Siswa MTsN 6 Peringati Sumpah Pemuda di Pasar

Pelaksanaan Peringatan hari Sumpah Pemuda di Pasar Kepanjen. (Toski D)

MALANGVOICE – Puluhan siswa-siswi MTs Negeri 6 Malang peringati Hari Sumpah Pemuda dengan cara unik. Pasalnya mereka memaknai Hari Sumpah Pemuda dengan melakukan napaktilas ke 90 bedak atau lapak pedagang yang ada di lokasi pasar Kepanjen, Sabtu (28/10).

Tepat di tengah-tengah pasar, para siswa-siswi berbaur bersama pedagang, yang dilanjutkan dengan membacakan isi teks Sumpah Pemuda oleh salah satu perwakilan pedagang. Mereka dengan khidmat mendengarkan bacaan teks Sumpah Pemuda tersebut.

Kepala MTs Negeri 6 Malang, Dr Sutirjo, menyampaikan, kegiatan ini selain dalam rangka peringatan Sumpah Pemuda juga untuk mengetahui kondisi ekonomi masyarakat secara tidak langsung.

“Sebanyak 20 siswa-siswi dengan memakai busana adat khas daerah di Indonesia. Kenapa diadakan di pasar? Supaya mereka paham tentang basis dasar ekonomi, mereka adalah tulang punggung ekonomi Indonesia sesungguhnya,” ungkapnya.

Dengan Peringatan Sumpah Pemuda yang digelar di pasar ini, lanjut Sutirjo, diharapkan dapat memacu generasi muda untuk terus menumbuhkan jiwa patriotisme.

“Kegiatan ini merupakan yang pertama kali dilakukan di pasar. Harapanya adalah, mereka harus melihat bahwa orangtua kita membangun konteks untuk cinta tanah air cukup sederhana. Agar mereka tertanam jiwa positif, karakter patriotisme, karakter untuk maju, supaya teknologinya, ekonominya maju dan hingga akhirnya kita menjadi negara yang unggul,” pungkasnya.

Sementara, pedagang yang membacakan isi teks Sumpah Pemuda, Hari Puji Astuti mengaku, kegiatan seperti ini baru pertama kali ada.

“Peringatan Sumpah Pemuda di pasar baru pertama kali saya lihat. kalau bisa upacara 17-an juga diadakan disini,” katanya.

Sebab, tambah Hari Puji, anak-anak muda saat ini jarang ada yang mengetahui kondisi di pasar tradisional. Ia berharap generasi muda bisa lebih berbakti dan taat pada orangtua.

“Anak zaman sekarang itu lebih abot sama HP. Kalau disuruh ini itu sekarang sulit,” pungkasnya. (Der/Ulm)