Mbois! Puluhan Pemuda Ikuti Diklatsar Kokam, Begini Latihannya

Latihan baris berbaris
Latihan baris berbaris

MALANGVOICE – Puluhan peserta calon anggota Kokam (Komando Kesiapsiagaan Angkatan Muda Muhammadiyah) dibawah Pimpinan Pemuda Muhammadiyah Kota Malang melaksanakan diklat dasar di Dodik Bela Negara Rindam V/Brawijaya sejak kamis (26/1) sampai tanggal 29 Januari mendatang.

Ketua Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah Kota Malang, Ahmad Shobrun Jamil mengatakan kegiatan itu merupakan bagian dari syarat pemuda yang ingin menjadi Kokam Kota Malang. Ada 80 peserta tersebar dari lima kecamatan di Kota Malang.

“Tujuannya kami ingin angkatan pemuda Muhammadiyah ini punya wawasan kebangsaan yang bagus dan kesiapsiagaan yang tinggi menghadapi segala bentuk rintangan lokal maupun nasional,” paparnya.

Kegiatan pelatihan meliputi kegiatan lapang dan ruang. Kegiatan ruang meliputi kegiatan keagamaan seperti salat berjamaah dan salat tahajud, kajian untuk mengisi kultum, tentang ke-Islaman, ke-Muhammadiyaan, materi kebangsaan dari TNI, materi soal Proxy War.

“Materi outdoor meliputi pelatihan baris berbaris, tata upacara militer dan kedisiplinan. Kegiatan diklat akan diakhiri dengan pelantikan/ pengukuhan sederhana menjadi anggota Kokam,” imbuhnya

Mendaftar menjadi anggota Kokam harus memenuhi persyaratan seperti mempunyai rekomendasi dari pengurus masjid, atau pengurus cabang Muhammadiyah setempat.

“Syarat-syarat lain adalah sanggup mengikuti seluruh kegiatan yang kami laksanakan,” tukasnya.

Untuk diketahui, Kokam merupakan salah satu bidang dalam Pimpinan Pemuda Muhammadiyah. Tugas utama Kokam adalah menjadi satuan tugas Muhammadiyah yang siap diterjunkan di segala medan seperti bencana alam, bakti sosial, pengamanan pengajian akbar, dan sebagainya.

“Mereka menjadi satuan tugas pemuda yan menopang organisasasi di atasnya, yaitu Muhammadiyah,” tutupnya.

Harlah ke-77 Gus Dur: Merawat Ingatan, Sebarkan Keberagaman

Tokoh lintas iman saat hadir dalam acara Harlah ke-77 Gus Dur di Desa Sukolilo, Jabung.(Gusdurian for MVoice)

MALANGVOICE – Hari lahir KH Abdurahman Wahid biasanya cukup diperingati segenap keluarga besar. Namun, pada Harlah ke-77 Gus Dur, ada yang istimewa, Gerakan Pemuda Gusdurian (Garuda) Malang terlibat merayakannya.

Uniknya, perayaan Harlah Gus Dur dilangsungkan di desa, tepatnya di Balai Desa Sukolilo, Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang, Minggu (6/8) malam kemarin.

Sejumlah penampilan seperti pembacaan puisi, Musik Karinding, Tari Sufi, Tari Egrang dari Komunitas Anak Alam dan Tari Topeng Malang.

Dengan tema “Dari Desa Kami Bersuara ke-Bhinnekaan dan ke-Indonesiaan”.
Tokoh lintas iman, beberapa komunitas dan masyarakat sekitar larut dalam kegiatan yang berakhir pukul 22.00 WIB.

Koordinator Gusdurian Malang, Ilmi Najib, mengatakan, merawat tradisi sangat penting dan harus dilakukan.

Najib mengingatkan kembali keberadaan semboyan Bhinneka Tunggal Ika, berbeda-beda tapi tetap satu.

“Dari desa, mari bersama-sama kobarkan semangat Kebhinekaan,” katanya, saat berbincang dengan MVoice.

Ia memilih desa karena menilai rasa Kebhinekaan masyarakat masih kurang. Langkah ini sebagai awal untuk mengenalkan arti keberagaman.

Bahkan, masyarakat menyambut baik kegiatan ini. Kehadiran Barongsai menjadi daya tarik dan terbilang langka.

Dikatan Najib, banyak kalangan bersuara lantang akan Pluralisme. Namun, faktanya belum ada gerakan nyata bagaimana inti kebhinekaan dan menyebarluaskan di masyarakat.

“Indonesia tidak jauh dari gerakan dan nilai-nilai yang ditinggalkan Gus Dur. Yakni menjadi Indonesia snagat beragam dan menjaga persatuan,” jelasnya.

“Saya jadi ingat Gus Dur. Adanya beliau, mematikan sekat-sekat kebencian, sekat perbedaan. Dan tiadanya beliau menghidupkan persaudaraan, menghidupkan kerukunan. Semoga apa yang menjadi cita-cita Gus Dur ada dalam diri kita masing-masing,” kata Icroel, perwakilan warga Jabung.

Tradisi dan kebudayaan di Indonesia bermacam-macam. Sehingga, Harlah Gus Dur menjadi momen penting sebagai tempat berkumpul bersama, baik suku, lintas iman dan agama.

“Semuanya untuk kemanusiaan sebagaimana cita-cita Gus Dur,” ungkapnya.

Senada dengan Icroel, salah satu tokoh Konghucu, Bunsu Andon, sebagai warga harus memiliki kesadaran bahwa Indonesia adalah bangsa yang bhinneka. Dibutuhkan kerja keras dalam memperjuangkan bangsa Indonesia. Baginya, kemerdekaan harus dipertahankan sepanjang zaman.

Ditambahkan Ketua GP Ansor Jabung, Gus Azam. Dalam orasi kebangsaannya Gus Azam, mengungkapkan konsep kata ‘Rohmah’ dalam lafadz ‘Basmalah’ yang artinya kewelasan, belas kasih atau rahmat tuhan kepada manusia. Baik pemeluk Agama Islam dan agama lain.

Menurutnya, manusia diciptakan dengan berbagai macam suku dan budaya. Tujuannya ialah saling mengenal satu sama lainnya. Manusia sendiri berasal dari kata ‘Al-Insan’ yang maknanya harmoni.

“Bagaimana manusia bisa mewujudkan Indonesia. Rukun antara yang satu dnegan lainnya. Ada banyak pilihan, namum semuanya tetap memiliki jiwa dan jalan hidup yang sama,” pungkasnya.

Selain Harlah, Gusdurian Malang juga rutin memeringati Haul Gus Dur setiap tahun.


Reporter: Miski
Editor: Deny Rahmawan
Publisher: Yuliani Eka Indriastuti

Warga Donomulyo Sulap Limbah Kayu Jadi Lampu Hias Menawan

Nanang Setyawan (istimewa)

MALANGVOICE – Limbah kayu hanyut ternyata bisa dimanfaatkan sebagai bahan kerajinan pendulang rupiah. Seorang warga Kecamatan Donomulyo, Kabupaten Malang, Nanang Setyawan, kreatif membuat kerajinan lampu hias unik berbahan sampah-sampah kayu yang hanyut di bibir Pantai Jonggring.

Nanang mengawali bisnisnya didasari keinginannya membuat lampu untuk hiasan kamarnya, setahun lalu. Ternyata banyak orang tertaris dan seorang teman bahkan membeli lampu buatannyanya.

Lampu hias limbah kayu (istimewa)
Lampu hias limbah kayu (istimewa)

Ia pun memutuskan untuk memulai bisnis kerajinan lampu hias limbah kayu hanyut bernama Canthink_Lamp.

“Prospek di Malang juga cukup bagus, berhubung mulai banyak perumahan baru. Jadi kebutuhan hiasan rumah seperti lampu juga lumayan diminati,” katanya kepada MVoice.

Dikatakan, selama ini ia belajar sendiri cara membuat lampu hias. Ia juga bekerja sendiri. Biasanya ia mencari kayu hanyut di pantai waktu sore hari.

“Kebetulan rumah saya dekat dengan pantai yang masih perawan. Saya pilih kayu yang kuat-kuat saja dan bagus bentuknya,” tambahnya.

Variasi lampu yang ia buat bermacam-macam antara lain lampu meja, lampu lantai, dan lampu gantung. Satu lampu dibanderol Rp 125.000- Rp 500.000 tergantung tingkat kesulitan.

Karena keunikannya, lampu buatan Nanang pernah dikirim hingga ke Jakarta, Bali, Maluku dan Riau. Dalam sebulan, ia bisa meraup omzet Rp 4 juta.

“Karena saya masih bekerja sendiri, saya sedang butuh tim. Semoga saya bisa segera punya galeri di Malang,” tutupnya.

Bagi yang berminat dengan lampu buatan nanang, bisa mengunjungi media sosial Instagram username @canthink_lamp.

Fiorella, untuk Buket dan Box Bunga Cantik Wisuda

MALANGVOICE – Wisuda selalu identik dengan memberi buket bunga sebagai hadiah. Dialah Monica Audrey Jaya Suwana, yang mampu melihat peluang itu dengan menjual buket bunga cantik. Hingga ia mendirikan Fiorella.

Ide tersebut bermula dari keinginannya membuat buket bunga sendiri untuk wisuda temannya.

“Terus teman-teman suka dan mulai pesan ke saya. Setelah itu, saya posting foto bunganya di Instagram dan buka orderan untuk teman di Instagram saja. Apalagi Malang punya banyak kampus, jadi banyak wisuda juga,” kata perempuan yang sedang menempuh jenjang S2 Akutansi di Universitas Brawijaya ini.

Untuk pembuatannya, ia belajar via Youtube, Pinterest, dan Instagram. Ia sering memilih bunga-bunga seperti mawar, lily, hydragea, aster, krisan, baby breath, gerbera.

Namun, ia juga sering menemui kendala terutama dalam ketersediaan stock bunga.

“Karena bunga kan seperti buah. Kadang bulan ini adanya apa, beda dengan yang ada bulan depannya lagi. Di musim tertentu, kualitas bunganya kurang bagus,” tambah Monica.

Buket bunga yang dijual bervariasi, mulai dari box dan buket ukuran kecil, sedang, dan besar. Per-buket nya dibanderol kisaran Rp 135.000- Rp 350.000. Dalam sebulan, Monica, dibantu adiknya, menjual 40-70 buket bunga.

Karena awet hingga 3-5 hari, buket buatan Monica pernah beberapa kali dikirim ke luar kota seperti Jember, Kediri bahkan NTT.

Intip koleksi bunga buatan Claudia di akun Instagram miliknya @fiorellamlg

Muhammad Rizal, Mahasiswa ‘Ndeso’ Ini Pernah Bertandang ke Korea dan Gedung Putih AS

Muhammad Rizal bukan mahasiswa biasa. (Istimewa)

MALANGVOICE – Melanglang ke berbagai negara telah dilakoninya di usia muda. Muhammad Rizal, adalah salah satu dari kafilah (peserta) debat bahasa Inggris MTQ Mahasiswa Nasional 2017 dari Universitas Sumatera Utara. Rizal, begitu ia akrab disapa, dari awal kuliah sudah berprinsip, tidak akan mau menjadi mahasiswa biasa-biasa saja.

“Saya dari SMA sudah memiliki rencana ketika menjadi mahasiswa. Begitu pula dengan usaha dan doa selama ini,” tegasnya.

Memang benar adanya, laki-laki kelahiran Medan ini membuktikan pencapaiannya. Rizal merupakan mahasiswa berprestasi di kampusnya dan meraih berbagai beasiswa akademik maupun beasiswa pertukaran pelajar.

Salah satu gol terbesarnya yang tidak pernah ia duga ketika bisa memenuhi undangan Barack Obama ke Amerika di 2016. Melalui program The Young Southeat Asian Leaders Iniatiative (YSEALI) Academic Fellowship on Civic Engagement ia berkesempatan selama 5 bulan belajar mengenai history of America yang tentunya menambah rasa kecintaan pada Indonesia.

“Saya orang Indonesia belum berkesempatan ke istana Negara. Namun pengalaman pertama yang tidak terduga dan salah satu mimpi dari saya melihat dan merasakan berada di gedung putih,” katanya tertawa, saat ditemui di venue Qiro’ah Sab’ah.

Tentunya banyak usaha dan rintangan yang dihadapinya. Program YSEALI yang telah membawanya bertemu dengan mantan presiden negara adidaya, Barack Obama karena ketulusannya mengabdi hingga mendirikan Sultan Husada di Medan sejak 2014. Bergerak di ranah kesehatan di beberapa daerah dan panti di area Medan.

Tidak hanya itu, sebelumnya Muhammad Rizal juga pernah mengikuti program exchange ke Korea Selatan pada saat SMA yang bernama Indonesia Science Camp tahun 2012. Kemudian pada saat kuliah Program exchangenya yang pertama kali adalah delegasi Indonesian-Singapore Student Entrepreneurial 2016.

“Waktu ke Korea Selatan itu saya masih ingusan, ilmu juga belum banyak. Dari situlah saya sadar bahasa Inggris sangat penting,” ungkap Rizal.

Dibalik kesuksesannya itu, Muhammad Rizal mengakui bahwa dirinya tidak mudah untuk mencapai titik-titik mimpi yang sejak dulu ia tuliskan. Ia dibesarkan dari keluarga yang kurang mampu. Orangtuanya hanya bekerja sebagai montir truk. Bahkan untuk melanjutkan pendidikan di tingkat SMA saja, ia perlu usaha yang keras, karena pada saat itu biaya jenjang SMA terbilang mahal, apalagi ia mempunyai kembaran laki-laki yang harus sama-sama di sekolahkan.

Namun, dari berbagai jalan yang ia coba, mengikuti ajang beasiswa sana-sini akhirnya berhasil mendapatkan beasiswa penuh atau Full Scholarship dari SMA Unggulan CT Foundation milik pengusaha sukses Chairul Tanjung.

“Waktu itu saya memang agak susah untuk melanjutkan ke SMA, semua biaya mahal. Cuma, Allah punya rezeki yang lain,” kata Rizal.

Melihat pencapaian Rizal sampai sekarang ini yang begitu semangat dalam setiap kompetisi membuat keluarganya bangga dan menaruh harapan besar kepada Rizal untuk dapat mengubah kehidupan keluarga melalui pendidikan, paling tidak mengubah perekonomian keluarganya.


Reporter: Anja Arowana
Editor: Deny Rahmawan
Publisher: Yuliani Eka Indriastuti

Qori, Teller BRI yang Sukses Usaha Kerajinan Kotak Cincin

MALANGVOICE – Pernikahan memang identik dengan souvenir, mahar dan kotak cincin. Adalah Qori Puspitaningrum, yang berhasil mendulang Rupiah karena kerajinan kotak cincin custom unik buatannya.

Wedding Ring Box buatan Qori (istimewa)
Wedding Ring Box buatan Qori (istimewa)

Bermula dari keinginannya untuk membelikan kotak cincin untuk sahabatnya yang menikah namun terkendala biaya, ia pun memilih membuat kotak cincin sendiri.

“Rata-rata harga kotak cincin kan mahal, disitu saya tergugah untuk membuatkan teman saya. Saya melihat di internet dan media yang lain dan saya kembangkan warna dan bentuk bunganya,” ujar perempuan yang berprofesi sebagai Teller BRI ini kepada MVoice.

Selanjutnya ia iseng mengupload foto karyanya ke Instagram. Banyak orang mulai tertarik dan memesan. Ia pun melihatnya sebagai peluang menjanjikan untuk bisnis kerajinan kotak cincin.

“Saat ini orang tidak terlalu terpatok pada tanggal tertentu untuk menikah. Bisnis ini bisa berlanjut terus dan tidak musiman. Pengerajin kotak cincin di kota Malang juga belum banyak,” tambah Qori, akrab ia disapa.

Dijalankan sendiri, Moochikoo Wedding Ring Box, begitu karyanya disebut, bisa terjual hingga 40 box tiap bulannya. Lama waktu pengerjaan 1-2 minggu. Setiap kotaknya dibanderol mulai Rp 120.000 – Rp 135.000

Sejak Oktober 2015, sudah ada 100 box terjual. Rencananya, Qori mengembangkan kerajinannya untuk kalung, gelang, dan mahar.

“Passion saya memang di kerajinan tangan. Saya sudah berbisnis kerajinan sejak SMA. Saya juga punya lapak sendiri di pasar Minggu sejak 2013 dengan produk bros rajut,” tutup perempuan kelahiran 1991 ini.

Mbois! Karnaval Desa Jombok Ngantang Ajang Perkenalkan Budaya

Kemeriahan Karnival (istimewa)

MALANGVOICE – Kelompok Kuliah Kerja Nyata (KKN) 21 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ikut berpatisipasi dalam Karnaval Warga di Dusun Ngembul, Desa Jombok Kecamatan Ngantang Kabupaten Malang, siang ini.

Karnaval kecil yang diikuti oleh 20 peserta ini menampilkan banyak kreasi dan budaya. Mulai dari budaya tradisional seperti Kuda Lumping hingga yang modern seperti Club Aerobic warga sekitar.

Tak hanya orang dewasa saja, namun banyak anak-anak yang ikut meramaikan. Para siswa Play Group Tunas Bangsa Desa Jombok dan santri dari TPQ Miftahkul Ulum juga ikut memeriahkan kegiatan ini. Sejatinya, Karnaval ini adalah agenda tahunan dari Dusun Ngembul.

“Biasanya, warga mengadakan ini dalam memperingati bulan Besar menurut penanggalan Jawa,” ujar Kepala Dusun Ngembul, Yanto.

Yanto menambahkan, semua konsep berasal dari musyawarah warga Dusun Ngembul.

“Dibantu Linmas dan Karang Taruna daerah sini, acara ini selalu ramai. Bahkan ada peserta dari Jombang turut berpartisipasi,” imbuhnya

Antusias warga Dusun Ngembul dan sekitarnya sangat tinggi. Terbukti sejak pukul 10.00 WIB, warga sudah menunggu d pinggir jalan, rute dari karnaval meski terik matahari menyengat.

“Meski rutenya dekat dan pesertanya sedikit, antusias warga tidak pernah surut,” imbuhnya.

Masyarakat ikut memeriahkan acara (istimewa)
Masyarakat ikut memeriahkan acara (istimewa)

Koordinator Desa KKN 21 UMM, Wahyu Dwi Saputro, juga menyebutkan, dengan adanya kegiatan seperti ini, harapannya bisa melestarikan budaya daerah.

“Peserta KKN 21 ini kan tidak hanya dari daerah Jawa. Ada yang dari Kalimantan, Sumatera dan Nusa Tenggara. Jadi dengan partisipasi dari KKN 21 juga untuk mengenalkan budaya penduduk lokal,” ucapnya.

Selain sebagai ajang perkenalan budaya, ikutnya peserta KKN 21 UMM juga untuk pengabdian kepada masyarakat.

“Ya kami para peserta juga senang bisa turut andil dalam kegiatan warga, bisa mengenal lebih jauh mengenai budaya disini, juga bisa mengerti keadaan sosial,” imbuh Antoni, salah satu peserta KKN

Aji Prasetyo: Komik Itu Harus Mencerdaskan…

Aji Prasetyo

MALANGVOICE- Semua sudah tahu, Aji Prasetyo merupakan komikus asli Malang dengan prestasi segudang. Beberapa waktu lalu, tiga komiknya terseleksi untuk dipamerkan di Frankurt Book Fair, Jerman.

Pria gondrong berkacamata ini membuat komik bukan sebagai buka hiburan semata. Dia juga menyelipkan nilai-nilai yang bisa dipelajari masyarakat.

Komik pertamanya, ‘Hidup Itu Indah’ terjual habis 3.000 eksemplar di seluruh Indonesia pada cetakan pertama. Kontennya mengkritik kalangan fundamentalis, mengangkat kembali fenomena budaya, kehidupan, dan hal-hal yang dianggapnya salah dalam memahami sejarah.

Ditemui MVoice, ia menjelaskan, komiknya juga menceritakan alasan sebenarnya kenapa perang Diponegoro bisa meletus.

“Pelajaran sejarah di sekolah selama ini terkesan hanya untuk menghapal nama tokoh dan tanggal peristiwa saja. Itu yang membuat pelajaran sejarah membosankan dan terkesan tidak berguna,” katanya.

Sampul komik Hidup Itu Indah. (istimewa)
Sampul komik Hidup Itu Indah. (istimewa)

Padahal, sambung dia, sejarah itu penting untuk belajar, sebagai bekal menghadapi masa depan.

Ketua Lembaga Kajian Seni Budaya Universitas Islam Raden Rahmat Kepanjen ini menambahkan, pada buku pertama menjelaskan tentang intervensi asing yang berlebihan dalam mendominasi kebijakan politik, SDA yang dikeruk bangsa asing, penguasa yang hidup mewah dari menarik upeti ke rakyat yang kelaparan dan sebagainya.

Hal-hal seperti itulah yang menjadi penyebab meletusnya perang Diponegoro. “Lantas siapa yang berani menjamin bahwa hal itu tidak terjadi lagi saat ini? “Itulah, karena kita tidak pernah belajar dari sejarah,” kata dia.

Komik kedua, Teroris Visual, juga memiliki pesan-pesan yang hampir sama. Bagi Aji, sangatlah penting belajar dari leluhur, dimana mereka pernah mengatakan ‘tontonan kudu dadi tuntunan’.

“Artinya, seni harus punya muatan pencerdasan untuk pembacanya. Bukan sekedar hiburan,” sahutnya.

Lewat jalan seni, Aji ingin memperjuangkan bangsa ini agar semua elemen bangsa tidak terpengaruh niat dari pihak-pihak yang berusaha merusak tatanan di Indonesia.

Numani Senang, Lezatnya Nugget Berbahan Utama Rumput Laut Cocok untuk Diet

Nugget Rumput Laut yang sudah matang dan siap disantap (Anja Arowana)

MALANGVOICE – Sekelompok mahasiswa Universitas Negeri Malang (UM) baru saja menciptakan makanan olahan nugget Numani Senang berbahan utama rumput laut. Mereka adalah Tristanti Rakhmaningrum, Anggia Kususma, Respati Satriyanis, Umdatul Muftin, dan Vany Zuhriya Zain oleh bimbingan Dr Murni Sapta Sari MSi.

Tristanti mengatakan, bahan rumput laut yang mereka ambil berasal dari Kabupaten Pacitan, tepatnya di Kecamatan Ngadirojo yang memiliki potensi sumber daya alam prospektif khususnya bidang perikanan di kawasan pantai. Bukan hanya ikan, ternyata daerah tersebut punya komoditas rumput laut yang besar.

Kemasan Nugget Rumput laut (Anja Arowana)

“Produksi rumput laut bisa sampai 13 ribu kilogram lebih tahun 2010 lalu. Jenis rumput laut yang banyak di daerah Ngadirojo adalah Eucheuma cottonii. Sayangnya rumput laut disana dijual dalam bentuk bahan mentah. Jadi untuk peningkatkan nilai produk harus ada inovasi baru,” kata dia kepada Mvoice.

Kemudian, Tristanti dan timnya membuat nugget rumput laut dengan cara mengganti bahan utama daging sebagai nugget dengan rumput laut yang dihaluskan. Metode pengolahannya pun hampir sama dengan metode membuat nugget pada umumnya.

Rumput laut jenis ini, lanjutnya, selain mengandung karagenan yang tinggi, apabila dalam bentuk tepung dapat mengandung serat pangan total mencapai 91,3% berat kering dan iodium sebesar 19,4 µg/g berat kering

“Cocok buat diet lho, karena lemaknya rendah, ” tukasnya.

Hasil inovasi mereka pun berhasil didanai penuh oleh DIKTI dalam program PKM Nasional 2017. Mereka berharap mampu meningkatkan kualitas maupun kuantitas produk hasil olahan rumput laut yang dapat menjadi produk unggulan khas daerah Pacitan, membantu meningkatkan perekonomian masyarakat khususnya di Kecamatan Ngadirojo.


Reporter: Anja Arowana
Editor: Deny Rahmawan
Publisher: Yuliani Eka Indriastuti

Semula Iseng, Kini Gubuk Tulis Usung Misi Membumikan Budaya Baca dan Tulis

Tebar baca Gubuk Tulis di Taman Singha Merjosari. Kegiatan tersebut diharapkan menjadi stimulus bagi masyarakat agar gemar membaca.(Gubuk Tulis for Mvoice)

MALANGVOICE – Gubuk Tulis. Ya dua kata yang mungkin tak asing lagi dalam kurun 1,5 tahun belakangan. Komunitas Gubuk Tulis dicetuskan Februari 2016 lalu. Al Muiz Liddinillah dan Viki Maulana, sebagai pioner berdirinya komunitas ini.

Berlatar sebagai aktivis mahasiswa, keduanya prihatin atas pesatnya perkembangan media online dan media sosial. Terbesit di benak mereka untuk menggalakkan literasi media, sebagai penyeimbang derasnya informasi dan konten-konten yang dinilai kurang mendidik.

Mereka lantas membuat website sebagai wadah tulisan baik sumbangan dari kolega dan berbagai kalangan. Kegiatan berupa jagongan dari warung kopi ke warung kopi menjadi tradisi dan rutinitas Gubuk Tulis. Mulai diskusi seputar gender hingga isu-isu yang sedang hangat. Tak sedikit yang ikut nimbrung setiap acara Gubuk Tulis.

“Tema diskusi variatif. Tidak hanya soal gender saja,” kata Muiz, saat ditemui MVoice, di Warung Kopi Oase, dua pekan lalu.

Muiz dan Viki lebih dulu menghiasi website dengan tulisannya-sebagai pemantik penulis lain untuk menuangkan idenya. Menodong kolega dan kerabat agar menyumbangkan tulisan kerap dilakukan. Hingga akhir 2016, lebih 150 kontributor menyumbangkan tulisan ke Gubuk Tulis. Isu yang ditulis pun beragam, dikemas dengan sederhana dan mudah dimengerti, baik berupa opini maupun agenda literasi.

Selain jagongan, Gubuk Tulis juga melayani peminjaman buku bagi yang membutuhkan. Buku-buku yang terkumpul semula merupakan koleksi pribadi beberapa pegiat Gubuk Tulis, sebelum ada hibah dari para donatur. Koleksi buku saat ini tidak sekadar soal sosial, politik dan agama, tetapi juga ada buku bacaan buat anak sekolah.

Nama Gubuk Tulis sendiri dipilih karena lebih cocok sebagai wadah bagi penulis pemula dan tempat kumpul. Muiz mengakui apabila tidak ada kata terlambat dalam menulis. Menuangkan ide dan gagasan menjadi sebuah tulisan merupakan kegemaran sederhana yang bisa dilakukan siapapun. Orang merasa sulit dan takut menulis karena tidak terbiasa dan belum melakukan.

“Tidak ada kata menakutkan dalam belajar menulis. Buku kan identik dengan sederhana,” ungkapnya.

Gubuk Tulis aktif melakukan tebar baca atau buka lapak baca buku gratis di ruang publik, seperti di Taman Singha Merjosari. Kegiatan ini berlangsung massif hingga sekarang. Tebar baca dilakukan mulai pukul 15.00 WIB hingga pukul 17.00 WIB, satu minggu sekali. Khusus Bulan Ramadhan, tebar baca berlangsung hampir setiap hari.

Lambat laun antusiasme masyarakat meningkat drastis. Anak-anak sekolah yang biasanya sekadar bermain di taman pun mulai melirik buku-buku yang disediakan Gubuk Tulis.”Dulu buku-bukunya cocok ke mahasiswa, belum ada buku bacaan buat anak-anak. Sekarang, paling banyak anak-anak sekolah,” katanya.

Ia bersama pegiat Gubuk Tulis memiliki misi membumikan budaya membaca dan menulis di Indonesia. Berat memang, tapi, kata Muiz, harus dicoba dan dilakukan secara bersama-sama. Rendahnya minat membaca dan menulis menjadi masalah akut saat ini.

Sebagai mahasiswa akhir, Muiz dan Viki serta pegiat Gubuk Tulis lain merasa daya baca dan menulis mahasiswa masih rendah. Lantas bagaimana dengan masyarakat pada umumnya, jika mahasiswa saja enggan membaca, menulis dan melakukan riset!

Ditambah, kemajuan teknologi yang mendorong masyarakat, terutama kalangan pemuda lebih enjoy memainkan gadget, baik itu ngegame, maupun sekadar update status di media sosial. Pemandangan lazim ini bisa ditemui hampir di warung kopi. Hampir disetiap sudut warung kopi dipadati kalangan mahasiswa.

Ia mengistilahkan bahwa jagongan yang dikemas diskusi sebagai vitamin dan menulis adalah gizinya. Jagongan dengan safari dari warung kopi ke warung sengaja dilakukan untuk menebar virus literasi.

“Mimpi kami, setiap warung kopi di Malang nantinya diisi dengan hal positif, salah satunya disediakan buku bacaan. Seperti yang kami lakukan di Warung Oase. Selain tempat nongkrong, juga diisi dengan kegiatan keilmuan,”

Sambil berjalan, Gubuk Tulis terus berbenah dan merangkai kegiatan yang diharapkan bisa memikat hati mahasiswa dan masyarakat umum. Lahirlah kelas filsafat- filsafat jawa, gubuk justice dan ke depan akan ada kelas menulis.

Kegiatan yang dibuat Gubuk Tulis lebih pada penajaman wacana dan keilmuan, berbeda dengan yang diterima mahasiswa di kampus. Dengan harapan, mahasiswa kembali pada jati dirinya sebagai agen of change, agen of control dan perubahan.

“Untuk merangsang wacana mahasiswa, jangan hanya tahu berkoar-koar, tapi jarang baca dan menulis,” bebernya.

Senada dengan Muiz, Viki Maulana, mengutarakan bahwa lahirnya Gubuk Tulis tidak lepas dari kegelisahan pribadi. Pasang surut perjalanan Gubuk Tulis terekam jelas dibenaknya. Namun, berkat komitmen dan kerja keras semua pihak, Gubuk Tulis tetap eksis sampai sekarang.

Tidak sedikit yang mencibir keberadaan Gubuk Tulis. Mulai dari tudingan sekadar untuk sensasi semata, menilai keberadaan Gubuk Tulis tak akan bertahan lama sampai dipandang sebelah mata.

Awal kelahiran Gubuk Tulis, tambah Viki, butuh semangat berlipat dalam mengajak berbagai kalangan agar menyumbangkan tulisannya-tanpa sedikitpun iming-iming pamrih bagi penulis.

“Semula iseng aja. Tapi, peminatnya semakin banyak. Makanya kami niatkan untuk terus menebar virus literasi media di masyarakat melalui berbagai kegiatan yang kami sajikan,” pungkasnya.


Reporter: Miski
Editor: Deny Rahmawan
Publisher: Yunus Zakaria