01 December 2022
01 December 2022
22.5 C
Malang
ad space

MEA, Tantangan, Peluang Atau Ancaman?

Oleh: Dra Erlin Iriani MM *

MEA (Masyarakat Ekonomi Asean) masih terasa asing bagi sebagian masyarakat Malang Raya. Bagi para pelaku usaha, MEA berarti pasar bebas antar negara-negara Asean yang akan berlaku mulai akhir 2015. Apa yang sudah dipersiapkan Pemda Malang Raya dalam puluhan hari kedepan untuk menyambutnya?

Pasar bebas negara negara Asean artinya tidak akan ada lagi hambatan-hambatan penetrasi pasar antar negara Asean. Kesepakatan menjadi pasar tunggal antar negara-negara Asean sudah dicanangkan kurang lebih satu dekade lalu. Seyogyanya para pelaku bisnis dan operator bisnis sudah menyiapkan beberapa strategi jitu untuk menghadapi ini.

Bagi Masyarakat Malang Raya, ada dua hal penting yang seharusnya menjadi fokus ‘pertarungan’ di pasar bebas itu, yaitu produk dari industri kecil dan menengah serta bursa tenaga kerja. Persiapan Pemerintah Pusat melalui Kementerian perindustrian jauh hari sudah menyiapakan SNI (Standard Nasional Indonesia) dan SKKNI (Standard Kompetensi Kerja Nasional Indonesia).

Potret Produk Industri Kecil & Menengah

Sudahkan semua produk yang dihasilkan industri kecil dan menengah di Malang Raya memenuhi SNI? ini yang harus di cek pihak terkait. Berapa persen yang sudah mencantumkan lebel SNI di kemasan produknya, dan berapa persen yang belum. Bagi yang belum, pihak pemerintah terkait harus memberikan stimulan bagi pelaku usaha kecil/menengah dengan membantu meraih sertifikat mutu produk dan kemasan. Tentu akan sangat berat bagi pelaku usaha kecil/menengah bila produk mereka belum terstandarisasi. Dan bahkan akan hilang dipasaran karena kalah bersaing dengan produk-produk yang bersetifikat.

Diperlukan penguatan kerjasama antar pengusaha yang berada di sentra-sentra industri. Seperti industri makanan ringan (snack) keripik tempe di kawasan Sanan dan industri kerajinan keramik di kawasan Dinoyo Malang. Dan beberapa kawasan sentra industri yang lain.

Diharapkan dari setiap sentra industri, produk-produk lokal bisa menjadi primadona, produk-produk lokal harus leading untuk kualitas produk, harga yang kompetitif dan kemasan yang menarik, Jangan sampai kalah dari produk luar. Perkuat personal branding, perluas pemasaran dengan digital marketing dan harus selalu mempertajam creative thingking agar produk selalu mempunyai nilai tambah (added value). Dengan selalu berkreasi /berinovasi maka produk-produk lokal bisa terus leading di era pasar bebas mendatang.

Saat ini produk-produk makanan ringan dari Cina sudah banyak kita temukan di pasaran. Produk-produk Cina tersebut mempunyai keunggulan harga yg sangat kompetiif sehingga begitu mudah menerobos pasar lokal kita. Maka strategi harga harus mulai dirancang agar pada akhir tahun 2015 kita tidak semakin kebanjiran produk-produk Cina yang mungkin akan masuk dengan gencar ke negara kita melalui negara-negara Asean.

Bursa Tenaga Kerja

Untuk tingkat buruh (labour) bisa kita pakai sebagai bahan renungan, para TKI kita seringkali mendapat perlakuan yang tidak manusiawi di negara tujuan kerja mereka. Daya proteksi diri yang rendah dikarenakan sklill yang kurang dan wawasan keilmuwan dan hukum yang masih sangat terbatas. Diperlukan pusat pelatihan ketrampilan/skill tenaga kerja yang memadai dan terstandard internasional agar TKI kita tidak menjadi ‘bulan-bulanan’ di negara tujuan kerja mereka. Mengingat Kabupaten Malang merupakan salah satu wilayah yang banyak mengirim TKI ke luar negeri.

Untuk para pencari kerja tingkat staff (middle class) masih banyak yang terkendala dengan penguasaan bahasa asing/inggris. Untuk itu para pencari kerja tingkat staff ini harus meningkatkan penguasaan bahasa asing agar dapat bersaing dengan pencari kerja dari negara-negara Asean, jangan sampai pekerja asing yang sudah terstardard internasional menyerbu lowongan kerja yang ada di negara kita sementara kita sulit menembus lowongan kerja di negara-negara Asean.

Mari mempersiapkan diri dengan baik untuk menyambut tantangan MEA, agar MEA menjadi peluang, bukan ancaman bagi Malang Raya. Good luck!

*Dra Erlin Iriani MM, Wakil Kabid Sosial KPPI (Kaukus Perempuan Politik Indonesia) Kota Malang.

Menumbuhkan Tunas Generasi Emas

Skuad PSSI-16. (MVoice/pssi.org)

Oleh Anwar Hudijono

Terima kasih Skuad Garuda Asia. Terima kasih Bima Sakti. Terima kasih pula PSSI. Ketiganya memegang kuci sukses Timnas U-16 yang dijuluki Garuda Asia meraih gelar juara Piala AFF U-16 2022, setelah di final yang berlangsung di Stadion Maguwoharjo Yogyakarta, Jumat (12/8/2022) membekuk Vietnam 1-0. Gol tunggal itu dicetak Kafiatur Rizky.

Sukses ini laksana seteguk air di tengah kehausan. Bukankah sudah sangat lama penggemar bola Tanah Air merindukan gelar juara.

Adalah Bima Sakti Sukiman, pelatih muda yang sukses menukangi tim ini dengan strategi yang diilhami shalat jamaah. Dalam salat jamaah itu ada pakem (aturan) wajib. Misalnya, imam (pemimpin) itu hanya satu. Imam tidak boleh dikudeta. Barisan (shaf) harus lurus rapat. Tidak boleh meninggalkan jamaah kecuali batal. Makmum tidak boleh menudului imam. Dalam shalat itu seluruh tahapan ada aturan mainnya.Tidak boleh karena terburu-buru lantas melewati tahapan.

Bima Sakti membina mental disiplin sangat ketat bahwa setiap pemain wajib ikut shalat jamaah. Kalau tidak ikut jamaah kena denda Rp100.000. Jika masbuk (telat dan ketinggalan rakaat) dendanya Rp 50.000. Disiplin adalah salah satu kunci sukses sebuah tim.

Dengan salat jamaah ini membina kekompakan. Bergerak dalam satu komando sang imam. Tidak boleh kok makmum melakukan improvisasi dengan nyanyi atau duduk-duduk dulu. Apalagi ngopi-ngopi. Pada akhirnya disiplin, kompak, membentuk satu pasukan yang kokoh.

Anwar Hudijono. (MVoice/dok)

Bisa jadi, Bima Sakti yang sejak jadi pemain terkenal saleh seperti pemain Liverpool asal Mesir, Mohamed Salah, ini sudah memahami Quran surah As Shaf 4.

“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur, mereka seakan-akan seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.”

Bima Sakti bisa jadi menerjemahkan ayat ini untuk sepak bola. Dan itu sangat tepat. Ayat itu secara tekstual memang bicara tentang pasukan perang. Tetapi secara kontekstual bisa diterjemahkan dalam aspek kehidupan lain seperti manajemen, organisasi, juga sepak bola.

Syarat mutlak
Tentu saja strategi Bima Sakti tidak akan cukup efektif jika tidak diterima pemain secara utuh lahir batin. Ini syarat mutlak. Sangat miriplah dengan pedoman proses belajar membelajarkan yang diterangkan kitab Ta’lim al Muta’allim.

Pertama-tama pemain sangat tawadlu (tunduk dan patuh) kepada Bima. Hal ini bisa terjadi jika ada kepercayaan, trust. Dan Bima Sakti harus menjaga trust itu juga dengan memberi teladan.

Tak bisa dipandang sebelah mata adalah peran PSSI yang all out dalam mendukung Garuda Asia ini. PSSI berani memberi kesempatan pelatih muda seperti Bima Sakti. Memberi dukungan all aout. Pada saat TC kekurangan ofisial, PSSI langsung menambah. Saat kekurangan tenaga kesehatan, termasuk pemijat, langsung memenuhi.

Penanganan secara all out ini termasuk kunci penting untuk menggapai sukses. Tidak bisa mengharap tim mempersembahkan gelar juara dengan penanganan yang mediokritas alias setengah-setengah. Tidak bisa lagi menggunakan visualisasi profesionalisme tetapi di dalamnya amatiran.

Dan penanganan secara all out ini harus dijadikan referensi atau bahkan credo untuk menumbuhkan tunas-tunas muda ini menjadi generasi emas Indonesia. Ke depan mereka ini didambakan dapat mempersembahkan emas untuk level Asia. Bukan lagi cuma di SEA Games. Kalau cuma emas di SEA Games itu mah tidak seksi.

Bahkan sudah harus berani pasang target lolos ke Piala Dunia. Masyarakat sudah sangat rindu melihat tim kebanggaannya tampil di Piala Dunia.Mosok setiap event final Piala Dunia, Indonesia hanya dikenal sebagai pemegang rekor dunia nobar.

Penanganan yang all out, terprogram dan konsisten ini juga untuk menepis mitos bahwa prestasi anak-anak Indonesia itu mentok di usia 16 tahun. Tapi setelah itu cenderung macet atau bahkan langsir (mundur).

Suatu contoh Indonesia pernah menjadi juara Pelajar Asia. Publik mengharap pemain-pemain seperti Frank Sinatra Huwae, Noah Marien, Theodorus Bitbit menjadi tunas untuk Indonesia emas. Tapi sayang pemain-pemain asuhan pelatih asal Jerman Bukard Pape ini gagal menjadi generasi emas.

Negara-negara raksasa sepak bola seperti Brasil, Argentina, Jerman, Portugas, Spanyol menjaga tunas dengan penanganan yang saksama. Seperti bisanya mereka akan menjadi tulang punggung timnas senior. Portugal dengan kapten Ronaldo meraih juara Piala Eropa berintikan pemain-pemain yunior yang mempersembahkan emas Piala Dunia Yunior. Skuad Brasil di Piala Dunia 2022 ini juga sekitar 40 persen pemain Golde Team belia.

Sekarang Indonesia sudah memiliki (menambah) skuad tunas untuk menjadi Indonesia emas. Jagalah mereka. Tumbuhkan dan tumbuhkan!(end)

Ekonomi Indonesia Melemah Akibat Pandemi Covid-19

Resti Daris Zumrodah
Resti Daris Zumrodah

Resti Daris Zumrodah

Wabah virus Covid-19 menjadi pandemi global dalam waktu yang cukup singkat, kurang dari 5 bulan virus Covid-19 ini telah menyebar ke berbagai Negara di dunia. Kurang lebih 200 negara di dunia telah terjangkit virus Covid-19 ini dan telah menewaskan ribuan orang. Bahkan virus Covid-19 ini telah melumpuhkan aktivitas manusia di seluruh penjuru dunia. Manusia seakan diasingkan oleh Negaranya sendiri dan dibatasi ruang geraknya.

Saat ini, masalah yang di timbulkan dari virus Covid-19 tidak hanya persoalan kesehatan, namun juga menyangkut perekonomian global. Dampak yang cukup besar di rasakan diberbagai Negara khususnya di Indonesia dengan adanya pandemi ini adalah melemahnya sektor ekonomi. Virus Covid-19 ini telah mengakibatkan krisis ekonomi yang sangat dalam dan berdampak bagi kehidupan masyarakat.

Kelumpuhkan pada segi ekonomi semakin parah dengan adanya penguncian (lockdown) terhadap seluruh aktivitas ekonomi masyarakat. Penguncian (lockdown) pada seluruh aktivitas ekonomi akan mempercepat peningkatan jumlah pengangguran karena banyaknya karyawan yang di PHK. Selain itu, industri jasa di dunia akan semakin terpuruk. Sebagai salah satu Negara dengan ekonomi terbesar di dunia, melemahnya sektor ekonomi China akibat Covid-19 akan berdampak besar bagi perekonomian dunia. Aktivitas perdagangan global akan melambat karena permintaan barang dan jasa dari China yang menurun.

Indonesia yang memiliki hubungan ekonomi yang cukup besar dengan China, juga merasakan dampak secara langsung maupun tidak langsung dari wabah Covid-19 tersebut. Pemerintah memperkirakan penurunan 1 persen pertumbuhan ekonomi China akan mengakibatkan penurunan pertumbuhan ekonomi Indonesia kurang lebih 0,6 persen. Besarnya dampak yang ditimbulkan dari adanya pandemi Covid-19 terhadap sektor ekonomi, memperlihatkan bahwa perekonomian Indonesia memiliki resiko yang sangat tinggi untuk melemah.

Sistem perekonomian Indonesia memiiki ketergantungan sangat kuat terhadap perekonomian China baik dari sisi impor maupun ekspor. Walaupun Indonesia juga memiliki hubungan dagang dengan Negara lain, namun proporsinya hanya kecil dan tidak begitu signifikan baik dalam volume ataupun nilai. Oleh sebab itu China memiliki peran yang sangat dominan dalam sistem perdagangan Indonesia. Tingkat ketergantungan yang sangat tinggi Indonesia terhadap perekonomian China bukanlah kondisi yang ideal. Hal ini akan mengakibatkan struktur ekonomi Indonesia akan sangat rapuh dan tidak mampu bertahan terhadap berbagai gelombang perubahan yang datang dari luar terutama dari China.

Untuk mendorong pertumbuhan ekonomi agar tetap berjalan ditengah krisis ekonomi akibat dari wabah Covid-19, pemerintah Indonesia mengeluarkan stimulus yang terangkum kedalam 3 stimulus yaitu stimulus fiscal, non fiscal dan sector ekonomi. Ketiga stimulus tersebut berkaitan dengan kebutuhan masyarkat dalam bidang usaha bisnis, pajak dan lain sebagainya.

Menteri Keuangan Indonesia telah berkoordinasi dengan sejumlah institusi seperti Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keungan (OJK), Lembaga Pinjamin Simpanan serta Komite Stabilitas Sistem Keungan (KSSK). Ketiga stimulus yang diberikan berpengaruh terhadap beragaman sektor yang ada di masyarakat. Pertama, stimulus fiskal untuk mendorong pertumbuhan ekonomi masyarkat seperti pembebasan sementara pajak pengahsilan atau PPh pasal 21 selma 6 bulan untuk industri pengolahan. Hal ini dapat mempertahankan daya beli pekerja yang bekerja disektor industri. Peraturan ini mulai berlaku pada bulan April hingga September 2020. Kedua, stimulus non fiskal yang berkaitan dengan ekspor dan impor.

Stimulus ini dikeluarkan oeleh pemerintah dengan harapan dapat membantu kegiatan ekspor dan impor ditengan wabah Covid-19 seperti, percepatan proses ekspor dan impor bagi para pelaku usaha yang memilki eputasi baik, proses percepatan ekspor impor dengan national logistic system, penyederhanaan atau pengurangan larangan terbatas untuk kegiatan ekspor sehingga dapat membuat kegiatan ekspor berjalab lenacar dan meningkatkan daya saing ekspor, dan penyederhanaan atau pengurangan larangan terbatas impor bagi peruhasaan yang berstatus sebagai produk pangan yang strategis, produsen dan komoditiu holtikultura, obat, bahan obat dan makanan.

Kemudian stimulus yang ketiga yaitu untuk sektor keuangan, seperti Otoritas Jasa Keungan (OJK) mengelurkan relaksasi atau kelonggaran bagi emiten untuk melakukan buy-back saham tanpa melalui mekanisme rapat umum pemegang saham, relaksasi atau kelonggaran restrukturisasi kredit, relaksasi pembayaran untuk iuran program jaminan sosial pada tenaga kerja yang bekerja disektor yang terkena dampak Covid-19.

Dengan adanya stimulus untuk industri perbankan yang sudah berlaku sejak tanggal 13 Maret 2020 sampai dengan 31 Maret 2021. Perbankan diharpakan dapat proaktif dalam mengidentifikasi debitur-debiturnya yang terkena dampak virus Covid-19. Stimulus ini diberikan kepada perbankan dan non perbankan untuk melakukan fleksibilitas dalam perhitungan mengatasi kenaikan kredit macet, bukan hanya berlaku di industri perbaankan tetapi juga pada industri pembiyaan atau multifinance. Tidak ada alasan perusahaan pembiayaan dan perbankan untuk tidak memenuhi Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (PJOK) tersebut karena sektor riil diberi pelonggaran dalam perhitungan kolektibilitas maka perusahaan pembiayaan maupun perbankan tetap bisa meneruskan pinjaman. Dalam restrukturisasi pengusaja bisa dikategorikan dalam kategori lancer untuk perhitungan kolektibilitas.

Adanya kebijakan stimulus ekonomi dari pemerintah dapat mendorong lembaga keungan bank dan non bank agar dapat kompetitif dan efisien melalui peningkatan skala usaha dan transformasi digital. Diharpakan dengan ini, UMKM dapat bangkit dan tetap eksis bertahan di tengah pandemic Covid-19.

Indonesia kini berada pada keadaan yang cukup sulit dalam memberantas Covid-19, banyak hal yang dirugikan dengan adanya pandemic Covid-19 ini. Namun, kita semua harus optimis dalam patuh dengan aturan yang teleh ditetapakan pemerintah agar pandemic Covid-19 akan segera hilang di Indonesia dan memulihkan keadaan Indonesia khususnya dalam sektor ekonomi.


*)Resti Daris Zumrodah

Mahasiswi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik jurusan Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang

Menghadapi Ancaman Ekonomi dari Kepikunan

Oleh: Dr Yuniar Sunarko SpKJ *

Berbagai keberhasilan di bidang kesehatan membuat lebih banyak orang di Indonesia hidup lebih panjang. Di satu sisi, tentu ini sesuatu yang sangat menggembirakan, karena warga senior dengan berbagai kemampuan dan pengalamannya dapat menjadi kontributor dalam pembangunan.

Namun bagai keeping uang bermata dua, kita juga harus menerima konsekuensi bahwa berbagai penyakit degeneratif juga meningkat seiring bertambah panjangnya usia harapan hidup. Demensia (kepikunan) adalah salah satu di antaranya.

Di seluruh dunia saat ini terdapat sekitar 900 juta orang berusia lebih dari 60 tahun, dan jumlah tersebut akan terus meningkat. Dalam World Azheimer’s Report 2015 yang dilansir oleh Alzheimer Disease International dinyatakan bahwa antara tahun 2015-2050 di negara berpenghasilan tinggi akan terdapat peningkatan jumlah warga senior sebesar 56%, sementara di negara berpenghasilan menengah diperkirakan peningkatan berada di kisaran 138 – 185%.

Sementara di negara berpenghasilan rendah – di mana sumberdaya untuk mengantisipasi berbagai konsekuensi penuaan populasi sangat terbatas – penduduk berusia lanjut diperkirakan akan meningkat sebesar 239% dalam periode tersebut. Kelompok negara yang disebut terakhir ini memikul beban ganda (double burden), di mana masalah kesehatan ibu dan akan serta penyakit infeksi masih menuntut perhatian besar sementara masalah penyakit degeneratif terus meningkat berlipat kali.

Diperkirakan 46,8 juta orang mengalami Demensia di seluruh dunia, dan 58% di antaranya berada di negara berpenghasilan menengah ke bawah. Angka tersebut akan meningkat dua kali lipat setiap 20 tahun. Saat ini setiap 3 detik – bersamaan dengan setiap tarikan nafas kita – di seluruh dunia bertambah satu pasien yang dididagnosis Demensia.

Setelah selesai mencermati angka-angka yang disajikan di atas, mari kita mulai memahami bahwa dampak Demensia dapat dilihat pada tiga tingkatan yang saling berhubungan, yaitu Orang Dengan Demensia (ODD), keluarganya, dan masyarakat luas. Sementara Demensia berkaitan dengan menurunnya usia harapan hidup, yang lebih memerlukan perhatian adalah kualitas hidup ODD sendiri dan keluarganya.

Dibandingkan pendampingan pada penyakit lain, ODD memerlukan lebih banyak bantuan. Pada tahap lanjut, mereka memerlukan bantuan di hampir semua aspek kehidupannya : makan, toileting, berpakaian, berpindah tempat, menjaga diri, dan sebagainya. Tentu ini bukan kualitas hidup yang diinginkan oleh semua orang yang berharap dianugerahi umur panjang.

Sementara bagi keluarga / caregiver – nya, kelelahan bertubi-tubi yang timbul selama mendampingi ODD menambah berat beban sehari-hari mereka sendiri. Anggota keluarga yang 24 jam melakukan pendampingan tentu lama kelamaan akan tiba pada titik terbawah kekuatan fisik dan mentalnya.

Konsekuensi lebih lanjutnya adalah penurunan produktivitas dan kualitas pekerjaan keluarga/ caregiver di luar kegiatan pendampingan ODD, karena setiap hari mereka akan berangkat kuliah atau bekerja dalam kondisi tidak prima. Ini disebut Informal Care Cost, yang belum pernah dapat dihitung secara pasti, namun diperkirakan proporsinya sebesar 40% dari beban ekonomi akibat Demensia.

Global cost akibat Demensia di Amerika Serikat meningkat dari US$ 600 miliar pada tahun 2010 menjadi US$ 818 miliar atau 1,09% dari GDP pada tahun 2015. Angka pasti untuk Indonesia belum diperoleh, namun pasti tidak terlalu jauh dari angka tersebut, atau bahkan lebih besar.

Bagaimanakah kita dapat menjawab tantangan ekonomi akibat Demensia ini? Negara-negara yang tergabung dalam G7 telah merilis Global Action Against Dementia. Aksi yang meliputi awareness raising (peningkatan kesadaran), komunitas ramah Demensia/ lansia, serta peningkatan kualitas pelayanan ini direkomendasikan untuk diikuti pula oleh negara- negara G20 – di mana Indonesia termasuk di dalamnya – karena peningkatan beban ekonomi akibat Demensia lebih tinggi di kelompok ini.

Dengan segala sumberdaya yang kita miliki sekarang, kita harus mulai bahu membahu merancang strategi untuk meminimalkan dampak ekonomi akibat transisi demografi ini. Kita mulai dari sekarang untuk memasyarakatkan gaya hidup sehat sejak dini agar tidak menambah populasi penyandang Demensia di masa depan. Bersediakah Anda?

*Dr Yuniar Sunarko SpK, Psikiater di RSJ Dr. Radjiman Wediodiningrat Lawang dan anggota ALZI (Alzheimer Indonesia)-Malang Chapter.

Hermeneutika Perempuan

Oleh: Ade Mulyono

Suatu sore ketika hendak membeli novel di toko buku, saya dikagetkan dengan kehadiran seorang perempuan muda (Sales Promotion Girl) yang mengenakan pakaian serba mini hingga memperlihatkan bagian lekuk tubuhnya sambil menawarkan produk rokok. Bagai tersihir berduyun-duyunlah para lelaki mendekati. Namun, para lelaki sepertinya tidak tertarik dengan promosi harga rokok, melainkan hanya terpukau oleh kemolekan tubuh perempuan muda itu.

Pemandangan serupa juga setiap hari kita saksikan; produk ‘iklan kecantikan’ di televisi selalu ‘mengemas’ model perempuan dengan mengeksploitasi ‘ketubuhannya’ untuk ‘kontes bisnis’. Akibatnya, mitos standar kecantikan ialah putih, langsing, dan tinggi telah menjadi kebenaran absolut di masyarakat. Jika meminjam teori JF. Loytard dalam bukunya ‘Libidinal Economy‘ hal itu tidak lepas dari ‘logika hasrat’ (the logic of desire); lalu lintas ekonomi disertai lalu lintas hasrat (hasrat konsumen dirangsang lewat sensualitas komoditas).

Sudah menjadi rahasia umum dalam kebudayaan kita yang androsentrisme, bahwa tubuh perempuan selalu dijadikan ‘medan magnet’ dalam hal apa pun; bisnis, korporasi, politik, hukum, pendidikan, dan teologi. Meminjam istilah Supartiningsih (2004), libidonomics; sistem pendistribusian rangsangan, rayuan, kesenangan, dan kegairahan dalam masyarakat. Libidonomics itulah yang disindir oleh Gadis Arivia, “Andaikata tubuh perempuan dapat dijadikan saham, maka saya saya anjurkan bermain saham agar cepat menjadi kaya sebab tubuh perempuan di seluruh dunia selalu laku untuk dijual (Jurnal Perempuan: 2011).

Di sisi lain, sepertinya lembaga publik juga ikut menikmati ‘perayaan tubuh’ perempuan. Bukti perayaan itu ialah masih terjadinya aturan diskriminasi terhadap perempuan. Perda-Perda misoginis bagai musim hujan: menjamur. RUU Ketahanan Keluarga tak luput dari sorotan; peran perempuan semakin dilembagakan di wilayah domestik. Sebaliknya, kekerasan terhadap perempuan justru banyak terjadi di ruang privat. Kampus juga ikut latahnya; mengatur mahasiswi berpakaian.

Perempuan: tubuh yang tak merdeka

Dalam peristiwa lain belum lama ini ada seorang suami yang tega menjual tubuh istrinya kepada teman-temannya. Dari peristiwa itu, kita tak dapat menyimpulkan ada persoalan serius di tengah masyarakat yang selalu menganggap perempuan sebagai objek-pasif. Ada ‘dorongan kebudayaan’ yang memaksa kita untuk melihat perempuan sebagai tubuh yang bertuan.

Tentu bukan perempuan itu sendiri yang dimaksud sebagai tuannya. Jika ia seorang istri, maka suaminyalah tuannya (pemilik ketubuhannya). Jika masih lajang tentu orangtuanya yang mempunyai kuasa untuk merestui anaknya dimiliki oleh tuannya (suaminya). Padahal, dalam etika feminisme kita mengenal ethics of care; harapan untuk memelihara kesetaraan.

Di sisi lain, kebudayaan patriarkis menjadi sponsor utama terjadinya diskriminasi atas tubuh perempuan. Senada dengan argumentasi Foucault yang mengatakan, “Bahwa kekuasaan tidak netral dari gender… Term biopolitik menyembunyikan realitas kekuasaan laki-laki atas tubuh perempuan (Sejarah Seksualitas: 1997). Dengan demikian, baik di ruang privat maupun publik ada kekuasaan yang mengendalikan tubuh perempuan. Pendek kata, perempuan dilahirkan dalam keadaan tidak merdeka atas kepemilikan tubuhnya. Stigma itu masih berlangsung dalam kehidupan perempuan hari-hari ini.

Persoalan itu memberi pesan dan kesan, bahwa tubuh perempuan terikat di ruang privat dan terperangkap di ruang publik. Keduanya bersekutu sebagai ‘penebar moral’ atas tubuh perempuan untuk memberi lebel mana yang baik dan buruk. Akhirnya kita dibuat mengerti ada kekuasaan yang menentukan status sosial makhluk bernama perempuan. Ketidakadilan itu membuat perempuan hanya memiliki satu bahasa tubuh: mengangguk.

Bahasa juga tidak lepas dari kendali ‘watak patriarkis’. Lewat bahasa budaya patriarkis meringkus tubuh perempuan. Misalnya, perempuan ‘terjebak’ dalam pengendalian narasi atas nama ‘kesucian’, ‘makhota’, dan ‘kehormatan’ sebagai suatu penghargaan atas tubuhnya. Pertanyaan jika perempuan telah kehilangan ‘kesuciannya’ apakah perempuan tidak lagi berharga?

Jelas ini penghinaan terhadap perempuan. Seakan-akan ‘gairah’ (desire) hanya dimiliki oleh lelaki. Perempuan harus submisif dalam seks. Bahwa menikmatan (pleasure) hanya dalam kendali biologis lelaki: logos spermatikos. Jadi, perempuan yang terkungkung di sarang patriarkis hermeneutikanya menjadi pendek: menyoal ketubuhan perempuan. Padahal, kita mengenang Kartini karena ‘keindahan pikirannya’ bukan pakaian yang dikenakannya.

Persoalan semacam itu sebenarnya sudah berlangsung sejak zaman kolonial Belanda. Roman Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer melukiskan kuasa tubuh perempuan lewat tokoh Nyai Ontosoroh. Coba kita tengok sisi lain kehidupan seorang ‘Nyai’ (gundik) yang luput dari mata publik. Seorang ‘Nyai’ hanya dijadikan ‘penghangat ranjang’ oleh para konglomerat laki-laki Belanda. Saat ‘Nyai’ melahirkan anak, maka akan diserahkan anaknya untuk dibawa pulang ke Belanda. Karena anak keturunan Belanda harus mendapatkan pendidikan ala Belanda.

Di situlah bekerja politik hukum yang dikotomis, hierarkis, dan hegemonis. Tentu ini bukan semata-mata persoalan kepentingan nasionalisme. Akan tetapi, di balik itu ada kepentingan patriarkis. Bahwa subjek hukum ditentukan berdasarkan status gender bukan kesetaraan gender. Apakah subjek hukum berjenis kelamin laki-laki atau perempuan. Seorang ‘Nyai’ tidak lebih dari sekadar ‘babu’ (pelayan kelamin), bukan semata-mata karena ia pribumi, melainkan ‘gundik’ (perempuan).

Kendati zaman telah berubah, namun sampai hari ini penjajahan atas tubuh perempuan masih berlangsung. Dengan berbagai dalil diucapkan untuk menyelundupkan kepentingan ‘watak patriarkis’. Sejatinya pada tubuh perempuanlah melekat simbol perlawanan: equality gender. Di ruang privat kita mengenal Inggit Ginarsih, di ruang publik kita mengenang Marsinah. Begitulah sejarah mencatat.

Hanya dengan terus-menerus menggugat ketidakadilan yang menimpa perempuan kita menulis ulang hukum dan peradaban untuk menghasilkan legal theory feminist. Dengan cara itu kita merayakan separuh umat manusia untuk memperoleh kemerdekaan tubuhnya. Hanya dengan cara itu pula kita menghargai perempuan untuk bebas. Bukan mengendalikan perempuan dengan bebas.(Der/Aka)

*) Ade Mulyono, pemerhati pendidikan dan seorang feminis laki-laki. Novel perdananya Lautan Cinta Tak Bertepi dengan nama penampilan Arian Pangestu (2018).

Pentingnya Keterbukaan Informasi dalam Menangani COVID-19

Oleh: Bagus Rochadi

Membaca berita yang dilansir di berbagai media online, bahwa Kota Batu masuk kawasan red zone dengan 1 orang yang positif covid-19. Saya merasa aneh karena berita ini diumumkan langsung oleh Ibu Khofifah Indar Parawansa selaku Gubernur Jatim. Ada apa ini dengan pemerintahan kota Batu? Kenapa saya tidak mendapatkan informasi apapun tentang ODP atau ODR atau bahkan juga yang terpapar oleh virus corona? Bahkan saya membuka aplikasi among tani yang konon katanya aplikasi tersebut senilai Rp 9 miliar juga tidak mendapatkan informasi apapun.

Ataukah ini pertanda bahwasannya tidak ada koordinasi antara pemerintah pusat dengan pemerintah daerah mengenai sebaran virus corona? Seharusnya pemerintah kota Batu lebih pro-aktif menyampaikan informasi perkembangan wabah ini tanpa melanggar hak-hak pasien, terutama adalah bagaimana pemerintah untuk tetap konsisten menjaga kerahasiaan identitas pasien tersebut.

Menurut saya, penting sekali Pemerintah bersikap transparan mengenai informasi wilayah dan tempat mana saja yang terdampak atau terpapar. Penting agar publik mengetahui agar
dapat segera diambil serangkaian upaya untuk mengurangi resiko bencana, baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana (mitigasi).

Merujuk pada undang undang kesehatan pasal 154 (1) UU 36/2009, bahwasannya “Pemerintah secara berkala menetapkan dan mengumumkan jenis dan persebaran penyakit yang berpotensi menular dan/atau menyebar dalam waktu yang singkat, serta menyebutkan daerah yang dapat menjadi sumber penularan.”

Apabila pemerintah kota Batu tidak bersikap terbuka, dikhawatirkan akan bermunculan berita berita hoax yang akan menimbulkan keresahan pada masyarakat. Saya menerima beberapa berita yang mengatakan bahwa daerah A atau daerah B dan daerah C terdapat pasien yang terjangkit virus Corona. Ketika saya melihat foto yang beredar, saya yakin itu bukan di daerah kota Batu.

Bahkan, kemarin pada Sabtu, 28 maret 2020 ada seorang yang pingsan di depan rumah saya. Beberapa orang tidak berani menolong, karena takut yang pingsan tersebut terjangit virus Corona. Untuk beberapa saat, orang tersebut tergeletak begitu saja di jalanan. Hingga kemudian Beliau terbangun, dan memanggil tukang ojek yang mengantarkan orang tersebut pulang.

Saya baru mengetahui berita tersebut karena ada informasi dari teman saya Rizky Ramdan. beberapa saat kemudian datanglah petugas PMI, intel dari polsek, intel dari Koramil dan petugas BPBD. Setelah saya coba melakukan klarifikasi ke rumah tukang ojek, ternyata korban tersebut memiliki riwayat penyakit jantung. Miris sekali apabila masyarakat terus dihantui oleh ketakutan-ketakutan seperti ini.

Saya berharap Pemerintahan kota Batu ke depannya tidak perlu lagi menyembunyikan fakta yang terjadi sambil memikirkan alternatif kebijakan yang harus diambil. Kita memang sedang menghadapi dilema tentang sumber informasi apa yang dapat dipercaya. Media sosial dan media daring lebih banyak mengejar click-bait dengan menuliskan judul-judul yang mengundang emosi dan menurunkan berita-berita yang belum terkonfirmasi atau berita-berita hoaks. Saya berharap pula para pemangku kekuasaan, pejabat terkait dan wakil rakyat tidak lari dari kenyataan demi menjaga citra politis mereka. Terlebih lagi kota Batu dikenal sebagai kota tujuan wisata, yang tentunya isu apapun akan berdampak pada kunjungan wisatawan. Jangan sampai masyarakat semakin fobia dan mengalami tekanan psikis karena hoax hoax yang beredar.(Hmz/Aka)

*) Bagus Rochadi, Warga Kota Batu yang juga CEO Indonesian Super Guide.

Refleksi atas Kondisi Kebebasan

Oleh: Abdul Wahid*

Reformasi sudah berlangsung hampir 20 tahun. Berbagai perubahan banyak dirasakan kelompok masyarakat, terutama pada bidang kebebasan berpendapat. Setiap orang kini tidak lagi takut dipenjarakan gara-gara ucapan yang dianggap menyinggung rezim penguasa. Kebebasan adalah barang mewah pada Orde Baru. Lazim diketahui, kata-kata bisa berakhir pada penjara pada masa itu. Perjuangan meruntuhkan Orde Baru tidak dapat dilepaskan dari pengandaian menciptakan masyarakat madani yang berbasis pada keterbukaan dan kebebasan; terbuka atas informasi dan bebas berekspresi.

Kini, kita hidup dan menghidupi era pasca-reformasi. Kondisi kebebasan mendapat ruang terbuka yang sama sekali berbeda dengan sebelumnya. Akan tetapi, kondisi kebebasan saat ini justru jauh dari pengandaian perjuangan awal masa reformasi. Berbagai masalah seperti hoax dan ujaran kebencian dapat ditemui dengan mudah hampir di seluruh timeline media sosial. Bahkan, agenda publik kadang didasarkan pada peristiwa viral di media sosial meski peristiwa tersebut pada kemudian hari terbukti hoax. Kondisi ini merupakan bagian dari konsekuensi kebebasan yang disalahgunakan untuk kelompok kepentingan ataupun kondisi masyarakat yang belum siap dengan konsekuensi kebebasan dibebankan pada mereka.

Konsekuensi Teknologi yang Terbuka

Teknologi informasi menjadi jembatan antara masyarakat dan dunia sosialnya. Teknologi sekaligus mendorong pada terciptanya ruang-ruang baru sebagai bagian dari gejala kondisi masyarakat yang bebas dan terbuka. Melalui teknologi media sosial misalnya, beragam informasi bisa didapatkan dengan mudah untuk merefleksikan fenomena kontemporer. Media sosial menjadi sarana baru bagi masyarakat untuk membentuk dunia publiknya. Siapapun dapat berkomentar dan mengunggah apapun. Masyarakat tidak hanya menjadi pembaca, tapi sekaligus jadi produsen informasi sekaligus.

Meski demikian, keterbukaan dalam media sosial tidak sejalan dengan kualitas informasi. Berita palsu dapat tumbuh, berkembang, dan tersebar secara luas pada masyarakat. Jika mengembalikan ingatan pada Pemilu 2014 lalu, berbagai media sosial, media partisan, hingga media propaganda murahan ala Tabloid Obor dengan mudah menyebar di masyarakat. Tak hanya itu, baru-baru ini sekelompok orang di bawah naungan Saracen, diduga kuat menawarkan jasa pengelolaan isu secara sistematis melalui media sosial. Isu yang dikelola tidak main-main; politik, agama, hingga suku dan ras kelompok tertentu yang bernada kebencian dan fitnah.

Parahnya, sebagian besar masyarakat kita bahkan percaya pada segala unggahan di media sosial. Hal ini dapat dilihat dari data pengikut Saracen yang berjumlah lebih dari 800 ribu akun di media sosial Facebook. Produksi informasi yang menyesatkan akan melahirkan gambaran menyesatkan di benak masyarakat. Padahal, gambaran ini menjadi dasar tindakan masyarakat atas dunia sosialnya. Jika Saracen mengunggah konten hoax yang diarahkan membenci kelompok lain, kemungkinan masyarakat pengikut akun Saracen akan memiliki pandangan dan keyakinan sama. Keyakinan ini akan bertambah besar jika unggahan konten kebencian ini bagikan banyak pengguna media sosial dan menjadi viral. Keyakinan bersama ini kemungkinan akan dianggap sebagai kenyataan atas dunia.

Kita dapat membayangkan bagaimana kualitas kehidupan publik dapat terbangun dengan baik jika kenyataan didasarkan pada konten yang tidak berdasar sama sekali. Kenyataan yang demikian ini hanya menciptakan lingkungan semu; lingkungan yang tercerabut dari kondisi asalnya. Kondisi ini hanya akan menghasilkan ketidakpastian masyarakat pada dunia. Pada titik ini, media sosial memang mendorong keterbukaan tanpa batas. Seakan-akan teknologi memiliki mekanisme natural untuk mendorong masyarakat bertindak secara bebas.

Selayaknya kondisi kebebasan sudah harus dimaknai masyarakat sebagai jaminan untuk mengembangkan kualitas kehidupan mereka. Masyarakat dituntut lebih cerdas dan tidak melahap informasi dengan cara yang mentah. Tentu masyarakat yang sadar ini tidak lahir dengan sendiri. Berbagai gerakan sosial terkait literasi; baik literasi informasi, teknologi, maupun literasi media dalam arti yang sangat luas, perlu didorong dan digerakkan secara terus menerus. Relasi antar masyarakat yang sadar ini secara tidak langsung akan membawa perubahan yang nyata pada kecerdasan masyarakat dalam menghidupi dunia publiknya. Gerakan bersama ini sekaligus melengkapi upaya pemerintah maupun lembaga non-pemerintah yang sama-sama berupaya menjamin ruang publik yang sehat.

Adapun keberadaan berbagai kelompok yang memiliki latar ideologis berbeda, justru akan melahirkan dialektika ruang publik yang sehat. Prasyaratnya adalah pada informasi di berbagai ruang yang dilahirkan melalui proses komunikasi yang terbuka. Komunikasi terbuka ini tidak menutup pada ruang dialog, memberikan informasi palsu, maupun propaganda melalui konten bernada kebencian. Bukankah dunia ini adalah ruang bersama yang dihidupi masyarakat dari berbagai latar berbeda? Dengan demikian, perbedaan merupakan niscaya pada kehidupan masyarakat manapun.


*Abdul Wahid, bergerak di Center for Critical Society on Media, hidup dan tinggal di Malang. Kini aktif mengajar di Ilmu Komunikasi Universitas Brawijaya.

Kongres HMI Ricuh itu Seksi

Anwar Hudijono. (Istimewa)

Oleh: Anwar Hudijono

Yang mau bilang itu aib silakan. Yang mau menyatakan prihatin boleh-boleh saja. Yang mau kesal dan malu tak masalah. Saya sendiri melihat kericuhan Kongres Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) ke-31 di Surabaya itu seksi gitu low.

Kenapa? Pertama, Kongres ricuh ini bukan yang pertama. Kongres di Depok obrak-abrikan. Kongres di Ambon awut-awutan. Kericuhan Kongres Surabaya ini kabarnya juga bukan yang terparah. Dengan demikian anggap saja kericuhan ini bagian dari dinamika organisasi.

Sekaligus sebagai pembelajaran bagi kader yang mau terjun ke politik. Bahwa proses politik itu seringkali dibumbui kekerasan. Politik sekarang ini politik hibrida. Proses politik tidak cukup dengan lobi, negosiasi, tetapi juga propaganda, kekerasan, intimidasi. Ke depan politik hibrida ini akan semakin menggigit. Nah, di sinilah salah satu seksinya kericuhan Kongres.

Kedua, HMI itu organisasi anak muda. Tingkat emosinya masih tinggi. Sementara intelektualitasnya ya masih datarlah. Cuma mereka saja kadang-kadang kemenyek merasa sudah hebat. Tapi itu pun tidak apa-apa. Karena anak muda itu ibarat padi yang masih hijau, gabahnya belum berisi sehingga berdiri mendongak.

Apalagi ini jaman digital. Jaman medsos. Medsos itu konsumsi emosional. Di situ emosi berubah-ubah secara cepat. Dari ketawa tiba-tiba ngamuk. Dari grup persaudaraan berubah jadi grup gegeran. Medsos itu menaikkan daya emosionalitas. Saat bersamaan menurunkan daya intelektualitas. Maka para ”ahlul medsos” lazimnya baperan.

Kebalikan dengan buku. Buku itu konsumsi intelektualitas. Membaca buku itu ada waktu dan energi merenung. Menelaah. Menimbang-nimbang. Buku membahas persoalan secara lebih menyeluruh. Kenapa generasi awwalun HMI pintar-pintar, intelektualitasnya mumpuni karena mereka pedoyan buku. Betapa mereka bangga jika kamar kostnya penuh dengan buku.

Saya menduga mayoritas peserta Kongres ini ahlul medsos. Hanya masalahnya, apakah kader-kader HMI sudah merasa puas menjadi ahlul medsos?

“Politik transaksional”

Ketiga, kericuhan itu pertanda tidak ada operasi senyap dengan uang. Di jaman now, alat efektif yang bisa membikin diam itu uang. Kalau uang justru malah bikin ricuh itu berarti pembangian tidak merata atau ada entit-entitan.

Saya sangat prihatin ketika berembus kabar Kongres di Jogja ada isu cukong membawa karungan uang di arena Kongres. Ada kandidat bagi-bagi uang pulsa. Uang tiket. Entah apapun namanya. Yang jelas itu bagian dari politik transaksional. Benar tidaknya saya tidak tahu.

Kok bisa cukong terlibat? Sangat mungkin. Pimpinan HMI itu berpotensi menjadi pemimpin Indonesia. Terbukti banyak pemimpin Indonesia berlatar belakang HMI. Di Kabinet Jokowi-Ma’ruf saja ada sejumlah kader HMI. Sekian persen anggota DPR dan MPR kader HMI. Bagi cukong, membangun oligarki itu dimulai sejak dini.

Berdasar ilmu titenologi, saat ini ada kader-kader HMI yang sudah jadi alumni masuk dalam jaringan oligarki. Konon Indonesia saat ini dikendalikan oleh kekuatan oligarki. Dan bisa jadi justru mereka itu kini jadi patron para kader yang ikut Kongres.

“Tarekat intelektual”

Anggap saja, sekali lagi, ricuh ini dinamika organisasi sesaat. Jangan diperpanjang. Jangan sampai HMI tersempal seperti jaman HMI MPO.

Sebagi orang tua, saya tidak bisa mengatakan kalian harus begini kalian harus begitu. Bernostalgia jaman saya muda. Kader-kader sekarang hidup dengan masalah dan tantangan tersendiri. Punya jaman sendiri.

Hanya karena di akhir jaman, saya mengingatkan bahwa HMI harus menjadi generasi yang didatangkan oleh Allah. Generasi yang dicintai Allah dan mereka mencintai-Nya. Yang bersikap lemah lembut terhadap orang-orang yang beriman, tetapi bersikap tegas/keras terhadap orang-orang pagan. Yang berjihad di jalan Allah. Tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. (Quran 5:54).

Kader-kader HMI sebaiknya melakukan “tarekat intelektual” dalam arti berani prihatin. Tidak larut dalam kemegahan dunia. Tidak hanyut dalam materialisme, liberalisme, hedonisme. Seperti yang disimbolkan dengan anak muda yang ikut Nabi Musa berguru kepada Hidlir. Seperti generasi Ashabul Kahfi yang dirahmati Allah.Salah satu isi “tarekat intelektual” itu adalah berani menunda kesenangan.

Berani menunda kesenangan inilah yang dinasehatkan Cak Nur kepada seorang mantan ketua umum HMI. Dia ini karier politik sangat cemerlang. Banyak yang memprediksi, selangkah lagi dia menjadi pemimpin RI. Sayang, dia melupakan nasehat Cak Nur. Akhirnya, bukan hanya pupus karier politiknya, malah masuk penjara.

Coba pasca ricuh ini, melakukan “tarekat intelektual” sehingga menjadi danau yang tenang, bening setelah bergelombang diterjang badai. Rabbi a’lam.

Anwar Hudijono,
kolumnis tinggal di Sidoarjo

Buya Syafii itu Seperti Nabi Khidir

Tak segan Menko PMK Muhadjir Effendy mencium tangan Buya Syafii Maarif. (Dok Keluarga/Mvoice)

Oleh Anwar Hudijono*

“Rasul-rasul itu Kami lebihkan sebagian mereka dari sebagian yang lain”. Begitu pembukaan juz tiga Quran surah Al Baqarah ayat 253, posisi kiri paling atas.

Allah memilihkan jenis kelebihan pada rasul-Nya untuk menjawab persoalan umat mereka. Sesuai tuntutan jamannya. Sesuai momentumnya.

Rasulullah Yusuf diberi kelebihan soal ekonomi dan bisnis karena pada jamannya terjadi krisis ekonomi. Nabi Ayub diberi kelebihan kesabaran yang tiada batas untuk menghadapi krisis di atas krisis.

Rasulullah Musa diberi mukjizat yang dahsyat karena jamannya dikuasai oligarki atau persekutuan Firaun (despotisme politik dan militer), Qarun (kapitalisme) dan Hamam (teknologi dan sihir). Mirip-miriplah dengan Amerika sekarang.

Rasulullah Sulaiman diberi kelebihan bidang sains dan teknologi karena menghadapi persekutuan rahasia umat Yahudi dengan setan ahli sihir dan teknologi. (Quran Al Baqarah 102). Persekutuan ini yang kemudian disebut Yakjuj dan Makjuj. Mereka memiliki tuhan yang dibelenggu (Quran Al Maidah 64). Siapa yang dibelenggu? Jawabnya ada di Hadits Tamin Ad-Dhari. Yaitu Dajjal.

Demikian pula cara Allah memilihkan pemimpin Muhammadiyah disesuaikan dengan permasalahan persyarikatan, umat dan bangsa. Pas dengan mementumnya. Tuntutan dan kebutuhan. Semua itu indikator betapa sayang dan ridha-Nya kepada Muhammadiyah.

Pak AR dihadirkan saat Muhammadiyah harus menghadapi kepemimpinan nasional gaya “Raja Jawa”. Figur Pak AR itu seperti pohon kelapa. Sangat kuat tetapi luwes. Arah angin diikuti sedikit tapi tidak sampai mentelung. Malah sebaliknya jadi kelihatan indah karena blaraknya melambai-lambai seperti tangan penari remo. Dia bisa nyurteni (memahami) dan ngemong Pak Harto.

Karena rezim tidak mempan oleh amar ma’ruf nahi mungkar gaya Pak AR, bahkan semakin mbegudul karepe dewe (menjadi-jadi) lantas Allah mengganti pemimpin Muhammadiyah dengan Amien Rais. Suaranya lantang, jago mengramesi kata-kata, saraf takutnya sudah putus sehingga berani melengserkan Pak Harto.

Bagaimana dengan Prof Haedar Nashir? Saya sangat yakin Allah memilihkan dia juga karena pada momentum terbaiknya. Sesuai masalah yang dihadapi persyarikatan, umat dan bangsa. Sepadan dengan tuntutan zaman.

Jelasnya bagaimana? Nah, insyaallah saya jelentrehkan di lain waktu. Kali ini saya fokus ke Buya Syafi’I Maarif dulu.

Selamatkan Muhammadiyah!

Allah mengizinkan (memilih) Buya Syafii Maarif untuk menjadi Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah pada tahun 1998 menggantikan Amien Rais yang harus meletakkan jabatan sebagai konsekuensi menjadi Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN).

Saat itu bangsa Indonesia, termasuk warga Muhammadiyah sedang dilanda badai euforia reformasi. Manusia seperti asyik menari-nari di atas pasir sehingga tidak sadar kalau sedang diseret ombak. Semua terlihat menyenangkan. Indah. Mempesona. Tidak sadar bahwa sedang menonton realitas palsu.

Buya Syafii tidak ikut menari atau sekadar duduk di hamparan pasir tersebut. Dia memilih duduk sidikara (istirah) di atas batu yang berada di pertemuan dua samudera.

Dari “keterasingannya” dia melihat euforia reformasi bukan dengan mata eksternal (fisik) tetapi dengan mata batin (bashirah).

Buya seolah seperti Rasulullah Sulaiman yang dengan bashirahnya melihat ada “jazad” yang tergeletak di singgasananya. (Quran, As-Shad 34). Jazad ini berambisi menguasai dunia dari Yerusalem atau Al Quds. Ini sangat bahaya. Maka Sulaiman pun berdoa, “Ya Tuhanku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh siapapun sesudahku. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Pemberi.”

Buya melihat (dengan basyirah tentunya) bahaya yang sangat dahsyat. Ada kekuatan tidak kasat mata yang punya obsesi hendak menguasai Indonesia dan menindas bangsanya. Kekuatan ini memanfaatkan momentum reformasi ini untuk menggolkan agendanya sendiri. Atau bahkan sangat mungkin memegang skenarionya. Bukankah dalang selalu di belakang layar?

Agar bisa menguasai dan menerkam Indonesia maka pilar-pilar penyangganya harus dihancurkan. Umat Islam, dan khususnya Muhammadiyah adalah salah satu pilar penyangga sangat vital.

Muhammadiyah adalah salah satu elemen yang mendirikan negara ini. Tiga tokohnya menjadi perumus dasar negara ini. Tokohnya lagi, Jenderal Besar Soedirman adalah bapak TNI.

Buya pun mendapat inspirasi untuk segera mengambil langkah: selamatkan Muhammadiyah!

Caranya, meneguhkan Muhammadiyah agar tidak terseret euforia reformasi. Di antara langkah strategisnya adalah Muhammadiyah tidak menjadi fasilitator atau pemrakarsa pendirian partai politik. Muhammadiyah tetap konsisten sebagai organisasi dakwah dengan menekuni bidang pendidikan, kesehatan, sosial, dan keagamaan.

Tembok Zulkarnain
Buya pun seolah menjadi tembok Zulkarnain untuk melindungi umat manusia dari aksi fasad (perusakan) Yakjuj dan Makjuj (Quran, Kahfi 94). Maka bagi saya, eksistensi kepemimpinan Buya 1998 – 2005 itu adalah rahmat Allah untuk Muhammadiyah.

Sikap tegas, kokoh Buya ini mendapat dukungan dari tokoh-tokoh puritan Muhammadiyah seperti Prof Abdul Malik Fadjar. Tapi juga tidak sedikit yang kecewa, menentang. Terutama dari kalangan warga dan simpatisan Muhammadiyah yang sedang dilanda euforia politik.

Mengapa mereka kecewa? Karena kalau parpol didirikan atau setidaknya difasilitasi Muhammadiyah, dan pengurusnya boleh rangkap jabatan, maka akan menjadi parpol yang besar. Kalkulasinya sekitar 30 juta warga Muhammadiyah akan tumplek blek memilih parpol itu. Tentu saja ini kalkulasi awur-awuran. Tapi biasa politisi itu kalau ngobral optimisme kayak yak-yak’o.

Dari situlah badai fitnah mulai menghantam Muhammadiyah. Badai fitnah itu direbakkan kekuatan yang ingin Muhammadiyah lembek atau hancur layaknya menyiramkan bensin di bara api jerami. Buya pun mendapat hujatan habis-habisan.

Merebak isu bahwa Buya Syafii dengan Amien Rais pecah. Terlibat konflik hebat. Tentu saja spekulasi pepesan kosong. Buya itu seperti ikan tanpa tulang dan duri, mustahil mau konflik apalagi dengan kawan seiring dalam membesarkan Muhammadiyah.

Pada Muktamar Muhammadiyah tahun 2005, Buya menyerahkan kepemimpinan kepada generasi muda yaitu Prof Dien Syamsuddin. Buya mengikuti kaderisasi dalam regenerasi sebagai sunah Rasul. Rasulullah Muhammad menyiapkan kaderisasi Ali bin Abi Thalib. Ali kepada Hasan dan Husein dan seterusnya sampai nanti pada khalifah akhir zaman Muhammad bin Abdullah Al Mahdi.

Seusai purna tugas di Muhammadiyah, Buya memilih madek (menjadi) begawan atau resi. Ngamandita. Seperti seorang pertapa yang duduk sidikara di atas batu yang berada di tengah pertemuan dua samudra. Madek sepuh. Apa itu sepuh? Sepi hawa awas loro ning atunggil.

Sidikara Buya bukanlah seperti rahib yang sendirian bak embun di dedaunan yang segera kering manakala matahari merebaknya sinarnya. Melainkan proses lelaku untuk membina sepi hawa atau mengendalikan hawa nafsu. Sebab hawa nafsu akan mendorong kepada kesesatan.

“Janganlah engkau mengikuti hawa nafsu karena akan menyesatkan engkau dari jalan Allah”. (Quran, As Shad 26).

Hawa nafsu tidak pudar bersamaan dengan umur yang menua. Sampai ada istilah tua-tua keladi, tambah tua tambah kayak keledai eh .. semakin menjadi. Hawa nafsu hanya bisa dikekang, dikendalikan dengan lelaku.

Sidikiranya Buya adalah seperti duduknya matahari. Tetap memberikan cahayanya bagi kehidupan. Buya tetap memberikan nasihat kepada bangsa, umat sebagai pengamalan wa tawa shaubil haqqi wa tawa shaubis shabr. Wa tawa shabil marhamah (saling menasehati dalam kebaikan, kesabaran dan kasih sayang).

Hanya jiwa yang sudah sepi hawa nafsulah yang akan kembali kepada Allah dengan jiwa yang tenang (nafsul mthmainnah). Jiwa yang ridha, ikhlas bahwa segalanya berasal dari Allah dan akan dikembalikan kepada-Nya (sangkan paraning dumadi).
“Wahai jiwa yang tenang
Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai-Nya
Maka masuklah ke golongan hamba-hamba-Ku
Dan masuklah ke dalam surga-Ku”

(Quran, Al Fajr 27-30).

Semoga Buya termasuk golongan yang diridha dan diridhai Allah. Sugeng kundur, Buya.

Astaghfirullah. Rabbi a’lam.(end)

Anwar Hudijono, wartawan senior tinggal di Sidoarjo

Mudik dalam Spiritualisme Masyarakat Jawa (bagian ke-2 dari 3 tulisan)

Anwar Hudijono. (istimewa)

Oleh Anwar Hudijono

Spiritualisme mudik itu berada pada pertemuan dua arus yang sangat kuat seperti bertemunya arus dua lautan (majma’al bahrain). Arus penarik berasal dari subyek yang berada di tempat asal atau yang dimudiki, dengan arus pendorong berasal dari subyek perantau atau yang mau mudik.

Pertemuan dua arus itu berada pada simpul hakikat silaturahmi. Istilah yang diciptakan leluhur masyarakat Jawa adalah nglumpukne balung pisah (mengumpulkan tulang-tulang yang terpisah). Tentu saja ini simbolis.

Semua berasal dari satu konstruksi tulang-tulang yang disebut keluarga, kerabat, batih. Kemudian bagian konstruksi itu terpisah-pisah secara fisikal untuk mengaktualisasi ketermasing-masingannya.

Konstruksi ini harus dipelihara. Keterpisahan fisikal atau jasmaniah jangan sampai menjadikan keterpisahan batiniah. Jangan dibiarkan terserak sendirian. Konstruksi keluarga ini merupakan bagian terkecil dari konstruksi universal yang disebut ukhuwah basyariyah (ikatan sesama manusia). Karena hakikatnya manusia itu satu konstruksi dengan segala keanekaragamannya.

“Wahai manusia. Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan. Kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan beretnis-etnis agar kamu mengenal.” (Quran: 49:13).

Leluhur Jawa menjadikan Idul Fitri sebagai momentum emas untuk melakukan rekonstruksi keluarga. Pilihan ini tidak asal-asalan seperti belok ke warung saat lapar. Tapi, pilihan ini memiliki landasan kearifan yang kuat. Yaitu selaras dan berintegrasi dengan nilai-nilai dasar Idul Fitri.

Nilai dasar Idul Fitri itu adalah setiap individu bisa kembali ke fitrah (kembali kepada kesucian – kullu maulidin yuladu alal fitrah/ Setiap kelahiran itu dalam keadaan suci tanpa membawa dosa). Setelah dosa-dosanya dilebur selama Ramadhan. Setelah mereguk segala rahmat Allah selama Ramadhan. Setelah dengan puasanya mampu membuat setan terbelenggu (tak mampu mempedayai). Setelah puasanya memiliki kekuatan membuka pintu-pintu surga dan menutup pintu neraka.

Pintu surga itu banyak. Menunjukkan bahwa masuk ke surga itu memang berat. Butuh perjuangan yang berliku-liku. Banyak godaan. Banyak jebakan penyesatan. Maka ke surga disebut naik. Sedang pintu neraka cukup satu. Lebar lagi. Ke neraka itu mudah. Tak butuh perjuangan dan kerja keras. Maka proses masuk ke neraka disebut kecemplung. Artinya begitu mudahnya. (Membaca gini jadi mrinding).

Fitrah sosial

Fitrah manusia itu juga mahluk sosial. Bangunan sosial terkecil itu adalah batih, keluarga inti. Yaitu ayah, ibu dan anak. Kemudian diperluas lagi dengan lingkaran keluarga kakek, nenek, paman, tante, sepupu, saudara. Diperluas lagi tunggal buyut, tunggal canggah dan seterusnya.

Jika bangunan sosial itu dengan ikatan agama Islam disebut jamaah, ikhwah. Innamal mukminuna ihwatun, sesungguhnya kaum mukmin itu bersaudara (Quran: 48:10).

Iblis, setan, Dajjal tidak merasa hepi jika manusia berada dalam bingkai keluarga, kerabat, jamaah, ihwah. Maka mereka membuat strategi individualisme untuk menghacurkannya. Agar manusia menjadi individu-individu yang terserak bagaikan titik-titik embun di dedaunan yang akan segera kering manakala matahari menyala. Sedang keluarga, jamaah itu seperti sungai besar yang isinya kumpulan titik-titik embun.

Orang yang sudah terperangkap pada invidualisme akan merasakan betapa sesatnya ideologi itu manakala di ujung ajal. Mari kita coba renungkan pengakuan Steve Jobs, orang pernah menjadi orang terkaya dunia. Menjadi sosok idola publik global. Inspirator kehidupan.

Hidupnya dihabiskan untuk menumpuk uang. Menggunungkan materi. Mengejar populritas dan pujian. Ternyata individualisme, materialisme telah membuat dirinya sebagai orang yang sangat menderita. Penderitaanya justru berpusat pada keluarga yang berantakan.

“Kabahagiaan batiniah sejati tidak datang dari hal-hal materi dunia ini. Pada saat saya berbaring di atas ranjang rumah sakit dan mengingat seluruh hidup saya, saya menyadari bahwa semua kekayaan dan pengakuan telah memudar dan tidak berarti dalam menghadapi kematian yang segera akan datang. Tidak ada yang lebih berharga lebih dari keluarga,” katanya.

Pengakuan ini menjadi contoh peringatan Al Quran di Surah An Nur (24) ayat 39: “Dan orang-orang kafir, perbuatan mereka seperti fatamorgana di tanah datar. Yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi apabila didatangi ternyata tidak ada apa-apa.”

Harta yang paling berharga

Adalah keluarga

Istana yang paling indah

Adalah keluarga

Puisi yang paling bermakna

Adalah keluarga

Mutiara tiada tara

Adalah keluarga

(Sound Track Film Keluarga Cemara).

Betapa tinggi nilai keluarga. Di dalam keluarga itu tersimpan potensi ganjaran yang sangat besar. Maka tanggung jawab terhadap mereka juga besar. Sampai-sampai Allah secara khusus memerintahkan: “Wahai orang-orang beriman. Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka, yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.” (Quran: 66: 6).

Dan inti konstruksi keluarga sakinah mawaddah wa rahmah adalah tenteram, damai, bahagia di dunia dan tetap bersama di dalam surga. Jika anak kumpul orang tuanya. Lantas orang itu sebagai anak juga kumpul dengan orang tuanya dan seterusnya maka keluarga itu menjadi keluarga besar ahlul jannah, penghuni surga.
Rabbi a’lam (Tuhan lebih tahu).

Anwar Hudijono
Kolumnis tinggal di Sidoarjo.