Daging Ayam hingga Cabai, Penyumbang Deflasi Kota Malang September 2020

Ilustrasi daging ayam ras
Ilustrasi daging ayam ras

MALANGVOICE – Kota Malang kembali mengalami deflasi pada September 2020. Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Malang mencatat deflasi sebesar 0,05 persen.

Kepala BPS Kota Malang Sunaryo mengatakan bahwa, deflasi didorong adanya penurunan pada kelompok pengeluaran transportasi, serta kelompok makanan, minuman, dan tembakau, masing-masing sebesar 0,30 persen, dan 0,22 persen.

Sunaryo merinci, komoditas penyumbang deflasi Kota Malang adalah penurunan harga tiket pesawat yang mencapai 3,71 persen, daging ayam ras 2,0 persen, telur ayam ras, 4,29 persen, cabai rawit 12,89 persen, dan emas perhiasan turun 0,69 persen.

kelompok pengeluaran lain yang menyumbang deflasi Kota Malang adalah penurunan pada kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan, yang tercatat sebesar 0,01 persen.

“Dua kelompok itu (transportasi dan makanan minuman) yang memberikan andil besar terhadap deflasi Kota Malang,” katanya saat konferensi pers, Kamis (1/10).

Sementara, lanjut dia, untuk komoditas penghambat deflasi, diantaranya kenaikan harga bawang putih sebesar 8,43 persen, sepeda motor naik 0,85 persen, bawang merah 3,37 persen, dan minyak goreng naik sebesar 0,66 persen.

Ia menambahkan, bahwa kelompok pengeluaran yang menjadi penghambat deflasi diantaranya kelompok perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga naik atau mengalami inflasi sebesar 0,33 persen.

Kemudian, ada kelompok perawatan pribadi, dan jasa lainnya naik sebesar 0,16 persen, kesehatan naik 0,13 persen, pakaian, dan alas kaki naik 0,03 persen, rekreasi, olahraga, dan budaya sebesar 0,03 persen, dan penyedia makanan, dan minuman restoran naik 0,01 persen.

Sedangkan, ada dua kelompok pengeluaran yang tercatat stabil tersebut, yakni kelompok pengeluaran air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga, serta kelompok pengeluaran pendidikan.

“Deflasi pada September ini merupakan yang keempat kalinya. Sebelumnya deflasi juga terjadi pada bulan Maret, April, Agustus 2020,” sambung dia.

Tercatat, inflasi tahun kalender Kota Malang pada periode Januari hingga September 2020 sebesar 0,83 persen, sementara untuk inflasi Years on Years (YoY) sebesar 1,22 persen. Untuk inflasi tahun ke tahun, pada 2020 ini merupakan yang terendah selama 10 tahun terakhir.

“Inflasi tahun ke tahun Kota Malang pada 2020, merupakan yang terendah dalam sepuluh tahun terakhir,” pungkasnya.

Perlu diketahui, untuk wilayah lain di Jawa Timur, sebagian besar mengalami deflasi, dan hanya Kota Kediri yang mengalami inflasi sebesar 0,15 persen.(der)

Sektor Transportasi Sumbang Deflasi Kota Malang 0,06 Persen

ilustrasi. (Lifehack)

MALANGVOICE – Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Malang melaporkan Kota Malang alami deflasi sebesar 0,06 persen, pada Agustus 2020. Hal itu didorong akibat turunnya harga pada kelompok pengeluaran transportasi.

Kepala BPS Kota Malang Sunaryo menjelaskan, penurunan pada kelompok pengeluaran transportasi tersebut, sebesar 1,46 persen. Penurunan itu merupakan catatan tertinggi dibandingkan kelompok pengeluaran lainnya.

“Penurunan tertinggi terjadi pada kelompok pengeluaran transportasi. Deflasi pada Agustus 2020, berbeda dengan bulan yang sama pada dua tahun sebelumnya, yang biasanya mengalami inflasi,” ujar Sunaryo.

Ia melanjutkan, Kota Malang mengalami inflasi sebesar 0,19 persen pada 2019 dan sebesar 0,05 persen pada 2018. Selain transportasi, kelompok lain yang mengalami penurunan diantaranya perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 0,27 persen.

Sedangkan, kelompok makanan, minuman, dan tembakau juga tercatat alami penurunan sebesar 0,19 persen. Kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga turun sebesar 0,04 persen. Kemudian kelompok pengeluaran rekreasi, olahraga, dan budaya sebesar 0,02 persen.

Sementara itu, dari kelompok komoditas, tercatat harga tiket angkutan udara mengalami penurunan sebesar 13,68 persen, daging ayam ras 2,79 persen, bawang merah 12,70 persen, serta beberapa komoditas buah-buahan.

“Namun, ada juga kelompok pengeluaran yang menunjukkan inflasi,” sambung dia.

Sunaryo menambahkan, kelompok pengeluaran yang mengalami inflasi, antara lain adalah kelompok perawatan probadi dan jasa lainnya sebesar 1,65 persen, kelompok pendidikan 1,15 persen, kelompok kesehatan 0,40 persen, dan pakaian serta alas kaki naik sebesar 0,04 persen.

Sedangkan untuk komoditas yang mengalami kenaikan diantaranya, emas perhiasan sebesar 10,79 persen, biaya sekolah dasar 7,90 persen, minyak goreng 2,09 persen, biaya sekolah menengah atas 1,24 persen, tarif dokter spesialis 2,83 persen, dan gula pasir sebesar 1,96 persen.

Berdasarkan catatan tersebut, masih kata dia, sektor yang mendorong inflasi masih didominasi kelompok bahan makanan.

“Sinyal dari keadaan perekonomian, bahwa yang menggerakkan inflasi itu masih kelompok bahan makanan. Artinya, pada kelompok itu ada pergerakan dinamika perekonomian positif,” ujarnya.

Perlu diketahui, inflasi tahun kalender Kota Malang pada periode Januari hingga Agustus 2020 sebesar 0,88 persen, sementara untuk inflasi Years on Years (YoY) sebesar 1,12 persen. Angka tersebut di bawah Provinsi Jawa Timur yang masing-masing tercatat sebesar 0,89 persen, dan 1,39 persen.(der)

MPM Honda Jatim Berikan Ketupat Lebaran Hingga Jutaan Rupiah

Pelayanan konsumen Honda. (Istimewa)

PelaMALANGVOICE – PT Mitra Pinasthika Mulia (MPM Honda) distributor sepeda motor dan suku cadang Honda wilayah Jatim dan NTT memberikan program Ketupat Lebaran (Kejutan Untung Berlipat). Program ketupat lebaran ini diberikan kepada konsumen Honda yang ingin membeli Honda PCX pada periode 11 – 31 Mei 2020.

Pada program Ketupat Lebaran ini konsumen yang membeli Honda PCX akan mendapatkan potongan angsuran dan uang muka hingga jutaan rupiah. Program ini berlaku bagi konsumen repeat order dan trade in Honda PCX. Selain itu ada tambahan hadiah berupa disc lock kunci cakram.

“Pada bulan ini kami memberikan potongan angsuran dan uang muka hingga jutaan rupiah bagi konsumen setia Honda. Silakan hubungi dealer terdekat untuk mendapatan ketupat lebaran,” kata Abdy Ronotana selaku Marketing & Sales Division Head MPM Honda Jatim

Untuk mempermudah konsumen yang akan membeli motor, MPM Honda Jatim memberikan program Beli Motor Honda #DariRumahAja. Konsumen cukup menghubungi Sales People melalui WhatsApp chat atau telepon langsung.

MPM Honda Jatim beserta jaringan menerapkan standard operasional (SOP) bagaimana berinteraksi dalam memberikan layanan yang mengutamakan pencegahan penyebaran penyakit serta himbauan agar menjaga jarak, selalu menjaga kebersihan dan menerapkan hidup sehat kepada jaringan dealer seperti memakai sarung tangan dan masker bagi petugas deliveryman.

Honda PCX 150 menjadi motor skutik premium yang terus diminati masyarakat. Model ini dibekali dengan mesin canggih 150cc eSP (Enhance Smart Power). Honda PCX dilengkapai fitur ESS atau Emergency Stop Signal. ESS akan menyalakan sinyal darurat dengan mengedipkan semua lampu sein secara cepat ketika sedang melakukan panic brake atau pengereman mendadak.

Skuter Matik (Skutik) ini mendapatkan dua penghargaan yaitu sebagai Bike Of The Year Otomotif Award 2019 dan Best of Best Skubek Motorplus Award 2019.

Harga Ayam Turun, Faktor Deflasi Kota Malang

Ilustrasi daging ayam ras
Ilustrasi daging ayam ras

MALANGVOICE – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Kota Malang alami deflasi, pada April 2020. Ini akibat penurunan harga daging ayam ras sebesar 11,90 persen.

Kepala BPS Kota Malang Sunaryo mengatakan, penurunan harga daging ayam ras sebesar tersebut, memberi andil 14 persen terhadap deflasi Kota Malang yang tercatat sebesar 0,12 persen.

“Yang menentukan deflasi dan memberikan kontribusi terbesar adalah penurunan harga daging ayam ras. Sudah turun dua bulan berturut-turut,” kata Sunaryo.

Sunaryo menambahkan, selain penurunan harga daging ayam ras tersebut, deflasi Kota Malang juga didorong adanya penurunan harga pada tiket angkutan udara sebesa 10,44 persen, dan memberikan andil sebesar 0,13 persen terhadap deflasi.

Ia melanjutkan, komoditas lain mengalami deflasi adalah harga cabai merah turun sebesar 43,63 persen dengan andil terhadap deflasi sebesar 0,05 persen, penurunan harga telur ayam ras sebesar 6,42 persen dengan andil 0,04 persen, dan bawang putih turun 10,41 persen dengan andil 0,03 persen.

“Selain itu juga ada penurunan tarif kendaraan online roda empat, dan roda dua, masing-masing sebesar 5,77 persen dan 1,22 persen,” sambung dia.

Meski beberapa komoditas mengalami penurunan atau deflasi, beberapa komoditas lain juga tercatat ada kenaikan. Terjadi pada komoditas emas perhiasan sebesar 4,80 persen dengan andil 0,04 persen.

Kemudian, harga gula pasir naik 12,83 persen, bawang merah 19,86 persen, telepon seluler 2,67 persen, dan upah asisten rumah tangga naik sebesar 0,51 persen pada April 2020.

Sunaryo menambahkan, akibat pandemi COVID-19, juga mempengaruhi sisi permintaan konsumsi masyarakat.

“Akibat COVID-19 ini, dari sisi permintaan juga ada pengurangan. Jadi bukan hanya karena penyediaan dan permintaan saja,” jelasnya.

Ia menambahkan, secara tahun kalender, inflasi Kota Malang tercatat sebesar 0,17 persen, dan secara Years on Years (YoY) tercatat 0,83 persen. Catatan tersebut tersebut merupakan yang terendah sejak 2010.

“Pada sisi lain, inflasi YoY Kota Malang pada 2020 ini merupakan YoY terendah dalam satu dekade terakhir, dari 2010 hingga 2020,” tutupnya.(Der/Aka)

Malang Masuk 10 Besar “Dapur” Industri Digital

Malang Masuk 10 Besar

MALANGVOICE – Perkembangan ekonomi digital di Indonesia sangat impresif. Nilai pasar ekonomi digital Indonesia telah menembus US$40 miliar pada 2019 dan diproyeksikan mencapai US$133 miliiar pada 2025.

Namun, angka tersebut tidak dapat menggambarkan dengan lengkap perkembangan dan potensi pasar digital di Tanah Air. Laporan East Ventures Digital Competitiveness Index (EV-DCI) adalah upaya untuk memetakan perkembangan dan potensi ekonomi digital di penjuru Nusantara, mencakup data dari 34 provinsi dan 24 kota terbesar.

Laporan EV-DCI menunjukkan bahwa ekonomi digital yang saat ini tumbuh pesat, hanyalah
sebagian kecil dari potensi Indonesia. Pertumbuhan bakal makin melesat jika Indonesia bisa menanggulangi beberapa kendala yang dihadapi seperti keterbatasan talenta digital, pelaku usaha yang enggan menggunakan produk digital, hingga akses atas layanan finansial yang rendah.

EV-DCI juga menggambarkan ada ketimpangan perkembangan ekonomi digital di Indonesia.
Skor daya saing digital Jawa jauh lebih tinggi dibandingkan dengan pulau lain, sedangkan
selisih skor antara Jakarta dengan provinsi lain di Jawa masih sangat besar.

Infrastruktur internet yang lengkap dan tingkat adopsi digital yang cepat membuat Jakarta
sebagai magnet industri digital dan pendiri-pendiri startup baru. Skor daya saing digital Jakarta (EV-DCI = 76,8) adalah yang tertinggi di Indonesia.

Namun, beberapa kota lain juga menunjukkan perkembangan yang menarik. Kota berukuran
sedang seperti Malang (EV-DCI = 47,2), misalnya, mampu menempati posisi 10 besar. Posisi Malang sebagai “dapur” industri digital Indonesia membuatnya unggul dalam aspek talenta digital. Balikpapan adalah kota dengan daya saing digital paling tinggi di Kalimantan (EV-DCI = 44,2).

“Kehadiran perusahaan-perusahaan besar di Balikpapan membuatnya sebagai tempat
pertemuan pekerja berkeahlian dari seluruh Indonesia,” kata Partner East Ventures, Melisa Irene.

Kota dengan daya saing paling tinggi di Sumatra adalah Medan (EV-DCI = 50,3). Meskipun memiliki infrastruktur yang kuat dan pasokan talenta yang memadai, Medan mencatatkan skor yang rendah dalam hal adopsi digital.

Di wilayah bagian timur Indonesia, Makassar adalah kota dengan daya saing paling tinggi (EV-DCI = 46,8). Posisi ini tidak mengherankan karena Makassar adalah pusat ekonomi di regional timur. Namun, skor penetrasi layanan finansial digital dan tingkat adopsi UMKM atas layanan digital sangat rendah.

Laporan dan data yang lengkap bisa diunduh di east.vc/dci. Dari data yang disajikan oleh EV-DCI, para pemangku kepentingan dan sektor publik dan sektor swasta bisa saling membandingkan tingkat pemanfaatan teknologi digital di wilayah masing-masing.

Misalnya, bagi pemimpin di tiap daerah, dengan memanfaatkan indeks tersebut dapat semakin
terpacu untuk berlomba menciptakan ekosistem yang terbaik bagi perkembangan ekonomi, digital, baik lewat pembangunan infrastruktur, pengembangan talenta, maupun regulasi yang tepat.

Bagi para pemain besar di industri teknologi Indonesia, EV-DCI bisa menjadi panduan untuk
melangkah lebih jauh dari kota-kota besar ke seluruh pelosok Tanah Air, untuk membantu lebih banyak bangsa Indonesia menikmati manfaat perekonomian digital.

“Untuk mereka yang akan atau baru merintis bisnis, EV-DCI adalah sebuah peta peluang,” tandasnya.(Der/Aka)

Kota Malang Alami Deflasi 0,41 Persen, Dampak Corona?

Kepala BPS Kota Malang Sunaryo. (Tangkapan layar YouTube)
Kepala BPS Kota Malang Sunaryo. (Tangkapan layar YouTube)

MALANGVOICE – Kota Malang alami deflasi sebesar 0,41 persen pada Maret 2020 ini. Kuat dugaan akibat faktor pandemi COVID-19 atau Virus Corona.

Hal ini diungkapkan Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Malang dalam rilis resminya, Rabu (1/4). Dari 8 daerah di Jawa Timur berstatus IHK (Indeks Harga Konsumen), hanya Kota Malang alami deflasi. Sedangkan daerah alami inflasi tertinggi adalah Jember sebesar 0,34 persen.

“Deflasi ini akibat adanya penurunan harga dua kelompok indeks pengeluaran, yakni kelompok makanan, minuman dan tembakau. Lalu kelompok transportasi,” kata Kepala BPS Kota Malang Sunaryo.

Ia melanjutkan, komoditas penyumbang deflasi kelompok makanan, minuman dan tembakau, tercatat sebesar – 0,50 persen. Rinciannya, komoditas cabai rawit, daging ayam ras dan cabai merah.

Lalu kelompok tranportasi sebesar – 3,21 persen, yakni komoditas angkutan udara.

“Adanya penurunan harga dua kelompok indeks pengeluaran tersebut bobotnya cukup besar sehingga mempengaruhi deflasi Kota Malang,” jelasnya.

Ia menambahkan, fenomena deflasi ini menjadi catatan baru. Sebab, pada Maret pada dua tahun sebelumnya tidak pernah terjadi.(Der/Aka)

Aksi Toilet Bersih, Bantu Penuhi Sanitasi Layak Masyarakat di Indonesia

(ki-ka) Sugeng Priyono, Direktur Operasional KOMIDA; Luis Ramirez, Marketing Director Reckitt Benckiser Hygiene Home Indonesia; Darius Sinathrya; Don Johnston, Operations Director Water.org Indonesia. (Istimewa)
(ki-ka) Sugeng Priyono, Direktur Operasional KOMIDA; Luis Ramirez, Marketing Director Reckitt Benckiser Hygiene Home Indonesia; Darius Sinathrya; Don Johnston, Operations Director Water.org Indonesia. (Istimewa)

MALANGVOICE – Berdasarkan data WHO/UNICEF pada tahun 2012, Indonesia merupakan negara kedua terbesar di dunia dimana penduduknya masih mempraktekan buang air besar sembarangan (BABS). Keadaan ini menyebabkan sekitar 150.000 anak Indonesia meninggal setiap tahunnya karena diare dan penyakit lain yang disebabkan sanitasi yang buruk.

Data terkini dari situs monitor Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) yang dimuat di website Kementerian Kesehatan RI menunjukan bahwa masih ada 8,6 juta rumah tangga yang anggota keluarganya masih mempraktekan BABS per Januari 2020.

“Masih banyak masyarakat yang tidak memiliki akses terhadap air bersih dan sanitasi layak sehingga buang air besar di ruang terbuka menjadi permasalahan global yang harus segera diatasi. Berbekal pengalaman 100 tahun memberikan akses terhadap toilet bersih dan higienis, Harpic berkomitmen untuk menjadi bagian dalam mengatasi krisis kebersihan dan sanitasi global ini. Bersama dengan mitra kerja lainnya, Harpic ingin meningkatkan kesadaran publik akan pentingnya perubahan perilaku hidup bersih dengan toilet dan sanitasi layak sehingga tidak ada lagi masyarakat yang buang air besar sembarangan,” ujar Karim Kamel, General Manager Reckitt Benckiser Hygiene Home Indonesia.

Menurut data STBM, 4.5 juta rumah tangga di Pulau Jawa-pun masih mempraktekan BABS. Hal ini mendorong Harpic, pembersih toilet yang diproduksi dan dipasarkan oleh Reckitt Benckiser berkomitmen untuk mengentaskan permasalahan BABS di Pulau Jawa pada tahun 2025. Untuk merealisasikan komitmen tersebut, Harpic menggandeng Water.org, SATO, dan Koperasi Simpan Pinjam Mitra Dhuafa (KOMIDA) untuk bekerja sama mengedukasi tentang pentingnya hidup bersih dengan dan memiliki toilet dan sanitasi layak.

“Indonesia adalah negara terpadat keempat di dunia dimana hampir 28 juta orang Indonesia kekurangan air bersih, dan 71 juta orang tidak memiliki akses ke fasilitas sanitasi yang lebih baik. Dan bagi jutaan keluarga Indonesia yang berpenghasilan rendah, sambungan atau sumur air baru dan toilet yang lebih baik tidak dapat dijangkau sehingga dibutuhkan bantuan investasi dari berbagai pihak agar akses untuk air bersih dan sanitasi yang baik itu dapat dijangkau lebih banyak masyarakat. Kami dengan senang hati menyambut kerjasama dengan Harpic yang menunjukkan komitmen dan misinya untuk memberikan akses toilet dan air bersih kepada masyarakat yang lebih luas,” ujar Don Johnston, Operations Director Water.org Indonesia.

Sebagai langkah awal, Harpic telah mengajak masyarakat untuk berkontribusi memberikan akses terhadap toilet yang lebih bersih kepada masyarakat yang membutuhkan melalui kampanye Aksi Toilet Bersih. Kampanye ini dimulai dengan ide yang sederhana, dengan membeli dua produk Harpic untuk membersihkan toilet rumah. Pembeli berkesempatan untuk menyumbangkan satu produk Harpic bagi mereka yang membutuhkan akses terhadap toilet bersih. Kampanye ini dimulai sejak 27 November sampai dengan 30 Desember 2019 dan berlangsung di seluruh Indonesia. Dari kampanye tersebut, Harpic berhasil mengumpulkan 3.545 produk yang setelahnya akan didonasikan kepada KOMIDA.

Kampanye Aksi Toilet Bersih ini pertama kali diluncurkan pada peringatan Hari Toilet Sedunia 2019 yang diperingati setiap tanggal 19 November.

“Kampanye ini tidak hanya sekedar membeli dan mendonasikan produk, namun juga sebagai gerakan peningkatan kesadaran akan pentingnya akses sanitasi layak bagi kesehatan masyarakat. Dengan turut serta dalam kampanye ini, masyarakat tak hanya mendapatkan toilet rumah yang 10 kali lebih bersih namun secara bersamaan berkotribusi untuk memberikan akses terhadap toilet dan sanitasi bersih bagi saudara kita yang membutuhkan,” ujar Luis Ramirez, Marketing Director Reckitt Benckiser Hygiene Home Indonesia.

Berdasarkan data KSP Mitra Dhuafa (KOMIDA), dari 735.957 anggota yang tersebar di 287 kabupaten dan daerah di Indonesia, hanya 551.435 anggota yang memiliki toilet dan septictank. Sedangkan ada 105.821 anggota yang memiliki toilet namun tidak tersambung septictank dan 78.701 anggota yang belum memiliki toilet.

“Dari data Desember 2019, masih banyak anggota yang tidak mempunyai toilet ataupun sanitasi kurang layak, dan masih banyak perilaku buang air besar sembarangan di jamban samping sungai karena faktor kebiasaan. Jika terus dibiarkan, hal ini akan berpengaruh terhadap kesehatan keluarga dan anak anggota KOMIDA, karena penyakit diare akibat dari buang air besar sembarangan. Maka Merupakan aksi nyata KOMIDA dengan memfasilitasi anggota berupa pinjaman Sarana Air Bersih dan Sanitasi. Oleh karena itu kami sangat bersyukur Harpic turut ambil bagian dalam upaya menyediakan toilet yang lebih bersih bagi masyarakat melalui kampanye Aksi Toilet Bersih ini,” ujar Sugeng Priyono, Direktur Operasional KOMIDA.

Menurut laporan World Bank’s Water and Sanitation Program (WSP) dalam Economic Impact of Sanitation in Indonesia, sanitasi buruk menjadi penyumbang bagi meningkatnya penyakit diare, dimana anak-anak menjadi korban terbanyak. Setidaknya ada empat dampak sanitasi buruk pada kesehatan antara lain penyakit diare, tifus, polio, dan penyakit cacingan. Untuk mencegah meluasnya dampak tersebut, masyarakat perlu memiliki kesadaran terhadap pentingnya sanitasi.

Kampanye Aksi Toilet Bersih ini juga menggandeng seorang bapak 3 anak, aktor, dan presenter olahraga terkemuka di Indonesia, Darius Sinathrya yang juga menaruh perhatian khusus terhadap kebersihan toilet. “Toilet tidak hanya sekedar tempat pembuangan, lebih dari itu, jika toilet tidak bersih dan higienis, akan banyak kuman penyebab penyakit yang bersarang. Banyak saudara-saudara kita yang belum memiliki akses terhadap toilet dan sanitasi layak, menyebabkan maraknya buang air besar sembarangan yang membuat mereka, khususnya anak-anak menjadi rentan terserang penyakit. Apa yang akan terjadi di masa depan jika kesehatan para generasi penerus ini terganggu disebabkan oleh toilet dan sanitasi yang buruk? Ini merupakan pekerjaan kita bersama untuk membantu dan mengedukasi masyarakat akan pentingnya memiliki akses toilet dan sanitasi yang bersih dan higienis,” ujar Darius yang juga dikenal sebagai pria yang cinta keluarga.(Der/Aka)

BCA Dukung Mahasiswa Sukses Hadapi Dunia Kerja di Era 4.0

Kuliah umum Sukses Menghadapi Dunia Kerja di Era 4.0 di UMM. (Istimewa)
Kuliah umum Sukses Menghadapi Dunia Kerja di Era 4.0 di UMM. (Istimewa)

MALANGVOICE – PT Bank Central Asia Tbk (BCA) mendukung visi pemerintah yang bertajuk “SDM Unggul, Indonesia Maju”. Komitmen itu ditunjukkan lewat pembekalan melalui Kuliah Umum kepada 300 mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang dengan tema “Sukses Menghadapi Dunia Kerja di Era 4.0”.

Kuliah Umum yang dibuka oleh Kepala Pengembangan Operasi Wilayah VIII BCA Edy Santoso ini menghadirkan Founder KM Plus & Principal Consultant Alvin Soleh sebagai pembicara. Turut hadir dalam acara ini, Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Malang, Sabtu (16/11).

Edy Santoso mengatakan, perkembangan teknologi yang pesat serta persaingan yang semakin ketat menuntut mahasiswa untuk memiliki bekal dalam menghadapi dunia kerja pada era revolusi industri 4.0, yaitu era disrupsi teknologi, era berbasis Cyber Physical System.

“Hal ini mendorong kami untuk berkontribusi dalam rangka memberikan nilai tambah kepada mahasiswa sebagai persiapan masa depan,” ujar Edy Santoso, sesuai rilis yang diterima MVoice, Senin (18/11).

Tidak hanya diberikan kepada mahasiswa UMM saja, di tahun 2019 BCA telah mengadakan seminar dan kuliah umum untuk beberapa perguruan tinggi lainnya seperti Universitas Padjadjaran, Universitas Brawijaya, Universitas Mulawarman, Universitas Udayana, Universitas Sam Ratulangi, Universitas Indonesia, serta Institut Teknologi Sepuluh November.

“Secara tidak langsung, kuliah umum ini diharapkan dapat pula menjadi salah satu motivasi bagi mahasiswa untuk lebih giat dalam mencapai prestasi akademik dan meningkatkan daya saingnya untuk persaingan dalam negeri bahkan hingga kancah global,” tutup Edy Santoso. (Der/Ulm)

Cabai Masih jadi Komoditas Utama Penyumbang Inflasi Kota Malang

BPS Kota Malang menggelar konferensi pers tentang inflasi Agustus 2019, Senin (2/9). (Humas Pemkot Malang)
BPS Kota Malang menggelar konferensi pers tentang inflasi Agustus 2019, Senin (2/9). (Humas Pemkot Malang)

MALANGVOICE – Cabai masih jadi primadona komoditas utama penyebab inflasi, Agustus 2019. Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Malang mencatat inflasi sebesar 0,19 persen.

Angka ini lebih tinggi dari Inflasi Provinsi Jawa Timur dan nasional yang angkanya berkisar 0,12 persen. Alhasil inflasi Kota Malang tertinggi ketiga se-Jawa Timur setelah Jember 0,33 persen dan Probolinggo 0,27 persen.

Inflasi dipicu naiknya harga beberapa komoditi antaralain, cabai tawit, tarif sekolah dasar, upah tukang, tarif sekolah menengah pertama, emas perhiasan, daging ayam ras, semen, cabai merah, kacang panjang dan buah apel. Khusus komoditas cabai rawit ini sudah dua bulan berturut—turut menjadi penyumbang inflasi.

Kelompok pengeluaran yang memberikan andil/sumbangan inflasi Agustus 2019, yaitu kelompok sandang 1,30 %, perumahan, air, listrik gas dan bahan bakar 0,36 %, pendidikan, rekreasi dan olahraga 0,36% serta bahan makanan sebesar 0.26%.

Kepala BPS Kota Malang Sunaryo menjelaskan, bahwa tarif sekolah untuk SMA tidak mengalami inflasi.

“Justru deflasi dan ini yang memberikan sumbangan besar terhadap inflasi di bulan Agustus ini,” ujarnya, Senin (2/9).

Terlepas dari itu, lanjut dia, menyambut sensus penduduk tahun 2020 bakal menggunakan metode digital. Merespon itu, pihaknya berharap partisipasi seluruh masyarakat Kota Malang.

“Nanti sensus 2020 untuk Kota Malang akan online, karena di sini daerah tujuan pendidikan sehingga harapannya partisipasi sensus penduduk online ini lebih tinggi dari daerah lain,” pungkasnya.(Der/Aka)

BPS Kota Malang: Cabai Rawit Penyumbang Inflasi Terbesar

(Humas Pemkot Malang)
(Humas Pemkot Malang)

MALANGVOICE – Komoditi cabai rawit menjadi penyumbang terbesar Inflasi di Kota Malang. Badan Pusat Statistik atau BPS mencatat andil Inflasi mencapai 0,1857 persen, Juli 2019 ini.

Kepala BPS Kota Malang Drs. Sunaryo, M,Si menyampaikan bahwa komoditas penyumbang tertinggi inflasi Kota Malang pada bulan Juli 2019 adalah cabai rawit. Ini juga akibat kenaikan harga sebesar 151,86 persen. Harga cabai rawit ini menyumbang sebesar 0,1857 persen dari angka inflasi 0,20 bulan Juli Kota Malang.

“Pada bulan Juli 2019 ini komoditas penyumbang inflasi terbesar kota malang adalah cabai rawit dengan andil sebesar 0,1857 persen yang pedasnya menasional, kenaikan harga bukan hanya di Kota Malang tapi berdampak nasional,” kata Sunaryo, Kamis (1/8).

“Sedangkan penghambat inflasi Kota Malang terdapat dari angkutan udara dengan andil sebesar -0,2343,” imbuhnya.

Berdasarkan rilis data BPS kota Malang, inflasi bulan Juli Kota Malang sebesar 0,20 persen. Angka inflasi ini lebih tinggi dari Inflasi bulan Juli Provinsi Jawa Timur yang berkisar di angka 0,16 persen.

Inflasi Kota Malang diklaim tertinggi keempat se-Jawa Timur setelah Jember dengan 0,24 persen. Inflasi bulan Juli 2019 dipicu oleh naiknya harga beberapa komoditi antara lain, cabai rawit, daging ayam ras, cabai merah, emas perhiasan, buah pir, tauge/kecambah, ketimun, pisang, labu siam/jipang dan upah pembantu rumah tangga.

Sedangkan kelompok pengeluaran yang memberikan andil/sumbangan inflasi pada Bulan Juli 2019, yaitu: kelompok bahan makanan sebesar 2.01 persen, diikuti kelompok sandang sebesar 0.59 persen, kelompok makanan jadi, minuman, rokok & tembakau sebesar 0.17 persen serta yang terkecil adalah kelompok pendidikan rekreasi & olahraga sebesar 0.01 persen.

Adapun komoditi yang menahan laju inflasi pada bulan Juli 2019 seperti: angkutan udara, bawang putih, tomat sayur, mujair, bawang merah, tongkol pindang, semangka, selada/daun selada, tarif kereta api dan besi beton.(Der/Aka)