Catatan Peristiwa Desember, Perang Kemerdekaan di Karesidenan Malang (2)

Sulam Samsun (Komandan Kompi), Kapt. Suyono (Yono Gaplek, Komandan Kompi), Kapt. Sabar Sutopo (Komandan Kompi Gagak Lodra)

MALANGVOICE – Masih di 20 Desember 1948. Setelah Kompi Sulam Samsun menghancurkan pos-pos Belanda di wilayah barat Malang, mereka bersama Kompi Matrawi dan Kompi Suwondho, semua dari Batalyon Hamid Rusdi berkekuatan hampir 400 orang bergerak ke Sumber Bendo.

22 Desember 1948. Setelah menyerang pos-pos Belanda di Badut dan Klampok mereka meringsek menuju Lang-Lang melalui Karangploso. Saat beristirahat karena kelelahan di kampung Lang-Lang, mata-mata Belanda mencium hal itu dan tak lama Belanda pun melakukan serangan besar, mengerahkan pasukan berlapis dan pengintaian dari udara. Terjadilah pertempuran tak seimbang.

Pertempuran berlanjut ke Karangan sesudah Shalat Jumat, 11 orang gugur dalam pertempuran itu termasuk Komandan Suwondho. Ketiga kompi bergerak kembali ke Sumber Bendo untuk berkonsolidasi.

21 Desember 1948. Setelah memenangi penyergapan di Pandansari, pasukan Sabar Sutopo bergerak membuka jalan ke Gubuk Klakah. Diperoleh informasi bahwa Belanda sudah mendirikan pos di dukuh Tosari. Dilakukan penyerangan dan dapat dirampas pitol dan beberapa pucuk senapan dari tangan pasukan Belanda.

Esoknya paginya, 22 Desember 1948 pukul 5 pagi, Belanda mengadakan serangan balasan dengan mengerahkan 2 kompi bersenjata lengkap, mobil lapis baja, dan pesawat udara. Dengan kerugian persenjataan, korban gugur dan luka, Kompi Gagak Lodra pasukan Sabar Sutopo bergerak menuju Jabung. Namun karena pertahanan musuh yang cukup kuat, memaksa pasukan RI kembali dan sampai di Kalijae Tumpang. Di sini, selama 2 hari pasukan tidak makan.

Ketika mencari makanan di desa-desa terdekat melalui hutan dan lembah, di tengah hujan lebat dan berkabut pasukan Belanda dengan tiba-tiba memberondong dengan senapan otomatis dan granat. Ternyata mereka sudah menduduki bukit-bukit di atas lembah. Hampir 40 orang gugur sebagai bunga bangsa, belum lagi yang terluka. Mereka dimakamkan di lereng-lereng Gunung Kalijae.

Di daerah basis Malang TImur Laut, di Nongkojajar dan sekitarnya adalah wilayah Kompi Yono Gaplek. Dengan personal dan persenjataan yang dimiliki, kompi ini siap melakukan pertempuran frontal menghadapi Belanda. Selain menyerang pos-pos Belanda di Nongkojajar, Pasrepan, Jabung, dan Gerba, pasukan Yono Gaplek juga berhasil melucuti pasukan-pasukan liar di daerah Malang Tmur Laut yang dipimpin oleh Jarot.

Mereka adalah gabungan dari bromocorah, pencuri, perampok, berkekuatan 2 seksi, menyengsarakan rakyat dan menguasai Jabung dan sekitarnya.

Pada 22 Desember 1948 pula, Panglima Tentara dan Territorium Jawa, Kolonel A.H. Nasution mengumumkan berdirinya pemerintahan militer untuk Jawa. Dengan konsepsi baru pertahanan yang disebut dengan Perintah Siasat No.1 tahun 1948, dilakukan hal-hal antara lain: tidak dilakukan pertahanan linier, diperlambat majunya serbuan musuh, pengungsian total, dan bumi hangus.

Dibentuk kantong-kantong di tiap onderdistrik yang memiliki kompleks di wilayah pegunungan dan pasukan-pasukan yang berasal dari daerah federal menyusup ke belakang garis musuh (wingate) serta membentuk kantong-kantong sehingga Pulau Jawa menjadi medan gerilya yang sangat luas. (Bersambung/idur)

Catatan Peristiwa Desember, Perang Kemerdekaan di Karesidenan Malang (1)

Peta gerakan Kompi Gagak Lodra.

Pada 19 Desember 1948, Belanda mulai mengadakan Agresi Militer II dengan lebih rapi. Dini hari, pasukan Belanda sudah menempati posisi di belakang garis pertahanan pasukan RI di sekitar Ngantang. Mereka bertujuan untuk menguasai pusat pembangkit listrik Mendalan (sentral listrik terbesar di Jawa Timur, terletak di pinggir Sungai Konto di perbatasan Karesidenan Kediri dan Malang). Rakyat berbergerak melaporkan hal ini kepada Kapten Sumeru yang kemudian diteruskan kepada Komandan Batalyon di Pujon. Pukul 10.00 pagi serdadu Belanda sudah melintas menuju ke Gunung Kelet, Desa Bian, Bendosari , dan Bakir. Mereka berhasil menutup aliran air yang mengalir ke turbin hingga listrik pun padam.

Sementara itu, di sepanjang Bululawang-Wajak, seksi-seksi yang mengadakan pertahanan diserang dengan hebat oleh Belanda. Komandan kompi dan pasukan cadangan RI yang berposisi di Garotan pun segera bersiap untuk bergerilya. Mereka segera bergerak cepat dan harus segera menduduki daerah dekat perbatasan (status quo) sebelum pasukan Belanda istirahat dan berkonsolidasi. Sejak pagi, pertempuran terjadi di mana-mana. DI sepanjang garis pertahanan Wajak dan Turen, pasukan kita terus bertempur menghambat musuh, agar ada kesempatan untuk memindahkan amunisi dan perbekalan masuk ke daerah gerilya dan hutan. Ketika daerah Wajak sulit dipertahankan, semua pasukan RI diperintahkan bergerak memasuki daerah perbatasan, garis status quo di hutan Wonosari. Pukul 7 pagi, pasukan patrol Belanda berkekuatan 2 regu bersenjata lengkap yang berasal dari pos Poncokusumo, dijadikan bulan-bulanan dan dihabisi oleh Seksi Sarim di jalanan Pandansari.

Di Tempursari pun terjadi pertempuran hebat untuk menghadang masuknya pasukan Belanda ke daerah itu. Musuh pun gagal memasuki Tempursari, karena jembatan kali Tempursari dirusak oleh pasukan RI dan menghambat gerakan mereka.

Pada 19 Desember 1948 pula, di pagi hari sekitar pukul 4.30 pagi, di Lodoyo Blitar terjadi pertempuran antara pasukan TRIP menghadapi serbuan Belanda. Ada beberapa korban dari kedua belah pihak.

Bersamaan dengan dimulainya Agresi Militer II, seluruh pasukan Divisi VII Untung Suropati pun, termasuk pasukan dari wilayah Karesidenan Malang mengadakan berbagai penyusupan ke daerah-daerah kantong.

Pada hari yang sama, Belanda dengan pasukan lintas udara menyerang ibukota RI, Yogyakarta. Lapangan terbang Maguwo dikuasai dan tidak lama seluruh Kota Yogyakarta jatuh. Para pemimpin ditangkap, yakni Presiden Soekarno, Wakil Presiden Moh. Hatta, Sutan Syahrir,. H, Agus Salim, Mr. A.K. Pringgodigdo. Mr. Assat dan Komodor Suryadarma. Mereka diasingkan ke Prapat dan Bangka. Sidang Kabinet yang sempat diadakan hari itu memberikan mandat melalui radio gram kepada Mr. Sjafrudin Prawiranegara yang kebetulan sedang berada di Sumatra, untuk membentuk Pemerintah Darurat Republik Indonesia.

Pada 20 Desember 1948, Kompi Gagak Lodra dipimpin Sabar Sutopo bergerak melakukan gerilya ke wilayah Bambang Kecamatan Wajak dan Garotan. Sementara Seksi Soetomo ditugaskan bertahan di Wajak Utara untuk menghadang pasukan Belanda yang ditengarai akan memasuki Garotan dan sekitarnya.

Brigade IV dengan semua kesatuan di bawahnya diperintahkan untuk menitikberatkan pertahanan pada Kota Malang, Bangil, Pasuruan, Turen, dan Lumajang. Namun, kondisi pertahanan pasukan Mayor Hamid Rusdi di Turen sudah tidak memungkinkan karena kurangnya lengkapnya persenjataan, maka dilakukan penyusupan ke daerah pendudukan Belanda di daerah Malang Timur dengan berbagai pertempuran gerilya malam hari, dilakukan pada saat yang tepat dan mempergunakan pasukan infantri. (Bersambung/Idur)

Di Balik Dahsyatnya Pertempuran Surabaya 10 November 1945

Mobil Brigadir Mallaby yang hancur di Surabaya (kiri). Bung Tomo menggelorakan semangat perjuangan (kanan).

MALANGVOICE – Awal September 1945, situasi di Jawa Timur cukup bergelora. Berbagai insiden terjadi dan seluruh rakyat siap siaga menunggu segala kemungkinan yang terjadi. Pasukan Sekutu mulai merambah Jawa Timur, terutama melalui Tanjung Perak untuk menyerbu Surabaya. Kondisi semakin memanas ketika rakyat dan BKR setempat bereaksi karena ternyata pasukan Sekutu bersekongkol dengan interniran Belanda.

Di wilayah lain di Jawa Timur, beberapa BKR seperti BKR Malang dan Madiun sudah menguasai beberara perbentengan (yinci-yinci) di daerah pegunungan Malang dan Madiun. Residen-residen (syucookang) yang ada terdiri dari pensiunan perwira tinggi Jepang, kecuali Bojonegoro dengan Residen Suryo dan Karesidenan Malang dengan Residen Mr. Singgih. Namun beberapa hari setelah kemerdekaan Mr. Singgih hilang secara misterius. Situasi pengambilalihan pemerintahan daerah menjadi terganggu karena yang menggantikan beliau adalah wakil orang Jepang.

Pertempuran hebat 10 November 1945 sebenarnya adalah rangkain dari peristiwa yang berawal di hari kedua kedatangan Brigade 49 Divisi India Ke-23 Tentara Sekutu (AFNEI) yang mendarat di Surabaya 25 Oktober 1945 dan dipimpin Brigadir Jenderal A.W.S. Mallaby. Pemerintah dan rakyat Indonesia menyambut dengan tangan terbuka. Namun, 27 Oktober 1945 mereka menyerbu penjara untuk membebaskan para perwira Sekutu dan pegawai RAPWI (Relief of Allied Prisoners of War and Interness) yang ditawan oleh pasukan RI. Akibatnya pos-pos Sekutu di Surabaya diserang oleh rakyat prabaya. Pemimpin-pemimpin Indonesia memerintahkan gencatan senjata, tapi pihak Sekutu ternyata tidak menghormati gencatan senjata, hingga Brigadir Jenderal Mallaby tewas dalam insiden yang belum terungkap jelas.

Sehari sebelumnya, 9 November 1945, tanpa berunding dulu dengan pemimpin Indonesia, pimpinan tentara Sekutu di Surabaya mengeluarkan ultimatum, padahal sudah terjadi kesepakatan yang membuahkan Contact Comitte Panitia Penghubung antara Sekutu dan Pemerintah RI. Pihak Sekutu mengultimatum dengan perintah agar pimpinan dan rakyat yang bersenjata harus melapor, menyerahkan senjata dan mengangkat tangan di atas kepala, dengan batas waktu sampai pukul 06.00 WIB tanggal 10 November 1945.

Rakyat melawan, pecahlah pertempuran Kota Surabaya. Paasukan sekutu berkekuatan hampir sepuluh hingga lima belas ribu orang, lebih dari satu divisi invantri, Divisi India ke-5 dan sisa Brigade Mallaby. Mereka didukung oleh meriam-meriam kapal penjelajah Sussex, kapal perusak, dan pesawat-pesawat Mosquito dan Thunderbold. RAF (Angkatan Udara Inggris). Pertempuran tidak seimbang ini ternyata berlangsung hingga awal Desember 1945.

Dalam pertempuran dahsyat ini, telibat pula bantuan pasukan dari semua penjuru tanah air, khususnya pasukan-pasukan dari Jawa Timur. Dari wilayah Karesidenan Malang, Probolinggo, Bondowoso, Pasuruan, Lumajang dan Malang bergantian diberangkatakan secara bergelombang. Pasukan yang telah cukup lama di garis depan kembali ke markas-markas komando untuk digantikan yang lain. Mereka kembali dan berbagi pengalaman untuk membangkitkan semangat perjuangan.

Resimen 38 Malang Kompi Sochifudin adalah kompi pertama yang diberangkatkan ke front pertempuran Surabaya dan Kompi Untung dari Resimen Bondowoso. Dari Probolinggo Kompi Oesadi yang merupakan pasukan inti mantan Heiho dan Peta. Dalam pertempuran Surabaya kompi ini kehilangan komandannya. Gelombang selanjutnya, arek-arek Probolinggo diberangkatkan ke front Surabaya, yang terdiri dari BKR dan lascar-laskar yang berasak dari BPRI, Pesindo, Hisbullah, Sabilillah, dan lain-lain serta kumpulan pemuda yang tergabung dalam satuan bersenjata. Pasukan Lumajang yang ikut bertempur di front Surabaya tidak hanya dari BKR_TKR saja tetapi juga melibatkan badan-badan perjuangan dan kelaskaran yang ada.

Selanjutnya dari Malang, pasukan Kompi III Batalyon III dipimpin Mayor drh. Soewondho dan komandan kompi Kapten Mohamad Bakri. Telah gugur dan hilang beberapa prajuritnya di daerah Ngagel termasuk komandan peleton Letnan Juari yang kemudian digantikan Letda Imam Soepardi dan berkonsolidasi di Kecamatan Porong dan bertugas di daerah pertahanan pantai di Bangil.

Di Malang pun, secara spontan dibentuk pasukan-pasukan Polri untuk ikut bertempur di Surabaya dan banyak pelajar-pelajar SMTP dan SMTA ikut menggabungkan diri. Mereka ikut bertempur mati-matian, kemudian bernaung di bawah Kompol II Moh. Yasin, serta mundur dan membuat benteng pertahanan di daerah Buduran dan Krian.

Panglima Divisi Untung Suropati, Mayjen Imam Soedjai menghimpun dan membawa serta Alim Ulama Karesidenan Malang ke front Surabaya dan membuahkan dampak psikologis yang memperkuat semangat perjuangan.

Di front pertempuran dahsyat Surabaya, gugur beribu-ribu pejuang RI sebagai pahlawan bangsa, di antaranya tidak dikenal jati dirinya dan dikebumikan sebagai pahlawan tak dikenal. (idur)

Berkumpulnya Semua Pasukan Gerilya di Malang Selatan dan Semeru Selatan

Rapat Pimpinan Divisi, para Komandan Brigade dan Batalyon se-Jawa TImur di Batu (1950)
Rapat Pimpinan Divisi, para Komandan Brigade dan Batalyon se-Jawa TImur di Batu (1950)

MALANGVOICE – Diberlakukannya Garis Van Mook berakibat otomatis terkurungnya pasukan RI dalam satu kawasan. Wilayah Malang Selatan dan Semeru Selatan menjadi tujuan berbagai pasukan untuk berhijrah dari daerah-daerah kantong di wilayah Karesidenan Malang dan Besuki. Hutan yang lebat, tanah berbukit dan penuh lereng, serta ceruk-ceruk curam menjadi kawasan yang strategis untuk perjuangan bergerilya.

Pasukan Belanda pun melakukan berbagai strategi, seperti memperkuat daerah Sumber Urip, menyerang Turen dan Sedayu dari arah Bululawang, menyerang Talok dari arah Tumpang, mempertahankan Poncokusumo untuk pangkalan operasi menyerbu Dampit, serta memperkuat garis pertahanan Talok-Sedayu-Gondanglegi-Kepanjen-Wlingi sebagai garis utama untuk mengurung pasukan RI ke daerah pantai selatan. Musuh juga memperkuat garis pertahanan Poncokusumo-Wajak-Dampit-Sumber Urip dan Lumajang-Ampelgading-Dampit untuk menguasai Semeru Selatan.

Namun, semua itu jauh dari kenyataan, karena pasukan RI selalu mendahukui melakukan Wingate Action, menyerang untuk merebut kembali ke daerah-daerah itu. Koordinasi yang baik dari segenap unsur termasuk rakyat di Malang Selatan dan Semeru Selatan, secara umum mampu menggagalkan pemerintah bentukan Belanda (RECOMBA) yang tidak pernah menjadi kenyataan.

Dalam mematuhi perintah akibat penjanjian Renville itu pun, pasukan HIzbullah yang dipimpin Kyai Ilyas pun harus ditarik ke daerah kantong dan berangkat menuju Malang Selatan. Terdiri dari Seksi Anaz Zaini dan Azis Masyhuri, dari desa Pagon mereka berjalan kaki melintasi Gunung Semeru menuju Dampit, kemudian bergabung dengan pasukan TNI dan bersama-sama menuju tempat hijrah dengan naik truk-truk yang telah disediakan. Pasukan Kyai Ilyas akhirnya bermarkas di daerah Pronojiwo.

Pasukan Kyai Ilyas telah melakukan berbagai perlawanan terhadap pasukan Belanda. Dengan bantuan Kompi Soekartijo mereka menyerbu pos-pos musuh di sekitar pasar Yosowilangun. Mereka juga menyerang markas Belanda yang ada di pabrik gula dan pabrik beras di Kencong.

Pada tahun 1947 tatkala keluar Dekrit Presiden mengenai pembubaran badan kelaskaran untuk digabung menjadi satu dalam TNI, pasukan Kyai Ilyas pun dijadikan satu kompi di bawah komandan Kapten Ilyas dan masuk dalam jajaran Batalyon IV. Peresmian Hizbullah melebur dalam TNI tersebut dilakukan di lapangan Sedayu, Turen pada 11 Desember 1949. Mereka masuk dalam pelatihan pasukan selama satu bulan di Depot Batalyon Sumberpucung di bawah komandan Nailun Haman.

Di masa Perang Kemerdekaan II, atas persetujuan dari Komandan Batalyon IV Samsul Islam, pasukan Kapten Ilyas diperbolehkan kembali untuk bergerilya di daerah Lumajang. Mereka menyusuri pantai selatan, berjalan kaki beberapa hari dari Dampit menuju Lumajang. Ketika sampai di Tempursari, ternyata belum lama terjadi peetempuran hebat antara pasukan RI dan musuh. Masih banyak mayat-mayat berserakan, baik jasad pasukan RI maupun serdadu Belanda. Ini menjadikan Tempursari yang sebelumnya tertutup menjadi terbuka bagi lalu lintas gerilya dan para pengungsi dari jurusan Malang ke Lumajang, Jember dan wilayah lainnya.

Di tahun 1949, terjadi pertempuran hebat, serangan dilakukan oleh pasukan Belanda yang dipimpin langsung komandan mereka dari KST Korp Spesiale yang terkenal hebat dan kejam. Mereka menyerang dari Gladak Perak-Kali Lengkong-Merakan. Sementara posisi pasukan Soekartijo Seksi III Abd. Muchni membayangi di atas Gunung Sawur-Penanggal dan Poncosono. Lebih dari 3 jam pertempuran, banyak korban dari pasukan Cakra yang membantu Belanda, diangkut dengan truk-truk. Kuda-kuda yang mereka gunakan berhamburan.

Dalam perjuangan di wilayah Brigade IV terdapat juga sebuah kompi beranggotakan orang-orang yang berasal dari Irian (Kompi Irian). Dikomandani oleh Letda Koromath pada masa gencatan senjata dan Agresi Militer Belanda II mereka bertempat di Turen. Mereka turut berjuang membela RI. Setelah pengakuan kedaulatan, mereka ikut serta masuk ke Malang. Ketika berlangsung operasi Trikora untuk pembebasan Irian jaya, mereka memiliki peran penting dalam keberhasilan operasi tersebut. Disamping Kompi Irian, di kesatuan Brigade IV ikut juga berjuang Batalyon 524 Jokotole yang terdiri dari pemuda-pemuda Madura dari Pamekasan yang berjuang di Tuban. Dalam perjalanan perjuangan kemudian, mereka bergerilya sampai wilayah Kediri, lalu setelah pengakuan kedaulatan mereka berkedudukan di Pasuruan.

Pada Perang Kemerdekaan II kebutuhan logistik sudah teratasi oleh Kecamatan Ampelgading yang menghasilkan bahan-bahan makanan memadai, karena di masa gerilya itu para pimpinan pasukan RI dan sipil di sana telah membentuk daerah perkebunan menjadi desa-desa darurat yang lengkap dengan kepala desa, struktur pemerintahan desa, dan batas-batas wilayahnya.

Kebersamaan ini pun yang mendorong terarahnya serangan serentak terhadap tangsi-tangsi Belanda. Waktu itu, diperoleh berita bahwa operasi dahsyat akan dilakukan oleh pasukan Belanda baret merah dan baret hijau. Mereka akan menembak mati setiap orang yang melewati lereng selatan gunung Semeru sampai ke Dampit.(idur)

Eddy Wahyono Punya Pesan Khusus Dalam Semangat Sumpah Pemuda

Ketua Umum KONI Kota Malang, Eddy Wahyono. (deny rahmawan)
Ketua Umum KONI Kota Malang, Eddy Wahyono. (deny rahmawan)

MALANGVOICE – Ketua Umum KONI Kota Malang, Eddy Wahyono, punya pesan khusus dalam Hari Sumpah Pemuda yang jatuh tepat pada 28 Oktober.

Bagi Eddy, momen Sumpah Pemuda ini bisa dipakai menumbuhkan kembali rasa solidaritas dan rasa kebersamaan seperti yang digagas para pendahulu.

Semangat Sumpah Pemuda menjadi salah satu tonggak utama dalam pergerakan kemerdekaan Indonesia.

“Gunakan lagi semangat itu untuk menjaga NKRI. Jadi bangsa ini tak mudah terpecah dan terjerumus hal negatif,” katanya.

Eddy menambahkan, sebagai Ketua KONI, tentu ada misi visi mewujudkan pemuda gemar berolahraga. Dengan begitu, hal negatif akan bisa dihalau dan diganti dengan tindakan positif. “Kalau sudah begitu kan jadi berlomba-lomba meraih prestasi,” ujarnya.

Masalah yang dihadapi para pemuda, kata Eddy, paling banyak dari segi IT. Dengan kemajuan teknologi tak serta merta membawa dampak positif tapi juga negatif.

Dicontohkannya, para anak muda sekarang rata-rata memiliki gadget. Dari situ segala hal bisa didapat dengan mudah. Tapi, apabila kelewatan, hal buruk bisa terjadi. Anak sekarang bisa mencontoh kekerasan, pornografi bahkan penggunaan narkoba.

Karena itu, masih kata Eddy, untuk menciptakan pemuda generasi bangsa yang unggul, harus ada pendampingan dari orangtua dan guru.

“Semua harus ada kontrol agar tetap pada jalannya. Kalau tidak dibatasi malah berbahaya, apalagi kalau yang lebih paham gadget itu anak-anak daripada orangtua, konten negatid bisa masuk kapan saja,” ia menegaskan.(Der/Aka)

Serangan Dampit-Wonokoyo, Pertempuran Terbesar di Wilayah Semeru Selatan

Pasukan Untung Suropati 18 (PUS 18) yang tak terlupakan (1949)
Pasukan Untung Suropati 18 (PUS 18) yang tak terlupakan (1949)

MALANGVOICE – Atas pengarahan dari Komandan CMK Malang, Mayor Wiyono, pasukan PGI (Pasukan Gerilya Istimewa) dengan semangat yang kembali menyala, dikonsolidasikan dan disusun kembali dengan kekuatan seksi-seksi menjadi Pasukan Untung Suropati 18 (PUS 18) dengan Komandan Sukardi (N. Sugiyama) berpangkat Kapten. Seksi I dipimpin oleh Umar (T. Maekawa), Seksi II dipimpin Peltu Jupri, dan Seksi III dikomandani Letnan Arti Jawak. Mereka menjadi pasukan terotorial di bawah komando militer daerah Malang dengan wilayah operasi Semeru Selatan.

Sementara itu, didorong ambisinya menduduki Kota Dampit, pasukan Belanda memperkuat intensitas patroli, melakukan provokasi dan teror terhadap penduduk untuk menurunkan semangat juang rakyat. Mereka membentuk pasukan khusus IVG yang melakukan tugas spionase. Dengan aktivitas tinggi mereka memperbaiki jembatan dan jalan-jalan yang dihancurkan oleh pasukan gerilya.

PUS 18 (Pasukan Untung Suropati 18) bergerak dari Wonikitri menuju Gunung Kelop yang ditetapkan sebagai pangkalan persiapan (Februari 1949) dan dibuatlah perbentengan di sana. Stelling dilakukan dan dikirim satu regu penyelidik ke jurusan Sumber Kembar. Berdasarkan informasi yang didapat, Regu Keiki Kanjue (senapan mesin ringan) dan regu senapan dari Seksi I dan Seksi II bergerak turun menuju Sumber Kembar lalu meringsek masuk ke Kota Dampit.

Di pertigaan jalan besar dekat pasar, dilakukan penembakan terhadap musuh dan menewaskan dua serdadu Belanda. Terjadi pertempuran sengit ketika pasukan Belanda yang lain keluar dari pasar dan mereka juga segera mendapat bantuan dari Pamotan. Pasukan PUS 18 terpaksa mundur sementara musuh terus mengejar dengan persenjataan berat. Tak terduga, dua juuki dan tekidanto dari atas Gunung Kelop membantu menembaki pasukan Belanda yang kemudian bergerak mundur. Dalam pertempuran 40 menit itu, gugur dua prajurit PUS 18 dan tewas 25 serdadu Belanda.

Beberapa hari kemudian PUS 18 menguasai Sedayu dan Banjarpatoman. Didapatkan informasi bahwa pasukan Belanda sedang bergerak menuju Ngelak dan Amadanom. Pasukan gerilya segera mendaki Gunung Pandan Asri dan mengadakan stelling di saat musuh mendekati ujung kampung Banjarpatoman. Ternyata pasukan Belanda bermaksud mengurung dari balik bukit dan memancing dengan melepaskan tembakan-tembakan. PUS 18 sengaja berdiam diri untuk merahasiakan posisi dan menghemat persediaan amunisi. Menurut informasi, pasukan Belanda berkekuatan satu setengah kompi bersenjata juuki, pistol mitralyur, dan dikuti pasukan genie dan telegrafi, serta tentara Cakra yang ditarik dari Bali.

Pada pukul 08.00 pagi di saat pasukan Belanda masuk dalam jarak tembak, PUS 18 menembak dengan serentak dan pertempuran pun berlangsung hampir 3 jam. Persenjataan yang minim dan persediaan amunisi yang menipis menyebabkan PUS 18 menghentikan serangan. Pasukan Belanda menghentikan tembakan pula karena mengira pasukan gerilya bergerak mundur. Siangnya, mereka mengangkut mayat-mayat dan korban yang terluka, bergerak melalui Amadanom, melewati lembah sungai menuju Dampit.

Esok harinya, pasukan Belanda mendatangkan bala bantuan untuk menghancurkan sarang gerilya di Banjarpatoman. Dengan mendatangkan pesawat tempur, mereka segera meratakan wilayah pertempuran di seputar bukit Pandan Asri. Namun, PUS 18 menduga hal itu dan telah meninggalkan wilayah tersebut.

Pertempuran Wonokoyo boleh disebut sebagai pertempuran terbesar di wilayah Semeru Selatan. Akibat tewasnya komandan mereka di awal pertempuran menjadikan pasukan Belanda kebingungan. Belum lagi terbunuhnya tiga opsir dan 30 orang lebih terluka. Di pihak PUS 18, gugur 3 prajurit dan 3 penduduk sipil. Dari pertempuran itu, PUS 18 berhasil memperoleh rampasan pistol mitralyur, Karaben beserta 300 butir pelurunya, tempat peluru lengkap dan 3 mortier.

Untuk merebut kembali Kota Dampit, Markas Gerilya (MG) III/SMK Malang merencanakan penyerangan terhadap Kota Dampit pada 27 Juli 1949. Pukul 05.45 tembakan pertama dilakukan dengan tekidanto untuk komando dimulainya serangan. Tetapi tembakan mortier yang dilakukan tidak berhasil, pasukan senjata ringan pun bergerak hingga jarak dua ratus meter dari markas pasukan Belanda. Pukul 08.30 pagi seluruh pasukan gerilya mundur dan berkumpul di Gadung Sari lalu bergerak ke Ampel Gading.

Belanda bermaksud mengerahkan bala bantuan dari Sedayu tetapi terkendala berbagai rintangan jalan yang dilakukan oleh pasukan Macan Putih Talok. Di pihak Belanda jatuh korban 24 tewas dan luka-luka. Pasukan gerilya juga berhasil menembak Surateman yang ditengarai sebagai mata-mata musuh.(idur)

Pasukan Gerilya Istimewa (PGI) dalam Penyerbuan Pajaran, Tumpang, dan Jebakan Ranjau antara Wajak-Turen

Konvoi serdadu Belanda di Jawa (kiri). Serdadu Belanda melakukan rasia terhadap rakyat (kanan).
Konvoi serdadu Belanda di Jawa (kiri). Serdadu Belanda melakukan rasia terhadap rakyat (kanan).

MALANGVOICE – Berdasarkan perundingan dengan Abdul Rachman (Tatsuo Ichiki) penasehat TKR di Yogyakarta, Juli 1948, Kolonel Sungkono menginstruksikan kepada semua anggota kesatuan di bawah pimpinannya untuk mengumpulkan orang-orang Jepang, yang sedang berada di kesatuannya masing-masing di Jawa Timur untuk ditarik dan dijadikan satu kesatuan dengan tujuan bersama melawan Belanda. Tidak lama terkumpul 28 orang Jepang di Wlingi Blitar.

Di Wlingi, atas inisiatif Arif (T. Yoshizumi) dan Abdul Rachman (Tatsuo Ichiki) dibentuklah Pasukan Gerilya Istimewa (PGI) yang dikomandani oleh Brigade Surachmad. Di sini, pasukan berlatih militer dan strategi gerilya secara mandiri dan mengusahakan makanan sendiri. Pada Agustus 1948, persiapan telah mantap, pasukan disebar, Komandan (WK) dengan 17 pasukan PGI menuju Dampit. Harsono (T. Tanimoto) dengan anggota 11 orang bertugas menuju Kediri.

Di Dampit mereka memasuki perkebunan dan menggunakan bekas kantor perkebunan Kartodol sebagai tempat untuk antara lain: merencanakan penyerangan pos-pos Belanda, membuat barang dan bahan perang rahasia untuk kepentingan sabotase, menyusun jaringan informasi, dan membentuk gerilya rakyat. Dalam perkembangannya, PGI ini kemudian mendapatkan tambahan 2 (dua) regu dari Brigade XIII.

Pada 30 Agustus 1948, pukul 24.00, PGI bersiap menyerbu pos Belanda di Pajaran yang memilik kekuatan satu seksi dan menempati gudang padi yang dipagari kawat berduri. Waktu itu kampung Pajaran suasananya terang penuh lampu minyak di kanan-kiri jalan karena sedang memeriahkan perayaan ulang tahun Ratu Belanda. Keadaan ini sangat menguntungkan PGI untuk menyerang. Kode ledakan dua bulu granat di atas pos Belanda member isyarat dimulainya penyerangan. Begitu gencarnya serangan, tetapi dari dalam pos tidak ada perlawanan sama sekali. Ketika terdengar tembakan dari arah depan pos, penyerangan dihentikan karena diduga ada pasukan bantuan Belanda yang baru datang dari pos Wajak. Esoknya diperoleh informasi, ternyata perlawanan Belanda malam itu bukan pasukan bantuan dari Wajak, tetapi tentara Belanda sejumlah 10 orang yang kebetulan baru pulang dari undangan Kepala Desa dalam rangka selamatan perayaan hari besar Belanda. Saat PGI menyerang, mereka tidak berani kembali ke pos yang sudah hancur dan hanya berjaga-jaga di halaman rumah Kepala Desa. Mereka juga tidak mengetahui siapa yang melakukan serangan.

Menurut laporan dari pasukan Brigade XII yang ditugaskan untuk memeriksa hasil serangan, pos Belanda hancur lebur, tiga orang petugas jaga bersenjata 12.7 mm mati tertembak, dan di dalam pos/gudang padi 20 orang Belanda tewas akibat reruntuhan bagunan dan ledakan granat.

Di Tumpang, PGI kembali menyerang pos Belanda pada 3 Oktober 1948. Serangan gerilya ini dibantu rakyat dengan penyerangan intensif, menggunakan bahan peledak, dan aksi pembakaran-pembakaran. Hasilnya, terbakarnya asrama musuh dan tiga serdadu Belanda tewas. Moril rakyat pun kembali menguat.

Di pertengahan Desember 1948, Belanda mengawali penyerangan dengan menggunakan pesawat-pesawat tempur melintas Malang menuju ke selatan, menyerang Turen dan Sedayu. Ketika dipastikan Turen dan Sedayu sudah diduduki musuh, PGI pun menyusun kekuatan dipimpin oleh Subejo (Hayashi) dan Sobana (T. Sakai) dan merencanakan menghancurkan panser-panser Belanda. Mereka memasang ranjau di jalan antara Wajak dan Turen yang selalu dilewati pasukan Belanda, sedangkan pasukan senapan mesin diberangkatkan menuju lokasi pertahanan yang telah direncanakan. Didapat informasi, Belanda menambah pasukan dengan satu kompi serdadu bersenjata lengkap untuk menghancurkan PGI.

Sementara menunggu hasil ranjau yang dipasang, PGI dan pasukan bantuan lainnya bersiaga di rumah Asisten Wedono. Ketika ledakan pertama terdengar, ternyata mengenai seorang pemikul kelapa yang sedang lewat. Pukul 06.30 pagi terdengar ledakan kedua, seorang prajurit melaporkan bahwa ranjau berhasil mengenai sasaran, yakni panser Belanda dan truk pengiring di belakangnya. Sebanyak 16 orang serdadu Belanda tewas. Dari pos Turen, Belanda segera memberikan pertolongan sembari melakukan penembakan membabi buta di sekitar lokasi kejadian.­(dur)

Pasukan Hamid Rusdi Menumpas Anasir-anasir PKI di Malang Selatan

Dari kiri:Kapten Suyono (Yono Gaplek) Komandan Kompi, Abdul Syarif (Komandan Batalyon, Slamet Hardjooetomo (Komandan Seksi-2)

MALANGVOICE – Situasi yang terjadi di lini-waktu sepanjang perang kemerdekaan nampaknya dimanfaatkan oleh Belanda untuk kembali melakukan Agresi Militer II. Suhu politik meningkat saat terjadinya Peristiwa Madiun 1948 (Madiun Affair), kemudian Tan Malaka dengan ‘Kawi Pact” di daerah Malang Selatan, belum lagi FDR-nya Amir Syarifuddin, serta gerakan anasir-anasir pemberontakan PKI Madiun di Donomulyo (Malang Selatan) dan di wilayah lainnya. Padahal di Jawa Timur sebagian pasukan RI bertugas di daerah status-quo dan sedang melaksanakan konsolidasi seusai Agresi Belanda I.

Pemerintah RI segera bertindak dengan cepat menjadikan Jawa Timur sebagai daerah istimewa dengan mengangkat Kolonel Soengkono sebagai gubernur militer. Saat itu Panglima Besar Jenderal Soedirman sedang sakit, sehingga untuk menumpas pemberontakan-pemberontakan dikomando oleh A.H. Nasution sebagai Panglima Merkas Besar Komando Djawa.

Kecepatan gerak oleh Combat Inteligence dilakukan untuk menangkal upaya-upaya penyebaran pengkhianatan. Di daerah Kepanjen, atas perintah Mayor Soedjanudji, Pranowo Hadiwidjojo dan pasukannya berhasil menangkap kurir dari Madiun yang akan menyampaikan pesan surat berasal dari pimpinan PKI Yogyakarta yang tertuju pada badan perjuangan tertentu di daerah Malang Selatan.

Dalam menyebarluaskan ideologinya, PKI tidak hanya mempengaruhi rakyat setempat, tapi disertai konsolidasi kekuatan militer. Di Donomulyo didirikan sebuah batalyon khusus pertahanan yang dipimpin oleh Tjokro Bagong yang disebut Batalyon Dji’in. Mereka juga melakukan intimidasi, sabotase, dan penyiksaan, seperti yang dialami oleh Hardjo Prajitno sinder persil Kali Telo yang sempat dikubur hidup-hidup, tetapi sempat diselamatkan.

Untuk melaksanakan tugas penumpasan ini, Brigade IV berkedudukan di Sedayu dibawah pimpinan Letkol Abdoel Rifai. Mobat I yang dipimpin Mayor Hamid Rusdi dari Turen menuju Bantur dan berjalan kaki ke Sumbermanjing Kulon. Dari siini, berangkat Seksi-2 Slamet Hardjoeoetomo dan Seksi-3 Tjokro Hadi dan berhasil merebut Donomulyo. Dibantu Kompi Depo Kapten Nailun Hamam yang kemudian datang, mereka melakukan pembersihan di Donomulyo, Kalitelo, Tumpakrejo, dan Telogosari. Seksi-3 bertugas melakukan pembersihan di desa-desa gunung Malang, Jolosutro dan sekitarnya.

Di saat yang sama, Kompi I Sulam Samsun dikirim ke Cepu untuk membantu pasukan lainnya dalam Peristiwa Madiun dan bertugas menguasai instalasi-instalasi minyak di Cepu. Kompi 2 Sabar Soetopo melakukan penumpasan di sekitar Turen-Dampit. Kompi Depo Kapten Nailun bergerak dari Wonosari, Pagak,Tumpakrejo diperkuat Kompi Polisi (MB Polisi).

Gejolak di Donomulyo pada akhirnya dapat ditumpas oleh kesatuan-kesatuan dari Hamid Rusdi dan Wachman, dan pasukan dari Kompi Suyono. Mereka digrebeg sewaktu mengadakan rapat massa di persil Kali Telo dipimpin Tjokro Bagong yang bertujuan mempersiapkan penyambutan terhadap rencana kudeta di Madiun. Batalyon Dji’in berhasil dilucuti oleh Mayor Hamid Rusdi. Tjokro Bagong tertangkap di di daerah hutan Jolosutro, lalu dibawa ke Talangagung dan dipindahkan ke Turen, sementara anasir PKI lainnya melarikan diri ke Blitar Selatan.

Operasi di Donomulyo berjalan lancar berkat bantuan masyarakat. Pemeriksaan terhadap penduduk dilakukan di daerah basis PKI. Orang-orang PKI yang dianggap kelas ringan dibawa ke tempat tahanan di Suwaru,Gondanglegi, dan yang dianggap kelas berat dan membahayakan bangsa di tahan di daerah Petung Ombo, persil kopi di daerah Dampit.

Tugas penumpasan anasir-anasir PKI di Malang Selatan telah ditunaikan. Cobaan dan tantangan belum selesai. Pasukan RI kembali berkonsolidasi, menyatukan kembali semangat dan memusatkan perhatian untuk kembali menghadapi pasukan Belanda. (idur)

Batu Bumi Hangus, Pertempuran di Wilayah Pujon dan Penyerangan Sebaluh

Pasukan Belanda saat Agresi Belanda I di Malang (kiri), Tank Belanda memasuki Batu (1947)
Pasukan Belanda saat Agresi Belanda I di Malang (kiri), Tank Belanda memasuki Batu (1947)

MALANGVOICE – Agresi Belanda I yang bergitu gencar menyebabkan sebagian besar pasukan RI mundur dan membuat pertahanan di Batu, yakni di Gunung Dali, Rajekwesi, Gunung Bale, Gunung Seruk dan di Pegunungan Banyak. Pada waktu itu, 1948, Pujon-Ngantang adalah bagian dari wilayah Malang Barat yang meliputi Karesidenan Batu, termasuk Kasembon dan Batu.

Konsolidasi pertahanan dipimpin oleh Mayor Abdul Manan dan memiliki kekuatan kompi seperti Kapten Soemitro dan Kapten Sumeru, serta bantuan dari pasukan Batalyon Soenandar. Malang Barat hampir seluruhnya dikuasai Belanda, seperti Sengkaling, Dinoyo, dan Karangploso. Maka, rakyat pun berbondong mengungsi ke daerah Pujon, Kasembon, dan Ngantang. Rakyat Batu sebagian besar mengungsi ke Pujon dan Jurangkuali.

Kampung Songgoriti, Tambuh, dan Songgokerto mengalami kerusakan parah dan kosong akibat beberapa pertempuran dan Kota Batu sudah dibumihanguskan. Belanda bertahan dan menguasai Batu, membuat benteng pertahanan di Nganglik, Jambedawe, Songgokerto, dan Kawedanan Batu. Oleh pasukan RI jalan besar antara Sebaluh dan Pujon dirusak dan terputus.

Arus pengungsi menuju Pujon, Kasembon, dan Ngantang menyebabkan bertambahnya jumlah penduduk di sana dan kehidupan sehari-hari semakin berat. Sebagian rakyat berdagang ke daerah pedalaman melewati jalan-jalan yang tidak diawasi oleh pasukan Belanda. Saat itu Belanda sedang melaksanakan blokade ekonomi terhadap RI. Jatah bantuan makanan didapatkan dari Kediri, Jombang, dan Mojokerto, daerah-daerah yang masih dikuasai RI. Namun, dalam kondisi demikian Wedono Suntoro yang bertempat tinggal di Pujon dapat menjaga kehidupan pertanian berjalan sebagaimana biasanya.

Sebelum terjadinya Agresi Belanda II, Batalyon Abdul Manan secara bergiliran mengadakan penyusupan untuk mengenali medan dan menyelidik situasi. Kompi Sumeru melaksanakan gerakan untuk memasuki daerah Lawang, Kompi Yusuf bergerak menyusup ke daerah Malang Barat, Kompi Benu bertugas menembus ke daerah Batu. Sementara Kepala Staf Batalyon, Soemitro, berjaga di pos komando di daerah Pasar Pujon/Ngroto.

Di awal Agresi Belanda II, pos pasukan Belanda di daerah Sebaluh diserang oleh Batalyon Abdul Manan. Pasukan Belanda terdesak mundur dan didapatkan rampasan dari mereka, antara lain 6 buah mantel, helm, telepon, dan mobil jeep yang diangkut beramai-ramai oleh penduduk.

Pada 19 Desember 1948, diperoleh informasi bahwa Belanda sedang melintas menuju ke barat, yaitu Gunung Kelet, desa Bian, Bakir, dan Bendosari Kecamatan Pujon. Terjadilah kontak senjata dengan Batalyon Abdul Manan dan Batalyon Sabaruddin. Di wilayah desa Maron, pasukan Belanda dihadang dan terjadi kontak senjata dengan Kompi Mistar.

Melanjutkan gerakan pasukan menuju Desa Kambal dan Selorejo, di desa Klangon pertempuran hebat terjadi ketika pasukan Belanda disergap oleh Kompi Soemadi yang dipimpin Letda Martawi yang kemudian mundur ke desa Gobet Mendalan. Belanda ternyata bertaktik lain, mereka menerobos hutan menuju Waduk Sekuli dan menduduki Kleppen Huis. Mereka menutup pintu air yang mengalir ke turbin dan membuang ke sungai Konto. Listrik pun padam. Nampaknya pasukan Belanda sudah mengetahui tentang taktik pasukan RI, yakni taktik bumi hangus dengan memakai bom yang dialiri arus listrik.(idur)

Pembentukan BKR Malang Setelah Mendengar Berita Proklamasi RI dari Kelompok Bawah Tanah yang Bertugas Menyadap Radio

Dari kiri; Bambang Soepeno, Abdul Rachman (Tatsuo Ichiki) Komandan PGI Malang, Kapten Ridwan Naim.

MALANGVOICE – Ketika Jepang mulai jatuh dari kemenangan-kemengan setelah tentara Sekutu dapat menembus garis pertahanan Jepang di Lautan Pasifik, kesatuan-kesatuan bersenjata bentukan Jepang seperti Peta dan Heiho bisa jadi masalah besar bagi Jepang, apalagi setelah meletusnya pemberontakan Peta di Blitar. Ujungnya, pada rapat Gun-shireikan, 14 Agustus 1945, diputuskan untuk membubarkan Peta dan Heiho. Kondisi ini disambut baik oleh para pemuda, khususnya oleh mereka yang pernah memiliki pengalaman militer seperti mantan anggota Peta, Heiho, dan KNIL.

Pada 19 Agustus 1945, panglima terakhir Tentara Keenambelas di Jawa Letnan Jenderal Nagano Yuichiro mengucapkan pidato perpisahan kepada seluruh anggota Peta. Para anggota Peta diberi pesangon sebesar 6 bulan gaji, jatah bahan makanan dan bahan pakaian. Tetapi, mereka tidak diberitahu tentang proklamasi kemerdekaan yang telah diumumkan Soekarno-Hatta.

Atas inisiatif mantan shodancho Bambang Soepeno, dikumpukanlah para mantan shodancho, seperti Sugito, Soeprapto, Purbo S, Suwondo, dan Ippang Sudianto. Mereka mendengar berita tentang proklamasi kemerdekaan Indonesia dari teman yang tinggal di Jalan Bromo, kelompok bawah tanah yang bertugas menyadap berita radio. Mereka juga sering berkumpul di Jalan Merapi, rumah Pak Tjokronegoro, orang Indonesia mantan tentara Jepang, berpangkat kapten (Chu-i) dan bertugas di Seinendojo Malang.

Dalam sebuah rapat yang diadakan di Rumah Imam Soedjai (mantan Daidan Peta), Jalan Tenis 28 Malang, pada 24 Agustus 1945, dibentuklah BKR (Badan Keamanan Rakyat) Malang, sebagai wadah perjuangan untuk membela tanah air Indonesia. Dihadiri oleh sebagian besar mantan anggota Peta, terbentuklah pengurus BKR Malang, yakni: Ketua Imam Soedjai, Wakil Ketua Iskandar Soelaiman, dan anggota-anggotanya adalah Subianto, Hamid Rusdi, Mochlas Rowie, Sulam Samsun, Sochifudin, dr. Imam, Iwan Stamboel, Soesilo, Asmanu, Ridwan Naim, Moetakat, Bambang Soepeno, D. Soekarijadi, Soenjoto, Slamet, Soejono, Abdul Manan, Soegito, Soedi Hardjohoedojo, Mr. Abdul Wahab (ahli hukum), dan Abdul Rachman (Kepala Polisi Malang).

Dokter Imam diberi mandat untuk mengambil alih urusan rumah sakit, dan Bambang Soepeno bertugas membentuk BKR Penyelidik. BKR di kota-kota lain dalam karesidenan pun lalu dibentuk, seperti BKR Probolinggo diketuai oleh Soedarsono, BKR Lumajang dipimpin dr. Soedjono, dan BKR Pasuruan diketuai oleh Poerwowijono.

Sejalan waktu, terbitlah Maklumat Pemerintah pada tanggal 5 Oktober 1945 yang menyebut diadakannya TKR (Tentara Keamanan Rakjat), berlanjut dengan pengumuman untuk mobilisasi umum yang disambut dengan semangat oleh para pemuda yang kemudian berbondong-bondong memasuki TKR. Ini merupakan langkah maju, dan otomatis BKR-BKR yang sudah ada diubah menjadi TKR.

Di Malang, antusias para pemuda mengakibatkan makin bertambahnya jumlah anggota pasukan dalam kesatuan-kesatuan TKR, maka markas divisi yang semula berada di Jalan Semeru 42 (bekas kantor Kenpetai) dipindahkan ke Jalan Suropati (sekarang kantor Inmindam Brawijaya). Organisasi pun disempurnakan, TKR DIvisi VIII yang bermarkas besar di Malang dipimpin Mayjen Imam Soedjai sebagai Panglima dan Kololonel Iskandar Soelaiman sebagai Kepala Staf.

Di pusat, Jakarta, mantan mayor KNIL Oerip Soemohardjo diberi mandat menyusun organisasi dalam TKR. Diumumkan bahwa pimpinan tertinggi TKR adalah Soeprijadi (tokoh pemberontakan Peta) dan Oerip Soemohardjo sebagai Kepala Staf Umum TKR. (idur)

Komunitas