Serangan Dampit-Wonokoyo, Pertempuran Terbesar di Wilayah Semeru Selatan

Pasukan Untung Suropati 18 (PUS 18) yang tak terlupakan (1949)
Pasukan Untung Suropati 18 (PUS 18) yang tak terlupakan (1949)

MALANGVOICE – Atas pengarahan dari Komandan CMK Malang, Mayor Wiyono, pasukan PGI (Pasukan Gerilya Istimewa) dengan semangat yang kembali menyala, dikonsolidasikan dan disusun kembali dengan kekuatan seksi-seksi menjadi Pasukan Untung Suropati 18 (PUS 18) dengan Komandan Sukardi (N. Sugiyama) berpangkat Kapten. Seksi I dipimpin oleh Umar (T. Maekawa), Seksi II dipimpin Peltu Jupri, dan Seksi III dikomandani Letnan Arti Jawak. Mereka menjadi pasukan terotorial di bawah komando militer daerah Malang dengan wilayah operasi Semeru Selatan.

Sementara itu, didorong ambisinya menduduki Kota Dampit, pasukan Belanda memperkuat intensitas patroli, melakukan provokasi dan teror terhadap penduduk untuk menurunkan semangat juang rakyat. Mereka membentuk pasukan khusus IVG yang melakukan tugas spionase. Dengan aktivitas tinggi mereka memperbaiki jembatan dan jalan-jalan yang dihancurkan oleh pasukan gerilya.

PUS 18 (Pasukan Untung Suropati 18) bergerak dari Wonikitri menuju Gunung Kelop yang ditetapkan sebagai pangkalan persiapan (Februari 1949) dan dibuatlah perbentengan di sana. Stelling dilakukan dan dikirim satu regu penyelidik ke jurusan Sumber Kembar. Berdasarkan informasi yang didapat, Regu Keiki Kanjue (senapan mesin ringan) dan regu senapan dari Seksi I dan Seksi II bergerak turun menuju Sumber Kembar lalu meringsek masuk ke Kota Dampit.

Di pertigaan jalan besar dekat pasar, dilakukan penembakan terhadap musuh dan menewaskan dua serdadu Belanda. Terjadi pertempuran sengit ketika pasukan Belanda yang lain keluar dari pasar dan mereka juga segera mendapat bantuan dari Pamotan. Pasukan PUS 18 terpaksa mundur sementara musuh terus mengejar dengan persenjataan berat. Tak terduga, dua juuki dan tekidanto dari atas Gunung Kelop membantu menembaki pasukan Belanda yang kemudian bergerak mundur. Dalam pertempuran 40 menit itu, gugur dua prajurit PUS 18 dan tewas 25 serdadu Belanda.

Beberapa hari kemudian PUS 18 menguasai Sedayu dan Banjarpatoman. Didapatkan informasi bahwa pasukan Belanda sedang bergerak menuju Ngelak dan Amadanom. Pasukan gerilya segera mendaki Gunung Pandan Asri dan mengadakan stelling di saat musuh mendekati ujung kampung Banjarpatoman. Ternyata pasukan Belanda bermaksud mengurung dari balik bukit dan memancing dengan melepaskan tembakan-tembakan. PUS 18 sengaja berdiam diri untuk merahasiakan posisi dan menghemat persediaan amunisi. Menurut informasi, pasukan Belanda berkekuatan satu setengah kompi bersenjata juuki, pistol mitralyur, dan dikuti pasukan genie dan telegrafi, serta tentara Cakra yang ditarik dari Bali.

Pada pukul 08.00 pagi di saat pasukan Belanda masuk dalam jarak tembak, PUS 18 menembak dengan serentak dan pertempuran pun berlangsung hampir 3 jam. Persenjataan yang minim dan persediaan amunisi yang menipis menyebabkan PUS 18 menghentikan serangan. Pasukan Belanda menghentikan tembakan pula karena mengira pasukan gerilya bergerak mundur. Siangnya, mereka mengangkut mayat-mayat dan korban yang terluka, bergerak melalui Amadanom, melewati lembah sungai menuju Dampit.

Esok harinya, pasukan Belanda mendatangkan bala bantuan untuk menghancurkan sarang gerilya di Banjarpatoman. Dengan mendatangkan pesawat tempur, mereka segera meratakan wilayah pertempuran di seputar bukit Pandan Asri. Namun, PUS 18 menduga hal itu dan telah meninggalkan wilayah tersebut.

Pertempuran Wonokoyo boleh disebut sebagai pertempuran terbesar di wilayah Semeru Selatan. Akibat tewasnya komandan mereka di awal pertempuran menjadikan pasukan Belanda kebingungan. Belum lagi terbunuhnya tiga opsir dan 30 orang lebih terluka. Di pihak PUS 18, gugur 3 prajurit dan 3 penduduk sipil. Dari pertempuran itu, PUS 18 berhasil memperoleh rampasan pistol mitralyur, Karaben beserta 300 butir pelurunya, tempat peluru lengkap dan 3 mortier.

Untuk merebut kembali Kota Dampit, Markas Gerilya (MG) III/SMK Malang merencanakan penyerangan terhadap Kota Dampit pada 27 Juli 1949. Pukul 05.45 tembakan pertama dilakukan dengan tekidanto untuk komando dimulainya serangan. Tetapi tembakan mortier yang dilakukan tidak berhasil, pasukan senjata ringan pun bergerak hingga jarak dua ratus meter dari markas pasukan Belanda. Pukul 08.30 pagi seluruh pasukan gerilya mundur dan berkumpul di Gadung Sari lalu bergerak ke Ampel Gading.

Belanda bermaksud mengerahkan bala bantuan dari Sedayu tetapi terkendala berbagai rintangan jalan yang dilakukan oleh pasukan Macan Putih Talok. Di pihak Belanda jatuh korban 24 tewas dan luka-luka. Pasukan gerilya juga berhasil menembak Surateman yang ditengarai sebagai mata-mata musuh.(idur)

Pasukan Gerilya Istimewa (PGI) dalam Penyerbuan Pajaran, Tumpang, dan Jebakan Ranjau antara Wajak-Turen

Konvoi serdadu Belanda di Jawa (kiri). Serdadu Belanda melakukan rasia terhadap rakyat (kanan).
Konvoi serdadu Belanda di Jawa (kiri). Serdadu Belanda melakukan rasia terhadap rakyat (kanan).

MALANGVOICE – Berdasarkan perundingan dengan Abdul Rachman (Tatsuo Ichiki) penasehat TKR di Yogyakarta, Juli 1948, Kolonel Sungkono menginstruksikan kepada semua anggota kesatuan di bawah pimpinannya untuk mengumpulkan orang-orang Jepang, yang sedang berada di kesatuannya masing-masing di Jawa Timur untuk ditarik dan dijadikan satu kesatuan dengan tujuan bersama melawan Belanda. Tidak lama terkumpul 28 orang Jepang di Wlingi Blitar.

Di Wlingi, atas inisiatif Arif (T. Yoshizumi) dan Abdul Rachman (Tatsuo Ichiki) dibentuklah Pasukan Gerilya Istimewa (PGI) yang dikomandani oleh Brigade Surachmad. Di sini, pasukan berlatih militer dan strategi gerilya secara mandiri dan mengusahakan makanan sendiri. Pada Agustus 1948, persiapan telah mantap, pasukan disebar, Komandan (WK) dengan 17 pasukan PGI menuju Dampit. Harsono (T. Tanimoto) dengan anggota 11 orang bertugas menuju Kediri.

Di Dampit mereka memasuki perkebunan dan menggunakan bekas kantor perkebunan Kartodol sebagai tempat untuk antara lain: merencanakan penyerangan pos-pos Belanda, membuat barang dan bahan perang rahasia untuk kepentingan sabotase, menyusun jaringan informasi, dan membentuk gerilya rakyat. Dalam perkembangannya, PGI ini kemudian mendapatkan tambahan 2 (dua) regu dari Brigade XIII.

Pada 30 Agustus 1948, pukul 24.00, PGI bersiap menyerbu pos Belanda di Pajaran yang memilik kekuatan satu seksi dan menempati gudang padi yang dipagari kawat berduri. Waktu itu kampung Pajaran suasananya terang penuh lampu minyak di kanan-kiri jalan karena sedang memeriahkan perayaan ulang tahun Ratu Belanda. Keadaan ini sangat menguntungkan PGI untuk menyerang. Kode ledakan dua bulu granat di atas pos Belanda member isyarat dimulainya penyerangan. Begitu gencarnya serangan, tetapi dari dalam pos tidak ada perlawanan sama sekali. Ketika terdengar tembakan dari arah depan pos, penyerangan dihentikan karena diduga ada pasukan bantuan Belanda yang baru datang dari pos Wajak. Esoknya diperoleh informasi, ternyata perlawanan Belanda malam itu bukan pasukan bantuan dari Wajak, tetapi tentara Belanda sejumlah 10 orang yang kebetulan baru pulang dari undangan Kepala Desa dalam rangka selamatan perayaan hari besar Belanda. Saat PGI menyerang, mereka tidak berani kembali ke pos yang sudah hancur dan hanya berjaga-jaga di halaman rumah Kepala Desa. Mereka juga tidak mengetahui siapa yang melakukan serangan.

Menurut laporan dari pasukan Brigade XII yang ditugaskan untuk memeriksa hasil serangan, pos Belanda hancur lebur, tiga orang petugas jaga bersenjata 12.7 mm mati tertembak, dan di dalam pos/gudang padi 20 orang Belanda tewas akibat reruntuhan bagunan dan ledakan granat.

Di Tumpang, PGI kembali menyerang pos Belanda pada 3 Oktober 1948. Serangan gerilya ini dibantu rakyat dengan penyerangan intensif, menggunakan bahan peledak, dan aksi pembakaran-pembakaran. Hasilnya, terbakarnya asrama musuh dan tiga serdadu Belanda tewas. Moril rakyat pun kembali menguat.

Di pertengahan Desember 1948, Belanda mengawali penyerangan dengan menggunakan pesawat-pesawat tempur melintas Malang menuju ke selatan, menyerang Turen dan Sedayu. Ketika dipastikan Turen dan Sedayu sudah diduduki musuh, PGI pun menyusun kekuatan dipimpin oleh Subejo (Hayashi) dan Sobana (T. Sakai) dan merencanakan menghancurkan panser-panser Belanda. Mereka memasang ranjau di jalan antara Wajak dan Turen yang selalu dilewati pasukan Belanda, sedangkan pasukan senapan mesin diberangkatkan menuju lokasi pertahanan yang telah direncanakan. Didapat informasi, Belanda menambah pasukan dengan satu kompi serdadu bersenjata lengkap untuk menghancurkan PGI.

Sementara menunggu hasil ranjau yang dipasang, PGI dan pasukan bantuan lainnya bersiaga di rumah Asisten Wedono. Ketika ledakan pertama terdengar, ternyata mengenai seorang pemikul kelapa yang sedang lewat. Pukul 06.30 pagi terdengar ledakan kedua, seorang prajurit melaporkan bahwa ranjau berhasil mengenai sasaran, yakni panser Belanda dan truk pengiring di belakangnya. Sebanyak 16 orang serdadu Belanda tewas. Dari pos Turen, Belanda segera memberikan pertolongan sembari melakukan penembakan membabi buta di sekitar lokasi kejadian.­(dur)

Pasukan Hamid Rusdi Menumpas Anasir-anasir PKI di Malang Selatan

Dari kiri:Kapten Suyono (Yono Gaplek) Komandan Kompi, Abdul Syarif (Komandan Batalyon, Slamet Hardjooetomo (Komandan Seksi-2)

MALANGVOICE – Situasi yang terjadi di lini-waktu sepanjang perang kemerdekaan nampaknya dimanfaatkan oleh Belanda untuk kembali melakukan Agresi Militer II. Suhu politik meningkat saat terjadinya Peristiwa Madiun 1948 (Madiun Affair), kemudian Tan Malaka dengan ‘Kawi Pact” di daerah Malang Selatan, belum lagi FDR-nya Amir Syarifuddin, serta gerakan anasir-anasir pemberontakan PKI Madiun di Donomulyo (Malang Selatan) dan di wilayah lainnya. Padahal di Jawa Timur sebagian pasukan RI bertugas di daerah status-quo dan sedang melaksanakan konsolidasi seusai Agresi Belanda I.

Pemerintah RI segera bertindak dengan cepat menjadikan Jawa Timur sebagai daerah istimewa dengan mengangkat Kolonel Soengkono sebagai gubernur militer. Saat itu Panglima Besar Jenderal Soedirman sedang sakit, sehingga untuk menumpas pemberontakan-pemberontakan dikomando oleh A.H. Nasution sebagai Panglima Merkas Besar Komando Djawa.

Kecepatan gerak oleh Combat Inteligence dilakukan untuk menangkal upaya-upaya penyebaran pengkhianatan. Di daerah Kepanjen, atas perintah Mayor Soedjanudji, Pranowo Hadiwidjojo dan pasukannya berhasil menangkap kurir dari Madiun yang akan menyampaikan pesan surat berasal dari pimpinan PKI Yogyakarta yang tertuju pada badan perjuangan tertentu di daerah Malang Selatan.

Dalam menyebarluaskan ideologinya, PKI tidak hanya mempengaruhi rakyat setempat, tapi disertai konsolidasi kekuatan militer. Di Donomulyo didirikan sebuah batalyon khusus pertahanan yang dipimpin oleh Tjokro Bagong yang disebut Batalyon Dji’in. Mereka juga melakukan intimidasi, sabotase, dan penyiksaan, seperti yang dialami oleh Hardjo Prajitno sinder persil Kali Telo yang sempat dikubur hidup-hidup, tetapi sempat diselamatkan.

Untuk melaksanakan tugas penumpasan ini, Brigade IV berkedudukan di Sedayu dibawah pimpinan Letkol Abdoel Rifai. Mobat I yang dipimpin Mayor Hamid Rusdi dari Turen menuju Bantur dan berjalan kaki ke Sumbermanjing Kulon. Dari siini, berangkat Seksi-2 Slamet Hardjoeoetomo dan Seksi-3 Tjokro Hadi dan berhasil merebut Donomulyo. Dibantu Kompi Depo Kapten Nailun Hamam yang kemudian datang, mereka melakukan pembersihan di Donomulyo, Kalitelo, Tumpakrejo, dan Telogosari. Seksi-3 bertugas melakukan pembersihan di desa-desa gunung Malang, Jolosutro dan sekitarnya.

Di saat yang sama, Kompi I Sulam Samsun dikirim ke Cepu untuk membantu pasukan lainnya dalam Peristiwa Madiun dan bertugas menguasai instalasi-instalasi minyak di Cepu. Kompi 2 Sabar Soetopo melakukan penumpasan di sekitar Turen-Dampit. Kompi Depo Kapten Nailun bergerak dari Wonosari, Pagak,Tumpakrejo diperkuat Kompi Polisi (MB Polisi).

Gejolak di Donomulyo pada akhirnya dapat ditumpas oleh kesatuan-kesatuan dari Hamid Rusdi dan Wachman, dan pasukan dari Kompi Suyono. Mereka digrebeg sewaktu mengadakan rapat massa di persil Kali Telo dipimpin Tjokro Bagong yang bertujuan mempersiapkan penyambutan terhadap rencana kudeta di Madiun. Batalyon Dji’in berhasil dilucuti oleh Mayor Hamid Rusdi. Tjokro Bagong tertangkap di di daerah hutan Jolosutro, lalu dibawa ke Talangagung dan dipindahkan ke Turen, sementara anasir PKI lainnya melarikan diri ke Blitar Selatan.

Operasi di Donomulyo berjalan lancar berkat bantuan masyarakat. Pemeriksaan terhadap penduduk dilakukan di daerah basis PKI. Orang-orang PKI yang dianggap kelas ringan dibawa ke tempat tahanan di Suwaru,Gondanglegi, dan yang dianggap kelas berat dan membahayakan bangsa di tahan di daerah Petung Ombo, persil kopi di daerah Dampit.

Tugas penumpasan anasir-anasir PKI di Malang Selatan telah ditunaikan. Cobaan dan tantangan belum selesai. Pasukan RI kembali berkonsolidasi, menyatukan kembali semangat dan memusatkan perhatian untuk kembali menghadapi pasukan Belanda. (idur)

Batu Bumi Hangus, Pertempuran di Wilayah Pujon dan Penyerangan Sebaluh

Pasukan Belanda saat Agresi Belanda I di Malang (kiri), Tank Belanda memasuki Batu (1947)
Pasukan Belanda saat Agresi Belanda I di Malang (kiri), Tank Belanda memasuki Batu (1947)

MALANGVOICE – Agresi Belanda I yang bergitu gencar menyebabkan sebagian besar pasukan RI mundur dan membuat pertahanan di Batu, yakni di Gunung Dali, Rajekwesi, Gunung Bale, Gunung Seruk dan di Pegunungan Banyak. Pada waktu itu, 1948, Pujon-Ngantang adalah bagian dari wilayah Malang Barat yang meliputi Karesidenan Batu, termasuk Kasembon dan Batu.

Konsolidasi pertahanan dipimpin oleh Mayor Abdul Manan dan memiliki kekuatan kompi seperti Kapten Soemitro dan Kapten Sumeru, serta bantuan dari pasukan Batalyon Soenandar. Malang Barat hampir seluruhnya dikuasai Belanda, seperti Sengkaling, Dinoyo, dan Karangploso. Maka, rakyat pun berbondong mengungsi ke daerah Pujon, Kasembon, dan Ngantang. Rakyat Batu sebagian besar mengungsi ke Pujon dan Jurangkuali.

Kampung Songgoriti, Tambuh, dan Songgokerto mengalami kerusakan parah dan kosong akibat beberapa pertempuran dan Kota Batu sudah dibumihanguskan. Belanda bertahan dan menguasai Batu, membuat benteng pertahanan di Nganglik, Jambedawe, Songgokerto, dan Kawedanan Batu. Oleh pasukan RI jalan besar antara Sebaluh dan Pujon dirusak dan terputus.

Arus pengungsi menuju Pujon, Kasembon, dan Ngantang menyebabkan bertambahnya jumlah penduduk di sana dan kehidupan sehari-hari semakin berat. Sebagian rakyat berdagang ke daerah pedalaman melewati jalan-jalan yang tidak diawasi oleh pasukan Belanda. Saat itu Belanda sedang melaksanakan blokade ekonomi terhadap RI. Jatah bantuan makanan didapatkan dari Kediri, Jombang, dan Mojokerto, daerah-daerah yang masih dikuasai RI. Namun, dalam kondisi demikian Wedono Suntoro yang bertempat tinggal di Pujon dapat menjaga kehidupan pertanian berjalan sebagaimana biasanya.

Sebelum terjadinya Agresi Belanda II, Batalyon Abdul Manan secara bergiliran mengadakan penyusupan untuk mengenali medan dan menyelidik situasi. Kompi Sumeru melaksanakan gerakan untuk memasuki daerah Lawang, Kompi Yusuf bergerak menyusup ke daerah Malang Barat, Kompi Benu bertugas menembus ke daerah Batu. Sementara Kepala Staf Batalyon, Soemitro, berjaga di pos komando di daerah Pasar Pujon/Ngroto.

Di awal Agresi Belanda II, pos pasukan Belanda di daerah Sebaluh diserang oleh Batalyon Abdul Manan. Pasukan Belanda terdesak mundur dan didapatkan rampasan dari mereka, antara lain 6 buah mantel, helm, telepon, dan mobil jeep yang diangkut beramai-ramai oleh penduduk.

Pada 19 Desember 1948, diperoleh informasi bahwa Belanda sedang melintas menuju ke barat, yaitu Gunung Kelet, desa Bian, Bakir, dan Bendosari Kecamatan Pujon. Terjadilah kontak senjata dengan Batalyon Abdul Manan dan Batalyon Sabaruddin. Di wilayah desa Maron, pasukan Belanda dihadang dan terjadi kontak senjata dengan Kompi Mistar.

Melanjutkan gerakan pasukan menuju Desa Kambal dan Selorejo, di desa Klangon pertempuran hebat terjadi ketika pasukan Belanda disergap oleh Kompi Soemadi yang dipimpin Letda Martawi yang kemudian mundur ke desa Gobet Mendalan. Belanda ternyata bertaktik lain, mereka menerobos hutan menuju Waduk Sekuli dan menduduki Kleppen Huis. Mereka menutup pintu air yang mengalir ke turbin dan membuang ke sungai Konto. Listrik pun padam. Nampaknya pasukan Belanda sudah mengetahui tentang taktik pasukan RI, yakni taktik bumi hangus dengan memakai bom yang dialiri arus listrik.(idur)

Pembentukan BKR Malang Setelah Mendengar Berita Proklamasi RI dari Kelompok Bawah Tanah yang Bertugas Menyadap Radio

Dari kiri; Bambang Soepeno, Abdul Rachman (Tatsuo Ichiki) Komandan PGI Malang, Kapten Ridwan Naim.

MALANGVOICE – Ketika Jepang mulai jatuh dari kemenangan-kemengan setelah tentara Sekutu dapat menembus garis pertahanan Jepang di Lautan Pasifik, kesatuan-kesatuan bersenjata bentukan Jepang seperti Peta dan Heiho bisa jadi masalah besar bagi Jepang, apalagi setelah meletusnya pemberontakan Peta di Blitar. Ujungnya, pada rapat Gun-shireikan, 14 Agustus 1945, diputuskan untuk membubarkan Peta dan Heiho. Kondisi ini disambut baik oleh para pemuda, khususnya oleh mereka yang pernah memiliki pengalaman militer seperti mantan anggota Peta, Heiho, dan KNIL.

Pada 19 Agustus 1945, panglima terakhir Tentara Keenambelas di Jawa Letnan Jenderal Nagano Yuichiro mengucapkan pidato perpisahan kepada seluruh anggota Peta. Para anggota Peta diberi pesangon sebesar 6 bulan gaji, jatah bahan makanan dan bahan pakaian. Tetapi, mereka tidak diberitahu tentang proklamasi kemerdekaan yang telah diumumkan Soekarno-Hatta.

Atas inisiatif mantan shodancho Bambang Soepeno, dikumpukanlah para mantan shodancho, seperti Sugito, Soeprapto, Purbo S, Suwondo, dan Ippang Sudianto. Mereka mendengar berita tentang proklamasi kemerdekaan Indonesia dari teman yang tinggal di Jalan Bromo, kelompok bawah tanah yang bertugas menyadap berita radio. Mereka juga sering berkumpul di Jalan Merapi, rumah Pak Tjokronegoro, orang Indonesia mantan tentara Jepang, berpangkat kapten (Chu-i) dan bertugas di Seinendojo Malang.

Dalam sebuah rapat yang diadakan di Rumah Imam Soedjai (mantan Daidan Peta), Jalan Tenis 28 Malang, pada 24 Agustus 1945, dibentuklah BKR (Badan Keamanan Rakyat) Malang, sebagai wadah perjuangan untuk membela tanah air Indonesia. Dihadiri oleh sebagian besar mantan anggota Peta, terbentuklah pengurus BKR Malang, yakni: Ketua Imam Soedjai, Wakil Ketua Iskandar Soelaiman, dan anggota-anggotanya adalah Subianto, Hamid Rusdi, Mochlas Rowie, Sulam Samsun, Sochifudin, dr. Imam, Iwan Stamboel, Soesilo, Asmanu, Ridwan Naim, Moetakat, Bambang Soepeno, D. Soekarijadi, Soenjoto, Slamet, Soejono, Abdul Manan, Soegito, Soedi Hardjohoedojo, Mr. Abdul Wahab (ahli hukum), dan Abdul Rachman (Kepala Polisi Malang).

Dokter Imam diberi mandat untuk mengambil alih urusan rumah sakit, dan Bambang Soepeno bertugas membentuk BKR Penyelidik. BKR di kota-kota lain dalam karesidenan pun lalu dibentuk, seperti BKR Probolinggo diketuai oleh Soedarsono, BKR Lumajang dipimpin dr. Soedjono, dan BKR Pasuruan diketuai oleh Poerwowijono.

Sejalan waktu, terbitlah Maklumat Pemerintah pada tanggal 5 Oktober 1945 yang menyebut diadakannya TKR (Tentara Keamanan Rakjat), berlanjut dengan pengumuman untuk mobilisasi umum yang disambut dengan semangat oleh para pemuda yang kemudian berbondong-bondong memasuki TKR. Ini merupakan langkah maju, dan otomatis BKR-BKR yang sudah ada diubah menjadi TKR.

Di Malang, antusias para pemuda mengakibatkan makin bertambahnya jumlah anggota pasukan dalam kesatuan-kesatuan TKR, maka markas divisi yang semula berada di Jalan Semeru 42 (bekas kantor Kenpetai) dipindahkan ke Jalan Suropati (sekarang kantor Inmindam Brawijaya). Organisasi pun disempurnakan, TKR DIvisi VIII yang bermarkas besar di Malang dipimpin Mayjen Imam Soedjai sebagai Panglima dan Kololonel Iskandar Soelaiman sebagai Kepala Staf.

Di pusat, Jakarta, mantan mayor KNIL Oerip Soemohardjo diberi mandat menyusun organisasi dalam TKR. Diumumkan bahwa pimpinan tertinggi TKR adalah Soeprijadi (tokoh pemberontakan Peta) dan Oerip Soemohardjo sebagai Kepala Staf Umum TKR. (idur)

Mbois! lewat Uru-Uru SMKN 3 Batu Sabet Juara Film Pendek Nasional

Hanny Aulia Ningtyas dan Nadia Bunga menunjukkan piala Juara I Lomba Film Pendek, Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N). (Aziz Ramadani/MVoice)
Hanny Aulia Ningtyas dan Nadia Bunga menunjukkan piala Juara I Lomba Film Pendek, Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N). (Aziz Ramadani/MVoice)

MALANGVOICE – SMKN 3 Batu kembali menambah koleksi piala film pendek di Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) 2018 tingkat SMK. Karya berjudul Uru-Uru sukses mengantarkan prestasi membanggakan tersebut.

Tim terdiri 7 siswa kelas XII jurusan Broadcasting itu sukses menyisihkan 26 sekolah peserta lain. Adalah Hanny Aulia Ningtyas sebagai produser, Nadia Bunga sebagai sutradara, Fitra Kurniawan sebagai cameraman, Allisya Damayanti sebagai penata artistik, Kevin Dio Achmad sebagai penata suara, Rio Reza Setyawan sebagai lightman, dan Nurrohmat Adi sebagai editor. Lomba diadakan di GOR Harapan Banda Aceh, Juli lalu.

Film berdurasi 9 menit 59 detik itu angkat budaya Uru-Uru atau timang-timang. Gagasannya berangkat dari kegelisahan mereka sekaligus kerinduan terhadap budaya yang dialami semasa kecil.

“Namun saat ini budaya itu luntur. Kebanyakan anak-anak ketika merengek justru malah diberi gadget,” kata Hanny.

“Ini ide bersama kami. Kami merasa merindukan masa itu. Dan saat ini juga sudah jarang terlihat, bahkan hampir hilang di masyarakat,” imbuhnya.

Film ini menceritakan tentang tokoh utama bernama Rara berusia 7 tahun. Yang sejak kecil tinggal bersama neneknya. Saat itu pula Rara ditimang-timang disertai tembang Jawa berjudul Dandang Gulo. Namun, setelah sang nenek meninggal dunia, Rara kembali ke rumah dan tinggal bersama mamanya.

“Nah, mamanya Rara ini selalu sibuk dengan pekerjaannya dan jarang menghiraukan si Rara. Tentu Rara merasa kesepian dan teringat dengan kenangan bersama neneknya,” sambung Hanny.

Beruntunglah, Rara dititipi buku aksara Jawa oleh mediang neneknya. Rara mulai termotivasi mempelajari bahasa Jawa dan berkonsultasi dengan gurunya. Hari demi hari Rara akhirnya belajar dan bisa mengenal aksara Jawa dan tembang-tembang Jawa yang mengandung pesan moral.

Sutradara Uru-Uru, Nadia Bunga menambahkan, proses pembuatan film ini memakan enam bulan lamanya. Selama proses pembuatan film ini beberapa kendala juga dialami. Seperti mencocokkan pemeran dengan perannya hingga soal lokasi syuting.

“Tetapi secara keseluruhan kendala teknis bisa kami atasi” tutupnya.(Hmz/Aka)

Penghancuran Pos Belanda Tegal Weru, Penyerbuan Sengkaling Hi­­­­­ngga Wingate Action Pertama ke Kota Malang

Dari kiri: Komandan Kompi Yusuf Abu Bakar, Kapten Soemitro memimpin parade upacara militer di Malang (1950), Kapten Sulam Samsun.

MALANGVOICE – Pos Belanda di Tegal Weru menjadi pos penting bagi mereka untuk memantau gelagat GRK yang akan memasuki Kota Malang. Oleh karenanya suaru keharusan strategis untuk menghancurkan pos tersebut agar terbuka lebar jalan masuk bagi pasukan GRK untuk melalukan wingate action.

Konsilidasi pasukan dilakukan di rumah Carik Tekung. Diputuskan serangan akan dilakukan pukul 03.00 dini hari dan dilakukan dari jurusan utara menuju selatan melalui sungai kecil. Serangan dipersiapkan dengan matang, senjata-senjata berat MG dan 12.7 dibawa serta. Pasukan yang bergerak adalah Kompi Yusuf Abubakar dengan penyerang dari peleton Sunjoto, Komandan Regu I Sersan Ngadisan, dan Komandan Regu II Kopral Pagang. Peleton Gondo diposisikan di jalan antara Tegal Weru-Sengkaling dan menjadi penghadang apabila pasukan Belanda mengerahkan bala bantuan dari daerah Sengkaling. Regu I Sersan Ngadisan sudah siap dengan persenjataan granat gombyok, tapi karena datang terlalu awal, jadinya cukup lama menanti untuk memulai serangan. Anjing Belanda menggongong, mengendus persembunyian mereka.

Pukul 03.00 serangan dimulai. Dalam pertempuran yang cukup dahsyat, pasukan Belanda yang berjumlah satu regu, tak seorang pun yang hidup. Selanjutnya, langkah strategis menghindari bala bantuan musuh, pasukan GRK segera bergerak mundur ke daerah Baran Kerinci dan berlanjut ke Petung Sewu. Paginya, setelah sukses melakukan penghancuran pos Tegal Weru, pasukan GRK, Batalyon Abdul Manan makan nasi gule kambing, setelah sekian lamanya tidak pernah makan enak. Terdengar kabar bahwa pasukan Belanda bertindak membabi buta di daerah Baran Kerinci, tapi GRK sudah jauh melanjutkan perjalanan.

Suatu siang Kapten Soemitro mendapatkan undangan lewat kurir, 2 orang pandu, untuk rapat di Kota Malang, di Taman Siswa (depan RS Lavalette). Padahal di belakang sekolah Taman Siswa ternyata markas pasukan Belanda. Untung tidak terjadi sesuatu yang tak diinginkan. Dalam rapat itu, ada kelompok yang berjanji membantu apabila pasukan akan mengadakan serangan ke kota Malang, yakni dengan demo pemogokan buruh, pemutusan aliran listrik dan aliran air minum.

Setelah penyerangan Tegal Weru, akses ke Kota Malang lebih leluasa. Serangan pertama terhadap Kota Malang pun dilakukan pada 31 Januari 1949. Kompi Yusuf dan Kompi Kusnadi (Kompi Alap-alap) mengawali dengan penyerbuan dan penghancuran pos Belanda di Sengkaling, serta menghasilkan kemenangan besar dan pasukan bias memasuki kota sampai siang hari. Dalam penyerangan ini gugur seorang prajurit bernama Moestari. Ternyata, kelompok yang berjanji membantu untuk pemutusan aliran listrik dan lain-lain cuma omong kosong dan diduga kuat ‘antek’ yang bekerja untuk kepentingan Belanda. Namun, GRK terus bergerak untuk menghancurkan kekuatan jaringan mata-mata yang begitu kuat saat itu.

Dalam situasi yang dianggap cukup aman, anggota GRK sudah berani berkeliaran di alam Kota Malang pada siang hari dengan penyamaran, menggunakan sarung dan peci, bersepeda seperti rakyat lainnya.

Maret 1949 GRK merencanakan serangan kedua. Mayor Hamid Rusdi memberikan mandat kepada Kapten Soemitro untuk memimpin penyerangan kali ini, dan berjalan dengan baik, serta memberikan kemenangan psikologis massa, semangat perjuangan yang semakin membara. Peran Peltu CPM Ngasino sungguh luar biasa pada penyerbuan kali ini. Kemenangan moril yang memotivasi rakyat untuk tidak putus asa dalam perjuangan meraih apa yang diimpikan bersama.

Usai serangan kedua ini, Kapten Soemitro diangkat sebagai Komandan Kota Malang oleh Mayor Hamid Rusdi. (idur)

Mbois, di Tangan Muchlis Arif Keramik jadi Lukisan Menawan

Muchlis Arif di Galeri Matahati Ceramic di Perumahan Batu Permai. (Aziz Ramadani/MVoice)

MALANGVOICE – Belasan lukisan terpajang rapi di dinding rumah Jalan Merak No. 39 Perum Batu Permai milik Muchlis Arif. Dosen di salah satu perguruan tinggi Surabaya ini menggelar pameran perdananya bertajuk One Thousand Degrees.

Menariknya, biasanya lukisan itu dibuat di atas kanvas, di tangan kreatif Arif lukisan itu dibuat dengan keramik. Lukisan tersebut beraliran abstrak.
Sebelumnya ia melukis diatas kanvas, tetapi ia terinspirasi untuk membuat lukisan di atas keramik.

“Selain jarang ada yang melukis di atas keramik, juga unik. Dan ini ilmu baru (yang diciptakan). Apalagi perajin keramik kini mulai banyak yang ditinggalkan, saya memilih untuk mempertahankan,” kata Arif.

Arif memulai menghasilkan karya lukisan keramik ini sejak awal Januari 2018. Ia lebih memilih bertahan dengan kesenian keramik ini karena menurutnya semakin hal itu ditinggalkan, maka akan semakin mahal. Namun, seluk beluk tentang keramik telah lama dikenalnya, terlebih saat dia mengenyam bangku perkuliahan di ISI Yogyakarta.

“Saya juga masih aktif mengajar seni rupa di kampus,” sambung dia.

Khusus tema pameran kali ini adalah tentang cinta. Terlebih tentang cintanya kepada istrinya, Capri Budijati. Terutama kisah di masa sekolah dulu, yang pintar melukis adalah istrinya. Arif pun meminta untuk diajarkan melukis.

pameran lukisan keramik

Ya, lukisan yang mayoritas dibentuk dari kepingan keramik atau gaya kolase itu juga dikomersialkan. Bahkan, beberapa lukisan sudah ada yang terjual sebelum dipamerkan.

” Ini menunjukkan kalau masih banyak yang tertarik dengan karya lukisan dari keramik,” kata bapak dari dua anak ini.

Melukis di atas keramik bukanlah perkara mudah. Begitu keramik dibuat, ia mencampurkan bahan pewarna . Lalu setelah itu dilakukan proses pembakaran. Dalam proses pembakaran itulah, terbentuk warna abstrak yang warna warni.

“Justru lukisan itu terbentuk setelah proses pembakaran. Lukisan abstrak ini juga tidak dengan melukis seperti biasanya, kadang saya menari-nari. Terinspirasi alunan musik sekitar,” imbuhnya.

Pameran serupa juga digelar di Kaliwatu Rafting selama satu bulan. Khusus

“Kami juga membuka workshop bagaimana caranya melukis di atas keramik. Siapa saja boleh ikut,” pungkasnya. (Hmz/Ulm)

Gugurnya Bunga Bangsa, Sang Pemberani Hamid Rusdi

Dari kiri: Hamid Rusdi, Wachman, Tjokro Hadi
Dari kiri: Hamid Rusdi, Wachman, Tjokro Hadi

MALANGVOICE – Mayor Hamid Rusdi adalah pemimpin yang disegani dan ditaati oleh anak buahnya. Dia ditakuti dan seorang pemberani, sering muncul di Kota Malang yang saat itu dikuasai pasukan Belanda dengan meriam-meriam yang siap ditembakkan di seluruh penjuru kota.

Mayor Hamid Rusdi melakukan perjalanan keliling untuk mengkonsolidasikan perjuangan dengan jalan mendatangi sektor-sektor seperti di Malang Barat pimpinan Kapten Abdul Manan dan Malang Selatan pimpinah Kapten Mochlas Rowie. Sebenanya, Mayor Hamid Rusdi pada saat terbentuknya sektor-sektor tersebut mendapatkan tugas sebagai Komandan MG-I (Markas GerilyaI) yang terdiri dari tujuh perwira dan enam orang pengawal, berkedudukan di Nongkojajar. Namun, keadaan memaksa beliau untuk sementara waktu tetap bertempat di Sumber Suko bersama wakilnya, Kapten Wachman. Bersama Kompi Sabar Sutopo, beliau melakukan penyusupan ke daerah pendudukan ketika Belanda menyerang dengan pesawat-pesawat tempurnya ke markas komando di Turen.

Dari desa Sumber Suko, Mayor Hamid Rusdi kemudian melanjutkan perjalanan menuju ke Nongkojajar dan menyempatkan diri untuk menuju dukuh Sekar Putih, Wonokoyo melalui desa Telogowaru, karena istrinya tinggal di salah satu rumah pondokan di desa itu. Rencananya, setelah bertemu istrinya, perjalanan akan berlanjut ke Nongkojajar. Tapi Tuhan berkehendak lain.

Beliau menjumpai istrinya sambil tetap berjaga membawa senjata kesenangannya sebuah pistol Vickers isi 12 peluru. Setelah pertemuan itu, sebelum pergi beliau berpesan agar istrinya segera meninggalkan daerah tersebut. Sudah kebiasaan, saat pamit beliau tidak pernah memberi tahu ke mana akan pergi. Lebih-lebih pada saat genting. Ini dimaksudkan agar tempat-tempat persembunyiannya sukar dilacak oleh pihak Belanda.

Sehari sebelumnya Hamid Rusdi dan pasukannya sudah berada di atas puncak Gunung Buring ketika pasukan Belanda menggencarkan patroli di wilayah Tajinan. Sebenarnya, Komandan Sektor I Tajinan dan CODM (Coordinator Operasi Daerah Militer) Serma Tjokro Hadi, juga Komandan Seksi II dan III Kusno Hadiwinoto, sudah mengingatkan bahwa keadaan di bawah sangat gawat, sebaiknya Hamid Rusdi menunda perjalanannya.

Hari itu, 7 Maret 1949, pasukan Belanda dengan kekuatan lebih dari dua peleton berjalan kaki meringsek hendak melakukan penyergapan. Penunjuk jalannya adalah mata-mata Belanda, oleh sebab itu tempat kedudukan Mayor Hamid Rusdi dapat diendus. Menurut kabar, Belanda sudah berangkat dari Tajinan sejak pukul 12 siang, mempergunakan pasukan KNIL.

Malam itu Mayor Hamid Rusdi berada di salah satu rumah penduduk. Di situ ada Pak Moesmari pemilik rumah dan Yoenoes menantunya, istri Moesmari Mbok Ngasirah, serta anaknya bernama Roekayah yang sedang hamil. Ajudan Hamid Rusdi, Letnan Ismail Etfendi dan adiknya, Abdul Razak yang mendampingi beliau masuk ke desa Wonokoyo, malam itu tidak ikut menginap di rumah tersebut.

Malam begitu pekat, sekitar pukul sebelas malam, pasukan Belanda menyergap saat semua penghuni rumah sedang tidur. Pak Moesmari membukakan pintu, tak berdaya di bawah todongan senjata, disusul pasukan yang lain dengan segera menuju kamar Mayor Hamid Rusdi. Dengan tindakan yang serba cepat, ketiga laki-laki dalam rumah tersebut diikat dan segera dibawa pergi. Kedua perempuan dibiarkan tinggal, tak ada pembicaraan yang terdengar kemana mereka bertiga akan dibawa pergi.

Keesokan harinya, Kopda Soekarman dan sebagian Kompi Sabar Soetopo melaporkan kejadian ini kepada Kapten Wachman yang kemudian memerintahkan untuk menyisir tempat kejadian. Tak lama setelah menelusuri jalanan kampung hingga sampai di dekat sungai Kali Sari, mereka mendapati jenazah Mayor Hamid Rusdi tergeletak di sekitar jembatan Sekar Putih Wonokoyo, gugur dengan tubuh penuh luka ditembaki pasukan Belanda. Tak jauh, ditemukan pula jenazah Letnan Ismail Effendi, Abdul Razak, Moesmari, dan Yoenoes. Dini hari yang sama, pasukan Belanda juga menangkap kamituwo Sumbersuko, tetapi jenazahnya tidak ditemukan.

Prajurit beserta masyarakat Wonokoyo merasa sangat sedih ditinggalkan komandannya yang gagah berani dan berjiwa kesatria. Telah gugur bunga bangsa yang tak pernah padam nyali dan semangatnya untuk merebut kembali Kota Malang. Sejak saat itu, daerah basis gerilya dan pusat Komando Batalyon I dipindahkan ke desa Madyopuro dan berkedudukan di Cemoro Kandang dengan pasukan inti satu kompi di bawah pimpinan Kapten Djoeri.

Setelah pasukan Belanda meninggalkan Malang, 15 Mei 1950 jenazah Mayor Hamid Rusdi dipindahkan ke Makam Pahlawan Suropati. (idur)­

Dukungan Rakyat Wajak dan Penculikan Dokter Soejoto di Rumah Sakit Turen

Sabar Sutopo

MALANGVOICE – Setelah konsolidasi, Malang dibumihanguskan, Komando Operasi Resimen mundur ke daerah Bululawang, lalu menuju Turen dan pemerintahan sipil bermarkas di kantor Kawedanan Turen. Semua jawatan yang ada bahu membahu dalam melakukan perang rakyat semesta, seperti Jawatan Perlengkapan yang berada di daerah Sumber Pucung bersama dengan Jawatan Perhubungan, , Jawatan Kesehatan berada di Suwaru, Gondanglegi. Mereka sangat berperan dalam membantu perang gerilya semesta Brigade IV. Namun, tidak semua personel ikut keluar dari Kota Malang. Untuk kepentingan siasat militer, beberapa personel di Kota Malang ditunjuk untuk bertugas menghimpun informasi dan bekerja pada instansi musuh.

Ketika agresi militer Belanda II, wilayah Dampit dan Semeru Selatan menjadi daerah pertahanan TNI, Komando Brigade IV, Komando TC, Staf SKI, dan pernerintahan semuanya berkumpul untuk sementara waktu di Semeru Selatan. Korban yang terluka dalam pertempuran sebagian besar dibawa ke Semeru Selatan. Tentu saja di sini kekurangan tenaga medis, khususnya tenaga dokter. Ada dokter Soedjono, tapi selaku komandan Brigade IV merangkap TC XVII Malang tugas itu menjadi sangat berat. Untuk Diperlukan kehadiran dokter lain kerena seringnya terjadi korban yang tidak tertolong.

Melewati pembicaraan panjang, akhirnya diputuskan untuk menjemput Mayor dr. Soejoto yang tertinggal di Turen, dokter Brigade yang bertugas di rumah sakit Turen yang telah dikuasai oleh Belanda. Pasukan yang diperintahkan untuk menjemput adalah PUS 18 (Pasukan Untung Suropati 18) dibantu pasukan Kompi Sabar Sutopo. Serangan ke Turen pun direncanakan.

Pembagian tugasnya adalah PUS 18 (Pasukan Untung Suropati 18) meneror pos-pos kecil di Talok, Sedayu agar pasukan Belanda tidak keluar dari posnya dan terus merayap ke Turen. Kompi Sabar Sutopo menyerang pos di Turen, Kedok, dan Codo serta harus berhasil menghancurkan jembatan Kedok. Dukungan rakyat dipimpin oleh Djokosuwadi, selaku kepala daerah otonom setingkat kecamatan di Purwantoro, dibantu petinggi Sonanherto, juga rakyat Wajak dengan jumlah ribuan mengadakan pengacauan di daerah Turen. Jembatan Lesti yang sedang diperbaiki oleh Belanda, rencananya akan diledakkan lagi, tetapi ternyata bahan peledak hilang. Rakyat berbondong merusak jembatan yang sedang diperbaiki sedapat-dapatnya, yaitu dengan membuang seluruh material berupa batu, bata, semen, kayu, dan besi ke dalam sungai.

Sebenarnya sejak tanggal 1 Februari 1949, Belanda yang saat itu berada di Sedayu dengan kekuatan dua kompi mengerahkan tenaganya untuk memperbaiki memperbaiki jembatan Kali Lesti maupun jalan-jalan yang telah dihancurkan oleh pasukan gerilya. Belanda berniat meluaskan mobilitas dengan tujuan menduduki Dampit dengan bantuan dari Krebet dan Malang, serta menjadikan Dampit sebagai pangkalan di daerah timur untuk memudahkan gerakan di daerah selatan dan melancarkan kepentingan perbekalannya. Mereka juga menyebarkan spionase untuk menyelidiki kekuatan pasukan gerilya, mengintai kondisi rakyat, melalui petugas khusus yang terhimpun dalam IVG.

Pasukan gerilya inti dapat memasuki Turen dan berhasil mendekati rumah sakit melalui pertempuran-pertempuran kecil. Belanda tidak berani ambil resiko meninggalkan pos-posnya. Kelompok kecil yang dipimpin Rachmat diikuti Kasdu, Sabar, dan Todjo berhasil menyusup ke kediaman dr. Soejoto. Dengan begitu sulit, rombongan dr. Soejoto, dr. Soepono, dan dua perawat beserta obat dan alat-alat kedokteran berhasil diambil dan dibawa ke luar Turen.

Alat-alat kedokteran dan obat-obatan bisa diambil karena sudah dipersiapkan oleh mereka yang menyamar sebagai tenaga-tenaga perawat, antara lain Ibu Prapti. Rombongan dr. Soejoto diangkut melewati desa Jambangan, Sumber Putih, lalu menyeberangi Kali Lesti menuju Sumbergadung dan sampai di Sumbergentong yang merupakan posisi komandan Brigade. Ternyata, pasukan Belanda tidak mengadakan pengejaran. (idur)

Komunitas