31 January 2023
31 January 2023
22.2 C
Malang
ad space

Narkoba, Masalah Kita Bersama!

Oleh: Mayor Inf. M.Tohir

Narkoba. Satu kata ini begitu mengiang dibenak bangsa Indonesia. Sudah berapa banyak pemberitaan yang dimuat berbagai media massa tentang serangan barang haram ini ke negeri tercinta kita Indonesia. Entah sudah berapa banyak jumlahnya berbagai jenis narkoba yang telah berhasil diungkap dan disita oleh berbagai aparat. Mulai dari keberhasilan mengungkap penyelundupan narkoba melalui “pintu gerbang” negara Indonesia seperti bandara udara maupun pelabuhan-pelabuhan oleh pihak kepabeanan, imigrasi hingga penangkapan oleh aparat keamanan di wilayah-wilayah terpencil.

Begitu krusialnya permasalahan yang ditimbulkan dari penyalahgunaan barang ini sampai-sampai pucuk pimpinan negeri yaitu Presiden Joko Widodo ini mengatakan bahwa Indonesia dalam “darurat narkoba”. Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo sendiri telah menegaskan komitmennya dalam hal narkoba. Ia mengingatkan tidak akan mentolelir siapapun dalam tubuh TNI terkait dengan penyalahgunaan barang haram ini. Sanksi tegas berupa pemecatan tanpa proses rehabilitasi harus ditanggung personel Tentara Nasional Indonesia bila terbukti melanggarnya.

Memang penanganan masalah zat adiktif ini sudah diserahkan kepada badan dan instansi tertentu namun perlu disadari bahwa dampak negatif dari narkoba begitu kompleks. Hancurnya sebuah budaya bangsa akibat kebobrokan mental generasi terpampang nyata didepan mata bila menyerahkan permasalahan ini pada aparat semata. Peranan keluarga, masyarakat dan semua elemen bangsa hendaknya mendapatkan apresiasi agar bangsa dan negara ini tetap berdiri kokoh.

Terlepas dari siapapun pelakunya, mengingat bahwa masalah narkoba adalah masalah bersama dari bangsa ini maka sudah sewajarnya menjadi tanggungjawab moral bagi siapapun itu untuk membantu dalam upaya pemberantasannya (narkoba). Ego sektoral hendaknya tidak menjadi alasan untuk menimbulkan polemik pada sebuah realitas yang ada. Sekali lagi perlu disadari bahwa masalah narkoba adalah masalah bersama.

Masih dalam hitungan hari bahwa Kodim 0820/Probolinggo pada hari Sabtu tanggal 4 Maret 2017 telah menangkap 3 (tiga) orang bandar narkoba dan 1 (satu) orang menyerahkan diri beserta barang buktinya. Kolonel Arm. Budi Eko Mulyono sebagai pimpinan di jajaran Korem 083/Bdj mengatakan bahwa penangkapan bandar narkoba bukan hoaks dan bukan rekayasa. Itu adalah murni yang dilakukan oleh tim intel dan unit intel kodim Probolinggo. Hasil tangkapan sesuai dengan jumlah barang bukti dan hasil rekaman yang disimpan oleh Dandim 0820/Probolinggo Letkol Inf. Hendi Yustian Danang Suta, S.IP.

Sejalan dengan amanah Presiden Republik Indonesia dan penekanan Panglima TNI, Komandan Resor Militer 083/Bdj juga memerintahkan seluruh jajaran Korem 083 dan kodim dibawahnya untuk perang terhadap narkoba dengan menangkap semua bandar, pengedar dan pengguna narkoba tanpa pandang bulu dan tentunya akan mematuhi prosedur dan aturan yg berlaku.

Ia menegaskan kembali bahwa Presiden, Panglima TNI. Kasad, Kapolri, Kepala BNN sudah jelas menyampaikan perintah untuk perang dan memberantas narkoba. Saatnya sekarang seluruh warga masyarakat untuk bersatu padu memerangi narkoba dan menyelamatkan generasi penerus bangsa. Jika ada oknum yang menyatakan bahwa penangkapan di probolinggo adalah hoaks (bohong), maka sesungguhnya oknum tersebut yg menyebarkan hoaks kepada masyarakat. Tni akan komitmen dan konsisten dalam perang dan pemberantasan narkoba.

Danrem 083 menyampaikan lagi bahwa penanganan narkoba adalah tanggungjawab bersama komponen bangsa, mari semua bergandengan tangan merapatkan barisan dan menyatukan visi dan misi dalam memberantas narkoba di tanah air, jangan ada dusta diantara anak bangsa Indonesia, jangan berbahagia diatas penderitaan rakyat Indonesia.

Terlepas dari pihak mana yang melakukan pengungkapan atau penangkapan jangan dijadikan semacam ketersinggungan. Toh pada akhirnya semua masalah akan dibuktikan dalam proses peradilan. Pasal 111 KUHAP juga menjelaskan perihal tersebut.

Undang-undang TNI no 34 tahun 2004 yang mengatur tugas pokok TNI bahwa salah satu tugasnya yaitu membantu Kepolisian Negara Republik Indonesia dalam rangka tugas keamanan dan ketertiban masyarakat yang diatur undang-undang.

Terkait dengan upaya memberantas dan memerangi narkoba yang dilakukan jajaran Korem 083/Bdj yaitu Kodim 0820/Probolingo tentunya harus mendapat apresiasi positif bagi kita semua. Terlebih lagi untuk diketahui ketika kepala BNN Komjen Budi Waseso juga merestui perang narkoba yang dilakukan oleh pihak TNI (http://www.sinarharapan.co/news/read/151105042/tni-direstui-tangani-kasus-narkoba-)

. Bila ada yang mengatakan bahwa tidak ada urgensinya aparat TNI melakukan penangkapan dan pengungkapan kasus narkoba maka perlu diingat kembali apa yang telah disampaikan oleh Presiden Republik Indonesia sebagai pimpinan negeri yang kita cintai ini terkait dengan masalah narkoba.

*) Kepala Penerangan Korem 083/Bhaladika Jaya

Rekomendasi PAN tentang Konflik Transportasi Konvensional dan Online di Kota Malang

Oleh: Dito Arief *)

Pasca demo besar angkot dan taksi pada Senin lalu, rupanya Pemkot masih gamang bersikap dan memberikan solusi pada konflik antara transportasi konvensional dan transportasi berbasis online. Penutupan sementara kantor operasional GoJek dan pernyataan Kota Malang belum perlu transportasi online, saya kira merupakan sikap reaktif nan tergesa-gesa.

Pemkot Malang tidak bijak dan solutif dalam menyelesaikan permasalahan ini. Bidang kebijakan publik DPD PAN Kota Malang mencoba memberikan analisa dan rekomendasi atas permasalahan tersebut yang tentunya akan kami suarakan juga melalui Fraksi PAN di DPRD Kota Malang.

Solusi permasalahan bagi kami sebenarnya bukanlah pada sikap untuk memilih dan meniadakan salah satu pihak, namun adalah bagaimana Pemkot melalui kebijaksanaannya bisa memberikan solusi layanan publik kepada masyarakat melalui angkutan umum yang sudah ada, tatkala Pemkot belum mampu untuk menyediakan transportasi publik yang layak, nyaman dan mudah kepada masyarakat Malang.

Salah satu rekomendasi kami adalah Pemkot dapat memberikan subsidi bahan bakar kepada angkutan umum secara terorganisasi dalam jumlah tertentu, atau dapat pula mengeluarkan kebijakan menggratiskan biaya tarif angkutan umum pada jam-jam tertentu, yang sasarannya adalah siswa sekolah, ibu rumah tangga, karyawan pabrik, pedagang kecil yang faktanya merupakan mayoritas pengguna angkutan umum selama ini. Nantinya, biaya akan ditanggung pemerintah daerah melalui alokasi dana APBD dengan skema-skema dan regulasi yang dibuat khusus.

Disinilah ditunggu keberpihakan Pemkot Malang, bagaimana kemudian mengeluarkan kebijakan yang solutif dan tepat sasaran, baik kepada para penyedia angkutan umum, maupun kepada masyarakat kecil khususnya sebagai pengguna angkutan umum. Kami kira postur APBD Kota Malang sangat memungkinkan apabila sebagian kecilnya dialokasikan untuk subsidi di bidang angkutan umum.

Ini tentunya akan membahagiakan tidak hanya penyedia angkutan umum, namun juga masyarakat Kota Malang, daripada dana APBD yang begitu besar tidak terserap seperti yang terjadi pada tahun 2016 kemarin. Di sisi lain, Pemkot harus mampu mengatur operasional transportasi berbasis online yang semakin marak dengan kebutuhan dan dinamika masyarakat urban Kota Malang yang semakin berkembang dan modern.

Segmen transportasi online ini sebenarnya adalah segmen masyarakat menengah ke atas, yang sesungguhnya mereka memiliki kendaraan pribadi, namun tetap menghendaki layanan transportasi yang mengutamakan kenyamanan, kemudahan dan harga yang pasti. Kehadiran transportasi online ini harus menjadi berkah, tidak hanya kepada masyarakat, namun juga kepada Pemkot bagaimana agar ada sumbangsih secara langsung terhadap PAD Kota Malang, maupun secara tidak langsung melalui perputaran ekonomi yang muncul dengan banyaknya transaksi yang mempergunakan transportasi online ini.

Pemerintah juga harus mendorong sinergi antara taksi konvensional dengan penyedia layanan transportasi online sebagaimana itu juga dilakukan di kota-kota lain, sehingga taksi konvensional pun dapat berbenah dalam merespon dinamika pasar yang terjadi di Kota Malang.

Jadi ini bukanlah suatu pilihan atas dua hal, benar atau salah, untuk memilih dan meniadakan. Marilah secara arif Pemkot Malang belajar dari pengalaman untuk mengkaji dan mengantisipasi, bahwa apa yang terjadi ini sesungguhnya telah jauh-jauh hari terjadi di kota lain yang kemudian mampu terselesaikan. Maka buktikanlah kalau Kota Malang memang layak mendapatkan Penghargaan Wahana Tata Nugraha Tahun 2017 bidang transportasi darat dan lalu lintas, dengan kebijakan transportasi yang solutif dan memuaskan semua pihak.

*Sekretaris DPD PAN Kota Malang

Say No to Pikun! (Bentuk Perhatian Individu dan Keluarga)

Oleh: Yuni Hermawaty MPsi *)

 

MALANGVOICE – Pikun atau lupa, rasanya tidak ada satupun orang yang berniat memiliki gejala tidak mampu mengingat hal-hal yang pernah ia alami. Sekalipun pikun atau lupa dapat dialami oleh semua orang, umumnya gejala ini di alami bersamaan dengan meningkatnya usia. Di atas usia 60 tahun sering terdengar keluhan daya ingat, juga menurunnya kemampuan mengingat.

Kondisi lupa ini bisa terjadi ketika mengingat kata, nama,benda, angka, tempat ataupun lainnya dan mungkin jika dikaitkan dengan suatu hal akan perlahan teringat. Inipun membutuhkan waktu yang sangat lama. Akan sangat sedih bagi orang-orang disekitar ketika mengetahui jika kakek atau nenek tidak mengingat cucunya, bahkan hal sederhana yang biasa dilakukan.

Banyangan jika kakek atau nenek akan menjadi bingung ketika banyak hal yang ada dalam memorinya menjadi berkurang perlahan. Lantas apakah seseorang yang lanjut usia memiliki peluang untuk tetap memiliki ketajaman daya ingat pada usianya? Menurut penelitian yang tersedia oleh seorang pakar gerontology Warner Schale menjelaskan jika masih memungkinkan seorang lanjut usia berada pada kategori sebagai berikut :

  1. Kondisi sehat
  2. Tinggal dalam lingkungan yang memiliki pendapatan yang memadai dan memiliki keluarga yang utuh.
  3. Sering terlibat dalam kegiatan yang bersifat merangsang kemampuan kognitif/ pikir, seperti suka membaca, suka berpergian, gemar belajar, gemar berada dalam kelompok untuk bertukar pikiran, merupakan seseorang yang professional pada bidangnya sehingga rajin menggunakan kemampuan pikirnya.
  4. Memiliki kepribadian yan fleksibel (mudah menyesuaikan kondisi dan tidak mudah stress)
  5. Memiliki pasangan yang bijak dan mudah diajak bertukar pikiran
  6. Merasa puas dengan prestasi yang dicapai oleh para usia lanjut di usia produktifnya.

Hal diatas menggambarkan jika seseorang menjaga apa yang diberikan Tuhan YME melalui kemampuan pikir dan kesehatannya, maka kemampuannya akan tetap bertahan sekalipun ia sudah berada pada usia lanjut. Usia yang bertambah tidak selalu membuat kemampuan kognitif akan hilang.

Seseorang yang aktif dalam lingkungannya membuat ia memiliki peluang yang lebih baik untuk mempertahankan kemampuan kognitifnya. Seseorang yang pasif digambarkan sebagai seseorang yang tidak menggunakan peluang waktu untuk menggerakkan pikiran dan fisiknya. Hal ini sangat memudahkan seseorang dekat dengan kelupaan bahkan menuju demensia. Seseorang yang pasif justru akan mendekatkkan dengan berbagai penyakit.

Selanjutnya, beberapa penelitian juga membuktikan jika sebenarnya otak memiliki kebutuhan untuk bekerja. Bekerja yang dimaksud adalah bekerja untuk melatih otak. Kegiatan-kegiatan rutinpun dapat dijadikan media untuk latihan para lanjut usia.

Tidak ada salahnya ketika seseorang gemar membaca maka tetaplah konsisten untuk melakukan kegiatan tersebut, menulis, mengisi teka-teki silang, ataupun bermain musik. Hobi yang dilakukan secara rutin ternyata memberikan asupan yang besar untuk mengurangi penurunan mental seseorang. Gerakan-gerakan yang dilakukan oleh jari, tangan, tubuh membuat motorik yang ada didalam tubuh tetap aktif, hal ini kemudian memicu kinerja otak. Hal ini menjauhkan para lanjut usia untuk terkena resiko demensia.

Memiminimalisasi resiko demensia juga erat kaitannya dengan kondisi mental yang sehat.. Individu dan keluarga perlu menjaga para lanjut usia untuk berada dala kondisi mental yang kondusif. Berusaha menciptakan kasih dan sayang di lingkungan keluarga dengan perhatian yang utuh membuat usia lanjut merasa bahagia.

Terdapat dua kondisi mental yang perlu dijaga, pertama kondisi mental yang terlalu tegang dan kedua kondisi mental yang mengarah pada kesedihan. Kondisi tegang akan memudahkan seseorang terkena demensia. Kondisi ketegangan memicu meningkatkan tekanan darah dan kardivaskular. Di situasi keluarga yang memiliki banyak masalah, membuat para lanjut usia terlalu berpikir keras.

Hal ini berbahaya bagi para lanjut usia. Keluarga perlu memilah hal yang perlu diketahui oleh para lanjut usia, bukan menyimpan atau membohongi namun memilah. Kondisi kedua yang juga mengganggu kondisi mental seseorang adalah situasi yang dapat menimbulkan kesedihan. Salah satu contohnya adalah Kesepian.

Kesepian ternyata dapat membuat efek penurunan mental. Seseorang yang merasa sepi dan sendiri perlahan menciptakan situasi kesedihan yang ditekan. Tidak jarang situasi yang tercipta membuat Para lanjut usia merasa depresif (sedih berkepanjangan dan kurang motivasi).. Resiko demensia akan lebih mudah diperoleh pada kondisi depresi. Menghindari hal ini Keluarga bisa  membuat sistem atau jadwal rutin kunjungan bagi para lanjut usia.

Ketika anak dan cucu memiliki kesibukan masing-masing maka perlu dibuatkan jadwal rutin. Kehadiran anggota keluarga dapat meningkatkan kebahagiaan dari para lanjut usia. Mereka dapat mencurahkan kasih, berkeluh kesah atau mengungkapkan keberhasilannya akan suatu hal. Ingat, kehadiran yang diperlukan bukan sekedar kehadiran secara fisik. Tinggalkan kesenangan dan gadget sesaat agar relasi yang terjalin lebih berkualitas. Kondisi mental yang sehat memberikan porsi yang besar untuk terkena resiko demensia.

Berikut beberapa hal yang dapat diusulkan untuk menghambat proses kemunduran kognitif (pikun) adalah:

  1. Tingkatkan daya ingat dengan selalu Latihan, mengulang proses, beri perhatian pada hal sehari-hari seperti membuat jadwal harian, dan mencoba mengatifkan ingatan ketika lupa dengan cara asosiasi (mencoba mengkaitkan hal yang terlupa dengan hal lainnya/ jangan mudah menyerah dan mengatakan lupa).
  2. Tingkatkan fungsi kesehatan pikiran dasar, dengan cara lakukan komunikasi yang efektif, sosialisasi, ibadah (peningkatan spiritual), rekreasi pikiran (seperti berpergian, melakukan hobi, olahraga), dan melatih emosi.
  3. Lakukan beberapa latihan otak secara intensif. Contoh :
  4. Latihan untuk melatih perhatian dan konsentrasi : dapat dilakukan dengan menjaga kontak mata ketika berkonsentrasi, bermain teka teki silang, membaca Koran, dll
  5. Latihan untuk melatih orientasi, contoh : lihat kalender setiap hari untuk mengingat hari, tanggal, bulan dan tahun. Bersosialisasi dan menyebutkan nama seseorang yang ditemui. Panggil nama anak dan cucu, serta berjalan-jalan sambil mengingat nama tempat terutama yang sering dilewati (dikunjungi). Dapat disebutkan pula kenangan-kenangan bersama waktu, tempat, atau orang tersebut.
  6. Latihan untuk mempertajam persepsi, contoh : mengenal suara, wajah, lokasi
  7. Latihan untuk mempertajam daya ingat jangka panjang :Mendengarkan/ bermain music kesukaan, hal ini juga akan meningkatkan memori melalui lirik lagu serta kenangan didalamnya.
  8. Latihan untuk menstimulasi fungsi otak dengan cara Senam otak, seperti gerakan menyilang yang umumnnya diajarkan pada gerakan senam lanjut usia.
  9. Latihan untuk menciptakan kondisi mental yang sehat, seperti melatih emosi, bersikap yang positif, bahagia dan toleransi.

Selanjutnya, ayo katakan tidak untuk pikun. Hidup sehat  secara fisik dan mental membuat terhindar dari resiko pikun/ demensia.

 

*) Psikolog di  RS Jiwa Dr Radjiman Wediodiningrat Lawang

Pesan untuk Mahasiswa Rantau

Pesan untuk Mahasiswa Rantau
Pesan untuk Mahasiswa Rantau

Oleh: Andreansyah Ahmad *)

Jauh kau melangkahkan kaki hingga tiba di Kota Malang, membawa sejuta impian untuk kau raih di tanah orang. Untuk menyambung pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, kau tinggalkan kampung halaman tercinta. Dengan semangat tinggi dan diiringi do’a kedua orang tua kau sebrangi lautan biru samudera hindia.

Tangis bahagia kedua orang tua melihat anak-anaknya pergi jauh demi sebuah pendidikan. Orang-oramg desa pun berharap, ketika kau kembali ke tanah kelahiranmu membawa sebuah misi perubahan demi kesejahteraan masyarakat. Karena sarjana adalah gelar yang sangat berharga.

Malang merupakan salah satu kota yang dijuluki sebagai Kota Pendidikan di Indonesia. Ada banyak perguruan tinggi negeri ataupun swasta. Di tempat ini pula kalian bisa bertemu mahasiswa dari Sabang sampai Merauke, bahkan banyak juga yang berasal dari luar negeri. Berbagai macam bahasa akan kalian dengar, berbagai suku berbaur. Bisa dikatakan, inilah miniatur Indonesia di Jawa Timur.

Sebuah kehidupan baru yang sangat berbeda dengan kampung halaman. Berbagai macam pengalaman dan kegiatan kalian ikuti. Menjadi aktivis-aktivis mahasiswa, sehingga kalian lupa akan tanah kelahiran. Kalian terlalu sibuk di kota orang, dan terlena dengan kehidupan kota. Oh nak, ingatlah niat sebelum kau berangkat kesini. Jangan pernah berniat untuk tidak kembali ke tanah kelahiran.

Jangan kau ikuti jejak orang yang telah menjadi penghianat bagi daerah asalnya. Janganlah terlalu sibuk dengan urusan politik, sehingga kau lupa akan pembangunan di kampung halaman mu. Jaga identitas suku mu, jaga etika yang telah diajarkan nenek moyang mu.

Kalian merantau bukan untuk melupakan segalanya,  tetapi juga untuk menjaga dan saling menghornati keberagaman, suku, bahasa, dan budaya. Jangan hanya karena salah paham kalian bertikai dengan suku lain. Tunjukkan bahwa kita Bhinneka Tunggal Ika. Ingat nak, kalian di kota orang.

Nak, setelah kau meraih toga dan gelar sarjana nanti. Segeralah kembali ke kampung halaman mu, jangan biarkan potensi wisata daerah ini dieksploitasi orang asing. Ajarkanlah ilmu dan pengalaman yang kau dapatkan di tanah rantau kepada orang-orang desamu. Kau tau sendiri, pendidikan di tempat ini masih terpuruk, karena tidak meratanya pembangunan.

Besar harapan kami kepadamu nak, kami tak peduli berapa biaya yang terkuras dari kantong. Kami hanya ingin kalian merantau dan kembali menjadi orang-orang yang berguna bagi nusa, bangsa, dan agama.

Jangan kecewakan orang-orang di desamu ini. Mereka menanti misi perubahan yang kau bawa.

*) Mahasiswa FKIP Unisma

Rokok dan Mahasiswa

Rokok dan Mahasiswa
Rokok dan Mahasiswa

Oleh: Jasuli, M.Pd *)

Wacana kenaikan harga rokok dengan segala pro dan kontra, telah memberi angin baru bagi masyarakat, terlebih pada kalangan mahasiswa. Bagi sebagian besar mahasiswa, rokok hampir menjadi konsumsi wajib setelah buku. Hal ini dapat dijumpai di banyak melting pot seperti warung kopi, kantin pojok kampus, dan tempat-tempat umum lainnya di mana mahasiswa menghisap rokok sembari ngobrol santai, berdiskusi atau mengerjakan tugas kuliah.

Fenomena tingginya angka perokok di kalangan mahasiswa ini disinyalir dapat memicu melemahnya kantong mahasiswa yang lebih jauh dapat mengakibatkan terganggunya proses perkuliahan seperti pembayaran uang semester, pengadaan buku, dan kebutuhan-kebutuhan akademik lainnya.

Meski sebenarnya belum ada penelitian yang jelas tentang dampak rokok terhadap prestasi akademik mahasiswa, namun penelitian-penelitian lain yang serupa dapat memberikan petunjuk dan gambaran awal. Seperti yang telah dilakukan oleh Hasbullah Thabrany, Kepala Pusat Ekonomi dan Kebijakan Kesehatan, Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia diketahui bahwa terdapat keterkaitan jumlah perokok dan harga rokok. Lebih jauh, dari hasil studi tersebut terkuak bahwa jika harga rokok naik dua kali lipat, sejumlah perokok akan berhenti mengonsumsi rokok.

Berkaitan dengan harga rokok sebagaimana dilansir kompas.com (19/08/2016), Ade Komarudin, ketua DPR menegaskan persetujuannya akan wacana dinaikkannya harga rokok hingga dua kali lipat dari harga semula. Ade mengatakan, rokok adalah musuh bangsa yang sudah disadari semua orang.

Tapi menyangkut wacana kenaikan tersebut, DPR tentu akan mengkaji secara lebih kritis dan berupaya menyediakan jalan keluar yang solutif terhadap kenaikan harga rokok tersebut.

Harga rokok di Indonesia yang selama ini di bawah Rp. 20.000 dinilai menjadi pemicu tingginya jumlah perokok. Asumsi ini memungkinkan berlaku pada kalangan mahasiswa, sehingga mahasiswa dari kalangan menengah ke bawahpun dengan harga rokok yang relatif terjangkau akan memudahkan mahasiswa membeli dan mengonsumsi rokok. Pun dengan kesimpulan sederhana bahwa jika mahasiswa berhenti merokok, maka konsentrasi akademiknya tidak akan banyak terganggu.

Dasar pemikran ini tak lain hanyalah sebuah upaya dari hasil renungan penulis. Dari pengamatan selama ini, penulis menemukan pergeseran nilai kebutuhan dasar mahasiswa yang harusnya lebih gelisah jika tidak memiliki buku matakuliah dari pada tidak merokok, lebih risau tidak membeli atau mem-foto copy buku atau makalah dari pada berhutang untuk membeli sebatang rokok.

Dari sini, alasan-alasan tak logispun kerap kali muncul, seperti alasan terganggunya konsentrasi belajar tanpa rokok, rokok adalah identitas seorang pemikir, dan bentuk apologi-apologi serupa lainnya.

Ketergantungan berat ini lebih serius akan dapat mengesampingkan hal-hal prinsip, utama dan primer dari pada hal-hal yang bersifat sekunder. Lebih-lebih jika harga rokok sebagaimana diwacanakan benar-benar naik dua kali lipat. Hampir dapat dipastikan kalangan perokok di tingkat mahasiswa akan menguras banyak isi kantong sehingga jatah kiriman orangtua pun akan meningkat.

Maka dari itu, diperlukan antisipasi dan penanganan serius. Meski dibilang masalah sepele, benda kecil berukuran 9 cm ini dalam jangka panjang akan menguras banyak uang tanpa diketahui hasil yang diperoleh. Dapat dibayangkan berapa jumlah rupiah yang hilang sia-sia dan hanya menjadi kepulan asap. Belum lagi kerugian dari sisi medis yang sengaja tidak ditulis pada tulisan singkat ini.

Oleh karena itu, antisipasi pertama, seorang mahasiswa hendaknya bergaul dengan rekan yang tidak merokok. Kedua, belajar menghormati teman yang tidak merokok. Ketiga, mengurangi secara sengaja frekuensi merokok dalam sehari. Keempat, menyisihkan sebagian dari jatah membeli rokok untuk diprioritaskan pada kebutuhan akademik. Kelima, berhenti merokok.

Lima kiat sederhana ini diharapkan mampu mengurangi jumlah perokok di kalangan mahasiswa, sehingga meskipun harga rokok meningkat dua kali lipat, mahasiswa tidak lagi bergantung erat pada rokok. Sebagai agen perubahan, mahasiswa harus mampu mendisiplinkan dirinya sendiri sebelum mendisiplinkan orang lain. Stop smoking!

*) Dosen Pendidikan Bahasa Inggris IKIP Budi Utomo Malang

Guru itu Memimpin dan Mendidik

Oleh: Andreansyah Ahmad *)

Cita-cita luhur yang terkandung dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, “Mencerdaskan kehidupan bangsa serta mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia,” memberikan tempat utama terhadap peranan pendidikan di negeri ini. Berbicara tentang pendidikan, tentunya kita tidak dapat melupakan salah satu unsur pokok dalam pendidikan yaitu guru.

Pada hakikatnya pendidikan mempunyai tujuan yang hakiki, yaitu menyadarkan manusia untuk mengenal dirinya, bahwasanya manusia adalah subyek, bukan obyek. Peran pendidikan sangatlah mendasar dan kita semua memahami bahwa peranan guru sangatlah penting.

Guru adalah profesi paling mulia di antara profesi lain, karena sejatinya tugas seorang guru tidak hanya mengajar materi pelajaran, tetapi juga mendidik anak didik mereka dengan penuh rasa tanggung jawab. Guru adalah guru, dan selamanya menjadi guru tanpa ada sebutan mantan guru hingga sampai akhir hayatnya. Guru adalah orang tua kedua bagi peserta didik di sekolah.

Para presiden, menteri, gubernur, walikota, dan lainnya, tidak akan pernah bisa menduduki jabatan itu tanpa peran seorang guru. Guru hanya bisa tersenyum bahagia ketika melihat anak didik mereka menjadi orang yang hebat dan sukses tanpa mengharapkan balasan.

Jasa guru sesungguhnya tak dapat dinilai dengan materi atau kebendaan. Mereka adalah pahlawan-pahlawan tanpa tanda jasa. Guru mungkin melupakan muridnya, sekalipun tidak pernah melupakan tugas. Namun tidak seorang murid pun dapat melupakan gurunya.

Dari zaman ke zaman telah kita ketahui bersama jasa guru dalam usaha-usaha membina anak-anak didik mereka agar dapat mandiri di masa depan. Guru telah melaksanakan tugas-tugas yang aktif dalam peranan mereka untuk mencerdaskan bangsa.

Guru adalah pemimpin yang bijak, mengajarkan rasa hormat terhadap sesama, nilai-nilai kerohanian, budi pekerti, sopan santun dan berbakti kepada orang tua. Tetapi guru bukanlah pemimpin seperti seorang presiden yang didukung oleh partai politik.

Guru adalah pemimpin sekaligus pahlawan pendidikan bagi anak-anak negeri. Bila seorang presiden memimpin negara, namun guru mendidik anak bangsa yang kelak akan menjadi presiden dan orang hebat lainnya. Guru akan selalu merasa bangga dan berbahagia apabila dapat membina dan mengarahkan murid-muridnya untuk menjadi insan yang berguna bagi nusa, bangsa dan agama.

Tidak pernah terlintas sebelumnya di pikiran saya untuk mengambil profesi keguruan. Namun satu hal yang menjadikan saya bangga pada anak bangsa yaitu ketika praktik mengajar di salah satu sekolah di Probolinggo. Teringat jelas semangat-semangat para siswa/siswi yang datang ke sekolah dengan segala keterbatasan. Namun, semangat belajar mereka lah yang memotivasiku untuk terus berinovasi mencerdaskan generasi bangsa dan bergelut dalam bidang pendidikan.

Guru-guruku, jasa-jasamu akan selalu terkenang dan peradaban telah menjadi saksi keberadaanmu. Apa daya negeri ini bila tidak ada pahlawan-pahlawan tanpa tanda jasa sepertimu.

*) Mahasiswa FKIP Unisma

Budaya Membaca di Sekolah

Oleh: Andreansyah Ahmad *)

Sekolah tidak hanya sebagai formalitas untuk mendapatkan gelar atau ijazah. Tetapi sekolah adalah sebuah tempat dimana individu bisa bereksplorasi dengan dunia pendidikan. Salah satu hal yang terpenting, yaitu menumbuhkan budaya membaca. Mengapa demikian, karena budaya bangsa ini telah berubah dari membaca buku ke budaya membaca status di sosial media. Tetapi bukan berarti untuk menolak kemajuan teknologi yang semakin pesat.

Membaca tidak hanya untuk menambah wawasan dan pengetahuan. Tetapi juga bisa dijadikan bahan referensi dan kajian-kajian mengenai suatu hal. Buku tidak ditulis asal-asalan, tetapi buku ditulis berdasarkan penelitian, pengalaman, kajian, fenomena sekitar, sejarah, kehidupan sosial dan lainnya. Detik demi detik terus berlalu dan kehidupan akan terus berubah tanpa mengetahui apa yang terjadi esok hari. Sehingga terkadang banyak yang menuangkan pelbagai hal yang ada dalam sebuah tulisan dan dibukukan.

“Buku ialah alat komunikasi berjangka waktu panjang dan mungkin sarana komunikasi yang paling berpengaruh pada perkembangan kebudayaan dan peradaban umat manusia. Dalam buku dipusatkan dan dikumpulkan hasil pemikiran dan pengalaman manusia daripada sarana komunikasi lainnya. Sebagai alat pendidikan, buku berpengaruh pada anak didik daripada sarana-sarana lainnya”. (Ensiklopedia Indonesia, Hal. 538-539).

Semisal tidak ada yang menulis tentang sejarah bangsa ini, mungkin kita semua tidak akan mengetahui siapa itu Soekarno, Hatta, Tan Malaka, Sjahrir dan lainnya. Tanpa adanya penelitian, kita tidak akan mengetahui rumus matematika dan fisika. Sederet contoh tersebut membuktikan bahwa membaca itu sangat penting, tidak hanya bagi siswa tapi untuk semua kalangan.

Salah satu sekolah di Kota Malang yang menerapkan budaya membaca yaitu SMA Negeri 2 Malang. Jujur saya sangat kagum dengan hal ini ketika hari pertama PPL Siswa harus berada di kelas tepat pukul 6.45 dan membaca buku selain buku pelajaran selama kurang lebih 10 menit di setiap harinya. Hal ini bermaksud untuk membiasakan siswa untuk membaca buku dan siswa yang malas membaca menjadi rajin untuk membaca. Dalam benak saya, inilah yang diharapkan oleh pendidikan di Indonesia untuk mencetak generasi-generasi emas bangsa.

Melalui budaya membaca di sekolah bisa menjadi awal yang baik untuk generasi-generasi bangsa untuk tetap mebaca buku di dalam maupun luar sekolah.

*) Mahasiswa FKIP Unisma

‘Hantu’ Itu Bernama Pokemon Go

‘Hantu’ Itu Bernama Pokemon Go
‘Hantu’ Itu Bernama Pokemon Go

Oleh: Amran Umar *)

MALANGVOICE-Demam Pokemon Go begitu menggemparkan jagat raya. Semua kalangan, mulai anak-anak, orang dewasa dengan latar belakang pekerjaan berbeda-beda, mulai pejabat publik, artis, pemain sepakbola, termasuk ada rumah sakit (RS) di Amerika yang memanfaatkan Pokemon Go sebagai alat untuk melakukan terapi fisikpasienya.

RS anak CS Mott, di University of Michigan Health System (UMHS) itu, memakai Pokemon Go untuk memicu anak-anak bergerak meninggalkan tempat tidurnya, dan meringankan perasaan tertekan karena ada di rumah sakit. Yang pasti, seluruh dunia saat ini dihebohkan game ‘hantu’ bernama Pokemon Go.

Apa itu Pokemon Go?

Mungkin sebagian dari kita sudah mengenal apa itu Pokemon? terlebih yang lahir di tahun 90-an. Pokemon merupakan anime yang menggunakan binatang sebagai petarungnya. “Secara definisi, Pokemon adalah berbagai jenis makhluk hidup dalam berbagai bentuk dan ukuran yang hidup di alam liar. Dan kebanyakan dari Pokemon itu tak dapat berbicara, kecuali bersuara menyebut namanya sendiri.” (Source: www.pokemon.com/us/parents- guide/). Berikut Cara Bermain Pokemon Go di perangkat Android dan iOS atau iPhone.

Karena itu saya katakan, game ini ibarat hantu di kalangan penggunanya yang selalu penasaran akan isinya. Pokemon adalah permainan di mana manusia dapat menangkap hewan liar yang nantinya dapat dijadikan peliharaan, dengan menggunakan kandang berbentuk seperti bola warna putih dan merah. Pokemon Go dirilis oleh Nintendo, mengambil latar dunia nyata sebagai tempat para pemain atau disebut ‘trainer’ untuk memulai petualangannya.

Kontroversi Pokemon Go

Baru-baru ini Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, Yuddy Chrisnandi, mengeluarkan surat edaran yang bisa dikatakan sangat lucu. Betapa tidak, seorang menteri mengeluarkan surat resmi hanya untuk melarang pejabat publik bermain Pokemon Go.

Tapi, kalau dilihat dari sisi lain, ini hal wajar, mengingat banyak kalangan PNS di negeri ini yang demam akan game ini, sehingga benar apa yang dilakukan pak menteri,karena yang ditakutkan kinerja PNS tidak maksimal, karena sibuk dengan game baru ini.

Lain lagi yang dilakukan Menteri  Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Yohana, yang akan melakukan kajian terkait dampak dari permainan Pokemon Go, khususnya di kalangan anak dan remaja.

Berbagai upaya yang dilakukan pemerintah di atas patut kita apresiasi dan kita jangan mengesampingkan bahwa perkembangan teknologi, terutama game, akhir-akhir ini sangat luar biasa pesat, dan dalam hal ini kita patut mengapresiasi upaya pembuat game, karena inovasi kreatif untuk mengikuti perkembangan teknologi, seperti disampaiakan Luhut Binsar Panjaitan di salah satu media online.

“Sekarang teknologi berkembang sangat cepat. Kemarin kita lihat Uber, Gojek, sekarang ada Pokemon. Nanti kita tidak tahu, besok ada apa lagi,” kata Luhut. Maka kitatak bisa menghindar dari hal-hal yang berbau teknologi, karena ini sudah zamannya.

Hal yang perlu kita lakukan adalah bagaimana mengatur waktu agar tidak ketergantungan pada game, terutama anak-anak, agar tidak mengganggu waktu belajarnya. Bagi yang bekerja tidak mengganggu aktitas kerjanya, dan bagi yang sudah berkeluarga, bagaimana caranya agar tidak selalu bersama Pokemon Go, tapi keluarga harus yang utama dari sekedar game.

Peranan orang tua dan guru dalam hal ini sangat urgen, mengingat sasaran dari game ini anak-anak sekolahan. Ingat, Pokemon Go selalu menghantui masa depan anak-anak. Memang kita tidak memungkiri game ini bukan hanya memiliki dampak negatif, tapi juga positif, seperti yang dilakukan di rumah sakit Amerika Serikat itu.

Maka dari itu, kita harus mampu mengatur dan menggunakan waktu sebaik mungkin ke depanya, demi masa depan kita, masa depan anak kita dan dan keluarga kita.

*) Mahasiswa Fakultas Teknik, Ketua PMII Unisma 2015/2016

Kelompok 62 dan 63 Mahasiswa UMM KKN di Negeri Kahyangan

Upacara KKN Kelompok 62

Oleh: Wahyu Fitri Aningtyas *)

MALANGVOICE-Kuliah Kerja Nyata (KKN) mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kali ini begitu istimewa. Kedatangan para mahasiswa di lokasi KKN, Ngadas Negeri Kahyangan Desa Budaya, Poncokusumo, Kabupaten Malang, disambut dengan atmosfer welcome warga setempat.

Berbeda dengan kelompok lainnya, KKN di Desa Ngadas ini melibatkan dua kelompok KKN, yaitu Kelompok 62 dan 63, karena ada dua sasaran program kerja yang harus dilaksanakan, budaya dan pariwisata.

Kedua kelompok KKN itu berangkat secara bergantian pada Selasa (20/6) lalu. Kelompok 62 datang terlebih dulu sekitar jam 09.00, disusul kedatangan kelompok 63 pada jam 14.00.

Upacara pensucian kelompok 63 oleh Ngartono
Upacara pensucian kelompok 63 oleh Ngartono

Kehadiran kedua kelompok ini disambut upacara adat khas Desa Ngadas, yakni upacara pensucian, yang bertujuan meminta izin, karena akan melakukan kegiatan di tempat itu selama satu bulan ke depan.

“Satu bulan itu kan tidak sebentar dan kalian juga melakukan banyak kegiatan, jadi kalian harus disucikan dulu, supaya tidak terjadi apa-apa. Di sini memang banyak aturan, karena budaya dan adat istiadatnya masih kental, jadi tolong berhati-hati,” tutur Timbul, selaku wakil tuan rumah Lembaga Pariwisata Desa Ngadas.

Upacara dibuka dengan pemakaian baju adat Ngadas secara simbolik oleh empat mahasiswa perwakilan dari masing-masing kelompok. Upacara pun dilakukan dua kali, karena waktu kedatangan kelompok yang berbeda.

Upacara pensucian pertama dilakukan Kelompok 62, tepat di Gapura masuk Desa Ngadas, dipimpin Kepala Kelurahan Desa Ngadas. Sedangkan Kelompok 63 melakukan upacara pensucian dipimpin Ngartono, salah satu tokoh setempat, bersama pengurus desa lainnya, bertempat di Balai Desa Ngadas.

Sambutan hangat juga disampaikan Sujak, selaku tuan rumah Ketua Lembaga Pariwista Desa Ngadas.

“Nggak usah sungkan di sini, kita satu saudara satu darah merah yang sama, jadi jangan lupa saling bertegur sapa sama siapa aja,” pinta Sujak.

Sementara pembina Kelompok 62 dan 63, Wiyono, yang juga Dosen Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Muhammadiyah Malang, menjelaskan, tujuan kelompok KKN di sini adalah bentuk pengabdian mahasiswa pada masyarakat.

*) Humas KKN 63 Universitas Muhammadiyah Malang

Gadis Kecil yang Hebat Itu Bernama Santana…

Gadis Kecil yang Hebat Itu Bernama Santana…
Gadis Kecil yang Hebat Itu Bernama Santana…

Oleh: Rudi Sandjaya

MALANGVOICE-Seorang gadis kecil terlihat tengah berteriak, sembari memegang buku di tangan kiri, dan sebuah pensil di tangan kanannya. Dia duduk sambil membetulkan lampu kecilnya yang sudah hampir redup. Dengan suara sedikit serak, dia berteriak mengajak siapap saja membeli dagangannya, malam itu. Parkiran Mall Olympic Garden (MOG) yang tak pernah sepi menjadi tempat pilihannya untuk menjajakan dagangannya.

Gadis itu tidak memperdulikan dinginnya udara malam, dia tetap saja berteriak dengan suara khasnya, membujuk setiap manusia didepannya agar mendekat dan membeli dagangannya.

Dia tidak berharap lebih, hanya ingin barang jualannya cepat habis dan dia bisa beristirahat untuk kegiatan esok hari. Waktu itu jarum jam menunjuk pukul 10 malam, pengunjung mall pun sudah sepi, parkiran tempatnya menjajakan jualan juga mulai sepi. Tapi, di tengah remangnya lampu yang ia bawa, muka bahagia Santana seakan menyeruak ke permukaan. Dia Girang, karena akhirnya dagangan yang ia jajakan habis tak tersisa.

Namanya Santana, gadis kecil berumur 10 tahun, putri pasangan Agus dan Eni. Santana tercatat sebagai siswi dari SDN 3 Banjarejo, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang.

Kesehariannya tidak sama dengan teman-temannya kebanyakan. Pada pagi hari, dia menjalani kewajibannya sebagai siswi sekolah dasar. Tetapi saat malam tiba, dia juga tak seperti teman-temannya yang bisa berkumpul sambil tertawa dengan keluarga. Dia justru berjualan, menjajakan jajanan pasar di kawasan MOG Kota Malang.

Apa yang dilakukan Santana ternyata bukan suruhan orang tua, justru dia sendiri yang menginginkan itu. Dia belajar berjualan seperti itu dari kakaknya,Richard. Dulu kakaknya juga sama seperti dia, disaat teman seumurannya asik dengan keluarga, dia justru bekerja keras membantu orang tua.

Richard sengaja mengajak adiknya yang paling kecil ini untuk berjualan, karena Santana memang ingin. Sang kakak dulu berjualan barang yang sama dengan dijajakan Santana, jajanan khas pasar seperti risoles, bolu, dan masih banyak lagi.

Mulai dari situlah Santana kecil ingin menjadi kakaknya, yang bisa menambah uang jajan tanpa harus merengek pada orang tua.

Saat ditemui, Santana bercerita, dia melakukan itu tanpa paksaan. Dan dia sangat senang melakukanya. Tujuannya berjualan, hanya untuk membantu orang tua dan ingin menambah uang jajannya sendiri.

“Aku senang jualan. Pertama kali aku jualan diajak sama kakak. Akhirnya aku juga pengen kaya kakak yang bisa bantu ibu dan bisa punya uang jajan sendiri. Akhirnya aku juga ikutan jualan seperti kakak,” tutur gadis kecil itu, polos.

Santana kecil tak ingin pilihannya menjadi beban baginya, karena itu dia sebisa mungkin pada malam hari, saat berjualan, dia menyempatkan sedikit waktu untuk sekadar membuat tugas atau belajar, mengulang kembali pelajaran yang sudah diterima di sekolah, pagi harinya. Dia tidak akan pernah melupakan tugasnya sebagai siswi, meski berjualan hingga jam 10 malam. Dia tidak ketinggalan untuk tetap belajar dan mengerjakan tugas.

Meskipun malam hari berjualan dan pulang sudah larut, Santana tak putus semangat dengan prestasinya. Dia bahkan sering memenangkan lomba menggambar dan menyanyi di sekolah. Ya, santana kecil memang bercita-cita menjadi penyanyi, dia ingin, kelak suatu hari menjadi penyanyi handal yang bisa membanggakan orang tuanya.

Sementara itu, saat ditemui, kedua orang tua Santana tidak menampik bahwa keinginan berjualan itu datang dari anak bungsunya sendiri. Orang tua tidak melarang Santana berjualan, dengan catatan, dia harus pandai membagi waktu antara istirahat dengan bermain.

Agus, sanag ayah, sangat bangga dengan Santana. Dia merasa Santana bisa sukses seperti kakaknya, Richard. Sekarang Richard menjadi mahasiswa salah satu universitas di Malang, dan tengah magang di sebuah hotel berbintang di Malang.

Agus berharap Santana kecil bisa menggapai cita-citanya tanpa harus terhambat dengan ekonomi keluarga. Sebenarnya Agus juga tak tega membiarkan buah hatinya keluar malam hari dan terkena dinginnya udara malam. Tapi itu keinginan Santana sendiri.

Santana memang ingin membahagiakan orang tuanya, dia sangat ingin menjadi seperti kakaknya yang sukses. Mungkin itu yang menjadi motivasi bagi Santana agar tetap belajar, meski dia harus berjualan di malam hari.

Santana sendiri dikenal sebagai murid yang pintar dan periang di sekolahnya. Dia memiliki banyak teman. Meski begitu, Santana tak pernah malu dengan teman-temannya, karena berjualan di malam hari.

Menurut dia, dalam hal ini tak perlu malu, karena itu usaha dia untuk membantu orang tua. Dia juga tak pernah iri pada teman-temannya yangberkecukupan. Dia malah bangga dengan keadaannya sekarang, bisa membantu orang tua di umur yang sangat muda, serta sudah bisa menjadi pribadi yang mandiri.

Memahami Santana, sesungguhnya mengajarkan pada kita tentang arti bakti seorang anak kepada orang tua. Dia juga mengajarkan pada kita tentang semangat untuk tetap berusaha bagaimanapun sulitnya keadaan kita.

Semangat yang diajarkan Santana inilah yang harus dicontoh. Meski dia mempunyai banyak kegiatan, tetapi dia tidak lupa kewajiban utamanya sebagai pelajar. Semangat untuk membantu orang tua juga harus dicontoh. Santana mempunyai harapan kecil di hatinya, yakni melihat orang tuanya bahagia. Itu sudah cukup baginya.

*) Mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP UB, 2015