Waktu Silam, Puisi-puisi Efa Nofiana

WAKTU SILAM

Jalan Basah.
Jalan dipersimpangan sana masih sama, seperti pertama kali kau jejakkan kakimu. Kita
beriringan langkah menyusuri jalanan basah selepas hujan reda. Selekas adzan maghrib
berkumandang dari surau-surau disekitarnya.

Gang sempit.
Gang diujung sana masih seperti yang kau tau. Sempit.. sepi.. dengan deretan rumah yang
layaknya kota-kota padat penghuni. Ku yakin dimemorimu masih tersisa.

BNN Kota Malang

Rumah berlantai ganda.
Rumah yang paling ujung di gang itu juga masih sama. Rumah berlantai ganda menghadap
arah terbenamnya surya. Dengan cat putih dan pintu coklat. Untuk melepasnya aku masih
belum rela. Yahh, aku masih tinggal disana.

Ruangan dasar.
Ruangan didalamnya pun masih sama. Dengan meja kaca dan sofa hijau tua motif bunga-
bunga. Sebuah televisi lama disebelah tangga. Diantaranya ada lorong menuju dapur minimalis yang apa adanya.

Ingatan.
Aku masih suka duduk sendiri disana. Meratapi banyak hal yang masih belum bisa ku sudahi.
Aku pernah menyuguhkan secangkir teh dan bukan kopi. Segenap setia dan sepenuh hati. Kita bercakap ringan ditemani sisa tetesan hujan diluar tadi. Ah, diruang kepalaku semua itu abadi.

Sejak bertahun-tahun lamanya segalanya masih sama. Jalan dipersimpangan sana selalu basah jika hujan. Gang diujung itu masih sepi dan sempit. Rumah yang paling ujung pun tak berubah sama sekali. Dan ruangan didalamnya pun masih seperti saat kau duduk disampingku kali pertama. Disana aku masih setia mengarsipkan segalanya.

Mungkin itu salah satu sebabnya aku masih belum rela meninggalkannya. Sebab disetiap sudut kota kau selalu menggoreskan cerita.
.
Purwokerto, 2019

MENGGARIS CAKRAWALA

Tertawa saja jika kau senang
Semua orang pasti akan tahu
Aku sudah tak peduli dengan itu
Biarkan aku bahagia dengan duniaku
Dunia yang kulihat
Dengan mata, hati dan nurani
Hari ini dan esok sama saja,
Pasti berjalan apa adanya
Pagi nanti pasti terang,
Teriak saja biar senang
Berlarilah semaumu,
Kejar saja semua itu
Tepislah jika kau tak suka,
Buang saja semuanya
Enyaahh kau payahh,
Biarkan aku tetap bernyanyi
Tanyakan saja pada hatimu
Mengapa lembayung jingga menggaris cakrawala
Sakit hanya pahit sementara,
Meski luka selalu ada
Lenyap saja kau dalam pengap
Biarkan bintang-bintang tertidur dalam hatimu

Sumpiuh, 2019

MIMPI

Aku terluka dalam hatimu
Mengapa aku harus menyelam, bila akhirnya aku tenggelam??
Aku terlupa ketika waktu menarik ulur ingatanku
Mengapa aku harus mengenal, bila akhirnya aku pun tak bisa melupakanmu??

Aku memeluk malam dengan hati yang tentram
Damai duniaku,
Meskipun masih saja bayang-bayangmu datang kepadaku
Aku melupakan sesuatu
Jikalau kau tau, apa mungkin memberitahuku??

Aku terjebak hujan risik, setelah siang yang begitu terik
Sore senja berganti gelap
Mimpi kecilku turut lenyap
Ketika maha cahaya tertelan senyap
Semuanya turut larut dalam pengap

Aku melupakan sesuatu
Jikalau kau ingat tolong beritahu aku
Aku lupa waktu
Aku masih bernyanyi saat sandiwara matahari mulai berhenti
Bahkan aku pun lupa
Jikalau aku tengah terlelap saat ini

Sumpiuh, 2019

*Efa Nofiana. Tinggal di RT 04/02 Nusadadi. Sebuah desa terpencil di Kecamatan Sumpiuh. Anak pertama dari 5 bersaudara ini lahir di Banyumas, 26 Februari 1999. Ia adalah penyuka senja dan pecandu aksara yang sering kali kehabisan kata-kata. Merangkaikan huruf demi huruf adalah caranya bercerita. Itulah alasan
mengapa ia suka menulis. Bahwa dengan menulis ia dapat bercerita tanpa berbicara. Baginya, jika kata hati adalah layar yang ceritakan perasaan. Maka aksara adalah suara jiwa yang diucap dengan pena. Dan saat ini masih ingin terus bercerita lewat jalinan konsonan vokal yang terus diolah dalam pikiran hingga dituangkan untuk menghasilkan untaian-untaian yang mampu dinikmati di lembar-lembar buku suatu hari nanti.