MALANGVOICE – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menegaskan komitmen pemerintah provinsi dalam meningkatkan efisiensi dan kualitas layanan kesehatan melalui konsolidasi pengadaan alat kesehatan (alkes) serta penguatan fasilitas rumah sakit. Hal ini disampaikan saat meresmikan Grand Paviliun di RSUD Dr. Saiful Anwar (RSSA), Rabu (22/4).
Khofifah menjelaskan, konsolidasi pengadaan alkes dilakukan dengan melibatkan berbagai rumah sakit, baik di Jawa Timur maupun lintas provinsi seperti Jawa Tengah dan Jawa Barat. Langkah ini dinilai mampu menekan harga sekaligus menjamin ketersediaan barang.
“Kalau kebutuhan alkes, misalnya ortopedi, kita konsolidasikan dengan rumah sakit lain. Jadi meskipun kebutuhan kita hanya terpakai 150 dari rencana 200 unit, harga tetap mengikuti kontrak awal yang lebih murah karena pembelian dalam jumlah besar,” ujar Khofifah.
Menurutnya, strategi tersebut tidak hanya diterapkan pada alkes, tetapi juga pada pengadaan obat-obatan. Ia bahkan memantau langsung proses konsolidasi hingga dini hari untuk memastikan efisiensi berjalan optimal.
“Efisiensi ini kita lakukan untuk semua kebutuhan rumah sakit, tidak hanya di Jawa Timur, tetapi juga bersama rumah sakit lain. Dengan begitu, harga bisa terkontrol dan ketersediaan barang lebih terjamin,” katanya.
Salah satu fokus utama adalah pengadaan infus, yang disebut Khofifah sebagai kebutuhan vital rumah sakit. Ia mengungkapkan pabrik infus dalam negeri yang berlokasi di Pasuruan akan segera mengembangkan lini produksi keempat pada 28 April mendatang.
“Kami mendorong adanya jaminan harga dan ketersediaan dari produsen. Misalnya, kita kontrak kebutuhan tertentu, meskipun yang terpakai hanya 80 persen, harga tetap sesuai kesepakatan awal,” jelasnya.
Khofifah menambahkan, langkah konsolidasi ini merupakan bagian dari upaya pembenahan tata kelola (governance) sektor kesehatan di Jawa Timur. Ia juga menyoroti capaian sejumlah rumah sakit daerah, termasuk RSSA yang memiliki keunggulan layanan laboratorium terintegrasi dan menjadi rujukan berbagai rumah sakit, bahkan dari luar provinsi.
“Setiap rumah sakit punya keunggulan masing-masing, baik kompetitif maupun komparatif. Ini yang terus kita dorong,” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, Khofifah juga meresmikan Grand Paviliun RSSA yang ditujukan untuk layanan pasien kelas menengah ke atas. Menurutnya, fasilitas ini penting agar masyarakat tidak perlu berobat ke luar negeri.
“Kalau kita tidak siapkan layanan dengan kualitas tinggi, mereka akan ke Singapura atau Malaysia, cukup di sini saja,” tegasnya.
Ia menilai Grand Paviliun RSSA telah memenuhi standar layanan modern dengan sistem terintegrasi, mulai dari ruang operasi, farmasi, hingga fasilitas penunjang lainnya dalam satu gedung.
Sementara itu, Direktur RSSA, Moch Bachtiar Budianto, menyampaikan, Grand Paviliun terdiri dari tujuh lantai dengan kapasitas total 124 tempat tidur. Saat ini, sebanyak 80 tempat tidur telah beroperasi.
“Gedung ini melayani pasien VIP dan VVIP. Dalam hampir satu tahun operasional, pendapatannya cukup menjanjikan dan membantu menyeimbangkan keuangan rumah sakit,” ujarnya.
Bachtiar menjelaskan, selama ini sekitar 90 persen layanan RSSA didominasi pasien BPJS. Dengan hadirnya Grand Paviliun, proporsi tersebut mulai berkurang.
“Dengan adanya pelayanan ini, maka layanan BPJS menjadi berkurang persentasenya, sekarang tinggal 85%,” katanya.
Fasilitas di Grand Paviliun mencakup rawat jalan, rawat inap (VIP dan VVIP), laboratorium, radiologi, ICU, kamar operasi, hingga layanan farmasi. Selain itu, pengadaan CT-Scan juga sedang dalam proses.
Ke depan, RSSA berencana mengembangkan layanan tambahan seperti estetika dan terapi stem cell, mengingat masih tersedianya ruang yang cukup luas.
“Potensi pengembangan masih besar. Kita juga akan menambah kapasitas tempat tidur hingga maksimal 124 unit, tentu dengan penyesuaian sumber daya manusia,” jelas Bachtiar.
Saat ini, RSSA memiliki lebih dari 3.000 tenaga kesehatan secara keseluruhan, dengan beberapa ratus di antaranya bertugas di Grand Paviliun. Jumlah tersebut masih akan ditingkatkan seiring pengembangan layanan.
Dengan berbagai upaya tersebut, Pemprov Jawa Timur berharap layanan kesehatan di daerah semakin berkualitas, terjangkau, dan mampu bersaing dengan fasilitas medis di luar negeri.(der)