JRSF 2017 Tak Hanya Fokus Musik Reggae, Tapi Juga Kepedulian Alam

Agung Ngurah (memegang mic) membuka JRSF 2017. (deny rahmawan)

MALANGVOICE – Kota Batu bakal jadi tempat terselenggaranya even musik besar bertajuk Jatim Reggae Star Festival (JRSF) 2017, Sabtu (16/12).

Belasan musisi top akan memeriahkan ajang yang pernah sukses di Bali sebanyak tiga kali tersebut. Selain itu, JRSF 2017 juga mengusung aksi charity dengan mendonasikan sebagian hasil penjualan tiket untuk lingkungan.

“10 persen dari penjualan tiket akan kami serahkan ke komunitas peduli lingkungan. mengubah pandangan mereka yang mungkin pada awalnya tidak peduli terhadap kelestarian lingkungan menjadi peduli,” ujar Ketua Panitia JRSF 2017, Aji Agung Ngurah, Kamis (14/12).

Sebagai bentuk nyata, Agung, menambahkan, pada Sabtu (16/12) pagi sebelum dimulai acara, para musisi dan artis yang terlibat bakal bersama-sama membersihkan Sungai Brantas di Kota Batu.

Acara itu bekerja sama dengan Polres Batu, komunitas Sapu Bersih Nyemplung Kali (Sabers Pungli), Pemkot Batu, dan masyarakat sekitar. Tujuannya, kata Agung, sebagai aksi nyata berkontribusi membersihkan lingkungan.

“Mudah-mudahan semuanya tergerak untuk ikut peduli lingkungan. Kami ingin tak hanya fokus pada musik saja,” tambahnya.

“Kami berharap even ini bisa menjadi wadah pecinta reggae di Jatim khususnya di Malang Raya. Dengan target 10 ribu pengunjung,” Agung menandaskan.(Der/Yei)

Lewat Pameran Foto “Komtemporer”, Sisakan Jejak Masa Lalu di Tengah Modernisasi

Pameran foto KIV 2017. (Deny Rahmawan)

MALANGVOICE – Sebagai generasi muda yang dianggap kekinian ternyata sebagian besar masih peduli dengan kejayaan di masa lalu. Semua itu tertuang dalam pameran foto bertajuk Komtemporer Invasion (KIV) 2017.

Pameran yang digelar di cafe Godbless, Blimbing, Kota Malang ini mengusung tema “Old But Gold”. Dimulai sejak Senin (11/12) hingga Rabu (13/12), even tahunan mahasiswa Ilmu Komunikasi Fisip Universitas Merdeka (Unmer) Malang angkatan 2016 ini menyuguhkan foto zaman dahulu yang masih bisa dilihat pada zaman sekarang.

“Kami sengaja membuat tema itu untuk mengingat bagaimana sesuatu hal di zaman dahulu itu bisa bertahan sampai sekarang,” ujar ketua panitia KIV 2017, Ary Kusuma, kepada MVoice.

Dijelaskan lebih lanjut, ada sekitar 80 foto yang mejeng di pameran tersebut. Setiap foto memiliki cerita dan arti sendiri di dalamnya. Lewat pameran itu, pria asal Kota Batu ini berharap ada kepedulian dari generasi muda untuk lebih mengenal dan melestarikan peninggalan di zaman dahulu.

“Mulai fashion, makanan, hingga bangunan zaman dahulu ada di pameran ini. Kami harap bisa lebih diperhatikan dan tidak ditinggalkan dengan gaya modern saat ini,” tambahnya.

Selain pameran ada juga bazaar, games dan live music, serta workshop yang diisi pemateri berkompeten. Antara lain fotografer Tempo dan anggota PFI, Aris Novia Hidayat, dan fotografer senior, M Ibnu Hernanda.

Seperti diketahui, Komtemporer Invasion adalah kata gabungan. Komtemporer berasal dari komunikasi dan kontemporer serta Invasion berarti serangan. Sehingga, bisa diartikan “Serangan dalam Modernisasi”.(Der/Yei)

Rayakan Tahun Baru di Golden Tulip Holland Resort Batu Bisa Bawa Pulang Mobil

Grand Prize 1 unit mobil Honda Brio akan diundi saat malam pergantian tahun di Golden Tulip Holland Resort Batu. (Aziz Ramadani/MVoice)
Grand Prize 1 unit mobil Honda Brio akan diundi saat malam pergantian tahun di Golden Tulip Holland Resort Batu. (Aziz Ramadani/MVoice)

MALANGVOICE – Anda belum menentukan di mana merayakan pergantian tahun? Sangat disarankan pilih Golden Tulip Holland Resort Batu. Sebab satu unit mobil Honda Brio bisa jadi milik Anda.

Pada momen pergantian tahun, 31 Desember, hotel bintang lima beralamat Jalan Cherry No. 10 Kompleks Panderman Hill Kota Batu ini menggelar even menarik. Tema yang diangkat Venetian Masquerade Carnival, yakni konsep pesta topeng berlatar kota Venesia Italia.

“Grand prize mobil ini akan diundi usai countdown (hitung mundur) malam pergantian tahun,” kata Elfa Yuliani Erlangga, Director of Sales and Marketing Golden Tulip Holland Resort Batu, ditemui MVoice, Jumat (1/12).

Elfa menambahkan, khusus event ini, pihaknya mengemas dalam paket dua malam, 31 Desember 2017 – 1 Januari 2018. Paket khusus ini dibanderol Rp 7 juta. Termasuk sarapan dan jamuan makan malam akhir tahun untuk dua orang.

”Termasuk juga aktivitas untuk anak dan games. Rayakan pergantian tahun bersama kami dan sambut tahun baru 2018 dengan penuh semangat dan harapan baru,” tutupnya.

Perlu diketahui, perayaan pergantian tahun di Golden Tulip Holland Resort Batu akan dipenuhi hiburan menarik. Di antaranya penampilan dari Flubbers Band, pertunjukan sulap Stave Angel, couple dance Febru Luisa, tari kabaret Yuna Amora. Tidak hanya itu, pesta semakin hangat dengan suguhan musik dari DJ Stanley serta pesta kembang api.(Der/Aka)

Film Coco, Petualangan Miguel di Dunia Kematian dengan Plot Twist ‘Menguras’ Air Mata

Petualangan Miguel di dunia kematian. (Newyorktimes)

MALANGVOICE – Film Coco bisa jadi alternatif pilihan film yang bisa Anda tonton bersama anak-anak dan keluarga di akhir pekan ini. Film jebolan Pixar ini mengangkat pesan tentang ikatan kuat keluarga dan usaha keras untuk mewujudkan mimpi.

Menurut informasi yang dikutip dari laman The New York Times, Jumat (1/12), Coco berkisah tentang keluarga Rivera di Meksiko. Mereka sehari-hari hidup sebagai tukang sepatu yang cukup terkenal di negara itu. Meski begitu, salah satu anggota keluarga tersebut, Miguel (Anthony Gonzalez), tidak ingin menjadi tukang sepatu dan ingin mewujudkan impiannya menjadi penyanyi terkenal.

Sayang, keinginan Miguel yang berusia 12 tahun itu ditentang keluarga besarnya. Sudah lama keluarga Rivera melarang musik di tengah keluarga tersebut setelah kakek buyutnya meninggalkan keluarga demi musik. Tapi, Miguel bertekad mewujudkan impiannya tersebut agar bisa menjadi seperti idolanya, Ernesto de la Cruz (Benjamin Bratt).

Saat perayaan Día de los Muertos (Hari Kematian), Miguel pergi ke pemakaman dan berusaha mencuri gitar Ernesto untuk membuktikan bakat musiknya. Tak disangka, dia seperti terkena kutukan dan bertemu sejumlah keluarganya yang sudah meninggal, termasuk nenek buyutnya, Imelda (Alanna Ubach).

Bersama Imelda dan sejumlah anggota keluarga Rivera yang sudah meninggal, Miguel diajak ke Dunia Orang Mati (Land of the Dead). Di sana, dia bertemu seorang penipu bernama Hector (Gael García Bernal as Hector) yang tidak bisa menyeberang ke Dunia Orang Hidup karena tidak seorang pun mampu mengingatnya.

Imelda berusaha mengembalilkan Miguel ke Dunia Orang Hidup (Land of the Living) dengan syarat dia tidak boleh bermusik lagi. Syarat itu ditolak Miguel dan dia pun kabur. Miguel kemudian mendapatkan bantuan dari Hector untuk berusaha menemui Ernesto yang dia sangka adalah kakek buyutnya alias suami Imelda.

Bersama Hector, petualangan Miguel pun dimulai. Tak disangka, di tengah perjalanan itu, Miguel akhirnya mampu menyibak misteri masa lalu keluarganya. Judul film ini, Coco, adalah nama anak Imelda dan suaminya atau kakek buyut Miguel. Tokoh ini sudah tua dan renta tapi dia menjadi salah satu tokoh utama di film ini.

Anda akan dimanjakan dengan gambar yang bagus dan alur cerita dibuat sedemikian apik-nya dengan plot twist yang bakal menguras air mata. Coco adalah perpaduan gambar, tokoh dan cerita yang menarik serta menakjubkan. Coco sepertinya dibuat tidak hanya untuk anak-anak, tapi juga untuk orang dewasa. Bagaimana menurut Anda? (Der/Yei)

Long Weekend, Jangan Lewatkan Tonton The Murder in The Orient Express!

The Murder On The Orient Express kalahkan ragnarok (topdoma.com)

MALANGVOICE – Akhir pekan jangan terlewatkan tanpa menonton film di bioskop. Baru-baru ini penikmat film dibuat penasaran dengan Film Murder on the Orient Express. Film detektif ini diangkat dari sebuah kisah klasik karangan Agatha Christie.

Mengambil setting tahun 1930-an dari kisah asli, Murder on the Orient Express berpadu dengan gaya kontemporer. Cerita ini pun masih mengikuti premis yang sama dengan film terdahulu dan novelnya.

Dirangkum MVoice dari laman The Guardian, Jumat (1/12), Detektif Hercule Poirot sedang mengendarai kereta Orient Express saat salah satu penumpangnya terbunuh menggenaskan di tengah malam. Menangani kasus ini, Poirot harus mewawancarai lebih dari selusin tersangka dan menentukan siapa pembunuhnya.

Disinilah penonton harus jeli mengikuti setiap dialog interogasi karena hampir semua penumpang mempunyai alibi kuat yang membuat sang detektif hampir menyerah. Dialog disajikan dengan sangat cerdas sehingga penonton bukan hanya dibuat penasaran, tapi juga ikut membuat teori sendiri siapa kira-kira pelaku pembunuhan tersebut.

Selain duduk di kursi sutradara, si pemain utama, Branagh juga berperan sebagai Detektif Poirot. Murder on Orient Express dimeriahkan pula oleh bintang-bintang besar termasuk Johnny Depp, Michelle Pfeiffer, Josh Gad, Judi Dench, Willem Dafoe, Penelope Cruz, Daisy Ridley, Leslie Odon Jr., Olivia Colman, Lucy Boynton, dan Tom Bateman.(Der/Yei)

Besok, 1500 Seniman ‘Serbu’ ICCCF 2017

Pertunjukan ICCCF tahun 2015 lalu sangat meriah. (Istimewa)

MALANGVOICE – International Celaket Cross Culture Festival (ICCCF) 6th, bakal kembali digelar. Festival budaya terbesar di Malang kali keenam ini dihelat pada 24-25 November, di depan Kantor Balai Kota Malang.

Sama halnya dengan gelaran sebelumnya, suguhan festival budaya kali ini akan melibatkan 1500 seniman, yang diharapkan mampu menyedot puluhan ribu pengunjung.

Penggagas acara, Hanan Djalil, kepada MVoice, mengatakan, kegiatan yang berlangsung dua hari berturut-turut itu akan dihadiri sejumlah tokoh, seniman dan budayawan ternama kaliber nasional.

Tema yang diusung adalah ‘Dalam Kepak Sayap Garuda Kita Bersaudara’. Hanan menjelaskan, tema itu mengangkat isu terkini mengingat banyak masyarakat yang mempersepsikan adanya letupan-letupan kecil yang berisiko membuat perpecahan dalam negeri.

“Nah kami sebagai seniman, turun tangan dan berkontribusi juga dalam menjaga NKRI dengan segala taruhannya,” katanya saat dihubungi MVoice, Kamis (23/11).

Tahun ini ICCCF akan dimeriahkan 6 pertunjukan seni. Semuanya merupakan model tarian dari hasil kreasi para seniman.

“Ada Singo Barong Celaket, Jaranan Banyuwangi, Gandrung dan tarian kreasi lainnya dari Jawa Timur. Nanti 1.500 seniman ini tampil, termasuk seniman tari jaranan,” tambahnya.

Selain itu, ICCCF juga akan memberikan penghargaan pada seniman asal Malang, Jawa Tengah, Jawa Barat, jajaran DPRD dan beberapa ASN dari Kota maupun Kabupaten Malang.

Hanan berharap, gelaran tahun ini bisa berjalan sukses dan mengobati rindu masyarakat akan pertunjukan seni lokal

“Melihat antusiasme ICCCF tahun lalu, saya kira masyarakat sudah rindu dengan pertunjukan seni lokal. Apalagi dengan adanya budaya asing yang masuk di Indonesia, saya harap masyarakat semakin sadar akan pentingnya budaya lokal sebagai salah satu fondasi kunci dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, termasuk bermanfaat bagi masyarakat Celaket,” pungkasnya.(Der/Yei)

Tumbuhkan Semangat Co-working Lewat Coworkfest 2017

Foto-foto konferensi Pers Coworkfest 2017. (Anja A)

MALANGVOICE – Perkumpulan Coworking Indonesia kembali mengajak masyarakat untuk lebih kenal lagi dengan dunia coworking space dengan menggelar Coworkfest 2017, 25 dan 26 November 2017.

Selama ini masih banyak masyarakat yang masih awam dengan keberadaan coworking space. Pada praktiknya, coworking space tak hanya sekadar tempat persinggahan untuk bekerja, namun ada tiga hal penting yang ingin ditekankan yakni kolaborasi (collaboration), konektivitas (connectivity) dan komunitas (community).

Dengan bergabungnya para penggiat coworking space dalam Coworking Indonesia, mereka menjadi memiliki wadah untuk menjalin kerja sama dan bergerak dengan kekuatan kolektif untuk memajukan gerakan coworking di Indonesia. Jika semangat ini ditularkan, maka sektor ekonomi kreatif Indonesia dapat terus tumbuh berkembang.

“Kewirausahaan dan bisnis kecil menengah adalah tulang punggung ekonomi suatu negara, dan coworking adalah elemen penting dalam pembangunan ekosistem kewirausahaan. Visi Perkumpulan Coworking Indonesia adalah untuk mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia melalui gerakan coworking” ujar Presiden Perkumpulan Coworking Indonesia, Faye Alund, Kamis, (16/11).

Dalam kegiatan ini, Coworking Indonesia menggandeng Bank Rakyat Indonesia (BRI). BRI akan memberikan bentuk dukungan nyata seperti akses permodalan untuk pengembangan dan juga membantu kendala-kendala dari bisnis kecil menengah salah satunya adalah ijin usaha mikro kecil. Ditambah lagi dengan adanya kartu IUMK (kartu keanggotaan) yang bisa digunakan sebagai kartu debit dan tabungan.

“Untuk jadi pengusaha sukses, harus kreatif, mau belajar, mau berusaha dengan merangkul perbankan dan tidak selalu bergantung pada subsidi dari pemerintah melainkan kita bisa memberikan hasil nyata pada negara kita tercinta,” kata Kepala Bagian Bisnis Program Bank BRI, Elison F Sianturi.

Bersama BRI, Coworking Indonesia turut menggelar rangkaian kegiatan pre-event bertajuk BRIng It On yang akan digelar di 12 coworking space pilihan yang tersebar di berbagai kota mulai 11 hingga 22 November. Ke-12 coworking space tersebut adalah Coworkinc (Jakarta), Code Margonda (Depok), Clapham.co (Medan), EV.Hive (Tangerang), Kolaborato (Bogor), Kumpul (Denpasar), Ngalup (Malang), Impala Space (Semarang), C2O (Surabaya), RKB Yogyakarta (Yogyakarta), CO&CO (Bandung) dan Ke:Kini (Jakarta). Selama pre-event, setiap coworking space akan menghadirkan kegiatan diskusi dan pengenalan local hero di masing-masing kota.

Dalam hal ini, salah satu coworking space di Malang, Ngalup.co, menyambut hangat kegiatan BRIng it on. Ngalup.co akan hadir dalam pre-event Coworkfest 2017 pada Sabtu, 18 November 2017 dengan format kegiatan Discussion Panel bertema Community For Economic Development.((Der/Yei))

Penasaran Batu Mulia Kerajaan Singhasari dan Majapahit, Ayo Datang ke Acara Ini

Poster kegiatan. (Istimewa)
Poster kegiatan. (Istimewa)

MALANGVOICE – Jika Anda gemar mengoleksi atau setidaknya suka mengamati batu mulia atau akrab dikenal masyarakat sebagai ‘batu akik’, maka tak ada salahnya mampir ke Focus Group Discussion Forum Komunikasi Batu Mulia Nusantara, 16 November 2017 mendatang, di Auditorium Lantai 6 Fakultas Hukum Universitas Brawijaya (UB).

Selain FGD tersebut akan digelar juga pameran batu mulia serta keris dari Kerajaan Singhasari dan Majapahit. Tema yang akan diangkat dalam kegiatan kali ini adalah ‘Geliat Batu Mulia Nusantara Berawal dari Keluhuran Singhasari dan Kejayaan Majapahit’.

Acara ini akan menghadirkan narasumber-narasumber ternama di bidangnya, antara lain Agus Hendratno dari Departemen Teknik Geologi FT UGM, Nanang Rachmat Zakaria dari Garuda Khatulistiwa Malang, Eka Maulana, dan lain-lain.

Batu mulia sangat berharga. Di era kerajaan dan kesultanan dahulu batu menjadi media komunikasi peradaban bahkan alat legitimasi. Sumber kekayaan alam ini harus dijaga dan dilestarikn untuk menjaga kedaulatan sumber daya alam mineralogi.(Der/Aka)

Festival Mbois 2, Insan Kreatif Bertemu Tularkan Ide dan Ilmu. Ini Jadwalnya!

Poster Festival Mbois 2 (Istimewa)

MALANGVOICE – Berkomitmen untuk menjadi titik temu para pelaku sektor industri kreatif di Malang Raya, MCF kembali menghadirkan even keren Festival Mbois 2, tanggal 2-5 Nov 2017 di Malang City Point.

Salah seorang panitia, Andiena Paramitha menjelaskan, Festival Mbois adalah ajang bertemu, berkolaborasi (menggarap dengan tekun dan cermat), berkooperasi (mengerjakan secara bersama-sama sesuai kapasitas masing-masing), dan gelar karya para insan kreatif Malang agar seluruh karya kreatif yang digelar dapat dilihat, disentuh, dimengerti dan dimiliki oleh masyarakat Malang.

Kegiatan terdiri dari pameran dan bazar kreatif, seminar digital dan non digital, bincang komunitas dan asosiasi dunia kreatif (ideashare), ideashout, bincang dengan para pakar, dan tentu saja pagelaran serta pemberian penghargaan bagi insan kreatif Malang. Dari jam 10 pagi hingga jam 22.00 WIB tidak ada jam yang kosong dari kegiatan kreatif yang dipersembahkan untuk warga Malang.

“Sebuah karya tak bisa disebut bernilai seni & kreatif jika tidak membahagiakan. Mari hadir, mari saling kenal dan saling membahagiakan. Mari kita berpesta,” ajaknya.

Pastikan untuk KEPO kenapa gambar poster-poster yang digalakkan harus ‘BOTOL’, dan bagaimana sebuah ‘BOTOL’ jadi hal penting di acara ini.(Der/Aka)

Festival Dawai Nusantara Satukan Ragam Perbedaan

Wali Kota Malang, HM Anton, hadir dalam Festival Dawai Nusantara. (Bagian Humas Pemkot Malang)

MALANGVOICE – Setidaknya 13 partisipan mewarnai gelaran Festival Dawai Nusantara 2017, Jumat (20/10) malam di Gedung Kesenian Gajayana. Wali Kota Malang, HM Anton, hadir langsung membuka ajang itu, didampingi Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar), Ida Ayu Made Wahyuni.

Dalam sambutannya, Anton menyebut bahwa musik itu bahasa universal. “Karenanya dengan musik akan bisa menyatukan ragam perbedaan,” tutur suami Hj Dewi Farida Suryani itu.

Ucapan Anton bukan bualan belaka. Dijelaskan, ragam alat musik hingga seni menampilkan juga menjadi khasanah budaya tersendiri. “Maka acara ini harus mampu digelar secara berkelanjutan,” serunya.

Hal senada diungkapkan Ida Ayu Made Wahyuni. Dia menambahkan, Festival Dawai Nusantara menjadi media lintas nada, bunyi dan musik yang merekatkan jaringan musik tanah air.

Dia pun menegaskan, Disbudpar terus berkomitmen, dari tahun ke tahun harapannya peserta makin banyak dan luas cakupannya. “Bahkan (acara) ini juga mendapatkan respon dan dukungan positif dari Badan Ekonomi Kreatif (BeKraf),” tutur perempuan yang akrab disapa Dayu ini.

Penggagas acara, Redy Eko Prasetyo, menilai, Malang layak disebut kota ragam bunyi. Dikatakan, Nusantara memiliki kekayaan musik yang tinggi, setiap daerah memiliki keunikan tersendiri.

“Dari Kota Malang kita gagas Festival Dawai Nusantara yang memasuki tahun ke-3. Ini untuk mengukuhkan, bahwa Kota Malang layak disebut kota musik, kota yang ragam bunyi,” ujar Redy.

Pembukaan acara sendiri ditandai dengan petikan dawai oleh Anton serta dirilisnya relief dawai Malangan dengan inspirasi relief Candi Jago sebuah karya Faisol, seniman dan juga penggiat Malang Creative Fusion. Unen-unen Rekel dari Tuban menjadi grup pembuka, dengan nuansa hening dan beraroma mistis dengan judul instrumentalis ‘Tilar Dunyo’.

Memadukan rintihan dawai dengan dengung-dengung saung, penonton bak dibawa ke alam penuh keheningan, serta sedikit sentakan seruling seakan mencabut sukma pendengar. Permainan lampu dan sapuan asap menambah kesan kuat nada-nada mistis yang dimainkan Unen-Unen Rekel.

Hal kontras, diperlihatkan Arabian Dawai sebagai penampil berikutnya. Dimotori Ramzy, seniman musik arabian dengan kolaborasi bersama grup arabian musik Bekasi, akselarasi musik yang didominasi nuansa gambus, mampu mengundang aplause penonton.

Dibalut lengking biola kas Timur Tengah serta liak-liuk kecapi gitar gambus yang dipetik dengan lincahnya oleh Ramzy, menghadirkan pesona tersendiri. Menariknya, Arabian Gambus selain menyajikan nuansa religi dan puji pujian Rasul, di tengah aransemen musiknya juga diwarnai hentakan hentakan bergenre musik rock.(Coi/Yei)

Komunitas