Mahasiswa Diminta Tidak Golput

Massa pendukung calon pemimpin daerah saat simulasi kampanye berlangsung. (Muhammad Choirul / MalangVoice)

MALANGVOICE – Simulasi tahapan Pilkada yang digelar di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Brawijaya (UB), Kamis (3/9) siang ini, bertujuan untuk mengenalkan pesta demokrasi kepada mahasiswa baru.

Pembantu Dekan 3 FISIP UB, Achmad Muwafik Saleh mengatakan, mahasiswa perlu mempraktikkan proses demokrasi dengan baik. Apalagi, akhir tahun ini Pilkada serentak digelar di beberapa daerah.

“Kami ingin memgimbau agar mahasiswa tidak golput. Selain itu, simulasi ini untuk mengenalkan cara berkampanye yang damai,” kata pria asal Madura itu.

Dosen jurusan Ilmu Komunikasi UB itu berharap, mahasiswa ikut berperan agar Pilkada serentak akhir tahun ini berjalan lancar.

Sementara itu, salah seorang mahasiswa baru, Wahyu Dwi Ariyani mengaku senang bisa mengikuti simulasi tahapan Pilkada di sela pelaksanaan Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru (PKK-Maba).

“Ini sangat bermanfaat. Kami bisa tahu cara memilih pemimpin yang baik. Sebelum menggunakan hak pilih, harus tahu visi calon kepala daerah dulu,” tambah mahasiswi jurusan Psikologi itu.-

FISIP UB Gelar Simulasi Tahapan Pilkada

MALANGVOICE – Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Brawijaya (UB) Malang menggelar simulasi tahapan Pilkada. Simulasi itu dilaksanakan di sela Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru (PKK-Maba) FISIP 2015, Kamis (3/9) siang ini.

Tahapan itu meliputi penetapan calon, depat calon, dan kampanye. Sebanyak 5 calon ditetapkan sebagai calon bupati dalam simulasi ini.

Masing-masing calon memiliki massa pendukung yang berasal dari 1280 maba FISIP. Setelah penetapan, digelar sesi debat dan kampanye.

“Jika saya menjadi Bupati, saya akan meningkatkan kenyamanan masyarakat. Contoh mudahnya agar tidak mudah ada pertengkaran seperti konflik yang terjadi antara Malang-Surabaya. Saya akan mendamaikan mereka,” ujar salah seorang calon dalam sambutannya ketika sesi kampanye.-

Kepsek SDN Bandungrejosari 1 Dimutasi ke Bunulrejo

Kepala Dinas Pendidikan Kota Malang, Zubaidah. (deny/malangvoice)

MALANGVOICE – Kepala Sekolah (Kepsek) SDN Bandungrejosari 1 Malang, Puji Wahyuni dimutasi oleh Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Malang.

Kasek Puji Wahyuni dimutasi bersama 65 Kepsek lain mulai dari SD, SMP, SMA dan SMK se Kota Malang. Pelantikan dilakukan di Aula Disdik, Selasa (1/9). Ada 12 kepsek baru dan 53 kepsek mutasi.

Puji Wahyuni yang sempat tenar lantaran isu dugaan pungutan liar (pungli) tersebut, digeser menjabat Kepsek SDN Bunulrejo 1. Pengantinya berasal dari SDN Kauman 1, Didit Hardianto.

Kepala Disdik Kota Malang, Zubaidah mengatakan, mutasi kepsek ini bukan karena sebuah kasus seperti SDN Bandungrejosari 1 namun terlebih untuk penyegaran dan pemerataan.

“Banyak posisi yang kosong terutama di tingkat SD karena kepseknya sudah pensiun dan berbagai hal. Ini program pemerintah. Person yang bagus kami taruh di pinggir agar ada pemerataan saja,” ungkapnya saat ditemui dikantornya, Selasa (1/9).

Zubaidah belum bisa menentukan kapan kepsek yang baru dilantik tersebut bisa mulai kerja di tempat barunya. Alasannya, Pemerintah Kota (Pemkot) Malang belum merapatkan kesepakatan. “Masih dalam tahap serah terima dan pembuatan laporan,” singkatnya. –

Mahasiswa Difabel Tetap Ikuti Ospek UB

Mahasiswa baru UB yang mengikuti ospek. (Deny/malangvoice)

MALANGVOICE – Orientasi Pengenalan Kampus (Ospek) Universitas Brawijaya (UB), tetap mengikutkan mahasiswa barunya yang memiliki kekurangan fisik atau disabilitas.

Kepala Unit Informasi dan Kehumasan UB, Anang Sujoko mengatakan tidak ada keistimewaan bagi 10 maba penyandang kekurangan fisik yang ikut ospek mulai Selasa (1/9) hari ini hingga Kamis mendatang.

“Semuanya ikut seperti lainnya, cuma waktu apel pagi tadi kami posisikan di tempat khusus,” paparnya, Selasa (1/9).

Kesepuluh maba tersebut terdiri dari 5 jenjang S1 dan 5 jenjang Diploma. Anang menambahkan maba difabel tersebut dibantu oleh sukarelawan Pusat Studi Layanan Difabel (PSLD). “PSLD itu ada pelatihannya sendiri, ya dari mahasiswa sini sendiri,” terangnya.

Kampus UB sendiri berusaha memaksimalkan fasilitas untuk para disabilitas, mulai dari jalan hingga toilet. Anang mengatakan akan secepatnya memenuhi fasilitas tersebut, pasalnya UB adalah kampus favorit di Jawa Timur.

“Ada saran yang baik untuk memberikan fasilitas tersebut, kami berikan akses jalan. Tapi yang lainnya kami belum bisa memberikan secara khusus,” tandasnya.

Saat ini 12.492 maba UB sedang menjalani ospek di kampusnya. Mulai Kamis (3/9) barulah mereka akan dilepas kepada Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) tingkat fakultas masing-masing.-

Menunggu Janji Dinas Tak Kunjung Tiba

Radewa Wafadera PPS berkumpul bersama ayahnya, Bambang Subagio, dan ketiga adiknya. (fathul/malangvoice).

MALANGVOICE – Satu dari tujuh siswa lulusan SD yang terancam tidak melanjutkan sekolah adalah Dewa (13). Nama lengkap pemberian ibunya adalah Radewa Wafadera Putra Pratama Subabindian.

Almarhum kakek dan neneknya adalah prajurit militer angkatan darat yang disegani dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Suropati Batu.

Dewa saat ini hidup bersama ayah dan keempat saudaranya tinggal di sebuah rumah kontrakan yang terselip antara musala dan rumah juragannya. Maka dari itu, tidak heran bila mencari rumah mereka amat sulit.

Ditambah nama sang ayah, Bambang Subagio tidak dikenal di Kelurahan Sisir, Kecamatan Batu. Rata-rata orang mengenalnya dengan nama “bungsu”.
Menurut Bambang, nama “bungsu” sudah dikenal sejak dulu karena ia memang anak bungsu dari saudara-saudaranya.

MVoice berhasil menemukan rumah keluarga ‘Bungsu’ setelah berputar-putar di Jalan Imam Bonjol selama 1 jam lebih. Setelah menemukan Dewa dari anak-anak yang bermain di sana, barulah MVoice diajak ke rumah kontraknya di Gang 1 Nomor 7, RT 03 RW 2 Desa Sisir, Kecamatan Batu.

“Radewa ini anak pertama, maunya ya dia sekolah terus. Tapi dana tidak ada jadi bagaimana lagi,” ungkap ayah Dewa, Bambang Subagio kepada MVoice.

Ia menceritakan kalau Kepala Sekolah SD Negeri Sisir 4 di mana Dewa pernah sekolah, sudah datang ke rumahnya atas perintah Dinas Pendidikan. Kata kepala sekolah tersebut, pihak dinas akan datang untuk membicarakan solusinya.

Namun, hingga sekarang janji tersebut tidak ada jeluntrungnya. Padahal Dewa sudah mendaftarkan diri ke SMP PGRI 1 Kota Batu, dan mengikuti MOS pada hari pertama saja. Saat itupun Dewa hanya memakai pakaian SD karena tidak ada biaya membeli pakaian SMP yang baru.

“Saya menunggu dinas karena janjinya begitu, kata kepala sekolah juga saya tidak boleh ke mana-mana karena dinas akan datang. Tapi kalau mereka tidak datang, ya akan saya usahakan bagaimana caranya agar anak saya tetap bisa lanjut sekolah,” sambung pria 51 tahun ini.

Bambang memang hidup sendiri dengan keempat anaknya yang masih kecil-kecil, Radewa (13), Radit (9), Rachel (8), dan Aurora (5). Maka dari itu, Bambang mengaku kesulitan apabila hendak ditinggal kerja tidak ada yang menjaga, dan bila di rumah saja maka tidak ada uang untuk makan.

Bahkan, Aurora yang kini sudah waktunya masuk TK juga belum didaftarkan. Miris memang, di tengah pembangunan Kota Wisata Batu yang gencar, rupanya masih ada warganya yang tidak dapat sekolah dikarenakan persoalan biaya, padahal dana BOS sudah sejak lama digulirkan.-

Dindik Batu Kirim 40 Siswa Berprestasi ke Singapura

Kadisdik Kota Batu, Mistin. (fathul/malangvoice)

MALANGVOICE – Dinas Pendidikan Pemuda dan Olah Raga (Dindikpora) Kota Batu, telah menyiapkan reward berkunjung ke Singapura dan Malaysia kepada siswa berprestasi.

Reward siswa berprestasi sesuai keinginan Wali Kota Batu Eddy Rumpoko. Rencananya 40 siswa SD, SMP, dan SMA yang berprestasi diajak jalan-jalan ke dua negara tetangga itu.

Kadindikpora Kota Batu, Hj Mistin menjelaskan, biaya perjalanan siswa berprestasi sudah disetujui dan masuk dalam Perubahan Anggaran Keuangan (PAK).

Jika tidak ada perubahan, rombongan akan berangkat akhir September. “Kita sejak dulu memang rencananya setelah PAK, makanya mundur,” ungkap Hj Mistin, Senin (31/8).

Mistin menjelaskan 40 siswa ini berprestasi dalam berbagai bidang, baik pendidikan, olahraga, ataupun keterampilan lainnya.
Rinciannya, siswa yang mendapatkan nilai terbaik saat ujian nasional, pemenang perlombaan di tingkat provinsi maupun nasional dan prestasi lainnya.

“Ke luar negeri ini dalam rangka studi banding ke sekolah yang bermutu di sana, saya nggak hafal nama sekolahnya, tapi ini pasti yang terbaik,” jelasnya lagi.

Mistin memaparkan bila agenda itu sesuai dengan keinginan Wali Kota Batu, Eddy Rumpoko, sekaligus memberikan wawasan kepada siswa dan pendamping nantinya, untuk dapat belajar dalam studi banding tersebut.

“Kita mengapresiasi kerja keras siswa yang berprestasi. Jadi yang belum bisa ke luar negeri, bisa termotivasi untuk berprestasi sehingga bisa kita ajak ke luar negeri pada tahun berikutnya,” tutup Mistin.-

Tugas Guru TK Semakin Berat

Kepala Sekolah TK se Kota Batu saat ikut Workshop K13. (fathul/malangvoice)

MALANGVOICE – Tanggung jawab guru Taman Kanak-Kanak (TK) di Kota Batu bakal bertambah berat. Mereka harus berhasil dalam mendidik siswa sesuai dengan Kurikulum 2013 (K-13).

Hal itu terungkap dari Workshop K-13 dan Ice Breaker yang diselenggarakan Ikatan Guru TK Indonesia (IGTKI) Kota Batu di Aula Bima Sakti, Batu, Senin (31/8).

“Jadi kita sudah mulai sosialisasi soal K 13 kepada guru-guru TK. Nantinya kita berharap seluruh TK di Kota Batu dapat melaksanakannya,” kata Bendahara IGTKI Kota Batu, Suyati kepada wartawan, Senin (31/8).

Suyati menjelaskan K13 mulai diterapkan sejak tahun pelajaran baru di tahun 2015. Hingga saat ini, pelaksanaan pengajaran K13 tingkat TK sudah 30 persen dan akan terus ditingkatkan.

“Dalam K13 ini guru harus jadi mediator, sedangkan siswa aktif. Plus mengawasi anak untuk berkreasi. Kita optimis bahwa K13 dapat membawa dampak pendidikan lebih baik,” tandasnya.

Acara diikuti 270 Kepala Sekolah dan Guru TK se Kota Batu bekerjasama dengan Dindik Kota Batu dengan mengundang pemateri dari Dinas Pendidikan Provinsi Jatim.

Sementara itu, Kepala Diddikpora Kota Batu, Hj Mistin mengatakan, bahwa TK tidak diwajibkan untuk ikut K13. “Tidak ada kewajiban untuk TK, cuma mereka ingin tahu gitu saja sehingga diadakan workshop,” tutup Mistin.-

Tanpa Alasan Jelas, Nando Lebih Suka Ngarit

Ayah Nando, Kateni, di depan rumahnya. (fathul/malangvoice)

MALANGVOICE – Salah satu siswa Sekolah Dasar (SD) di Kota Batu yang enggan melanjutkan sekolah ke jenjang berikutnya, adalah Nando Novendra Marselino (12).

Remaja asal Desa Sumber Brantas, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu ini tidak punya motivasi untuk melanjutkan sekolah. Bukan karena biaya, sakit, atau keterbatasan lainnya yang menyebabkan Nando –demikian panggilannya– tidak bisa melanjutkan sekolah. Tetapi, Nando tidak ada alasan memilih tidak melanjutkan sekolah.

Saat MVoice berkunjung ke rumahnya di Jalan SMPN 05, RT 08-RW 02, Desa Sumber Brantas, Bumiaji, Nando sedang keluar. Sang ayah berusaha mencarinya ke rumah budenya dan temannya, namun Nando tidak diketemukan.

“Biasanya di rumah saja mas, jarang main keluar. Kalau masih sekolah ya cuman izin untuk belajar bareng saja,” kisah Kateni yang di rumah hidup berdua dengan Nando.

Udara di Desa Sumber Brantas cukup dingin karena ini adalah desa terakhir di puncak bukit. Bahkan sore pukul 17.25 WIB waktu itu, kabut mulai merambat dan jarak pandang berkurang.

Saat diminta bercerita mengenai Nando, Kateni tampak bersedih. Air mukanya berubah seperti menahan beban berat. Ia diam beberapa saat, mengambil nafas, lalu memandang keluar rumah.

“Nando sudah saya tanya, mau melanjutkan ke SMP mana? Tapi dia jawab, saya sudah nggak kuat pak, sudah nggak kuat mental,” tutur Kateni menceritakan percakapannya dengan Nando.

Padahal, Kateni sudah berusaha membujuk dan menakut-nakuti Nando agar mau bersekolah. Namun, setiap didesak untuk melanjutkan sekolah, Nando pasti terdiam lalu meneteskan air mata.

Jika sudah demikian maka Kateni akan mundur. Sebagai orang tua, ia merasa serba salah. Memaksa juga tidak bisa, namun membiarkan anaknya tidak bersekolah juga menjadi beban tersendiri.

“Padahal saya sudah tawari, dia mau sekolah di SMP mana saja boleh. Ke dekat sini boleh, di Bumiaji boleh, atau ke Batu. Tapi ya anak saya tetap nggak mau,” tukasnya.

Pernah suatu Nando mengutarakan niatnya untuk membantu bekerja orang tuanya kalau tidak sekolah. Apalagi selama ini, Nando juga turut membantu ayahnya mencari rumbut untuk makan ternak kambingnya.

Kateni mendiskripsikan jika Nando memiliki tubuh bongsor meskipun baru lulus SD. Saat ini Nando lebih tertarik ngarit rumput hingga satu karung sehari. Namun Kateni tidak menginginkannya karena sekolah bagi Nando lebih penting.

“Saya cuma buruh tani mas, makanya ingin anak saya bisa sekolah terus. Sekarang saya juga bingung mau bujuk Nando bagaimana lagi,” tutup Kateni dengan mata berkaca.-

Mistin Rayu Lulusan SMP Yang Putus Sekolah

Kadisdik Kota Batu, Mistin. (fathul/malangvoice)

MALANGVOICE – Selain 7 siswa SD yang terancam tidak lanjut sekolah, masih ada 86 siswa lulusan SMP di Kota Batu terancam tidak melanjutkan ke Sekolah Menengah Atas (SMA).
Karena itu, Kadindik Kota Batu. Hj Mistin merayu mereka untuk mau melanjutkan sekolah. ”Tahun ini ada 86 siswa, kalau tahun-tahun sebelumnya ada yang sampai 500-an siswa lho,” kata Mistin kepada MVoice, Sabtu (29/8).

Mengatasi hal ini, Mistin akan mengirimkan database siswa yang tidak dapat melanjutkan sekolah ini ke SMA/SMK di Kota Batu untuk mengajak dan merayu mereka agar mau sekolah.

Mistin berjanji menanggung seragam dan alat tulis dari bea siswa, karena biaya sekolah sudah gratis menggunakan dana BOS. Sementara transportasinya, akan dicarikan sekolah terdekat sehingga siswa bisa jalan kaki.

“Alasan mereka tidak mau sekolah itu ada yang nikah, ada yang bekerja, tidak punya biaya, bahkan ada yang tidak minat melanjutkan dan tanpa alasan. Kalau sakit nggak ada,” tambah Mistin.

Mistin menegaskan bahwa yang menjadi perhatian utamanya adalah siswa yang tidak punya biaya dan tidak punya alasan. Maka dari itu, Mistin nanti tidak mau tahu, bahwa SMA terdekat harus bisa merayu mereka.-

20 Hari Jalani Diklat, Maba Polinema Dikembalikan

Direktur Polinema, Tundung Subali. (Deny/malangvoice)

MALANGVOICE – Diklat kedisiplinan dan wawasan mahasiswa baru Politeknik Negeri Malang (Polinema), Sabtu (29/8) pagi selesai dan ditutup.

2682 mahasiswa baru tersebut dikumpulkan di Lapangan Rampal untuk upacara penutupan yang dipimpin langsung oleh Direktur Polinema, Tundung Subali dan dihadiri pula Danrem 083 Baladhika Jaya, Kolonel Inf Fajar Setyawan, Dandim 083 Letnan Kolonel Arn Aria Yudha, Wadan Pusdik Arhanud Letkol Arh D Arianto dan Kapolres Malang Kota, AKBP Singgamata.

Dalam sambutannya, Tundung mengatakan harapan dari diklat disiplin ini menjadi bekal bagi mahasiswa untuk menjalani kehidupan di kampus maupun lingkungan sekitarnya.

“Semoga adik-adikku bisa mengimplementasikan sikap dan tingkah disiplin di lingkungan sekitar, tidak hanya kampus,” katanya, Sabtu (29/8).

Mahasiswa baru tersebut telah menempuh diklat selama 20 hari di Rindam V Brawijaya, Pusdik Arhanud. Selain itu, lanjut dia, bisa meneruskan perjuangan para pahlawan.

“Meneruskan kemerdekaan itu bisa dilakukan dengan berbagai cara, salah satunya menciptakan inovasi dan karya,” imbuhnya.

Setelah upacara penutupan, baru mahasiswa memamerkan beberapa ilmunya selama mendapati pendidikan di militer, yakni tari dan baris berbaris.

Selanjutnya, para mahasiswa akan diliburkan untuk persiapan pengenalan kampus minggu depan.

“Tidak ada ospek, mungkin cuma 2-3 hari pengenalan kampus,” tutupnya.-

Komunitas