MALANGVOICE– Dunia pendidikan dituntut terus beradaptasi dan berinovasi di era gempuran perkembangan teknologi. Akselerasi transformasi digital tak dapat dihindari untuk kegiatan belajar mengajar di ruang kelas. Kompetensi para guru mutlak perlu ditingkatkan agar mereka memiliki kemahiran digital dan para murid tak gagap teknologi.
Dinas Pendidikan Kota Batu tak ingin setengah hati menjalankan transformasi digital. Para guru sekolah dasar negeri maupun swasta se Kota Batu dibekali pengetahuan teknologi selama dua hari melalui agenda “Pendampingan Pembelajaran Digitalisasi Pendidikan” yang digelar di SDK Sang Timur. Pendampingan ini merupakan fondasi penting, karena tanpa upaya konkret, transformasi digital pendidikan bakal jalan di tempat.
Usulan Musrenbang Didominasi Infrastruktur, Sektor Pemberdayaan Terlupakan
“Kami terus meng-upgrade kompetensi para pendidik. Pendampingan ini untuk memastikan kualitas pendidikan dan membuatnya tetap kompetitif,” ujar Kepala Dinas Pendidikan Kota Batu, Alfi Nurhidayat.
Ia menegaskan, digitalisasi pendidikan bukan lagi opsi tambahan, tapi suatu kebutuhan mendesak sekaligus jembatan menuju masa depan pendidikan gemilang. Para murid tak hanya sekadar membaca dan menghafal, tapi juga adaptif di tengah derasnya arus digital. Karenanya, para guru harus menumbuhkan pikiran-pikiran baru tentang bagaimana mengajar di zaman yang berubah begitu cepat.
Apalagi tantangan pendidikan semakin kompleks. Alfi melihat harapan sekaligus kecemasan pada dunia pendidikan di era gempuran teknologi. Sekalipun ditopang perangkat mutakhir, digitalisasi dunia pendidikan tak berarti apa-apa jika guru tak melek teknologi.
“SDM guru yang mumpuni adalah kunci dalam menjalankan transformasi digital di dunia pendidikan,” seru Alfi.
Beberapa pekan sebelumnya, data PISA dirilis. Trennya masih sama. Skor literasi, numerasi, dan sains Indonesia stagnan, bahkan menurun dibanding negara lain. Di peta ASEAN, daya saing tenaga kerja Indonesia juga masih tertatih. Sementara di luar sana, teknologi bergerak tanpa jeda. Belum lagi persoalan klasik berupa ketimpangan akses infrastruktur teknologi informasi dan komunikasi (TIK) antarwilayah.
Ada empat misi utama yang dibawa dalam transformasi ini. Pertama, pemerataan akses pendidikan berkualitas tanpa terhambat jarak dan kondisi geografis. Kedua, peningkatan mutu pembelajaran melalui integrasi teknologi agar metode belajar lebih interaktif dan kontekstual. Ketiga, pemberdayaan guru dengan meningkatkan kemahiran dalam mengoperasikan perangkat dan aplikasi pembelajaran digital. Keempat, menyiapkan siswa agar adaptif dan siap menghadapi tantangan era digital.
“Digitalisasi bukan sekadar menghadirkan perangkat. Yang kita bangun adalah ekosistem pembelajaran yang utuh,” tegasnya.
Ia merinci, ekosistem tersebut bertumpu pada tiga pilar. Yakni teknologi (perangkat keras, perangkat lunak, jaringan dan konten digital), environment atau ruang belajar yang fleksibel dan mendukung pemanfaatan teknologi, serta process berupa metode pembelajaran interaktif yang berpusat pada siswa.
Secara regulatif, program ini mengacu pada Inpres Nomor 7 Tahun 2025 dan Perpres Nomor 46 Tahun 2025 tentang percepatan digitalisasi dan pengadaan perangkat pendidikan. Dengan payung hukum tersebut, pemerintah daerah memiliki landasan kuat untuk mempercepat penyediaan infrastruktur.
Ke depan, fokus Dindik Kota Batu tidak hanya pada pelatihan guru. Penyediaan internet sekolah, perangkat pembelajaran, papan interaktif, hingga pengembangan sistem pembelajaran terintegrasi juga masuk dalam roadmap. Penguatan kapasitas tenaga kependidikan menjadi bagian yang tak terpisahkan.
Alfi optimistis, jika dijalankan konsisten, digitalisasi akan mendorong lahirnya generasi yang lebih unggul, berdaya saing dan adaptif. Transformasi digital sekaligus bagian integral pada target besar visi Indonesia Emas 2045.
“Kami ingin Kota Batu bukan hanya dikenal sebagai kota wisata, tetapi juga kota pendidikan yang lebih maju dan SAE,” tambahnya.(der)