DICARI: PARA PENONTON YANG BERBUDAYA

“Ini perhelatan budaya, kami mempersiapkan dan bekerjakeras menyelenggarakan acara ini dengan semangat, nilai-nilai dan cara-cara yang berbudaya, jika anda ingin menontonnya, menikmati acaranya, berinteraksi, belajar, dan atau mengambil makna daripadanya, jadilah penonton yang berbudaya dan layak dihormati”

Oleh: Tatok (Kristanto Budiprabowo)

Para penonton

Kehadiran penonton adalah bagian penting dalam sebuah pertunjukan. Ada beragam model penonton, diantaranya adalah: yang pertama, penonton yang dekat, langsung, dan berinteraksi dengan suasana yang diciptakan oleh sebuah pertunjukan. Penonton ini kadang bisa nampak sangat fanatik mencintai apa yang ditontonnya, kadang mengenal para pemain pertunjukan secara personal, dan mengekspresikan diri dalam semangat yang ditampilkan oleh sebuah pertunjukan.

Yang kedua adalah penonton yang pasif, apatis, kadang sinis menjaga jarak. Penonton ini lebih memilih menikmati dirinya sendiri dan keasyikannya sendiri sembari berada di keramaian sebuah pertunjukan. Apapaun yang terjadi dalam pertunjukan itu tidak penting. Bahkan susah untuk menanyakan pada mereka apa yang disukai dalam pertunjukan tersebut.

Yang ketiga, ini biasanya sedikit saja, adalah kelompok penonton yang justru berusaha menjadi orang yang ingin ditonton, ingin menjadi pusat perhatian dalam pertunjukan. Bahkan para pemainpun berusaha mengarahkan pertunjukan bagi orang-orang ini. Penonton diarahkan sedemikian rupa bahwa pertunjukan hanyalah sarana agar para penonton menonton penonton khusus ini. Aneh memang. Tapi begitulah seringkali orang penting didudukkan dan mendudukkan diri dalam sebuah pertunjukan.

Yang keempat, sebagai akibat dari makin canggihnya teknologi, adalah penonton jarak jauh lewat media televisi atau streaming jaringan internet. Penonton seperti ini kadang yang paling keras membuat analisa baik buruknya sebuah pertunjukan berlangsung. Semacam sindrom kolonialisme pendidikan; penelitian obyektif adalah yang dilakukan dengan cara mengambil jarak. Begitulah kadang di kalangan penonton jenis inilah sebuah pertunjukan bisa menjadi isu dan perbincangan sosial yang berkepanjangan.

Belajar dari suporter Arema

Yang banyak tidak diketahui orang di dunia sepakbola adalah adanya hubungan yang saling menguntungkan antara penonton sepak bola dengan keseluruhan sistem managemen tim dan bahkan berabagai kompetisi sepakbola yang ada. Keempat jenis penonton diatas, dalam dunia suporter sepakbola adalah asset-asset penting yang dikelola dengan sangat sistematis sehingga hubungan saling memuaskan itu memberi makna pada pesan-pesan peradaban.

Arema dengan slogan “Salam Satu Jiwa” nya adalah contoh yang paling original dalam gerakan akar rumput untuk menghubungkan kecintaan masyarakat tidak hanya pada tim sepakbola kesayangannya melainkan juga pada makna nilai-nilai hidup yang berbudaya dan berperadaban. Kecantikan permaian, kemenangan dalam kompetisi, dan transparansi managemen tim selalu penting, namun dibalik itu ada gelora massa untuk menyadari jadi diri sebagai sebuah kesatuan kebersamaan bagi kejayaan.

Upaya-upaya pengorganisasian yang dibangun secara formal, kebebasan tiap-tiap orang untuk menciptakan komunitas-komunitas dengan segala kreatifitas ekspresinya, dan keleluasaan memanfaatkan segala atribut bagi kepentingan bersama, adalah realitas yang patut disyukuri yang menghadirkan arema bukan hanya sekedar sepakbola. Dia bisa juga soal bakso, soal cwimie, soal pecel dan es campur, soal dagang kaos, soal media, soal nusik dan lagu, dan bahkan soal-soal yang lebih fundamental semacam relasi interpersonal menghadapi keragaman sosial yang ada secara filosophis, sosiologis dan bahkan politis.

Arema way adalah pesan damai dalam kegembiraan bersama dan kebanggaan bersatu jiwa. Maka tidak perlu heran jika pertandingan tim arema selalu menjadi hal yang menarik dan mendapatkan apresiasi dari para penonton dengan beragam evaluasi. Karena dibalik kegembiraan kemenangan atau kekecewaan kekalahan tim kesayangannya, tiap-tiap penonton menemukan ruang refleksi mendasarnya, yaitu “salam satu jiwa”.

Penonton seni tradisi Malangan

Mengapa gelora kecintaan para penonton seperti yang terjadi pada pertandingan sepakbola tidak terjadi pada ekspresi-ekspresi seni budaya lainnya, terutama ekspresi seni tradisional yang semua orang menyadari adalah bagian dari hidup arema? Bukankah penonton tetaplah penonton apapun pertunjukan yang ditampilkannya; entah itu pertandingan sepakbola atau pertandingan bantengan, jaranan, patrol, atau kompetisi musik, tari, teater tertentu?

Menjawab hal ini jelas tidaklah mudah. Kalaupun hendak diadakan survey, dia akan menghadapi persolan-persoalan mendasar hingga pada kecenderungan memaknai hidup masyarakat yang ada di dalamnya. Jadi pertanyaan di atas sebenarnya adalah pertanyaan eksistensial yang akan memperlihatkan keaslian wajah arek-arek malang – arema dalam kesadaran budhi dan dayanya. Pendek kata, hal itu akan mempertanyakan budaya penonton dan budaya pertunjukan yang ada di Malangraya ini serta usahanya mempraktekkan nilai-nilai hidup di dalamnya.

Arema adalah bagian penting dari budaya Malangraya untuk Indonesia. Sesungguhnya tiap perhelatan yang melibatkan penonton, termasuk pertandingan sepakbola adalah perhelatan budaya yang mencerminkan kehidupan manusia-manusia yang terlibat di dalamnya.

Dalam asumsi saya pribadi, sudah waktunya bagi masyarakat Malangraya – arema – untuk membebaskan diri dari resistensi masa lalu yang memposisikan segala bentuk perhelatan – selain sepakbola – sebagi ajang propaganda dan indogtrinasi politis.

Kita sudah hidup di era pasca reformasi, era dimana segala bentuk ekspresi budaya telah terbebas dari cengkeraman dan ancaman tunduk pada kemauan kekuasaan. Jika arema sebagai suporter sepakbola telah menjadi pioner pembebasan diri dari hal itu, tentu terbuka peluang bagi gelora penonton yang sama pada segala jenis pertunjukan seni budaya yang ada di Malangraya.

Bagaimana itu bisa dimulai? Mari kita tanyakan pada semua orang yang terlibat dalam dunia seni dan budaya. Kalau perlu mengajak mereka belajar pada arema. Belajar membangun semangat “salam satu jiwa”.

Dulu bangga menjadi arek Karuman, sekarang bangga menjadi Arema

Pupuran Mbeluk

ilustrasi (Anja a)

Mambengi Paitun keturon maneh ndik pos, maleh kadit helom. Isuk-asuk karepe ditutukno rudit, lha howone adhem njejep hare. Mbuh kah, ate mlungker yoopo, uput-uput Wak Pan mlijo wis dirubung ebes-ebes kodew, kathik lambene koyok spiker kabeh. Iku durung sarapan, suorone wis koyok terminal bemo. Bah wis, mlungler ae ambek ngrungokno.

“Sampeyan maeng liwat bale erwe a mbak Tin? Tak delok kok koyok akeh wong anyar,” jare Bu Wiwik.

“Iyo buk. Aku krungu jare iku petinggi-petinggi anyar. Ngganteni sing lawas, sing kenek setrap. Pemain cadangan, adane bal-balan ae,” jare Mbak Jum sak njeplake. Iso maleh kekel kabeh.

“Mandarmugo ae gak kenek kartu merah pisan. Tak delok onok Mbak Ninil. Mangkane, mulai subuh wis bingung macak. Padahal biasane, jam sepoloh sik dasteran, ambek ngetapel nontok tipi mangku panganan. Maeng subuh pas aku nyapu latar, tak pikir wonge budal subuhan, tibake ndok-dok salone Siska wkwkwk…,” jare Bu Wiwik molai nyumet kompor.

“Aku maeng yo ketok Mak Tinik, Bu Wilujeng, terus sopo maeng, ooo… Mbak Bawon. Cumak aku rodhok heran. Mosok wong-wong iku moro-moro mbejudul dadi petinggi ndik erwe?” jare Bu Wiwik gaya mancing.

“Yow is rejekine ta buk, gak oleh njahe,” hadak Wak Pan plaurmen nyaut omongan. Mbak Jum yo sanap ta.

“Wong lanang ojok melok-melok, ini urusan perempuan! Ilingku awakmu wis gak sepiro krungu, tapi sik krungu ae.” jare Mbak Jum ambek njupuk tomat ate diuncalno nang Wak Pan. Wak Pan ancen wis rodok budheg.

“Eit…eit, tomat hadak ate digawe kasti. Sembarang larang, ate diuncal-uncalno,” jare Wak Pan ambik gaya nyaut tomate.

“Sampeyan lek rame ae, tak orat-arit blonjoan iki. Kene iki warga, lak yo berhak ero tah,” Mbak Jum macak bludrek. Wak Pan klakep, langsung ethok-ethok noto dagangan. Para kodew kembali saur manuk.

“Gak e, iso tah dadi petinggi. Awake dewe lak ero ta sopo wong-wong iku. Lek aku yo ngoco sik ta. Deloken maringono bendino lak sobo salon. Iki lak ngurusi pemerintahan se, gak poodho lho ambek ngurusi arisan erte. Lha wong sak jek jumbleg, nang PKK ae gak tau teko. Nang omahku ilo mek lek onok sing dirasani, opo njaluk trasi. Temenan iki,” Mbak Tin lek ngomong ganok potensione.

“Situke tambah mbak. Ndik ndi-ndi bendino mek nyanyi. Ben ketemu ndik ndi, mesti pas menyanyi. Lagu sembarang apal ketoke. Lak aluk dadi penyanyi tah, nyanyio ae enak. Lak sik enak ngapalno lagu ta timbang ngapalno peraturan eh… opo… undang-undang,” jare Bu Wiwik.

“Iyo yo buk, lek nyanyi lagune rodok lali, sik dikeploki. Lek peraturan gak apal, iso dikeplaki ta… disetrap barang,” jare Mbak Jum ambek nggegek. Wis tambah rame.

“Yo gak popo. Engkuk paling tugase mek dadi emsi ndik rapat-rapat. Opo nyanyi lek pas kancane ngaso rapat. Lumayan ta, karek nyeluk elektun thok, Sinyo ae wkwkwkw…,tapi bon e pancet,” jare Mbak Riani gaya nyekel mik.

Paitun tambah sumpek brebeken. Akhire tangi, ambik atame sik mrepet ketheken, tapi gak wani utem pos. Osi dietrek-etrek ambek Ebes-ebes kodew iku. Gak e, gak mari-mari lek blonjo, terus kapan masake. Lak iso sarapan abab tak keluargane, batine Paitun. Ewul pol hare, tapi kadit rayub-rayub lomba pidatone. Ngenem ae wis ndik pos, ambek tak raup terus pupuran.

“Sing blaen ketoke wanyik iko, Mbak Tin. Wong iku lak kudune lak ngukur awake dewe. Sampeyan lak ero dewe a, aku yo gak ngenyek. Uripe rumah tanggane yo rodok abot, tapi lek tuku golongane wedak, mik ap, hadohh… luarang-larang, sing laham-laham. Beha gak gelem tuku ndik pasar. Tapi lek iuran dasa wisma, mbulet mintak ampun. Arisan mesti njaluk oleh disik, ketan kolek gempo legi,” Mbak Riana nggebros wis.

“Koyoke saiki keturutan mbak. Mariki kepingin opo ae iso,” jare Bu Wiwik ngegongi.

“Opo maneh mari njabat petinggi, mesti akeh rapat, acara, undangan. Lho..lho… iso bendino nang salon. Oo iyo, mene ilingno yo, ayo totoan, mene modele rambute ganti opo gak. Gayane anyar opo gak. Biasane mlakune moro seje. Wkwkwk…” jare Mbak Tin. Osiae.

“Aku mene lek ketemu disopo opo gak yo? Soale wingenane tak ilokno pekoro pemean,” jare Mbak Jum.

“Kiro-kiro sing gelem nggak yo njaluk jangan blendrang nang omahku,” jare Mbak Tin.

“Hape ne paling langsung ganti anyar, langsung tuku telu. Rambute disemir ungu, opo nggawe wig,” jare Bu Wiwik.

“Lak koyok terong, ngawur ae sampeyan, wkwkwk.. poko ojok liwat taman,” Mbak Jum kekel hadak.

“Wak Pan, ndelok buku sampeyan., paling wong-wong iku sik ngebon yo,” jare Mbak Jum ambek nggoleki buku catetane sing blonjo ngebon. Ambek Wak Pan bukune ndang-ndang dislempitno jakete.

“Aku mbayangno yoopo yo. Lak durung paham blas wong-wong iku. Yo mandarmugo ganok masalah opo-opo. Kadung mbendino budal macak ayu-ayu, moro onok masalah pekoro durung paham. Cukup ta waktune gawe sinau. Amanah iku, gak main-main. Gak iso mbayangno, yok opo praene metu tekan bale erwe lek onok sing gak beres,” jare Mbak Riani mbengung.

Paitun wis gak kuat, ewul pol. Utem tekan pos. Kait mbukak lawang, ebes-ebes kodew iso njumbul, paling pecothot lambene.

“Lho… lho… lho… ratune sampun wungu. Enak temen oripmu, Tun,” Mbak Riani ngomong digetno ae.

“Wuikkk… pupurane rek, gak kurang mbeluk ta, iso koyok dempul,” lek iku ketok lambene Mbak Jum.

“Sik…sik. Iki ide apik iki. Petinggi-petinggi anyar iku kongkon pupuran sing mbeluk ae lek onok masalah. Kan lumayan, gak sepiro isin. Masuk…masuk…” jare Bu Wiwik koyok pengumuman.

Wak Pan sumpek, selak awan, dagangan osi kadit uyap. Sawine sampek ngletruk. Gubise ngringet.

“Wisa iki, mbayar opo bon, lak selak awan ta,” jare Wak Pan ambek ate ngaleh.

“Sing enak sampeyan lek ngomong,” jare Mbak Jum, ambik karepe nggudho. Nggoleki opo iku. Lhuk, hadak Mbak Jum njupuk kanji plastikan. Disuwek plastike, nyawuk kanji marani Wak Pan. Wak Pan kroso, brompite distater gak murup-murup, langsung mencolot iral sak kayane diuber Mbak Jum. Womg-wong kolem kaget, tapi mek ndlomong.

Kesempatan iki, batine Paitun ambek cepet-cepet ngaleh. Mumpung wong-wong emar ewed.

Ndik embong Paitun ngungib, lapo gnaro-gnaro kok tail kabeh. Kroso kadit kane, nggrayahi rai ne. Kok tambah kaku pipi iki. Ooo… jait, iki pasti kelakuane Bendot lek gak Bambing. Ayas pas rudit wedakku dicampuri koyoke. Kanji paling. Engkuk bas-bas semen putih. Dhes ancene. (idur)

Buto Kaliren

Howone kutho ketoke sik kurang merdu. Ancen adhem, tapi koyok sik onok kroso angete sekem. Paitun suwe gak dolen nang Gang Gawat. Kupinge wis keri suwe kadit denger nggedabruse gerombolan bekakas. Mlebu gang, ndik pojokan bedak e Bu Cip, Paitun ngendeg uklam, apais nggandang cik merdune. Lhuk, iki lak lagune jaman ayas sik licek.

Lepetan, lepetan angudhari
Anguculi janur kuning aningseti
Seti bali lungo dandan
Methika kembang sikatan…

Kait ate ndhodhok ngrungokno, gak sido wis. Kaceb e Pi’I liwat, Riadi Hansip sing numpak, bengak-bengok ae lambene koyok radio lawas.

“Tun, TO koen… nangdi ae. Digoleki wong akeh hadak eskip. I.. Pi’i… lhok en Paitun, dungaren pupurane mbeluk. Wkwkwk… Iko lho Tun, nango pos… lhuk listik e rek, bibirnya mirahhh… hahaha…” Riadi nggarap dilos. Listik… lipsetik… goblik Riadi.

Pi’I nyetir kaceb ambek kekel sampek kaceb s sliyat-sliyut. Kapok a, ban e sing kiwo ublem got. Rasakno…malik a wis… wkwkw… Riadi pucet. Pi’i mecethat, wong awake sak biting. Sukurr… langgit ae wis timbang dipaido.

Ndik pos tibak e emar temenan. Waduh, Bambing tail ayas koyok ndelok berkat. Wisa.

“Lhooo… lakonnyah dateng. Suweh ora jamuh, jamuh godong paitan wkwkwkw… “ jare Bambing. Paitan pathakmu iku, batine Paitun. Irunge tambah koyok klampok.

“Tak tail tekan keneh maeng tak pikir lak kesemek ta ente, Tun. Pupuraneh koyok dempul… wkwkwk…karek nyepet… bemo le’e” jare Bambing nggegek.

“Wis ta Mbing. Tun sepurane yo,” jare Jon saaken. Paitun mubeng nyalami wong-wong. Wayahe Bambing diliwati. Tambah kekel hadak brengkesan iku, ambek nggudo kucinge Paitun. Kucinge bencine setengah mati lek nang Bambing.

“Wis ero ta awakmu, Tun. Pilian erwe wis mari. Koen kesuwen gak beredar iku opo. Iki maeng arek-arek mbahas erwe sing anyar. Wis, lungguho sing anteng, iku ipok e. Rungokno ae ya. Ojok kathik kolem omong. Soale antara dehem ambek ngomong, koen gak tau jelas, tambah iso salah paham. Tertib ya? Wis Cak Mian tutugno,” jare Bendhot. Bendhot tang tinggal suwe, gak putih-putih arek iki, batine Paitun. Areke mlorok.

“Mang tekok endi. Sik. O yo. Tak terusno. Masyarakat kene sakjane kan duwe angen-angen. Pemimpin iku lek iso yo duwe ilmu kabudayan. Atau kalau tidak, ya minimal punya wawasan kebudayaan sing bener. Lek wong Jowo yo kudune ero budoyo Jowo, opo thithik-thithik yo ngertilah… Kudune lak ero sing jenenge Hastabrata. Iki kitab kepemimpinan. Kok Hastabrata, cobak engkuk takonono erwe mu sing anyar, ero ta kenek opo Gatutkoco kok kait oket pas Abimanyu wis itam. Opo pekoro patine Bhisma. Kematiane Bhisma di tangan Arjuno opo Srikandi. Takono sing gampang ae paling kadit itreng. Iki ayas kadit ngremehno lho, tapi kenyataane,” jare Samian kementhus.

“Sampek sak mono yo?” jare Endik koyok yok yok o.

“Ente ngono, Ndik. Wong Jowo potokopi. Koyok ayas ngene iki lho, podho… kok iso gak itreng blass… wkwkwk,” jare Bendhot ambik njulekno Bambing.

“Lek ayas yoh… ngertilah sak iprit. Cumak lalih,” jare Bambing nggedabrus. Genti dijungkrakno ambek Endik.

“Masalahe kan ngene. Pemimpin lek gak duwe sangu bab kebudayan, kan repot. Terus yoopo lek ate njogo opo noto seni opo budaya ndik kampung kene. Iso gak kerumat, iso diglethakno, opo lek gak mek awu-awu cek dianggep peduli seni budaya. Kancane kliru pisan wkwkwkw…,” jare Samian.

“Lek ayas krunguh sambateh wong-wong, iki wis suweh, tapi saiki jareh tambah nemen. Iku lho, jare kakean makelar seni, makelar budayah. Mbuh opo meneh arek-arek lrek ngaranih. Kanyab buto kaliren nggrumbul koyok tumo ndi bale erwe. Repote maneh, wong-wong model ngono ikuh sing dipercoyoh. Sing soroh kan yo sing seniman temenan. Trus yoopoh…’ Bambing sambat.

“Pemimpin iku sakjane kan koyok dalang. Lek paham balungan e cerito, yo mesti pinter lek noto sanggit. Njawil roso. Saiki ledome nguwawur pol lek nyanggit, lak nggarakno ngungib tah,” jare Samian.

Iki ae wis ngungib hare ayas, batine Paitun. Entek ipok agit saleg, Paitun pamitan. Grup bekakas ketoke yo ate rayub pisan.

Tekan ngarep bedak e Bu Cip, lho sing nggandang sik lanjut hare. Nongkrong ae ndik buk ngrungokno ambek ngaso. Merdu.

Nyoh sego, nyoh sego… nyoh sego nyoh cethinge
nyoh lawuh nyoh lawuh… nyoh lawuh nyoh wadhahe
nyoh sambel nyoh sambel… nyoh sambel nyoh coweke

Lho kowe kok dibanda, njupuk apa? Njupuk krikil
Ndi krikile? wis tak edol
Ndi duwite? tak nggo tuku beras
Ndi berase? wis tak liwet
Ndi segane? wis tak maem
Kower mau wis tak kek’i maem,
lha yen ngono kowe kayak buta

Paitun mesam-mesem, ambik mbatin. Oala, saiki buto-buto ewul, gak sing lawas gak sing anyar, tambah tewur sliweran umek ndik bale erwe. (idur)

Mercon Bumbung

Howone posoan wis mulai kroso. Awan rodok sore, Paitun sengojo uklam menggok Gang Gawat. Lhok en, iku Mbak Tin wis umek mbenakno mejo dasaran gorengane. Dicet, dingklik-dingklik sing peyok dibenakno. Untung ae gnakute Wak Ri, cobak Bendhot sing nggarap yo tambah menclek kabeh. Waik, mejo dasaran ditempleki sepanduk, tapi gambar senjem e osi hedeg sak blabak-blabak, yo gak jelas iku gambar weci opo sepon pupurane wedhak.

Lhuww… De Patimah gebere warunge anyar yo an. Gambare cingkire kopi tapi kegedhen, iso mblenduk ngono. Gambar kuleb e ipok osi kluwer-kluwer koyok cacing ongkep. Paling Bambing sing nggambar. Nggambar cingkir hadak dipadakno irunge. Mbak Tini cenil yo kadit meleg halak hare. Sepanduke sing nemplek rombonge sik gres ketoke. Onok potone wanyik ewed, hmmm… merdu ambik malangkerik, esem e maut. Lho, gambar lupise lha kok koyok buah karambol. Lek De Patimah gak kiro wani potone nemplek geber warunge. Lak dirikim wong lawetan kewes ambek selendang. Iki, anyar pisan iki, ujube Bambing, tante Bembi bukak toko pisan ndik cendelo ne, bek toplese najaj, camilane kera licek-licek pathing grandol werno-werno. Ketoke lawetan oskab pisan. Oskab kanji ketoke, lha lonthepe bundere gak jelas. Iki kampung ta pasar senggol, batine Paitun.

Ndik pos lapo ae grup e rengginang iko. Tak paranane ae. Wuik… Samian sibuk ngganti senare gitar. Bendhot ngumek ketipung, di tang… di obeng, ditabuhi. Bendhot sibuk nyetem cukulele, gitar cilik iku lho. Endik ambik ambek Samian nggraji pring, kethoke nggawe kenthongan. Pak Nardi ngik ngok ngik ngek, nyobak biolane ambek bolak-balik herbone diarpus. Wanyok lak termasuk buaya keroncong biyen. Engkuk bengi osi-osi cek son iki, rikime Paitun. Lek poso lak usum patrol.

“Ndhot, yoopo iki, bas cethole e odis nyeleh Jakik ta, kronconge lak prei a,” Endik takon.

“Kadit wis. Gak usah bas cethol marih. Kegedhen. Sopoh sing meleg nggotong. Kathik kene engkuk maleh kadit osi uklam ublem lompongan. Bolak-balik mandeg, ngaso thok ae isineh. Ente iling a, patrol nggowoh bas e kroncong, isuke mokel gentenan…wkwkwk. Mboten om, ayas tak mauh menyiksa dirih,” jare Bendhot.

“Ngene ae, yoopo lek bas e ente ae, Mbing. Ente ae sing muni kolem lagune. Mek, dham dhem… dham dhem… Nayamul,” jare Endik.

“Kathik mubeng kampung rong ubengan ya? Seneng lek kancaneh lambene njedir ambek hewod? Gendheng tah… Patrol oleh telung dino, awak opnameh…kak kak kak… Kamu ketoknyah sukak kalok temannya ndak bisa riyayah wkwkwk…arek sempel,” jare Bambing nggegek.

“NIki biola sing mbiyen niko a Pak Nardi? Sik kane hare munine,” jare Samian ambek nyetem kendang e.

“Iyo dik, riwayat iki. Pokok lek herbone asli rambut kuda, yo unine ulem, dik,” jawabe Pak Nardi. Hadak Bambing ngakak.

“Pakek rambutnyah Mbak Riani ndak bisah de? Kik kik kik… lak tambah sula tah..unineh, opo maneh rambute Mbak Tini… lhuwww…,” jare Bambing nggarap, dijulekno ambek Bendhot.

Wah emar iki, batine Paitun. Lapo Pak Pandi marani ambek praene mbureng. Wong-wong kroso pisan ketoke.

“Rek, tak ilingno yo. Lek patrol ojok sampek liwat lompongan sebelah omahku. Aku ero, koen-koen iki sengojo mandeg ngarepe cendelo kamarku. Terus mbok banter-banterno lek mbengok. Situk engkas! Ojok sampek ngrewangi arek-arek cilik nggawe mercon bumbung ndik barongan iko ya!? Koen terutama, Ndhot,” jare Pak Pandi terus nyengkre. Koyoke tangi turu sore, durung pepek. Bendhot lek mungsuh Pak Pandi, tambah njahe.

“Mbing, mene peseno nang Riadi, bumbunge kongkon golek sing rodok gede maneh. Deloken, jarno ae, tekan barongan mercon bumbunge tambah tak pasno madep mburi omahe Pandi, cek bolak-balik njumbul,” Bendhot getem-getem.

Diluk engkas Bu Wiwik oket marani. Ate maido opo maneh iki. Tapi rodok alus, soale kadit itreng lek onok Pak Nardi.

“Sepuntene Mas Nardi. Mbing, lek patrol iku mbok lagune sing tepak. Mosok ben taun, mulai biyen lagune lek gak Kuda Lumping, Begadang, Tul Jaenak, Hidup di Bui, Diana, terus opo maneh iko. Gak iso nyanyi liane tah. Aluk nyetelo tip, nggowo salon tumpakno becak. Sepurane lho yo, suwun,” jare Bu Wiwik pamit ambek mesam-mesem. Pak Nardi biyen ambik Bu Wiwik lak sir-siran, tapi gak odis dadi. Pak Nardi pas iku dadi guru penempatan ndik luar jawa, kathik taunan. Akhire yo tekek kecemplung laut.

Maneh, De Patimah liwat, mandeg sak nyuk ambek mentheng kelek.

“Le, koen kabeh, rungokno yo, ojok sampek penekan, nyolongi blimbing ambek pencit ndik latarku. Tak kabyuk koen, tak guyang banyu. Deloken yoh…” jare De Patimah ngancam terus ngaleh.

Datang lagi si Riadi Hansip. Ngerem apedese mbliyut, njagrag meh keblowok got.

“Rek, ayas maeng mek dikongkon nyampekno, patrol sing tertib. Lek iso arek-arek sing kolem patrol kandanono, ojok oleh nyaut ember, omplong, blek…opo tutupe resek ndik latare warga. Dithuthuki gawe kothekan, maringono diklemprakno sak paran-paran. Ayas mek nyampekno lho yo,” jare Riadi langsung gutap ngaleh soale Bendhot mencolot marani.

Coronge langgar muni adzan. Pak Nardi pamit helom. Grup rengginang hadak sek klesetan. Bu Cip ambek Tante Bembi liwat uklam budal nang langgar. Ndelok ndik pos, Bu Cip kontan gak srantan.

“Yoopo awakmu iku le…le. Nggak magriban ta… Gak sembayang? Magrib kok genjrang-genjreng ae. Wis tuwek-tuwek tambah gak karuan. Kok iso… wis durung adus, wong cap opo se awakmu iku, rek” jare Bu Cip nyeneni. Wisa, Tante Bembi maleh kolem siaran. Bambing cekekal ngadeg, liane mek ndlomong.

“Lo..lo…lo, sampeyan sik ndik kene. Emben wis poso, Mbing. Mbok sing pokro. Titenono yo, lek saur gak tak gugah. Wegiahh… Jarno bude, engkuk tak ngongkon arek-arek nyumet mercon bumbung ndik kamar!” jare Tante Bembi ambek ngejak Bu Cip ngaleh. (idur)

JARAN KEPANG

Kringet osi gobyos, uklam tekan tail jaran kepang. Jaran kepange masiyo kadit khatik kalap-kalapan tapi mbois tari-tariane. Ancen onok sing seje, gak koyok biasae, tapi yo apik. Sing nggarakno lites lak soale sing main kera-kera enom. Ciamik.

Lapo Riadi iku, ketoke ban e gembos. Ngono ae maeng nyelip ambek gayae kadit lanek. Saiki tak selipe ambek gaya mencep.

“Olaopo koen mencap-mencep, Tun. Seneng lek kancane soroh. Tak piker koen maeng diuntal caplokan wk,,,wk,,,, “jare RIadi nggarap Paitun. Lhok en, lambene ambek ban e podo ngowose, batine Paitun. Gendongen sepedamu le…wk..wk…wk… Sori tak langgit. Wayahe sepeda iku ijolno jaran gedheg, karek ngempit, gak nuntun. Repot, sadel iku.

Mampir warung cenile Mbak Tini, hadak emar genaro nggedabrus nongkrong ndik warunge De Patimah halabese. Asaib, sopo meneh lek gak grupe bledhus ambek horok-horok. Kait ndeleh ngokob, spiker aktip saur manuk.

“Koen marih tail jaran kepang yo Tun. Saiki koyoke gak tepak yoh, mosok onok nogone, onok uloh tarung karoh kucing. Sejeh ambik biasane. Ganok kalape pisan… kadit serem…” jare Bambing ambik kementhus.

“Tapi apik kok, Mbing. Senengku opo? Sing niam arek-arek enom. Angel lho saiki golek arek enom seneng jaran kepang. Mbois garapane. Masiyo ganok kalape, tapi tak akoni ngeten. Jaman saiki kalap-kalapan, oleh endi sempronge…wak ente iki, “jare Bendhot.

“Ente ero opo Mbing. Ngimbab iki lambat, kadit itreng jaman now. Arek-arek enom iku termasuk kreatip lho. Tako’o Cak Mian. Yo cak yo?” jare Endik. Bambing mek mrenges nggomblohi. Samian ngomong ambek elus-elus geger e Ngimbab.

“Lek ngomong seni budaya iku lak gak mek pentas, tanggapan, opo pekoro ojir thok. Kabeh onok tanggung jawabe jugak pekoro pelestarian, nglestarekno. Seni budaya iku kudu berkembang cek gak ditinggal karo sing nontok, opo masyarakate. Gak popo ditambahi opo dikurangi, sing penting gak ngrusak nilai-nilai budayane. Onok sing kudu tetep dijogo. Tapi yo onok ae sing ngroweng, sing maido. Biasa iku. Sing penting berkarya terus, sing iso nduduno kemajuan, kreatip, onok niat nguri-uri budoyo. Guduk ngroweng ae. Lek kancane nggawe karya, ewangono… ojok diriwuki,” jare Samian.

“Ngohten nggeh pakdeh…,” jare Bambing. Langsung dijegug ambik Samian. DIsawat brambang pisan ambik De Patimah.

“Aku kapan iko yo ndelok. Jaran kepange apik. Awakmu lek ate kalap-kalapo dewe, le. Mbing. Ganok semprong, iki onok toples,” jare De Patimah ambek nyenthe-nyenthe. Iso kekel kabeh.

“Ente biyen koyoke tau melok jaran kepang, iyo Mbing? Cumak lek kalap senengane golek neon, gak gelem semprong. Tau, neon murup dikremus, lhok en lak sik njedhir sampek saiki…haha…ha…,” Endik ngomong okere sampek mecethat.

“Prasamuh ayas anim tah…,”jare Bambing. Yo kolem kekel ta, wong Bambing.
Mbak Tini sing kaet maeng mek mesam-mesem lah kok kait muni.

“Cak Mian, sampeyan gak kepingin nggawe ludruk opo kentrungan ta ndik kampung kene?” jarene ambik rodok ngalem. Bambing iso mencolot hare.

“Bisahhh… Suuiipp… sutradarah siyapppp…” jare Bambing ambik nyembur idune.

“Harahhh kono, diputusi dewe ae hadak, “ jare Bendhot ambik ngglungguhno Bambing.

“Yo gak popo Mbak, lek wong-wong kene gelem, yo engkuk ditoto,” jare Samian ambik njegug maneh geger e Bambing. Mbak Tini osi kekel hare. Wisa, mbanyaki kabeh.

“Aku biyen sik nom-noman melok grupe Cak Nari. Biyen aku mesti dadi ratu, sueeneng aku… Aku melok lho yo?” jare De Patimah ambek umeg ae mbenakno kemben e.

“Lhee… lek saikih de, rikoh cocoke yo dadih ibu suri…tapi sing tertib lho de… ojok nyawatan serbet ya? Ndak boleh pechithatan lho ya? Wk..wk…wk… Nantik yang jadi ratunyah ya Mbak Tini. Merduuu… Bagaimana Tuan Bendot…kik..kik.kik..” Bambing iso gumbira hare. Kapok, disawat serbet temenan ambek De Patimah.

“Ayas dadi londone lho Mbing. Londo ireng gak masalah. Lhaa… karek golek nonik londone. Sopo kiro-kiro ndik kampung kene sing iso didadekno peran nonik yo? Sopo, Ndik?” jare Bendhot takon nang Endik sing sik ngguyu gak mari-mari.

“Ente lak lanek Kemal. Paranono Kemal. Akeh stok londone. Cumak rodok angel golekane Kemal, soale mubeng lawetan lengo wangi. Golekono ndik cidek Pulosari kono lho… biasanae lek ingeb ngepose ndik kono,” jare Endik. Ketoke kemeruh.

“Terus sing dadi rojone sopo?” jare Samian mancing. Bambing langsung ngadeg ambek gayae perkenalan nyalami.

“Enteh semuah masak ndak tau, kenalnoh…kenalnoh . Awak-awakan tah calon dadi rojoh. Kamuh mintak apa?” jare Bambing ambik macak rojo.
Gakro lek ujube ket maeng ngadeg ndik lawang, Bambing kaget, gutap.

“MInta apa? MInta ini… Dititipi gulo ambek micin mulai isuk gak njebus-njebus!” jare ujube ambek nyiwir ngruwesi kupinge Bambing. Suarane treble pol. Wong-wong yo kaget kok Tante Bembi moro-moro mecungul. Bambing digiring helom. Uklame iso koyok jaran kepang tapi gak ngempit jaran.(dur)

Tumpeng Samblek

Langit sik oranye tapi seger howone, likise Paitun sik ngejak uklam ae. Sing kane mariki ngaso ae, ambik ngipok sing merdu, batine. Tekan ngarepe langgar, wong-wong tas mudun magriban. Bendhot tail Paitun, langsung moro ambik ngandani.

“Tun, engkuk nango pos yo. Koen lek kadit oket, tak owik ente,” jare Bendhot ambek mbenakno sarunge sing mowol-mowol terus ngaleh. Paitun kudu ngguyu. Ngancam hadak, batine. Tapi wanyok masiyo korak, sik ngayambes hare. Aluk ladub saiki ae, timbang engkuk diithikk-ithik klenteng iku.

Pas liwat ngarepe bale erwe, kok emar. Paitun nginceng tekan cendelo. Lhuk… tumpeng sak ingkung e. Pepek tumpenge. Kabeh methakol nakam cik lekone.

“Lhok en, rase wis ndedepi…mambu ae lek onok slametan. Ojok kathik mlebu, iki undangan thok iki. Sana… sana… awak engkuk sing kenek paido. Sori, Tun,”jare Riadi hansip. Gayae koyok sing duwe gawe ae, begedel iku. Nangkus ewed, Paitun ngaleh terus nutugno lakon nang pos.

Ndek kene tibake yo rame dewe, lambene sing rame. Opo ae iku. Laopo Pendik ambek Suradi kolem njagong, dungaren. Liane lodeme kok methuthut kabeh. Bambing thok sing umek ae, lungguh ngadheg… lungguh ngadheg, onok pir e lek e ngokobe.

“Lhaa ikih… Tun, yoopoh ngeneh ikih. Koen kolem slametan ndik bale erweh?” Bambing nokat setengah ngusut. Ayas yo gedeg ta wong ancen kadit.

“Slamet awakmuh… Dungaren rodok pinter ente… Koen eroh, arek loro iki maeng critoh. Jarene, ketep sing digaweh engkung e tumpenge iku tibakeh nyamblek goneke warga. Kathik jare kadit pisan pindho… sempel antaraneh…” jare Bambing mletik-mletik abab e.

“Ente-ente lek kathik nggowo berita gak bener, tak krakoti jithokmu koen Di…Suradi, ambek sopo jenengmu… Pendik? Temenan iki, koen ate nyebar fitnah ta?” jare Bendhot ambik nuding-nuding genaro aud iku.

“Temenan iki sam. Ayas ero dewe. Tau ketemon ayas. Wis kadit kane lek tak omongno, lha konco ndik pengurus erwe. Lek erwe slametan yo wanyok sing bagian nyepakno. Kitipe ngongkon iko nggolekno… wong iko, tonggone Ngimbab,” jare Suradi gak wani nyebut wonge. Tapi kabeh wis ero sopo genaro sing dimaksud. Suasanane pos iso koyok markase detektip, batine Paitun.

“Mangkane, kapan iku aku pas liwat hamure Mbah Mo, rame uwong, Mbah Mo sumpek kitip e bolak-balik ilang ae. Tibake kabeh yo umyek kelangan kitip. Onok ae,” jare Endik ambek gayae molai mancing pekoro.

“Pas rapat nang kelurahan, Pak Lurah tak kandani yoan. Wonge yo rodhok kaget. Guduk pekoro opo, mosok dijar-jarno,” jare Suradi. Pendik mek ngegongi.

“Ayas biyen yo tau dikongkon, dilungi ojir amil saleb. Yo kadit tah… lek onok opo-opo tak deleh endi raiku,” jare Pendik.

“Leboknoh slorokan, le. Opo kulkas, repot ae… Lho iyo Ndhot, ilinga pas kapan iko diundang nang bale erweh? Wkwkwk… sing jenenge engkung cik alote. Diethet-ethet ate dibageknoh, uangelll… Akhireh, Riadi, lek gak salah ambek Giono, kitip gae tarik-tarikan kait pedhot… Mangkane… oala, kitip nyamblek tibakeh… Untung ayas gak doyan kitip lek gak ayam goreng,” jare Ngimbab ambek kekel sampek iluen.

“Iyo, untung ayas yo gak doyan ketep. Lek nakam ketep iso gatelen hare. Riadi lak nakam ndik halabesku, jare Riadi… iki ketep opo ban se Ndhot, kemeng cangkemku. Ngono kitipe langsung diuncalno nang piringe Giono… wkwkwk… ambik Giono dikrakoti mendal, diuncalno nang tumpenge maneh, podo gendhenge arek loro iku,” jare Bendhot. Wis ngakak kabeh.

“Tapih wong-wong iku kok yo telap-telep yo Ndhot. Giginyah mengandung graji…wkwkwk. Setengah untu setengah pemes…wkwkwk,”jare Bambing ngakak sampek ngiler. Ngguyu ae ngiler, ndahne rudit, batine Paitun. Repot mungsuh orem-orem iku. Wisa, awak kenek.

“Kamuh ya… naoww ati-atih kaluk ada slametan di bale erweh. Ente bisa kloloten. En… Paitun untunya ngelencerrr semuah…kak kak kak,” Bambing durung mingkem hadak terus njlungub. Yo mesti ae, lha lungguh ndik pucuke dingklik, Suradi ngadeg ate pamit, dingklike njombat. Rasakno koen, batine Paitun. Iso koyok nongko lugur.

Suradi ambek Pendik tas cabut, Samian oket nang pos, ambek slilit-slilit gak mari-mari. Untune sik onok lomboke.

“Ente tak goleki rek. Gak oket ta nakam-nakam ndik bale erwe? Kanyab sing oket. Suradi ambek Pendik mrene yo maeng” jare Samian nendes nyumet oker.

“Oyi, jare arek loro maeng gak kolem nakam. Mangkane terus jagongan ndik kene. jare Bendhot rodok curiga.

“Jare sopo. Suradi ambik Pendik maeng mojok, methakol nakam ndhisiki. Paling ngenteni ingkung e dibagi kesuwen. Tak delok piringe yo bek munjung. Ayas sik telung pulukan paling, arek loro iku utem. Malah njaluk oker nang aku, aku lak lungguh cidek lawang. Ambik mbisiki jare ate nang pos,” jare Samian sik slilat-slilirt ae.

“Ooo… keblek iku. Dadi arek loro maeng yo kolem nakam-nakam? Mari ngandak-ngandakno hadak melok mbadhog tumpeng?” Jare Brendhot ambek getem-getem. Samian nendes, ngoker beluk bunder. (dur)

NYUSUR

Menthok, menthok tak kandhani… Mung lakumu angisin isini
Mbok ya aja ngetok ana kandhang wae… Enak enak ngorok…
Ora nyambut gawe…

Ayas pas liwat, sopo nggandang cik merdune. Tibake Mbak Tini ketoke nguruki putune Bu Cip. Nayamul tibae suarane, ngono lapo lawetan lupis ambek cenil.

Gak suwe, Riadi Hansip bengak-bengok wong-wong ndik gang kongkon minggir. Onok rombongan liwat. Lho, Olaopo Jon ambek gerombolane kolem ngetutno ndik mburine.

“Koen gak minggir, tak cangking pisan engkuk. Lek wong-wong wis liwat, engkuk gak popo koen leyean ndik embong,” jare Riadi ambek kringete gobyos.. Kementhus kenthes iku. Biasa ae, DI. Adane onok opo ae. Rombongane biasa, wanyok hadak macak penting.

Rombongan uklam utem gang terus ublem libom. Sing ngetutno mandheg nglumpuk ambik ndrememeng ndik latare Bu CIp sing utem pisan krungu rame-rame.

“Mbrebegi ae arek-arek iki. Onok opo, Ndhot?” jare Bu Cip.

“Niku lho de, Pak Erwe kale tiang-tiang petinggi kampung mantun diintergosai ten bale erwe. Krungu-krungune wau tirose pekoro got,” jawabe Bendhot ambik njawil Bambing.

“Got buntu ta, Jon. Pekoro got ae kok rame temen. Sogroken lak mari,” jare Bu Cip sak mlethese.

“Pekorohnya de… gotnyah tidak disogrok, tapih disogok, kik..kik… kik.. Lho Mbak Tini di sinih…” Bandhot njawab sak mlethese pisan ambek prengesan. Wis a, pipine didulek susur ambek Bu Cip.

“Ngimbab mulai ngawut wis. Ngene lho de asline. Biyen, sing mbenakno got e kampung iko lho. Tibake urusan dana ne gak jelas. Jarene ojire akeh sing gawe bancakan ambek petingi-petinggi iku. Got e lancar, kesake mekar. Terus mremen urusane, dowo wis… tibake akeh pekorone, diusut, kenek kabeh. Ngono lho, de,” jare Endik njelasno.

“Yoopo se wong-wong iku. Wong atase sedino mek mangan sego telung piring ae kok kakean polah,” jare Bu Cip ambek ngelus dadha.

“Masalahnyah guduk oges e de, iwakeh… kik… kik… kik, “ jare Bambing. Sik kadit kapok ae, ditutul susur maneha wis. Sik sempat ae gayae njaluk diresiki Mbak TIni. Mbak Tini mek mesam-mesem. Lik Jum nidk pojokan, repot nyepakno dasaran lawetan gorengane.

“Kathik maringono pemilihan erwe, terus yoopo iki. Lek ublem kabeh, sopo terus sing dipilih? Mosok Bendhot? Kadit… kadit. Osi korat-karit negoro iki,” jare Endik nyumet kompor. Bendhot langsung mlorok.

“Mangkane talah, ojok sukur milih uwong, rek. Terus lek onok kejadian ngene iki, koen-koen kabeh nyocot. Lek jare jenate Pak De mu biyen, wong lek ate nyalon petinggi iku niate macem-macem. Lek engkuk wis kepilih, kait terang teroco, ketok yoopo asline, Dadi pemimpon iku yo le, abot sanggane,” jare Bu Cip ambek nyusur. Lik Jum ambik nyethik kompor, kudu kolem ngablak ae.

“Gak abot bagemanah… yo nyunggi lemari… yo nggendhong kursih… durung lek mangku momongan… kak..kak… kak, “jare Bambing ambik ngelesi Bu Cip.

“Onok benere sampeyan, mas. Bu Wiwik tau crito, koncone lak onok sing bojone petinggi. Lek pertemuan ngono, jare, bojo-bojone petinggi iku jor-joran, gak pakeane gak sembarange. Tapi yo nggak kabeh, umum e ngono. Sing pancet sederhana yo onok, tapi mek siji loro…. Iki gak ngrasani lho yo…” jare Lik Jum.

“Lha iyo, ayas bendino jungkir walik nggolek nakame arek panti sakmono akehe. Onok bantuan yo ndelok-ndelok sik, lek dijak mbathi, kathik kayal, yo kadit. Mosok tanda tangan sak mono, nrimone sak mene. Ate tak emploki barang koyok,ngono ta arek-arek,” jare Jon.

“Aku yo gak masalah mas masiyo mek dodol cenil ambek lupis,” jare Mbak Tini sing ket maeng mek mesam-mesem ngrungokno.

“Melokoh pilihan, Ndhot. Sopo ngertih lek dadi mbesuk ente iso potih kulitmu. Bendino nangoh salone Siska, tapi ojok nggawe ojireh plengsengan… kak…ka.. kak…,” jare Bambing ambik terus mlungker dipithing Bendhot. Wis, kekel kabeh.

“Wis… wis… gak usah rasan-rasan, gak usah sambat. Koen nduk, Jum, kudu bersyukur, masiyo dodol gorengan tapi anak-anakmu sekolahe dhuwur-dhuwur. Jon yo ngono, kudu ikhlas le, cek pahalamu diitung. Awakmu lek ero yo, Tini iki biyen yo meh dirabi petinggi. Diteri montor, dicepaki omah sak perabotane, karek mlebu bleng, Ate kepingin opo ae ibarate dituruti. Tapi Tini gak gelem, saiki dodolan cenil. Uripe wong gak mesti, le. Paling slamet, yo melok Gusti Alloh. Jaluko sembarang keturutan. Melok Gusti Alloh yo mesti sugih,” jare Bu Cip nuturi. Njegidhed kabeh wis, ngowos.

“Jathuko biyen, cobak Dik Tinih meleg tak ibar, lhuuuwww…,” durung sempat mingkem, Bambing kadit sempat ngeles, lambene dijejeli susur e Bu Cip ambik ngroweng.

“Ngomong mencla-mencle… emploken iku!”

Paitun kekel, kapeka… kapokmu kapan. (dur)

Kehinaan yang Terlupakan; Puisi-puisi Aqin Jejen

Manusia Adalah Manusia

ada yang terlupakan dari manusia
ada yang tertinggal dari Adam dan Hawa
dari manakah asal segala cahaya terjadi

bumi dan langit tercipta
matahari dan bulan tercipta
jin dan hewan tercipta
gunung dan sungai tercipta

kita terpantul dari sebuah lubang cahaya
dari manusia yang paling sempurnah.

saat wahyu-wahyu menuntun
adakah yang dibaca dari kalam
mengenali dari mana kita mula-mula?

Yogyakarta, 2018

 

 

Membaca Alam, dari Isyarat Mata Kekasih

pernah jibril turun di gua hira’
membawa kabar penciptaan

aku mencari sisi lain,
engkau gembira di pelukan
dalam selimut yang basah
dekapan yang tak bisa aku baca
namun terasa hangat menyengat

iqra’, aku membaca isyarat dari matamu
matamu telanjang tampak tak berdosa
dari sezarah kelak ditimbang di alam mahsyar

iqra’, aku membaca dari ketidaktahuan
alfa-beta kehidupan yang fana
Sulaiman bicara dengan hewan;
Yunus dimengerti ikat Paus
Ibrahim mengenal api

adakah yang mustahil aku baca dari matamu?

Yogyakarta, 2018

 

 

Dari Lubang Kesunyian

serasa beda dari yang senyap
kurasakan nafasmu semakin ringan
bagai detak kematian
“Allah, Allah, Allah”

selagi mabuk meneguk aggur
kita sadar kesunyian tak pernah ada

desing suara kenalpot;
orasi politik;
celoteh para pengamen;
menyelinap ke dalam dadaku
ada ruang yang kosong ditempati

begitulah kesombongan.

Yogyakarta, 2018

 

 

Kehinaan yang Terlupakan

setelah tenggelam pada kotoran yang nyenyak
bauh alkohol dan bir menusuk-nusuk
aku mengerti, manusia seperti tetes mani yang menjijikkan
apa yang mesti dibanggakan?

gemercik air mengalir di wajahmu bersama wudzu’
malaikat-malaikat bergelantungan
membaca puji-pujian dan rahmat
sedang kita selalu bercumbu
di atas bongkahan daging yang menggiurkan syahwat

Yogyakarta, 2018

 

 

Kerinduan, dan Sebuah Puisi yang Kucipta

selalu tak ada perbedaan cara memahamimu
dari jarak yang jauh entah pula dari jarak terdekat

sulit kita membedakan
antara puisi dan kata-kata manja;
surat cinta, novel asmara, apalagi sebuah drama

akan kucari dari batang kerinduan ini
atas goresan tinta dan sebuah irama

mungkin ada lagu yang belum kau tau
sesekali bisa kau dengarkan menjelang kantuk
dan saat kau terbangun malam nanti

Yogyakarta, 2018

*Aqin Jejen, lahir di Sumenep Jawa Timur. Menulis Essai, Puisi, dan Cerpen. Tulisan-tulisannya dimuat di Radar Madura (Jawa Pos Group), Buletin Jejak, Majalah Sastra Horison (Kaki Langit), terantologi bersama Penyair Kopi Dunia, The Gayo Institut (TGI), Aceh Culture Centre (ACC), dan Ruang Sastra (RS), terpilih sebagai 10 Kontributor Puisi terbaik Gebyar Bulan Bahasa 2016 tingkat Mahasiswa Se-Jawa Timur, IKIP PGRI Bojonegoro, Terantologi dalam Lomba Cipta Puisi Nasional 2016, Hari Puisi Indonesia, Jawa Barat, Juara Lomba menulis Cerpen Writing Festival, SM’s Day se-Madura Universitas Trunojoyo Madura (UTM) Bangkalan 2017, dan Juara Cipta Puisi Penerbit Aksara Aurora Media 2017

Lambe Turah Riuh di Sekitar Kita

Oleh: Nurudin

Istilah lambe turah memang berasal dari media sosial (medsos), tetapi lambe turah bisa menggambarkan kehidupan masyarakat kita saat ini. Bahkan, lambe-lambe turah akan terus bermunculan pada masa yang akan datang, apalagi menjelang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak dan Pemilihan Presiden (Pilpres). Tidak percaya? Kita bisa bertaruh.
Jika ditelusuri, munculnya istilah lambe turah memang agak susah. Namun demikian, salah satunya bisa ditelusuri melalui jejak digital. Lihat contoh misalnya akun instagram bernama “lambe_turah”, total pengikut 4,6 juta dengan tagline “gosip adalah fakta yang tertunda”. Ada juga akun “lambeturah” total pengikut 15,7 juta dengan tagline “akun anti ghibah”. Kemudian ada akun “maklambeturah” total pengikut 132 ribu dengan tagline “gak usah tegang lemesin aja cyiin”. Ini belum termasuk akun yang menggunakan media sosial lain. Anda boleh mengecek di akun dengan mencari kata kunci “lambe turah”. Followernya cukup fantastik, bukan?
Apa pun namanya, ini tentu sebuah perkembangan menarik. Dalam bahasa Jawa, lambe turah bisa berarti orang yang suka menyebar informasi tanpa fakta (isu, gosip, desas-desus) juga bisa berarti orang yang suka asal ngomong. Istilah sekarang disebut “ember”. Jika ada orang yang suka ngomong, bisa dijuluki lambe turah. Si lambe turah juga bisa berarti si tukang gosip.

Mengapa Terjadi?

Kemudian istilah lambe turah juga bisa dialamatkan kepada orang yang “nyinyir” di media sosial. Juga, orang yang senang dengan mengirimkan informasi-informasi yang tidak ada kebenaranya, misalnya hoaks (hox). Tak lupa melekat pada orang yang senang menyebar tautan atau informasi lain yang belum tentu kebenarannya tetapi ia buru-buru menyebar. Entah memang senang menyebar, atau orang itu tak menginginkan orang lain mendahului penyebarannya.
Mengapa lambe turah terjadi? Pertama, masyarakat kita itu kemaruk informasi. Mengapa begitu? Dalam istilah lain masyarakat kita kena peluberan informasi. Perumpaannya, seorang yang sedang berlatih silat, belum mendapat jurus mendalam ia justru bertingkah laku seperti orang yang sudah ahli silat. Jadi, matang tidak, mentah juga enggak. Serba tanggung, namun perilakunya seolah-olah sudah hebat. Inilah yang dinamakan kemaruk informasi.
Saking kemaruknya, informasi yang belum tentu kebenarannya saja kemudian disebar kemana-mana. Orang cenderung menyebar informasi itu bukan karena benar atau salah tetapi karena sesuai keinginan atau kecenderungan dirinya saja. Misalnya, ia ngefans sama Real Madrid. Maka berbagai informasi tentang Madrid akan dia sebar, termasuk informasi yang memojokkan Barcelona sebagai seteru abadinya. Nah, kecenderungan ini sangat kelihatan sekali jika lambe turah sudah berususan dengan politik. Anda boleh amati teman sepergaulan.

Kedua, masyarakat kita belum terdidik dan melek informasi. Apakah ini juga bisa dikatakan masyarakat kita bodoh? Belum tentu. Memang masyarakat kita itu berpendidikan, namun sering hanya berupa gelar akademik. Gelar akademik yang tinggi belum mencerminkan dirinya terdidik. Coba lihat berapa banyak mereka yang bergelar tapi ikut saja menyebarkan berita hoaks?
Ciri-ciri penyebar hoaks tidak saja mereka yang secara membagi buta menyebarkan berita bohong. Tetapi, mereka yang menyebarkan informasi dari pihak lain dengan ending perkataan, “Saya hanya copas lho”, “Saya hanya sebar link lho”, atau “Cuma sebar, siapa tahu bermanfaat, benar tidaknya saya tidak tahu”. Penyebar itu sebenarnya sudah tahu bahwa informasi yang didapatkannya belum tentu benar, tapi karena tidak melek informasi maka ia termakan hoaks, kemudian menyebarkannya.
Ketiga, biar dianggap peduli dan pinter. Ini bisa juga ada benarnya. Seseorang termasuk kategori lambe turah karena biar dianggap “lebih” dari kebanyakan orang. Mengapa orang senang dan banyak omong? Biar dianggap pinter atau biar dianggap punya pengetahuan banyak. Kalau perlu dia mengatakan dengan bukti yang agak meyakinkan, padahal tidak seperti itu adanya. Orang ini tentu senang mendramatisir setiap informasi yang didapat. Lihat kehidupan di sekitar kita. Ada kalanya orang banyak omong yang sebenarnya dibuat-buat semata. Senyatanya tidak sehebat yang diceritakan.
Dalam medsos orang bisa berpura-pura pintar. Misalnya dengan membuat status mengutip pendapat tokoh tertentu, padahal ia hanya mencari di google. Tak terkecuali seolah menjadi motivator hebat lewat status medsosnya, padahal juga hanya didapatkan dari orang lain. Juga, berani menganalisis sana sini seolah hebat. Sementara itu, teman-temannya mulai terkagum-kagum. Padahal jika melihat kenyataan sehari-hari, “jauh panggang dari api” alias tak sesuai kenyataan.

Dalam Politik

Lambe turah lebih ramai jika sudah dikaitkan dengan politik. Dari sinilah kemudian muncul istilah nyinyir, haters, cebong, panasbung, bani serbet, dunia datar dan sebagainya. Istilah-istilah ini membuka peluang orang untuk menjadi kelompok lambe turah. Mengapa begitu? Apa yang disampaikan cuma berdasar emosi dan meluapkan perasaan saja, bukan pada apakah yang disampaikan itu benar atau salah. Akibatnya, emosi yang diluapkan itu telah membentuk media sosial semakih riuh.
Lambe turah memang seperti dunia entertainment. Sifatnya hanya untuk menghibur semata. Dunia entertainment sebagaimana disajikan dalam televisi kebanyakan hanya berisi gosip para artis. Sebenarnya, entertainment itu orang tuanya lambe turah. Hanya lambe turah ini muncul khas dalam media sosial, sementara dalam entertainment khas televisi. Meskipun informasinya sama saja yakni sama-sama gosip. Bahkan bisa dikatakan sama-sama mengejar popularitas.
Lambe turah adalah konteks dangkal pemikiran masyarakat yang terus dilegalkan dan dipopulerkan. Kelompok lambe turah tentu tidak berpikiran apakah informasi yang disebarkan masyarakat itu berguna untuk kebaikan apa tidak. Kalau dalam media sosial bisa tujuannya memperbanyak pengikut (follower). Dengan banyak follower siapa tahu ada sponsor masuk. Buntutnya untuk keuntungan ekonomis, bukan?
Lembe turah murni menghibur. Ini sebagaimana kodrat media sosial yang bersifat menghibur. Mengapa demikian? Jika media sosial tidak punya fungsi menghibur maka ia akan ditinggalkan masyarakat. Mengapa masyarakat banyak yang menyukai media sosial? Karena masyarakat memang suka hiburan sementara media sosial menyediakannya. Tak jarang jika dalam politik, sindiran yang bernada menghina bermunculan. Tujuannya apalagi jika bukan untuk menghibur, sesekali menyerang lawan-lawan politik. Lambe turah tentu tidak banyak manfaat di masyarakat. Namun, yang membikin heran justru komunitas lambe turah ini menjadi perhatian publik. Akun-akun yang bernama lambe turah banyak pengikutnya. Apakah dalam hal ini masyarakat kita sudah susah diajak berpikir serius? Entahlah.
Maka, berhati-hatilah karena lambe turah akan segera kita saksikan sejalan dengan perlehatan Pilkada serentak dan Pilpres di Indonesia. Lambe turah ada di sekitar kita atau jangan-jangan kita sendiri termasuk anggota lambe turah?

*) Nurudin , Penulis adalah Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM); Penulis buku “Perkembangan Teknologi Komunikasi” (2017). Penulis bisa dihubungi di twitter: @nurudinwriter, IG: nurudinwriter

HELEM IRENG

Udan wis gak sepiro wisan. Tak tutno ae likis ate nang endi. Lhuk, ngarepe gang kok emar. Lhok en Bambing malangkerik ambik tuding-tuding, tekan mburi osi koyok ceret. Kok plaurmen isuk-isuk regeg. Tak tail e se. Iku ngroweng ta kemu, ceret iku.

“Kandanonoh tonggomu iku, Ndhot. Ping piroh ae, Ben papakan ndik enggok-enggokan mestih pethutat-pethuthut. Padahal wis tak kei dalan, ayas ngalah ae. Ngono mbok mesem suwun tah, orahh… Kudu tak ketes ae lundug e… ,” jare Bambing ambek lambene koyok hespre. Wis kekel kabeh ngrasakno Bambing.

“Ente sik ngono. Ayas tau, tekan kadoan ayas wis ketok onok Wak Pan mlijo. Lha ndik ngarep hamure Mbak Riani onok brompit e Jumali, gronjonge krupuke masiyo wis dipepetno got, lak yo sik mangan dalan. Ngono ilo, Lik Pandi kok isone, wong wis kewut karek belung ambek entut, iso brompite sliyut-sliyut ngetet ae nyelip. Wiss… awak rubuh nang apedese Jumali, keblegan krupuk ta, morat-marit. Lik Pandi tambah ngowengi ayas. Gak main blas wong iku. Jait. Kon ojok nggegek ae. Tun…” jare Endik.

Sing kekel wong-wong, awak-awakan sing kenek, batine Paitun. Sing slamet ente keblegan krupuk, kok gak ublem got pisan. Endik wedi, brompit e paling nyeleh kidae. Kok dungaren disilihi. Ndhisik dulur-dulure wis kapok, pengaweane nyekolahno brompit.

“Takok o Paitun ta. De’e lak retune embong. Apal wisan kelakuane wong ndik embong. Ente iling a Mbing, wanyik semaput pekoro kecipratan helem mencelat, wkwkwk…,” jare Bendhot nggarap Paitun.

Iling ae, kampas rem iku. Tapi ancene, mbuh jaman saiki yoopo yo. Meh kabeh wong ndik embong isine methuthut ae. Sing mesem mek siji loro. Onok wong apik-apik ngalah, ngekei dalan, ngekei kesempatan kendaraan nyabrang dalan, ambik mesem nyumanggakno, tambah dipendeliki. Onok sing ngetet hape an, padahal dienteni kendaraan liane, yo gak duwe isin, koyok embonge hame ae. Sing ndesit maneh yo akeh. Wis jelas-jelas onok ebes-ebes kewut ngenteni suwe ate nyabrang, ngono yo ganok sing mandeg diluk tah ngekei kesempatan, untung ae disabrangno arek kaceban. Iku gak enom gak kewut, ledome koyok gak ketok ngono, gak peduli blas. Onok yoan sing apik wonge, onok wong nyabrang mandeg sik ambek mesem nyumanggakno nang sing nyabrang, tapi tambah dipleroki ambek kendaraan kanan kirine sing ngotot sliyat-sliyut nyelip. Kathik ambek bleyer-bleyer, jan ndesit pol. Biyen sekolah opo gak yo.

“Heehh, ndelilek ae sadel ikih, yoopoh koen Tun njegidheg aeh… Jare ratune embong… Ooo… saikih wanyik kolem kebatinan om… sembarang dibatin… Sing jelas doel…”jare Bambing nggarap. Lambene iso koyok cikrak.

“Onok sing kadit nes maneh, wong wis jelas-jelas setopan sik abang, sik bal-bel, tan tin ae. Lek gak sabar yo mumbulo wayahe. Mari abang lak jelas ijo ta, lak gak abang terus. Yo sek onok makluk koyok ngono,” jare Endik. Riadi hansip kolem-kolem pisan.

“Kok setopan, wis ero lalu lintas macet, mandeg jegreg, yo onok sing ngetet nglakson. Kemalan iku, paling ate pamer lek akine dobel. Biasane ngono iku wonge kadit bahagia. Senengane mbrebegi kancane, antarane ngono,” jarene. Lhok en, sepatu jatah kegeden sik diewag ae. Seragame yo ngono, mbok dipermak sik. Paitun mesti kudu ngguyu lek tail Riadi. Ketoke kroso wanyok.

“Paitun ngono kadit osi sepedaan wkwkwk…, gonceng ae,” jare Riadi. Terus ae hadak lambene. Repot kenthes iku. Gak pathek en gak gonceng koen le, ora katene. Ente lek ero umbame jakete. Osi koyok ndog kuwukan. Kathik pas krah e sing dhedhes iku.

“Tapi nggonceng Paitun aman, masiyo kadit heleman, dijarno ambik isilup. Paling isilupe gilo, wkwkwk… “jare Bendhot ambek nggegek. Osi kekel kabeh. Asline yo gudhuk pekoro awak-awakan. Dipikir isilup, makoa iku yo heleman, wong ndas sak raine meles koyok helem ireng. Mek ganok cap-capane. Ente ero bompite, lek uline sibun, diisene gemuk. Tau keleket biyen, diketes karo isilup e ambik kekel wonge.

Jenate Pakde Sri biyen, pensiunan isilup, ayas gelek diisaki oges bungkusan, pas jagongan ndik pos pulisi Alun-alun, sik ling aku, wonge tau crito. Carane ngukur watek e uwong iku salah sijine iku tekok perilakune ndik lalu lintas. Asline ketail wis, wong crekel, wong sombong, njaluk menange dewe, gak duwe suwun, koyok jagoan dewe, kadit peduli masalahe genaro liyan, yo onok sing gak duwe isin, rai gedhek. Gak wong elit gak wong kampung. Pekoro parkir kendaraan ae, yo onok sing sak karepe dewe, kudune kan mikir ooo… iki engkuk lek aku parkir ngene, iso wong liyo kangelan gak. Onok sing kenalpote suarane gak karuan, lek jare kendel gantien po’o ambek mercon bumbung pisan. Nyetir ndik embong iku sakjane yo kan salah satu ujian tekan Sing Nduwe Urip, jare Pakde Sri. Dikongkon sabar, ati-ati, gak ngangel-ngangel wong liyan. Umpomo wong-wong ndik embong iku seneng mesem, sabar, suka menolong dan mendahulukan orang banyak, enteng njaluk sepuro, tertib, iso-iso lalu lintas menyenangkan, macet iso udar dewe, opo maneh lek budhal nyetir kabeh ndungo slamet lan lancar. Terus, yo helem ukut ewed, bondo dew, ojok nyeleh kancane ae

Sik durung mari mbatin. Bambing hadak gutap iral singitan ndik rombong rokoke Mat. Bendhot yo ngono tapi kadit sempat eskip, posisine kedangdangan ting listrik. Mbak Riani tibake marani ambik cinding-cincing sewek e. Emar wis.

“Ketok Bambing a rek? Blekok iku nyeleh helem gak dibalek-balekno. Anakku ate kuliah maleh bingung. Koen yo ngono Ndhot! Helem sing ireng iko durung mbok balekno. Suwe-suwe lek gregeten… deloken yo! Koen tak klongkop tak gawe helem. Cek e, tak karekno kupingmu thok!” jare Mbak Riani mencak-mencak. Lhee, lha kupinge dicantholno endi om, batine Paitun ambek ngempet ngguyu. (dur)

Komunitas