Membangun Konsistensi Pertunjukkan Teater

Oleh: Wishnu Mahendra Wiswayana

    Tidak banyak dan tidak mudah. Dua ‘tidak’ tersebut bisa jadi menggambarkan geliat pertunjukkan teater di Malang Raya. Tentu pengamatan ini bisa jadi akan terkoreksi di kemudian hari. Namun sejauh yang penulis lihat, saat ini tidak banyak kelompok teater di Malang Raya yang secara konsisten menyapa penikmatnya dari waktu ke waktu. Kelompok teater yang dimaksud dalam tulisan ini adalah kelompok teater non kampus atau non sekolah, yang biasa disebut komunitas teater saja. Akan banyak aspek dan alasan mengapa konsistensi tersebut seakan tidak terlihat; mulai dari proses dalam kelompok teater, permasalahan sarana dan prasarana atau secara klasik sampai dengan adanya permasalahan dana.

Pemerintah Indonesia melalui Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) mengenalkan konsep quad-helix sebagai penggerak seni pertunjukkan. Quad-helix diajukan sebagai sebuah kolaborasi antara pemerintah-bisnis-intelektual-komunitas sebagai target utama pengembangan seni pertunjukkan di Indonesia. Tentu konsep di atas harus didukung dan perlu dilakukan akselerasi untuk membawa seni pertunjukkan, termasuk di dalamnya teater; dapat berkontribusi untuk kemajuan bangsa dan negara melalui karya-karya kreatif yang berkualitas. Jika pemerintah pusat telah memiliki konsep yang baik, tentu konsep tersebut perlu dibumikan ke tingkatan lokal. Masalahnya bagaimana membumikan konsep quad-helix tersebut tanpa dibarengi konsistensi tiap kelompok teater dalam berkarya.

    Pertama , terkait konsistensi, tidak banyak. Bisa dihitung dengan jari kelompok teater di Malang Raya yang berani menyapa publik dengan karya-karyanya dalam panggung pertunjukkan. Pelaku teater kadang memanfaatkan akses untuk membuka kesempatan-kesempatan tampil dalam suatu acara kesenian sebagai salah satu pengisi acara. Tentu tidak menempatkan teater sebagai sajian utama, bahkan bisa jadi hanya diletakkan sebagai acara pembuka yang bisa jadi tidak terlalu dihiraukan oleh penonton. Tapi apa boleh buat, ruang-ruang tersebut harus dimanfaatkan betul untuk tetap menggelorakan konsistensi dalam berteater. Sembari di saat bersamaan terus menjaga idealisme untuk membangun sebuah pertunjukkan yang berkelas sesuai dengan misi masing-masing kelompok.

Kelompok teater akan dikenal setelah berhasil menampilkan sebuah pertunjukkan di atas panggung. Maka satu-satunya jalan untuk menjaga konsistensi berkarya adalah terus mengupayakan untuk menampilkan pertunjukkan. Apa artinya jika sebuah kelompok teater hanya dikenal namanya saja tanpa mengupayakan sebuah pertunjukkan, seperti melihat kulit buah tanpa ada daging buahnya. Mengupayakan untuk menampilkan pertunjukkan dalam segi praktisnya bisa dimulai dengan menetapkan target tampil sebanyak dua kali dalam setahun. Apabila dirasa masih kurang, tinggikan target menjadi tiga-empat kali dalam setahun. Tidak mungkin? William Shakespeare punya jawabnya All the world is a stage, semua yang di dunia ini adalah sebuah panggung maka banyak sekali kesempatan untuk tampil, dimanapun dan kapanpun. Jika dirasa target itu pun memberatkan, berarti ada yang belum tuntas dalam mengkompromikan idealisme dan realita. Muara dari pertunjukkan teater adalah penonton, jika tidak sampai ke penonton bisa jadi idealisme yang diangan-angan itu hanyalah omong kosong belaka.

    Kedua , terkait konsistensi, tidak mudah. Tulisan ini tidak membahas tentang permasalahan dana, selain itu bahasan yang klasik bagi pelaku teater, sesungguhnya banyak cara yang bisa ditempuh untuk mengatasi masalah tersebut. Konsistensi menjadi tidak mudah karena perhatian pemerintah pada komunitas teater yang tidak adaptif terhadap keadaan komunitas. Salah satunya dalam urusan gedung pertunjukkan sebagai aspek utama berlangsungnya sebuah pertunjukkan teater. Malang Raya bisa jadi akan mengklaim telah memiliki beberapa gedung yang bisa dipakai untuk pertunjukkan teater. Namun biaya sewanya terlampau mahal bagi kelompok teater (tanpa diiring fasilitas penunjang yang memadai) sehingga hanya mampu untuk dijual ke acara pernikahan saja. Jadi jangan salahkan bila ada sentimen negatif yang beredar di pelaku kesenian tentang Gedung Kesenian yang seharusnya untuk kesenian, tapi justru lebih sering digunakan untuk acara pernikahan.

Berkembangnya zaman menuntut tiap orang untuk ikut dan mengikuti arus perkembangan tersebut. Bisa jadi situasi ini menjadi jalan keluar untuk mengatasi ketidakmudahan dalam menjaga konsistensi komunitas-komunitas teater. Komunitas teater perlu untuk mulai memanfaatkan platform digital sebagai sarana untuk aktualisasi identitas dan gerakan. Banyak sumber yang bisa diupayakan untuk hal-hal yang berkaitan dengan teater, mulai dari mengupayakan pendanaan, kolaborasi ide pertunjukkan, promosi, pelatihan sampai dengan ruang-ruang pertunjukkan baru. Memang platform digital ini membutuhkan kecermatan luar biasa dari pelaku teater, sehingga komunitas teater juga harus berbenah secara organisasi dengan pola-pola yang lebih modern. Pola modern yang dimaksud ini adalah menuntut komunitas teater untuk menata urusan manajerial ke arah yang lebih profesional, dengan menempatkan sutradara untuk berkonsentrasi saja terhadap panggung dan ide pertunjukkan. Sementara di saat bersamaan urusan manajerial diserahkan pada tim manajemen yang menata jalannya organisasi dan gerak dari sistem komunitas tersebut.

Butuh pengorbanan yang besar dalam upaya untuk memastikan konsistensi pertunjukkan teater di Malang Raya tetap terjaga. Tulisan ini tidak bermaksud untuk memberikan arahan-arahan khusus kepada kelompok teater di Malang Raya. Justru tulisan ini sebagai sarana untuk mengabarkan pengalaman, peluang dan sekaligus pembenahan yang harapannya dapat dilakukan bersama-sama sehingga teater dapat dikenal dengan baik di Malang Raya. Sambil perlahan-lahan kolaborasi quad-helix yang ditargetkan oleh Bekraf yang disebutkan di atas bisa diimplementasikan dengan baik. Pemerintah bisa jadi memang belum tahu ada geliat teater yang semakin meningkat di Malang Raya. Bisa jadi sektor bisnis memang belum tergarap dengan baik karena tiap komunitas teater sibuk dengan idealismenya masing-masing. Sementara akademisi di Malang Raya juga tidak kurang-kurang jumlahnya yang bisa dijadikan sumber pemikiran.

Lebih baik dalam konteks konsistensi ini, anggap saja triple-helix (pemerintah-bisnis-akademisi) yang ada saat ini dalam posisi menunggu komunitas-komunitas pelakunya untuk lebih berperan aktif. Tidak ada habisnya jika menyalahkan ini dan itu, bahkan menyalahkan kelompok ini dan itu; selama upayanya adalah meramaikan dunia teater di Malang Raya tidak ada salahnya untuk terus saling mendukung agar konsistensi tersebut dapat terjaga. Sambil bersama-sama mengembangkan komunitas masing-masing ke arah yang lebih modern dan profesional.

*) Wishnu Mahendra Wiswayana , Manajer Produksi di Ruang Karakter

Reuni

Isuk uput-uput, warunge Mak Ti dinggeni ebese ojobe Endik, digawe lawetan ketan mendhol.  Antri lek kate nakam, laris pol, biasane jam wolu wis siba. Pekoro ketan mendhol, nakam model opo ae dilakoni. Onok sing mangan ambik ndhodhok, onok sing klesetan ndik terase bedake Wak Adenan.

Sing kanyab yo nakam ambek methakol ndik brompit. Durung sing nyeleh lungguh ndik kaceb.  Lek onok sing kate ngaceb yo terpaksa handip ambik moloh-moloh.  Paitun seneng tail wong-wong iku, ambek ndepis nakam cedek koraan.

Dino iki gak sepiro emar.  Gak suwe onok libom minggir.  Suarane dang dung dang dung gemblodak musike gak jelas. Onok lek wong omil mudun ambek modele koyok mari mbyak-mbyakan, mari kubam lek e sewengi, padahal ketoke wis umur kabeh. Wadow eman sing nggawe jas ketoke mari hantum.  Pesen ketan, kopi, mendhol disaut ae clemat-clemut sampek dipaido ambek Lek Rokim.

“Mas, ojok dientekno mendhole, lha engkuk langgananku liane lak gak uman,” jare Lek Rokim ambek gregeten.  Ketoke sing situk dikandani mlorok ae.  Gak suwe onok sing oket nggawe brompit lawas, suarane knalpote gak karu-karuan, iku brompit opo selepan, sik sula suarane mesin jait.

“Ente suwene, nang di ae Jon?” nawake nokat.

“Aku lali, kadung uklam ate mrene, dadak aku lali lek nggowo brompit. Kadung mlaku adoh … wes ayas kelab nang parkiran, karek brompitku thok, dilanggit ambek tukang parkire, diait! Khatik lawange dirante, wis maleh ngrayab wong kacepan tak kon ngewangi ngangkat,” jare ambek gobyos, praene koyok mari halak neam, ambek atame harem. Kabeh ngakak, Lek Rokim kekel.

“Lek Kim ayas ipok, sing sangar.  Mendhole siba yo?” jare Jon ambek njagrag brompite gak iso-iso.

“Awakmu mari lapo Jon? Iso gak karu-karuan ngono,” jare Lek Rokim sik ambek ngentekno ngguyu. Jon ketoke njae.

“Iki … luwak-luwak iki liane ngejak reuni ae.  Mosok ben ulan reuni.”  Nawak-nawake mek ngenem ae. Jon terus ngroweng.

“Iki terakhir yo rek. Kadit reuni-reunian.  Mosok kaet biyen pancetae.  Foya-foya, astep … gak jelas.  Acarane mek jor-joran ayak.  Ente enak Med, kibrap kanyab, sukses ente.  Tapi itungane yo kadit. Lha ngene iki, ente mulai SMA sampek kewut yo pancetae, yo gak waras-waras. Koen yo ngono Kris, jare halokese es telu, dadi pejabat, lhok en … pantesa koyok ngene iki, hantum ndik parkiran.  Gak isin ta.  Ayas ngroweng iki guduk pekoro opo.  Ente-ente nawak ayas, brathes. “ jare Jon.

Paitun rodok kaget. Padahal biyen Jon korak pol, arek-arek iki ganok apa-apane.  Lek Rokim ngungib, ethok-ethok  sibuk ngelapi lepek. Ketane Jon sik wutuh, mendhole gak diothek blas. Jon tambah ndandi.

“Koen pisan oo ngono Yok!  Ente senengane ngacarakno gendhakan. Prasamu aku kadit itreng ta.  Meh ben ulan ente nggae acara di Jogja, Arabayus, Atrakad, ndek Ilab, kadang nang singgapur opo hongkong.  Sing kegiatan sosialah, jalan sehat, opo sing kadit mbok acarakno.  Ero aku. Iku mek ketoke.  Wong tibae mek gawe ngacarakno gendhakan arek-arek.  Ente ate ngaling? Onok sing crito nang ayas. Kenyataane lak ngono se?” Jon ketoke tambah muntab, tail sing dijak omong dadak tambah keturon kabeh mengkurep ndik mejone warung. Mek Yoyok sing nyelek todes oker ambek grogi dipenthelengi Jon.

Jon ngadeg ate ngaleh.  Yoyok sik ketenggengen.

“Lek Kim, orip? Tak rayabe ae.  Engkuk lek bekakas-bekakas iki gak tangi-tangi, guyangen ae ambek banyu koraan iku, Ndi pesenanku maeng?” jare Jon ambek ngaleh terus nyangking kresek bek bungkusan ketan. Yoyok gak dipamiti.

Mari sarapan ketan, Paitun uklam ambek sik heran mikir Jon. Ndik enggok-enggokan Paitun gak sengojo ngwasno plange panti asuhan ndik ngarepe gang.  Wah, tak reuni pisan wis batine Paitun.  Suwe gak mrono, Paitun biyen gelek rudit kono, koyok hamure ewed.  Omah lawas tinggalane londo. Clengak-clenguk ndik ngarepe lawang, Paitun kaget.

“Lhoo… Tun, mlebuo. Yoopo Tun kok gak tau mrene,” tibae suarane Bu Tin.  Asline jenenge Prihatiningsih, ondor wis kaet jaman biyen, tapi sik sumringah, praene ketok lek bekase nom-nomane sinam. Jare wongwong bojone ilang ndik Timtim.  Paitun ublem, koyok helom rasane.

Sampek ruang tengah, atine tratap ndelok arek licek-licek kembul mangan ketan. Bu Tin metu omongan.

“Yon gene iki Tun, alhamdulillah onok sing digae sarapan.  Digawakno Jon maeng.”

Durung mari trenyuh atine, sak klerapan, tekok cendelo, ndik gange omah ketok Jon mberesi noto blonjoan ambek sayuran ijo sik seger ndik gronjong kayu mlagrang brompite.

“De, budhal sik yo!” Jon pamit ambek nyetater brompite.

“Yo le, tak dungakno rejekimu akeh yo,” Bu Tin nyauti.

“Alhamdulilah Tun, untung direwangi Jon.  Aku wis tuwek, jathuko yoopo aku ngrumat arek-arek iki.  Sak jeke bojone mati, kenek tipes, Jon brobah Tun.  Anake mek situk, wedok.  Melok bojone, dtugasno ndik Sulawesi,” Bu Tin crito dowo.

Ambek ngrungokno Bu Tin, Paitun ambek mbrebes mili kedelengen tekok njero ndelok lawang ngarep, ndik njobo sinare srengege isuk koyok slambu nyorot-nyorot ijone sayur mayur sing nggrumbul digonceng Jon. Koyok ijone atine Jon.

Otak dan Stamina Sehat di Usia Lanjut

Oleh: Ayu Bulan Febry KD SKM MM *

Seseorang dikatakan memasuki masa usia lanjut setelah melintasi usia 60 tahun ke atas. Jangan hanya berfikir bahwa waktu tua nanti, hanya sosok yang sakit-sakitan, pikun, dan tubuh yang lemah rentan. Di usia lanjut ini ternyata Anda pun dapat menikmati hari-hari yang menyenangkan, sehat, dan bahagia. Kuncinya siap akan perubahan yang kan Anda alami baik fisik dan mental, atur asupan makanan, rutin kontrol kesehatan, tetap berolahraga, dan selalu tersenyumlah…

Perubahan Fisik dan Mental

Perubahan secara fisik atau mental banyak terjadi ketika seseorang memasuki usia tua. Perubahan yang biasa terjadi adalah timbulnya uban, penglihatan berkurang, tanggalnya gigi, pikun, pendengaran menurun, dan merasa dirinya dikucilkan. Perubahan tersebut secara alami pasti terjadi.

Bila seseorang sudah lansia, akan terjadi perubahan fisik yang perlu mendapat perhatian. Seseorang akan memiliki otot yang kuat pada usia 20 tahun. Kekuatan ini akan menurun ketika menginjak usia 40 tahun. Pada usia 60 tahun, kekuatan otot hanya tinggal setengahnya dibandingkan dengan bertambahnya usia. Upaya untuk memperbaiki fungsi otot dapat ditempuh dengan cara latihan fisik yang tepat dan berkesinambungan.

Peningkatan jumlah lemak pada tubuh orang lansia dipengaruhi oleh penurunan aktivitas fisik yang tidak diimbangi dengan pengurangan asupan makanan. Peningkatan jumlah lemak akan dapat berdampak terhadap timbulnya penyakit. Perubahan fisik lain yang sering dialami oleh lansia adalah gangguan kesehatan gigi seperti kerusakan gusi, karies pada akar gigi, dan tanggalnya beberapa gigi. Kondisi ini mengakibatkan lansia mengalami hambatan dalam proses mengunyah.

Sejalan dengan bertambahnya usia, kemampuan indra penciuman dan perasa juga secara perlahan mulai menurun. Perubahan ini kadang-kadang tidak disadari oleh mereka. Kekurangan beberapa zat gizi seperti seng, tembaga dan beberapa vitamin dapat memicu penurunan kepekaan indra penciuman dan perasa. Kondisi ini mengakibatkan selera makan menurun sehingga dapat menimbulkan kekurangan zat gizi.

Produksi asam lambung dan beberapa enzim pencernaan juga mulai mengalami penurunan. Kondisi ini berpengaruh terhadap penyerapan vitamin dan kalsium dalam usus. Akibatnya akan timbul berbagai penyakit yang berhubungan dengan lambung dan usus seperti tukak lambung, sembelit atau kurang gizi

Beberapa penyakit yang sering timbul pada lansia adalah penyakit jantung dan penyempitan pembuluh darah yang dapat menyebabkan tekanan darah tinggi. Organ ginjal pun sering mengalami kelainan akibat berkurang fungsinya. Sistem endokrin juga mengalami kemunduran sehingga akan timbul penyakit diabetes mellitus.

Pada organ seksual, bisa mengalami kemunduran atau kelemahan fungsi sehingga libido menurun. Selain itu, untuk gerakan usus akan lebih lambat dan cairan lambung untuk memproses makanan berkurang. Akibatnya, penyerapan sari makanan oleh tubuh menurun. Selain itu, kotoran (feses) keluar tanpa terkontrol atau terkendali.

Selain itu sel otak mengalami penurunan sehingga secara keseluruhan akan menurunkan daya ingat dan daya pikir seseorang yang kemudian menjadi demensia (pikun). Jika mental lansia tidak siap menerima kenyataan ini, akan menjadi apatis bahkan depresi menghadapi semua perubahan pada masa tua.

Kebutuhan Gizi Usia Lanjut

Kebutuhan energi menurun pada proses menua. Hal ini disebabkan oleh terjadinya komposisi tubuh, yaitu menurunnya sel-sel otot dan meningkatnya sel-sel lemak yang menyebabkan menurunnya kebutuhan energi untuk menjalankan fungsi tubuh. Kebutuhan energi untuk usia lanjut pria sekitar 2200 kalori dan wanita 1850 kalori per hari.

Protein sebagai sumber energi tidak perlu dikurangi pada usia usia lanjut, karena protein berfungsi sebagai zat pembangun pada proses menua untuk mengganti sel-sel tubuh yang rusak. Tetapi protein tidak boleh dimakan dalam jumlah berlebih karena dapat memberatkan fungsi ginjal. Kebutuhan protein untuk usia lanjut adalah ± 0,8 gr/kg BB per hari.

Asupan lemak bagi usia lanjut tidak melebihi 15% kebutuhan energi. Di usia lanjut sebaiknya menggunakan minyak nabati (asam lemak tak jenuh), dan mengonsumsi ikan yang mengandung asam lemak tak jenuh adalah lebih baik dibandingkan protein hewani lainnya.

Penyakit-penyakit degeneratif sering kali dialami di masa usia lanjut ini seperti diabetes mellitus, jantung, hiperkolesterol, asam urat, hipertensi, dan lain-lain. Untuk itu pengaturan gizi dalam hal pemberian diit sangat diperhatikan dan disesuaikan dengan penyakit yang diderita.

Kiat Fisik dan Otak Sehat di Usia Lanjut

Nah, simak yuk sejumlah kiat supaya sehat di usia lanjut…

1. Kurangilah asupan santan, daging yang berlemak, dan minyak agar kolesterol darah tinggi tinggi, karena santan kelapa dan daging berlemak mengandung kolesterol yang tinggi.

2. Perbanyaklah mengonsumsi makanan berkalsium tinggi seperti susu, ikan, makanan laut, karena pada usia lanjut khususnya ibu-ibu yang menoupouse, sangat perlu mengonsumsi kalsium untuk mengurangi risiko keropos tulang. Dianjurkan susu yang rendah lemak tinggi kalsium, bisa juga susu skim. Selain itu, ikan laut memang memiliki kandungan gizi yang bermanfaat bagi otak. Ikan laut seperti tuna, salmon, makerel, sarden, serta ikan kod mengandung minyak ikan omega-3 yang kaya akan DHA. Sering mengkonsumsi ikan laut akan memperlancar proses pengiriman signal yang menuju otak.

3. Perbanyaklah konsumsi makanan berserat seperti sayur, buah, gandum, oat, agar pencernaan lancar dan tidak sembelit. Pilihlah sayur dan buah yang berwarna hijau, kuning, oranye karena selain memenuhi kebutuhan serat, juga untuk memenuhi kebutuhan vitamin A, C, E yang melindungi sel-sel tubuh termasuk sel otak dari kerusakan.

4. Kurangi konsumsi gula dan makanan yang mengandung karbohidrat tinggi agar gula darahnya normal, khususnya bagi penderita kencing manis.

5. Gunakanlah sedikit minyak untuk menumis dan kurangi makanan yang digoreng. Minyak mengandung kolesterol, dan kolesterol di dalam pembuluh darah dapat menyumbat pembuluh darah sehingga mengakibatkan penyakit jantung.

6. Makananlah cukup sumber zat besi. Sumber zat besi dari hewani (daging yang berwarna merah) dan nabati (sayuran berwarna hijau pekat) untuk mencegah anemia dan baik untuk kesehatan otak.

7. Perbanyaklah mengonsumsi makanan yang diolah dengan dipanggang atau direbus, karena makanan tersebut tidak mengandung kolesterol dan mudah dicerna tubuh.

8. Buatlah masakan agar lunak dan mudah dikunyah, sehingga kesehatan gigi terjaga.

9. Buatlah masakan dengan bumbu yang tidak merangsang seperti pedas atau asam karena dapat mengganggu kesehatan lambung dan alat pencernaan.

10. Kurangi pemakaian garam, yaitu tidak tidak lebih dari 4 gram per hari (1sdt = 5 gram), hal ini ditujukan untuk mengurangi risiko tekanan darah tinggi.

11. Minumlah air karena sangat penting bagi metabolisme tubuh dan mengganti cairan hilang dalam bentuk keringat dan urin.

12. Hindari minuman beralkohol, selain menyebabkan iritasi lambung, minuman berlakohol memiliki kandungan energi yang sangat tinggi yang dapat menyebabkan obesitas/kegemukan.

Menu Sehari-hari Usia Lanjut
Berikut ini adalah contoh menu dalam sehari untuk usia lanjut :

Pagi (±Jam 06.00) : Nasi putih, Soto ayam

Snack (±Jam 10.00) : Susu rendah lemak tinggi kalsium

Siang (±Jam 13.00) : Nasi putih, Rolade daging,Tempe bacem, Rawon jamur kancing,Buah melon Snack (±Jam 16.00) : Kue nagasari

Malam (±Jam 19.00) : Nasi putih, Tengiri kuah kuning , Perkedel tahu, Tumis labu siam, Buah pepaya

*Ayu Bulan Febry KD SKM MM, Penulis buku-buku gizi dan kesehatan, penyuluh kesehatan di Instalasi PKRS RS Jiwa Dr Radjiman Wediodiningrat Lawang.

 

Liwat Gang Gawat…

ikon paitun gundulBiasae lek ate nang Alun-alun, Paitun nunut mikrolet. Tapi saiki kepingin uklam. Nrabas gang-gang, liwat trotoar, terus ngaso diluk nang isor wit. Kolem sak uklame sikil, Paitun ublem Gang Gawat.

“Suwe gak liwat kene, wong-wong tambah sugih ketoke,” batine Paitun. Sak dowone gang ancene akeh sing mbangun omah, onok ae lek agit.
“Lho, Paitun, dungaren liwat kene!” bu Wiwik mbengok, Paitun sampek jumbul. Onggot mulai emar komentar. Paitun meneng ae, ngaso ndik buk’e pos. Dirungokno ae nggedabruse wong-wong nang kono.

“Paling Paitun melok-melok blusukan ya?” onok sing nyaut.
“Yo ket biyen lek Paitun. Durung onok sing blusukan, Paitun wis blusukan,” jare liane. Mbak Tin mecungul kolem pisan, takok nang Mbak Tin.
“Mbak Tin, tukang sampeyan prei ta?
“Duduk tukange sing prei, sidu iki cupet?
“Sopo sidu iku mbak?”
“Si duitt….” Mbak Tin jawab cengengesan. Paitun mbatin, pancet ae Tin iki. Mulai nom sampek rabi sik prengesan ae koyok arek enom.
“Alaa paling yo ojire deleh isor bantal. Ndang marekno omah sampeyan cek ndang apik,” jare Mbak Wiwik, manasi. Paitun mek mesem tail wong-wong iku.

“Kono lho, njaluko walikota, mumpung saiki mbangun kantore. Be’e sampeyan oleh lungsurane kayu reng ta semen,” onok sing mulai ngawur.
“Ngawurae… lek jenenge walikota, yo opo ae yo enak. Kepingin sembarang sak det sak nyet yo dadi. Lha aku, iso ae mbangun omah ndang mari, uuaapik, tapi maringono poso setahun. Isuk bengi teter sego krupuk ambek kecap, lak iso kendho kabeh sak omah.” Wong-wong podho kekel, Paitun mek mesem. Iso koyok aku koen, batine Paitun. Awak bendino kemping hare.
“Takok’o Paitun. Tun, awakmu wis mampir ta nang balaikota. Mampiro Tun.”
“Yo Tun, deloken, jare uaapikk, mewah Tun. Awakmu masio ngono yo kudu ngrasakno. Lungguhane jare empuk Tun,” Bu Wiwik ngurupno spiker aktipe.
Wis iki, batine Paitun, mulai gak enak iki. Omongane Bu Wiwik mulai pengaruh. Mbak Tin tambah banter.
“Lho iyo lho, masio awake dewe yo kudu ngrasakno.”

“Kita kan termasuk ikut urun?” mbak Wiwik mulai gae bahasa.
Paitun kroso mulai gak enak. Ngadek alon-alon ateh ngaleh.
“Ate nang endi Tun. Dijak rundingan dadak ngaleh.”
Paitun acuh ae. Lek gak ngaleh, awak iso kepengaruh.
“Paitun cabut, rek!” jare wong-wong podo atawek.
Paitun nyludurae, sing bengak-bengok jarno batine Paitun. Paitun wis ate utem gang, ngono yo onok ae sing mebngok tekan loteng.

“Tun, lek ketemu walikota sampekno yo, kapan rek slametane. Ojok lali ayas ambek onggot-onggot diundang ya!?! Temenan Tun, sampekno yo…!
Paitun gak ngreken, tapi pas mlaku sobo trotoar nerusno uklame sikil, Paitun mbatin, wong-wong yo onok benere. Cobak se tak mampir, ambek ate ngomong suwun soale alun-alunku male apik.

Minum Air Kloset agar Lekas Sehat

Ilustrasi. (Anja Arowana)

Oleh Surya Gemilang*

“Sebaiknya Anda minum air kloset agar lekas sehat,” balas dokter itu setelah kuucapkan keluhanku. Sinting bukan main, kan?!

Barangkali Sijit, teman baikku, tidak kalah sintingnya karena telah merekomendasikanku untuk pergi ke dokter sinting itu.

“Kau sialan, Jit!” hardikku melalui ponsel sepulangnya aku dari tempat praktik si Dokter Sinting. “Kau bilang dokter itu dapat diandalkan! Rupa-rupanya dokter itu sinting!”

“Lho? Sinting bagaimana?” tanya Sijit.

“Masa aku disuruh minum air kloset agar lekas sehat?!”

“Kalau memang begitu suruhannya, ikuti saja.”

“Ikuti saja?! Kau sinting sebagaimana dokter itu, ya?!

“Dengarkan aku baik-baik, Babah.” Sijit berhenti sebentar. “Waktu salah seorang saudaraku sakit gede, tak ada seorang dokter pun yang bisa menangani penyakitnya, kecuali dokter yang kau anggap sinting itu. Kau tahu dia menyuruh saudaraku minum apa? Dia menyuruhnya untuk minum kopi campur telur mentah! Dan, saudaraku langsung sembuh begitu menuruti suruhan dokter itu!”

“Itu, kan, hanya kopi campur telur mentah, Jit! Bukan a-i-r k-l-o-s-e-t!”

***

Rasa sakit yang ganjil itu hinggap di perutku sejak sebulan yang lalu. Semula, kupikir aku maag. Maka, kuminumlah obat maag, tapi rasa sakit di perutku tak kunjung membaik. Hari demi hari, sejak rasa sakit itu muncul, perutku terus membesar—sedikit demi sedikit saja, sehingga tak langsung kusadari hal itu. Kala rasa sakit di perutku semakin mengganggu, aku memutuskan untuk tidak ngantor sampai rasa sakit itu lenyap—entah kapan. (Toh, meski tak bekerja, uang tetap menghujani rekeningku.)

Sebelum mendatangi si Dokter Sinting, tak kurang dari sepuluh orang Dokter Normal yang telah kudatangi, dan mereka semua tidak tahu penyakit macam apa yang hinggap di perutku. Sempat aku berpikir bahwa aku disantet. Tapi, bukankah tukang santet dan semacamnya sudah pada punah di tahun 2040 ini?

***

Pagi ini—sehari setelah kudatangi si Dokter Sinting—begitu membuka mata, kudapati perutku sudah sebesar perut seorang wanita yang kandungannya berusia delapan bulan! Padahal, kemarin, ukuran perutku masih sekitar setengah dari ukuran perutku yang sekarang. Otomatis, baju-bajuku jadi pada tidak muat, sehingga aku mesti telanjang dari pinggang ke atas. Langkahku pun terasa berat. Perutku semakin sakit.

Masa, sih, aku mesti minum air kloset?! pikirku.

***

Entah kenapa kekasihku, Babah, tak bisa dihubungi pagi ini. Oleh karena itulah aku memutuskan untuk pergi ke rumahnya. Di depan gerbang rumah mewah tempatnya tinggal, aku bertemu dengan Sijit. “Kekasihmu tak bisa kuhubungi, dan itu membuatku khawatir,” jawab Sijit ketika kutanyai maksud kehadirannya kemari.

Kami pun masuk ke rumah Babah—pembantunya yang sudah pantas disebut “nenek” itu yang membukakan pintu—dan terbelalak begitu sampai di kamarnya.

“Ya ampun, Babah!” pekikku dan Sijit bersamaan.

Kekasihku tergeletak lemas di kasur, tanpa memakai baju. Wajahnya pucat, sepucat mayat—tapi ia masih hidup—dan perutnya … Ya ampun!

“Kenapa kau tidak berinisiatif untuk mencarikan dokter buat majikanmu?” ucapku pada si Pembantu yang sudah tua, setengah membentak.

Si Pembantu tertunduk. “Maunya, sih, begitu, Nona. Tapi Tuan Babah melarang saya.”

“Aku sudah bosan bertemu dengan dokter!” sambung Babah, suaranya parau. “Mereka semua tidak berguna!”

Sijit berdeham. “Apa kau sudah minum air kloset?”

(Aku sudah dengar soal “minum air kloset” itu dari Babah kemarin, via video call.)

“Bah! Kau jangan sinting, Jit! Pasti ada solusi yang lebih baik untuk menyembuhkan penyakitku ini!”

Heninglah beberapa jenak.

Si Pembantu memberi isyarat minta diri, dan Babah mengangguk, lantas pergi dari kamar ini.

Sijit tiba-tiba tampak menahan tawa. “Barangkali, perutmu itu terus membesar secara ganjil karena rekeningmu terus menggendut secara sama ganjilnya!” Tawa Sijit lantas pecah. “Makanya, jangan kaucurangi bosmu sendiri!”

Babah mengerang sebelum berkata, “Sialan betul kau! Mentang-mentang kini aku kesakitan, dan rasanya hampir mati, kau malah mengingatkanku akan dosa-dosaku sendiri!”

Sijit tergelak lagi, kemudian berkata kepadaku, “Nah! Benar, kan, apa kataku? Kekasihmu ini kotor!”

“Aku tidak peduli pada kotor-bersih dirinya,” balasku, dengan wajah memerah.

Sijit mendecak-decakkan lidah. “Wah … wah … Cinta dan uang sama-sama bisa bikin bodoh.”

“Mending kau pergi saja, Jit!” hardikku.

Wajah teman baik kekasihku itu sontak masam. Ia lalu berlalu dari kamar ini, tanpa kata-kata, sehingga tersisalah aku dan Babah.

“Biarlah dia pergi,” kata Babah lirih. “Kita tak memerlukannya.”

Tak terlalu lama kemudian, Sijit kembali ke kamar ini dengan segelas air di tangannya. Aku langsung tahu air apa itu sebab aromanya yang rada-rada tengik tercium jelas di hidungku.

“Kau mau meminumkan air kloset kepadanya?!” kataku.

“Jangan gila, Sijit!” Babah memekik parau. “Kau tidak boleh meminumkanku air kloset!”

Dengan gerakan cepat, aku pun merebut gelas itu dari tangan Sijit. Dan Sijit merebut gelas itu dari tanganku. Dan aku merebut gelas itu dari tangan Sijit. Dan Sijit … Selagi kami saling memperebutkan gelas tersebut, kulihat Babah bangkit perlahan-lahan, dengan susah sungguh, lantas meninju rahang Sijit dari samping dengan teramat keras hingga teman baiknya itu pingsan.

***

MEA = Melok Endi Ae

paitun gundul

logo paitun gundulUdan e deres pol, tapi bledheke gak muni, mek lhab lhab. Paitun ngiyup ndik emperan terase Cik San. Rodok sesek wong sing ngiyub kanyab, wayahe jam helom idrek. Unung bledhek gak muni, cobak dhar-dher, lak sing ngiyup bolak-balik njumbul, tekan kadoan osi koyok wayang titi, mek ganok sing salto.

Cik San mek songgowang, kethap-kethip ngantuk kademen. Switere yo pancet ae sing digawe, mulai taun piro, switere yo iku ae, sampek benthelane nglokor kabeh. Simpoane sampek ngethel.

Tapi wong kampung kene, masio nggrumbul kenek tampes banyu yo sik nglocor ae lambene, Kait maeng opo ae sing diomongno. Podo ngetet soale ngalahno suarane udan.

“Koyok awake dewe ngene iki osi-osi gak kanggo. Kalah stan lek gak siap. Ambekne lapo onok pasar bebas. Lha koyok awake dewe ngene iki lak iso terjun bebas ta, jup…. tlosoorrr…” jare Endik.

“Saiki bayangno, wong luar oleh bebas idrek ndek kene, lawetan los…, dagang yo sak karepe, sing kanyab modal yo tambah merdu. Durung liane…, ajur…ajur,” Bendhot sambat.

“Lha awakmu wingenane gak kolem pelatihan ta? Kapan iko Pak RW yo towo-towo kursus gratis ketrampilan. Jarene warga cek siap,” Sugik ngandani.

“Yo telat thes… ibarate kono wis siap perang, awake dewe kait dilatih mbedil. Yo osi halak sak sembarange ta, yo osi tiarap thok awak dewe. Opo lek gak ente-ente ini gawe titis-titisan. Yo dubukak ae kursus ngeles,” jare Bendhot. Okere bal-bel ae. Ketoke Sugik okere siba.

“Sam, okere utas Sam. Ate tuku, udan sam, ojir kari pisan,” jare Sugik ambek gayane ngrogohi kesak. Mblebes keblek iku. Pancet ae, apal ayas, batine Paitun. Lek tahlilan ambek wong-wong mesti ditengeri, lek ate rayub ngono oker sing ndik saleg disok ambik Sugik nang kerduse takreb. Hengg… mlorok nang ayas pethulo iku. Ketoke prei lawetan angsle, lha gak ketoki rombonge. Udan sik nggrojog, sikil mulai njebeber.

“Tambah jarene, wong-wong luar bakale grudukan sing ate idrek ndek kene. Tekok pietnam, tailan, pilipina, singgapor, ndi mene yo… wis pokoke… losss…ate kadit ayahab ta,” Endik ngroweng.

“Mulai tukang sampek professor. Mulai gedibal sampek penyanyi sak penarine. Kathik kodewne sarik-sarik. Iso-iso tukang cukur, tukang talang, depot sampek dokter. Bukak toko lhuw… bebas… bas!,” Endik tambah ngompori.

Krungu toko, Cik San langsung jumbul melek. Paitun kudu ngguyu tapi terus saaken. Digetno ae lek narik switer nang dodone, wis sing mburi bedah.

Bambing thenger-thenger, ketail mulai grogi. Iki ngono pisan, okeran ta nyusur. Beluk utem tekok irung thok hare, iso koyok anglo. Bendhot ngablak ae gak mari-mari.

“Ngene iki lek onok Samian, Budi, opo Londo iso step le’e lek krungu. Lha yoopo, ngeneae kesenian wis mengkis-mengkis. Bayangno ta, lek misale nggembruduk penari-penari sing mangglik-mangglik, tanggapan murah, katek meleg hatanges odum… hara koen, yoopo? Iku durung pelukis sing seniman opo sing daden-daden, hadak lawetan lukisan koyok lawetan taplak ae. Serem… serem iki!,” Lambene tipis ancene asbak iki.

“Ayas yo krunguh. Kabare… wong-wong sing ateh grudukan nang keneh iku kathik wis akli kabeh, masiyoh tukang yo propesional. Godir lek idrekan ae. Sudah berapah taun wis disiapnoh. Dikursusi boso Jowo, boso Indonesah. Sinau kebudayaane keneh. Negoro hadak suwanteh… woles. Kono woles, kene-kene iki sing mules akhire,” jare Bambing sampek gak kroso lek imblake teles separo ketetesan bocoran.

Sepi nyenyep sediluk. Embong kelem banyu. Ngiyup rasane osi koyok numpak tongkang sing kampul-kampul diterak lesus. Bledhek iso koyok strobo. Angin yo was-wes ae. Ipok pengaruh sakjane ngene iki. Ate njaluk Cik San? Lhuw, kresek ae diitung hare. Warung halabes tutup pisan.

Jithok mulai sep-sep, osi-osi helom kerikan kabeh. Sugik iku lapo, oker disumet, ditodes diluk, pateni. Maringono disumet maneh. Begitu karek othis, pas enak-enake dadak mamel… harah kono ngetet ae koreke sampek ketam pisan. Wong-wong kekel kabeh ngapok-ngapokno. Kongkon nyele korek Cik San gak wani. Sik duwe ngatu gulo jare.

“Lek misale ngene yoopo, Sam? Gentian awake dewe golek idrekan nang luar yoopo, budal nang negoro-negoro iku, lak podo ae tibone,” Sugik plaure duwe pendapat. Bendot getem-getem.

“Heh, ngene yo pethulo bin ronde. Mbok pikir ate kemping? Lek ente ladub nang luar, gak duwe keahlian, mek sak enthose, terus ate lapo, elek-elekan paling-paling ente digawe campurane sandal japit. Sing rodok nayamul, paling ente dikontrak ndik restoran, tapi kongkon ndodok ndik njero panci gawe kaldu. Meleg ente? Lek koyok Paitun ngene karuan, ndik kono diklongkop, kulite iso gawe dompet. Maringono dimereki Paytoon, dikirim ublem kene maneh, laham wis… Daginge gawe campuran rabuk, dadi pupuk organik…mereke..sik…Peitania. Ngono le, pethulo bin ronde…ketan kolek gempo legi…” jare Bendhot.

Wis kabeh ngakak, sampek Cik San melok kekel, switere tambah nglokor kabeh.

Paitun menthil atine. Deloken koen Ndhot, Paitun mbatin, tak dungakno helom disamber bledhek, tapi gak ketam tapi tambah ireng koyok tilise dandang. Awak gak pisan pindho gawe sansak. Lek mrenges deloken, koyok dakocan. Dakocan kathik sik dipilok ireng dop pisan. Lambene koyok babal.

Paitun rikim, lha lek wong kene kanyab sing nang luar, maringono helom tibake ndik kene wis dinggeni kabeh ambek wong asing. Lak ngaplo ta ente. Terus lek ndik kene saiki kabeh ngglendhem ae, moro wong asing gembruduk idrek mrene, ngawab ojir kanyab pisan, lak yo tambah bunyek, ate dadi bongso gedibal ta sak lawase? Dipesi thok ae ket biyen. Aluk kadit lek ayas.

“Ayas duwe akal, Sam. Engkuk rombong angsleku tak akehi, nggawe omil engkas. Tak tulisi angsle Vietnam, Angsle Singapura, Ronde Manila, Pethulo Tailan, Serabi Jawa. Siippp wes. Kathik warga kene lak delap a lek nang jeneng-jeneng luar. Sing penting lak cwan ta bos…” Sugik lek ngomong cik kemlinthine. Brengose koyok ketan ireng dirubung tumes.

“Nisore tulisan angsle iku tambahono, le. Tulisono…MEA… dalam kurung… Melok Endi Ae… ,” Endik ngegongi. Ngakak terus. Udan wis entek, gak ngaleh-ngaleh keblek-keblek iku. Tak langgit ae ngenem-ngenem.

Aluk ngale ae. Repot mungsuh genaro-genaro Melok Endi Ae iku. Sing dirikim mek cwan thok. Nyirik thok ae pikirane.

Embong kampung sik teles. Paitun uklam kalem ambek ngelesi banyu ngembeng. Koyoke enake rimpam ae nang hamure Pak Hengki, rikime Paitun. Ngipok, ambek suwe hare ayas gak ngrungokno lagu-lagu lawas. Koen ero, Pak Hengki duwe kaset lawas sak kethapruk, ewonan, sampek koyok museum. Wanyik lek rudit paling bantalan kaset.

Ate ublem, ketail Pak Hengki nendes santai ngrungokno musik ambek okeran beluk bunder. Wa ik, udenge wis ganti rek. Sing disetel lagune wasik, senenganku hare… penyanyine akmat iku lho, tapi sing rambute kribo, guduk akmat sing gundul.

Lebih baik di sini, rumah kita sendiri…
segala nikmat dan anugerah Yang Kuasa
semuanya ada di sini…

“Mlebuo Tun, ipok opo teh? Ndek kene ae sik. Deloken ta, ndik njobo mendunge roto,”

Quo Vadis Toko Modern Ilegal di Kota Malang

Oleh: Soetopo Dewangga *

GEMURUH suara Pemkot Malang pada detik–detik menjelang akhir 2015 dalam merespon keresahan masyarakat, yang salah satunya disuarakan Aliansi Anti Toko Moderen Illegal Kota Malang, terkait menjamurnya toko moderen yang menurut temuan Aliansi keberadaannya Illegal, direspon gegap gempita oleh Wali Kota Malang, yang antara lain menyampaikan akan inspeksi mendadak (Sidak) dalam bentuk Opsgab (operasi gabungan), dan bagi yang melanggar pasti disanksi, bahkan yang tak berizin di-police line.

Opsgab yang dilaksanakan pada 30 Desember dengan melibatkan beberapa SKPD terkait, telah menemukan beberapa toko moderen yang menurut Kepala BP2T, ada yang tidak bisa menunjukkan surat izin dalam bentuk SIUP maupun HO dan atau beberapa di antaranya SIUP dan HO nya sudah mati. Padahal SIUP dan HO hanyalah salah satu di antara persyaratan lain bagi pemilik usaha toko moderen untuk memperoleh IUTM ( Izin Usaha Toko Moderen ).

Atas temuan itu, ternyata Pemerintah Kota Malang tidak memberi sanksi apapun, bahkan janji memberi tanda police line pun hanya sebagi ungkapan bombastis yang tidak ada dalam tindakan nyata.

Dalam beberapa bulan terakhir, kita semua dibuat tercengang dengan penampilan akrobatik SKPD terkait took modern di Kota Malang, terutama menyangkut terkait tata kelola toko moderen.
Kasus Perda No 1 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Pusat Perbelanjaan,
Toko Moderen dan Pemberdayaan Pasar Tradisional, cacat tanggal penandatanganannya oleh Wali Kota Malang, sehingga Perda itu justru menjadi simbol carut-marut dan amburadulnya sistem penegakkan Perda Kota Malang terkait tata kelola toko moderen, disusul dengan Opsgab yang tak berhujung pangkal.

Sementara itu Pemerintah Kota Malang dengan tegasnya melakukan penindakan pada pedagang asongan di Alun–alun, PKL di kawasan Pasar Besar dan terakhir penertiban parkir liar, menjadi pemandangan kontras betapa dewi keadilan dengan mudahnya menebas hak-hak wong cilik secara serampangan, yang sesungguhnya memiliki derajat kesamaan dalam pelanggaran terhadap Peraturan daerah .

Akibatnya, masyarakat menilai secara tidak langsung bahwa penegakkan Perda bukan lagi menjadi bastion of justice (benteng keadilan), melainkan bassinet of justice (keranjang keadilan) yang mudah dininabobokan dan diayun sesuai kehendak penguasa.

Menyitir metode ‘moral reading’ dari Ronald Dworkin, Satjipto Rahardjo (2008) telah mengkonstruksikan negara hukum Indonesia sebagai suatu negara dengan nurani atau negara yang memiliki kepedulian (a state with conscience and compassion). Artinya, common sense dan legal sense yang berselaras dengan legal and moral ethics sejatinya menempati status penting dalam sistem penegakkan hukum di Indonesia.

Maka dari sudut subyeknya, penguasa harus membuka hati dan pikirannya terhadap perkembangan masyarakat, berdasar ketentuan hukum positif yang berlaku, agar dapat terhindar dari jebakan bahwa hukum tanpa ketegasan justru seringkali menghalangi lahirnya keadilan itu sendiri.

Berdasar data yang diungkap Kepala BP2T Kota Malang, bahwa jumlah toko moderen sebanyak 265 unit, terdiri dari 223 sudah diverifikasi dan 42 dimungkinkan tidak berizin, serta dinyatakan semuanya illegal oleh Aliansi, maka titik-titik kanker sudah diketemukan, dan melakukan operasi caesar dengan pisau yang tepat layak segera dilakukan, serta langkah seanjutnya adalah menata ulang sesuai peraturan perundangan berlaku.

Seyogyanya momentum ini dimanfaatkan sebagai renaissance ( kebangkitan ) nurani Pemkot Malang, sebagai wujud nyata komitmen dan kemauan politik dari Pemkot Malang dan DPRD. Sudah barang tentu masyarakat amat merindukan teladan hukum, sehingga prasyarat kejujuran, ketegasan, dan keberanian dalam menegakkan Perda dengan moral dan nurani, menjadi syarat minimal dari pencarian keadilan bagi masayarakat.

Sebaliknya, jika terbukti atau setidak-tidaknya terindikasi adanya praktik penyimpangan atas Perda di atas kekuasaan manapun, maka sudah selayaknya segera dibersihkan. Dalam konteks ini, ibarat ikan membusuk mulai dari kepala hingga ke ekor, maka tindakan yang pantas dilakukan adalah dengan memotong dan membuangnya (Imperium, 2007).

Masalah pelik dihadapi, ketika nurani seseorang tertutup kabut tebal akibat ‘keterlanjurannya’ terlibat atas sandiwara Prosedur dan Tupoksi (Tugas Pokok dan Fungsi). Satu hal yang tidak kalah pentingnya, bahwa carut marut tata kelola toko moderen di Kota Malang telah jatuh di meja publik melalui pemberitaan media massa, sehingga tabir kelam penegakkan Perda Toko Moderen di Kota Malang dapat tersingkap.

Quo Vadis (ke arah mana) tata kelola toko moderen di Kota Malang masih membutuhkan perjuangan dalam menegakkan keadilan berdasar moralitas dan hati nurani yang tulus memang terasa berat dan tiada henti. Akan tetapi, keyakinan atas pencapaiannya tidak boleh pernah goyah atau redup sedikitpun.

Tentunya di masa yang akan datang kita berharap, tak perlu lagi kita mengais-ngais untuk sekedar mencari sebongkah nurani di tengah-tengah ilalang keadilan.

Sesuai kajian yang dilakukan Aliansi Anti Toko Moderen Illegal Kota Malang, menujukkan bahwa operasional toko modern di Kota Malang adalah bentuk nyata pembiaran praktek usaha perdagangan ilegal oleh Pemerintah Kota Malang, terbukti tidak satupun tempat usaha toko modern yang dialasi izin IUTM ( Izin Usaha Toko Moderen ) sebagaimana disyaratkan dalam pasal 25 ayat 1 Perda No 8 Tahun 2010.

*Soetopo Dewangga, Koordinator Aliansi Anti Toko Moderen Illegal Kota Malang.

Menghadapi Ancaman Ekonomi dari Kepikunan

Oleh: Dr Yuniar Sunarko SpKJ *

Berbagai keberhasilan di bidang kesehatan membuat lebih banyak orang di Indonesia hidup lebih panjang. Di satu sisi, tentu ini sesuatu yang sangat menggembirakan, karena warga senior dengan berbagai kemampuan dan pengalamannya dapat menjadi kontributor dalam pembangunan.

Namun bagai keeping uang bermata dua, kita juga harus menerima konsekuensi bahwa berbagai penyakit degeneratif juga meningkat seiring bertambah panjangnya usia harapan hidup. Demensia (kepikunan) adalah salah satu di antaranya.

Di seluruh dunia saat ini terdapat sekitar 900 juta orang berusia lebih dari 60 tahun, dan jumlah tersebut akan terus meningkat. Dalam World Azheimer’s Report 2015 yang dilansir oleh Alzheimer Disease International dinyatakan bahwa antara tahun 2015-2050 di negara berpenghasilan tinggi akan terdapat peningkatan jumlah warga senior sebesar 56%, sementara di negara berpenghasilan menengah diperkirakan peningkatan berada di kisaran 138 – 185%.

Sementara di negara berpenghasilan rendah – di mana sumberdaya untuk mengantisipasi berbagai konsekuensi penuaan populasi sangat terbatas – penduduk berusia lanjut diperkirakan akan meningkat sebesar 239% dalam periode tersebut. Kelompok negara yang disebut terakhir ini memikul beban ganda (double burden), di mana masalah kesehatan ibu dan akan serta penyakit infeksi masih menuntut perhatian besar sementara masalah penyakit degeneratif terus meningkat berlipat kali.

Diperkirakan 46,8 juta orang mengalami Demensia di seluruh dunia, dan 58% di antaranya berada di negara berpenghasilan menengah ke bawah. Angka tersebut akan meningkat dua kali lipat setiap 20 tahun. Saat ini setiap 3 detik – bersamaan dengan setiap tarikan nafas kita – di seluruh dunia bertambah satu pasien yang dididagnosis Demensia.

Setelah selesai mencermati angka-angka yang disajikan di atas, mari kita mulai memahami bahwa dampak Demensia dapat dilihat pada tiga tingkatan yang saling berhubungan, yaitu Orang Dengan Demensia (ODD), keluarganya, dan masyarakat luas. Sementara Demensia berkaitan dengan menurunnya usia harapan hidup, yang lebih memerlukan perhatian adalah kualitas hidup ODD sendiri dan keluarganya.

Dibandingkan pendampingan pada penyakit lain, ODD memerlukan lebih banyak bantuan. Pada tahap lanjut, mereka memerlukan bantuan di hampir semua aspek kehidupannya : makan, toileting, berpakaian, berpindah tempat, menjaga diri, dan sebagainya. Tentu ini bukan kualitas hidup yang diinginkan oleh semua orang yang berharap dianugerahi umur panjang.

Sementara bagi keluarga / caregiver – nya, kelelahan bertubi-tubi yang timbul selama mendampingi ODD menambah berat beban sehari-hari mereka sendiri. Anggota keluarga yang 24 jam melakukan pendampingan tentu lama kelamaan akan tiba pada titik terbawah kekuatan fisik dan mentalnya.

Konsekuensi lebih lanjutnya adalah penurunan produktivitas dan kualitas pekerjaan keluarga/ caregiver di luar kegiatan pendampingan ODD, karena setiap hari mereka akan berangkat kuliah atau bekerja dalam kondisi tidak prima. Ini disebut Informal Care Cost, yang belum pernah dapat dihitung secara pasti, namun diperkirakan proporsinya sebesar 40% dari beban ekonomi akibat Demensia.

Global cost akibat Demensia di Amerika Serikat meningkat dari US$ 600 miliar pada tahun 2010 menjadi US$ 818 miliar atau 1,09% dari GDP pada tahun 2015. Angka pasti untuk Indonesia belum diperoleh, namun pasti tidak terlalu jauh dari angka tersebut, atau bahkan lebih besar.

Bagaimanakah kita dapat menjawab tantangan ekonomi akibat Demensia ini? Negara-negara yang tergabung dalam G7 telah merilis Global Action Against Dementia. Aksi yang meliputi awareness raising (peningkatan kesadaran), komunitas ramah Demensia/ lansia, serta peningkatan kualitas pelayanan ini direkomendasikan untuk diikuti pula oleh negara- negara G20 – di mana Indonesia termasuk di dalamnya – karena peningkatan beban ekonomi akibat Demensia lebih tinggi di kelompok ini.

Dengan segala sumberdaya yang kita miliki sekarang, kita harus mulai bahu membahu merancang strategi untuk meminimalkan dampak ekonomi akibat transisi demografi ini. Kita mulai dari sekarang untuk memasyarakatkan gaya hidup sehat sejak dini agar tidak menambah populasi penyandang Demensia di masa depan. Bersediakah Anda?

*Dr Yuniar Sunarko SpK, Psikiater di RSJ Dr. Radjiman Wediodiningrat Lawang dan anggota ALZI (Alzheimer Indonesia)-Malang Chapter.

Wilis, ‘Telaga’ di Tengah Sengkarut Konsumsi Pengetahuan vs Gaya Hidup

Oleh: Ozik Ole-olang*

Setiap ada kesulitan pastilah ada kemudahan. Setidaknya begitulah yang tersirat dalam kitab suci panutan orang Islam. Hidup di tengah materialisme duniawi yang mengekang dan menjerumuskan pada ideologi ‘aku belanja maka aku ada’ terbilang sulit dan menggiurkan. Sedikit meniru ungkapan bahasa filosofis Rene Descrates di abad pertengahan, salah satu koran lokal Malang dalam headline beritanya di penghujung tahun 2016 mencantumkan kalimat ‘aku berbelanja maka aku ada’ itu dengan font merah besar disertai daftar sembilan mall yang berdiri megah pada masing-masing sudut Kota Malang.

Kota dengan jumlah perguruan tinggi yang dapat dibilang sangat banyak itu menjadi sasaran empuk raksasa infrastruktur perbelanjaan untuk meraup segunung rupiah. Mahasiswa-mahasiswa yang rata-rata berumuran dan masih tergolong dalam usia transisi antara masa remaja dan dewasa itu pastilah akan sangat tergiur dengan suasana bising dan keramaian tempat perbelanjaan, apalagi muda-mudi dengan sangu bulanan yang cukup besar.

Orang-orang banyak mengatakan bahwa Malang adalah kota yang pas dan strategis untuk kuliah dan belajar. Memang, jika dilihat dari suasana cuaca yang sejuk dan tidak begitu panas. Juga dengan sederet nama kampus besar yang ada dan terletak saling berdekatan. Mulai dari yang negeri sampai swasta.

Banyaknya instansi perguruan tinggi itu menjadi salah satu alasan utama kepadatan Kota Malang. Betapa tidak, setiap tahun Malang akan kedatangan lebih dari lima ribu mahasiswa baru. Belum lagi mereka yang melanjutkan studi strata dua dan masih memilih tinggal di Kota Malang. Ditambah lagi mereka-mereka yang menjalani kuliah dalam keprematuran proses sehingga terpaksa harus menikmati berbonus-bonus semester. Tak heran bila setiap menjelang petang dan selepas isya’ kota ini akan terkesan seperti jakarta dengan kemacetan yang bikin bete’.

Seorang teman pernah berceloteh pada saya bahwa banyaknya kampus yang ada di Malang tidak sebanding dengan banyaknya toko buku yang ada sebagai konsumsi wacana bagi para muda-mudi generasi bangsa. Dengan asumsinya yang entah objektif ataupun subjektif, namun yang saya rasakan memang begitu. Fasilitas penunjang idealisme mahasiswa kalah dengan jumlah barang-barang pemuas hasrat duniawi mereka. Model hidup pemuda yang mustinya idealisme rasionalis terdistorsi dan mengalami marginalisasi menjadi idealisme berbasis hedonistik. Lantas Bagus penampilan lebih diutamakan daripada bagus pemikiran. Apalah daya.

Toh, meskipun buku bukanlah satu-satunya yang akan menentukan kesuksesan seseorang, namun tidak boleh tidak buku adalah konsumsi yang hampir mendekati kata wajib bagi para pelajar. Bagaimana mau disebut pelajar kalau buku saja tak punya!?

Berkenaan dengan kemudahan dan kesusahan dalam hal ini, situasi yang sebagaimana tergambarkan dalam ulasan tadi merupakan kondisi ‘kesusahan’ bagi kualitas berpikir para pelajar dan mahasiswa di Kota Malang. Berat memang bila harus bermusuhan dengan iming-iming keelokan rupa, kemapanan hidup, apalagi kekayaan harta oleh sebab adanya banyak mall yang berdiri mengitari letak instansi-instansi pendidikan yang ada. Mirisnya lagi, perpustakaan pusat letaknya tidaklah berdekatan dengan deretan kampus-kampus. Lain halnya dengan Matos (salah satu mall di Kota Malang) yang pas berada di depan jejeran sejumlah instansi-instansi pendidikan mulai dari SD sampai perguruan tinggi. Akibatnya, para pemuda yang notabene adalah pelajar dan mahasiswa secara akal logis pastilah lebih bersemangat untuk pergi ke mall.

Jika situasi yang saya sebut sebagai ‘kesusahan’ itu tidak memiliki jalan ke luar, maka kesusahan itu lambat laun akan menjadi sebuah bencana. Kemudian manusia hanya akan menjadi makhluk yang menghambakan dirinya pada gaya dan model hidup hedonistik, bermental konsumtif, terjajah secara perlahan oleh investor-investor produk asing, pada akhirnya mereka lupa jati diri mereka sebagai bangsa Indonesia khususnya bangsa yang terpelajar dan beradab.

Untuk menjadi terpelajar dan beradab, manusia haruslah melalui proses edukasi. Tidak harus dengan kuliah dan jenjang pendidikan formal semisalnya. Akan tetapi eksistensi buku dalam hal tersebut dapat dikatakan sangatlah menjadi faktor utama. Penyampaian secara lisan melalui pengajaran guru dan dosen pun tak luput dari adanya subuah buku. Oleh karena itu saya semacam ingin mengatakan rasa syukur yang sebesar-besarnya entah kepada siapa atas adanya dan lestarinya pasar buku Wilis di Kota Malang.

Walau memang banyak dari sejumlah toko buku yang tercatat di Kota Malang, pasar buku Wilis adalah yang salah satunya menjadi rujukan utama bagi para mahasiwa, pelajar, atau bahkan orang tua murid untuk membeli dan mendapatkan buku-buku pelajaran. Tak jarang setiap saya mengunjungi pasar buku itu banyak ditemui para mahasiwa yang sedang berburu buku-buku mata kuliah. Sering pula terlihat para orang tua dengan membawa anak mereka yang masih kecil ke pasar buku Wilis untuk membeli buku-buku cerita anak. Dan banyak lagi orang-orang yang mencari buku incarannya di pasar tersebut.

Walau tempatnya yang terkesan apa adanya dengan penataan buku yang bertumpuk-tumpuk seperti tak ada tempat lain itu, pasar buku Wilis banyak digemari orang utamanya bagi para mahasiswa seperti saya. Salah satu faktornya ialah bahwa harga buku di sana bisa ditawar dan biasanya pedagang mematok harga yang relatif murah sehingga mahasiswa dengan tingkat uang saku bulanan yang menengah ke bawah lebih memilih pergi ke Wilis daripada ke toko buku semisal Gramedia, Toga Mas, dan lainnya. Walau dengan kualitas buku yang tidak terlalu bagus dan kadang pula sudak tidak tersegel plastik, hal yang terpenting adalah kesamaan isi buku. Bukan begitu mahasiswa!?

Sebagai jalan keluar atas kondisi ‘kesusahan’ yang saya gambarkan, pasar buku Wilis seakan menjadi secercah cahaya yang menjadi ‘kemudahan’ bagi kondisi penduduk Kota Malang pada umumnya untuk lebih mengembangkan diri dengan cara menyeimbangkan konsumsi ilmu pengetahuan dan konsumsi gaya hidup. Lebih-lebih jika keduanya sama-sama tinggi. Bayangkan bila mana di kota yang banyak dipenuhi para pelajar itu (Malang khususnya dan kota lain pada umumnya) tidak terdapat tempat untuk mencukupi kebutuhan otak dengan harga yang terjangkau. Maka besar kemungkinan semua anak muda yang ada akan berpikiran lebih baik membeli baju bagus daripada harus membeli buku. Pada akhirnya idealisme yang menjadi harta terakhir bagi pemuda hilang tergadaikan ambisi dan iming-iming gaya hidup yang mapan.

Sekian.

*Ozik Ole-olang, mahasiswa rantau berdarah Madura. Sekarang sedang mukim di Kota Malang dan sedang menyelesaikan sebuah buku.

Buruh Korban Kekejaman Kapitalisme di Omnibus Law

Oleh: Asra Bulla Junga Jara

Buruh selalu menjadi korban dalam kapitalsme. Selama ini, melalui mekanisme upah minimum per bulan saja, buruh sudah berada digaris kemiskinan. Jika Omnibus Law diberlakukan buruh akan di upah per jam. Dengan skema ini, buruh yang menjalankan hak cuti atau tidak bekerja sementara karena sakit tidak mendapatkan upah. Walhasil buruh makin termarjinalkan, jamaknya praktik upah per jam di Eropa dan Amerika Serikat menjadi dali pemerintah untuk menerapkan di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Skema ini dianggap adil karena pekerja produktif akan mendapat upah lebih besar.

Namun, kita harus melihat latar belakang diterbitkan Ombnibus Law yakni untuk mempermuda investasi. Upah buruh yang rendah selama ini menjadi salah satu daya tarik investasi di Indonesia. Omnibus Law diterbitkan untuk menyenangkan investor, meski harus menekan buruh. Inilah praktik korporatokrasi yakni penguasa disetir untuk mengikuti kemauan korporasi dalam proses legislasi. Lalu dimanakah jargon “Merakyat” yang selama ini dicitrakan? Selama Indonesia menganut sistem kapitalisme, selama itu pula buruh akan menjadi sapi pera ekonomi.

Makanan khas para kapitalisme yang sedang menjadi perbincangan saat ini di kalangan para pencari kerja tentulah Omnibus Law. Kata ini seakan sudah menjadi makanan khas para pemilik modal untuk disajikan pada buruh yang sedang terjerat dalam penantian kata “kesejahteraan”. Lalu, sejenis makanan khas apa sesunguhnyan Omnibus Law itu? Menurut Kamus Hukum Merriam Webster, istilah Omnibus Law berasal dari Omnibus Bill, yakni Undang-Undang yang mencakup berbagai isu atau topik. Kata ‘Omnibus’ berasal dari Bahasa Latin yang berarti segalahnya.

Istilah Omnibus Law sudah sangat tua, Undang-Undang tersebut pertama kali dibahas di Amerika Serikat (AS) pada tahun 1980. Di Indonesia, istila ini menjadi perbincangan bagi para mentri setelah Presiden Joko Widodo mengungkapkannya dalam pidato pertama stelah dilantik sebagai Presiden Rebublik Indonesia periode 2019-2024 pada 20 Oktober 2019. Konsep ini sering digunakan di negara yang menganut sistem Common law seperti Amerika Serikat dalam membuat regulasi. Regulasi dalam konsep ini adalah membuat satu Undang-Undang baru untuk mengamandemenkan beberapa Undang-Undang sekaligus.

Singkatnya Omnibus Law adalah suatu Undang-Undang yang dibuat untuk menyasar satu isu besar yang mungkin dapat mencabut atau mengubah beberapa Undang-Undang sekaligus sehingga menjadi lebih sederhana. Pembuatan proses secara resmi, ahli hukum menyebutkan tidak ada perbedaan dengan pembuatan. Hanya saja, isinya mencabut atau mengubah beberapa Undang-Undang yang terkait sebagai sumber pijakan utama dalam mengambil sebuah kebijakan.

Kedudukan hukum Omnibus Law sama dengan Undang-Undang dan diusulkan untuk simplifikasi Undang-Undang lainnya. Terkait, aturan yang diatur dalam banyak Undang-Undang yang dihapus dan kemudian diatur hanya dalam satu Undang-Undang. Penggunaan hokum Omnibus Law baru pertama kali terjadi di era Jokowi saat beberapa peraturan-peraturan tambahan seperti undang-undang pemilu, dan undang-undang penyandang disabilitas yang mendukung 25 sektor dan juga undang-undang perlindungan anak. Ombnibus Undang-undang diperlukan karena Indonesia memiliki banyak Undang-Undang yang mengatur penggunaan sector per kementrian dan lembaga, sehingga menjadi parsial dan tumpeng tindih.

Ketika Suara Masyarakat Dibungkam Dengan Alasan Investasi!

Tiap-tiap warga negara memiliki hak untuk turut serta dalam proses pengambilan keputusan pemerintah termasuk perumusan peraturan perundang-undangan serta kebijakan lain yang menyangkut kepentingan publik. Hak tersebut dijamin dalam Pasal 21 Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia serta Pasal 25 Konvensi Hak-Hak Sipil dan Politik. Hak untuk berpartisipasi juga perwujudan dari hak atas kebebasan berkumpul dan berpendapat yang merupakan komponen inti dari kebebasan ruang sipil.

Namun, partisipasi publik yang efektif hanya dapat dilaksanakan jika masyarakat cukup bebas dan independen dalam menyampaikan pandangannya terhadap sebuah kebijakan. Oleh karena itu, sikap pemerintah dalam menyambut masukan masyarakat turut menentukan tingkat partisipasi masyarakat tersebut. Prinsip good governance menekankan bahwa pemerintah berkewajiban mendorong setiap warga negara untuk menggunakan hak berpendapatnya dalam pengambilan keputusan serta menjamin kebebasan ruang sipil untuk mencapai pembangunan yang berkelanjutan.

Nyatanya, kritikan keras masyarakat terhadap rencana Omnibus Law hanya dilihat sebagai penghambat rencana Pemerintah menggaet investor dan meningkatkan kemudahan berbisnis di Indonesia. Demi melancarkan agenda investasi tersebut, partisipasi masyarakat sipil justru ditekan dengan dalih hendak melakukan ‘pendekatan komunikasi’. Padahal, pihak-pihak yang ditunjuk Presiden Jokowi merupakan alat keamanan negara dan tidak memiliki fungsi komunikasi sebagaimana yang dimaksud. Alih-alih pendekatan ‘komunikasi’, yang ada di lapangan kelak malah praktek intimidasi.

Presiden Jokowi telah secara terang-terangan mengabaikan tupoksi institusi keamanan dengan menggunakan aparat keamanan dan intelijen sebagai juru bicara program pemerintah. Bukannya mendengarkan secara seksama alasan di balik penolakan Omnibus Law lalu mengkaji muatan kritiknya, atau mengutus jajarannya yang lebih sesuai dan kompeten dalam mengkomunikasikan kebijakan pemerintah, Presiden justru menggunakan aparat yang terbukti berulang kali mengekang kebebasan ruang sipil secara represif.

Walhasil, wacana ‘pendekatan komunikasi’ ini hanya pemanis untuk menutupi kenyataan pahit di baliknya: pembungkaman sistematis masyarakat sipil. Pernyataan Presiden Jokowi yang mengharapkan masyarakat dapat memahami Omnibus Law melalui komunikasi tersebut juga secara tidak langsung mereduksi penolakan dan kritik terhadap Omnibus Law sebagai sebuah ketidaktahuan dan ketidakpahaman semata. Serikat pekerja dan organisasi masyarakat yang telah bertahun-tahun memperjuangkan hak-hak masyarakat sipil di tengah gempuran investasi dianggap tidak sanggup memahami Omnibus Law sehingga dianggap perlu untuk diedukasi oleh aparat keamanan negara.

*) Asra Bulla Junga Jara
Mahasiswa Semester Delapan (8), di Universitas Tribhuwana Tunggadewi (Unitri) Malang, Jurusan Ilmu Komunikasi, Konsentrasi Jurnalistik. Serta Aktif Menulis Opini Di Media