MALANGVOICE – Di tengah hiruk-pikuk pagi Kota Malang, ketika deru mesin dan klakson saling bersahutan, ada satu sosok yang mencuri perhatian. Bukan karena suara peluitnya yang nyaring semata, melainkan karena balutan kebaya merah yang anggun di antara lautan kendaraan. Ia adalah Sukarni—perempuan paruh baya yang setia berdiri di simpang Jalan Soekarno-Hatta, menjalankan perannya sebagai sukarelawan pengatur lalu lintas (supeltas) dengan sentuhan yang berbeda.
Pagi itu terasa sedikit lain. Di saat kebanyakan orang memilih pakaian praktis untuk menghadapi rutinitas, Sukarni justru tampil dengan kebaya merah berpadu jarik batik putih. Namun, di balik keanggunan itu, gerak tangannya tetap tegas, sigap mengurai simpul-simpul kemacetan yang mulai mengular sejak fajar merekah. Peluit yang tergantung di lehernya seolah menjadi penanda—bahwa di balik kebaya itu, ada dedikasi panjang yang tak lekang oleh waktu.
Hari Kartini, bagi Sukarni, bukan sekadar seremoni tahunan. Ia menjelma menjadi ruang refleksi, sebuah cara sederhana untuk merayakan keteguhan perempuan. Sejak bertahun-tahun lalu, setiap 21 April, ia selalu memilih mengenakan kebaya saat bertugas. Sebuah keputusan yang dulu sempat mengundang tawa, bahkan dianggap tak biasa. Namun Sukarni tak bergeming.
“Hari Kartini selalu istimewa,” tuturnya pelan, di sela-sela kesibukannya mengatur arus kendaraan. “Perempuan itu harus punya pendirian, harus kuat, dan terus maju.”
Dari balik riasan sederhana yang ia poles sejak selepas subuh, terpancar senyum yang hangat kepada para pengendara. Tak ada kemewahan dalam persiapannya—kebaya telah ia siapkan beberapa hari sebelumnya, sementara rias wajah ia lakukan seadanya. Baginya, yang terpenting bukanlah tampilan, melainkan makna yang ia bawa di baliknya.
Selama hampir 15 tahun berdiri di simpang itu, Sukarni hafal betul denyut nadi jalanan. Ia tahu kapan arus kendaraan mulai meninggi, kapan kesabaran pengendara diuji. Pukul 06.30 hingga 07.30 menjadi waktu paling padat—saat jalan seolah kehilangan ruang bernapas. Di momen-momen seperti itulah, ketegasan dan kesabarannya diuji.
Namun jalanan, seperti kehidupan, tak pernah sepenuhnya ramah. Ada saja hambatan yang datang—pengendara yang abai, situasi yang tak terduga, hingga risiko kecelakaan yang mengintai. Sukarni memahami betul itu semua. Baginya, kesabaran adalah kunci yang tak boleh lepas.
“Hambatan pasti ada. Nggak mungkin selalu mulus,” ujarnya lirih, tanpa menghentikan gerakan tangannya.
Di balik perannya, ada disiplin yang terus ia jaga. Sukarni bukan sekadar meniup peluit atau melambaikan tangan. Ia adalah bagian dari sistem yang terlatih. Setiap bulan, ia mengikuti pelatihan, menerima pembekalan, dan menanamkan nilai-nilai yang ia pegang teguh—5S: salam, senyum, sapa, sopan, santun. Nilai-nilai sederhana itu ia bawa ke tengah jalan, menjadikannya lebih dari sekadar pengatur lalu lintas.
Hari itu, di antara riuhnya kendaraan, sebuah kejutan kecil menghampiri. Seorang pengguna jalan menghentikan langkah sejenak, meminta berfoto, lalu menyerahkan setangkai bunga. Gestur sederhana, namun cukup untuk membuat mata Sukarni berbinar.
Dulu, ia hanya menerima tawa—bahkan ejekan—ketika pertama kali mengenakan kebaya di jalanan. Kini, apresiasi datang dengan cara yang tak terduga. Namun bagi Sukarni, suka dan duka itu telah menyatu menjadi bagian dari perjalanan panjangnya.
“Dulu nggak dapat apa-apa, cuma diketawain. Tapi sekarang ya alhamdulillah,” katanya, tersenyum.
Semua yang ia lakukan berakar dari satu hal sederhana: hati nurani. Ia tak pernah punya alasan rumit untuk bertahan. Melihat kemacetan yang kian hari kian padat, hatinya tergerak untuk berbuat sesuatu—sekecil apa pun itu.
Di Hari Kartini, dari tengah simpang yang tak pernah benar-benar sunyi, Sukarni menitipkan pesan bagi generasi muda. Pesan yang sederhana, namun sarat makna.
“Patuh orang tua, terus semangat. Kerjakan apa yang kalian bisa. Jangan putus asa. Semua pasti bisa.”
Di antara laju kendaraan yang tak pernah berhenti, Sukarni berdiri—menjadi simbol kecil dari keteguhan, keberanian, dan makna perjuangan yang tak selalu harus besar untuk terasa berarti.(der)