01 December 2022
01 December 2022
22.5 C
Malang
ad space

Kasus Gama, Cermin Kesenjangan Hubungan Sosial Ortu dan Anak

Oleh: Dra Erlin Iriani MM *

Kasus pembiusan dan kekerasan seksual yang dilakukan pasangan kekasih, Gama dan SAN, merupakan cermin kesenjangan hubungan sosial antara orang tua dan anak. Di era globalisasi, di mana informasi antar negara sudah tidak ada batas lagi (borderless), dengan mudahnya budaya asing masuk melalui jaringan internet.

Hal ini, kalau tidak disikapi dengan bijak dan cerdas, maka serbuan budaya asing akan mengikis moral budaya luhur serta norma yang ada di seluruh hamparan persada Nusantara ini.

‘Penyimpangan’ perilaku seksual pasangan Gama dan SAN adalah pengabaian pada suara hati dan salah penerapan logika bernalar. Dan dampaknya, terjadilah pelanggaran HAM yang dilakukan pada korban terbius, EWW.

‘Penyimpangan’ perilaku itu juga merupakan pelanggaran pada norma dan kaidah yang berlaku di masyarakat, dan merupakan tindak criminal, dalam hal ini pelanggaran hukum pidana.

Peran orang tua sangat penting dalam menghadapi lajunya perubahan peradaban zaman. Orang tua harus cerdas dan selalu mengikuti perkembangan teknologi, agar dapat mengarahkan anak dan membentenginya dari pengaruh informasi global yang bebas berinteraksi.

Arus informasi yang terbuka luas dan dapat diakses setiap saat, memberikan dampak positif dan negatif pada tumbuh kembang anak. Maka tugas orang tua adalah mendampingi anak agar arus informasi yang diterima bisa dipilah dan dipilih. Pengaruh negatif harus diabaikan dan pengaruh positif bisa diindahkan.

Untuk itu orang tua harus menguasai teknologi agar bisa mengimbangi perkembangan pengetahuan tehnologi anak. Pada era ini orang tua harus dapat menjalankan multiperan terhadap anak, selain berperan sebagai orang tua dan guru bagi anak , orang tua juga harus bisa menjadi teman dan sahabat bagi anak-anaknya.

Agar anak bebas bertanya dan curhat pada orang tua tanpa rasa segan, malu atau risih. Bila hubungan sosial orang tua dan anak terjalin akrab dan baik maka kasus seperti pembiusan dan pelecehan seksual oleh pasangan Gama dan SAN tidak akan pernah terjadi.

*Dra Erlin Iriani MM, Wakil Ketua Bidang Sosial KPPI (Kaukus Perempuan Politik Indonesia) Kota Malang.

Politik Pencitraan adalah Politik Kepalsuan

Oleh: Caping Maskarah Safril *

KONSEP politik yang bermoral pun mengajarkan untuk berhindar dari kebohongan dan kepalsuan. Politik memang sering merupakan pesta janji. Ketika janji itu sulit untuk ditepati, politik kebohonganlah yang sering terjadi. Politikus sering mencari alat-alat pembenaran untuk membingkai kebohongannya; mengesankan ketepatan janjinya. Inilah teori politik pencitraan yang keliru.

Namun, terkadang, kita berjanji tidak mengukur kemampuan, karena janji kita berpamrih. Banyak politikus berjanji karena ingin dipilih, sehingga janjinya muluk-muluk, terkadang tidak realistis.

Bagi politikus, ingkar janji tidak hanya dosa, tetapi melorotnya citra. Ketepatan janji adalah salah satu strategi politik pencitraan. Namun, untuk memenuhi strategi itu, terkadang bohong dilakukan. Padahal politik pembohongan kontraproduktif dengan politik pencitraan.

Hampir setiap permasalahan yang timbul selalu mendapat respon dari pemerinta dalam waktu yang cukup singkat. Tidak ada satupun masalah yang menyita perhatian banyak orang yang berhasil lewat dari jangkaun perhatian kepala negara.

Semua persoalan itu kemudian dibungkus rapi dengan berbagai pandangan dan argumen yang tidak jarang membuat masyarakat terlena akan sikap responsive kepala negara.

Hanya sayangnya, sikap responsive itu nampaknya hanya sekadar lips service belaka. Presiden seolah begitu respect dengan beban dan penderitaan banyak pihak. Namun realita yang ada justru tidak menunjukkan adanya langkah konkrit yang dapat merubah keadaan menjadi lebih baik. Justru yang muncul kemudian adalah sikap pembiaran dan terkesan lepas tangan. Seolah fungsi kepala negara hanya sekadar memberi komentar tanpa diikuti dengan tindakan dan langkah konkrit dalam mengurai berbagai persoalan yang ada.

Terlalu banyak contoh kasus yang dapat dimunculkan ke permukaan untuk membenarkan sikap pemerintahan saat ini yang penuh dengan tipu daya.

Lihat saja misalnya upaya pemberantasan korupsi yang hampir dalam setiap momen selalu didengung-dengungkan pemerintah. Kita memang mengapreasiasi langkah aparat penegak hukum dalam membuka tabir kejahatan, khususnya masalah korupsi yang sudah banyak diangkat ke permukaan.

Mafia peradilan, mafia pajak, mafia migas, mafia kepolisian, mafia-mafia lainnya adalah beberapa kasus yang mendapat sorotan tajam saat ini. Dalam perkembangannya, kasus-kasus yang demikian sudah lumayan marak yang dimejahijaukan. Namun sayangnya, dalam proses penuntasannya justru digantung ditengah jalan. Hampir belum ditemukan kasus-kasus yang sudah mendapat penuntasan secara riil.

Mencermati perkembangan politik yang diusung pemerintah saat ini, justru yang menonjol adalah budaya pencitraan diri dan membangun pamor serta popularitas di balik kebohongan dan tipu muslihat. Aroma pencitraan itu begitu tercium dengan jelas ketika berbagai program yang didengungkan justru tidak ada yang berhasil mencapai titik kesuksesan. Pemerintah hanya lihai dalam beretorika, tetapi dalam tatanan implementasi justru mandul dan tidak mampu memberikan harapan kepada publik.

Pendek kata, karena politik pencitraan hanya menonjolkan tampilan luar, maka dengan mudah pun ia akan tersingkap. Selain hukum waktu yang akan berbicara, hembusan angin kritis dari rakyat pun bisa menyingkapnya.-

*Caping Maskarah Safril, Ketua Asosiasi Pedagang Kali Lima Indonesia Kabupaten Malang. Tinggal di Jalan Bandulan 6 Sukun, Malang.

Haji Yang Tertunda Bersama Nabi (2)

Anwar Hudijono. (Istimewa)


Oleh: Anwar Hudijono

Pasukan Quraisy sudah terlihat. Kita tidak gentar. Di antara kita malah sudah ada yang menghunus pedang siap mempertahankan diri. Kita tinggal menunggu aba—aba komando dari Nabi. Kita sami’na wa atha’na, mendengar dan patuh.

Nabi tetap tenang. Takut? Tentu tidak. Tapi Nabi konsisten dengan niat menunaikan haji. Bukan niat untuk berperang. Sementara Quraisy memang ingin pecah perang. Nabi tak mau masuk perangkap mereka. Tak mau menari di bawah genderang Quraisy.

Nabi memutuskan mencari jalan lain. Kita mengikuti beliau. Medan jalannya sangat berat. Melalui tebing batu karang yang curam. Kaum muslimin tidak ada yang mengeluh. Semua rasa payah tertutup oleh semangat yang tinggi dan ikhlas.

Tiba-tiba Al Qashwa berhenti dan berlutut. Muslimin menduga unta kesayangan Nabi ini kelelahan.

“Tidak. Dia ditahan oleh yang menahan gajah dulu dari Mekah. Setiap ada ajakan dari Quraisy dengan tujuan mengadakan hubungan kekeluargaan, tentu saya sambut,” sabda Nabi.

Kita tiba di Hudaibiya, daerah sebelah bawah Mekah. Nabi memerintahkan kita turun.

Di antara jamaah ada yang bertanya, “Ya Rasulullah, kalau pun kita turun di lembah ini tidak ada air.”

Kita melihat Nabi mengeluarkan anak panah dari tabungnya (bukan panah untuk perang). Menugaskan seorang sahabatnya agar memanah ke dasar sumur-sumur yang kering. Begitu dipanahkan, memancarlah air yang berlimpah. Kita semua lega.

Quraisy bingung

Quraisy bingung menghadapi langkah Nabi. Pasukan Khalid ditarik untuk disiagakan di Mekah. Quraisy mengutus Budail bin Warqa dari suku Khuza’a menemui Nabi. Kepada Budail Nabi menjelaskan tujuannya. Hanya ingin umrah atau haji. Tidak ingin berperang.

Budail melaporkan apa adanya ke Quraisy. Tapi dia malah dicurigai. Tak puas, kemudian Quraisy mengutus Hulais, pimpinan suku Ahabisy.

Saat Hulais tiba, Nabi menyuruh kita melepaskan hewan-hewan kurban agar terlihat oleh Hulais. Begitu melihat hewan kurban itu, hati Hulais yang memiliki dasar kegamaan jadi tergetar.

Dia kembali ke Quraisy dan meyakinkan bahwa tidak ada alasan yang benar untuk melarang Nabi ke Baitullah. Lagi-lagi Quraisy malah marah ke Hulais. Dan Hulais mengingatkan bahwa persekutuannya dengan Quraisy bukan untuk merintangi orang yang mau ziarah ke Baitullah.

Selanjutnya Quraisy mengutus Urwa bin Mas’ud Ath-Thaqafi. Ya Urwa menemui Nabi. Pendapat Urwa sama dengan delegasi sebelumnya.

“Saudara-saudara, saya pernah ketemu Kaisar Persia Kisra dan Negus. Tapi baru kali ini aku melihat hubungan seorang raja dengan rakyatnya seperti Muhammad dengan sahabat-sahabatnya. Ketika dia mau wudlu, mereka segera bergegas. Jika ada rambutnya yang rontok mereka mengambil dan menyimpannya. Pikirkanlah kembali baik-baik,” kata Urwa di hadapan majelis Quraisy.

Ikrar Baitul Ridzwan

Lama sekali Quraisy tidak mengirim delegasi. Giliran Nabi yang mengutus delegasi. Tetapi di tengah jalan, unta utusan Nabi ditikam. Bahkan utusan itu mau dibunuh tapi bisa diselamatkan Ahabisy.

Quraisy terus melakukan provokasi. Pada malam hari sebanyak 40 orang dari mereka melempari kemah kaum muslimin. Mereka ditangkap. Tapi Nabi memaafkan dan melepaskan mereka.

Nabi hendak mengutus Umar bin Khattab untuk menemui para pembesar Quraisy. “Ya Rasulullah saya khawatir Quraisy akan mengadakan tindakan kepada saya mengingat sudah tidak ada Bani Khattab yang melindungi saya. Quraisy tahu bagaimana permusuhan dan tindakan tegas saya kepada mereka. Saya menyarankan orang yang lebih baik dari saya yaitu Ustman bin Affan,” kata Umar.

Nabi setuju. Maka berangkatlah Utsman bin Affan yang juga menantu Nabi ini. Di Mekah Utsman melakukan negosiasi dengan penggede Quraisy seperti Abu Sufyan. Negosiasi berjalan sangat alot. Quraisy bersumpah tidak akan mengijinkan Nabi masuk Mekah dengan kekerasan tahun ini.

Umat muslimin gelisah. Kita juga resah. Memikirkan nasib Utsman. Karena sejak berangkat tidak ada kabar. Kaum muslimin khawatir Quraisy membunuhnya meskipun semua agama di Arab melarang membunuh di bukan suci dan di daerah Mekah. Mekah adalah milik semua. Kita mafhum Quraisy itu seperti serigala. Sadis, kejam.

Nabi memanggil para sahabat. Di bawah sebuah pohon kita bersama kaum mukminin berikrar siap berkorban jiwa raga untuk membalas setiap pengkhianatan Quraisy. Ikrar itu disebut Baitul Ridzwan. Dari alam bawah sadar, setiap kita memegang gagang pedang dengan niat meraih kemenangan atau mati di medan juang sebagai syahid.

Turunlah wahyu Allah. Kita mendengar dengan seksama ketika wahyu itu dibacakan junjungan kita Rasulullah.

“Sungguh, Allah telah meridhai orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu (Muhammad) di bawah pohon. Dia mengetahui apa yang ada di dalam hati mereka, lalu Dia memberikan ketenangan atas mereka dan memberi balasan dengan kemenangan yang dekat”. (Quran: Al Fath 18).

Demi mendengar wahyu itu, tanpa terasa air kita menetes. Dada kita menjadi longgar seperti terlepas dari himpitan batu sebesar gajah abuh.

Anwar Hudijono

Referensi:
Muhammad Husain Heikal, Sejarah Hidup Muhammad, Tintamas Indonesia 1978.
Dr Ali Shariati, Haji, Penerbit Pustaka Bandung 1995.

Salam Satu Jiwa Arema itu Kekuatan Sekaligus Titik Rawan

Anwar Hudijono
Anwar Hudijono. (MVoice/ist)

Oleh Anwar Hudijono*

Aremania memiliki salam yang khas. Yaitu “Salam Satu Jiwa”. Jika subyek pertama menyampaikan “salam satu jiwa”, maka subyek kedua menjawab Arema. Galibnya disertai dengan mengangkat tangan mengepal.

Salam ini bukan kaleng-kaleng. Apalagi asal njeplak. Salam ini memiliki akar historis yang sangat kuat. Sekaligus memiliki kandungan makna atau pesan isoteris yang sangat dalam.

Akar historisnya adalah ajaran adiluhung (luhur) Jawa dalam membangun komunitas, paseduluran (persaudaraan), kolektivitas -kolegialisme. Yaitu sabaya mukti sabaya pati. Artinya bahagia bersama mati (menderita) juga bersama.

Baca Juga: Iqbal Ceritakan Perjuangannya Selamat dari Kelamnya Tragedi Kanjuruhan

Sabaya mukti sabaya pati itu jika divisualkan semacam tali ijuk yang sangat kuat. Tali ijuk itu di samping tidak mudah diputus juga memiliki nilai magis mampu mengikat orang yang memiliki ngelmu welut putih. Orang yang memililiki ngelmu welut putih akan dengan mudah melepaskan diri dari ikatan rantai kapal sekalipun.

Untungnya orang sekarang jarang sekali yang memiliki ngelmu welut putih. Yang banyak justru memiliki ngelmu welut endhas ireng alias licik, licin, lihai, liat, dan li li yang lain.

Sabaya mukti sabaya pati ini merupakan kekuatan yang sangat dahsyat ketika ditransformasikan dalam kebaikan, perjuangan, gerakan heroisme. Contohnya, ketika Wong Agung Wilis memimpin perjuangan melawan pemerintah penjajah Belanda di Blambangan (Banyuwangi). Mengobarkan perang Puputan Bayu tahun 1771.

Baca Juga: Aremania Asal Probolinggo Takut Pulang, Ini Penjelasan Psikolog RSUD Kanjuruhan

Ruh sabaya mukti sabaya pati menggerakkan seluruh rakyat Blambangan, laki-laki perempuan terlibat perang sampai titik darah penghabisan. Tercatat 70 ribu rakyat gugur.

Ruh sabaya mukti menggerakkan rakyat terlibat dalam Perang Jawa atau Perang Diponegoro. Boleh dibilang hampir seluruh Jawa terbakar oleh api peperangan. Sampai-sampai kas negara Belanda kosong karena terserap habis untuk membiayai perang. Cuma setelah perang,Belanda cari pulihan dengan memeras rakyat melalui pajak dan program tanam paksa. (Politik golek pulihan ini kemudian menginspirasi lulusan pemilu baik pileg maupun pilkada).

Perang Surabaya 10 November 1945 juga digerakkan ruh sabaya mukti sabaya mati. Nilai itu dinarasikan dengan “Merdeka atau Mati”. Artinya kalau mau bahagia bersama harus merdeka, maka harus berjuang bersama-sama kendati harus berkalang tanah dan darah tertumpah.

Baca Juga: Tersangka Pembunuhan di Villa Songgoriti Terindikasi ODGJ

Masyarakat Pinggiran
Jadi, jika divisualkan “ salam satu jiwa” itu juga tali ijuk yang mengikat Arema . Historisnya kan begini. Sebelum tahun 1990-an, masyarakat Malang, khususnya anak-anak mudanya itu terpecah-pecah dalam kelompok komunitas. Saat itu disebut geng.

Geng-geng itu berbasis utama kalangan masyarakat periferal (pinggiran). Kurang pendidikan. Miskin. Begerak di sektor informal, bahkan pengangguran. Mereka memiliki keberanian yang tinggi. Jiwa jagoan.

Mereka adalah efek (korban) dari proses pembangunan yang berorientasi trickle down effect (menetes ke bawah). Kapitalistik. Jika proses pembangunan itu ibarat arus sungai, nah kaum periferal itu buih yang terapung-apung di atasnya.

Pada dekade 1970-an eksislah komunitas atau geng seperti Argom (Armada Gombal) yang berbasis di Mergosono, Anker (Anak Keras) di Jodipan, Persatuan Residivis Malang (Prem) di Celaket. Komunitas-komunitas ini mengalami politisasi dalam arti diserap oleh partai politik menjadi aparatusnya. Misalnya Tamin, Hariadi, Ghozi ke PPP. Mariso Udin, Bhirowo ke Golkar.

Pada saat musim penembakan misterius (petrus) awal 1980-an, banyak pentolannya yang raib. Geng-geng atau komunitas tiarap dan diam seperti orong-orong terinjak kaki orang.

Tidak lama. Pertengahan dekade 1980-an mulai muncul. Bahkan layaknya jamur di musim hujan. Basisnya tetap massa periferal, kurang terdidik, miskin. Pentolannya masih berumur belasan tahun karena yang tua-tua sudah raib atau pensiun.

Komunitas itu tidak hanya berbasis geografis di Malang, melainkan meluas sampai daerah lain. Di manapun saja berada, arek-arek Malang berani menunjukkan identitasnya dengan menyebut Arema akronim dari Arek Malang. Penguasa Blok M Jakarta itu Arema.

Muncullah komunitas-komunitas seperti Van Halen alias V(F)ederasi Anak Nakal Halangan Enteng yang berbasis di Claket, Saga (Sumbersari Anak Ganas), SAS (Sarang Anak Setan). Nama-nama ini mengambil nama grup musik rock karena saat itu Malang menjadi barometer musik rock Indonesia. Musisi rock baru disebut sejati jika lolos ujian arek Malang (Arema).

Ada juga geng berbau rasisme seperti RAC (Remaja Anti Cina), Raja (Remaja Anti Jawa). Ada Arpanja (Arek Panjaitan) berbasis di Betek, Aregrek (Arek –belakang- Geereja Kayu Tangan), Geng Inggris berbasis di Sukun, Armada Nakal (Arnak). Ada juga Ermera. Nama ini mengambil sebuah daerah di Timor Leste. Di situ banyak pasukan Batalyon 512 yang menjadi korban Perang Timor Timur.

Tinju

Fenomena ini memprihatinkan para tokoh masyarakat. Mereka khawatir musim petrus berulang. Juga perkembangan komunitas atau geng-geng ini tidak sejalan dengan gerakan pembangunan masyarakat yang waktu populer dengan istilah masyarakat madani. Istilah yang diperkenalkan oleh cendekiawan muslim Nurcholish Madjid. Masyarakat madani artinya masyarakat yang berkeadaban. Di situ ada tatanan keadilan.

Adalah Walikota Malang 1973-1983 Sugiyono adalah salah satu tokoh yang paling peduli dengan Arema. Ia mendapat gelar Ebes dari Arema. Ebes adalah bahasa slank Arema yang berarti bapak. Sugiyono dinilai sebagai pengayom, panutan Arema.

Banyak solusi yang dilakukan Ebes Sugiyono. Di antara mendorong berdirinya sasana tinju. Tinju itu tempat menyalurkan dan membina potensi keberanian, kejagoanan Arema. Sugiyono sendiri mendirikan Sasana Gajayana yang dengan pelatih legendaris Abu Dhori yang menelorkan juara seperti Juhari (OPBF), Solikin, Kid Hasan, Little Holmes.

Ada sasana Arema yang didirikan Tjipto Murti dengan pelatihnya Wa Sui yang menelorkan juara seperti Monod, Little Pono. Sasana Swunggaling Malang dengan manajer Petrus Setyadi Laksono yang menelorkan juara OPBF Wongso Suseno, Wongso Indrajid, Suwarno Perico alias No Pecel, Hengky Gun.

Disusul sasana Javanoea pimpinan Eddy Rumpoko dengan pelatih Mufid yang melahirkan juara WBF Nur Huda. Sasana Satria Yuda pimpinan Luky Acub Zainal dengan pelatih Ingger Kailola. Edy Sugiarto mendirikan sasana Alamanda yang melahirkan juara Mulyanto, Hudi.

Abu Dhori kemudian melepaskan diri dari Gajayana dengan mendirikan Dhori Gymnasium. Ia melatih tidak hanya pentinju Malang ia juga melatih petinju Papua yang dikirim Sugiyono yang saat itu menjabat sebagai Wakil Gubernur Papua (Irja) seperti Yudas Mofu, John Hamadi.

Selain tinju, Ebes juga mengembangkan sepak bola yaitu Persema. Dengan pemain seperti Maryanto, Suparman, Sutrisno, Cilak, Hary Ratu, Hartoyo, Gusnul Yakin, Aji Santoso sempat masuk Divisi Utama. Setelah tidak ada Ebes di Malang, Persema kurang bisa menyerap Aremania karena ada perbedaan paradigmatik.
Manajemen Persema menggunakan paradigma birokratis, sementara Arema itu menggunakan paradigma partisipatif. Pada masa itu terjadi semacam dikhotomi state (negara) dengan society (masyarakat). Karena saat itu, mengikuti pendapat ilmuwan politik David E Apter, ideologi negara dijadikan agama politik (pilitical religion)

Ebes Sugiyono

Adalah Ebes Sugiyono bersama mantan Wagub Papua Acub Zainal dan Siwo PWI Malang seperti Abas Prabowo, Anwar Hudijono, Heroe Yogie, Agus Purbianto, Suyitno, Wiharjono, Sentot Setiyono, Mondry. Pengusaha Derek Sutrisno, penyiar Radion Senaputra Ovan Tobing. Dua tokoh muda Arema Eddy Rumpoko dan Lucky Acub Zainal.

Mereka memprakarsai pendirian klub Arema FC . Apalagi saat itu PSSI juga menggencarkan sebak bola profesional. Pelatih pertama yang direkrut gak tanggung-tanggung yaitu Sinyo Aliandoe yang pernah menukangi PSSI Pra Piala Dunia. Pemainnya seperti Mahdi Haris, Effendy Azis, Dony Latuperissa, Panus Korwa, Mecky Tata, Dominggus Nowenik, Karman Kamaludin, Aji Santoso.

Jadi Arema FC itu didirikan untuk mewadahi aspirasi berbasis paradigma partisipatif Arema (Arek Malang). Nama Arema FC dianggap lebih pas daripada nama Armada FC. Arema FC itu mempersatukan elemen-elemen komunitas Arek Malang. Menjadi buhul pengikat solidaritas Arek Malang.

Maka sejak awal, keyakyatan itu menjadi karekter Arema FC. Klub profesional tetapi karakternya bukan semata bisnis untuk mengeruk cwan tetapi untuk persatuan komunitas. Mengembangkan paradigma partisipatif. Maka jangan heran kalau Aremania selalu minta dilibatkan dalam proses keputusan manajemen Arema maupun stakeholder yang lain. Aremania terhadap Arema FC itu benar-benar melu angrungkebi lan melu andarbeni (ikut membangun dan ikut memiliki).

Aremania selalu menjaga karakter kerakyatan yang egalitarian. Independen. Pasti akan menolak ketika hendak digiring ke emosional-primordialisme sempit yang bisa memecah belah. Siapapun yang mencoba mengkooptasi Aremania untuk kepentingan politik pasti akan terpental.

Aremania tumbuh dan berkembang secara fenomenal. Luar biasa. Aremania menjadi leader dalam aksi teatrikal di stadion. Menjadi inspirasi suporter di seluruh Indonesia. Martabatnya tinggi di mata dunia dan Indonesia.

Terbakar dan musnah

Kerakyatan, independen, egalitarian ini boleh dibilang sebagai tradisi agung Aremania. Inilah tradisi yang baik. Tradisi yang baik itu kalau di Al Quran dianalogkan dengan, “Dan tanah yang baik, tanaman-tanamannya tumbuh subur dengan izin Tuhannya. (Al Araf 58).

Salah satu buah Aremania sebagai tanaman yang baik itu adalah kekompakan, paseduluran, soliditas dan solidaritas (sabaya mukti sabaya pati) yang kuat . Sebuah kelompok yang dibingkai soliditas dan solidaritas itu kira-kira seperti yang dianalogkan Al Quran surah As Shaf ayat 4: “… dalam barisan yang teratur, mereka seakan-akan seperti suatu bangunan yang terusun kokoh”.

Tapi soliditas dan solidaritas ini akan menjadi titik rawan jika dipergunakan oleh tangan yang jahat dan mungkar. Di tangan manusia jahanam. Seperti halnya bumi. Pada dasarnya bumi itu diciptakan dengan baik dan untuk kembaikan semua mahluk. Tapi bisa menjadi rusak dan malapetaka jika di tangan orang yang jahat. Maka Allah wanti-wanti:

“Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah (diciptakan) dengan baik. Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang-yang berbuat kebaikan.”(Quran Al Araf 56).

Menggunakan soliditas dan solidaritas Aremania untuk kerusakan (fasad) itu gampang. Misalnya, pancing mereka marah. Ketika ada kawannya yang tanpa salah apa-apa dianiaya, digayang, digebuki, diperlakukan seperti binatang, bahkan lebih hina-dina dari kecoa, pasti soliditas dan solidaritas (sabaya mukti sabaya pati) mereka akan bangkit dengan melakukan pembelaan bersama-sama.

Nah, saat itulah menjadi titik yang paling rawan. Pembelaan bersama itu bisa menjadikan mereka seperti kawanan belalang yang mendatangi api obor. Terbakar dan musnah dalam sekejap. Setelah itu “manusia” akan mencari-cari dalih pokoknya belalang harus jadi yang salah.

“Manusia”? Ya manusia. Tapi ingat manusia itu bisa lebih hina dari belalang.
“Dan sungguh , akan Kami isi neraka jahanam banyak kalangan jin dan manusia. Mereka memiliki hati tetapi tidak dipergunakan untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka memiliki mata (tapi) tidak dipergunakan untuk melihat, mereka mempunyai telinga Itapi) tidak dioergunakan untuk mendengar. Mereka seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi. Meeka itulah orang-orang yang lengah.” (Quran, Al Araf 179).

(Tulisan sampai di sini. Saya tidak mengatakan musibah kubro Stadion Kanjuruhan itu pararel dengan Puputan Bayu, Perang Jawa, Perang Surabaya. Wis ramesono dewe).(*)

Rabbi a’lam

*Anwar Hudijono, wartawan senior, peraih PWI Jatim Award 2022 untuk kategori Tokoh Pers Daerah.

Refleksi 56 Tahun PMII; Memahami Arah Gerakan PMII ke Depan

Oleh: Amran Umar *

MALANGVOICE – 17 April 1960, tepatnya 56 tahun yang lalu, dunia mencatat, di Surabaya lahir sebuah organisasi kepemudaan yang menaungi mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi, bernama Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII).

Tujuan awal berdirinya PMII waktu itu, pada 1960 partai-partai besar mempunyai angkatan muda, khususnya di kalangan mahasiswa, seperti GMNI, HMI, Masyumi dan lain sebagainya. Tetapi NU yang memiliki basis massa terbesar, justru tidak memiliki. Sehingga muncullah ide dari setiap daerah untuk mendirikan organisasi kemahasiswaan bernama PMII (KH Nuril Huda, Pendiri PMII).

Dalam perjalanannya, PMII melewati banyak tantangan, terutama pada awal berdirinya, mulai penolakan dari kalangan internal NU maupun dari luar NU, serta independensi PMII pada 1972 di Lawang, Malang, Jawa Timur, yang selanjutnya sering disebut sebagai Deklarasi Murnajati, dimana secara struktural PMII lepas dari Banom NU.

Mulai saat itu PMII berkembang sangat pesat, ketika itu dipimpin sahabat Zamroni, yang dalam waktu bersamaan beliau juga menjabat sebagai presidium Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI). Dari berbagai tantangan di atas hingga peran PMII ikut meruntuhkan kekuasaan Orde Baru pada 1998, organisasi ini mampu melewati semuanya, walau tidak berjalan mulus.
Hingga saat ini PMII memiliki 220-an cabang yang tersebar di seluruh Indonesia, dan bisa dikatakan menjadi organisasi dengan jumlah kader terbanyak.

Arah Gerakan PMII
Dengan jumlah kader yang begitu banyak, PMII memiliki tanggung jawab dan tugas besar bagi bangsa, karena PMII harus mampu mengawal segala kebijakan yang ada, serta menjadi garda terdepan dalam menangkal gerakan radikalisme di kalangan mahasiswa khususnya, dan masyarakat Indonesia umumnya.

Lalu bagaimana dengan PMII saat ini, Apakah sudah mampu menjawab tantangan zaman? Bagaimana kondisi kadernya di seluruh Tanah Air? Itu semua merupakan pertanyaan yang harus dijawab para kader PMII saat ini. Bahwa PMII berdiri dengan tujuan sangat mulia, sebagaimana tertuang dalam AD/ART, yakni terbentuknya pribadi muslim Indonesia yang bertaqwa kepada Allah SWT, berbudi luhur, berilmu, cakap dan bertanggung jawab dalam mengamalkan ilmu, dan komitmen memperjuangkan cita-cita kemerdekaan Indonesia.

Kader PMII saat ini harus mampu mengatasi segala bentuk permasalahan yang terjadi di masyarakat, sehingga harus menguasai berbagai hal dalam pandangan arah gerakanya, di antaranya:
Kecerdasan Intelektual (IQ). Hal ini sangat penting, baik untuk kepribadian kader maupun masyarakat luas, karena yang dikedepankan rasionalitas. Dalam hal ini kader harus mampu bertindak terarah, berpikir secara rasional, dan menghadapi lingkunganya secara efektif. Artinya, ketika seseorang sudah menjadi kader PMII, maka dia harus mampu memberikan yang lebih. Contoh kecil, misalnya di dalam kelas, kader PMII harus tampil beda, di mana IPK nya harus lebih tinggi dari lainya.

Kecerdasan Emosional (EQ). Harus diakui, PMII merupakan organisasi kemahasiswaan yang mengedepankan intelektualitas, yang mampu mengontrol emosinya dalam situasi dan kondisi apapun., sehingga kecerdasan emosional itu dapat mengasah kemampuan untuk meredam emosi dan mengarahkanya kepada hal-hal yang bermanfaat. Sebab, tujuan akhir dari mahasiswa adalah memberikan kontribusi positif bagi masyarakat luas.

Kecerdasan Spiritual (SQ). Selain menguasai IQ dan EQ, kader PMII juga harus menguasai kecerdasan spiritual. Kecerdasan ini digunakan untuk menyelesaikan masalah kaidah dan nilai-nilai, yang akan membawa seseorang kader mencapai kebahagian hakiki, mampu menyeimbangkan antara tugas sebagai mahasiswa, keluarga, dan tentu Yang Maha Kuasa. Artinya, ke depan, arah gerakan PMII tak hanya menyelesaikan berbagai masalah pada tataran sosial masyarakat saja, tapi juga ideologi serta menebar kedamaian bahwa perbedaan itu indah.

Dari berbagai penjelasan di atas, jelaslah bahwa kader PMII harus mampu menyelesaikan persoalan yang ada di masyarakat, menjadi garda terdepan membela kaum tertindas, bersinergi dengan segala elemen masyarakat untuk bersatu padu menjaga NKRI ini, serta harus mampu menjadi aktifis di dalam kelasnya, yakni menjadi pembeda secara intelektual dengan mahasiswa lainya.

Secara kontektual, di usia yang ke-56 tahun ini, PMII harus menciptakan kader yang berintelektual serta profesional, bukan hanya menjadikan kader sebagai kader demonstran, tapi diimbangi dengan kapasitas keilmuan yang matang, yang mampu menjawab tantangan zaman.

Selamat Hari Lahir PMII yang ke-56, semoga tambah jaya, pembela bangsa penegak agama, tangan terkepal dan maju kemuka!

*Amran Umar, Ketua Komisariat PMII Unisma.

Puisi Mengorak Pendidikan

Oleh: Beni Setia

Bagi Tengsoe Tjahjono–alumni IKIP Malang (sekarang Universitas Negeri Malang atau UM, red), dosen di IKIP Surabaya (Unesa), dosen tamu Hankok Universitas, Korea Selatan, serta penyair–, terutamanya di dalam kumpulan puisi Felix Mencuci Piring (Malang: Pelangi Sastra, Kafe Pustaka, dan UM, 2016), pendidikan dan pembentukan karakter itu hal terutama. Bahkan jadi obsesi. Semua idealisasi itu, dan bagaimana imanensi riilnya pada realitas aktual yang cuma bermutu KW dioplos dalam puisi-puisi di kumpulan itu. Meski ujud Felix ditiru (mimesis) dari sosok riil Felix K. Nesi (penyair alumnus Universitas Merdeka Malang, red), seperti diakuinya pada Ucapan Terima Kasih–dilampirkan di awal buku.

Manusia riil, yang memukaunya, sehingga mengilhami untuk menelurkan penulisan puisi yang tak diacu serta diarahkan teori–lihat puisi ‘Puisi untuk Felix’ (hlm. 1), yang diletakkannya di awal, sekaligus menjadi penanda dari gaya dan pola kreasi. Kembali lugu, semata bermodalkan jujur dengan diri sendiri, meski kejujuran itu lebih merujuk ke apa-apa yang diketahui dan ada bawah sadar, dalam acuan Fenomenologi, dengan tidak disengaja muncul serta membentuk referensi. Teks murni itu–selain hanya Felix sejati yang diapresiasi–perlahan menjadi lapisan subyektivitas dan membentuk sosok lain dari Felix, sisi rekaan tidak riil pada fakta seorang Felix (K. Nesi).

Acuan itu diakuinya dalam Kata Pengantar yang ditulisnya, ‘Senyawa Tragedi, Komedi, dan Agama’ (hlm. vii-xi), dan pengakuan itu justru mengingatkan pada realita Felix yang lain. Ujud Felix the Cat, kartun yang dikembangkan oleh Pat Sullivan serta Otto Messner, sosok si kucing hitam yang pernah jadi cerita popular dan menghibur di TV. Yang mengingatkan pada beraneka cerita naïf, unik, tidak terbayang sebelumnya, dan sekaligus jenaka. Menghibur–lucu, konyol, dan menyodorkan makna sublim dari hal bersipat hiburan. Transedensi dari balutan sampiran lucu dan konyol.

***

Felix pada puisi-puisi Tengsoe–tiap puisi merupakan episode otonom, mandiri meski terkadang memiliki kaitan interteks–jadi tokoh paradoks di dalam kotak cerita. Jadi tidak terlalu mengherankan ketika ditemukan hiperbola Felix (sebagai) si kepala sekolah yang tak pernah korupsi–nyatanya: penguasaan mutlak akun BOS dari Negara, serta legitimasi mencairkannya lewat Anggaran Pedapatan dan Belanja Sekolah, jadi potensi untuk korupsi. Bahkan otoritas dan legitimasi akan akun itu telah jadi impian (finansial) setiap guru, sehingga pada berambisi ingin menjadi kepala sekolah, meski akan menjadikannya phobia pada pers dan LSM. Tapi itu jenakanya.

Atau penandaan kuat akan dan tentang perilaku otokrasi mutlak–seperti terlihat dalam puisi ‘Felix dan Dua Temannya’–, yang menekankan laku semau gue seorang pemimpin yang bisa improvisasi memerah-hitamkan anak buah dan masyarakat. Atau kuatnya aspek polisional, lewat tindakan pengawasan intel, sehingga kontrol bisa ada di mana-mana dan di setiap saat–dalam puisi ‘Felix dan Cincin Batu Akik’. Tindakan diktatorial yang disilembutkan dengan epheumisme, berbalut retorika, sehingga fakta penguasaan atas guru dan murid diungkap sebagai sekadar menekankan pengendalian atas mimpi murid–lihat ‘Puisi untuk Felix’.

Itu merujuk gaya khas the smiling general, dari masa yang serba terkendali dan dikontrol era Orba–mungkin keberanian ini terkait erat dengan fakta Tengsoe menulis puisi-puisi Felix Mencuci Piring di Korea Selatan, dan bukan di Surabaya atau Malang. Meski masih kritis pada situasi Indonesia terkini pada puisi ‘Salju Pertama’, Meditasi Kimchi, (Malang: Pelangi Sastra, Kafe Pustaka, UNM, 2016, hlm. 48). Penandaan akan situasi tertekan, kondisi sosial-politik canggung dan serba salah karena terlalu banyak interes pribadi partai politik seperti mendapatkan jalan ke luar: lari memasuki dunia si angan-angan konyol, jenaka, dan menghibur–tapi penuh bayangan murung.

Karena itu, setelah merujuk fakta riil Felix (K. Nesi), pelan (ia) mengembangkan imajinasi penuh cemooh dan penjenakaan ala Pat Sullivan dan Otto Messner–terbang dengan Felix the Cat, sambil membayangkan Yesus itu sahabat (Felix) seperti puisi ‘Felix Ingin Jadi Kepala Sekolah’, atau malahan punya gereja dan liturgi sendiri dalam puisi ‘Felix Mendefinisikan Puisi’. Sehingga diksi ‘(jadi) kepala sekola’ itu diekstrimkan, dijenakakan secara terbalik sehingga terlihat konyol. Kenapa? Karena keinginan jadi kepala sekolah mengacu alasan posesif penguasaan atas dana BOS dalam fatamorgana finansial, sebab–meski berasal dari pinjaman–percaya itu uang setiap orang.

***

Itu titik keprihatinan Tengsoe–degradasi mutu guru. Itu mungkin karena, pada dasarnya, ia bukan akademisi sastra murni ataupun penyair, tapi guru. Lebih tepatnya, pengajar (dosen) dari mahasiswa calon guru. Jadi tak heran kalau ia agak kagok ketika IKIP jadi Universitas, tak lagi Institut yang menekankan pembentukan aspek karakter pendidik, dengan menekankan pedaegogi, bukan sastra murni. Meski (aspek) penyair membuatnya terobsesi kesusastraan, si yang menolak penguasaan sastra secara ilmiah, lebih memilih praktek langsung bersastra. Sehingga sastra itu lebih si keahlian bukan pengetahuan–lihat puisi ‘Puisi untuk Felix’ dan ‘Felix mendefinisikan Puisi’.

Aspek itu membuatnya tiba dalam kesimpulan: puisi tak bisa membuatmu kaya /
puisi hanya membuatmu banyak teman / perkara koran membayar mahal / temanmu nraktir nasi padang / atau nasib buruk ia mencintamu / itu dampak. syukuri tapi jangan diharapkan
(puisi ‘Felix Mendefinisikan Puisi’). Karena itu, Tengsoe menyindir kepenyairan satu corak pengabdian, sebab roti (ekaristi) itu tidak cocok dengan perut Indonesia yang kecanduan nasi. Ditulisnya: mata Maria meletikkan api / membakat dapur / mengabukan hati / aku tak butuh puisi / aku butuh nasi / dan puisi pun diremas / mengabu oleh api” (puisi ‘Felix, Maria Magdalena, dan Puisi’).

Tidak mengherankan kalau aspek kepenyairan mendorong sosok Felix menjadi yang terkadang suka mengirim SMS: minta ditraktir makan–lihat puisi ‘Felix Selalu Lupa Sarapan’. Tragis sekali.

***

*Beni Setia, pengarang yang karyanya sudah tersebar di berbagai media massa.

Perantau dan Degradasi Makna Hari Raya

Ilustrasi

Wahai perantau, apa makna hari raya bagi Anda ? Bagi penulis (juga perantauan), hari raya (masih) belum dimaknai holistik atau mendalam. Pada takaran makrifat pun jauh.

Hari raya bagi penulis dimaknai cukup sederhana. Yakni dapat pulang ke rumah orangtua. Atau dikenal mudik dan pulkam (pulang kampung). Bisa bercengkrama dengan keluarga, tetangga dan teman masa kecil. Nikmatnya bisa melangsungkan kenduri dan bertukar makanan di langgar (musala).

Pada masyarakat Madura, Idul Adha momen sangat penting dibandingkan Idul fitri. Bisa dikatakan, hari raya kurban lebih meriah dibandingkan momen perayaan lainnya. Mereka berbondong-bondong mudik dari tanah rantau. Tradisi ini dinamai Toron, yakni diambil dari bahasa Madura yang artinya Turun.

Tradisi secara sadar dipertahankan masyarakat Madura tadi bukan topik utama pembahasan. Sebab, tidak semua perantau memilih untuk mudik. Ada semacam degradasi makna hari raya bagi penulis.

Degradasi atau penurunan makna hari raya tentu ada pemicu. Tuntutan pekerjaan misal, dengan jargon klasik yang terus didengungkan, demi mencari sesuap nasi. Ada alasan realistis hingga akhirnya tak sanggup meninggalkan perusahaannya yang bisa jadi berubah menjadi rumah kedua. Para pekerja yang bertarung mengejar target adalah prioritas.

Kenapa pekerjaan seolah dikambinghitamkan? Bisa jadi ini perkara egoisme pribadi. Ada perkara lain yang membuat diri enggan melangkah mudik. Rumah sudah tidak menghadirkan kehangatan. Kampung halaman jadi tempat asing untuk sekadar berteduh.

Saat kebanyakan orang mulai melingkari tanggal untuk mengatur waktu berlibur bersama keluarga di hari raya, untuk orang yang tidak bisa pulang ini, mungkin mereka memilih untuk mengikhlaskan diri dengan caranya masing-masing.

Bagi kalian yang dapat pulang kemudian hadir di rumah dengan perasaan indah, maka bersyukurlah, di luar sana keadaan tersebut mungkin begitu dirindukan hadir di sebagian orang.

Selamat Merayakan Hari Raya Idul Adha. Selamat berkumpul bersama keluarga.(*)

*Aziz Ramadani, awak redaksi Malangvoice.com

Kartu Pra Kerja: Bukan Solusi di Masa Pandemi

Dinda Putri Wahyuningtias

Program kartu Pra Kerja tidak habis-habisnya menjadi perhatian masyarakat. Program pemerintah yang bertujuan untuk mengurangi angka pengangguran ini terbukti menuai banyak polemik.

Pemerintah berharap kartu sakti tersebut dapat meringankan beban masyarakat di masa pandemi. Namun, kecurigaan masyarakat terus berembus kencang seiring dengan berlanjutnya program ini.

Polemik yang datang bukannya tidak berdasar, namun malah sumber polemik tersebutlah yang sangat mudah ditemukan. Dengan adanya program yang mengahbiskan 20 triliun rupiah tersebut, apakah dapat menghasilkan dampak positif yang sepadan? Kematangan konsep program hingga keseriusan pemerintah menjalankan program menentukan bahwa program belum mampu menjawab kebutuhan masyarakat di masa pandemi.

Di saat seseorang berhasil lolos menjadi peserta program, pelatihan kerja akan diberikan secara daring. Peserta akan dirujuk ke portal-portal pembelanjaran yang dipercaya pemerintah untuk memberikan pelatihan kepada masyarakat. Tidak hanya itu, peserta juga mendapatkan uang intensif secara berkala dalam empat bulan sebesar 2.4 juta. Namun, program yang bertujuan mulia ini mampukah memberikan efek positif yang nyata kepada masyarakat?

Bermacam-Macam Polemik
Sebelum polemik yang sudah umum mulai bermunculan, baiknya dikaji dahulu apakah program ini tepat dilakukan pada masa pandemi. Terlepas program ini sebagai perwujudan penetapan janji pemerintah kepada masyarakat. Apakah memang masa pandemi dijadikan waktu yang tepat sehingga program dapat menghasilkan hasil yang maksimal?

Jika masyarakat diberikan pelatihan yang mampu membawa mereka dari belenggu pengangguran dan meningkatkan kompentensi diri tentu saja hal tersebut memberikan dampak positif . Namun, masa pandemi membuat beberapa tatanan kehidupan menjadi berubah. Dari pembatasan ruang gerak hingga kontak fisik.

Badan Pusat Statistik menjabarkan bahwa pandemi membuat setidaknya 50% perusahaan mencabut iklan lowongan pekerjaan mereka. Jumlah dari seluruh iklan lowongan pekerjaan yang tersebar pun turun sampai 70%.

Penurunan angka lowongan pekerjaan sejak pandemi memang wajar, mengingat pemilik bisnis tidak ingin makin merugi. Program yang melahirkan calon pekerja dengan kemampuan yang sudah di upgrade ini, akan tetap mengalami kesulitan waktu mereka melamar nanti. Jika lowongan saja tidak banyak tersedia, maka calon pekerja otomatis juga kurang dibutuhkan.
Dari sisi konsep sendiri, pelatiahan yang diberikan secara daring bukanlah ide orisinil pemerintah. Sebenarnya pelatihan secara daring sudah ada dan dapat diakses secara gratis. Beberapa website bukan buatan pemerintah sudah banyak tersebar di internet jauh sebelum program diluncurkan.

Website prakerja.org adalah website buatan Andri W.Kusuma yang kecewa dengan program kartu pra kerja. Website tersebut tidak membebani pengunjung dengan pembayaran uang sepeserpun. Iklan dan donasi yang didapat juga digunakan sebagai biaya operasional website tersebut.

Pemerintah memang mebadrol penyedia konten selama pelatihan program sebagai mitra kerja mereka sampai ratusan juta rupiah. Padahal pada kenyataanya jasa, dan esensi program sebenarnya bisa didapatkan secara gratis di platform lain.

Uang intensif yang telah dijanjikan juga mengalami masalah. Walaupun tidak semua peserta tidak mengalami masalah tersebut, setidaknya 34.000 belum mendapat pencairan dana uang intensif. Masalah teknis yang terjadi karena penutupan rekening atau ketidak samaan nomor induk kependudukan dari peserta. Masalah ini terjadi di bulan pertama pencairan dana intensif.

Lalu bulan kedua pencairan uang intensif juga terhambat karena evaluasi yang dilaksanakan pemerintah. Dijanjikan bahwa pencairan uang intensif bulan kedua akan diberikan setelah proses evaluasi selesai. Uang intensif sendiri adalah janji dari pemerintah dan juga peserta sudah melewati bulan kedua pelatihan. Jadi, uang intensif tersebut sudah menjadi hak peserta. Proses evaluasi sehaursnya bukanlah sebuah hambatan.

Namun yang terjadi pada peserta sepertinya berbeda dengan internal program. Direktur pengurus program diberi besaran gaji yang cukup besar. Gaji sebesar Rp.77,5 juta dinialai besar namun wajar dinilai dari proyek program sendiri yang memang besar. Dengan imbalan sebesar itu, diharapkan sistem program yang memang memanfaatkan teknologi ini mampu diakses masyarakat dengan mudah. Dengan nominal sebesar itu pun, diharapkan dapat menghindarkan pejabat dari praktek korupsi.

Pemerintah juga sudah menggaris bawahi bahwa kartu pra kerja dapat menyongsong masyarakat untuk beradaptasi di dunia yang semakin canggih. Era globalisasi memang menuntut masyarakat modern mudah beradaptasi dengan segala perubahan yang cepat. Ditambah Indonesia yang harus menyesuaikan diri di Era Industry 4.0.
Pelatihan yang diberikan seperti online trading, tata rias dan masih banyak lagi tidak selaras dengan perwujudan penyesuaian Indonesia di era globalisasi. Mengingat era globalisasi membuat semua sektor industri mau tidak mau memanfaatkan teknologi. Jadi, kartu pra kerja sendiri tidak memberikan masyarakat bekal untuk menyesuaikan diri di era globalisasi.

Perlu Banyak Perbaikan

Gelombang 4 kartu pra kerja sempat ditunda dengan tujuan pemerintah mampu memperbaiki mekanisme program dengan melakukan evaluasi. Penundaan yang dilakukan adalah sebagai wujud nyata bahwa program perlu banyak sekali perbaikan. Keresahan masyarakat memang benar adanya sampai-sampai pemerintah harus berhenti sejenak untuk berpikir dan berdiskusi.

Kontroversial yang terus terjadi juga hasil dari masa lalu terkait kasus yang menyerang kepercayaan masyarakat. Masyarakat seperti trauma oleh program yang sudah-sudah, dimana program hanya dijadikan sebagai alat korupsi oleh oknum-oknum tertentu. Namun, sekarang trauma itu tak sengaja muncul lagi dengan timbul nya kecurigaan-kecurigaan masyarakat yang berdasar.

Di masa serba kesusahan seperti ini, urgensi lah yang harus didahulukan. Jika program yang memberikan manfaat kepada masyarakat dengan tidak maksiamal, akibatnya masyarakat juga tidak mampu terpenuhi kebutuhannya.

Dibandingkan bantuan semi sosial seperti program ini, masyarakat sangat perlu bantuan yang langsung bisa dirasakan oleh masyarakat. Masyarakat juga harus terus bertahan dan bergelut dengan keadaan, sehingga pemerintah sangat diharapkan bantuannya. Terlepas dari semua kontroversial sengit yang terjadi, sebagai masyarakat kita harus terus mengawal jalannya program untuk kebaikan Indonesia sendiri.

*) Dinda Putri Wahyuningtias
Universitas Sampoerna

Di Tengah Covid, Pesantren Menjaga Budaya Belajar (bagian 1)

Anwar Hudijono. (istimewa)

Oleh: Anwar Hudijono

Belum lama ini saya ngobrol dengan seorang pakar pendidikan. Dia adalah guru besar. Sangat mumpuni teori. Juga sudah terbukti menjadi penyelenggara pendidikan yang hebat. Saya tidak bisa sebut namanya karena memang diskusinya bersifat informal.

Dan saya juga harus menjaga ketenangannya. Karena saat ini tidak mudah menjadi orang yang bersikap benar. Berkata benar. Bertindak benar. Orang yang menyampaikan kebenaran justru akan dibuli, dicaci maki, dianggap bodoh, dibilang ngawur, asal njeplak, diposisikan yang salah.

Yang menuduh demikian yang sebenarnya justru bodoh, ngawur, asal mengo. Ini jaman sawo dipangan uler, wong bodo ngaku pinter. (Nah, jangan-jangan saya termasuk sawo dipangan uler, bahkan sawo bosok maneh). Jaman kewalik.

Saripatinya, dia melihat di tengah pandemi Covid-19 ini, pondok pesantren, sekolah Islam berasrama atau Islamic Boarding School (IBS), dan lembaga-lembaga pendidikan yang tetap melakukan proses belajar secara tatap muka sangat berhak disebut sebagai pejuang penjaga budaya belajar. Orang-orang yang berjuang untuk menyelamatkan budaya belajar.

Dampak negatif Covid-19 memang luar biasa. Salah satunya adalah terancamnya budaya belajar. Para pemangku kepentingan pendidikan mulai pelajar, guru, penyelenggara dan sebagainya kemungkinan bisa kehilangan gairah dan arah pendidikan.

Mulanya takut terinfeksi Covid-19. Terus bingung mau bagaimana. Terus bersikap biasa: ya sudah mau apa toh masih ada Covid. Dan akhirnya normal tanpa kegiatan belajar membelajarkan. Atau belajar tapi sekadar memenuhi syarat wajib. Sekadar topeng kalau proses belajar membelajarkan masih ada.

Lama-lama malah menjadi enjoy. Menikmati. Para pelajar enak karena tidak repot-repot bangun pagi, berangkat sekolah. Orang tua juga tidak repot menyediakan sangu, atau antar-jemput anaknya. Para guru juga enjoy karena tidak repot menyiapkan model satuan belajar (MSP). Tidak pusing menghadapi murid yang bermacam-macam tingkahnya. Tidak repot harus di sekolah sekian jam sehingga bisa lebih mengurus anak. Penyelenggara sekolah juga enjoy karena ada dana yang bisa dihemat.

Kegiatan proses belajar tatap muka nyaris lumpuh. Jika toh dicoba dipaksakan, ada suasana kebatinan yang mengganjal seperti ketakutan ada yang OTG (orang tanpa gejala). Jika ada yang sekadar batuk meski cuma karena tersedak, atau sambat agak pusing, langsung dicurigai kena Covid-19. Lantas wajib swab antigen. Jika masih negatif harus PCR. Berapa duit harus keluar?

Dalam suasana psikologis berbau paranoid demikian, tidak mendukung sama sekali proses pembelajaran bisa efektif. Para guru sangat mafhum, proses belajar harus berlangsung dalam suasana bahagia. Gembira. Semangat. Saling percaya.

Pembodohan

Dalam sistem belajar virtual nyaris tidak dimungkinkan mencakup afektif (sikap), psikomotoris (ketrampilan). Hanya mencakup kognitif (pengetahuan). Tapi itupun sama sekali tidak efektif. Seorang kepala SMA di Sidoarjo dalam suatu wisuda mengakui dengan jujur, proses belajar secara virtual ini tidak efektif.

Banyak aspek teknis yang membuat sistem virtual tidak efektif. Tidak sedikit murid yang tidak punya laptop. Kalau punya pun belum tentu bisa untuk zoom. Kendala internet lemot. Kendala listrik mati. Waktu belajar yang sangat pendek.

Akhirnya apa? Pelajar malah larut dalam konten-konten kepalsuan medsos. Bantuan pulsa bukan untuk belajar, tapi untuk tiktokan, medsosan, ngegame.

Kendala-kendala teknis ini lantas ditolerir dengan tetap memberi nilai rapor minimal sesuai standar KKM. Murid tetap diluluskan. Intinya, proses penilaian tidak memenuhi asas validitas, jujur dan obyektif. Belum lagi nilai asal-asalan bahkan abal-abalan yang menyangkut sikap dan ketrampilan.

Lantas apa yang terjadi? Lembaga pendidikan berpotensi bisa menjadi pusat persemaian kebohongan.

Apa lagi? Lembaga pendidikan berpotensi jadi pengembang-biakan kebodohan. Ini ironis.

Lantas apa lagi? Lembaga pendidikan berpotensi jadi lahan subur kemalasan.

Astaghfirullahal adhim.
Rabbi a’lam (Tuhan lebih tahu).

Anwar Hudijono,
penulis tinggal di Sidoarjo.

Persekutuan Islam-Kristen Pasti Terjadi ( Bagian 2-Tamat)

Anwar Hudijono. (Istimewa)

Oleh: Anwar Hudijono

Terlepas apakah Afghanistan benar-benar menjadi pintu gerbang persekutuan (aliansi) Islam dengan Kristen di akhir zaman atau tidak, yang jelas persekutuan itu pasti terjadi. Hal itu bersifat alamiah. Natarul. Sudah menjadi kodrat Ilahi, ketentuan Tuhan. Seperti bulan dan bintang yang memiliki masa edarnya bareng. Tidak ada kok bintang nyelonong keluar di siang hari. Tentu saja persekutuan itu antara golongan tertentu di Islam maupun Kristen. Tidak semuanya.

Yang memastikan itu bukan saya. Tetapi Quran surah Al Maidah ayat 82.
“Pasti akan kamu dapati orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. Dan pasti akan kamu dapati orang yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman, ialah orang-orang yang berkata, ‘Sesungguhnya kami adalah Nasrani.’ Yang demikian itu karena di antara mereka terdapat para pendeta dan para rahib (juga) karena mereka tidak menyombongkan diri.”

Cermati kata yang dipilih Allah untuk menegaskan ketentuan-Nya yaitu kata “pasti”. Berarti Allah menjamin pasti terwujud. Cermati pula kata “mawaddah” yang artinya cinta kasih. Hal ini menunjukkan kedekatannya lahir dari lubuk hati yang dalam. Dalam bingkai kemanusiaan. Bukan kedekatan atau aliansi dalam konteks bisnis, politik, vested of interest, apalagi konspirasi jahat.

Nah, masalahnya apakah kelompok di Kristen yang menjadi sekutu alamiah Islam itu mesti Kristen Ortodoks? Apakah hanya satu golongan atau banyak golongan. Mengingat di Kristen itu banyak sekali golongan?
Yang jelas, persekutuan Islam-Kristen pasti terjadi. Yang jelas pula pernah terjadi pada zaman Rasulullah. Alkisah, umat Islam mengalami penindasan yang sangat berat oleh kaum kafir Mekah. Ada yang disiksa, bahkan dibunuh.

Nabi menyarankan agar pergi ke Abisinia yang rakyatnya menganut Kristen. Pada saat itu di dalam Kristen sudah terjadi perselisihan. Ada golongan yang menuhankan Ibu Maria. Ada yang menuhankan Yesus. Ada juga yang tetap mengesakan Allah.

“Tempat itu diperintah seorang raja dan tak ada orang dianiaya di situ. Itu bumi jujur, sampai nanti Allah membukakan jalan buat kita semua,” kata Nabi seperti ditulis Dr Haekal dalam buku, Sejarah Hidup Muhammad.

Isa Al Masih

Berangkatlah rombongan muslimin sebanyak 15 orang, terdiri dari 11 pria dan 4 wanita. Inilah gelombang hijrah pertama.

Penguasa kafir Mekah tidak membiarkan umat Islam hijrah ke Abisinia. Maka diutuslah Amr bin Ash dan Abdullah bin Abi Rabi’ah untuk melobi Raja Abisinia, Najasyi atau Negus agar mengembalikan kaum muslimin ke Mekah. Duta penguasa Mekah itu membawa hadiah untuk raja maupun pejabat-pejabat lain. Maksudnya menyuap begitulah.

Proses negosiasi berlangsung sangat alot. Dramatis. Hampir saja Najasyi memulangkan kaum muslimin. Babak berikutnya yang menjadi instrumen dalam negosiasi bukan aspek politik atau ekonomi melainkan aspek teologis.

Raja menanyakan tentang Islam. Sampai akhirnya Jakfar bin Abi Thalib, anak muda yang menjadi pemimpin rombongan, membacakan Quran surah Maryam (19). Di dalam surah itu antara lain dijelaskan tentang eksistensi Isa Al Masih.

Setelah mendengar dengan seksama yang dibacakan Jakfar, Najasyi mengambil sebatang tongkat dan menggoreskannya di tanah. Dan dengan sikap sangat gembira dan ceria, Najasyi berkata, “Antara agama tuan-tuan dan agama saya tidak lebih dari garis ini,” tegas Najasyi.

Najasyi mengijinkan kaum muslimin tinggal di negaranya sampai waktu tak terbatas. Memberikan perlindungan. Mereka sempat tinggal di Abisinia beberapa lama. Setelah mendengar bahwa gangguan kaum kafir di Mekah mereda, mereka kembali ke Mekah. Tapi ternyata penindasan justru semakin seru. Untuk itulah hijrah kedua ke Abisinia kembali dilakukan dengan jumlah 80 orang.

Kaum muslimin tinggal di Abisinia sampai masa setelah Rasulullah hijrah ke Medinah. Mereka hidup di negara itu dengan aman dan damai.

Pilihan Rasulullah ke Abisinia pasti bukan sekadar untuk menghindari penindasan kafir Mekah. Rasulullah terbukti memiliki pemikiran yang visioner, strategis. Menurut pendapat saya, Rasulullah memelihara potensi persekutuan natural yang pasti terjadi antara Islam dengan Kristen.

Berbohong
Memang ada juga golongan Kristen yang memusuhi Nabi. Tapi Nabi tidak bersikap sekeras ketika menghadapi kaum kafir Mekah dan kaum Yahudi. Terutama kepada Yahudi. Rasul sampai mengusir mereka keluar dari Medinah setelah benteng mereka, Khaibar, dihancurkan pasukan muslim.

Kenapa? Karena Yahudi paling keras memusuhi Islam sampai akhir zaman. Yahudi memang sudah memutuskan mengambil posisi sebagai musuhnya Allah, malaikat, rasul, jibril dan Mikail. (Quran: Al Baqarah 98).

Golongan Kristen ada yang menipu Nabi. Mereka meminta Nabi mengirim pendakwah untuknya. Ternyata mereka membunuh para pendakwah itu. Tetapi Nabi tidak mengirim pasukan untuk menghukum mereka. Padahal saat itu kaum muslimin sudah sangat kuat. Nabi melakukan doa qunut nazilah.

Demikian pula ketika menghadapi golongan Kristen Najran yang menganggap penjelasan Quran tentang Isa Al Masih adalah bohong. Nabi mengajaknya bermuhabalah. Minta keadilan Allah. Siapa yang berbohong akan mendapat laknat Allah dunia akhirat.

Nabi mengucapkan muhabalah lebih dulu. Kaum Kristen melihat ada tanda-tanda alam berupa mendung merah berarak-arak seolah hendak menggulung bumi. Mereka tahu bahwa Nabi di pihak yang benar, sementara Kristen Najran yang bohong tentang Isa. Akhirnya golongan Kristen itu memilih tidak meneruskan muhabalah dan sebagai gantinya membayar denda.

Peristiwa muhabalah yang diabadikan Quran itu adalah tonggak monumental kemenangan Nabi atas kaum Kristen tanpa pertumpuhan darah.

Pasukan Islam juga perang melawan pasukan Romawi Timur, yang dikenal sebagai Perang Mu’tah tahun ke-8 hijriyah. Romawi Timur adalah pusat Kristen Ortodoks. Tentara Islam berjumlah 3.000 orang. Melawan 200.000 tentara musuh yang terdiri dari 100.000 tentara Romawi Timur, 100.000 tantara Arab Kristen digabung kaum musyrik.
Penyebab perang karena penguasa lokal di Syam (sekarang meliputi Suriah, Palestina, Yordania dan Lebanon) membunuh utusan Nabi menyampaikan surat dakwah ke Gubernur Syam. Perang berakhir sama-sama mundur.

Ada golongan Kristen yang sangat dekat dan dihormati Nabi. Pada saat mereka bertemu Nabi di Medinah, Nabi mengijinkan mereka melakukan ibadah di dalam Masjid Nabawi. Sikap Nabi itu bisa dipersepsi bahwa terhadap golongan Kristen tertentu, Nabi bersikap mawaddah.

Mungkin itulah cara Nabi menjaga potensi kodrati ini. Karena umat Kristen akan menjadi Islam itu cuma tinggal selangkah lagi.

Al Maidah 83

Sungguh apa yang dikehendaki Allah itu pasti terjadi. Hal itu ditegaskan di Quran surah Al Maidah 83.
“Dan apabila mereka mendengarkan apa (Al Quran) yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad), kamu lihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran yang telah mereka ketahui (dari kitab-kitab mereka sendiri) seraya berkata, “Ya Tuhan, kami telah beriman, maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas kebenaran Al Quran dan kenabian Muhammad).”

Perwujudan kepastian Allah saat ini semakin jelas. Jumlah umat Kristen yang menjadi mualaf semakin banyak. Contohnya di Amerika dan Eropa jumlah umat Isam terus meningkat sangat pesat. Di Moskow saja pada saat Uni Soviet bubar tahun 1991, jumlah umat Islam hanya 60.000. Kini jumlah totalnya lebih 3 juta orang.

Bukan itu saja. Jumlah mesjid bertambah pesat. Yang elok, justru banyak mesjid itu bekas gereja yang dijual kemudian dibeli umat Islam.

Saya pikir yang dipersepsi Syekh Imran Hossein itu hanya salah satu opsi saja bahwa yang akan jadi sekutu Islam adalah Kristen Ortodoks. Menurut saya, dari golongan apapun, umat Kristen yang berjiwa Hawariyun (pengikut yang taat kepada Nabi Isa), akan masuk Islam. Mereka akan patuh terhadap Isa yang menjadi saksi kebenaran Nabi Muhammad.

Dasarnya Quran surah As Shaf ayat 6.
“Dan (ingatlah) ketika Isa putra Maryam berkata, ‘Wahai Bani Israil, sesungguhnya aku utusan Allah kepadamu, yang membenarkan kitab (yang turun) sebelumku yaitu Taurat dan memberi kabar gembira dengan seorang rasul yang akan datang setelahku, yang namanya Ahmad (Muhammad). Namun ketika Rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata bahwa itu adalah sihir yang nyata.”

Masalahnya hanya persoalan waktu. Kita tunggu. Tapi kebanyakan manusia suka tergesa-gesa. “Maka tunggulah, sesungguhnya kami menunggu (pula) bersamamu.” (Quran: At Taubah 52).

Astaghfirullah. Rabbi a’lam (Tuhan lebih tahu)

Mohon jangan langsung like and share tulisan ini. Jangan langsung membenarkan. Monggo dipahami secara kritis. Di era pandemi ini yang kian gelap ini merupakan keharusan berpikir kritis, cerdas, untuk menjaga akal sehat dan mengembangkan bashirah.

Anwar Hudijono, penulis tinggal di Sidoarjo
31 Agustus 2021