Sungai Brantas Darurat Limbah

Limbah Sungai Brantas Mengalir Jauh

Aktivis Ecoton ketika melakukan aksi memungut sampah popok di Sungai Brantas.(Ist)
Aktivis Ecoton ketika melakukan aksi memungut sampah popok di Sungai Brantas.(Ist)

Sebanyak 40 persen kebutuhan air di Jawa Timur berasal dari Sungai Brantas. Status Sungai Brantas yang tercemar berat mengancam kehidupan masyarakat. Pencemaran diakibatkan limbah domestik dan industri. Berikut liputan mendalam kolaborasi Wartawan MalangVoice.com, Miski dengan Wartawan Okezone.com, Hari Istiawan.

MALANGVOICE – Sejumlah aktivis Lembaga Kajian Ekologi dan Konservasi Lahan Basah (Ecoton) melangsungkan aksi pungut sampah popok di Sungai Brantas, akhir Juli lalu. Para aktivis mengenakan pakaian serba putih dilengkapi masker dan alat pelindung lainnya. Kampanye tersebut diawali dari hilir Sungai Brantas, terletak di Kota Surabaya dan berakhir di Kota Malang.

Tanpa canggung, rombongan yang terbagi dalam dua kelompok ini mulai beraksi. Dua orang turun ke Sungai Brantas yang sedang surut karena kemarau. Tepatnya di bawah Jembatan Muharto, Kota Malang. Mereka lalu mengambil popok bekas dengan tangan yang sudah terbungkus sarung pengaman.

Layaknya mengambil barang “berharga” di jalanan, satu per satu popok yang tersangkut tiang jembatan maupun di tepi sungai, dimasukkan dalam karung. Setelah penuh popok, dua orang lainnya yang berada di atas jembatan menarik karung tersebut dengan seutas tali, yang ditambatkan pada pengerek.

Popok-popok bekas ini lalu dibeber di trotoar jembatan sebelum dimasukkan ke dalam tong sampah yang mereka bawa. “Sampah di sini 85 persen popok bekas,” kata Prigi Arisandi, Direktur Eksekutif Ecoton, saat di jembatan Muharto, Kota Malang, akhir Agustus lalu kepada Malangvoice.com dan Okezone.com.

Prigi Arisandi menyampaikan, sebanyak 37 persen sampah di Sungai Brantas adalah popok bayi. Ia memperkirakan lebih dari satu juta popok bayi dibuang di sungai ini setiap hari. Angka itu didapat dari hasil survei yang dilakukan Ecoton pada awal Juli 2017.

Dari 100 responden yang tinggal di tepi sungai di wilayah Sidoarjo, Surabaya, dan Gresik, sebanyak 89 persen responden menyatakan membuang limbah popok di tepi sungai. “Apabila meleset saat membuang ke tepi sungai, dan atau hujan turun, limbah popok masuk ke sungai. Apalagi jika terjadi banjir,” kata Prigi.

Dari beberapa komentar responden, lanjut Prigi, model pembuangan popok yang sering dilakukan adalah dengan membuangnya secara bongkokan alias membungkus beberapa popok sekali pakai dalam kantong plastik. Biasanya satu kantong berisi lebih dari 6 buah popok kotor karena tinja dan urine bayi. Sebanyak 75 persen sisanya lebih suka membuang satu persatu. Masih menurut survei Ecoton, sebanyak 61 persen narasumber mengaku menggunakan lebih dari 4 popok sekali pakai per hari. Sedangkan 36 persen menggunakan 2-4 popok sekali pakai per hari. Prigi mengatakan tingginya penggunaan tampon bayi, yang tidak diikuti dengan sarana penampungan dan pengelolaan limbah ini, menambah beban lingkungan yang sudah ada.

Berdasarkan data BPS Jatim (2015), populasi anak di bawah usia 5 tahun adalah sebesar 2.929.890 anak, yang merupakan pasar potensial bagi produk popok sekali pakai Jawa Timur. Dengan asumsi setidaknya 42.16 persen populasi penduduk Jatim tinggal di wilayah Sungai Brantas (BBWS Brantas, 2011), dan penggunaan minimal 4 popok per hari, maka setidaknya ada 4.940.966 popok bekas pakai per hari yang mencemari sungai ini. (Lihat tabel)

Data BPS Jatim 2015
Tahun Jumlah Penduduk < 5th Tinggal di WS Brantas (%) Penggunaan Popok/hari Jumlah
2015 2.929.890 42,16 4 4.940.966

Tidak ada data yang jelas terkait besaran diapers bekas pakai yang masuk ke tempat pembuangan akhir (TPA) atau yang yang masuk ke sungai. “Tapi hasil evakuasi popok bekas pakai selama tiga hari yang dilakukan Ecoton di beberapa titik terkumpul 2,5 kuintal popok bekas pakai yang berhasil diangkat dari sungai,” kata Prigi dengan nada suara agak besar dari sebelumnya. Sebenarnya tak hanya sampah popok bekas bayi saja yang menghiasi Sungai Brantas mulai hulu hingga hilir. Penelitian Ecoton pada awal Juli 2017 yang dilakukan dengan melakukan transek ukuran 1×1 meter terungkap, ada empat jenis sampah yang berhasil diklasifikasikan satu meter persegi itu. Metode transek adalah pencuplikan contoh populasi, salah satu metode pengukuran yang paling mudah dilakukan, namun memiliki tingkat ketelitian dan akurasi lebih tinggi.

Klasifikasinya dibedakan menjadi empat kelompok. Kelompok pertama terdiri dari tas kresek, tali raffia, sachet, bungkus mie atau snack, botol plastik dll. Sedangkan kelompok kedua adalah popok bayi. Kelompok ketiga limbah organik seperti sayuran, daun, buah atau kulit pisang, sisa makanan, dan bangkai binatang dan kelompok keempat berupa material keras organik atau nonorganik seperti bolam, karet, kain, mika, kaca.

Penelitian klasifikasi sampah yang menumpuk dan mengapung ini dilakukan di Kali Surabaya, sepanjang daerah Karang Pilang, Jagir, Kayun dan Gunungsari, hilir dari Sungai Brantas. Simpulan yang dihasilkan, pencemaran yang muncul sebagian besar atau 43 persen sampah plastik, 37 persen popok bayi. Sedangkan sampah organik sejumlah 7 persen dan 13 persen sampah lain-lain.

Popok masih menjadi komponen yang kasat mata menjadi penyumbang signifikan dari pencemaran sungai. Padahal sampah jenis ini membutuhkan waktu terurai selama 400 tahun. Selain itu bahan kimia yang digunakan dalam popok sekali pakai sangat berbahaya ketika mencemari Sungai Brantas.