Pemkot Malang Gelar Vaksinasi Tahap Pertama, Sutiaji Minta Masyarakat Tak Khawatir

Wakil Wali Kota Malang Sofyan Edi Jarwoko saat disuntik vaksin CoronaVac, buatan Sinovac Beijing pada Kamis, (28/1) pagi. (Foto: MalangVoice)

MALANGVOICE – Vaksinasi COVID-19 tahap pertama dilaksanakan Pemerintah Kota (Pemkot) Malang pada Kamis (28/1) pagi. Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Malang, I Made Riandiana Kartika menjadi orang pertama yang disuntik vaksin CoronaVac.

Sebelum divaksin, Made tampak melakukan beberapa prosedur. Di antaranya melakukan pengecekan administrasi hingga screening kesehatan untuk mengetahui apakah ada riwayat penyakit atau kendala lainnya.

Setelah itu, dia langsung menuju lokasi penyuntikan vaksin yang sudah ditunggu dua petugas Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang. Sementara, Wali Kota Malang Sutiaji tampak mendampinginya di sisi samping kiri untuk melihat proses vaksinasi.

Sementara, dalam sambutannya, Sutiaji meminta masyarakat tidak perlu khawatir dengan vaksin buatan Sinovac, Beijing itu. Dia menyampaikan masyarakat juga akan mendapatkan giliran untuk disuntik vaksin, selain tenaga kesehatan.

“Masyarakat tidak perlu khawatir, semuanya akan dapat (vaksin) nanti. Kemudian, kami hadirkan semua tokoh masyarakat dan pejabat sebagai ikhtiar untuk menekan penyebaran COVID-19,” ujarnya.

Sementara itu, Plt Kepala Dinkes Kota Malang, Sri Winarni menyampaikan vaksinasi akan langsung dilakukan kepada tenaga kesehatan (Nakes) secara bertahap di 84 Fasilitas Layanan Kesehatan (Fasyankes).

“Setelah ini vaksinasi akan dilakukan kepada tenaga kesehatan hingga akhir Februari 2021. Tempatnya di 48 fakses yang ada,” kata dia.

Sebagaimana diketahui, vaksinasi tahap pertama secara simbolis ini dilakulan kepada 12 pejabat publik serta sejumlah tokoh agama dan masyarakat. Diantaranya Ketua DPRD Kota Malang I Made Riandiana Kartika dan Wakil Wali Kota Malang Sofyan Edi Jarwoko.

Kemudian, Kepala Kejaksaan Negeri Kota Malang, Andi Dharmawangsa, Dandim 0833 Kota Malang Letkol Arm Ferdiyan Primadhona dan Ketua Pengadilan Negeri (PN) Malang Nuruli Mahdilis.

Selanjutnya, ada dari Perwakilan dokter dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Malang Raya dr Djoko Heri Hermanto, Persatuan Gizi Kota Malang Rosidah Inayati.

Sementara, perwakilan dari tokoh agama atau organisasi keagamaan ada Wakil Ketua PD Muhammadiyah Kota Malang Baroni serta Ketua PCNU Kota Malang Isroqunnajah.

Tidak hanya itu, perwakilan influencer Gilang Widya Pramana serta kelompok disabilitas tunanetra, Anjar Rahmansyah juga menjadi orang yang ditunjuk untuk disuntik vaksin Sinovac tersebut.(der)

Forkopimda Kota Batu Rasakan Vaksinasi Tidak Ada Efek Samping, Seperti Digigit Semut

Forkopimda Kota Batu duduk selama 30 menit setelah divaksinasi (Aan)

MALANGVOICE – Kota Batu jalani vaksinasi tahap pertama pada hari Kamis (28/01) pukul 8.30 WIB. Sebanyak 8 Forkopimda Kota Batu dan satu tokoh milenial yang cicipi vaksin di Pendopo Rumah Dinas Wali Kota Batu.

Selain di Pendopo Rumah Dinas Wali Kota Batu vaksinasi untuk nakes juga dilakukan secara serantak di tempat yang telah ditunjuk Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batu. Yakni, Puskesmas Batu, Puskesmas Sisir, Puskesmas Bumiaji, Puskesmas Junrejo, Puskesmas Beji dan RS Bumiaji.

Setelah divaksin Forkopimda Kota Batu mengungkapkan tidak ada efek samping yang dirasakan. Mereka tetap sehat dan bergas seperti biasanya.

“Waktu disuntik memang ya seperti digigit semut, tapi setelah itu tidak ada efek samping yang gimana-mana. Namun karena saya belum sarapan jadi yang saya rasakan sekarang adalah lapar,” jelas Wali Kota Batu Dewanti Rumpoko.

Selain Wali Kota Batu Kepala Kejari Kota Batu, Supriyanto juga melakukan pencanangan vaksinasi di tempat tersebut. Ia juga sependapat dengan Dewanti.

“Ya ketika disuntik seperti digigit serangga tapi ya itu nggak papa. Tapi setelah itu sampai sekarang saya tidak merasakan apa-apa,” jelasnya.

Ketua DPRD Kota Batu, Asmadi juga sependapat ia mengatakan bahwa dirinya tidak merasakan apa-apa. Idem, Sekda Pemkot Batu juga mengatakan demikian.

“Yang tidak nyaman itu ketika di swab, saya mau bersin susah dan geli juga. Sampai air mata saya keluar dengan sendirinya,” jelas Zadim disambut tertawa.

Dalam vaksinasi tahap pertama ini Forkopimda Kota Batu menyatakan bahwa vaksin ini aman. Sehingga jika saatnya tiba masyarakat mencoba tidak perlu merasa ragu lagi.(der)

Dewanti Terima Vaksin Pertama di Kota Batu

Wali Kota Batu, Dewanti Rumpoko divaksin (Aan)

MALANGVOICE – Kamis (28/01) pukul 08.30 WIB menjadi hari yang sangat berarti bagi Kota Batu. Betapa tidak? Pencanangan vaksin telah dilakukan di Pendopo Rumah Dinas Walik Kota Batu.

Sebanyak 10 Forkopimda beserta tokoh masyarakat divaksinasi secara bergantian. Antara lain ialah Wali Kota Batu, Dewanti Rumpoko, Ketua DPRD Kota Batu, Asmadi, Kepala Kajari Kota Batu, Supriyanto.

Kepala Dinas Kesehatan Kartika Trisulandari, Kabid Pelayanan Sumber Daya Kesehatan Icang Sareazin, Perwakilan Generasi Milenial Yoni, Sekda Pemkot Batu Zadim Effisiensi, Danpoltekad Jendral Nugroho Gumelar.

Wali Kota Batu, Dewanti Rumpoko menjelaskan bahwa hari ini adalah pencanangan vakskn di Kota Wisata Batu. Ada 10 tokoh yang divaksin dan 200 nakes secara serentak.

“Selain di Pendopo Rumah Dinas, ada 4 puskesmas dan 1 rumah sakit yang melakukan vaksin juga. Keempat puskesmas dan satu rumah sakit itu melakukan vaksinasi untuk 200 nakes,” jelas Perempuan yang divaksin pertama kali di Kota Batu itu.

Dewanti mengatakan bahwa besok vaksin yang ke dua datang lagi. Ia brrharap tahun ini masyarakat indonesia tervaksin dan kita bisa normal lagi.

“Sehingga kita bisa berkegiatan, beribadah dan bekerja seperti sedia kala. Semoga keadaan segera bisa pulih dan normal kembali,” harapnya.

Setelah divaksin ia mengatakan bahwa rasanya hanya seperti digigt semut. Setelah 30 menit duduk menunggu vaksin bekerja ia mengatakan belum merasalan apa-apa.

“Selama duduk di sana selama 30 menit saya tidak merasa apa-apa. Tapi karena saya belum makan saya merasa lapar,” jelasnya sambil tertawa.

Ia betharap kepada seluruh pihak bahwa dengan adanya vaksin ini bukan berarti bisa bersantai-santai dan abai. Kepatuhan terhadap protokol kesehatan harus tetap dijaga.

“Vaksin ini merupakan usaha untuk pencegahan. Namun kedisiplinan menjaga protokol kesehatan covid-19 tetap harus ditegakkan,” tandas Dewanti mewanti-wanti.(der)

Vaksin Covid-19 Diterima, Dinkes Kota Malang Upayakan Percepat Vaksinasi

Vaksin Covid-19 tiba di Dinkes Kota Malang. (deny rahmawan)

MALANGVOICE – Enam box vaksin Covid-19 dengan total 10.204 dosis tiba di Kota Malang pada Senin (25/1) sekitar pukul 18.00 WIB. Seluruh vaksin Sinovac itu disimpan di ruang khusus vaksin Dinas Kesehatan Pemkot Malang.

Distribusi vaksin diantar mobil box Biofarma dengan kawalan ketat mobil polisi dan kendaraan rantis dari Brimob.

Plt Kepala Dinas Kesehatan Kota Malang, Sri Winarni, mengatakan, seluruh vaksin ini dimasukkan ke dalam tiga box khusus dengan treatment sesuai standar.

“Ada tiga box dan satu cadangan kami sediakan dengan rata-rata ada yang muat 3.000 sampai 3.500 vaksin. Vaksin Sinovac ini disimpan dengan suhu 2-8 derajat, kami siapkan sejak awal,” ujarnya.

Selain itu, Dinkes sudah menyiapkan jenset agar aliran listrik untuk pendingin bisa stabil sekaligus antisipasi listrik padam.

Sri Winarni mengatakan, di Kota Malang sudah mengajukan update penerima vaksin sebanyak 13.310 tenaga kesehatan. Namun, yang prioritas menjadi sasaran hanya 10.204.

“Sehingga jumlah diterima sesuai target sasaran, yakni 10.204,” lanjutnya.

Penerimaan vaksin ini mengindikasikan proses vaksinasi bisa segera dilakukan. Sri Winarni mengaku masih menyiapkan vaksinator dari puskesmas maupun RS Saiful Anwar.

“16 Puskesmas sudah ada masing-masing dua nakes. Hari ini sampai lima hari ke depan ada tambahan tiga vaksinator. Di RS saiful anwar ada 10 orang, nanti ada juga yang melakukan OJT beberapa vaksinator yang belum ikuti pelatihan,” lanjutnya.

“Soal vaksinasi sedang kita jadwalkan, pengajuan dipercepat saat ini dijadwalkan ke faskes-faskes,” katanya.

Sementara itu, pengamanan penyimpanan di ruang vaksin Dinkes Kota Malang diperketat. Kapolresta Malang Kota Konvensi Leonardus Simarmata, menerjunkan belasan personel menjaga ruangan steril selama 24 jam.

“Mulai hari ini pengamanan, personel shift 12 jam bergantian,” tegasnya.(der)

Kota Batu Mulai Vaksinasi pada 28 Januari

Alokasi Vaksin di Puskesmas Batu (Aan)

MALANGVOICE – Alokasi vaksin Kota Batu sampai di Gudang Puskesmas Batu, Desa Pesanggrahan, Kota Batu, Senin (25/01). Sebanyak 1.280 vaksin diterima oleh Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batu.

Pada tahap pertama ini 630 nakes dan 10 Forkopimda Kota Batu yang diprioritaskan untuk lakikan vaksinasi. Satu orang harus divaksin dua kali agar mendapat antibody yang diinginkan. Maka dari itu hanya 640 saja orang yang divaksin pada tahap pertama ini.

Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Kota Batu dr Susan Indahwati mengatakan bahwa pelaksanaan vaksinasi dimulai pada hari Kamis (28/01). Pelaksana vaksinasi ini dari Puskesmas Batu dibantu tenaga spesialis penyakit dalam dan emergency dari RSU Karsa Husada Kota Batu.

“Pelaksanaan itu diikuti serentak di 4 puskesmas lain dan RS Baptis di hari yang sama dengan yang dilaksanakan di Rumah Dinas Walikota,” jelasnya.

Selanjutnya, vaksinasi akan dilakukan di 9 faskes yang ditunjuk sebagai pelaksana vaksinasi covid-19. Dengan sasaran nakes prioritas, seperti petugas ICU, petugas ruang isolasi, petugas ruang pinere, petugas IGD, petugas shelter, dan petugas tracing.

“Vaksinasi ini dilakukan dua kali yang kedua ini sebagau booster untuk peningkatan antibody terhadap virus covid-19, untuk yang kedua dilakukan 14 hari setelah vaksinasi yang pertama,” imbuhnya.

Dinkes Kota Batu berharap dalam minggu depan vaksinasi tahap pertama suntikan pertama di Kota Batu selesai dilksanakan.(der)

Dinkes Kota Batu Siap Lakukan Vaksinasi, Tinggal Tunggu Distribusi

Simulasi Vaksinasi di RS Baptis (Aan)

MALANGVOICE – Pada tahap pertama vaksinasi, Kota Batu akan memiliki 76 tenaga vaksinator yang telah terverifikasi. Seiring berjalannya waktu jumlah itu akan terus ditingkatkan untuk menunjang layanan vaksinasi di Kota Batu di sembilan fasilitas kesehatan.

Sembilan faskes yang ditunjuk sebagai penyedia layanan vaksinasi di antaranya RS Karsa Husada, RS Hasta Brata, RS Etty Asharto, dan RS Baptis. Serta lima puskesmas di Kota Batu. Dijadwalkan vaksinasi di Kota Batu akan dilakukan pada Februari nanti.

Kepala Dinkes Kota Batu, Kartika Trisulandari mengatakan, pihaknya juga menyiapkan tim Komisariat Daerah Kejadian Ikutan Paska Imunisasi (Komda KIPI). Komda KIPI terdiri dari dokter spesialis untuk menangani keluhan kejadian pasca imunisasi.

Ia juga menjelaskan, dalam setiap vaksinasi tak jarang bisa menimbulkan efek samping. Yang biasanya disebut dengan KIPI (Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi). “Jadi setiap ada sesuatu yang dimasukkan ke dalam tubuh kita. Terkadang bisa menimbulkan reaksi-reaksi tertentu dari setiap individu yang berbeda,” ungkapnya.

Untuk kejadian KIPI yang paling banyak timbul ini contohnya seperti demam, kemudian juga terjadi pembengkakan di sekitar area penyuntikan. Namun untuk jenis vaksin yang digunakan ini, berdasarkan uji klinis tahap tiga beberapa waktu lalu. Tidak ada laporan efek samping yang berat.

“Untuk meningkatkan keamanan, di Kota Batu juga telah membentuk Kopda (Komisariat Daerah) untuk penanganan KIPI. Berisi dokter-dokter spesialis. Yang akan menangani pasien-pasien jika setelah dilakukan vaksinasi mengalami kejadian yang tak diinginkan,” papar dia.

Ia berharap, di Kota Batu tak ada yang melakukan penolakan terhadap program vaksinasi ini. Karena program itu adalah program dari pemerintah. Yang mana harus dipatuhi, demi kebaikan bersama.

Prioritas utama dalam program vaksinasi ini adalah masyarakat yang berusia 18-59 tahun. Seperti yang dijelaskan oleh Kartika pemilihan usia itu berdasarkan range usia yang merupakan memiliki jumlah populasi terbesar.

“Dengan dilakukannya vaksinasi pada komunitas sebesar itu. Kami berharap kekebalan tubuh bisa terbentuk. Sehingga bisa saling melindungi antar setiap kelompok,” katanya.

Diketahui untuk program vaksinasi pada Februari nanti, Kota Batu mendapat 1680 ampul vaksin. Pemberian vaksin akan dilakukan dua kali dengan interval waktu 14 hari dari penyuntikan pertama. Sebanyak 1662 ampul vaksin dibagikan kepada 840 nakes. Sedangkan 10 ampul vaksin diberikan kepada lima pejabat forkompimda.

Menyambut pelaksanaan vaksinasi, terlebih dulu dilakukan simulasi yang digelar di Rumah Sakit Baptis Kota Batu pada Rabu lalu (13/01). Simulasi ini untuk memastikan kesiapan di Kota Batu.

Dalam pelaksanaan vaksinasi, BPJS Kesehatan diberi amanat untuk melakukan pendataan penerima vaksin melalui aplikasi P-Care (Primary Care). Pendataan itu meliputi daftar penerima, skrining hingga penerbitan kartu vaksin.

Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Komisariat Kota Batu, dr Susana Indahwati menjelaskan alur dari vaksinasi Covid-19. Tahap pertama, penerima vaksin harus melakukan registrasi.

“Sebelum melakukan vaksinasi. Teman-teman dan masyarakat akan mendapatkan SMS dari KPC PEN. Setelah mendapat SMS itu, selanjutnya diwajibkan untuk menunjukkan SMS itu sebagai e-ticket vaksinasi,” ujarnya.

Diwajibkannya menunjukkan SMS itu bertujuan agar petugas dapat memastikan. Apakah orang tersebut benar-benar terdata dalam sasaran vaksinasi. Setelah registrasi, kemudian dilanjutkan menuju proses screening.

“Disitu masyarakat akan dilihat kondisi kesehatannya apakah bisa dilakukan vaksinasi atau tidak. Setelah screening selanjutnya diarahkan langsung pada tahap imunisasi,” jelas Susan.

Pada tahap itu, kata dia, akan dilakukan pemantauan suhu vaksin. Jadi vaksin yang akan diberikan adalah vaksin yang betul dan telah memenuhi standar suhu. Yang telah disyaratkan, yakni bersuhu sekitar 2-8 derajat. “Setelah dari tahap imunisasi, selanjutnya masyarakat yang sudah dilakukan vaksinasi akan diarahkan ke meja 4 atau di area 4,” jelasnya.

Di lokasi itu pasien akan dilakukan monitoring dan observasi selama 30 menit. Hal itu bertujuan untuk melihat apakah akan timbul efek samping atau tidak pasca dilakukan vaksinasi.

“Sementara itu untuk satu kali pelayanan vaksinasi akan memakan waktu kurang lebih 40 sampai 45 menit. Ini karena proses monitoringnya saja telah memakan waktu 30 menit,” terang dia.(der)

Pendataan Pasien Covid-19 di Kota Batu Berbeda-beda, Ini Alasannya

Kepala Dinkes Kota Batu, Kartika Trisulandari (Istimewa)

MALANGVOICE – Kota Batu dinilai salah satu Kota di Jawa Timur yang persebaran covid-19 begitu pesat. Pasalnya hingga saat ini Kota Batu belum pernah menyentuh zona hijau.

Tingginya angka penularan Covid-19 di Kota Batu karena perbedaan metode perhitungan. Kepala Dinkes Kota Batu, Kartika Trisulandari mengatakan untuk mengukur reproduksi efektif digunakan beberapa macam perhitungan.

Komponen perhitungan yang digunakan Dinkes Kota Batu hanya memasukkan data terkonfirmasi positif saja. Sedangkan Satgas Covid-19 Provinsi Jawa Timur menggunakan metode bonza.

Metode Bonza ini tak hanya menghitung angka terkonfirmasi positif saja. Namun juga menginput angka suspek, probable, diisiolasi, dan discarded.

“Itu yang membuat perbedaan perhitungan di Kota Batu. Metodenya berbeda dan komponennya juga berbeda,” terang Kartika.

Ia mengatakan, sekalipun tingkat penularannya di bawah angka 1 ataupun 2, persebaran Covid-19 masih masif. Ia meminta masyarakat mematuhi 3M dan 3T ditambah pula dengan program vaksinasi sebagai kunci penting.

“Jadi kolaborasinya itu,” timpal dia.

Sementara itu, Wali kota Batu Dewanti Rumpoko mengatakan laju transmisi yang cepat karena laporan dari rumah sakit seiring banyaknya kasus terkonfirmasi positif Covid-19.

“Akhirnya transmisinya tinggi. Karena kasus terkonfirmasi dan tingkat kematian. Itu akumulasi penghitungan. Sehingga transimisi tinggi. Kita harus berhati-hati,” kata dia

Ia menjelaskan, upaya untuk menekan angka penularan Covid-19 melalui pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM). Pihaknya juga mengimbau kepada masyarakat untuk taat protokol kesehatan.

“Itu intinya, kalau tidak ada keperluan mending jangan keluar rumah. Kalau merasa kurang fit lebih baik istirahat di rumah,” lanjut Dewanti.(der)