Di Tengah Covid, Pesantren Menjaga Budaya Belajar (bagian 3 Tamat)

Anwar Hudijono. (istimewa)

Oleh: Anwar Hudijono

Warga pesantren sudah mafhum betul, setiap menghadapi ujian itu yang jadi pegangan pokok adalah Al Quran dan Hadits. Di antaranya di Quran Surah Al Baqarah 152 – 157. Ujian itu bisa berupa ketakutan, kelaparan, kekurangan harta atau miskin, jiwa (sakit, mati), dan buah-buahan atau pangan.

Dimulai dengan rasa syukur dan jangan ingkar kepada Allah. Fadzkuruni adzkurkum wasykuri wala takfurun. Maka ingatlah kepada Ku, Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku. (Ayat 152).

Bersikap sabar dan melakukan shalat. Yakin Allah bersama orang yang sabar. Ending dari sabar dan shalat itu akan mendapat ampunan dan rahmat dari Allah. Dengan begitu termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk.

Penyelenggaraan pendidikan di pesantren itu memiliki paradigma, asas atau khittah yang sangat kokoh yaitu sebagai pengamalan jihad fi sabilillah. Menjalankan perintah Allah untuk menyiapkan generasi beriman dan berilmu. Cerdas. Ulul albab. Ilmu yang dikembangkan adalah ilmu yang barokah. Hanya orang berilmu yang bisa memahami ayat-ayat Allah. Maka paketnya adalah iman-ilmu-amal sholeh.

Antitesisnya adalah setan yang suka kebodohan. Membikin manusia bodoh. Agar mudah ditipu. Dijerumuskan ke neraka jahanam.

Setan juga akan menutup orang berilmu dari iman sehingga ilmunya membawa kerusakan. Contohnya Qorun, orang cerdas. Dengan kecerdasannya menjadi kaya. Akhirnya termasuk golongan mufsidin (berbuat kerusakan di bumi).

Sistem pembelajaran pesantren sudah memiliki pedoman, khasanah sendiri dan teruji beradab-abad. Di antaranya tak bisa diganti dengan model pembelajaran virtual. Pendidikan pesantren sangat mengutamakan pembentukan sikap. Karakter. Ahlak. Sampai-sampai kitab Ta’lim al Muta’alim sebagai referensinya diajarkan sekitar dua tahun.

Pembentukan sikap tidak bisa dilakukan secara virtual. Melainkan harus dalam praktek kehidupan sehari-hari. Melalui pembiasaan. Seperti pembiasaan shalat jamaah, shalat tahajud, baca Quran, silaturahmi. Kedekatan personal santri dengan kiai. Jalinan hubungan batin yang intens. Sanftri magang kepada kiai. Santri yunior magang kepada santri senior. Dibingkai dalam jamaah. Tidak ada Islam tanpa jamaah. Tidak ada jamaah tanpa baiat (kesetiaan).

Maka proses pembelajaran di pesantren berlangsung 24 jam. Di situlah letak perannya sebagai penjaga dan pengembang budaya belajar.

Hidup normal

Praktis pesantren sudah kembali berpikiran sehat. Hidup normal. Dan ternyata thayib-thayib (baik-baik) saja. Pesantren tidak kiamat. Tidak jadi sumber bencana Covid-19.

Ingat, dulu setelah kasus Covid di Pesantren Temboro di awal Covid, disusul pesantren lain seperti Gontor, masyarakat pesantren diganyang, diharu-biru. Disalah-salahkan.

Tapi warga pesantren tetap sabar dan tenang-tenang saja. Ikhlas menerima. Dicaci maki, dipersekusi itu sudah konsekuensi ketika mencintai Allah. (Quran, Al Maidah 54).

Kalau ada yang terinfeksi Covid-19 ya diobati seperti halnya penyakit lain. Karena memang begitu petunjuk Islam. Sakit ya diobati. Diobati itu endingnya ada dua, sembuh atau mati. Gak ada yang luar biasa. Tidak ada kamus ending Covid-19 mesti mati. Tidak ada catatan ending bahwa batuk pilek encok wazir mesti berakhir sembuh.

Jika ada yang mati karena Covid-19 tetap dipandang peristiwa biasa. Diterima dengan ikhlas. Sudah takdir Allah. Pembaca Ratib Hadad pasti mafhum akan menerima takdir Allah yang baik maupun yang buruk.

Tidak kena Covid pun orang pasti mati. Orang tidur di kasur empuk di rumah saja juga bisa mati. Makan kerupuk keleleken toplesnya juga bisa mati. Ketiban paku juga bisa mati karena pakunya katutan beton cor. Orang pesantren mafhum sekali bahwa mati itu, baik waktu dan tempat, sudah menjadi takdir Allah.

Tidak peduli dengan narasi kasus Covid yang didramatisasi seperti film horor. Super mengerikan. Bahwa penderita Covid akan dikarantina di rumah sakit sendiri. Sejak berangkat dari rumah bisa tidak akan melihat keluarga lagi selamanya. Pemakamannya di tempat khusus. Dilakukan secara khusus dan penuh mistis.

Narasi atau framing seperti itu akan ditanggapi dengan santai, bahwa orang mau mati juga gak pernah mikir ada keluarga apa tidak. Merasakan sakaratul maut saja sudah luar biasa sakitnya, boro-boro mikir keluarga, apalagi mikir partai dan duit. Orang mati itu pasti sendirian. Anak istri/suami juga gak mau mengikuti.

Orang yang sudah mati juga gak ngurus apa dimakamkan di pemakaman umum atau di pemakaman khusus Covid-19. Memang kalau di pemakaman khusus pertanyaan kuburnya berbeda? Siksa kuburnya didiskon?

Kesabaran mereka itu seperti lautan. Diprovokasi, dijejali hoax, dipropaganda, didisinformasi tetap tak berubah.

Otoritas

Langkah pesantren ini, insya Allah sudah mengilhami banyak penyelenggara sekolah. Mereka semakin berakal sehat menyikapi Covid. Mempertanyakan yang disiplin prokes seperti Doni Monardo, Anies Baswedan, Khofifah juga kena Covid. Yang di pasar sehari-hari nyaris tanpa prokes tidak apa-apa. Yang sudah vaksin bisa terinfeksi. Terus apa?

Kok seperti gak pernah ada berita mall, café, sarana dugem jadi sarang Covid. Kalau ada sekolah atau pesantren yang kena, dunia maya seperti mau runtuh. Orang yang tidak percaya Covid terinfeksi jadi berita dahsyat. Orang yang percaya Covid dan terinfeksi senyap dari pemberitaan.

Diam-diam sudah banyak sekolah melakukan tatap muka. Wisuda sekolah pun dilakukan sembunyi-sembunyi. Ada yang pakai sistem drive thru. Sudah membuat festival. Dan itu bagus. Dan aman-aman saja.

Para guru sangat mafhum bahwa pendidikan tidak identik dengan sekolah. Sekolah tidak identik dengan kelas. Kelas tidak identik dengan sepetak ruang dengan papan tulis dan meja-kursi. Belajar biasa di mana saja. Jadwal bisa diatur. Di situlah mereka berkreasi untuk keluar dari ancaman matinya budaya belajar.

Penyelenggara sekolah, kepala sekolah para guru sebenarnya sudah mampu melepaskan diri dari cenkeraman Covid-19. Tapi masih ada yang mencekeram mereka yaitu pihak otoritas. Bisa itu yayasan, organisasi yang menaungi. Juga otoritas lain. Nah, siapa otoritas lain itu? Di sini saya juga bertakon-takon.

Konon sebenarnya sudah banyak yayasan dan organisasi yang sudah lepas dari cengkeraman paranoid pandemi Covid-19. Tapi mereka masih bersikap hati-hati dan bijaksana. Khususnya kalangan muslim. Sebab bisa muncul fitnah yang tak kalah dahsyat bahwa umat Islam itu melawan pemerintah. Tidak mau taat. Nah, akan menciptakan pandemi fobia Islam. Bisa menjadi pemantik dahsyat kerusakan sosial, bahkan negara.

Di banyak belahan dunia, kini dunia pendidikan banyak berharap kearifan otoritas. Sayangnya, kadang pendidikan itu justru berada di bawah orotitas subyek yang tidak paham pendidikan. Lebih peduli urusan uang dibanding sumber daya manusia. Yang paling tragis itu jika otoritas lebih percaya bahkan menghamba kepada artificial intelligent (AI) dibanding kemanusiaan.

Dan siapakah operator terbesar artificial intelligent global ini? Jangan tanya saya. Karena paling-paling akan saya jawab, “Embuuuh hahahaa.”

Teliti dulu

Di akhir tulisan ini, saya mohon pembaca tidak begitu saja setuju, like dan share tulisan ini. Hati-hati. Teliti dulu. Apalagi ini tulisan orang yang sangat awam.

Ini era disinformasi. Di ranah publik sudah tidak jelas mana hoax dan mana yang benar. Mana info palsu dan mana yang ori. Campur baur tidak keruan. Orang-orangnya pun juga tidak jelas mana yang fasik mana yang baik.

Kita harus belajar cerdas dan bijaksana menyikapi setiap informasi. Untuk itu, ikutilah petunjuk Allah dalam Quran surah Al Hujurat 6: “Wahai orang yang beriman jika orang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan) yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu”.

Astaghfirullahal adhim.

Rabbana atina min ladunka rahmah wa hayyiklana min amrina rosada. Ya Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah petunjuk yang lurus bagi kami dalam urusan kami.” (Quran, Kahfi 10).

Rabbi a’lam (Tuhan lebih tahu).

Anwar Hudijono,
penulis tinggal di Sidoarjo.

Di Tengah Covid, Pesantren Menjaga Budaya Belajar (bagian 2)

Anwar Hudijono. (Istimewa)

Oleh: Anwar Hudijono

Ketika pertama kali Covid-19 muncul, seperti masyarakat pada umumnya, ada kalangan pesantren yang sempat kaget dan panik. Itu manusiawilah. Nabi Musa saja sempat takut dan panik ketika baru melihat ular-ular tukang sihirnya Firaun.

Tapi setelah mendapat petunjuk Allah bahwa ular-ular itu hanya tipuan, halusinasi, tidak nyata, Musa tenang. Dan meneruskan jihadnya menyampaikan risalah Allah kepada Firaun. Dan Musa menang.

Malah ada seorang kiai sepuh di daerah Nganjuk yang sejak awal bersikap tenang. Seperti tenangnya gunung tatkala diterpa angin. Menyatakan Covid-19 tidak ada. Blak-blakan saja saya semula menganggap Mbah Kiai ini sekadar anti-mainstream. Kurang informasi. Gagal paham.
Tapi lama-lama saya jadi mikir, jangan-jangan maksud kalimat “Covid-19 tidak ada” ini antara Mbah Kiai dengan saya berbeda. Jangan-jangan karena instrumen yang digunakan Mbah Kiai berbeda dengan yang saya pakai. Mbah Kiai melihat Covid ini dengan mata batin (bashirah), sementara saya ini memahami dengan mata handphone.

Saya mulai mikir, jangan-jangan justru saya ini yang gagal paham bin keblinger karena terlalu banyak membaca, melihat informasi tentang Covid-19. Ini bukan era informasi tapi disinformasi. Jangan-jangan yang saya baca, lihat dengarkan melalui medsos, media mainstream itu disinformasi. Yang saya anggap benar sebenarnya palsu. Dan yang saya anggap palsu justru benar. Campuran hoax dan fakta. Tidak jelas mana yang benar dan mana yang palsu. Sudah bercampur baur yang hak dan yang batil. Dalam istilah fiqih disebut syubhat. Kira-kira artinya remang-remang.

Saya mulai mikir lagi Hadits Rasulullah: “Sungguh demi Allah. Ada sesorang mendatangi dalam keadaan mengira bahwasanya dia itu beriman. Namun, pada akhirnya malah menjadi pengikutnya disebabkan syubhat-syubhat yang dia (Dajjal) sampaikan. (HR Ahmad). (A’udzubika min syarri masihid-dajjal.)

Ingat Mbah Kiai ini saya jadi ingat Nabi Hidlir. (Bukan bermaksud menjustifikasi Mbah Kiai ini seperti Hidlir). Hidlir tinggal sendirian di pertemuan dua samudera. Tidak pernah ke kota. Tapi dia mengetahui pemilik rumah reyot yaitu dua orang anak yatim anak orang saleh. Di dalam tanag di bawah rumah itu tersimpan harta karun. Musa yang menggunakan mata eksternal tidak mengetahuinya.

Hidlir tidak pernah bergaul dengan para nelayan, tetapi paham betul ada penguasa dzalim yang hendak merampas perahu para nelayan itu. (Pelajaran dari Allah itu implisit di dalam kisah Musa-Hidlir yang tertuang di dalam Quran, Kahfi 60-82).

Mbah Kiai ini mungkin memang tidak gaul luas. Mungkin juga gak androidan. Dia ahli tarekat. Insya Allah dzikir mengalir bersama desah nafasnya. (Nyuwun pengapunten Mbah Kiai. Saya sudah keminter, sok pintar dan sok tahu. Musa dulu juga sok keminter kepada Hidlir hahaha.)

Ujian dari Allah

Ketakutan kalangan pesantren tidak berlangsung lama. Ibarat orang diterjang banjir, setelah sempat tergagap beberapa bentar mereka segera memegang akar yang kuat untuk menyelamatkan diri. Akar itu adalah Quran dan Hadits. Kesimpulannya, Covid-19 ini ujian dari Allah. Untuk menyeleksi hamba-Nya.

“Yang menciptakan mati dan hidup untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa, Maha Pengampun.” (Quran, Al Muluk 2).

Covid-19 ini bisa saja tidak bersifat natural seperti angin yang merobohkan rumah. Tapi, hasil konspirasi setan (jin dan manusia) – misalnya dengan melalukan rekayasa genetika atau semacam senjata biologi. Tetapi tetap saja bisa terjadi atas ijin Allah. Bi idznillah. Tanpa ijin Allah semuanya mustahil terjadi. Dan Allah menggunakannya untuk menguji manusia.

Referensinya adalah Nabi Ayub diuji Allah dengan mengijinkan setan menginfeksikan penyakit ke tubuh Ayub. Efeknya penyakitnya jauh lebih dahsyat dibanding Covid-19. Betapa tidak, hampir seluruh tubuh Ayub berborok yang bernanah, dirubung set.

Ada lagi. Setan membunuh anak-anak Ayub. Iblis membakar pertanian Ayub sampai kekurangan pangan. Jatuh miskin. Belum cukup? Masih ditambah istrinya ngambek. Lengkap pol ujian untuk Ayub.

“Dan ingatlah ketika hamba Kami Ayyub ketika dia menyeru Tuhannya, sesungguhnya aku diganggu setan dengan penderitaan dan bencana”. (Quran, Shad 41).

Dalam ayat itu Ayub jelas menyebut setan. Dan setan itu terdiri dari dua golongan yaitu jin dan manusia. Jin dan setan bisa saja berkonspirasi menganiaya Ayub.
Ayub lulus dari ujian yang sangat berat itu. Dan Allah menghargai dengan karunia yang sangat besar.

“Dan Kami anugerahi dia (dengan mengumpulkan kembali) keluarganya dan Kami lipatgandakan jumlah mereka, sebagai rahmat dari Kami dan pelajaran bagi orang-orang yang berpikiran sehat”. (Quran, Shad 43).

Warga pesantren sudah mafhum betul, setiap menghadapi ujian itu yang jadi pegangan pokok antara lain Quran Surah Al Baqarah 152 – 157. Ujian itu bisa berupa ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa (sakit, mati), dan buah-buahan.

Dimulai dengan rasa syukur. Bersikap sabar dan shalat. Yakin Allah bersama orang yang sabar. Jika mati ketika menghadapi ujian, maka termasuk jihad fi sabilillah. Ending dari sabar dan shalat itu akan mendapat ampunan dan rahmat dari Allah. Dengan begitu termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk.

Penyelenggaraan pendidikan di pesantren itu memiliki paradigma, asas dasar yang sangat kokoh yaitu sebagai jihad fi sabilillah. Menyiapkan generasi berilmu. Cerdas. Ulul albab. Ilmu yang dikembangkan ilmu yang barokah. Hanya orang berilmu yang bisa memahami ayat-ayat Allah. Bukan ilmu yang diperlakukan seperti komoditas.

Model virtual

Sistem pembelajaran pesantren sudah memiliki pedoman, khasanah sendiri dan teruji. Di antaranya tak bisa diganti dengan model pembelajaran virtual. Pendidikan pesantren sangat mengutamakan pembentukan sikap. Karakter. Ahlak. Sampai-sampai kitab Ta’lim al Muta’alim diajarkan sekitar dua tahun.

Pembentukan sikap tidak bisa dilakukan secara virtual. Melainkan harus dalam praktek kehidupan sehari-hari. Melalui pembiasaan. Seperti pembiasaan Shalat jamaah, shalat tahajud, baca Quran, silaturahmi. Kedekatan personal santri dengan kiai. Jalinan hubungan batin yang intens.

Maka proses pembelajaran di pesantren berlangsung 24 jam. Di situlah letak perannya sebagai penjaga dan pengembang budaya belajar.

Praktis pesantren sudah kembali berpikiran sehat. Hidup normal. Dan ternyata thayib-thayib (baik-baik) saja. Kalau ada yang terinfeksi Covid-19 ya diobati seperti halnya penyakit lain. Sakit itu protapnya kalau tidak sembuh ya mati. Gak ada yang luar biasa.

Jika ada yang mati tetap dipandandang peristiwa biasa. Sudah takdir Allah. Tidak kena Covid pun orang pasti mati. Orang tidur di kasur empuk di rumah saja juga bisa mati. Lagi makan pecel di warung juga bisa mati setelah ada truk yang nyelonong nabrak.

Soal di-branding mati tanpa ditunggui keluarga, pemakamannya secara khusus dan terkesan mengerikan, akan dijawab orang mati itu pasti sendirian. Anak istrinya juga gak mau mengikuti. Orang mau mati juga gak pernah mikir ada keluarga apa tidak. Merasakan sakaratul maut saja sudah luar biasa sakitnya, boro-boro mikir partai, keluarga.

Kesabaran mereka itu seperti lautan. Diprovokasi, dijejali hoax, dipropaganda, didisinformasi tetap tak berubah.

Langkah pesantren ini, insya Allah sudah mengilhami banyak penyelenggara sekolah. Diam-diam sudah banyak sekolah melakukan tatap muka. Wisuda sekolah pun dilakukan sembunyi-sembunyi. Ada yang pakai sistem drive thru. Sudah membuat festival. Dan itu bagus. Dan aman-aman saja.

Penyelenggara sekolah, kepala sekolah para guru sebenarnya sudah mampu melepaskan diri dari cenkeraman Covid-19. Tapi masih ada yang mencekeram mereka yaitu pihak otoritas. Bisa itu yayasan dan organisasi yang menaungi. Juga otoritas lain (sampai di sini saya lupa dan mrinding).

Kadang pendidikan itu berada di bawah orotitas subyek yang tidak paham pendidikan. Lebih peduli urusan uang dibanding sumber daya manusia. Yang paling tragis itu jika otoritas lebih percaya bahkan menghamba kepada artificial intelligent (AI) dibanding kemanusiaan. Dan kita tahu siapa operator terbesar AI global ini.
Astaghfirullahal adhim.

Rabbana atina min ladunka rahmah wa hayyiklana min amrina rosada. Ya Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah petunjuk yang lurus bagi kami dalam urusan kami.” (Quran, Kahfi 10).
Rabbi a’lam (Tuhan lebih tahu).

Anwar Hudijono,
penulis tinggal di Sidoarjo.

Di Tengah Covid, Pesantren Menjaga Budaya Belajar (bagian 1)

Anwar Hudijono. (istimewa)

Oleh: Anwar Hudijono

Belum lama ini saya ngobrol dengan seorang pakar pendidikan. Dia adalah guru besar. Sangat mumpuni teori. Juga sudah terbukti menjadi penyelenggara pendidikan yang hebat. Saya tidak bisa sebut namanya karena memang diskusinya bersifat informal.

Dan saya juga harus menjaga ketenangannya. Karena saat ini tidak mudah menjadi orang yang bersikap benar. Berkata benar. Bertindak benar. Orang yang menyampaikan kebenaran justru akan dibuli, dicaci maki, dianggap bodoh, dibilang ngawur, asal njeplak, diposisikan yang salah.

Yang menuduh demikian yang sebenarnya justru bodoh, ngawur, asal mengo. Ini jaman sawo dipangan uler, wong bodo ngaku pinter. (Nah, jangan-jangan saya termasuk sawo dipangan uler, bahkan sawo bosok maneh). Jaman kewalik.

Saripatinya, dia melihat di tengah pandemi Covid-19 ini, pondok pesantren, sekolah Islam berasrama atau Islamic Boarding School (IBS), dan lembaga-lembaga pendidikan yang tetap melakukan proses belajar secara tatap muka sangat berhak disebut sebagai pejuang penjaga budaya belajar. Orang-orang yang berjuang untuk menyelamatkan budaya belajar.

Dampak negatif Covid-19 memang luar biasa. Salah satunya adalah terancamnya budaya belajar. Para pemangku kepentingan pendidikan mulai pelajar, guru, penyelenggara dan sebagainya kemungkinan bisa kehilangan gairah dan arah pendidikan.

Mulanya takut terinfeksi Covid-19. Terus bingung mau bagaimana. Terus bersikap biasa: ya sudah mau apa toh masih ada Covid. Dan akhirnya normal tanpa kegiatan belajar membelajarkan. Atau belajar tapi sekadar memenuhi syarat wajib. Sekadar topeng kalau proses belajar membelajarkan masih ada.

Lama-lama malah menjadi enjoy. Menikmati. Para pelajar enak karena tidak repot-repot bangun pagi, berangkat sekolah. Orang tua juga tidak repot menyediakan sangu, atau antar-jemput anaknya. Para guru juga enjoy karena tidak repot menyiapkan model satuan belajar (MSP). Tidak pusing menghadapi murid yang bermacam-macam tingkahnya. Tidak repot harus di sekolah sekian jam sehingga bisa lebih mengurus anak. Penyelenggara sekolah juga enjoy karena ada dana yang bisa dihemat.

Kegiatan proses belajar tatap muka nyaris lumpuh. Jika toh dicoba dipaksakan, ada suasana kebatinan yang mengganjal seperti ketakutan ada yang OTG (orang tanpa gejala). Jika ada yang sekadar batuk meski cuma karena tersedak, atau sambat agak pusing, langsung dicurigai kena Covid-19. Lantas wajib swab antigen. Jika masih negatif harus PCR. Berapa duit harus keluar?

Dalam suasana psikologis berbau paranoid demikian, tidak mendukung sama sekali proses pembelajaran bisa efektif. Para guru sangat mafhum, proses belajar harus berlangsung dalam suasana bahagia. Gembira. Semangat. Saling percaya.

Pembodohan

Dalam sistem belajar virtual nyaris tidak dimungkinkan mencakup afektif (sikap), psikomotoris (ketrampilan). Hanya mencakup kognitif (pengetahuan). Tapi itupun sama sekali tidak efektif. Seorang kepala SMA di Sidoarjo dalam suatu wisuda mengakui dengan jujur, proses belajar secara virtual ini tidak efektif.

Banyak aspek teknis yang membuat sistem virtual tidak efektif. Tidak sedikit murid yang tidak punya laptop. Kalau punya pun belum tentu bisa untuk zoom. Kendala internet lemot. Kendala listrik mati. Waktu belajar yang sangat pendek.

Akhirnya apa? Pelajar malah larut dalam konten-konten kepalsuan medsos. Bantuan pulsa bukan untuk belajar, tapi untuk tiktokan, medsosan, ngegame.

Kendala-kendala teknis ini lantas ditolerir dengan tetap memberi nilai rapor minimal sesuai standar KKM. Murid tetap diluluskan. Intinya, proses penilaian tidak memenuhi asas validitas, jujur dan obyektif. Belum lagi nilai asal-asalan bahkan abal-abalan yang menyangkut sikap dan ketrampilan.

Lantas apa yang terjadi? Lembaga pendidikan berpotensi bisa menjadi pusat persemaian kebohongan.

Apa lagi? Lembaga pendidikan berpotensi jadi pengembang-biakan kebodohan. Ini ironis.

Lantas apa lagi? Lembaga pendidikan berpotensi jadi lahan subur kemalasan.

Astaghfirullahal adhim.
Rabbi a’lam (Tuhan lebih tahu).

Anwar Hudijono,
penulis tinggal di Sidoarjo.

Mimpi Sang Penakluk

Yunan Syaifullah

Oleh: Yunan Syaifullah

Burak Yilmaz, kapten Turki, seolah menjelma dan membayangkan dirinya adalah sosok Muhammad Al Fatih, Pangeran Muda Turki yang dikenal dengan Sang Penakluk dalam sejarah Otsmania klasik takkala memasuki Stadion Olympico Roma untuk menghadapi Italia dalam laga perdana Euro 2021.
Sang kapten, meski tak lagi muda, usianya sudah 35 tahun, laga dengan Italia dimaknai sebagai laga hidup mati. Bukan masalah kemenangan yang tertanam dalam pikirannya. Namun laga itu sudah dianggap sebagai laga harga diri sebagai bangsa Turki.

Sultan Mehmed II, nama aslinya Muhammad Al Fatih, Pangeran Muda Turki yang memimpin dan menaklukan Konstantinopel kala itu berada pada usia 25 tahun.

Takluknya Konstantinopel dan Sang Penakluk telah menjadi cerita suksses bagi bangsa Turki yang telah menjiwai seluruh rakyat Turki di kemudian hari. Termasuk bagi pesepak bola Turki dan Tim Nasional Turki.

Sang Penakluk memberikan pelajaran berarti tentang cita-cita dan kedaulatan. Keduanya bagi Sultan Mehmet II adalah harga diri. Jatuhnya Konstantimopel adalah jatuhnya hegemoni —dari sesuatu yang besar secara ekonomi dan politik. Begitu Konstantinopel jatuh, tak lama lagi terlahir negeri Otsmania, kelak kita kenal sebagai Turki, sebagai sinar baru bagi masyarakat Otsmania dalam berbangsa dan bernegara.

Praktek hegemoni bangsa Romawi — mewakili bangsa yang besar secara ekonomi politik terhadap bangsa dan Negara kecil menjadi api kebencian dan amarah Sultan Mehmet II untuk diperangi.
Turki seolah diposisikan sebagai bangsa dan Negara kecil, yang layak menjadi korban eksploitasi bangsa besar.

Sejarah Sang Penakluk, kemudian hari yang menjadi api semangat bagi bangsa Turki untuk membuat sejarah peradaban dunia.

Semangat dan cita-cita itulah yang tertanam dan ditunjukkan Tim nasional Turki.

Dalam percaturan sepak bola dunia, Turki bukan menjadi halaman sejarah dunia yang ditengok. Sepak Bola Turki dianggap negara kecil yang tidak memiliki kekuatan dan daya saing dalam soal sepak bola.

Industri sepak bola dimiliki negara-negara pewaris Konstantinopel hingga saat ini.
Realitas yang selalu tidak berpihak kepada Sepak Bola Turki. Kondisi hal itu bukan malah mematikan dan menyurutkan Sepak Bola Turki. Senantiasa diposisikan yang lemah (underdog) dalam kurun waktu lama. Dunia terkaget dan harus mengakui kehebatan Turki takkala Piala Dunia 2002 yang mampu menempati posisi ketiga.

Semenjak 2002, Turki tidak lagi diremehkan dalam perhelatan sepak bola dunia. Negara manapun ketika berjumpanya harus berpikir serius.
Bagi pesepak bola Turki, pertandingan dengan siapapun senantiasa dimaknai sebagai pertarungan harga diri sebagai bangsa. Dirinya bermain sepak bola bukan untuk kepentingan pribadinya. Namun dirinya adalah cermin bangsa. Sebuah bangsa yang terbangun karena harga diri.

Karena itu, Burak Yilmaz, sang kapten Turki meski telah berusia 35 tahun rela memberikan segalanya yang terbaik untuk negaranya. Demi harga diri bangsa.

Cita-cita, harga diri dan Semangat Sang Penakluk berkumpul menjadi satu sebagai mimpi kolektif untuk mengulangi cerita sukses Piala Dunia 2002. Kendati Pasukan Tim Nasional Turki 2021 yang diturunkan adalah sebagian besar sudah melewati usia emas.

Sepak bola sesungguhnya tidak berdiri tunggal dengan masalah dan aspek sosial lainnya. Karena itu, mimpi dan semangat Burak Yilmaz dalam laga tersebut menarik dipelajari. Sepak bola bukan masalah lapangan hijau.
Lapangan hijau ternyata bisa dan mampu melahirkan benih nasionalisme.
Parade nasionalisme di lapangan hijau menjadi perhatian dan perbincangan menarik dari banyak kalangan. Tidak hanya penonton dan penikmat bola. Terlebih, secara masif, pekikan nasionalisme itu ditayangkan secara live dan terus menerus. Tidak hanya, siaran langsung pertandingan bola di salah satu stasiun televisi. Tetapi juga masuk dalam postingan yang tertib dan teratur di media sosial, seperti Instagram dan Facebook.

Pekikan nasionalisme yang diproduksi secara terus menerus di berbagai kanal televisi dan media sosial, secara tidak langsung mempengaruhi persepsi dan memori para insan bola untuk dipaksa memperbincangkan. Baik itu dengan nalar kritisnya maupun skeptis.

Realita hal itu menjadi wajar dan logis. Apabila dikaitkan dengan data statistik pengguna Instagram dunia pada periode 2018 telah menyentuh angka 800 juta orang. Peringkat tertinggi, di Amerika Serikat yakni 110 juta pengguna. Nomor dua tertinggi adalah Brazil sebesar 57 juta pengguna. Menariknya, peringkat ketiga justru diraih dan ditempati Indonesia, yakni sebesar 55 juta pengguna. (databoks.katadata.co.id, 2019)

Media sosial adalah ruang yang bisa dan mampu untuk mendekatkan yang jauh menjadi lebih dekat. Intensitas komunikasi dan distribusi informasi makin dipermudah dan tinggi.

Tidak sedikit dari total populasi pengguna Instagram, kasus di Indonesia, bukan hanya pengguna perorangan tetapi juga korporasi. Termasuk para penonton bola, pemain bola, para insan bola dan korporasi yang berhubungan langsung dan tidak langsung dari lapangan hijau.
Pekikan nasionalisme dari lapangan hijau dalam waktu singkat dan cepat menjadi perbincangan menarik pecinta bola.

Menariknya, pekikan nasionalisme dari lapangan hijau yang kini sedang berlangsung dalam Euro 2021 itu telah mengarah dan menyembul menjadi heroisme baru untuk menggugurkan trauma dan kebencian yang diarahkan kedalam lapangan hijau.
Sepak bola, harus diakui, telah menjadi kecintaan bagi banyak kalangan. Sepak bola bahkan telah dan mampu menjelma menjadi ideologi untuk kemanusiaan.

Di sisi lain, sepak bola, juga mampu melahirkan kegilaan. Praktek kegilaan itulah yang menghasilkan konflik kepentingan yang tidak berujung. Kepentingan yang tidak mampu dipenuhi bisa jadi menimbulkan kebencian yang tidak pernah selesai.

Meski, hari ini, kegilaan dan konflik kepentingan dalam lapangan hijau jauh berkurang karena adanya globalisasi ekonomi yang telah menyentuh lapangan hijau.

Tehnologi yang dibawa serta globalisasi ekonomi kini mengubah wajah sepak bola. Seluruh pihak bisa mengkritisi dan mengamati dengan lebih rinci dan detail segala sesuatu yang berhubungan dengan sepak bola.

Migrasi pemain sepak bola dari negara kecil dan terbelakang menuju ke negara yang menjadi raksasa bola, makin mudah dan tinggi tingkatnya. Bahkan menjadi idola baru di lapangan hijau di negara tujuan. Seperti George Weah dan masih banyak lainnya.

Sepak bola membuat setiap orang mudah merasa antusias. Kompetisi sepak bola adalah tempat untuk bermimpi indahnya bagi seluruh komponen bola. Mulai dari pemain, penonton, wasit hingga korporasi.

Akan tetapi, yang perlu dipahami dalam memahami mimpi itu adalah terjadinya pertautan kultural yang tidak mudah. Meski bila berhasil menggabungkan pertautan kultural itu bisa menjadi kekuatan luar biasa.

Seorang João Ramos do Nascimento, yang dijuluki Dondinho, adalah pesepakbola Brasil yang bermain sebagai penyerang tengah. Dia adalah ayah, mentor dan pelatih dari legenda Brazil, Pelé pernah berujar pada sang Anak, mimpi pesepak bola bisa jatuh bila dalam diri pesepak bola tidak memiliki keyakinan dan semangat untuk maju dalam merebut mimpi.

Cerita ini bisa kita peroleh dalam film biopic yang berjudul Pele: Birth of a Legend (2016)

Pojok Pustaka, 12/06/2021

Yunan Syaifullah
Penikmat Bola, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Malang

Kerja Sama dengan Wartawan

Novi E.R

Oleh: Novy E.R
 
Wah ketemu wartawan lagi. Berita apa lagi yang akan di tulis? Siap-siap uang nih buat membayar wartawan agar beritanya tidak sembarangan.

Ide menulis tema ini saya dapatkan dari sekilas pertanyaan pre materi pembahasan saat salah satu pemateri di acara Diklat Jurnalistik pada Sabtu (5 Juni 2021) di Gedung Hall lantai 2 Perumdam Among Tirto Kota Batu memberikan materi tentang Tips Menghadapi Wartawan.

Saat itu ada pertanyaan yang dilempar kepada para  peserta diklat. “Apa yang terlintas di benak Bapak/Ibu saat mendengar kata wartawan atau bertemu dengan wartawan?” tanya Eka Susanti, sang pemateri diklat.

Saya turut serta unjuk suara, “Bisa diajak kerja sama.”
Ya, kata ‘kerja sama’ mungkin asing karena lebih banyak yang berpandangan wartawan itu mencari-cari berita, wartawan tukang pemeras, wartawan preman, wartawan tanpa Press ID dan lain-lain.

Tidak bagi saya. Mengapa? Saya orang yang berkecimpung di dunia kepenulisan cukup lama, sebuah dunia yang tidak jauh pula dengan dunia jurnalistik atau kewartawanan. Mungkin ada sekilas pandangan buruk tentang wartawan namun bisa ditepis. Thinking positive sajalah.

Lebih menginginkan untuk berkenalan saat berhadapan dengan wartawan ingin bekerja sama. Menjadi teman, teamwork di dunia kepenulisan. Untuk belajar menulis berita yang baik, belajar tanpa grogi wawancara narasumber dan menggunakan konsep dasar menulis 5W 1H. Apalagi bisa memuat tulisan saya di media cetak tanpa menunggu antrean di muat.

Wah, menghadapi wartawan dengan positive thinking, seperti pengalaman saya kaget ketika dihubungi melalui layanan whats app untuk dijadikan halaman feature sebuah media cetak (koran). Janjian bertemu, dan wawancara. Menikmati dan bahagia tatkala berhadapan dengan wartawan. Seperti bahagia ternyata saya ada kesempatan diwawancarai untuk salah satu rubrik yang ada di koran.

Wartawan itu baik kok. Asyik diajak ngobrol. Rata-rata mereka memiliki latar belakang akademik yang berkompeten dan mau belajar sehingga ngomong apa saja bisa nyambung.

Apakah wartawan selalu menuliskan semua hasil wawancara kita? Tidak dong. Hal-hal yang menyangkut ruang pribadi narasumber yang tak ingin kita publikasikan untuk khalayak umum. Kita pesan saja untuk tidak wawancara dengan menanyakan hal pribadi karena saya lebih senang wawancara dengan pertanyaan tentang kegemaran dan karya. Hal yang bersifat pribadi bukanlah untuk disebar, dijual demi ingin tenar atau viral. Wartawan memiliki kode etik jurnalistik yang pasti dipahami secara baik.

Menghadapi wartawan nakal? Wartawan nakal seperti apa? Wartawan pemeras, tanpa identitas resmi dari media mana dan wartawan preman yang suka memeras. Kita bisa menanyakan terlebih dahulu dari media mana, adakah kartu identitasnya sebagai seorang jurnalis? Kalau tidak punya ID card atau kartu identitas, apakah punya blog pribadi yang biasa untuk menuliskan hasil wawancara. Bila itu sang wartawan nakal suka menulis profile narasumber. Karena saya yang bergulat dengan dunia kepenulisan dan publikasi online melalui blog, ada sebuah komunitas yang anggotanya disarnakan unutk belajar wawancara anggota yang lain. Hasilnya di  tulis melalui website atu blog yang dikelola bersama.

Era sekarang bisa cek tulisan wartawan yang asli bertugas sebagai jurnalis sebuah media maupun wartawan independen seperti yang belajar menulis berita di blog pribadi maupun blog bersama. Silakan cek dan ricek melalui sosial media atau blog.

So, bagi kalian yang belum mengenal siapa itu wartawan,  jangan takut. Jangan grogi.  Berpikir positif saat bertemu wartawan. Bisa kerja sama.
 
Bloger dan Karyawati
Novy E.R

Politik Moral Ustad Aburrahim Nur

Anwar Hudijono

Oleh: Anwar Hudijono

Gawat! Proses kelahiran Partai Amanat Nasional (PAN) Jawa Timur ibarat bayi mengalami blooding. Pendarahan. Risikonya bayi lahir cacat. Minimal mengidap penyakit bawaan yang bisa membuat pertumbuhan bayi enggrik-enggriken. Sakit-sakitan.

Penyebab utamanya, mereka yang menangangi proses kelahiran itu bertengkar sendiri. Mereka orang-orang terbaik. Tetapi ternyata untuk mengkompromikan orang-orang terbaik itu tidak mudah. Ibarat mencampur tembakau enak dengan soto enak. Hasilnya malah tidak enak.
Maka haruslah dicari tokoh yang bisa menyelamatkan kelahiran PAN Jatim. Persyaratannya banyak. Memiliki power yang disegani para pihak yang bertikai. Yang mampu meredam konflik yang sudah meledak. Bisa merangkul semua pihak, termasuk yang bertikai, untuk saiyek saekoproyo (bekerja bersama-sama) membesarkan PAN. Harus memiliki massa yang besar karena partai itu intinya adalah jumlah pendukung.

Ternyata untuk menemukan figur demikian sangat sulit ibarat mencari sebatang pohon ciplukan di antara rerimbunan padang perdu. Sampai beberapa lama tidak ditemukan. Sementara waktu semakin dekat dengan pemilu 1999. Padahal sebagai partai baru, PAN jelas membutuhkan persiapan yang panjang.

Akhirnya figur yang dicari-cari itu ketemu. Dialah Ustad Abdurrahim Nur. Konon menurut sahibul kabar, yang menemukan Ketua Umum DPP PAN Amien Rais sendiri. Amien pula yang meminang.
Kalau saja bukan Amien yang meminang, perkiraan saya, Ustad Rahim langsung menolak. Partai politik itu bukan makomnya. Bukan tempatnya. Dia sudah niat mewakafkan jiwa-raganya untuk Muhammadiyah. Saat itu menjadi Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur. Totalitas berkhidmat sebagai dosen di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Ampel Surabaya. Mengasuh Yayasan Nurul Azhar Porong, Sidoarjo yang mengelola masjid, Panti Asuhan Yatim Piatu Nurul Azhar. Menjaga umat dengan mengasuh pengajian Fajar Sodiq.

Masalahnya, yang meminta Amien Rais. Hubungannya dengan Amien selama ini sangat baik. Bukan sekadar hubungan struktural Amien sebagai Ketua PP Muhammadiyah sedang Ustad Rahim sebagai Ketua PWM Jatim, tetapi hubungan itu sampai tingkat personal. Hal ini membuat ewuh pakewuh. Dilematis. Oleh karena itu, cukup lama waktu yang dibutuhkan untuk memutuskan pinangan Amien tersebut.

Bukan politisi
Ustad Rahim bukan politisi. Tidak pernah terjun di dunia politik praktis. Tetapi cukup memahami seluk beluk perkembangan politik. Salah satu jalur untuk mengikuti perkembangan politik adalah putranya, Muhammad Mirdasy, seorang politisi tulen. Ibarat emas gitu benar-benar 24 karat. Bukan hanya 18 karat, apalagi emas sepuhan. Mirdasy pernah jadi anggota DPRD Jawa Timur dari PPP.

Ustad Rahim itu memandang politik itu dalam kaidah assyiasatu min furuin syar’i (politik itu cabangnya syariah). Dengan demikian cara ia memandang sangat normatif. Politik dalam konteks baik dan buruk, manfaat dan madlarat, pantas dan tidak pantas, boleh dan tidak boleh, halal dan haram. Tidak ada yang sama-samar atau subhat. Karena subhat itu wilayah yang dibawa Dajjal. Bergerak di bidang politik itu bagian dari dakwah amar ma’ruf nahi mungkar.

Sementara politik kepartaian itu memiliki ukuran-ukuran lain. Memandang politik itu dalam konteks menang dan kalah, untung-rugi, mendapat atau menyetor. Berkiprah di politik kepartaian itu sering kali layaknya berjudi. Bisa pulang sebagai pahlawan dengan membawa pampasan. Bisa pulang ngeslong alias kalah habis-habisan. Malah bisa-bisa tidak berani pulang. Tidur di pasar bantalan gubis.

Politik kepataian itu banyak wilayah subhatnya. Seolah semua dikemas dalam jargon pengabdian. Entah pengabdian kepada partai, rakyat, bangsa dan negara. Tetapi konten sebenarnya untuk mendapat kekuasaan, uang, popularitas, puji-pujian, bahkan entit-entitan.

Intinya, politik kepartaian itu sering kali lekang dari norma-norma. Menghalalkan segala cara. Pagi teman, sore bisa jadi lawan. Berlaku kaidah, tidak ada teman sejati. Yang ada hanya kepentingan diri. Bisa saja penampilan bak malaikat, tetapi di dalam hatinya menyimpan setan. Bukan idealisme yang mengikat tetapi kepentingan praktis. Maka politik menjadi sangat transaksional. Politik menjadi arena petualangan. Politik menjadi pentas badut-badut, pecundang dan pemenang.

Apakah dirinya mampu mempertemukan politik normatif dengan trends politik kepartaian? Ini kabarnya juga menjadi salah satu faktor mengapa cukup lama tidak segera menjawab permohonan Amien Rais.

Trauma Masyumi
Kabar Ustad Rahim dipinang Amien Rais menyeruak santer di kalangan umat Muhammadiyah. Terjadilah polarisasi umat. Ada yang menolak, ada yang setuju, ada yang hati-hati.
Yang menolak pun dengan alasan sendiri-sendiri. Ada kelompok Muhammadiyah konservatif. Mereka masih trauma politik ketika Muhammadiyah bersinggungan dengan politik kepartaian. Yang ternyata hanya merugikan Muhammadiyah.

Contohnya, ketika Muhammadiyah menjadi anggota istimewa Masyumi, terjadilah eksodus besar-besaran dari warga Muhammadiyah yang bukan pendukung Masyumi. Yang paling banyak dari kalangan Partai Nasionalis Indonesia (PNI).
Pada jaman Orde Baru, Muhammadiyah terlibat dalam pendirian Partai Muslimin Indonesia (Parmusi). Ternyata tokoh-tokoh Muhammadiyah seperti Lukman Harun dan Djarnawi Hadikusumo disingkirkan secara menyakitkan. Muhammadiyah hanya dijadikan legitimasi oleh Orde Baru. Hanya dijadikan tumbal agar seolah di Indonesia ada demokrasi.

Kalangan partai juga juga yang menolak Ustad Rahim memimpin PAN Jatim karena khawatir warga Muhammadiyah yang menyebar di banyak partai akan berduyun-duyun mengikuti jejak Ustad Rahim. Dengan begitu partai akan kehilangan asetnya.
Ada juga kelompok yang menolak karena Ustad Rahim tidak memiliki pengalaman di partai politik. Padahal sebuah partai baru harus dipimpin orang yang pengalaman. Karena akan bersaing dengan partai-partai yang sudah mapan, dan partai-partai baru dipimpin orang-orang lama.

Yang bersikap mendukung umumnya karena Ustad Rahim diyakini bisa menjadi figur pemersatu kelompok-kelompok yang berkonflik. Ustad Rahim memiliki potensi menjadi vote getter, pendulang suara warga Muhammadiyah.

Ustad Aburrahim Nur. (Istimewa)

Reformasi
Pada akhirnya Ustad Rahim bersedia memimpin PAN Jatim. Saya tidak tahu persis apa yang mendorong dia bersedia. Hanya saya perkirakan karena sejalan dengan arus besar di tingkat Pimpinan Pusat Muhammadiyah, baik bersifat institusional maupun personal.

Arus pemikiran yang berkembang di PP bahwa Amien Rais ketika memimpin gerakan reformasi Indonesia tidak lepas dari posisinya sebagai Ketua PP Muhammadiyah. Dukungan Muhammadiyah terhadap reformasi Amien dalam kerangka high politics, politik moral, politik nilai. Untuk menegakkan keadilan. Untuk membawa Indonesia lebih baik dan lebih maju. Tanpa Muhammadiyah di belakangnya, power politik Amien Rais kecil.

Pada saat itu reformasi berada di persimpangan jalan. Pertama, bisa atret, kembali ke masa Orde Baru. Karena sebenarnya kekuatan Orde Baru masih digdaya. Kekuatan lama sudah terlalu menikmati hasil korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) yang menjadi watak Orde Baru. Mereka tidak ingin kehilangan kenikmatan. Ibaratnya tidak mau melepeh permen yang sudah dikulum.

Kedua, banyaknya begal politik. Artinya, banyak kekuatan yang ingin membegal reformasi untuk dipergunakan menjalankan agendanya sendiri. Mereka menyelinap seolah-olah reformis. Padahal mereka justru akan membunuh ruh reformasi. Jika reformasi ibarat bus umum, mereka menjadi penumpang tapi diam-diam secara julig dan pengecut ingin merebut kemudi bus untuk dibawa ke tujuannya sendiri.

Kekuatan Orde Baru dan para begal politik ini sangat mungkin untuk berkolaborasi. Karena sebenarnya, mereka sama-sama tidak ingin agenda reformasi itu berjalan sukses. Jika reformasi lancar jaya, mereka sama-sama akan tergilas.
Boleh dibilang yang paham betul ruh reformasi itu ya Amien Rais. Tapi kini posisi Amien Rais benar-benar kinepung wakul binoyo mangap, dikepung ancaman yang sangat membahayakan. Bukan hanya dari kekuatan lama dan begal politik, kekuatan politik internasional juga tidak mendukungnya karena mencurigai Amien akan membesarkan Islam. Sementara dunia sudah dikendalikan kekuatan fobia Islam.

Maka kalau Muhammadiyah sampai membiarkan Amien, sama saja dengan dzalim. Membiarkan kader terbaiknya di tepi pantai sementara ancaman di laut berupa tsunami sudah mengincar. Dari darat ada macan dan serigala siap menerkam. Dari tepian pantai ada buaya-buaya yang ganas siap mencabik-cabik.

Secara cerdas, dukungan itu direaliasi dalam bentuk dukungan dari para pemimpin Muhammadiyah yang bersifat personal. Institusi Muhammadiyah mendukung secara informal. Sementara Muhammadiyah secara formal institusional tetap menjaga jarak dengan partai politik. Politik Muhammadiyah tetap high politics. Bukan low politics. Bukan politik praktis. Bukan politik kepartaian.

Saya kira, sekali lagi, landasan paling kuat Ustad Rahim bersedia memimpin PAN Jatim karena sikap takzimnya ke Muhammadiyah.

Kader Muhammadiyah
Ustad Rahim menjadikan kader-kader Muhammadiyah sebagai core PAN Jatim. Ia memilih Wahyudi menjadi sekretaris PAN Jatim. Wahyudi adalah sekretaris PWM. Banyak kader muda Muhammadiyah yang masuk di jajaran pengurus. Seperti Kuswiyanto, Suli Daim, Masfuk, Tamhid, Sugeng, Sulthon Amin, Suyoto. Saya yang di PWM berada di kepengurusan jajaran paling bawah alias hanya bolo dupak, didapuk menjadi Koordinator Humas PAN Jatim.

Core ini menjadi sokoguru penting. Ibarat rumah, jika tidak memiliki sokoguru yang kuat akan mudah goyang diterpa gempa, bahkan roboh. Untuk menunjukkan identitas PAN sebagai partai terbuka, demokratis, inklusif, Ustad Rahim banyak memasukkan figur-figur non-Muhammadiyah. Misalnya, KH Lukman Hakim yang berasal dari NU. Syaiful Anam asal HMI. Thimotius Kwanda, dosen Universitas Kristen Petra. Kaisar Victoria, budayawan dan penyiar radio. Susono, pengusaha. Banyak purnawirawan, pengusaha, intelektual.
Pada saat memimpin PAN Jatim, Ustad Rahim cenderung bersikap sangat hati-hati. Ibarat masuk di kolam yang dasarnya berlumpur, Ustad Rahim mau basah tapi tanpa kecipratan lumpur. Maklum politik itu batas antara bersih dan kotor itu nyaris tidak ada. Persis kolam airnya kelihatan bening tapi di dasarnya lumpur. Sedikit saja ada ombak atau gerakan, air dengan cepat berubah kotor.

Untuk itulah ia membatasi atau fokus pada dua peran pokok. Pertama, sebagai figur pemersatu. Kedua, sebagai penjaga moral politik.
Sebenarnya di tubuh kepengurusan DPW PAN yang heterogen, merupakan gabungan banyak unsur, juga rawan friksional. Rawan konflik. Apalagi mendekati pencalonan anggota legislatif, pergerakan politik berubah dari kolaborasi ke kompetisi. Dari kompetisi bergerser ke permusuhan.

Dengan sikapnya yang bijaksana, ngemong, Ustad Rahim bisa mengelola dengan baik potensi konflik dan friksi itu sehingga tidak sampai meledak menjadi perang terbuka. Pasca Ustad Rahim, kepengurusan PAN Jatim tak pernah sepi dirundung konflik. Malah pada Konferwil di Kediri terjadi kekerasan fisik.

Abu Hasan Al Asyari
Politik Ustad Rahim itu tipikal Abu Hasan Al Asyari, sahabat Nabi yang saleh dan terkenal pada Perjanjian Daumatul Jandal untuk menyelesaikan konfrontasi Ali bin Abi Thalib dengan Muawiyah bin Abu Sufyan. Mengedepankan moral politik. Dan risiko yang dialami Ustad Rahim boleh dibilang serupa dengan resiko yang dialami Abu Hasan Al Asyari yang juga dikenal sebagai ahli ilmu kalam. Di antaranya, ada kesalahan persepsi terhadap peran sejarahnya.
Untuk itulah Ustad Rahim, menurut kesan saya, sengaja membatasi diri dari lingkup strategi dan manuver politik. Ibarat dalam sebuah permainan, ketika para pemain sudah berlaga di lapangan, Ustad memilih melihat dari luar lapangan.
Langkah itu bisa jadi karena, ya itu tadi, tidak mau kecipratan lumpur. Dia menjaga betul eksistensi keulamaannya. Martabat pribadinya sebagai seorang ilmuwan. Posisinya sebagai pemimpin umat. Ustad selalu menggambarkan pribadi seorang pemimpin umat itu harus sidik (jujur), amanat (dapat dipercaya), tablih (dapat menyampaikan risalah Islam kepada umat), dan fatonah (cerdas).

Terkesan betul bahwa dia tidak ingin peran keulamaan dan pemimpin umat yang sudah ditekuni puluhan tahun ternoda oleh residu politik seperti susu sebelanga yang terpercik wenter.
Menurut saya, Ustad Rahim sangat sadar jika tidak terkontrol dengan baik, peran politiknya itu dapat ibarat hujan deras campur badai yang dapat memporak-porandakan ladang dengan tanaman yang subur.

Berdasar pengalaman saya, jika saya mau melakukan manuver politik, termasuk yang naka-nakal dikit, saya matur Ustad Rahim. Saya tidak berani melangkahinya. Karena saya termasuk santrinya di pengajian Fajar Sodik. Adab santri itu tawadluk ke kiainya. Saya anak buahnya di PWM Jatim. Di samping itu saya hormat atas kealiman dan keulamannya.

Kalau pengurus yang lain biasa saya langkahi. Saya tidak takut kuwalat karena saya yakin mereka itu tidak malati. Biasanya mereka mendukung saja atau diam saja. Tapi mungkin saja di belakang nggerundel, malah misuhi.

Biasanya Ustad Rahim mendengar rencana manuver politik humas yang saya sampaikan. Kemudian dia mengatakan, monggo dilaksanakan jika memang itu baik. Monggo diatur bagaimana baiknya.

Banyak ruginya
Kalau menggunakan kalkulasi politik yang lazim di kepartaian, keberadaan Ustad Rahim memimpin PAN Jatim itu tidak mendapat gains (keuntungan) apa-apa. Malah banyak ruginya. Kalau di dunia bisnis mengalami capital lost. Kobol-kobol.
Orang yang berkiprah menjadi pengurus partai politik itu kan kebanyakan ingin menjadi anggota legislatif. Masuk lembaga eksekutif. Mendapat keuntungan ekonomi. Mengantongi setoran kanan-kiri. Minimal menjadi makelar dalam politik transaksional. Minimal sekali mendapat entit-entitan dana partai.

Ustad tidak mendapat semua itu. Malah duit pribadinya keluar untuk sedekah partai (sering kalau pas rapat diedarkan kotak amal untuk partai).

Tidak ada kelurganya yang menjadi anggota legislatif. Bahkan ketika putranya, Muhammad Mirdasy diisukan hendak pindah dari PPP ke PAN, sudah geger. Banyak pengurus PAN Jatim ramai-ramai menolak. Sudah muncul tuduhan Ustad Rahim akan membangun kerajaan politik di PAN Jatim. Menyiapkan Mirdasy menjadi suksesornya.
Jelas Ustad Rahim rugi karena fitnah itu. Mirdasy juga rugi karena internal PPP meragukan loyalitasnya. Bahkan dicurigai akan mengerdilkan PPP. Membawa umat Muhammadiyah yang di PPP ke PAN.

Akhirnya kariernya di PPP wassalam alias tamat, padahal dia termasuk the rising star, kader muda yang digadang-gadang berkibar di PPP menggantikan seniornya seperti Ahadin Mintaroem. Sementara pintu PAN sudah tertutup untuk dia. Dia harus merangkak lagi mulai nol dengan masuk Partai Hanura, kemudian ke Perindo.

Kasus itu menunjukkan meski Ustad Rahim sudah sangat hati-hati ternyata tetap saja kecipratan lumpur. Terkena residu. Membuat eksistensinya di Muhammadiyah boleh dibilang stagnan. Terlihat dari pemilihan pimpinan PWM Jatim, dia tidak lagi mendapa suara terbanyak. Akhirnya ketua PWM Jatim digantikan Syafiq Mughni yang mendapat dukungan suara lebih banyak.

Kerugian lainnya ketika terjadi aksi menolak pelengseran Presiden Gus Dur. Panti Asuhan Nurul Azhar yang dibina Ustad Rahim dirusak oleh massa pendukung Gus Dur di Jatim.

Ustad Rahim menganggap berkiprah di PAN sebagai bagian dari berkhidmat di Muhammadiyah cukup satu periode saja. Semua risiko yang sudah dialami, dia terima dengan ikhlas. Perjuangan selalu ada risikonya. Ia menolak dicalonkan lagi untuk menjadi ketua DPW PAN Jatim.

Ia sterilkan diri dari kegiatan kepartaian. Kembali ke maqomnya menjadi ulama. Ngemong dan mendidik umat. Merawat anak yatim. Ngopeni masjid. Peran ini yang dia wariskan kepada keluarga dan umat untuk dilestarikan, pada saat dia kembali ke rahmat Allah pada tanggal 29 Mei 2007.

Anwar Hudijono, Kolumnis tinggal di Sidoarjo
29 Mei 2021

Eiit.. Jangan Simpan Senjata Kita

Anwar Hudijono

Oleh: Anwar Hudijono

Hore.. kita menang. Pada tanggal 1 Syawal musuh sudah bertekuk lutut. Itulah hasil berperang habis-habisan selama sebulan full di bulan Ramadhan. Perang melawan hawa nafsu.

“Jihad yang paling utama adalah seseorang berjihad melawan dirinya sendiri dan hawa nafsunya”. (Hadits dari Ibnu An Najar).

Boleh-boleh saja gembira karena menang perang. Tapi awas jangan sampai mabuk kemenangan. Jangan lengah. Ingat, musuh sebatas knock down. Belum mati. Dia bisa bangkit kembali. Dan dia adalah musuh abadi manusia. Yaitu setan.

Tatkala seseorang berpuasa secara imanan wa ihtisaban (iman dan kesadaran mendapat ridha Allah) maka setan tidak akan mampu berbuat apa-apa terhadap orang yang puasa tersebut. Ibaratnya seluruh tangan dan kakinya terbelenggu.

Tapi ketika selesai puasa Ramadhan, maka pada saat yang bersamaan secara otomatis belenggu itu mengendor. Bahkan lepas sama sekali. Setan kembali bangkit. Dia akan menyerang kita dengan sejuta wajah. Sejuta strategi. Sejuta senjata. Sejuta taktik. Sejuta bala bantuan. Sejuta persekongkolan.

Setan pasti akan berdaya-upaya secara terus menerus, tanpa lelah dan bosan, menjebol tembok pertahanan kita. Yang kita bangun untuk mengendalikan hawa nafsu.

“Dan janganlah engkau mengikuti hawa nafsu, karena akan menyesatkan engkau dari jalan Allah. Sungguh, orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat karena mereka melupakan Hari Perhitungan”. (Quran 38:26).
Caranya? Setan akan terus membisikkan kejahatan. Memprovokasi kita. Menebar bujuk rayu. Meng-upload janji-janji yang menggiurkan.

“Dari kejahatan (bisikan) setan yang tersembunyi. Yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia. Dari (golongan) jin dan manusia”. (Quran 114: 4-6).

Totalitas cinta

Kemenangan kita adalah kembali ke fitrah, prinsip dasar penciptaan manusia. Setiap manusia berasal dari ruh Allah. Ruh yang ditiupkan oleh Allah. Saat masih menjadi ruh Allah itulah manusia sudah menyampaikan kesaksian bertauhid kepada Allah.

“Bukankah Aku ini Tuhanmu. Mereka menjawab, betul, kami bersaksi. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan, sesungguhnya ketika itu kami lengah terhadap ini.”

Fitrah berarti manusia yang bertauhid. Hanya menjadikan Allah satu-satunya Rab. Satu-satunya Ilahi. Hanya Allah satu-satunya arah perjalanan. Allah tempat totalitas cinta.

Tahun lalu. Juga tahun-tahun sebelumnya. Guratan sejarah kita. Setiap 1 Syawal kita mencapai kemenangan sejati itu. Tapi kemudian setan berhasil melobangi tembok pertahanan kita. Makin lama makin besar.

Lantas sedikit demi sedikit wajah kita berpaling dari Allah. Berpaling kepada uang. Kekayaan. Kekuasaan. Jabatan. Popularitas. Puji-pujian. Anak istri. Kesenangan duniawi.

Tanpa kita sadari, mungkin, kita telah menjadi budak hawa nafsu kita. Tanpa merasa kita secara substansial telah berubah menjadi serigala yang melambangkan penindasan dan kekejaman.

Secara fisik kita manusia tetapi jiwa kita telah menjadi tikus yang melambangkan kelicikan.
Kita menjadi anjing yang melambangkan tipu daya.
Kita menjadi kambing atau domba yang melambangkan penghambaan. Menghamba terhadap sesama manusia.

Atau kita telah menjadi jazad, mesin, robot artificial intelligent yang memiliki kemampuan hebat tetapi tanpa hati.

“Dan sungguh akan Kami isi neraka jahanam banyak kalangan jin dan manusia. Mereka memiliki hati tetapi tidak dipergunakan untuk memahami (ayat-ayat Allah). Dan mereka memiliki mata (tetapi) tidak dipergunakan melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah). Dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakan mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lengah. (Quran 7:179).

Di perbatasan

Nah, jangan lengah. Karena sebenarnya hidup di dunia ini hanya semacam berada di perbatasan. Sebelum melangkah kepada kehidupan yang sesungguhnya yaitu kehidupan abadi di akhirat.
Kunci saat berada di perbatasan adalah takwa.
“Wahai orang-orang beriman. Bersabarlah kamu. Dan kuatlah kesabaranmu. Dan tetaplah bersiap-siaga. Bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung”. (Quran 3: 200).

Mencapai fitrah berarti juga meneguhkan jati diri manusia tauhid. Sosok itu tercermin pada surah Al-Ihlas. Agar kita bisa mempertahankan, menjaga jati diri sebagai manusia tauhid, maka jangan tidak lupa selalu mohon perlindungan Allah. Karena manusia itu lemah. Manusia itu mudah lengah. Sementara setan akan terus berupaya menyesatkan kita.

Disimbolisasi dengan setelah surah Al-Ihlas (112), disusul dengan Surah Al-Falaq (113) dan Surah An-Nas (114).

Jangan lengah sekejap pun. Selalu siagakan seluruh senjata kita. Shalat itu senjata. Sodaqoh itu senjata. Zakat itu juga senjata. Puasa sunah itu juga senjata dahsyat. Shalat jamaah itu juga senjata. Baca Quran itu itu juga senjata. Mengikuti sunah rasulullah itu senjata. Membina silaturahmi itu juga senjata.

Menghormati tamu dan tetangga itu juga senjata. Menutup aurat itusenjata. Menjauhi hal yang subhat (tidak jelas) juga senjata. Berbauat baik untuk manusia lain itu senjata. Kumpul dengan orang saleh itu juga senjata. Berjihad di jalan Allah juga senjata. Dan lain-lain.

Siagakan semuanya. Pastikan semuanya di kuasa kita. Jangan ada satu pun yang disembunyikan, apalagi dibuang.

Janganlah kita mengulang guratan sejarah kita. Bersyukur, selama ini kita bisa bertemu Ramadhan sehingga ada waktu melakukan perbaikan total. Masalahnya, bagaimana jika tidak lagi ketemu Ramadhan?

Allahumma ya muqallibal qulub. Tsabbit qulubana ala dinik. (Ya Allah yang membolak-balikkan hati manusia. Kukuhkan hati kami pada agama-Mu.
Rabbi a’lam (Tuhan Maha Tahu).

Anwar Hudijono,
Kolumnis tinggal di Sidoarjo.
17 Mei 2021

Babak Akhir yang Menentukan (2-Tamat)

Anwar Hudijono

Oleh: Anwar Hudijono

Pada masa sebelum Ramadhan, kita hidup tanpa fokus. Bagaikan air yang mengalir tanpa arah. Meluber ke mana-mana.

Kehidupan yang diawali dengan siang berakhir malam. Diawali malam berakhir siang. Dimulai sore berakhir pagi. Diawali pagi berakhir sore. Berulang-ulang. Terus menerus. Begitu seterusnya. Siklistis.

Kita hidup sekadar hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari sebagai seorang manusia. Tujuannya hanya untuk hidup. Sibuk. Penuh perjuangan. Tapi itu perjuangan yang hampa. Sia-sia. Maka, hidup yang demikian itu sebenarnya hidup yang tanpa tujuan.

Secara eksistensial, kehidupan yang demikian sebenarnya sudah mati. Ajaran adiluhur Jawa mengatakan, mati sajeroning ngaurip (mati dalam hidup).

“Demi matahari yang sudah condong (ashar). Sesungguhnya manusia dalam keadaan rugi. (Quran: 103:1-2).

“Telah dekat kepada manusia hari perhitungan segala amal mereka. Sedang mereka berada dalam kelalaian lagi berpaling (dari akhirat).” (Quran: 21:1).

Mengapa manusia terperangkap dalam sistem kehidupan demikian? Pertama, faktor internal beruapa dorongan hawa nafsu. “Dan janganlah engkau ikuti hawa nafsu. Karena akan menyesatkan engkau dari jalan Allah. Sungguh, orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat karena mereka melupakan Hari Perhitungan.(Quran: 38:26).

Ajaran adiluhur Jawa menuturkan, melik nggendhong lali, hanyut pada keinginan sehingga membuat diri larut dalam lupa (lengah). Yang berkuasa lupa bahwa kekuasaan adalah amanat dari Tuhan yang akan dipertanggung jawabkan di akhirat.

Fakfor eksternal berupa tarikan dari kuasa kegelapan beserta seluruh sistem dan aparatusnya. Seluruh jaringannya. Tarikan, bujuk rayu, tekanan Iblis sebagai puncak kuasa kegelapan saja sudah sangat berat, apalagi di akhir jaman sekarang ditambah Dajjal, mahluk yang secara khusus diciptakan untuk memberi ujian dan cobaan (fitnah) kepada manusia. Dan merupakan fitnah terbesar sepanjang kurun sejarah umat manusia.

Artificial intelligent

Dorongan dan tarikan membuat kita beringsut-ingsut menjauh dari Allah. Berpaling dari Allah ke uang, duit, fulus, qian, keserakahan, hedonisme (kenikmatan duniawi), jabatan, kekuasaan, permusuhan, kebencian, harta kekayaan, keputusasaan, kapitalisme, despotisme, sekularisme, liberalisme, kedzaliman, kesombongan, perusakan (fasad).

Tanpa menyadari, kita secara substansial telah menjadi serigala yang melambangkan kekejaman dan penindasan.

Telah menjadi tikus yang melambangkan kelicikan.
Telah menjadi anjing yang melambangkan tipu daya.

Telah menjadi domba yang melambangkan penghambaan.

Bisa juga kita sebenarnya secara substansial telah menjadi “jazad”. Siapa itu “jazad”?
Al Quran menyebut jazad di Surah Al Anbiya 8, “Dan Kami tidak menjadikan mereka (Rasul-rasul) sebagai “jazad” yang tidak memakan makanan, dan mereka tidak (pula) hidup kekal.

Jazad di jaman Nabi Musa berupa patung anak sapi berbahan emas yang diciptakan Samiri. Patung itu hebat, bisa mengeluarkan suara. Pada akhirnya dinobatkan sebagai Tuhan oleh umat Bani Israel. (Quran: 20: 87 – 97).

Di jaman yang lebih muda yaitu semasa Nabi Sulaiman “jazad” adalah sesuatu yang tergeletak di singgasana Sulaiman. Suatu sosok yang mengerikan sampai Sulaiman yang sakti pun bergetar. Jazad itu ditafsirkan sebagai Dajjal. (Quran: 38:34).

Di jaman now, bisa jadi jazad itu adalah mesin artificial intelligent (AI). Cerdas, hebat tetapi tanpa hati. Ketika manusia sudah tidak memiliki hati atau buta hatinya maka secara substansial tidak ubahnya sebagai AI.

Manusia menjadi seperti “jazad” buatan Samiri. Memposisikan diri sebagai Tuhan. Diejwantahkan dengan perilakunya. Ada yang merasa paling benar. Merasa paling berkuasa. Paling kaya. Paling digdaya. Paling pintar.

Bisa juga kita tanpa terasa telah menjadi pengikut “neo-Samiri”. Penyembah AI. Manusia bergantung kepada AI daripada Tuhan. Menjadikan AI sebagai maha pengatur kehidupan.

“AI sudah mengendalikan dunia saat ini,” kata Tristan Harris, pakar IT dan mantan Desainer Estetik Google.

Jiwa yang suci

Dan puasa Ramadhan memiliki nilai penyangkalan terhadap hidup tanpa tujuan. Pengendalian agar manusia tidak menjadi budak hawa nafsu. Bengteng dari tarikan kekuatan kuasa gelapan, iblis, setan, Dajjal beserta krunya.

Maka diharapkan begitu selesai Ramadhan kita kembali ke fitrah, dasar penciptaan yaitu sebagai ruh Allah, jiwa yang suci. Manusia bertaqwa.

Demikian pula saat kita selesai hidup di dunia (mati), kita kembali kepada Allah dengan membawa fitrah kita. Kita disambut dengan sapaan, “Wahai jiwa yang bersih/suci. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku. Dan Masuklah ke dalam surga-Ku. (Quran:89:27-30).

Rabbi a’lam (Tuhan Maha Tahu).

Anwar Hudijono,
Kolumnis tinggal di Sidoarjo.
11 Mei 2021

Jika Sudah Menjadi Muslim, Jangan Sia-sia… (end)

Rita Arin. (Istimewa)

Oleh: Rita Arin

Berangkat Umroh Berkah Kerja di Wardah
Aku dan suami kemudian bangkit. Kami memulai dari awal lagi. Perlahan kehidupan kami mulai membaik. Aku membeli barang sedikit demi sedikit. Alhamdulillah, akhirnya kami bisa beli kendaraan lagi. Ketika keadaan sedikit membaik, tiba-tiba aku ditawari menjadi Beauty Promotor (BP).

“Beauty Promotor itu apa, pak? Kerjaannya apa?” tanyaku.

“Tugasmu, mempromosikan produk Wardah untuk wilayah yang lebih luas. Bisa ke instansi dan kantor-kantor yang ada,” kata Pak Novi, pimpinanku.

Aku terhenyak. Selama ini aku selalu bergantung pada suami untuk pergi dan pulang kerja. Jika aku ditempatkan di BP dan pekerjaannya seperti disampaikan Pak Novi, tentu aku tak mungkin bergantung terus kepada suamiku.

Baca Juga:Jika Sudah Menjadi Muslim, Jangan Sia-sia… (I)

Tawaran itu aku rembukkan dengan suami. Keputusannya, aku ke kantor pusat dan bertemu supervisorku, Mbak Eva. Aku kemudian harus melalui tahap interview dengan Buk Marry. Aku mendengar kabar dari kawan-kawan lain, jika tak bisa menjawab pertanyaan Bu Marry, bisa dipastikan yang bersangkutan akan gagal.

Lama aku diinterview Bu Marry, namun kepadaku tak pernah diajukan pertanyaan seputar produk. Beliau lebih banyak bertanya sekitar keseharianku. Interview selesai. Aku dinyatakan lulus. Aku heran, ternyata bertemu dan interview dengan Bu Marry tidak seperti ketakutan yang berkembang selama ini.

Aku lulus sebagai BP. Setiap hari aku harus bolak-balik Depok dan Swadarma Raya. Aku tak mungkin mengandalkan suami saja. Akhirnya aku memutuskan membeli sepeda motor lagi.

Menjadi BP ternyata benar-benar menyenangkan. Banyak pengalaman yang kudapati. Aku bertemu banyak orang. Berbagai kalangan. Bertemu banyak orang-orang penting. Aku benar-benar menikmati bekerja di Wardah.

Ketika aku melahirkan anak kedua,  aku mendapatkan tunjangan melahirkan. Rezekiku terus bertambah. Aku dan suami tak henti-hentinya berdoa. Allah telah mengabulkan doa-doa kami, malahan melebihI dari apa yang kami minta.

Saat aku dalam perjalanan untuk bazar di Kementerian Kelautan dan Perikanan, aku mendapatkan kabar yang mengejutkan. Tahun ini, 2019, aku mendapat jatah umroh gratis dari perusahaan, PT Paragon Technology and Innovation.

“Apakah aku mimpi?” Tanyaku dalam isak tangis yang tak bisa kutahan.

Aku sempat tak percaya. Tapi orang yang memberikan kabar via telepon kantor pusat menyampaikan, bahwa diriku tidak sedang bermimpi. Aku kemudian diyakinkan.

Katanya, dalam waktu dekat semua berkas dan panduan keberangkatanku akan dikirimkan. Aku tak menduga, bisa secepat ini ke Tanah Suci. Beribadah di Masjid Nawabi dan Masjidil Haram. Bersujud di depan Ka’bah, tempat yang selalu dirindukan umat Islam.

Aku memang pernah mendengar, setiap karyawan yang bekerja minimal tujuh tahun, diberangkatkan umroh bagi yang muslim. Bagi non muslim, diberangkatkan wisata religi, sesuai agama masing-masing.

Program ini sudah berjalan di perusahaan sejak 2017. Rata-rata setiap tahun memberangkatkan sedikitnya 500 orang karyawan. Aku tak pernah menghitung dan membayangkannya sama sekali.

Aku sampaikan kabar bahagia ini kepada suamiku. Ia ikut meneteskan air mata. Katanya, Allah sangat sayang padaku, sehingga aku diberi rezeki berlimpah.

“Tapi aku belum mengerti Islam secara menyeluruh. Membaca Al-Qur’an pun aku masih terbata-bata. Apa aku pantas ke Tanah Suci?” Tanyaku.

Suamimu mendorong dan memberikan semangat. Ia benar-benar mengerti apa yang kurasakan. Ia terus membimbingku. Aku pun memantapkan hati dan niat.

Perlahan aku mulai mempersiapkan segala kebutuhan satu persatu. Aku berdoa sepanjang waktu, semoga Allah memberikan kemudahan dan kelancaran semua persiapan hingga ibadahku.

Sebelum berangkat, aku  menggelar pengajian di rumah.  Aku mengundang ustad agar aku diberi pemahaman selama ibadah di Tanah Suci. 

Aku dengar dari banyak orang, apa yang biasa kita lakukan selama ini akan diperlihatkan di Tanah Suci.  Jika kita  berbuat salah maka akan diperlihatkan di sana.  Sempat timbul rasa takut, tapi aku mantapkan hatiku bahwa  aku berniat untuk ibadah. Aku memohon ampun kepada Allah.

Saat aku berangkat menuju Jakarta, tempat semua jamaah umroh Paragon Technology and Innovation, berkumpul, ada rasa berbeda mengalir dalam tubuhku.

Sehari sebelum berangkat, aku melaksanakan manasik. Saat itu  mulai berkenalan dengan teman-teman satu kloterku dari berbagai daerah. Alhamdulilah aku dapat teman baru.

Rabu, 15 Januari 2020, aku berangkat dengan diantar kedua anakku,  suamiku, bapak dan ibu mertuaku. Mereka melepas kepergianku. Aku tak kuasa membendung air mata yang menetes.

Kupeluk erat anakku; Jingga Zilvia Ardhan (9 thn) dan Axel Juro Reynand Ardhan (4 thn). Kupeluk erat keduanya. Aku pasrah dan ikhlas meninggalkan kedua anakku. Aku benar-benar ingin fokus ibadah.

Ada rasa itu semakin menggelegar ketika rombongan kami sudah bergerak menuju Madinah. Aku tak kuasa menahan tangis. Aku menangis  haru karena  bisa sampai  ke titik ini. Aku  memantapkan hati dan pasrah terhadap semua yang akan terjadi. Aku pasrah akan semuanya agar ibadahku  lancar.

Di saat pesawat mendarat di Bandara Internasional Amir Muhammad bin Abdul Aziz (AMMA) Madinah, aku semakin tak kuasa menahan tetesan air mata. Aku benar-benar telah menginjakkan kaki di Tanah Suci.

Tiga hari rombongan kami menetap di Madinah. Aku sekamar dengan Mbak Esa, Mbak Sari dan Dita dari DC Bogor. Tiga hari kami ke masjid dan balik ke hotel bersama. kami salat, mengaji dan menunaikan ibadah-ibadah sunat.

Kami memaksimalkan waktu yang ada untuk ibadah sebaik-baiknya. Aku juga bersyukur, flu yang sempat menyerang diriku sebelum berangkat, ternyata sesampai di Madinah sembuh.

Tiga hari di Madinah, perjalanan diteruskan ke Makkah. Ibadah umroh dimulai. Madinah – Makkah ditempuh selama enam jam. Ketika meninggalkan Madinah, kami semua sudah berpakaian untuk umroh. Jemaah lelaki telah berpakaian ihram.

Setiba di Makkah, sekitar pukul sembilan malam. Kami menjamak salat Magrib di waktu Isya. Setelah itu, langsung melaksanakan rangkaian ibadah umroh.

Diawali dengan Tawaf, mengelilingi Ka’bah.
Saat pertama melihat Ka’bah, tiba-tiba saja air mataku berderai. Aku menangis. Aku tak pernah membayangkan bisa melihat Ka’bah secara langsung.

Apakah aku sedang mimpi? Tiba-tiba saja aku seakan berbisik kepada  Allah; Ya, Allah, jika aku sedang mimpi, jangan bangunkan aku, Ya Allah.

Kuusap mata berkali-kali. Kucubit lengan. Sakit. Aku tidak sedang bermimpi. Ini benar-benar nyata. Aku memohon ampun atas dosa-dosaku, bermohon agar diampunkan dosa-dosa keluargaku dan memohon agar aku bisa kembali ke sini bersama suami dan anak-anakku.

Aku menjalani dan menikmati ibadah di Masjidil Haram. Aku benar-benar menikmatinya. Selama di Masjidil Haram aku mencari tempat terbaik,  aku beribadah  di depan Ka’bah. Aku juga memohon kepada Allah agar dosa-dosa orang tuaku diampuni, sekali pun keduanya beda agama denganku. Bagaimana pun juga, beliau adalah orangtuaku.

Masih segar dalam ingatanku pesan ibu saat kuberitahu bahwa aku sudah mualaf, “Jika memang sudah menjadi muslim, jangan sampai sia-sia… Jadilah muslim yang senantiasa menjalankan syariat Islam,” kata ibu kepadaku.

Pesan ibu bukan tanpa alasan. Ketika aku Nasrani yang hanya sekali seminggu ke gereja, aku sering lalai. Pesan ibu menjadi wasiat bagiku. Aku akan jalankan semua pesan tersebut. Aku harus melaksanakan salat lima waktu tepat waktu dan menjalankan syariat yang diperintahkan Allah.

Ketika ustad pembimbing kami, Ustad Muhammad Azzam dan Ustad Hakim mengabarkan, Rabu, 22 Januari 2020, pukul dua dinihari semua sudah di lobi hotel untuk Tawaf Wada’, aku tersentak.

Berarti sudah empat hari kami di Makkah. Empat hari pula aku beribadah di Masjidil Haram. Sebentar saja rasanya.

Air mata perpisahan ini tak kuasa menetes saat itu melaksanakan Tawaf Wada. Aku berharap akan bisa kembali lagi bersama keluarga. Aku yakin, Allah pasti sayang padaku dan akan mengabulkan doaku. 

Saat berpisah dengan teman-teman satu kloter di Bandara Soekarno-Hatta, kami semua berharap bisa bersama lagi. Impian kami, suatu saat kami bisa bersama kembali. Suatu saat, kami dan keluarga kami diberi kesempatan beribadah di Tanah Suci.

Entah kenapa, hingga beberapa hari setelah sampai di rumah, aku  masih bermimpi Tawaf di depan Ka’bah.

Terima kasih, Bu Nurhayati Subakat dan Pak Subakat. Semoga ibu dan bapak senantiasa diberi kesehatan dan keberkahan. Semoga Paragon Technology and Innovation semakin berkembang.

Sebelumnya…

Mualaf Karyawati PT Paragon Technology and Innovation

Jika Sudah Menjadi Muslim, Jangan Sia-sia… (I)

Rita Arin. (Istimewa)

Oleh: Rita Arin

Tak pernah terlintas sedikit pun, mualaf yang baru belajar tentang Islam, tiba-tiba dapat panggilan menunaikan umroh ke Tanah Suci. Aku tak pernah membayangkan, umrohku dibiayai kantor. Allah memang memiliki rahasia yang tak seorangpun bisa memprediksinya.

Namaku Rita Arin. Aku bisa dipanggil Arin. Aku  bungsu dari empat bersaudara. Tinggal di  Grobogan, Jawa tengah. Ayahku  lpegawai PT KAI, di sebuah stasiun kereta. Ibuku  seorang ibu rumah tangga. Beliau membantu ekonomi keluarga dengan  berdagang keperluan yang dibutuhkan tetangga.

Aku dari kecil beragama Katolik. Aku tak mengerti mengapa hanya keluargaku yang beragama Katolik, sementara keluarga besar ibu semuanya muslim. Aku tak mengenal lebih dalam keluarga ayah. Kata ayah, keluarga beliau sudah lama meninggal dunia. Hanya ada keponakan, itu pun kami jarang bertemu.

Perbedaan agama di keluargaku dengan keluarga ibu, ketika aku kecil, tak membuatku bingung. Aku senang-senang saja. Saat perayaan Natal, aku merayakannya. Saat Idul Fitri, aku juga merayakan. Di masa kanak-kanak itu, aku merasa senang saja karena bisa merayakan dua hari raya.

Saat aku kelas III SD, ayahku meninggal dunia. Begitu cepat ayah meninggalkan kami. Sejak itu, aku dibesarkan ibu. Di rumah, aku  seperti anak semata wayang.

Kakakku tertua sudah menikah dan merantau ke Jakarta. Kakakku kedua, merantau ke Jakarta dan akan menikah. Kakakku ketiga, satu-satunya laki-laki, sekolah di SLB. Ia menetap di asrama sejak kecil karena terlahir down sindrome.

Ibu selalu berusaha memberikan yang terbaik untukku. Perubahan terjadi di saat aku kelas III SMA. Ibu menderita stroke ringan. Sejak itu, terasa ada perubahan dalam keseharianku. Ibu tak bisa lagi berjualan. Perekonomian kami hanya mengandalkan uang pensiun ayah.

Aku terus berjuang untuk menggapai prestasi, agar bisa menyenangkan ibu. Aku selalu dapat ranking III. Aku ingin melanjutkan kuliah, tapi keinginan itu pupus karena kondisi ibu terus memburuk.

Jika aku kuliah, maka uang pensiunan ayah akan habis untuk biaya kuliahku. Aku juga tak mau terlalu berharap menunggu kiriman kakak karena mereka juga punya kewajiban terhadap keluarganya.

Alami Musibah Beruntun
Berbekal nilai UN-ku yang memuaskan, akhirnya aku memutuskan pindah ke Jakarta bersama ibu dan abangku yang di SLB. Kami berharap bisa dekat dengan kakakku, sehingga kami bisa merawat ibu bersama.

Sesampai di Jakarta, aku bingung terhadap masa depanku. Apa yang harus aku lakukan di Jakarta?

Kakakku menyarankan agar aku bekerja dulu. Jika kuliah, akan memberatkan. Aku akhirnya diterima di PT Sanyo di kawasan Cimanggis. Aku bisa masuk ke sana dibantu saudara kakak iparku.

Awalnya aku merasa lelah bekerja di sana, sebab bekerja di pabrik bekerja secara shift. Kadang masuk malam, pulangnya pagi.

Aku tepis rasa lelah itu dengan harapan setiap bulan. Aku menerima gaji yang tergolong besar. Aku akhirnya menikmati pekerjaan dan gaji yang lumayan. Tanpa aku sadari, ternyata keseharianku sangat boros. Aku tak pernah berpikir untuk menabung. Gaya hidupku mengikuti trend.

Aku lupa untuk melanjutkan cita-cita untuk kuliah. Hari-hariku, selain pergi kerja, aku ada di salon, mall, restauran. Begitu setiap hari. aku lupa memikirkan masa depan.

Kakakku mengingatkan agar aku menabung. Jika tak bisa menabung uang, bisa dibeli sepeda motor. Aku turuti nasehat kakakku tersebut. Ketika cicilan motorku memasuki angsuran ke 12, ternyata kontrakku tidak diperpanjang, berawal dari tidak hadirnya aku ke pabrik selama seminggu karena terserang tifus.

Kerja di perusahaan Jepang ini, sistemnya menggunakan point. Jika tidak masuk, sekali pun alasannya sakit, selalu diberi point. Semakin banyak point yang didapat, semakin buruk penilaian kinerja.

Sejak kontrak tidak diperpanjang, aku mulai menghadapi kesulitan. Kucari kerja ke sana kemari, tapi aku selalu ditolak. Aku bingung bagaimana cara mencicil sepeda motor.

Aku takut menyampaikan kepada kakakku. Aku takut mereka marah karena aku tak bisa mengelola uang secara benar ketika masih kerja dulu. Belum sempat aku menemukan jawaban untuk membayar cicilan motor, ternyata motorku dicuri orang di parkiran. Aku panik, bingung.

Mimpi Nangis di Sajadah
Musibah berikutnya kembali menghinggapiku. Aku juga harus berpisah dengan lelaki yang sangat aku cinta. Aku sebenarnya berharap, ia menjadi jodohku, tapi ia pergi begitu saja. Aku yakin, ia meninggalkanku karena perbedaan agama yang kami anut.

Entah kenapa, sejak kejadian itu, aku kehilangan arah. Aku panik dan kalut. Tapi aku tetap bisa menjaga diri. Aku tak mau terjurumus ke jurang kehidupan yang lebih buruk. Bagiku, kemiskinan bukan alasan untuk menghalalkan secara cara.

Suatu malam, aku bermimpi. Aneh sekali. Sangat aneh bagiku. Aku bermimpi menangis di sajadah dengan menggunakan mukena. Aku bingung, ada apa dengan mimpiku?

Kudatangi sahabatku di Bogor. Aku mencoba menenangkan diri di rumahnya. Aku kemudian menceritakan mimpi yang kualami. Aku mantapkan hatiku untuk minta bantuannya memanggilkan seorang ustad. Malam itu, aku mengucapkan dua kalimah syahadat, di musala, disaksikan sejumlah orang.

Ketika aku pulang, kuceritakan semuanya kepada  kakak keduaku. Ia merespon sangat baik, apalagi kedua kakakku juga sudah menjadi mualaf.  Kakak pertamaku masih Nasrani. Ibu juga mendukung. Beliau tidak menentang keputusanku.

Sejak saat itu, aku memulai lembaran hidup baru. Aku mulai pakai hijab. Urusan kerja, aku akan terus berusaha sekuat tenaga. Urusan jodoh, aku sudah punya putusan; tak akan pacaran, kecuali lelaki tersebut serius untuk menikahiku. Kendati baru kenal dan ia mengajak nikah, insya allah, aku siap menerimanya.

Allah mengabulkan doaku. Aku bertemu dan berkenalan dengan seorang lelaki. Ia begitu gigih mendekatiku. Aku ragu karena baru mengenalnya, tapi aku tak kehilangan akal. Kuberanikan bertanya kepadanya, apakah mau segera menikahiku?

Aku terkejut. Aku mendapatkan jawaban yang sangat mengejutkanku. Ia mengatakan, segera melamarku. Aku justru bingung, apakah aku harus menikah secepat ini? Aku belum mengenal dia. Apakah ia orang baik-baik? Aku hanya bisa berdoa dalam setiap salat agar diberikan jalan dan keputusan terbaik.

Beberapa bulan kemudian, aku resmi dilamar. Kami pun menikah secara sederhana. Aku memutuskan untuk tetap berhijab. Aku kemudian belajar mengaji. Tak lama kemudian, aku hamil dan melahirkan.

Allah punya rencana besar untuk keluarga kecilku. Setelah anak pertama lahir, aku harus kehilangan ibunda tercinta. Ibuku meninggal dunia di saat kami bahagia menerima kehadiran anak pertamaku. Aku kehilangan orang yang selama ini menerima keluh-kesahku. Orang kehilangan orang yang sangat mencintaiku dan sangat aku cintai.

Bekerja Ikhlas
Tak lama kemudian, aku minta izin pada suami. Aku akan bekerja. Berapa pun gaji yang kudapatkan, setidaknya dapat membantu menambah pendapatan keluarga. Setidaknya bayi mungil kami dapat mengkonsumsi susu karena ASI-ku tak mencukupi.

Aku dapat kabar ada restaurant di sebuah mall di Pejaten buka lowongan. Aku mendaftar ke sana.  Aku tak tahu apakah bisa diterima atau tidak. Selain tidak memiliki pengalaman, aku juga membawa bayi saat wawancara. Alhamdulillah, aku diterima dengan gaji Rp 800 ribu sebulan. Jauh di bawah gajiku saat di PT Sanyo.

Kujalani pekerjaan tersebut dengan ikhlas.
Ketika restaurant buka cabang di Depok, aku mengajukan untuk pindah. Kataku, lokasi di Depok tak jauh dari rumahku. Permintaanku dipenuhi. Ketika itu pula supervisor menunjukku menjadi kasir.
“Pak,  Arin belum pernah jadi kasir. Kerja di restaurant pun baru. Arin takut tak bisa,” kataku.

“Tak ada yang tak bisa, jika kamu mau belajar. Saya akan bantu,” katanya.
Ketika restaurant itu dibuka, aku bukan lagi menjadi seorang waiters, atau yang mengantarkan makanan. Aku sudah duduk manis di kursi seorang kasir. Kerjanya tak terlalu capek. Gaji pun naik dari sebelumnya.

Tiga tahun berlalu. Aku menikmati pekerjaan dengan semangat yang mengebu-gebu, namun sesuatu menggodaku. Aku bertemu teman kerjaku di Sanyo dulu. Ia tampak lebih cantik dan anggun. Ia terlihat lebih cantik dengan hijab dan seragamnya. Aku penasaran. Aku mencari tahu lebih jauh tentangnya. Ternyata ia bekerja di Wardah. Ketika itu, ia seorang Beauty Advisor (BA) atau SPG-nya Wardah.

Bermodal alamat kantor Wardah, aku diantar suami untuk melamar. Entah memang sudah rezeki yang ditakdirkan Allah, prosesnya sangat mudah. Beberapa hari kemudian aku diterima. Saat itu pula aku mengundurkan diri dari restaurant.

Jumat, 2 November 2012, menjadi hari pertamaku bekerja di Wardah. Aku ditempatkan di sebuah apotek di Depok.

Seminggu aku bekerja, aku ditimpa musibah. Sekitar pukul 01.00 WIB, rumah kontrakan yang aku tempati, terbakar. Api menjalar dari rumah sebelah yang sudah dijamah si Jago Merah.

Aku langsung membangunkan suami, anakku dan tetangga. Alhamdulillah, kami selamat tapi semua harta benda tak bisa diselamatkan, kecuali surat-surat berharga. Baju pun hanya yang melekat di badan.

Aku bagaikan disampar petir. Semua ludes. Kami akhirnya memutuskan tinggal sementara di rumah mertuaku. Aku kabarkan semua kepada team leader-ku, sembari minta izin untuk beberapa hari. Aku diminta mengirimkan foto keadaan rumahku yang terbakar. Aku kirimkan.

Beberapa hari kemudian aku dapat kabar, belum bisa menerima bantuan karena aku baru sepekan bekerja. Aku menerimanya dengan lapang dada, namun aku menyampaikan agar dapat seragam baru karena seragamku sudah terbakar.

Aku, anakku, dan suamiku menggunakan baju bekas yang diberikan saudara dan tetangga. Air mataku mangalir setiap ada orang datang membawakan baju, makanan dan uang. Semua aku terima karena kondisiku benar-benar sangat sulit.

Mualaf Karyawati PT Paragon Technology and Innovation