Taksa Sebuah Nama; Puisi-puisi Astrajingga Asmasubrata

Ilustrasi. (Anja Aronawa)

YERUSALEM KITA

: kepada pemeluk agama

Yerusalem kita
Selalu semacam khazanah
Yang suwung, diruwat
Dan dirawat dengan darah

Serta air mata yang mengalir
Sepanjang Gaza — kehancuran
Yang purna, memuat takdir
Jauh sebelum adanya sabda

Sebuah kitab, atau semacam
Buku panduan perang
Yang damai dan sentosa —
Di dalamnya duka bersukacita

Lantaran maut adalah surga
Bagi Yerusalem kita, atau
Barangkali, inilah fakta bahwa
Semesta mewariskan iman

Kepada yang tak percaya:
Samsara, Yerusalem kita!

(dusunmaja, 2017)

 

 

ZURIAH

Tak ada amsal
Dalam gejolak-sepi itu
Selain sejumlah cuma
Perihal gairah yang padam

Satu-dua luka lebam
Masa silam, dan kaudapati
Dirimu pasi menyimak
Bayangan seorang perempuan

Yang juga semacam kecam
Segala yang terlepas
Akan kembali tergenggam
Sebagai nyala sepasang mata

Yang kaulihat seperti sabda
Terakhir, sebelum gejolak-sepi itu
Menggetarkan dawai mimpimu
Serupa nada-nada kosong

Dari segenap hirap dan ratap
Saat kausingkap kelir kenangan
Dan segalanya tampak lain
Dalam masgul mungkin, barangkali

Lantaran ini bukan percintaan
Tapi sebuah tikam!

(dusunmaja, 2017)

 

 

DEJA VU

: buat acep zamzam noor

ia pun gusar;
menyusur samudera
siang yang matang
— matahari jalang? —
perahu diterjang gelombang
angin asin menampar wajah
“duhai penempuh batin
apa yang tersembunyi
dari seketika, selain
decak terpana
sunyi yang mungkin?”
— ngungun –
di samudera lain
kata demi kata menukik
ke balik tirta
sajak pun beriak-riak
penuh oleh kesumat
— atau laknat? —
meliuk di lengkung teluk
kalbu begitu kutuk
karam
ke dalam diri!

(dusunmaja, 2017)

 

 

SYAIR-SYAIR PESISIR

1.
kau dan aku kini landai pantai
debur itu dipacu deru angin
di bawahnya terumbu menari-nari
ikan menghindari bentangan jaring
kau dan aku kini gejolak lautan
dilayari tongkang para nelayan
mendaras hidup dengan menerjang
gelombang yang menyimpan harapan
kau dan aku kini batuan karang
teguh digempur air pasang
tak pernah menolak kedatangan
atau kepergian semisal kenangan

2.
kisah kita kini apatah hati penuh kasih
jika dilingkup cinta dan rindu yang ngungun
seperti serpihan bayang rembulan dibantun
debur demi debur yang bertabur buih
kisah kita kini sebuah tongkang tua
yang tergopoh mengangkut nasib baik
menuju dermaga yang sabar menunggu
seperti hati ibu untuk tualang anak-anaknya
kisah kita kini disadari tinggal kenangan
tergagap seperti camar digusah air pasang
setelahnya udara berbau garam mengasinkan
pikiran dan perasaan dengan sepi yang usang

(dusunmaja, 2017)

 

 

SAJEN RAYA

nasib masih semacam taman bunga
sejumlah wangi kesunyian menyeruak
dan di tengahnya beriak sebuah telaga
memantulkan rona wajah kami yang lain

bertahun-tahun tak pernah jera tunaikan
hasrat menghidupi diri dengan kerja
sebagai titah yang telah digariskan tuhan
kami cuma diminta tak henti berupaya

tiada guna berlama-lama merutuki takdir
sebab ketika azan pertama berkumandang
segala yang berwatak kesedihan memudar
seperti pengakuan daun sebelum ranggas

dan selagi angin hari depan berembus pelan
kami petik kenanga, kantil, serta cempaka
untuk ditabur di telaga sebagai sajen raya
agar kami semakin mengenali wajah asing ini

(dusunmaja, 2017)

 

 

TAKSA SEBUAH NAMA

malam ini jadi lain
lampu di beranda
tiba-tiba padam
langit pun kelam
seperti kenangan
akan punggung
yang menjauh
lalu menghilang
di tikungan
riuh cengkerik dan
gemerisik daun garing
dimainkan angin
seperti bisik tertahan
sebelum lambaikan tangan
yang membikin
malam ini semakin lain
dalam ingatan
pada segelas kopi
yang mendingin
tinggal ampas
pemandangan kosong
di beranda
meninggalkan taksa
di gerowong dada
yang mungkin
sebuah duka?

(dusunmaja, 2017)

 

 

SUMUR TUA SEBUAH KENANGAN

kita dipertemukan sebuah sumur tua
tak ada kata-kata terucap sebagai sapa
cuma kerekan tali timba dan jatuhan air
menimbulkan bunyi yang melingsir sunyi

sebagai siapa kita di sumur tua itu:
jejaka yang ragu mengajak berbicara atau
dara yang malu menampakkan wajahnya
barangkali cinta semacam dahaga terberkati?

(dusunmaja, 2017)

 

 

SIMPANG

sebentar yang lalu
kau datang kemudian pulang;
di tubuhku bersarang pelukan
yang telah mendingin
saat bayangmu menghilang
dalam pandangan di jauh malam
dan kata-kata yang kupunya
melesap senyap ke inti gelap

aku pun mengingat
kali pertama kita berjumpa:
lidahku kelu pada sayu matamu
dan kesiur angin penghujan
meningkahi reranting kersen
hingga sinar lampu jalan berkedip
seperti bintang jatuh
kau dan aku kompak menunduk
seolah sedang merapal doa

tapi sepulangmu
aku menyaru seorang bocah
terjangkit pilek dan demam
tubuhku gemetar
dari mulutku keluar gumaman
(yang mungkin terdengar
semacam geraman?)
dan pelukan telah mendingin itu
malih menjadi sebutir embun
selalu ragu bertahan di pucuk rumpun

(dusunmaja, 2017)

 

 

PADA MULANYA ADALAH TANYA

: buat gilang perdana

“Apa yang tersembunyi di balik seketika?”
Tiba-tiba selembar kertas bertanya
Pada sebuah pena
Dalam genggaman penyair kita;
Kata-kata datang dan pergi
Seperti kerinduan tak bertuan
Dan waktu menorehkan jejak biru
“Permisi, tak ada suatu apa di situ!”
Sekarang segalanya menjadi gamang:
Sajak adalah kehendak yang setia
Pada sejumlah duga dan hanya
Sajak menyimpan gelap
Yang menghindar dari cahaya
Setiap kali mata penyair kita terpejam
Bayang-bayang memanjang
Setelahnya lengang mengambang
Dan selembar kertas lainnya ikut bertanya
Pada pena lainnya
“Kapan saat yang tepat untuk berhenti?”

(dusunmaja, 2017)

*Astrajingga Asmasubrata, kelahiran Cirebon tahun 1990. Bekerja sebagai tukang cat melamik – duko – politur di Jakarta Timur. Penggerak Malam Puisi Jakarta. Buku puisi yang telah terbit adalah Ritus Khayali. Sedang menyelesaikan buku puisi terbarunya yang berjudul M I R Y A M.

Garis Tepi; Puisi-puisi Ana Widiawati

Ilustrasi. (Anja Arowana)

Garis Tepi

Dari garis tepi
pada kertas-kertas yang kucuri
dari seorang penyair disesap sunyi
kutulis bebait sepi
bersama pagi menggigil yang berkongsi
dengan angin bulan Juni
kemudian lebur
oleh rindu yang diam-diam
kuselipkan di cuping telingamu
seusai persentuhan kita yang menggemparkan
dan sebelum kau gugur
bersama dedaunan yang limbung

Banyuwangi, 2 Agustus 2017

Meja Makan

Berpijak
pada jejak-jejak
yang tertinggal di meja makan bersama kerak-kerak
ingatan yang terkuak
ketika remah-remah roti berserakan di piringmu yang retak
dan piringku sesak
oleh nasi yang kautanak
secangkir kopi kehilangan seduh hangat
dan secangkir teh menguar coklat tak nikmat
dan kita dicincang-cincang waktu yang berdetak
kemudian meja makan itu menjelma perseteruan diam-diam
kita bungkam
di meja makan yang suram

Malang, 20 September 2017

Kunang-Kunang di Matamu

“Kelak, kau akan tahu.”
begitu kalimat ibu
yang merayap di malam-malam senyap
yang merangkak di pagi-pagi kedap

“Kau akan bertemu wajah kehidupan yang utuh.”
begitu tutur ibu
ketika kutuang resah dan keluh
di pangkuannya
luruh

“Kau akan memaknai segala gurat dan kerut.”
begitu kata ibu
tentang nestapa-nestapa
dan masa
yang berguliran layaknya air mata
dari muara bahagia atau
luka

“Kau akan menemukan sabda-sabda tak bertuan.”
begitu ungkap ibu
menyinggung sabda-sabda yang kehilangan
tuan-tuannya
sabda-sabda itu berserakan
diabaikan
dihinakan
dikutuk-kutuk
banyak mulut
“Mungkin akan gelap, sesak, dan kau muak.”
begitu lirih ibu
aku semakin mengerat
menyusup dalam ke ketiaknya
keresahan itu mendesak-desak
diam-diam ketakutan memuncak

“Tetapi kulihat masih ada kunang-kunang di matamu.”
pungkas ibu
seakan semilir angin di semusim kering
merinding
dan kecamuk itu menyingsing.

Malang 20 September 2017

Jendela

Meja, kursi, buku
temaram lampu
dan mataku memujamu
dari sela-sela tirai biru
dari jendela
yang akan runtuh
dan engkau masih berdiri di depan pintu
dengan setangkup bunga layu, wajah sendu,
dan menunggu
suara tapak sepatu
atau ketukan pintu
dan aku tetap memujamu
dari jendela
yang tak nampak di matamu

Malang, 20 September 2017

Puisi-Puisi di Rumah

Kita menghabiskan puisi-puisi di rumah
menyerap ruhnya sambil berdekapan mesra
diselingi cekikik-cekikik manja
melupa pada meja makan yang jarang mengepulkan
asap nasi, lodeh, kopi, atau aroma sambal teri
mendadak kita pura-pura
dapur kita baik-baik saja
bersandiwara rumah kita terang oleh bohlam-bohlam lampu
lima belas ribuan
berlagak seolah kamar kita empuk dan hangat

Kita menamatkan berbait puisi-puisi di rumah
menawar getir hari ini dan esok hari
dengan menyesap majas-majas dan imaji-imaji
sebab tiada lagi ruang untuk menuangkan sedih
di rumah yang hanya cukup untuk berpuisi ini

Kita pun melahirkan puisi-puisi di rumah
dari sentuhan-sentuhan yang sedikit hambar dan bergetar
tapi tetap menyejukkan
lebih meneduhkan ketimbang membincangkan
kesedihan, keruwetan, kegelisahan
yang tak tertampung di rumah ini

Kau membisik, “Mari merawat puisi-puisi di rumah ini.”
dan aku mengamini

Malang, 20 September 2017

*Ana Widiawati lahir di Banyuwangi 21 tahun silam. Bermukim di Malang dan sedang menempuh pendidikan di jurusan Hubungan Internasional Universitas Brawijaya. Masih aktif di Lembaga Pers Mahasiswa Perspektif (LPM Perspektif). Karya-karya cerpen dan puisinya pernah nangkring di Solo Pos, Radar Banyuwangi, dan buku-buku antologi.

Naskah Hitam; Puisi-puisi Achmad Fathoni

Bom Waktu

Suara menjadi batu
Mulutnya membusuk
Tak dipakai bertahun tahun
Tubuhnya lemas tak kunjung subur

Di tengah tengah ranjau ia terbujur kaku
Sekali bersuara, di tendang keluar gedung

Telah ia lihat, barisan kata kata berisi emas
Seharusnya ia pulang dan menceritakannya.
Sayangnya, ia terperangkap ranjau jahanam. Meteor-meteor bisa saja menghancurkannya dalam sekejap

Dari tahun-tahun yang mengurungnya
Suara adalah bom waktu yang melekat di punggungnya
Yang selalu aktif dan mampu menjadikannya terkapar mati.

Naskah Hitam

Matanya
Tatapan matanya membeku
Seorang aktor mati di panggung yang kosong

Kepalanya tergantung
Tak ada belati, tali goni menerkam lehernya

Matanya
Matanya melotot keluar
Dan mati. Kabar itu gempar.

Tubuhnya kurus
Waktu evakuasi telat satu jam
Kotorannya keluar hitam
Air mata. Air mata.
Ia mengeluarkan air mata. Hitam.
Air matanya hitam.

Seorang aktor telah matpanggung menjadi sepi
Deretan sepi itu menguar
Menjadi pertunjukan pertunjukan amal

Seorang aktor telah pergi
Meninggalkan sutradaranya sendiri.
Malam itu. Di luar hitam
Udaranya hitam semuanya menjadi hitam
Oleh naskah hitam
Dibaca sutradara
untuk aktor yang mati
Di panggung pertunjukan yang sepi.

Dahaga Mahasiswa

Dahaga menggerogoti setiap leher mahasiswa
Kaum yang selalu suci di mata kelompoknya sendiri
Anehnya, mereka saling berhubungan dengki
Saling senggol duduk di muka kursi

Apa yang mereka perebutkan?
Spon kursi yang empuk itu atau lantainya yang tinggi
Kata mereka, ini adalah tradisi
Yang perlu di jaga sampai mati

Dulu, ceritanya tak seperti itu
Mahasiswa amburadul di jalan tak saling senggol
Katanya, dulu itu revolusi

Dahaga mana yang tak menggerogoti leher mahasiswa
Katanya, sumpah mereka itu suci
Sumpah yang mana?

Bergotong royong saja butuh situasi
Berbagi saja butuh dana subsidi
Yang mana katamu itu suci
Coba tengok ke dahimu sendiri

Pokoknya aksi. Pokoknya aksi.
Sekarang, aksi tanpa subsidi penunggang kuda, ya tak akan jadi

Sajak Kehilangan

Jauh jam menunjuk angka kehilangan
Detik detik dihitung tak menemukan ujung

Saku celana seorang sarjana bolong
Koin-koin berjatuhan
Telinga sarjana lain mendengar

Saling tatap. Saling tatap.

Angka dihitung mundur
Itu koin siapa. Itu milik siapa.

Perebutan koin terjadi.
Perebutan harga diri dimulai
Adu mulut.
Mata melotot. Tangan mengepal mengeras

Ini milik siapa?

Semua orang diam, sarjana itu melonglong.
Keadaan semakin mencekam
Koin itu hilang. Koin itu hilang.
Semua hilang. Kesadaran hilang.
Tuhan dan cinta kasihnya hilang.

Sajak Pertanyaan

Ini seragamku Tuhan.
Setelah kubayar lunas pembayaran untuk gedung rektor yang baru itu.

Bolehkan aku bertanya Tuhan?
Berapa banyak uang yang dihabiskan untuk membangun gedung rektor yang baru itu?

Tuhan, kenapa gedung rektor selalu lebih megah ketimbang gedung kuliah?
Lihat atap-atapnya itu, indah bukan? ada pelanginya.

Tuhan, kenapa parkir mobil lebih luas ketimbang tamannya?

Maaf Tuhan, harus bertanya banyak. Rektor sedang sibuk.

*Achmad Fathoni, lahir di Bojonegoro dan saat ini berdomisili di Malang. Pegiat Pelangi Sastra Malang.

Kehinaan yang Terlupakan; Puisi-puisi Aqin Jejen

Manusia Adalah Manusia

ada yang terlupakan dari manusia
ada yang tertinggal dari Adam dan Hawa
dari manakah asal segala cahaya terjadi

bumi dan langit tercipta
matahari dan bulan tercipta
jin dan hewan tercipta
gunung dan sungai tercipta

kita terpantul dari sebuah lubang cahaya
dari manusia yang paling sempurnah.

saat wahyu-wahyu menuntun
adakah yang dibaca dari kalam
mengenali dari mana kita mula-mula?

Yogyakarta, 2018

 

 

Membaca Alam, dari Isyarat Mata Kekasih

pernah jibril turun di gua hira’
membawa kabar penciptaan

aku mencari sisi lain,
engkau gembira di pelukan
dalam selimut yang basah
dekapan yang tak bisa aku baca
namun terasa hangat menyengat

iqra’, aku membaca isyarat dari matamu
matamu telanjang tampak tak berdosa
dari sezarah kelak ditimbang di alam mahsyar

iqra’, aku membaca dari ketidaktahuan
alfa-beta kehidupan yang fana
Sulaiman bicara dengan hewan;
Yunus dimengerti ikat Paus
Ibrahim mengenal api

adakah yang mustahil aku baca dari matamu?

Yogyakarta, 2018

 

 

Dari Lubang Kesunyian

serasa beda dari yang senyap
kurasakan nafasmu semakin ringan
bagai detak kematian
“Allah, Allah, Allah”

selagi mabuk meneguk aggur
kita sadar kesunyian tak pernah ada

desing suara kenalpot;
orasi politik;
celoteh para pengamen;
menyelinap ke dalam dadaku
ada ruang yang kosong ditempati

begitulah kesombongan.

Yogyakarta, 2018

 

 

Kehinaan yang Terlupakan

setelah tenggelam pada kotoran yang nyenyak
bauh alkohol dan bir menusuk-nusuk
aku mengerti, manusia seperti tetes mani yang menjijikkan
apa yang mesti dibanggakan?

gemercik air mengalir di wajahmu bersama wudzu’
malaikat-malaikat bergelantungan
membaca puji-pujian dan rahmat
sedang kita selalu bercumbu
di atas bongkahan daging yang menggiurkan syahwat

Yogyakarta, 2018

 

 

Kerinduan, dan Sebuah Puisi yang Kucipta

selalu tak ada perbedaan cara memahamimu
dari jarak yang jauh entah pula dari jarak terdekat

sulit kita membedakan
antara puisi dan kata-kata manja;
surat cinta, novel asmara, apalagi sebuah drama

akan kucari dari batang kerinduan ini
atas goresan tinta dan sebuah irama

mungkin ada lagu yang belum kau tau
sesekali bisa kau dengarkan menjelang kantuk
dan saat kau terbangun malam nanti

Yogyakarta, 2018

*Aqin Jejen, lahir di Sumenep Jawa Timur. Menulis Essai, Puisi, dan Cerpen. Tulisan-tulisannya dimuat di Radar Madura (Jawa Pos Group), Buletin Jejak, Majalah Sastra Horison (Kaki Langit), terantologi bersama Penyair Kopi Dunia, The Gayo Institut (TGI), Aceh Culture Centre (ACC), dan Ruang Sastra (RS), terpilih sebagai 10 Kontributor Puisi terbaik Gebyar Bulan Bahasa 2016 tingkat Mahasiswa Se-Jawa Timur, IKIP PGRI Bojonegoro, Terantologi dalam Lomba Cipta Puisi Nasional 2016, Hari Puisi Indonesia, Jawa Barat, Juara Lomba menulis Cerpen Writing Festival, SM’s Day se-Madura Universitas Trunojoyo Madura (UTM) Bangkalan 2017, dan Juara Cipta Puisi Penerbit Aksara Aurora Media 2017

Jam Tua; Puisi – puisi Julaiha S

Ilustrasi. (Anja Arowana)

Ode Suara dari Telepon

Dia berteriak memecahkan dinding telinga
isi teriakan rindu
sebagaimana pelabuhan yang turut kedinginan
tanpa para kapal berlabuh di sana
suara-suara itu mirip panggilan kematian
perlahan membeku

Barangkali dia ingin bercerita panjang
persoalan lintas jejak dan pahatan masa sulit
mengelupasi kulit dadamu
di sana kehidupan tumbuh dan malam menjadi
waktu paling sibuk untuk bekerja

Kita terus saja menganti kata
berbalas pesan dari degung suara
tak banyak tanda terucap
namun ritual selalu diselesaikan
dengan baik, ketika lampu matamu
mendadak padam

Kompensasi, 2017

 

Ode Suara Tengah Malam

Aku paham bagaimana kita mengemas malam
dengan tanda-tanda yang pakem di tubuh
tulisan tulisan angin seperti burung membawa kabar
dan pesannya memaksa kita membongkar isi bajumu

Setiap kali kami menyelesaikan kegelisahan
maka muncul kegelisahan baru yang lebih tajam
ketakutan mencacah simpul waktu
datang satu persatu membawa
rasa hangat dan kumpulan bara

Bagaimana bekas bibirmu begitu
lembut menggulumi dada
di sana tumbuh pertanyaan berapi
kenangan berlalu menjadi abu.
sesungguhnya kisah tidak sebenar tahu
asal mula pertemuan

Kota sunyi cinta dikuasai angin
kau telah selesai memenangkan hasrat.

Kompensasi, 2017

 

Ode Gelisah

Setelah sepi merajai luka-luka di tubuh
aku semakin perih pada pengkhianatan
orang-orang berkumpul dan berdansa
di bawah sinar rembulan
mengatakan diri sebagai perjaka terbaik.
tangisan malam tingkap dalam bait-bait puisi
sungai mataku mengering
setelahnya aku terdampar dalam lautan tak bernama.

Seperti biasa, mereka selalu bermain petak umpat
ada siasat yang dikemas baik
menyumpal perempuan lainnya
atau barangkali perempuan-perempuan itu
mengambil kesempatan untuk menanak kecantikan
dan menelajangi diri

Sebagaimana kesakitan ini mengeraki dadaku
angin tak pernah singgah
kabar silih berganti menjamah
tubuh terbakar sepi tanpa arah

di ruang gelisah, jangan limpahi aku
dengan pertanyaan-pertanyaan
atas nama restu

Kompensasi, 2017

 

Dari Balik Jendela, Angin Memelukku

Dari balik jendela, angin lebih leluasa
menyeka serat kepalamu
dedaun merapikan diri.
Lampu kamar meredup
menyimak gejolak rindu
yang fakir digugur waktu.

Dari balik jendela, angin menerima pagi
kata-kata keluar dari matamu
memenuhi jalanan kota
seisi hati diterka-terka waktu
perjalanan mengutuk cerita
berlimpah gelisah dari dadamu
puisi tumbuh di kertas tak bernoda.

Dua simpul senyum bertautan
ricik ingatan lebih rutin mencipta puisi
kesedihan tak mampu ditakar waktu.

Kompensasi, 2017

 

Terbakar Sunyi

Esok, aku tiba di stasiun
menyambut tubuhmu, penuh ingatan
catatan-catatan waktu tumpah
melumuri tubuhku.

Ketika malam padat gulita
seluruh langit terbakar sunyi
rembulan mencair dari kamar

Mimpi tumbuh dari akar malam
rindu masih hujan di stasiun.

Kita pulang, ceritakan padaku
bagaimana sunyi membakar dirimu

Kompensasi, 2017

 

Jam Tua

Aku tergesa, mencari jelmaan puisi
kata-kata menyusuri belantara makna
menggulung denyut dada.
angka di jam tua perlahan
memutar, ingatan lupa waktu

Detik-detik mendarat di badan malam
mengemas rasa dingin.
bayangan berpindah pindah
mengerumuni kegelisahan yang matang

Kompensasi, 2017

 

*Julaiha S, perempuan kelahiran Medan, 11 Juni 1993. Sejumlah tulisan telah dimuat di media cetak dan online yakni; Harian Waspada, Medan Bisnis, Analisa, Mimbar Umum, Sumut Pos, Serambi Indonesia, Riau Hari Ini, Lampung Post, Sinar Harapan, Banjarmasin Post, Jurnal Masterpoem Indonesia, Media Indonesia, Indopost, Suara NTB, Riau Pos, Pikiran Rakyat, LINIKINI.ID, Harian Rakyat Sumbar dan beberapa antologi puisi. Alumni Program Penulisan Mastera: Puisi 2017. Saat ini, ia tercatat sebagai alumni Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Negeri Medan. Ia telah melahirkan buku puisi tunggalnya berjudul Mula-Mula Kita Pergi Selanjutnya Tersesat. (Obelia Publisher, 2016)

Perempuan Itu; Puisi-puisi Ana Widiawati

Puisi-Puisimu

Aku adalah puisimu-puisimu

yang patah

dan kau

penyair yang lelah

pasrah

Demi Tanah Terpijak

Demi tanah terpijak

semoga kami tidak tergagap menatap sajak-sajak

yang direnggut dari pucuk gunung itu dengan congkak

semoga kami tetap berdiri pada segaris kalimat perlawanan yang tegak

bersama kecemasan-kecamasan nurani

yang menggigil

melihat tuan menghamba pada gumpalan materi

sementara kami terus menghidupi meja makan dengan padi

yang tertanam di pangkuan bumi

membasuh lelah dengan air yang seharusnya aman dalam dekapan ibu pertiwi

O, tuan, tanah kami

mau sedalam apa tuan mengoyaknya?

demi emas-emas yang menumbuhkan cemas

Tuan, maukah meruang bersama suara-suara kami?

yang berserakan kehilangan naungan

terpinggirkan

tuan, sebelum semua tenggelam dan kelam

sebelum senja menandakan peniadaan

sebelum esok adalah pungkasnya harapan

sebelum tanah kami kehilangan napas-napas kehidupan

mau sampai kapan tuan membungkam?

mau sampai kapan menyumpal telinga dengan kemewahan-kemewahan?

semoga tuan sadar

selama ini tuan hanya memuja bokong dunia yang fana

mengejar uang dan segala keriuhannya

ah, gila!

*Menjaga ingatan tentang Gunung Tumpang Pitu beserta pertambangan emasnya dan tanah kelahiranku yang dikoyak-koyak tuan berkuasa. Semoga perlawanan tidak mati dan tetap abadi.

Malang, 16 November 2017

Surat-Surat

Surat-surat yang membusuk di bawah bantal

meneteskan kata-kata

aku menyaksikannya dengan sesak

sementara di luar jendela

purnama mengabarkan waktu tetap bergulir apa adanya

ada ingatan yang merindukan kawan

sengatan-sengatan rasa ketika sepasang dekapan

menggenggam kerut-kerut lelahku

sebelum aku terbenam

surat-surat itu membusuk bersama malam-malam lengang

dan aku membisik pelan

aku ingin pulang

Kita dan Hujan

Telah diamini dan direstui oleh semesta dan kita

kenangan akan selalu dikabarkan ulang oleh hujan

yang datang di bulan Juni seperti sabda Sapardi,

seperti hujan bulan Juli ketika pertama kali aku menamatkan sebait puisi,

seperti anomali ketika hujan datang di bulan-bulan kering dan gersang,

atau seperti hujan di bulan ini,

yang tiba-tiba, deras, dan keras

Hujan akan menyeduh ingatan

dan kita terjebak dalam nostalgia berkepanjangan

dikoyak-dikoyak rindu atau sesal

dan kita tidak pernah mendebat mengapa kehadirannya bersanding dengan kemuraman

kita hanya merasa terbebaskan

menyesap habis-habisan kenangan tanpa adanya penggugat

dan kita merasa aman

sebab hujan tidak akan mengabarkan kenangan ini pada cuping-cuping telinga

dari balik jendela

dari rumah-rumah

atau pada orang-orang berlarian mencari peneduh dan kehangatan

kenangan ini seutuhnya adalah kita

dan hujan tidak akan mengkhianati

ia tahu pada siapa harus membagi

ketika ia jatuh dan membumi

Malang, 5 November 2017

Perempuan Itu

Perempuan itu,

kutemukan sedang menepi dalam semangkuk sup di meja makan malamku

sebelum akhirnya beku

menyisakan remah-remah waktu

dan aku

meruang bersama kegaduhan dan detak-detak yang berantakan

kala perempuan itu melompat dan menyusup ke lembaran koran

berserakan

lalu meneduh di bawah pigura lama dengan foto tanpa gurat rasa

mengembalikan sebagian masa yang sempat tenggelam dan kelam

aku terkapar

kemudian dengan sederhana

dan cara paling terduga

perempuan itu jatuh dalam sebaris kata

yang kupungut dengan lelah dan putus asa

Perempuan itu,

adalah rindu dan sendu

semu

suka berlalu

mengguratku dengan sembilu

biru

Malang, 26 November 2017

* Ana Widiawati lahir di Banyuwangi 21 tahun silam. Bermukim di Malang dan sedang menempuh pendidikan di jurusan Hubungan Internasional Universitas Brawijaya. Masih aktif di Lembaga Pers Mahasiswa Perspektif (LPM Perspektif). Karya-karya cerpen dan puisinya pernah nangkring di Solo Pos, Radar Banyuwangi, dan buku-buku antologi.

Solitude; Puisi – puisi Vito Prasetyo

Tali-Tali Rapuh

Kini merekat sudah tali-tali rapuh
saat persimpangan mencari jalan
dan segala dusta terus mengiringinya
kepergian untuk mencari alam lain
saat wajah itu bersimbah airmata
Dedaunan luruh
Tanah pun kering
Kamar-kamar lirih menyimpan makna
di antara para penunggu jiwa
melihat bayang wajah sudah tak berwujud

Kini semua ingin menerka makna
yang ditinggalkan, saat hidup masih merepih mimpi
– dan anak-anak itu
berlalu-lalang menghitung bakti
semua buta akan catatan Tuhan
karena disana tercatat penuh misteri
Tali-tali rapuh itu
sudah teramat usang mengukur waktu
selain bersiap untuk menyulam dengan temali baru
agar bayangan itu tersenyum penuh makna
walaupun harus menerobos ruang waktu
dan hanya singgah pada mimpi-mimpi anak-anak itu

(2017)

Sisa Catatan Perang

Pagi buta – rerumputan diam
desing peluru telah tertidur
Di ujung kaki langit timur
merah membara masih membakar
tangisan masih menyayat
diantara jasad bergelimpangan
penuh darah, penuh luka
jiwa pun menangisi jasad-jasad itu
deru napas tercekam bersembunyi diantara puing kota

Perang tak pernah membuat manusia puas
Ingin rasanya kutikam malam
agar orang-orang tertidur pulas
membasahi mimpi mereka dengan kabut malam
dan sinar siang biarlah mengembara di belahan lain

Tercabik mimpi – kemana damai ini pergi
bagai petir menyambar, merobek jiwa tenang
sesungguhnya siapa yang pantas disebut pahlawan
sementara manusia masih saja menelanjangi diri
dengan keserakahan dan kemurkaannya

Ingin kubangkitkan kembali beberapa jasad
dan bertanya kepada mereka
tetapi mataku tak sanggup membaca ghaib
terlalu banyak kekotoran melekat di pelupuk
jarak waktuku pun terlalu jauh
tak mampu membentangkan catatan sejarah
mungkin sebagian catatan itu telah terhapus
sebaiknya kita bisa menahan diri
untuk tidak tergesa-gesa memutarnya (catatan itu)
sebelum doa-doa tersampaikan buat mereka

(2017)

Aksara Diam di Parangtritis

Pantai Parangtritis telah marah padaku
tatkala kucumbu bibir pantai
segala penat kutumpahkan
dekil tubuhku hanyut tersapu ombak
bahkan kusemburkan airnya
untuk melukis sebuah wajah
// Nyai Roro Kidul atau Nyai Blorong
angin menabrak pikiranku
senyum itu berubah murka
karena aku memang jalang
hanya menulis satu bait di sandarannya
sementara gelombang ombak
membawa sejuta aksara diam

(2017)

Aksara yang Tertinggal

Saat dahaga tertelan ludah
seperti gerimis tanpa jejak
Langkahku hampa tanpa gerakmu
senantiasa menyentuh jemari
mengharap nalar mulai terpadu hidup

Seperti burung berkicau
hinggap di telapak daun
disitu makna alam terjalin
menyentuh ujung nalar kita
dan kita bangkit mengukir makna aksara

Sekian lama pikiran telah terpendam
mungkin,
menanti napas dalam hidup baru
tapi rindu telah menusuk jiwa
menikam dengan goresan tinta
Lalu, esok kita bentangkan semua aksara
menata dalam makna yang belum usai
hingga berbuah menjadi buah tulisan penuh makna

Malang – 2017

Sepasang Merpati

Aku jatuh kedalam jurang
bebatuan menghantam tubuhku
sepasang merpati datang menghampiri
sayap-sayapnya patah
merepih pada pepohonan tumbang
mataku lirih menatap tubuh merpati
merpati itu menangis melihat jasadku

(2017)

Solitude

Ibu, di langit masih tersisa sebuah sajak
belum sempat kutulis untukmu
aku yakin Tuhan masih menjaga sajak itu
walau mungkin ada beberapa bait
yang tidak diinginkan Tuhan untuk kuberikan untukmu
saat ini masih terpasung kelambu suci
tertidur dalam kesendiriannya dan diam

Kadang aku bertanya tanpa pernah ada jawabannya
Solitude,
sebuah kata hanya untuk mengingkari diri
tentang sebuah cinta tulus telah terputus waktu
ketika Ibu mengasuhku dalam dekapannya
hingga ia harus mengembalikan pada Sang Ilahi
sementara jalanku masih tersandung dan belum sempurna

Kini, aku merasa seperti seorang diri
tetapi mungkin ibuku pun, seorang diri disana
catatan tentang dirinya berserakan dalam hidupku
ada yang belum sempat kurajut dalam mimpi
waktu pun terus beranjak meninggalkan jejak napas
dan dalam napas itu
aku menulis tentang sisa kerinduan
tak pernah terungkap saat masih bersama Ibu
kususun dalam bait-bait fajar
tapi tak akan mungkin pernah terbaca oleh ibuku
hingga nanti, Tuhan-lah yang membacakan untuknya(Ibu)

(2017)

Sajak untuk Penyair

Lembayung merangkak pelan
batas cakrawala menengadah langit
ada larik pelangi tertulis
disitu ada bait sajak menangis
kala senja mulai menghampiri
merobek garis putih awan

// W.S. Rendra duduk membaca puisi

sepasang camar menulis garis di angkasa
mengitari pusara diam

Ombak merepih pantai
butiran pasir menghanyutkan cinta
bercerita tentang gemuruh negeri
tersimpan catatan-catatan suci
Ada petir menyambar, gamelan tertabuh
sayup-sayup senandung sajak memecah
lewat gulungan ombak, menembus waktu
tempayan siang dan bejana malam terkuak
sekian abad telah terbelenggu

// Kanjeng – Sunan Kalijaga, Sunan Muria menulis titah aksara

anak-cucu mengiris ombak
memakunya dengan benang kusut

Mereka” itu telah terbaring
diam hening tanpa suara
pada sudut-sudut malam, mungkin bangkit
masuk kedalam jiwa-jiwa “kita”
mengapa kita harus mengunci pintu malam?

– Di Sebuah Pusara –
(2017)

Saat Waktu Berbicara

disini, di penghentian akhir
engkau menyapaku
garis hitam bergulung pilu, menyiksa ragamu
bagai ombak menyapu laut
biduk kita rebah, tertelan ikan-ikan lapar
elang pun mengepakkan sayap mengirim isyarat
akankah sebuah waktu menjemput kematian
saat aku, engkau atau siapa saja
masih terpaku menatap langit!?

(2017)

*VITO PRASETYO, dilahirkan di Makassar(Ujung Pandang), 24 Februari 1964 — Agama: Islam — Bertempat tinggal di Malang – Pernah kuliah di IKIP Makassar, Bergiat di penulisan sastra sejak 1983, dan peminat Budaya. Sedang mempersiapkan Buku Kumpulan Puisi “Biarkanlah Langit Berbicara” (2016 – 2017) &
Buku Kumpulan Puisi “Sajak Kematian” (2017)

Seusai Pertunjukan Teater; Puisi-puisi Denny Mizhar

Rumah Kosong

Rumah Kosong, bagiku menakutkan serupa belantara
Tak berpenghuni, mencekam menelurkan mitos-mitos
Tempat singgah burung hantu dan setan gentayangan
Membuat enggan siapapun datang kecuali pemberani

Kulaknat kau, kesepian. Gelap dan singup
Bagai lelaki tua, sendiri di pertengahan usia
Kudengar gelisah dari jiwa yang merana
Bermandi air mata duka dan luka

Oh, kau perempuan-perempuan
Bergembiralah di malam penuh tawa
Meninggalkan kesedihan-kesedihan

Kerawanan dan ketakutan, bersemayam
Kerapuhan dan setan-setan yang datang
Menelanjangi hari-hari yang suwung

Tetapi gelap, kosong dan kesedihan
Adalah lautan yang perlu dijelajahi
Dengan ketabahan dan keberanian

Mungkin di situ ada rahasia
Yang perlu dibaca

Malang, 2017

 

 

Seusai Pertunjukan Teater

Kita masih bertanya tentang pertunjukan teater yang telah usai.
Tentang sutradara yang menjajah kepala kita akan tafsir yang kita dedah

Pipa-pipa informasi buntu. Koran-koran mencetak huruf-huruf yang salah.
Kita murung di bangku belakang yang kosong. Menggali ingatan yang kosong.

Di pintu keluar, kita masih bertanya. Untuk apa berkesenian kalau hanya untuk senang-senang semata, sedang di tempat jauh, anak-anak ingin tersenyum di atas panggung dengan jiwa yang merdeka.

Malang, 2017

 

 

Menunggumu
:Setya

Malam tadi kusapa rembulan
Saat angin memelukku dalam diam
Dan esoknya kurasakan gaduh
Di awal hari yang hilang

Mungkin ada yang menunggumu
Di bangku yang lumutan dan karatan
Ditemani daun-daun remuk diterpa kelam
Ratusan sepi membuatnya membeku

Kesetiaan itu bunga kaktus tumbuh di musim hujan
Dan ketabahan tak bisa di hitung dengan angka
Air mata adalah pelabuhan bagi luka
Meriwayatkan kisah-kisah duka

Pada penantian yang mengkarang
Tak goyang dihantam debur ombak waktu
Meski diam dan terkikis laju jarum jam
Tak bakal putus asa dan goyang

Malang, 2017

 

 

Bercermin

Aku ingin berjalan ke tampat yang jauh
menemui diriku

Malang, 2017

 

 

Kepada Puisi

Kepada puisi. Ada yang ingin kusampaikan padamu.

Aku tak bisa menulis sesuatu yang indah, sebab hidup selalu dibuat pusing oleh penghasilan yang kerap goyah.

Kepada puisi. Ada yang ingin kusampaikan padamu.

Aku tidak bisa menulis tentang para koruptor yang bermain teater komedi di panggung Indonesia. Sebab aku tak sempat menontonnya, memikirkan hutang-hutang saja menghabiskan waktu dan usia.
Kepada puisi. Ada yang ingin kusampaikan padamu.

Aku tidak bisa menulis tentang kekuasaan yang serakah dan menjadikan kemiskinan tak pernah purna, sebab aku sudah miskin sedari mula.

Kepada puisi. Ada yang ingin kusampaikan padamu.

Aku tidak bisa menulis tentang alam yang tak imbang disebabkan pemilik modal yang rakus tak berkesudahan, sebab aku tak punya rumah dan lahan untuk menanam bunga-bungaan, pohonan serta buah-buahan.

Kepada puisi. Ada yang ingin kusampaikan padamu.

Aku hanya menulis di sela-sela minum kopi: Dari sruputan ke sruputan ada ingatan tentang tetes keringat petani yang berpenghasilan rendah, rasa syukur pada Tuhan dan ada kamu yang kutunggu dengan cinta.

Malang, 2017

 

 

*Denny Mizhar, Penulis tinggal di Kota Malang. Saat ini aktif di Komunitas Pelangi Sastra Malang, mengelola penerbitan Indie Penerbit Pelangi Sastra dan Toko Buku Alternatif Griya Buku Pelangi Sastra Malang selain itu hari-harinya disibukkan dengan membantu mengelola kegiatan literasi di Kafe Pustaka-Perpustakaan Universitas Negeri Malang.

Pada Satu Tamasya Akhir Tahun; Puisi-puisi Beni Setia

HUMANIZEPOEM

bagai hentakan bola baja pada dinding
beton: aku bergetar

debum bangunan diruntuhkan. gempa
bumi lokal pada skala 7 richer

letupan nuklir terpusat. setara 6,5 kali
ledakan bom nagasaki-hiroshima

ini bukan peperangan. bukan soal apa aku
apa kamu. ini penyatuan dari pemisahan

kerigat. pertautan. zigot

2016

GERBANG SPIRITUALISTIK

terjaga lewat tengah malam. kepla sakit

jumbai syaraf dijerat. dikencangkan
dengan tarikan tali tambang. perih

“mungkin kurang oksigen,” katamu,
“mungkin terlampau banyak vodka,”

terlalu banyak ingin serta melulu
terhadang. debu di bingkai pintu

dan terjaga setiap masjid mulai
memutar kaset ayat al-quran

sakit–kurang berdzkir

2016

MANUSIA SIBERNASI

saya menciptakan diri sendiri, dari bau mulut
yang berdebat, dari tabrakan omong kosong
yang berbelit serta meneteteskan liur–materi
tidak terpakai yang berseliweran di angkasa.

berabad-abad

menjelma seorang: aku. serta seperti semua si
omong kosong, aku sosok yang berkepala bo-
long dan berotak kopong. bergaung dan berdesing

2016

PADA SATU TAMASYA AKHIR TAHUN

jangan percaya pada omongan mereka

katanya, katanya bos besar, saya tak boleh
ikut. bohong itu–akan saya cek langsung

: saya akan cek langsung. interlokal

mungkin mereka ingin saya tak ikut piknik,
dan ingin kerabatnya yang ikut–gratisan

mereka bilang bos besar melarang saya ikut
piknik. bohong itu–konyol

mungkin mereka tahu saya akan membawa
dagangan dan menjajakannya dalam bus

itu

kelicikan bsnis terselubung. mereka iri!
tak tahu cari kesempatan di kesempitan

kalian jagan mau ditipu, kalian jangan
dengar omogan mereka

2016

VARIASI ATAS TEMA-TEMA
ARWAH DI MASA DEPAN

1.
usia pelan menggiring ruh
memasuki masa lalu,serta
dinobati dan diberi kostum,
dikekalkan di dalam peran
yang dilakoni selama hidup

seratus tahu kemudian
anak cucu memutuskan lagi
tanpa bisa membela diri
mutlak dianggap cuma dorna bukan kresna
tecatat. tak bisa menggelak lagi

2.
: di masa depan arwah menjawab
semua pertanyaan-Nya jawaban jujur, dengan kesaksian si anggota tubuh

3.
banyak keinginan tetap tinggal
sebagai keinginan. melulu jadi
hanya luka hanya perih
(hanya yang terus dikenangkan
hanya keinginan yang kekal arwah keingin penasaran)

4.
kulit dan daging yang melapuk.
belatung yang tumbuh pada yang membusukpada yang kosong. klongsong

Beni setia

*Beni Setia, pengarang yang karyanya sudah tersebar di berbagai media massa.

Senja, Puisi-puisi Novy Noorhayati Syahfida

ilustrasi (Anja/Mvoice)

Di Meja Nomor 3

kita pernah gagal memaknai senja
namun, ketabahan senantiasa bertahan menanti titik jumpa
antara keinginan dan doa-doa
kita tak pernah jemu bertukar kabar
memulai percakapan demi percakapan yang paling debar

mengulanginya kelak pada satu pertemuan
meski harus melipat sederet kecemasan
sesekali, menyusuri jalan kenangan
sambil merangkai pertanyaan; melupakan atau tetap bertahan
kemudian menyimpannya di dada kiri diam-diam

Meruya, 25.10.2018

Di Luar Jendela

hujan menetes satu satu
di ujung kelokan, kanak-kanak berlari tanpa sepatu
tak ada yang sanggup berpaling dari musim
sekalipun rayuan kemarau telah kau kirim
dalam lipatan-lipatan doa yang paling intim

Kedoya-Ciledug, 23 Oktober 2018

Dia Meneguk Secangkir Teh Hangat

dia meneguk secangkir teh malam itu
hangatnya sampai di ujung pintu
muara kedatangan sekaligus kepergian
dari sepasang ingatan yang berkeliaran

secangkir teh tawar tanpa pemanis
seperti cerita yang tak habis-habis
pahit dan getir selalu nyaris bersamaan
terkadang mewarnai sederet pertemuan

di sela jadwal yang begitu padat
dan lalu lintas yang melaju cepat

tik tok jarum jam tak pernah mau melambat
diam-diam waktu menunjuk pukul 9 tepat!

dia meneguk secangkir the
dan malam pun semakin meleleh

Tangerang, 17.10.2018

Kulupakan Namamu

demikianlah…
akhirnya kau pergi ke ujung entah
dan aku menarik diri, kehilangan arah
beranda pun sepi tanpa gairah
tanpa air mata dan tawa yang pecah

tak ada lagi mabuk, atau sekedar lupa ingatan
ketika pemahaman demi pemahaman
terbang berhamburan
jatuh dalam lubang atas nama kesetiaan
dan kita, tidak pernah berusaha meyakinkan

satu sama lain. demikianlah, aku pun memilih menjauh
meninggalkan sauh

Tangerang, 1 Mei 2018 (E)

Senja

gemerlap lampu dalam sepotong senja
mengiringi segala yang tergesa
betapa waktu ingin segera
kembali pada larung doa-doa
menggenapi kenangan pada garis peta

Tol Cikampek, 3 September


*Novy Noorhayati Syahfida lahir pada tanggal 12 November di Jakarta. Alumni Fakultas Ekonomi dengan Program Studi Manajemen dari Universitas Pasundan Bandung ini mulai menulis puisi sejak usia 11 tahun. Puisi-puisinya telah dipublikasikan di berbagai media cetak, media online, dan juga di lebih dari 90 buku antologi bersama. Namanya juga tercantum dalam Profil Perempuan Pengarang & Penulis Indonesia (Kosa Kata Kita, 2012). Tiga buku kumpulan puisi tunggalnya yang berjudul Atas Nama Cinta (Shell-Jagat Tempurung, 2012), Kuukir Senja dari Balik Jendela (Oase Qalbu, 2013) dan Labirin (Metabook, 2015) telah terbit. Saat ini bekerja di sebuah perusahaan kontraktor dan menetap di Tangerang.

Komunitas