Guru itu Memimpin dan Mendidik

Oleh: Andreansyah Ahmad *)

Cita-cita luhur yang terkandung dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, “Mencerdaskan kehidupan bangsa serta mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia,” memberikan tempat utama terhadap peranan pendidikan di negeri ini. Berbicara tentang pendidikan, tentunya kita tidak dapat melupakan salah satu unsur pokok dalam pendidikan yaitu guru.

Pada hakikatnya pendidikan mempunyai tujuan yang hakiki, yaitu menyadarkan manusia untuk mengenal dirinya, bahwasanya manusia adalah subyek, bukan obyek. Peran pendidikan sangatlah mendasar dan kita semua memahami bahwa peranan guru sangatlah penting.

Guru adalah profesi paling mulia di antara profesi lain, karena sejatinya tugas seorang guru tidak hanya mengajar materi pelajaran, tetapi juga mendidik anak didik mereka dengan penuh rasa tanggung jawab. Guru adalah guru, dan selamanya menjadi guru tanpa ada sebutan mantan guru hingga sampai akhir hayatnya. Guru adalah orang tua kedua bagi peserta didik di sekolah.

Para presiden, menteri, gubernur, walikota, dan lainnya, tidak akan pernah bisa menduduki jabatan itu tanpa peran seorang guru. Guru hanya bisa tersenyum bahagia ketika melihat anak didik mereka menjadi orang yang hebat dan sukses tanpa mengharapkan balasan.

Jasa guru sesungguhnya tak dapat dinilai dengan materi atau kebendaan. Mereka adalah pahlawan-pahlawan tanpa tanda jasa. Guru mungkin melupakan muridnya, sekalipun tidak pernah melupakan tugas. Namun tidak seorang murid pun dapat melupakan gurunya.

Dari zaman ke zaman telah kita ketahui bersama jasa guru dalam usaha-usaha membina anak-anak didik mereka agar dapat mandiri di masa depan. Guru telah melaksanakan tugas-tugas yang aktif dalam peranan mereka untuk mencerdaskan bangsa.

Guru adalah pemimpin yang bijak, mengajarkan rasa hormat terhadap sesama, nilai-nilai kerohanian, budi pekerti, sopan santun dan berbakti kepada orang tua. Tetapi guru bukanlah pemimpin seperti seorang presiden yang didukung oleh partai politik.

Guru adalah pemimpin sekaligus pahlawan pendidikan bagi anak-anak negeri. Bila seorang presiden memimpin negara, namun guru mendidik anak bangsa yang kelak akan menjadi presiden dan orang hebat lainnya. Guru akan selalu merasa bangga dan berbahagia apabila dapat membina dan mengarahkan murid-muridnya untuk menjadi insan yang berguna bagi nusa, bangsa dan agama.

Tidak pernah terlintas sebelumnya di pikiran saya untuk mengambil profesi keguruan. Namun satu hal yang menjadikan saya bangga pada anak bangsa yaitu ketika praktik mengajar di salah satu sekolah di Probolinggo. Teringat jelas semangat-semangat para siswa/siswi yang datang ke sekolah dengan segala keterbatasan. Namun, semangat belajar mereka lah yang memotivasiku untuk terus berinovasi mencerdaskan generasi bangsa dan bergelut dalam bidang pendidikan.

Guru-guruku, jasa-jasamu akan selalu terkenang dan peradaban telah menjadi saksi keberadaanmu. Apa daya negeri ini bila tidak ada pahlawan-pahlawan tanpa tanda jasa sepertimu.

*) Mahasiswa FKIP Unisma

Budaya Membaca di Sekolah

Oleh: Andreansyah Ahmad *)

Sekolah tidak hanya sebagai formalitas untuk mendapatkan gelar atau ijazah. Tetapi sekolah adalah sebuah tempat dimana individu bisa bereksplorasi dengan dunia pendidikan. Salah satu hal yang terpenting, yaitu menumbuhkan budaya membaca. Mengapa demikian, karena budaya bangsa ini telah berubah dari membaca buku ke budaya membaca status di sosial media. Tetapi bukan berarti untuk menolak kemajuan teknologi yang semakin pesat.

Membaca tidak hanya untuk menambah wawasan dan pengetahuan. Tetapi juga bisa dijadikan bahan referensi dan kajian-kajian mengenai suatu hal. Buku tidak ditulis asal-asalan, tetapi buku ditulis berdasarkan penelitian, pengalaman, kajian, fenomena sekitar, sejarah, kehidupan sosial dan lainnya. Detik demi detik terus berlalu dan kehidupan akan terus berubah tanpa mengetahui apa yang terjadi esok hari. Sehingga terkadang banyak yang menuangkan pelbagai hal yang ada dalam sebuah tulisan dan dibukukan.

“Buku ialah alat komunikasi berjangka waktu panjang dan mungkin sarana komunikasi yang paling berpengaruh pada perkembangan kebudayaan dan peradaban umat manusia. Dalam buku dipusatkan dan dikumpulkan hasil pemikiran dan pengalaman manusia daripada sarana komunikasi lainnya. Sebagai alat pendidikan, buku berpengaruh pada anak didik daripada sarana-sarana lainnya”. (Ensiklopedia Indonesia, Hal. 538-539).

Semisal tidak ada yang menulis tentang sejarah bangsa ini, mungkin kita semua tidak akan mengetahui siapa itu Soekarno, Hatta, Tan Malaka, Sjahrir dan lainnya. Tanpa adanya penelitian, kita tidak akan mengetahui rumus matematika dan fisika. Sederet contoh tersebut membuktikan bahwa membaca itu sangat penting, tidak hanya bagi siswa tapi untuk semua kalangan.

Salah satu sekolah di Kota Malang yang menerapkan budaya membaca yaitu SMA Negeri 2 Malang. Jujur saya sangat kagum dengan hal ini ketika hari pertama PPL Siswa harus berada di kelas tepat pukul 6.45 dan membaca buku selain buku pelajaran selama kurang lebih 10 menit di setiap harinya. Hal ini bermaksud untuk membiasakan siswa untuk membaca buku dan siswa yang malas membaca menjadi rajin untuk membaca. Dalam benak saya, inilah yang diharapkan oleh pendidikan di Indonesia untuk mencetak generasi-generasi emas bangsa.

Melalui budaya membaca di sekolah bisa menjadi awal yang baik untuk generasi-generasi bangsa untuk tetap mebaca buku di dalam maupun luar sekolah.

*) Mahasiswa FKIP Unisma

‘Hantu’ Itu Bernama Pokemon Go

‘Hantu’ Itu Bernama Pokemon Go
‘Hantu’ Itu Bernama Pokemon Go

Oleh: Amran Umar *)

MALANGVOICE-Demam Pokemon Go begitu menggemparkan jagat raya. Semua kalangan, mulai anak-anak, orang dewasa dengan latar belakang pekerjaan berbeda-beda, mulai pejabat publik, artis, pemain sepakbola, termasuk ada rumah sakit (RS) di Amerika yang memanfaatkan Pokemon Go sebagai alat untuk melakukan terapi fisikpasienya.

RS anak CS Mott, di University of Michigan Health System (UMHS) itu, memakai Pokemon Go untuk memicu anak-anak bergerak meninggalkan tempat tidurnya, dan meringankan perasaan tertekan karena ada di rumah sakit. Yang pasti, seluruh dunia saat ini dihebohkan game ‘hantu’ bernama Pokemon Go.

Apa itu Pokemon Go?

Mungkin sebagian dari kita sudah mengenal apa itu Pokemon? terlebih yang lahir di tahun 90-an. Pokemon merupakan anime yang menggunakan binatang sebagai petarungnya. “Secara definisi, Pokemon adalah berbagai jenis makhluk hidup dalam berbagai bentuk dan ukuran yang hidup di alam liar. Dan kebanyakan dari Pokemon itu tak dapat berbicara, kecuali bersuara menyebut namanya sendiri.” (Source: www.pokemon.com/us/parents- guide/). Berikut Cara Bermain Pokemon Go di perangkat Android dan iOS atau iPhone.

Karena itu saya katakan, game ini ibarat hantu di kalangan penggunanya yang selalu penasaran akan isinya. Pokemon adalah permainan di mana manusia dapat menangkap hewan liar yang nantinya dapat dijadikan peliharaan, dengan menggunakan kandang berbentuk seperti bola warna putih dan merah. Pokemon Go dirilis oleh Nintendo, mengambil latar dunia nyata sebagai tempat para pemain atau disebut ‘trainer’ untuk memulai petualangannya.

Kontroversi Pokemon Go

Baru-baru ini Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, Yuddy Chrisnandi, mengeluarkan surat edaran yang bisa dikatakan sangat lucu. Betapa tidak, seorang menteri mengeluarkan surat resmi hanya untuk melarang pejabat publik bermain Pokemon Go.

Tapi, kalau dilihat dari sisi lain, ini hal wajar, mengingat banyak kalangan PNS di negeri ini yang demam akan game ini, sehingga benar apa yang dilakukan pak menteri,karena yang ditakutkan kinerja PNS tidak maksimal, karena sibuk dengan game baru ini.

Lain lagi yang dilakukan Menteri  Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Yohana, yang akan melakukan kajian terkait dampak dari permainan Pokemon Go, khususnya di kalangan anak dan remaja.

Berbagai upaya yang dilakukan pemerintah di atas patut kita apresiasi dan kita jangan mengesampingkan bahwa perkembangan teknologi, terutama game, akhir-akhir ini sangat luar biasa pesat, dan dalam hal ini kita patut mengapresiasi upaya pembuat game, karena inovasi kreatif untuk mengikuti perkembangan teknologi, seperti disampaiakan Luhut Binsar Panjaitan di salah satu media online.

“Sekarang teknologi berkembang sangat cepat. Kemarin kita lihat Uber, Gojek, sekarang ada Pokemon. Nanti kita tidak tahu, besok ada apa lagi,” kata Luhut. Maka kitatak bisa menghindar dari hal-hal yang berbau teknologi, karena ini sudah zamannya.

Hal yang perlu kita lakukan adalah bagaimana mengatur waktu agar tidak ketergantungan pada game, terutama anak-anak, agar tidak mengganggu waktu belajarnya. Bagi yang bekerja tidak mengganggu aktitas kerjanya, dan bagi yang sudah berkeluarga, bagaimana caranya agar tidak selalu bersama Pokemon Go, tapi keluarga harus yang utama dari sekedar game.

Peranan orang tua dan guru dalam hal ini sangat urgen, mengingat sasaran dari game ini anak-anak sekolahan. Ingat, Pokemon Go selalu menghantui masa depan anak-anak. Memang kita tidak memungkiri game ini bukan hanya memiliki dampak negatif, tapi juga positif, seperti yang dilakukan di rumah sakit Amerika Serikat itu.

Maka dari itu, kita harus mampu mengatur dan menggunakan waktu sebaik mungkin ke depanya, demi masa depan kita, masa depan anak kita dan dan keluarga kita.

*) Mahasiswa Fakultas Teknik, Ketua PMII Unisma 2015/2016

Kelompok 62 dan 63 Mahasiswa UMM KKN di Negeri Kahyangan

Upacara KKN Kelompok 62

Oleh: Wahyu Fitri Aningtyas *)

MALANGVOICE-Kuliah Kerja Nyata (KKN) mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kali ini begitu istimewa. Kedatangan para mahasiswa di lokasi KKN, Ngadas Negeri Kahyangan Desa Budaya, Poncokusumo, Kabupaten Malang, disambut dengan atmosfer welcome warga setempat.

Berbeda dengan kelompok lainnya, KKN di Desa Ngadas ini melibatkan dua kelompok KKN, yaitu Kelompok 62 dan 63, karena ada dua sasaran program kerja yang harus dilaksanakan, budaya dan pariwisata.

Kedua kelompok KKN itu berangkat secara bergantian pada Selasa (20/6) lalu. Kelompok 62 datang terlebih dulu sekitar jam 09.00, disusul kedatangan kelompok 63 pada jam 14.00.

Upacara pensucian kelompok 63 oleh Ngartono
Upacara pensucian kelompok 63 oleh Ngartono

Kehadiran kedua kelompok ini disambut upacara adat khas Desa Ngadas, yakni upacara pensucian, yang bertujuan meminta izin, karena akan melakukan kegiatan di tempat itu selama satu bulan ke depan.

“Satu bulan itu kan tidak sebentar dan kalian juga melakukan banyak kegiatan, jadi kalian harus disucikan dulu, supaya tidak terjadi apa-apa. Di sini memang banyak aturan, karena budaya dan adat istiadatnya masih kental, jadi tolong berhati-hati,” tutur Timbul, selaku wakil tuan rumah Lembaga Pariwisata Desa Ngadas.

Upacara dibuka dengan pemakaian baju adat Ngadas secara simbolik oleh empat mahasiswa perwakilan dari masing-masing kelompok. Upacara pun dilakukan dua kali, karena waktu kedatangan kelompok yang berbeda.

Upacara pensucian pertama dilakukan Kelompok 62, tepat di Gapura masuk Desa Ngadas, dipimpin Kepala Kelurahan Desa Ngadas. Sedangkan Kelompok 63 melakukan upacara pensucian dipimpin Ngartono, salah satu tokoh setempat, bersama pengurus desa lainnya, bertempat di Balai Desa Ngadas.

Sambutan hangat juga disampaikan Sujak, selaku tuan rumah Ketua Lembaga Pariwista Desa Ngadas.

“Nggak usah sungkan di sini, kita satu saudara satu darah merah yang sama, jadi jangan lupa saling bertegur sapa sama siapa aja,” pinta Sujak.

Sementara pembina Kelompok 62 dan 63, Wiyono, yang juga Dosen Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Muhammadiyah Malang, menjelaskan, tujuan kelompok KKN di sini adalah bentuk pengabdian mahasiswa pada masyarakat.

*) Humas KKN 63 Universitas Muhammadiyah Malang

Gadis Kecil yang Hebat Itu Bernama Santana…

Gadis Kecil yang Hebat Itu Bernama Santana…
Gadis Kecil yang Hebat Itu Bernama Santana…

Oleh: Rudi Sandjaya

MALANGVOICE-Seorang gadis kecil terlihat tengah berteriak, sembari memegang buku di tangan kiri, dan sebuah pensil di tangan kanannya. Dia duduk sambil membetulkan lampu kecilnya yang sudah hampir redup. Dengan suara sedikit serak, dia berteriak mengajak siapap saja membeli dagangannya, malam itu. Parkiran Mall Olympic Garden (MOG) yang tak pernah sepi menjadi tempat pilihannya untuk menjajakan dagangannya.

Gadis itu tidak memperdulikan dinginnya udara malam, dia tetap saja berteriak dengan suara khasnya, membujuk setiap manusia didepannya agar mendekat dan membeli dagangannya.

Dia tidak berharap lebih, hanya ingin barang jualannya cepat habis dan dia bisa beristirahat untuk kegiatan esok hari. Waktu itu jarum jam menunjuk pukul 10 malam, pengunjung mall pun sudah sepi, parkiran tempatnya menjajakan jualan juga mulai sepi. Tapi, di tengah remangnya lampu yang ia bawa, muka bahagia Santana seakan menyeruak ke permukaan. Dia Girang, karena akhirnya dagangan yang ia jajakan habis tak tersisa.

Namanya Santana, gadis kecil berumur 10 tahun, putri pasangan Agus dan Eni. Santana tercatat sebagai siswi dari SDN 3 Banjarejo, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang.

Kesehariannya tidak sama dengan teman-temannya kebanyakan. Pada pagi hari, dia menjalani kewajibannya sebagai siswi sekolah dasar. Tetapi saat malam tiba, dia juga tak seperti teman-temannya yang bisa berkumpul sambil tertawa dengan keluarga. Dia justru berjualan, menjajakan jajanan pasar di kawasan MOG Kota Malang.

Apa yang dilakukan Santana ternyata bukan suruhan orang tua, justru dia sendiri yang menginginkan itu. Dia belajar berjualan seperti itu dari kakaknya,Richard. Dulu kakaknya juga sama seperti dia, disaat teman seumurannya asik dengan keluarga, dia justru bekerja keras membantu orang tua.

Richard sengaja mengajak adiknya yang paling kecil ini untuk berjualan, karena Santana memang ingin. Sang kakak dulu berjualan barang yang sama dengan dijajakan Santana, jajanan khas pasar seperti risoles, bolu, dan masih banyak lagi.

Mulai dari situlah Santana kecil ingin menjadi kakaknya, yang bisa menambah uang jajan tanpa harus merengek pada orang tua.

Saat ditemui, Santana bercerita, dia melakukan itu tanpa paksaan. Dan dia sangat senang melakukanya. Tujuannya berjualan, hanya untuk membantu orang tua dan ingin menambah uang jajannya sendiri.

“Aku senang jualan. Pertama kali aku jualan diajak sama kakak. Akhirnya aku juga pengen kaya kakak yang bisa bantu ibu dan bisa punya uang jajan sendiri. Akhirnya aku juga ikutan jualan seperti kakak,” tutur gadis kecil itu, polos.

Santana kecil tak ingin pilihannya menjadi beban baginya, karena itu dia sebisa mungkin pada malam hari, saat berjualan, dia menyempatkan sedikit waktu untuk sekadar membuat tugas atau belajar, mengulang kembali pelajaran yang sudah diterima di sekolah, pagi harinya. Dia tidak akan pernah melupakan tugasnya sebagai siswi, meski berjualan hingga jam 10 malam. Dia tidak ketinggalan untuk tetap belajar dan mengerjakan tugas.

Meskipun malam hari berjualan dan pulang sudah larut, Santana tak putus semangat dengan prestasinya. Dia bahkan sering memenangkan lomba menggambar dan menyanyi di sekolah. Ya, santana kecil memang bercita-cita menjadi penyanyi, dia ingin, kelak suatu hari menjadi penyanyi handal yang bisa membanggakan orang tuanya.

Sementara itu, saat ditemui, kedua orang tua Santana tidak menampik bahwa keinginan berjualan itu datang dari anak bungsunya sendiri. Orang tua tidak melarang Santana berjualan, dengan catatan, dia harus pandai membagi waktu antara istirahat dengan bermain.

Agus, sanag ayah, sangat bangga dengan Santana. Dia merasa Santana bisa sukses seperti kakaknya, Richard. Sekarang Richard menjadi mahasiswa salah satu universitas di Malang, dan tengah magang di sebuah hotel berbintang di Malang.

Agus berharap Santana kecil bisa menggapai cita-citanya tanpa harus terhambat dengan ekonomi keluarga. Sebenarnya Agus juga tak tega membiarkan buah hatinya keluar malam hari dan terkena dinginnya udara malam. Tapi itu keinginan Santana sendiri.

Santana memang ingin membahagiakan orang tuanya, dia sangat ingin menjadi seperti kakaknya yang sukses. Mungkin itu yang menjadi motivasi bagi Santana agar tetap belajar, meski dia harus berjualan di malam hari.

Santana sendiri dikenal sebagai murid yang pintar dan periang di sekolahnya. Dia memiliki banyak teman. Meski begitu, Santana tak pernah malu dengan teman-temannya, karena berjualan di malam hari.

Menurut dia, dalam hal ini tak perlu malu, karena itu usaha dia untuk membantu orang tua. Dia juga tak pernah iri pada teman-temannya yangberkecukupan. Dia malah bangga dengan keadaannya sekarang, bisa membantu orang tua di umur yang sangat muda, serta sudah bisa menjadi pribadi yang mandiri.

Memahami Santana, sesungguhnya mengajarkan pada kita tentang arti bakti seorang anak kepada orang tua. Dia juga mengajarkan pada kita tentang semangat untuk tetap berusaha bagaimanapun sulitnya keadaan kita.

Semangat yang diajarkan Santana inilah yang harus dicontoh. Meski dia mempunyai banyak kegiatan, tetapi dia tidak lupa kewajiban utamanya sebagai pelajar. Semangat untuk membantu orang tua juga harus dicontoh. Santana mempunyai harapan kecil di hatinya, yakni melihat orang tuanya bahagia. Itu sudah cukup baginya.

*) Mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP UB, 2015

Indonesia Darurat Narkoba!

Andreansyah Ahmad *)

Narkoba semakin menjadi perbincangan publik tahun-tahun belakangan ini. Bagaimana tidak, Narkoba seakan sudah menjadi tren bagi mereka yang mengedepankan gengsi. Berjuta kasus berkaitan dengan narkoba telah menimpa berbagai kalagan, mulai pejabat, artis, aparat, pelajar, hingga anak-anak di desa.

Bila dahulu narkoba menjadi permasalahan di kota-kota besar, sekarang mulai merambah ke pedesaan. Sungguh miris sekali melihat kondisi bangsa di 2016 ini.

Ekses negatif globalisasi telah membawa dampak besar bagi bangsa Indonesia. Narkoba telah mengancam masa depan generasi muda. Fakta di lapangan membuktikan, banyak anak usia SD telah menggunakan barang haram itu.

Silahkan dibuktikan di lapangan bila Anda masih meragukan ini. Narkotika yang banyak dikonsumsi kalangan pelajar berjenis double L dan pil dextro. Hal semacam itu jelas mengancam masa depan anak bangsa. Bayangkan saja, usia SD saja sudah berani bermain dengan narkoba, apalagi ketika dewasa nanti.

Di kalangan pelajar SMP dan SMA malah sangat parah. Narkoba malah menjadi ajang gengsi para pelajar. Saat jam istirahat tiba, para pelajar secara sembunyi-sembunyi mengonsumsi narkoba di toilet sekolah.

Percaya atau tidak, inilah fakta yang terjadi di lapangan. Sekolah yang seharusnya menjadi tempat menimba ilmu, malah disalahgunakan sebagai tempat para pecandu. Ini adalah bukti lemahnya pengawasan guru-guru di sekolah.

Kasus ini juga bisa terjadi karena lemahnya pengawasan orang tua terhadap anak. Orang tua yang seharusnya berperan penting mendidik anak, malah terkesan membiarkan anak-anak mereka bergaul di lingkungan yang salah. Perlu kiranya orang tua bersama guru di sekolah lebih ketat lagi dalam mendidik dan mengawasi anak. Agar hal-hal yang tidak diinginkan tidak terjadi.

Lemahnya pengetahuan tentang agama juga menjadi penyebab. Tentu hal ini didukung faktor lingkungan di mana anak berada. Agama sangat berperan penting membentuk kepribadian dan karakter anak. Karena itu, ajari anak anda pengetahuan agama sejak dini. Pemerintah juga harus lebih giat lagi untuk mensosialisasikan bahaya narkoba mulai dari kalangan pelajar hingga masyarakat awam.

Selamatkanlah generasi bangsa dari bahaya narkoba. Jangan biarkan narkoba mengancam masa depan anak bangsa. Masyarakat di seluruh Indonesia harus mengatakan tidak pada narkoba. Jangan sampai Indonesia hancur dan menjadi bangsa yang bodoh hanya karena narkoba. Mari kita berantas narkoba demi kesejahteraan bangsa.

*) PMII Rayon Al-Kindi, Komisariat Unisma

70 Tahun, Pancasila Terbukti Mempersatukan

70 Tahun, Pancasila Terbukti Mempersatukan
70 Tahun, Pancasila Terbukti Mempersatukan

Pada 29 April 1945 Jepang memberi janji kemerdekaan yang kedua kepada bangsa Indonesia, yaitu janji kemerdekaan tanpa syarat yang dituangkan dalam Maklumat Gunseikan (Pembesar Tertinggi Sipil dari Pemerintah Militer Jepang di Jawa dan Madura).

Dalam maklumat itu sekaligus dimuat dasar pembentukan Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). Tugas badan ini adalah menyelidiki dan mengumpulkan usul-usul untuk selanjutnya dikemukakan kepada pemerintah Jepang untuk dapat dipertimbangkan bagi kemerdekaan Indonesia.

Keanggotaan badan ini dilantik pada 28 Mei 1945, dan mengadakan sidang pertama pada 29 Mei s/d 01 Juni 1945. Dalam sidang pertama yang dibicarakan khusus mengenai dasar negara untuk Indonesia merdeka nanti. Dua Tokoh membahas dan mengusulkan dasar Negara, yaitu Muhammad Yamin dan Ir Soekarno. (Sumber: Junaidi Farhan).

Demikianlah pertama kali perumusan Pancasila yang sekarang oleh Presiden Joko Widodo dijadikan dasar untuk menetapkan 1Juni sebagai hari lahir Pancasila.

Pancasila mampu bertahan hingga eksis dan terbukti selama 70 tahun sebagai pemersatu bangsa, tidak hanya sebagai doktrinitas, dogmatis, kepada generasi sekarang, tetapi juga harus tetap dijaga dan dikawal sebagai dasar negara sepanjang waktu.

Permasalahan bangsa saat ini terlihat dari segelintir prilaku masyarakat yang cenderung menolak dasar negara dengan menawarkan paham-paham yang tidak relevan lagi dengan kehiduan sehari-hari rakyat Indonesia, yakni menawarkan ideologi yang berpotensi besar memecah belah bangsa, karena dalam hal memecah belah negara ini sangat cepat kalau yang dibenturkan suku, ras, agama, dan segala bentuk perbedaaan yang ada di masyarakat.

Inilah yang harus kita waspadai sebagai rakyat Indonesia, bahwa dasar negara kita Pancasila sudah berjalan dengan baik selama 70 tahun, meski penerapanya di masyarakat belum sempurna, tapi perubahan ke arah lebih baik pasti terwujud semuanya, mulai dari sila pertama hingga sila terakhir dari butir Pancasila.

Munculnya organisasi atau paham-paham tertentu, akhir-akhir ini, menandakan lemahnya negara dalam pengawasan, dan pendidikan kepada organisasi masyarakat dan justru melakukan pembiaran kepada mereka yang cenderung radikal.

Kita tahu bagaimana Gafatar mampu merekrut anggota sebanyak itu, organisasi di kampus-kampus yang masih eksis, yang bisa dikatakan sudah terbukti memperjuangkan paham tertentu, justru dibiarkan begitu saja oleh aparat. Sehingga perlu pengawan ekstra oleh aparatur negara dalam mempertahankan Negara Kesatuan Repuklik Indonesia.

Semua elemen bangsa, baik pemerintah, masyarakat serta unsur lain, harus bersatu padu dalam menghadapi tantangan yang ada, bahwasanya kita harus mampu menghadapi gerakan ekstrim kiri maupun kanan yang mengancam eksistensi dari dasar negara kita yakni Pancasila.

Caranya, membekali generasi muda kita dengan mengajarkan bahwa Pancasila merupakan dasar negara yang cocok untuk diberlakukan di negeri ini, yang mampu mempererat persatuan berbagai perbedaan, suku, agama dan ras. Mengajarkan kepada pemuda mengenai semangat nasionalisme, menjujnjung tinggi perbedaan, karena sejatinya perbedaan tidak untuk disamakan, tapi sebagai anugerah untuk bersatu padu dalam membangun bangsa ini.

Ketika semua warga negara memahami arti yang sesungguhnya dari Pancasila, saya yakin ancaman dari pihak luar tidak akan pernah ada lagi. Seperti dikatakan Ketua PBNU, KH Said Aqil Siradj, bahwasa agama tanpa rasa nasionalisme yang kuat akan menjadi kering, begitupun sebaliknya nasionalisme tanpa agama yang kuat, maka itu akan menjadi kering, sehingga posisi Pancasila sangat cocok, karena di dalamnya yang dibahas butir-butirnya yakni dari berbagai sisi, yakni nasionalisme dan agama tidak akan pernah terpisah.
*) Ketua PMII Komisariat Unisma

Lucunya Hukum di Negeriku

Lucunya Hukum di Negeriku
Lucunya Hukum di Negeriku

Oleh: Andreansyah Ahmad *)

“Hukum adalah lembah hitam, tak mencerminkan keadilan. Pengacara, juri, hakim, jaksa, masih ternilai dengan angka (uang). Hukum telah dikuasai oleh orang-orang beruang. Hukum adalah komoditas, barangnya para tersangka. Ada uang kau kan dimenangkan, tak ada uang ya say good bye. Hukum adalah permainan tuk mendapat kekuasaan. Maling-maling kecil dihakimi. Maling-maling besar dilindungi.” (Marjinal-Hukum Rimba)

Sebagai warga negara, tentunya harus patuh pada aturan hukum dan undang-undang yang berlaku. Tetapi saat ini, masyarakat telah menilai dan menyaksikan di media terkait para penegak hukum yang terkena beberapa skandal penyuapan dan korupsi.

Hal itu tentu menimbulkan pertanyaan besar di kalangan masyarakat, mengapa para penegak hukum bangsa ini justru melanggar aturan yang harusnya mereka tegakkan.  Padahal mereka orang-orang besar berpendidikan tinggi, bergelar sarjana, doktor, professor dan sebagainya. Lalu mengapa mereka melakukan itu? Ya semua itu masyarakatlah yang bisa menilai.

Bila dipandang dari sudut kemanusiaan, hukum di negeri ini memang sangat tidak adil. Karena telah terjadi diskriminasi antara kaum elit dan kaum ekonomi menengah ke bawah.

Mungkin masih teringat kasus bocah pencuri sandal, nenek pencuri kayu yang sempat menggegerkan dunia maya. Kasus seperti itu saja kok hukumannya bisa bertahun-bertahun saat putusan di pengadilan. Belum lagi kasus maling ayam, pelakunya digebuki masyarakat, dihajar polisi. Eh, padahal berapa sih harga ayam kok sampai si maling ayam digebuki hampir mati.

Beda dengan koruptor, mereka maling kelas kakap yang mencuri uang negara dan rakyat dengan permainan cantik. Saat tertangkap KPK, tidak ada satu pun yang memukulinya. Sungguh aneh, padahal besaran uang negara yang dicuri kisarannya jutaan hingga miliaran. Lucu bukan hukum di negeri ini?

Sekarang mari kita beranjak ke kasus lain, terorisme. Ketika teroris tertangkap, putusan pengadilan pasti memberikan hukuman mati. Dan negara dengan tegas memerangi teroris, lalu mengerahkan Densus 88 untuk mencari si pelaku.

Pertanyaannya, apakah negara lupa akan kematian Munir, Marsinah, Tragedi 98? Sampai sekarang kasus itu tak pernah menemukan titik terang. Siapakah yang akan bertanggung jawab mengenai persoalan HAM itu.

Kasus-kasus itu seakan terlupakan dan hilang seiring waktu yang terus berputar. Atau kasus itu sengaja dilupakan agar koloni-koloni elite yang berkepentingan masih bisa menghirup udara segar? Padahal kasus penegakkan HAM di negeri ini sangatlah penting.

Begitulah fenomena hukum di negeri yang kita cintai ini. Dan di atas adalah beberapa contoh praktika hukum di negeri ini. Biarlah masyarakat yang menilai tentang ketidakjelasan hukum yang berlaku di negeri ini. Mungkin sebagian akan tertawa melihat lucunya hukum di negeri ini. Atau sebagian menangis melihat fenomena ini.

Sebagai warga negara yang patuh akan hukum dan undang-undang, marilah bersama-sama mengawal negara ini untuk kesejahteraan masyarakat, agar tercipta negara yang aman, adil, tentram dan damai. Ini sebuah bentuk kekecewaan, sekaligus kepedulian terhadap negeri ini.

*) PMII Rayon Al-Kindi, Komisariat Unisma

Gelar Pengobatan Gratis, Bakti Ika Spensa untuk Wagir

Gelar Pengobatan Gratis, Bakti Ika Spensa untuk Wagir
Gelar Pengobatan Gratis, Bakti Ika Spensa untuk Wagir

Oleh Maulyadi Salasanto *)

MALANGVOICE – “Mata saya lamun, Bu Dokter”, Ungkap Arbun (80), pria lanjut usia, saat diperiksa dokter Poli Mata. Arbun dan lebih dari 800 lebih warga Kecamatan Wagir berbondong-bondong memadati kediaman Kepala Desa Petung Sewu,  Kabupaten Malang untuk pengecekan kesehatan dan pengobatan gratis.

Kegiatan itu merupakan rangkaian acara Bakti Sosial yang diselenggarakan Ikatan Alumni SMP Negeri 1 (Ika Spensa) Malang, hari ini.

Tidak banyak yang bisa Arbun ucapkan saat dokter Poli Mata memeriksa matanya. Ia hanya melakukan beberapa instruksi yang diperintahkan, misalnya menutup sebelah mata dengan tangan lalu membaca angka yang diperagakan dokter dengan jari dengan beberapa jarak pandang. Matanya juga diperiksa dengan alat khusus. Menurut dokter, dia menderita katarak.

Lain Arbun lain pula Lamina (45). Ibu satu anak ini sudah lama menderita ambeien. Pengobatan gratis itu baginya merupakan kesempatan berharga.  Tak datang sendiri, Lamina bersama anaknya, Ibuanul (9) yang ikut diperiksa kesehatannya.

“Saya sudah lama kena ambien, kalau anak ini katanya dia sering kram dan ubun-ubunnya beberapa hari ini sering sakit, jadi diperiksa di sini. Alhamdulillah ada pengobatan gratis,” akunya.

Ada lagi Rinawati (23), yang mendaftarkan anaknya di Poli THT. Menurutnya, sang anak mengalami gangguan pendengaran karena sudah sejak kecil belum mampu untuk berbicara. Wanita yang menikah lima tahun silam itu mengaku sangat bersyukur karena ada pengobatan gratis, karena ia belum pernah melakukan pengobatan ke Rumah Sakit karena terkendala biaya.

“Alhamdulillah mas ada pengobatan gratis. Apalagi ini baru pertama kali diadakan di sini, saya bersyukur akhirnya bisa mengecek anak di sini,” ungkapnya seraya menunggu antrian. Terselenggaranya kegiatan itu tak terlepas dari peran panitia pelaksana.

Hari Pratomo (55), Ketua Pelaksana, memaparkan, telah mengerahkan 25 dokter umum dan spesialis yang sebagian besar merupakan anggota Ika Spensa Malang, untuk membantu menangani keluhan warga.

Menurutnya, sebagian besar warga menderita penyakit umum sehingga sebagian besar ditangani di Poli Umum, selain ada beberapa poli lainnya seperti Poli Gigi, Poli Mata, Poli Anak, Poli Kandungan, dan THT.

“Sebagian besar warga menederita penyakit umum, misalnya demam dan gangguan lainnya. Beberapa yang spesifik yang bisa ditangani keenam poli itu ditangani di sini. Jika tidak bisa, maka akan diajukan bantuan pengobatan segera ke rumah sakit,” ujarnya.

Bakti sosial itu bukan pertama kali diadakan Ika Spensa Malang. Erlangga Satriagung (57), selaku Ketua Ika Spensa Malang, menyatakan, kegiatan bakti sosial di Desa Petung Sewu itu merupakan kegiatan mereka yang kedua kalinya, di mana sebelumnya pernah diadakan di Kota Batu.

“Kegiatan yang diadakan merupakan bentuk kepedulian alumni yang memiliki latar belakang yang berbeda, termasuk pengisi kegiatan baik dokter maupun tenaga lainnya berasal dari Ika Spensa Malang. Saya berharap Ika Spensa terus menjadi paguyuban yang berfokus pada masalah sosial dan terus membantu masyarakat,” tutupnya.

*)Humas panitia

800 Lebih Warga Wagir Padati Baksos Ika Spensa Malang

800 Lebih Warga Wagir Padati Baksos Ika Spensa Malang
800 Lebih Warga Wagir Padati Baksos Ika Spensa Malang

Oleh: Maulyadi Salasanto

MALANGVOICE – Ikatan Alumni SMP Negeri 1 (Ika Spensa) Malang kembali menggelar Bakti Sosial. Kali ini bertajuk pengobatan gratis dan penyaluran sembako, di kediaman Kepala Desa Petung Sewu, Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang, hari ini. Lebih dari 800 warga hadir memadati kegiatan itu.

Kustomo (32), Kepala Desa Petung Sewu, mengapresiasi kegiatan itu. Ia berharap kegiatan tidak hanya sukses bagi panitia, tapi juga bermanfaat bagi warga Desa Petung Sewu.

“Perubahan cuaca menjadi penyebab banyak warga membutuhkan bantuan kesehatan. Saya berharap kegiatan ini bermanfaat, apalagi kegiatan pengobatan gratis, baru kali ini diadakan di Petung Sewu,” ungkapnya.

Sementara Hari Paratomo (55), ketua pelaksana, mengatakan, pengobatan gratis terbuka untuk umum, baik warga Petung Sewu maupun sekitarnya. Sebanyak 25 dokter menangani Poli Umum, Poli Gigi, Poli Mata, Poli Anak, Poli Kandungan, dan THT.

Untuk penyaluran sembako diberikan kepada 250 warga Petung Sewu yang membutuhkan, sesuai data dari Kepala Desa.

“Sebagian besar warga menderita penyakit umum, seperti demam dan gangguan lainnya. Beberapa yang spesifik dan bisa ditangani langsung ditangani. Jika tidak, diajukan bantuan pengobatan segera ke rumah sakit, seperti anak yang tidak memiliki anus, akan diajukan operasi segera ke rumah sakit. Kalau penyaluran sembako langsung diserahkan ke rumah warga” ujarnya.

Alumni angkatan 76 itu mengaku, ada banyak kendala dalam melakukan kegiatan. Ketersediaan tenaga medis, dana, dan data pasien menurutnya menjadi kendala utama. Harapannya, dari sudut sosial akan terus terselangara kegiatan seperti itu.

Sedang Erlangga Satriagung (57), Ketua Ika Spensa Malang, memaparkan, organisasinya merupakan ikatan alumni yang berkonsentrasi pada masalah sosial. Tujuannya untuk membantu kegiatan pemerintah. Kegiatan yang diadakan merupakan bentuk kepedulian alumni yang memiliki latar belakang berbeda, termasuk pengisi kegiatan, baik dokter maupun tenaga lainnya berasal dari Ika Spensa Malang.

Kegiatan baksos di Petung Sewu merupakan program kedua Ika Spensa Malang, yang sebelumnya pernah diadakan pula di Kota Batu. “Saya berharap Ika Spensa terus menjadi paguyuban yang berfokus pada masalah sosial dan terus membantu masyarakat,” tutupnya.

*)Humas Kegiatan

Komunitas