Baik Negeri maupun Swasta, Pelajar SMA/SMK bakal dapat SPP Gratis

Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak. (Lisdya)

MALANGVOICE – Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa telah merencanakan program Pendidikan Gratis Berkualitas (TisTas) atau SPP gratis untuk SMA/SMK di Jawa Timur. Program ini nantinya akan diberlakukan pada tahun ajaran baru 2019-2020.

Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak Mengatakan bahwa SPP gratis ini, diberikan kepada pelajar SMA dan SMK. Baik sekolah negeri maupun swasta, dengan pola pemberian BOS.

“Ya seperti pemberian BOS. Kalau selama ini BOS hanya dari pusat, sekarang ada BOS dari provinsi,” katanya saat berkunjung ke SMAN 8 Kota Malang, Senin (4/3).

Bagi sekolah negeri, lanjut Emil, dengan pemberian BOS, maka sangat memungkinkan beban SPP hilang. Emil menegaskan, semua pelajar harus mendapatkan bantuan ini.

Hanya saja, untuk sekolah swasta bentuknya tidak serta merta ke arah SPP gratis. “Kalau untuk swasta, masih kami godok dahulu dalam program 99 hari kerja kami,” tambahnya.

Dikatakannya, dalam 99 hari pertama akan dirinci petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknisnya. Pemberian untuk sekolah swasta ini bisa saja diarahkan untuk peningkatan kualitas guru, sarana prasarana, menuju akreditasi yang lebih baik, penurunan SPP, atau subsidi silang kepada siswa siswi yang kurang mampu.

“Harus segera dipastikan. Kalau untuk yang negeri ya tinggal tadinya sumber uangnya dari SPP diganti. Karena tujuannya menggratiskan SPP. Tapi kalau yang swasta arahnya dia ke mana itu perlu disepakati,” pungkasnya.(Der/Aka)

Dongkrak Jiwa Wirausaha Kaum Muda, Unikama Gelar Malang Export Summit

Kepala Pusat Bisnis dan Kewirausahaan Universitas Kanjuruhan Malang, Jacob Win. (Istimewa)

MALANGVOICE – Universitas Kanjuruhan Malang (Unikama) menggelar event Malang Export Summit 2019. Kegiatan ini merupakan salah upaya dalam meningkatkan kewirausahaan untuk para anak muda atau kaum milenial.

Kepala Pusat Bisnis dan Kewirausahaan Universitas Kanjuruhan Malang, Jacob Win, mengatakan, kegiatan ini selain untuk memberikan pelatihan dan pendampingan pada mahasiswa juga memberikan peluang bisnis pada industri serta UKM guna mengangkat kesejahteraan masyarakat khususnya di Malang.

“Saat ini, kami (Unikama, Red) melalui inkubator bisnis terus berupaya melakukan pelatihan dan pendampingan bagi mahasiswa dan dosen untuk bersaing dalam dunia industri dan kewirausahaan,” ungkapnya.

Untuk itu, lanjut Jacob, pihaknya berharap dengan adanya unit baru yang dibawah Pusat Bisnis dan Kewirausahaan Unikama ini dapat mensinergikan Prodi dengan Pusat Bisnis supaya dapat berkembang.

“Inkubator bisnis ini baru saja di resmikan bulan Februari lalu. Tapi kami yakin dapat mengangkat potensi yang ada di Unikama,” jelasnya.

Sebab, tambah Jacob, dengan adanya Pusat Bisnis dan Kewirausahaan atau yang biasa juga disebut Business and Enterpreneurship Center (BEC) Unikama dapat mendorong para insan muda untuk mampu berbisnis ataupun membuat uang lewat berwirausaha maupun mengembangkan hobinya masing-masing. Termasuk juga mengajarkan ataupun memotivasi para mahasiswa yang ingin berwirausaha lewat pembekalan keahlian sampai pemasaran.

“Kita juga bertugas membantu dan membimbing mulai dari nol sampai produk mereka dipasarkan, sampai kini yang ditarget tidak hanya mahasiswa tapi juga siswa SMA dan SMK,” pungkasnya.(Der/Aka)

Unikama Targetkan 2.000 Mahasiswa Baru

Kepala PMB Unikama, Ali Ismail saat di dampingi Kepala Humas Unikama, Retno Wulandari. (Toski D)

MALANGVOICE – Pasca terjadi konflik perebutan kepengurusan PPLP PT PGRI, Universitas Kanjuruhan Malang (Unikama) terus berupaya untuk meningkatkan minat pendaftar calon mahasiswa.

Kepala Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) Unikama Ali Ismail mengatakan, dalam penerimaan mahasiswa baru ditahun ajaran ajaran 2017-2018 lalu, pihaknya baru berhasil menerima sekitar 700 mahasiswa.

“Tapi di tahun ajaran 2018-2019 ini kami ditargetkan untuk mengembalikan pada posisi normal, yaitu dengan mencapai kurang lebih 2.000 mahasiswa baru,” ungkapnya.

Memang diakui, lanjut Ali, konflik tersebut sangat berpengaruh pada pendaftaran mahasiswa baru. Untuk itu, pihaknya terus melakukan sosialisasi guna mempromosikan universitas ini agar dapat menjaring mahasiswa baru sebanyak-banyaknya.

“Kami telah mengikuti pameran-pameran di beberapa kota di Jawa Timur. Ada 13 titik pameran yang sudah kita ikuti,” jelasnya.

Selain mengikuti pameran, tambah Ali, pihaknya juga melakukan kunjungan ke sekolah-sekolah untuk memperkenalkan diri kepada siswa kelas 12.

“Istilahnya kami kulonuwun sekolah-sekolah untuk memperkenalkan diri dengan membagikan brosur siswa-siswi tersebut,” pungkasnya.(Der/Aka)

Dosen FPP UMM Temukan Krim Mastitis

Dosen Fakultas Pertanian-Peternakan (FPP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Lili Zalizar. (Istimewa)

MALANGVOICE – Penyakit radang ambing atau yang dikenal sebagai Mastitis merupakan masalah utama dalam peternakan sapi perah, hal ini disebutkan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian.

Bahkan, penyakit ini menyebabkan kerugian ekonomi mencapai Rp 10 juta per ekor dalam satu tahun. Akibatnya, berdampak pada penurunan produksi susu, penurunan kualitas susu, biaya perawatan dan pengobatan yang mahal serta pengafkiran dini sapi produktif.

Dosen Fakultas Pertanian-Peternakan (FPP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Lili Zalizar, akhirnya melakukan penelitian tentang kasus Mastitis.

“Kondisi di peternakan sapi perah yang paling merugikan adalah terjadinya radang kelenjar susu,” jelas Lili.

Sementara, terdapat dua jenis Mastitis yakni gejala klinis yang jelas (Mastitis Klinis) dan gejala tidak tampak (Subklinis).

Lili menjelaskan, pada gejala yang banyak ditemui pada ternak sapi perah biasanya berupa gejala Subklinis. Ciri-cirinya sulit untuk dideteksi peternak karena tidak nampaknya gejala yang ditimbulkan.

“Saya pernah meneliti pada salah satu wilayah di Pujon. Dari satu daerah saja 60 persen sapi yang ada terkena mastitis subklinis dan baru diketahui saat sudah dalam kondisi sangat parah,” terangnya.

Selain kerugian ekonomis, penyakit mastitis secara tidak langsung juga berdampak pada kesehatan manusia. Peningkatan kejadian penyakit mastitis, diikuti dengan peningkatan penggunaan antibiotika, pada gilirannya berpotensi meningkatkan residu antibiotik dalam air susu dan potensi peningkatan resistensi bakteri terhadap antibiotika. Gangguan ini mengakibatkan masalah kesehatan bagi manusia.

Berdasarkan hasil identifikasinya yang pernah dilakukan di sentra sapi perah Jawa Barat, bakteri patogen penyebab mastitis adalah Staphylococcus aureus dan Streptococcus agalactiae. Penularan bakteri ini, melalui puting dan berkembang biak dalam kelenjar susu. Hal ini terjadi karena puting yang habis di perah terbuka, kemudian kontak dengan lantai atau tangan pemerah yang mengandung bakteri.

Pada kondisi parah, sapi terdampak Mastitis, susu yang dihasilkan sapi perah tidak bisa dicampur dengan susu sapi yang lain dan terlihat pecah. Ini juga sejalan dengan hasil penelitiannya pada kasus Mastitis Subklinis sapi perah laktasi di Kecamatan Pujon Kabupaten Malang. Lili lantas melakukan riset untuk pengobatan dan pencegahan pada kasus mastitis dan menghasilkan produk berupa Krim anti mastitis.

Dijelaskannya, sapi yang telah selesai diperah, kemudian ambing yang langsung diolesi krim ini mempunyai jumlah bakteri yang jauh lebih rendah dibandingkan dengan yang tidak diberi krim anti mastitis.

“Dengan demikian peluang untuk menjadi mastitis lebih rendah dibandingkan yang tidak diolesi krim. Hal ini karena semakin tinggi jumlah bakteri maka peluang terjadinya mastitis lebih tinggi,” jelasnya.

Untuk itu, ke depan, ia akan berencana memproduksi temuannya menjadi produk komersial. Bahkan, sudah setahun berjalan dilakukan pengemasan pada produk krim anti mastitis. Produksi saat ini masih untuk kalangan tertentu yang tersebar ke beberapa tempat. Seperti Koperasi Jabung dan peternak di wilayah Pujon. “Untuk kedepannya mungkin kami bisa memprodusi produk ini secara masal dan memiliki hak paten,” ungkapnya lebih jauh.

Hilirisasi dan komersialisasi hasil penelitian memang tengah menjadi perhatian besar UMM. “Kami tidak hanya melakukan penelitian untuk dijadikan jurnal saja, tapi hasil dari penelitian kita terapkan menjadi sebuah produk agar masyarakat juga bisa merasakan hasil dari penelitian nya. Salah satunya berupa krim anti mastitis ini,” pungkasnya.(Der/Aka)

Tahun ini, Pendaftar SBMPTN Wajib ikuti UTBK

Owner Bimbel Ilhami, Suluh Wahyu Pambudi. (Lisdya)

MALANGVOICE – Siswa-siswi yang akan mendaftar ke perguruan tinggi melalui Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi (SBMPTN) pada tahun ini, wajib mengikuti Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK).

Owner Bimbel Ilhami, Suluh Wahyu Pambudi mengatakan, tahun 2019 ini, SBMPTN mengalami perubahan yang signifikan. Ya, SBMPTN tahun ini 100 persen menggunakan UTBK. Dengan model UTBK, siswa dapat mengetahui langsung hasil seleksinya.

“Tahun kemarin kan sebagian masih dilakukan secara manual,” kata Suluh Wahyu Pambudi saat gelaran Santriversitas, try out UTBK SBMPTN dan Talk show di Universitas Islam Malang (Unisma), Sabtu (2/3).

Dikatakkannya, dengan model UTBK, siswa dapat peluang besar untuk diterima di universitas yang diinginkan. Ini disebabkan karena, siswa dapat mengikuti UTBK sebanyak dua kali.

“Semisal pertama gagal dapat ikut lagi. Tapi usahakan kali kedua jangan gagal,” tegasnya.

Perlu diketahui, Pelaksanaan SBMPTN berbasis UTBK dilakukan oleh Lembaga Tes Masuk Perguruan Tinggi (LTMPT). Sama seperti ujian SBMPTN pada umumnya, UBTK kali ini dibagi menjadi dua yakni kelompok Soshum (sosial dan humaniora) dan Saintek (sains dan teknologi).

Pendaftaran UBTK sendiri telah dimulai sejak Jumat, (1/3) kemarin dan akan ditutup pada tanggal 24 Maret 2019 mendatang. (Der/Ulm)

Wali Kota dan Dinas Pendidikan Kota Malang Resmikan SDN Madyopuro 2

Wali Kota dan Dinas Pendidikan Kota Malang memotong pita saat peresmian SDN Madyopuro 2. (Lisdya)

MALANGVOICE – Wali Kota Malang, Sutiaji serta Kepala Dinas Pendidikan Kota Malang, Zubaidah resmikan gedung baru SDN Madyopuro 2 di Jalan Danau Jonge, Sabtu (2/3).

Peresmian gedung sekolah baru itu, lantaran SDN Madyopuro 2 lama yang terletak di Jalan Raya Madyopuro, terdampak oleh pembangunan jalan tol Malang-Pandaan (Mapan).

Anggaran dari Kementerian Pekerjaan Umum (PU) untuk pembangunan gedung baru SDN Madyopuro 2 ini pun tak tanggung-tanggung, yakni sebesar Rp 5,3 miliar.

“Pembangunan SDN Madyopuro 2 ini, karena dampak dari jalan tol. Pembangunannya pun terbilang cepat, hanya 180 hari sejak bulan Mei lalu,” katanya.

Sedangkan Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (Silpa) sekitar Rp 529 juta. Nantinya, Silpa ini akan digunakan untuk pemenuhan sarana prasarana, di antaranya meja kursi siswa dan almari guru.

Model sekolah SDN Madyopuro 2 ini tidak seperti model bangunan SD pada umumnya. Melainkan ada sentuhan religiusnya. Selain sentuhan religius, nantinya juga akan ada sentuhan kebudayaan pada gedung.

“Nanti, Silpa ini yang akan membuat sentuhan Malangan pada gedung. Karena gedung yang berbeda, saya minta kepada seluruh warga SDN Madyopuro 2 untuk saling menjaga sarana prasarana sekolah,” pungas Zubaidah.

Sementara itu, saat peresmian, Sutiaji juga menghibur siswa-siswi, yakni dengan memberikan pertanyaan kepada enam siswa.

Pertanyaan yang diberikan pun seputar pengetahuan dasar. Bahkan ada siswa yang ditantang untuk menghafalkan Pancasila. Kemudian, keenam siswa ini masing-masing diberi hadiah berupa uang Rp 100 ribu.

“Pelihara dan rawat bangunan baru ini. Jangan hanya bangunannya saja yang baru, tetapi prestasi siswanya pun harus semakin bagus,” tegas Sutiaji. (Der/Ulm)

Polinema Terus Dukung PMW

Sosialisasi PMW serta kuliah tamu kewirausahaan. (Istimewa)

MALANGVOICE – Politeknik Negeri Malang (Polinema) terus dukung program Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristek Dikti), dengan mengembangkan dan memperbanyak jumlah mahasiswa wirausaha yang terjalin dalam Progam Mahasiswa Wirausaha (PMW).

Ketua Entrepreneurship Training Unit (ETU) Inkubator Bisnis Polinema, Anik Kusmintarti mengatakan, PMW tersebut ditujukan guna memberikan bekal pengetahuan, keterampilan dan jiwa wirausaha berbasis Ipteks kepada para mahasiswa.

“Pemberian bekal tersebut, harapannya dapat merubah pola pikir dari seorang pencari kerja (job seeker) menjadi pencipta lapangan pekerjaan (job creator),” kata Anik Kusmintarti.

PMW tersebut, lanjut Anik, juga dapat menyiapkan para mahasiswa untuk menjadi seorang karyawan yang memiliki jiwa wirausaha (intrapreneur).

“Kami mendukung program tersebut. Karena sesuai dengan misi Polinema, yakni menciptakan suasana akademik yang kondusif untuk meningkatkan mutu sumber daya manusia dan pembelajaran yang mendorong pola pembelajaran seumur hidup dan tumbuhnya jiwa kewirausahaan,” tambahnya.

Sejak tahun 2009, Polinema telah serius mendukung para mahasiswa untuk bisa menjadi seorang wirausaha. Seperti salah satunya, dengan membentuk Entrepreneurship Training Unit(ETU) yang menginkubasi usaha baru mahasiswa (start up).

“Sejak tahun 2009 lalu, ETU telah melaksanakan PMW secara konsisten untuk melahirkan wirausaha muda dari Polinema yang berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi,” ungkap Anik.

Demi memperkuat fungsi ETU, Direktur Polinema telah mengeluarkan Surat Keputusan Direktur nomor 307 tahun 2019 yang memutuskan bahwa ETU Polinema ditetapkan sebagai Inkubator Bisnis Politeknik Negeri Malang.

“ETU Inkubator bisnis Polinema, sebagai unit pengelola kewirausahaan memiliki tugas untuk memfasilitasi semua kegiatan kewirausahaan mahasiswa yang meliputi Pendidikan, Pelatihan, Seminar, Pemberian modal usaha, Konsultasi dan Pendampingan usaha,” pungkasnya.

Tahun ini, Polinema konsisten melanjutkan program tahun-tahun sebelumnya untuk menginkubasi usaha-usaha mahasiswa serta memfasilitasi start up business mahasiswa. (Der/Ulm)

Mahasiswa Polinema Temukan APATIK, Apa itu?

Tim APATIK. (Istimewa)

MALANGVOICE – Mahasiswa Polinema berhasil ciptakan APATIK (Alat Pemasang Tali Sandal Jepit Pneumatik).

Ide ini bermula ketika Juara PKM-T dari Mochamad Zaenal Fanani beserta kawan-kawannya melihat fakta di UKM CV Sinar Sejati, untuk pemasangan tali sandal jepit masih dilakukan secara manual.

Para pekerja memasangkan tali sandal jepit dengan teknologi sederhana, yakni dengan sepasang ruji yang ditekuk sedemikian hingga dan ditancapkan di atas permukaan kayu.

Cara pemasangannya yaitu lubang sandal dimasukkan ke dalam ruji, sedangkan kancing pada tali sandal dikaitkan di ujung ruji, setelah itu baru ditarik dengan kuat sampai kancing sandal bisa masuk ke dalam lubangnya. Karena sandal jepit tersebut memiliki tiga kancing sandal yang harus dimasukkan ke dalam masing-masing lubangnya, maka proses pemasangannya harus diulang tiga kali.

Otomatis, cara seperti itu sangat tidak efektif dan efisien untuk diterapkan. Selain waktu pemasangan yang cukup lama, tenaga pekerja juga sangat terkuras. Melihat fakta tersebut, mereka mempunyai sebuah solusi untuk membantu UKM CV Sinar Sejati dengan sebuah alat yang bernama APATIK

Perlu diketahui, alat ini menggunakan sistem pneumatik dengan aktuator berupa silinder double action yang ujung batang pistonnya didesain menyerupai pengait. Alat ini dapat menarik kancing tali sandal dengan kuat sehingga dapat masuk ke dalam lubangya.

“Home industry sandal di Desa Toyomarto Singosari, berjumlah lebih dari 50 dan pemasangan tali sandal jepitnya masih dilakukan secara manual. Melihat hal tersebut, tim PKM ini beranggapan bahwa APATIK sangat diperlukan para pengusaha sandal jepit untuk membantu proses produksi,” ujar pemilik UKM CV. Sinar Sejati, Ali Sasmita.

Sebelumnya, tim Zaenal telah mengikuti kompetisi PKM di Politeknik Negeri Malang pada tahun 2017 lalu. Dalam kompetisi tersebut, kelompok mereka lolos seleksi untuk melakukan penguploadan nasional PKM yang diselenggarakan oleh Kemenristek Dikti.

Selain itu, mereka juga meraih Juara I PKM-T se-Polinema. Pada bulan Maret Kemenristek Dikti mengumumkan proposal PKM-T yang lolos pendanaan. Dengan begitu, mereka pun bisa memulai untuk menjalankan program sesuai yang diajukan di proposal.

Program berjalan selama mulai bulan April sampai bulan Agustus, dengan serangkaian kegiatan seperti, survei dan studi literatur, perancangan desain, pengumpulan alat dan bahan, pembuatan alat, pengujian dan analisis, pembuatan buku panduan, serta sosialisasi ke mitra.

“Terima kasih kepada rekan tim, dosen pembimbing, bapak direktur, dan Kemenristek yang sudah memberikan wadah untuk menuangkan ide kami sehingga bisa membanggakan Polinema. Kami mohon doanya, semoga diberikan yang terbaik pada saat PIMNAS 31 di UNY dan semoga kami bisa membawa medali emas untuk warga Polinema,” ujar Zaenal.(Der/Aka)

Polinema Raih Akreditasi A

Totok Prasetyo menyerahkan sertifikat Akreditasi Institusi A kepada Awan Setiawan. (Istimewa)

MALANGVOICE – Politeknik Negeri Malang (Polinema) berhasil meraih akreditasi Institusi A dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) dengan nilai 367, pada 19 Desember 2018.

Akreditasi ini, menjadikan Polinema masuk dalam lima Politeknik yang telah terakreditasi A, dari 43 Politeknik di Indonesia, serta salah satu dari 85 Perguruan Tinggi di Indonesia.

Secara resmi, sertifikat Akreditasi A Polinema, diserahkan oleh Direktur Pembinaan Kelembagaan Perguruan Tinggi Kemenristekdikti RI, Totok Prasetyo, kepada Direktur Polinema Awan Setiawan dalam acara Pembinaan Pegawai Dalam Bidang Peningkatan Capacity Building Menuju Politeknik Negeri (Polinema) Berdaya Saing Global, di Graha Polinema, Sabtu (19/1).

“Akreditasi ini sejarah penting bagi Polinema, serta sebagai sebuah anugerah, perjuangan dan capaian sangat membanggakan dan patut disyukuri,” kata Awan

“Ini hasil dan bukti kerja nyata penuh dan integritas dari seluruh komponen, mulai pimpinan, tenaga pendidik, tenaga kependidikan, mahasiswa, alumni, serta mitra kerja. Pencapaian ini adalah pencapaian bersama, untuk terus dijaga dan ditingkatkan secara bersama-sama oleh civitas akademika Polinema,” tambahnya.

Dengan diperolehnya Akreditasi Institusi A ini, Polinema menempati urutan keempat Politeknik di Indonesia yang meraih akreditasi institusi dengan nilai A. Urutan tersebut, setelah Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS), Politeknik Negeri Bandung (POLBAN), Politeknik Negeri Semarang (Polines), dan Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya (PPNS).

Tak hanya Akreditasi Institusi A, beberapa program studi yang sebelumnya telah meraih Akreditasi A, yakni D-III Teknik Elektronika, Teknik Kimia, Manajemen Rekayasa Konstruksi, Akuntansi, Akuntansi Manajemen, Administrasi Niaga. Keberhasilan meraih Akreditasi A, semakin lengkap dengan raihan Juara Umum Kompetisi Jembatan Indonesia dan Kompetisi Bangunan Gedung Indonesia (KJI & KBGI) 2018.

“Raihan yang membanggakan ini membawa euforia tersendiri bagi civitas akademika Polinema, sekaligus amanat untuk menjaga dan mempertahankan prestasi kedepan. Polinema akan mengembangkan diri, meningkatkan kualitas, meningkatkan daya saing global, dan siap go internasional. Capaian ini harus dipertahankan segenap pihak agar bisa berkesinambungan sampai penilaian akreditasi selanjutnya pada tahun 2022 nanti,” pungkasnya.

Sementara itu, Totok Prasetyo sangat mengapresiasi atas apa yang telah diraih Polinema.

“Ini artinya Polinema telah masuk sebagai perguruan tinggi paling berkualitas tinggi dari dua persen total perguruan tinggi. Sekaligus masuk lima Politeknik terbaik dari 43 Politeknik di Indonesia. Meski menurut saya pribadi, seharusnya Polinema dapat A dari tahun 2016. Sebab mana lagi Politeknik yang berhak dapat akreditasi A saat itu?,” tegasnya.

Dikatakannya, Polinema saat ini harus bertanggung jawab pada semua kegiatan, baik budaya kampus, mutu dan kualitas layanan, siap menghadapi perubahan, standar glocal (global dan local), hingga prestasi Go Internasional.

“Civitas akademika Polinema harus terus berkomitmen agar terintegrasi dengan baik. Selamat atas raihan penghargaan Akreditasi A ini. Jangan dipertahankan, namun terus ditingkatkan dalam menghadapi perubahan,” tandasnya.(Der/Aka)

Bentuk Kerja Sama, Polinema Berencana Bangun Kampus di Kota Pasuruan

Kerja sama antara Polinema dan Pemkot Pasuruan. (istimewa)

MALANGVOICE – Politeknik Negeri Malang (Polinema) berencana membangun kampus baru di Kota Pasuruan. Rencana itu berasal dari tindak lanjut kerja sama antar kedua pihak, Rabu (27/2).

Pengembangan sektor pendikan di Kota Pasuruan ini diharap dapat ikut membantu peningkatan SDM.

“Tahun ini sebisa mungkin terealisasi,” kata Wakil Direktur IV Polinema, Dr. Luchis Rubianto, mewakili Direktur Polinema, Awan Setyawan.

Dalam kerja sama yang ditandatangani Wakil Wali Kota Pasuruan, Raharto Teno Prasetyo dan Awan Setyawan ini sebagai payung untuk melangkah kedepannya.

Pemkot Pasuruan dan Polinema pun setuju bahwa salah satu cara meningkatkan kualitas semua bidang adalah hadirnya pendidikan tinggi.

“Akan kami upayakan bagaimana kota tersebut ada nama Polinema sebagai induk menbina studi. Tanah sudah ada, tinggal langkah ke depan saja,” lanjutnya.

Ia menambahkan, seusai rencana akan ada kelas kemitraan untuk pendampingan wirausahawan di Pasuruan. “Ini kami cari celah bantu kualitas produksi dan pemasaran. Karena yang buat banyak tapi pemasaran sedikit,” kata Luchis.

Sementara itu, Wawali Kota Pasuruan sangat senang dengan adanya kerja sama tersebut. Baginya, Pasuruan butuh pendampingan dari tenaga ahli. Pasalnya, Pasuruan ini identik dengan industri logam dan mebel namun dirasa masih belum bisa dikembangkan. Termasuk segi branding dan pemasaran.

“Bentuk kerja sama tersebut bisa melalui pendampingan, simbiosis marketing pengembangan produk dan kearifan lokal kota Pasuruan” ujar Raharto Teno Prasetyo. (Der/Ulm)

Komunitas