Layananan Dokar Gratis, Manjakan Wisatawan Alun-alun Berkeliling Kota Batu

MALANGVOICE – Meningkatnya animo wisatawan di Alun-alun Kota Batu memacu Dinas Pariwisata (Disparta) Kota Batu menghadirkan layanan dokar gratis. Inisiasi itu untuk memanjakan wisatawan berkeliling menikmati Kota Batu.

Kepala Disparta Kota Batu, Arief As Siddiq menjelaskan, layanan ini hanya disediakan saat jam-jam tertentu saja. Yakni mulai pukul 08.00-11.00 WIB. Jika lewat dari jam-jam itu, layanan dokar gratis tak berlaku lagi. Dalam sehari disedikan 5 dokar yang siap melayani para pengunjung Alun-alun Kota Batu, dari total seluruhnya ada 26 dokar yang bergantian disetiap harinya.

“Untuk yang gratis ini rutenya beda ya dengan yang berbayar. Jarak tempuhnya lebih dekat. Layanan ini disediakan mulai Senin-Jumat. Sedangkan Sabtu-Minggu dikenakan biaya,” papar dia.

Ada kompensasi yang diberikan Disparta kepada kusir dokar yang melayani fasilitas gratis berkeliling Kota Batu dengan alat transportasi tradisional itu. Setiap bulannya para kusir menerima Rp 1 juta yang disalurkan melalui rekening Bank Jatim.

“Sekitar Rp 1 juta yang saya ambil di setiap bulannya. Tergantung karcis yang diambil juga,” ucap Suryadi salah satu kusir dokar gratis.

Ia juga menjelaskan saat jam operasional dokar gratis sangat banyak pengunjung yang mengantri untuk naik dokar di Alun-alun Batu.

“Tapi untuk yang gratis ini rutenya pasti berbeda dengan yang berbayar. Kalau berbayar lebih jauh, sedangkan yang gratis ini lebih dekat jarak tempuhnya,” imbuh pria asal Kelurahan Sisir itu.

Salah satu pengunjung Nur Rizal asal Lamongan mengaku senang bisa menikmati fasiltas dokar gratis. Menurut dia, jarang ada daerah yang memberikan layanan dokar gratis.

Dengan menaiki dokar, Rizal bisa dengan leluasa menikmati suasana Kota Batu dari atas delman. “Senang sekali bisa keliling Alun-Alun, biar gak capek jalan. Semoga juga bisa mensejahterakan pak kusirnya,” tuturnya.(der)

Gandeng Binus University Malang, Museum Satwa Tawarkan Virtual Tour 360°

Dua mahasiswi Binus University Malang mengenakan virtual reality (VR) box untuk menjelajahi Museum Satwa Jatim Park Grup (MG1/Malangvoice)

MALANGVOICE – Kemajuan teknologi sebuah keniscayaan yang tak dapat dipungkiri. Segala aspek kehidupan tak lepas darinya dan mengakar sebagai pola kebiasaan masyarakat. Apalagi sejak pandemi melanda, mengharuskan masyarakat mengurung diri. Ruang berinteraksi banyak beralih ke saluran virtual dunia digital.

Sebuah konsep hibrida pun dimunculkan di sektor pariwisata. Menggabungkan teknologi realitas virtual dan destinasi wisata atau yang dikenal virtual tour. Inovasi itu dijajal Museum Satwa Jatim Park II bekerjasama dengan Binus University Malang. Menghadirkan pengalaman baru berwisata melalui event virtual tour 360° bertajuk ‘Liburannya Milenial’.

Ide ini dicetuskan enam mahasiswa Binus sebagai strategi berwisata di masa pandemi. Wisatawan tak perlu hadir secara fisik, namun mereka tetap bisa menikmati perjalanan wisata di Museum Satwa dengan virtual reality (VR).

“Inovasi ini dibuat oleh V-Cation Event Organizer di bawah naungan prodi Public Relation Universitas Bina Nusantara Malang. Ingin memberikan solusi agar masyarakat tetap bisa liburan secara virtual,” ujar Project Manager V-Cation Event Organizer, Zidan Febrian.

Virtual tour ini juga dapat diakses melalui channel youtube Jatim Park Group. Wisatawan sudah bisa menikmati berwisata ke Jawa Timur Park 2 secara virtual 360 derajat.

Marketing dan Publik Relation Jawa Timur Park (JTP) Group, Yokka Rhismadora berkeyakinan inovasi itu tak akan menyurutkan animo wisatawan berkunjung ke JTP Grup, khususnya Museum Satwa.

Justru, hal itu bisa sebagai stimulus untuk memperkenalkan isi museum sehingga masyarakat tertarik untuk berkunjung. Menurutnya, dengan pemanfaatan platform digital ini malah menjadi salah satu ujung tombak pemasaran JTP Group.

“Pasti sensasinya beda ya, ibarat melihat konser di layar kaca dengan hadir langsung di spot. Malah ke depan, kami berharap teknologi ini ada di park-park lainnya. Bukan hanya JTP 2 saja,” sahut Yokka.(der)

Belum Operasional, Pro Kids Sawojajar Banjir Pengunjung

Pro Kids yang baru dibuka. (Istimewa)

MALANGVOICE – Tiga hari soft opening, Pro Kids Indonesia, Sawojajar Malang, dibanjiri pengunjung.

Selama tiga hari, menjelang Tahun Baru 2022 mencapai sekiatar 1 juta pengunjung yang dibuka mulai pukul 08.00 – 21.00 WIB.

Uji coba taman bermain yang mengedepankan edukasi ini tidak hanya didatangi anak-anak namun juga orangtua bahkan kaum milenial.

Meski menawarkan berbagai macam wahana bermain dan belajar anak, Pro Kids lebih membentuk karakter seorang anak.

“Sesuai konsepnya selain membentuk karakter sekaligus membuat anak memiliki kepribadian yang kuat,” terang Founder Pro Kids, Arie Arifin, Senin (3/1).

Suasana rooftop Pro Kids Indonesia. (Istimewa)

Ditambahkan, tujuan Pro Kids ini sesuai dengan anjuran Presiden Jokowi yang menciptakan revolusi mental yang baik dan benar.

Menurutnya, untuk menjadi generasi yang kuat dan tangguh dibagi dalam tiga bagian yang wajib dalam menciptakan pendidikan mental yang baik.

Pertama, pentingnya ruang pendidikan akhlak dari orangtua yang diperoleh dari rumah. Kemudian pendidikan di sekolah dan di ruang publik seperti taman bermain dengan lingkungan terbuka seperti Pro Kids.

“Orang akan sukses bila mendapatkan pendidikan di rumah, di sekolah dan di ruang publik seperti ini. Generasi muda bila tidak diberikan fasilitas bagus maka tidak ada revolusi mental yang bagus,” lanjut Arie Arifin yang juga dikenal sebagai pemerhati anak.

Pro Kids yang dibangun di atas tanah seluas 400 meter persegi dengan 3 lantai ini masing- masing memiliki keistimewaan sendiri – sendiri.

Dijelaskan Yudi Sebastian, Manager Operasional Pro Kids, waterplay dengan ukuran sekitar 150 meter persegi ini diperuntukkan bagi anak – anak usia 5 tahun.

“Untuk kolam renang ini kami menempatkan 4 petugas yang menjaga anak – anak berenang,” ujarnya.

Sementara orangtua atau pendampingnya dapat menunggu di pinggir kolam sambil makan dan minum.

Dikatakan, hanya yang berenang yang dikenakan tiket sebesar Rp 30.000. “Untuk yang mengantar tidak dikenakan biaya masuk wahana,” tambahnya.

Playground indor dengan fasilitas full AC berada di lantai 2 yang dilengkapi ruangan untuk ibu menyusui dan hamil serta tempat makan dan minun berda persis dipinggir. “Sehingga mereka tetap dapat mengawasi anak – anaknya yang sedangbermain,” tuturnya.

Sedangkan rooftop dilantai 3 diperuntukkan kaum
milenial untuk kongkow – kongkow sambil menikmati udara segar dipagi dan sore hari.

“Lantai 3 yang disebut sebagai sosial rooftop ini untuk bersosialisasi dan berinteraksi dengan begitu akan terbentuk jiwa leadership yang bagus,” ujarnya. 

Selain dibuka untuk umum, Pro Kids Indonesia, juga sebagai sebagai kegiatan ekstra kurikuler PAUD.

“Bagi PAUD atau TK yang memanfaatkan fasilitas ini, kami terbuka,” tambahnya.(der)

Pengunjung Wisata Pantai Balekambang Menurun Drastis

Suasana Pantai Balekambang. (Mvoice/Humas Perumda Jasa Yasa).

MALANGVOICE – Perumda Jasa Yasa Kabupaten Malang mencatat pengunjung objek wisata Pantai Balekambang di liburan Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2022 mengalami penurunan.

“Dibandingkan libur Nataru sebelum pandemi, tingkat kunjungan obyek wisata Balekambang pada momen libur Nataru kemarin menurun hingga 60 persen,” kata Plt Direktur Utama (Dirut) Perumda Jasa Yasa, Husnul Hakim Syadad.

Baca juga: Pantai di Malang Selatan Sewakan Tenda Sambut Malam Tahun Baru

Husnul mengatakan, pada libur Nataru sebelum adanya pandemi Covid-19, kunjungan wisatawan ke Pantai Balekambang bisa mencapai 100 persen dari kapasitas objek wisata, yaitu 20 ribu orang.

“Saat ini kunjungan wisatawan ke Balekambang hanya 40 persen dari total kapasitas obyek wisata,” jelasnya.

Husnul menjelaskan, selama libur Nataru 2022 ini kunjungan wisata ke Pantai Balekambang mengalami penurunan drastis, sebab memang masih dibatasi dan penerapan protokol kesehatan (prokes) ketat untuk mencegah sebaran virus.

Baca juga: Kunjungan Wisata Pantai di Kabupaten Malang Masih Landai

“Pada libur Natal tanggal 25 Desember 2021 lalu saja dalam sehari hanya ada seribu pengunjung dari kapasitas 20 ribu pengunjung,” terangnya.

Apalagi, lanjut Husnul, pada malam pergantian tahun, objek wisata Balekambang sempat ditutup sementara pada sore hingga malam, untuk membatasi wisatawan.

“Kunjungan paling banyak pada 1 Januari 2022 mencapai 4 ribu wisatawan. Jadi total selama libur Nataru itu hanya ada sekitar 7-8 ribu pengunjung saja,” pungkasnya.(der)

Okupansi Hotel di Kota Batu Hanya 50 Persen saat Libur Tahun Baru, Ini Penyebabnya

Hotel Purnama Kota Batu menonjolkan panorama alam yang indah untuk memikat kunjungan wisatawan (istimewa)

MALANGVOICE – Libur tahun baru tak serta merta membuat napas lega bagi pengelola industri perhotelan di Kota Batu.

Tingkat keterisian kamar atau okupansi hotel-hotel di Kota Batu masih jauh dari yang mereka harapkan.

Ketua PHRI Kota Batu, Sujud Hariadi mengatakan, rata-rata okupansi hotel di Kota Batu masih berkisar 50 persen saja.

Kondisi ini tentu saja tak membuat pengelola hotel sumringah. Karena momen liburan tahun baru selalu ditunggu-tunggu untuk melipatgandakan pendapatan.

“Tingkat keterisian memang sudah dirasakan sejak menjelang libur tahun baru,” kata Direktur Taman Rekreasi Selecta itu.

Menurutnya, para tamu lebih memilih datang langsung ke hotel saat akan memesan kamar hotel. Berbeda dengan saat situasi normal, para tamu melakukan reservasi jauh-jauh hari sebelum memasuki libur tahun baru.

”Tidak seperti yang biasanya reservasi dulu, baru berangkat ke Kota Batu. Ini yang membuat okupansinya 50 persen,” kata Sujud.

Sujud menjelaskan, wisatawan hari ini lebih memilih untuk melihat situasi dan kondisi Kota Batu lebih dulu sebelum memutuskan untuk menginap. Beda dengan sebelumnya yang melakukan reservasi dulu baru berangkat berwisata.

“Kami prediksi kondisi itu akan berlangsung hingga tahun baru nanti. Jadi, misal ada wisatawan datang ya langsung ke hotel untuk pesan kamar,” jelas dia.

Asisten Marketing Manager Hotel Purnama, Rizki Ahmad Hadiri menyampaikan hal serupa dengan Sujud. Di hotelnya tingkat okupansi hanya mampu terisi 50 persen.

“Hari ini mulai dirasa ada kenaikan. Mungkin besok (1/1/22), sudah kembali menurun okupansinya,” kata Rizki (Jum’at 31/12).

Selain itu, para tamu yang datang mayoritas memesan kamar hotel secara langsung. Hanya sebagian kecil yang melakukan reservasi sebelum libur tahun baru.

“Para wisatawan mau memastikan. Khawatirnya terlanjur melakukan reservasi, tapi nggak bisa berangkat karena ada penyekatan. Jadi mereka lebih menunggu kabar sebelum berlibur,” ujar dia.(end)

Alun-alun Kota Batu Ditutup Mulai 31 Desember, PKL Tetap Diperbolehkan Berjualan

Alun-alun Kota Batu akan ditutup mulai 31 Desember hingga 1 Januari 2022. Penutupan dimulai pukul 17.00-03.00

MALANGVOICE – Pemkot Batu akan menutup kawasan Alun-Alun Kota Batu saat malam pergantian tahun 2022. Penutupan ini sebagai strategi untuk mengurai kerumunan agar memutus mata rantai penularan Covid-19, apalagi saat ini muncul varian baru Omicron.

Wakil Wali Kota Batu, Punjul Santoso mengatakan, penutupan akan dimulai pada Jum’at besok (31/12) hingga 1 Januari 2022. Penutupan pusat keramaian di jantung kota itu diberlakukan pada pukul 17.00-03.00.

“Alun-alun ditutup untuk mencegah penularan. Meski area itu ditutup, namun PKL di sekitar alun-alun tetap diperbolehkan jualan,” kata Punjul.

Penyelenggaraan pawai ataupun arak-arakan juga dilarang. Serta perayaan malam pergantian tahun baik terbuka maupun tertutup, karena event-event tersebut berpotensi menimbulkan kerumunan.

Sementara untuk tempat wisata tetap boleh buka, Namun untuk pengunjung dibatasi sampai dengan 75 persen dari kapasitas total.

“Kami tekankan juga, untuk penerapan prokes wajib diperketat dan memakai aplikasi peduli lindungi. Jika ada yang melanggar akan mendapat sanksi penyegelan tempat usaha hingga pencabutan ijin,” pungkasnya.

Rekayasa lalu lintas juga akan diberlakukan seiring dengan penutupan kawasan Alun-alun Kota Batu. Kasatlantas Polres Batu AKP Citra Indah Fitriani merinci titik-titik yang akan direkayasa. Antara lain, Jalan Kartini, Jalan Gajahmada, Jalan Sudiro, Jalan Agus Salim, Jalan Diponegoro, Jalan Kawi, Jalan Panderman dan Jalan Semeru. Meski ada rekayasa, tapi tidak ada penyekatan.

Selain itu menempatkan lima pos pengamanan yang tersebar di Pendem, Garuda, Baloga, Kambal, dan Mangir Kasembon. Sedangkan pos pelayanan ditempatkan di Alun-Alun Kota Batu. Pos itu sekaligus untuk menapis wisatawan yang akan masuk ke Kota Batu. “Di pos-pos ini, petugas akan melakukan tes swab acak kepada wisatawan,” lanjut Inda.

Sementara itu, untuk kesiapan protokol jelang libur nataru ini, Kepala Dinas Perhubungan Kota Batu Imam Suryono menjelaskan, akan ada 100 personil gabungan yang akan berjaga di enam pos tersebut. Nantinya, pengendara akan diperiksa kelengkapan dosis vaksinasi yang diterima dan persyaratan keterangan swab antigen atau PCR.

“Keterangan rapid atau PCR ini nanti tetap akan kami periksa, meski sudah vaksin dosis kedua,” kata mantan Kepala Disparta Kota Batu itu.(der)

Wali Kota Batu Minta Pengelola Hotel Wajib Tampilkan Seni Tradisi

Tari Sembromo sebuah tarian menyambut tamu dipentaskan saat gelaran Batu Tourism Award (BTA) yang digelar Disparta Kota Batu di Hotel Golden Tulip beberapa hari lalu. (Istimewa)

MALANGVOICE – Wali Kota Batu Dewanti Rumpoko melontarkan rencana penerbitan Perwali yang mewajibkan jasa perhotelan di Kota Batu wajib menampilkan seni pertunjukkan tradisi.

Gagasan itu mencuat saat dirinya menghadiri gelaran Batu Tourism Award (BTA) yang digelar beberapa hari lalu.

“Saya harap Disparta bisa menyusun draft perwalinya untuk mendukung eksistensi seni tradisi di Kota Batu. Karena banyak sekali seni budaya yang dimiliki Kota Batu,” seru Dewanti.

Menurut Dewanti, seni tradisi yang dimiliki Kota Batu memiliki corak yang sama dengan Kabupaten Malang. Karena dulunya kedua wilayah administratif ini satu kesatuan. Dan akhirnya Kota Batu melepaskan diri membentuk pemerintah daerah yang otonom pada 2001 silam.

“Memang sama karena dulunya kita satu kesatuan. Makanya saya harap ada kreasi sebagai pembeda,” kata Dewanti.

Ia menambahkan, peran serta pihak hotel dalam memberikan ruang pentas bagi seni tradisi, merupakan wujud komitmen Pemkot Batu dalam melestarikan kebudayaan sebagai jati diri bangsa. Sehingga eksistensi seni tradisi tak luntur digerus zaman.

“Makanya saya meminta kesediaan pihak hotel untuk memberi ruang pentas bagi pelaku seni tradisi,” imbuh dia.(der)

Camping Ground Glagah Wangi, Siapkan Konservasi Sambil Nikmati Keindahan Alam

Camping Ground Glagah Wangi berada di kaki Gunung Arjuno. Tempat ini menjadi lokasi transit sebelum mendaki ke Gunung Arjuno via Desa Sumbergondo, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu. (Istimewa)

Camping Ground Glagah Wangi, Sisipkan Nilai Konservasi Sembari Menikmati Keindahan Alam Pegunungan

MALANGVOICE – Kota Batu menawarkan spot camping ground baru di Desa Sumbergondo, Bumiaji, Kota Batu. Camping ground bernama Glagah Wangi ini dikelola Komunitas Jelajah Alam Gunung Arjuno atau biasa disebut Komunitas Jaguar.

Dalam mengelola Camping Ground Glagah Wangi, Komunitas Jaguar berkerja sama dengan Perhutani. Letaknya berada di kawasan hutan yang merupakan jalur pendakian menuju Gunung Arjuno.

Jalanan yang sebagian besar masih bermaterial tanah, membelah hamparan hijau ladang-ladang milik warga yang ditata dengan pola terasiring.

Keindahan wisata Glagah Wangi. (Istimewa)

Eloknya pemandangan alam yang memikat menghantarkan pengunjung menuju lokasi perkemahan. Begitu tiba di tujuan, sejauh mata memandang tampak lanskap perkotaan nun di bawah sana. Kicauan burung juga terdengar riuh menandakan keasrian alam.

Pengelola Camping Ground Glagah Wangi, Efendi menuturkan spot perkemahan di ketinggian 1600 mdpl itu didirikan sejak 2019 lalu. Memang dulunya lokasi itu sering dijadikan tempat transit bagi pendaki menuju Gunung Arjuno.

“Awalnya tempat transit. Karena dirasa cukup bagus lalu tercetuslah bersama warga untuk dijadikan bumi perkemahan,” kata Efendi.

Nama Glagah Wangi disematkan karena dulunya tempat itu banyak ditumbuhi tanaman gelagah sejenis rerumputan besar beraroma wangi. Bahkan hingga kini masih bisa dijumpai beberapa tanaman gelagah yang tersebar di beberapa area.

Ia menuturkan, luas area yang dimanfaatkan masih seluas 1,5 hektar. Pihaknya berencana menambah luasan menjadi 8 hektare. Jalur pendakian dari Glagah Wangi ke Gunung Arjuno menghabiskan waktu tempuh sekitar 6 jam. Arah pendakian dari titik ini tepat berada di sisi barat Gunung Arjuno dan nantinya akan melintasi situs Gentong Growah.

“Jalur ini banyak disukai pendaki karena termasuk cepat. Tinggal hitung saja, ketinggian Arjuno 3339 mdpl dikurangi 1600 mdpl, ketinggian tempat ini. Artinya hanya menyisakan separuh perjalanan,” kata Efendi.

Rata-rata para pengunjung berasal dari Surabaya, Semarang, Bandung, Batam bahkan dari Belanda. Camping Ground Glagah Wangi ini dijadikan tempat bermalam sebelum meneruskan perjalanan ke Gunung Arjuno.

Para pengunjung yang datang bukan melulu untuk aktivitas pendakian. Namun mereka sekedar berlibur menikmati pemandangan di alam bebas. Apalagi, berkegiatan di alam terbuka banyak dipilih orang saat masa pandemi Covid-19 ini.

“Ada juga pengunjung anak-anak sekolah. Tentu sangat baik karena bagian edukasi berinteraksi dengan alam. Agar muncul kesadaran sejak dini untuk melestarikan lingkungan,” kata dia.

Efendi menjelaskan, para tamu yang menginap akan diajak untuk berinteraksi dan mengenali setiap vegetasi yang ditanam di area Glagah Wangi. Beberapa tanaman yang tumbuh di area itu meliputi senggani, tumbuhan pakis, dan ciplukan.

“Tanaman liar itu dibiarkan tumbuh alami. Seperti ciplukan dan senggani sendiri juga jarang ditemui. Senggani ini tanaman liar yang memiliki manfaat sebagai tanaman obat,” terang Efendi sembari menunjuk tumbuhan senggani yang dipenuhi bunga berwarna ungu yang berada di area camping ground.

Selain itu, ada pula tanaman keras yang sengaja ditanam di lokasi itu. Seperti bibit pohon matoa dan klengkeng. Tanaman keras ini sebagai upaya konservasi sumber air dengan tanaman buah bernilai ekonomis.

Tanaman lainnya yang dibudidayakan yakni kopi arabika Arjuno. Kopi-kopi itu dibudidayakan oleh warga setempat. Proses hulu hingga hilir termasuk pemasaran dikerjakan secara berkolaborasi oleh anggota-anggota Komunitas Jaguar.

Efendi menuturkan, pengembangan wisata alam Camping Ground Glagah Wangi bukan hanya memikirkan orientasi ekonomi. Lebih dari itu ada upaya melestarikan kawasan sebagai basis menggerakkan sumber-sumber ekonomi alternatif, terutama bagi warga setempat. Apalagi mata pencaharian mereka sangat lekat dengan lingkungan hutan. Kerusakan hutan sama saja dengan ancaman bagi sumber penghidupan mereka.

Dulunya, sebelum tanah lapang itu dikelola sebagai lokasi perkemahan sangat marak perburuan satwa liar. Karena di lokasi itu menjadi habitat beberapa satwa seperti ayam hutan, rajawali, burung prenjak, jalak kebo hingga landak.

Sejak dibukanya camping ground di area itu, aktivitas perburuan satwa tak lagi ditemui. Dan jika pun ada, pengelola akan memberikan teguran untuk menghentikan. Namun jika masih saja nekat, maka personel dari Komunitas Jaguar merampas peralatan pemburu dan melaporkan kepada pihak Perhutani.

“Sangat disayangkan kalau satwa-satwa itu punah. Karena itu warisan bagi anak cucu. Lenyapnya satu satwa merusak keseimbangan ekosistem,” seru Efendi.(der)

Chef Olivia Sajikan Masakan di Batu Street Food & Culinary Festival 2021

Chef Olivia memamerkan masakannya. (istimewa)

MALANGVOICE – Batu Street Food & Culinary Festival 2021 mulai digelar Dinas Pariwisata Kota Batu.

Event ini digelar hingga Rabu besok (8/12), di halaman Balai Kota Among Tani.

Event ini juga dimeriahkan Chef Olivia jebolan Masterchef Indonesia Season 8. Ia meracik masakan dari sayur mayur yang tumbuh di Kota Batu. Seperti kentang, wortel yang diolah menjadi carrot mash potato, chicken crispy, dan sebagainya.

Kedatangan Olivia ini juga menjadi daya tarik tersendiri, terlebih para penggemarnya.

Chef Olivia memasak di Food Festival Kota Batu. (Istimewa)

Ada juga deretan stan yang didesain ala tempo dulu berdiri menghiasi pusat pemerintahan Kota Batu itu. Aroma kuliner pun menyeruak menggoda para pengunjung untuk mencicipinya.

Berbagai varian menu khas Nusantara ada di festival itu. Antara lain soto, ketan, rawon, rujak, bakso bakar, dan masih banyak kuliner yang menarik untuk dicicipi dengan cita rasa bintang lima harga kaki lima. Harga yang disuguhkan mulai dari Rp 5 ribu sampai yang termahal Rp 25 ribu.

Kepala Dinas Pariwisata Kota Batu, Arief As Siddiq mengatakan, kegiatan ini berkolaborasi dengan PHRI Kota Batu. Makanan yang dijajakan pun berkualiatas hotel namun harganya setara dengan kaki lima.

“Kuliner menjadi pendongkrak tingkat pertumbuhan ekonomi dan pemikat tingkat belanja wisatawan serta pelengkap kebutuhan wisatawan dalam menikmati perjalanannya,” kata Arief.

Wali Kota Batu Dewanti Rumpoko mengapresiasi Food Festival Kota Batu. (Istimewa)

Ia menambahkan, agenda yang digelar ini masuk dalam kalender event pariwisata Kemenparekraf. Menurutnya, sub sektor kuliner sebagai ekonomi kreatif berkorelasi erat dengan industri pariwisata. Ia berharap dari ajang ini bisa menggenjot sirkulasi transaksi hingga ratusan juta.

“Sehingga kami berupaya untuk meningkatkan kualitas yang terbaik demi meningkatkan perekonomian. Sekaligus untuk mempromosikan hotel dan restoran di Kota Batu kepada wisatawan. Apalagi yang ditawarkan cita rasa bintang lima harga kaki lima,” lanjut dia.

Wali Kota Batu, Dewanti Rumpoko menyampaikan harapannya. Ia optimistis perhelatan ini sebagai medium memperkenalkan kuliner yang ada di Kota Batu. Apalagi event ini tentunya ditunggu-tunggu pecinta kuliner yang ingin berburu makanan kualitas hotel namun harganya relatif ekonomis.

“Semoga ini menjadi even yang ditunggu-tunggu oleh wisatawan. Juga membawa keberkahan bagi warga Kota Batu,” kata Dewanti yang membuka event ini secara virtual karena menjalani karantina mandiri usai lawatannya ke Mesir.

Selain itu juga ada cooking competition, live dj performance, juggling & mixology performance, acoustic/band, zumba dance.(der)

Menjelajahi Keberagaman Wisata Desa Tulungrejo, Mulai Wisata Alam hingga Religi

Komplek pemakaman keluarga Dinger ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya. (Istimewa)

MALANGVOICE – Pesona wisata Kota Batu seakan tiada habisnya untuk dijelajahi. Setiap jengkalnya selalu menjadi magnet yang memikat wisatawan. Keelokan panorama alam disertai sejuknya udara menjadi nilai lebih menarik orang untuk berkunjung ke Kota Batu.

Desa Tulungrejo menjadi salah satu tempat yang tepat untuk menikmati karakteristik Kota Batu. Selain menyajikan indahnya pemandangan alam, kultur kekerabatan ala pedesaan masih kental di desa yang berada di wilayah Kecamatan Bumiaji ini.

Eratnya kekerabatan dicerminkan melalui seni tradisi yang dimainkan secara kolektif di Desa Tulungrejo. Seni tradisi ini bagian dari suguhan wisata budaya yang dihadirkan kepada wisatawan. Seperti atraksi pencak silat, karawitan, Tari Rampak, Bantengan, Tari Sanduk, Tari Sapu, Tari Bali, Jaranan, Reog maupun Samboyo.

Kepala Dinas Pariwisata Kota Batu, Arief As Siddiq mengatakan, desa-desa di Kota Batu memiliki potensi yang beragam. Bukan hanya menawarkan indahnya panorama alam yang memukau.

Pagupon Camp, sebuah tempat bermalam di area wanawisata Coban Talun. (istimewa)

Selain itu, tumbuh nilai-nilai tradisi kultural yang masih dilestarikan oleh masyarakatnya.Tradisi nilai-nilai kultural itu memiliki karakter yang beragam antar desa. Sehingga pihaknya optimis suguhan itu bisa memacu pertumbuhan desa wisata.

“Nilai-nilai tradisi ini harus dieksplorasi, digali sebagai daya tarik potensi desa wisata. Sekaligus dari upaya melestatikan kearifan lokal,” kata Arief.

Selain itu Desa Tulungrejo dikenal dengan ikon wisata legendaris, yakni Taman Rekreasi Selecta. Disana dapat menikmati pemandangan alam serta menikmati sejuknya alam sembari berenang di kolam renang yang dialiri dari sumber mata air Jobranti.

Destinasi lainnya yang cukup ternama di Desa Tulungrejo yakni wisata alam Coban Talun. Di area wanawisata ini berdiri akomodasi penginapan seperti Pagupon Camp, Apache Camp, Omah Oyot, Rumah Terbalik.

Situs bersejarah peninggalan era kolonial juga ada di Desa Tulungrejo. Bangunan itu berupa komplek pemakam keluarga Dinger. Makam ini dulunya merupakan milik Jan Dinger, seorang administrator, direktur dari Bank Excompto, serta seorang tuan tanah dari berbagai kebun gula, teh, kopi, dan kina.

Ia meninggal pada tanggal, 2 maret tahun 1917 di Tulungrejo. Dinger ingin dimakamkan di lahan pertanian miliknya. Istri dari Dinger, Elisabeth Malvine Ernestine van Polanen Petel yang kemudian ikut dimakamkan di area itu.

Sebagai sebuah mausoleum, makam Dinger telah kehilangan fungsi utamanya karena sudah tak ada lagi jenazah yang ada di dalamnya, Namun sebagai bangunan cagar budaya.

Sebagai desa wisata, tumbuh pula industri rumahan yang mengolah produk olahan. Seperti Dodol Apel, produksi roti Roterdam, keripik buah-buahan ‘Kendedes.

Berikut beberapa daya tarik yang ada di Desa Wisata Tulungrejo:
1. Wisata Alam (Wana Wisata Coban Talun, Pagupon Camp, Apache Camp, Oyot, Alas Pinus, Rumah Terbalik, Taman Hortensia)
2. Wisata Buatan (Taman Rekreasi Selecta)
3. Wisata Pertanian (Wisata Edukasi Petik Apel, Wisata Edukasi Petik Sayur)
4. Wisata Budaya (Tari Reyog, Bantengan, Samboyo, Kuda Lumping, Pencak Silat).
5. Wisata Peternakan (Edukasi Sapi Perah Kandang Komunal)
6. Wisata Sejarah (Makam Tuan Dinger, Goa Jepang)
7. Wisata Budaya (Pencak Silat, Karawitan, Tari Rampak, Bantengan, Tari Sanduk, Tari Sapu, Tari Bali, Jaranan, Reog)
8. Wisata Religi (Pura Luhur Giri Arjuna, Pura Indra Jaya, Punden Mbah Rono Yudho, Punden Watu Gampang, Sumber Dampul, Sumber Kali Ledok)
9. Wisata Minat Khusus (Adventure Jeep, Adventure Trail, Outbound, Running, Cycling, Tracking, Camping Ground, Hiking 15)
10. Edukasi Industri (Pengolahan Buah Apel, Pembuatan Batik, Pengolahan Daur Ulang, Pengolahan Kripik Sayur, Kripik Tempe, Lemon Oven)
11. Wisata Kampung (Kampung Anggrek Mandiri, Kampung Wisata Besta, Kampung Ramah Anak, Kampung Tangguh Semeru/KTS Gerdu)
12. Wisata Kuliner (Bon Desa Café, Padda Café, Galso Café, Pondok Kopi Sambel Teri, De Potrek Café, Van Hoven Café, Soden Noddle, Rujak Watu Gedek, Café Kendedes). (der/adv)