adalah manusia yang memiliki bashirah (mata batin) yang tajam seperti matahari. Sehingga mampu melihat apa yang akan terjadi masa depan sehingga mampu menyiapkan langkah-langkah antisipasi.

Bashirah itu suatu keutamaan yang diberikan Allah kepada hamba-Nya yang terkinasih.

Misalnya, Rasulullah Muhammad yang sudah tahu bahwa di masa depan Kerajaan Persia akan jatuh ke tangan umat Islam. Pemerintahan Khosru Yasdazird akan disobek-sobek tentara Islam seperti Khosru menyobek-nyobek surat Rasulullah.

Demikian pula ketika Hidlir mengatakan bahwa ada harta yang tersimpan di bawah rumah anak yatim piatu. Dia pasti bukan melihat dengan mata eksternal. Atau dengan alat yang canggih. Tetapi dengan bashirah.

Demikian pula ketika dia memutuskan membunuh seorang anak karena dia tahu anak itu akan durhaka kepada orangtuanya yang saleh. Memaksa orangtuanya menjadi kafir. Drama itu dikisahkan di Quran surah Kahfi.

Dengan bashirah Rasulullah Sulaiman melihat ada jazad yang tergeletak di singgasananya. Bukan melihat dengan mata eksternal. Bashirahnya pula yang langsung membuat kesimpulan, itulah mahluk yang berambisi hendak menguasai dunia dari Yerusalem. Mahluk yang mengerikan. Mengerikan bukan dalam bentuk wujud fisik, tetapi perbuatannya.

Untuk itulah Sulaiman mengangkat tangannya, seraya berdoa: “Ya Tuhanku, ampunilah aku dan anugerahkan kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh siapapun setelahku. Sungguh, Engkau Yang Maha Pemberi.” (Quran: 38:35).

Siapa mahluk yang disebut jazad itu? Merujuk pandangan ekskalog Islam Syekh Imran Hossein adalah Al Masih Ad Dajjjal. Atau Dajjal.
Bashirah bukan ilmu terawangan para dukun. Ramalan ahlu nujum atau tukang sihir. Tukang ngramesi angka. Tukang ngotak-atik gambar. Kalau mereka ini dibisiki jin. Dan pasti hasil terawangan mereka itu sesat dan menyesatkan.

Kurang piknik

Lantas siapa penyusun konsep mudik itu? Saya tidak tahu. Hanya saya kira dia sekapasitas dengan Pujangga Agung Tanah Jawa Ronggowarsito. Dengan buku Serat Kalatidha, Ronggowarsito yang semasa mudanya bernama Raden Bagus Burhan dan nyantri di Pondok Pesantren Tegalsari, Ponorogo, secara tajam melihat persoalan manusia di jamannya. Sekaligus mampu melihat yang terjadi di masa depan.

Kalau mencermati skene-skene dan anatomi dramatikal di dalam peristiwa mudik akan kita dapati betapa arif dan visionernya penyusun konsep mudik Idul Fitri ini.

Misalnya, di dalam silaturahmi terdapat adegan memohon maaf dan memafkan. Saling memaafkan. Memang ada yang sinis mengatakan, mengapa mau mohon maaf saja saat Idul Fitri. Kan bisa dilakukan sewaktu-waktu.

Sekilas pendapat itu menarik dan benar. Tapi ya cuma seperti riak air di atas batu kali. Tidak mendalam. Menyikapi pendapat demikian, biarkan saja. Mungkin lagi caper alias cari perhatian. Anggap saja yang ngomong begitu kurang piknik.

Saling memaafkan di momentum Idul Fitri itu untuk menyempurnakan episode kembali ke fitrah manusia. Karena ada dosa sesama manusia itu baru terhapus manakala sudah mendapat maaf dari orang yang didosai. Misalnya, Slamet berdosa kepada Kirun. Jika tidak mendapat maaf, maka pahala Slamet akan dikurangi untuk diberikan kepada Kirun sebesar dosa Slamet tersebut. Gimana ngitungnya? Innalla syari’ul hisab (Sesugguhnya Allah sangat cepat dalam menghitung).Kalau sudah dimaafkan Kirun maka dosanya terhapus.

Dengan demikian diharapkan selain dosanya mendapat ampunan dari Allah, juga dosanya sesama manusia terhapus semua. Dengan demikian benar-benar kembali ke fitrah secara kaffah, total.
Memang ini tidak mudah. Terutama yang kebanyakan ngrasani Jokowi, Prabowo, Habib Riziek, Amien Rais, Megawati, SBY, Gisel, Moeldoko, Anies Baswedan, Ahok, Sahrini dan sebagainya. (Makanya kurangi ngrasani atau ghibah. Berat..berat).

Lahir-batin

Contoh lain adalah lafal ucapan pada saat bertemu silaturahmi. Kalimatnya begini: “Nyuwun pangapunten sedaya kalepatan kula lahir tumusing batos.” Atau lebih sederhana: “Nyuwun pangapunten lahir-batin”. (Mohon maaf lahir-batin).

Redaksi kalimat ini khas Jawa. Dan itu hanya digunakan saat Idul Fitri. Yang umum di seluruh dunia ini cukup: Mohon maaf atas semua kesalahan saya. Atau, mohon maaf.

Dulu sering menjadi bahan diskusi, juga guyonan. Mengapa harus pakai “lahir-batin”. Mohon maaf saja kan cukup. (Untungnya tidak ada yang kemelipen mengatakan itu bid’ah).

Pertanyaan itu baru pada jaman now ini terjawab. Kalimat “lahir-batin” merupakan “penyangkalan” terhadap arus global yang akan mendangkalkan batin, spiritualisme. Bahkan membutakan.

Dalam konteks pendangkalan dan pelecehan spiritualisme dalam tradisi mudik dimulai dengan tuduhan bahwa mudik itu tidak efisien. Boros. Absurd. Ajang pamer kesuksesan di kota. Munafik karena di kota menjadi babu tapi kalau pulang ke desa bergaya juragan. Tidak akan efek ekonomi ke desa. Dan sebagainya.

Yang mengatakan demikian biarkan saja. Terhadap orang semacam ini sulit dibedakan antara ngomong dan gumoh. Mereka seperti mengukur dalamnya laut dengan sebatang lidi. Mereka layaknya melihat gajah dengan mikroskup. Yang terlihat hanya gelap.

Anggap saja si dia kurang ngopi. Berdebat dengan orang demikian hanya akan basah oleh semburan ludahnya. Sing waras ngalah gitu low.

Membenci jiwa

Babak selanjutnya, silaturahmi jabat tangan, saling bersaut-tutur diganti dengan kartu Lebaran. Berikutnya diganti dengan sms. Di jaman digital ini cukup diganti dengan meme, teks, emoji, audio, video. Masih mending video call. Mohon maaf langsung dirangkap secara massal. Satu pesan untuk satu grup WA. Satu pesan di medsos untuk manusia seluruh dunia. Kesannya sekadar iseng. Biar ramai gicu.

Silaturahmi Idul Fitri melalui medsos itu seperti gabah tanpa beras. Seperti meneguk gelas tanpa ada airnya. Bak kacang yang cuma kulitnya. Bak kolor tanpa celananya.

Dunia medos adalah dunia manipulasi. Palsu. Sering tidak sambung antara yang terungkap dengan yang tersimpan. Yang lahir dengan yang di batin. Semua dangkal. Maka pencarian konten di medsos disebut berselancar (surfing) karena hanya di permukaan, cepat dan segera berlalu.

“Medsos membenci jiwa kita,” kata Jaron Zepel Lanier, ahli filsafat komputer Amerika . Selanjutnya dia dalam bukunya yang mendunia, Ten Arguments For Deleting Your Social Media, menulis, medsos adalah bagian jaman edan. Medsos menghancurkan rasa empati Anda.

Lihat saja, ucapan duka cita entah dengan meme, teks, emoji, audio, video tanpa menyentuh relung hati. Menyatakan like (suka) tanpa lahir dari perasaan sebenarnya. Memaki, membully tanpa merasa berdosa dan bertenggang rasa.

Dengan demikian mudik dalam sepiritualisme masyarakat Jawa juga merupakan bagian dari kearifan menjaga mata batin manusia dari kebutaan. “Maka tidak pernahkah mereka berjalan di bumi sehingga hati (akal) mereka dapat memahami. Telinga mereka dapat mendengar. Sebenarnya bukan mata eksternal yang buta, tetapi yang buta ialah hati. (Quran: 22: 46).

Aktivitas mudik kini lumpuh oleh Covid-19. Tapi bukan hanya mudik, semua aktivitas ritual keagamaan maupun aktivitas spiritualisme juga terseok-seok bin gontai bin loyo bin seyek-seyek mirip jalannya mentok ambeien.

Ritual haji disetop. Umrah dibatasi. Shalat jamaah cidera karena shafnya tidak boleh rapat. Shalat Tarawih, Shalat Jumat agar dipercepat seolah dipaksa mengikuti kehidupan digital yang semakin cepat. Penyelenggaran peringatan keagamaan bisa dipidana. Salaman dilarang. Apalagi cium tangan untuk ngalap berkah, sama sekali dianggap sangat berbahaya.

Saya sependapat dengan Syek Imran Hossein, pakar eskatologi Islam, bahwa Covid-19 adalah strategi Dajjal menjalankan salah satu misinya yaitu memberikan ujian, cobaan (fitnah) terbesar kepada umat manusia. Dajjal menunjukkan kehebatannya.

Jika benar begitu kuncinya adalah yang disabdakan Rasulullah Muhammad. “Jika aku masih hidup, maka aku akan melindungi kalian dari Dajjal. Jika aku sudah meninggal maka Allah yang akan melindungi kalian.”

Rabbi a’lam (Tuhan lebih tahu).

Anwar Hudijono,
Kolumnis tinggal di Sidoarjo

Mudik dalam Spiritualisme Masyarakat Jawa (bagian ke-2 dari 3 tulisan)

Anwar Hudijono. (istimewa)

Oleh Anwar Hudijono

Spiritualisme mudik itu berada pada pertemuan dua arus yang sangat kuat seperti bertemunya arus dua lautan (majma’al bahrain). Arus penarik berasal dari subyek yang berada di tempat asal atau yang dimudiki, dengan arus pendorong berasal dari subyek perantau atau yang mau mudik.

Pertemuan dua arus itu berada pada simpul hakikat silaturahmi. Istilah yang diciptakan leluhur masyarakat Jawa adalah nglumpukne balung pisah (mengumpulkan tulang-tulang yang terpisah). Tentu saja ini simbolis.

Semua berasal dari satu konstruksi tulang-tulang yang disebut keluarga, kerabat, batih. Kemudian bagian konstruksi itu terpisah-pisah secara fisikal untuk mengaktualisasi ketermasing-masingannya.

Konstruksi ini harus dipelihara. Keterpisahan fisikal atau jasmaniah jangan sampai menjadikan keterpisahan batiniah. Jangan dibiarkan terserak sendirian. Konstruksi keluarga ini merupakan bagian terkecil dari konstruksi universal yang disebut ukhuwah basyariyah (ikatan sesama manusia). Karena hakikatnya manusia itu satu konstruksi dengan segala keanekaragamannya.

“Wahai manusia. Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan. Kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan beretnis-etnis agar kamu mengenal.” (Quran: 49:13).

Leluhur Jawa menjadikan Idul Fitri sebagai momentum emas untuk melakukan rekonstruksi keluarga. Pilihan ini tidak asal-asalan seperti belok ke warung saat lapar. Tapi, pilihan ini memiliki landasan kearifan yang kuat. Yaitu selaras dan berintegrasi dengan nilai-nilai dasar Idul Fitri.

Nilai dasar Idul Fitri itu adalah setiap individu bisa kembali ke fitrah (kembali kepada kesucian – kullu maulidin yuladu alal fitrah/ Setiap kelahiran itu dalam keadaan suci tanpa membawa dosa). Setelah dosa-dosanya dilebur selama Ramadhan. Setelah mereguk segala rahmat Allah selama Ramadhan. Setelah dengan puasanya mampu membuat setan terbelenggu (tak mampu mempedayai). Setelah puasanya memiliki kekuatan membuka pintu-pintu surga dan menutup pintu neraka.

Pintu surga itu banyak. Menunjukkan bahwa masuk ke surga itu memang berat. Butuh perjuangan yang berliku-liku. Banyak godaan. Banyak jebakan penyesatan. Maka ke surga disebut naik. Sedang pintu neraka cukup satu. Lebar lagi. Ke neraka itu mudah. Tak butuh perjuangan dan kerja keras. Maka proses masuk ke neraka disebut kecemplung. Artinya begitu mudahnya. (Membaca gini jadi mrinding).

Fitrah sosial

Fitrah manusia itu juga mahluk sosial. Bangunan sosial terkecil itu adalah batih, keluarga inti. Yaitu ayah, ibu dan anak. Kemudian diperluas lagi dengan lingkaran keluarga kakek, nenek, paman, tante, sepupu, saudara. Diperluas lagi tunggal buyut, tunggal canggah dan seterusnya.

Jika bangunan sosial itu dengan ikatan agama Islam disebut jamaah, ikhwah. Innamal mukminuna ihwatun, sesungguhnya kaum mukmin itu bersaudara (Quran: 48:10).

Iblis, setan, Dajjal tidak merasa hepi jika manusia berada dalam bingkai keluarga, kerabat, jamaah, ihwah. Maka mereka membuat strategi individualisme untuk menghacurkannya. Agar manusia menjadi individu-individu yang terserak bagaikan titik-titik embun di dedaunan yang akan segera kering manakala matahari menyala. Sedang keluarga, jamaah itu seperti sungai besar yang isinya kumpulan titik-titik embun.

Orang yang sudah terperangkap pada invidualisme akan merasakan betapa sesatnya ideologi itu manakala di ujung ajal. Mari kita coba renungkan pengakuan Steve Jobs, orang pernah menjadi orang terkaya dunia. Menjadi sosok idola publik global. Inspirator kehidupan.

Hidupnya dihabiskan untuk menumpuk uang. Menggunungkan materi. Mengejar populritas dan pujian. Ternyata individualisme, materialisme telah membuat dirinya sebagai orang yang sangat menderita. Penderitaanya justru berpusat pada keluarga yang berantakan.

“Kabahagiaan batiniah sejati tidak datang dari hal-hal materi dunia ini. Pada saat saya berbaring di atas ranjang rumah sakit dan mengingat seluruh hidup saya, saya menyadari bahwa semua kekayaan dan pengakuan telah memudar dan tidak berarti dalam menghadapi kematian yang segera akan datang. Tidak ada yang lebih berharga lebih dari keluarga,” katanya.

Pengakuan ini menjadi contoh peringatan Al Quran di Surah An Nur (24) ayat 39: “Dan orang-orang kafir, perbuatan mereka seperti fatamorgana di tanah datar. Yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi apabila didatangi ternyata tidak ada apa-apa.”

Harta yang paling berharga

Adalah keluarga

Istana yang paling indah

Adalah keluarga

Puisi yang paling bermakna

Adalah keluarga

Mutiara tiada tara

Adalah keluarga

(Sound Track Film Keluarga Cemara).

Betapa tinggi nilai keluarga. Di dalam keluarga itu tersimpan potensi ganjaran yang sangat besar. Maka tanggung jawab terhadap mereka juga besar. Sampai-sampai Allah secara khusus memerintahkan: “Wahai orang-orang beriman. Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka, yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.” (Quran: 66: 6).

Dan inti konstruksi keluarga sakinah mawaddah wa rahmah adalah tenteram, damai, bahagia di dunia dan tetap bersama di dalam surga. Jika anak kumpul orang tuanya. Lantas orang itu sebagai anak juga kumpul dengan orang tuanya dan seterusnya maka keluarga itu menjadi keluarga besar ahlul jannah, penghuni surga.
Rabbi a’lam (Tuhan lebih tahu).

Anwar Hudijono
Kolumnis tinggal di Sidoarjo.

Mudik dalam Spiritualisme Masyarakat Jawa (1)

Anwar Hudijono

Oleh: Anwar Hudijono

Dipermaklumkan jika ada di antara warga masyarakat Jawa yang didera rasa sedih yang sangat mendalam tidak bisa mudik Idul Fitri karena adanya larangan pemerintah. Saking sedihnya sampai stres. Tidak doyan makan. Tidak bisa tidur. Akhirnya daya tahan tubuhnya turun.

Saat daya tahan tubuh merosot itulah justru rentan terhadap Covid-19. Karena Covid-19 itu aslinya dungu. Dia tidak melakukan seleksi orang mudik apa bukan. Tidak bisa membedakan orang stress apa orang gembira.

Bagi masyarakat Jawa mudik itu buka kepulangan biasa. Bukan layaknya perjalanan piknik. Bukan sejenis perjalanan dinas. Beda dengan tuoring.

Episode mudik itu memiliki landasan spiritualisme yang sangat kuat dan menggenerasi. Artinya tertanam dari generasi ke generasi. Sejak dulu ya begitulah adanya. Layaknya memakai sarung ya begitu adanya. Tidak ada sarungan dengan suwelan di belakang. Seperti cara minum kopi. Sejak nenek moyang ya disruput. Tidak ada minum kopi digelogok seperti minum air putih di kendi.

Maka, mohon dipermaklumkan jika ada yang sampai nekad mudik jauh sebelum larangan berlaku 6-17 Mei 2021. Ada yang nekad kucing-kucingan dengan petugas negara. Kucing-kucingan tapi melewati jalur tikus. Ada yang nekad bersembunyi di balik terpal truk sehingga mirip dengan gelondongan jerami.

Kalau saja ada yang menyewakan genderuwo yang bisa membawa mudik tanpa kepergok petugas, kemungkinan laris manis. Kecuali jika ada genderuwo petugas juga. Hal ini menjadi tidak mudah. Kecuali mengikuti aturan main tak tertulis bahwa sesama genderuwo harus salam temple alias cincai. Podo ngertine.

Beginilah penjelasannya. Mudik itu merupakan momentum mengingatkan dan membangkitkan kembali kesadaran hakikat penciptaan. Sangkan paraning dumadi (asal muasal mahluk). Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun, sesungguhnya milik Allah dan akan dikembalikan kepada-Nya.

Jadi orang-orang di perantauan ini ibarat orang yang hidup di dunia. Kalau dibalik, hidup di dunia ini sebenarnya hanya perantauan. Asalnya dari surga. Karena mengikuti jejak leluhur kita Nabi Adam lantas diturunkan ke bumi. Tapi di bumi ini hanya sementara. Pasti akan dikembalikan ke surga jika catatan hasil perjuangan di perantauan ini baik. Pulang membawa iman dan amal shaleh.

Kalau catatannya buruk ya dibakar neraka. Diberi minum nanah yang mendidih. Diberi makan buah zakum yang membakar isi perut.

Berjuanglah di perantauan. Siapkan bekal yang memadai untuk mudik. Kalau mudik Idul Fitri tentu saja bekalnya uang, pakaian, kue kaleng, dan sebagainya.

Sedang mudik kepada Allah bekal terbaik yaitu taqwa. “Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. Dan bertakwalah kepada-Ku, wahai orang-orang yang berakal.” (QS 2: 197).

Agar mudik Idul Fitri bisa mudah, lancar selamat sampai tujuan patuhilah peraturan, rambu-rambu sepanjang perjalanan. Agar mudik kepada Allah selamat dan penuh suka cita maka patuhilah peraturan dan rambu-rambu Allah.

Hanya sementara

Mengapa leluhur Jawa menggunakan momentum Idul Fitri ini untuk mengingatkan falsafah sangkan paraning dumadi? Karena ada kecenderungan, manusia itu lupa bahwa dunia itu hanya sementara, koyo wong mampir ngombe (seperti orang yang singgah minum).

Lupa bahwa semua akan dikembalikan ke asalnya. Saking cintanya dunia sampai lupa akhirat, meski sudah diberi tahu bahwa kehidupan akhirat itu lebih baik dan kekal, wa lal akhiratu khairu wa abqa. (QS 87:17).

Saking asyiknya dengan kesibukan urusan dunia sampai lengah bahwa kesenangan dunia ini hanya mainan dan lelucon. “Wa ma hadhihil hayatut dunya illa lahwun wa laibun. Dan kehidupan dunia ini hanya senda gurau dan permainan.” (QS 29:64).

Lupa bahwa jika ajal menjemput, itu bisa terjadi kapan saja, di mana saja, dengan cara apa saja. Saat tidur enak-enak mati karena tertimpa paku yang menancap di belandar. Lagi asyik medsosan mati. Sialnya saking asyiknya medsosan sambil ketawa-ketiwi sendiri lupa sembahyang.

Maka para sesepuh Jawa selalu mengingatkan bahwa semua manusia bakal mulih mring mula mulanira (kembali ke asal muasalnya). Yaitu Allah.

Jaman dulu, orang Jawa menyebut orang yang mati dengan istilah “mulih”. Artinya orang yang mati itu justru sedang menempuh perjalanan kepada kehidupan abadi kembali kepada Allah.

Kalau sekarang macam-macamlah sebutan untuk orang mati. Ada yang disebut sedo artinya tugase wis bakdo (tugasnya sebagai khalifah/pengatur di bumi sudah selesai). Istilah ini oleh masyarakat ditujukan kepada orang-orang yang dianggap baik semasa hidupnya seperti ulama, guru, kolumnis, wartawan dsb.

Ada juga yang disebut matek. Artinya nikmate wis entek (nikmatnya sudah habis). Sebutan itu ditujukan kepada jenazah yang semasa hidupnya hanya untuk mendapat kenikmatan dunia. Pokoknya apapun dilakukan yang penting dirinya hepi. Tidak peduli orang lain. Tidak peduli menerjang hukum dan moral. Nah, sejak berstatus jenazah, tidak bisa lagi dugem, mabuk, korupsi, nilep pajak dsb.

Yang paling seram itu jika disebut bongko. Artinya diobong neng neroko (dibakar di neraka). Sebutan ini karena saking jengkelnya masyarakat terhadap jenazah tersebut. Bisa jadi dia semasa hidupnya jadi ulat masyarakat seperti koruptor, politisi busuk, bromocorah, pemerkosa, rentenir dan sejenisnya.

Rabbi a’lam (Tuhan lebih tahu).

Anwar Hudijono
Kolumnis tinggal di Sidoarjo.

I’tikaf di Jaman Now itu Mengurangi Medsos (2-Habis)

Anwar Hudijono. (istimewa)

Oleh: Anwar Hudijono

Jika I’tikaf itu secara substantif sebagai proses mengurangi dan mencegah rangsangan-rangsangan dari luar karena dapat menaikkan intensitas hawa nafsu, yang dapat merusak dan membatalkan puasa, maka di jaman now adalah mengurangi media sosial (medsos).

Blak-balakan saja saya tidak berani seperti Jaron Zepel Lanier, yang dengan gagah berani berkata lantang, “Stop medsosan. Hapus akun medsosmu.” Dia menulis buku Ten Arguments For Deleting Your Social Media Account (Sepuluh Argumen untuk Menghapus Akun Media Sosial Anda Saat Ini).

Jaron jelas bukan tokoh kaleng-kaleng. Dia punya kompetensi untuk bicara itu. Dia ahli filsafat komputer Amerika. Dia seniman visual dan musisi. Dia menulis buku berdasar riset.
Dan dia konsekuen dengan sikapnya. Dia tutup seluruh akun medsosnya. Dia konsisten melakukan kampanye tutup medsos, termasuk di film /Social Dilemma yang disiarkan Netflix.

Sikap dia itu kalau di Al Quran ditegaskan di Surah Shaff (61) ayat 2-3: “Wahai orang-orang beriman, mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? (Itu) sangatlah dibenci oleh Allah jika kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.”

Ada 10 alasan Jaron. 1. Anda (pengguna medsos) kehilangan keinginan bebas Anda. 2. Berhenti dari medsos adalah cara paling tepat sasaran untuk melawan kegilaan jaman kita (jaman edan dalam istilah pujangga agung Jawa Ronggowarsito). 3. Medsos membuat Anda menjadi bangsat. 4. Medsos merongrong kebenaran.

Selanjutnya dikatakan, 5. Medsos membuat apa yang Anda katakan menjadi tidak berarti. (Betapa tidak, posting konten bagus cuma diberi emoji). 6. Medsos menghancurkan kapasitas empati Anda. (Postingan berita kematian hanya dipasang emojicon atau kopi paste dari atasnya). 7. Medsos membuat Anda tidak bahagia. 8.Medsos tidak ingin Anda memiliki martabat ekonomi. 9. Medsos membuat politik menjadi hal yang mustahil (tidak mungkin). Dan 10. Medsos membenci jiwa Anda.

Medsos telah mengubah kehidupan global dari era informasi ke era disinformasi. Tristan Harris, mantan Disainer Estetika Google dengan tegas mengatakan, medsos begitu mudah menghilangkan fakta. Ada banyak keluhan, skandal, polarisasi, pencurian data, hoaks, fakenews (berita palsu).

Radikalisme
Jaron tidak sendirian. Semakin hari semakin banyak pendukungnya. Apalagi setelah Pemilu Presiden Amerika tahun 2020 di mana medsos menjadi pihak yang sangat menentukan hasil Pilpres. Medsos menjadi pembakar pemilu yang dinilai paling brutal dan kelam dalam sejarah Amerika. Mencabik-cabik demokrasi yang palingg dibanggakan AS.

Medsos juga menjadi tertuduh sebagai pemicu radikalisme supremasi kulit putih. Polarisasi sosial yang kian tajam. Entah polarisasi atas dasar ras, agama, etnik, sosial-ekonomi. Merenbaknya dismorfis snapchat.

Medsos dianggap sebagai biang kerok anjloknya kualitas kesehatan jiwa rakyat Amerika. Jutaan generasi Z (lahir setelah tahun 1996) menjadi generasi yang rapuh, tertekan dan cemas. Jutaan di antara mereka ada yang menyayat nadinya. Ada yang bunuh diri. ABG-ABG kehilangan identitasnya. Rumah sakit semakin dipenuhi pasien yang menderita akibat dampak medsos.
“Amerika kini sedang di ambang kehancuran oleh medsos,” kata seorang inteljen senior Rusia dalam film Red Sparrow.

“Rasisme, diskriminasi, intoleransi kini sedang menggerogoti Amerika dari dalam,” kata tokoh dalam film American History X.

Tesis demikian sekarang bukan hanya di film. Sebagian masyarakat Amerika mulai gamang akan masa depan negaranya. Masa depan bangsanya. Amerika sedang berproses seperti pohon besar yang digerogoti rayap dari dalam. Semakin hari rayapnya semakin beranak-pinak.

Narkoba

Saya tidak berani segarang Jaron yang menyatakan tutup akun medsosmu sekarang juga. Saya hanya berani bilang mari kurangi bermedsos. Karena saya sikik-sikik juga masih menggunakan medsos. Alasan yang saya pakai ya seperti para pedoyan medsos umumnya. Misalnya, untuk sayhello saudara dan temanlah, guyon-guyonlah, selinganlah, hiburanlah.

Saya masih menggunakan medsos dengan kesadaran penuh bahwa saya ini sebenarnya sedang dijual oleh developer medsos. Bisnis medsos itu menjual penggunanya. Yang menjadi pelanggan adalah pengiklan. Dengan begitu semakin lama saya menggunakan medsos semakin besar keuntungan yang dikantongi developer. Para developer medsos itu ibaratnya sedang membangun gunung roti.

Maka developer akan berbuat segala cara agar saya berlama-lama di medsos. Ketagihan. Tidak percaya? Coba buka YouTube. Misalnya cari pertarungan tinju Muhammad Ali vs George Foreman. Konten itu akan muncul. Di bawahnya sudah muncul tawaran Ali vs Sonny Liston. Ada lagi Foreman vs Joe Friezer. Tidak itu saja, akan muncul pula tawaran konten lain seperti music, UFC, degelan, komik, kluliner. Jika diterus-teruskan bisa sampai mati tidak akan kehabisan konten.

Itu artinya pengguna sedang masuk jeratan mesin algoritme medsos.

“Orang mengira algoritme itu dirancang untuk memberikan yang mereka inginkan. Tidak. Algoritme itu sebenarnya mencari beberapa perangkap yang sangat kuat. Mencari perangkap mana yang sesuai dengan minat kita,” kata Guillaume Chaslot, pakar teknologi medsos.

Saya sadar penuh, ketika saya main medsos itu saya sedang memasuki dunia manipulasi. Yang like itu juga bukan keluar dari hati nurani. Video yang cantik-cantik itu adalah editan. Di video kayak Gisel, tapi begitu kopidarat seperti Gimin. Yang nyebar konten seolah untuk kebaikan dan kemaslahatan masyarakat, padahal ternyata yang dicari subscribe, like dan viewer.

Manipulasi

Saya sadar saat bermedsosan itu saya seperti menonton aksi pesulap. Yang mampu mengubah sapu tangan menjadi kelinci. Yang mengikat gadis dengan rantai tapi di dalam kotak gadis bisa melepas dan berganti baju. Yang bisa menghilangkan Tugu Monas. Tentu saja semua itu manipulasi. Tipuan. Hipnotisme. Cuma konyolnya, kita ini senang dimanipulasi. Bahkan menikmatinya. Ajuuur…

Saya sadar begitu main medsos itu saya seperti incip-incip narkoba. Semakin banyak semakin asyik dan nikmat. Lama-lama kecanduan. Di dunia ini hanya dua produsen yang menyebut konsumennya dengan istilah “pengguna” yaitu medsos dan narkoba.

“Medsos adalah narkoba,” kata Dr Anna Lembke dari Stanford University, AS. Maksudnya, kita punya perintah biologis dasar untuk berhubungan dengan orang lain. Hal itu secara langsung mempengaruhi pelepasan dapomin dalam “jalur kenikmatan”.

Jiwa yang sudah bermukim di “jalur kenikmatan” medsos adalah menjadikan medsos itu bagian integral lahir-batinnya. Medsos lebih dekat dan penting daripada ayah-ibunya, saudaranya, suami atau istrinya, tuhannya, urat lehernya.

Mau tidur buka medsos. Ngelilir buka medsos. Bangun tidur langsung klik medsos. Bahkan medsos itu pun sampai menjilma di mimpi, ngelindur. Tiba-tiba ketawa. Tiba-tiba jungkir balik, nggigit bantal.

Masak sambil medsosan. Rapat medsosan. Di toilet medsosan. Makan medsosan. Kumpul keluarga semuanya asyik dengan medsosan sendiri-sendiri. Fisiknya saja yang berdekatan tapi jiwanya berjauhan. Ayahnya yang nyetir mobil, anak dan ibunya asyik medosan sendiri-sendiri. Ayahnya jadi seperti driver online.

Mengajar sambil medsosan. Akhirnya dibalas muridnya, saat gurunya nerocos di depan kelas sampai mulut berbusa-busa dan mata mendelik-delik, muridnya medsosan. Nyuntik sambil medsosan. Akhirnya bukan jarum yang dicubleskan tapi pulpen. Niatnya I’tikaf di masjid, kelihatan nggetu, ternyata medsosan. Wis angel… angel…

Setiap saat buka-tutup Hp. Melakukannya sudah tanpa sadar. Tidak ada tanda apapun hp dibuka. Sudah seperti orang bekedip. Otomatis bergerak. Apa ada orang berkedip didisain dulu, dijadwal. (Sing ngguyu mesti tau ketoro pengalaman hahahaha).

Ramadhan ini hendaknya bisa menjadi momentum memulai mengurangi buka tutup Hp. Pergi ke masjid, tinggal Hp di rumah. Rapat tanpa bawa Hp. Kurangi medsosan dengan niat mencari kegiatan yang lebih baik. Yang lebih produktif. Jika medsos menggelapkan hati dan melumpuhkan spiritualitas, ganti dengan kegiatan yang membuat hati terang, jiwa yang bersih. Niat mepek babahan hawa sanga. Niatkan sebagai I’tikaf untuk menjaga kemurinan puasa kita.

Pembaca oh pembaca.. Terus terang saya mulai berpikir jangan-jangan medsos ini merupakan strategi Dajjal. Mudah-mudahan ada petunjuk mendalaminya. Rabbi a’lam.

Ya Allah dengan rahmat-Mu, lindungilah kami dari fitnah (ujian) medsos.

Rabbana atina min ladunka rahmah wa hayyiklana min amrina rasada. (Ya Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah petunjuk yang lurus bagi kami dalam urusan kami. (Quran surah Kahfi ayat 10).* * *

Anwar Hudijono
kolumnis tinggal di Sidoarjo
23 April 2021.

I’tikaf di Jaman Now itu Mengurangi Medsos (1)

Anwar Hudijono. (istimewa)

Oleh: Anwar Hudijono

Kalau puasa Ramadhan itu diibaratkan rumah, maka keberadaan I’tikaf itu pasaknya. Fungsinya untuk memperkuat konstruksi rumah. Kalau rumah tanpa pasak akan mudah goyah, bahkan roboh.

Para ahli fiqih klasik mendefinisikan I’tikaf itu kira-kira begini: suatu aktivitas berdiam di masjid dengan niat hanya untuk melakukan ibadah. Tujuannya untuk menjaga agar ibadah puasa Ramadhan yang dijalani tidak sampai ternoda oleh maksiat dan mungkarat. Agar puasanya tidak hanya mendapatkan haus dan lapar alias sia-sia. Tapi menjadi puasa yang imanan wa ihtisaban (dinafasi iman dan kesadaran).

Mengapa masjid menjadi pilihan I’tikaf? Biasanya pra ahli fiqih klasik menjawab begitulah Rasulullah melakukan. Tapi apakah Rasulullah hanya melakukan I’tikaf di masjid? Bukankah Rasulullah mengisi malam-malamnya dengan beribadah di rumah degan qiyamul Ramadhan, tadarus bersama Jibril, berdzikir. Apa itu bukan I’tikaf?

Demikian pula ketika Rasulullah menyendiri beribadah hampir sepanjang malam di padang Badar menjelang Perang Badar di bulan Ramadhan tidak termasuk I’tikaf?

Pertanyaan apakah I’tikaf harus di masjid ini relevan dengan kondisi saat kehidupan global dilanda ujian Covid-19. Banyak masjid tutup. Membatasi jam buka. Mengurangi kapasitas jamaah. Bahkan pemerintah membatasi jamaah masjid dari tingkat umat ke tingkat komunitas. Artinya masjid hanya boleh menerima warga muslim di sekitarnya atau jamaah tetap belaka. Lama-lama tata jamaah masjid jadi mirip tempat ibadah lain.

Di musim Covid-19 ini dianjurkan stay at home. Bahkan shalat pun dianjurkan di rumah. Menghindari kerumunan, dan jaga jarak sosial.

Padahal biasanya di malam-malam ganjil sepuluh hari terakhir Ramadhan, umat ramai-ramai I’tikaf di masjid untuk meraih lailatul qadr. Sampai masjid penuh sesak. Artinya sulit jaga jarak dan kerumunan.

Seyogyanya ara ahli fiqih kontemporer segera melakukan ijtihad atau apapun istilahnya tentang ini. Hal ini perlu agar umat selamat dari tuduhan sebagai biang kerok penyebaran Covid-19. Bahkan ramai-ramai dipidana karena melanggar prokes.

Sekali lagi monggo para fuqaha kontemporer menjelaskannya. Semoga jawabannya bukan: adharuratu tubihul mahdlurat (keadaan darurat itu membolehkan tindakan yang bersifat darurat). Kalau jawabannya begitu mah biasa saja. Harus jawaban yang keren banget gitu lo.

Sebab ada trend menjadikan istilah darurat Covid-19 sebagai alasan yang tidak benar dan rasional. Boleh berbuat tidak adil karena alasan Covid-19. Boleh nyolong uang rakyat karena Covid-19. Boleh semena-mena demi Covid-19. Wis .. angel .. angel.

Saya tidak memiliki kapasitas dan kredibilitas menjawabnya. Kalau cuma bertanya kan tidak apa-apa. Kerjaan orang awam itu ya bertanya, atau sami’na wa atha’na kepada para ulama ahlinya. Tidak usah kemenyek berijtihad sendiri. Nanti malah melenceng jadi ruwaibidhah, orang bodoh yang mau sok pintar lantas mencampuri yang bukan ranah intelektualitasnya.

Memang di jaman now ini ada yang terbalik. Orang bodoh merasa pintar. Orang pintar pindah jadi bodoh. Contohnya orang bergelar akademik tinggi, memilih nggedabrus di medsos daripada membuat kajian analisis di media massa. Apalagi menulis buku. Guru besar turun derajat jadi buzzer. Tapi itu tidak di Indonesia lo. Adanya di negara Ngastina sana.

Hawa Nafsu

Jika merunut pandangan para ahli fiqih klasik, misi utama I’tikaf itu di samping mengumpulkan ganjaran sebanyak-banyaknya, mendekatkan diri kepada Allah, juga sebagai tindakan melindungi puasa agar tidak ternoda, apalagi rusak, bahkan batal. I’tikaf itu memperkuat batin.

Intinya, I’tikaf itu kan proses mengurangi dan mencegah rangsangan-rangsangan dari luar yang dapat menaikkan intensitas hawa nafsu individual seperti marah, iri dan dengki, rasan-rasan alias ghibah, mencela, keinginan liar, ujub (mengagumi diri sendiri), pamer alias riak, seksual dan sebagainya. Juga hawa nafsu dalam konteks sosial seperti serakah kekuasaan (melik nggendhong lali), korupsi, menindas, merusak lingkungan, memproduksi maupun mengkonsumsi riba, tidak adil dan sebagainya.

Mirip-miriplah dengan tirakat dalam tradisi Jawa yaitu mepek babahan hawa sanga. Artinya, mengendalikan sembilan lobang pada tubuh manuia. Sembilan lobang itu menjadi jalan liar hawa nafsu. Yaitu, mulut satu, mata dua, hidung dua, telinga dua. Selebihnya saya lupa.

Dan substansi puasa Ramadhan sendiri adalah mengendalikan hawa nafsu. Haus dan lapar serta seksual itu hanya bagian kecil hawa nafsu. Itu unsur hawa nafsu hewaniah. Yan berat itu hawa nafsu asli manusia yaitu fasad (berbuat kerusakan): despotisme politik, materialisme ekonomi, dan liberalisme sosial. Ketiganya disebut trilogy fasad.

Ditambah hawa nafsu syaithaniyah yaitu pengingkaran terhadap hukum-hukum dan ketentuan Tuhan. Jika jalan Tuhan itu minal dhulumat ila an-nur (dari gelap menuju terang), hawa nafsu syaithainiyah ini min an-nur ilal dhulumat (dari terang menuju gelap).

Mengapa hawa nafsu harus dikendalikan? Jawabnya ada di Quran surah Sad (38): 26. “…. Dan janganlah engkau mengikuti hawa nafsu, karena akan menyesatkan engkau dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan Hari Perhitungan.”

Rabbi a’lam (Tuhan lebih tahu).

Anwar Hudijono,
Kolumnis tinggal di Sidoarjo.

Ustadz Nadjib Telah Mudik Selamanya

Anwar Hudijono

Oleh: Anwar Hudijono

Kepala rasanya seperti disambar petir begitu membaca pesan WA bahwa Ust. H. Nadjib Hamid, M.Si, Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur wafat di RS Khadidjah, Sepanjang, Sidoarjo, Jumat (9/4/2021) sekitar pukul 08.00.

Saya masih setengah percaya setengah tidak. Saya coba telepon pengirim pesan, rekan M. Roissudin. Tapi tidak konek. Lantas saya hubungi Pemimpin Redaksi PWMU.co M Nurfatoni. Sambil terisak-isak dia menjawab, “Injih, Ustadz Nadjib kapundhut Allah.”

Menurut info dari PWM, jenazah akan dishalatkan di Masjid Al Badar, depan kantor PWM Jatim bakda Shalat Jumat. Kemudian dibawa ke rumah duka di Jalan Ubi IV no.27 Surabaya. Untuk selanjutnya dimakamkan di tanah kelahirannya, Paciran, Lamongan.

Soal mati, semua juga akan mati. Tapi kematian Ust Nadjib ini benar-benar membuat saya kaget setengah mati. Betapa tidak, sudah agak lama saya tidak saling kontak. Tidak dengar sakitnya tiba-tiba dengar sudah meninggal.

Jelas saya kehilangan seorang sahabat terbaik. Saya kenal Mas Nadjib sejak sama-sama menjadi pengurus PWM Jatim jaman ketuanya KH Abdurrahim Nur. Kemudian dilanjut jaman Pak Fasich. Sekalipun posisi saya cuma sebagai pengurus baladupak, peramai, sedang Mas Nadjib posisi pengurus harian tetapi tidak membuat ada jarak. Muhammadiyah memang egalitarian.

Mas Nadjib terus menjadi wakil sekretaris kemudian sekretaris PWM. Pada periode Ust Sa’ad Ibrahim ini almarhum menjadi wakil ketua. Prediksi saya, selangkah lagi dia menjadi Ketua PWM. Dia sudah mengantongi semua persyaratan untuk mengemban amanat itu.

Bagi saya, Mas Nadjib itu perpustakaan hidup Muhammadiyah. Pengetahuannya tentang Muhammadiyah seperti cakrawala tanpa batas. Nah, beruntunglah saya biasa memanfaatkan perpustakaan hidup ini. Kalau menyangkut soal Muhammadiyah, dialah rujukan seperti saya minum air sumur tidak pernah kering.

Total

Mas Nadjib itu tipe orang yang secara total mewakafkan dirinya untuk Muhammadiyah. Manhaj perjuangannya ya Muhammadiyah. Kalau sudah dawuh Muhammadiyah, dia itu sepertinya sami’na wa atha’na (mendengar dan patuh).

Termasuk ketika ditugaskan menjadi calon DPD dari Jawa Timur pada Pemilu 2019. Dia tidak kuasa menolak meskipun dia sangat mafhum politik bukan maqamnya. Platformnya begini, jika sudah niat mewakafkan diri ke Muhammadiyah itu harus diteguhkan dengan ikhlas. Direnda dengan pengorbanan. Disulam dengan istiqamah.

Dia pernah menjadi anggota KPUD Jatim. Pilihan itu bukan karena di enjoy main politik. Tapi terpanggil untuk menyelenggarakan event politik yang jujur dan bermartabat dalam rangka membangun demokrasi.

Itu bagian dari strategi dakwah amar ma’ruf nahi mungkar. Jika terjadi atau berpotensi terjadi kemungkaran ubahlah dengan tanganmu. Jika tidak mampu dengan lisanmu. Jika tidak mampu pula dengan doa. Nah, menjadi anggota KPUD itu strategi dengan tanganmu (kekuasaan).

Mas Nadjib sudah mudik untuk selama-lamanya. Insya Allah bekal mudiknya sudah cukup. Tidak akan kena cegatan. Apalagi sampai “dikarantina” di pinggiran jahanam.

Saya melihat rupanya sebelum mudik, dia sudah menyiapkan Nadjib-Nadjib muda yang akan meneruskan perjuangan dan pengabdiannya di Muhammadiyah. Karena kaderisasi yang berkesinambungan itulah salah satu pilar kokohnya Muhammadiyah. Rabbi a’lam.

“Wahai jiwa yang tenang
Kembalilah kepada Tuhanmu
Dengan hati yang ridha dan diridhai-Nya.
Maka masuklah ke dalam golongan
Hamba-hamba-Ku
Dan masuklah ke dalam surga-Ku”.
(Quran 89:27-30).
Sugeng kundur, Mas Ustadz Nadjib.

Anwar Hudijono,
Kolumnis tinggal di Sidoarjo.

Ade d’Kross, dari Malang Sampai ke Bulan

Frontman d'Kross Ade Herawanto membentangkan syal Arema. (istimewa)

Oleh: Damarhuda

Kota Malang kehilangan satu magnitnya, Ir Ade Herawanto, atau dikenal Ade D’kross, yang Kamis (25/3) lalu tertangkap Polresta Malang, kasus narkoba.

Mestinya, 1 April ini, kota Malang merayakan ke-107 Hari Jadinya yang bertema “Peduli dan Berbagi”, tapi bagi Ade D’kross yang juga Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Pemkot Malang ini, ia sedang menunggu kepedulian Kota Malang.

Bahkan seandainya Arema atau Aremania mengirim tim pengacara untuk membantu advokasi Ade Kross agar bisa direhabilitasi saja atau diringankan kelak hukumannya, itu pun masih tak sebanding bagi pengorbanan Ade D’kross untuk Arema, Aremania dan Malang.

Ade lah yang jadi pelopor lahirnya band suporter di tanah air, D’kross Band, yang didedikasikan bagi Arema dan Aremania.

Ade dan D’kross ini yang kemudian menginspirasi saya dan temen-temen musisi di Surabaya, Royke, Reky, Mugix Power Metal dan Hendrix Sanada Andromedha, lantas mendirikan Arek Band, untuk bonek.

Sebagai ASN Pemkot Malang, kemampuan merangkul Aremania, membuat ia “begitu penting” bagi dua Walikota Malang sebelumnya, Peni Suparto dan Abah Anton. Untuk Walikota Malang sekarang, Drs.H. Sutiaji, ia sedang dipinang atau ia yang sedang meminangnya.

Beberapa tahun lagi, Ade D’kross akan pensiun dari ASN dan santer terdengar, ia bakal nyalon Cawali atau Cawawali 2024, sebelum kasus narkoba menghentikan mimpinya.

Datanglah ke kota Malang, siapa yang tak kenal Ade D’kross? Ia kawan bagi ASN, insan pers dan pengusaha, ia publik figur bagi Aremania, ia pun dermawan bagi sahabat-sahabatnya yang kesulitan ekonomi.

Sosoknya yang energik, penuh spirit, humoris, cerdik dan cerdas membaca peta kariernya, membuat ia melejit bagai sebuah meteor di kota Malang.

Tapi meteor kecil itu sedang jatuh dan ia sekarang digelandang ke Polda Jatim.

Kahlil Gibran berkata, “Orang kuat bukan ia yang selalu menang, tapi ia tetap tegar ketika jatuh.”

Saya mengenal Ade, saat sama-sama menghabiskan masa SMA di lingkungan “SMA Tugu” kota Malang, ia di SMA 3 dan saya di SMA 4 , beda satu tingkat, tapi kami sering bersama.

Saat ia masih jadi Kasi di Dinas Kimpraswil Pemkot Malang, ia sudah cerdik menilai, misalnya ia bilang akan ada anggota DPR RI di Jakarta yang akan pulang ke Malang dan nyalon Walikota.

Ade ngajak saya membuatkan buku biografi sosok tadi, kelak orang pun tahu, tokoh itu adalah Peni Suparto dan kita pun tahu, 10 tahun atau dua periode kepemimpinan Walikota Peni Suparto, Ade menjadi orang dekatnya dan kariernya terus melejit seperti meteor di langit.

Saat Ade ingin mendirikan band Dkross, kami bertemu lagi di rumah saya, Istana Bedali Agung, Lawang, Kab Malang.

Ada sebuah lagu yang saya ciptakan sama Robi, anak Malang, yang tahun 1996 ketemu di Gank Potlot Jakarta, markas Slank. Waktu malam hari di Potlot bersama Robi, saya ingat masa SMA di Tugu Malang dulu, bila sampai malam hari menikmati “Alimi” atau “Drum”, kami melihat bulan di langit seperti bertengger di pucuk Tugu Malang atau bulan mengintip di rerimbunan Splendid Iin. Malang begitu dekat ke bulan!

Kami lantas ingat band Rolling Stone “You Gotta Move”, atau The Police yang bikin “Walking On the Moon”. Lagu ini bicara bulan, dan kalau lagi kubam rasanya kita seperti sedang berjalan di bulan.

Nah, Robi sambil genjrengan, saya tulis lirik “Dari Malang sampai ke Bulan.” Sama-sama bercerita tentang bulan di langit, dari pandangan sang pemimpi yang sempoyongan, mulut bau minuman yang merindukan pulang.

Lagu itu kemudian saya kasihkan Ade. Dan album perdana D’kross, kita tahu, lagu “Malang ke Bulan” meledak dan masih dinyanyikan hingga sekarang.

Tapi meteor itu sedang jatuh. Banyak yang meramalkan karier Ade bakal hancur. Tapi saya bilang tidak, usai menjalani hukumannya kelak, Ade selalu punya jalan kebenarannya sendiri, walaupun juga ia banyak musuhnya, termasuk spekulasi dugaan ia dijebak dalam kasus narkoba yang menjeratnya, tapi tak ada yang bisa merampas kecemerlangan sang meteor kecil ini, yang cerdas dan lincah, cerdik dan cendikia, yang agamis sekaligus juga “srontong” khas arek Malang, “damai oke ribut oke.”

Ade mungkin lagi jatuh, tapi InshaAllah, kelak ia akan mengorbit lagi, dari Malang akan kembali mencapai bulan, dari cara yang lain.

Tahes selalu ya Sam Ade, ndang utem Jes !

*) Damarhuda wa alias Catur,
alumni SMA 4 Malang’88/Kepala Biro Jatim JPNN.com

Radikalisme HAM di Demo Mahasiswa 2021

Ardi Paul S Wenehen

Oleh: Ardi Paul S Wenehen

Hak merupakan unsur normatif yang melekat pada diri setiap manusia yang dalam penerapannya berada pada ruang lingkup hak persamaan dan hak kebebasan yang terkait dengan interaksinya antara individu atau dengan instansi.Hak juga merupakan sesuatu yang harus diperoleh.Masalah HAM adalah sesuatu hal yang sering kali dibicarakan dan dibahas terutama dalam era reformasi ini.

HAM lebih dijunjung tinggi dan lebih diperhatikan dalam era reformasi dari pada era sebelum reformasi. Perlu diingat bahwa dalam hal pemenuhan hak, kita hidup tidak sendiri dan kita hidup bersosialisasi dengan orang lain. Jangan sampai kita melakukan pelanggaran HAM terhadap orang lain dalam usaha perolehan atau pemenuhan HAM pada diri kita sendiri. Hak asasi manusia adalah hak dasar yang dimiliki manusia sejak manusia itu dilahirkan.Hak asasi dapat dirumuskan sebagai hak yang melekat dengan kodrat kita sebagai manusia yang bila tidak ada hak tersebut, mustahil kita dapat hidup sebagai manusia.

Hak ini dimiliki oleh manusia semata – mata karena ia manusia, bukan karena pemberian masyarakat atau pemberian negara. Maka hak asasi manusia itu tidak tergantung dari pengakuan manusia lain, masyarakat lain, atau Negara lain. Hak asasi diperoleh manusia dari Penciptanya, yaitu Tuhan Yang Maha Esa dan merupakan hak yang tidak dapat diabaikan. Sebagai manusia, ia makhluk Tuhan yang mempunyai martabat yang tinggi. Hak asasi manusia ada dan melekat pada setiap manusia. Oleh karena itu, bersifat universal, artinya berlaku di mana saja dan untuk siapa saja dan tidak dapat diambil oleh siapapun. Hak ini dibutuhkan manusia selain untuk melindungi diri dan martabat kemanusiaanya juga digunakan sebagai landasan moral dalam bergaul atau berhubungan dengan sesama manusia.

Dalam HAM mengatur bahwa setiap manusia memiliki hak kebebasan mengeluarkan pendapatnya dan didengar pendapatnya. Bahkan Indonesia mengatur di dalam UUD NKRI 1945, bahwa setiap warga negara memiliki hak untuk bebas berpendapat. Akan tetapi, kebanyakan orang yang mengetahui bahwa setiap individu warga negara memiliki hak bebas berpendapat sering disalahgunakan, dalam arti setiap orang selalu berfikiran bahwa mereka dapat mengeluarkan pendapatnya sebebas bebasnya. Padahal kita perlu mengingat bahwa ketika kita memiliki hak tentu ada kewajiban yang harus kita penuhi. Hak dan kewajiban bukanlah pilihan yang dapat berat sebelah, akan tetapi hak dan kewajiban setara dalam pelaksaannya, artinya ketika kita memiliki hak yang diberikan sejak lahir dan diatur di dalam Undang-undang di Indonesia, kita perlu mengetahui kewajiban kita sebagai warga negara. Hal kecil yang perlu kita ketahui, jika kita memiliki hak, tentu kewajiban kita sebagai bermasyarakat adalah tidak melanggar hak orang lain/individu lain.

Dalam kasus ini, kita sebagai individu dan kita memiliki hak asasi manusia dalam menyampaikan pendapat, akan tetapi kita memiliki kewajiban untuk tidak menganggu/merugikan hak asasi manusia lainnya. Demo mahasiswa 2021 yang baru terjadi karena tidak setujunya masyarakat adanya UU Otonomi khusus yang “katanya” isinya merugikan masyarakat papua dan papua barat. Mahasiswa sebagai jembatan antara masyarakat dengan pemerintah turun lapangan dan berdemo karena mahasiswa memiliki hak untuk berpendapat.

Apakah masyarakat senang dengan adanya demo mahasiswa yang memblok jalan? Kebanyakan dari mereka meyayangkan hal ini, karena mahasiswa turun kejalan yang bertujuan menyampaikan pendapat justru kesempatan besar bagi “oknum-oknum” yang antipemerintah dan mengingini Indonesia kacau yang memboncengi mahasiswa berorasi di jalan. Kebanyakan mahasiswa mengatakan ini hak mereka dalam kebebasan berpendapat, akan tetapi apakah mahasiswa tau bahwa akibat dari demonya, banyak jalan ditutup dan mengakibatkan macet yang dimana mereka tidak mementingkan hak orang lain untuk bekerja? Hak untuk keamanan pribadi? Kebanyakan akibat demo mahasiswa 2021 yang turun kejalan, menghambat orang lain yang bekerja karena terkena macet, banyak orang yang terluka bahkan meninggal akibat kejadian ini.

Kadang kita selalu menyalahkan pemerintah, aparat pemerintah yang selalu melakukan kekerasan kepada mahasiswa, padahal jika kita lihat dari sudut pandang aparat, mereka juga memiliki hak seperti kita, hak untuk kehidupan, kemerdekaan, dan keamanan. Mereka juga memiliki keluarga, tapi karena pekerjaan mereka, mereka harus terpisah dari keluarga mereka untuk mengamankan negara.

Bagi saya, HAM harus dilandasi moral, dimana hak dan kewajiban harus kita ketahui sesuai dengan nilai moral, karena HAM merupakan dasar dan mutlak, maka dalam pelaksaan HAM haruslah ditanamkan nilai moral. Dari sini, bukan berarti saya tidak setuju dan menolak adanya kebebasan berpendapat. Saya sangat setuju adanya kebebasan berpendapat, seperti saya memiliki hak untuk mengeluarkan pendapat saya, akan tetapi yang saya tidak setuju CARA penyampaian kebebasan berpendapat itu janganlah kita salahgunakan.

SARAN
Kita sebagai mahasiswa seharusnya lebih beradab dalam penyampaian pendapat kita, kita buat forum diskusi perwakilan universitas dan dihadiri pihak pemerintah, kita buat petisi yang ditandatangani dan kita sampaikan lewat pertemuan kita dengan pihak pemerintah, dengan cara cara yang menujukkan bahwa kita mahasiswa yang berbudi, bermoral, dan beradab. Mahasiswa jangan mau diprovokasi oleh oknum oknum yang ingin mempecahbelahkan kita, akan tetapi kita mahasiswa harus mempererat persatuan Indonesia, dan menujukkan demokrasi yang beradab dengan hak kita dalam kebebasan berpendapat.

Ardi Paul S Wenehen
Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Merdeka Malang

Kongres HMI Ricuh itu Seksi

Anwar Hudijono. (Istimewa)

Oleh: Anwar Hudijono

Yang mau bilang itu aib silakan. Yang mau menyatakan prihatin boleh-boleh saja. Yang mau kesal dan malu tak masalah. Saya sendiri melihat kericuhan Kongres Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) ke-31 di Surabaya itu seksi gitu low.

Kenapa? Pertama, Kongres ricuh ini bukan yang pertama. Kongres di Depok obrak-abrikan. Kongres di Ambon awut-awutan. Kericuhan Kongres Surabaya ini kabarnya juga bukan yang terparah. Dengan demikian anggap saja kericuhan ini bagian dari dinamika organisasi.

Sekaligus sebagai pembelajaran bagi kader yang mau terjun ke politik. Bahwa proses politik itu seringkali dibumbui kekerasan. Politik sekarang ini politik hibrida. Proses politik tidak cukup dengan lobi, negosiasi, tetapi juga propaganda, kekerasan, intimidasi. Ke depan politik hibrida ini akan semakin menggigit. Nah, di sinilah salah satu seksinya kericuhan Kongres.

Kedua, HMI itu organisasi anak muda. Tingkat emosinya masih tinggi. Sementara intelektualitasnya ya masih datarlah. Cuma mereka saja kadang-kadang kemenyek merasa sudah hebat. Tapi itu pun tidak apa-apa. Karena anak muda itu ibarat padi yang masih hijau, gabahnya belum berisi sehingga berdiri mendongak.

Apalagi ini jaman digital. Jaman medsos. Medsos itu konsumsi emosional. Di situ emosi berubah-ubah secara cepat. Dari ketawa tiba-tiba ngamuk. Dari grup persaudaraan berubah jadi grup gegeran. Medsos itu menaikkan daya emosionalitas. Saat bersamaan menurunkan daya intelektualitas. Maka para ”ahlul medsos” lazimnya baperan.

Kebalikan dengan buku. Buku itu konsumsi intelektualitas. Membaca buku itu ada waktu dan energi merenung. Menelaah. Menimbang-nimbang. Buku membahas persoalan secara lebih menyeluruh. Kenapa generasi awwalun HMI pintar-pintar, intelektualitasnya mumpuni karena mereka pedoyan buku. Betapa mereka bangga jika kamar kostnya penuh dengan buku.

Saya menduga mayoritas peserta Kongres ini ahlul medsos. Hanya masalahnya, apakah kader-kader HMI sudah merasa puas menjadi ahlul medsos?

“Politik transaksional”

Ketiga, kericuhan itu pertanda tidak ada operasi senyap dengan uang. Di jaman now, alat efektif yang bisa membikin diam itu uang. Kalau uang justru malah bikin ricuh itu berarti pembangian tidak merata atau ada entit-entitan.

Saya sangat prihatin ketika berembus kabar Kongres di Jogja ada isu cukong membawa karungan uang di arena Kongres. Ada kandidat bagi-bagi uang pulsa. Uang tiket. Entah apapun namanya. Yang jelas itu bagian dari politik transaksional. Benar tidaknya saya tidak tahu.

Kok bisa cukong terlibat? Sangat mungkin. Pimpinan HMI itu berpotensi menjadi pemimpin Indonesia. Terbukti banyak pemimpin Indonesia berlatar belakang HMI. Di Kabinet Jokowi-Ma’ruf saja ada sejumlah kader HMI. Sekian persen anggota DPR dan MPR kader HMI. Bagi cukong, membangun oligarki itu dimulai sejak dini.

Berdasar ilmu titenologi, saat ini ada kader-kader HMI yang sudah jadi alumni masuk dalam jaringan oligarki. Konon Indonesia saat ini dikendalikan oleh kekuatan oligarki. Dan bisa jadi justru mereka itu kini jadi patron para kader yang ikut Kongres.

“Tarekat intelektual”

Anggap saja, sekali lagi, ricuh ini dinamika organisasi sesaat. Jangan diperpanjang. Jangan sampai HMI tersempal seperti jaman HMI MPO.

Sebagi orang tua, saya tidak bisa mengatakan kalian harus begini kalian harus begitu. Bernostalgia jaman saya muda. Kader-kader sekarang hidup dengan masalah dan tantangan tersendiri. Punya jaman sendiri.

Hanya karena di akhir jaman, saya mengingatkan bahwa HMI harus menjadi generasi yang didatangkan oleh Allah. Generasi yang dicintai Allah dan mereka mencintai-Nya. Yang bersikap lemah lembut terhadap orang-orang yang beriman, tetapi bersikap tegas/keras terhadap orang-orang pagan. Yang berjihad di jalan Allah. Tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. (Quran 5:54).

Kader-kader HMI sebaiknya melakukan “tarekat intelektual” dalam arti berani prihatin. Tidak larut dalam kemegahan dunia. Tidak hanyut dalam materialisme, liberalisme, hedonisme. Seperti yang disimbolkan dengan anak muda yang ikut Nabi Musa berguru kepada Hidlir. Seperti generasi Ashabul Kahfi yang dirahmati Allah.Salah satu isi “tarekat intelektual” itu adalah berani menunda kesenangan.

Berani menunda kesenangan inilah yang dinasehatkan Cak Nur kepada seorang mantan ketua umum HMI. Dia ini karier politik sangat cemerlang. Banyak yang memprediksi, selangkah lagi dia menjadi pemimpin RI. Sayang, dia melupakan nasehat Cak Nur. Akhirnya, bukan hanya pupus karier politiknya, malah masuk penjara.

Coba pasca ricuh ini, melakukan “tarekat intelektual” sehingga menjadi danau yang tenang, bening setelah bergelombang diterjang badai. Rabbi a’lam.

Anwar Hudijono,
kolumnis tinggal di Sidoarjo