HUT ke-7 Malang Voice

Pentingnya Cara Berfikir Hukum dalam Menganalisa Isu Hukum

Ferry Anggriawan S.H, M.H
Ferry Anggriawan S.H, M.H

Oleh Ferry Anggriawan S.H, M.H

Kasus pembunuhan begal yang terjadi di Kabupaten Malang oleh tersangka berinisial ZA bukannya ditanggapi secara kritis, melainkan ditampilkan dalam bentuk sensasi

yang jauh dari inti permasalahan. Beberapa media memberitakan kasus ini melalui judul-judul yang jauh dari substansi permasalahan, seperti; “pembunuh begal di Malang demi membela pacar, ternyata juga punya istri”, ini bukan masalah pembunuh sudah beristri atau belum, tetapi ini adalah masalah hukum terkait pembunuhan bukan dibawa kedalam subtansi permasalahan melainkan pikiran pembaca dibiaskan dengan isu-isu yang jauh dari permasalahan hukum.
Cara berfikir hukum adalah mengolah bahan hukum-hukum positif dengan
menggunakan logika.Berfikir dengan menggunakan logika atau berfikir secara logis adalah befikir dengan menggunakan konsep, pengertian, doktrin, yang dibuat oleh hukum.Kasus pembunuhan begal yang dilakukan oleh ZA hendaknya dikritisi
dengan cara berfikir hukum yaitu dengan pasal yang berkaitan dalam kasus tersebut kemudian dengan pengertian dan doktrin yang sesuai dengan logika hukum.
Dakwaan Jaksa Penuntut Umum menggunakan 4 pasal berlapis salah satumya adalah
Pasal 340 KUHP dengan ancaman hukuman maksimal seumur hidup disayangkan
oleh tim Kuasa Hukum ZA, karena ZA dalam keadaan terpaksa melakukan perlawanan, begitu juga Penuntut Umum juga mempunyai alasan kenapa pembunuhan tersebut dikategorikan pembunuhan berencana sesuai dengan pasal 340 KUHP, adalah
karena pisau telah dibawa oleh ZA ketika berangkat dari rumah dan sebelum kejadian pembunuhan terjadi.
Secara hukum positif pembelaan yang dilakukan oleh tersangka ZA dapat
dikategorikan dalam noodweer (pembelaan terpaksa) yang diatur dalam Pasal 49
KUHP. Beberapa unsur yang harus dipenuhi agar seseorang dapat dikategorikan dalam pembelaan terpaksa adalah membela diri sendiri atau orang lain, kehormatan,
kesusilaan, harta sendiri atau orang lain, karena adanya serangan atau ancaman serangan yang sangat dekat, dan perbuatan tersebut melawan hukum. Adapun domain terkait pembelaan terpaksa adalah pembelaan harus seimbang dengan serangan atau ancaman dan serangan tidak boleh melampaui batas (asas subsidioritas). Ada beberapa unsur yang telah terpenuhi bahwa ZA melakukan perbuatan tersebut
dapat dikategorikan sebagai pembelaan terpaksa yaitu; melindungi diri dan orang lain, melindungi harta sendiri dan orang lain, melindungi karena adanya ancaman yang sangat dekat dan adanya perbuatan melawan hukum yang ditujukan kepadanya. Di sisi lain ada perbuatan ZA yang dijadikan oleh Jaksa Penuntut Umum sebagai dakwaan melalui Pasal 340 KUHP tentang perencanaan pembunuhan,mengingat ZA sebelum kejadian perampokan dan ancaman pemerkosaan, ZA terlebih dahulu
membawa pisau sebelum pembelaan yang berakibat pembunuhan terjadi.
Hukum adalah seni berinterpretasi, semua berhak menyatakan dirinya benar atau
menyatakan kebenaran subjektifnya, tetapi disatu sisi orang lain juga berhak menyatakan kebenaran subjektifnya. Kuasa Hukum ZA mempunyai argumen hukum yang siap didialektikakan dipersidangan dengan argumen hukum dan saksi yang disiapkan oleh Jaksa Penuntut Umum. Harapan kedepannya adalah semoga Putusan Pengadilan terkait kasus ini mempunyai nilai keadilan bagi keduabelah pihak dan nilai kemanfaatan bagi kita semua.
Melalui kasus ini hendaknya kita lebih cermat dalam menganalisa isu hukum, karena isu hukum tidak pernah jauh dari logika hukum dan hukum positif yang berada di Indonesia. Janganlah kamu masuk dalam suatu perkara kecuali kamu tidak memiliki ilmu didalamnya, begitupun janganlah menganalisa suatu isu hukum tanpa melalui ilmu hukum dan cara berfikir hukum.

Ferry Anggriawan S.H, M.H
Dosen Fakultas Hukum Universitas Merdeka Malang

I’tikaf di Jaman Now itu Mengurangi Medsos (1)

Anwar Hudijono. (istimewa)

Oleh: Anwar Hudijono

Kalau puasa Ramadhan itu diibaratkan rumah, maka keberadaan I’tikaf itu pasaknya. Fungsinya untuk memperkuat konstruksi rumah. Kalau rumah tanpa pasak akan mudah goyah, bahkan roboh.

Para ahli fiqih klasik mendefinisikan I’tikaf itu kira-kira begini: suatu aktivitas berdiam di masjid dengan niat hanya untuk melakukan ibadah. Tujuannya untuk menjaga agar ibadah puasa Ramadhan yang dijalani tidak sampai ternoda oleh maksiat dan mungkarat. Agar puasanya tidak hanya mendapatkan haus dan lapar alias sia-sia. Tapi menjadi puasa yang imanan wa ihtisaban (dinafasi iman dan kesadaran).

Mengapa masjid menjadi pilihan I’tikaf? Biasanya pra ahli fiqih klasik menjawab begitulah Rasulullah melakukan. Tapi apakah Rasulullah hanya melakukan I’tikaf di masjid? Bukankah Rasulullah mengisi malam-malamnya dengan beribadah di rumah degan qiyamul Ramadhan, tadarus bersama Jibril, berdzikir. Apa itu bukan I’tikaf?

Demikian pula ketika Rasulullah menyendiri beribadah hampir sepanjang malam di padang Badar menjelang Perang Badar di bulan Ramadhan tidak termasuk I’tikaf?

Pertanyaan apakah I’tikaf harus di masjid ini relevan dengan kondisi saat kehidupan global dilanda ujian Covid-19. Banyak masjid tutup. Membatasi jam buka. Mengurangi kapasitas jamaah. Bahkan pemerintah membatasi jamaah masjid dari tingkat umat ke tingkat komunitas. Artinya masjid hanya boleh menerima warga muslim di sekitarnya atau jamaah tetap belaka. Lama-lama tata jamaah masjid jadi mirip tempat ibadah lain.

Di musim Covid-19 ini dianjurkan stay at home. Bahkan shalat pun dianjurkan di rumah. Menghindari kerumunan, dan jaga jarak sosial.

Padahal biasanya di malam-malam ganjil sepuluh hari terakhir Ramadhan, umat ramai-ramai I’tikaf di masjid untuk meraih lailatul qadr. Sampai masjid penuh sesak. Artinya sulit jaga jarak dan kerumunan.

Seyogyanya ara ahli fiqih kontemporer segera melakukan ijtihad atau apapun istilahnya tentang ini. Hal ini perlu agar umat selamat dari tuduhan sebagai biang kerok penyebaran Covid-19. Bahkan ramai-ramai dipidana karena melanggar prokes.

Sekali lagi monggo para fuqaha kontemporer menjelaskannya. Semoga jawabannya bukan: adharuratu tubihul mahdlurat (keadaan darurat itu membolehkan tindakan yang bersifat darurat). Kalau jawabannya begitu mah biasa saja. Harus jawaban yang keren banget gitu lo.

Sebab ada trend menjadikan istilah darurat Covid-19 sebagai alasan yang tidak benar dan rasional. Boleh berbuat tidak adil karena alasan Covid-19. Boleh nyolong uang rakyat karena Covid-19. Boleh semena-mena demi Covid-19. Wis .. angel .. angel.

Saya tidak memiliki kapasitas dan kredibilitas menjawabnya. Kalau cuma bertanya kan tidak apa-apa. Kerjaan orang awam itu ya bertanya, atau sami’na wa atha’na kepada para ulama ahlinya. Tidak usah kemenyek berijtihad sendiri. Nanti malah melenceng jadi ruwaibidhah, orang bodoh yang mau sok pintar lantas mencampuri yang bukan ranah intelektualitasnya.

Memang di jaman now ini ada yang terbalik. Orang bodoh merasa pintar. Orang pintar pindah jadi bodoh. Contohnya orang bergelar akademik tinggi, memilih nggedabrus di medsos daripada membuat kajian analisis di media massa. Apalagi menulis buku. Guru besar turun derajat jadi buzzer. Tapi itu tidak di Indonesia lo. Adanya di negara Ngastina sana.

Hawa Nafsu

Jika merunut pandangan para ahli fiqih klasik, misi utama I’tikaf itu di samping mengumpulkan ganjaran sebanyak-banyaknya, mendekatkan diri kepada Allah, juga sebagai tindakan melindungi puasa agar tidak ternoda, apalagi rusak, bahkan batal. I’tikaf itu memperkuat batin.

Intinya, I’tikaf itu kan proses mengurangi dan mencegah rangsangan-rangsangan dari luar yang dapat menaikkan intensitas hawa nafsu individual seperti marah, iri dan dengki, rasan-rasan alias ghibah, mencela, keinginan liar, ujub (mengagumi diri sendiri), pamer alias riak, seksual dan sebagainya. Juga hawa nafsu dalam konteks sosial seperti serakah kekuasaan (melik nggendhong lali), korupsi, menindas, merusak lingkungan, memproduksi maupun mengkonsumsi riba, tidak adil dan sebagainya.

Mirip-miriplah dengan tirakat dalam tradisi Jawa yaitu mepek babahan hawa sanga. Artinya, mengendalikan sembilan lobang pada tubuh manuia. Sembilan lobang itu menjadi jalan liar hawa nafsu. Yaitu, mulut satu, mata dua, hidung dua, telinga dua. Selebihnya saya lupa.

Dan substansi puasa Ramadhan sendiri adalah mengendalikan hawa nafsu. Haus dan lapar serta seksual itu hanya bagian kecil hawa nafsu. Itu unsur hawa nafsu hewaniah. Yan berat itu hawa nafsu asli manusia yaitu fasad (berbuat kerusakan): despotisme politik, materialisme ekonomi, dan liberalisme sosial. Ketiganya disebut trilogy fasad.

Ditambah hawa nafsu syaithaniyah yaitu pengingkaran terhadap hukum-hukum dan ketentuan Tuhan. Jika jalan Tuhan itu minal dhulumat ila an-nur (dari gelap menuju terang), hawa nafsu syaithainiyah ini min an-nur ilal dhulumat (dari terang menuju gelap).

Mengapa hawa nafsu harus dikendalikan? Jawabnya ada di Quran surah Sad (38): 26. “…. Dan janganlah engkau mengikuti hawa nafsu, karena akan menyesatkan engkau dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan Hari Perhitungan.”

Rabbi a’lam (Tuhan lebih tahu).

Anwar Hudijono,
Kolumnis tinggal di Sidoarjo.

Penyakit Hukum Peraturan Presiden No 64 Tahun 2020 dan Masyarakat Sebagai Tumbalnya

Oleh: Ferry Anggriawan SH., MH

Diundangkannya Peraturan Presiden No 64 Tahun 2020 tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Presiden No 82 Tahun 2018 tentang Jaminan Kesehatan oleh Presiden Joko Widodo beserta Kementerian Hukum dan HAM, Yasonna H. Laoly tertanggal 6 Mei 2020, ibarat hujan yang diharapkan pada musim kemarau panjang, tetapi ia datang dengan banjir bandang yang menyirami, sekaligus menyapu dan menghancurkan harapan tersebut.

Sebagian harapan juga dialami penulis ketika sebulan yang lalu datang ke Kantor BPJS Kota Malang untuk mengurus administrasi terkait perubahan data, sekaligus menanyakan reaksi BPJS pasca Putusan Mahkamah Agung No 7P/HUM/2020 yang mengabulkan keberatan uji materiil dari pemohon Komunitas Pasien Cuci Darah Indonesia (KPCDI) terkait pembatalan kenaikan tarif iuran BPJS baik kelas 1,2 dan 3 sontak saya menanyakan hal tersebut “mas kapan iuran mulai diturunkan?, kan sudah diputus sama MA kemarin! Dengan tenang customer service menjawab “nunggu Perpresnya keluar mas ya”.

Ditengah krisis kesehatan karena adanya pandemi covid 19 yang berdampak pada melemahnya perekonomian di Indonesia, Peraturan Presiden yang diharapkan itu datang dengan tujuan berbeda yang justru mencederai hukum dan keadilan. Seolah tidak ada respect terhadap Putusan Mahkamah Agung No 7P/HUM/2020. Peraturan Presiden yang diharapakan dapat menyesuaikan dengan Putusan MA tersebut, justru bertentangan dengan tetap menaikkan iuran tersebut melalui Pasal 34 ayat 7 Peraturan Presiden No 64 Tahun 2020. Presiden memang mempunyai kewenangan dalam hal ini, tetapi secara etika hukum, ini adalah abuse of power yang mengakibatkan penyakit hukum di Indonesia.

Penyakit hukum adalah penyakit yang diderita oleh hukum itu sendiri, yang menyebabkan hukum tidak dapat dilaksanakan sesuai dengan fungsinya secara optimal. Penyakit hukum itu dapat menimpa “substansinya”, “strukturnya” dan “kultur hukum”-nya. Setelah melihat pertimbangan hakim MA dalam Putusan MA tersebut, kenaikan tarif yang diakibatkan karena defisit Dana Bantuan Sosial, disebabkan karena adanya kesalahan dan kecurangan dalam pengelolaan dan pelaksanaan program jaminan sosial oleh BPJS, tetapi yang menanggung beban kesalahan dan kerugian tersebut adalah rakyat dengan dijadikan tumbal untuk membayar iuran dua kali lipat dari sebelumnya, untuk menutupi defisit keuangan tersebut. Ini adalah penyakit hukum “struktural” dalam BPJS.

Penyakit hukum “substansi”-nya, terletak pada tetap dinaikkannya iuran BPJS melalui Pasal 34 ayat 7 Peraturan Presiden No 64 Tahun 2020 yang secara otomatis memberikan kekuatan hukum dalam penerapannya. Jika kita cermati, fungsi Pepres itu sendiri adalah melaksanakan perintah perundang-undangan yang lebih tinggi. Ratio decidendi (alasan putusan) Hakim MA melalui Putusan No 7P/HUM/2020 menyatakan bahwa kenaikan tarif tersebut bertentangan dengan Pasal 2 Undang-Undang No 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Kesehatan Nasional dan Pasal 2 Undang-Undang No 24 Tahun 2011 tentang Badan Penyelenggaraan Jaminan Sosial. Dalam teori jenjang norma Peraturan dibawahnya tidak boleh bertentangan dengan peraturan yang berada di atasnya, berarti Peraturan Presiden tidak boleh bertentangan dengan Undang-Undang, karena Perpres berada dibawah Undang-Undang. Fakta hukum yang terjadi Pasal 34 ayat 7 Peraturan Presiden No 64 Tahun 2020 tetap diundangkan oleh Presiden Jokowi, meskipun secara konsep hukum bertentangan dengan norma hukum yang ada di atasnya.

Res Judicata Pro Veritate Habetur”artinya apa yang diputus hakim harus dianggap benar. Putusan Hakim MA melalui Putusan Mahkamah Agung No 7P/HUM/2020 seharusnya dianggap benar dan diterapkan dalam produk hukum pemerintah melalui Perpres terkait masalah iuran BPJS, tetapi budaya hukum Pemerintah berkata lain, nilai-nilai kebenaran yang sudah diuji di pengadilan, tidak dianggap benar oleh pemerintah, bahkan dihilangkan dari aturan pelaksananya. Ini adalah penyakit hukum pemerintah dari segi “kultur”-nya.

BPJS adalah instrumen Pemerintah untuk mencapai tujuan bernegara melalui jaminan kesehatan yang berkualitas tanpa diskriminasi dengan bersama menjaga kesinambungan financial yang diharapkan menjadi solusi, menjamin penyembuhan penyakit-penyakit yang diderita oleh warga negara Indonesia. Tetapi Presiden harus melihat lebih jauh daripada itu, karena masih ada penyakit-penyakit hukum yang diidap oleh BPJS itu sendiri dan itu termasuk tugas anda untuk menyembuhkannya.

*)Ferry Anggriawan SH., MH, dosen di Fakultas Hukum Universitas Merdeka Malang

Seberapa Kolektif Panggung Seni Pertunjukan Teater Kota Malang?

Oleh: Mutia Husna Avezahra*

Beberapa waktu yang lalu, sekitar bulan Oktober 2017, saya dan rekan-rekan Teater Komunitas (Teko) meluncurkan sebuah buku pertunjukan yang berjudul Logbook Performance Eliminasi, buku tentang pentas Eliminasi Teater Komunitas yang disutradarai oleh Habiburrokhman a.k.a Bedjo Supangat. Peran saya dalam pembuatan buku itu adalah sebagai creative director dengan kapasitas dan porsi yang cukup dominan, sebesar peran seorang bidan pada suatu proses persalinan, saya bertanggung jawab mulai dari konsep, konten hingga eksekusi perwujudan Logbook Performance tersebut.

Saat kegiatan peluncuran dan bedah karya Logbook Performance Eliminasi , rupanya penerimaan terhadap buku tersebut cukup bervariasi. Beberapa kawan dari kelompok fotografi cukup mengapresiasi upaya kami dalam menghadirkan hasil jepretan para kontributor foto dalam medium visual dan desain grafis yang (menurut mereka) cukup ideal untuk mentransfer ide atau gagasan karya visual fotografi. Sementara itu, beberapa dari pegiat seni pertunjukan yang lain, cukup aktif mengkritisi tentang esensi dan konten gagasan dari pertunjukan Eliminasi yang belum cukup representatif dari buku tersebut.

Sengaja memang saya tidak menyebut kapasitas saya sebagai seorang penulis (meski 90 persen konten buku tersebut adalah saya yang menuliskannya), yakni dengan alasan bahwa saya pribadi menghindari klaim karya tunggal yang melekat pada proses pertunjukan dan pembuatan buku Eliminasi tersebut. Saya merasa kapasitas saya sebagai seorang Creative Director lebih representatif untuk menunjukkan bahwa karya dalam seni pertunjukan tidak melulu terbatas berbicara tentang siapa yang melahirkan gagasan, melainkan soal pembahasan mengenai bagaimana peran banyak orang di suatu proses berkesenian menciptakan dinamika gagasan yang mengantarkan pembaca pertunjukan pada pemahaman yang koheren terhadap apa yang mereka saksikan.

Begitulah sebenarnya saya dan Teater Komunitas coba tawarkan, melalui Logbook Performance Eliminasi , kami berusaha menciptakan panggung setara yang menempatkan semua keterlibatan dalam etalase yang sejajar. Selain itu juga, melalui medium literasi tersebut, kami berusaha menyediakan ruang apresiasi kolektif bagi para pelaku yang terlibat pada pertunjukan Eliminasi yang dipentaskan pada bulan Maret 2017 yang lalu,  sekecil apapun peran yang mereka kontribusikan.

Cara Pandang Kerja Kolektif dan Pergerakan Kesenian

Sejauh pengamatan saya terhadap bagaimana dinamika pergerakan seni pertunjukan di Kota Malang, saya melihat ada semacam pola tentang bagaimana pelaku seni pertunjukan itu memandang proporsi kerja kolektif dalam suatu proses kreatif.

Sebelum bicara lebih lanjut soal sutradara dan gagasan pertunjukannya, saya lebih ingin berdiskusi tentang bagaimana penciptaan proposi dalam suatu proses pertunjukan dapat menjabarkan betapa perlunya kita menyorot sisi kerja kolektif, yang pada akhirnya ruang seni pertunjukan tidak hanya dapat menjadi ruang tumbuh kembang yang sangat esensial bagi diri sendiri, tetapi juga sebagai ruang yang sangat kongkrit bagi banyak orang untuk mendukung pengembangan kapasitas personal yang bersinergi dengan pergerakan kolektif.

Mari kita uraikan bagaimana dinamika interaksi dan hierarki gagasan pada suatu proses kreatif yang pada umumnya terjadi. Kemudian, melalui uraian tersebut, coba kita proyeksikan konstruksi hierarki gagasan pada suatu skema pergerakan komunal di bidang kesenian dan kebudayaan.

Gagasan sutradara memang berada di top level hierarki dalam proses berkesenian bidang seni pertunjukan. Itu sebabnya, sutradara-lah yang juga menjadi ikon representasi sebuah pementasan. Tapi, apa benar panggung seni pertunjukan itu hanyalah panggung milik sang sutradara? Sementara unsur pertunjukan lainnya hanyalah sebagai pelengkap yang melayani ego sang sutradara? Seberapa kolektif suatu panggung seni pertunjukkan teater itu sebenarnya?

Sedikitnya, saya punya sebuah perabaan perihal cara pandang kolektivitas dalam seni pertunjukan teater. Jika diskursus tentang seni pertunjukan tidak bisa move on dari pembahasan yang terperangkap oleh kesan sutradara-sentris , maka hal tersebut sebenarnya menghasilkan perspektif yang sempit dalam pergerakan seni pertunjukan itu sendiri. Saya mengakui memang penting gagasan sutradara sebagai pangkal topik diskursus suatu pembicaraan mengenai pertunjukan. Tetapi, dalam rangka menumbuhkembangkan suatu pergerakan kesenian yang masif, rupanya lebih dibutuhkan gagasan sutradara yang dapat mempersilahkan elemen pertunjukan lainnya untuk tampil dalam ruang kesetaraan. Sehingga dapat dikatakan gagasan sutradara yang demikian adalah gagasan yang evokatif, yakni gagasan yang dapat membangkitkan gairah saling silang ide antar unsur pelaku pertunjukan.

Dengan demikian, panggung seni pertunjukan dapat mengakomodir gagasan banyak orang sekaligus sebagai ruang ramah untuk menggencarkan kolaborasi, mewacanakan isu, sehingga punya pertanggungjawaban yang terukur oleh berbagai aspek peningkatan kesadaran, baik di lingkaran dalam kelompok seni pertunjukan maupun reseptivitas di lingkaran luar dari kelompok itu sendiri.

Gagasan Seni Pertunjukan yang Representatif

Maka, selain panggung pertunjukan teater sebagai produk dari proses kreatif berkesenian, seyogyanya dibutuhkan format lain yang barangkali sifatnya lebih definitif untuk menjabarkan proporsi kerja kolektif pelaku pertunjukan. Sebagaimana, yang Teater Komunitas coba upayakan dalam feature pertunjukan bertajuk Lobgook Performance Eliminasi , yang mana kehadiran makna, maksud dan tujuannya belum ditangkap seutuhnya oleh publik yang masih terjebak dalam cara pandang sutradara-sentris .

Melalui tulisan ini, saya mencoba untuk memetakan kebersinambungan antara proses kreatif dan pergerakan kesenian itu sendiri, sebagaimana yang saya yakini, bahwa ruang seni pertunjukan, dalam hal ini adalah teater, cukup punya potensi yang menawarkan sebuah pengamatan lebih .dalam tentang manusia. Saya melihat bahwa panggung seni pertunjukan teater adalah sebuah alat produksi pengetahuan dan informasi yang genuine tentang manusia yang bergiat di dalamnya. Jadi, betapa unsur kolektivitas adalah sebuah kontekstualitas pertunjukan yang juga butuh dipertimbangkan ketika ingin mengakses ide atau esensi dari pertunjukan secara representatif.

Terakhir, saya harus minta maaf, bahwa saya tak menampilkan referensi mengenai bagaimaan penciptaan peran dan proporsi seni pertunjukan konvesional lainnya seperti ludruk atau wayang. Tulisan ini adalah hasil olah refleksi dari aktivitas berproses kreatif ruang laboratorium Teater Komunitas, serta sebuah perabaan terhadap iklim dan pola interaksi kelompok seni pertunjukan atau teater di Kota Malang melalui forum-forum diskusi formal maupun informal.

*) Mutia Husna Avezahra, Gemar menulis di www.mutiaavezahra.com

Islamophobia Barat…

Oleh: Andreansyah Ahmad *

MALANGVOICE – Tak akan pernah terlupakan di benak umat manusia, berbagai tragedi berdarah yang membunuh ribuan, bahkan jutaan umat manusia, di beberapa negara dengan mengatasnamakan Islam.

Pasca tragedi bom Paris beberapa waktu lalu, bangsa Barat kembali mengambil celah kembali untuk menjatuhkan citra Islam di mata dunia. Itu semua dimaksudkan untuk menciptakan Islamophobia, ketakutan terhadap Islam, yang dianggap identik dengan terorisme.

Kenyataan itu memang memberi citra buruk terhadap Islam, dan ini merupakan salah satu usaha kaum kapitalis untuk menyingkirkan Islam dari peradaban.

Kini, di mata bangsa Barat, Islam identic penuh dengan kekerasan. Sungguh disayangkan aksi-aksi teror yang mengatasnamakan Islam itu, padahal Islam merupakan agama yang menjunjung tinggi perdamaian dan kerukunan antar umat beragama.

Indonesia merupakan salah satu negara dengan peduduk beragama Islam terbesar di dunia. Ada beberapa agama lain hidup di Indonesia, tetapi bangsa ini tetap menjunjung tinggi nilai pluralisme.

Indonesia bukanlah negara Islam, meski mayoritas penduduknya beragama Islam. Kerukunan umat beragama di Indonesia patut diacungi jempol, dan ini seharusnya menjadi contoh bagi bangsa Barat.

Permasalahan yang ada, adalah banyak oknum-oknum yang mengatasnamakan Islam untuk berbuat kekerasan, sehingga ini memudahkan kaum kapitalisme untuk menjatuhkan citra Islam.

Salah satu contohnya, ISIS, mereka menggunakan nama Islam untuk menghancurkan Islam. Padahal, bila dikaji, ISIS tak lain bentukan kaum kapitalisme, yang memang sengaja dibentuk untuk menjatuhkan citra Islam.

Penghancuran citra Islam dilakukan kaum kapitalis dengan intens dan massif. Maka, tak heran bila bangsa Barat kini mengalami phobia (ketakutan) dengan Islam, hingga lahirlah istilah Islamophobia.

*Andreansyah Ahmad, PMII Rayon Al-Kindi, Komisariat Unisma.

Cerita Angpao di Hari Raya yang Fitri

Naim M.Pd

*) Oleh: Naim, M.Pd

Nuansa idul fitri masih sangat kental terasa, mulai dari deretan jajanan khas dan lezat yang masih terpajang di ruang tamu, tidak ketinggalan pula minuman pelengkap khas hari raya seperti minuman tradisional maupun minuman segar lainnya, bahkan hari ini pun menu opor juga ikut tersaji sebagai hidangan pelengkap pada hari raya idul fitri hari ke 7.

Selain cerita tentang makanan dan minuman khas hari raya Idul fitri, ada cerita lain yang tidak kalah seru yang dialami oleh anak-anak yaitu cerita tentang angpau idul fitri, masing-masing anak tentu memperoleh pendapatan angpau yang sangat bervariatif, ada yang memperoleh sedikit, sedang ada juga yang memperoleh dengan jumlah yang cukup besar di usia mereka.

Setiap akhir kunjungan, mereka berkumpul disuatu tempat untuk melepaskan rasa penat setelah seharian mereka berkeliling menyusuri rumah sanak keluarga, sahabat dan teman untuk berlebaran. Tidak ketinggalan pula hal yang paling penting untuk mereka lakukan yaitu menghitung pendapatan angpao hari raya yang telah berhasil mereka kumpulkan, Raut bahagia tersirat jelas pada wajah mereka saat menghitung hasil angpao yang telah mereka peroleh setelah seharian bersilaturahmi.

Berhitung pun telah mereka lakukan, selanjutnya mereka menyusun rencana untuk apa uang itu digunakan, dengan gaya polos mereka, ada yang mengatakan untuk membeli mainan, perlengkapan sekolah, sepatu, di tabung, bahkan ada pula yang bercita-cita untuk membelikan orang tuanya sebuah mobil, karena sepeda motor yang dimiliki sudah tidak muat lagi untuk berboncengan, mereka seru banget ya. Heheh.

Sejarah Angpao
Setelah melakukan literasi, tradisi berbagi angpao/uang di saat idul fitri ternyata pernah ada pada abad pertengahan, kekhalifaan Fatimiyah di Afrika Utara mulai membagikan uang, pakaian atau permen kepada anak-anak muda dan masyarakat pada umumnya saat hari pertama Idul Fitri.

Kemudian, pada akhir pemerintahan Ottoman (sekitar lima abad kemudian, kegiatan bagi-bagi angpao di hari lebaran itu mengalami perubahan, hanya dilakukan dalam bentuk uang tunai saja dan dibagikan hanya kepada anggota keluarga, dan tradisi ini mampu bertahan hingga hari ini.

Di era modern seperti saat ini pemberian angpao semakin bervariasi, tidak hanya melulu uang, melainkan ada yang memberikan berupa barang seperti mainan, pakaian, gedjet dan masih banyak lagi, tentu tujuannya yaitu agar si penerima menjadi sangat senang dan bisa dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya.

Tujuan pemberian angpao
Selain tradisi, ternyata kegiatan bagi-bagi angpao uang tunai saat hari raya Idul Fitri mengandung value atau makna tersendiri, diantaranya ialah;
Pertama, mengajarkan kepada seseorang (si pemberi maupun penerima) untuk menabung dan mengelola keuangannya sendiri untuk digunakan dalam hal yang lebih bermanfaat. Setelah uang terkumpul dengan jumlah tertentu maka bisa digunakan untuk membeli barang yang dibutuhkan tentu dengan perasaan bangga.

Kedua, mengajarkan kepada masyarakat (pemberi) untuk memiliki sifat dermawan, peduli, dan suka berbagi rejeki kepada orang lain, khususnya kepada mereka yang membutuhkan. Sehingga dengan pelatihan yang dilakukan pada bulan Ramadhan selama bulan penuh dapat diaplikasikan dalam bulan-bulan berikutnya.

Ketiga, sebagai hadiah, uang angpao hari Raya Idul Fitri juga banyak yang mengartikan sebagai bentuk penghargaan atau hadiah dari orang tua kepada anak-anaknya, karena telah mampu menjalankan ibadah di bulan Ramadhan seperti berpuasa, mengaji. Pemberian hadiah ini diharapkan mampu membuat anak merasa usahanya diapresiasi sehingga termotivasi untuk melaksanakan ibadah serupa di masa mendatang.

Keempat; menebar kebaikan, memberi angpao juga bagian dari menebar kebaikan kepada sesama, kita tahu bahwa memberi dan menerima angpao adalah sesuatu yang menyenangkan bagi keduanya dan tentu saja juga dapat menyebarkan kasih sayang.

Kelima, pengajaran tentang beramal, ketika keluarga anak mendapat angpao, ini artinya pemberi perlu menyediakan dana dan daftar orang yang akan diberikan angpao, ini cara yang bagus untuk melatih anak-anak bagaimana cara beramal kepada orang lain.

Keenam. Anak merasa memperoleh perhatian, merima angpao membuat anak merasa diperhatikan, karena kebaikan ini membuat anak merasa dicintai dan secara otomatis mengikat anak menjadi lebih dekat dengan si pemberi hadiah.

Cara mengelola uang angpao
Pertama, menunjukkan pada anak nilai memberi, alasan utama mengapa penting bagi orang tua untuk mengajarkan pembelajaran keuangan kepada anak-anak adalah agar anak-anak menjadi paham mengenai pemanfaatan uang dengan baik.

Kedua, bantu anak belajar membuat keputusan pengelolaan uang, berikan pemahaman kepada anak mengenai keinginan dan kebutuhan sebuah barang, jika tidak penting dan tidak butuh maka sebaiknya ditunda atau bahkan tidak perlu dibeli sehingga penggunaan uang menjadi lebih tepat guna.

Ketiga, bantu anak membiasakan menabung, dengan memberikan pemahaman kepada anak mengenai menabung, maka anak akan berusaha menabung dan menghargai setiap uang yang diperolehnya, untuk mendukung hal tersebut maka orang tua menyediakan media tabungan seperti celengan atau benda lainnya yang bisa digunakan untuk menyimpan uang koin maupun uang kertas.

Profil penulis
Naim, M.Pd (dosen Pendidikan Ekonomi Universitas PGRI Kanjuruhan Malang)
Sekjen Yayasan Putra Khatulistiwa Malang (YPKM)
Sekretaris IARMI Dewan Pimpinan Kota Malang
Owner Konveksi Wira@lhamd Malang

Babak Akhir yang Menentukan (2-Tamat)

Anwar Hudijono

Oleh: Anwar Hudijono

Pada masa sebelum Ramadhan, kita hidup tanpa fokus. Bagaikan air yang mengalir tanpa arah. Meluber ke mana-mana.

Kehidupan yang diawali dengan siang berakhir malam. Diawali malam berakhir siang. Dimulai sore berakhir pagi. Diawali pagi berakhir sore. Berulang-ulang. Terus menerus. Begitu seterusnya. Siklistis.

Kita hidup sekadar hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari sebagai seorang manusia. Tujuannya hanya untuk hidup. Sibuk. Penuh perjuangan. Tapi itu perjuangan yang hampa. Sia-sia. Maka, hidup yang demikian itu sebenarnya hidup yang tanpa tujuan.

Secara eksistensial, kehidupan yang demikian sebenarnya sudah mati. Ajaran adiluhur Jawa mengatakan, mati sajeroning ngaurip (mati dalam hidup).

“Demi matahari yang sudah condong (ashar). Sesungguhnya manusia dalam keadaan rugi. (Quran: 103:1-2).

“Telah dekat kepada manusia hari perhitungan segala amal mereka. Sedang mereka berada dalam kelalaian lagi berpaling (dari akhirat).” (Quran: 21:1).

Mengapa manusia terperangkap dalam sistem kehidupan demikian? Pertama, faktor internal beruapa dorongan hawa nafsu. “Dan janganlah engkau ikuti hawa nafsu. Karena akan menyesatkan engkau dari jalan Allah. Sungguh, orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat karena mereka melupakan Hari Perhitungan.(Quran: 38:26).

Ajaran adiluhur Jawa menuturkan, melik nggendhong lali, hanyut pada keinginan sehingga membuat diri larut dalam lupa (lengah). Yang berkuasa lupa bahwa kekuasaan adalah amanat dari Tuhan yang akan dipertanggung jawabkan di akhirat.

Fakfor eksternal berupa tarikan dari kuasa kegelapan beserta seluruh sistem dan aparatusnya. Seluruh jaringannya. Tarikan, bujuk rayu, tekanan Iblis sebagai puncak kuasa kegelapan saja sudah sangat berat, apalagi di akhir jaman sekarang ditambah Dajjal, mahluk yang secara khusus diciptakan untuk memberi ujian dan cobaan (fitnah) kepada manusia. Dan merupakan fitnah terbesar sepanjang kurun sejarah umat manusia.

Artificial intelligent

Dorongan dan tarikan membuat kita beringsut-ingsut menjauh dari Allah. Berpaling dari Allah ke uang, duit, fulus, qian, keserakahan, hedonisme (kenikmatan duniawi), jabatan, kekuasaan, permusuhan, kebencian, harta kekayaan, keputusasaan, kapitalisme, despotisme, sekularisme, liberalisme, kedzaliman, kesombongan, perusakan (fasad).

Tanpa menyadari, kita secara substansial telah menjadi serigala yang melambangkan kekejaman dan penindasan.

Telah menjadi tikus yang melambangkan kelicikan.
Telah menjadi anjing yang melambangkan tipu daya.

Telah menjadi domba yang melambangkan penghambaan.

Bisa juga kita sebenarnya secara substansial telah menjadi “jazad”. Siapa itu “jazad”?
Al Quran menyebut jazad di Surah Al Anbiya 8, “Dan Kami tidak menjadikan mereka (Rasul-rasul) sebagai “jazad” yang tidak memakan makanan, dan mereka tidak (pula) hidup kekal.

Jazad di jaman Nabi Musa berupa patung anak sapi berbahan emas yang diciptakan Samiri. Patung itu hebat, bisa mengeluarkan suara. Pada akhirnya dinobatkan sebagai Tuhan oleh umat Bani Israel. (Quran: 20: 87 – 97).

Di jaman yang lebih muda yaitu semasa Nabi Sulaiman “jazad” adalah sesuatu yang tergeletak di singgasana Sulaiman. Suatu sosok yang mengerikan sampai Sulaiman yang sakti pun bergetar. Jazad itu ditafsirkan sebagai Dajjal. (Quran: 38:34).

Di jaman now, bisa jadi jazad itu adalah mesin artificial intelligent (AI). Cerdas, hebat tetapi tanpa hati. Ketika manusia sudah tidak memiliki hati atau buta hatinya maka secara substansial tidak ubahnya sebagai AI.

Manusia menjadi seperti “jazad” buatan Samiri. Memposisikan diri sebagai Tuhan. Diejwantahkan dengan perilakunya. Ada yang merasa paling benar. Merasa paling berkuasa. Paling kaya. Paling digdaya. Paling pintar.

Bisa juga kita tanpa terasa telah menjadi pengikut “neo-Samiri”. Penyembah AI. Manusia bergantung kepada AI daripada Tuhan. Menjadikan AI sebagai maha pengatur kehidupan.

“AI sudah mengendalikan dunia saat ini,” kata Tristan Harris, pakar IT dan mantan Desainer Estetik Google.

Jiwa yang suci

Dan puasa Ramadhan memiliki nilai penyangkalan terhadap hidup tanpa tujuan. Pengendalian agar manusia tidak menjadi budak hawa nafsu. Bengteng dari tarikan kekuatan kuasa gelapan, iblis, setan, Dajjal beserta krunya.

Maka diharapkan begitu selesai Ramadhan kita kembali ke fitrah, dasar penciptaan yaitu sebagai ruh Allah, jiwa yang suci. Manusia bertaqwa.

Demikian pula saat kita selesai hidup di dunia (mati), kita kembali kepada Allah dengan membawa fitrah kita. Kita disambut dengan sapaan, “Wahai jiwa yang bersih/suci. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku. Dan Masuklah ke dalam surga-Ku. (Quran:89:27-30).

Rabbi a’lam (Tuhan Maha Tahu).

Anwar Hudijono,
Kolumnis tinggal di Sidoarjo.
11 Mei 2021

Politik Moral Ustad Aburrahim Nur

Anwar Hudijono

Oleh: Anwar Hudijono

Gawat! Proses kelahiran Partai Amanat Nasional (PAN) Jawa Timur ibarat bayi mengalami blooding. Pendarahan. Risikonya bayi lahir cacat. Minimal mengidap penyakit bawaan yang bisa membuat pertumbuhan bayi enggrik-enggriken. Sakit-sakitan.

Penyebab utamanya, mereka yang menangangi proses kelahiran itu bertengkar sendiri. Mereka orang-orang terbaik. Tetapi ternyata untuk mengkompromikan orang-orang terbaik itu tidak mudah. Ibarat mencampur tembakau enak dengan soto enak. Hasilnya malah tidak enak.
Maka haruslah dicari tokoh yang bisa menyelamatkan kelahiran PAN Jatim. Persyaratannya banyak. Memiliki power yang disegani para pihak yang bertikai. Yang mampu meredam konflik yang sudah meledak. Bisa merangkul semua pihak, termasuk yang bertikai, untuk saiyek saekoproyo (bekerja bersama-sama) membesarkan PAN. Harus memiliki massa yang besar karena partai itu intinya adalah jumlah pendukung.

Ternyata untuk menemukan figur demikian sangat sulit ibarat mencari sebatang pohon ciplukan di antara rerimbunan padang perdu. Sampai beberapa lama tidak ditemukan. Sementara waktu semakin dekat dengan pemilu 1999. Padahal sebagai partai baru, PAN jelas membutuhkan persiapan yang panjang.

Akhirnya figur yang dicari-cari itu ketemu. Dialah Ustad Abdurrahim Nur. Konon menurut sahibul kabar, yang menemukan Ketua Umum DPP PAN Amien Rais sendiri. Amien pula yang meminang.
Kalau saja bukan Amien yang meminang, perkiraan saya, Ustad Rahim langsung menolak. Partai politik itu bukan makomnya. Bukan tempatnya. Dia sudah niat mewakafkan jiwa-raganya untuk Muhammadiyah. Saat itu menjadi Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur. Totalitas berkhidmat sebagai dosen di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Ampel Surabaya. Mengasuh Yayasan Nurul Azhar Porong, Sidoarjo yang mengelola masjid, Panti Asuhan Yatim Piatu Nurul Azhar. Menjaga umat dengan mengasuh pengajian Fajar Sodiq.

Masalahnya, yang meminta Amien Rais. Hubungannya dengan Amien selama ini sangat baik. Bukan sekadar hubungan struktural Amien sebagai Ketua PP Muhammadiyah sedang Ustad Rahim sebagai Ketua PWM Jatim, tetapi hubungan itu sampai tingkat personal. Hal ini membuat ewuh pakewuh. Dilematis. Oleh karena itu, cukup lama waktu yang dibutuhkan untuk memutuskan pinangan Amien tersebut.

Bukan politisi
Ustad Rahim bukan politisi. Tidak pernah terjun di dunia politik praktis. Tetapi cukup memahami seluk beluk perkembangan politik. Salah satu jalur untuk mengikuti perkembangan politik adalah putranya, Muhammad Mirdasy, seorang politisi tulen. Ibarat emas gitu benar-benar 24 karat. Bukan hanya 18 karat, apalagi emas sepuhan. Mirdasy pernah jadi anggota DPRD Jawa Timur dari PPP.

Ustad Rahim itu memandang politik itu dalam kaidah assyiasatu min furuin syar’i (politik itu cabangnya syariah). Dengan demikian cara ia memandang sangat normatif. Politik dalam konteks baik dan buruk, manfaat dan madlarat, pantas dan tidak pantas, boleh dan tidak boleh, halal dan haram. Tidak ada yang sama-samar atau subhat. Karena subhat itu wilayah yang dibawa Dajjal. Bergerak di bidang politik itu bagian dari dakwah amar ma’ruf nahi mungkar.

Sementara politik kepartaian itu memiliki ukuran-ukuran lain. Memandang politik itu dalam konteks menang dan kalah, untung-rugi, mendapat atau menyetor. Berkiprah di politik kepartaian itu sering kali layaknya berjudi. Bisa pulang sebagai pahlawan dengan membawa pampasan. Bisa pulang ngeslong alias kalah habis-habisan. Malah bisa-bisa tidak berani pulang. Tidur di pasar bantalan gubis.

Politik kepataian itu banyak wilayah subhatnya. Seolah semua dikemas dalam jargon pengabdian. Entah pengabdian kepada partai, rakyat, bangsa dan negara. Tetapi konten sebenarnya untuk mendapat kekuasaan, uang, popularitas, puji-pujian, bahkan entit-entitan.

Intinya, politik kepartaian itu sering kali lekang dari norma-norma. Menghalalkan segala cara. Pagi teman, sore bisa jadi lawan. Berlaku kaidah, tidak ada teman sejati. Yang ada hanya kepentingan diri. Bisa saja penampilan bak malaikat, tetapi di dalam hatinya menyimpan setan. Bukan idealisme yang mengikat tetapi kepentingan praktis. Maka politik menjadi sangat transaksional. Politik menjadi arena petualangan. Politik menjadi pentas badut-badut, pecundang dan pemenang.

Apakah dirinya mampu mempertemukan politik normatif dengan trends politik kepartaian? Ini kabarnya juga menjadi salah satu faktor mengapa cukup lama tidak segera menjawab permohonan Amien Rais.

Trauma Masyumi
Kabar Ustad Rahim dipinang Amien Rais menyeruak santer di kalangan umat Muhammadiyah. Terjadilah polarisasi umat. Ada yang menolak, ada yang setuju, ada yang hati-hati.
Yang menolak pun dengan alasan sendiri-sendiri. Ada kelompok Muhammadiyah konservatif. Mereka masih trauma politik ketika Muhammadiyah bersinggungan dengan politik kepartaian. Yang ternyata hanya merugikan Muhammadiyah.

Contohnya, ketika Muhammadiyah menjadi anggota istimewa Masyumi, terjadilah eksodus besar-besaran dari warga Muhammadiyah yang bukan pendukung Masyumi. Yang paling banyak dari kalangan Partai Nasionalis Indonesia (PNI).
Pada jaman Orde Baru, Muhammadiyah terlibat dalam pendirian Partai Muslimin Indonesia (Parmusi). Ternyata tokoh-tokoh Muhammadiyah seperti Lukman Harun dan Djarnawi Hadikusumo disingkirkan secara menyakitkan. Muhammadiyah hanya dijadikan legitimasi oleh Orde Baru. Hanya dijadikan tumbal agar seolah di Indonesia ada demokrasi.

Kalangan partai juga juga yang menolak Ustad Rahim memimpin PAN Jatim karena khawatir warga Muhammadiyah yang menyebar di banyak partai akan berduyun-duyun mengikuti jejak Ustad Rahim. Dengan begitu partai akan kehilangan asetnya.
Ada juga kelompok yang menolak karena Ustad Rahim tidak memiliki pengalaman di partai politik. Padahal sebuah partai baru harus dipimpin orang yang pengalaman. Karena akan bersaing dengan partai-partai yang sudah mapan, dan partai-partai baru dipimpin orang-orang lama.

Yang bersikap mendukung umumnya karena Ustad Rahim diyakini bisa menjadi figur pemersatu kelompok-kelompok yang berkonflik. Ustad Rahim memiliki potensi menjadi vote getter, pendulang suara warga Muhammadiyah.

Ustad Aburrahim Nur. (Istimewa)

Reformasi
Pada akhirnya Ustad Rahim bersedia memimpin PAN Jatim. Saya tidak tahu persis apa yang mendorong dia bersedia. Hanya saya perkirakan karena sejalan dengan arus besar di tingkat Pimpinan Pusat Muhammadiyah, baik bersifat institusional maupun personal.

Arus pemikiran yang berkembang di PP bahwa Amien Rais ketika memimpin gerakan reformasi Indonesia tidak lepas dari posisinya sebagai Ketua PP Muhammadiyah. Dukungan Muhammadiyah terhadap reformasi Amien dalam kerangka high politics, politik moral, politik nilai. Untuk menegakkan keadilan. Untuk membawa Indonesia lebih baik dan lebih maju. Tanpa Muhammadiyah di belakangnya, power politik Amien Rais kecil.

Pada saat itu reformasi berada di persimpangan jalan. Pertama, bisa atret, kembali ke masa Orde Baru. Karena sebenarnya kekuatan Orde Baru masih digdaya. Kekuatan lama sudah terlalu menikmati hasil korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) yang menjadi watak Orde Baru. Mereka tidak ingin kehilangan kenikmatan. Ibaratnya tidak mau melepeh permen yang sudah dikulum.

Kedua, banyaknya begal politik. Artinya, banyak kekuatan yang ingin membegal reformasi untuk dipergunakan menjalankan agendanya sendiri. Mereka menyelinap seolah-olah reformis. Padahal mereka justru akan membunuh ruh reformasi. Jika reformasi ibarat bus umum, mereka menjadi penumpang tapi diam-diam secara julig dan pengecut ingin merebut kemudi bus untuk dibawa ke tujuannya sendiri.

Kekuatan Orde Baru dan para begal politik ini sangat mungkin untuk berkolaborasi. Karena sebenarnya, mereka sama-sama tidak ingin agenda reformasi itu berjalan sukses. Jika reformasi lancar jaya, mereka sama-sama akan tergilas.
Boleh dibilang yang paham betul ruh reformasi itu ya Amien Rais. Tapi kini posisi Amien Rais benar-benar kinepung wakul binoyo mangap, dikepung ancaman yang sangat membahayakan. Bukan hanya dari kekuatan lama dan begal politik, kekuatan politik internasional juga tidak mendukungnya karena mencurigai Amien akan membesarkan Islam. Sementara dunia sudah dikendalikan kekuatan fobia Islam.

Maka kalau Muhammadiyah sampai membiarkan Amien, sama saja dengan dzalim. Membiarkan kader terbaiknya di tepi pantai sementara ancaman di laut berupa tsunami sudah mengincar. Dari darat ada macan dan serigala siap menerkam. Dari tepian pantai ada buaya-buaya yang ganas siap mencabik-cabik.

Secara cerdas, dukungan itu direaliasi dalam bentuk dukungan dari para pemimpin Muhammadiyah yang bersifat personal. Institusi Muhammadiyah mendukung secara informal. Sementara Muhammadiyah secara formal institusional tetap menjaga jarak dengan partai politik. Politik Muhammadiyah tetap high politics. Bukan low politics. Bukan politik praktis. Bukan politik kepartaian.

Saya kira, sekali lagi, landasan paling kuat Ustad Rahim bersedia memimpin PAN Jatim karena sikap takzimnya ke Muhammadiyah.

Kader Muhammadiyah
Ustad Rahim menjadikan kader-kader Muhammadiyah sebagai core PAN Jatim. Ia memilih Wahyudi menjadi sekretaris PAN Jatim. Wahyudi adalah sekretaris PWM. Banyak kader muda Muhammadiyah yang masuk di jajaran pengurus. Seperti Kuswiyanto, Suli Daim, Masfuk, Tamhid, Sugeng, Sulthon Amin, Suyoto. Saya yang di PWM berada di kepengurusan jajaran paling bawah alias hanya bolo dupak, didapuk menjadi Koordinator Humas PAN Jatim.

Core ini menjadi sokoguru penting. Ibarat rumah, jika tidak memiliki sokoguru yang kuat akan mudah goyang diterpa gempa, bahkan roboh. Untuk menunjukkan identitas PAN sebagai partai terbuka, demokratis, inklusif, Ustad Rahim banyak memasukkan figur-figur non-Muhammadiyah. Misalnya, KH Lukman Hakim yang berasal dari NU. Syaiful Anam asal HMI. Thimotius Kwanda, dosen Universitas Kristen Petra. Kaisar Victoria, budayawan dan penyiar radio. Susono, pengusaha. Banyak purnawirawan, pengusaha, intelektual.
Pada saat memimpin PAN Jatim, Ustad Rahim cenderung bersikap sangat hati-hati. Ibarat masuk di kolam yang dasarnya berlumpur, Ustad Rahim mau basah tapi tanpa kecipratan lumpur. Maklum politik itu batas antara bersih dan kotor itu nyaris tidak ada. Persis kolam airnya kelihatan bening tapi di dasarnya lumpur. Sedikit saja ada ombak atau gerakan, air dengan cepat berubah kotor.

Untuk itulah ia membatasi atau fokus pada dua peran pokok. Pertama, sebagai figur pemersatu. Kedua, sebagai penjaga moral politik.
Sebenarnya di tubuh kepengurusan DPW PAN yang heterogen, merupakan gabungan banyak unsur, juga rawan friksional. Rawan konflik. Apalagi mendekati pencalonan anggota legislatif, pergerakan politik berubah dari kolaborasi ke kompetisi. Dari kompetisi bergerser ke permusuhan.

Dengan sikapnya yang bijaksana, ngemong, Ustad Rahim bisa mengelola dengan baik potensi konflik dan friksi itu sehingga tidak sampai meledak menjadi perang terbuka. Pasca Ustad Rahim, kepengurusan PAN Jatim tak pernah sepi dirundung konflik. Malah pada Konferwil di Kediri terjadi kekerasan fisik.

Abu Hasan Al Asyari
Politik Ustad Rahim itu tipikal Abu Hasan Al Asyari, sahabat Nabi yang saleh dan terkenal pada Perjanjian Daumatul Jandal untuk menyelesaikan konfrontasi Ali bin Abi Thalib dengan Muawiyah bin Abu Sufyan. Mengedepankan moral politik. Dan risiko yang dialami Ustad Rahim boleh dibilang serupa dengan resiko yang dialami Abu Hasan Al Asyari yang juga dikenal sebagai ahli ilmu kalam. Di antaranya, ada kesalahan persepsi terhadap peran sejarahnya.
Untuk itulah Ustad Rahim, menurut kesan saya, sengaja membatasi diri dari lingkup strategi dan manuver politik. Ibarat dalam sebuah permainan, ketika para pemain sudah berlaga di lapangan, Ustad memilih melihat dari luar lapangan.
Langkah itu bisa jadi karena, ya itu tadi, tidak mau kecipratan lumpur. Dia menjaga betul eksistensi keulamaannya. Martabat pribadinya sebagai seorang ilmuwan. Posisinya sebagai pemimpin umat. Ustad selalu menggambarkan pribadi seorang pemimpin umat itu harus sidik (jujur), amanat (dapat dipercaya), tablih (dapat menyampaikan risalah Islam kepada umat), dan fatonah (cerdas).

Terkesan betul bahwa dia tidak ingin peran keulamaan dan pemimpin umat yang sudah ditekuni puluhan tahun ternoda oleh residu politik seperti susu sebelanga yang terpercik wenter.
Menurut saya, Ustad Rahim sangat sadar jika tidak terkontrol dengan baik, peran politiknya itu dapat ibarat hujan deras campur badai yang dapat memporak-porandakan ladang dengan tanaman yang subur.

Berdasar pengalaman saya, jika saya mau melakukan manuver politik, termasuk yang naka-nakal dikit, saya matur Ustad Rahim. Saya tidak berani melangkahinya. Karena saya termasuk santrinya di pengajian Fajar Sodik. Adab santri itu tawadluk ke kiainya. Saya anak buahnya di PWM Jatim. Di samping itu saya hormat atas kealiman dan keulamannya.

Kalau pengurus yang lain biasa saya langkahi. Saya tidak takut kuwalat karena saya yakin mereka itu tidak malati. Biasanya mereka mendukung saja atau diam saja. Tapi mungkin saja di belakang nggerundel, malah misuhi.

Biasanya Ustad Rahim mendengar rencana manuver politik humas yang saya sampaikan. Kemudian dia mengatakan, monggo dilaksanakan jika memang itu baik. Monggo diatur bagaimana baiknya.

Banyak ruginya
Kalau menggunakan kalkulasi politik yang lazim di kepartaian, keberadaan Ustad Rahim memimpin PAN Jatim itu tidak mendapat gains (keuntungan) apa-apa. Malah banyak ruginya. Kalau di dunia bisnis mengalami capital lost. Kobol-kobol.
Orang yang berkiprah menjadi pengurus partai politik itu kan kebanyakan ingin menjadi anggota legislatif. Masuk lembaga eksekutif. Mendapat keuntungan ekonomi. Mengantongi setoran kanan-kiri. Minimal menjadi makelar dalam politik transaksional. Minimal sekali mendapat entit-entitan dana partai.

Ustad tidak mendapat semua itu. Malah duit pribadinya keluar untuk sedekah partai (sering kalau pas rapat diedarkan kotak amal untuk partai).

Tidak ada kelurganya yang menjadi anggota legislatif. Bahkan ketika putranya, Muhammad Mirdasy diisukan hendak pindah dari PPP ke PAN, sudah geger. Banyak pengurus PAN Jatim ramai-ramai menolak. Sudah muncul tuduhan Ustad Rahim akan membangun kerajaan politik di PAN Jatim. Menyiapkan Mirdasy menjadi suksesornya.
Jelas Ustad Rahim rugi karena fitnah itu. Mirdasy juga rugi karena internal PPP meragukan loyalitasnya. Bahkan dicurigai akan mengerdilkan PPP. Membawa umat Muhammadiyah yang di PPP ke PAN.

Akhirnya kariernya di PPP wassalam alias tamat, padahal dia termasuk the rising star, kader muda yang digadang-gadang berkibar di PPP menggantikan seniornya seperti Ahadin Mintaroem. Sementara pintu PAN sudah tertutup untuk dia. Dia harus merangkak lagi mulai nol dengan masuk Partai Hanura, kemudian ke Perindo.

Kasus itu menunjukkan meski Ustad Rahim sudah sangat hati-hati ternyata tetap saja kecipratan lumpur. Terkena residu. Membuat eksistensinya di Muhammadiyah boleh dibilang stagnan. Terlihat dari pemilihan pimpinan PWM Jatim, dia tidak lagi mendapa suara terbanyak. Akhirnya ketua PWM Jatim digantikan Syafiq Mughni yang mendapat dukungan suara lebih banyak.

Kerugian lainnya ketika terjadi aksi menolak pelengseran Presiden Gus Dur. Panti Asuhan Nurul Azhar yang dibina Ustad Rahim dirusak oleh massa pendukung Gus Dur di Jatim.

Ustad Rahim menganggap berkiprah di PAN sebagai bagian dari berkhidmat di Muhammadiyah cukup satu periode saja. Semua risiko yang sudah dialami, dia terima dengan ikhlas. Perjuangan selalu ada risikonya. Ia menolak dicalonkan lagi untuk menjadi ketua DPW PAN Jatim.

Ia sterilkan diri dari kegiatan kepartaian. Kembali ke maqomnya menjadi ulama. Ngemong dan mendidik umat. Merawat anak yatim. Ngopeni masjid. Peran ini yang dia wariskan kepada keluarga dan umat untuk dilestarikan, pada saat dia kembali ke rahmat Allah pada tanggal 29 Mei 2007.

Anwar Hudijono, Kolumnis tinggal di Sidoarjo
29 Mei 2021

Merayakan Hari Ayah di Makam Agnes

Oleh: Aziz Ramadani

Hari Ayah Nasional diperingati setiap 12 November, tepat hari ini. Namun, pantaskah tahun ini diperingati sebagai penghormatan kepada sosok “ayah”?

Ya, masih segar diingatan, kasus penganiyaan bocah tiga tahun Agnes Arnelita oleh ayah tirinya, Ery Age Anwar, akhir Oktober lalu. Masalah sepele jadi alasan Ery tega menyiksa Agnes. Kekinian Ery telah ditetapkan sebagai tersangka oleh kepolisian. Padahal semula, Ery berdalih kematian Agnes akibat tenggelam di bak kamar mandi.

Tragedi keji yang dilakukan Ery menyisakan duka mendalam, tak terkecuali bagi penulis, juga seorang “ayah” yang memiliki buah hati sepantaran Agnes. Hati bak diiris tipis-tipis mendengar perlakuan yang diterima bocah yang dikenal periang tersebut.

Hal senada juga dilontarkan beberapa warga sekitar rumah Agnes. Meskipun tak mengenal atau bertemu langsung, —akibat baru sekitar tiga bulanan bertempat tinggal di rumah kontrakan—, sumpah serapah dilayangkan kepada Ery yang tak pantas disebut “ayah” , yang harusnya memberikan kasih sayang, justru jadi malaikat pencabut nyawa.

Status sebagai “ayah tiri” harusnya bukan jadi alasan apapun sampai tega menganiaya anak. Ayah ya ayah, bapak ya bapak, apakah punya pertautan sedarah atau tidak, gelar “ayah” adalah amanah bagi kaum Adam.

Belum lama ini, masih di wilayah Kota Malang konon berjuluk “Kota Pendidikan” juga terjadi penganiayaan 10 pelajar oleh motivator saat seminar di sebuah sekolah menengah kejuruan. Meskipun telah ada permintaan maaf, baik dari pelaku dan pihak korban yang memutuskan berdamai, patutlah peristiwa tersebut jadi momentum instrospeksi diri.

Kondisi – kondisi tersebut rasanya tak pantas mengucapkan selamat hari “ayah”. Kasus tak berperikemanusiaan di atas bisa jadi yang kebetulan terungkap.

Bisa jadi banyak ayah masih belum bisa meluangkan banyak waktunya bersama anak. Mungkin sosok “ayah” buruh pabrik berdalih bekerja sebagai pencari nafkah, “ayah” yang pejabat publik dituntut mendahulukan kepentingan masyarakat, atau “ayah” yang ngakunya berangkat pagi pulang pagi demi sesuap nasi, nyatanya ngopi sembari main game online.

Ayah, masih pantaskah kau dipanggil ayah?(Der/Aka)

Bola Kesedihan Para Hero

Yunan Syaifullah *) Penikmat Bola, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Malang

SEPAK bola adalah pesona kemanusiaan. Ragam pesona itu mementaskan berbagai hasrat dan harapan. Hasrat kemenangan. Hingga, gagalnya harapan berupa kekalahan. Kekalahan dan kesedihan adalah hasil dari harapan yang sedang dikecewakan.

Sepak bola dari dulu hingga kini, ditasbihkan dan menjadi panggung hasrat dan kemanusiaan yang mempertontonkan berbagai pesona kemanusiaan. Didalamnya, selalu memperagakan strategi dan taktik seolah perang untuk merebut kuasa dan pengaruh; krisis; bencana; dan, berbagai skandal penghianatan terhadap fair play.

Meski selalu diwarnai drama menyedihkan. Sepak bola tidak pernah usang, lapuk bahkan mati. Justru makin mengundang daya tarik dan pesona. Bahkan hiburan bagi seluruh umat manusia diberbagai belahan dunia. Tanpa mengenal perbedaan status dan kelas sosial.

Sepak bola adalah dunia para hero yang mempertontonkan sekaligus daya pamer atas segala bakat, kemampuan diatas lapangan hijau.
Para hero di lapangan hijau memamerkan segala kemampuan dan bakatnya bukan sekadar untuk permaianan namun untuk merebut kuasa dan pengaruh berupa kemenangan.

Ragam dan unjuk kebolehan yang dipamerkan para hero seolah seperti panggung opera sabun. Disinilah, wajah sepak bola yang seakan terus hidup tanpa ada keinginan untuk mati. Panggung seperti inilah, sepak bola seolah terus mampu menghibur dan menghipnotis para penonton.

Akan tetapi, sepak bola bukanlah panggung opera sabun yang dangkal. Sebab sepak bola, para hero-nya harus selalu siap terlibat dalam pergulatan yang keras, penuh intrik dan lainnya untuk tujuan akhir yang diharapkan.
Pergulatan yang dilakukan para hero tidak selalu berakhir dengan hasil akhir gemilang berupa kemenangan.

Sepak bola senantiasa memberikan pelajaran menarik bagi setiap penonton tentang arti dan makna realisme nasib.
Tradisi realis yang memiliki pengaruh kuat dan dominan dalam pikiran kelompok skeptis-deduktif. Salah seorang tokohnya adalah Oliver Wendell Holmes Jr. Dirinya pernah berujar bahwa nyawa hukum bukanlah logika melainkan pengalaman. Pernyataan Holmes ini, dalam perkembangannya, tanpa disadari ternyata menjadi semacam keyakinan (credo) bagi penganut skeptis-deduktif. Bahkan, buku The Common Law I (1881) yang ditulis Oliver Wendell Holmes Jr itu telah menjadi kitab wajib bagi penganut skeptis-deduktif di kemudian hari.

Kredo yang berasal Holmes ini sesungguhnya bermuatan pesan untuk disampaikan pada kita. Holmes mengingatkan bahwa hukum adalah aturan-aturan yang kontigen dan menyesuaikan diri dengan selera dan kebutuhan-kebutuhan yang ada di masyarakat.

Dalam konstruksi modern sekarang ini adalah bangunan sosial yang berasal dari anggota masyarakat bukan sabda yang turun dari langit.
Upaya untuk menemukan unsur-unsur yang sama pada sebuah sistem hukum (politik, ekonomi) seringkali dianggap tidak masuk akal atau sebagai upaya perampatan yang dangkal.

Kita sering menyaksikan para sarjana dari pelbagai keahlian yang tertawa kegirangan ketika mampu menunjukkan bagaimana teori-teori umum yang coba dibangun oleh para ahli (pakar) namun tidak pernah berhasil itu dan dibuat macet oleh perkembangan yang ada atau rusak sama sekali oleh hal-hal khusus tertentu yang dihasilkannya.

Aktivisme kita saat ini dan ke depan bukanlah dengan kekuatan logika dan ketakutan akan perenungan diri melainkan dengan suatu perangkat materi sosial kemasyarakatan yang alot dan melahirkan sekian banyak ragam aturan yang tersebar di berbagai tempat dan waktu
Sepak bola dengan tegas mengajak dan melibatkan para penonton pada dua pilihan tegas yang wajib dipilih, yakni untuk berada pada pihak kemenangan ataukah kekalahan.

Bukan karena kesengajaan, perhelatan Euro 2020 diselenggarakan dan tersebar di 11 negara dan 11 kota yang memiliki kesejarahan sepak bola dunia. Meski Euro 2020 diselenggarakan ditengah masih berjalannya Pandemi Covid-19, Euro 2020 mampu dan menjelma menjadi panggung hiburan menarik.

Menariknya, panggung Euro 2020 sesungguhnya menyisipkan dan bicara mengenai masa depan dan kesadaran melalui sepak bola.

Perbincangan masa depan dan kesadaran, teringat kembali Pidato Pembelaan Mohammad Hatta –akrab dengan Bung Hatta—sebagai salah seorang proklamator dalam pengadilan Den Haag Belanda, 9 Maret 1928 lampau patut untuk disimak kembali. Pidato Pembelaan Bung Hatta dikenal dengan tajuk “Indonesia Merdeka” (Indonesie Vrij) yang dibaca selama 3,5 jam mengupas habis tentang praktik eksploitasi dan sisi lain dari kolonialisme.

Para hero lapangan hijau di Euro 2020 memamerkan segala bakat dan kemampuannya tujuannya tidak lain adalah merebut kuasa dan pengaruh dalam hal kemenangan untuk negaranya. Menjadi seorang hero tidak sebatas membunyikan ikrar seorang hero dan tanpa jiwa yang utuh. Ikrarnya melibatkan nasionalisme dengan makna yang luas.

Ikrar dan jiwa yang utuh yang melebur jadi satu itulah idealisme para hero. Idealisme adalah sumber perubahan. Perubahan terjadi karena tidak adanya kepuasan terhadap kondisi terkini, perubahan terjadi karena ada “kesalahan” atas suatu hal, perubahan dapat dilakukan hanya bila ada keberanian, dan keberanian untuk melakukan perubahan merupakan implementasi nyata dari idealisme.

Idealisme tumbuh secara perlahan dalam jiwa seseorang, dan termanifestasi-kan dalam bentuk perilaku, sikap, ide ataupun cara berpikir. Pengaruh idealisme tidak hanya terbatas pada tingkat individu.

Para hero lapangan hijau yang mewakili Negara yang sedang dikecewakan karena gagal lolos ke fase 8 besar, seperti Portugal, Prancis, Jerman, Belanda, mereka memiliki pernyataan dan pesan menarik: “…kita ini mempunyai pengalaman sebagai negara sepak bola meski harus gagal dan tersungkur.”

Pesan itu menyadarkan kita semua. Kenapa harus dibuat tegang dan penasaran oleh hasil pertandingan. Karena bicara sepak bola bisa apa saja. Itu sah-sah saja.

Euro 2020 menjadi wadah dan kekuatan untuk menyatukan segala perbedaan. Semua orang dimanapun, profesi apapun tiba-tiba memiliki energi yang sama untuk berbicara sepak bola. Kali ini bintang yang ditunggu semua orang adalah 8 negara yang lolos dalam fase 8 besar sebagai kekuatan baru

Bicara sepak bola Eropa yang fenomenal tersebut berbanding terbalik dengan sepak bola negeri kita sendiri.

Di negeri ini, sepak bola bukan sepak bola-nya yang harus disepak malah memainkan kepala orang yang disepak. Begitu pun lapangan yang dipakai bukan lapangan bola melainkan di koran-koran atau di atas kertas tepatnya di bibir-bibir bergincu. Seram di mulut!

*Pojok Pustaka, 01 Juli 2021 pukul 15.03 wib