“KETIKA SI BISU MEMBACA PUISI”

Oleh: Dee Hwang

Cukup lama aku memandangi perempuan itu. Ia membolak-balik lembar kertas pada buku macam mencari kalimat yang terlewat namun belum lagi ditemukannya sedari lima belas menit lalu. Keningnya mengkerut bak purut, mengenali diksi satu demi satu. Tak lama, lelah mencuat dari sorot matanya yang layu. Dicopotnya headphone yang setia memeluk telinganya, lalu ditutupnya buku sambil mengurut kening perlahan.

ilustrasi gambar

BNN Kota Malang

Aku mencoba menyimaknya lebih dekat, agar lebih baik.

Kupasati bagian depan bukunya. Aku mencoba mengingat sampul karena judulnya tak terbaca. Mungkin aku dapat membantunya dengan membaca buku yang sama di deretan rak lain. Di perpustakaan ini, paling tidak masih ada dua tiga buku sejenis yang tersisa bila tak ada pinjam. Bergegas kulangkahkan kaki menuju rak buku paling ujung dari ruangan ini. Seingatku, tinggal itu saja yang belum ketelusuri.