TA’ARUF CALEG

Oleh : SUGENG WINARNO

Tak kenal maka tak sayang, begitu ungkapan yang cocok untuk menggambarkan hubungan antara Calon Legislatif (Caleg) dengan masyarakat (konstituen) yang diwakilinya. Hiruk pikuk Pemilihan Presiden (Pilpres) sepertinya lebih menyita perhatian masyarakat. Tak banyak caleg yang muncul mengenalkan diri. Pada sisa waktu kampanye politik ini, saatnya para caleg lebih semangat mengenalkan diri (ta’aruf).

Bagaimana akan dipilih kalau kenal saja tidak. Banyak masyarakat yang tidak mengenal siapa caleg yang ada di daerahnya. Kalau hal ini terus terjadi hingga akhir masa kampanye maka bisa dipastikan masyarakat akan memilih caleg seperti layaknya membeli kucing dalam karung. Masyarakat bisa jadi keliru menentukan pilihannya karena tidak cukup informasi tentang sosok caleg yang sedang ikut berkontestasi.

Merujuk pada jajak pendapat yang dilakukan Litbang Kompas pada November 2018, diperoleh hasil bahwa banyak caleg yang belum di kenal masyarakat. Dua bulan setelah penetapan caleg DPR, DPRD, dan DPD, ternyata publik belum banyak tahu. Menurut hasil jajak pendapat Kompas bahwa di level DPRD kabupaten/kota, ada 50,6 persen calon pemilih yang tidak tahu nama caleg yang ikut berkontestasi. Sementara pada level provinsi, sebanyak 55,7 persen dan untuk DPR sebanyak 63 persen, serta untuk calon DPD sebanyak 64,1 persen pemilih yang tidak tahu siapa kandidat caleg yang ikut berkompetisi.

Masih merujuk pada jajak pendapat Litbang Kompas, ternyata tingkat pengenalan masyarakat pada caleg yang sudah diketahuinya juga sangat rendah. Hanya 33,7 persen yang mengenal 1-5 caleg tingkat DPRD kabupaten/kota. Sementara pengenalan pada caleg level provinsi juga rendah, yakni 1-5 orang saja. Padahal menurut KPU, Daftar Calon Tetap (DCT) anggota DPR sejumlah 7.968 orang, dan calon DPD sebanyak 807 orang. Anggota DPD provinsi, kabupaten/kota dengan jumlah ratusan caleg di setiap daerah pemilihan (Kompas, 19/11/2018).

Popularitas Jadi Kunci

Kenapa caleg harus mengenalkan diri (ta’aruf)? Karena bagaimana masyarakat akan memilih kalau tahu dan kenal saja tidak. Minimal kenal sosok personalnya, keluarganya, terlebih masyarakat tahu rekam jejak (track record), visi misi, ide, gagasan dan program yang bakal diusungnya kelak bila terpilih jadi wakil rakyat. Popularitas sang caleg menjadi kata kunci guna menarik simpati.

Memilih caleg bukanlah seperti tebak-tebak si buang Manggis. Memilih caleg juga bukan seperti membeli kucing dalam karung. Memilih caleg pertaruhannya sangat serius. Bila masyarakat salah pilih, tentu penyesalan akan berlangsung hingga lima tahun ke depan. Agar masyarakat tidak salah dalam menentukan pilihan sosok caleg maka masyarakat perlu referensi sebanyak dan selengkap mungkin tentang sang caleg.

Bagi para caleg yang sedang berkontestasi juga jangan coba-coba mengelabui masyarakat. Jangan tampil instan lewat tebar pesona dan pencitraan. Kebohongan yang dibangun lewat beragam rekayasa sang caleg, ujung-ujungnya dapat menipu masyarakat. Janji-janji politik palsu yang digunakan merayu masyarakat hendaknya dijauhi.

Popularitas memang super penting, namun membangun dan mencapai popularitas itu hendaknya dengan cara-cara yang baik. Menunjukkan prestasi kerja nyata akan jadi cara yang ampuh untuk mengenalkan diri dan merebut simpati masyarakat pemilih. Popularitas yang dibangun lewat karya nyata dan rekam jejak yang baik akan menjadi referensi penting masyarakat dalam menentukan pilihannya.

Segala cara instan guna mendulang popularitas tidak bisa sekedar tipuan (lips) semata. Model-model kampanye tebar pesona di media sosial (medsos) dan iklan politik sering tidak menyentuh esensi persoalan masyarakat. Dramaturgi yang dimainkan para caleg di media massa saatnya diakhiri dan diganti dengan tampilan ide, gagasan, dan karya nyata yang bermanfaat bagi masyarakat.

Telisik Rekam Jejak

Pada pemilu 2019 mendatang, puluhan ribu orang akan berlomba memperebutkan 575 kursi di DPR, 19.817 kursi di DPRD provinsi/kabupaten/kota, dan 165 kursi DPD. Mereka yang ikut berkontestasi terdiri dari represensisi partai politik, artis, selebritas, dan masyarakat biasa. Semua memang berpeluang jadi caleg asal memenuhi persyarakat yang telah ditentukan KPU.

Para kandidat caleg berasal dari latarbelakang pendidikan, profesi, status sosial, partai dan beragam faktor lain. Heterogenitas yang melekat pada diri masing-masing caleg harus diketahui masyarakat. Bahkan caleg mantan napi korupsi hendaknya juga menjadi perhatian serius penyelenggara pemilu maupun masyarakat. Intinya semua rekam jejak sang kandidat harus secara terbuka diketahui masyarakat.

Di era digital saat ini, tidak sulit mengetahui rekan jejak seseorang. Siapa saja yang telah pernah membaut jejak digital di internet pasti bisa dilacak rekam jejaknya. Karena semua konten yang telah muncul secara online tidak akan bisa dihapus kecuali karena pertimbangan tertentu. Sehingga segala kebaikan dan atau keburukan yang pernah ditorehkan seseorang di jejak digital pasti dengan mudah bisa dilacak.

Menelisik rekam jejak sang caleg juga bisa dilakukan lewat penelusuran harta kekayaannya. Simak latar belakang dan harta yang dimiliki sang caleg. Jika ada sosok caleg yang super tajir, sementara pekerjaannya tidak jelas, maka ini patut dicurigai. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) telah menyediakan laman digital untuk melakukan penelisikan harta kekayaan para pejabat publik.

Ketika banyak caleg yang belum dikenal masyarakat, sementara masyarakat harus menentukan pilihan politiknya, situasi ini bisa memicu persoalan serius. Untuk itu bagi para caleg hendaknya bersegera melakukan ta’aruf kepada masyarakat dengan cara-cara yang baik. Bagi masyarakat juga harus kritis dan waspada agar tidak tertipu memilih caleg busuk. Caleg yang kelak kalau terpilih kerjanya hanya bisa duduk dan diam, sambil tertidur saat rapat penting membahas nasib rakyat.

Pemilih yang kritis dan cerdas pasti bisa menemukan caleg yang berintegritas dan mampu bekerja demi rakyat yang diwakilinya. Semoga masyarakat mampu memilih wakilnya dengan tepat, tidak lagi keliru seperti membeli kucing dalam karung karena saat akan mencoblos di bilik suara seperti tebak-tebak si buah Manggis. Mari jadi pemilih yang cerdas! (*)

*) SUGENG WINARNO, Pegiat Literasi Media, Dosen Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Muhammadiyah Malang

Ade d’Kross, dari Malang Sampai ke Bulan

Frontman d'Kross Ade Herawanto membentangkan syal Arema. (istimewa)

Oleh: Damarhuda

Kota Malang kehilangan satu magnitnya, Ir Ade Herawanto, atau dikenal Ade D’kross, yang Kamis (25/3) lalu tertangkap Polresta Malang, kasus narkoba.

Mestinya, 1 April ini, kota Malang merayakan ke-107 Hari Jadinya yang bertema “Peduli dan Berbagi”, tapi bagi Ade D’kross yang juga Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Pemkot Malang ini, ia sedang menunggu kepedulian Kota Malang.

Bahkan seandainya Arema atau Aremania mengirim tim pengacara untuk membantu advokasi Ade Kross agar bisa direhabilitasi saja atau diringankan kelak hukumannya, itu pun masih tak sebanding bagi pengorbanan Ade D’kross untuk Arema, Aremania dan Malang.

Ade lah yang jadi pelopor lahirnya band suporter di tanah air, D’kross Band, yang didedikasikan bagi Arema dan Aremania.

Ade dan D’kross ini yang kemudian menginspirasi saya dan temen-temen musisi di Surabaya, Royke, Reky, Mugix Power Metal dan Hendrix Sanada Andromedha, lantas mendirikan Arek Band, untuk bonek.

Sebagai ASN Pemkot Malang, kemampuan merangkul Aremania, membuat ia “begitu penting” bagi dua Walikota Malang sebelumnya, Peni Suparto dan Abah Anton. Untuk Walikota Malang sekarang, Drs.H. Sutiaji, ia sedang dipinang atau ia yang sedang meminangnya.

Beberapa tahun lagi, Ade D’kross akan pensiun dari ASN dan santer terdengar, ia bakal nyalon Cawali atau Cawawali 2024, sebelum kasus narkoba menghentikan mimpinya.

Datanglah ke kota Malang, siapa yang tak kenal Ade D’kross? Ia kawan bagi ASN, insan pers dan pengusaha, ia publik figur bagi Aremania, ia pun dermawan bagi sahabat-sahabatnya yang kesulitan ekonomi.

Sosoknya yang energik, penuh spirit, humoris, cerdik dan cerdas membaca peta kariernya, membuat ia melejit bagai sebuah meteor di kota Malang.

Tapi meteor kecil itu sedang jatuh dan ia sekarang digelandang ke Polda Jatim.

Kahlil Gibran berkata, “Orang kuat bukan ia yang selalu menang, tapi ia tetap tegar ketika jatuh.”

Saya mengenal Ade, saat sama-sama menghabiskan masa SMA di lingkungan “SMA Tugu” kota Malang, ia di SMA 3 dan saya di SMA 4 , beda satu tingkat, tapi kami sering bersama.

Saat ia masih jadi Kasi di Dinas Kimpraswil Pemkot Malang, ia sudah cerdik menilai, misalnya ia bilang akan ada anggota DPR RI di Jakarta yang akan pulang ke Malang dan nyalon Walikota.

Ade ngajak saya membuatkan buku biografi sosok tadi, kelak orang pun tahu, tokoh itu adalah Peni Suparto dan kita pun tahu, 10 tahun atau dua periode kepemimpinan Walikota Peni Suparto, Ade menjadi orang dekatnya dan kariernya terus melejit seperti meteor di langit.

Saat Ade ingin mendirikan band Dkross, kami bertemu lagi di rumah saya, Istana Bedali Agung, Lawang, Kab Malang.

Ada sebuah lagu yang saya ciptakan sama Robi, anak Malang, yang tahun 1996 ketemu di Gank Potlot Jakarta, markas Slank. Waktu malam hari di Potlot bersama Robi, saya ingat masa SMA di Tugu Malang dulu, bila sampai malam hari menikmati “Alimi” atau “Drum”, kami melihat bulan di langit seperti bertengger di pucuk Tugu Malang atau bulan mengintip di rerimbunan Splendid Iin. Malang begitu dekat ke bulan!

Kami lantas ingat band Rolling Stone “You Gotta Move”, atau The Police yang bikin “Walking On the Moon”. Lagu ini bicara bulan, dan kalau lagi kubam rasanya kita seperti sedang berjalan di bulan.

Nah, Robi sambil genjrengan, saya tulis lirik “Dari Malang sampai ke Bulan.” Sama-sama bercerita tentang bulan di langit, dari pandangan sang pemimpi yang sempoyongan, mulut bau minuman yang merindukan pulang.

Lagu itu kemudian saya kasihkan Ade. Dan album perdana D’kross, kita tahu, lagu “Malang ke Bulan” meledak dan masih dinyanyikan hingga sekarang.

Tapi meteor itu sedang jatuh. Banyak yang meramalkan karier Ade bakal hancur. Tapi saya bilang tidak, usai menjalani hukumannya kelak, Ade selalu punya jalan kebenarannya sendiri, walaupun juga ia banyak musuhnya, termasuk spekulasi dugaan ia dijebak dalam kasus narkoba yang menjeratnya, tapi tak ada yang bisa merampas kecemerlangan sang meteor kecil ini, yang cerdas dan lincah, cerdik dan cendikia, yang agamis sekaligus juga “srontong” khas arek Malang, “damai oke ribut oke.”

Ade mungkin lagi jatuh, tapi InshaAllah, kelak ia akan mengorbit lagi, dari Malang akan kembali mencapai bulan, dari cara yang lain.

Tahes selalu ya Sam Ade, ndang utem Jes !

*) Damarhuda wa alias Catur,
alumni SMA 4 Malang’88/Kepala Biro Jatim JPNN.com

Merayakan Hari Ayah di Makam Agnes

Oleh: Aziz Ramadani

Hari Ayah Nasional diperingati setiap 12 November, tepat hari ini. Namun, pantaskah tahun ini diperingati sebagai penghormatan kepada sosok “ayah”?

Ya, masih segar diingatan, kasus penganiyaan bocah tiga tahun Agnes Arnelita oleh ayah tirinya, Ery Age Anwar, akhir Oktober lalu. Masalah sepele jadi alasan Ery tega menyiksa Agnes. Kekinian Ery telah ditetapkan sebagai tersangka oleh kepolisian. Padahal semula, Ery berdalih kematian Agnes akibat tenggelam di bak kamar mandi.

Tragedi keji yang dilakukan Ery menyisakan duka mendalam, tak terkecuali bagi penulis, juga seorang “ayah” yang memiliki buah hati sepantaran Agnes. Hati bak diiris tipis-tipis mendengar perlakuan yang diterima bocah yang dikenal periang tersebut.

Hal senada juga dilontarkan beberapa warga sekitar rumah Agnes. Meskipun tak mengenal atau bertemu langsung, —akibat baru sekitar tiga bulanan bertempat tinggal di rumah kontrakan—, sumpah serapah dilayangkan kepada Ery yang tak pantas disebut “ayah” , yang harusnya memberikan kasih sayang, justru jadi malaikat pencabut nyawa.

Status sebagai “ayah tiri” harusnya bukan jadi alasan apapun sampai tega menganiaya anak. Ayah ya ayah, bapak ya bapak, apakah punya pertautan sedarah atau tidak, gelar “ayah” adalah amanah bagi kaum Adam.

Belum lama ini, masih di wilayah Kota Malang konon berjuluk “Kota Pendidikan” juga terjadi penganiayaan 10 pelajar oleh motivator saat seminar di sebuah sekolah menengah kejuruan. Meskipun telah ada permintaan maaf, baik dari pelaku dan pihak korban yang memutuskan berdamai, patutlah peristiwa tersebut jadi momentum instrospeksi diri.

Kondisi – kondisi tersebut rasanya tak pantas mengucapkan selamat hari “ayah”. Kasus tak berperikemanusiaan di atas bisa jadi yang kebetulan terungkap.

Bisa jadi banyak ayah masih belum bisa meluangkan banyak waktunya bersama anak. Mungkin sosok “ayah” buruh pabrik berdalih bekerja sebagai pencari nafkah, “ayah” yang pejabat publik dituntut mendahulukan kepentingan masyarakat, atau “ayah” yang ngakunya berangkat pagi pulang pagi demi sesuap nasi, nyatanya ngopi sembari main game online.

Ayah, masih pantaskah kau dipanggil ayah?(Der/Aka)

Kerja Sama dengan Wartawan

Novi E.R

Oleh: Novy E.R
 
Wah ketemu wartawan lagi. Berita apa lagi yang akan di tulis? Siap-siap uang nih buat membayar wartawan agar beritanya tidak sembarangan.

Ide menulis tema ini saya dapatkan dari sekilas pertanyaan pre materi pembahasan saat salah satu pemateri di acara Diklat Jurnalistik pada Sabtu (5 Juni 2021) di Gedung Hall lantai 2 Perumdam Among Tirto Kota Batu memberikan materi tentang Tips Menghadapi Wartawan.

Saat itu ada pertanyaan yang dilempar kepada para  peserta diklat. “Apa yang terlintas di benak Bapak/Ibu saat mendengar kata wartawan atau bertemu dengan wartawan?” tanya Eka Susanti, sang pemateri diklat.

Saya turut serta unjuk suara, “Bisa diajak kerja sama.”
Ya, kata ‘kerja sama’ mungkin asing karena lebih banyak yang berpandangan wartawan itu mencari-cari berita, wartawan tukang pemeras, wartawan preman, wartawan tanpa Press ID dan lain-lain.

Tidak bagi saya. Mengapa? Saya orang yang berkecimpung di dunia kepenulisan cukup lama, sebuah dunia yang tidak jauh pula dengan dunia jurnalistik atau kewartawanan. Mungkin ada sekilas pandangan buruk tentang wartawan namun bisa ditepis. Thinking positive sajalah.

Lebih menginginkan untuk berkenalan saat berhadapan dengan wartawan ingin bekerja sama. Menjadi teman, teamwork di dunia kepenulisan. Untuk belajar menulis berita yang baik, belajar tanpa grogi wawancara narasumber dan menggunakan konsep dasar menulis 5W 1H. Apalagi bisa memuat tulisan saya di media cetak tanpa menunggu antrean di muat.

Wah, menghadapi wartawan dengan positive thinking, seperti pengalaman saya kaget ketika dihubungi melalui layanan whats app untuk dijadikan halaman feature sebuah media cetak (koran). Janjian bertemu, dan wawancara. Menikmati dan bahagia tatkala berhadapan dengan wartawan. Seperti bahagia ternyata saya ada kesempatan diwawancarai untuk salah satu rubrik yang ada di koran.

Wartawan itu baik kok. Asyik diajak ngobrol. Rata-rata mereka memiliki latar belakang akademik yang berkompeten dan mau belajar sehingga ngomong apa saja bisa nyambung.

Apakah wartawan selalu menuliskan semua hasil wawancara kita? Tidak dong. Hal-hal yang menyangkut ruang pribadi narasumber yang tak ingin kita publikasikan untuk khalayak umum. Kita pesan saja untuk tidak wawancara dengan menanyakan hal pribadi karena saya lebih senang wawancara dengan pertanyaan tentang kegemaran dan karya. Hal yang bersifat pribadi bukanlah untuk disebar, dijual demi ingin tenar atau viral. Wartawan memiliki kode etik jurnalistik yang pasti dipahami secara baik.

Menghadapi wartawan nakal? Wartawan nakal seperti apa? Wartawan pemeras, tanpa identitas resmi dari media mana dan wartawan preman yang suka memeras. Kita bisa menanyakan terlebih dahulu dari media mana, adakah kartu identitasnya sebagai seorang jurnalis? Kalau tidak punya ID card atau kartu identitas, apakah punya blog pribadi yang biasa untuk menuliskan hasil wawancara. Bila itu sang wartawan nakal suka menulis profile narasumber. Karena saya yang bergulat dengan dunia kepenulisan dan publikasi online melalui blog, ada sebuah komunitas yang anggotanya disarnakan unutk belajar wawancara anggota yang lain. Hasilnya di  tulis melalui website atu blog yang dikelola bersama.

Era sekarang bisa cek tulisan wartawan yang asli bertugas sebagai jurnalis sebuah media maupun wartawan independen seperti yang belajar menulis berita di blog pribadi maupun blog bersama. Silakan cek dan ricek melalui sosial media atau blog.

So, bagi kalian yang belum mengenal siapa itu wartawan,  jangan takut. Jangan grogi.  Berpikir positif saat bertemu wartawan. Bisa kerja sama.
 
Bloger dan Karyawati
Novy E.R

Puisi Mengorak Pendidikan

Oleh: Beni Setia

Bagi Tengsoe Tjahjono–alumni IKIP Malang (sekarang Universitas Negeri Malang atau UM, red), dosen di IKIP Surabaya (Unesa), dosen tamu Hankok Universitas, Korea Selatan, serta penyair–, terutamanya di dalam kumpulan puisi Felix Mencuci Piring (Malang: Pelangi Sastra, Kafe Pustaka, dan UM, 2016), pendidikan dan pembentukan karakter itu hal terutama. Bahkan jadi obsesi. Semua idealisasi itu, dan bagaimana imanensi riilnya pada realitas aktual yang cuma bermutu KW dioplos dalam puisi-puisi di kumpulan itu. Meski ujud Felix ditiru (mimesis) dari sosok riil Felix K. Nesi (penyair alumnus Universitas Merdeka Malang, red), seperti diakuinya pada Ucapan Terima Kasih–dilampirkan di awal buku.

Manusia riil, yang memukaunya, sehingga mengilhami untuk menelurkan penulisan puisi yang tak diacu serta diarahkan teori–lihat puisi ‘Puisi untuk Felix’ (hlm. 1), yang diletakkannya di awal, sekaligus menjadi penanda dari gaya dan pola kreasi. Kembali lugu, semata bermodalkan jujur dengan diri sendiri, meski kejujuran itu lebih merujuk ke apa-apa yang diketahui dan ada bawah sadar, dalam acuan Fenomenologi, dengan tidak disengaja muncul serta membentuk referensi. Teks murni itu–selain hanya Felix sejati yang diapresiasi–perlahan menjadi lapisan subyektivitas dan membentuk sosok lain dari Felix, sisi rekaan tidak riil pada fakta seorang Felix (K. Nesi).

Acuan itu diakuinya dalam Kata Pengantar yang ditulisnya, ‘Senyawa Tragedi, Komedi, dan Agama’ (hlm. vii-xi), dan pengakuan itu justru mengingatkan pada realita Felix yang lain. Ujud Felix the Cat, kartun yang dikembangkan oleh Pat Sullivan serta Otto Messner, sosok si kucing hitam yang pernah jadi cerita popular dan menghibur di TV. Yang mengingatkan pada beraneka cerita naïf, unik, tidak terbayang sebelumnya, dan sekaligus jenaka. Menghibur–lucu, konyol, dan menyodorkan makna sublim dari hal bersipat hiburan. Transedensi dari balutan sampiran lucu dan konyol.

***

Felix pada puisi-puisi Tengsoe–tiap puisi merupakan episode otonom, mandiri meski terkadang memiliki kaitan interteks–jadi tokoh paradoks di dalam kotak cerita. Jadi tidak terlalu mengherankan ketika ditemukan hiperbola Felix (sebagai) si kepala sekolah yang tak pernah korupsi–nyatanya: penguasaan mutlak akun BOS dari Negara, serta legitimasi mencairkannya lewat Anggaran Pedapatan dan Belanja Sekolah, jadi potensi untuk korupsi. Bahkan otoritas dan legitimasi akan akun itu telah jadi impian (finansial) setiap guru, sehingga pada berambisi ingin menjadi kepala sekolah, meski akan menjadikannya phobia pada pers dan LSM. Tapi itu jenakanya.

Atau penandaan kuat akan dan tentang perilaku otokrasi mutlak–seperti terlihat dalam puisi ‘Felix dan Dua Temannya’–, yang menekankan laku semau gue seorang pemimpin yang bisa improvisasi memerah-hitamkan anak buah dan masyarakat. Atau kuatnya aspek polisional, lewat tindakan pengawasan intel, sehingga kontrol bisa ada di mana-mana dan di setiap saat–dalam puisi ‘Felix dan Cincin Batu Akik’. Tindakan diktatorial yang disilembutkan dengan epheumisme, berbalut retorika, sehingga fakta penguasaan atas guru dan murid diungkap sebagai sekadar menekankan pengendalian atas mimpi murid–lihat ‘Puisi untuk Felix’.

Itu merujuk gaya khas the smiling general, dari masa yang serba terkendali dan dikontrol era Orba–mungkin keberanian ini terkait erat dengan fakta Tengsoe menulis puisi-puisi Felix Mencuci Piring di Korea Selatan, dan bukan di Surabaya atau Malang. Meski masih kritis pada situasi Indonesia terkini pada puisi ‘Salju Pertama’, Meditasi Kimchi, (Malang: Pelangi Sastra, Kafe Pustaka, UNM, 2016, hlm. 48). Penandaan akan situasi tertekan, kondisi sosial-politik canggung dan serba salah karena terlalu banyak interes pribadi partai politik seperti mendapatkan jalan ke luar: lari memasuki dunia si angan-angan konyol, jenaka, dan menghibur–tapi penuh bayangan murung.

Karena itu, setelah merujuk fakta riil Felix (K. Nesi), pelan (ia) mengembangkan imajinasi penuh cemooh dan penjenakaan ala Pat Sullivan dan Otto Messner–terbang dengan Felix the Cat, sambil membayangkan Yesus itu sahabat (Felix) seperti puisi ‘Felix Ingin Jadi Kepala Sekolah’, atau malahan punya gereja dan liturgi sendiri dalam puisi ‘Felix Mendefinisikan Puisi’. Sehingga diksi ‘(jadi) kepala sekola’ itu diekstrimkan, dijenakakan secara terbalik sehingga terlihat konyol. Kenapa? Karena keinginan jadi kepala sekolah mengacu alasan posesif penguasaan atas dana BOS dalam fatamorgana finansial, sebab–meski berasal dari pinjaman–percaya itu uang setiap orang.

***

Itu titik keprihatinan Tengsoe–degradasi mutu guru. Itu mungkin karena, pada dasarnya, ia bukan akademisi sastra murni ataupun penyair, tapi guru. Lebih tepatnya, pengajar (dosen) dari mahasiswa calon guru. Jadi tak heran kalau ia agak kagok ketika IKIP jadi Universitas, tak lagi Institut yang menekankan pembentukan aspek karakter pendidik, dengan menekankan pedaegogi, bukan sastra murni. Meski (aspek) penyair membuatnya terobsesi kesusastraan, si yang menolak penguasaan sastra secara ilmiah, lebih memilih praktek langsung bersastra. Sehingga sastra itu lebih si keahlian bukan pengetahuan–lihat puisi ‘Puisi untuk Felix’ dan ‘Felix mendefinisikan Puisi’.

Aspek itu membuatnya tiba dalam kesimpulan: puisi tak bisa membuatmu kaya /
puisi hanya membuatmu banyak teman / perkara koran membayar mahal / temanmu nraktir nasi padang / atau nasib buruk ia mencintamu / itu dampak. syukuri tapi jangan diharapkan
(puisi ‘Felix Mendefinisikan Puisi’). Karena itu, Tengsoe menyindir kepenyairan satu corak pengabdian, sebab roti (ekaristi) itu tidak cocok dengan perut Indonesia yang kecanduan nasi. Ditulisnya: mata Maria meletikkan api / membakat dapur / mengabukan hati / aku tak butuh puisi / aku butuh nasi / dan puisi pun diremas / mengabu oleh api” (puisi ‘Felix, Maria Magdalena, dan Puisi’).

Tidak mengherankan kalau aspek kepenyairan mendorong sosok Felix menjadi yang terkadang suka mengirim SMS: minta ditraktir makan–lihat puisi ‘Felix Selalu Lupa Sarapan’. Tragis sekali.

***

*Beni Setia, pengarang yang karyanya sudah tersebar di berbagai media massa.

Ustadz Nadjib Telah Mudik Selamanya

Anwar Hudijono

Oleh: Anwar Hudijono

Kepala rasanya seperti disambar petir begitu membaca pesan WA bahwa Ust. H. Nadjib Hamid, M.Si, Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur wafat di RS Khadidjah, Sepanjang, Sidoarjo, Jumat (9/4/2021) sekitar pukul 08.00.

Saya masih setengah percaya setengah tidak. Saya coba telepon pengirim pesan, rekan M. Roissudin. Tapi tidak konek. Lantas saya hubungi Pemimpin Redaksi PWMU.co M Nurfatoni. Sambil terisak-isak dia menjawab, “Injih, Ustadz Nadjib kapundhut Allah.”

Menurut info dari PWM, jenazah akan dishalatkan di Masjid Al Badar, depan kantor PWM Jatim bakda Shalat Jumat. Kemudian dibawa ke rumah duka di Jalan Ubi IV no.27 Surabaya. Untuk selanjutnya dimakamkan di tanah kelahirannya, Paciran, Lamongan.

Soal mati, semua juga akan mati. Tapi kematian Ust Nadjib ini benar-benar membuat saya kaget setengah mati. Betapa tidak, sudah agak lama saya tidak saling kontak. Tidak dengar sakitnya tiba-tiba dengar sudah meninggal.

Jelas saya kehilangan seorang sahabat terbaik. Saya kenal Mas Nadjib sejak sama-sama menjadi pengurus PWM Jatim jaman ketuanya KH Abdurrahim Nur. Kemudian dilanjut jaman Pak Fasich. Sekalipun posisi saya cuma sebagai pengurus baladupak, peramai, sedang Mas Nadjib posisi pengurus harian tetapi tidak membuat ada jarak. Muhammadiyah memang egalitarian.

Mas Nadjib terus menjadi wakil sekretaris kemudian sekretaris PWM. Pada periode Ust Sa’ad Ibrahim ini almarhum menjadi wakil ketua. Prediksi saya, selangkah lagi dia menjadi Ketua PWM. Dia sudah mengantongi semua persyaratan untuk mengemban amanat itu.

Bagi saya, Mas Nadjib itu perpustakaan hidup Muhammadiyah. Pengetahuannya tentang Muhammadiyah seperti cakrawala tanpa batas. Nah, beruntunglah saya biasa memanfaatkan perpustakaan hidup ini. Kalau menyangkut soal Muhammadiyah, dialah rujukan seperti saya minum air sumur tidak pernah kering.

Total

Mas Nadjib itu tipe orang yang secara total mewakafkan dirinya untuk Muhammadiyah. Manhaj perjuangannya ya Muhammadiyah. Kalau sudah dawuh Muhammadiyah, dia itu sepertinya sami’na wa atha’na (mendengar dan patuh).

Termasuk ketika ditugaskan menjadi calon DPD dari Jawa Timur pada Pemilu 2019. Dia tidak kuasa menolak meskipun dia sangat mafhum politik bukan maqamnya. Platformnya begini, jika sudah niat mewakafkan diri ke Muhammadiyah itu harus diteguhkan dengan ikhlas. Direnda dengan pengorbanan. Disulam dengan istiqamah.

Dia pernah menjadi anggota KPUD Jatim. Pilihan itu bukan karena di enjoy main politik. Tapi terpanggil untuk menyelenggarakan event politik yang jujur dan bermartabat dalam rangka membangun demokrasi.

Itu bagian dari strategi dakwah amar ma’ruf nahi mungkar. Jika terjadi atau berpotensi terjadi kemungkaran ubahlah dengan tanganmu. Jika tidak mampu dengan lisanmu. Jika tidak mampu pula dengan doa. Nah, menjadi anggota KPUD itu strategi dengan tanganmu (kekuasaan).

Mas Nadjib sudah mudik untuk selama-lamanya. Insya Allah bekal mudiknya sudah cukup. Tidak akan kena cegatan. Apalagi sampai “dikarantina” di pinggiran jahanam.

Saya melihat rupanya sebelum mudik, dia sudah menyiapkan Nadjib-Nadjib muda yang akan meneruskan perjuangan dan pengabdiannya di Muhammadiyah. Karena kaderisasi yang berkesinambungan itulah salah satu pilar kokohnya Muhammadiyah. Rabbi a’lam.

“Wahai jiwa yang tenang
Kembalilah kepada Tuhanmu
Dengan hati yang ridha dan diridhai-Nya.
Maka masuklah ke dalam golongan
Hamba-hamba-Ku
Dan masuklah ke dalam surga-Ku”.
(Quran 89:27-30).
Sugeng kundur, Mas Ustadz Nadjib.

Anwar Hudijono,
Kolumnis tinggal di Sidoarjo.

Secercah Cahaya Joe Biden dalam Perspektif Nubuat Akhir Zaman

Anwar Hudijono. (Istimewa)

Oleh: Anwar Hudijono

Ada dua langkah sangat penting dan bermakna Presiden Amerika Serikat Joe Biden. Pertama, mengakhiri 20 tahun penjajahan Amerika atas Afghanistan. Kedua, menyerukan kemerdekaan bagi rakyat Palestina dari penjajahan Israel.

Langkah Biden ini ibarat ia membuat lobang agar cahaya bisa masuk ke dalam goa (kahfi) yang sangat luas dan gelap pekat. Biarpun besarnya lobang itu ibarat masih sebesar sebutir kacang ijo tapi bisa menjadi entry point untuk terus memperlebarnya.

Artinya Biden sudah membuka dirinya dari cahaya (nur) rahmat Allah. Implikasinya, jika dia mendapat rahmat akan bisa menyelamatkan Amerika dari azab Allah. Mendorong perubahan tata dunia baru yang benar dan adil.

Menurut kalkulasi berdasar nubuwat akhir zaman, insya Allah, Amerika ini termasuk waiting list (daftar tunggu) azab Allah karena perbuatannya yang fasad (merusak) kehidupan global. Bukankah Amerika adalah biang utama kerusakan dunia sehingga penuh ketidak-benaran, kedzaliman, penindasan, kerusakan alam lingkungan, hancurnya nilai-nilai manusia, LGBT, mengguritanya riba. Amerika justru menjadi penghela utama kehidupan global dari cahaya menuju kegelapan.

Bahkan boleh dibilang menjadi pemimpin golongan mufsidun (orang-orang yang membuat kerusakan di atas bumi). Dipersepsi bahwa Amerika adalah Yakjuj dan Makjuj modern. Bapak revolusi Islam Iran Imam Khomeini menyebut Amerika adalah setan besar.

Noam Chomsky

Kefasadan Amerika sudah banyak sekali dibuka secara jujur dan terbuka. Misalnya oleh filosuf Amerika Noam Chomsky, veteran wartawan Chris Hedges dan banyak lagi. Mereka mulat salira hangroso wani (berani melakukan instropeksi). Seperti nasib orang-orang yang berani menyampaikan sikap kritis di belahan dunia, mereka dibenci, dicela, dimusuhi oleh rejim beserta para cecunguknya.

Perbuatan fasad Amerika di antaranya melakukan penjajahan atas Afghanistan selama 20 tahun. Menyisakan kerusakan, kehancuran seperti kemiskinan absolut, tradisi korupsi, LGBT, bisnis opium yang menggurita, bangsa yang terpecah-pecah. Amerika ibarat ulat yang meninggalkan daun yang dimangsanya hingga compang-camping.

Jauh sebelum itu Amerika membunuh ratusan ribu manusia tidak berdosa dengan nuklir di Hiroshima dan Nagasaki. Amerika-lah bangsa pertama yang menggunakan bom nuklir. Melakukan perusakan, pembantaian jutaan manusia di Vietnam, Irak, Suriah, Pelestina, Laos dan belahan dunia lain.

Amerika menjadi biang kerok pecah belah umat manusia. Konsisten bersikap mendua. Hiprokrit. Pada satu sisi menyerukan pluraitas, pada sisi lain mau menyeragamkan kehidupan seluruh dunia menurut falsafahnya (helenisme). Menyerukan demokrasi tapi juga menjadi pelindung tirani. Katanya menjadi pendekar penegakan HAM, tapi nyatanya justru jadi perudakpaksa HAM.

Amerika pula yang menjadi pemantik permusuhan, badai kebencian terhadap Islam di seluruh dunia. Merekayasa fobia Islam di seluruh jagat. Islam diidentikkan dengan terorisme. Terminologi jihad, radikalisme, ekstrimisme dikemas diolah sebegitu rupa untuk menghancurkan jatidiri Islam. Rahmatan lil alamin Islam dibalik sebegitu rupa seolah Islam itu bencana dunia. Bahkan kaum muslimin pun sampai-sampai dibuat harus memegang agamanya seperti menggenggam bara api.

Palestina

Amerika selama ini selalu bersekutu dengan Israel. Menjadi pelindung Israel yang menindas rakyat Palestina. Yang melakukan kolonisasi di Dataran Tinggi Golan, Suriah. Melakukan terorisme di seluruh dunia. Amerika selalu menveto setiap keputusan PBB berkaitan dengan kejahatan Israel. Sampai-sampai Noam Chomnsky menyebut sejatinya Amerika adalah teroris nomor satu dunia.

Mudah-mudahan seruan Biden tentang kemerdekaan rakyat Palestina yang disampaikan di Sidang Umum PBB 2021 itu didasari pengakuan dosa bahwa tindakan Amerika salah besar. Jika tidak bertobat dan diperbaiki akan merugikan Amerika sendiri. Berdampak turunnya azab yang super dahsyat dari Tuhan.

Tentu persoalannya tidak sesederhana itu. Bukan hanya rakyat Pelestina harus merdeka, tetapi juga harus mengevaluasi eksistensi negara Israel. Pada dasarnya tanah itu adalah hak milik rakyat Palestina. Tanpa kerelaan rakyat Palestina, maka keberadaan Israel itu haram.

Allah sudah membatalkan hak Yahudi atas tanah itu setelah menimpakan kepada mereka azab kedua. Allah menjatuhkan azab yang besar dua kali kepada bangsa Yahudi sebagai hukuman mereka sudah melakukan kerusakan di atas bumi. Quran menjelaskan hal itu di Surah Al Isra ayat 4 – 8.

“Dan Kami tetapkan terhadap Bani Israil (Yahudi) dalam kitab itu, “Kamu pasti akan berbuat kerusakan di bumi ini dua kali dan pasti kamu akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang besar.” (Quran: Al Isra 4).

Pada azab pertama, negara Yahudi dihancurkan Kaisar Nebukadnezar dari Babilonia. Padahal Babilonia adalah sekutu kelompok Yahudi fasad pada waktu melawan Nabi Sulaiman. Negaranya dibakar, dihancurkan, penduduknya dijadikan budak.

Azab yang kedua lebih parah lagi. Negara Yahudi diluluh-lantakkan oleh Romawi. Baitul Maqdis dijadikan rata dengan tanah. Penduduknya diusir hingga bercerai berai, nista dan tersebar di seluruh dunia.

Setelah itu secara tegas Allah melarang mereka kembali. “Mudah-mudahan Tuhan kamu melimpahkan rahmat kepadamu. Tetapi jika kamu kembali, niscaya Kami pasti kembali (mengazabmu). Dan Kami jadikan neraka jahanam penjara bagi orang kafir.” (Quran: Al Isra 8).

Aset Rakyat Afghanistan

Demikian pula langkah Biden mengakhiri penjahan di Afghanistan semoga bukan semata-mata karena 20 tahun tidak bisa menang. Babak belur. Remuk redam. Melainkan ada niat baik untuk mengakhiri penjajahan. Untuk membuktikannya, Amerika harus segera mengemballikan aset rakyat Afghanistan yang dibekukannya.

Bahkan seharusnya bertanggung jawab membantu rakyat Afghanistan bangkit. Bagaimanapun Amerika yang telah membuat Afghanistan compang-camping, dedel duel bagaikan daun dimangsa ulat. Jangan malah terus memusuhi Afghanistan. Mengggalang dunia untuk tidak mengakui rejim baru Afghanistan.

Sebagai pemimpin golongan mufsidun global, insya Allah, Amerika termasuk dalam waiting list (daftar tunggu) azab Allah. Begitulah hukum Allah. Dan hukum Allah itu tetap di sepanjang zaman. Di Quran surah Hud, Al Haqah, sudah dijelaskan kehancuran bangsa-bangsa mufsidun seperti bangsanya Nabi Nuh, Luth, Hud, Syuaib, Shaleh, Firaun. Kisah di Quran itu bukan dongeng. Melainkan peringatan, pengajaran sepanjang jaman.

“Dan tidak ada suatu negeri pun (yang durhaka penduduknya) melainkan Kami membinasakannya sebelum hari kiamat atau Kami siksa (penduduknya) dengan siksa yang sangat keras. Yang demikian itu telah tertulis di dalam Kitab (Lauh Mahfudz). (Quran: Al Isra 58).

Sebagai warga dunia, saya berharap Biden mengambil tindakan didasarkan niat yang tulus. Menggunakan powernya untuk merealisasi apa yang diucapkan. Tapi jika ternyata hanya lipt service, abang-abang lambe, PHP, nggedabrus, ya sama saja dengan presiden-presiden Amerika sebelumnya. Minimal presiden yang oleh Noam Chomsky disebut pelaku kriminal alias penjahat. Jika begitu ya tunggu saja akhir sejarah imperium Amerika.

“Dan tunggulah, sesungguhnya kami pun termasuk yang menunggu.” (Quran: Hud 122).

Semoga Allah memberikan rahmat dari sisi-Nya kepada Biden.

Astaghfirullah. Rabbi a’lam.

Mohon dengan hormat telitilah tulisan ini. Jangan langsung like and share. Ini era disinformasi di mana informasi dapat menggelapkan hati manusia. Bahkan dapat menghancurkan suatu bangsa. Begitulah amanat Quran surah Al Hujurat 6.

Anwar Hudijono, veteran wartawan dan penulis tinggal di Sidoarjo.
12 Oktober 2021

Aibon Effect dalam Polemik MCC (Malang Creatif Center) Kota Malang

Oleh: Dito Arief Nurakhmadi

Beberapa waktu belakangan, publik dikagetkan dengan ramainya pemberitaan pembahasan KUA PPAS (Kebijakan Umum Anggaran – Prioritas Plafon Anggaran Sementara) APBD DKI Jakarta Tahun 2020, dimana diantaranya penganggaran Lem Aibon dan Pulpen Gambar yang dianggap tidak masuk akal dengan nilai fantastis mencapai 83 M dan 123 M untuk dua item tersebut. Meskipun belakangan coba diklarifikasi oleh Gubernur DKI Anies Baswedan, bahwa permasalahan mekanisme input sistem dalam E-Budgeting yang menjadi sebab musabab, namun apa lacur karena sudah riuh di ruang publik akhirnya menjadi isu liar yang kemudian menjadi polemik, bahkan turut membuat berbagai tokoh seperti Ketua KPK Agus Raharjo hingga beberapa Menteri turut berkomentar terhadap polemik tersebut.

“Aibon Effect” di DKI Jakarta rupanya hinggap juga di Kota Malang, meskipun item-nya beda namun kontroversinya sama, yaitu diantaranya anggaran 25 Miliar untuk Makan Minum Pemkot Malang, dan ada juga polemik 125 Miliar untuk Gedung MCC (Malang Creatif Center) dalam RAPBD Kota Malang 2020. Keduanya memiliki kesamaan, yaitu sama-sama bermula dari Ruang Rapat Badan Anggaran dan Tim Anggaran untuk pembahasan APBD 2020, dan sama-sama dimunculkan oleh Politisi (Red-Anggota DPRD). Meskipun sih, sampai saat ini belum sampe ada Menteri atau Pejabat tinggi Negara yang komentar (seperti DKI Jakarta), namun secara kegaduhan, meskipun getarannya berbeda, cukup menarik perhatian banyak masyarakat, khususnya masyarakat Kota Malang. Apalagi Kota Malang yang saat ini belum menerapkan E-Budgeting, kegaduhan terkait anggaran tentu larinya kepada Good Will terkait transparansi anggaran kepada publik.

MCC (Malang Creatif Center) dengan berbagai kontroversinya adalah gagasan turunan dari Mimpi dan Visi Misi Kepala Daerah terpilih dalam Pilkada Kota Malang 2018 kemarin, Drs. H. Sutiaji dan Ir. H. Sofyan Edi Jarwoko yang secara resmi kemudian masuk dalam dokumen RPJMD (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah) Kota Malang 2018-2023, yang ingin mewujudkan Malang Creatif dan Malang Smart (Smartcity) sebagai Masa Depan Kota Malang ke depan dalam salah satu Visi Misi-nya, yang kemudian dibreakdown melalui RKPD dalam APBD Tahun 2020. Sebenarnya tidak hanya Proyek MCC ini saja yang harusnya menjadi Perhatian karena jumbonya anggaran yang dibutuhkan, karena ada juga Proyek Jembatan Kedungkandang, Islamic Center, Taman Bunga Internasional Merjosari, Kayutangan Heritage dan Mini BlockOffice Belakang Balai Kota Malang, yang kesemuanya teranggarkan dalam RAPBD 2020.

Namun yang kemudian membuat menarik adalah, ketika Bapak Ibu DPRD Kota Malang menyampaikan khususnya untuk Proyek MCC, bahwa mereka “Menolak dengan memberikan Catatan” terhadap Proyek tersebut, disertai dengan menyampaikan alasan bahwa pembahasan sebelumnya telah dilakukan oleh DPRD sebelumnya, yaitu DPRD hasil PAW periode 2018-2019, dimana dianggap ada semacam “Pengkondisian” bahwa Proyek MCC tersebut bisa lolos. Pertanyaannya, betulkah ada pengkondisian? Karena tentunya ini akan berkonsekuensi hukum bila memang benar adanya, karena Kota Malang masih hangat betul dengan cerita 40 Anggota DPRD nya terjerat KPK karena “Pengkondisian” RAPBD 2015 silam, apakah kemudian DPRD pengganti Lapis Kedua ini berani mengulangi hal yang sama.

Tentu menjadi aneh ketika DPRD Kota Malang saat ini mempertanyakan Asbabun Nuzul hadirnya beberapa proyek kontroversial tersebut, bahkan cenderung cuci tangan menyalahkan DPRD PAW kemarin yang dianggap meloloskan sejumlah proyek mercusuar dalam KUA PPAS 2020, terlebih ada 9 Alumni DPRD PAW yang saat ini meneruskan Magangnya menjadi Anggota DPRD Penuh Waktu di Periode 2019-2024.

Menurut saya, sejatinya DPRD adalah Lembaga Negara yang merupakan representasi perwakilan dari Partai Politik yang terpilih berdasarkan kursi yang diperoleh, sehingga sikap, pendapat, kritik dan kebijakan Fraksi dan anggota DPRD secara pribadi merupakan bagian tak terpisahkan dari kebijakan Partainya, maka melihat kebijakan dalam lingkup DPRD tidak bisa secara parsial melainkan harus utuh dan berkelanjutan, sebagai bagian dari tanggungjawab Partai Politik yang memiliki perwakilan di DPRD, baik itu periode kemarin, periode saat ini maupun yang akan datang.

Kebijakan pembahasan anggaran tentunya harus mengacu pada regulasi yang mengatur, UU No.23 Tahun 2014, PP 12 Tahun 2019 dan Permendagri 33 Tahun 2019, tidak lupa harus linear dengan RPJP dan RPJMD Kota Malang sebagai Ruh Arah Pembangunan Kota Malang. Menilik definisi Pemerintahan Daerah berdasarkan UU 23 Tahun 2014 Pasal 1 adalah Eksekutif dan Legislatif, sehingga pembahasan kebijakan yang menyangkut anggaran seperti KUA PPAS, PAPBD maupun RAPBD tentunya merupakan kesepakatan bersama antara Pemkot Malang dengan DPRD Kota Malang, melalui forum di Alat Kelengkapan Dewan yang ada dan melalui kebijakan Fraksi yang merupakan representasi dari Partai Politik. Sehingga perdebatan terkait rencana kebijakan anggaran, baik itu kritik, koreksi dan saran masukan tentunya dapat dimufakatkan melalui forum-forum tersebut, tentunya juga dengan membuka keran keterbukaan seluas-luasnya, memfasilitasi aspirasi dari masyarakat dan kelompok-kelompok kepentingan yang ada.

Kami paham, menjadi DPRD itu tidak mudah, karena dibutuhkan kecakapan pengetahuan, kecukupan pikiran, kelihaian berkomunikasi dan kemampuan dalam menghadapi tekanan-tekanan publik. Meskipun kita pun tahu, politisi paling senang berselancar dengan sesuatu yang kontroversi dan berpolemik, namun kedewasaan berpolitik saya kira tetap harus dikedepankan. Karena dalam kamus pemerintahan daerah, tidak dikenal namanya OPOSISI, sehingga sikap Asal Beda, Asal Tolak, Asal Bunyi apalagi Asal Selfi sudah waktunya dihilangkan.

*) Dito Arief Nurakhmadi, Alumni Magang Tugu 1A

Babak Akhir yang Menentukan (1)

Anwar Hudijono. (Istimewa)

Oleh: Anwar Hudijono

Hari-hari terakhir menjalani ibadah puasa Ramadhan itu layaknya mengikuti lomba memasukkan benang ke dalam lobang jarum. Waktunya sangat terbatas. Suasananya gerah dan gemuruh. Riuh-rendah. Membuat tidak mudah untuk fokus.

Jika jarumnya jarum karung yang lobangnya besar sementara benangnya benang jahit, akan lebih mudah. Tapi jika jarumnya jarum jahit tapi yang dimasukkan benang bol, ini jelas sangat sulit karena sangat pas ukuran benang dengan lobang jarum.

Saat-saat ujung benang hendak dimasukkan lobang jarum harus benar-benar fokus, tenang. Terlalu tegang juga bisa gagal. Terlalu lemah juga tidak bisa masuk. Apalagi emosi. Marah-marah. Ngamuk. Bahkan saat ujung benang sudah menyentuh lobang jarum, bisa ambyar oleh hembusan nafas kita sendiri.

Rasulullah Muhammad SAW sudah memberi contoh kepada umatnya, pada sepuluh hari terakhir puasa lebih banyak itikaf di dalam masjid. Di antara tujuannya adalah agar bisa fokus beribadah. Mencegah naiknya dorongan hawa nafsu. Mencegah tarikan-tarikan eksternal yang bisa merusak puasa.

Itikafnya Rasulullah itu bukan semata memberi contoh mengejar Lailatul Qadar. Buktinya pada siang hari pun beliau banyak di masjid. Padahal Lailatul Qadr itu diturunkan malam hari.

Jika semata untuk mendapat Lailatul Qadar tidak harus di masjid. Sebab Lailatul Qadar itu bukan soal tempat turun, melainkan soal ibadah. Jadi di manapun beribadah pada malam Lailatul Qadar akan mendapatkannya.

Lailatul Qadar yang diturunkan pada 10 hari terakhir Ramadhan itu semacam iming-iming bonus super besar. (Dinilai sepadan dengan beribadah 1.000 bulan atau 83,4 tahun). Agar umat Islam lebih semangat fokus menjaga puasanya hingga puasanya berakhir husnul khatimah.

Masjid pasti lebih kondusif untuk melakukan aktivitas batin di banding tempat lain seperti rumah, apalagi tempat-tempat publik dan bisnis seperti mal, pusat hiburan. Batin akan lebih fokus untuk beribadah karena memang itu fungsi utama masjid. Di masjid mendorong kesibukan batin berupa dzikrullah, mengingat Allah. Baik dengan shalat, menelaah Al Quran, bertasbih.

Nah, di jaman now, eksistensi masjid sebagai tempat paling kondusif untuk fokus ibadah mulai terancam. Apalagi jika menyediakan internet gratis. Tarikan yang bisa merusak puasa justru saat ini sangat mudah melalui jagat virtual. Salah satu contoh, mau baca Quran melalui aplikasi di HP. Sebelum baca, nyelononglah iklan snack video dengan konten cewek goyang-goyang. Mumet gak jadi ngaji. Ambyar.

Di masjid tapi lebih banyak medsosan daripada shalat. Lebih banyak baca status dan komen daripada baca Quran. Jari jemari lebih sibuk memencet tombol HP daripada memutar tasbih. (Yang baca ini kok ketawa, pertanda pernah pengalaman).

Menuju Allah

Mengapa harus fokus? Karena hakikat puasa itu perjalanan menuju Allah. Perjalan hakiki dalam garis lurus sangkan paraning dumadi (asal muasal dan tempat kembali semua mahluk). Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun (Sesungguhnya milik Allah dan kepada Allah pula dikembalikan).

Bergerak menuju Allah hingga sampai manunggal dengan Allah, wahdatul wujud (manungaling kawula-Gusti). Menyatunya hamba dengan Tuhan. Bukan manunggal secara fisikal karena itu mustahil. Sebab Allah bukan mahluk. Dan Allah itu muhalalfatu lil hawadis (berbeda dengan mahluk). Kemanunggalannya bersifat esensial. Jika dibuat analog itu kira-kita mirip kemanunggalan api dengan panas.

“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.” (Quran:50:16).

Fokus dalam berpuasa ini sekaligus latihan agar tetap fokus saat menghadapi sakaratul maut. Saat sakaratul maut itu akan datang godaan setan dari seluruh penjuru bumi agar kandidat jenazah berpaling dari Allah justru pada saat-saat terakhir. Sehingga tidak ada waktu lagi untuk bertobat.

Sampai-sampai orang di sekitarhya dianjurkan untuk melakukan talkin atau tuntunan membaca kalimah tauhid La ilaha illallah. Karena babak itulah yang menentukan seseorang masuk surga atau masuk neraka.

Rabbi a’lam (Tuhan Maha Tahu)

Anwar Hudijono,
Kolumnis tinggal di Sidoarjo

Di Tengah Covid, Pesantren Menjaga Budaya Belajar (bagian 2)

Anwar Hudijono. (Istimewa)

Oleh: Anwar Hudijono

Ketika pertama kali Covid-19 muncul, seperti masyarakat pada umumnya, ada kalangan pesantren yang sempat kaget dan panik. Itu manusiawilah. Nabi Musa saja sempat takut dan panik ketika baru melihat ular-ular tukang sihirnya Firaun.

Tapi setelah mendapat petunjuk Allah bahwa ular-ular itu hanya tipuan, halusinasi, tidak nyata, Musa tenang. Dan meneruskan jihadnya menyampaikan risalah Allah kepada Firaun. Dan Musa menang.

Malah ada seorang kiai sepuh di daerah Nganjuk yang sejak awal bersikap tenang. Seperti tenangnya gunung tatkala diterpa angin. Menyatakan Covid-19 tidak ada. Blak-blakan saja saya semula menganggap Mbah Kiai ini sekadar anti-mainstream. Kurang informasi. Gagal paham.
Tapi lama-lama saya jadi mikir, jangan-jangan maksud kalimat “Covid-19 tidak ada” ini antara Mbah Kiai dengan saya berbeda. Jangan-jangan karena instrumen yang digunakan Mbah Kiai berbeda dengan yang saya pakai. Mbah Kiai melihat Covid ini dengan mata batin (bashirah), sementara saya ini memahami dengan mata handphone.

Saya mulai mikir, jangan-jangan justru saya ini yang gagal paham bin keblinger karena terlalu banyak membaca, melihat informasi tentang Covid-19. Ini bukan era informasi tapi disinformasi. Jangan-jangan yang saya baca, lihat dengarkan melalui medsos, media mainstream itu disinformasi. Yang saya anggap benar sebenarnya palsu. Dan yang saya anggap palsu justru benar. Campuran hoax dan fakta. Tidak jelas mana yang benar dan mana yang palsu. Sudah bercampur baur yang hak dan yang batil. Dalam istilah fiqih disebut syubhat. Kira-kira artinya remang-remang.

Saya mulai mikir lagi Hadits Rasulullah: “Sungguh demi Allah. Ada sesorang mendatangi dalam keadaan mengira bahwasanya dia itu beriman. Namun, pada akhirnya malah menjadi pengikutnya disebabkan syubhat-syubhat yang dia (Dajjal) sampaikan. (HR Ahmad). (A’udzubika min syarri masihid-dajjal.)

Ingat Mbah Kiai ini saya jadi ingat Nabi Hidlir. (Bukan bermaksud menjustifikasi Mbah Kiai ini seperti Hidlir). Hidlir tinggal sendirian di pertemuan dua samudera. Tidak pernah ke kota. Tapi dia mengetahui pemilik rumah reyot yaitu dua orang anak yatim anak orang saleh. Di dalam tanag di bawah rumah itu tersimpan harta karun. Musa yang menggunakan mata eksternal tidak mengetahuinya.

Hidlir tidak pernah bergaul dengan para nelayan, tetapi paham betul ada penguasa dzalim yang hendak merampas perahu para nelayan itu. (Pelajaran dari Allah itu implisit di dalam kisah Musa-Hidlir yang tertuang di dalam Quran, Kahfi 60-82).

Mbah Kiai ini mungkin memang tidak gaul luas. Mungkin juga gak androidan. Dia ahli tarekat. Insya Allah dzikir mengalir bersama desah nafasnya. (Nyuwun pengapunten Mbah Kiai. Saya sudah keminter, sok pintar dan sok tahu. Musa dulu juga sok keminter kepada Hidlir hahaha.)

Ujian dari Allah

Ketakutan kalangan pesantren tidak berlangsung lama. Ibarat orang diterjang banjir, setelah sempat tergagap beberapa bentar mereka segera memegang akar yang kuat untuk menyelamatkan diri. Akar itu adalah Quran dan Hadits. Kesimpulannya, Covid-19 ini ujian dari Allah. Untuk menyeleksi hamba-Nya.

“Yang menciptakan mati dan hidup untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa, Maha Pengampun.” (Quran, Al Muluk 2).

Covid-19 ini bisa saja tidak bersifat natural seperti angin yang merobohkan rumah. Tapi, hasil konspirasi setan (jin dan manusia) – misalnya dengan melalukan rekayasa genetika atau semacam senjata biologi. Tetapi tetap saja bisa terjadi atas ijin Allah. Bi idznillah. Tanpa ijin Allah semuanya mustahil terjadi. Dan Allah menggunakannya untuk menguji manusia.

Referensinya adalah Nabi Ayub diuji Allah dengan mengijinkan setan menginfeksikan penyakit ke tubuh Ayub. Efeknya penyakitnya jauh lebih dahsyat dibanding Covid-19. Betapa tidak, hampir seluruh tubuh Ayub berborok yang bernanah, dirubung set.

Ada lagi. Setan membunuh anak-anak Ayub. Iblis membakar pertanian Ayub sampai kekurangan pangan. Jatuh miskin. Belum cukup? Masih ditambah istrinya ngambek. Lengkap pol ujian untuk Ayub.

“Dan ingatlah ketika hamba Kami Ayyub ketika dia menyeru Tuhannya, sesungguhnya aku diganggu setan dengan penderitaan dan bencana”. (Quran, Shad 41).

Dalam ayat itu Ayub jelas menyebut setan. Dan setan itu terdiri dari dua golongan yaitu jin dan manusia. Jin dan setan bisa saja berkonspirasi menganiaya Ayub.
Ayub lulus dari ujian yang sangat berat itu. Dan Allah menghargai dengan karunia yang sangat besar.

“Dan Kami anugerahi dia (dengan mengumpulkan kembali) keluarganya dan Kami lipatgandakan jumlah mereka, sebagai rahmat dari Kami dan pelajaran bagi orang-orang yang berpikiran sehat”. (Quran, Shad 43).

Warga pesantren sudah mafhum betul, setiap menghadapi ujian itu yang jadi pegangan pokok antara lain Quran Surah Al Baqarah 152 – 157. Ujian itu bisa berupa ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa (sakit, mati), dan buah-buahan.

Dimulai dengan rasa syukur. Bersikap sabar dan shalat. Yakin Allah bersama orang yang sabar. Jika mati ketika menghadapi ujian, maka termasuk jihad fi sabilillah. Ending dari sabar dan shalat itu akan mendapat ampunan dan rahmat dari Allah. Dengan begitu termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk.

Penyelenggaraan pendidikan di pesantren itu memiliki paradigma, asas dasar yang sangat kokoh yaitu sebagai jihad fi sabilillah. Menyiapkan generasi berilmu. Cerdas. Ulul albab. Ilmu yang dikembangkan ilmu yang barokah. Hanya orang berilmu yang bisa memahami ayat-ayat Allah. Bukan ilmu yang diperlakukan seperti komoditas.

Model virtual

Sistem pembelajaran pesantren sudah memiliki pedoman, khasanah sendiri dan teruji. Di antaranya tak bisa diganti dengan model pembelajaran virtual. Pendidikan pesantren sangat mengutamakan pembentukan sikap. Karakter. Ahlak. Sampai-sampai kitab Ta’lim al Muta’alim diajarkan sekitar dua tahun.

Pembentukan sikap tidak bisa dilakukan secara virtual. Melainkan harus dalam praktek kehidupan sehari-hari. Melalui pembiasaan. Seperti pembiasaan Shalat jamaah, shalat tahajud, baca Quran, silaturahmi. Kedekatan personal santri dengan kiai. Jalinan hubungan batin yang intens.

Maka proses pembelajaran di pesantren berlangsung 24 jam. Di situlah letak perannya sebagai penjaga dan pengembang budaya belajar.

Praktis pesantren sudah kembali berpikiran sehat. Hidup normal. Dan ternyata thayib-thayib (baik-baik) saja. Kalau ada yang terinfeksi Covid-19 ya diobati seperti halnya penyakit lain. Sakit itu protapnya kalau tidak sembuh ya mati. Gak ada yang luar biasa.

Jika ada yang mati tetap dipandandang peristiwa biasa. Sudah takdir Allah. Tidak kena Covid pun orang pasti mati. Orang tidur di kasur empuk di rumah saja juga bisa mati. Lagi makan pecel di warung juga bisa mati setelah ada truk yang nyelonong nabrak.

Soal di-branding mati tanpa ditunggui keluarga, pemakamannya secara khusus dan terkesan mengerikan, akan dijawab orang mati itu pasti sendirian. Anak istrinya juga gak mau mengikuti. Orang mau mati juga gak pernah mikir ada keluarga apa tidak. Merasakan sakaratul maut saja sudah luar biasa sakitnya, boro-boro mikir partai, keluarga.

Kesabaran mereka itu seperti lautan. Diprovokasi, dijejali hoax, dipropaganda, didisinformasi tetap tak berubah.

Langkah pesantren ini, insya Allah sudah mengilhami banyak penyelenggara sekolah. Diam-diam sudah banyak sekolah melakukan tatap muka. Wisuda sekolah pun dilakukan sembunyi-sembunyi. Ada yang pakai sistem drive thru. Sudah membuat festival. Dan itu bagus. Dan aman-aman saja.

Penyelenggara sekolah, kepala sekolah para guru sebenarnya sudah mampu melepaskan diri dari cenkeraman Covid-19. Tapi masih ada yang mencekeram mereka yaitu pihak otoritas. Bisa itu yayasan dan organisasi yang menaungi. Juga otoritas lain (sampai di sini saya lupa dan mrinding).

Kadang pendidikan itu berada di bawah orotitas subyek yang tidak paham pendidikan. Lebih peduli urusan uang dibanding sumber daya manusia. Yang paling tragis itu jika otoritas lebih percaya bahkan menghamba kepada artificial intelligent (AI) dibanding kemanusiaan. Dan kita tahu siapa operator terbesar AI global ini.
Astaghfirullahal adhim.

Rabbana atina min ladunka rahmah wa hayyiklana min amrina rosada. Ya Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah petunjuk yang lurus bagi kami dalam urusan kami.” (Quran, Kahfi 10).
Rabbi a’lam (Tuhan lebih tahu).

Anwar Hudijono,
penulis tinggal di Sidoarjo.