Besok, 1500 Seniman ‘Serbu’ ICCCF 2017

Pertunjukan ICCCF tahun 2015 lalu sangat meriah. (Istimewa)

MALANGVOICE – International Celaket Cross Culture Festival (ICCCF) 6th, bakal kembali digelar. Festival budaya terbesar di Malang kali keenam ini dihelat pada 24-25 November, di depan Kantor Balai Kota Malang.

Sama halnya dengan gelaran sebelumnya, suguhan festival budaya kali ini akan melibatkan 1500 seniman, yang diharapkan mampu menyedot puluhan ribu pengunjung.

Penggagas acara, Hanan Djalil, kepada MVoice, mengatakan, kegiatan yang berlangsung dua hari berturut-turut itu akan dihadiri sejumlah tokoh, seniman dan budayawan ternama kaliber nasional.

Tema yang diusung adalah ‘Dalam Kepak Sayap Garuda Kita Bersaudara’. Hanan menjelaskan, tema itu mengangkat isu terkini mengingat banyak masyarakat yang mempersepsikan adanya letupan-letupan kecil yang berisiko membuat perpecahan dalam negeri.

“Nah kami sebagai seniman, turun tangan dan berkontribusi juga dalam menjaga NKRI dengan segala taruhannya,” katanya saat dihubungi MVoice, Kamis (23/11).

Tahun ini ICCCF akan dimeriahkan 6 pertunjukan seni. Semuanya merupakan model tarian dari hasil kreasi para seniman.

“Ada Singo Barong Celaket, Jaranan Banyuwangi, Gandrung dan tarian kreasi lainnya dari Jawa Timur. Nanti 1.500 seniman ini tampil, termasuk seniman tari jaranan,” tambahnya.

Selain itu, ICCCF juga akan memberikan penghargaan pada seniman asal Malang, Jawa Tengah, Jawa Barat, jajaran DPRD dan beberapa ASN dari Kota maupun Kabupaten Malang.

Hanan berharap, gelaran tahun ini bisa berjalan sukses dan mengobati rindu masyarakat akan pertunjukan seni lokal

“Melihat antusiasme ICCCF tahun lalu, saya kira masyarakat sudah rindu dengan pertunjukan seni lokal. Apalagi dengan adanya budaya asing yang masuk di Indonesia, saya harap masyarakat semakin sadar akan pentingnya budaya lokal sebagai salah satu fondasi kunci dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, termasuk bermanfaat bagi masyarakat Celaket,” pungkasnya.(Der/Yei)

BNN Kota Malang

Tumbuhkan Semangat Co-working Lewat Coworkfest 2017

Foto-foto konferensi Pers Coworkfest 2017. (Anja A)

MALANGVOICE – Perkumpulan Coworking Indonesia kembali mengajak masyarakat untuk lebih kenal lagi dengan dunia coworking space dengan menggelar Coworkfest 2017, 25 dan 26 November 2017.

Selama ini masih banyak masyarakat yang masih awam dengan keberadaan coworking space. Pada praktiknya, coworking space tak hanya sekadar tempat persinggahan untuk bekerja, namun ada tiga hal penting yang ingin ditekankan yakni kolaborasi (collaboration), konektivitas (connectivity) dan komunitas (community).

Dengan bergabungnya para penggiat coworking space dalam Coworking Indonesia, mereka menjadi memiliki wadah untuk menjalin kerja sama dan bergerak dengan kekuatan kolektif untuk memajukan gerakan coworking di Indonesia. Jika semangat ini ditularkan, maka sektor ekonomi kreatif Indonesia dapat terus tumbuh berkembang.

“Kewirausahaan dan bisnis kecil menengah adalah tulang punggung ekonomi suatu negara, dan coworking adalah elemen penting dalam pembangunan ekosistem kewirausahaan. Visi Perkumpulan Coworking Indonesia adalah untuk mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia melalui gerakan coworking” ujar Presiden Perkumpulan Coworking Indonesia, Faye Alund, Kamis, (16/11).

Dalam kegiatan ini, Coworking Indonesia menggandeng Bank Rakyat Indonesia (BRI). BRI akan memberikan bentuk dukungan nyata seperti akses permodalan untuk pengembangan dan juga membantu kendala-kendala dari bisnis kecil menengah salah satunya adalah ijin usaha mikro kecil. Ditambah lagi dengan adanya kartu IUMK (kartu keanggotaan) yang bisa digunakan sebagai kartu debit dan tabungan.

“Untuk jadi pengusaha sukses, harus kreatif, mau belajar, mau berusaha dengan merangkul perbankan dan tidak selalu bergantung pada subsidi dari pemerintah melainkan kita bisa memberikan hasil nyata pada negara kita tercinta,” kata Kepala Bagian Bisnis Program Bank BRI, Elison F Sianturi.

Bersama BRI, Coworking Indonesia turut menggelar rangkaian kegiatan pre-event bertajuk BRIng It On yang akan digelar di 12 coworking space pilihan yang tersebar di berbagai kota mulai 11 hingga 22 November. Ke-12 coworking space tersebut adalah Coworkinc (Jakarta), Code Margonda (Depok), Clapham.co (Medan), EV.Hive (Tangerang), Kolaborato (Bogor), Kumpul (Denpasar), Ngalup (Malang), Impala Space (Semarang), C2O (Surabaya), RKB Yogyakarta (Yogyakarta), CO&CO (Bandung) dan Ke:Kini (Jakarta). Selama pre-event, setiap coworking space akan menghadirkan kegiatan diskusi dan pengenalan local hero di masing-masing kota.

Dalam hal ini, salah satu coworking space di Malang, Ngalup.co, menyambut hangat kegiatan BRIng it on. Ngalup.co akan hadir dalam pre-event Coworkfest 2017 pada Sabtu, 18 November 2017 dengan format kegiatan Discussion Panel bertema Community For Economic Development.((Der/Yei))

BNN Kota Malang

Penasaran Batu Mulia Kerajaan Singhasari dan Majapahit, Ayo Datang ke Acara Ini

Poster kegiatan. (Istimewa)
Poster kegiatan. (Istimewa)

MALANGVOICE – Jika Anda gemar mengoleksi atau setidaknya suka mengamati batu mulia atau akrab dikenal masyarakat sebagai ‘batu akik’, maka tak ada salahnya mampir ke Focus Group Discussion Forum Komunikasi Batu Mulia Nusantara, 16 November 2017 mendatang, di Auditorium Lantai 6 Fakultas Hukum Universitas Brawijaya (UB).

Selain FGD tersebut akan digelar juga pameran batu mulia serta keris dari Kerajaan Singhasari dan Majapahit. Tema yang akan diangkat dalam kegiatan kali ini adalah ‘Geliat Batu Mulia Nusantara Berawal dari Keluhuran Singhasari dan Kejayaan Majapahit’.

Acara ini akan menghadirkan narasumber-narasumber ternama di bidangnya, antara lain Agus Hendratno dari Departemen Teknik Geologi FT UGM, Nanang Rachmat Zakaria dari Garuda Khatulistiwa Malang, Eka Maulana, dan lain-lain.

Batu mulia sangat berharga. Di era kerajaan dan kesultanan dahulu batu menjadi media komunikasi peradaban bahkan alat legitimasi. Sumber kekayaan alam ini harus dijaga dan dilestarikn untuk menjaga kedaulatan sumber daya alam mineralogi.(Der/Aka)

BNN Kota Malang

Festival Mbois 2, Insan Kreatif Bertemu Tularkan Ide dan Ilmu. Ini Jadwalnya!

Poster Festival Mbois 2 (Istimewa)

MALANGVOICE – Berkomitmen untuk menjadi titik temu para pelaku sektor industri kreatif di Malang Raya, MCF kembali menghadirkan even keren Festival Mbois 2, tanggal 2-5 Nov 2017 di Malang City Point.

Salah seorang panitia, Andiena Paramitha menjelaskan, Festival Mbois adalah ajang bertemu, berkolaborasi (menggarap dengan tekun dan cermat), berkooperasi (mengerjakan secara bersama-sama sesuai kapasitas masing-masing), dan gelar karya para insan kreatif Malang agar seluruh karya kreatif yang digelar dapat dilihat, disentuh, dimengerti dan dimiliki oleh masyarakat Malang.

Kegiatan terdiri dari pameran dan bazar kreatif, seminar digital dan non digital, bincang komunitas dan asosiasi dunia kreatif (ideashare), ideashout, bincang dengan para pakar, dan tentu saja pagelaran serta pemberian penghargaan bagi insan kreatif Malang. Dari jam 10 pagi hingga jam 22.00 WIB tidak ada jam yang kosong dari kegiatan kreatif yang dipersembahkan untuk warga Malang.

“Sebuah karya tak bisa disebut bernilai seni & kreatif jika tidak membahagiakan. Mari hadir, mari saling kenal dan saling membahagiakan. Mari kita berpesta,” ajaknya.

Pastikan untuk KEPO kenapa gambar poster-poster yang digalakkan harus ‘BOTOL’, dan bagaimana sebuah ‘BOTOL’ jadi hal penting di acara ini.(Der/Aka)

BNN Kota Malang

Festival Dawai Nusantara Satukan Ragam Perbedaan

Wali Kota Malang, HM Anton, hadir dalam Festival Dawai Nusantara. (Bagian Humas Pemkot Malang)

MALANGVOICE – Setidaknya 13 partisipan mewarnai gelaran Festival Dawai Nusantara 2017, Jumat (20/10) malam di Gedung Kesenian Gajayana. Wali Kota Malang, HM Anton, hadir langsung membuka ajang itu, didampingi Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar), Ida Ayu Made Wahyuni.

Dalam sambutannya, Anton menyebut bahwa musik itu bahasa universal. “Karenanya dengan musik akan bisa menyatukan ragam perbedaan,” tutur suami Hj Dewi Farida Suryani itu.

Ucapan Anton bukan bualan belaka. Dijelaskan, ragam alat musik hingga seni menampilkan juga menjadi khasanah budaya tersendiri. “Maka acara ini harus mampu digelar secara berkelanjutan,” serunya.

Hal senada diungkapkan Ida Ayu Made Wahyuni. Dia menambahkan, Festival Dawai Nusantara menjadi media lintas nada, bunyi dan musik yang merekatkan jaringan musik tanah air.

Dia pun menegaskan, Disbudpar terus berkomitmen, dari tahun ke tahun harapannya peserta makin banyak dan luas cakupannya. “Bahkan (acara) ini juga mendapatkan respon dan dukungan positif dari Badan Ekonomi Kreatif (BeKraf),” tutur perempuan yang akrab disapa Dayu ini.

Penggagas acara, Redy Eko Prasetyo, menilai, Malang layak disebut kota ragam bunyi. Dikatakan, Nusantara memiliki kekayaan musik yang tinggi, setiap daerah memiliki keunikan tersendiri.

“Dari Kota Malang kita gagas Festival Dawai Nusantara yang memasuki tahun ke-3. Ini untuk mengukuhkan, bahwa Kota Malang layak disebut kota musik, kota yang ragam bunyi,” ujar Redy.

Pembukaan acara sendiri ditandai dengan petikan dawai oleh Anton serta dirilisnya relief dawai Malangan dengan inspirasi relief Candi Jago sebuah karya Faisol, seniman dan juga penggiat Malang Creative Fusion. Unen-unen Rekel dari Tuban menjadi grup pembuka, dengan nuansa hening dan beraroma mistis dengan judul instrumentalis ‘Tilar Dunyo’.

Memadukan rintihan dawai dengan dengung-dengung saung, penonton bak dibawa ke alam penuh keheningan, serta sedikit sentakan seruling seakan mencabut sukma pendengar. Permainan lampu dan sapuan asap menambah kesan kuat nada-nada mistis yang dimainkan Unen-Unen Rekel.

Hal kontras, diperlihatkan Arabian Dawai sebagai penampil berikutnya. Dimotori Ramzy, seniman musik arabian dengan kolaborasi bersama grup arabian musik Bekasi, akselarasi musik yang didominasi nuansa gambus, mampu mengundang aplause penonton.

Dibalut lengking biola kas Timur Tengah serta liak-liuk kecapi gitar gambus yang dipetik dengan lincahnya oleh Ramzy, menghadirkan pesona tersendiri. Menariknya, Arabian Gambus selain menyajikan nuansa religi dan puji pujian Rasul, di tengah aransemen musiknya juga diwarnai hentakan hentakan bergenre musik rock.(Coi/Yei)

BNN Kota Malang

Sempat Diguyur Hujan, Animo Penonton Tak Surut di Malang Jazz Festival 2017

Aksi Teza Sumendra di MJF 2017. (Deny Rahmawan)

MALANGVOICE – Gelaran Malang Jazz Festival 2017 berlangsung sukses di Lembah Dieng, Sabtu (7/10). Meski sempat diguyur hujan, namun penonton tetap antusias memadati area sejak siang hingga malam.

Sedikitnya dua panggung yang disediakan Jade Indopratama selaku promotor tak pernah sepi. Pasalnya musisi papan atas Indonesia menyuguhkan penampilan apik nan memukau ribuan pasang mata yang hadir.

“Tahun kemarin juga hujan. Tapi tidak menyurutkan antusias penonton. Inilah karakter orang Malang sebagai pecinta musik,” kata CEO Jade Indopratama, Rachmad Santoso, kepada MVoice.

Event mengangkat tema The Urban Jazzy Festival kali ini menggandeng musisi lokal. Dengan total 70 musisi yang tampil malam itu. Setiap musisi punya ciri khas tersendiri dan penampilan berbeda, sebut saja Teza Sumendra dengan suara khas, Stars and Rabbit, Flanella, dan Sheila on 7 yang punya lagu-lagu hits, serta penampilan Krakatau Reunion yang tampil lengkap.

Dari segi penjualan tiket, Rachmad menargetkan 3 hingga 3,5 ribu terjual. Akan tetapi, masih kurang sedikit menutup target karena musik jazz masih terbilang baru di Malang.

“Ini merupakan tantangan bagi kami karena Malang merupakan barometer musik rock dan pop. Sedangkan jazz ini baru dan kami mencoba kekuatan musik ini,” lanjutnya.

Penonton makin terhibur ketika Teza Sumendra mengisi panggung utama. Ia tampil memukau dengan membawakan beberapa lagu. Kemudian tak kalah heboh saat Eros dkk tampil. Pembawa lagu Sephia itu membuat penonton ikut bergoyang. Tentu dengan nuansa jazz.

Tata cahaya dan setting panggung ikut memberi nuansa berbeda dengan konsep urban di tengah panorama alam yang eksotis.

Terakhir, penampilan Krakatau Reunion dengan formasi lengkap, seperti Indra Lesmana, Trie Utami, Gilang Ramadhan, Dwiki Dharmawan, Donny Suhendra dan Pria Budi Darma, menutup Malang Jazz Festival 2017 dan membuat penonton pulang dengan senyum.

Rachmad berharap, tahun ini bisa memancing animo masyarakat untuk gelaran yang sama di tahun depan. Pihaknya sedikit memberi bocoran bakal mengundang musisi internasional.

“Ya moga-moga lah bisa tahun depan,” tandasnya.(Der/Yei)

BNN Kota Malang

Peringati HUT RI, Santika Premiere Gelar Donor Darah

Pendonor darah di Santika Premiere Malang. (istimewa)

MALANGVOICE – Dalam rangka memperingati Kemerdekaan Republik Indonesia tahun ini, Hotel Santika Premiere Malang mengadakan kegiatan donor darah, Rabu (16/8).

Public Relation Officer Santika Premiere Malang, Erwinda Moonica mengatakan, antusias peserta donor cukup tinggi. Total 76 orang mendaftarkan diri untuk mendonorkan darah.

“Dari 76 pendonor darah, ternyata 67 orang berhasil mendonorkan darah hari ini,” kata Winda saat dihubungi MVoice, Rabu (16/8).

Winda menambahkan, donor darah merupakan salah satu dari tanggung jawab sosial Santika Premiere.

“Ini salah satu kegiatan Corporate Social Responsibility (CSR) kami,” tukasnya.

Bukan cuma CSR, lanjut Winda, kegiatan donor ini sekaligus menjadi persembahan Santika Premiere Malang untuk Indonesia. Besar harapan agar Santika Premiere terus memberikan layanan terbaik dan menjadikan pengalaman menginap para tamu lebih bahagia dan berkesan.

Usai mendonorkan darahnya, peserta kemudian menyantap hidangan dan snack yang sudah dihidangkan, seperti bubur kacang ijo, aneka donat, telur rebus, gorengan, kopi dan teh.


Reporter: Anja Arowana
Editor: Deny Rahmawan
Publisher: Yunus Zakaria
BNN Kota Malang

Malang Jazz Festival Hadir Kembali, Buruan Beli Tiket Sebelum Ludes!

Poster Malang Jazz Festival (istimewa)

MALANGVOICE – Festival Jazz Tahunan terbesar di Malang Raya ‘Malang Jazz Festival’ kembali digelar. Kali ini Malang jazz Festival mengusung tema “The Urban Jazzy Festival” yang digelar di panggung terbuka Kwasan Wisata Lembah Dieng Malang, tanggal 7 Oktober 2017 nanti.

Akan menjadi tantangan tersendiri bagi Promotor Jade Indopratama Grup yang menggandeng Graha Bangunan dan J Entertainment sebagai Event Organizer untuk mewujudkan konsep urban ditengah panorama alam yang eksotis. Harapannya ini akan menjadi pengalaman menarik bagi penonton dan pecinta musik Malang Raya.

Hiburan musik berkelas di Malang Raya ini akan dimeriahkan sederet musisi papan atas Indonesia seperti Krakatau Reunion yang akan tampil lengkap dengan personel Indra Lesmana, Trie Utami, Gilang Ramadhan, Dwiki Dharmawan dan Pra Budi Darma, Syaharani & Queenfireworks, Sheila on 7, Teza Sumendra dan The Overtunes.

Bukan tidak mungkin line up akan bertambah seiring berjalannya waktu dan tingginya animo masyarakat. Selain didukung musisi-musisi papan atas tersebut, Malang Jazz Festival tahun ini juga didukung puluhan musisi Malang Raya yang tergabung dalam berbagai komunitas.

Perkembangan musik di Malang Raya demikian pesatnya. Salah satu misi Malang Jazz Festival adalah untuk memberikan wadah berkreasi dan apresiasi bagi musisi-musisi Malang Raya mengembangkan potensinya.

Beberapa komunitas player seperti bass, drum, dan lain-lain akan ambil bagian dalam festival ini, mereka akan menyuguhkan karya terbaiknya serta siap berkolaborasi menghadirkan konsep baru yang mungkin belum pernah ditampilkan di publik.

Tiket Malang Jazz Festival ini akan dibagi menjadi 2 kelas utama, VIP dan Festival. Masing�masing kelas terbagi lagi menjadi 2 bagian yaitu VIP 1 dan VIP 2 serta kelas Festival A dan Festival B.

Yang berbeda tahun ini adalah pembagian area (layout) posisi penonton. Posisi kelas Festival akan berada tepat di depan panggung, namun tetap dengan harga yang terjangkau. VIP 1 dan VIP 2 yang selama ini selalu ludes sebelum hari H akan menempati tribun yang dirancang khusus dengan view yang lebih nyaman tanpa terhalang kelas Festival yang berada di depannya.

Tiket Presale dijual terbatas mulai tanggal 14 Agustus 2017 dengan harga Festival B Rp. 100.000 Festival A Rp. 150.000 VIP 2 Rp.350.000 dan VIP 1 Rp. 1.000.000. Untuk harga normal kelas Festival B Rp. 140.000 Festival A Rp.175.000 VIP 2 Rp. 450.000 dan VIP 1 Rp. 1.250.000.

Ada keuntungan tersendiri bagi penonton yang telah ambil bagian dalam rangkaian #RoadToMalangJazzFestival bersama Ari Lasso dan The Groove bulan April lalu. Penyelenggara
memberikan penawaran istimewa berupa berupa Tiket dengan harga khusus bagi penonton yang bisa menunjukkan tiket Road to Malang Jazz Festival 2017.

Ada pula program diskon menarik bagi
pengguna kartu kredit dan kartu Debit BNI. Penonton bisa dengan mudah memperoleh tiket dan penawaran terbaiknya dengan mengakses fitur dan layanan tanpangantri.com. Tiketbox juga tersedia di Indomaret, beberapa Radio, Kafe, Resto dan hang out place yang tersebar di wilayah Malang Raya, Surabaya dan Blitar.


Reporter: Anja Arowana
Editor: Deny Rahmawan
Publisher: Yunus Zakaria
BNN Kota Malang

Trio Nawak Ewed Launching Album Baru ‘Yang Terlupakan’

Press conference Nawak Ewed di God Bless Cafe Malang. (Anja Arowana)
Press conference Nawak Ewed di God Bless Cafe Malang. (Anja Arowana)

MALANGVOICE – Trio baru bernama Nawak Ewed lahir, Minggu (13/8). Digawangi gitaris kenamaan Noldy Benyamin P, Hengky Saing, dan Tatok Utoro, band ini mengeluarkan album bernuansa 70-an dan 80-an dengan eksekusi modern.

Konsep itu dijadikan patokan untuk album baru mereka yang bertajuk ‘Yang Terlupakan’, sudah dirilis dalam format fisik (CD) secara independent. Mini album tersebut menyuguhkan 5 trek berlirik plus dua komposisi instrumental yang berorientasi gitar.

Tajuk album ‘Yang Terlupakan’ diambil dari satu lagu di dalam album yang paling berkesan bagi personil Nawak Ewed.

“Yang Terlupakan ini mewakili karakter dan jiwa kita. Kita cari musik yang sederhana dan berkesan,” kata salah satu personil, Tatok Utoro, Minggu (13/8).

Lagu-lagu dalam album ini mengangkat lirik yang unik yang mengingatkan pendengar pada kenangan. Salah satu judul lagu yang menarik lainnya adalah ‘Alun-alun’, ‘Pasar Klojen’.

“Kalau mendengarkan lagu ini ya sekaligus mengenang masa-masa muda dulu waktu main ke Alun-Alun begitu. Not musik yang kami pilih juga not sederhana. Feel 80-an nya bisa kita rasakan juga dari lirik-lirik ini,” tukas Noldy.

Mereka berharap, album ini bisa menjadi penghibur para pendengar sekaligus menggiring pendengar mengenang era 80-an.


Reporter: Anja Arowana
Editor: Deny Rahmawan
Publisher: Yunus Zakaria
BNN Kota Malang

Rayakan Kemerdekaan, Balai Kota Among Tani Gelar Wayangan

Pertunjukan Wayang Kulit menyambut HUT ke-72 Kemerdekaan RI di Balai Kota Among Tani. (istimewa)
Pertunjukan Wayang Kulit menyambut HUT ke-72 Kemerdekaan RI di Balai Kota Among Tani. (istimewa)

MALANGVOICE – Menyambut HUT ke-72 Kemerdekaan RI, Sabtu malam (12/8) esok, digelar pertunjukan wayang kulit bertempat di parkiran Balai Kota Among Tani. Bertindak sebagai dalang adalah Ki Ardhi Purboantono.

Dalang asli Arema ini bakal membawakan lakon Sang Duta Pamungkas. Turut menyemarakkan sebagai bintang tamu, Marwoto, Yati Pesek dan Lusi Brahman. Acara dimulai pukul 19.00 sampai selesai.

Wali Kota Batu, Eddy Rumpoko, bahkan mengajak masyarakat untuk datang menyaksikan pagelaran kebudayaan asli Indonesia tersebut. Hal ini terlihat dari postingan di akun media sosial Instagram @eddy_rumpoko.

“Kagem bapak-ibu sederek sedoyo, monggo sami rawuh nguri-nguri kabudayan jawi. Mengeti 72 tahun kemerdekaan RI,” tulis pria akrab disapa ER ini.

a


Reporter: Aziz Ramadani
Editor: Deny Rahmawan
Publisher: Yuliani Eka Indriastuti
BNN Kota Malang