Lukisan Pensil Mahasiswa Ini Disukai Artis Dalam dan Luar Negeri

Digo Krisnayana

MALANGVOICE- Digo Krisnayana (21) sepintas tidak beda jauh dengan mahasiswa pada umumnya. Yang membuat mahasiswa UB ini lebih istimewa dibanding yang lain adalah kemampuannya melukis menggunakan pensil.

Lukisan Digo kebanyakan gambar wajah yang dibuat mirip seperti aslinya. Mulai dari kontur wajah hingga raut, dibuat mirip tanpa ada celah.

Lukisan pensil buatannya, Raisa
Lukisan pensil buatannya, Raisa

Kepada MVoice, mahasiswa FISIP ini bercerita, gambarnya juga disukai atau di-like artis-artis dalam dan luar negeri. Sebut saja Raisa, Afgan, Adele, Meghan Trainor, Teejay Marguez dan beberapa Putri Indonesia.

“Gambarku juga pernah direpost Tobey Marguire, pemeran Spiderman. Terus juga pernah direpost Ariadna Guidterez, Miss Colombia 2015,” paparnya kepada MVoice, siang ini.

Biasanya dia memasarkan produk lukisannya melalui instagram saja. Pelanggannya bisa dikatakan hampir di seluruh Indonesia.

Lukisan Nick Jonas karya Digo
Lukisan Nick Jonas karya Digo
“Kalau artis, mereka nggak pernah pesan, karena jangkauannya kan jauh. Tapi biasanya secara sukarela saya bikin lukisan mereka dan kirim melalui instagram. Baru kemudian mereka repost atau like,” bebernya.

Biasanya, dalam melukis mahasiswa angkatan 2012 ini menggunakan pensil jenis 2B, 6B, 7B dan 8B.

“Murni manual tanpa ada komputerisasi. Biasanya saya beri ornamen bunga, atau gelang emas atau parfum,” jelasnya.

Masih Berpeluh, Wasto Tak Segan Jalani ‘Olahraga’ Tambahan

Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Malang, Wasto, membersihkan Masjid Bauturrohim. (Bagian Humas Pemkot Malang)

MALANGVOICE – Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Malang, Wasto, masih tampak berpeluh usai apel dan olahraga bersama Aparatur Sipil Negara (ASN) di Balai Kota Malang, Jumat (18/8) pagi. Sesaat kemudian, dia melakukan ‘olahraga’ tambahan.

‘Olahraga’ tambahan ini tentu hanya makna kiasan. Yang terjadi sebenarnya ialah, Wasto tiba-tiba mengambil sapu dan membersihkan Masjid Baiturrohim, komplek Balai Kota. Kejadian itu bermula ketika Wasto melihat salah seorang takmir, Sudiman, membersihkan masjid seorang diri.

Wasto tak ragu-ragu memegang sapu dan sangat bersemangat membantu Sudiman dalam membersihkan berbagai sudut ruangan di masjid tersebut. Takmir masjid itu sendiri cukup kaget ketika, Sekda Kota Malang Wasto menawarkan bantuan untuk bersih-bersih tempat ibadah itu.

“Awalnya kaget. Saya bilang gak usah dibantu gak apa-apa, bapak kan masih berkeringat habis olahraga,” kata Sudiman.

Ia menceritakan, Wasto sebenarnya sudah ingin membantu bersih-bersih masjid, namun belum sempat terealisasi hingga hari ini. Alhasil, Wasto pun merealisasikan keinginan itu.

“Pak Wasto bilang gak masalah bantu bersih masjid karena dari dulu sejak di Bapedda sudah ada keinginan itu,” tandasnya.


Reporter: Muhammad Choirul Anwar
Editor: Muhammad Choirul Anwar
Publisher: Yunus Zakaria

Mbois Puol… Pria ini Ubah Sampah Botol Plastik Jadi Mainan Apik

Taufiq Saleh Saguanto (35), sedang memamerkan diecast dari botol plastik minuman bekas. (deny)
Taufiq Saleh Saguanto (35), sedang memamerkan diecast dari botol plastik minuman bekas. (deny)

MALANGVOICE – Siapa sangka, botol bekas plastik yang dibuang di jalan atau tempat sampah bisa berubah menjadi barang berharga. Seperti yang dilakukan M Taufiq Saleh Saguanto (35).

Bapak tiga anak yang tinggal di Perum Alam Dieng Residence, A-1, Pisang Candi, Blimbing, Kota Malang, itu bisa mengubah botol plastik bekas menjadi mainan baru.

Model diecast atau mainan miniatur berbahan plastik itu kini semakin diseriusi Taufiq Saguanto. Berbagai macam model mainan seperti becak, helikopter, sepeda motor hingga robot, sudah berhasil ia ciptakan. Padahal Taufiq sendiri berbasic pengusaha konveksi.

Kepada MVoice Ia menceritakan, awal ide itu muncul tidak sengaja. Berdasar pada kepedulian terhadap lingkungan dan dampak pencemaran botol plastik yang sangat merugikan. Daur ulang botol plastik dirasa tidak maksimal, berbeda dengan bahan lain.

Karena itu, akhir 2015 silam, ia mencoba mengumpulkan barang bekas yang tak terpakai, mulai dari mainan anaknya hingga sampah botol. Seketika itu ia memilah barang yang masih bisa digunakan, hingga ia bentuk menjadi sebuah miniatur lokomotif.

“Waktu itu tidak sengaja saja, lha kok ternyata bisa. Akhirnya jadi sampai sekarang,” katanya, Kamis (25/8).

Setelah itu, banyak model diecast yang ia kembangkan dan mulai rumit. Ia mengaku, satu model bisa menghabiskan waktu dua sampai empat jam tergantung kesulitan. Karena kebutuhan, bahannya pun tak hanya botol minum saja. Ia bisa menggunakan botol sampo, bedak, botol oli hingga setrika rusak.

Seperti membuat model klasik, Taufiq hanya perlu satu buah botol bekas untuk jadi body, ditopang plastik bekas pengait pakaian sebagai chasis. Di bagian roda, empat dasar botol dipotong dan semua ditempel menggunakan lem tembak.

Untuk warna, Taufiq sengaja hanya melapisi dengan cat hitam, alasannya kalau dijual, warnanya bisa diubah sesuai keinginan.

“Jadi harus hapal karakter botol, nanti jadi desain mengikuti,” katanya sambil menunjukkan ruang kerja di lantai dua rumahnya.

Lulusan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) jurusan Manajemen itu, mengaku pernah ada yang membeli produknya dengan harga Rp 500 ribu. Saat itu ia hanya iseng memasang foto di akun Instagram dan Facebook. Lantas, sejak dua bulan terakhir ia semakin rajin pamer di media sosial.

Harapannya, kata pencipta merek Hot Bottles itu, dengan kreasinya bisa memancing ide kreatif lain untuk mengurangi sampah plastik yang merugikan. Ia tak akan menolak bila ada yang mau belajar memanfaatkan sampah plastik bekas.

“Impian saya itu, sedikit kampanye stop botol plastik dan Malang punya museum sampah. Semua hasil kreativitas seniman dipajang di sana,” harapnya.

Kini, ia sedang mengerjakan karya luar biasa, membentuk botol plastik menjadi robot raksasa mirip Iron Man setinggi 2 meter. Model itu menghabiskan ratusan botol selama empat hari pengerjaan. “Kalau yang itu masih lama, karena saya kerja sendiri,” tutupnya.

Ketiga anak Taufiq, sekarang ikut membantu kerja sang Abi, sapaannya di rumah. Setiap pulang sekolah, atau bermain selalu membawa sampah botol plastik bekas dari jalan. Mereka tak ada rasa minder atau gengsi. “Semuanya saya ajarkan untuk peduli lingkungan dengan cara lain. Semua pasti ada hasilnya di masa mendatang,” imbuhnya.

“Intinya, kalau kita mau pasti bisa. Jadi kreatif atau pengusaha tak perlu biaya besar. Hal semacam itu, pasti banyak orang lain bisa tapi tetap perlu perhatian serius dari pemerintah daerah,” tutupnya.

 

 

Berkali-Kali Gagal Wirausaha, Kini Soim Sukses Usaha Nasi Bakar

Warung Lodji
Warung Lodji

MALANGVOICE – Berkali-kali gagal membangun usaha, tidak memupuskan semangat Soim Karamah untuk berwirausaha.

Pria asli Malang ini saat ini sukses berjualan nasi bakar bebek kelapa di sentra kuliner Sriwijaya. Sebelumnya, Soim berwirausaha di bidang garmen dan kerajinan. Tapi bisnisnya tidak berhasil.

Aneka menu Lodji
Aneka menu Lodji

“Karena daya beli masyarakat tidak setiap hari beli garmen atau kerajinan,” katanya.

Barulah dia melihat peluang kuliner yang menjanjikan. Menurutnya, makan adalah kebutuhan sehari-hari masyarakat. Tinggal menyesuaikan selera saja. Dari berbagai macam menu kuliner yang pernah dia jajal, ternyata menu nasi bakar paling diminati.

Soim
Soim

“Nasi bakar ini bahannya nasi uduk yang dibungkus daun pisang lalu dibakar. Tidak ada isiannya, tapi rasanya gurih. Lalu lauknya aneka bakaran seperti bebek bakar, ayam bakar, tempe bakar, dan banyak lainnya,” kata sarjana pertanian alumni Universitas Brawijaya ini.

Saat ini, nasi bakar Lodji (nama warungnya) paling diburu masyarakat pecinta kuliner. Dalam sebulan, omzet kotor Soim mencapai 30 juta

Ini Dia, Studio Animasi Asli Malang…

Agus Setiawan dan Logo Copycat

MALANGVOICE – Industri animasi mulai dilirik Pemerintah Kota Malang. Benih-benih animator muda pun bermunculan, berlomba menghasilkan karya animasi populer. Untuk itu banyak pemuda di Malang mulai mendirikan studio animasi sendiri.

Adalah Agus (Suga) Setyawan, mahasiswa jurusan Desain Komunikasi Visual (DKV) Universitas Negeri Malang, yang merintis studio animasi dan sudah menghasilkan karya-karya luar biasa. Hebatnya, studionya mulai diakui kalangan pemerintahan di Malang sebagai industri kreatif Malang, sejak 2012 lalu.

studio copycat
studio copycat

Kecintaannya pada animasi memotivasinya mendirikan studio bernama Copycat Studio, di Jalan Sumberejo C5, Kompleks Perumahan YPPI, Kota Batu, yang menawarkan jasa pembuatan animasi untuk iklan, motion graphic, sculpting, komik, visual effect, dan sebagainya.

Meski personel terbatas, ia tak kkhawatir. Biasanya ia berbagi pengerjaan proyek besar ke studio lain.

“Kami sering bekerja sama dengan studio animasi lain di Malang. Kami juga biasa bagi tugas dan mengembangkan satu sama lain. Studio animasi lain juga melakukan hal yang sama. Soalnya proyek besar biasanya butuh tenaga lebih banyak dan waktu lebih lama,” jelasnya.

Ditemui oleh MVoice, beberapa waktu lalu, ia bercerita, pengalaman dan bekal ilmu animasi ia dapatkan dari sekolah, magang, dan pelatihan. Pada 2007, alumni SMKN 4 Grafika Malang ini pernah magang bersama 9 siswa lain selama 6 bulan di studio animasi Fonsel, Malaysia.

Di situ ia pernah ditugasi sebagai background artist, key animator, dan storyboard artist. Setelah lulus sekolah, sebenarnya ia ingin langsung bekerja saja, tapi ia memilih menerima tawaran beasiswa unggulan 4 tahun penuh dari Universitas Negeri Malang.

Selanjutnya, di bangku perkuliahan ia memperdalam ilmu animasi dan menemukan banyak teman yang sama-sama tertarik dengan animasi. Selain itu, ia pernah juga mengikuti pelatihan di Bali yang diadakan Calabash Studio California dan beberapa pelatihan lain.

Karena pengalaman yang baik, Agus dipercaya Disperindag Kota Malang untuk menjadi narasumber pelatihan animasi pada Agustus 2015 lalu. Sejak saat itu ia dipercaya mengembangkan forum animasi di Kota Malang.

Ia berharap industri animasi di Malang semakin berkembang dan bersaing dengan animator dari kota lain. “Animator di Malang ini keren-keren. Bisa dibilang kita pantas bersaing dengan animator dari kota-kota besar lho. Karya animator di kota ini kualitasnya sudah baik. ” tambahnya.

Kodew Satu Ini, Gunakan Hijab untuk Ciptakan Karakter Disney

Aulia Farieza bergaya Belle dalam Beauty and The Beast
Aulia Farieza bergaya Belle dalam Beauty and The Beast

MALANGVOICE- Hijab di tangan make up artist dan hijab stylist Aulia Farieza, bisa disulap untuk menciptakan karakter tokoh Disney.

Alumnus sosiologi UMM ini memodifikasi hijab hingga menyerupai rambut karakter Disney.

Agar lebih mirip, ditunjang dengan make up yang ciamik. Aulia ini merupakan salah satu make up artist (MUA) di Kota Malang.

Benar saja, ketika MVoice bertandang ke rumah salah satu karyawan TK Al Mustaqbal untuk ‘menguji kemampuan’ Aulia, dia terlihat piawai menggunakan alat make up.

Sekitar satu jam, dia bisa menciptakan karakter Elsa dalam film Frozen. Perempuan yang juga pengusaha makanan ini hanya menggunakan kain berjenis tille untuk mengubah hijab menyerupai rambut.

“Saya ingin buktikan walau tanpa mengumbar rambut namun pengguna hijab juga bisa berpenampilan layaknya princess Disney,” jelasnya beberapa menit lalu.

Bukan hanya karakter Disney saja yang bisa dia ciptakan. Alumnus SMAN 12 Malang ini juga pernah mencoba karakter Cinderella, Belle dalam Beauty and The Beast, Mulan, Snow White, Rapunzel dalam Tangled dan Merida dalam film Brave.

Aulia menjelaskan, rupanya banyak juga penyuka make up ala princess ini. Biasanya, konsumen pemesan make up princess merupakan perempuan yang akan melakukan pemotretan pra wedding.

“Saya promosi pakai Instagram, getok tular juga,” jelas perempuan yang sudah tiga tahun menekuni usaha kecantikan ini.

Erwin, Kreatif Melukis Scribble Art dan Selotip

erwin dan karyanya (istimewa)

MALANGVOICE – Mahasiswa Seni Rupa Murni Universitas Brawijaya (UB) membuat terobosan baru dengan membuat karya seni lukis bertema scribble art.

Dialah Erwin Saputra, yang mengawali kegemarannya di dunia seni lukis dan tumbuh menjadi pemuda kreatif dengan gaya melukis lewat selotip yang ditempel pada sebuah kanvas.

Bahkan, hasil goresan tangannya juga mendapat apresiasi dari pejabat publik hingga berbagai media.

Scribble Art-2“Beberapa tokoh besar, seperti Ridwan Kamil, Andi F Noya serta Sandiago Uno, sangat mengapresiasi hasil karya yang saya buat. Bahkan saya sangat terhormat bisa berbagi pengalaman lewat talk-show di berbagai acara televisi, seperti Kick Andy, Mata Najwa dan Hitam Putih,” ujarnya.

Erwin mengenal scribble sejak awal 2015 lalu. Sebelumnya ia merupakan penggiat karikatur dengan obyek tokoh-tokoh nasional. Namun setelah berkenalan dengan scribble, ia merasa menemukan dunia baru dalam seni lukis.

Hasilnya pun ternyata berdampak cukup besar, karya-karyanya disukai banyak orang. Berawal dari ketertarikan publik itulah, banyak pesanan datang dari berbagai pihak.

“Dulu saya sering membuat lukisan bertema karikatur, namun saat ini mendalami scribble art dan karya selotip. Ketika saya memperkenalkan karya itu, banyak vendor yang memesan desain kepada saya, salah satunya Kampung Desain Jakarta, dan berbagai pemilik distro t-shirt,” ujarnya.

Scribble ArtErwin menjadikan karya-karyanya sebagai peluang usaha yang cukup menjanjikan. Dengan bermodalkan aplikasi smartphone, ia mampu meraup penghasilan Rp 1 juta per bulan. Bahkan pemesan hasil karyanya hingga menembus Malaysia, Thailand, Abu Dhabi hingga Amerika Serikat.

“Alhamdulilah, dengan hasil karya ini, saya bisa membiayai kuliah dan kehidupan sehari-hari secara mandiri tanpa harus berpangku tangan kepada orang tua. Namun itu semua butuh perjuangan yang cukup panjang,” ujar pemuda asal Jember ini.

Nabila Rahma, Sukses Mengolah Banner Bekas Jadi Tas Cantik

Nabila Rahma menunjukkan salah satu produknya (anja)
Nabila Rahma menunjukkan salah satu produknya (anja)

MALANGVOICE – Ide menarik mengolah limbah barang bekas datang dari mahasiswi jurusan Ilmu Politik Universitas Brawijaya. Nabila Rahma, mahasiswi angkatan 2013, berhasil mengolah sampah dari banner menjadi peluang usaha yang menjanjikan, yaitu kerajinan tas/fashion.

Menurut Nabila, banner bekas sama seperti plastik lainnya, susah diurai sehingga cenderung mencemari lingkungan. Selain itu, sampah banner kebanyakan tidak dimanfaatkan dan dibuang begitu saja.

“Padahal bahan banner itu kuat dan kaku. Lalu muncul ide untuk mengolah banner jadi bahan tas,” katanya.

Nabila kemudian mulai membuat aneka jenis tas berbahan banner. Pengerjaan satu buah tas bisa memakan waktu 1-2 jam tergantug tingkat kesulitan. Dalam 1 minggu, Nabila bisa membuat 10-30 tas.

Bahan baku dia dapatkan dari membeli banner bekas di toko loak. Nabila juga butuh benang khusus untuk menjahit banner.

Meski baru direalisasikan sejak 2016 lalu, Nabila kini punya 2 pegawai untuk membantunya. Satu tas bisa ia banderol Rp 65 ribu hingga Rp 200 ribu. Nabila mempromosikannya lewat sosial media.

Bertahan dengan ‘Boso Jowo’ di Tengah Terpaan Globalisasi

Minardi saat nge-MC (anja)
Minardi saat nge-MC (anja)

MALANGVOICE – Di saat Bahasa Jawa hampir ‘menghilang’ di era globalisasi, ternyata masih ada orang di luar sana yang punya kesadaran dan tanggung jawab melestarikannya. Bahkan menggunakan Bahasa Jawa sebagai pundi-pundi rejekinya.

Dialah Agus Minardi. Pria yang kesehariannya bekerja sebagai security dan resepsionis di Universitas Brawijaya ini juga dikenal sebagai MC (naster of ceremony) Boso Jowo profesional.

Sejak kecil bapak dua anak ini memang menyukai seni tradisional bernuansa Jawa, seperti pertunjukan wayang kulit, ketoprak, campur sari dan karawitan.

“Sejak kecil saya sering diajak bapak saya nonton ketoprak. Waktu itu ketoprak Siswo Budoyo. Kok lama-lama jadi seneng. Apalagi kalo modern, ada campur sarinya,” katanya, saat ditemui MVoice di Gedung Rektorat UB.

Minaedi awalnya hanya bekerja sebagai guru honorer mata pelajaran di beberapa sekolah. Ia sempat berpindah-pindah sekolah selama 18 tahun, dari 1990 hingga 2008. Pertama ia menjadi guru olahraga di SD Sumbersari 4. Selanjutnya pindah ke SDN Merjosari 5, dan terakhir di SDN Tanjung Sekar 1.

“Kadang saya ngajar komputer dan radio juga,” tukas pria kelahiran Malang pada 1970 ini.

Setelah merasa cukup mencari pengalaman menjadi guru, barulah ia mencoba menggeluti bidang MC Boso Jowo khusus mantenan (pernikahan), dengan mengikuti pelatihan/kursus di Radio RRI dan dilatih budayawan dan MC senior di RRI, mbah Karno.

Keseharian Minardi (anja)
Keseharian Minardi (anja)

“Dari kecil memang sudah didorong sama bapak saya untuk bisa nge-MC. Waktu kecil pernah jadi MC Agustusan,” tambahnya tertawa malu.

Baginya, belajar bahasa Jawa susah-susah gampang. Ternyata banyak kosa kata baru yang belum ia mengerti. Namun ia pantang menyerah dan pada akhirnya memberanikan diri untuk terjun di dunia MC Boso Jowo sekaligus melestarikan bahasa Jawa.

“Kalau bukan kita siapa lagi!” kata dia, mantap.

Job pertamanya, menjadi MC Boso Jowo di kalangan keluarganya sendiri. Disitu, ia mendapat apresiasi yang luar biasa dari keluarga khususnya dari ayah.

“Mereka apresiasi sekali. Khususnya bapak saya sangat bangga. Seneng gitu kelihatannya, anaknya bisa nge-MC pakai bahasa Jawa,” lanjutnya.

Orangnya murah senyum dan ramah (anja)
Orangnya murah senyum dan ramah (anja)

Dari situ, Minardi kemudian direkomendasikan oleh keluarga ke para sahabat. Semakin lama, Minardi semakin terkenal dari mulut ke mulut. Banyak sekali yang meminta Minardi menjadi MC di acara hajatan khususnya hajatan yang bernuansa Jawa.

Saking banyaknya, kini Minardi hanya membatasi permintaan khusus hari Sabtu dan Minggu saja. Apalagi pekerjaan utama menjadi Security di UB menuntutnya untuk bisa membagi waktu.

“Ternyata masih banyak yang membutuhkan seorang MC Jowo. Alhamdulillah, ramai permintaan saat musim pernikahan. Saya berharap, di era Globalisasi ini tumbuh generasi muda yang berminat belajar bahasa Jawa. Kalau bisa ada anak muda yang punya skill MC Boso Jowo,” tutupnya.

Wedang Pokak Achmad Memang Beda dari Lainnya…

Achmad (kiri)
Achmad (kiri) (anja)

MALANGVOICE – Salah satu minuman Indonesia yang paling diminati saat musim hujan adalah wedang pokak, minuman khas Jawa Timur, terbuat dari serai, jahe, dan cengkeh, yang dicampur jadi satu. Dan kini mulai eksis di Kota Batu, serta menjadi peluang usaha menarik.

Adalah Achmad Yusni, yang berhasil menggawangi rumah produksi minuman pokak instan di Jalan Panglima Sudirman Gang 11 No 14, sejak 2012 lalu.

“Saya terinspirasi oleh Bandrek Bandung. Kalau lihat kondisi Batu yang cuacanya dingin, kayaknya harus ada minum yang menghangatkan dan sifatnya tradisional dan asli Batu,” kata Achmad, akrab ia disapa.

Wedang pokak instan
Wedang pokak instan (anja)

Pokak buatan Achmad berbeda dari yang lain. Terdiri dari beberapa varian rasa antara lain kopi, mix susu, original, dan cokelat. Masing-masing dibanderol Rp 12.500

“Karakter minumannya juga strong, gurih, dan punya banyak khasiat, seperti mengobati sariawan, meredakan batuk, hingga menurubkan kadar kolestrol, ” tambahnya.

Ia mengakui, pembuatan wedang pokak membutuhkan banyak eksperimen agar tercipta rasa yang pas dan khas. Ia sempat gagal beberapa kali dan membuang hasil percobaannya.

Selain itu, menurutnya masyarakat masih sering salah paham dengan istilah pokak.

“Mereka perlu edukasi, selama ini dikiranya terung pokak, padahal pokak ini istilah minuman, ” katanya.

Lebih lanjut, dengan fasilitas yang diberikan Dinas Koperasi, Usaha Kecil Menengah, Perindustrian dan Perdagangan (Diskoperindag) Kota Batu, wedang pokak Achmad kini sedang diproses untuk kepemilikan hak cipta.

Menurut rencana, wedang pokak ini akan dijadikan minuman wajib untuk segala pertemuan, rapat, kunjungan, dan event di kantor pemerintah Kota Batu.

Komunitas