‘Sambel Cowek’ Resep Nenek, Mak Clemm…

MALANGVOICE – Kuliner di Malang memang identik dengan pedas. Tak lengkap rasanya menikmati hidangan tanpa sambal. Dan sambal dalam kemasan yang satu ini adalah racikan Jatining Mas’udah, yang sukses berbisnis sambel cowek rumahan.

Pelanggan (istimewa)
Pelanggan (istimewa)
Bisnis bernama ‘Sambal Cowek’ ini serius ia garap, ditunjang dengan hobinya memasak.

“Saya memang hobi masak turun menurun dari resep nenek. Kebetulan waktu kuliah dulu sering bikin sambal, dan semua-teman menyukainya,” tutur Mas’udah kepada Mvoice.

Diakui, prospek jualan sambal cukup menjanjikan. Menurutnya, permintaan sambal selalu bertambah setiap bulannya.

Menikmati sambal (istimewa)
Menikmati sambal (istimewa)

Bahan sambal (anja)
Bahan sambal (anja)

Sambal disiapkan dalam kemasan (anja)
Sambal disiapkan dalam kemasan (anja)
Demi memanjakan pelanggan, dia pun menambah banyak varian sambal, di antaranya sambal klotok, sambal hijau, balado udang, cumi, bajak dan sebagainya. Semuanya dibanderol kisaran Rp 21.000 – Rp 28.000 per botol.

“Semuanya dimasak dengan bahan segar tanpa pengawet. Tiap produk bisa bertahan selama 1 minggu, setelah dibuka. Khusus sambal udang dan cumi bisa awet dua hari, karena beda karakter dan bahan. Kalau semua produk disimpan di kulkas, bisa awet sampai 3-6 bulanan,” katanya.

Pembuatan sambal cumi (anja)
Pembuatan sambal cumi (anja)

Bersama dua pegawai, wanita kelahiran 1987 ini memasak sambal di rumah, di Jalan Bantaran Indah No 14 Malang. Sistem pemasarannya bersifat online, melalui Instagram dengan akun @sambalcowek27

Idap Kanker dan Tak Ada Biaya, Kondisi Siswa SMK 9 Ini Memprihatinkan

Aad Zainur
Ahmad Zainur Tergolek lemas (anja)

MALANGVOICE – Sudah dua tahun ini Ahmad Zainur (19), siswa kelas 3 SMA di SMK Negeri 9 Malang, ini mengidap kanker saluran hidung, dan hanya bisa terbaring lemah di rumah.

Ahmad zainur
Ahmad Zainur
Sang ayah, Hendri Hermawan, mengatakan, kondisi anaknya 4 bulan ini semakin memburuk, sehingga terpaksa harus putus sekolah.

“Awalnya hanya radang tenggorokan, tapi gak sembuh-sembuh, sampai akhirnya divonis kanker saluran hidung,” kata Hendri kepada MVoice.

Ia mengatakan, dana pengobatan 6 bulan terakhir sempat dibantu BPJS. Tiga bulan terakhir pernah dirawat di RS Soepraoen, dan akhirnya dirujuk ke RSU Saiful Anwar. Di RSU itulah Zainur divonis kanker saluran hidung stadium 2.

“Untuk pengobatan selama ini dibantu BPJS, tapi untuk kemo dan lain-lainnya nanti tidak ada dana. Saya bingung,” kata pria yang berprofesi sebagai sopir ini.

Sang ibu, Muslimah, menjelaskan, kondisi anaknya kini semakin melemah, bahkan untuk makan harus melalui selang.

“Kalau makan tidak bisa disuapin, tapi lewat selang, jadi nangis sendiri saya kalau lihat anak seperi itu. Lima hari tidak bisa makan, harus pakai infus” katanya.

Karena tekanan biaya besar, keluarga Zaini terpaksa berhutang selama 2 tahun terakhir.

Mereka berharap ada bantuan dari pemerintah setempat, agar anaknya bisa segera sembuh dan kembali bersekolah.

“Saya cuma ingin anak saya sembuh, gurunya sudah datang berkali-kali menanyakan tentang Ujian Nasional. Tapi keluarga sudah tidak peduli soal ujian. Yang penting dia sembuh dulu,” tutup Hendri.

Kone Tertarik Jadi Jurnalis Televisi

Lancine Kone berbincang dengan jurnalis senior ANTV, Hendro Sumardiko, terkait operasional kamera. (Muhammad Choirul)

MALANGVOICE – Pemain asing Arema, Lancine Kone, memiliki hasrat menjadi jurnalis televisi. Keinginan itu ditunjukkan di sela sesi latihan di Stadion Gajayana, kemarin sore.

Pemain asal Pantai Gading ini menghampiri jurnalis senior ANTV, Hendro Sumardiko, ketika Hendro hendak mengabadikan latihan terakhir sebelum Arema berangkat ke Solo, pagi tadi.

Kone sempat mengotak-atik sejumlah fitur yang terdapat pada kamera milik Hendro. “Ini untuk zoom ya? Komposisi dan kombinasi gambar yang baik itu diambil seperti apa?” celetuk Kone.

Obrolan santai terkait operasional kamera berlangsung, Hendro merespon celetukan Kone. “Nanti belajar dulu sama saya kalau ingin tahu bagaimana mengoperasikan kamera dan teknik reportase,” sahut Ketua Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Korda Malang Raya itu.

Kepada MVoice, Kone tak menampik keinginannya menjadi jurnalis televisi. Menurutnya, profesi itu bisa jadi alternatif dan bisa dijalankan siapa saja. “Kalau sudah tidak main bola, saya ingin jadi jurnalis televisi,” papar mantan pemain Persisam Putra Samarinda itu.

Wow! Mahasiswa IPB Asli Malang Bagi-Bagi Benih

Mahasiswa IPB (anja)

MALANGVOICE – Puluhan pemuda yang tergabung dalam HimArema IPB (Himpunan Mahasiswa Arek Malang Institut Pertanian Bogor) menggelar aksi bagi-bagi benih di lingkungan CFD, mulai pagi sampai siang tadi.

Menurut Ketua HimArema IPB, Fachreza Hadi, kunjungan ke Malang kali ini terkait berbagai misi, seperti roadshow, expo dan canvassing

“Seperti sekarang kami bagi-bagi benih, juga ada road show ke beberapa SMA di Malang, dan puncaknya pada 31 Januari nanti kita ada canvassing atau seminar dari Dekan IPB,” kata Reza kepada MVoice.

40 anggota HimArema dari berbagai jurusan dan angkatan membagikan bibit kepada pengunjung CFD di Jalan Simpang Balapan.

“Pada expo kali ini kami bagi-bagi benih secara gratis, ada benih pohon suren, jeruk pontianak, jeruk madura, jeruk sambal, buah naga, buah salak dan telor asin,” tambahnya.

Lebih lanjut, Ketua HimArema berharap dengan terselenggaranya kegiatan ini berdampak positif bagi masyarakat Malang.

“Kami ingin promosi ke arek Malang yang ingin masuk IPB juga, ” tutupnya.

Kine Klub UMM Garap Story a Pair of Lovers in a Pressure

Ade, Produser (anja)

MALANGVOICE – Kine Klub (Kelompok Studi Sinematografi) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) memang dikenal aktif memproduksi film Indie. Tahun ini, Kine Klub UMM menggarap film baru mengangkat isu sosial sebagai tema besarnya.

Story a Pair of Lovers in a Pressure, demikian judul film berdurasi 15 menit yang menceritakan hubungan sepasang kekasih yang digrebek karena mesra berduaan di kos-kosan, lalu mengalami tekanan sosial karena kejadian itu.

“Ide ceritanya kami dapat dari Lukman Hakim, kebetulan dia Sutradara film ini juga. Skenarionya ditulis Aprillingga,” kata Ade Wahyuni, Produser Film, kepada MVoice.

Dia mengatakan, proses produksi film ini dilakukan oleh 48 kru, yang terdiri mahasiswa UMM, termasuk anggota Kine lintas angkatan.

“Proses pra-produksinya kami mulai akhir November sampai Januari pertengahan ini. Proses syuting pada 26-28 Januari, lanjut editing sampai Maret.

Film yang didukung kemahasiswaan UMM itu rencananya akan didistribusikan untuk festival-festival film.

“Tahun ini Kine Klub mencoba mmendistribusikan film ke festival-festival film dengan durasi 15 menit, dengan cerita lebih simpel. Kemungkinan kita ikutkan di festival lokal,” tutupnya.

Dubes Italia Lirik Karya Kombinasi Musik Instrumen Wiwie

MALANGVOICE-Kerja keras Viva Permadi alias Wiwie rupanya membuahkan hasil. Tak hanya proyek instrumen etniknya yang mendapat rekor Muri, Duta Besar Italia juga sudah mulai melirik karyanya.

Dia menuturkan, saat launching bulan lalu di Jakarta, musik karyanya ini memang dimainkan di hadapan Dubes Singapura, Italia dan beberapa negara lain. “Dubes Italia tertarik dengan musik etnik Indonesia. Karena mereka baru tahu keindahan Indonesia bukan hanya tempat saja, tapi juga seni musik,” jelasnya.

Namun, selama ini yang lebih dikenal adalah tempat wisata. Sementara keanekaragaman musik belum tersentuh. “Padahal keren sekali, keindahannya tidak kalah dengan tempat wisata,” jelasnya.

Wiwie juga menjelaskan, pasca launching keyboard dengan musik etnik Indonesia, Dubes Italia menunjukkan minat dan respon positif. “Saya tidak tahu, apakah saya akan diundang ke Italia atau ketemuan di Kedubes Italia di Indonesia. Inginnya sih diundang ke Italia,” jelasnya sembari senyum.

Miko, Puluhan Tahun Keliling Indonesia dengan Main Percusi

Jatmiko Adi Widodo.

MALANGVOICE – Jatmiko Adi Widodo menjadi pemain percusi profesional sejak 1999. Kini dia sudah tak bisa menghitung berapa kali pentas di berbagai daerah.

“Saya pernah pentas di hampir seluruh kota di Indonesia ini,” ungkap pria yang akrab disapa Miko itu.

Kecintaannya terhadap percusi berawal saat ia membentuk sebuah band, puluhan tahun silam. Kala itu Miko bertindak sebagai penabuh drum.

Dia melihat ada kemiripan antara permainan drum dengan percusi. “Hampir sama, tapi percusi lebih ke solois. Ciri-ciri itu yang membuat saya tertarik,” paparnya.

Warga Perumahan Hill Park Regency, Bandulan Barat itu, akhirnya mulai belajar kolaborasi percusi dengan sejumlah musik tradisionil, jimbe Afrika dan musik modern. Ia juga pernah mencoba sejunlah inovasi percusi dengan campur sari, karawitan, dan tarian kolosal.

Jatmiko Adi Widodo 

Hampir semua pentas yang ia tampilkan selama ini berkesan. Namun, yang tak terlupakan bagi Miko, salah satunya ketika ia pentas di Gunung Bromo.

“Kita terdesak dengan waktu mepet dan kendala membawa alat berat, di detik-detik terakhir sebelum pentas akhirnya teratasi,” tuturnya. .

Di sepanjang karier, ia masih menyimpan keinginan yang belum tercapai. Miko berharap, suatu saat nanti bisa membuat sebuah konsep parade percusi dari berbagai daerah baik modern, kontemporer maupun tradisional, yang diadakan di Kota Malang.

Penggagas kelompok Triballero Percusion yang memiliki bascamp di Sanggar Monggo Kerso, itu ingin menunjukkan Kota Malang merupakan gudang kreativitas segala bentuk kesenian.

“Parade semacam ini di Yogyakarta sudah ada tahunan. Tapi di sana bukan per daerah, melainkan per grup. Di Malang saya ingin bikin mewakili daerah masing-masing,” tandasnya.-

Karena Tidak Ada Lagi Yang Mengantar Sekolah

Deny Ardiansyah (kanan) ditemani kakaknya saat di rumahnya. (fathul/malangvoice).

MALANGVOICE – Deny Ardiansyah (14) sebenarnya ingin sekali dapat melanjutkan sekolah setinggi-tingginya. Namun apalah daya, sakit polio yang dideritanya sejak bayi menghambat cita-cita tulusnya.

Hingga ia lulus Sekolah Dasar Negeri 02 Tulungrejo, Bumiaji, Kota Batu, Deny tidak pernah patah semangat. Ia hampir tidak pernah absen kecuali sakitnya kambuh, atau harus berobat ke luar kota.

Ditemui MVoice di rumahnya, Dusun Junggo RT 01- RW 09 Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji, Jumat (28/7), Deny tampak ceria. Berkaos merah dan celana pendek abu-abu, Deny harus digendong kakaknya, Bagas Hariansyah untuk ke ruang tamu.

“Sebenarnya baru kelas 6 awal pas sunatan itu Deny tidak bisa jalan total. Sebelumnya sudah sakit namun bisa jalan sendiri, ke mana-mana sendiri,” kata tantenya Deny, Hartini (61).

Hartini mulai bercerita, ketika selesai khitan Deny jarang bergerak sehingga kakinya kaku. Mulai saat itulah Deny kesulitan menggerakkan kakinya, apalagi menopang tubuhnya.

Ketika sekolah, Deny selalu diantar oleh tantenya. Namun usia yang semakin bertambah, tante kedua Deny sudah tidak kuat karena menderita sakit punggung. Maka dari itu, Deny rencananya tidak akan melanjutkan sekolah lagi.

“Bukan karena tidak ada dana, malas, atau lainnya. Deny rencananya tidak sekolah lagi karena tidak ada yang nganter mas. Kita ingin juga agar Deny bisa sekolah tinggi,” tambah Hartati.

Di rumah tersebut, Deny tinggal bersama kakaknya yang saat ini Kelas XII di SMK Putik Kiswaran. Bagas ini juga yang mengangkat, memandikan, dan memakaian pakaian kepada Deny saat ke sekolah.

Sebelumnya, mereka berdua tinggal bersama neneknya. Namun, tidak ada yang abadi di dunia ini, nenek Deny meninggal 8 bulan lalu.
Sekarang, Deny tinggal serumah dengan Bagas. Sementara Hartati tinggal di rumah lain berjarak tiga langkah dari tempat tinggak Deny dan Bagas.

“Tidak tahu sekarang harus bagaimana, memang tidak ada yang mengantar. Kalau kakaknya keluar ya Deny sendirian saja di rumah,” lanjut Hartati.

Deny sendiri saat diajak ngobrol oleh MVoice menjawab dengan lancar. Saat ini kesibukannya hanya merawat burung kenari. Ia juga bingung bagaimana mau melanjutkan sekolah kalau tidak ada yang mengantar.

“Sudah lama merawat kenari, tapi belum sampai jualan. Cuma buat senang-senang saja,” tutup Deny.-

Alhamdulillah…Kloter 55 Kota Malang Mulai Jalankan Ibadah Umrah

Salah satu jemaah Kloter 55 Kota Malang, ketika berada di Masjidil Haram, Mekkah.(istimewa)

MALANGVOICE – Calon Jemaah Haji (CJH) Kloter 55 Kota Malang, alhamdulillah tiba dengan selamat di Mekkah, Arab Saudi, waktu setempat.

Hari kedua, mereka lantas melangsungkan ibadah umrah. Kondisi jemaah dalam kondisi sehat dan siap menjalankan aktivitas selama di tanah suci.

“Hari ini kami akan melakukan ibadah umrah. Sekarang kami sudah berada di Masjidil Haram, berdekatan dengan bukit Safa dan Marwah,” kata salah satu jemaah, Sinal Abidin, melalui pesan WhatsApp, kepada MVoice.