Wujudkan Malang Kreatif lewat Decofresh Warnai Jodipan

Wujudkan Malang Kreatif lewat Decofresh Warnai Jodipan
Wujudkan Malang Kreatif lewat Decofresh Warnai Jodipan

Oleh: Salis Fitria

MALANGVOICE-Jodipanes, sebutan warga Kelurahan Jodipan, Kecamatan Blimbing, Kota Malang, begitusemarak menyambut pembukaan Decofresh Warnai Jodipan, yang dilaksanakan di lapangan RT 07 RW 02 Kelurahan Jodipan, hasil kerja sama dengan Indana Paint sebagai Client Praktikan Guys Pro Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).

Kegiatan ini ditopang Coorporate Social Responsibility (CSR) perusahaan yang bergerak di bidang paint factory and industrial coating, demi menciptakan program berkelanjutan bagi masyarakat Jodipan, sehingga dampak yang diberikan terus bermanfaat.

Menurut Ketua Pelaksana, Nabila Fisdausyiah, program yang dijalankan ini berawal dari tugas mata kuliah Public Relations II untuk melaksanakan even. Pembuatan proposal kreatif bersama tim yang menamakan dirinya sebagai Guys Pro dipaparkan di depan client dan membuahkan hasil.

Akhirnya timbul ketertarikan untuk merealisasikan program bersama Kelurahan Jodipan , khususnya RT 06, 07, dan 09 RW 02. “Kami akan mengecat semua genteng dan dinding rumah warga berwarna-warni, sehingga terlihat indah, rapi, nyaman, dan berwarna dari atas jembatan Sungai Brantas,” paparnya.

Nabila juga menambahkan, fakta di lapangan menunjukkan, banyak warga kerap melempar sampah ke bantaranSungai Brantas. Jika terus dibiarkan jelas berdampak membahayakan bagi kondisi sungai. Wilayah padat penduduk itu diharapkan menjadi gambaran Kota Malang sebagai Malang Creative Fusion.

Karena itu, sejumlah Dinas dari Pemerintahan Kota Malang turut hadir untuk mengetahui Jodipan saat ini dan kondisi setelah proses peremian dilaksanakan. Turut hadir pula Komunitas Mural Turu Kene yang akan melukis pintu masuk pada ketiga RT itu, demi mepercantik Jodipan.

Sementara S Parin, Ketua RW, memaparkan, hadirnya program ini menjadi berkah bagi wilayahnya. Bagaimana tidak, berulang kali ia menyadarkan diri bahwa Jodipan RT 06, 07, dan 09 akan berubah menjadi kelurahan yang lebih menarik. “Setelah Saya lihat rancangan design Guys Pro, Jodipan kedepannya akan menarik dan menjadi perhatian banyak kalangan,” paparnya.

Sebagai pendukung even yang diprediksi selesai akhir Juli itu, Indana Paint mengeluarkan biaya total Rp 100 juta lebih. “Angka itu tidak bermakna dibanding perubahan sikap dan perilaku masyarakat yang makin peduli lingkungan,” pesan Steven Antonius Sugiarto, Vice President Indana Paint.

*) Humas dan Sie acara Guys Pro, mahasiswa Praktikan Public Relations Ilmu Komunikasi UMM

Steven: Decofresh Berkomitmen Dukung Jodipanes

Decofresh Berkomitmen Dukung Jodipanes
Decofresh Berkomitmen Dukung Jodipanes

Oleh: Salis Fitria *)

MALANGVOICE-Vice President Indana Paint, Steven Antonius, dalam kegiatan CSR (Coorporate Social Responsibility) Decofresh Warnai Jodipan, di kelurahan Jodipan, kemarin, berkomitmen terus mendukung Jodipanes (sebutan warga Jodipan).

“Kami akan terus membantu untuk mewujudkan Kelurahan Jodipan bersih, indah, dan nyaman,” ujarnya, dalam sambutan pembukaan acara.

Ia juga berterimakasih atas antusisme warga dalam rangka mendukung kegiatan itu. Hal itu merupakan jawaban dari harapan yang disampaikan S Parin, Rukun Warga (RW) setempat, yang mengharapkan bantuan Indana Paint tidak berhenti usai kegiatan selesai.

Decofresh Berkomitmen Dukung Jodipanes

Setelah acara pembukaan yang ditandai pemotongan tumpeng, pemberian simbolik cat, dan pelepasan balon, Steven juga melakukan safari mengelilingi kampung Jodipan, ditemani pejabat Polres, Polsek, DKP (Dinas Kebersihan dan Pertanaman) Kota Malang, Ketua RW, dan Kepala Laboratorium Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah (UMM) Malang.

Kegiatan ‘Decofresh Warnai Jodipan’ diperkirakan rampung pada akhir Juli, dan peresmian kampung Jodipan akan dihadiri orang nomer satu di Malang.

Steven berharap kegiatan kali ini akan menjadi tolok ukur bagi kelurahan lain dalam rangka mewujudkan Kota Malang yang bersih dan indah.

*) Humas dan Sebagai Sie acara dari Guys Pro, mahasiswa Praktikan Public Relations Ilmu Komunikasi UMM

Mahasiswa UMM Gagas Jodipan Apik dan Berwarna

Jodipanes membersihkan pembatas Sungai Brantas, sebelum melakukan pengecatan bersama.

Oleh: Salis Fitria *)

MALANGVOICE – Bertema ‘Decofresh Warnai Jodipan’. Praktikan Guys Pro mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Mnenyelenggarakan program tanggung jawab sosial di RT 06, 07, dan 09, RW 02, Kelurahan Jodipan, Kecamatan Blimbing, hari ini.

Kegiatan yang dilaksanakan di lapangan RT 7 RW 02 itu juga mengundang jajaran Indana Paint selaku client dan donator utama pelaksana kegiatan, petinggi Kepolisian Resort Kota Malang, Kepolisian Sektor, jajaran Komandan Distrik Militer, Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Malang, kelurahan, Komunitas Turu Kene, serta Ketua RW dan RT.

Ketua pelaksana, Nabila Firdausyiah, dalam rilis yang dikirim ke Redaksi MVoice, menyampaikan, program itu berangkat dari hasil riset yang menunjukkan bahwa 90% warga kelurahan Jodipan kerap membuang sampah ke sungai. Berdasar itu, sebagai mahasiswa praktikan yang berkecimpung di dunia public relations, hal itu menjadi perhatian delapan anggota Guys Pro untuk menciptakan lingkungan Jodipan bersih, indah, nyaman, dan berwarna.

“CSR ini juga akan menjadi inisiasi client kami untuk membuat program yang berkelanjutan bagi warga kedepannya,” jelas mahasiswa angkatan 2013 itu.

Dia juga mengatakan, beberapa permasalahan warga adalah kondisi Tempat Pembuangan Sementara (TPS) jauh dari lokasi rumah warga. Hal itu membuat warga enggan dan memilih cara praktis.

Latar belakang itulah yang kini digagas Guys Pro untuk menciptakan perubahan bagi Jodipan. Lingkungan yang indah dan berwarna bisa menjadi daya tarik warga lebih peduli terhadap kondisi sampah.

Kegiatan dibuka dengan Jodipan Resik (kerja bakti Jodipan), dilanjutkan pembukaan secara resmi Decofresh Warnai Jodipan yang di pandu host. Ada pula Safari Jodipan dari tamu undangan dari RT 06, 07, dan 09 didampingi ketua RW, menjelaskan kondisi Jodipan dan harapan yang diinginkan kedepannya.

Acara dilanjutkan dengan lomba melukis gerabah siswa didampingi ibu-ibu. Sedangkan di dekat lokasi yang sama, warga turun di daerah bantaran sungai untuk melakukan pengecatan pembatas sungai dan rumah warga.

Pada kesempatan itu, Ketua Rukun Warga (RW), S Parin, memaparkan, hadirnya program itu menjadi berkah bagi wilayahnya. Bagaimana tidak, berulang kali ia meyakinkan diri bahwa Jodipan RT 06, 07, dan 09 akan berubah menjadi kelurahan yang lebih menarik.

“Setelah Saya liat rancangan design Guys Pro, Jodipan kedepannya akan lebih menarik dan menjadi perhatian banyak kalangan,” paparnya bangga.

Sementara itu, dalam sambutannya, Steven Antonius Sugiarto, memaparkan, kegiatan akan dibantu secara sepenuhnya agar tujuan menciptakan Jodipan sebagai perkampungan yang bersih dan berwarna bisa terlaksana dengan sukses.

“Harapannya warga dapat bekerja sama untuk menjaga Jodipan tetap terus bersih dan peduli lingkungan,” ungkap pimpinan Decofresh itu.

*)Humas panitia Decofresh Warnai Jodipan

Potret Gepeng di Kota Malang

Potret Gepeng di Kota Malang
Potret Gepeng di Kota Malang

Tak diragukan lagi, sebagai kota pendidikan dan pelajar, Malang menyimpan sejuta daya tarik, serta membuka peluang bagi pendatang untuk berkesempatan berkarya dan mencari mata pencaharian dengan menonjolkan skill dan keahlian masing-masing. Sehingga banyak dari mereka memiliki bermacam latar belakang ataupun kultur.

Menurut perkembangan dari hari ke hari. Aspek sosiologis yang meliputi pengentasan kemiskinan, kesenjangan, pelayanan publik, hingga penertiban Gepeng (gelandangan dan pengemis), perlu diperhatikan serius oleh Pemerintah setempat.

Gepeng merupakan salah satu potret sosial yang perlu mendapat arahan dan penanganan secara khusus, didasarkan pada visi misi dalam melaksanakan sinergi pembangunan suatu daerah yang semakin berkembang seperti Kota Malang, terutama tercipta kenyamanan untuk masyarakat.

Pasalnya, kenyamanan lingkungan perkotaan dan pengguna fasilitas publik yang meliputi jalan raya (protokol) dan ruang terbuka warga (Alun-alun, taman, tempat bermain) yang tertib, mulai terganggu oleh maraknya aksi Gepeng yang kian merebak memadati pusat-pusat keramaian dan tempat umum lainnya. Tentu ini menambah daftar panjang kompleksitas yang ada di Kota Bunga semakin lengkap.

Pemberdayaan melalui program strategis dinas terkait dalam rangka memelihara ketertiban dan kondusifitas Kota Malang dewasa ini, harus intens dilakukan. Sebab, aksi Gepeng berkeliaran tak hanya mengganggu kepentingan pengguna layanan dan fasilitas publik semata. Bahkan berpengaruh juga terhadap laju pertambahan penduduk di Kota Malang meningkat.

Kini, tak jarang kita jumpai hampir puluhan gepeng beroperasi setiap hari di perumahan warga, tempat kerja dan kantor. Sehingga memungkinkan khalayak atau masyarakat merasa terganggu dan tidak nyaman karena jumlahnya kian bertambah sepanjang waktu.

Aksi gepeng yang beroperasi sepanjang 24 jam, baik di sudut kota dan keramaian Kota Malang, berimbas terhadap eksistensi penataan dan penertiban gepeng yang hingga saat ini masih terjaga di Kota Malang.

Mungkin dengan cara memanusiakan gepeng, bersosialisasi dan melindunginya sebagai bagian dari warga Negara Indonesia. Mampu memenuhi hak dan kebutuhan hidup gepeng sebagai masyarakat bawah pada umumnya, yang perlu diperhatikan aspek penghidupan dan status sosialnya.

Dengan mengedepankan kepentingan bersama. Diharapkan produktifitas Kota Malang dalam melahirkan kebijakan baru bisa berpengaruh positif, salah satunya mengoptimalkan upaya preventif aparatur dalam menekan jumlah gepeng kian menurun segera terwujud. Demi kenyamanan masyarakat luas di Kota Malang.

*) Aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Komisariat Unisma.

Tangkal Radikalisme dengan Kebersamaan

Heri Kiswanto

Oleh : Heri Kiswanto *)

TEROR yang sedang melanda ibu Kota Jakarta tak menyurutkan semangat kebersamaan antar seluruh penduduk di Tanah Air untuk tetap saling support dan menguatkan satu sama lain. Ini bukti bahwa keberadaan masyarakat kita tidak gentar menghadapi situasi kurang kondusif yang terjadi.

Terbukti, hastag (tanda pagar) bertuliskan #Kami Tidak Takut, #Jakarta Kuat, #Jakarta Berani, yang dibuat netizen kini juga marak. Itu menggambarkan sikap tenang masyarakat yang sedang di tengah posisi genting perkotaan yang melanda, begitu nyata dan benar. Apalagi seruan pengguna sosial media dan ajakan positif melawan teror, sudah tidak diragukan lagi keberaniannya.

Bahkan, berjarak ratusan meter dari berlangsungnya rentetan aksi pengeboman dan penembakan, berdiri seorang pedagang sate dan kaki lima menjajakan dagangannya. Di sisi lain, hal ini mengakibatkan korban jiwa dan ancaman keamanan yang menuntut kewaspadaan setiap saat, kapan dan dimanapun.

Isu radikalisme mengatasnamakan agama yang berujung pengeboman, sebelumnya telah terjadi di beberapa tempat di Indonesia. Yang lebih terkenal adalah bom Bali I dan II, yang dilakukan kelompok Amrozi dkk. Pada kejadian itu, banyak warga lokal dan luar negeri menjadi korban.

Selain itu, peristiwa serupa yang tak kalah menggemparkan situasi keamanan lain adalah peristiwa bom pada 2003 serta serangan bunuh diri pada 2009 silam di hotel Ritz Carlton dan JW Marriot, Jakarta. Hingga keberadaan jaringan terorisme yang berbaur di lingkungan kita, perlu ditanggulangi dengan intens dan hukuman berat.

Pasalnya paham-paham itu tidak sesuai dengan kesusilaan, pluralitas, bahkan ideologi Pancasila dan kerukunan umat beragama, serta bisa memecah belah sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara, khususnya di bumi pertiwi.

Gerakan Islamic state (ISIS), NII, Jamiyah Islamiah (JI) maupun guncangan bom akhir-akhir ini, jauh dari kepribadian bangsa yang senantiasa menghargai perbedaan keyakinan dan agama. Seperti dalam Sila Pertama “Ketuhanan Yang Maha Esa” dan Bhinneka Tunggal Ika yang bermakna, “Walaupun berbeda-beda tetapi tetap satu tujuan”, yang secara luas diartikan sebagai salah satu keragaman masyarakat Indonesia yang plural.

Artinya, dalam menselaraskan kemajemukan masyarakat di Indonesia yang terdiri dari berbagai suku, ras, adat istiadat, budaya dan agama diperlukan kebersatuan. Sebab, menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) merupakan interpretasi dari kehidupan sosial bermasyarakat yang berdaulat, saling merangkul dan harmonis.

Dengan solidaritas tinggi, mari menjunjung kembali spirit persatuan dan kesatuan dalam menyikapi pihak-pihak yang berusaha merusak ideologi negara, keberagaman dan toleransi antar umat beragama. Tentunya dengan merespon dan mewaspadai paham ajaran baru di lingkungan sekitar.

*) Aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia.

Berbagi Waktu dengan Alam Raya Indonesia

Oleh: Andreansyah Ahmad *)

“Kami jelaskan apa sebenarnya tujuan kami. Kami katakan bahwa kami adalah manusia-manusia yang tidak percaya dengan slogan. Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrasi dan slogan-slogan. Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal objeknya. Dan mencintai Tanah Air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat. Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat. Karena itulah kami naik gunung” (Soe Hok Gie)

Indonesia merupakan negeri yang indah dan dikenal memiliki berjuta ragam keindahan dari Sabang sampai Merauke. Gunung-gunung yang menjulang tinggi, pantai-pantai indah, air terjun dan keindahan alam lainnya terdapat di negeri yang bersejarah ini. Tapi sayangnya tidak banyak orang yang mengetahui tempat-tempat indah tersebut.

Kini banyak orang yang mengeluh stres dengan kesehariannya dikarenakan kurang piknik. Piknik merupakan hal yang sangat dibutuhkan untuk mengusir rasa stres yang melanda, dan juga merupakan wujud cinta terhadap alam Indonesia. Mengenal Indonesia lebih dekat dapat diwujudkan dengan mengunjungi tempat-tempat indah yang ada di Indonesia.

Ketika kita berada di alam pegunungan atau pantai, kita akan menyadari betapa indahnya negeri ini. Di saat itu pula jiwa dan pikiran menjadi tenang dan damai, karena secara tidak langsung kita mensyukuri nikmat sang pencipta melalui keindahan alam yang diberikan.

Dinginnya pegunungan, hijaunya bukit, hembusan angin pantai, musik dari riuh dedaunan pohon kelapa, suara ombak yang berdesik, air terjun yang terus mengalir seakan menghipnotis setiap individu yang sedang berada di tempat tersebut. Mereka akan merasakan sebuah ketenangan dan kedamaian.

Karena itu, berbagilah waktu dengan alam bila kau ingin mengatahui siapa dirimu yang sebenarnya. Temukanlah ketenangan jiwa di alam raya Indonesia yang indah ini. Inilah sebuah wujud mencintai Indonesia dan rasa syukur kepada Tuhan sang pencipta alam semesta.

*)Ketua ESA Unisma 2015-2016

Pentingnya Menjaga Lingkungan

Ahmad Fairozi

Oleh: Ahmad Fairozi *)

Lingkungan seharusnya menjadi perhatian serius yang tidak boleh kita diabaikan. Sebagai bagian dari penunjang aktivitas keseharian manusia, sudah selayaknya kita memiliki kewajiban bersama untuk menjaga kelestarian lingkungan dari pengrusakan maupun kerusakan.

Sebagai tanggungjawab bersama, seluruh elemen masyarakat dan pemerintah, baik pemerintah daerah maupun pusat dituntut untuk memelihara lingkungan agar lingkungan terjaga kelestariannya serta tidak membawa bencana terhadap keberadaan masyarakat yang dapat mengancam keselamatan hidup.

Sebagai bagian dari masyarakat modern, kondisi lingkungan sudah mulai diabaikan kelestariannya, cobalah kita lihat pengrusakan yang terjadi, seperti pembabatan hutan secara besar-besaran untuk membuka lahan pertanian dan lahan pembangunan seperti proyek infrastuktur dan pembangunan rumah, belum lagi kerusakan akibat tambang, limbah industri, sedangkan keberadaan hutan hijau terbuka semakin berkurang dan tidak diimbangi dengan reboisasi (penghijauan).

Selain hal di atas, kerusakan lingkungan juga diperparah dengan keberadaan sampah yang berserakan dimana-mana, masalahnya hingga saat ini, pemerintah maupun masyarakat secara umumnya belum mampu mengolah keberadaan sampah yang semakin hari kondisinya memprihatinkan.

Dengan keadaan tersebut, maka kondisi lingkungan akan semakin parah, yang ironisnya teknologi untuk mengurai sampai belum mampu memberikan sebuah solusi kongkrit mengingat semakin merajalelanya sampah-sampah yang tidak terurus.

Tertib aturan tentang lingkungan

Melihat fenomena kerusakan lingkungan yang disebabkan beberapa hal seperti yang telah disebutkan diatas, masyarakat maupun pemerintah kurang sadar akan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan serta mematuhi dan melaksanakan amanat Undang-Undang Nomor 32 tahun 2009 tentang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup.

Titik tekannya, menjadi tanggungjawab bersama mematuhi UU tersebut, agar pengrusakan ataupun kerusakan lingkungan dapat dihindari atau mampu diminimalisir, sehingga upaya pengendalian kerusakan lingkungan dapat dilakukan.

Kesadaran dan kepedulian kita tak lain adalah untuk dapat mencegah dan mengendalikan lingkungan dari ancaman kerusakan maupun pengrusakan. Mengapa harus berbekal kesadaran dan kepedulian?

Sederhananya adalah kita maupun pemerintah terkadang tidak mematuhi aturan dengan membuka lahan yang tentunya akan merusak keberadaan hutan, membuang sampah sembarangan, dan tak kalah penting pencemaran lingkungan yang disebabkan oleh pembuangan limbah industri.

Hal tersebut jika terjadi secara berkelanjutan, dapat dimungkinkan kerusakan lingkungan akan terjadi lebih awal serta didukung dengan pengendalian kerusakan lingkungan yang buruk, baik oleh pemerintah maupun masyarakat.

Gerakan peduli lingkungan

Sebagai bagian dari masyarakat modern, keperdulian kita terhadap lingkungan sudah mengalami titik jenuh, karena sudah semakin sedikit diantara kita yang perduli dengan faktor-faktor yang menyebabkan kerusakan terhadap lingkungan.

Contoh kecil saja, cobalah kita perhatikan dimana terdapat aliran air sungai yang tidak dipenuhi oleh sampah? Dengan membuang sampah bukan pada tempatnya, kita secara tidak langsung berpartisipasi dalam pengrusakan lingkungan secara massive dan berkelanjutan.

Namun tanpa sebuah kesadaran, kita akan tetap terbiasa mencemari dan mengotori aliran air sungai dengan sampah, terutama sampah rumah tangga. Kepedulian terhadap lingkungan akan tumbuh bilamana kesadaran akan menjaga lingkungan menjadi teramat penting, mengingat kerusakan lingkungan yang terjadi sudah sampai pada level memprihatinkan.

Tidak serta merta pemerintah yang perlu disalahkan, dan tidak pula masyarakat yang pasti selalu benar, pemerintah dan masyarakat harus sama-sama memiliki kepedulian yang besar bagi kelestarian lingkungan, pemerintah tidak akan pernah berhasil menjaga lingkungan agar kelestariannya tetap baik tanpa kepedulian dan partisipasi masyarakat, pun demikian sebaliknya. Artinya, antara pemerintah dan masyarakat harus bersinergi mengawal kelestarian lingkungan.

Dengan demikian, pemerintah tidak sewenang-wenang membuat kebijakan yang akan berdampak pada kerusakan lingkungan, demikian juga masyarakat tidak akan sewenang-wenang merusak lingkungan dengan menabrak aturan, yang ada akan berlomba-lomba demi menjaga kelestarian lingkungan.

Keteladanan dalam menjaga lingkungan tetap lestari sangat dibutuhkan, oleh masyarakat maupun pemerintah, karena tanpa contoh yang baik untuk menjaga kelestarian lingkungan, maka yang muncul semakin tidak adanya keperdulian kita maupun pemerintah untuk menjaga lingkungan dari kerusakan yang fatal.

Mencegah dan mengendalikan kerusakan lingkungan lebih baik daripada memulihkan lingkungan yang sudah terlanjur rusak, bukan hanya karena masalah waktu, tapi juga membutuhkan biaya yang besar untuk memulihkan lingkungan yang telah rusak, upaya pengendalian menjadi sangat dibutuhkan, selain tidak terlalu membutuhkan biaya yang besar, tidak menyebabkan kerusakan lingkungan yang merugikan.

Jadi, bangunlah kesadaran bersama antara pemerintah dengan masyarakat, bahwa kelestarian lingkungan sangat berarti untuk hidup kita dimasa mendatang. Selain itu, efisiensi tenaga dan biaya menjadi nilai surplus jika pengendalian terhadap kerusakan lingkungan segera dapat diatasi dengan baik.

*) Divisi Data dan Program Good Governance Activator Alliance (GGAA) East Java.

Terwujudnya Pelayanan Publik untuk Kesejahteraan Rakyat

Ahmad Fairozi

Oleh: Ahmad Fairozi *)

Pelayanan Publik merupakan isu strategis dengan semakin matangnya sistem berdemokrasi sebagai bagian dari hak dasar setiap warga negara yang harus dipenuhi oleh negara. Karena pelayanan publik adalah esensi dasar bagi terwujudnya keadilan sosial, ekonomi dan budaya. Tentunya, hal ini dilakukan untuk memenuhi kesejahteraan rakyat yang menjadi tanggung jawab penyelenggaraan pelayanan publik oleh negara.

Buruknya pelayanan publik yang terjadi selama ini karena tidak adanya paradigma yang jelas dalam penyelenggaraan pelayanan publik. Kinerja pelayanan yang diberikan oleh birokrasi yang ada di Indonesia masih cukup kuat watak mengabdi kepada kekuasaan (state oriented) dibandingkan kepada publik (public oriented), sehingga wajah birokrasi di Indonesia terkesan otoriter.

Dengan situasi birokrasi yang demikian, tentu dalam pelaksanaan pelayanan publik yang diberikan oleh birokrasi akan terpola monarki, dimana pola tersebut jauh dari kesan demokrasi yang berkualitas, sehingga ujung-ujungnya hanya akan memunculkan kesan yang diskriminatif dan jauh dari keadilan sosial, ekonomi dan budaya.

Dalam sektor pelayanan publik, setidaknya ada tiga masalah penting yang perlu disikapi dalam menyelenggarakan pelayanan publik, yaitu besarnya diskriminasi pelayanan, tidak adanya kepastian pelayanan dan rendahnya tingkat kepuasan masyarakat terhadap pelayanan publik. Tidak sedikit masyarakat yang mengeluhkan akan sulitnya akses penyedia layanan ketika berhubungan dengan birokrasi.

Lahirnya Undang-undang (UU) Nomor 25 tahun 2009 tentang Pelayanan Publik dan Undang-undang Nomor 14 tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik (KIP) telah memberikan jaminan bagi setiap warga negara untuk dapat mengakses dan mendapatkan pelayanan yang baik. Tentunya pelayanan yang baik tersebut diperoleh dari penyelenggara pelayanan publik yang dalam hal ini adalah pemerintah.

Dengan adanya UU tersebut paling tidak telah memberikan ruang bagi masyarakat kepada penyelenggara layanan atas kualitas layanan yang diberikan. Masyarakat dapat menggunakan instrumen tersebut untuk mendapatkan kepastian atas layanan publik yang berkualitas serta transparan dalam proses penyelenggaraannya. Setidaknya dengan adanya kedua UU tersebut, penyelenggaraan pelayanan publik mendapatkan kepastian dalam hal pelayanan maupun kepastian hukum dalam proses penyelenggaraannya.

Harapan sekaligus tuntutan masyarakat akan pelayanan publik yang berkualitas, prosedur yang jelas, cepat dan biaya yang pantas akan terfasilitasi dengan baik, jika penyelenggara layanan mampu menerjemahkan tugasnya sebagai pemberi pelayanan terhadap masyarakat.

Karena tujuan UU No. 25 tahun 2009 tentang pelayanan publik yang disebutkan pada pasal 3 bahwa, Pertama, terwujudnya batasan dan hubungan yang jelas tentang hak, tanggungjawab, kewajiban dan kewenangan seluruh pihak yang terkait dengan penyelenggaraan pelayanan publik. Kedua, terwujudnya sistem pelayanan publik yang layak sesuai dengan asas-asas umum pemerintahan peleyanan publik. Ketiga, terpenuhinya penyelenggaraan pelayanan publik sesuai dengan peraturan perundang-undangan, dan Keempat, terwujudnya perlindungan dan kepastian hukum bagi masyarakat dalam penyelenggaraan pelayanan publik.

Menurut Lenvine, dikutip dari “Mewujudkan Good Governance Melalui Pelayanan Publik” bahwa produk pelayanan publik dalam negara demokrasi paling tidak harus memenuhi tiga indikator, yakni pertama, responsivitas adalah daya tanggap penyedia jasa terhadap harapan, keinginan, aspirasi maupun tuntutan pengguna layanan; kedua, responsibilitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan seberapa jauh proses pemberian pelayanan publik itu dilakukan sesuai dengan prinsip-prinsip atau ketentuan-ketentuan administrasi dan organisasi yang benar dan telah ditetapkan; ketiga, akuntabilitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan seberapa besar proses penyelenggaraan pelayanan sesuai dengan kepentingan stakeholders dan norma-norma yang berkembang dalam masyarakat.

Pihak penyelenggara pelayanan harus mempunyai inovasi-inovasi baru dalam memberikan pelayanan terhadap masyarakat yang hendak menerima jasa pelayanan. Dengan melihat uraian diatas bahwa penyelenggara layanan harus memiliki tiga indikator utama, yaitu responsivitas, responsibilitas dan akuntabilitas. Denga terpenuhinya indikator tersebut, diharapkan mampu menjembatani masyarakat sebagai penerima jasa layanan yang baik dan tidak diskriminatif.

Proses pelayanan yang cepat, tepat dan biaya yang pantas, akan mendorong ketercapaian tata kelola pemerintahan yang baik (Good Governance). Sehingga penyedia layanan benar-benar menjadi public oriented seperti yang telah menjadi amanat dari UU No. 25 tahun 2009 tentang Pelayanan Publik. Hak warga negara dapat terpenuhi dengan baik serta berkeadilan sosial, ekonomi dan budaya.

Selain itu, dengan tingkat kepuasan masyarakat yang begitu rendah terhadap penyelenggara layanan publik selama ini, penyelenggara pelayanan publik akan sangat terbantu memulihkan kepercayaan masyarakat yang tentunya akan mendorong pada tingkat kepuasan yang tinggi. Tidak sekedar janji-janji palsu dalam proses penyelenggaraan pelayanan publik yang baik dan tentunya berbasis partisipasi masyarakat.

*)Divisi Data dan Program Good Governance Activator Alliance (GGAA) East Java.

PT Antam Launching Emas Batangan Berornamen Batik

PT Antam Launching Emas Batangan Berornamen Batik

MALANGVOICE – Pernah ada mobil batik, lalu ada gitar batik, sampai kemudian ada pesawat terbang batik. Nah, tadi pagi, BUMN PT Aneka Tambang (Antam) tak mau ketinggalan dalam hal batik-batikan.

Mereka menggelar grand launching emas batangan berornamen batik, bertempat di Sasono Adiguno, TMII Jakarta. Acara akbar itu diberi judul Grand Launching Small Bar Exclusive.

Tampak hadir, putra Proklamator RI, Guruh Soekarnoputra. Dalam kesempatan itu ia langsung mengkritik judul acara yang pakai bahasa inggris.

“Mestinya kita pakai Bahasa Indonesia saja. Kita pakai saja kalimat Peluncuran Raya Emas Batangan Istimewa,” begitu kata Guruh yang nasionalismenya memang teruji dalam karya-karya musik dan tariannya.

Ada empat tipe batik yang dituangkan dalam emas batangan dengan berat bervariasi dan mulai ditawarkan sebagai alternatif investasi dari masyarakat.

Hadir juga dalam acara itu, Andien, Bens Leo, Rina Hasyim, Ita Purnamasari dan sederet tokoh lainnya.

Pemilihan DPM FISIP UB Gunakan Sistem E-Vote

Oleh: Azzumar Adhitia

Azzumar AdhitiaMALANGVOICE – Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya menggelar Pemilihan Raya (Pemira) pada Rabu, 16 Desember 2015, untuk memilih Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) serta Presiden dan Wakil Presiden Eksekutif Mahasiswa Universitas Brawijaya.

Menurut Icha, panitia pelaksana, Pemira tahun ini merupakan yang pertama menggunakan sistem e-vote atau memilih secara elektronik. Hal itu pula yang menjadi pembeda dari Pemira tahun-tahun sebelumnya.

“Yang membuat beda dengan Pemira sebelumnya itu. Tahun ini kita pertama kali menggunakan e-vote” ungkap mahasiswa jurusan Ilmu Politik itu, bangga.

Lebih lanjut Icha mengatakan, penggunaan e-vote itu membuat pelaksanaan Pemira menjadi lebih efisien. “Hambatannya hanya soal teknis saja, sempat trouble dua kali,” kata perempuan berkerudung itu.

Sementara pemilih, Alvinia Gutomo, menganggap selain sistem e-vote, perbedaan paling mencolok pada Pemira tahun ini dibanding sebelumnya adalah agresivitas para calon saat berkampanye, jauh lebih terasa.

“Tahun ini terasa banget agresivitas tiap calon. Mereka lebih blak-blakan, lebih frontal, serta benar-benar menunjukkan siapa dan dari mana (keanggotaan organisasi mahasiswa eksternal kampus) mereka,” katanya.

Meski begitu, Iqro Mutahajjid, mahasiswa yang mencalonkan diri sebagai DPM, menganggap masih ada kekurangan dari penyelenggaraan Pemira tahun ini, salah satunya kesulitan calon saat melakukan pendaftaran.

“Salah satu syarat mendaftarkan diri sebagai calon harus tes urine. Namun pihak panitia sendiri tidak memfasilitasinya, sehingga calon harus tes sendiri. Sedangkan biaya tes urine tidak murah,” tutur mahasiswa asli Malang itu.

Kekurangan lain yang dirasa Iqro adalah proses debat calon yang menurutnya tidak bisa disebut debat.

“Tidak ada adu argumen antar masing-masing calon. Setiap calon hanya menjabarkan visi misi, menjawab pertanyaan panelis, menjawab pertanyaan audiens, dan menyampaikan closing statement,” ungkap mahasiswa Ilmu Komunikasi itu.

Terkait partisipasi mahasiswa, Iqro menganggap ada peningkatan dibanding tahun lalu. Ia pun berharap semoga pelaksanaan Pemira ke depannya akan berjalan lebih baik lagi.

Selain Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Pemira ini juga diadakan serentak di seluruh fakultas di Universitas Brawijaya.

*)Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Brawijaya

Komunitas