Prihatin Kondisi Lingkungan, Kelompok Punk Bersihkan Sungai di Lawang

Anak-anak punk membersihkan sungai di kawasan Lawang, Kabupaten Malang. (Muhammad Choirul)
Anak-anak punk membersihkan sungai di kawasan Lawang, Kabupaten Malang. (Muhammad Choirul)

MALANGVOICE – Ada pemandangan unik di beberapa desa kawasan Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang, Rabu (2/8). Sejumlah titik aliran sungai dikerubungi anak-anak punk.

Mereka tengah sibuk membersihkan sampah di sungai tersebut. Aktivitas itu mereka lakukan bukan karena menjalani hukuman, melainkan lahir dari kesadaran akan pentingnya menjaga lingkungan.

Adalah kelompok Lawang Street Crew dan Lawang Rescue yang menginisiasi kegiatan ini. Momentum kali ini bukan kali pertama, tetapi sudah menjadi kegiatan rutin untuk sambang kali di beberapa desa.

Lawang Street Crew sendiri merupakan perkumpulan anak-anak punk di kawasan Lawang. “Ini merupakan bentuk perlawanan dan pemberontakan kami terhadap budaya masyarakat yang masih belum sadar betapa sangat tidak baiknya perilaku membuang sampah sembarangan, terutama di sungai,” kata Cussy, salah seorang penggagas kegiatan ini.

Tidak hanya bersih sungai, mereka juga membuat peta aliran sungai dan pengamatan penyempitan Daerah Aliran Sungai (DAS) yang suatu saat bisa mengakibatkan banjir dan erosi. Selama ini, masyarakat menganggap punk hanya sebagai perkumpulan yang meresahkan.

“Image ini perlahan akan dijawab dengan bentuk-bentuk kegiatan positif seperti baksos (bakti sosial) dan berkesenian, terutama jaran kepang,” tandasnya.

Selain itu, mereka juga mengikuti pelatihan SAR dan belajar bahasa isyarat. Dalam hal ini, Lawang Rescue lebih banyak membantu dalam bidang teknis dan advokasi serta pengembangan pribadi.

“Ini mengingat potensi tiap personal punk begitu beragam, sehingga semua harus digali untuk dikembangkan,” pungkasnya.


Reporter: Muhammad Choirul Anwar
Editor: Muhammad Choirul Anwar
Publisher: Yunus Zakaria

Sukses Berbisnis Tas Rajut, Perempuan Ini Buka Kursus Rajut Gratis

Kursus Rajut
Kursus Rajut (istimewa)

MALANGVOICE – Pengerajin tas rajut dan zipper, Imas Titi Rahmawati, berhasil mendulang rupiah karena hasil kreativitasnya berhasil menarik minat pasar.

Dengan bantuan ayah, ibu, dan kedua adiknya, produk-produk tas rajut dan tas zipper Imas bisa terjual hingga ke seluruh wilayah Jawa, Aceh, Papua, hingga Kalimantan.

 Kursus Rajut
Kursus Rajut (istimewa)

Tak berhenti disitu, Imas bersama ibunya, Titin Tantinah dan adiknya, Tiwi Setyorini, berinisiatif untuk memberikan kursus merajut gratis di rumahnya yang berlokasi di Jalan KH Malik Dalam Perum City View B8, Malang.

“Untuk kelasnya sudah kita buka sejak 2 bulan lalu. Alhamdulillah, pesertanya sangat antusias dan semakin hari semakin banyak,” kata Imas yang juga alumni SMK 3 Malang ini kepada MVoice.

Ia menambahkan, antusias masyarakat sekitar semakin menginspirasinya untuk membuat wisata rajut di Malang Timur .

“Saya sangat mengharapkan dukungan serta sponsor agar mimpi dan harapan kami jadi kenyataan,” tutupnya.

Jurnal Dosen FT UB Raih Penghargaan Internasional

Rudy Yuwono (kanan) saat kegiatan teropong Gerhana (istimewa).

MALANGVOICE – Jurnal ilmiah Dosen Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Brawijaya (FT-UB), Rudy Yuwono, berhasil meraih Penghargaan Publikasi Ilmiah Internasional (PPII) dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) tahun 2016.

PPII adalah bentuk penganugerahan kepada periset atau kelompok periset yang telah berhasil mempublikasikan karya ilmiahnya di jurnal internasional yang terindeks lembaga professional.

Hebatnya, dosen pakar di bidang radar dan navigasi ini memperoleh penghargaan dari dua artikel ilmiah sekaligus. Yakni Design of Circular Path Microstrip Antenna with Egg Slot for 2.4 GHz Ultra-Wideband Radio Frequency Identification (UWB RFID) Tag Applications yang terindeks di jurnal internasional Applied Mechanics and Materials dan Design of Rugby Ball Patch Microstrip Antenna with Circle Slot for Ultra Wideband yang terindeks di jurnal Advanced Science Letters.

Selain dua artikel ilmiah dari dosen asli Tulungagung ini, terdapat 473 artikel ilmiah lainnya dari para peneliti seluruh Indonesia. Penghargaan yang diberikan berupa dana penelitian setinggi-tingginya 100 juta rupiah.

Persyaratan pendanaan riset PPII cukup ketat. Diantaranya, artikel ilmiah harus telah diterbitkan di jurnal internasional terindeks Scopus atau Thomson Reuters (berstatus published) dalam periode waktu lima tahun terakhir dan artikel ilmiah yang diusulkan ditulis dalam bahasa PBB (Inggris, Perancis, Spanyol, Cina, atau Arab).

Kemudian, terdapat kriteria penilaian PPII yang diatur berdasarkan nilai PPII seperti peringkat/mutu jurnal yang menerbitkan artikel ilmiah (terindeks Scopus atau Thomson Reuters) dan terdaftar dalam lembaga pemeringkat jurnal dunia (SCImago).

Lebih lanjut, Impact Factor jurnal serta jumlah sitasi artikel ilmiah (berdasarkan Scopus atau Thomson Reuters) juga dinilai dengan detail.

“Ini merupakan buah kerja keras selama selama rentang waktu 2011 hingga 2016. Perjuangannya berupa terus menulis dan menulis,” tutur Rudy saat ditemui di ruang kerjanya, hari ini.

Lebih lanjut, dosen yang mengampu mata kuliah Antena dan Propagasi ini menjelaskan bahwa semua peneliti bisa mendapatkan kesempatan memperoleh penghargaan lebih dari yang ia dapatkan. Tentu harus dibarengi dengan keinginan meneliti dan terus meneliti.

Rudy berharap jurnal yang telah ia susun bermanfaat untuk pengembangan ilmu elektro telekomunikasi khususnya di bidang Ultra Wideband Antenna.

Paperquilling, Kerajinan Unik Melinting Kertas

Contoh produk Wellden (istimewa)

MALANGVOICE – Paperquilling atau kerajinan melinting kertas memang tidak sepopuler scrapbook. Namun, peminat paperquilling terlihat semakin meningkat dan menjadi peluang bisnis yang menarik.

Wellden! Gift and Souvenir misalnya, meski baru beberapa bulan beroperasi sebagai toko souvenir dan kado unik berbasis online, produk paperquilling Wellden menarik banyak pelanggan.

Contoh produk Wellden 2Menurut Kun, owner ‘Wellden! Gift and Souvenir’pertama kali ia mempromosikan karyanya di sosial media, pesanan banyak berdatangan.

“Saat itu langsung ada 6 pesanan dari teman-teman saya di BBM. Akhirnya terus berlanjut setelah saya posting foto-foto lain di Line, Facebook dan Instagram,” katanya kepada MVoice.

Menurutnya kerajinan paperquilling sangat cocok untuk dipakai sebagai hadiah ulang tahun, pernikahan, kelahiran, dan mahar. Motifnya juga bermacam-macam antara lain bentuk teardrop, petal, loose curl, S curl dan sebagainya.

“Penempatan motif juga ada di dalam tulisan/letter dan di sekeliling tulisan/letter,” tambahnya.

Untuk proses pembuatan, Kun sengaja membeli bahan baku dan memilih kertas lembaran yang ia potong-potong sendiri. Selain lebih hemat, ia jadi leluasa menyesuaikan ukuran.

Contoh produk Wellden 3Di Wellden, pelanggan bisa memesan kustom ukuran paperquilling. Ada ukuran 30 x 40 dan 30 x 30, dimasukkan dalam frame 3D. Motif dan tema juga bisa disesuaikan dengan keinginan pelanggan atau disesuaikan dengan karakter penerima hadiah.

Paperquilling Wellden dibanderol Rp 100 ribu hingga Rp 150 ribu. Sebulan, Wellden bisa mendapat omzet kotor Rp 3 juta – Rp 5 juta.

Demikian, Kun merasa terkendala karena orang Indonesia masih belum banyak yang bisa mengapresiasi kreatifitas dan ide.

“Banyak yang ngerasa itu terlalu mahal. Mereka hitungnya dari harga bahan. Mungkin mereka berpikir saya buatnya tinggal bilang kun fayakun. Ini produk handmade yang memakan waktu dan pikiran,” tutupnya.

Produk papaerquilling Wellden bisa ditemui di Instagram @wellden_gift

Bajang, Pecinta Alam dan Pengrajin Miniatur Rumah Pohon dari Bumiaji

Bajang dan karya buatannya (anja)
Bajang dan karya buatannya (anja)

MALANGVOICE – Usia bukan halangan untuk pria ini terus kreatif berkarya. Ialah Samadi Bajang, pria usia 58 tahun, asal Bumiaji yang ulet membuat miniatur rumah dari kayu pohon bekas.

Bajang, begitu dia akrab disapa, mulai mencoba-coba membuat miniatur rumah awal Januari 2017. Rumah-rumah mini itu dia buat dari bahan dasar kayu bekas, ranting, dan akar-akar pohon. Bahan-bahan itu membuat karya Samadi terlihat unik dan punya nilai seni.

Bajang tidak asal membuat miniatur rumah pohon. Segala aspek, mulai ukuran, jenis pohon, bentuk bangunan rumahnya ia harus samakan ketika akan membuat rumah pohon di hutan. Ya, cita-cita Samadi adalah mewujudkan miniatur rumah pohonnya ke rumah pohon sungguhan.

“Tidak hanya rumah pohon, buat arena camping, outbond. Iseng-iseng cari di internet, kenapa kok gak coba buat miniatur saja dulu buat contoh. Dari situ langsung cari bahan buat miniatur rumah pohon,” kata Bajang,” Bajang bercerita.

Rumah pohon itu, lanjut dia, rencananya akan didirikan di jalur pendakian gunung Arjuna, desa Tegal Sari. Memang Bajang dari dulu gemar mendaki. Bahkan diusianya tak lagi muda, pria ini masih sanggup menaklukkan gunung-gunung aktif di Jawa Timur.

Ia mengatakan, luas hutan yang akan ia jadikan sebagai arena camping, rumah pohon itu sekitar 2 hektar. Terlebih dahulu ia harus mengurus izin dari Perhutani.

“Menyesuaikan keadaan hutannya. Miniatur yang saya buat sendiri ini ialah miniatur yang memang cocok untuk dibangun di hutan. Seperti rumah pohon menyerupai pondok. Karena tidak banyak bangunan,” tutur buruh tani yang juga sebagai sesepuh pendiri komunitas Pecinta Alam Cansabalas ini.

Namun sayang, banyak anak muda menolak membantu dirinya membuat kerajinan yang ia buat itu. Alasannya, banyak di antara mereka yang mengaku tidak kreatif dan tidak telaten.

“Dari pada mereka nganggur tidak jelas saya ajak untuk buat kerajinan ini. Meskipun hanya sekedar menghaluskan kayu saja mereka katanya tidak telaten,” kata Bajang.

Padahal, lanjutnya, niat Bajang baik untuk memberikan hasil tambahan kepada anak-anak muda di sekitar kediamannya.

Hasil kerajinan Bajang sudah dibeli oleh beberapa orang. Ia memberikan harga sesuai kerumitan rumah pohon yang ia buat. Karyanya ia jual Rp 30-200 ribu.

Komunitas Akar Tuli Malang: Rumah Bagi Penyandang Tuli, Akrabkan Masyarakat dengan Bahasa Isyarat

Komunitas Akar Tuli Malang menjadi rumah bagi penyandang tuli. Mereka berjuang menyebarluaskan bahasa isyarat.(istimewa)

MALANGVOICE – Beberapa orangpemuda menikmati secangkir kopi di sebuah warung kopi di Kota Malang. Sesekali gadget di tangannya dimainkan serta tak luput berswafoto bersama. Deru kendaraan di jalan seakan tak dihiraukan. Di sisi lain, barista sedang meracik kopi untuk disajikan ke pelanggannya.

Sembari menunggu pesanan datang, sekelompok orang datang menghampiri. Sebagian sibuk memarkir kendaraan di tempat parkir. Mereka tidak lain adalah pengurus Komunitas Akar Tuli Malang. Ya, mereka adalah penyandang Tuli, tapi tak pernah malu atas keterbatasannya.

Satu persatu mereka bersalaman dan memilih tempat duduk. Yoga Dirgantara, Angelius Wahyu Utomo, Nur Syamsan Fajrina, Hufani Septaviasari Irnanto, Evangelia Sukmadatu Dewantari Putri, Maulana Aditya, dan Alif Maulana Agung Pribadi. Sesekali canda tawa pecah saat wartawan Malangvoice.com mencoba belajar bahasa isyarat, tapi tak kunjung bisa karena belum terbiasa.

Humas Akar Tuli Malang, Hufani Septaviasari Irnanto, memulai pembicaraan sembari menjadi penerjemah untuk memudahkan komunikasi dengan pengurus Akar Tuli. Komunitas Akar Tuli didirikan karena belum ada komunitas bagi penyandang Tuli di Kota Malang. Fani sendiri sesekali menggunakan alat bantu dengar untuk memudahkan berinteraksi.

Komunitas Akar Tuli berdiri 13 September 2013 lalu. Lima orang menjadi pioner berdirinya komunitas ini. Yakni Nur Syamsan Fajrina, Dina Amalia Fahima, Fikri Muhandis, Muria Najhiul Ulum, dan Safitri Safira. Mereka didampingi seorang voulentir, Vida Riahta, dari Pusat Studi Layanan Disabilitas (PSLD) Universitas Brawijaya.

“Semula, karena teman-teman Tuli sedikit. Makanya dibuatlah komunitas untuk tempat kumpul. Ternyata di Kota Malang teman-teman Tuli cukup banyak,” katanya, dua pekan lalu.

Akar Tuli lantas menjadi wadah bagi penyandang Tuli. Tidak hanya kalangan mahasiswa, juga masyarakat umum. Teman-teman Tuli lebih menemukan jati diri dan merasa dihargai ketika berada di komunitas. Mereka bisa berinteraksi dan mencurahkan isi hatinya antar sesama.

“Awal, memang tidak langsung akrab. Tapi lambat laun mereka mencair. Ya, kayak saudara sendiri,” ujarnya.

Penyandang Tuli tidak hanya dari wilayah Malang. Ada pula dari Jawa Barat dan luar jawa yang menempuh studi di Malang. Bahasa isyarat yang digunakan pun tak semuanya sama, sehingga butuh waktu untuk penyesuaian. Mereka juga sering meluangkan waktu untuk berkumpul dan saling bercerita. Bisa di dalam kampus maupun di taman-taman kota. Yang ikut komunitas juga dari berbagai kalangan, baik karyawan perusahaan, pelajar, dan mahasiswa.

Istilah Tunarungu dianggap berlebihan. Mereka lebih senang dipanggil sebagai Tuli. Alasannya, Tunarungu mengindikasikan orang sakit.”Kami tidak sakit, kami senang dibilang Tuli,” ungkap dia.

Sering Diperlakukan Diskriminasi

Penyandang Tuli masih saja diperlakukan secara diskriminasi. Mereka dipandang sebelah mata di masyarakat umum. Kehadiran mereka dinilai langka dan kerap diolok-olok. Masih banyak masyarakat yang enggan berinteraksi dengan penyandang Tuli. Selain tidak bisa berbicara, mereka juga tidak paham bahasa isyarat.

Mayoritas penyandang Tuli mengalami masa lalu yang kurang bagus. Baik di sekolah maupun di lingkungannya, mereka tidak luput dari bully teman-teman sebayanya. Sebagian bahkan putus asa dan tak mau sekolah. Obrolan tersebut menjadi pembahasan setiap kali ada mahasiswa baru yang Tuli. Curhatan mereka hampir semuanya merata.

“Padahal, kami ini juga mahluk sosial, ciptaan tuhan. Kami sama dengan manusia lain,” ungkap Fani.

Penyandang Tuli mengeluhkan akses publik yang belum ramah disabilitas. Salah satunya di perguruan tinggi. Penyandang Tuli di Universitas Brawijaya terbilang beruntung, karena ada voulentir yang mendampinginya setiap kali mengikuti perkualiahan. Dengan mudah penyandang Tuli memahami materi di dalam kelas.

“Dulu, pemandangan di dalam kelas dianggap aneh. Tapi lambat laun, diterima setelah dijelaskan. Dosen dan mahasiswa lain mengerti jika ada temannya yang Tuli,” beber perempuan yang dulu pernah mendapat perlakukan diskriminasi.

Sosialisasikan Bahasa Isyarat ke Masyarakat

Bahasa isyarat belum sepenuhnya dipahami masyarakat. Sehingga penyandang Tuli dipandang sebelah mata. Namun, perlakuan tersebut tidak direspon balik. Penyandang Tuli justru berusaha keras mensosialisasikan bahasa isyarat di masyarakat agar diterima.

Tujuannya tidak lain supaya penyandang Tuli bisa berkomunikasi dengan masyarakat umum. Semakin banyak masyarakat yang fasih menggunakan bahasa isyarat, semakin baik pula dampak terhadap penyandang Tuli.

Komunitas Akar Tuli beberapa kali turun ke masyarakat, mensosialisasikan bahasa isyarat ketika Car Free Day (CFD) di Jalan Ijen, Kota Malang. Aksi sosialisasi di CFD cukup unik, salah seorang dari mereka memerankan sebagai pantomin yang identik dengan gerakan isyarat. Masuk ke komunitas-komunitas dan Unit Kegiatan Mahasiswa. Selain itu, mereka siap mengajari masyarakat yang ingin belajar bahasa isyarat.

Sistem Isyarat Bahasa Indonesia (SIBI) yang distandarkan di Indonesia dinilai terlalu ribet dan kurang praktis. Pemandangan ini bisa dilihat di TVRI, televisi milik pemerintah yang menyediakan penerjemah bagi penyandang Tuli.

Penyandang Tuli lebih nyaman menggunakan Bahasa Isyarat Indonesia (Bisindo). Selain lebih mudah, juga praktis dan cepat dipahami. Bisindo sendiri lebih menjelaskan huruf yang ingin diucapkan penyandang Tuli.

“Bahasa isyarat lebih pada intinya, menyampaikan apa yang diinginkan langsung pada intinya. Tidak suka bertele-tele, seperti sms gaul gitu,” jelas Fani melanjutkan cerita.

Adanya alat bantu dengar tidak lantas diterima semua penyandang Tuli. Selain harganya yang cukup mahal, juga tidak terbiasa. Penyandang Tuli terbiasa kesunyian sejak lahir, sehingga kaget ketika memakai alat bantu dengar. Ada pula yang menggunakan alat bantu dengar, tapi tidak berfungsi maksimal lantaran intensitas pendengarannya kategori parah.

“Bagi teman-teman, alat bantu dengar berisik. Sukanya kesunyian,” ungkapnya.

Terbatas Secara Fisik, Ukir Prestasi

Kendati dengan kondisi yang terbatas dan kerap mendapat perlakuan kurang menyenangkan dari orang lain. Penyandang Tuli juga patut diacungi jempol. Mereka mampu menorehkan prestasi cemerlang, baik skala regional, nasional hingga internasional.

Penyandang tuli punya bakat yang tak kalah dengan masyarakat umum. Meski tidak bisa berbicara dan tidak bisa mendengar, mereka bisa mengekpresikan bakatnya. Meliputi puisi bahasa isyarat, pantomin, dan teatrikal.

Anggota Komunitas Akar Tuli, Yoga Dirgantara, berhasil menembus kancah internasional. Ia menjadi wakil Indonesia dalam kontes Miss & Mister Deaf International 2014 lalu di Inggris. Meski gagal keluar sebagai yang terbaik, Yoga, merasa bangga bisa mengharumkan nama baik Indonesia. Selain Yoga, anggota Akar Tuli lainnya, Octaviany Wulansari menjadi kandidat Deaf World 2011 lalu di Ceko.

Kontes tahunan ini terbagi tiga kategori, pertama Miss & Mister Deaf International (fokus sosial), Miss & Mister Deaf World (modeling), dan Miss & Mister Deaf Star (unjuk bakat).

“Kami juga punya cita-cita sama untuk mengharumkan nama baik Indonesia,” ungkap pria yang bekerja di sebuah pabrik rokok di Kota Malang.

Yoga dipercaya atasannya untuk menjadi penerjemah bagi penyandang Tuli yang bekerja di perusahaan. Ia merasa beruntung karena di tempat kerjanya, ia bisa diterima dengan senang hati dan belum mendapat perlakuan diskriminasi. ”Selain bahasa isyarat, teman-teman di tempat kerja bisa pakai oral saat berinteraksi dengan yang lain,” akunya.

Ia berharap mendapat tempat yang sama di masyarakat. Perlakuan diskriminasi terhadap penyandang disabilitas tidak terjadi lagi dikemudian hari.


Reporter: Miski
Editor: Deny Rahmawan
Publisher: Yunus Zakaria

Made By Noel, Padukan Daun Pandan dan Tissu

Lutfia (Anja)

MALANGVOICE – Membuat tas lukis dari bahan kain sepertinya sudah biasa. ‘Made by Noel’, online shop yang digawangi Lutfia, Firmaningtyas mengadirkan kerajinan tas anyaman daun pandan yang dipadukan dengan paper napkin (tissu) bergambar menjadi produk tas cantik dan unik.

Lutfia mengatakan, ia memiliki basic melukis dan membuat produk produk dengan menggunakan media lukis. Namun, waktunya semakin tersita karena setiap lukisan butuh waktu pengerjaan sangat lama.

Dompet & Tas (Anja)
Dompet & Tas (Anja)
“Saya makin tidak sempat soalnya saya juga sudah punya anak,” kata Lutfia kepada Mvoice.

Lalu, kakak ipar Lutfia yang berkuliah S3 di Belanda membawakan paper napkin bergambar ketika pulang ke Indonesia. Tahun 2014, Lutfia memulai melakukan banyak eksperimen untuk memadukan tas pandan yang ia beli dari pengerajin di Tasikmalaya dengan paper napkin bergambar dari Belanda.

Ternyata, hasilnya sangat menarik. Ia mengakui, permintaan di Malang tidak setinggi permintaan di luar kota. Anehnya, orang Malang malah membeli produknya dari luar kota.

“Padahal orang luar kota itu belinya ke saya, tapi orang Malang tidak tahu kalau itu binya dari saya,” katanya tertawa.

Karena itulah, ia bertekat untuk mengenalkan produknya ke masyarakat Malang. Namun, ia terkendala dengan pasokan paper napkin.

“Paper napkin ini tidak dijual disini, mereka jualnya di Eropa saja. Ini saya belinya di Jerman nunggu 1-2 bulan sampai produknya datang,” tambahnya.

Selain tas pandan, Lutfia juga mengaplikasikan paper napkinnya ke botol, kaleng, kayu dan perabot lain. Dalam sebulan, ia bisa mengirim 1000-2000 produk dengan harga mulai Rp 35.000- Rp 350.000

Tertarik dengan tas Made by Noel? Mampir saja ke akun Instagramnya @madebynoel, atau mampir ke galerinya di Jalan Sumbersari II/93 Malang.

Khadijah Azzahra, Berkibar sebagai Desainer di Usia Belia

Khadijah Azzahra Amira, Pemilik Kokha Butik yang masih belia (fia)

MALANGVOICE – Saat teman-teman seusianya sibuk belajar dan memanfaatkan waktunya untuk nongkrong di cafe-cafe ternama, Khadijah Azzahra memilih memanfaatkan waktu luang diantara kuliah untuk berbelanja kebutuhan kain bersama ibunya di Surabaya diantaranya panasnya angkutan umum menuju ibukota provinsi itu.

Pengorbanannya tersebut membuahkan hasil. Kini ia sukses menjadi make up artist sekaligus wedding gown designer spesialis untuk hijab. Belia yang kini berusia 19 tahun itu pun tetap menjalankan kewajiban sebagai mahasiswi Ilmu Pemerintahan di Universitas Brawijaya.

Ditemui MVoice, dara yang akrab disapa Ra ini menceritakan. Awalnya ia terjun di berbagai kompetisi model mulai dari skala lokal hingga nasional. Bakat modeling tersebut kemudian dikembangkan dengan mulai membuat busana-busana pengantin. Di sela-sela waktu belajar saat SMA, Ra rajin googling mencari inspirasi desain busana.

“Saya sering ke Surabaya, beli bahan kain sama umi (ibu). Karena kakak nggak bisa mengantar, jadi kami naik bus. Beli kain gelondongan karena memang untuk gaun pengantin butuh kain banyak banget,” celoteh anak kedua dari tiga bersaudara ini.

Selera desain Ra pun diakui teman-temannya sesama model. Awalnya, pelangannya adalah teman dekat, lambat laun, pelanggannya pun makin meluas, bahkan menyentuh para pejabat. Salah satu pejabat yang memakai gaun rancangannya adalah Dina Handoko, istri Wakapolres Tarakan.

“Harganya Rp 6 juta. Mahal memang, karena bahan yang dipakai juga mahal,” imbuh dia.

Kini, Ra pun makin mantab mengibarkan bisnisnya. Secara kontinyu, juara Putri Kartini dan Putri Jilbab Indonesia itu mulai berani menampilkan ciri khas di setiap desain yang ditampilkannya.

“Ada kain khusus yang belum ada di Malang. Saya ingin menekankan desain, jadi ketika orang lihat langsung tahu kalau itu desain saya,” tukas dia.

Subekti dan Fattahu, Alumni UMM Jadi Perawat Profesional di Jepang

Subekti fan Fattahu (tengah) setelah berbagi pengalaman bekerja di Jepang. (istimewa)

MALANGVOICE – Dua alumni Program Diploma Tiga (D3) Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Sobaruddin Subekti dan Muhammad Fattahu, saat ini bekerja sebagai tenaga keperawatan di Jepang.

Mereka merupakan dua dari tujuh alumni D3 Keperawatan UMM yang saat ini bekerja di sejumlah rumah sakit dan lembaga kesehatan di Jepang. Subekti bekerja di Sangenjaya Hospital, sementara Fattahu di Central Otaku, keduanya terletak di Tokyo.

Mereka bekerja di Jepang melalui program kerjasama pemerintah Indonesia dan Jepang. Bagi Subekti, kualitas lulusan D3 Keperawatan UMM sudah sangat mumpuni untuk bersaing secara profesional dengan lulusan luar negeri.

“Pengetahun dan pengalaman yang kami dapat selama kuliah di UMM sudah lebih dari cukup untuk bersaing dengan perawat dari Filipina maupun Jepang sendiri. Kendala kita hanya bahasa saja, dan itu bisa dilatih,” ungkapnya.

Pengalaman bekerja di luar negeri bagi mereka sungguh mengesankan. Selain merasakan suasana baru dengan budaya dan gaya hidup berbeda, dari sisi pendapatan juga cukup tinggi, terlebih jika dibandingkan dengan gaji perawat di Indonesia.

Gaji pertama seorang perawat bisa mencapai Rp 19 Juta, sedangkan biaya hidup berkisar antara Rp 8 hingga 9 juta saja. Subekti malah digaji mencapai Rp 35 juta karena sudah memperoleh registered number (RN) sebagai perawat profesional.

Diakui Subekti, perawat yang telah memiliki RN memang digaji dua kali lipat karena telah dianggap profesional dan sudah bisa menangani pasien secara langsung. RN merupakan sertifikasi nasional bagi perawat di Jepang yang juga diakui secara internasional. Untuk memiliki RN, seorang perawat harus mengikuti ujian keperawatan yang sepenuhnya berbahasa Jepang.

“Bahkan, ini juga berlaku bagi perawat yang lulus kuliah di Jepang. Mereka pun tidak mudah untuk lulus ujian ini dan bisa mendapatkan RN. Dari segi persentase, hanya 10 persen perawat yang bisa lulus ujian ini,” jelas Subekti.

Selain Subekti dan Fattahu, pada bulan Februari lalu, alumni D3 Keperawatan UMM lainnya yang juga bekerja di Jepang, Micky Herera, sempat mengunjungi adik-adiknya di UMM untuk memberikan motivasi dan inspirasi. Seperti halnya Subekti, Micky juga termasuk di antara sedikit perawat yang sudah mendapatkan RN dari pemerintah Jepang.

Sekalipun mereka lulusan D3, namun di Jepang kualifikasi mereka disetarakan dengan S1. Dengan adanya RN ini, mereka juga berkesempatan bekerja di Eropa, karena RN di Jepang diakui secara internasional.


Reporter: Anja Arowana
Editor: Muhammad Choirul Anwar
Publisher: Yuliani Eka Indriastuti

Cinta Bus, Pria Ini Sukses Berbisnis Miniatur Bus

Bus Damri Replika Miniatur Bus
Bus Damri Replika Miniatur Bus

MALANGVOICE – Hobi tidak selalu harus menghabiskan uang, sebaliknya hobi yang dimiliki warga Batu ini malah menghasilkan rejeki dan kini menjadi mata pencahariannya.

Ialah Mohammad Irfan warga Jalan Arjuno 36 Kota Batu hobi membuat replika atau miniatur armada transportasi darat.

Irfan mengaku sudah menggemari bus sejak tahun 80’an semasa Sekolah Menengah Atas. Kecintaanya terhadap bus membuatnya serius menekuni usahanya saat ini. Sejak kecil dia menekuni hobinya, namun dengan perangkat dan bahan seadanya.

Interior bus buatan Irfan
Interior bus buatan Irfan

Saking cintanya, Irfan bahkan sampai paham detail dari masing masing tipe bus dari berbagai jenis dan merek.

“Karena biasanya kalau penggemar itu bisa sampai paham tentang lekuk bodi dari bus, susunan bangku, lampu, kaca dan sebagainya. Mesin juga rata-rata paham jadi kurang lebih yang dibuat di sini mencapai 80 persen, kemiripannya dengan yang aslinya.“ ujar Irfan.

Dalam membuat replika Irfan membuat dengan Skala 1: 40, 1: 12 dan sebagainya. Satu buah replika bus jenis Antar Kota Dalam Provinsi bisa dihargai senilai Rp1.3 jiya dan berlangsung kelipatannya tergantung ukuran dan tingkat kerumitan dari bus tersebut.

Detail interior bis penting karena untuk tiap bus juga beda. Umumnya peminat suka yang tahun 2000-an kebawah karena selain klasik sudah tidak ada yang produksi lagi.

“Biasanya yang suka itu komunita pencinta bus. Mereka mengabadikan momen atau kenangan mereka saat naik bus Antar Kota Dalam Provinsi,“ tutupnya,

Komunitas