VIDEO: Blessed Merch, Wadahi Seniman Street Art Kota Batu

MALANGVOICE – Berawal dari jualan cat semprot, kini usaha yang menyediakan peralatan seniman street art di Kota Batu semakin berkembang.

Blessed Merch yang berlokasi di Jalan Bukit Berbunga 211 Sidomulyo Kota Batu ini tidak hanya menyediakan perlengkapan menggambar saja, melainkan juga menyediakan merchandise seperti topi, baju, jaket, tas dan aksesoris lainnnya.(Der/Aka)

Ribuan Bikers Meriahkan HUT ke-10 SBC

Ribuan bikers hadir dalam HUT ke-10 SBC. (Istimewa)
Ribuan bikers hadir dalam HUT ke-10 SBC. (Istimewa)

MALANGVOICE – Dalam rangka HUT ke-10 Surabaya Beat Club (SBC) dimeriahkan dua ribu bikers, Sabtu (19/1).

Ajang itu sekaligus jadi silaturahmi bagi pecinta sepeda motor skutik yang diselenggarakan di lapangan Universitas Bung Tomo Surabaya.

SBC merupakan wadah silahturahmi bagi pecinta sepeda motor skutik Honda Beat yang didirikan pada 2008. Di Surabaya sendiri beranggotakan lebih dari 65 anggota.

Pada HUT ke-10 ini SBC mengambil tema Transformatic Story of Brotherhood. Kegiatan ini dihadiri oleh pecinta sepeda motor honda matic dari berbagai daerah di Indonesia seperti klub BeAT Pengda OrBeAT Jawa Tengah, Pengda Jawa Barat, bahkan klub BeAT luar pulau Jawa, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi dan Bali.

Rangkaian kegiatan ini dimulai dengan Transformatic Rally heritage dengan keliling Kota Surabaya dengan mengambil start dari patung surabaya depan Kebun Binatang Surabaya – Tugu Pahlawan – Balai Kota – Monkasel – Bambu Runcing – Hotel Majapahit dan finish. Di setiap spot tempat heritage Kota Surabaya, peserta berhenti sejenak untuk foto bersama. Selain itu juga dilakukan kampanye safety riding.

Gelaran ini mendapat dukungan dari PT. Astra Honda Motor (AHM) dan PT. Mitra Pinasthika Mulia ( MPM) sebagai main dealer Honda wilayah Jawa Timur dan NTT.

“Kami support kegiatan positif yang dilakukan oleh komunitas Honda di wilayah Jawa Timur maupun di NTT. Semoga dengan adanya kegiatan ini menjadi ajang silaturahmi antar sesame bikers tidak hanya diwilayah Jawa Timur tetapi di Indonesia,” kata Marcomm and Development division head MPM, Suhari.

Melengkapi malam puncak kebersamaan tersebut, beragam hiburan seperti band lokal, games dan beragam hiburan lainnya juga disuguhkan pada acara ini untuk memeriahkan dan semakin mempererat kebersamaan para bikers peserta satu dekade SBC.(Der/Aka)

“Kawi Pact” Ambisi Tan Malaka di atas Gunung Kawi (1)

Mayor Mochlas Rowie

Kondisi seusai Perundingan Renville, 1947, hampir tiga perempat daerah RI dikuasai oleh Belanda. Situasi saangat memprihatinkan karena adanya penghijrahan dan pengosongan daerah-daerah kantong sesduah RERA (Reorganisasi-Rasionalisasi), serta tekanan akibat blokade ekonomi Belanda. Keadaan seperti ini kemudian dimanfaatkan oleh kepentingan-kepentingan politik dengan munculnya gerakan politik dan konsolidasi di daerah Gunung Kawi, bersamaan dengan keluarnya Tan Malaka dari penjara. Ia menggiatkan kembali gerakan politiknya dan mengadakan pertemuan-pertemuan, memformulasikan dan membentuk GPP (Gerakan Pembela Proklamasi).

Saat itu di Malang, Mayor Mochlas Rowie menjabat Komandan Daerah Gerilya III yang kemudian menjadi SWK III di Malang Selatan, satu-satunya daerah yang masih dikuasai RI di Karesidenan Malang dan meliputi Kawedanan Kepanjen, Kawedanan Turen, dan Kawedanan Pagak. Saat bergerilya, SWK III membawahi 2 sektor di wilayah perbatasan Kediri-Wlingi-Malang. Sektor I berkedudukan di Sumber Pucung dipimpin Kapten Nailun Hamam dan Sektor 2 bermarkas di Pagak dipimpin Lettu Abd. Munir.

Ketika Belanda masuk Yogyakarta, 19 Desember 1948 dan diumumkan bahwa Soekarno-Hatta ditangkap. Dengan alasan Presiden RI dan Wakil Presiden tidak ada, Tan Malaka menggunakan kesempatan ini untuk mendeklarasikan berdirinya GPP (Gerakan Pembela Proklamasi) di atas Gunung Kawi.

Pada Januari 1949, bertempat di Kalitapak, Kawi Selatan, diadakan pertemuan yang dihadiri oleh sebagian besar kaum politisi, beberapa kesatuan, dan utusan corps mahasiswa. Namun, beberapa dari mereka meninggalkan pertemuan dan mengundurkan diri, karena arah pertemuan telah dibelokkan pada kepentingan politik tertentu, banyak kalangan tidak setuju dengan langkah-langkah yang ditempuh Tan Malaka cs dengan pendirian Negara Demokrasi Indonesia-nya. “Kawi Pact” bertujuan mewujudkan cita-cita demokrasi ala Tan Malaka.

Dengan dalih tidak adanya Presiden RI dan wakilnya, ia memproklamasikan berdirinya Negara Demokrasi Indonesia sekalgus menunjuk dirinya sendiri sebagai presiden, mengangkat Kolonel Warrow sebagai Menteri Pertahanan dan Mayor Sabaruddin sebagai Panglima Besar GPP. Pembentukan “Kawi Pact” dimaksudkan untuk mengikat unsur-unsur dalam kesatuan GPP.

Beberapa kesatuan sempat terseret karena pengaruh yang intens dari Tan Malaka cs. Warrow sebenarnya adalah komandan brigade mobil yang ditugasi sebagai pasukan cadangan, tidak memiliki wilayah khusus tapi diperbantukan di wilayah Jawa Timur dan berkedudukan di tapal batas Malang-Kediri, Wlingi Utara di lereng Gunung Kawi. Seharusnya sebagai komandan, dia melapor keberadaannya kepada KMD Malang Letkol. dr. Soedjono, tapi tidak dilakukannya.

Sabaruddin ternyata mantan nara pidana dan petualang, pernah mendapat pendidikan dari Peta dan mengaku sebagai PM (Polisi Militer). Dia menangkap dan membunuh orang-orang yang tidak disukainya, seperti Shodancho Sidoarjo Budiarjo (Mantri Kabupaten dan mantan komandannya). Sebenarnya, sebelum itu banyak kegiatan kriminal dilakukannya sehingga dia ditangkap dan dipenjara di Kediri oleh Panglima Divisi Soengkono. Setelah direhabilitasi, Sabaruddin mempunyai pasukan mantan para narapidana yang juga telah direhabilitasi oleh Panglima Divisi Soengkono, tapi ternyata lebih banyak mengacau keamanan daripada ikut berjuang melawan Belanda. Ditunjuk menjadi panglima besar GPP oleh Tan Malaka, telah melunasi ambisinya akan kedudukan dan kekuasaan

Tuntutan Tan Malaka cs. antara lain adalah kekuasaan terhadap seluruh wilayah landai Gunung Kawi, wilayah Kediri, dan Malang. Letkol dr. Soedjono sebagai Komandan Brigade IV menolak keras tuntutan itu karena wilayah komando militer di Malang berada dalam tugas pengamanannya. Mochlas Rowie pun selaku Komandan SWK juga memperingatkan pasukan yang terseret Tan Malaka cs. untuk tetap tunduk kepada pimpinan KMD Malang dan tidak ada pemerintah lain selain Pemerintah RI. Sebagai pegangan, pemerintah militer RI tetaplah dibawah pimpinan Jendral Soedirman. (Bersambung) (Idur)

Pengacauan Gerombolan Malik Cs Manfaatkan Kondisi Buruk Seusai Perang Kemerdekaan (3)

Kehidupan di Malang tahun 1950-an

MALANGVOICE – Pada masa itu, gerakan para gerombolan mencapai puncaknya. Pembunuhan, pengacauan, perampokan, pencegatan, dan aksi kekejian lainnya telah diperbuat oleh Malik cs. Komandan Brigade IV Divisi I Letkol Abimanjoe mengeluarlkan surat perintah pada 17 Januari 1951 untuk mengambil tindakan tegas terhadap gerombolan-gerombolan yang mengganggu keamanan dan ketertiban masyarakat.

Pada 31 Januari 1951 Kompi IV Batalyon 3 di daerah Wonorejo berhasil menangkap Raup beserta 2 orang Kepala Desa, seorang Carik, dan seorang penghubung. Gerakan pembersihan pun dimulai meliputi seluruh wilayah Territorium V dan disebut sebagai Operasi Merdeka Territorium V. Kekuatan militer dikerahkan untuk menumpas gerombolan Malik cs. dan gerombolan bersenjata lainnya.

Keadaan ini dibarengi dengan berawalnya perpecahan yang terjadi antara Malik dan Klowor di bulan Maret 1951. Penyebabnya dipicu oleh tidak diakuinya lagi gerombolan Klowor sebagai bagian dari jaringan Malik cs, karena Klowor cs. dianggap terlalu sering melakukan perampokan untuk kepentingannya sendiri. Kala itu, Klowor adalah pemimpin gerombolan Sukorejo dengan daerah kekuasaan meliputi Purwosari, Sengon, Lawang, Purwodadi, dan Sukorejo.

Adanya operasi pembersihan membuat aktivitas para gerombolan mulai menurun, tetapi tidak jarang masih terjadi kejadian-kejadian yang mengamcam keamanan dan ketertiban umum, seperti: golongan perampok-perampok biasa yang ditampung oleh Malik, golongan bekas mata-mata Belanda yang hidupnya terlantar, juga kaki tangan Belanda yang belum rela meninggalkan Indonesia.

Upaya-upaya pembersihan yang dilakukan antara lain dengan berpatroli menggunanakan uniform, menyamar, penggerebegan kepala desa-kepala desa dan rumah-rumah yang diperguakan gerombolan untuk rapat atau bersembunyi, pengawasan terhadap lalu lintas kendaraan dan kereta api, menghidupkan lagi pertahanan rakyat berupa Pager Desa, melakukan operasi simpati dengan dengan memberikan obat-obat, dan alat-alat bercocok tanam dsb., juga menangkap orang-orang yang sebenarnya memimpin di belakang layar.

Dalam Operasi Merdeka Territorial V, inti dari pasukan pemukul adalah Batalyon 512 yang dikomandani Kapten Soemitro dengan jajaran Komandan Kompi I Lettu Sudarto, Komandan Kompi II Letda Sunyoto, Komandan Kompi IV Letda Sukarman, dan Kompi Bantuan/Pengawal Lettu Pamoedji. Kompi Bantuan saat itu bertugas mengamankan lali lintas mulai dari jembatan Porong hingga ke daerah Lawang-Bangil.

Pada 12 Mei 1951, pukul setengah enam pagi, dalam sebuah operasi di daerah Bangil, pasukan Kompi I Lettu Sudarto berhasil menangkap pemimpin-pemimpin gerombolan, yakni Malik dan Paenu alias Sirad Dulkamid di desa Kaliputih. Tangan kanan Malik, Bakri Arifin alias Tahar terbunuh ketika berusaha melarikan diri. Malik sendiri ternyata adalah mantan IVG, mata-mata dan kaki tangan Belanda.

Sewaktu operasi lebih digencarkan, beberapa anggota gerombolan mulai menyerahkan diri beserta persenjataannya seperti LE dan Landsister. Gerakan Untung cs. juga terdesak sampai sekitar gunung Bromo. Kompi IV berbaku tembak dengan gerombolan di desa Mojotengah, Sukorejo, seorang anggota geromnolan tewas dan satu lagi tertangkap. Di daerah Purwosari rakyat berhasil menangkap seorang anggota Klowor dan menyita senjata pistol. Namun, masih saja ada anggota gerombolan Klowor dan Kamaruddin yang masih berkeliaran di daerah Kejayan, penculikan modin, gerakan gerombolan Hargo, serta gangguan gerombolan Hamid di daerah Pasuruan meski Hamid sudah ditangkap.

Keamanan wilayah berangsur pulih, kekuatan gerombolan makin melemah. Kehidupan masyarakat di daerah Malang dan sekitarnya kembali berjalan lancar dengan meredanya gangguan pengacauan dan perampokan bersenjata. (idur)

Pengacauan Gerombolan Malik cs.Memanfaatkan Kondisi Buruk Seusai Perang Kemerdekaan (2)

Terminal Sawahan (1940)

Gerakan Malik cs. makin hari makin meresahkan masyarakat. Dalam bulan Februari 1951 saja, mereka telah melakukan pengacauan-pengacauan seperti telah disebutkan, Malik cs. berlanjut melakukan penyerbuan kedua kalinya ke pabrik tenun Kasri, pembunuhan seorang anggota Polisi Pandaan, belum lagi perampokan rumah gadai di Warungdowo, penyerbuan pos Polisi MBK Kasri Pandaan, penyerangan kembali markas Batalyon 34, menghasut buruh pabrik di Bromo untuk melakukan pemogokan, perampokan bus di Ngerong, serta di wilayah Pasuruan tercatat peristiwa delapan kali perampokan.

Dalam menjalankan aksinya, mereka juga melakukan cegatan-cegatan terhadap transportasi masyarakat. Di bulan April 1951 mereka melakukan pencegatan dan perampokan bus-bus antarkota, seperti:

1. mencegat bus Arjuno pada di daerah Mlaten, Gempol dan menculik anak seorang penumpang;

2. merampok bus HT jurusan Pasuruan-Surabaya di Cangkring Malang Bangil, setelah dirampok bus dibiarkan pergi tapi ditembaki dari belakang, kondektur bus terluka parah saat dibawa ke rumah sakit Pasuruan;

3. tiga orang anggota mereka bersenjata merampok sebuah bus Surabaya-Malang;

4. bersenjatan sten dan karaben, di desa Jetak mereka menghentikan bus Arjuno yang berangkat dari Malang menuju Surabaya.

Saat itu tindakan tegas belum dilakukan, mengingat di masa awal 1950-an segala sesuatu harus dicermati dalam melihat gejala-gejala dan peristiwa yang terjadi. Laporan-laporan yang masuk secara intensif diselidiki dan diobservasi, termasuk salah satunya gerakan Malik cs, tersebut.

Namun, berdasarkan pengolahan infomasi, kekejaman dan tindakan keji lainnya dapat diduga berasal dari pelaku yang sama, yakni Malik dan jaringannya. Masih di bulan April 1951 tercatat ulah Malik cs. antara lain

1. perampokan terhadap Rumah Sakit JIwa Porong, Lawang;

2. penembakan gudang Geni Pionir di Sumberwaras, Lawang;

3. seratus orang bersenjata bren, sten, karaben menyerbu pos Polisi di daerah Pasrepan, Pasuruan. Mereka menjarah senjata, sejumlah sepatu dinas, beberapa stel pakaian dinas dan topi dinas, serta meninggalkan surat ancaman;

4. menembaki panser-wagen yang sedang berpatroli di daerah Sumberwaras;

5. menyerang markas di daerah Karangsono, Lawang dan terjadi tembak menembak tapi tidak jatuh korban;

Dalam rapat gelap yang diadakan Malik cs. diketahui mereka sedang membentuk susunan komando, pimpinan, dan staf serta melakukan pembagian daerah operasi. Di setiap kecamatan dibentuk Komando Daerah dan disebut CD (Comando Daerah).

Selain itu terdapat regu Gangster yang bersenjata 3 pucuk pistol, terdiri dari 3 orang personel tetap dan 5 orang personel bantuan. Persenjataan mereka diperoleh dari hasil serangan terhadap pos-pos Polisi, sebagian lagi hasil curian dari markas Belanda. Perlengkapan lainnya didapat dari hasil perampokan dan bantuan dari CD-CD.

Gerakan mereka pada awalnya selalu mengarah pada tokoh-tokoh yang kurang disukai masyakakat. Menculik dan membunuh tokoh tersebut untuk tebar pesona seolah-olah dilakukan untuk membela kepentingan orang banyak. Di sinilah kesempatan untuk menarik dan menambah jumlah pengikut-pengikut.. Di desa Baujeng dan Bangil gerakan Polisi menemukan pamflet-pamflet mereka yang ditempelkan di tempat-tempat tertentu.

Sebelum ada perintah penumpasan terhadap gerombolan-gerombolan pengacau, pada 14 November 1950 sebenarnya telah dikeluarkan pengumuman oleh Menteri Pertahanan, yang intinya berisi pesan persuasif untuk memberi kesempatan kepada anggota-anggota gerombolan bersenjata yang masih memiliki cinta kepada tanah air dan bangsa untuk menyerahkan diri dan kembali ke masyarakat, serta hidup rukun dan damai. Hasilnya, tidak ada respon sebagaimana diharapkan. (Bersambung/Idur)

Pengacauan Gerombolan Malik cs. Memanfaatkan Kondisi Buruk Seusai Perang Kemerdekaan (1)

Mereka yang ikut andil dalam penumpasan Gerombolan Malik cs. Dari kiri:Letda Soekarmen. Komandan Batalyon 512/30 Brigade IV Kapten Soemitro, dan Lettu Pamoedji.

Setelah tercapainya persetujuan gencatan senjata dan pengakuan kedaulatan Republik Indonesia Serikat pada 27 Desember 1949, situasi belumlah tenang, Perang Kemerdekaan telah usai, namun tugas selanjutnya adalah mengatasi persoalan dan membina ketenteraman masyarakat.

Bermunculan gerombolan-gerombolan yang mulai meresahkan masyarakat. Mereka memiliki banyak pengikut di kalangan masyarakat. Tidak terbatas pada pancurian, perampokan, penodongan, penculikan, pembunuhan, dan pengacauan masyarakat, perlawanan terhadap aparat penegak hukum di daerah juga digencarkan.

Gerakan tersebut kenyataannya terkoordinasi dengan baik dan tersebarlah kekacauan di beberapa wilayah seperti Malang, Sidoarjo, Mojokerto dan sekitarnya termasuk Bangil, Pasuruan, Porong, Purwosari, dan Pandaan. Selanjutnya diketahui gerakan gerombolan itu dipimpin oleh Abdul Malik yang populer dengan sebutan Malik dan ditengarai mantan anggota Batalyon 17 Kompi Ichdar,

KDM Malang menerima berbagai laporan dan oleh karenanya dikelarkan perintah bahwa segala potensi yang ada dikerahkan untuk menenteramkan keadaan dan mencegah berbagai aktivitas gerombolan pengacau. Begitu besar pengaruh Malik sehingga banyak aparatur pemerintah terlibat, seperti personel tentara, anggota polisi bahkan beberapa kepala desa yang memberikan bantuan langsung maupun tidak langsung.

Mereka tidak jarang melakukan rapat-rapat rahasia, salah satunya di kediamaan seorang Kamituwo, dipimpin sendiri oleh Malik dan Tajib (mantan anak buah malik sewaktu masih dalam kesatuan peleton Malik) sebagai langkah menambah pengikut.

Kondisi Negara dalam keadaan menderita secara fisik maupun moril seusai perang kemerdekaan, kondisi ekonomi dan sosial politik dalam kondisi carut marut, ternyata dimanfaatkan untuk mengail di air keruh oleh Malik cs.

Pengacauan dan kejahatan yang dilakukan Malik cs. Antara lain:

1. serangan beberapa kali terhadap markas Geni Pionir di Sumbersuko;

2. perampokan dan pembunuhan Kepala Desa Ampelsari;

3. penyerangan markas Batalyon 34 Kompi I pada akhir Desember 1950;

4. perampokan terhadap Camat Pandaan, akhir Januari 1951;

5. perampokan pabrik tenun Kasri, awak Februari 1951;

6. pembunuhan Asisten Wedono Djoko Mudji, Banyuayar, Gending Probolinggo;

7. penyerangan pos polisi Sukorejo;

8. perampasan dan perampokan mobil, antata lain milik pabrik gula Kebonagung;

9. menembaki Bengkel PD markas Batalyon 34 Lawang;

10. kembali menembaki Batalyon 34 Lawang pada Februari 1951, gugur Pratu Tjongklet dari Seksi III Kompi III

11. penyerangan pos polisi Pasuruan

12. perampokan rumah gadai di Bangil, awal Februari 1951

13. penyerbuan pos Polisi MBK KAsri Pandaan, Februari 1951, gugur tiga orang anggota MBK;

14. menyerang Kompi IV dari Batalyon 34, Februari 1951, gugur Sersan Ismail;

15. dan sederet daftar kejahatan lainnya di berbagai wilayah

Informasi tentang gerakan pengacauan Malik cs. Diperoleh dari anggota-anggota gerombolan yang tertangkap oleh pasukan Kompi I Batalyon 34 di Lawang dan Kompi VI kesatuan Mobile BrigadeJawa Timur di daerah Pandaan. Diketahui pula bahwa pada Januari 1951 Malik cs. telah mengadakan rapat di desa Kedungrejo untuk membentuk susunan komando beserta staf dan bagian-bagian dari gerakan pengacaun mereka.

Sementara di daerah Pasuruan juga telah diadakan rapat-rapat rahasia seperti di desa Tamansari Wonorejo yang dipimpin oleh Raup (asal CGI) bersama 25 anggota pasukan dari Seksi Klowor. Rapat tersebut juga dihadiri oleh 8 orang kepala desa. Hasil keputusan rapat antara lain, kepala desa yang diundang tetapi tidak hadir dianggap pro pemerintah dan wajib diberantas. (Bersambung/Idur)

Catatan Peristiwa Desember, Perang Kemerdekaan di Karesidenan Malang (2)

Sulam Samsun (Komandan Kompi), Kapt. Suyono (Yono Gaplek, Komandan Kompi), Kapt. Sabar Sutopo (Komandan Kompi Gagak Lodra)

MALANGVOICE – Masih di 20 Desember 1948. Setelah Kompi Sulam Samsun menghancurkan pos-pos Belanda di wilayah barat Malang, mereka bersama Kompi Matrawi dan Kompi Suwondho, semua dari Batalyon Hamid Rusdi berkekuatan hampir 400 orang bergerak ke Sumber Bendo.

22 Desember 1948. Setelah menyerang pos-pos Belanda di Badut dan Klampok mereka meringsek menuju Lang-Lang melalui Karangploso. Saat beristirahat karena kelelahan di kampung Lang-Lang, mata-mata Belanda mencium hal itu dan tak lama Belanda pun melakukan serangan besar, mengerahkan pasukan berlapis dan pengintaian dari udara. Terjadilah pertempuran tak seimbang.

Pertempuran berlanjut ke Karangan sesudah Shalat Jumat, 11 orang gugur dalam pertempuran itu termasuk Komandan Suwondho. Ketiga kompi bergerak kembali ke Sumber Bendo untuk berkonsolidasi.

21 Desember 1948. Setelah memenangi penyergapan di Pandansari, pasukan Sabar Sutopo bergerak membuka jalan ke Gubuk Klakah. Diperoleh informasi bahwa Belanda sudah mendirikan pos di dukuh Tosari. Dilakukan penyerangan dan dapat dirampas pitol dan beberapa pucuk senapan dari tangan pasukan Belanda.

Esoknya paginya, 22 Desember 1948 pukul 5 pagi, Belanda mengadakan serangan balasan dengan mengerahkan 2 kompi bersenjata lengkap, mobil lapis baja, dan pesawat udara. Dengan kerugian persenjataan, korban gugur dan luka, Kompi Gagak Lodra pasukan Sabar Sutopo bergerak menuju Jabung. Namun karena pertahanan musuh yang cukup kuat, memaksa pasukan RI kembali dan sampai di Kalijae Tumpang. Di sini, selama 2 hari pasukan tidak makan.

Ketika mencari makanan di desa-desa terdekat melalui hutan dan lembah, di tengah hujan lebat dan berkabut pasukan Belanda dengan tiba-tiba memberondong dengan senapan otomatis dan granat. Ternyata mereka sudah menduduki bukit-bukit di atas lembah. Hampir 40 orang gugur sebagai bunga bangsa, belum lagi yang terluka. Mereka dimakamkan di lereng-lereng Gunung Kalijae.

Di daerah basis Malang TImur Laut, di Nongkojajar dan sekitarnya adalah wilayah Kompi Yono Gaplek. Dengan personal dan persenjataan yang dimiliki, kompi ini siap melakukan pertempuran frontal menghadapi Belanda. Selain menyerang pos-pos Belanda di Nongkojajar, Pasrepan, Jabung, dan Gerba, pasukan Yono Gaplek juga berhasil melucuti pasukan-pasukan liar di daerah Malang Tmur Laut yang dipimpin oleh Jarot.

Mereka adalah gabungan dari bromocorah, pencuri, perampok, berkekuatan 2 seksi, menyengsarakan rakyat dan menguasai Jabung dan sekitarnya.

Pada 22 Desember 1948 pula, Panglima Tentara dan Territorium Jawa, Kolonel A.H. Nasution mengumumkan berdirinya pemerintahan militer untuk Jawa. Dengan konsepsi baru pertahanan yang disebut dengan Perintah Siasat No.1 tahun 1948, dilakukan hal-hal antara lain: tidak dilakukan pertahanan linier, diperlambat majunya serbuan musuh, pengungsian total, dan bumi hangus.

Dibentuk kantong-kantong di tiap onderdistrik yang memiliki kompleks di wilayah pegunungan dan pasukan-pasukan yang berasal dari daerah federal menyusup ke belakang garis musuh (wingate) serta membentuk kantong-kantong sehingga Pulau Jawa menjadi medan gerilya yang sangat luas. (Bersambung/idur)

Catatan Peristiwa Desember, Perang Kemerdekaan di Karesidenan Malang (1)

Peta gerakan Kompi Gagak Lodra.

Pada 19 Desember 1948, Belanda mulai mengadakan Agresi Militer II dengan lebih rapi. Dini hari, pasukan Belanda sudah menempati posisi di belakang garis pertahanan pasukan RI di sekitar Ngantang. Mereka bertujuan untuk menguasai pusat pembangkit listrik Mendalan (sentral listrik terbesar di Jawa Timur, terletak di pinggir Sungai Konto di perbatasan Karesidenan Kediri dan Malang). Rakyat berbergerak melaporkan hal ini kepada Kapten Sumeru yang kemudian diteruskan kepada Komandan Batalyon di Pujon. Pukul 10.00 pagi serdadu Belanda sudah melintas menuju ke Gunung Kelet, Desa Bian, Bendosari , dan Bakir. Mereka berhasil menutup aliran air yang mengalir ke turbin hingga listrik pun padam.

Sementara itu, di sepanjang Bululawang-Wajak, seksi-seksi yang mengadakan pertahanan diserang dengan hebat oleh Belanda. Komandan kompi dan pasukan cadangan RI yang berposisi di Garotan pun segera bersiap untuk bergerilya. Mereka segera bergerak cepat dan harus segera menduduki daerah dekat perbatasan (status quo) sebelum pasukan Belanda istirahat dan berkonsolidasi. Sejak pagi, pertempuran terjadi di mana-mana. DI sepanjang garis pertahanan Wajak dan Turen, pasukan kita terus bertempur menghambat musuh, agar ada kesempatan untuk memindahkan amunisi dan perbekalan masuk ke daerah gerilya dan hutan. Ketika daerah Wajak sulit dipertahankan, semua pasukan RI diperintahkan bergerak memasuki daerah perbatasan, garis status quo di hutan Wonosari. Pukul 7 pagi, pasukan patrol Belanda berkekuatan 2 regu bersenjata lengkap yang berasal dari pos Poncokusumo, dijadikan bulan-bulanan dan dihabisi oleh Seksi Sarim di jalanan Pandansari.

Di Tempursari pun terjadi pertempuran hebat untuk menghadang masuknya pasukan Belanda ke daerah itu. Musuh pun gagal memasuki Tempursari, karena jembatan kali Tempursari dirusak oleh pasukan RI dan menghambat gerakan mereka.

Pada 19 Desember 1948 pula, di pagi hari sekitar pukul 4.30 pagi, di Lodoyo Blitar terjadi pertempuran antara pasukan TRIP menghadapi serbuan Belanda. Ada beberapa korban dari kedua belah pihak.

Bersamaan dengan dimulainya Agresi Militer II, seluruh pasukan Divisi VII Untung Suropati pun, termasuk pasukan dari wilayah Karesidenan Malang mengadakan berbagai penyusupan ke daerah-daerah kantong.

Pada hari yang sama, Belanda dengan pasukan lintas udara menyerang ibukota RI, Yogyakarta. Lapangan terbang Maguwo dikuasai dan tidak lama seluruh Kota Yogyakarta jatuh. Para pemimpin ditangkap, yakni Presiden Soekarno, Wakil Presiden Moh. Hatta, Sutan Syahrir,. H, Agus Salim, Mr. A.K. Pringgodigdo. Mr. Assat dan Komodor Suryadarma. Mereka diasingkan ke Prapat dan Bangka. Sidang Kabinet yang sempat diadakan hari itu memberikan mandat melalui radio gram kepada Mr. Sjafrudin Prawiranegara yang kebetulan sedang berada di Sumatra, untuk membentuk Pemerintah Darurat Republik Indonesia.

Pada 20 Desember 1948, Kompi Gagak Lodra dipimpin Sabar Sutopo bergerak melakukan gerilya ke wilayah Bambang Kecamatan Wajak dan Garotan. Sementara Seksi Soetomo ditugaskan bertahan di Wajak Utara untuk menghadang pasukan Belanda yang ditengarai akan memasuki Garotan dan sekitarnya.

Brigade IV dengan semua kesatuan di bawahnya diperintahkan untuk menitikberatkan pertahanan pada Kota Malang, Bangil, Pasuruan, Turen, dan Lumajang. Namun, kondisi pertahanan pasukan Mayor Hamid Rusdi di Turen sudah tidak memungkinkan karena kurangnya lengkapnya persenjataan, maka dilakukan penyusupan ke daerah pendudukan Belanda di daerah Malang Timur dengan berbagai pertempuran gerilya malam hari, dilakukan pada saat yang tepat dan mempergunakan pasukan infantri. (Bersambung/Idur)

Di Balik Dahsyatnya Pertempuran Surabaya 10 November 1945

Mobil Brigadir Mallaby yang hancur di Surabaya (kiri). Bung Tomo menggelorakan semangat perjuangan (kanan).

MALANGVOICE – Awal September 1945, situasi di Jawa Timur cukup bergelora. Berbagai insiden terjadi dan seluruh rakyat siap siaga menunggu segala kemungkinan yang terjadi. Pasukan Sekutu mulai merambah Jawa Timur, terutama melalui Tanjung Perak untuk menyerbu Surabaya. Kondisi semakin memanas ketika rakyat dan BKR setempat bereaksi karena ternyata pasukan Sekutu bersekongkol dengan interniran Belanda.

Di wilayah lain di Jawa Timur, beberapa BKR seperti BKR Malang dan Madiun sudah menguasai beberara perbentengan (yinci-yinci) di daerah pegunungan Malang dan Madiun. Residen-residen (syucookang) yang ada terdiri dari pensiunan perwira tinggi Jepang, kecuali Bojonegoro dengan Residen Suryo dan Karesidenan Malang dengan Residen Mr. Singgih. Namun beberapa hari setelah kemerdekaan Mr. Singgih hilang secara misterius. Situasi pengambilalihan pemerintahan daerah menjadi terganggu karena yang menggantikan beliau adalah wakil orang Jepang.

Pertempuran hebat 10 November 1945 sebenarnya adalah rangkain dari peristiwa yang berawal di hari kedua kedatangan Brigade 49 Divisi India Ke-23 Tentara Sekutu (AFNEI) yang mendarat di Surabaya 25 Oktober 1945 dan dipimpin Brigadir Jenderal A.W.S. Mallaby. Pemerintah dan rakyat Indonesia menyambut dengan tangan terbuka. Namun, 27 Oktober 1945 mereka menyerbu penjara untuk membebaskan para perwira Sekutu dan pegawai RAPWI (Relief of Allied Prisoners of War and Interness) yang ditawan oleh pasukan RI. Akibatnya pos-pos Sekutu di Surabaya diserang oleh rakyat prabaya. Pemimpin-pemimpin Indonesia memerintahkan gencatan senjata, tapi pihak Sekutu ternyata tidak menghormati gencatan senjata, hingga Brigadir Jenderal Mallaby tewas dalam insiden yang belum terungkap jelas.

Sehari sebelumnya, 9 November 1945, tanpa berunding dulu dengan pemimpin Indonesia, pimpinan tentara Sekutu di Surabaya mengeluarkan ultimatum, padahal sudah terjadi kesepakatan yang membuahkan Contact Comitte Panitia Penghubung antara Sekutu dan Pemerintah RI. Pihak Sekutu mengultimatum dengan perintah agar pimpinan dan rakyat yang bersenjata harus melapor, menyerahkan senjata dan mengangkat tangan di atas kepala, dengan batas waktu sampai pukul 06.00 WIB tanggal 10 November 1945.

Rakyat melawan, pecahlah pertempuran Kota Surabaya. Paasukan sekutu berkekuatan hampir sepuluh hingga lima belas ribu orang, lebih dari satu divisi invantri, Divisi India ke-5 dan sisa Brigade Mallaby. Mereka didukung oleh meriam-meriam kapal penjelajah Sussex, kapal perusak, dan pesawat-pesawat Mosquito dan Thunderbold. RAF (Angkatan Udara Inggris). Pertempuran tidak seimbang ini ternyata berlangsung hingga awal Desember 1945.

Dalam pertempuran dahsyat ini, telibat pula bantuan pasukan dari semua penjuru tanah air, khususnya pasukan-pasukan dari Jawa Timur. Dari wilayah Karesidenan Malang, Probolinggo, Bondowoso, Pasuruan, Lumajang dan Malang bergantian diberangkatakan secara bergelombang. Pasukan yang telah cukup lama di garis depan kembali ke markas-markas komando untuk digantikan yang lain. Mereka kembali dan berbagi pengalaman untuk membangkitkan semangat perjuangan.

Resimen 38 Malang Kompi Sochifudin adalah kompi pertama yang diberangkatkan ke front pertempuran Surabaya dan Kompi Untung dari Resimen Bondowoso. Dari Probolinggo Kompi Oesadi yang merupakan pasukan inti mantan Heiho dan Peta. Dalam pertempuran Surabaya kompi ini kehilangan komandannya. Gelombang selanjutnya, arek-arek Probolinggo diberangkatkan ke front Surabaya, yang terdiri dari BKR dan lascar-laskar yang berasak dari BPRI, Pesindo, Hisbullah, Sabilillah, dan lain-lain serta kumpulan pemuda yang tergabung dalam satuan bersenjata. Pasukan Lumajang yang ikut bertempur di front Surabaya tidak hanya dari BKR_TKR saja tetapi juga melibatkan badan-badan perjuangan dan kelaskaran yang ada.

Selanjutnya dari Malang, pasukan Kompi III Batalyon III dipimpin Mayor drh. Soewondho dan komandan kompi Kapten Mohamad Bakri. Telah gugur dan hilang beberapa prajuritnya di daerah Ngagel termasuk komandan peleton Letnan Juari yang kemudian digantikan Letda Imam Soepardi dan berkonsolidasi di Kecamatan Porong dan bertugas di daerah pertahanan pantai di Bangil.

Di Malang pun, secara spontan dibentuk pasukan-pasukan Polri untuk ikut bertempur di Surabaya dan banyak pelajar-pelajar SMTP dan SMTA ikut menggabungkan diri. Mereka ikut bertempur mati-matian, kemudian bernaung di bawah Kompol II Moh. Yasin, serta mundur dan membuat benteng pertahanan di daerah Buduran dan Krian.

Panglima Divisi Untung Suropati, Mayjen Imam Soedjai menghimpun dan membawa serta Alim Ulama Karesidenan Malang ke front Surabaya dan membuahkan dampak psikologis yang memperkuat semangat perjuangan.

Di front pertempuran dahsyat Surabaya, gugur beribu-ribu pejuang RI sebagai pahlawan bangsa, di antaranya tidak dikenal jati dirinya dan dikebumikan sebagai pahlawan tak dikenal. (idur)

Berkumpulnya Semua Pasukan Gerilya di Malang Selatan dan Semeru Selatan

Rapat Pimpinan Divisi, para Komandan Brigade dan Batalyon se-Jawa TImur di Batu (1950)
Rapat Pimpinan Divisi, para Komandan Brigade dan Batalyon se-Jawa TImur di Batu (1950)

MALANGVOICE – Diberlakukannya Garis Van Mook berakibat otomatis terkurungnya pasukan RI dalam satu kawasan. Wilayah Malang Selatan dan Semeru Selatan menjadi tujuan berbagai pasukan untuk berhijrah dari daerah-daerah kantong di wilayah Karesidenan Malang dan Besuki. Hutan yang lebat, tanah berbukit dan penuh lereng, serta ceruk-ceruk curam menjadi kawasan yang strategis untuk perjuangan bergerilya.

Pasukan Belanda pun melakukan berbagai strategi, seperti memperkuat daerah Sumber Urip, menyerang Turen dan Sedayu dari arah Bululawang, menyerang Talok dari arah Tumpang, mempertahankan Poncokusumo untuk pangkalan operasi menyerbu Dampit, serta memperkuat garis pertahanan Talok-Sedayu-Gondanglegi-Kepanjen-Wlingi sebagai garis utama untuk mengurung pasukan RI ke daerah pantai selatan. Musuh juga memperkuat garis pertahanan Poncokusumo-Wajak-Dampit-Sumber Urip dan Lumajang-Ampelgading-Dampit untuk menguasai Semeru Selatan.

Namun, semua itu jauh dari kenyataan, karena pasukan RI selalu mendahukui melakukan Wingate Action, menyerang untuk merebut kembali ke daerah-daerah itu. Koordinasi yang baik dari segenap unsur termasuk rakyat di Malang Selatan dan Semeru Selatan, secara umum mampu menggagalkan pemerintah bentukan Belanda (RECOMBA) yang tidak pernah menjadi kenyataan.

Dalam mematuhi perintah akibat penjanjian Renville itu pun, pasukan HIzbullah yang dipimpin Kyai Ilyas pun harus ditarik ke daerah kantong dan berangkat menuju Malang Selatan. Terdiri dari Seksi Anaz Zaini dan Azis Masyhuri, dari desa Pagon mereka berjalan kaki melintasi Gunung Semeru menuju Dampit, kemudian bergabung dengan pasukan TNI dan bersama-sama menuju tempat hijrah dengan naik truk-truk yang telah disediakan. Pasukan Kyai Ilyas akhirnya bermarkas di daerah Pronojiwo.

Pasukan Kyai Ilyas telah melakukan berbagai perlawanan terhadap pasukan Belanda. Dengan bantuan Kompi Soekartijo mereka menyerbu pos-pos musuh di sekitar pasar Yosowilangun. Mereka juga menyerang markas Belanda yang ada di pabrik gula dan pabrik beras di Kencong.

Pada tahun 1947 tatkala keluar Dekrit Presiden mengenai pembubaran badan kelaskaran untuk digabung menjadi satu dalam TNI, pasukan Kyai Ilyas pun dijadikan satu kompi di bawah komandan Kapten Ilyas dan masuk dalam jajaran Batalyon IV. Peresmian Hizbullah melebur dalam TNI tersebut dilakukan di lapangan Sedayu, Turen pada 11 Desember 1949. Mereka masuk dalam pelatihan pasukan selama satu bulan di Depot Batalyon Sumberpucung di bawah komandan Nailun Haman.

Di masa Perang Kemerdekaan II, atas persetujuan dari Komandan Batalyon IV Samsul Islam, pasukan Kapten Ilyas diperbolehkan kembali untuk bergerilya di daerah Lumajang. Mereka menyusuri pantai selatan, berjalan kaki beberapa hari dari Dampit menuju Lumajang. Ketika sampai di Tempursari, ternyata belum lama terjadi peetempuran hebat antara pasukan RI dan musuh. Masih banyak mayat-mayat berserakan, baik jasad pasukan RI maupun serdadu Belanda. Ini menjadikan Tempursari yang sebelumnya tertutup menjadi terbuka bagi lalu lintas gerilya dan para pengungsi dari jurusan Malang ke Lumajang, Jember dan wilayah lainnya.

Di tahun 1949, terjadi pertempuran hebat, serangan dilakukan oleh pasukan Belanda yang dipimpin langsung komandan mereka dari KST Korp Spesiale yang terkenal hebat dan kejam. Mereka menyerang dari Gladak Perak-Kali Lengkong-Merakan. Sementara posisi pasukan Soekartijo Seksi III Abd. Muchni membayangi di atas Gunung Sawur-Penanggal dan Poncosono. Lebih dari 3 jam pertempuran, banyak korban dari pasukan Cakra yang membantu Belanda, diangkut dengan truk-truk. Kuda-kuda yang mereka gunakan berhamburan.

Dalam perjuangan di wilayah Brigade IV terdapat juga sebuah kompi beranggotakan orang-orang yang berasal dari Irian (Kompi Irian). Dikomandani oleh Letda Koromath pada masa gencatan senjata dan Agresi Militer Belanda II mereka bertempat di Turen. Mereka turut berjuang membela RI. Setelah pengakuan kedaulatan, mereka ikut serta masuk ke Malang. Ketika berlangsung operasi Trikora untuk pembebasan Irian jaya, mereka memiliki peran penting dalam keberhasilan operasi tersebut. Disamping Kompi Irian, di kesatuan Brigade IV ikut juga berjuang Batalyon 524 Jokotole yang terdiri dari pemuda-pemuda Madura dari Pamekasan yang berjuang di Tuban. Dalam perjalanan perjuangan kemudian, mereka bergerilya sampai wilayah Kediri, lalu setelah pengakuan kedaulatan mereka berkedudukan di Pasuruan.

Pada Perang Kemerdekaan II kebutuhan logistik sudah teratasi oleh Kecamatan Ampelgading yang menghasilkan bahan-bahan makanan memadai, karena di masa gerilya itu para pimpinan pasukan RI dan sipil di sana telah membentuk daerah perkebunan menjadi desa-desa darurat yang lengkap dengan kepala desa, struktur pemerintahan desa, dan batas-batas wilayahnya.

Kebersamaan ini pun yang mendorong terarahnya serangan serentak terhadap tangsi-tangsi Belanda. Waktu itu, diperoleh berita bahwa operasi dahsyat akan dilakukan oleh pasukan Belanda baret merah dan baret hijau. Mereka akan menembak mati setiap orang yang melewati lereng selatan gunung Semeru sampai ke Dampit.(idur)

Komunitas